Jumat, 28 Februari 2025

LITERASI PENGGUNCANG DUNIA

"Islam tidak akan berjaya tanpa ilmu, dan ilmu tidak akan berkembang tanpa literasi." – Ibnu Rushd

Kebangkitan sebuah bangsa kalo mengandalkan kekuatan fisik, nggak akan awet. Giliran kekuatannya melemah dimakan usia, tak ada regenerasi, perlahan-lahan predikat bangsa terkuat hanya tinggal sejarah.

Sebaliknya, jika kebangkitan sebuah bangsa ditopang oleh peningkatan taraf berfikir, niscaya akan kokoh tanpa mengenal masa kadaluarsa. Dan taraf berfikir seseorang itu dipengaruhi oleh kemampuan mendasar dalam membaca dan menulis. Kemampuan ini yang erat kaitannya dengan dunia literasi.

Nggak heran kalo studi yang dilakukan oleh David McClelland, seorang psikolog sosial asal Amerika, menunjukkan bahwa literasi memengaruhi kemajuan suatu bangsa. Ia membandingkan perkembangan Inggris dan Spanyol pada abad ke-16 dan menemukan bahwa buku-buku di Inggris pada masa itu mengandung "virus" yang mendorong pembacanya untuk berprestasi.

Sementara buku-buku di Spanyol didominasi oleh cerita romantis yang membuat pembacanya kurang termotivasi untuk maju. Hal ini berkontribusi pada kemajuan Inggris dibandingkan Spanyol pada periode tersebut. Bagaimana dengan Islam?

*# Literasi Islam Mengguncang Dunia*

“Rata-rata tingkat kemampuan literasi (kemampuan melek huruf membaca dan menulis) Dunia Islam di abad pertengahan lebih tinggi daripada Byzantium dan Eropa. Karya tulis ditemukan di setiap tempat dalam peradaban ini.” (Jonathan Bloom & Sheila Blair, Islam - A Thousand Years of Faith and Power, Yale University Press, London, 2002, p-105).

Pernyataan penulis Barat di atas menguatkan pengakuan Jacques C. Reister, seorang sejarahwan Barat tentang ketinggian peradaban Islam, “Selama lima ratus tahun Islam menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan dan peradabannya yang tinggi.”

Pengakuan para ilmuwan Barat tentang ketinggian peradaban Islam terutama yang berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sangat dipengaruhi oleh kuatnya budaya literasi.

Budaya literasi dalam sejarah peradaban Islam telah melahirkan banyak Ilmuwan polymath (menguasai beberapa bidang ilmu) yang berjasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia. Sebut saja Al Farabi (872-950 M) seorang ahli Filsafat, Logika, Matematika,  Ilmu Alam, Teologi, Ilmu Politik dan Kenegaraan. Atau Al Batani (858-929 M) ahli Astronomi dan ahli Matematika. Ada juga Ibnu Tsina (980-1037 M) ahli Kedokteran,  Ibnu Batutah (1304-1369) seorang pengembara dan pengarang kisah fiksi, atau Ibnu Rusyd (1126-1198 M) ahli Filsafat, Kedoteran, dan Fiqih. Dan masih banyak lagi.

Kalo buku dianggap sebagai salah indikator kemajuan sebuah bangsa seperti studi yang dilakukan oleh David McClelland di atas, maka Islam juaranya. Karena peradaban Islam menjadi peradaban gilang-gemilang paling depan yang ditopang oleh buku. Ini bukan omon-omon lho. Bukti sejarah menunjukan para khalifah Islam pada masa lalu memahami benar hal ini.

Pada abad ke-10, misalnya, di Andalusia saja terdapat 20 perpustakaan umum. Yang terkenal di antaranya adalah Perpustakaan Umum Cordova, yang saat itu memiliki tidak kurang dari 400 ribu judul buku. Ini termasuk jumlah yang luar biasa untuk ukuran zaman itu.

Padahal empat abad setelahnya, dalam catatan Chatolique Encyclopedia, Perpustakaan Gereja Canterbury saja, yang terbilang paling lengkap pada abad ke-14, hanya miliki 1800 judul buku. Jumlah itu belum seberapa, apalagi jika dibandingkan dengan Perpustakaan Darul Hikmah di Kairo yang mengoleksi tidak kurang 2 juta judul buku. Perpustakaan Umum Tripoli di Syam—yang pernah dibakar oleh Pasukan Salib Eropa—bahkan mengoleksi lebih dari 3 juta judul buku, termasuk 50 ribu eksemplar al-Quran dan tafsirnya.

Dari perpustakaan-perpustakaan itulah dimulainya penerjemahan buku-buku, yang dilanjutkan dengan pengkajian dan pengembangan atas isi buku-buku tersebut. Dari sini pula sesungguhnya dimulainya kelahiran para ilmuwan dan cendekiawan Muslim yang kemudian melahirkan karya-karya yang amat mengagumkan, yang mereka sumbangkan demi kemajuan peradaban Islam saat itu. Bahkan kegemilangan budaya literasi dalam khazanah peradaban Islam digunakan sebagai referensi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Eropa.

Salah satu karya di bidang medis yang paling penting yang diterjemahkan adalah The Canon of Medicine (1025) karya Ibnu Sina. Buku ini tetap menjadi buku teks medis standar di Eropa hingga periode awal masa modern, selama abad ke-15 dan ke-16.

Tanpa kehadiran para ilmuwan dan cendekiawan Muslim yang telah mewariskan peradaban yang sangat agung, kemajuan peradaban Barat saat ini tidak mungkin terjadi. Secara jujur, hal ini diakui oleh salah seorang cendekiawan Barat sendiri, yakni Emmanuel Deutscheu yang asal Jerman itu. Ia mengatakan, “Semua ini (yakni kemajuan peradaban Islam) telah memberikan kesempatan baik bagi kami untuk mencapai kebangkitan (renaissance) dalam ilmu pengetahuan modern.”

*# Literasi, Harga Mati!*

Bukan tanpa sebab kalo literasi dunia Islam mampu mengguncang dunia. Lantaran mencari ilmu diwajibkan sejak seorang manusia lahir hingga meninggal dunia, dan umat Islam diwajibkan mencari ilmu walau harus pergi ke negeri China. Dengan ilmu yang dimilikinya, mereka diharapkan dapat menjadi pelita bagi yang lain, dan dapat beramal shaleh. Kebaikannya akan terus mengalir baik di dunia maupun di akhirat. Menjadi sebaik-baiknya manusia yang paling bermanfaat bagi yang lain.

Selain kewajiban mencari ilmu, Islam juga adalah agama yang memerintahkan untuk memuliakan orang yang berilmu. Rasulullah SAW bersabda : “Jadilah engkau orang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang yang menyukai ilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka” (HR. Baihaqi).

Rasulullah SAW memerintahkan umatnya menjadi ‘Alim (orang berilmu, guru, pengajar). Jika belum sanggup, jadilah Muta’allim (orang yang menuntut ilmu, murid, pelajar, santri) atau menjadi pendengar yang baik (Mustami’an), paling tidak. menjadi Muhibban atau pecinta ilmu, simpatisan pengajian, donatur lembaga dakwah dan pendidikan dengan harta, tenaga, atau pikiran, atau mendukung majelis-majelis ilmu.

Dan Rasulullah  SAW menegaskan, jangan jadi orang kelima (Khomisan), yaitu tidak jadi guru, murid, pendengar, juga tidak menjadi pendukung. Celakalah golongan kelima ini.

Hmm…. Segitunya Islam memuliakan ilmu dan orang yang berilmu. Nggak heran kalo literasi Islam mampu mengguncang dunia. Kini giliran kita, selaku umatnya untuk kembali menyalakan literasi Islam. Baca buku dan tulisan bermanfaat guna menambah wawasan. Sehingga nggak mati kutu ketika mau menuangkan isi pikiran dalam bentuk tulisan.

Memang perlu waktu tak sebentar untuk menghidupkan kembali literasi Islam. Namun langkah pertama kita menjadi bagian dari pembaca dan penulis, meski newbie, akan berdampak positif pada perkembangan literasi Islam di masa depan. Jadi, yuk kita mulai dengan getol membaca dan rajin menulis. Literasi harga mati. Gaskeun! []

_Buletin Teman Surga Edisi #268 (Syaban 1446 / Februari 2025)_

https://buletintemansurga.com/buletin-teman-surga-268-literasi-pengguncang-dunia/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar