Selama 13 tahun pertama Rasulullah saw berdakwah di Mekkah menjadi masa yang paling berat dalam perjalanan dakwah Beliau. Gimana nggak, ketika pertama kali Rasulullah saw menyampaikan ajaran Islam, harus berhadapan dengan tradisi masyarakat jahiliyah yang menganut ajaran paganisme alias penyembahan terhadap berhala.
Tahu sendiri kan, ajaran paganisme itu bertolak belakang banget dengan ajaran Islam yang mengajak manusia untuk menyembah Allah swt. Bukan menyembah patung, api, atau batu besar. Makanya dakwah Rasul di Mekkah jalannya penuh liku. Banyak tantangan dan hambatan. Dari sekedar hinaan, celaan, cacian, hingga ancaman fisik yang bisa menghilangkan nyawa. Ngeri!
Sehingga pada tiga tahun awal masa dakwah Rasulullah di Mekkah, beliau menyampaikan ajaran Islam dengan cara sembunyi-sembunyi. Nabi Muhammad SAW melakukan dakwah untuk beberapa orang terdekatnya yang bisa merahasiakan pesan yang dibawanya. Untuk itu, diperlukan tempat rahasia yang menjadi madrasah pertama para sahabat. Di sinilah peran penting keberadaan Darul Arqam.
*# Arqam dan Rumah Mulianya*
Al-Arqam bin Abi al-Arqam adalah seorang pengusaha dari kalangan pemuda yang berpengaruh dari suku Makhzum dari kota Mekkah. Dalam sejarah Islam, dia orang ketujuh dari As-Sabiqun al-Awwalun (orang-orang yang pertama masuk Islam).
Beliau adalah sahabat yang memeluk Islam pada hari-hari pertama didakwahkannya Islam, bersamaan dengan Abu Ubaidah bin Jarrah, Bilal bin Rabah, Abu Salamah dan yang lainnya. Mereka disebut As-Sabiqunal Awwalun, mereka telah dijamin memperoleh keridhoan Allah, sebagaimana disebutkan dalam surat At Taubah ayat 100 yang maknanya memperoleh jaminan masuk surga.
Rasulullah saw memutuskan memilih tempat tinggalnya sebagai tempat berkumpul beliau dan para sahabat dalam menyebarkan Islam. Hal itu disebabkan tiga alasan:
# Pertama, Ketika Arqam masuk Islam tidak ada kaum musyrikin yang tahu.
# Kedua, Arqam berasal dari suku Makhzum yang merupakan musuh keluarga besar Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (suku Hasyim) pada masa jahiliyah. Sehingga kaum kafir tidak mencurigainya.
# Ketiga, Arqam masuk Islam dalam usia masih sangat muda, sekitar 16 tahun, sehingga kaum Quraisy tidak curiga jika nabi berkumpul di rumah anak muda.
Terlebih lagi Arqam bukan pemuda yang populer. Ordinary people aja. Sehingga orang-orang kota Mekkah pun tidak begitu peduli apa yang terjadi di dalam rumahnya. Udah gitu, rumahnya juga berada di pinggiran kota Mekkah, di Bukit Safa. Terpencil. Tak jadi pusat perhatian bak bubuk rengginang di dasar kaleng biskuit. Gak penting.
Tapi bagi Rasulullah saw, menggunakan kediaman Arqam bin abil Arqam tentunya akan sangat menguntungkan dalam menyebarkan dakwah awal secara sembunyi-sembunyi. Aktifitas pengajian yang dilakukan di rumahnya tak mudah dicurigai oleh masyarakat Mekkah saat itu, karena orang-orang tentunya tidak menyangka adanya keterkaitan Rasulullah dengan sahabat yang satu ini.
Meski Arqam bin Abil Arqam merupakan salah satu penopang dalam proses pergerakan, namun ia tidak memerlukan sebuah ketenaran. Perannya penting, namun tidak mengharapkan pujian. Seorang penyokong utama sebuah keberhasilan dakwah, namun riwayat hidupnya tidak tersampaikan oleh sejarah. Sungguh sebuah kerja besar yang ikhlas. Keren!
*# Tempat Ngumpul Penuh Faedah*
Dari kisah Darul Arqam yang dijadikan tempat ngumpul sahabat Rasul kita bisa ambil hikmahnya. Ternyata rumah Arqam bukan cuman istimewa karena jadi madrasah pertama bagi para sahabat rasul, tapi juga tempat berfaedah yang sudah Allah swt kasih garansi kemuliaannya.
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, _"Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang.” Para sahabat bertanya, :Apakah taman-taman surga itu?" Beliau menjawab, "Halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) dzikir."_ *[HR Tirmidzi, no. 3510, Ash Shahihah, no. 2562]*
Pastinya Darul Arqam bukan tempat untuk nongki-nongki gak jelas dong. Tapi tempat berzikir, mengingat Allah swt, dan berdakwah. Inilah hakikat taman-taman surga seperti digambarkan pada hadits di atas.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, _"Sesungguhnya dzikir di antara amal memiliki kelezatan yang tidak bisa diserupai oleh sesuatupun, seandaikan tidak ada balasan pahala bagi hamba kecuali kelezatan dan kenikmatan hati yang dirasakan oleh orang yang berdzikir, maka hal itu [kenikmatan berdzikit saja, pent] sudah mencukupi, oleh karena itu majelis-majelis dzikir dinamakan taman-taman surga."_ *[Al-Wabilush Shayyib hal. 81, Darul Hadist, Koiro, Asy-Syamilah]*
Dan kalo kita ketemu dengan taman-taman surga, majelis zikir, atau majelis ilmu, jangan pura-pura gak tahu. Ingat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, _"Dan tidaklah sekelompok orang berkumpul di dalam satu rumah di antara rumah-rumah Allah; mereka membaca Kitab Allah dan saling belajar di antara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan (para malaikat) di hadapanNya."_ *[HR Muslim, no. 2699]*
Beruntung banget kalo kita bisa menjadi bagian dari para penghuni taman-taman surga itu. Hati tenang, didoakan malaikat, sealu tercurahkan kebaikan dalam kehidupan kita. Bukan itu saja, kita juga akan bertemu dengan orang-orang soleh yang bisa jadi circle pertemanan dunia akhirat. Mereka akan mengingatkan kita ketika khilaf dan menguatkan kita ketika rapuh.
Sebagaimana Ibnul Qayyim mengisahkan tentang guru beliau Ibnu Taimiyyah, beliau berkata: _"Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan kesempitan hidup, kami segera mendatangi beliau untuk meminta nasehat, maka dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang"_ *[Al-wabilush shayyib hal 48, Darul Hadits, Syamilah]*
So teman surga, kalo pengen hidup kita penuh warna dan berpahala, jadilah penghuni taman-taman surga. Kalo kita pertama kali menginjakkan kaki di sekolah baru, cari mesjid, musholla, atau gabung dengan komunitas pengajian sekolah. Karena di sanalah kita akan menemukan jalan menuju taman-taman surga. Kalo ada yang ngajakin ngaji, jangan alergi. Sambut dengan tangan terbuka dan wajah ceria. Taman-taman surga, here we come! []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar