Kamis, 14 Maret 2024

REMAJA PENGEN MANDIRI? NORMAL KOK!

Memasuki umur belasan tahun, umumnya remaja mulai ngerasain perubahan yang terjadi pada dirinya. Dari mulai perubahan fisik sampe non fisik. Suara yang pecah, adanya jakun pada cowok, mimpi basah, haid, atau mulai matangnya organ-organ reproduksi menunjukkan adanya perubahan fisik.

Tapi untuk perubahan non fisik yang meliputi kelabilan emosi, perkembangan jiwa, dan pembentukan karakter, nggak keliatan jelas. Kita cuma bisa nebak dari gejala yang ditunjukkan remaja dalam perilakunya. Pakar psikologi bilang, fase ini dikenal dengan proses pencarian jati diri yang dilalui remaja untuk mengetahui peranan dan kedudukannya dalam lingkungan sekaligus mengenali dirinya lebih dekat. Catet tuh!

Dalam proses pencarian jati diri ini, remaja biasanya memerlukan kemandirian yang menurut Sutari Imam Barnadib meliputi: ”Perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi hambatan/masalah, mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain.”

Ya, alon-alon remaja berusaha melepaskan ikatan psikis dengan orang tua. Mereka pengen dihargai sebagai orang dewasa. Pengen bisa berpikir secara merdeka; bisa mengambil keputusan sendiri; punya hak untuk menerima atau menolak masukan dari pihak lain; dan belajar bertanggung jawab terhadap setiap perbuatannya.” Hmm, asyik kali, ya?

Itulah penjelasan dari pakar psikolog akan kebebasan yang dikehendaki remaja. Intinya sih, remaja pengen mandiri. Nggak cuma makan atau mandi sendiri, tapi juga dipercaya dalam berpikir, berbuat, dan bersikap sesuai dengan keinginannya. ”Masa’ mama nggak ngerti sih?”.

*# Ketika Kebebasan Menjadi Kebablasan*

Setiap orang tua pasti ngerti kalo suatu saat nanti, mereka kudu rela melepaskan anaknya hidup mandiri. Namun, gencarnya arus budaya Barat yang membidik remaja membuat tuntutan kebebasan remaja bergeser menjadi liar tak terkendali. Pola hidup sekuler yang dipraktikkan masyarakat Barat jelas-jelas bertolak belakang dengan kehidupan kita selaku Muslim. Parahnya, gaya hidup sekuler itu makin populer di mata remaja dan sering kali menjadi acuan dalam perjalanannya mencari identitas diri. Bahaya kan?

Beberapa akibat kebebasan yang kebablasan hasil jiplakan remaja terhadap budaya Barat adalah:

# Pertama, free thinker alias bebas berpikir. Remaja ngerasa punya hak untuk berpikir tanpa dibatasi oleh norma-norma agama. Yang penting bisa cari jalan keluar dari masalah yang dihadapi atau cari cara biar keinginannya terpenuhi. Sebodo amat meski harus ngambil jalan pintas untuk lari dari masalahnya dengan bunuh diri, nge-drugs, atau nyekek botol minuman keras.

Bisa juga jadi pelaku kriminal atau terjun ke dunia prostitusi pas lagi pengen punya duit lebih demi memenuhi tuntutan tren pergaulan. Ada juga yang mempertaruhkan harga diri dan kehormatannya dalam kontes kecantikan demi popularitas dan limpahan harta. Urusan dosa atau penjara, itu mah belakangan. Ih, ngeri banget deh jadinya.

# Kedua, permissif alias bebas berbuat. Mau ngapain aja di mana aja, banyak yang dijadiin prinsip hidup oleh remaja dalam berbuat. Pokoknya serba ada, eh serba boleh. Mulai dari cara berbusana, berdandan, berbicara, bergaul, atau berperilaku. Bangga jika daya tarik seksualnya disapu setiap mata lawan jenis yang jelalatan. Antimalu jadi pusat perhatian orang lantaran dandanannya yang urakan, norak, dan kekurangan bahan. Dan nggak punya rem buat ngendaliin tutur katanya. Ceplas-ceplos bin asal bunyi. Dan semuanya dilakukan tanpa risih dengan mengantongi label kebebasan berekspresi. So what gitu lho!

# Ketiga, free Sex alias pergaulan bebas. Saat ini, pergaulan bebas antar lawan jenis yang banyak digandrungi remaja sangat mudah terkontaminasi unsur cinta dan seks. Apalagi ditambah dengan kampanye terselubung antijomblo yang diopinikan media via sinetron remaja. Setiap remaja ngerasa kudu punya gacoan biar eksis dalam pergaulan.

Nggak sebatas punya gacoan, pergaulan bebas pun sangat membuka peluang bagi remaja untuk aktif melakukan aktivitas seksual. Pemicunya, bisa karena terpapar pornografi dan pornoaksi yang merajalela di dunia maya. Kurangnya kontrol dari orang tua, sekolah, atau masyarakat bikin mereka enjoy berpetualang menikmati kepuasan sesaat. Gaswat dongs?

Kalo kondisinya seperti di atas, orang tua mana yang nggak keder ortu dengan kebebasan remaja saat ini. Niat ortu ngasih kebebasan biar mandiri, bisa-bisa nyasar malah anak remajanya kehilangan harga diri. Berabe khan?

*# Dewasa di Usia Remaja*

Sobat, kemandirian bagi remaja memang sangat diperlukan untuk mendukung perkembangan jiwanya. Tapi kita kudu mikir seribu kali kalo remaja dibiarkan menafsirkan sendiri kebebasan yang dikehendakinya. Jiwanya yang labil sangat mudah terwarnai oleh lingkungan sekitar. Gelora jiwa mudanya paling gampang terpincut ama budaya Barat yang steril dari aturan Islam.

Makanya kita selaku remaja Muslim wajib nyadar kalo kebebasan dalam berpikir dan berperilaku nggak pernah diajarin dalam Islam. Islam ngajarin adanya kehidupan akhirat yang akan meminta pertanggungjawaban setiap amal perbuatan kita di dunia. Otomatis ini nyambung dengan tabungan pahala dan dosa yang kita kumpulkan sepanjang hidup di dunia. Tiket surga bakal kita peroleh kalo pahala kita surplus.

Sebaliknya, kita bakal diceburkan ke dalam neraka seandainya dosa kita yang surplus. Dan pahala itu baru kita dapetin kalo Allah ridha dengan perbuatan kita. Itu berarti keterikatan dengan aturan Islam seharusnya jadi standar perbuatan dalam keseharian kita. Kalo udah gini, masa’ iya kita mau melepaskan diri dari aturan Allah demi sebuah kebebasan? Allah SWT berfirman:

"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?" (TQS Al Maidah: 50)

Usia remaja mengharuskan kita belajar untuk bertanggung jawab. Sebagai pengingat, kita bisa renungkan firman Allah SWT:

"Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya..." (TQS Al Mudatsir: 38)

Masa depan di dunia dan akhirat ada di tangan kita. Bukan dalam genggaman orang tua atau uluran tangan dari seorang teman. Proses pembelajaran itu bisa kita awali dengan giat mengkaji Islam. Agar kita makin ngeh dengan hubungan kehidupan dunia dan akhirat.

Selain itu, aturan Islam yang komplit juga punya solusi untuk setiap permasalahan hidup yang kita temui. Agar kita terbiasa untuk berpikir panjang sebelum berbuat agar hawa nafsu dan godaan setan mampu kita tundukkan. Sehingga setiap langkah yang kita ambil bisa memberikan kebaikan. Inilah cerminan dari kedewasaan kita dalam bersikap dan berbuat. Karena itulah kita kudu ngaji. Mau dong? Pasti! []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar