Kamis, 14 Maret 2024

BUNYIKAN MIMPI BESARMU

_"Banyak orang yang telah meninggal, tapi nama baik mereka tetap kekal. Dan banyak orang yang masih hidup, tapi seakan mereka orang mati yang tak berguna."_ *(Imam Syafii)*

Quote dari salah satu Imam Mazhab di atas mengingatkan kita tentang jejak hidup. Hari gini, jejak digital kita masih tersimpan rapi dalam server sosial media dan hanya orang-orang dekat saja yang mengingatnya. Sementara jejak hidup, selamanya lestari di kalangan penduduk dunia meski kita sudah tiada. Itulah yang terjadi pada tokoh-tokoh perubahan. 

Sebut saja Soichiro Honda. Anak dari tukang bengkel ini bukan siswa berprestasi. Malah cenderung malas sekolah. Tapi ketertarikannya pada dunia mesin, gacor. Dia memiliki mimpi besar dalam dunia otomotif. Meski gak sekolah, masa remajanya dihabiskan mendalami mesin mobil. Nggak ada mager dalam kamus hidupnya. 

Hingga akhirnya Soichiro berhasil menciptakan sebuah ring piston mesin yang ditempelkan pada sepeda dan menjadi cikal bakal sepeda motor. Lahirlah motor pertama yang dinamakan Dream D dan slogan perusahaanya, "The Power of Dream".

Perjalanan Soichiro menciptakan jejak hidupnya, bukan tanpa kegagalan. Cuman orang-orang hanya melihat kesuksesannya aja. Seperti yang dia katakan, Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya . Pesan Honda: _"Ketika Anda mengalami kegagalan, mulailah bermimpi, mimpikanlah mimpi baru dan berusahalah untuk merubah mimpi itu menjadi kenyataan."_

*# Pelajar Wajib Bermimpi Besar*

Sedari kecil, kita sering ditanya tentang cita-cita. Dan jawabannya, asbun alias asal bunyi. Namanya juga anak-anak, meski sudah mengenal beberapa profesi, cita-citanya gak jauh dari kata yang sering dia dengar. Dari guru, dokter, sampai youtuber. 

Setelah mengenyam pendidikan dasar, menengah pertama hingga menengah atas, pertanyaan tentang cita-cita pada kita tak ada habisnya. Bukan apa-apa, pertanyaan model gini sebagai pancingan agar para pelajar punya bayangan lebih jelas, kelak mau jadi seperti apa setelah besar nanti. Gitu. 

Kalo hari gini pelajar gak punya cita-cita alias mimpi besar, sayang banget. Atau malah mengabaikan pentingnya punya mimpi besar. Rugi lho. Lantaran punya mimpi besar itu, bukan cuman penting, tapi puenting buanget! 

Mimpi besar itu adalah sebuah energi yang bisa menggerakan seseorang untuk meraih cita-cita dengan segala keterbatasannya. Seperti dialami Soichiro Honda. Meski masa kecilnya di desa terpencil, sempat bangkrut dan hidup terlunta-lunta, mimpi besar memaksa dirinya untuk terus bangkit berkali-kali hingga menjadi legenda dunia otomotif. 

Jadi bisa dibayangin kalo pelajar nggak punya mimpi besar alias big dream? Kesehariannya dijamin garing bin kering kerontang. Nggak ada semangat untuk menjadikan dirinya lebih hebat. Hidupnya nggak terarah atau malah nggak punya tujuan mau dibawa ke mana endingnya. Tinggal tunggu mati aja. Kebayang masa depan negeri ini kalo para pelajarnya gabut. 

Padahal tanpa mimpi, kita bagaikan mayat hidup. Jasadnya ada tapi tanda-tanda kehidupannya tak ada sinyal. Yup, nggak punya mimpi membuat hidup kita tidak bergaira alias loyo semangat. Hanya mereka yang punya mimpi besar hidupnya punya nilai tambah dan bergairah. Seperti kamu. 

Syahid Hasan Al Banna pernah menyatakan _“Kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin dan kenyataan esok hari adalah mimpi hari ini artinya apa yang kita dapatkan sangat ditentukan dengan mimpi-mimpi kita. Karena mimpi-mimpi kitalah yang akan menggerakkan langkah kaki untuk menempuh jalan hidup yang mendekatkan kita pada raihan mimpi. Mimpi kitalah yang menjadi amunisi untuk membakar semangat kita menjalani kehidupan. Karena ada target yang ingin dicapai."_

*# Ciptakan Mimpi Besarmu*

Sebagai pelajar muslim, tentu mimpi besar kita bukan hanya untuk mengejar materi atau popularitas seperti kebanyakan orang. Tapi sebuah mimpi besar yang tembus sampe akhirat dan bermanfaat bagi orang banyak. Karena mimpi seorang muslim itu harapan sekaligus doa. Dan ini yang menjadikan mimpi besar kita mulia sehingga penting dan harus terwujud.

Muhammad al-Fatih, mempunyai mimpi besar menaklukkan Konstantinopel. Al-Fatih yang hidup ratusan tahun setelah masa Rasulullah, tapi mimpi besarnya terinspirasi dari hadits Rasulullah Saw tentang penaklukan dua kota, Roma dan Konstantinopel. 

Guru beliau Aa Syamsudin pun selalu mendengungkan tentang hadits itu ke telinga al-Fatih, bahwa dirinyalah sang penakluk itu. Maka al-Fatih pun memantaskan diri menjadi sang penakluk, mulai dari belajar mengatur strategi, melatih pasukan unggulan, serta juga membina nafsiyah/kejiwaan beliau dan pasukannya. Hasilnya, pada tahun 1453 M, kota Konstantinopel yang saat itu jadi simbol peradaban Romawi Timur, takluk di bawah tangan seorang pemuda berumur 24 tahun!

Inspirasi pencapaian mimpi besar juga kita bisa ambil dari kisah Syaikh Abdurahman As-Sudais imam Masjidil Haram. Ternyata Ibu Syaikh Abdurrahman As-Sudais selalu menanamkan dan mengarahkan mimpi besarnya itu kepada anaknya. Ibunya sering mengingatkan, Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, kamu adalah Imam Masjidil Haram Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah, kamu adalah imam Masjidil haram Wahai Abdurrahman, jangan malas menghafal kembali hafalan harianmu, bagaimana kamu bisa menjadi Imam Masjidil Haram bila kamu malas?” Akhirnya, Syaikh Abdurrahman As-Sudais kini menjadi imam Masjidil Haram. Dan menjadi salah satu ulama besar yang disegani di dunia Islam.

Teman surga, semoga kisah inspiratif di atas bisa merangsang kita untuk menciptakan mimpi besar. Nggak usah takut punya mimpi besar, toh tanpa biaya alias gratis. Ciptakan mimpi besarmu dan jadikan target pencapaian dalam kehidupan sebagai jejak hidup. Bayangkan jika mimpi besar itu tercapai, berapa banyak orang yang akan mendapat manfaatnya. Banjir pahala bro!

*# Bunyikan Mimpi Besarmu!*

Jika sudah kenali mimpi besarnya, jangan lupa pantaskan diri untuk meraihnya. Yup, mimpi akan mampu kita wujudkan kalo kita memang pantas untuk menerimanya. Ikuti deh kisah orang-orang hebat yang berhasil wujudkan mimpi besarnya. Semua nggak ada yang berdiam diri nunggu keajaiban datang lalu sim salabim mimpinya terwujud. 

Soichiro Honda kuliah lagi meski usianya sudah tua demi mendalami ilmu mesin mobil. Mushab terus mengasah kemampuan diplomasinya dalam dakwah. Muhammad al-Fatih sedari kecil belajar semua hukum Islam. Terutama yang berkaitan dengan militer, strategi perang, alat bersenjata, hingga hukum Islam seputar peperangan. 

Al-Fatih muda juga belajar menguasai bahasa selain bahasa Arab. Ditambah polesan nafsiyahnya sehingga getol bertahajud, ibadah sunnah dan menjauhi perilaku maksiat. Lalu ditularkan kebiasaan positifnya itu pada pasukannya. Allah pun meridhoi mimpi besarnya, memudahkan jalannya, menunjukkan jalan keluar baginya, dan Konstantinopel pun takluk di tangannya. Itulah sebuah kepantasan diri. 

Dan yang tak kalah pentingnya, bunyikan mimpi besarmu. Tuliskan dengan rinci mimpi besarmu. Menurut riset dr. Gail Matthews dari Dominican University California menunjukkan bahwa orang yang menuliskan rencana masa depannya dengan detil memiliki kemungkinan 42% lebih besar untuk mewujudkan mimpinya. 

Menuangkan mimpi dalam tulisan membuat otak kita dipaksa untuk menjabarkan strategi, membulatkan tekad, dan termotivasi lebih giat berusaha saat berulang kali melihat tulisan tersebut. 

Lalu sampaikan mimpi besarmu ke orang-orang terdekat. Agar mimpi besarmu berbunyi dan terdengar oleh penduduk bumi. Bisa jadi Allah swt menjadikan mereka pembuka jalan pencapaian mimpi-mimpi besar kita. Apalagi mimpinya rinci dan tergambar jelas, tentu mereka lebih mudah membantu kita.

So, saatnya menciptakan mimpi besarmu dan memantaskan diri untuk meraihnya. Jangan biarkan hidup kita tak bermakna. Tinggalkan jejak hidup penuh manfaat di muka bumi sebelum kita meninggal nanti. Bunyikan mimpi besarmu dan wujudkan untuk mengembalikan kejayaan Islam dan kaum Muslimin. Ganbatte ne! []

MY SCHOOL MY ADVENTURE

Minggu ini, sebagian besar siswa kembali menginjakkan kakinya di planet sekolah. Setelah sekian purnama kebanyakan mereka berselancar di dunia maya dan menghilang dari dunia nyata. Teman dekatnya, cuman gadget. Dan aktifitasnya mabar everyday.

Tak terasa, kini harus balik ke rutinitas harian sebelum libur panjang. Bangun pagi, shalat shubuh, mandi, siapkan buku pelajaran, sarapan, langsung cus berangkat sekolah.

Bedanya, ini tahun ajaran baru. Itu artinya, semua pelajar yang mengenyam pendidikan formal ketemu dengan suasana yang lain dari biasanya. Lantaran, ada yang naik kelas, pindah sekolah, atau naik tingkat ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Terutama teman-teman kelas 7 dan 10. Kamu?

*# Suasana Baru, Rasa Baru*

Senang, sedih, was-was, harap-harap cemas, semua rasa campur jadi satu. Gimana nggak, rasa senang karena bisa naik kelas atau pindah ke sekolah baru. Sedih ketika harus berpisah dengan teman-teman sekelas yang udah setahun seru-seruan bareng. Was-was kalo kepikiran harus mulai menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Dan harap-harap cemas saat pertama ketemu teman-teman dan guru-guru baru. Asyik gak ya?

Suasana baru pastinya menjanjikan sesuatu yang berbeda. Sekolah baru tempat belajar bagi yang naik ke SMP atau SMA. Makanya di awal masuk ada agenda MPLS alias Masa Perkenalan Lingkungan Sekolah. Ini penting banget diikutin oleh siswa baru, biar nggak nyasar nyari toilet kalo lagi kebelet.

MPLS bagi siswa baru itu ibarat tour guide yang membantu menunjukkan apa aja ‘isi’ sekolah. Mulai dari bangunan sekolah yang meliputi ruang kelas, toilet, perpustakaan, kantin, ruang guru, mesjid/musholla, ruang osis, laboratorium, lapangan upacara, lapangan basket, lapangan voli, tempat parkir, pos satpam, dan sebagainya. Setiap sekolah pastinya beda-beda ya. Tapi setidaknya, nggak jauh dari daftar bangunan di atas lha ya.

Selanjutnya, siswa baru juga dikenalkan pada guru-guru dan staff. Mulai dari wali kelas, guru olahraga, guru agama, guru praktik, kepala sekolah, petugas kebersihan, penjaga keamanan, hingga pegawai tata usaha. Enak banget kalo kita bisa dekat dengan mereka semua. Minimal kenal nama dan tak sungkan say hello. Biar kalo ada masalah di sekolah, mereka bisa gerak cepat beri bantuan layaknya keluarga.

Bagi siswa baru, yang satu ini juga nggak kalah pentingnya. Perkenalan ekstra kurikuler. Seperti olahraga yang biasanya meliputi futsal, basket, voli, bela diri, atau berenang. Ada juga yang berkaitan dengan keterampilan seperti Pramuka, PMR, Polisi Keamanan Sekolah, Komputer, atau Karya Ilmiah Remaja. Nggak ketinggalan, ekskul rohis alias kerohanian Islam di sekolah yang mayoritas pelajarnya muslim. Silakan deh pilih salah satu yang kamu suka atau favoritkan biar tambah banyak teman dan banyak kegiatan. Seru!

*# Nikmati Tantanganmu*

Suasana baru tak selalu ngasih sesuatu yang seru. Terkadang, ada juga pengalaman yang bikin nyali kita ciut atau dilanda ketakutan yang tak beralasan. Itu normal sih. Bagian dari hadiah yang Allah swt kasih agar kita bisa bersikap lebih dewasa. Orang tua bilang, pelajaran kehidupan yang tak diajarkan di sekolah.

Uniknya, pelajaran kehidupan ini justru kita temui di lingkungan sekolah. Rumah kedua yang akan selalu mengisi hari-hari kita. Apa aja?

Pertama, teman-teman baru. Naik kelas pastinya bakal nempatin kelas baru untuk belajar. Apalagi siswa baru, udah pasti bukan cuman kelasnya tapi sekolahnya juga baru. Dan hal pertama yang bakal kita temui adalah teman-teman baru. Baik teman sekelas atau teman satu sekolah.

Emang sih, kalopun naik kelas paling ketemu sama mereka yang wajahnya sering kita lihat. Meski gak dekat, tapi satu sekolah dan awalnya beda kelas. Sekarang satu kelas, pasti bakal keliatan deh gimana hari-harinya di kelas, saat ngikutin pelajaran, atau pertemanan.

Teman baru, baik baru ketemu atau baru satu kelas, idealnya seperti yang kita harapkan. Baik, penolong, ramah, cakep, dan segudang sikap positif bak berteman dengan malaikat. Namun kenyataannya, kita mesti siap dengan mereka yang menurut kita ternyata toxic friend alias teman beracun. Jahil, suka nyinyir, tengil, bully, atau doyan nyerempet maksiat. Waduh!

Siapapun teman baru yang kita temui, jangan dibaperin. Anggap aja itu kado dari Allah swt agar kita bisa lebih dewasa dalam berteman. Kita bisa memilih dengan siapa kita mau berteman. Tapi kita harus bersikap baik pada setiap teman meski responnya tak sesuai yang kita harapkan. Woles aja. Gak ada ruginya berbuat baik.

Kedua, pelajaran baru. Naik tingkat pendidikan otomatis ketemu dengan pelajaran yang boleh dibilang lebih sulit dari sebelumnya. Normal aja kan sama seperti kita main game. Tamat level satu, level berikutnya pasti bakal ada tantangan yang lebih berat. So, hadapi aja.

Karena saat kita naik tingkat, itu artinya kita sudah pantas dan siap menghadapi pelajaran yang lebih berat. Tak ada yang sulit selama kita mau tekun belajar. Kerena setiap pelajaran yang kita anggap sulit, pada hakikatnya kita belum tahu ilmunya aja. Kalo udah diajarin oleh guru, ditambah baca buku, terus diulang selalu, yakin deh jawabannya akan ketemu.

So, keep learn, grow and fun. Tetaplah belajar agar kita dapat bertumbuh dengan perasaan bahagia. Yuk!

Ketiga, lingkungan sekolah baru. Untuk siswa baru, ini paling kerasa. Tempat belajar yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Mungkin mulai dari rute dari sekolah ke rumah, angkutan umum, bangunan, gerbang, kelengkapan sarana dan prasaran, semuanya serba baru. Perlu penyesuaian.

Mungkin satu bulan cukup untuk menjadikan semua yang baru itu menjadi biasa dengan rutintias harian. Tapi kesan pertama yang dirasakan, biasanya agak bandel untuk bisa move on. Terutama kalo kesan pertamanya nggak nyaman. Seterusnya sering ada alasan untuk merasa gak nyaman. Dari berangkat sekolah hingga pulang ke rumah ibarat bawa kursi di atas kepala, repot dan pastinya bikin risih. Seperti itulah kalo perasaan kita memelihara ketidaknyamanan. Gak asyik banget.

So, di manapun kita sekolah, gimanapun kondisi tempat belajar kita, syukuri apa adanya. Percaya deh, itu hanya bisikan setan yang melemahkan semangat kita menuntut ilmu, menjemput berkah. Berbahagialah kita masih bisa mengenyam pendidikan formal sementara banyak teman-teman kita di luar sana yang putus sekolah.

*# Siapkan Bekalmu*

Namanya petualangan, di manapun tentu kita mesti punya bekal untuk menghadapi banyak hal dalam perjalanannya. Tak terkecuali di tempat baru kita mengenyam pendidikan. Kita mesti punya pegangan biar nggak ‘tersesat’ di tempat baru. Pastinya bukan nyasar ke toilet saat kita mau ke mesjid ya. Tapi tersesat kebawa salah pergaulan atau melalaikan kewajiban menuntut ilmu.

Untuk itu, bekal yang mesti kita punya gak neko-neko. Cuman prinsip hidup yang mesti kita pegang dalam setiap kondisi. Prinsip hidup yang akan menyelamatkan kita dari kerusakan diri saat ini dan masa depan. Prinsip hidup yang akan menjadi penunjuk jalan ketika kita buntu menghadapi masalah di sekolah. Prinsip hidup yang menjadi benteng pertahanan di kala ancaman budaya sesat mengincar kita. Prinsip itu, aturan islam.

Allah swt mengingatkan, _“Dan Kami turunkan kepadamu Alkitab (Alquran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri.”_ *[QS. An Nahl: 89].*

Makanya kita mesti mengenal Islam lebih dalam. Ikut pengajian baik di sekolah maupun di luar sekolah. Baca buku Islam baik yang berhubungan dengan pelajaran agama di sekolah atau sebagai tambahan wawasan keislaman. Yang penting, keimanan kita terus bertambah yang menjadi bekal perjalanan kita. My school, my adventure. Siapa takut! []

TEMPAT NGUMPUL SAHABAT RASUL

Selama 13 tahun pertama Rasulullah saw berdakwah di Mekkah menjadi masa yang paling berat dalam perjalanan dakwah Beliau. Gimana nggak, ketika pertama kali Rasulullah saw menyampaikan ajaran Islam, harus berhadapan dengan tradisi masyarakat jahiliyah yang menganut ajaran paganisme alias penyembahan terhadap berhala.

Tahu sendiri kan, ajaran paganisme itu bertolak belakang banget dengan ajaran Islam yang mengajak manusia untuk menyembah Allah swt. Bukan menyembah patung, api, atau batu besar. Makanya dakwah Rasul di Mekkah jalannya penuh liku. Banyak tantangan dan hambatan. Dari sekedar hinaan, celaan, cacian, hingga ancaman fisik yang bisa menghilangkan nyawa. Ngeri!

Sehingga pada tiga tahun awal masa dakwah Rasulullah di Mekkah, beliau menyampaikan ajaran Islam dengan cara sembunyi-sembunyi. Nabi Muhammad SAW melakukan dakwah untuk beberapa orang terdekatnya yang bisa merahasiakan pesan yang dibawanya. Untuk itu, diperlukan tempat rahasia yang menjadi madrasah pertama para sahabat. Di sinilah peran penting keberadaan Darul Arqam.

*# Arqam dan Rumah Mulianya*

Al-Arqam bin Abi al-Arqam adalah seorang pengusaha dari kalangan pemuda yang berpengaruh dari suku Makhzum dari kota Mekkah. Dalam sejarah Islam, dia orang ketujuh dari As-Sabiqun al-Awwalun (orang-orang yang pertama masuk Islam).

Beliau adalah sahabat yang memeluk Islam pada hari-hari pertama didakwahkannya Islam, bersamaan dengan Abu Ubaidah bin Jarrah, Bilal bin Rabah, Abu Salamah dan yang lainnya. Mereka disebut As-Sabiqunal Awwalun, mereka telah dijamin memperoleh keridhoan Allah, sebagaimana disebutkan dalam surat At Taubah ayat 100 yang maknanya memperoleh jaminan masuk surga.

Rasulullah saw memutuskan memilih tempat tinggalnya sebagai tempat berkumpul beliau dan para sahabat dalam menyebarkan Islam. Hal itu disebabkan tiga alasan:

# Pertama, Ketika Arqam masuk Islam tidak ada kaum musyrikin yang tahu.

# Kedua, Arqam berasal dari suku Makhzum yang merupakan musuh keluarga besar Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (suku Hasyim) pada masa jahiliyah. Sehingga kaum kafir tidak mencurigainya.

# Ketiga, Arqam masuk Islam dalam usia masih sangat muda, sekitar 16 tahun, sehingga kaum Quraisy tidak curiga jika nabi berkumpul di rumah anak muda.

Terlebih lagi Arqam bukan pemuda yang populer. Ordinary people aja. Sehingga orang-orang kota Mekkah pun tidak begitu peduli apa yang terjadi di dalam rumahnya. Udah gitu, rumahnya juga berada di pinggiran kota Mekkah, di Bukit Safa. Terpencil. Tak jadi pusat perhatian bak bubuk rengginang di dasar kaleng biskuit. Gak penting.

Tapi bagi Rasulullah saw, menggunakan kediaman Arqam bin abil Arqam tentunya akan sangat menguntungkan dalam menyebarkan dakwah awal secara sembunyi-sembunyi. Aktifitas pengajian yang dilakukan di rumahnya tak mudah dicurigai oleh masyarakat Mekkah saat itu, karena orang-orang tentunya tidak menyangka adanya keterkaitan Rasulullah dengan sahabat yang satu ini.

Meski Arqam bin Abil Arqam merupakan salah satu penopang dalam proses pergerakan, namun ia tidak memerlukan sebuah ketenaran. Perannya penting, namun tidak mengharapkan pujian. Seorang penyokong utama sebuah keberhasilan dakwah, namun riwayat hidupnya tidak tersampaikan oleh sejarah. Sungguh sebuah kerja besar yang ikhlas. Keren!

*# Tempat Ngumpul Penuh Faedah*

Dari kisah Darul Arqam yang dijadikan tempat ngumpul sahabat Rasul kita bisa ambil hikmahnya. Ternyata rumah Arqam bukan cuman istimewa karena jadi madrasah pertama bagi para sahabat rasul, tapi juga tempat berfaedah yang sudah Allah swt kasih garansi kemuliaannya.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, _"Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang.” Para sahabat bertanya, :Apakah taman-taman surga itu?" Beliau menjawab, "Halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) dzikir."_ *[HR Tirmidzi, no. 3510, Ash Shahihah, no. 2562]*

Pastinya Darul Arqam bukan tempat untuk nongki-nongki gak jelas dong. Tapi tempat berzikir, mengingat Allah swt, dan berdakwah. Inilah hakikat taman-taman surga seperti digambarkan pada hadits di atas.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, _"Sesungguhnya dzikir di antara amal memiliki kelezatan yang tidak bisa diserupai oleh sesuatupun, seandaikan tidak ada balasan pahala bagi hamba kecuali kelezatan dan kenikmatan hati yang dirasakan oleh orang yang berdzikir, maka hal itu [kenikmatan berdzikit saja, pent] sudah mencukupi, oleh karena itu majelis-majelis dzikir dinamakan taman-taman surga."_ *[Al-Wabilush Shayyib hal. 81, Darul Hadist, Koiro, Asy-Syamilah]*

Dan kalo kita ketemu dengan taman-taman surga, majelis zikir, atau majelis ilmu, jangan pura-pura gak tahu. Ingat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, _"Dan tidaklah sekelompok orang berkumpul di dalam satu rumah di antara rumah-rumah Allah; mereka membaca Kitab Allah dan saling belajar di antara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan (para malaikat) di hadapanNya."_ *[HR Muslim, no. 2699]*

Beruntung banget kalo kita bisa menjadi bagian dari para penghuni taman-taman surga itu. Hati tenang, didoakan malaikat, sealu tercurahkan kebaikan dalam kehidupan kita. Bukan itu saja, kita juga akan bertemu dengan orang-orang soleh yang bisa jadi circle pertemanan dunia akhirat. Mereka akan mengingatkan kita ketika khilaf dan menguatkan kita ketika rapuh.

Sebagaimana Ibnul Qayyim mengisahkan tentang guru beliau Ibnu Taimiyyah, beliau berkata: _"Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan kesempitan hidup, kami segera mendatangi beliau untuk meminta nasehat, maka dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang"_ *[Al-wabilush shayyib hal 48, Darul Hadits, Syamilah]*

So teman surga, kalo pengen hidup kita penuh warna dan berpahala, jadilah penghuni taman-taman surga. Kalo kita pertama kali menginjakkan kaki di sekolah baru, cari mesjid, musholla, atau gabung dengan komunitas pengajian sekolah. Karena di sanalah kita akan menemukan jalan menuju taman-taman surga. Kalo ada yang ngajakin ngaji, jangan alergi. Sambut dengan tangan terbuka dan wajah ceria. Taman-taman surga, here we come! []

BERIKAN YANG TERBAIK BESTIE!

Hukum alam bilang, apa yang kita dapatkan sesuai dengan apa yang kita berikan. Bahasa bulenya, what you get is what you give. Kita ngukurnya dalam perkara yang kita kuasai sebagai manusia ya.

Misal ketika seorang pelajar ngotot belajar menjelang ujian. Setiap waktu luangnya dia pakai untuk mengulang pelajaran. Rajin berlatih soal atau belajar mandiri secara online. Insya Allah dia lebih berpeluang untuk menyelesaikan soal-soal ujian dengan hasil memuaskan.

Sebaliknya, kalo ada pelajar lain yang malas-malasan belajar menjelang ujian. Waktu luangnya lebih banyak dipake mabar atau scrolling gaje linimasa sosial media. Bisa jadi dia bakal keteteran menjawab soal-soal ujian. Jurus andalannya hanya ngitung kancing. Atau nyari contekan. Hasilnya, zonk!

*# Remaja Muslim Premium*

Sebagai seorang muslim, kita diperintahkan mengisi hari-hari kita dengan ibadah. Sebagaimana Allah swt firmankan: _“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”_ *(TQS. Az-Zariyat; 56)*

Ngomongin paerkara ibadah, pastinya kita sudah hafal di luar kepala. Minimal kalo ditanya rukun Islam mah auto bener urutan jawabannya. Dari mulai syahadat hingga menunaikan ibadah haji. Dan biasanya, lima aktifitas ini yang sering dijadikan standar ibadah prioritas.

Padahal, kalo kita ulik lagi aktifitas ibadah yang mencerminkan hubungan manusia dengan Allah swt, gak cuman rukun Islam aja. Ada juga ibadah sunah yang jadi keutamaan dilakukan setelah ibadah wajib kelar dikerjain. Atau pilihan terbaik daripada nongkrong, mabar, atau sekedar mager.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, _“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat”_ *(HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)*

Ibnu Rajab berkata, _“Jika seseorang meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat, kemudian menyibukkan diri dengan hal yang bermanfaat, maka tanda baik Islamnya telah sempurna”_ *(Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 295)*

Inilah hakikat remaja muslim premium. Sehari-hari membiasakan diri untuk mengutamakan nilai yang lebih mulia. Prinsipnya, untuk ibadah yang sunah kalo gak dikerjain bukan dipahami gak apa-apa. Tapi rugi pake banget. Lantaran kehilangan kesempatan untuk menambah tabungan pahala.

Dan balasan bagi remaja muslim premium itu gak main-main lho. Dalam hadits qudsi dari Abu Umamah riwayat ath-Thabrani di dalam al-Kabir, Rasulullah saw bersabda

_“...Hamba-Ku yang terus-menerus mendekatkan dirinya kepadaKu dengan melaksanakan ibadah sunah, maka pasti Aku akan mencintainya. Maka (jika Aku telah mencintainya) Aku akan menjadi hatinya yang ia berpikir dengannya; Aku akan menjadi lisannya yang ia berbicara dengannya; dan Aku akan menjadi matanya yang ia melihat dengannya. Jika ia berdoa kepada-Ku, maka pasti Aku akan mengabulkannya. Jika ia meminta kepadaKu, maka pasti Aku akan memberinya. Jika ia meminta pertolongan kepada-Ku, maka pasti Aku akan menolongnya. Ibadah hambaKu yang paling Aku cintai adalah memberikan nasihat.”_

*# Berikan Yang Terbaik Darimu*

Remaja muslim premium nyadar kalo hidupnya gak cuman di dunia. Tapi bakal dihidupkan lagi di alam akhirat untuk mempertangungjawabkan perilakunya selama hayat masih di kandung badan.

Terlebih lagi Rasulullah SAW menjelaskan tentang perkara-perkara yang akan ditanyakan pada hari kiamat, beliau bersabda: _“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya”_ *(HR. Tirmidzi).*

Untuk itu, dia akan selalu memberikan yang terbaik dari empat hal di atas.

*# Tentang usianya,* dia bercermin pada Sahabat Mushab bin Umair yang memaksimalkan usianya untuk belajar dan berdakwah. Sebelum kenal Islam, beliau terbiasa ikut bersama ayahnya dalam pertemuan para tokoh masyarakat Quraisy di Darun Nadwah. Dia menyimak bagaimana para tokoh itu berdiskusi dan berdebat. Sehingga beliau punya kemampuan yang mumpuni dalam berdiplomasi.

Setelah kenal Islam, Mush’ab diutus ke Yatsrib (Madinah) untuk mempersiapkan tempat hijrah Rasul. Meski masih belia, beliau tak gentar menghadapi pimpinan suku Auz dan Khajraz. Dan hasilnya, penduduk dua suku terkenal di Madinah itu berbondong-bondong masuk Islam setelah para pemimpinnya bersyahadat di hadapan Mush’ab.

*# Tentang Ilmunya,* dia meneladani sahabat Zaid bin Tsabit yang ilmunya dalam bidang literasi digunakan untuk menjadi sekretaris Rasulullah. Suatu saat, seorang anak yang usianya belum genap 13 tahun berjalan mendekati barisan pasukan muslim. Dia membawa sebilah pedang yang panjangya melebihi tinggi badannya. Dia mendatangi Rasulullah saw dan minta izin agar ikut berjihad.

Namun Rasulullah saw menolak karena usia Zaid masih belia. Meski begitu, Rasul memerintahkan Zaid untk belajar bahasa dan tulisan Yahudi. Karena kecerdasan, keterampilan, dan ketekunannya, Zaid berhasil menguasai bahasa Ibrani dan Syriac. Tak hanya itu, kepiawaian Zaid juga membantu Rasulullah saw dalam menghafal dan menuliskan wahyu segera setelah ayat-ayat tersebut diturunkan.

*# Tentang Hartanya,* dia meniru sahabat Thalhah bin Ubaidillah. Seorang pemuda Quraisy yang memilih untuk bergelut di dunia perdagangan sebagai profesinya. Walau masih sangat muda, dia memiliki kelebihan dalam mengatur strategi berdagang yang cerdik dan pintar sehingga dapat mengalahkan pedagang yang lebih tua.

Suat saat, Thalhah menerima keuntungan dari Hadramaut, sebuah lembah di Yaman, senilai 700 ribu dirham (setara dengan Rp 35 miliar sekarang). Kemudian istrinya, Su’da binti Auf, menyarankan untuk membagikan harta tersebut pada fakir miskin. Ia pun membagikan hartanya hingga tak bersisa sedikit pun. Untuk itu, Rasulullah saw menjulukinya Thalhah Al-Jaud (Thalhah yang pemurah) serta Thalhah Al-Fayyadh atau Thalhah yang dermawan.

*# Tentang Tubuhnya,* dia menjadikan sahabat Usamah bin Zaid sebagai role model. Usamah merupakan panglima Islam termuda sekaligus panglima terakhir yang ditunjuk langsung oleh Rasulullah. Ia mulai memimpin perang pada usia 18 tahun.

Bersama pasukannya, Usamah bergerak cepat meninggalkan Madinah menuju perbatasan Syam. Setelah melewati beberapa daerah yang masih tetap memeluk Islam, akhirnya mereka sampai di Wadilqura. Dengan strategi perang yang matang, pasukan Usamah mampu mengalahkan musuh dari pasukan Romawi secara cepat. Setelah 40 hari kemudian, mereka kembali ke Madinah membawa sejumlah harta rampasan perang serta tanpa jatuh korban satu pun.

Teman surga, berikan yang terbaik dari diri kita untuk Islam dan mengejar ridho Allah swt sesuai dengan kemampuan. Waktu kita maksimalkan untuk mengenal Islam lebih dalam. Baca buku Islam atau ikut kajian pekanan. Ilmu yang kita kuasai, apapun bidangnya, maksimalkan untuk berkontribusi dalam kebangkitan Islam dan kaum Muslimin. Harta yang kita punya, meski masih dapat subsidi dari orang tua, sisihkan untuk bersedekah dan membantu orang yang membutuhkan. Serta tubuh kita, maksimalkan untuk berolahraga dan menjaga stamina agar aktifitas dakwahnya nggak kendor.

Mari jadikan diri kita bagian dari barisan remaja muslim premium. Selalu memberikan yang terbaik dalam keaatan serta getol ikut pengajian. You are the best! []

SCREEN TIME VS QUALITY TIME

Wabah pandemi covid-19 sudah lama berakhir. Namun jejak digitalnya, masih merajalela. Bukan, pemberitaan warga yang terpapar virus, tapi perilaku digital imbas dibatasinya aktifitas luar rumah saat pandemi lalu. Terutama di kalangan remaja yang belum bisa move on dari perilku screen time yang over. Waduh!

Dan ternyata, berdasarkan sebuah laporan firma riset data.ai, “State of Mobile 2023”, masyarakat Indonesia berada di ranking teratas secara global sebagai pengguna internet terlama di dunia tahun 2022 lho. Hal ini diketahui dari data durasi screen time dengan rata-rata 5,7 jam per hari. Lebih tinggi sedikit bila dibandingkan dengan Brasil dan Arab Saudi yang mempunyai waktu sekitar 5,3 jam tiap harinya, disusul Korea Selatan dan Singapura. Dan Gen Z adalah kelompok tertinggi yang lama melakukan screen time-nya, yakni mencapai 35%! 

*# Hati-hati Dampak Buruk Screen Time!*

Di balik keseruan bermain HP, banyak dampak negatif yang menyertainya kalo kita kebablasan durasi screen timenya. Apa saja?

*1. Mager Mode: ON!*

Kalo udah betah screen time, biasanya auto mager. Tiduran di kasur sambil scrolling media sosial memang pw banget. Apalagi kalo sambil ngemil makanan ringan. Gak mau berhenti. Kebayang kalo selama screen time, ngunyah terus. Alamat tambun tuh badan. Kalo udah gini, obesitas mengintai remaja. Hati-hati!

Tahu kan kalo obesitas itu berpotensi menimbulkan serangkaian masalah kesehatan lainnya lo, seperti kolesterol, asam urat, diabetes, darah tinggi, dan lainnya. Belum lagi, gangguan mata akibat posisi layar dan radiasi ponsel. Ih jangan sampai deh!

*2. Waktu Tidak Produktif*

Saat liburan, remaja paling banyak mengisi hari-hari liburnya hanya di depan layar gadget. Mentang-mentang gak ada kegiatan sekolah, ngerasa punya me time seharian untuk cari hiburan dari genggaman tangan. Ngerinya, kontent sosial media kan gak ada sensor. 

Dan pastinya, kontent mendidik kalah banyak dengan konten unfaedah yang joget-joget gak karuan, prank, sampai kontent untuk konsumsi dewasa. Belon lagi, game online yang nyandu bikin remaja ogah geser dari tempat duduknya. Waktu produktifnya hangus!

*3. Mudah Cemas dan Stres*

“Anak-anak yang cenderung memiliki banyak screen time dan menggunakan media sosial tanpa aturan dapat mengalami masalah kesehatan mental. Anak-anak ini menonton konten kekerasan atau mengganggu yang dapat merusak kesehatan mental mereka. Ini bisa menjadi masalah yang memprihatinkan karena anak-anak bisa menjadi stres, cemas, depresi, kasar, frustrasi, dan juga merasa kesepian,” kata ahli bedah umum AS, Dr Vivek Murthy. 

*# Waktumu Masa Depanmu*

Tanpa sadar, screen time sering kali merenggut quality time kita. Saking asyik dan serunya berselancar di dunia maya, jadi lupa waktu dan lupa diri. Lupa kalo waktu yang udah berjalan gak bisa balik lagi. Waktu yang sudah terbuang gak bisa didaur ulang. Padahal dalam urusan waktu, Islam udah wanti-wanti agar kita jangan teledor. 

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menyebutkan sebuah perkataan: _“Waktu ibarat pedang, jika engkau tidak menebasnya maka ialah yang akan menebasmu. Dan jiwamu jika tidak kau sibukkan di dalam kebenaran maka ia akan menyibukkanmu dalam kebatilan”_ *(Dinukil oleh Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Al-Jawaab Al-Kaafi hal 109 dan Madaarijus Saalikiin 3/129)*

Ibnul Qoyyim rahimahullah juga berkata: _“Waktu seseorang itulah hakekat umurnya, dialah penentu kehidupan abadinya (di kemudian hari), apakah dalam kenikmatan abadi ataukah dalam kehidupan sengsara dalam adzab abadi yang pedih. Waktu berlalu lebih cepat dari aliran awan. Maka siapa saja yang waktunya dihabiskan untuk Allah dan karena Allah maka waktu itulah hakekat umur dan kehidupannya. Adapun selain itu (jika waktunya tidak dihabiskan untuk dan karena Allah) maka waktu tersebut pada hakekatnya bukanlah termasuk kehidupannya, akan tetapi kehidupannya laksana ibarat kehidupan hewan. Jika ia menghabiskan waktunya dalam kelalaian dan syahwat, serta angan-angan yang batil, dan waktu yang terbaiknya adalah yang ia gunakan untuk tidur dan nganggur maka matinya orang yang seperti ini lebih baik dari pada hidupnya” (Al-Jawaab Al-Kaafi hal 109)_

Syaikh ‘Abdul Malik Al Qosim turut mengingatkan, _“Waktu yang sedikit adalah harta berharga bagi seorang muslim di dunia ini. Waktu adalah nafas yang terbatas dan hari-hari yang dapat terhitung. Jika waktu yang sedikit itu yang hanya sesaat atau beberapa jam bisa berbuah kebaikan, maka ia sangat beruntung. Sebaliknya jika waktu disia-siakan dan dilalaikan, maka sungguh ia benar-benar merugi. Dan namanya waktu yang berlalu tidak mungkin kembali selamanya.”_ *(Lihat risalah “Al Waqtu Anfas Laa Ta’ud”, hal. 3)*

Biar gak teledor sampai lupa menyukuri nikmat waktu, pastikan kita jadikan setiap waktu kita berkualitas. Meskipun sedang screen time. Caranya? 

# Pertama, setiap waktu yang kita pakai bisa menambah pahala. Kalo lagi screen time dan berselancar di dunia maya, jadikan sarana untuk berdakwah. Sharing nasihat, quote dakwah, atau catatan kebaikan yang bisa menginspirasi pembacanya untuk berbuat baik. Nggak usah baperan meski yang ngasih jempol, komentar, atau share-nya cuman seuprit. Just do it. Karena tujuan kita ridho Allah dan berbuah pahala dari jejak digital yang kita tinggalkan. 

Dan kalo pas lagi gak ada kuota, manfaatkan waktu untuk mengurangi screen time. Alokasikan waktunya untuk aktifitas ibadah yang berbuah pahala. Shalat sunah, baca qur’an, atau membantu orang lain yang membutuhkan. 

Ibnu Mas’ud berkata, _“Tiada yang pernah kusesali selain keadaan ketika matahari tenggelam, ajalku berkurang, namun amalanku tidak bertambah.”_

# Kedua, setiap waktu yang kita pakai bisa menambah ilmu. Ini quality time yang tak boleh terlewatkan. Selama kita hidup, kita dituntut untuk terus belajar, berkembang, dan menambah kapasitas keilmuan. Lantaran saban hari, masalah datang silih berganti. Bukan cuman soal ujian sekolah yang bikin pusing tujuh keliling. Tapi justru masalah di luar sekolah yang bisa merenggut masa muda saat kita gak nemu jalan keluarnya. 

Karena itu, jangan habiskan waktu kita dengan aktifitas unfaedah berbalut screen time. Manfaatkan waktu kita untuk membaca buku pelajaran, melahap bacaan Islam, melototin video dakwah, olahraga, atau aktifitas fisik untuk mengasah skill. 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, _“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.”_ *(HR. Tirmidzi, no. 2317; Ibnu Majah, no. 3976)*

Nah Teman Surga, kurangi durasi screen time yang hanya dihabiskan untuk mabar, nonton video unfaedah, atau scrolling gaje lini masa sosial media. Mari jadikan setiap waktu kita quality time untuk nambah pahala dan nambah ilmu. Karena waktumu, masa depanmu! []

REMAJA PENGEN MANDIRI? NORMAL KOK!

Memasuki umur belasan tahun, umumnya remaja mulai ngerasain perubahan yang terjadi pada dirinya. Dari mulai perubahan fisik sampe non fisik. Suara yang pecah, adanya jakun pada cowok, mimpi basah, haid, atau mulai matangnya organ-organ reproduksi menunjukkan adanya perubahan fisik.

Tapi untuk perubahan non fisik yang meliputi kelabilan emosi, perkembangan jiwa, dan pembentukan karakter, nggak keliatan jelas. Kita cuma bisa nebak dari gejala yang ditunjukkan remaja dalam perilakunya. Pakar psikologi bilang, fase ini dikenal dengan proses pencarian jati diri yang dilalui remaja untuk mengetahui peranan dan kedudukannya dalam lingkungan sekaligus mengenali dirinya lebih dekat. Catet tuh!

Dalam proses pencarian jati diri ini, remaja biasanya memerlukan kemandirian yang menurut Sutari Imam Barnadib meliputi: ”Perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi hambatan/masalah, mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain.”

Ya, alon-alon remaja berusaha melepaskan ikatan psikis dengan orang tua. Mereka pengen dihargai sebagai orang dewasa. Pengen bisa berpikir secara merdeka; bisa mengambil keputusan sendiri; punya hak untuk menerima atau menolak masukan dari pihak lain; dan belajar bertanggung jawab terhadap setiap perbuatannya.” Hmm, asyik kali, ya?

Itulah penjelasan dari pakar psikolog akan kebebasan yang dikehendaki remaja. Intinya sih, remaja pengen mandiri. Nggak cuma makan atau mandi sendiri, tapi juga dipercaya dalam berpikir, berbuat, dan bersikap sesuai dengan keinginannya. ”Masa’ mama nggak ngerti sih?”.

*# Ketika Kebebasan Menjadi Kebablasan*

Setiap orang tua pasti ngerti kalo suatu saat nanti, mereka kudu rela melepaskan anaknya hidup mandiri. Namun, gencarnya arus budaya Barat yang membidik remaja membuat tuntutan kebebasan remaja bergeser menjadi liar tak terkendali. Pola hidup sekuler yang dipraktikkan masyarakat Barat jelas-jelas bertolak belakang dengan kehidupan kita selaku Muslim. Parahnya, gaya hidup sekuler itu makin populer di mata remaja dan sering kali menjadi acuan dalam perjalanannya mencari identitas diri. Bahaya kan?

Beberapa akibat kebebasan yang kebablasan hasil jiplakan remaja terhadap budaya Barat adalah:

# Pertama, free thinker alias bebas berpikir. Remaja ngerasa punya hak untuk berpikir tanpa dibatasi oleh norma-norma agama. Yang penting bisa cari jalan keluar dari masalah yang dihadapi atau cari cara biar keinginannya terpenuhi. Sebodo amat meski harus ngambil jalan pintas untuk lari dari masalahnya dengan bunuh diri, nge-drugs, atau nyekek botol minuman keras.

Bisa juga jadi pelaku kriminal atau terjun ke dunia prostitusi pas lagi pengen punya duit lebih demi memenuhi tuntutan tren pergaulan. Ada juga yang mempertaruhkan harga diri dan kehormatannya dalam kontes kecantikan demi popularitas dan limpahan harta. Urusan dosa atau penjara, itu mah belakangan. Ih, ngeri banget deh jadinya.

# Kedua, permissif alias bebas berbuat. Mau ngapain aja di mana aja, banyak yang dijadiin prinsip hidup oleh remaja dalam berbuat. Pokoknya serba ada, eh serba boleh. Mulai dari cara berbusana, berdandan, berbicara, bergaul, atau berperilaku. Bangga jika daya tarik seksualnya disapu setiap mata lawan jenis yang jelalatan. Antimalu jadi pusat perhatian orang lantaran dandanannya yang urakan, norak, dan kekurangan bahan. Dan nggak punya rem buat ngendaliin tutur katanya. Ceplas-ceplos bin asal bunyi. Dan semuanya dilakukan tanpa risih dengan mengantongi label kebebasan berekspresi. So what gitu lho!

# Ketiga, free Sex alias pergaulan bebas. Saat ini, pergaulan bebas antar lawan jenis yang banyak digandrungi remaja sangat mudah terkontaminasi unsur cinta dan seks. Apalagi ditambah dengan kampanye terselubung antijomblo yang diopinikan media via sinetron remaja. Setiap remaja ngerasa kudu punya gacoan biar eksis dalam pergaulan.

Nggak sebatas punya gacoan, pergaulan bebas pun sangat membuka peluang bagi remaja untuk aktif melakukan aktivitas seksual. Pemicunya, bisa karena terpapar pornografi dan pornoaksi yang merajalela di dunia maya. Kurangnya kontrol dari orang tua, sekolah, atau masyarakat bikin mereka enjoy berpetualang menikmati kepuasan sesaat. Gaswat dongs?

Kalo kondisinya seperti di atas, orang tua mana yang nggak keder ortu dengan kebebasan remaja saat ini. Niat ortu ngasih kebebasan biar mandiri, bisa-bisa nyasar malah anak remajanya kehilangan harga diri. Berabe khan?

*# Dewasa di Usia Remaja*

Sobat, kemandirian bagi remaja memang sangat diperlukan untuk mendukung perkembangan jiwanya. Tapi kita kudu mikir seribu kali kalo remaja dibiarkan menafsirkan sendiri kebebasan yang dikehendakinya. Jiwanya yang labil sangat mudah terwarnai oleh lingkungan sekitar. Gelora jiwa mudanya paling gampang terpincut ama budaya Barat yang steril dari aturan Islam.

Makanya kita selaku remaja Muslim wajib nyadar kalo kebebasan dalam berpikir dan berperilaku nggak pernah diajarin dalam Islam. Islam ngajarin adanya kehidupan akhirat yang akan meminta pertanggungjawaban setiap amal perbuatan kita di dunia. Otomatis ini nyambung dengan tabungan pahala dan dosa yang kita kumpulkan sepanjang hidup di dunia. Tiket surga bakal kita peroleh kalo pahala kita surplus.

Sebaliknya, kita bakal diceburkan ke dalam neraka seandainya dosa kita yang surplus. Dan pahala itu baru kita dapetin kalo Allah ridha dengan perbuatan kita. Itu berarti keterikatan dengan aturan Islam seharusnya jadi standar perbuatan dalam keseharian kita. Kalo udah gini, masa’ iya kita mau melepaskan diri dari aturan Allah demi sebuah kebebasan? Allah SWT berfirman:

"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?" (TQS Al Maidah: 50)

Usia remaja mengharuskan kita belajar untuk bertanggung jawab. Sebagai pengingat, kita bisa renungkan firman Allah SWT:

"Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya..." (TQS Al Mudatsir: 38)

Masa depan di dunia dan akhirat ada di tangan kita. Bukan dalam genggaman orang tua atau uluran tangan dari seorang teman. Proses pembelajaran itu bisa kita awali dengan giat mengkaji Islam. Agar kita makin ngeh dengan hubungan kehidupan dunia dan akhirat.

Selain itu, aturan Islam yang komplit juga punya solusi untuk setiap permasalahan hidup yang kita temui. Agar kita terbiasa untuk berpikir panjang sebelum berbuat agar hawa nafsu dan godaan setan mampu kita tundukkan. Sehingga setiap langkah yang kita ambil bisa memberikan kebaikan. Inilah cerminan dari kedewasaan kita dalam bersikap dan berbuat. Karena itulah kita kudu ngaji. Mau dong? Pasti! []

PEMUDA PEMBUKA JALAN HIJRAH

13 tahun. Bukan waktu yang sebentar Rasulullah saw habiskan untuk menyampaikan ajaran Islam di kota Mekkah. Hasilnya? Hanya segelintir penduduk saja yang dapat hidayah dan masuk Islam. Meski begitu, dakwah must go on. Rasulullah saw pun diperintahkan untuk berhijrah ke Yatsrib alias Madinah. 

Demi mempersiapkan tempat yang menjadi tujuan hijrah, Rasulullah saw mengutus salah satu sahabatnya ke Yatsrib. Dan pilihannya jatuh pada seorang pemuda yang kaya, berpenampilan rupawan, dan biasa dengan kenikmatan dunia. Siapa dia?

*# Menjual Dunia Demi Akhirat*
Ia adalah Mush’ab bin Umair. Pemuda yang paling tampan dan kaya di Kota Mekah. Kemudian ketika Islam datang, ia jual dunianya dengan kekalnya kebahagiaan di akhirat. 
Rasulullah saw bersabda, “Aku tidak pernah melihat seorang pun di Mekah yang lebih rapi rambutnya, paling bagus pakaiannya, dan paling banyak diberi kenikmatan selain dari Mush’ab bin Umair.” (HR. Hakim).

Mush’ab bin Umair hidup di lingkungan jahiliyah; penyembah berhala, pecandu khamr, penggemar pesta dan nyanyian, Allah beri cahaya di hatinya, dengan sendirinya ia bertekad dan menguatkan hati untuk memeluk Islam. Ia mendatangi Nabi saw di rumah al-Arqam dan menyatakan keimanannya. Kemudian Mush’ab menyembunyikan keislamannya sebagaimana sahabat yang lain, untuk menghindari intimidasi kafir Quraisy.
Suatu hari Utsmani bin Thalhah melihat Mush’ab bin Umair sedang beribadah kepada Allah Ta’ala, maka ia pun melaporkan apa yang ia lihat kepada ibunda Mush’ab. Saat itulah periode sulit dalam kehidupan pemuda yang terbiasa dengan kenikmatan ini dimulai.
Mengetahui putra kesayangannya meninggalkan agama nenek moyang, ibu Mush’ab kecewa bukan kepalang. Ibunya mengancam bahwa ia tidak akan makan dan minum serta terus berdiri tanpa naungan, baik di siang yang terik atau di malam yang dingin, sampai Mush’ab meninggalkan agamanya.  

Saudara Mush’ab, Abu Aziz bin Umair, tidak tega mendengar apa yang akan dilakukan sang ibu. Lalu ia berujar, “Wahai ibu, biarkanlah ia. Sesungguhnya ia adalah seseorang yang terbiasa dengan kenikmatan. Kalau ia dibiarkan dalam keadaan lapar, pasti dia akan meninggalkan agamanya”. Mush’ab pun ditangkap oleh keluarganya dan dikurung di tempat mereka.

Hari demi hari, siksaan yang dialami Mush’ab kian bertambah. Tidak hanya diisolasi dari pergaulannya, Mush’ab juga mendapat siksaan secara fisik. Ibunya yang dulu sangat menyayanginya, kini tega melakukan penyiksaan terhadapnya. Warna kulitnya berubah karena luka-luka siksa yang menderanya. Tubuhnya yang dulu berisi, mulai terlihat mengurus.

Zubair bin al-Awwam mengatakan, “Suatu ketika Rasulullah saw sedang duduk dengan para sahabatnya di Masjid Quba, lalu muncullah Mush’ab bin Umair dengan kain burdah (jenis kain yang kasar) yang tidak menutupi tubuhnya secara utuh. Orang-orang pun menunduk. Saad bin Abi Waqqash radhiayallahu ‘anhu berkata, “Dahulu saat bersama orang tuanya, Mush’ab bin Umair adalah pemuda Mekah yang paling harum. Ketika ia mengalami apa yang kami alami (intimidasi), keadaannya pun berubah. Kulihat kulitnya pecah-pecah mengelupas dan ia merasa tertatih-taih karena hal itu sampai-sampai tidak mampu berjalan. Kami ulurkan busur-busur kami, lalu kami papah dia.” (Siyar Salafus Shaleh oleh Ismail Muhammad Ashbahani, Hal: 659).

*# Duta Pertama Islam*
Mush’ab bin Umair adalah salah seorang sahabat nabi dengan keilmuan yang mendalam dan kecerdasan yang tinggi. Sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya untuk mendakwahi penduduk Yatsrib, Madinah.
Saat datang di Madinah, Mush’ab tinggal di tempat As’ad bin Zurarah. Di sana ia mengajarkan dan mendakwahkan Islam kepada penduduk negeri tersebut, termasuk tokoh utama di Madinah semisal Saad bin Muadz. 

Dalam waktu yang singkat, sebagian besar penduduk Madinah pun memeluk agama Allah ini. Hal ini menunjukkan –setelah taufik dari Allah- akan kedalaman ilmu Mush’ab bin Umair dan pemahamanannya yang bagus terhadap Alquran dan sunnah, baiknya cara penyampaiannya dan kecerdasannya dalam berargumentasi, serta jiwanya yang tenang dan tidak terburu-buru.

Hal tersebut sangat terlihat ketika Mush’ab berhadap dengan Saad bin Muadz. Setelah berhasil mengislamkan Usaid bin Hudair, Mush’ab berangkat menuju Saad bin Muadz. Mush’ab berkata kepada Saad, “Bagaimana kiranya kalau Anda duduk dan mendengar (apa yang hendak aku sampaikan)? Jika engkau ridha dengan apa yang aku ucapkan, maka terimalah. Seandainya engkau membencinya, maka aku akan pergi”. Saad menjawab, “Ya, yang demikian itu lebih bijak”. Mush’ab pun menjelaskan kepada Saad apa itu Islam, lalu membacakannya Alquran.

Saad memiliki kesan yang mendalam terhadap Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu dan apa yang ia ucapkan. Kata Saad, “Demi Allah, dari wajahnya, sungguh kami telah mengetahui kemuliaan Islam sebelum ia berbicara tentang Islam, tentang kemuliaan dan kemudahannya”. Kemudian Saad berkata, “Apa yang harus kami perbuat jika kami hendak memeluk Islam?” “Mandilah, bersihkan pakaianmu, ucapkan dua kalimat syahadat, kemudian shalatlah dua rakaat”. Jawab Mush’ab. Saad pun melakukan apa yang diperintahkan Mush’ab.

Setelah itu, Saad berdiri dan berkata kepada kaumnya, “Wahai Bani Abdu Asyhal, apa yang kalian ketahui tentang kedudukanku di sisi kalian?” Mereka menjawab, “Engkau adalah pemuka kami, orang yang paling bagus pandangannya, dan paling lurus tabiatnya”.
Lalu Saad mengucapkan kalimat yang luar biasa, yang menunjukkan begitu besarnya wibawanya di sisi kaumnya dan begitu kuatnya pengaruhnya bagi mereka, Saad berkata, “Haram bagi laki-laki dan perempuan di antara kalian berbicara kepadaku sampai ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya!” Tidak sampai sore hari seluruh kaumnya pun beriman kecuali Ushairim.

Karena taufik dari Allah kemudian buah dakwah Mush’ab, Madinah pun menjadi tempat pilihan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya hijrah. Dan kemudian kota itu dikenal dengan Kota Nabi Muhammad (Madinah an-Nabawiyah).

*# Mujahid Tulen*
Mush’ab bin Umair adalah pemegang bendera Islam di peperangan. Pada Perang Uhud, ia mendapat tugas serupa. Muhammad bin Syarahbil mengisahkan akhir hayat sahabat yang mulia ini. Ia berkata: Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu membawa bendera perang di medan Uhud. Lalu datang penunggang kuda dari pasukan musyrik yang bernama Ibnu Qumai-ah al-Laitsi (yang mengira bahwa Mush’ab adalah Rasulullah), lalu ia menebas tangan kanan Mush’ab dan terputuslah tangan kanannya. Bendera pun ia pegang dengan tangan kirinya. Lalu Ibnu Qumai'ah datang kembali dan menebas tangan kirinya hingga terputus. Kemudian anak panah merobohkannya dan terjatuhlah bendera tersebut. Setelah Mush’ab gugur, Rasulullah menyerahkan bendera pasukan kepada Ali bin Abi Thalib (Ibnu Ishaq, Hal: 329).

Setelah perang usai, Rasulullah saw memeriksa sahabat-sahabatnya yang gugur. Abu Hurairah mengisahkan, “Setelah Perang Uhud usai, Rasulullah saw mencari sahabat-sahabatnya yang gugur. Saat melihat jasad Mush’ab bin Umair yang syahid dengan keadaan yang menyedihkan, beliau berhenti, lalu mendoakan kebaikan untuknya.

Tak sehelai pun kain untuk kafan yang menutupi jasadnya kecuali sehelai burdah. Andainya ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua kakinya. Sebaliknya, bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Sehingga Rasulullah bersabda, “Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan kakinya tutupilah dengan rumput idkhir.”

Maa Syaa Allaah, kelu rasanya ngegambarin mulianya pribadi Mush’ab bin Umair ini . Kalo lihat remaja sekarang yang manjanya gak ketulungan, apa iya bisa kayak Mush’ab bin Umair? Jawabnya pasti bisa, asalkan kamu2 jadiin Islam sebagai landasan. Bangga dengan Islam, bangga nyebarin pemikiran islam, istiqomah, dan yakin akan pertolongan Allaah. Yup, kamu pasti bisa! []