Namun, ngeliat kondisi remaja saat ini banyak yang meragukan peran mereka di masa depan. Apakah mungkin bisa menjadi bagian dari solusi negeri ini. Atau malah menjadi bagian dari masalah yang terus bertambah. Entahlah.
Kalo diajak ngobrol seputar masa depan dan kepempimpinan, sedikit remaja yang antusias. Kebanyakan mendadak low sinyal, Blank spot. Tapi kalo udah diajak menyelami dunia hiburan, bukan cuman sinyalnya yang kenceng tapi baterenya juga full. Kalo perlu, bawa power bank. Seolah kehidupan remaja itu isinya cuman hal-hal yang menyenangkan semua, Just for fun.
Padahal kalo kita bercermin pada para pejuang di setiap negeri, isinya ya kebanyakan para pemuda. Mereka para pemuda yang serius memikirkan masa depan negerinya untuk lebih baik lagi.
*# Kemedekaan Bagi Remaja*
Hari gini, emang bukan lagi jaman penjajahan secara fisik seperti tahun 45 dulu. Seharusnya, bukan cuman negeri ini yang merayakan merdeka dan terus berulang tahun hingga 78 kali. Tapi juga generasi mudanya harus merdeka secara hakiki. Punya prinsip hidup dan nggak individualis. Untuk itu, ini yang harus kita lakukan.
# Pertama, merdeka dari tekanan teman sebaya. Usia remaja masanya punya circle tempat berbagi cerita suka dan duka. Gak bisa dipungkiri kalo mereka lebih nyaman cerita kepada teman sebaya dibanding orang tua. Alhamdulillah kalo circle pertemanannya positif. Saling mengingatkan kalo salah jalan. Saling menguatkan saat ditimpa kesedihan.
Berabe kalo circle pertemanannya toxic. Ada peer pressure alias tekanan teman sebaya kalo temannya gak sejalan. Terutama kalo sudah nyerempet-nyerempet perilaku menyimpang yang identik dengan kenakalan remaja. Mulai dari icip-icip narkoba, provokasi gaul bebas, hingga ngomporin untuk ikut tawuran.
# Kedua, merdeka dari budaya sesat barat. Dunia hiburan yang dekat dengan keseharian remaja, banyak disponsori oleh budaya barat. Lantaran kehidupan barat yang jauh dari nilai-nilai agama, dekat dengan pemujaan terhadap kesenangan dunia. Prinsip kebebasan dan keserbabolehan kental dalam gaya hidupnya. Bagi remaja muslim, ini menyesatkan.
Budaya sesat barat itu gencar menyapa remaja melalui tayangan film, konser musik, wisata kuliner, dan pesta pora. Sialnya, gaya hidup senang-senang itu dikasih label modern, gaul, kekinian, atau trendi. Remaja muslimpun banyak yang kebawa arus.
# Ketiga, merdeka dari jeratan hawa nafsu. Ini yang paling utama. Masa remaja yang diisi dengan upaya mencari identitas diri kerap mudah tergoda dengan gaya hidup hedonis. Berlomba-lomba mengejar kesenangan dunia hingga melupakan kemuliaannya sebagai remaja merdeka.
Tahu sendri, nafsu syahwat kalo udah pasang jebakannya bikin remaja terlena. Lupa diri, lupa waktu, lupa identitasnya sebagai muslim. Yang ada, bawaannya pengen senang-senang terus. Padahal dibalik kesenangan itu ada ancaman yang bisa menghancurkan masa depannya.
*# Kamu Merdeka, Kamu Mulia!*
Kemerdekaan pada diri remaja, akan mengantarkan dirinya pada kemuliaan. Ketika remaja merdeka dari tekanan teman sebaya, dia punya kemandirian dan berani memegang prinsip hidupnya. Tak sungkan mengingatkan bestienya yang benar itu benar dan yang salah itu salah. No compromise!
Ketika remaja merdeka dari penjajahan budaya sesat barat, dia hadir sebagai sosok remaja muslim ideal harapan umat. Berakhlak mulia dan berdaya. Dia jadikan aturan Islam sebagai standar perbuatannya. Dia jadikan ridho Allah swt sebagai tujuan hidupnya. Dia jadikan aktifitas dakwah sebagai jalan hidupnya.
Ketika remaja medeka dari hawa nafsunya, hidupnya mulia dunia dan akhirat. Rasulullah saw bersabda, _"Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memliki shabwah."_ *(HR. Ahmad)*
Maksud "shabwah" adalah pemuda yang tidak mengikuti hawa nafsunya, dia membiasakan dirinya melakukan kebaikan dan berusaha keras menjauhi keburukan.
Untuk menjadi remaja yang merdeka dan mulia itu, apa yang bisa kita lakukan?
# Pertama, kuatkan pondasi keimanan. Yakinkan bahwa hidup ini sementara dan kita perlu bekal amal sholeh untuk menghadapi kehidupan kekal di akhirat nanti. Kalo kita lalai menyiapkan bekal untuk akhirat, rugi tujuh turunan. Karena akan kehilangan tiket untuk menebus jatah kapling kita di surga-Nya.
# Kedua, bergabunglah dalam circle pertemanan positif yang bisa mempertahankan dan mendongrak kualitas keimanan kita. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, _"Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian."_ *(HR. Abu Daud)*
# Ketiga, maksimalkan waktu hidup kita untuk kegiatan yang sarat manfaat. Hadir di majelis ilmu untuk menguatkan keimanan. Baca buku untuk menambah wawasan. Tadarus Alquran untuk selalu menautkan hati kita dengan Sang Pencipta. Kejar ibadah sunah untuk menambah tabungan pahala dan berdakwah untuk mengikat semua kegiatan manfaat.
Salah satu celah yang bisa menjerumuskan remaja pada jurang kemaksiatan adalah kekosongan waktu. Kalo gak diisi dengan kegiatan positif, setan akan mengajak kita pada kegiatan negatif. Minim manfaat dan cenderung bermaksiat.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah mengingatkan, _"Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil."_
# Keempat, jangan berhenti berjuang ketika tujuan belum tercapai hingga kita dipanggil menghadap Allah SWT. Seperti sikap seorang Uqbah bin Nafi bin Qais al-Fihri, sahabat Nabi penakluk Benua Afrika. Setelah memenangi pertempuran dan mencapai Samudera Atlantik, beliau berkata:
“Duhai Rabb, seandainya samudera ini tidak menghalangi niscaya aku lanjutkan perjuangan di Jalan-Mu. Ya Allah saksikanlah aku telah menyampaikan dengan sungguh-sungguh, seandainya tidak terhalang samudera ini akan lanjutkan di negeri itu peperangan pada siapa saja yang mengingkari-Mu hingga tidak ada yang disembah selain diri-Mu.”
Teman surga, kemerdekaan bukan hanya hak segala bangsa. Tapi juga hak kita sebagai remaja. Kemerdekaan bagi kita berwujud kemandirian dan meniti jalan kemuliaan. Kecintaan pada negeri tak semata ditunjukkan dengan ikut lomba tujuh belasan, tapi menjadi garda terdepan dalam membebaskan generasi muda ibu pertiwi dari penjajahan pemikiran dan budaya barat. Yang Muda Yang Merdeka, Itulah Kita! []
Buletin Teman Surga Edisi #227 (Muharram 1445 / Agustus 2023)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar