Ngomongin kematian bagi remaja itu tabu banget tahu. Ngeri-ngeri sedap gitu. Secara gitu lho, ngerasa masih muda belon waktunya tutup usia. Padahal kan yang namanya kematian itu sebuah kepastian. Nggak bisa ditawar-tawar lagi. Cuman waktunya aja beda-beda. Bisa jadi teman kita duluan, kita belakangan. Atau sebaliknya. Kita belakangan, teman kita duluan, hehe.
*# Takut Mati, Normal Gak Sih?*
Sebagai manusia, kita udah paham dong kalo kontrak hidup kita nggak akan diperpanjang. Ketika udah expired, malaikat Izrail bakal datang menghampiri tanpa notifikasi. Siap-siap aja.
Meski kematian itu sebuah kepastian, ternyata banyak dari kita terutama remaja yang takut untuk menghadapinya. Mungkin takut kalo udah mati gak bisa ngumpul lagi bareng bestie, seru-seruan setiap hari, atau gak bisa having fun lagi di dunia yang fana ini.
Mungkin juga takut kalo udah mati, bakal sendirian di liang kubur. Cuman ditemenin cacing, kain kafan, bola kapas yang nutup hidung kita, serta potongan bambu penutup jenazah sebelum ditimbun tanah. Gelap gulita. Tak ada penerangan sambil tunggu tiba hari perhitungan. Ngeri!
Takut akan kematian itu wajar karena bagian dari fitrahnya manusia yang punya naluri mempertahankan diri (gharizatul baqo). Yang gak wajar itu kalo ketakutannya berlebihan alias akut hingga hari-harinya gak produktif. Dunia medis menyebutnya, thanatophobia. Bahaya.
Thanatophobia adalah bentuk kecemasan dan ketakutan ekstrem terhadap kematian atau proses kematian. Sehingga sulit beraktivitas saat sekolah, bekerja, atau dalam situasi sosial. Ketika berpikir tentang kematian, penderitanya bisa mengalami serangan panik. Mereka juga berusaha keras untuk menghindari pembicaraan apa pun tentang kematian atau proses kematian. Gitu.
Dalam Islam, ketakutan akan kematian alias mati phobia itu gejala penyakit wahn. Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, _“Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata, ”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.”_ *(HR. Abu Daud no. 4297 dan Ahmad 5: 278, shahih kata Syaikh Al Albani. Lihat penjelasan hadits ini dalam ‘Aunul Ma’bud).*
Sebagai seorang muslim, yang kita khawatirkan seharusnya bukanlah kematian. Tapi kecintaan dunia yang bikin kita takut akan mati. Sampai lupa mempersiapkan bekal untuk menjalani kehidupan kedua nanti. Malah asyik berlomba-lomba meneguk kesenangan dunia dengan menghalalkan segala cara. Bukannya getol nambah pahala, nabung dosa iya. Tekor!
*# Tak Takut Hadapi Maut*
Penyakit wahn gak ada dalam kamus kehidupan seorang muslim. Seperti itulah yang dicontohkan para sahabat Rasul. Seperti ditunjukkan seorang Khubaib bin Adi. Salah satu sahabat Rasul saw yang tak takut hadapi maut.
Ketika perang badar, prajurit berani mati ini berhasil menewaskan seorang pemimpin Quraisy yang bernama al-Harits bin’Amir bin Naufal. Setelah perang badar selesai dan sisa-sisa pasukan Quraisy yang kalah kembali ke Mekah, Bani Harits yang memendam dendam kesumat menghafalkan dengan baik siapa yang telah menewaskan bapak mereka. Khubaib bin ‘Adi!
Tak lama setelah perang badar, Rasulullah saw mengutus sepuluh orang sebagai mata-mata untuk menyelidiki strategi orang-orang Quraisy terkait pergerakan serta langkah persiapan mereka untuk suatu peperangan yang baru. Ashim bin Tsabit Al-Anshori, didaulat sebagai pemimpin dan Khubaib bin ‘Adi menjadi salah satu anggota tim.
Di suatu tempat antara ‘Usfan dan Mekkah, kelompok kecil ini diintai oleh sekitar 100 pemanah dari bani Lihyan. Mengetahui hal tersebut, Ashim segera memerintahkan teman-temannya agar berlindung ke sebuah bukit kecil di sekitar daerah tersebut.
Pasukan bani Haiyan hampir saja kehilangan jejak, tapi mereka melihat biji kurma berjatuhan di atas pasir. Biji-biji itu dipungut oleh sebagian di antara orang-orang ini, lalu berseru kepada teman-teman mereka: “Biji-biji itu berasal dari Yatsrib – nama lain dari Madinah — dari sinilah bani Lihyan mengetahui jejak mereka.
Dan tak lama kemudian mereka tertangkap. pemimpin kelompok itu yaitu Ashim bin Tsabit Al-Anshori dan 6 sahabat lainya telah syahid terlebih dahulu karena menolak keinginan bani Lihyan agar menyerahkan yang dibawa jika mereka ingin selamat tapi dengan tegas Ashim bin Tsabit Al-Anshori menjawab “Kami tidak akan menerima perlindungan orang kafir. Ya Allah, sampaikan berita kami kepada Nabi-Mu”.
Tinggallah Khubaib bin Adi, Zaid bin Datsinah dan seorang sahabat yang kemudian syahid di tangan bani Lihyan karena memberontak saat ditangkap. Lalu para musuh itupun membawa Khubaib dan Ibnu Datsinah dan menjual mereka di Mekkah.
Sementara itu, bani al-Harits yang selama ini menyimpan dendam kesumat. Dengan penuh antusias membeli Khubaib. Maka jadilah Khubaib bulan-bulanan seluruh anggota keluarga al-Harits. Setiap hari sahabat Anshar yang dikenal bersifat bersih, pemaaf, teguh keimanan dan taat beribadah ini harus menerima siksaan.
Orang-orang musyrikin itu mencoba menciutkan keimanan Khubaib dengan menceritakan tentang tewasnya serta penderitaan yang dialami shahabat dan saudaranya Zaid bin Datsinnah r.a. dan membujuknya dengan janji pembebasan jika dirinya mau mengingkari Muhammad SAW dan Allah SWT Karena keimanan telah memenuhi hati dan menjadi darah yang mengalir dalam tubuhnya, tawaran itu ditolak mentah-mentah.
Di suatu tempat yang bernama Tan’im, sahabat nabi ini menjemput sahid demi mempertahankan keimanannya. Sebelum dieksekusi, Khubaib meminta agar ia diijinkan sholat dua rakaat. Dan mereka mengijinkanya. Orang musyrikin menyangka, Khubaib shalat karena takut mati dan hendak memikirkan tawaran mereka agar selamat. Namun Khubaib menbantahnya dengan tegas, “Demi Allah, kalau bukanlah nanti ada sangkaan kalian bahwa aku takut mati, niscaya akan kulanjutkan lagi shalatku…!”
Teman surga, tempat kembali kita cuman dua, Surga atau Neraka. Kondisi saat maut menjemput juga dua, su'ul khatimah atau khusnul khatimah. Khubaib menunjukkan pada kita, bagaimana menjemput maut dalam keadaan tetap beriman kepada Allah SWT. So, gak perlu takut hadapi maut. Karena kita semua pasti mati. Yang penting, ayo kita siapkan diri kita agar khusnul khatimah dengan selalu pake aturan Allah SWT dalam keseharian kita. Stay tune with Islam! []
_Buletin Teman Surga Edisi #232 (Rabiul Awal 1445 / September 2023)_
http://taplink.cc/temansurga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar