Senin, 26 Desember 2022

KASIH IBU, DUNIA AKHIRAT


”Seorang ibu mampu mengasuh sepuluh orang anak. Namun sepuluh anak, belum tentu mampu merawat seorang ibu.”

Ungkapan ini sering kita dengar, ya teman-teman. Jika dipikir-pikir memang benar demikian. Sekeras dan sepahit apapun kondisi yang harus dihadapi dalam menjaga anak-anaknya, seorang ibu selalu siap sedia. Tidak ada kata takut, lelah, atau marah untuk melindungi anak-anaknya. Bahkan mati demi anakpun, seorang ibu rela melakukannya. Betapa mulia dan luar biasanya hati seorang Ibu. Maasya Allah!

Simbah Darah Perjuangan Ibu

Sejak awal terdeteksi adanya kehidupan lain di rahim ibu, maka sejak itu pula seluruh kasih tercurah. Ibu begitu bahagia dan sangat hati-hati menjaga. Agar janin yang ada di rahimnya baik-baik saja hingga tiba waktunya terlahir ke dunia. Janin itu adalah kita. Ya, kita yang dahulu bergantung di Rahim ibu tercinta. Kita yang dulu tak berdaya dan tak bisa apa-apa. Kita yang saat ini sudah beranjak remaja dan seringkali melupakan jerih payah ibunda. Hiks!

Bukan tanpa beban ketika ibu mengandung kita selama sembilan bulan. Bahkan dari awal kita melekat di rahimnya, ketidaknyamanan sudah ibu rasakan. Mual yang begitu dahsyat. Pusing yang luar biasa. Badan lemah tak berdaya. Susah makan dan kesusahan lainnya. Namun, senyum tulus tetap tersungging manis di bibirnya. Mata ibu selalu berbinar menanti kelahiran kita ke dunia. 

Meskipun untuk itu, segala ketidaknyamanan harus ia telan. Namun ibu tetap ikhlas dan bahagia. ”Bikin melow enggak sih, woy! Huhuhu!”

Semakin besar ukuran kita di Rahim ibu, bukan semakin ringan beban yang ibu rasakan. Percayalah, semakin hari semakin berat Guys. Rasa mual dan lemas bisa saja usai di usia kita yang ke tiga bulan di dalam kandungan. Namun drama berikutnya siap menyambut. Tubuh ibu mulai terasa berat. Semakin bertmbah usia kita, semakin berat. Tidak jarang seorang ibu kesusahan untuk bisa nyenyak tidur. Sebab perutnya yang membesar menjadikannya serba salah dalam mengatur posisi tidur. Miring tidak nyaman. Telentang tidak enak. Telungkup tidak mungkin  lah ya kan?! Belum lagi kalau kita tiba-tiba beratraksi di dalam perut ibu. Ibu merasakan keram dan nyeri di bagian perutnya. Sungguh sangat melelahkan. Namun lagi-lagi, ibu tetap tersenyum bahagia di tengah rasa tidak nyaman yang mendera.

”Alhamdulillah, bayiku aktif, bayiku sehat.” gumam ibu kita. Beliau bersyukur untuk kita, meskipun dirinya harus menahan kesusahan. Oh Ibu! Bikin mewek enggak sih, woy!
Belum selesai sampai di sini. Ketika usia kita sudah genap sembilan bulan di rahim ibu, maka episode berikutnya dimulai. Momen yang paling ditungu sekaligus momen paling sakit untuk raga ibu. Ya, proses kelahiran kita ke dunia. Guys, demi apa? Ibu kita bersimbah darah, berjuang untuk melahirkan kita dengan selamat di muka bumi ini. Rasa sakitnya seperti seluruh tulang tubuh yang diremukkan secara bersamaan. Sakit banget, Guys. 

Tapi lagi-lagi, ibu kita tetap memiliki stok senyuman yang seolah tidak pernah habis untuk kita. Bahkan kali ini, senyumnya berubah menjadi tawa lebar penuh kesyukuran. Ya, saat dirinya bersimbah darah dan terdengar suara tangis kita yang pertama kali di dunia. Segala perih yang ibu rasa terbayar, seolah tidak pernah ada sakit yang ia rasakan. Pecah deh bendungan di kelopak mata. Huuuwaaa! Sehebat itu ibu kita, Guys! Setelah ini wajib peluk ibu dan ucapkan terimaskih kepadanya. Bukan hanya setahun sekali, tapi setiap hari ya, Guys.

Sedemikian dahsyatnya kesusahan seorang ibu dalam mengandung dan melahirkan, hingga Allah SWT mengabadikannya di dalam Alquran:
”…. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).” (QS. Al-Ahqaf: 15)

“… Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnnya dalam usia dua tahun.  …” (QS. Luqman: 14)

Bakti Pada Ibu

Oleh sebab begitu dahsyat perjuangan seorang ibu, maka sudah semestinya kita berbakti padanya.  Bahkan Allah SWT mewajibkan bagi setiap anak untuk berbakti kepada ibu dan bapaknya. Tidak dibenarkan bagi seorang anak untuk menyakiti hati ibu dan bapaknya meski hanya dengan ucapan “Ah!”.

Demikianlah Allah SWT memberikan aturan bagi kita sebagai anak kepada orang tua. Dan aturan ini berlaku sepanjang masa. Bahkan ketika orang tua sudah meninggal dunia sekalipun, kita tetap wajib berbakti kepadanya dengan cara senantiasa beramal saleh dan mendoakannya.

So, ucapan terimakasih serta ungkapan cinta penuh sayang kita kepada ibu tidaklah terbatas hanya di momen tahunan saat peringatan hari ibu saja. Sebagai generasi Islam, maka kita harus senantiasa berlaku manis dan memuliakan ibu serta bapak kita sepanjang masa. Di setiap helaan nafas kita. Begitu ya, Guys!

”Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah., dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

”… Dan janganlah sekali-kali kamu mengatakan uf (ah) kepada kedua orangtuamu.” (QS. Al-Isra’: 23)

Surga Di Telapak Kaki Ibu

Dari Mua’wiyah bin Jahimah As-Sulami, ia datang menemui Rasulullah SAW. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya ingin ikut berperang dan sekarang saya memohon nasihat kepadamu.’ Rasulullah SAW lalu bersabda, ‘Kamu masih punya ibu?’. Mu’awiyah menjawab, ‘Ya, masih.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Berbaktilah kepada ibumu (lebih dahulu) karena sungguh ada surga di bawah kedua kakinya.”

Maasya Allah, begitu mulia kedudukan ibu di mata Allah SWT. Maka sudahkah kita memuliakannya? Jangan tunggu nanti ya, Guys. Yuk segera kita labuhkan bakti kepada ibu. Sepanjang masa, di setiap helaan nafas kita. Sebab ibu pun demikian, kasihnya ibu berkekalan untuk kita di dunia hingga akhirat kelak.  Semoga kita bisa berkumpul dengan ibu tercinta dengan bahagia. Tidak hanya di dunia tapi juga hingga Surga. Amiin![]

https://yubi.id/koreapi1453

Rabu, 14 Desember 2022

Hidup Kok Ogah Ribet

Kebayang nggak sob, gimana jadinya kalo internet hilang dari bumi? Padahal hari ini seluruh aktivitas manusia sangat lekat dengan internet. Apapun yang kita butuhkan bisa kita dapatkan dengan sentuhan jempol saja. Scin care abis langsung gerakan jempol untuk checkout, kamu bingung tanya Om Google, saking pinternya Om Google pasti langsung ngasih feedback. Gak bakalan kayak doi kalo lagi ngambek ditanya diem saja. Sifat instan, efisien, fleksibel emang jadi ciri-ciri yang sangat dekat dengan Gen Z.

Internet dan teknologi memang seperti mata uang, di satu sisi kehadirannya memudahkan kita dan membuat lebih mandiri, di sisi lain kita jadi menginginkan semua hal dengan instan. Dari urusan menyelesaikan pendidikan sampai urusan belajar agama. Hayo siapa yang nyelesain tugas yang deadlinenya besuk tapi baru dikerjain selepas subuh? Udahlah gitu nanyanya ke Om Google lagi. Masa iya pemuda yang menyandang status agent of change ngerjain tugas pake sistem kebut semalam?

Nggak berhenti sampai situ aja kita jadi tahu A sampai Z tentang agama dari channel sosmed dengan begitu mudahnya. Walopun kadang kita masih pilih-pilih mana pendapat yang cocok buat kita…upsss.

Karakter instan yang melekat pada diri kita sebenarnya berperan besar dalam pembentukan mental. Generasi hari ini terbiasa mencari informasi yang lebih sederhana. Daripada membaca buku, kita lebih percaya membaca berita yang sudah disederhanakan di IG dengan judul yang nendang. Ditambah lagi kita jarang memvalidasi apakah berita yang kita baca benar-benar bisa dipercaya sumbernya alias valid. Semakin mudah mengakses informasi sebanding juga semakin banyaknya kita terkena hoax, sebab siapapun bisa mengunggah informasi, siapapun bisa mengomentarinya.

Sadarilah sob, jika setiap hari kita mengonsumsi informasi yang tidak valid, efek yang ditimbulkan buka hanya sehari dua hari, melainkan akan menjadi gambaran siapa diri kita. Karena infromasi yang kita konsumsi akan menjadi pemikiran, pemikiran akan membentuk pemahaman, pemahaman digunakan sebagai kompas untuk melakukan aktivitas, aktivitas yang dilakukan terus menerus akan menjadi habits (kebiasaan).
Kebayang nggak seandainya setiap hari beramal dengan pemahaman yang salah? Bisa jadi amalan kita nggak diterima Allah karena salah satu syaratnya tidak terpenuhi yaitu beramal dengan cara yang benar. Dan beramal dengan benar tidak bisa instan, butuh belajar. Ngeri banget nggak tuh kalau amalan kita nggak diterima karena syaratnya belum lengkap? 
Maka satu hal yang harus menjadi perhatian adalah karakter instan tidak boleh dilekatkan pada setiap kesempatan. Sebab semua butuh proses, bahkan untuk memasak mie instan sekalipun juga butuh proses.

Hadirnya kita di dunia ini juga melewati proses yang panjang, butuh sembilan bulan di dalam kandungan sampai detik teman-teman lahir di dunia. Kemudian terus tumbuh berproses, dari bayi merah yang mungil, tumbuh menjadi anak kecil yang lucu, sampai saatnya menginjak usia baligh adalah proses yang Allah siapkan sebelum akhirnya Allah berikan kewajiban untuk mengemban dua visi: beribadah dan menjadi pemimpin bumi (ingat memimpin bumi ya, bukan cuma memimpin diri sendiri).

Sejak saat mencapai baligh, Allah catat semua amal perbuatan kita. Rasulullah bersabda: “Pena (pencatat amal) akan diangkat dari tiga orang, yaitu: dari orang yang tidur sampai dia bangun, dari anak-anak sampai dia balig, dan dari orang yang gila sampai dia sadar (berakal).” (HR. Ibnu Majah). Hadis ini menunjukkan bahwa anak-anak, orang gila, dan orang yang tidur tidaklah dibebani dengan perintah dan larangan (dalam agama). Ini adalah bagian dari bentuk rahmat dan kasih sayang Allah terhadap mereka.

Sehingga jika sobat sudah baligh, wajib untuk menaati apa yang Allah perintahkan dan menjauhi apa yang Allah larang. Sehingga tidak bisa beramal seenaknya sendiri, karena setiap perbuatan kita ada hukumnya. Hai Sob, udah berapa tahun melewati fase baligh tapi masih gini-gini aja?

Sehingga alasan ogah ribet tidak bisa dijadikan dalih untuk tidak belajar agama Islam. Ulama-ulama terdahulu mampu produktif menuliskan 40 lembar tulisan setiap hari (padahal zaman dahulu akses ilmu tidak semudah hari ini). Lha kok kita kajian sepekan sekali saja ogah-ogahan. Jangan heran jika kita kesulitan mengemban dua tugas yang sudah Allah tetapkan di dunia ini, karena kita nggak mau belajar Islam. Akibatnya kerusakan terus terjadi, karena tidak menggunakan manual book instruction dari pencipta bumi. Sebagai contoh hari ini teknologi semakin maju, tapi moral bangsa juga semakin rusak.

Agar kerusakan tidak semakin menjadi-jadi, sudah saatnya kita menggunakan Islam yang mengatur seluruh kehidupan kita, termasuk karakteristik keinstanan kita. Sehingga tidak ada ceritanya pemuda yang terdistraksi dari visi hidupnya karena waktunya habis 10 jam di depan sosial media. Tidak ada orang yang salah fokus menggunakan internet sehingga terkena penyakit mental dan depresi.

Sobat, sadarilah bahwa Gen Z adalah cucunya para pemimpin. Nggak percaya? Coba lihat bio instagram teman-teman sobat sekalian, baru membuat komunitas kecil, sudah dituliskan founder komunitas A, ini menunjukkan bahwa karakter instan gen z tidak selamanya buruk, hanya saja karakter ini perlu dikelola dengan Islam. Sebab jika tidak kita akan senantiasa dieksploitasi oleh teknologi dan peradaban yang menaunginya.

Hari ini potensi pemuda yang penuh energi itu hanya disalurkan untuk joget-joget di depan tiktok, nongkrong di trotoar atau menyanyikan lagu patah hati. Padahal masa muda adalah masa yang paling berat pertanggungjawabannya. “Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi Rabb-Nya, hingga dia ditanya tentang lima perkara, tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan, serta apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya.” (HR Tirmidzi)

Sedangkan dengan Islam, pemuda diaruskan untuk mencita-citakan kewajiban, karena saking sulitnya menjalankan kewajiban sampai harus dicita-citakan. Tak heran mereka mendapatkan predikat umat terbaik. Muhammad Al-Fatih misalnya karena beliau mengerti menaklukkan Konstantinopel tidaklah mudah, beliau mencita-citakan hal tersebut dan mengarahkan potensinya untuk dibina dengan Islam, dan dengan izin Allah, Konstantinopel takluk di tangan Muhammad Al Fatih.

Siapkah teman-teman untuk menjadi bagian dari pemuda yang mencita-citakan kewajiban yang Allah firmankan di dalam Alquran? Mengingat banyaknya kewajiban yang belum bisa terterapkan sehingga perlu diperjuangkan. Maka selamat belajar, selamat berjuang dan tetap semangat mencita-citakan kewajiban! []

Jumat, 02 Desember 2022

Euforia Gila Bola

Setelah empat tahun menanti, akhirnya gelaran piala dunia 2022 di Qatar bergulir pertengahan November ini. Biasanya hajatan besar sepak bola ini dilaksanakan bulan Juni, tapi lantaran pertengahan tahun bertepatan dengan musim panas di Qatar yang suhunya bisa mencapai 50 derajat celcius akhirnya diundur menjelang akhir tahun. Meski begitu, euforia para gila bola tetep tak terbendung. 

Bayangin aja, selama pandemi sekitar 2 tahun semua pagelaran sepakbola minim penonton demi mencegah penularan wabah covid. Kini, kehadiran penonton setelah pandemi mereda ibarat botol minuman bersoda yang dikocok terus dibuka tutupnya, auto membuncah. 

Hasilnya, Piala Dunia 2022 yang digelar selama 29 hari ini diperkirakan akan dihadiri 1,5 juta turis mancanegara. Belon lagi yang nonton di rumah-rumah via layar kaca. Termasuk di negeri kita, meski harus beli set top box biar bisa nobar tetep dijabanin. Gaspol!

Sepakbola Tak Sekedar Permainan

Kalo kita ngulik sejarahnya, sepak bola pertama kali ada di Cina sekitar abad ke-3 dan 2 sebelum Masehi di masa Dinasti Han. Saat itu masyarakat China melakukan sepak bola dengan cara digiring dan dimasukkan ke dalam jaring kecil.

Bola yang digunakan pada masa ini terbuat dari kulit hewan. Masyarakat China dahulu menyebut olahraga yang dimainkan di atas bidang persegi ini dengan sebutan tsu chu. Tsu yang memiliki arti menerjang bola dengan kaki. Sementara itu, chu dapat diartikan sebagai sebuah bola yang memiliki lapisan kulit dan berisi.

Sepak bola kemudian berkembang dan menjadi olahraga populer ke seluruh dunia. Sehingga, resmi menjadi salah satu cabang olahraga pertama yang dipertandingkan dalam kompetisi olahraga terbesar di dunia, yaitu Olimpiade. Selanjutnya, piala dunia sebagai kompetisi sepak bola internasional pertama kali dilaksanakan pada tahun 1930 di Uruguay.

Antusias masyarakat terhadap sepakbola memancing berbagai kompetisi di berbagai tempat. Dari tingkat desa, hingga piala dunia. Tak ayal, pertandingan antar klub, daerah atau negara telah melahirkan fanatisme antar suporter. Fenomena kaya gini sering dianggap wajar sebagai ekspresi dari sebuah cinta atas dasar rasa se-tanah air, sebangsa, senegara, atau sebuah komunitas semu (fans club). Padahal, sikap ashobiyah ini gampang memancing kerusuhan yang dilakukan suporter. 

Yang terbesar, sekaligus yang terburuk di Eropa mungkin adalah Tragedi Heysel, pada laga antara Liverpool kontra Juventus di Final Liga Champions, 29 Mei 1985. Para Liverpudlian yang tak terima tim kesayangannya kalah 0-1 dari Juve, melancarkan serangan ke pendukung 'Bianconeri' dan mengakibatkan 39 orang tewas serta 600 orang luka. Sementara di Mesir, tercatat 74 orang meregang nyawa dan sekitar seribu orang mengalami luka-luka akibat kericuhan antarsuporter usai pertandingan antara klub Al Masry dengan Al Ahly, di Kota Port Said, Rabu 1 Februari 2012.

Selain memancing kerusuhan, ashobiyah juga melahirkan sikap rasisme atau merendahkan orang lain karena perbedaan ras atau warna kulit. Nuansa rasisme ini kental sekali di English Premier League. Sebuah survei yang dilakukan ICM Research dan hasilnya dipublikasikan BBC pada Mei 2004 memperlihatkan 51% dari responden menyatakan kalau Inggris adalah negara yang rasis. 

Selain tawuran, pasar taruhan selama ajang piala dunia juga cukup menggiurkan. Nilai taruhan pada Piala Dunia 2022 kini tembus US$35 miliar atau setara dengan Rp550 triliun. Menurut analis Barclays, jumlah ini meningkat 65 persen dari pertandingan Piala Dunia yang diadakan di Rusia pada 2018 silam. 
 
Terakhir yang sering luput dari perhatian remaja. Aksi nobar alias nonton bareng ajang piala dunia yagn sering digelar di cafe atau rumah makan. Laki perempuan campur baur kaya jemuran. Nggak sedikit yang memanfaatkan untuk mojok berduaan. Nggak ketinggalan, godaan setan pun berkeliaran menggoda setiap pasangan untuk bermaksiat. Dari sekedar nonton, ikut taruhan, sampe mabuk-mabukan. Parah!

Hati-Hati, Permainan yang Melalaikan
Dalam Islam, olahraga maupun permainan hukumnya mubah. Akan tetapi, Islam juga ngingetin jangan sampai aktivitas mubah ini berubah menjadi kegiatan lahwun munadhamun (kesia-siaan yang terorganisasi). Kata lahwun berasal dari kata laha yang berarti perbuatan yang dapat memalingkan seseorang dari kewajibannya, perbuatan yang menyibukkan seseorang dan dapat membuatnya berpaling dari kebenaran. 

Imam Asy-Syathibi menyatakan, “Hiburan, permainan, dan bersantai adalah mubah atau boleh, asal tidak terdapat suatu hal yang terlarang.” Selanjutnya beliau menambahkan, “Namun demikian, hal tersebut tercela dan tidak disukai oleh para ulama. Bahkan, mereka tidak menyukai seorang lelaki yang dipandang tidak berusaha untuk memperbaiki kehidupannya di dunia dan tempat kembalinya di akhirat kelak karena ia telah menghabiskan waktunya dengan berbagai macam kegiatan yang tidak mendatangkan suatu hasil duniawi dan ukhrawi.”

Setiap aktivitas olahraga maupun permainan yang menyebabkan manusia lalai dari tugas utamanya sebagai abdullah yang harus beribadah kepada Allah Swt. dan lalai untuk menyibukkan diri dari kewajiban menuntut ilmu dan berdakwah amar makruf nahi mungkar. Maka, sejatinya telah terjerumus pada hal yang sangat berdosa. Hati-hati!.

Apalagi permainan yang terorganisir itu bikin umat Islam terjerumus dalam kemaksiatan. Terbiasa mengumbar aurat, baik pemain maupun penonton; menunda atau malah meninggalkan salat; saling menghina, mengejek dan memancing perselisihan antara pemain maupun suporter. 

Inilah gambaran jelas lahwun munadhamun, kesia-siaan yang terorganisasi dan berdampak buruk bagi kehidupan seorang muslim di dunia terlebih di akhirat kelak. Allah Swt. telah mengingatkan di dalam firmannya;
“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau.…” (QS. Al-An’am: 32)

Jadi, kalo kamu suka nonton sepak bola, nikmati saja permainannya. Bukan sikap ashobiyahnya. Kalo kamu ngefans ama satu tim, bagusnya simpan dalam hati saja. Nggak perlu ditunjukkan dalam ekspresi berlebihan. Apalagi sampai sewot gak karuan karena tim kesayangan menelan kekalahan. Woles aja cuy!.

Yang perlu kita sadari, ajang kompetisi sepakbola seperti piala dunia selain menyuburkan ashobiyah juga bisa banyak menyita waktu dan perhatian umat. Akibatnya, umat nggak peduli lagi dengan masalah yang menimpanya selain urusan sepakbola. 
Padahal, Rasulullah saw mengingatkan kita agar ketika bangun di pagi hari auto mikir kondisi umat Islam bukan skor pertandingan. “Barangsiapa yang bangun pagi tetapi dia tidak memikirkan kepentingan umat Islam maka dia bukan bagian dari mereka (umat Nabi Muhammad saw ).” (HR. Muslim).

Umat nggak ngeh kalo lagi dijajah secara budaya dan pemikiran melalui gegap gempita ajang kompetisi olahraga yang diadakan secara periodik. Makanya tugas kita untuk menyadarkan umat akan bahaya ajang olahraga yang melenakan dan bersama-sama untuk aktif ikut ngaji dan terjun dalam aktifitas dakwah. Dijamin tak akan melalaikan tapi justru memuliakan. Yuk![341]

Tanda Cinta Untuk Guru


Pahlawan tanpa tanda jasa. Itulah gelar mulia yang diberikan kepada guru di negeri ini. Sudah fix kalo guru adalah sosok berjasa di balik perjalanan kita dalam menimba ilmu. Dari Taman Kanak-Kanak hingga Perguruan Tinggi. Baik di sekolah formal atau non formal.
Minggu ini, para pahlawan itu berulang tahun. Yup, negara menetapkan tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional. Lantas, bagaimana sikap terbaik kita sebagai tanda cinta untuk guru yang tak lekang oleh waktu? Biar nggak penasaran, kita spill caranya. 

Guru Sumber Ilmu

Dalam Islam, guru memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan mulia di sisi Allah SWT. Lantaran guru dengan keilmuannya bisa mengajar anak didik agar cerdas secara akademik dan terbangun kepribadian Islamnya. Nggak heran kalo dulu pemerintahan Islam, sangat menghargai profesi guru. Tak sekedar dikalulngi gelar pahlawan tanpa tanda jasa, tapi dijamin kesejahteraan hidupnya. Tanpa membedakan apakah guru PNS ataukah swasta atau honorer. Sama mulianya. 

Sejarah telah mencatat bahwa guru dalam naungan Islam mendapatkan penghargaan yang tinggi dari negara dengan memberikan gaji yang melampaui kebutuhannya. Diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah, dari Sadaqoh ad-Dimasyqi, dar al- Wadl-iah bin Atha, bahwasanya ada tiga orang guru di Madinah yang mengajar anak-anak dan Khalifah Umar bin Khattab ra. memberi gaji lima belas dinar (1 dinar = 4,25 gram emas; 15 dinar = 63,75 gram emas; bila saat ini 1 gram emas Rp. 850.000, berarti gaji guru pada saat itu setiap bulannya sebesar 54.187.500).

Asyik banget ya. Kalo para guru terjamin kesejahteraannya, tentu bakal ngasih perhatian penuh dalam mendidik anak-anak muridnya. Nggak lagi dipusingkan untuk mencari tambahan pendapatan. Tidak hanya itu, negara menurut Islam juga wajib menyediakan semua sarana dan prasarana dengan maksimal dalam menunjang profesionalitas guru menjalankan tugas mulianya.

Dalam kedudukannya sebagai sumber ilmu, perlakuan murid pada sang guru sangat terjaga adabnya. Seperti ditunjukkan para ulama. Nggak heran kalo mereka tumbuh dan menjadi tokoh-tokoh Islam yang dikenal karena ketinggian ilmunya. Apa aja sih yang dilakukan para ulama saat belajar pada guru-gurunya? 

Pertama, fokus dengerin penjelasan guru. 
Ibnul Jamaah mengatakan, “Seorang penuntut ilmu harus duduk rapi, tenang, tawadhu’, mata tertuju kepada guru, tidak membentangkan kaki, tidak bersandar, tidak pula bersandar dengan tangannya, tidak tertawa dengan keras, tidak duduk di tempat yang lebih tinggi juga tidak membelakangi gurunya”.

Bahkan diriwayatkan Yahya bin Yahya Al Laitsi tak beranjak dari tempat duduknya saat para kawannya keluar melihat rombongan gajah yang lewat di tengah pelajaran, Yahya mengetahui tujuannya duduk di sebuah majelis adalah untuk mendengarkan apa yang dibicarakan gurunya bukan yang lain.

Kedua, berbicara sopan kepada guru. 
Para Sahabat Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam, muridnya Rasulullah, tidak pernah kita dapati mereka memotog ucapannya atau mengeraskan suara di hadapannya. Bahkan Umar bin Khattab yang terkenal keras wataknya tak pernah meninggikan suaranya di depan Rasulullah. Dalam hadist Abi Said al Khudry radhiallahu ‘anhu juga menjelaskan,
"Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satu pun dari kami yang berbicara” (HR. Bukhari).

Ketiga, sabar dalam membersamai sang guru. 

Kalo kamu kena teguran karena tak mengerjakan tugas? Dapat hukuman lantaran bercanda kelewatan? Atau kena sentil karena gangguin teman? Woles aja. Meski sakit hati, bikin malu, dan ngerasa nggak nyaman, tetap bersabar dan jangan pernah berpaling dari kebaikan guru. Apalagi sampai bertindak kasar dan melawan. Atau malah menjelek-jelekkan nama baiknya di sosial media biar viral. Nggak banget. 

Al Imam As Syafi Rahimahullah mengingatkan, “Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru
Sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya”

Berbahagialah selagi masih ada guru yang sabar mengajari kita. Jangan pernah melupakan kebaikan para guru yang dengan telaten membimbing kita. Mereka yang telah mengantarkan kita pada titik ini dan kelak pada puncak keberhasilan di dunia dan akhirat. Seperti dalam lagu salah satu group band “Aku ada karena kau pun ada....”

Muliakan Gurumu, Berkah Ilmumu

Burhanuddin az-Zarnuji berkata, “Orang-orang yang hadir di majlis ilmu itu banyak, namun mengapa yang keluar (berhasil) hanya sedikit? Hal itu, karena kebanyakan mereka tidak mengerjakan adab penuntut ilmu.”

Catet tuh. Salah satu faktor yang menjadi kesuksesan para penuntut ilmu adalah komitmen mereka dalam menjaga adab alias sopan santun saat menjalani proses bejalar. Baik ketika menimba ilmu maupun perlakukan mereka terhadap para guru. Kenapa menjaga adab itu sangat penting, terutama bagi kita selaku pelajar? 

Mencintai ilmu berarti mencintai orang yang menjadi sumber ilmu. Menghormati ilmu berarti harus menghormati pula orang yang memberi ilmu. Itulah guru. Tanpa pengajaran guru, ilmu tak akan pernah bisa didapatkan oleh si murid.

Seorang ulama, DR. Umar As-Sufyani Hafidzohullah mengatakan, “Jika seorang murid berakhlak buruk kepada gurunya maka akan menimbulkan dampak yang buruk pula, hilangnya berkah dari ilmu yang didapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya, atau tidak dapat menyebarkan ilmunya. Itu semua contoh dari dampak buruk.”

Seperti apa bentuk memuliakan guru, kita bisa merujuk pada kitab Ta’lim Muta’alim karya Sheikh Az-Zarnuji. Di antaranya, 
Seorang murid tidak berjalan di depan gurunya
Tidak duduk di tempat gurunya
Tidak memulai bicara padanya kecuali dengan izin guru
Harus menjaga waktu, jangan mengetuk pintunya, tapi menunggu sampai guru keluar
Seorang murid harus mencari kerelaan hati guru, harus menjauhi hal-hal yang menyebabkan guru marah, mematuhi perintahnya asal tidak bertentangan dengan agama.

Termasuk menghormati guru adalah juga dengan menghormati putra-putra guru, dan sanak kerabat guru
Jangan menyakiti hati seorang guru karena ilmu yang dipelajarinya akan tidak berkah.

Inilah salah satu penerapan dari hadits Rasulullah saw: 
“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti hak ulama” (HR. Ahmad).

Mari kita tunjukkan tanda cinta untuk guru yang tak lekang oleh waktu. Awali dengan menunjukkan penghormatan kita pada semua guru. Agar ilmu mudah kita terima dan bermanfaat untuk semua. Muliakan gurumu, berkah ilmumu. Yuk!