Kamis, 14 Maret 2024

SUMPAH' PEMUDA PENAKLUK ANDALUSIA

Ini sumpah bukan sembarang sumpah. Bukan sumpah pocong kaya di film-film sinetron azab. Atau sumpah serapah yang kerap keluar dari mulut kaum nyinyiriun.

Secara bahasa dari kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), sumpah berarti pernyataan disertai tekad melakukan sesuatu untuk menguatkan kebenarannya atau berani menderita sesuatu kalau pernyataan itu tidak benar. Nah sumpah yang satu ini datang dari ucapan seorang pemuda panglima yang artinya mirip-mirip seperti definisi di atas.

Emang sumpahnya gak ditulis pada daun lontar. Atau terpatri pada prasasti bersejarah. Atau juga beredar di status sosmed. Tapi sumpah ini sangat memotivasi pasukan Islam pada era kekhilafahan Umayyah untuk membuka jalan penyebaran dakwah Eropa melalu Andalusia. Sumpah apakah itu?

*# Di Balik Saksi Bisu Selat Gibraltar*

Sebelum kita spill isi sumpahnya, kita mau kasih clue dulu saksi bisunya. Sebuah selat yang memisahkan Negeri Matador dan al-Maghribi. Sebuah tempat yang menghubungkan dua perairan, samudera atlantik dan Laut Tengah. Uniknya, kedua perairan ini airnya tak bisa bersatu sehingga terlihat jelas batasannya, seperti minyak dan air.

Uniknya lagi, nama Gibraltar berasal dari nama salah satu pahlawan besar Islam yang banyak dikenang dan diingat orang sepanjang masa. Seorang pemuda muslim bernama Thariq bin Ziyad. Panglima terbesar dalam sejarah Islam yang merupakan prajurit Kerajaan Umawiyah (Bani Umayyah).

Thariq bin Ziyad dilahirkan pada tahun 50 H atau 670 M di Kenchela, Aljazair, dari kabilah Nafzah. Ia bukanlah seorang Arab, akan tetapi seorang yang berasal dari kabilah Barbar yang tinggal di Maroko.

Dalam Tarikh Ibnu Nushair, sejarawan mengatakan Thariq adalah budak dari amir Kerajaan Umawiyah di Afrika Utara, Musa bin Nushair. Lalu Musa membebaskannya dari perbudakan dan mengangkatnya menjadi panglima perang.

Dalam perjalanan menaklukkan Afrika Utara, Musa bin Nushair dibuat kagum dengan kesungguhan dan keberanian Thariq bin Ziyad. Setelah menaklukkan beberapa wilayah, akhirnya pasukan ini berhasil menaklukkan Kota Al-Hoceima, salah satu kota penting di Maroko. Kota ini sebagai wilayah strategis yang mengantarkan pasukan Islam menguasai semua wilayah Maroko. Musa kembali ke Qairawan sedangkan Thariq menetap di sana dan memberi pengajaran keagamaan kepada masyarakat Barbar Maroko.

Setelah Musa bin Nushair membuka jalan pasukan Islam ke Eropa, Thariq bin Ziyad menyempurnakannya dengan menaklukkan Andalusia. Atas perintah Khalifah al-Walid bin Abdul Malik, Thariq membawa pasukan Islam menyeberangi selat Gibraltar menuju daratan Eropa. Dari sinilah sejarah bangsa Ifranji –sebutan untuk orang-orang Eropa- itu berubah.

*# Point of No Return!*

Jauh sebelum umat Islam menguasai Andalus, daratan Siberia itu dikuasai oleh seorang raja zalim yang dibenci oleh rakyatnya, yaitu Raja Roderick. Di sisi lain, berita tentang keadilan umat Islam masyhur di masyarakat seberang Selat Gibraltar ini. Oleh karena itu, orang-orang Andalusia sengaja meminta tolong dan memberi jalan kepada umat Islam untuk menggulingkan Roderick dan membebaskan mereka dari kezalimannya.

Segera setelah permintaan tersebut sampai kepada Thariq, ia langsung melapor kepada Musa bin Nushair untuk meminta izin membawa pasukan menuju Andalus. Kabar ini langsung disampaikan Musa kepada Khalifah al-Walid bin Abdul Malik dan beliau menyetujui melanjutkan ekspansi penaklukkan Andalus yang telah dirintis sebelumnya.

Pada bulan Juli 710 M, berangkatlah empat kapal laut yang membawa 500 orang pasukan terbaik umat Islam. Pasukan ini bertugas mempelajari bagaimana medan perang Andalusia, mereka sama sekali tidak melakukan kontak senjata dengan orang-orang Eropa. Setelah persiapan dirasa cukup dan kepastian kabar telah didapatkan, Thariq bin Ziyad membawa serta 7.000 pasukan lainnya melintasi lautan menuju Andalusia.

Mendengar kedatangan kaum muslimin, Roderick yang tengah sibuk menghadapi pemberontak-pemberontak kecil di wilayahnya, langsung mengalihkan perhatiannya kepada pasukan kaum muslimin. Ia kembali ke ibu kota Andalusia kala itu, Toledo, untuk mempersiapkan pasukannya menghadang serangan kaum muslimin. Gak tangung-tanggung, Roderick bersama 100.000 pasukan yang dibekali dengan peralatan perang lengkap segera berangkat ke Selatan menyambut kedatangan pasukan Thariq bin Ziyad.
Ketika Thariq bin Ziyad mengetahui kalo Roderick membawa pasukan yang begitu besar, ia segera menghubungi Musa bin Nushair untuk meminta bantuan. Dikirimlah pasukan tambahan yang jumlahnya hanya 5.000 orang.

Akhirnya pada 28 Ramadhan 92 H bertepatan dengan 18 Juli 711 M, 12.000 pasukan Muslim berangkat dari Maghreb (Maroko) dengan kapal-kapal mereka menuju Semenanjung Iberia.

Sesampainya di Andalusia, Thariq bin Ziyad mendengar bahwa Roderick akan datang menyambutnya dengan pasukan yang jauh lebih besar dan lebih banyak dari pasukannya. Pasukan Muslim galau, namun Thariq tidak. Doi malah meminta mereka melakukan hal ekstrim: Bakar seluruh kapal!

Tatkala ditanyakan kepadanya “Wahai pemimpin, sesungguhnya engkau mencelakakan kita dengan membakar kapal-kapal yang membawa kita kesini” Maka Thariq ‘bersumpah’:

_*“Sesungguhnya setiap daerah Allah dan bumi Allah adalah kampung halaman kita. Wahai manusia ke manakah kalian akan pergi. Sesungguhnya lautan ada di belakang kalian, dan musuh ada di depan kalian. Dan tidak ada yang tersisa pada kalian, Demi Allah, kecuali kebenaran dan kesabaran.”*_

Perang Sidonia yang dahsyat pun berkecamuk selama delapan hari. Kaum muslimin dengan jumlahnya yang kecil tetap bertahan kokoh menghadapi hantaman orang-orang Visigoth pimpinan Roderick. Keimanan dan janji kemenangan serta syahid di jalan Allah telah memantapkan kaki-kaki mereka dan menyirnakan rasa takut dari dada-dada mereka.

Dengan kebenaran dan kesabarannya, Thariq bin Ziyad berhasil memimpin pasukannya meraih kemenangan melawan musuh yang berlipat-lipat jumlah maupun persenjataannya. Dan akhirnya, umat Islam mengenalnya sebagai Pemuda Penakluk Andalusia, pembuka jalan dakwah ke Eropa yang jejaknya diabadikan pada daratan tempat pertama kali pasukanya berlabuh. Gibraltar alias Jabal ath-Thariq.

Dari ‘sumpah’ pemuda penakluk Andalusia, kita belajar satu hal yang amazing. “POINT of No Return”, upaya untuk maju terus meskipun tantangan dan resiko yang akan dihadapi sangat besar. Itulah karakter pemimpin terbaik.

Kalo kita udah bertekad meraih keberhasilan atau impian-impian yang mulia, jangan tanggung-tanggung. Kobarkan semangat Bakar Kapal seolah tak ada alasan bagi kita untuk mundur teratur. Sehingga memaksa kita untuk terus berusaha, belajar, mengaji dan mengeluarkan potensi terbaik agar impian besarnya tecapai atau kita mati ketika mengusahakannya. Seperti semangat jihad saudara-saudara kita di Gaza Palestina. Hanya ada 2 pilihan, hidup mulia atau mati syahid. Point of no return. Gaskeun! []

_Buletin Teman Surga Edisi #235 (Rabiul Akhir 1445 / Oktober 2023)_

https://taplink.cc/temansurga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar