Kamis, 14 Maret 2024

IRI? ISTIGHFAR BOS!

"Hina Aja Terus Boss Ku / Dunia Ini Milik Kau / Pandang Ku Sebelah Mata / Anggap Kau Paling Sempurna / Gue Bikin Karya Malah Lau Yang Rusuh / Ngomong Di Belakang Itu Tanda Tak Mampu / Kalo Iri, Bilang Bosku / Hidup Tu, Jangan Belagu"

Penggalan lagu rap di atas lagi populer di salah satu platform sosial media. Meskipun banyak versi dan cover dengan judul lagu yang mirip, namun isi pesannya tetep sama tentang sikap toxic generasi muda dalam pergaulan. Iri alias hasad bin dengki. Hati-hati! 

*# Dari Linimasa Turun ke Hati*

Hari gini kecanggihan teknologi menggiring remaja untuk aktif berselancar di dunia maya. Terutama menjelajahi berbagai platform sosial media tempat paling favorit untuk bergaul online. Awalnya bikin akun cuman untuk formalitas aja biar dianggap gaul. Akhirnya, malah keasyikan tebar pesona dan stalking akun teman-teman sebayanya. 
Saking rajinnya remaja nongkrong di sosial media, tanpa disadari terpapar rasa insecure. Dirinya ngerasa minder kalo ngeliat sisi terbaik kehidupan teman-temannya yang diposting ke sosial media. Mulai dari jalan-jalan healing ke berbagai tempat yang keren, wisata kuliner masakan lezat dan viral, padu padan busana yang menggoda, hingga daya tarik fisiknya yang tanpa cela. 

Sementara dirinya, banyak kekurangan dan minim pencapaian. Kehidupan sempurna yang diinginkan gak kesampaian. Jadinya malah ‘mupeng’ alias muka pengen ngeliat teman-temannya hidup bahagia dalam album linimasa sosial media. Cuman bisa gigit jari. Lama kelamaan timbul rasa iri. Ini yang bikin mental health remaja rapuh layaknya jiwa-jiwa yang bersedih.

Disadur dari The Guardian, Profesor Psikologi dari University of Michigan, Ethan Kross, menyebut bahwa fenomena di era media sosial memang tidak begitu menyenangkan. Hasil penelitian terhadap pengguna Facebook pasif yang ia dan timnya lakukan menemukan, semakin banyak seseorang melihat kehidupan orang lain di media sosial, semakin tidak nyaman perasaan hatinya. "Kita dibombardir dengan 'kehidupan Photoshop' yang begitu indah, kehidupan yang belum pernah dirasakan manusia di peradaban sebelumnya," kata Kross.

Kalimat yang diutarakan Aristoteles pada abad ke-4 SM atau ratusan tahun lalu, sepertinya cukup menggambarkan fenomena yang muncul pada era media sosial saat ini: "Sakit rasanya, melihat keberuntungan baik yang dimiliki orang lain, mereka memiliki apa-apa yang seharusnya kita miliki." Dari sinilah rasa iri yang bersemai dalam hati makin menjadi-jadi. 

*# Cuman Dapat Capek!*

Apa yang kita dapat kalo melihara sikap iri? Capek bos! Asli gak ada guna. Ibaratnya kita bawa kursi dalam setiap aktifitas harian. Beban banget. Orang dengki itu hidupnya gak tenang karena dihantui perasaan gak jelas. Uring-uringan. Senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang. 
Hasad adalah sikap batin yang tidak senang terhadap kebahagiaan orang lain dan berusaha untuk menghilangkannya dari orang tersebut. Pendengki selalu cemburu terhadap nikmat yang dimiliki orang lain dan menghendaki nikmat tersebut berpindah kepada dirinya. Dia kufur terhadap nikmat yang diberikan Allah kepadanya karena menganggap dirinya lebih berhak mendapatkan nikmat tersebut dibanding orang lain.

Selama rasa dengki terus bersemayan di hati, lama kelamaan harus ada pelampiasan. Dia akan berusaha cari cara agar kenikmatan yang dirasakan oleh orang lain yang dicemburuin itu hilang atau merasa nggak nyaman. Akhirnya waktu berharga habis cuman untuk ngegosip, fitnah, atau menebar komentar nyinyir. Nggak produktif. Karena itulah, ajaran Islam memerintahkan kita untuk menjauhi penyakit hati yang berbahaya ini . 

"Jangan kamu saling dengki dan iri dan jangan pula mengungkit keburukan orang lain. Jangan saling benci dan jangan saling bermusuhan serta jangan saling menawar lebih tinggi atas penawaran yang lain. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim itu adalah saudara bagi Muslim yang lain, maka tidak boleh menzaliminya, menelantarkannya, mendustainya dan menghinakannya. Seseorang telah dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya sesama Muslim. Setiap Muslim haram darahnya bagi Muslim yang lain, demikian juga harta dan kehormatannya." (HR Bukhari dan Muslim)

Ngerinya, rasa iri bisa menghabiskan pahala yang selama ini kita tabung. Rasulullah saw mengingatkan, "Waspadalah terhadap hasad (iri dan dengki), sesungguhnya hasad mengikis pahala-pahala sebagaimana api memakan kayu." (HR Abu Daud)

*# Hapus Dengki, Hidup Lebih Berarti*

Gak ada kebaikan kita memelihara rasa dengki. Kalo pun pernah terbersit, segera beristighfar dan minta perlindungan kepada Allah swt. “Dan dari kejahatan orang yang dengki ketika dia iri.” (Al Qur'an Al Falaq ayat 5)

Selanjutnya, minimalisir informasi yang bisa memancing rasa iri nongol ke permukaan hati. Kurangi stalking akun-akun sosial media yang dipenuhi gaya hidup flexing alias doyan pamer dari kenalan kita. Kalo perlu, unfriend akunnya biar gak menyebar toxic. Karena kesempurnaan hidup yang disajikan linimasa sosial media, kerap kali hanya fatamorgana.  

Sebaliknya, follow akun-akun kebaikan yang kontennya banyak mengingatkan kita biar gak salah jalan. Sekalian like, comment, and share postingannya yang positif biar jadi ladang berkah juga untuk kita. 

Biar benih rasa iri dengki gak bersemai di hati, pelihara rasa syukur. Ini anti virus rasa iri. Karena dengan banyak bersyukur, kita gak merasa gundah gulana ketika ngelihat orang lain mendapat kenikmatan lebih dibandingkan diri sendiri. Hidup malah jadi lebih asyik dan produktif penuh energi kebahagiaan. 

Dari Abū Hurairah ia berkata, Rasūlullāh bersabda, “Lihatlah kepada yang di bawah kalian dan janganlah kalian melihat yang di atas kalian, sesungguhnya hal ini akan menjadikan kalian tidak merendahkan nikmat Allah yang Allah berikan kepada kalian.” (HR Muslim)

Tak lupa, kita bangun juga benteng pertahanan dengan menguatkan iman dan mengokohkan akidah dengan aktif ikut pengajian. Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali berkata: “Penyakit hati ini tidak bisa disembuhkan kecuali dengan ilmu dan amal saleh. Ilmu yang bermanfaat untuk melawan penyakit hasad adalah Anda mengetahui bahwasanya hasad itu kemudaratannya akan kembali kepada diri Anda, baik perkara dunia maupun perkara akhirat. Dan hasad yang Anda lakukan tersebut tidak akan menimpakan kemudaratan kepada orang yang Anda hasad kepadanya baik dunia maupun di akhirat, bahkan dia akan mendapatkan manfaat dengan hasadnya Anda.”

So, pastikan keseharian kita tak lepas dari kegiatan menimba ilmu Islam. Bisa dengerin ceramah ustadz via youtube, baca buletin Teman Surga, atau hadir di majelis-majelis ilmu. Dengan begitu, insya Allah hati kita sudah disuntik anti virus rasa dengki sehingga hidup kita akan jauh lebih produktif dan penuh arti. Yuk ngaji! []

_Buletin Teman Surga Edisi #236 (Jumadil Awal 1445 / November 2023)_

https://taplink.cc/temansurga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar