Senin, 30 September 2019

AJARI AKU ISLAM



Islam KTP. Sering dong dengar istilah ini? Maksudnya beragama Islam tapi cuma sekedar identitas doang alias ngga menjalankan ajaran dan tuntunan agamanya. Islam sih tapi ngga sholat, Islam sih tapi pacaran, Islam sih tapi korupsi dan masih banyak lagi. Banyak apa banyak yang kaya gini?? Sayangnya banyak. Seolah berIslam karna “kebetulan”, kebetulan aja punya orang tua agamanya Islam atau bisa dibilang Islam keturunan. Syukur tentunya ketika kita terlahir sebagai seorang muslim, agama fitrah yang Allah ridhoi. “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam...”. (TQS. Ali Imran: 19). Namun, ada hal menggelitik dimana ada yang berpendapat begini “enakan jadi mualaf ya, karna kalo mualaf itu selain dosa-dosanya diampuni mualaf itu lebih getol (rajin) ibadahnya trus agamanya lebih kuat”. Hmm... mungkin bisa ya bisa juga ngga, bisa iya karna mualaf tadi yang notabene ngga terlahir dalam keadaan muslim, akhirnya dia mencari tahu tentang Islam, ada ketertarikan dengan keindahan dan kesempurnaan Islam then mutusin berhijrah jadi muslim deh (mualaf). Nah, karna belajar dan harus mendalami agama inilah akhirnya sang mualaf konon akan lebih taat dalam berIslam. Bisa juga ngga, karna bisa jadi si mualaf berIslam bukan karna mendapati Islam sebagai agama yang benar, intinya bukan karna dorongan iman. Misal, hanya karna pasangannya beragama Islam jadi untuk meresmikan atau men-sahkan pernikahannya akhirnya berIslam deh. Sesudah itu, ngga ada tuh dorongan untuk mendalami atau mengkaji agama (Islam) jadi ya sama aja, berIslam cuma identitas aja.

Jadi intinya, mau lahir sudah Islam (karna ortu Islam) atau pun karna hidayah dan akhirnya jadi mualaf tetep aja kita harus mendalami agama kita. so, ngga cukup tuh bilang iman sama Allah tapi ngga ta’at sama aturan Allah. Remember guys, Allah itu bukan hanya Tuhan Pencipta tapi juga Tuhan Yang Mengatur segala yang ada di langit dan di bumi. Nah, hakikatnya makhluk sebagai hamba ya taqwa, ta’at tanpa nanti ta’at tanpa tapi.

Antara Iman, Ilmu dan Amal

“Waro aitannaasa yadkhuluuna fii diinillahi afwaaja(n). Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong”. (QS. An Nasr: 2). Belakangan ini kita melihat semakin banyaknya orang khususnya figur publik yang memutuskan bersyahadat dan menjadi seorang mualaf. Tak berhenti sampai situ diantara mereka pun aktif memperdalam ilmu agama dengan rajin menghadiri kajian Islam. Sebut saja artis Deddy Corbuzier, Roger Danuarta, Giovani L. Tobing, Marcella Simon dan juga yang baru-baru ini bersyahadat adalah kakak kandung dari seorang pengemban dakwah Ustadz Felix Siauw. Seorang yang sama sekali tidak pernah ada di pikiran Ustadz Felix bahwa kakaknya akan bersyahadat dan menjadi seorang mualaf. Karna pertentangannya selama ini terhadap diri dan dakwah Ustadz Felix dibanding ayahnya yang justru selalu mensupport Ustadz Felix bahkan dalam dakwah beliau. Tentu yang sering didoakan untuk menerima hidayah adalah ayahnya karna kebaikan dan dukungannnya, namun itulah kita tidak pernah bisa menentukan hati siapa yang terketuk oleh hidayah Allah. “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (TQS. Al Qashash: 56).

Jadi sebenarnya sama saja, beriman sedari lahir atau beriman setelah tersentuh hidayah. Keduanya harus menyertakan keimanannya dengan ilmu agar imannya menjadi solid, kokoh dan kuat. Karna iman itu diyakini hati, diucapkan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan. Nah, yakin doang ngga cukup karna ada konsekuensi dari keimanan yaitu siap mengamalkan segala perintah Allah SWT, Tuhan Esa yang ia yakini. Jangan sampe punya iman yang kaleng-kaleng, bilang iman tapi giliran disuruh taat ogah (ngga mau). Maka ngga heran kalau Allah banyak menyandingkan kata iman dan amal. Alladziina aamanuu wa ‘amiluushshaalihaat, orang-orang yang beriman dan beramal sholih. See, ilmu menjadi sangat penting agar iman kita benar dan lurus serta dengan ilmu pula kita jadi paham apa saja yang Allah perintahkan untuk kita laksanakan. Iman itu seperti cinta yang harus dibuktikan dan sangat bisa jadi perlunya pengorbanan untuk menguji iman dan cintanya kepada Allah SWT. “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?”. (TQS. Al Ankabut: 2). Ujian ini tentu untuk mengetahui kadar iman dan cinta kita kepada Allah. Mungkin teman-teman kita yang mualaf diuji melalui keluarganya yang bisa jadi belum bisa menerima keputusan pindahnya agama mereka menjadi muslim. Buat muslim/muslimah yang hijrah menjadi yang lebih baik mungkin diuji dengan omongan orang dibilang inilah itulah, atau karna ketaatannya untuk tetap terikat dengan aturan Allah ada yang akhirnya dipecat dari kerjaannya. Allah SWT sudah kasih tipsnya kok saat kita diberi ujian keimanan. “Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan”. (TQS. Ali Imran: 186). Bold deh tuh, sabar dan takwa.

Belajar Islam yuk!!

Ok, ternyata peran ilmu lagi-lagi sangat penting bahkan untuk urusan iman agar beragamanya kita atau berIslamnya kita benar-benar sesuai dengan tuntunan dari Allah. That’s why, jangan sampai kita salah pilih dalam mencari ilmu dan yang kelak akan mengajarkan kita tentang Islam. Jangan sampai pula semisal kita mau belajar tentang bagaimana membuat donat yang lezat tapi nanyanya malah ke tukang pengrajin sapu. Gini friends, pertama ngga masalah siapa pun yang kita dengar dan ikuti kajiannya selama apa yang disampaikan benar sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunah, intinya semua harus berdalil dan dalilnya benar. So, jangan segan untuk menanyakan dalil dari materi kajian yang disampaikan, jangan pakai dalilnya “katanya ustadz ini katanya ustadz itu”. Inget ya temans, berislam itu ngga boleh sekedar taqlid buta alias ikut-ikutan aja tanpa kita tahu terlebih dulu dalil jelasnya misal Al Qu’an surat apa hadits riwayat siapa. Kedua, Kita belajar Islam itu untuk semakin membuat kita lebih dekat dengan Allah dan RasulNya, lebih cinta atas keindahan dan kesempurnaan Islam, lebih bangga menjadi seorang muslim. Kalau sekarang ini, Islam kita seolah sedang diframing radikal-lah, intoleran-lah atau apalah. Sehingga seolah Islam perlu di”edit” menjadi Islam nusantara, Islam moderat atau apalah yang konon agar Islam tertampil lebih “damai” dan “ramah”. Malah sampai dibikinin film segala untuk menampilkan citra Islam yang ngga radikal, bagaimana seorang santri yang seharusnya begitu menjaga prinsip-prinsip Islam malah ditampilkan santri yang berdua-duaan dengan lawan jenis. Lalu, bagaimana mereka menampilkan seolah Islam toleran dengan masuk ke tempat ibadah agama lain dan ikut mengapresiasi peribadatan mereka. Padahal, clear toleransi dalam Islam itu lakum diinukum waliyadiin, untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku. Biar saja mereka beribadah sesuai dengan keyakinannnya. Come on, jangan nodai imanmu dengan maksud hati membela Islam yang ada malah merusak kesempurnaan Islam. Inget lagi ya friends, tetap jernih berpikir dan jangan terburu-buru untuk meng-iya-kan label-label itu dan akhirnya kita terjebak takut dengan agama (Islam) kita sendiri atau Islamophobia. Seorang yang senantiasa berpikir dan menggunakan akalnya pasti deh ngga akan gitu aja nerima atau membenarkan apa yang massif disuarakan, dia pasti mencari tahu apakah benar Islam itu seperti yang dituduhkan. Diingetin lagi nih, standar kita Al Qur’an dan Sunnah, bukan banyaknya orang yang bilang ini dan itu. Ketiga, keep calm and prove it. Sulit untuk menutup mata dan telinga atas kondisi sekarang ini dimana Islam sebagai agama sempurna dijauhkan khususnya dari generasi mudanya tapi anehnya budaya barat yang merusak malah dibiarkan melenggang masuk menjadi gaya hidup yang dianut. Oleh karnanya, berIslam sekarang ini memang ngga mudah. Mau ta’at dipersulit, yang maksiat malah dipermudah. Benarlah apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw, “Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api” (HR. Tirmidzi). Tapi, Rasul juga nyemangatin lewati sabdanya, “Islam datang dalam keadaan yang asing, dan akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntunglah orang-orang yang asing”. (HR. Muslim). So, sebagai generasi muda muslim tetaplah semangat mengkaji Islam karna dengan begitu kamu akan tahu mana yang benar dan tidak, mana yang fact mana yang fake, dan terlebih lagi dengan mengkaji Islam kamu akan semakin fall in love with Islam. Then, cukup buktikan Islam yang sesungguhnya dengan menjadi remaja muslim/muslimah yang berkepribadian Islam. The last, proud to be muslim salah satunya ngajakin teman-teman atau siapa pun untuk kenal lebih dekat dengan Islam. karna Islam itu semakin didekati maka akan semakin mempesona.

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Jumat, 20 September 2019

MUSLIM BROTHERHOOD



Gaes, dalam bergaul setuju atau nggak setuju ada faktanya teman-teman kita kadangkala ngeliat sebelah mata teman-temannya yang menurutnya nggak ‘selevel’. Akibat lanjutannya, kadang berangkat dari pandangan kayak gitu, lalu muncullah bullying, mulai dari verbal bahkan sampe fisik. Semoga, man-teman pembaca bulletin keceh teman surga ini, nggak ada yang kayak gitu. Nah, biar nggak kayak gitu, trus juga bisa ngingetin teman-teman kita yang sering ngelakuin hal kayak gitu, yuk simak sampe tuntas bulletin ini. Oiya, jangan lupa, kasihkan bulletin ini ke teman-teman kamu, sebagai bentuk dakwahmu. Siap?!

No Body Perfect
Betapapun kita menginginkan orang lain sesempurna kita, itu suatu hil yang mustahal, eh.. kebalik, suatu hal yang mustahil. Karena kenyatannya kita sendiri aja, nggak sempurna. Apa kita sudah terlanjur jadi sosok yang sempurna, lalu bisa mengolok-olok seenak-enaknya orang lain? Enggak bro, kita ini juga nggak sempurna. Kita ada yang tidurnya ngorok alias mendengkur misalnya, yang bisa jadi itu menurut orang lain, memandang diri kita nggak sempurna. Jadi, sebenarnya yang bikin kita mudah merendahkan orang lain, karena kita merasa diri kita lebih tinggi, lebih baik, lebih berharga. Itulah cikal bakal, tumbuhnya rasa sombong dari situ. Naudzubillah min dzalik.

Coba deh, sebelum kita mudah meremehkan orang lain, inget lagi, kita ini siapa yang menciptakan? Kita diciptakan dari sumber yang sama, yakni al-Khaliq Allah Subhanullahu Wa Ta’ala, Allah yang Maha Suci dan Maha Tinggi. Sehingga nggak layak banget kita sombong, hanya Allah yang berhak ‘sombong’, kalo kita sombong, itu namanya TER-LA-LU. Sebab harta kita, bahkan tubuh dan nyawa kita ini, hanya pinjaman dari Allah, kalo suatu saat, Allah memintanya lagi, kita nggak bisa ngapa-ngapain.

Bro en Sis, ini renungan bersama buat kita, nggak layak kita sombong, dan nggak boleh memandang remeh orang lain. Kelebihan yang kita miliki itu hanya titipan, nggak lantas bikin kita tinggi hati lalu merendahkan orang lain yang mungkin punya kekurangan. Kalo pun, memang ada faktanya ada orang yang tidak sempurna fisik atau perilakunya, pasti Allah telah memberinya potensi yang berbeda dengan kita. Justru orang yang kita anggap remeh, bisa jadi adalah orang yang termulia di hadapan Allah, karena ketaatannya. Bahkan Allah juga sudah menyatakan, bahwa yang paling mulia diantara kita bukan karena harta, jabatan apalagi fisik, melainkan ketakwaan.

“…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al-Hujurat: 13).

Beda Pendapat, Bolehkah Merendahkan?
Dikutip dari Buku ‘Kisah-Kisah Unik’ karya Dr. Aidh Al-Qarni, Saat itu para shahabat berkumpul dalam satu majelis, sementara Rasulullah SAW tidak bersama mereka. Khalid bin Walid, Abdurrahman bin Auf, Bilal, dan Abu Dzar duduk di dalam majelis. Abu Dzar adalah orang yang memiliki ketajaman dan temperamen tinggi.

Orang-orang berbicara mengenai satu topik pembicaraan. Lalu Abu Dzar berbicara dan menyampaikan sebuah usulan, “Aku mengusulkan agar pasukan diperlakukan demikian dan demikian.”. Tiba-tiba Bilal menimpali, “Tidak, itu adalah usulan yang salah.”

Lantas Abu Dzar berkata, “Beraninya kamu menyalahkanku, wahai anak wanita berkulit hitam?” “Lâ Ilâha illallâh! Bercerminlah engkau. Lihatlah siapa dirimu sebenarnya?” Lanjut Abu Dzar. Seketika itu Bilal berdiri dengan terkejut dan marah sejadi-jadinya sambil berkata, “Demi Allah, aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah SAW,” lalu Bilal pun pergi kepada Rasulullah SAW.

Ketika Bilal sampai kepada Rasulullah SAW, dia berkata, “Wahai, Rasulullah. Maukah engkau mendengar apa yang telah dikatakan oleh Abu Dzar kepadaku?” Rasulullah saw. menjawab, “Apakah yang telah dikatakannya?” Bilal berkata, “Dia telah berkata begini dan begitu.”

Seketika itu rona muka Rasulullah SAW berubah. Lalu Abu Dzar bergegas datang dengan tergopoh-gopoh. Dia berkata, “Wahai, Rasulullah. Assalâmu ‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.” Ketika itu Rasulullah sangat marah, hingga dikatakan, “Kami tidak tahu apakah Nabi menjawab salamnya atau tidak.” Nabi bersabda, “Wahai, Abu Dzar. Engkau telah menghinakannya dengan merendahkan ibunya. Di dalam dirimu terdapat sifat jahiliyah.” (HR. Bukhari).

Kalimat tersebut terdengar bagaikan petir di telinga Abu Dzar. Lantas dia menangis, dan menghampiri Rasulullah, lalu berkata, “Wahai, Rasulullah. Beristigfarlah untukku. Mintakanlah ampunan dari Allah untukku.” Kemudian dia keluar dari masjid sambil menangis. Abu Dzar pergi dan meletakkan kepalanya di atas tanah yang dilalui Bilal. Lalu Bilal menghampirinya.

Abu Dzar menghempaskan pipinya ke atas tanah, dan berkata, “Demi Allah, wahai Bilal.  Aku tidak akan mengangkat pipiku, kecuali engkau menginjaknya dengan kakimu. Engkaulah orang yang mulia dan akulah yang hina.”   Lantas Bilal menangis dan mendekat, lalu menciumi pipi itu. Pipi itu tidak pantas diinjak dengan kaki, namun hanya pantas untuk dikecup. Pipi itu lebih mulia di sisi Allah daripada diinjak dengan kaki.

Kemudian keduanya berdiri dan berpelukan sambil menangis. Allah akan meninggikan kedudukanmu, wahai Abu Dzar, sampai batas ini. Sungguh, itulah didikan Islam, dan kehidupan di bawah naungan Al-Qur’an.

“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman. Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Mahagagah lagi Mahabijaksana.” (QS Al-Anfal: 63).

Man-teman semuanya, coba renungkanlah kata-kata Abu Dzar “Demi Allah, aku tidak akan mengangkat pipiku hingga engkau menginjaknya dengan kakimu.” Itulah perilaku para sahabat Nabi SAW, ketika melakukan sebuah kesalahan karena merendahkan orang lain, yang mungkin berbeda pendapat. Satu sisi kita belajar dari Abu Dzar, di sisi yang lain, kita belajar juga dari sosok seorang Bilal bin Rabbah yang pemaaf.

Maka dari fragmen perikehidupan para sahabat diatas, kita mendapati pelajaran bahwa kita yang saat ini masih suka mencela-cela saudara kita, apalagi yang seiman dan seislam hanya gegara berbeda pendapat, lalu mengatainya di sosmed, itu bukanlah perilaku muslim yang mulia. Berbeda pendapat, berbeda mazhab, berbeda pandangan fikih, nggak lantas membuat kita suka mencela dan merendahkan, apalagi sampe menyebut dengan merendahkan fisik, keturunan, ataupun kedudukan sosial. Sungguh itu nggak layak dilakukan oleh sesama saudara muslim.

Kalo pun memang berbeda pendapat, beda pandangan soal fikih misalnya, maka sikap yang diambil bisa dua. Pertama, kita menghormati pendapat fikih yang berseberangan dengan pendapat yang kita ambil dan kita kerjakan. Kedua, kita bisa berdiskusi, adu argumentasi dalam diskusi yang sehat dengan mengetangahkan dalil masing-masing. Jika akhirnya dari diskusi tersebut ternyata ada landasan kuat dalil maupun penggalian dalil, maka kembali ke pilihan pertama, menghormati.

Sehingga tidak lantas, menghina dan menghujatnya di sosial media, yang berakibat itu bisa ditiru oleh netizen yang lain. Apalagi, kalo yang ngelakuin itu sudah seorang tokoh yang diagung-agungkan, maka sudah pasti, bakal jadi viral sekaligus panutan ditiru para netizen-nya yang belum tentu paham akan apa inti dari ilmu yang diperdebatkan tersebut.

Sesama Muslim Itu BrotherHood
Yuk, bijaklah dalam berperilaku, santunlah dalam bersosial media, gunakanlah adab ketika berbeda pendapat. Selama itu saudara kita semuslim dan seaqidah, nggak layak kita meremehkan. Perbedaan pendapat, itu sudah lampau terjadi di masa-masa sahabat, tabi’in, tabi’t tabi’in, tapi tidak lantas membuat mereka mencela apalagi berpecah-belah. Cukuplah pelajaran dari Abu Dzar dan Bilal tadi menjadi pengingat bagi kita agar, kita saling menghormati, saling menyayangi.

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min BERPERANG maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan berbuat ANIAYA terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah BERSAUDARA, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (QS. Al-Hujuraat: 9-10)

Ketika sesama kaum muslimin berselisih, seharusnya perselisihan tersebut dikembalikan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. “Kemudian jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (As-Sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya” (Qs. An-Nisaa’: 59).

Nah, pertanyannya gimana kalo dengan yang bukan muslim? Pada prinsipnya ketika dengan yang bukan muslim, kita pun nggak boleh merendahkan yang memang terkait fisik, harta dan sejenisnya. Kembali ke sikap dasar, bahwa itu hal yang nggak layak kita lakukan kalo itu berkaitan dengan kemanusiaaan, tapi kalo sudah soal agama atau ibadah, ya maka prinsipnya lakum dinukum wa liyadin ‘untukmu agamamu, untukku agamaku’, itulah toleransi yang sebenarnya. Jangan sampe kalo urusan agama, kita bersikap yang keliru, keras dengan yang sesama saudara muslim, tapi malah justru lembek kepada orang yang bukan muslim.

"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, . . ." (QS. Al-Fath: 29)

Maka, demi menjaga muslim brotherhood harusnya sikap kita yang kita ambil dengan saudara muslim adalah berkasih sayang, bukan sebaliknya. “ Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imron: 159)

Maksud dari bersikap keras di sini adalah bertutur kata kasar (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 3/233, Muassasah Qurthubah). Al Hasan Al Bashri mengatakan dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3/232, “Berlaku lemah lembut inilah akhlaq Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang di mana beliau diutus dengan membawa akhlaq yang mulia ini.”

So, mulai saat ini yuk dijaga sikap dan perkataan kita terhadap sesama muslim agar ukhuwah brotherhood itu juga tetap terjaga. Jika ada selisih pendapat, kita tidak boleh merendahkan atau menjelekkan saudara kita sesama muslim. Apalagi, kita cuman dititipin harta, ketampanan atau kecantikan oleh Allah, lalu kita merendahkan saudara kita yang lain, itu nggak boleh. Catet! []

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Minggu, 15 September 2019

BE A SMART READER



Saat kita terlahir ke dunia, tangisan adalah komunikasi yang sering digunakan di kala merasa lapar dan butuh makan, merasa haus ingin minum, merasakan sakit dan tidak nyaman dan masih banyak lagi. Sampai terus bertumbuhnya sang bayi mulai bisa mengikuti kata per kata yang disampaikan Ibunya sebagai sosok yang paling sering bersama dengan bayi mungilnya. Meski terkadang belum terlalu jelas bicara, namun sudah bisa berkomunikasi dengan kata. Tak letih ibu mengajarkan kita bicara dan mengenalkan nama-nama benda yang ada disekitar kita. Bisa bicara dengan beberapa kata tidak berarti kita langsung bisa membaca. Lagi, lagi.. Ibu sebagai guru pertama mengajarkan huruf per huruf yang dirangkai menjadi kata, dan kata per kata yang dirangkai menjadi kalimat sampai akhirnya kita bisa membaca dan belajar banyak. Bisa membaca pada saat itu membuat kita senang mengeja dan membaca setiap kata atau tulisan yang dilihat. Dan ada kebahagiaan tersendiri saat kita berhasil membaca tulisan tersebut dengan benar. But, gimana kamu sekarang ini? Saat usiamu beranjak remaja, apakah membaca masih menjadi kegemaran kamu?

You Are What You Read

For your information. Angka buta aksara atau buta huruf di negeri ini memang menurun hingga tersisa kurang lebih 1% dari total penduduk Indonesia itu artinya jumlah penduduk Indonesia yang bisa membaca sudah diatas 98%. Namun sayangnya hal ini tidak dibarengi dengan peningkatan minat membaca terlebih di kalangan pelajar. Hasil dari penelitian dari Program for International Student Assessment (PISA), Indonesia berada pada ranking 62 dari 70 negara yang disurvei. Ada beberapa faktor yang membuat minat baca di kalangan pelajar rendah bahkan perpustakaan rasanya sudah jarang atau mungkin tidak pernah disinggahi, jika pun mengunjungi perpustakaan karna ada tugas sekolah. Akhirnya buku-buku di perpustakaan pun banyak yang kotor, rusak  bahkan habis dimakan oleh rayap. Faktor pertama rendahnya minat membaca, sulitnya mengakses buku-buku berkualitas. Kedua, buku-bukunya dirasa kurang menarik sehingga kurang antusias untuk membaca. Akhirnya mereka lebih senang membaca buku-buku terjemahan dari luar negeri. Ketiga, tentu peran pemerintah yang harus lebih concern dalam meningkatkan minat membaca salah satunya menyediakan buku-buku berkualitas yang menarik dibaca dan memfasilitasi perpustakaan-perpustakaan yang nyaman dan bikin betah berlama-lama membaca.

Buku adalah jendela dunia, dari membaca kita jadi tahu apa saja yang ada di dunia ini. Dari buku kita mengetahui dan memahami banyak hal. Tentu buku yang kita baca harus buku yang berfaedah ya friends, buku yang mengandung ilmu yang bermanfaat. B’coz you are what your read, kamu adalah apa yang kamu baca. Kalau senangnya baca buku fantasi, ngga jauh pasti kamu senang berpikir fantasi dan berimajinasi. Nah, hati-hati nih.. misal kamu baca buku yang peran utamanya bisa terbang pakai sapu, trus punya tongkat sihir dan keajaiban lainnya akhirnya kamu berimajinasi ingin seperti itu. Ngga sedikit lho, orang-orang yang terobsesi menjadi apa yang diimajinasikan sampai rela mengeluarkan banyak uang hanya untuk mengoperasi tubuhnya agar mirip dengan tokoh tertentu. Ada yang terobsesi menjadi putri duyung, menjadi seperti barbie, menjadi superhero seperti spiderman atau superman. So, mulailah pilih buku bacaan yang bikin kamu jadi tambah cerdas dan tambah sholih. Kalau sudah begini kamu pasti bakalan jadi tambah keren.

Buku dan ilmu memiliki tempat yang istimewa di dalam Islam. Buku adalah cara agar ilmu bisa terjaga dan terus memberikan manfaat bahkan ketika penulisnya sudah meninggal dunia. Dan ini bakal jadi amal jariyah yang terus memberikan pahala selama ilmu tersebut masih dimanfaatkan. Islam mewajibkan menuntut ilmu bagi setiap muslim baik ilmu pengetahuan terlebih ilmu agama. Oleh karnanya, banyak keutamaan yang dimiliki seorang penuntut ilmu yaitu Allah angkat derajatnya dan Allah mudahkan jalan ke surga bahkan dimintakan ampun atas dosa-dosanya. Allah SWT berfirman “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (TQS. Al Mujadilah: 11). Selain itu Rasulullah saw bersabda “Barang siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya ke surga. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayapnya (memayungkan sayapnya) sebagai tanda ridho pada penuntut ilmu. Sesungguhnya orang yang berilmu dimintai ampun oleh setiap penduduk langit dan bumi, hingga ikan yang berada didalam air...” (HR. Abu Daud).

Buku dibayar dengan emas? Yess.. siapa saja yang mempunyai karya yang dibukukan maka Ia akan dibayar dengan emas seberat berat buku tersebut. Kemudian buku tersebut bisa diperbanyak dan disebarkan tanpa perlu izin dari sang penulis. Hal ini pernah terjadi pada masa Khalifah Al Makmun yang memberikan emas kepada Hunain bin Ishak seberat kitab-kitab yang Ia salin ke bahasa arab. Sudahlah dihargai dan dibayar dengan emas, kita pun bisa mendapat pahala yang mengalir selama buku dan ilmunya dimanfaatkan. Amazing!! Kalau kaya gini sih siapa yang ngga pengen jadi penulis? Yang perlu TemanS ingat, ada pahala yang mengalir bahkan ketika kita sudah meninggalkan dunia ini sekali pun, saldo pahala akan terus mengisi pundi-pundi amalan kita.

Generasi Milenial Cinta Al Qur'an

Iqra!! Bacalah!! Ayat pertama dari surat Al-Alaq yang memerintahkan untuk membaca. Karna dari membacalah kita dapat mengetahui tentang banyak hal. that’s why orang yang hobinya membaca pasti orang yang punya wawasan luas dan pengetahuan yang banyak. Yakin deh, orang kaya gini ngga akan tulalit kalau diajak ngobrol atau diskusi tentang apa saja. Kalau menurut kebanyakan orang, gaul itu yang slalu mengikuti apa saja yang sedang happening. Tapi, bagi versi Teman Surga gaul itu yang tahu tentang banyak hal dan tak segan membagi ilmunya kepada yang membutuhkan. Ngga keren kan, dandanan modis stylish tapi pas ditanya ini dan itu jawabnya cuma garuk-garuk kepala karna ngga tahu.

Memanglah, di era 4.0 sekarang ini bisa dibilang masa yang hampir semuanya menggunakan teknologi atau internet. Semua bisa dilakukan melalui ponsel pintar yang hanya dengan sentuhan jemari seolah kita bisa menjelajah dunia. Termasuk membaca, di era digital ini buku pun dibuat menjadi e-book atau electronic book yaitu buku digital yang berisi informasi. Hal ini tentu memudahkan bagi siapa saja yang mau mencari informasi, walaupun tetap saja ada plus minus dari yang namanya teknologi. Misal, kalau baca buku melalui smart phone tidak lebih leluasa dibanding membaca bukunya langsung, ditambah mata mudah lelah saat membaca tulisan di layar HP, tablet ataupun PC. Kemajuan teknologi memang tidak bisa dihindarkan karna itu adalah hasil dari berkembangnya ilmu pengetahuan (sains), namun bagi kita seorang muslim harus bijak dalam memanfaatkan atau menggunakan teknologi sesuai dengan syariat Islam.

Wahai generasi milenial!! Kalau bukan kamu siapa lagi? Generasi cemerlang yang kelak membawa perubahan negeri ini menjadi gemilang. So, mulailah senang membaca buku yang berfaedah karna dari situ kamu akan tertunjuki pada ilmu yang bisa menerangi dunia bahkan kelak akhiratmu. Jika membaca sudah menjadi habbitmu, pastikan bahwa kamu tidak termasuk ke dalam yang belum bisa membaca Al-Qur’an. Jika angka buta aksara Indonesia hanya 1%, ternyata untuk angka buta aksara (huruf) Al-Qur’an di Indonesia masih tinggi yaitu sekitar 65%. Bisa jadi ngga sedikit orang yang hapal huruf hijaiyah tapi belum bisa membaca Al-Qur’an. Masih besarnya rasa malu untuk memulai belajar baca Al-Qur’an ketika sudah beranjak remaja atau dewasa menjadi faktor yang juga menghambat berkurangnya angka buta huruf al Qur’an. Padahal, bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali? Sungguh sangat disayangkan, karna Al Qur’an adalah pedoman (petunjuk) hidup manusia agar selamat di dunia dan di akhirat. “...Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)...”. (TQS. Al Baqarah: 185). Bisa jadi banyak faktor kenapa angka buta aksara Alqur’an masih sangat tinggi. Namun, alasan yang mendasar adalah kurangnya kesadaran dan pemahaman bahwa Al Qur’an itu adalah kalamullah (perkataan) Allah yang mengandung perintah dan larangan, di mana setiap muslim wajib tunduk menjalankan perintahNya dan menjauhi apa yang dilarangNya. Kitab sempurna yang berisi berbagai macam hal dari mulai keimanan sampai bagaimana membangun suatu pemerintahan. Oleh karnanya, bagaimana mungkin bisa memahami dan mengamalkan apa yang tersurat di dalamnya, jika membaca Al Qur’an saja belum bisa. Padahal, memahami dan mengamalkannya adalah wajib hukumnya.

Bagi yang sudah bisa membaca Al-qur’an dengan tartil, ber-istiqomahlah. Dan bagi yang sedang and mau belajar membaca Al-Qur’an ber-semangatlah. Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang mahir dengan Al-Qur’an akan bersama-sama dengan rombongan malaikat yang mulia dan senantiasa berbuat baik. Dan orang yang membaca Al-Qur’an tapi terbata-bata dan sangat berat baginya, ia akan mendapatkan dua pahala”. (HR. Muslim). Next, iringi mengaji Al-Qur’an dengan mengkaji Al-Qur’an, niscaya hatimu akan tenang dan kamu akan temukan betapa indah dan sempurnanya Kalam Illaahi ini.

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Rabu, 04 September 2019

HIJRAH KUY!



Tren hijrah di kalangan generasi milenial terus bergulir bak bola salju. Berbagai komunitas hijrah bermuncul seperti jamur di musim hujan. Kegiatan bertema hijrah pun nggak ketinggalan meramaikan lini masa sosial media. Adem ngeliat hijabers dan koko-ers membanjiri acara kajian Islam. Lebih bahagia lagi saat banyak aktivis hijrah saling mengingatkan dan menguatkan satu sama lain.

Terlebih lagi di bulan Muharam 1441 H saat ini, fenomena hijrah tak bisa dilepaskan dari momen pergantian tahun hijriah. Peristiwa hijrah Rasulullah saw dan para shahabat dari Mekkah ke Madinah menjadi tonggak berdirinya negara Islam yang membuka pintu dakwah lebih luas ke seluruh dunia. Tak hanya itu, hijrahnya Rasul juga menunjukkan loyalitas para sahabat dan eratnya ukhuwah di antara kaum Anshar dan Muhajirin. Ngiri.

Muhasabah Sebelum Berhijrah
Secara bahasa, hijrah artinya berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu keadaan ke keadaan yang lain. Rasulullah saw berhijrah dari Mekkah yang penuh kemaksiatan menuju Madinah yang disiapkan untuk menjadi negeri penuh berkah.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bârî menjelaskan, asal dari hijrah adalah meninggalkan dan menjauhi keburukan untuk mencari, mencintai dan mendapatkan kebaikan. Itu berarti, hijrah juga bisa diartikan dengan perubahan diri dari yang buruk menuju yang baik. Gitu.

Namun sebelum berhijrah, titik balik mereka yang mendapatkan hidayah semua bermula dari muhasabah. Mereka mengevaluasi ketidaknyamanan yang terjadi pada diri, keluarga, pergaulan, ibadah, atau bisnisnya. Seperti inilah yang diingatkan oleh Sayyidina Umar bin Khaththab, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (di akhirat, red).”

Yup, selagi kita masih hidup di dunia  yang fana ini, biasakan menghitung amal sholeh dan amal salah yang kita lakukan. Biar bisa memperbaiki diri dan sebelum tiba di hari perhitungan sebenarnya di akhirat kelak.

Selebriti yang berhijrah, sebelumnya berpikir tentang kehidupannya. Berlimpah harta tapi tidak bahagia. Selalu merasa terancam popularitasnya akan turun. Hubungan keluarga nggak harmonis. Banyak kewajiban yang terlalaikan. Hidupnya tersandera oleh kesenangan dunia. Mereka seolah tersadarkan oleh firman Allah swt.

Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit dan pada hari Kiamat (dibangkitkan) dalam keadaan buta.  (Q.S Thaha 124)

Imam Ibnu Katsir berkata tentang ayat ini : Barangsiapa yang menyelisihi perintah-Ku dan ketentuan syariat yang Aku turunkan kepada Rasul-Ku (dengan) berpaling darinya, melupakannya, dan mengambil selain petunjuknya  maka baginya penghidupan yang sempit dan sengsara, yaitu di dunia, dan tidak ada kelapangan dalam hatinya. Bahkan hatinya sempit dan sesak karena penyimpangannya, meskipun (terlihat) secara zhahir (hidupnya) senang. Berpakaian , makan dan bertempat tinggal sesukanya. Akan tetapi hatinya selalu diliputi kegundahan, keguncangan dan keraguan karena jauhnya dari kebenaran dan petunjuk-Nya. (Kitab Tafsir Ibnu Katsir).

Karena itu, muhasabah sebelum berhijrah menjadi suatu keharusan. Biar kita sadar dan bertanggungjawab untuk memperbaiki diri dari kondisi sekarang menuju kondisi yang lebih baik dan penuh berkah. Kita hisab mandiri setiap hari. Buat diri kita nggak nyaman karena telah melalaikan kewajiban atau melakukan kemaksiatan. Dengan begitu, dorongan untuk berhijrah memperbaiki diri lebih cetar membahana.

Hijrah Paket Komplit
Baginda Nabi saw. pernah bersabda: “Muslim itu adalah orang yang menjadikan Muslim yang lain selamat dari lisan dan tangannya. Orang yang berhijrah itu adalah orang yang meninggalkan apa saja yang telah Allah larang” (HR al-Bukhari, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ahmad, dll).

Dalam prakteknya, meninggalkan yang Allah swt larang bukan perkara mudah. Apalagi yang sebelumnya dekat dengan maksiat. Perlu perjuangan ekstra untuk bertobat. Begitulah yang kebanyakan dihadapi mereka yang berhijrah. Banyak tantangan yang dihadapi dari sahabat, kerabat, keluarga, rekan kerja, hingga teman sebaya. Ada yang mendukung, tak sedikit yang mencibir bin nyinyir.

Walhasil, proses hijrah terkadang masih tarik ulur. Belum berani total meninggalkan yang dilarang dan melaksanakan yang diperintah. Masih pilah pilih aturan syariah. Yang bermanfaat diambil. Yang memberatkan ditunda dulu. Padahal kalo mau tobat, jangan nanggung. Entar dosanya keburu menggunung. Khawatir belum juga bertobat, eh ajal sudah mendekat. End game!

Padahal Allah swt sudah ngingetin, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” (Qs Ali Imran: 133)

Makanya, biar tahan banting saat berhijrah, jangan setengah-setengah. Ambil hijrah paket komplit. Tunjukin kalo hijrah kita seriusan. Bukan karena bawaan teman apalagi hilang ingatan. Apa yang mesti kita lakukan ketika memilih hijrah paket komplit?

Pertama, berubah penampilan. Bukan untuk pencitraan. Tapi bagian dari ketaatan. Untuk yang cewek, pelajari dan pahami tata cara berbusana yang sempurna baik di dalam rumah atau di luar rumah. Berhijab tak sekedar menutup aurat dengan tetap menampilkan lekuk tubuh. Patokannya bukan modis bin fashionable biar masuk kategori OOTD muslimah milenial. Tapi standar Islam yang Allah ridhoi.

Untuk cowok, gak masalah membiasakan diri pakai kemeja koko, manjangin jengot atau berkopiah. Berpenampilanlah seperti muslim yang taat. Biar pada tahu dan mendukung kita dalam berhijrah, bukan untuk menuai pujian manusia atau banjir like di sosial media.

Kedua, benahi pemikiran. Tak sekedar penampilan, cara berpikir kita tentang kehidupan, kebahagiaan, materi, keluarga, pertemanan, dan dunia kerja juga mesti ikut dibenahi. Karena bisa jadi, sebelum hijrah banyak informasi salah dan menyesatkan yang mangkal di memori otak kita. sehingga kita berbuat semaunya, mati-matian mengejar kesenangan dunia dan melupakan aturan-Nya.

Karena itu, mengenal Islam lebih dalam jadi suatu keharusan. Perkuat pondasi hijrah kita dengan aktif ikut pengajian. Ringankan langkah kaki kita menuju majlis ta’lim. Buka mata dan telinga kita untuk menyimak ceramah ustadz via channel youtube atau podcast sambil menemani perjalanan atau aktifitas.

Ketiga, aktif berdakwah. Tak cukup memperbaiki diri, berhijrah juga ikut ambil bagian dalam memperbaiki masyarakat. Eits, gak usah minder karena ngerasa ilmu islamnya masih belum mumpuni. Keterlibatan kita dalam dakwah gak mesti ceramah di atas podium. Bisa di belakang layar dengan dukungan materi, peralatan, jaringan, atau kemampuan di bidang yang kita tekuni.

Atau minimal aktif di sosial media dengan membagikan kontent-kontent dakwah yang menginspirasi. Turun ke jalan menyuarakan kebenaran atau membagikan media dakwah.

Dengan hijrah paket komplit ini, insya Allah akan lebih banyak keberkahan yang kita dapat. Persahabatan yang tulus hingga kehidupan yang nyaman dan bahagia.

Istiqomah dalam Hijrah
Jalan hijrah itu nggak semulus jalan tol. Ada aja onak duri, kerikil tajam, turunan curam, tanjakan tinggi, belokan tajam atau batu besar yang menghadang di tengah jalan. Dan pilihan kita cuman jalan itu saja yang harus dilewati. Nggak ada jalan pintas atau jalan layang alias fly over. Karena itu dibutuhkan kesabaran ekstra untuk meniti jalan hijrah dan tetap istiqomah.

Rasulullah saw. ngasih kabar gembira bagi kita-kita yang selalu bersabar dan tetep istiqomah. Sabda beliau:

“Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari yang memerlukan kesabaran. Kesabaran pada masa-masa itu bagaikan memegang bara api. Bagi orang yang mengerjakan suatu amalan pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengerjakan semisal amalan itu. Ada yang berkata,’Hai Rasululah, apakah itu pahala lima puluh di antara mereka?” Rasululah saw. menjawab,”Bahkan lima puluh orang di antara kalian (para shahabat).” (HR Abu Dawud, dengan sanad hasan)

Kita sering ngerasa khawatir kalo istiqomah bikin kita sengsara. Rizki kita berkurang dan ajal lebih cepat datang. Padahal mah kenyataannya, yang nggak istiqomah juga banyak yang rizkinya seret dan ajalnya deket. Justru yang pasti, Allah swt bakal ngejamin kebaikan bagi yang berani istiqomah. Seperti ditegaskan dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Robb kami ialah Allah” kemudian mereka beristiqomah (meneguhkan pendirian mereka), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (QS. Fushshilat [41]: 30).

Sikap istiqomah dalam berhijrah adalah produk dari keimanan yang ada dalam diri kita. Makanya, untuk memelihara sikap istiqomah kita juga perlu memupuk keimanan kita. Caranya?

Pertama, banyak berpikir. Para sahabat, generasi awal kaum Muslimin yang berhasil dididik Rasulullah saw. mengaitkan aktivitas berpikir dengan keimanan. Mereka menjelaskan bahwa, “Cahaya dan sinar iman adalah banyak berpikir” (Kitab ad-Durrul Mantsur, Jilid II, hlm. 409). Semakin kita banyak berpikir tentang kebesaran Allah swt dan mengkaji Islam lebih dalam, lambat laun cahaya keimanan kita akan semakin bersinar. Makanya ikut ngaji.

Kedua, perbanyak ibadah dan jauhi maksiat. Rasul pernah bilang, “iman itu kadang bertambah dan kadang berkurang”. Rasul juga bilang, “iman bertambah dengan taat, dan iman bekurang dengan maksiat”. Makanya kita kudu getol beribadah, baik yang sunah apalagi yang wajib. Dan jangan lupa, jauhi pelaku maksiat juga tempat maksiat. Biar kita nggak kebawa-bawa sesat.

Ketiga, bergaul dengan orang-orang alim. Perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh teman dekatnya. Makanya, sering-sering deh ngumpul dengan teman yang bisa mengajak kita untuk tetap taat dan mengingatkan kita agar jauh dari maksiat. Dengan begitu, tanki semangat kita untuk istiqomah selalu terisi penuh.

Emang nggak mudah menjadikan ridho Allah swt di atas pertimbangan materi, kepentingan keluarga, atau solidaritas teman. Tapi percaya deh, Allah swt pasti akan mengganti setiap pengorbanan kita dalam berhijrah dengan kebaikan dunia akhirat. Bukan cuman untuk kita, tapi juga untuk keluarga, teman, dan orang-orang yang kita sayangi. So, hijrah kuy?! Siapa takut! 

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg