Kamis, 14 Maret 2024

JAUH DI GAZA DEKAT DI HATI

Sungguh aku merindu Tanah Gaza/ Aku sembunyikan rasa rindu ini setelah beranjak darinya/ Berharap Allah menyirami tanahnya, lalu aku raup debunya/ Akan aku pergunakan untuk bercelak dari kerinduan yang menyelimutiku

Ini bukan lirik lagu terbaru Michael Heart yang populer dengan senandung "We Will not Go Down" yang menunjukkan dukungan terhadap Palestina, khususnya di Jalur Gaza.

Syair di atas adalah suara hati seorang Imam Syafi’ie. Gaza, tempat kelahiran tokoh, ulama pengarang kitab ar-Risalah dan al-Umm tersebut, penuh dengan kenangan, dinamis, dan tetap bertahan tak pernah lekang oleh gerusan zaman. Lewat syair inilah Imam Syafi’i mengutarakan rasa rindunya akan Gaza, setelah ia berpindah ke Tanah Hijaz.

Kini, Gaza tengah mengalami genocide alias pembersihan etnis. Pasukan zionis laknatullah kembali menumpahkan darah di bumi Palestina. Di Gaza, jumlah korban meninggal telah mencapai 2.750 jiwa. Dari jumlah korban meninggal di Jalur Gaza saat ini, lebih dari 700 di antaranya merupakan anak-anak. Sementara korban jiwa di kalangan perempuan hampir mencapai 400 orang. (Republika, 16 Oktober 2023)

Kini kondisi kehidupan warga Palestina di Jalur Gaza juga sangat mengkhawatirkan. Hal itu karena zionis Yahudi memberlakukan blokade total terhadap wilayah tersebut. Pasokan barang-barang esensial, seperti makanan, obat-obatan, termasuk listrik dan air, disetop. Gaza bak "penjara terbuka paling besar di dunia". Ngeri!

*# Ada Apa dengan Jalur Gaza?*

Jalur Gaza adalah wilayah dengan panjang 41 kilometer dan lebar 10 kilometer yang terletak di antara Yahudi, Mesir, dan Laut Mediterania. Kawasan ini adalah rumah bagi sekitar 2,3 juta muslim Palestina dan kepadatan penduduknya salah satu yang tertinggi di dunia.

Namun, jauh sebelum huru-hara antara Yahudi dan Palestina, Jalur Gaza punya sejarah panjang lho. Kawasan ini beberapa kali dikepung dan diduduki oleh beragam pihak sejak 4.000 tahun lampau.

Gaza pernah diperintah, dihancurkan, dan dihuni kembali oleh berbagai dinasti, kekaisaran, dan masyarakat, mulai dari Mesir Kuno (ratusan tahun sebelum Masehi) hingga jatuh ke tangan Kekhilafahan Utsmaniyah pada abad ke-16.

Gaza adalah bagian dari Kesultanan Ottoman hingga 1917. Selanjutnya, kawasan itu dikuasai Inggris hingga bulan Mei tahun 1948. Setelah Pada 1947, keluar Resolusi PBB No. 181 terkait pembagian Palestina kepada zionis Yahudi dan Umat Islam sehingga membidani lahirnya entitas zionis Yahudi.

Intifadah (perlawanan) pertama yang dilakukan warga Palestina terhadap zionis Yahudi muncul di Gaza pada 1987, tahun yang sama ketika kelompok Islam Hamas didirikan. Sejak saat itu, Hamas telah bersumpah untuk menghancurkan zionis Yahudi dan ingin menggantinya dengan negara Islam.

Kini Gaza mengalami blokade dari darat, laut, udara oleh Mesir dan zionis Yahudi. Pasokan listrik, air, bahan makanan hingga obat-obatan dan bantuan kemanusiaan tidak diperbolehkan masuk ke Gaza. Betapa nestapanya kehidupan di Gaza.

Malam gelap tanpa penerang menghiasi hari-hari Gaza. Darah masih berceceran. Mayat bergelimpangan. Puing-puing bangunan berantakan. Tak ada tawa bahagia, tak ada yang yakin besok tetap bisa membuka mata.

Hidup hanya sebatas bisa bertahan, tak berani terlalu tinggi berharap. Kemerdekaan yang diperjuangkan tak kunjung didapatkan. Sampai kapan semua ini akan terjadi?

*# Duka Palestina Lara Kita Juga*

Terlalu naif kalo kita ngerasa duka saudara kita di Gaza Palestina, itu urusan mereka. Bukan urusan kita, warga Indonesia yang jauh letaknya beda benua. Nggak gitu konsepnya. Karena Rasulullah SAW mengingatkan kalo sesama muslim itu bersaudara, bagaikan satu tubuh. Meski beda wilayah, etnis, bahasa, budaya, rupa, status sosial, status pendidikan maupun status pernikahan, kita satu server. Tuhannya Allah SWT, Rasulnya Muhammad SAW, Kitab sucinya Alquran. Sama.

Karena itu, kalo ada saudara kita sesama muslim di belahan dunia lain dalam kondisi sakit, tertimpa bencana, atau mengalami penindasan, terasa pedihnya oleh muslim yang lain. Layaknya satu tubuh, kalo kaki kita yang tanpa alas nginjek pecahan kaca, mulut auto teriak mengaduh, tangan gerak cepat memegang bagian yang luka, dan antibodi dalam tubuh langsung membangun pertahanan dari serangan kuman. Seperti inilah gambaran hadits Rasulullah SAW tentang persaudaraan sesama muslim.

_“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya)."_ *(HR. Bukhari dan Muslim)*

Jadi, tak ada alasan bagi kita seorang muslim yang notabene tinggal di Indonesia, hanya diam, mengutuk atau mengecam kebiadaban zionis Yahudi yang membumihanguskan Palestina.

Meski dunia mengganggap masalah Gaza sekadar bencana kemanusiaan. Bagi kita, ini adalah masalah kemuliaan agama. Masalah penjajahan akan bangsa Islam. Masalah merebut rumah umat Islam. Masalah merendahkan kehormatan umat Islam. Bukan sekadar kemanusiaan.

Palestina adalah tanah umat Islam. Oleh karena itu, bangsa zionis Yahudi sebenarnya tak memiliki andil dalam tanah Palestina. Kedatangan mereka hanya sebagai tamu yang tak tahu diri.

Untuk itu, mengalahkan penjajah zionis Yahudi diperlukan kekuatan yang besar. Yang dimiliki oleh pemimpin yang besar. Seperti Muhammad Al Fatih, Salahuddin Al Ayyubi, atau Umar bin Khatab.

Lantas apa yang bisa kita lakukan saat ini? Berdakwah hingga tegaknya kekuatan besar untuk melindungi umat Islam di seluruh dunia. Bisa juga menggelar aksi solidaritas, mengirimkan bantuan kemanusiaan, mengutus militer untuk memperkuat barisan perlawanan terhadap zionis Isreal, atau bentuk kepedulian lain yang menunjukkan dukungan kita pada rakyat Palestina. Yang pasti, meski jauh di Gaza, tetapi dekat di hati. Allahu Akbar! []

_Buletin Teman Surga Edisi #234 (Rabiul Akhir 1445 / Oktober 2023)_

http://taplink.cc/temansurga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar