Kebayang nggak sob, gimana jadinya kalo internet hilang dari bumi? Padahal hari ini seluruh aktivitas manusia sangat lekat dengan internet. Apapun yang kita butuhkan bisa kita dapatkan dengan sentuhan jempol saja. Scin care abis langsung gerakan jempol untuk checkout, kamu bingung tanya Om Google, saking pinternya Om Google pasti langsung ngasih feedback. Gak bakalan kayak doi kalo lagi ngambek ditanya diem saja. Sifat instan, efisien, fleksibel emang jadi ciri-ciri yang sangat dekat dengan Gen Z.
Internet dan teknologi memang seperti mata uang, di satu sisi kehadirannya memudahkan kita dan membuat lebih mandiri, di sisi lain kita jadi menginginkan semua hal dengan instan. Dari urusan menyelesaikan pendidikan sampai urusan belajar agama. Hayo siapa yang nyelesain tugas yang deadlinenya besuk tapi baru dikerjain selepas subuh? Udahlah gitu nanyanya ke Om Google lagi. Masa iya pemuda yang menyandang status agent of change ngerjain tugas pake sistem kebut semalam?
Nggak berhenti sampai situ aja kita jadi tahu A sampai Z tentang agama dari channel sosmed dengan begitu mudahnya. Walopun kadang kita masih pilih-pilih mana pendapat yang cocok buat kita…upsss.
Karakter instan yang melekat pada diri kita sebenarnya berperan besar dalam pembentukan mental. Generasi hari ini terbiasa mencari informasi yang lebih sederhana. Daripada membaca buku, kita lebih percaya membaca berita yang sudah disederhanakan di IG dengan judul yang nendang. Ditambah lagi kita jarang memvalidasi apakah berita yang kita baca benar-benar bisa dipercaya sumbernya alias valid. Semakin mudah mengakses informasi sebanding juga semakin banyaknya kita terkena hoax, sebab siapapun bisa mengunggah informasi, siapapun bisa mengomentarinya.
Sadarilah sob, jika setiap hari kita mengonsumsi informasi yang tidak valid, efek yang ditimbulkan buka hanya sehari dua hari, melainkan akan menjadi gambaran siapa diri kita. Karena infromasi yang kita konsumsi akan menjadi pemikiran, pemikiran akan membentuk pemahaman, pemahaman digunakan sebagai kompas untuk melakukan aktivitas, aktivitas yang dilakukan terus menerus akan menjadi habits (kebiasaan).
Kebayang nggak seandainya setiap hari beramal dengan pemahaman yang salah? Bisa jadi amalan kita nggak diterima Allah karena salah satu syaratnya tidak terpenuhi yaitu beramal dengan cara yang benar. Dan beramal dengan benar tidak bisa instan, butuh belajar. Ngeri banget nggak tuh kalau amalan kita nggak diterima karena syaratnya belum lengkap?
Maka satu hal yang harus menjadi perhatian adalah karakter instan tidak boleh dilekatkan pada setiap kesempatan. Sebab semua butuh proses, bahkan untuk memasak mie instan sekalipun juga butuh proses.
Hadirnya kita di dunia ini juga melewati proses yang panjang, butuh sembilan bulan di dalam kandungan sampai detik teman-teman lahir di dunia. Kemudian terus tumbuh berproses, dari bayi merah yang mungil, tumbuh menjadi anak kecil yang lucu, sampai saatnya menginjak usia baligh adalah proses yang Allah siapkan sebelum akhirnya Allah berikan kewajiban untuk mengemban dua visi: beribadah dan menjadi pemimpin bumi (ingat memimpin bumi ya, bukan cuma memimpin diri sendiri).
Sejak saat mencapai baligh, Allah catat semua amal perbuatan kita. Rasulullah bersabda: “Pena (pencatat amal) akan diangkat dari tiga orang, yaitu: dari orang yang tidur sampai dia bangun, dari anak-anak sampai dia balig, dan dari orang yang gila sampai dia sadar (berakal).” (HR. Ibnu Majah). Hadis ini menunjukkan bahwa anak-anak, orang gila, dan orang yang tidur tidaklah dibebani dengan perintah dan larangan (dalam agama). Ini adalah bagian dari bentuk rahmat dan kasih sayang Allah terhadap mereka.
Sehingga jika sobat sudah baligh, wajib untuk menaati apa yang Allah perintahkan dan menjauhi apa yang Allah larang. Sehingga tidak bisa beramal seenaknya sendiri, karena setiap perbuatan kita ada hukumnya. Hai Sob, udah berapa tahun melewati fase baligh tapi masih gini-gini aja?
Sehingga alasan ogah ribet tidak bisa dijadikan dalih untuk tidak belajar agama Islam. Ulama-ulama terdahulu mampu produktif menuliskan 40 lembar tulisan setiap hari (padahal zaman dahulu akses ilmu tidak semudah hari ini). Lha kok kita kajian sepekan sekali saja ogah-ogahan. Jangan heran jika kita kesulitan mengemban dua tugas yang sudah Allah tetapkan di dunia ini, karena kita nggak mau belajar Islam. Akibatnya kerusakan terus terjadi, karena tidak menggunakan manual book instruction dari pencipta bumi. Sebagai contoh hari ini teknologi semakin maju, tapi moral bangsa juga semakin rusak.
Agar kerusakan tidak semakin menjadi-jadi, sudah saatnya kita menggunakan Islam yang mengatur seluruh kehidupan kita, termasuk karakteristik keinstanan kita. Sehingga tidak ada ceritanya pemuda yang terdistraksi dari visi hidupnya karena waktunya habis 10 jam di depan sosial media. Tidak ada orang yang salah fokus menggunakan internet sehingga terkena penyakit mental dan depresi.
Sobat, sadarilah bahwa Gen Z adalah cucunya para pemimpin. Nggak percaya? Coba lihat bio instagram teman-teman sobat sekalian, baru membuat komunitas kecil, sudah dituliskan founder komunitas A, ini menunjukkan bahwa karakter instan gen z tidak selamanya buruk, hanya saja karakter ini perlu dikelola dengan Islam. Sebab jika tidak kita akan senantiasa dieksploitasi oleh teknologi dan peradaban yang menaunginya.
Hari ini potensi pemuda yang penuh energi itu hanya disalurkan untuk joget-joget di depan tiktok, nongkrong di trotoar atau menyanyikan lagu patah hati. Padahal masa muda adalah masa yang paling berat pertanggungjawabannya. “Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi Rabb-Nya, hingga dia ditanya tentang lima perkara, tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan, serta apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya.” (HR Tirmidzi)
Sedangkan dengan Islam, pemuda diaruskan untuk mencita-citakan kewajiban, karena saking sulitnya menjalankan kewajiban sampai harus dicita-citakan. Tak heran mereka mendapatkan predikat umat terbaik. Muhammad Al-Fatih misalnya karena beliau mengerti menaklukkan Konstantinopel tidaklah mudah, beliau mencita-citakan hal tersebut dan mengarahkan potensinya untuk dibina dengan Islam, dan dengan izin Allah, Konstantinopel takluk di tangan Muhammad Al Fatih.
Siapkah teman-teman untuk menjadi bagian dari pemuda yang mencita-citakan kewajiban yang Allah firmankan di dalam Alquran? Mengingat banyaknya kewajiban yang belum bisa terterapkan sehingga perlu diperjuangkan. Maka selamat belajar, selamat berjuang dan tetap semangat mencita-citakan kewajiban! []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar