Kamis, 14 Maret 2024

JEJAK 'SANG GURU'

"Guru adalah orang yang membuka mata kita untuk melihat dunia, membuka hati kita untuk mencintai dunia, dan membuka pikiran kita untuk memahami dunia." (Imam Al-Ghazali)

Akhir bulan November punya nilai tersendiri bagi dunia pendidikan nasional. Pasalnya, setiap tanggal 25 November selalu diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Sebagai penghargaan untuk para guru yang telah membidani lahirnya para pemimpin di negeri katulistiwa ini.

Kalo kita ulik sejarahnya, peringatan Hari Guru Nasional bertepatan dengan berdirinya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada tanggal 25 November 1945. Sebelumnya, pada tahun 1912, organisasi ini bernama PGHB (Persatuan Guru Hindia Belanda).

Pada tahun 1932, PGHB mengubah namanya menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Pada saat itu, Belanda sebagai negara penjajah, tidak menerima unsur nama “Indonesia” dalam PGI karena dianggap sebagai sebuah ancaman untuk mereka. Dengan merubah namanya, PGI menjadi semakin nasionalis dan perjuangan kemerdekaan Indonesia semakin kuat bersama guru.

Pada jaman penjajahan Jepang, PGI dilarang untuk melakukan aktivitas. Tidak lama setelah proklamasi kemerdekaan, PGI menggelar Kongres Guru Indonesia yang pertama di Surakarta, Jawa Tengah pada tanggal 24–25 November 1945. Kongres tersebut membidani lahirnya PGRI. Akhirnya, melalui Keputusan Presiden No. 8 Tahun 1994 ditetapkan tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional. Salam takzim untuk guru-guru tercinta.

*# Universitas Kedua Tertua di Dunia*

Kehadiran guru tak lepas dari tempat mereka belajar sebelum menjadi seorang pengajar. Kebanyakan guru mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi. Karena itu, Islam yang sangat menghargai peran guru dengan segudang kemuliaannya tak luput dari perhatian terhadap sekolah tinggi yang melahirkan guru-guru jempolan.

Pada masa keemasannya, peradaban Islam selalu tampil di mata dunia sebagai pionir dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Lembaga pendidikan Islam berkembang mulai dari halqah-halqah (lingkaran) pendidikan di emper masjid, hingga kemudian menjadi lembaga pendidikan tinggi (jami’ah) setara dengan universitas.

Dari sekian banyak universitas yang didirikan oleh kaum muslimin, terdapat salah satu universitas kedua tertua di dunia setelah Universitas Az-Zaitunah, Tunisia (737 M) yang keduanya masih eksis hingga kini. Universitas itu adalah Universitas Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko yang berdiri pada tahun 859 Masehi. Universitas ini sudah berkembang jauh sebelum universitas tertua di Eropa, yakni Bologna yang terletak di Italia, didirikan sekitar tahun 1088 M, dan juga jauh sebelum Universitas Oxford, universitas tertua di Inggris, dibangun sekitar 1096 M.

Di barat universitas Al-Qarawiyyin dikenal dengan university of Al-Karaouine. Tahun 1998 Gunness Book of World Records menetapkan universitas Qarawiyyin sebagai universitas tertua yang memberikan gelar kesarjanaan akademis yang masih beroperasi hingga sekarang.

Universitas ini didirikan oleh Fatimah Al-Fihri, putri dari seorang saudagar konglomerat yang merupakan pendatang dari Qayrawan, Tunisia. Awalnya, perempuan yang fasih dalam fikih dan hadits ini membangun sebuah masjid yang dinamainya Al- Qarawiyyin di sebuah tanah yang dibelinya dari seorang pria suku Hawaara.

Di samping masjid ini, didirikan juga sebuah sekolah dengan standar tertinggi diberikan. Seperti masjid lain pada umumnya, masjid yang kemudian dikenal dengan Qarawiyyin ini juga digunakan sebagai tempat diskusi dan madrasah. Lama kelamaan materi-materi yang dibahas dalam halqah-halqah tersebut semakin berkembang mencakup berbagai bidang, tak cuma mengkaji Alquran dan Fikih saja.

Wacana yang dibahas dalam diskusi di emper Masjid itu akhirnya meluas hingga mengkaji tata bahasa, logika, kedokteran, matematika, astronomi, kimia, sejarah, geografi, bahkan musik. Halqah-halqah itu pun diikuti oleh para pemburu ilmu dari berbagai belahan dunia. Nggak heran karena materi-materi kuliah disajikan dengan berkualitas oleh para ilmuwan terkemuka.

Sejak itulah, aktivitas keilmuan di Masjid Al-Qarawiyyin berubah menjadi kegiatan bertaraf perguruan tinggi. Jumlah pendaftar yang berminat untuk menimba ilmu di universitas itu begitu banyak sampai-sampai, pihak universitas menerapkan sistem seleksi yang ketat bagi para calon mahasiswanya.

Universitas inipun melahirkan sejumlah tokoh Muslim kenamaan. Di antaranya, Abu Abullah Al-Sati, Abu Al-Abbas al-Zwawi, Ibnu Rashid Al-Sabti, Ibnu Al-Haj Al-Fasi, serta Abu Mazhab Al-Fasi. Muhammad al Idrisi, Ibnu Khaldun, al Wazzan, al Bitruji juga ditengarai pernah menjadi pengajar di universitas tersebut.

Bukan hanya muslim, universitas top kelas dunia ini juga menerima mahasiswa non muslim. Misalnya filosof yahudi Musa bin Maimun atau Maimonides dan Gerbert d’Aurillac dari kalangan kristen. Yang terakhir ini kemudian menjadi paus bergelar Paus Silvester II, yang memperkenalkan sempoa dan astrolab pada orang eropa yang masih jahiliyah, serta mengajarkan matematika dan astronomi yang dipelajarinya di Al-Qarawiyyin.

*# Jejak Hidup yang Tak Pernah Redup*

Dari sosok Fatimah al-Fihri kita bisa mengambil hikmah tentang ketulusan niat wanita visioner ini dalam mendirikan lembaga pendidikan. Kecintaan Fatimah terhadap ilmu pengetahuan membuatnya berpikir untuk menggabungkan madrasah dan masjid. Tujuannya, agar umat tidak hanya sekedar beribadah, namun madrasah untuk menuntut ilmu.

Fatimah kemudian mewujudkan impiannya tersebut dengan membeli sebidang tanah yang luas, kemudian ia mendirikan masjid sekaligus madrasah untuk kaum muslim belajar dan beribadah. Inilah cikal bakal salah satu kampus tertua di dunia. Universitas Al-Qarawiyyin.

Kebayang ya, dengan ketulusan niat kontribusi Fatimah dalam bidang pendidikan, pahala untuknya terus mengalir deras hingga saat ini. Seperti itulah karakter seorang muslim sejati. Kebaikannya bukan untuk mengejar materi atau menuai sanjung puji. Tapi murni kontribusi untuk kebangkitan Islam dan kaum muslimin.

Saatnya kita ikuti jejak ‘Sang Guru’ Fatimah dengan karya nyata dan menebar manfaat kepada sesama. Asah kemampuan kita agar bisa meninggalkan jejak hidup yang tak pernah redup. Manfaatnya tak mengenal kadaluarsa. Pahalanya terus mengalir meski kita sudah tiada. Mulailah dengan mengenal Islam lebih dalam dan berdakwah sebagai pondasi kokoh para pejuang kontribusi. Mari mengaji tanpa tapi tanpa nanti. Yuk! []

_Buletin Teman Surga Edisi #238 (Jumadil Awal 1445 / Desember 2023)_

https://taplink.cc/temansurga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar