Kamis, 14 Maret 2024

MUDA MULIA PANTANG FOYA-FOYA

"Masa muda adalah waktu emas, jangan sia-siakan dalam kesenangan semu." (Ibnu Qayyim al-Jauziyah)

Liburan telah tiba berbarengan dengan pergantian tahun masehi. Fix ini mah bakal panen keramaian di berbagai tempat. Secara, akhir tahun selalu dinanti banyak orang untuk mengumbar kesenangan dengan berbagai kegiatan. 

Ada yang sekedar ngumpul bareng keluarga menghabiskan malam pergantian tahun dengan bakar jagung, bakar ayam, sambil nyalakan petasan dan kembang api. Ada juga yang sengaja bikin pesta pora baik dalam ruangan atau di alam bebas yang dekat dengan kemaksiatan. Having fun semua.

Bagi kita remaja muslim, momen pergantian tahun sering bikin dilema. Lantaran Islam nggak pernah ngajarin untuk merayakan pergantian tahun baru Masehi. Sementara teman-teman dekatnya malah sibuk bikin agenda seru-seruan di sana-sini. Mau ikut-ikutan, itu jelas-jelas bukan budaya Islam. Nggak ikut, dibully dan dijauhi teman. Lantas gimana dong?  

*# Tahun Baruan Bukan Budaya Islam*

Santuy aja. Tenangkan diri. Sebelum menentukan sikap, kita pahami dulu masalahnya. Peringatan tahun baru sudah dimulai sejak 45 tahun SM (Sebelum Masehi) pada masa Kaisar Julius Caesar. Bulan Januari sendiri dipilih menjadi bulan pertama karena dikaitkan dengan nama dewa Janus yaitu Dewa yang memiliki dua wajah satu menghadap ke (masa) depan dan satu lagi menghadap ke (masa) lalu atau ke belakang. 

Pada tahun 1582 M, Paus Gregorius XIII mengubah Perayaan Tahun Baru Umat Kristen dari tanggal 25 Maret menjadi 1 Januari. Kalender Gregorian yang kita kenal sebagai kalender Masehi dibuat berdasarkan kelahiran Yesus Kristus dalam keyakinan Kristen.  

Seiring muncul dan berkembangnya agama Kristen, akhirnya perayaan ini diwajibkan oleh para pemimpin gereja sebagai suatu perayaan “suci” satu paket dengan hari Natal. Itulah mengapa ucapan Natal dan Tahun baru dijadikan satu (Merry Christmas and Happy New Year).

Nah itu sedikit penjelasan ya. Jadi jangan sampai kita ikut-ikutan perayaan yang belum tau asal usulnya dan nggak mau cari tau infonya plus nggak tau hukumnya haram atau tidak ikut-ikutan acara tersebut. Karena kebiasaan buruk tersebut yang cuman ikut-ikutan tanpa landasan syariat islam kita merasa sah-sah aja bahkan dijadikan legalitas untuk nge-follow yang bukan berasal dari Islam. Astaghfirulloh

Tegas Rasulullah SAW mengingatkan : “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Jangan sampai cuman karena niup terompet sambil teriak hitungan mundur di penghujung waktu pergantian kalender, akidah kita tergadaikan. Kemuliaan kita sebagai seorang muslim tercabut. Padahal tak ada anugerah terbesar yang kita terima dari Allah swt selain Iman dan Islam dalam diri kita. Jadi, jauhi budaya foya-foya yang bisa menjerumuskan kita pada kehinaan dunia akhirat. Catat!

*# Kunci Muda Mulia*

Kemuliaan hidup kita bukan ditentukan oleh ridho manusia. Teman sebaya atau circle pertemanan kita. Emang nggak nyaman kalo dijauhi teman. Tapi jauh lebih nelangsa kalo perilaku kita melanggar hukum syariat dan nggak diridhoi sang Pencipta. 

Sebagai remaja muslim, kunci kemuliaan hidup kita ditentukan oleh dua hal sebagaimana nasihat Imam Syafi’i dalam kitab Diwan-nya. “Eksistensi seorang pemuda – Demi Allah – adalah dengan ilmu dan ketakwaan. Jika keduanya tidak ada padanya, maka tidak ada jati diri padanya.”

# Pertama, ilmu yang akan mengantarkan kita pada kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat. Dalam sebuah halaqah, terjadilah diskusi antara guru dan para muridnya mengenai kemuliaan ilmu. 

Salah seorang murid mengajukan pertanyaan kepada gurunya, Imam Syafi’i , “Wahai guru, berikanlah alasan kenapa ilmu bisa memuliakan seseorang yang memilikinya?” 
Sang guru tersenyum lirih seraya menjawab, “Dari dirimu sendiri, engkau bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu dan membuktikan bahwa ilmu dapat memuliakan pemiliknya. Pada hakikatnya, engkau akan senang ketika ada seseorang yang memujimu karena keluasan ilmu yang engkau miliki. Demikian sebaliknya, engkau akan sedih dan marah ketika ada seseorang mencela keterbatasan ilmu yang ada dalam dirimu”. 

Mendengar jawaban sang guru, murid itu akhirnya dapat memahami bahwa ilmu dapat mengangkat derajat seseorang. Artinya, orang yang berilmu lebih tinggi derajatnya beberapa tingkat daripada orang yang tidak berilmu. 

Dalam kitab Diwan Imam Syafi’i, beliau pernah berkata: “Belajarlah! Karena tak seorang pun yang terlahir sebagai ilmuwan. Seorang yang berilmu, tak sama dengan orang yang bodoh. Pembesar suatu kaum jika bodoh, akan menjadi kecil saat pembesar berkumpul. Orang kecil jika pandai, akan tampak besar saat berada dalam perkumpulan.”

# Kedua, ketakwaan yang menjadikan hidup kita mulia. Imam al-Ghazali menyebutkan ada 40 keutamaan yang didapatkan orang yang bertakwa. Diantaranya, dihilangkan kesulitannya, selalu diberi jalan keluar bagi masalahnya, dan diberi rezeki dari jalan yang tak disangka-sangka. 

Sebagaimana firman Allah, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya,” (Q.S. ath-Thalaq [65]: 2-3).

Ketakwaan itu lahir dari hasil menimba ilmu. Karena itu, jangan pernah lelah untuk terus belajar dan mengenal Islam lebih dalam. Ikut ngaji tanpa tapi tanpa nanti. 
Kalo ada bestie yang ngajak ikut ngerayain tahun baru, ingetin aja kalo keseruan itu bisa menjerumuskan kita. Gak masalah dikatain cupu di mata mereka, tapi muila di hadapan Allah swt. Sebaliknya, ajakin doi untuk ikut ngaji atau mengisi waktunya dengan muhasabah diri. 

Allah swt mengingatkan kita, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Hasyr [59]: 18)

Ayat ini merupakan isyarat untuk melakukan muhasabah setelah amal berlalu. Karena itu Umar bin Khaththab ra berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab” (Ibnu Qudamah, Minhajul Qashidin (terj.), hlm. 478)

Kuy! saatnya kita berubah, menjadi pribadi yang baik dengan mengkaji Islam. Ingat nggak ada kata terlambat selama kita masih bernafas. Segera evaluasi diri, siapkan bekal sebelum bertemu Allah, jangan kebanyakan numpuk dosa. Karena sebaik-baik bekal adalah takwa yang membuahkan pahala. Muda mulia pantang foya-foya! []

_Buletin Teman Surga Edisi #240 (Jumadil Akhir 1445 / Desember 2023)_

https://taplink.cc/temansurga

SIAPA TEMAN CURHATMU?

"Sampaikan pada jiwa yang bersedih / Begitu dingin dunia yang kau huni / Jika tak ada tempatmu kembali / Bawa lukamu biar aku obati //"

"Tidak kah letih kakimu berlari / Ada hal yang tak mereka mengerti / Beri waktu tuk bersandar sebentar / Selama ini kau hebat / Hanya kau tak didengar //"

Isu kesehatan mental alias mental health pada diri remaja kerap mewarnai pemberitaan media massa. Konon kabarnya, generasi Z punya kondisi metal yang rapuh. Begitu mudah menyerah dan putus asa. Seperti tersirat dalam lagu jiwa yang bersedih.

Laporan UNICEF yang berjudul The State of the World's Children 2021; On My Mind: promoting, protecting, and caring for children’s mental health mengungkap bahwa 1 dari 7 remaja berusia 10-19 tahun mengidap penyakit mental, seperti burnout dan rasa cemas atau anxiety.

Hal senada juga disampaikan oleh Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) yang melaporkan bahwa pada tahun 2022, setidaknya 1 dari 3 remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Sementara Presiden Asosiasi Pencegahan Bunuh Diri Indonesia (INASP), Sandersan Onie, menyatakan bahwa gen Z saat ini memang lebih rentan mengalami depresi. Ngeri!

*# Pentingnya Curhat Bagi Remaja*

Curahatan hati alias curhat, udah sering dilakukan kebanyakan remaja. Mereka yang tak biasa memendam rasa, terutama kalo lagi ada masalah, akan cerita kepada orang-orang yang dia percaya. Entah itu teman dekat, orang tua, guru, atau psikiater. Yang pasti, sebagai makhluk sosial kita umumnya perlu orang lain untuk berbagi rasa dan cerita. 

Remaja yang terbiasa curhat menang banyak dalam urusan mentalnya. Mental health alias kesehatan mentalnya lebih terjaga. Lantaran curhat akan memberi kita dampak positif diantaranya, 

Pertama, mengurangi beban emosional. Kalo udah curhat, rasanya plong. Berbagai rasa emosi yang selama ini bikin resah, seolah berkurang bahkan menghilang setelah bercerita. Kondisi ini yang bisa mengurangi beban mental. Lega. Hidup tanpa beban. 

Kedua, langkah awal penyelesaian masalah. Berbagi masalah kita kepada orang lain emang gak mudah. Tapi bisa menjadi langkah awal untuk mendapatkan solusinya. Orang yang jadi tempat curhat, pastinya punya sudut pandang lain tentang masalah kita. Bisa jadi, dia punya jalan keluarnya atau setidaknya bisa nunjukkin jalannya. 
Ketiga, lebih kuat hadapi masalah. Setelah curhat, kita jadi lebih kuat karena tidak sendiri hadapi masalah. Ada orang yang siap membantu kita. Nasihat mereka menguatkan mental kita. Saran mereka membuka mata dan hati kita.

*# Siapa Tempat Curhat Remaja?*

Tak mudah bagi remaja untuk menceritakan masalah pribadinya. Itu berarti, kalo ada yang jadi tempat curhat mereka, itu istimewa banget. Makanya mereka pilih yang bisa dipercaya, bisa nyimpan rahasia, dan ngasih saran dan solusi. Biasanya mereka curhat sama: 

Pertama, bestie. Ini paling banyak dilakukan remaja. Mereka nyaman kalo curhat ama teman dekat di sekolah, dengan kakak atau adik di rumah. Tahu-sama tahu rahasia masing-masing. Terkadang mereka gak dapat solusinya, tapi ngerasa nyaman kalo udah berbagi. 

Kedua, orang tua. Masih ada remaja yang curhat sama orang tua. Mereka yakin, inilah tempat terbaik untuk berbagi rasa suka dan duka. Ortu tercinta akan menguatkannya ketika rapuh, dan menunjukkan jalan keluar dari setiap masalah. 

Ketiga, guru di sekolah. Agak tengsin juga kalo udah dipanggil guru di sekolah untuk curhat. Masalahnya, ada ketakutan kalo ceritanya bocor dan jadi isu di sekolah. Tapi biasanya, untuk urusan curhat udah ada guru BK alias Bimbingan Konseling yang bisa dipercaya dan bisa jaga rahasia. 

Keempat, mentor/ panutan. Kalo remaja gabung dalam komunitas atau aktif dalam dakwah, biasanya pembimbing mereka yang jadi panutan kerap jadi tempat curhat. Seperti guru ngaji. Selain mengurangi beban mental, guru ngaji bisa ngasih saran biar kita gak salah arah dalam memecahkan masalah. 

Kelima, online. Ini yang makin banyak beredar di dunia maya. Ada yang digawangi psikolog remaja yang buka layanan curhat online, atau organisasi yang peduli generasi. Kalo ini masih aman. Jangan sampai remaja curhat di sosial media, ngeri banget dah. Masalah privasi diumbar di linimasa sosial media itu lebih banyak berujung masalah baru dibanding solusi yang dinanti. 

Siapapun yang jadi tempat curhat kita, pastikan bisa ngasih arahan tepat sesuai syariat. Tak sekedar tempat buang rasa penat dan sampah gundah gulana. Agar nyamannya kita setelah curhat dibarengi dengan kekuatan baru untuk bangkit dan tumbuh menjadi remaja tangguh. Ganbatte!

*# Remaja Taat, Remaja Sehat*

Jauh sebelum virus galau menjangkiti remaja, ajaran Islam sudah punya serum anti virusnya. Lantaran kita sebagai muslim diajarkan kalo ada masalah tetap cool, calm, and confident.
 
Setiap masalah yang datang itu bagian dari tantangan hidup yang mendewasakan kita. Selalu ada sisi baiknya agar kita terus berbaik sangka. Dari Shuhaib, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, No. 2999)

Imam Al-Munawi berkata dalam Faidhul Qadir, “Keadaan seorang mukmin semuanya itu baik. Hanya didapati hal ini pada seorang mukmin. Seperti itu tidak ditemukan pada orang kafir maupun munafik. Keajaibannya adalah ketika ia diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta dan kedudukan, maka ia bersyukur pada Allah atas karunia tersebut. Ia akan dicatat termasuk orang yang bersyukur. Ketika ia ditimpa musibah, ia bersabar. Ia akan dicatat termasuk orang yang bersabar.”

Jangan lupa, kala galau melanda usir rasa itu dengan mengambi air wudhu, lanjut shalat sunnah dan membaca Alquran. Ibnu Mas’ud mengatakan, “Kalau perasaan tak tenteram, jiwa gelisah dan pikiran kusut menimpamu, maka bawalah hatimu mengunjungi tiga tempat; pertama, tempat orang membaca Al Quran, engkau baca Alquran atau kau dengarkan dengan baik orang membacanya. Kedua, engkau pergi ke majelis ilmu yang mengingatkan hatimu kepada Allah SWT. Ketiga, engkau cari waktu dan tempat yang sunyi, di sana engkau berkhalwat mengabdikan diri kepada Allah SWT.”

Makanya, sudah pas banget jalan hidup kita kalo keseharian terikat dengan syariat. Tak lelah berdakwah. Tak berat meringankan kaki ke majelis ilmu. Kenali Islam lebih dalam agar masa depan kita tak suram. Kesehatan mental kita pun aman sentosa. Kuncinya, ikut ngaji tanpa tapi tanpa nanti. Yuk! []

_Buletin Teman Surga Edisi #239 (Jumadil Akhir 1445 / Desember 2023)_

https://taplink.cc/temansurga

JEJAK 'SANG GURU'

"Guru adalah orang yang membuka mata kita untuk melihat dunia, membuka hati kita untuk mencintai dunia, dan membuka pikiran kita untuk memahami dunia." (Imam Al-Ghazali)

Akhir bulan November punya nilai tersendiri bagi dunia pendidikan nasional. Pasalnya, setiap tanggal 25 November selalu diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Sebagai penghargaan untuk para guru yang telah membidani lahirnya para pemimpin di negeri katulistiwa ini.

Kalo kita ulik sejarahnya, peringatan Hari Guru Nasional bertepatan dengan berdirinya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada tanggal 25 November 1945. Sebelumnya, pada tahun 1912, organisasi ini bernama PGHB (Persatuan Guru Hindia Belanda).

Pada tahun 1932, PGHB mengubah namanya menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Pada saat itu, Belanda sebagai negara penjajah, tidak menerima unsur nama “Indonesia” dalam PGI karena dianggap sebagai sebuah ancaman untuk mereka. Dengan merubah namanya, PGI menjadi semakin nasionalis dan perjuangan kemerdekaan Indonesia semakin kuat bersama guru.

Pada jaman penjajahan Jepang, PGI dilarang untuk melakukan aktivitas. Tidak lama setelah proklamasi kemerdekaan, PGI menggelar Kongres Guru Indonesia yang pertama di Surakarta, Jawa Tengah pada tanggal 24–25 November 1945. Kongres tersebut membidani lahirnya PGRI. Akhirnya, melalui Keputusan Presiden No. 8 Tahun 1994 ditetapkan tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional. Salam takzim untuk guru-guru tercinta.

*# Universitas Kedua Tertua di Dunia*

Kehadiran guru tak lepas dari tempat mereka belajar sebelum menjadi seorang pengajar. Kebanyakan guru mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi. Karena itu, Islam yang sangat menghargai peran guru dengan segudang kemuliaannya tak luput dari perhatian terhadap sekolah tinggi yang melahirkan guru-guru jempolan.

Pada masa keemasannya, peradaban Islam selalu tampil di mata dunia sebagai pionir dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Lembaga pendidikan Islam berkembang mulai dari halqah-halqah (lingkaran) pendidikan di emper masjid, hingga kemudian menjadi lembaga pendidikan tinggi (jami’ah) setara dengan universitas.

Dari sekian banyak universitas yang didirikan oleh kaum muslimin, terdapat salah satu universitas kedua tertua di dunia setelah Universitas Az-Zaitunah, Tunisia (737 M) yang keduanya masih eksis hingga kini. Universitas itu adalah Universitas Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko yang berdiri pada tahun 859 Masehi. Universitas ini sudah berkembang jauh sebelum universitas tertua di Eropa, yakni Bologna yang terletak di Italia, didirikan sekitar tahun 1088 M, dan juga jauh sebelum Universitas Oxford, universitas tertua di Inggris, dibangun sekitar 1096 M.

Di barat universitas Al-Qarawiyyin dikenal dengan university of Al-Karaouine. Tahun 1998 Gunness Book of World Records menetapkan universitas Qarawiyyin sebagai universitas tertua yang memberikan gelar kesarjanaan akademis yang masih beroperasi hingga sekarang.

Universitas ini didirikan oleh Fatimah Al-Fihri, putri dari seorang saudagar konglomerat yang merupakan pendatang dari Qayrawan, Tunisia. Awalnya, perempuan yang fasih dalam fikih dan hadits ini membangun sebuah masjid yang dinamainya Al- Qarawiyyin di sebuah tanah yang dibelinya dari seorang pria suku Hawaara.

Di samping masjid ini, didirikan juga sebuah sekolah dengan standar tertinggi diberikan. Seperti masjid lain pada umumnya, masjid yang kemudian dikenal dengan Qarawiyyin ini juga digunakan sebagai tempat diskusi dan madrasah. Lama kelamaan materi-materi yang dibahas dalam halqah-halqah tersebut semakin berkembang mencakup berbagai bidang, tak cuma mengkaji Alquran dan Fikih saja.

Wacana yang dibahas dalam diskusi di emper Masjid itu akhirnya meluas hingga mengkaji tata bahasa, logika, kedokteran, matematika, astronomi, kimia, sejarah, geografi, bahkan musik. Halqah-halqah itu pun diikuti oleh para pemburu ilmu dari berbagai belahan dunia. Nggak heran karena materi-materi kuliah disajikan dengan berkualitas oleh para ilmuwan terkemuka.

Sejak itulah, aktivitas keilmuan di Masjid Al-Qarawiyyin berubah menjadi kegiatan bertaraf perguruan tinggi. Jumlah pendaftar yang berminat untuk menimba ilmu di universitas itu begitu banyak sampai-sampai, pihak universitas menerapkan sistem seleksi yang ketat bagi para calon mahasiswanya.

Universitas inipun melahirkan sejumlah tokoh Muslim kenamaan. Di antaranya, Abu Abullah Al-Sati, Abu Al-Abbas al-Zwawi, Ibnu Rashid Al-Sabti, Ibnu Al-Haj Al-Fasi, serta Abu Mazhab Al-Fasi. Muhammad al Idrisi, Ibnu Khaldun, al Wazzan, al Bitruji juga ditengarai pernah menjadi pengajar di universitas tersebut.

Bukan hanya muslim, universitas top kelas dunia ini juga menerima mahasiswa non muslim. Misalnya filosof yahudi Musa bin Maimun atau Maimonides dan Gerbert d’Aurillac dari kalangan kristen. Yang terakhir ini kemudian menjadi paus bergelar Paus Silvester II, yang memperkenalkan sempoa dan astrolab pada orang eropa yang masih jahiliyah, serta mengajarkan matematika dan astronomi yang dipelajarinya di Al-Qarawiyyin.

*# Jejak Hidup yang Tak Pernah Redup*

Dari sosok Fatimah al-Fihri kita bisa mengambil hikmah tentang ketulusan niat wanita visioner ini dalam mendirikan lembaga pendidikan. Kecintaan Fatimah terhadap ilmu pengetahuan membuatnya berpikir untuk menggabungkan madrasah dan masjid. Tujuannya, agar umat tidak hanya sekedar beribadah, namun madrasah untuk menuntut ilmu.

Fatimah kemudian mewujudkan impiannya tersebut dengan membeli sebidang tanah yang luas, kemudian ia mendirikan masjid sekaligus madrasah untuk kaum muslim belajar dan beribadah. Inilah cikal bakal salah satu kampus tertua di dunia. Universitas Al-Qarawiyyin.

Kebayang ya, dengan ketulusan niat kontribusi Fatimah dalam bidang pendidikan, pahala untuknya terus mengalir deras hingga saat ini. Seperti itulah karakter seorang muslim sejati. Kebaikannya bukan untuk mengejar materi atau menuai sanjung puji. Tapi murni kontribusi untuk kebangkitan Islam dan kaum muslimin.

Saatnya kita ikuti jejak ‘Sang Guru’ Fatimah dengan karya nyata dan menebar manfaat kepada sesama. Asah kemampuan kita agar bisa meninggalkan jejak hidup yang tak pernah redup. Manfaatnya tak mengenal kadaluarsa. Pahalanya terus mengalir meski kita sudah tiada. Mulailah dengan mengenal Islam lebih dalam dan berdakwah sebagai pondasi kokoh para pejuang kontribusi. Mari mengaji tanpa tapi tanpa nanti. Yuk! []

_Buletin Teman Surga Edisi #238 (Jumadil Awal 1445 / Desember 2023)_

https://taplink.cc/temansurga

KALA TONTONAN MENJADI TUNTUNAN

Sobat BTS, beberapa waktu lalu viral aksi yang dilakukan siswa Sekolah Dasar (SD) diSitubondo. Mereka sengaja menyayat lengannya sendiri demi mengikuti trend di Tiktok.

Tidak hanya siswa SD, trend ini juga ramai ditiru pelajar SMP. Trend ini juga menyebar melalui media sosial dan grup aplikasi percakapan. Para siswa SD itu menggores atau menyayat lengannya sendiri menggunakan alat kesehatan berbentuk stik yang biasanya digunakan untuk mengecek kadar gula darah. Siswa SD yang disebut berusia sekitar 10 hingga 12 tahunan itu mengaku membeli alat tersebut dari salah seorang pedagang keliling yang berjualan di sekitar sekolahnya.

*# Dari Tontonan, Menjadi Tuntunan*

Sobat BTS, di era serba digital seperti saat ini tentu gampang banget mengulik setiap konten dan informasi. Di media sosial, semua ada. Tetapi, ibarat dua sisi mata uang, media sosial ini tidak sedikit juga lo yang bermuatan negatif. Salah satunya seperti trend di atas.

Di usia labil ini, tidak sedikit remaja yang mudah banget ikut-ikutan trend tanpa filter sedikitpun. Wah berabe banget deh pokoknya. Eh tapi gimana ceritanya remaja mengikuti trend ini? Tentu saja ini erat kaitannya dengan dunia maya.

Ya, dunia maya memang memiliki dimensi yang berbeda dengan dunia nyata. Kolaborasi visualisasi juga kemasan audio nan keren, terbukti ampuh membius para remaja. Makanya, enggak heran jika dunia maya menjadi ruang promosi sekaligus media untuk memperkenalkan trend terbaru. Apalagi kalau trend itu datang dari sosok-sosok idola remaja. 

Nah, trend di atas tadi ternyata populer bermula dari sebuah trend bernama Barcode Korea. Katanya, sih, barcode atau kode batang itu akan membuat mereka merasa tangannya cantik dan menarik. Wadidaw! Pengen terlihat cantik kok kudu menyakiti diri sendiri sih? Ternyata, setelah menyayat lengan, mereka akan mengunggah di Tiktok dengan hastag #BarcodeKorea. Sakitnya dapat, kerennya kagak. Ya enggak guys?

Fakta ini menunjukkan betapa visualisasi itu punya efek magis, sobat. Bisa menyihir dan memengaruhi para remaja. Mantranya, ya biar dibilang keren. Remaja yang sejatinya merupakan pengguna aktif media sosial dengan mudahnya terpengaruh dan ikut arus trend yang sedang viral. Tanpa mikir apa sesuatu itu baik atau tidak. So, kudu gimana dong agar kita bisa menyaring seluruh informasi juga visualisasi yang terus menerus hadir di tengah-tengah kita? 

*# Filter dengan Pemahaman*

Sobat BTS, tentu kita patut prihatin dengan kondisi ini. Generasi yang sejatinya menjadi harapan bangsa, malah sibuk dengan aktivitas yang unfaedah. Nah, berbicara mengenai ikut-ikutan trend ini tidak lepas dari persepsi kita tentang makna hidup lho sobat. Banyaknya remaja yang ikut-ikutan trend unfaedah itu berangkat dari persepsi bahwa hidup ini tujuannya enggak lain untuk hura-hura. Hidup bebas adalah jalan ninja menikmati kemewahan dunia.

Kata mereka terikat dengan berbagai aturan itu tandanya hidup terkekang. Apalagi aturan agama, semua serba diatur. Di sisi lain, paham kebebasan yang saat ini dianut masyarakat kita meminggirkan aturan agama dan memosisikan agama sebatas ibadah ritual saja. Dalam kehidupan sehari-hari, agama tidak menjadi rujukan.

Saat agama tidak menjadi rujukan, maka jadilah hidup terombang-ambing. Semua dilakukan berdasarkan perasaan doang. Suka tidak suka, sandarannya pada diri sendiri. Walhasil, meski itu melukai diri sendiri, dalam pandangan para remaja itu merupakan sesuatu yang keren dan gaul. Hidup akhirnya disetir oleh trend.

Ukuran keren pun sebatas pada decak kagum orang lain. Makanya, agar hidup enggak disetir trend viral, penting banget untuk memiliki prinsip hidup. Prinsip hidup ini yang bakal menjadi kendali agar tidak salah arah dan mudah terbawa arus. 

*# Self Harm, Jangan Coba-coba!*

Sobat sekalian, Self-harm atau self-injury adalah perbuatan di mana seseorang menyakiti diri sendiri sebagai pengalihan dari rasa sakit psikisnya ke fisik mereka. Biasanya bisa berupa menyakiti diri dengan benda tumpul atau tajam, atau dengan penganiayaan diri sendiri secara langsung. 

Apa yang siswa-siswi di Situbondo lakukan adalah sejenis self harm meski atas nama trend. Dalam Islam ini terlarang lho sobat. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak boleh menyakiti diri sendiri dan menyakiti orang lain.” (HR. Ibnu Majah). Industri budaya populer yang terus membanjiri ruang privat generasi menjadikan hidup kehilangan makna. Negara pun seolah angkat tangan dan memilih diam terhadap konten yang sejatinya berbahaya bagi generasi. Kalau kondisinya begini terus, bisa-bisa akan tercipta generasi “sakit” yang tidak paham tujuan hidup. Kan menyedihkan, betul enggak?

Kita tentu berharap generasi sehat dan tangguh penerus peradaban. Nah, agar posisi strategis generasi ini enggak buyar karena pengaruh negatif, dibutuhkan peran negara untuk memproteksi setiap informasi ataupun tontonan yang hadir di tengah-tengah generasi. Dalam Islam, negara wajib hadir menjadi perisai informasi. Negaralah yang bertugas untuk membersihkan semua konten negatif dan memastikan bahwa hanya informasi yang sehatlah yang layak dikonsumsi masyarakat termasuk remaja. 

Benteng selanjutnya yang bisa menyaring baik dan buruknya sesuatu ya tentu remaja sendiri. Untuk mencegah munculnya trend negatif dan berbahaya ini, enggak ada yang bisa kita lakukan selain kembali memahami “apa sih yang menjadi tujuan hidup kita di dunia ini?” Kelak saat meninggal, apa jawaban atas perbuatan yang telah dilakukan di dunia ini? Sudah siap belum? Ingat, lo, syarat mati itu enggak harus tua dan enggak harus sakit. 

“Ah, mumpung masih muda, jalan masih panjang. Nikmati hidup aja dulu”, kata sebagian orang. Halo, memang ada jaminan satu detik ke depan kita masih hidup? Begitu malaikat menjemput, di saat itulah kita siap mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan kita di dunia. Gimana coba kalau malaikat mau menjemput sementara kita dalam kondisi maksiat? Wah, enggak kebayang.

Jadi dengan memahami tujuan hidup akan menjadikan standar-standar kebahagiaan ala manusia pada umumnya menjadi tidak bernilai. Decak kagum, sorak-sorai manusia dan sejenisnya tidak ada nilainya saat Allah dan Rasul tidak ridha dengan satu perbuatan. Ingat ya, menyakiti diri alias self harm itu enggak boleh! So, jangan coba-coba melakukan perbuatan terlarang itu. Sayang banget lho, padahal Allah telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk, malah enggak amanah menjaga diri sendiri. 
Sekali lagi, jangan lagi deh ikut-ikutan trend yang enggak masuk akal. Aslinya enggak keren dan melanggar syariat. Oke? []

_Buletin Teman Surga Edisi #237 (Jumadil Awal 1445 / November 2023)_

IRI? ISTIGHFAR BOS!

"Hina Aja Terus Boss Ku / Dunia Ini Milik Kau / Pandang Ku Sebelah Mata / Anggap Kau Paling Sempurna / Gue Bikin Karya Malah Lau Yang Rusuh / Ngomong Di Belakang Itu Tanda Tak Mampu / Kalo Iri, Bilang Bosku / Hidup Tu, Jangan Belagu"

Penggalan lagu rap di atas lagi populer di salah satu platform sosial media. Meskipun banyak versi dan cover dengan judul lagu yang mirip, namun isi pesannya tetep sama tentang sikap toxic generasi muda dalam pergaulan. Iri alias hasad bin dengki. Hati-hati! 

*# Dari Linimasa Turun ke Hati*

Hari gini kecanggihan teknologi menggiring remaja untuk aktif berselancar di dunia maya. Terutama menjelajahi berbagai platform sosial media tempat paling favorit untuk bergaul online. Awalnya bikin akun cuman untuk formalitas aja biar dianggap gaul. Akhirnya, malah keasyikan tebar pesona dan stalking akun teman-teman sebayanya. 
Saking rajinnya remaja nongkrong di sosial media, tanpa disadari terpapar rasa insecure. Dirinya ngerasa minder kalo ngeliat sisi terbaik kehidupan teman-temannya yang diposting ke sosial media. Mulai dari jalan-jalan healing ke berbagai tempat yang keren, wisata kuliner masakan lezat dan viral, padu padan busana yang menggoda, hingga daya tarik fisiknya yang tanpa cela. 

Sementara dirinya, banyak kekurangan dan minim pencapaian. Kehidupan sempurna yang diinginkan gak kesampaian. Jadinya malah ‘mupeng’ alias muka pengen ngeliat teman-temannya hidup bahagia dalam album linimasa sosial media. Cuman bisa gigit jari. Lama kelamaan timbul rasa iri. Ini yang bikin mental health remaja rapuh layaknya jiwa-jiwa yang bersedih.

Disadur dari The Guardian, Profesor Psikologi dari University of Michigan, Ethan Kross, menyebut bahwa fenomena di era media sosial memang tidak begitu menyenangkan. Hasil penelitian terhadap pengguna Facebook pasif yang ia dan timnya lakukan menemukan, semakin banyak seseorang melihat kehidupan orang lain di media sosial, semakin tidak nyaman perasaan hatinya. "Kita dibombardir dengan 'kehidupan Photoshop' yang begitu indah, kehidupan yang belum pernah dirasakan manusia di peradaban sebelumnya," kata Kross.

Kalimat yang diutarakan Aristoteles pada abad ke-4 SM atau ratusan tahun lalu, sepertinya cukup menggambarkan fenomena yang muncul pada era media sosial saat ini: "Sakit rasanya, melihat keberuntungan baik yang dimiliki orang lain, mereka memiliki apa-apa yang seharusnya kita miliki." Dari sinilah rasa iri yang bersemai dalam hati makin menjadi-jadi. 

*# Cuman Dapat Capek!*

Apa yang kita dapat kalo melihara sikap iri? Capek bos! Asli gak ada guna. Ibaratnya kita bawa kursi dalam setiap aktifitas harian. Beban banget. Orang dengki itu hidupnya gak tenang karena dihantui perasaan gak jelas. Uring-uringan. Senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang. 
Hasad adalah sikap batin yang tidak senang terhadap kebahagiaan orang lain dan berusaha untuk menghilangkannya dari orang tersebut. Pendengki selalu cemburu terhadap nikmat yang dimiliki orang lain dan menghendaki nikmat tersebut berpindah kepada dirinya. Dia kufur terhadap nikmat yang diberikan Allah kepadanya karena menganggap dirinya lebih berhak mendapatkan nikmat tersebut dibanding orang lain.

Selama rasa dengki terus bersemayan di hati, lama kelamaan harus ada pelampiasan. Dia akan berusaha cari cara agar kenikmatan yang dirasakan oleh orang lain yang dicemburuin itu hilang atau merasa nggak nyaman. Akhirnya waktu berharga habis cuman untuk ngegosip, fitnah, atau menebar komentar nyinyir. Nggak produktif. Karena itulah, ajaran Islam memerintahkan kita untuk menjauhi penyakit hati yang berbahaya ini . 

"Jangan kamu saling dengki dan iri dan jangan pula mengungkit keburukan orang lain. Jangan saling benci dan jangan saling bermusuhan serta jangan saling menawar lebih tinggi atas penawaran yang lain. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim itu adalah saudara bagi Muslim yang lain, maka tidak boleh menzaliminya, menelantarkannya, mendustainya dan menghinakannya. Seseorang telah dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya sesama Muslim. Setiap Muslim haram darahnya bagi Muslim yang lain, demikian juga harta dan kehormatannya." (HR Bukhari dan Muslim)

Ngerinya, rasa iri bisa menghabiskan pahala yang selama ini kita tabung. Rasulullah saw mengingatkan, "Waspadalah terhadap hasad (iri dan dengki), sesungguhnya hasad mengikis pahala-pahala sebagaimana api memakan kayu." (HR Abu Daud)

*# Hapus Dengki, Hidup Lebih Berarti*

Gak ada kebaikan kita memelihara rasa dengki. Kalo pun pernah terbersit, segera beristighfar dan minta perlindungan kepada Allah swt. “Dan dari kejahatan orang yang dengki ketika dia iri.” (Al Qur'an Al Falaq ayat 5)

Selanjutnya, minimalisir informasi yang bisa memancing rasa iri nongol ke permukaan hati. Kurangi stalking akun-akun sosial media yang dipenuhi gaya hidup flexing alias doyan pamer dari kenalan kita. Kalo perlu, unfriend akunnya biar gak menyebar toxic. Karena kesempurnaan hidup yang disajikan linimasa sosial media, kerap kali hanya fatamorgana.  

Sebaliknya, follow akun-akun kebaikan yang kontennya banyak mengingatkan kita biar gak salah jalan. Sekalian like, comment, and share postingannya yang positif biar jadi ladang berkah juga untuk kita. 

Biar benih rasa iri dengki gak bersemai di hati, pelihara rasa syukur. Ini anti virus rasa iri. Karena dengan banyak bersyukur, kita gak merasa gundah gulana ketika ngelihat orang lain mendapat kenikmatan lebih dibandingkan diri sendiri. Hidup malah jadi lebih asyik dan produktif penuh energi kebahagiaan. 

Dari Abū Hurairah ia berkata, Rasūlullāh bersabda, “Lihatlah kepada yang di bawah kalian dan janganlah kalian melihat yang di atas kalian, sesungguhnya hal ini akan menjadikan kalian tidak merendahkan nikmat Allah yang Allah berikan kepada kalian.” (HR Muslim)

Tak lupa, kita bangun juga benteng pertahanan dengan menguatkan iman dan mengokohkan akidah dengan aktif ikut pengajian. Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali berkata: “Penyakit hati ini tidak bisa disembuhkan kecuali dengan ilmu dan amal saleh. Ilmu yang bermanfaat untuk melawan penyakit hasad adalah Anda mengetahui bahwasanya hasad itu kemudaratannya akan kembali kepada diri Anda, baik perkara dunia maupun perkara akhirat. Dan hasad yang Anda lakukan tersebut tidak akan menimpakan kemudaratan kepada orang yang Anda hasad kepadanya baik dunia maupun di akhirat, bahkan dia akan mendapatkan manfaat dengan hasadnya Anda.”

So, pastikan keseharian kita tak lepas dari kegiatan menimba ilmu Islam. Bisa dengerin ceramah ustadz via youtube, baca buletin Teman Surga, atau hadir di majelis-majelis ilmu. Dengan begitu, insya Allah hati kita sudah disuntik anti virus rasa dengki sehingga hidup kita akan jauh lebih produktif dan penuh arti. Yuk ngaji! []

_Buletin Teman Surga Edisi #236 (Jumadil Awal 1445 / November 2023)_

https://taplink.cc/temansurga

SUMPAH' PEMUDA PENAKLUK ANDALUSIA

Ini sumpah bukan sembarang sumpah. Bukan sumpah pocong kaya di film-film sinetron azab. Atau sumpah serapah yang kerap keluar dari mulut kaum nyinyiriun.

Secara bahasa dari kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), sumpah berarti pernyataan disertai tekad melakukan sesuatu untuk menguatkan kebenarannya atau berani menderita sesuatu kalau pernyataan itu tidak benar. Nah sumpah yang satu ini datang dari ucapan seorang pemuda panglima yang artinya mirip-mirip seperti definisi di atas.

Emang sumpahnya gak ditulis pada daun lontar. Atau terpatri pada prasasti bersejarah. Atau juga beredar di status sosmed. Tapi sumpah ini sangat memotivasi pasukan Islam pada era kekhilafahan Umayyah untuk membuka jalan penyebaran dakwah Eropa melalu Andalusia. Sumpah apakah itu?

*# Di Balik Saksi Bisu Selat Gibraltar*

Sebelum kita spill isi sumpahnya, kita mau kasih clue dulu saksi bisunya. Sebuah selat yang memisahkan Negeri Matador dan al-Maghribi. Sebuah tempat yang menghubungkan dua perairan, samudera atlantik dan Laut Tengah. Uniknya, kedua perairan ini airnya tak bisa bersatu sehingga terlihat jelas batasannya, seperti minyak dan air.

Uniknya lagi, nama Gibraltar berasal dari nama salah satu pahlawan besar Islam yang banyak dikenang dan diingat orang sepanjang masa. Seorang pemuda muslim bernama Thariq bin Ziyad. Panglima terbesar dalam sejarah Islam yang merupakan prajurit Kerajaan Umawiyah (Bani Umayyah).

Thariq bin Ziyad dilahirkan pada tahun 50 H atau 670 M di Kenchela, Aljazair, dari kabilah Nafzah. Ia bukanlah seorang Arab, akan tetapi seorang yang berasal dari kabilah Barbar yang tinggal di Maroko.

Dalam Tarikh Ibnu Nushair, sejarawan mengatakan Thariq adalah budak dari amir Kerajaan Umawiyah di Afrika Utara, Musa bin Nushair. Lalu Musa membebaskannya dari perbudakan dan mengangkatnya menjadi panglima perang.

Dalam perjalanan menaklukkan Afrika Utara, Musa bin Nushair dibuat kagum dengan kesungguhan dan keberanian Thariq bin Ziyad. Setelah menaklukkan beberapa wilayah, akhirnya pasukan ini berhasil menaklukkan Kota Al-Hoceima, salah satu kota penting di Maroko. Kota ini sebagai wilayah strategis yang mengantarkan pasukan Islam menguasai semua wilayah Maroko. Musa kembali ke Qairawan sedangkan Thariq menetap di sana dan memberi pengajaran keagamaan kepada masyarakat Barbar Maroko.

Setelah Musa bin Nushair membuka jalan pasukan Islam ke Eropa, Thariq bin Ziyad menyempurnakannya dengan menaklukkan Andalusia. Atas perintah Khalifah al-Walid bin Abdul Malik, Thariq membawa pasukan Islam menyeberangi selat Gibraltar menuju daratan Eropa. Dari sinilah sejarah bangsa Ifranji –sebutan untuk orang-orang Eropa- itu berubah.

*# Point of No Return!*

Jauh sebelum umat Islam menguasai Andalus, daratan Siberia itu dikuasai oleh seorang raja zalim yang dibenci oleh rakyatnya, yaitu Raja Roderick. Di sisi lain, berita tentang keadilan umat Islam masyhur di masyarakat seberang Selat Gibraltar ini. Oleh karena itu, orang-orang Andalusia sengaja meminta tolong dan memberi jalan kepada umat Islam untuk menggulingkan Roderick dan membebaskan mereka dari kezalimannya.

Segera setelah permintaan tersebut sampai kepada Thariq, ia langsung melapor kepada Musa bin Nushair untuk meminta izin membawa pasukan menuju Andalus. Kabar ini langsung disampaikan Musa kepada Khalifah al-Walid bin Abdul Malik dan beliau menyetujui melanjutkan ekspansi penaklukkan Andalus yang telah dirintis sebelumnya.

Pada bulan Juli 710 M, berangkatlah empat kapal laut yang membawa 500 orang pasukan terbaik umat Islam. Pasukan ini bertugas mempelajari bagaimana medan perang Andalusia, mereka sama sekali tidak melakukan kontak senjata dengan orang-orang Eropa. Setelah persiapan dirasa cukup dan kepastian kabar telah didapatkan, Thariq bin Ziyad membawa serta 7.000 pasukan lainnya melintasi lautan menuju Andalusia.

Mendengar kedatangan kaum muslimin, Roderick yang tengah sibuk menghadapi pemberontak-pemberontak kecil di wilayahnya, langsung mengalihkan perhatiannya kepada pasukan kaum muslimin. Ia kembali ke ibu kota Andalusia kala itu, Toledo, untuk mempersiapkan pasukannya menghadang serangan kaum muslimin. Gak tangung-tanggung, Roderick bersama 100.000 pasukan yang dibekali dengan peralatan perang lengkap segera berangkat ke Selatan menyambut kedatangan pasukan Thariq bin Ziyad.
Ketika Thariq bin Ziyad mengetahui kalo Roderick membawa pasukan yang begitu besar, ia segera menghubungi Musa bin Nushair untuk meminta bantuan. Dikirimlah pasukan tambahan yang jumlahnya hanya 5.000 orang.

Akhirnya pada 28 Ramadhan 92 H bertepatan dengan 18 Juli 711 M, 12.000 pasukan Muslim berangkat dari Maghreb (Maroko) dengan kapal-kapal mereka menuju Semenanjung Iberia.

Sesampainya di Andalusia, Thariq bin Ziyad mendengar bahwa Roderick akan datang menyambutnya dengan pasukan yang jauh lebih besar dan lebih banyak dari pasukannya. Pasukan Muslim galau, namun Thariq tidak. Doi malah meminta mereka melakukan hal ekstrim: Bakar seluruh kapal!

Tatkala ditanyakan kepadanya “Wahai pemimpin, sesungguhnya engkau mencelakakan kita dengan membakar kapal-kapal yang membawa kita kesini” Maka Thariq ‘bersumpah’:

_*“Sesungguhnya setiap daerah Allah dan bumi Allah adalah kampung halaman kita. Wahai manusia ke manakah kalian akan pergi. Sesungguhnya lautan ada di belakang kalian, dan musuh ada di depan kalian. Dan tidak ada yang tersisa pada kalian, Demi Allah, kecuali kebenaran dan kesabaran.”*_

Perang Sidonia yang dahsyat pun berkecamuk selama delapan hari. Kaum muslimin dengan jumlahnya yang kecil tetap bertahan kokoh menghadapi hantaman orang-orang Visigoth pimpinan Roderick. Keimanan dan janji kemenangan serta syahid di jalan Allah telah memantapkan kaki-kaki mereka dan menyirnakan rasa takut dari dada-dada mereka.

Dengan kebenaran dan kesabarannya, Thariq bin Ziyad berhasil memimpin pasukannya meraih kemenangan melawan musuh yang berlipat-lipat jumlah maupun persenjataannya. Dan akhirnya, umat Islam mengenalnya sebagai Pemuda Penakluk Andalusia, pembuka jalan dakwah ke Eropa yang jejaknya diabadikan pada daratan tempat pertama kali pasukanya berlabuh. Gibraltar alias Jabal ath-Thariq.

Dari ‘sumpah’ pemuda penakluk Andalusia, kita belajar satu hal yang amazing. “POINT of No Return”, upaya untuk maju terus meskipun tantangan dan resiko yang akan dihadapi sangat besar. Itulah karakter pemimpin terbaik.

Kalo kita udah bertekad meraih keberhasilan atau impian-impian yang mulia, jangan tanggung-tanggung. Kobarkan semangat Bakar Kapal seolah tak ada alasan bagi kita untuk mundur teratur. Sehingga memaksa kita untuk terus berusaha, belajar, mengaji dan mengeluarkan potensi terbaik agar impian besarnya tecapai atau kita mati ketika mengusahakannya. Seperti semangat jihad saudara-saudara kita di Gaza Palestina. Hanya ada 2 pilihan, hidup mulia atau mati syahid. Point of no return. Gaskeun! []

_Buletin Teman Surga Edisi #235 (Rabiul Akhir 1445 / Oktober 2023)_

https://taplink.cc/temansurga

JAUH DI GAZA DEKAT DI HATI

Sungguh aku merindu Tanah Gaza/ Aku sembunyikan rasa rindu ini setelah beranjak darinya/ Berharap Allah menyirami tanahnya, lalu aku raup debunya/ Akan aku pergunakan untuk bercelak dari kerinduan yang menyelimutiku

Ini bukan lirik lagu terbaru Michael Heart yang populer dengan senandung "We Will not Go Down" yang menunjukkan dukungan terhadap Palestina, khususnya di Jalur Gaza.

Syair di atas adalah suara hati seorang Imam Syafi’ie. Gaza, tempat kelahiran tokoh, ulama pengarang kitab ar-Risalah dan al-Umm tersebut, penuh dengan kenangan, dinamis, dan tetap bertahan tak pernah lekang oleh gerusan zaman. Lewat syair inilah Imam Syafi’i mengutarakan rasa rindunya akan Gaza, setelah ia berpindah ke Tanah Hijaz.

Kini, Gaza tengah mengalami genocide alias pembersihan etnis. Pasukan zionis laknatullah kembali menumpahkan darah di bumi Palestina. Di Gaza, jumlah korban meninggal telah mencapai 2.750 jiwa. Dari jumlah korban meninggal di Jalur Gaza saat ini, lebih dari 700 di antaranya merupakan anak-anak. Sementara korban jiwa di kalangan perempuan hampir mencapai 400 orang. (Republika, 16 Oktober 2023)

Kini kondisi kehidupan warga Palestina di Jalur Gaza juga sangat mengkhawatirkan. Hal itu karena zionis Yahudi memberlakukan blokade total terhadap wilayah tersebut. Pasokan barang-barang esensial, seperti makanan, obat-obatan, termasuk listrik dan air, disetop. Gaza bak "penjara terbuka paling besar di dunia". Ngeri!

*# Ada Apa dengan Jalur Gaza?*

Jalur Gaza adalah wilayah dengan panjang 41 kilometer dan lebar 10 kilometer yang terletak di antara Yahudi, Mesir, dan Laut Mediterania. Kawasan ini adalah rumah bagi sekitar 2,3 juta muslim Palestina dan kepadatan penduduknya salah satu yang tertinggi di dunia.

Namun, jauh sebelum huru-hara antara Yahudi dan Palestina, Jalur Gaza punya sejarah panjang lho. Kawasan ini beberapa kali dikepung dan diduduki oleh beragam pihak sejak 4.000 tahun lampau.

Gaza pernah diperintah, dihancurkan, dan dihuni kembali oleh berbagai dinasti, kekaisaran, dan masyarakat, mulai dari Mesir Kuno (ratusan tahun sebelum Masehi) hingga jatuh ke tangan Kekhilafahan Utsmaniyah pada abad ke-16.

Gaza adalah bagian dari Kesultanan Ottoman hingga 1917. Selanjutnya, kawasan itu dikuasai Inggris hingga bulan Mei tahun 1948. Setelah Pada 1947, keluar Resolusi PBB No. 181 terkait pembagian Palestina kepada zionis Yahudi dan Umat Islam sehingga membidani lahirnya entitas zionis Yahudi.

Intifadah (perlawanan) pertama yang dilakukan warga Palestina terhadap zionis Yahudi muncul di Gaza pada 1987, tahun yang sama ketika kelompok Islam Hamas didirikan. Sejak saat itu, Hamas telah bersumpah untuk menghancurkan zionis Yahudi dan ingin menggantinya dengan negara Islam.

Kini Gaza mengalami blokade dari darat, laut, udara oleh Mesir dan zionis Yahudi. Pasokan listrik, air, bahan makanan hingga obat-obatan dan bantuan kemanusiaan tidak diperbolehkan masuk ke Gaza. Betapa nestapanya kehidupan di Gaza.

Malam gelap tanpa penerang menghiasi hari-hari Gaza. Darah masih berceceran. Mayat bergelimpangan. Puing-puing bangunan berantakan. Tak ada tawa bahagia, tak ada yang yakin besok tetap bisa membuka mata.

Hidup hanya sebatas bisa bertahan, tak berani terlalu tinggi berharap. Kemerdekaan yang diperjuangkan tak kunjung didapatkan. Sampai kapan semua ini akan terjadi?

*# Duka Palestina Lara Kita Juga*

Terlalu naif kalo kita ngerasa duka saudara kita di Gaza Palestina, itu urusan mereka. Bukan urusan kita, warga Indonesia yang jauh letaknya beda benua. Nggak gitu konsepnya. Karena Rasulullah SAW mengingatkan kalo sesama muslim itu bersaudara, bagaikan satu tubuh. Meski beda wilayah, etnis, bahasa, budaya, rupa, status sosial, status pendidikan maupun status pernikahan, kita satu server. Tuhannya Allah SWT, Rasulnya Muhammad SAW, Kitab sucinya Alquran. Sama.

Karena itu, kalo ada saudara kita sesama muslim di belahan dunia lain dalam kondisi sakit, tertimpa bencana, atau mengalami penindasan, terasa pedihnya oleh muslim yang lain. Layaknya satu tubuh, kalo kaki kita yang tanpa alas nginjek pecahan kaca, mulut auto teriak mengaduh, tangan gerak cepat memegang bagian yang luka, dan antibodi dalam tubuh langsung membangun pertahanan dari serangan kuman. Seperti inilah gambaran hadits Rasulullah SAW tentang persaudaraan sesama muslim.

_“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya)."_ *(HR. Bukhari dan Muslim)*

Jadi, tak ada alasan bagi kita seorang muslim yang notabene tinggal di Indonesia, hanya diam, mengutuk atau mengecam kebiadaban zionis Yahudi yang membumihanguskan Palestina.

Meski dunia mengganggap masalah Gaza sekadar bencana kemanusiaan. Bagi kita, ini adalah masalah kemuliaan agama. Masalah penjajahan akan bangsa Islam. Masalah merebut rumah umat Islam. Masalah merendahkan kehormatan umat Islam. Bukan sekadar kemanusiaan.

Palestina adalah tanah umat Islam. Oleh karena itu, bangsa zionis Yahudi sebenarnya tak memiliki andil dalam tanah Palestina. Kedatangan mereka hanya sebagai tamu yang tak tahu diri.

Untuk itu, mengalahkan penjajah zionis Yahudi diperlukan kekuatan yang besar. Yang dimiliki oleh pemimpin yang besar. Seperti Muhammad Al Fatih, Salahuddin Al Ayyubi, atau Umar bin Khatab.

Lantas apa yang bisa kita lakukan saat ini? Berdakwah hingga tegaknya kekuatan besar untuk melindungi umat Islam di seluruh dunia. Bisa juga menggelar aksi solidaritas, mengirimkan bantuan kemanusiaan, mengutus militer untuk memperkuat barisan perlawanan terhadap zionis Isreal, atau bentuk kepedulian lain yang menunjukkan dukungan kita pada rakyat Palestina. Yang pasti, meski jauh di Gaza, tetapi dekat di hati. Allahu Akbar! []

_Buletin Teman Surga Edisi #234 (Rabiul Akhir 1445 / Oktober 2023)_

http://taplink.cc/temansurga