Senin, 26 Desember 2022

KASIH IBU, DUNIA AKHIRAT


”Seorang ibu mampu mengasuh sepuluh orang anak. Namun sepuluh anak, belum tentu mampu merawat seorang ibu.”

Ungkapan ini sering kita dengar, ya teman-teman. Jika dipikir-pikir memang benar demikian. Sekeras dan sepahit apapun kondisi yang harus dihadapi dalam menjaga anak-anaknya, seorang ibu selalu siap sedia. Tidak ada kata takut, lelah, atau marah untuk melindungi anak-anaknya. Bahkan mati demi anakpun, seorang ibu rela melakukannya. Betapa mulia dan luar biasanya hati seorang Ibu. Maasya Allah!

Simbah Darah Perjuangan Ibu

Sejak awal terdeteksi adanya kehidupan lain di rahim ibu, maka sejak itu pula seluruh kasih tercurah. Ibu begitu bahagia dan sangat hati-hati menjaga. Agar janin yang ada di rahimnya baik-baik saja hingga tiba waktunya terlahir ke dunia. Janin itu adalah kita. Ya, kita yang dahulu bergantung di Rahim ibu tercinta. Kita yang dulu tak berdaya dan tak bisa apa-apa. Kita yang saat ini sudah beranjak remaja dan seringkali melupakan jerih payah ibunda. Hiks!

Bukan tanpa beban ketika ibu mengandung kita selama sembilan bulan. Bahkan dari awal kita melekat di rahimnya, ketidaknyamanan sudah ibu rasakan. Mual yang begitu dahsyat. Pusing yang luar biasa. Badan lemah tak berdaya. Susah makan dan kesusahan lainnya. Namun, senyum tulus tetap tersungging manis di bibirnya. Mata ibu selalu berbinar menanti kelahiran kita ke dunia. 

Meskipun untuk itu, segala ketidaknyamanan harus ia telan. Namun ibu tetap ikhlas dan bahagia. ”Bikin melow enggak sih, woy! Huhuhu!”

Semakin besar ukuran kita di Rahim ibu, bukan semakin ringan beban yang ibu rasakan. Percayalah, semakin hari semakin berat Guys. Rasa mual dan lemas bisa saja usai di usia kita yang ke tiga bulan di dalam kandungan. Namun drama berikutnya siap menyambut. Tubuh ibu mulai terasa berat. Semakin bertmbah usia kita, semakin berat. Tidak jarang seorang ibu kesusahan untuk bisa nyenyak tidur. Sebab perutnya yang membesar menjadikannya serba salah dalam mengatur posisi tidur. Miring tidak nyaman. Telentang tidak enak. Telungkup tidak mungkin  lah ya kan?! Belum lagi kalau kita tiba-tiba beratraksi di dalam perut ibu. Ibu merasakan keram dan nyeri di bagian perutnya. Sungguh sangat melelahkan. Namun lagi-lagi, ibu tetap tersenyum bahagia di tengah rasa tidak nyaman yang mendera.

”Alhamdulillah, bayiku aktif, bayiku sehat.” gumam ibu kita. Beliau bersyukur untuk kita, meskipun dirinya harus menahan kesusahan. Oh Ibu! Bikin mewek enggak sih, woy!
Belum selesai sampai di sini. Ketika usia kita sudah genap sembilan bulan di rahim ibu, maka episode berikutnya dimulai. Momen yang paling ditungu sekaligus momen paling sakit untuk raga ibu. Ya, proses kelahiran kita ke dunia. Guys, demi apa? Ibu kita bersimbah darah, berjuang untuk melahirkan kita dengan selamat di muka bumi ini. Rasa sakitnya seperti seluruh tulang tubuh yang diremukkan secara bersamaan. Sakit banget, Guys. 

Tapi lagi-lagi, ibu kita tetap memiliki stok senyuman yang seolah tidak pernah habis untuk kita. Bahkan kali ini, senyumnya berubah menjadi tawa lebar penuh kesyukuran. Ya, saat dirinya bersimbah darah dan terdengar suara tangis kita yang pertama kali di dunia. Segala perih yang ibu rasa terbayar, seolah tidak pernah ada sakit yang ia rasakan. Pecah deh bendungan di kelopak mata. Huuuwaaa! Sehebat itu ibu kita, Guys! Setelah ini wajib peluk ibu dan ucapkan terimaskih kepadanya. Bukan hanya setahun sekali, tapi setiap hari ya, Guys.

Sedemikian dahsyatnya kesusahan seorang ibu dalam mengandung dan melahirkan, hingga Allah SWT mengabadikannya di dalam Alquran:
”…. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).” (QS. Al-Ahqaf: 15)

“… Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnnya dalam usia dua tahun.  …” (QS. Luqman: 14)

Bakti Pada Ibu

Oleh sebab begitu dahsyat perjuangan seorang ibu, maka sudah semestinya kita berbakti padanya.  Bahkan Allah SWT mewajibkan bagi setiap anak untuk berbakti kepada ibu dan bapaknya. Tidak dibenarkan bagi seorang anak untuk menyakiti hati ibu dan bapaknya meski hanya dengan ucapan “Ah!”.

Demikianlah Allah SWT memberikan aturan bagi kita sebagai anak kepada orang tua. Dan aturan ini berlaku sepanjang masa. Bahkan ketika orang tua sudah meninggal dunia sekalipun, kita tetap wajib berbakti kepadanya dengan cara senantiasa beramal saleh dan mendoakannya.

So, ucapan terimakasih serta ungkapan cinta penuh sayang kita kepada ibu tidaklah terbatas hanya di momen tahunan saat peringatan hari ibu saja. Sebagai generasi Islam, maka kita harus senantiasa berlaku manis dan memuliakan ibu serta bapak kita sepanjang masa. Di setiap helaan nafas kita. Begitu ya, Guys!

”Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah., dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

”… Dan janganlah sekali-kali kamu mengatakan uf (ah) kepada kedua orangtuamu.” (QS. Al-Isra’: 23)

Surga Di Telapak Kaki Ibu

Dari Mua’wiyah bin Jahimah As-Sulami, ia datang menemui Rasulullah SAW. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya ingin ikut berperang dan sekarang saya memohon nasihat kepadamu.’ Rasulullah SAW lalu bersabda, ‘Kamu masih punya ibu?’. Mu’awiyah menjawab, ‘Ya, masih.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Berbaktilah kepada ibumu (lebih dahulu) karena sungguh ada surga di bawah kedua kakinya.”

Maasya Allah, begitu mulia kedudukan ibu di mata Allah SWT. Maka sudahkah kita memuliakannya? Jangan tunggu nanti ya, Guys. Yuk segera kita labuhkan bakti kepada ibu. Sepanjang masa, di setiap helaan nafas kita. Sebab ibu pun demikian, kasihnya ibu berkekalan untuk kita di dunia hingga akhirat kelak.  Semoga kita bisa berkumpul dengan ibu tercinta dengan bahagia. Tidak hanya di dunia tapi juga hingga Surga. Amiin![]

https://yubi.id/koreapi1453

Tidak ada komentar:

Posting Komentar