Sabtu, 04 Februari 2023

LA TAHZAN GAES!

"Bila engkau bisa tersenyum saat hatimu penuh dengan duka nestapa, maka sesungguhnya engkau sedang meringankan bebanmu sendiri dan membuka satu pintu untuk kebahagiaan."

Kata mutiara ini bukan berasal dari remaja tanggung asal Gorontalo yang lagi viral lantaran kisah cintanya yang kandas itu. Tapi dari sosok ulama yang ngajarin kita agar jangan jadi sad boy. Lho, emang gak boleh sedih?

Sedih Itu Rahmat

Rasa sedih pada diri kita itu normal kok. Tandanya kita punya perasaan dan hati kita lunak. Apalagi kalo rasa sedih itu sampai bikin merembes mili, ada kebaikan di dalamnya. Seperti yang dirasakan orang beriman saat melakukan dosa. Nabi saw mengabarkan bahwa itu adalah tanda iman. “Barangsiapa yang merasa bergembira karena amal kebaikannya dan sedih karena amal keburukannya, maka ia adalah seorang yang beriman” (HR. Tirmidzi).

Allah swt telah menganugerahkan rasa sedih pada diri kita ketika kehilangan harta, pekerjaan, atau orang-orang yang kita sayangi. Bersedihlah kalo kita pengen mengungkapkan rasa kecewa itu. Tapi gak usah lama-lama. Apalagi sampai air mata kering, mata sembab, biwir beureum-beureum jawér hayam panon coklat kopi susu. Jangan ya.
 
Karena kesedihan kita tak akan merubah keadaan. Sebagaimana nasihat dari seorang ulama  Dr. Aidh al-Qarni : Pernahkah engkau mendengar bahwa kesedihan dapat mengembalikan sesuatu yang telah berlalu dan luka lara dapat memperbaiki sebuah kesalahan? Bila tidak, lalu untuk apa engkau bersedih?

Dalam al-Qur’an kata-kata sedih tidaklah datang kecuali dalam konteks larangan atau kalimat negatif (peniadaan). Sebagaimana yang dijelaskan Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam bukunya Madaarijus Saalikiin. Dalam konteks larangan, misalnya adalah firman Allah ‘azza wa jalla, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita” (QS. At-Taubah: 40)

Adapun dalam konteks kalimat negatif (peniadaan) misalnya firman Allah ta’ala, “Mereka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS. Al-Baqarah: 38)

Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan, kesedihan adalah keadaan yang tidak menyenangkan, tidak ada maslahat bagi hati. Suatu hal yang paling disenangi setan adalah, membuat sedih hati seorang hamba. Hingga menghentikannya dari rutinitas amalnya dan menahannya dari kebiasaan baiknya.
 
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Sesungguhnya pembicaraan bisik-bisik itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita” ([QS. Al-Mujadalah: 10]. Madaarijus Saalikiin hal: 1285).

La Tahzan!

Tak perlu berlarut-larut dengan berbagai kesedihan. Kita harus segera move-on. Agar roda hidup kita terus berjalan. Nggak berhenti oleh bayang-bayang suram masa lalu yang melow dan bikin galau. Gimana caranya agar kita bisa tegar menghagapi kesedihan?

Pertama, tidak membesar-besarkan apa yang telah hilang dan sadar bahwa itu adalah hal yang memang mungkin terjadi. Jangan terjebak oleh tren digital yang mengekspose kesedihan sebagai bahan kontent yang menggugah perasaan dan berpotensi mendulang cuan.
 
Ingat, Allah yang menciptakan kesedihan agar kita menyadari nikmatnya kebahagiaan, sehingga ia bersyukur dan berbagi. Dan sempitnya kesedihan diciptakan agar ia tunduk bersimpuh di hadapan Tuhan Yang Maha Rahmat dan Mengasihi, serta tidak menyombongkan diri.
 
Seperti aduannya Nabi Ya’qub saat lama berpisah dengan putra tercinta; Yusuf ‘alaihimas sasalam “Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan penderitaan dan kesedihanku” (QS. Yusuf: 86). Camkan nasihat Dr. 'Aidh al-Qarni "Jangan pernah menjadikan kesusahan dan kesedihan sebagai tema pembicaraan. Karena, hal itu akan menghalangimu dari kebahagiaan."
 
Kedua, Bersikap sabar. Sebagaimana diingatkan oleh al-Qarni “Bersyukurlah engkau tatkala mendapatkan kesenangan dan bersabarlah ketika tertimpa musibah. Jangan mengkhayal, bahwa dalam hidup ini engkau akan sehat tanpa pernah sakit, selalu kaya dan tidak pernah miskin, mendapatkan suami yang tanpa cela dan teman tanpa aib; semua ini mustahil terjadi.” Kesabaran itu dapat memberikan ketenangan kepada seseorang dalam menghadapi tantangan di hidupnya. Karena orang yang sabar memiliki keyakinan bahwasanya Allah akan memberikan pertolongan kepadanya.

Ketiga, Berdoa. Do’a adalah pengikat manusia dengan Allah. Jangan pernah letih untuk berdo’a dan memohon pertolongan Allah, karena hanya Allah lah yang mampu menolong dan mengatur segala urusan manusia.

Oleh karenanya, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam senantiasa berlindung dari rasa sedih. Di antara doa yang sering dipanjatkan Nabi adalah, // Allahumma innii a’uudzubika minal hammi wal hazani…// “Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari gundah gulana dan rasa sedih…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keempat, Memperkuat iman. Iman yang kuat dapat menjadikan seseorang lebih tegar dalam menjalani kehidupan. Orang yang imannya kuat tidak akan mudah putus asa dalam menghadapi berbagai halangan dan tantangan. Orang beriman akan terbebas dari perasaan bahagia terlalu berlebihan yang menyebabkan seseorang melupakan Allah dan perasaan terlalu larut dalam kesedihan yang menyebabkan seseorang putus asa dan menyalahkan Allah.

Kelima, mendekat pada Al-Qur’an. Sebagaimana yang diungkapkan ulama Aidh Al-Qarni, “Hiduplah Bersama Al-Qur’an! Baik dengan cara menghafal, membaca, mendengarkan, atau merenungkannya. Sebab ia adalah obat paling mujarab untuk mengusir kesedihan.”

Kita Adalah Pemenang

Allah swt menghadirkan masalah dalam hidup kita, untuk menghadirkan keajaiban di dalamnya. Jangan katakan “Wahai Allah, masalahku sangat besar”, tapi katakan “Wahai masalah, Allah itu Maha Besar. Berbagai masalah itulah yang membuat kita bertahan dan berTuhan. Jika kita lari dari masalah, berarti kita lari dari kasih sayang Allah.

Pemenang adalah orang yang pandai bersyukur dan berusaha bangkit dari masalah. Seorang pemenang tak akan menghabiskan waktunya untuk meratapi kesedihan yang menutup kebahagiaan yang ada di depan mata.

Seorang pemenang akan melihat masalah sebagai batu loncatan untuk naik kelas. Bertambah keimanannya, kesabarannya, berbaik sangkanya pada Allah swt, kemampuan mengelola hati, dan mendongkrak keterampilannya untuk menemukan jalan keluar.
Seorang pemenang menyakini bahwa di balik setiap kesulitan akan ada kemudahan. Setelah cucuran air mata akan terbit sebuah senyuman. Sebagaimana setelah malam yang gelap gulita akan hadir siang hari yang terang benderang. Teruslah bergerak menjemput pertolongan-Nya.
 
Seorang pemenang menyadari kalo untuk membalikkan keadaan dari kesedihan menjadi kebahagiaan perlu proses yang mesti dijalani. Berusaha memantaskan diri untuk mengundang pertolongan Allah swt. Dan proses itu tak semudah membalikan telapak tangan. Kita harus siap untuk mengorbankan harta waktu, tenaga, dan pikiran.
 
Karena perubahan itu tanggung jawab kita. Untuk itu, mulailah dengan membenahi cara berpikir kita agar selalu terpaut dengan ajaran Islam yang sempurna. Berani membiasakan diri untuk mengenal Islam lebih dalam dengan hadir dalam majelis-majelis ilmu. Getol beribadah dalam keseharian untuk mendongkrak keimanan kita.
 
“Janganlah kamu lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (QS. Ali Imran: 139).
 
"Lihatlah masa lalu dan tataplah masa depanmu. Dalam hidup ini selalu ada ujian; ia akan selalu datang silih berganti. Maka, setiap orang harus bisa keluar dari ujian itu sebagai pemenang." (Dr. 'Aidh al-Qarni) La tahzan gaes! []

Waspada Budaya Hura-Hura!


Menjelang pergantian tahun, banyak yang sibuk ikut ambil bagian dalam perayaan tahun baru. Kalo udah bicara perayaan, pastinya nggak akan jauh dari suasana hura-hura. Itulah tradisi yang tetep lestari dari tahun ke tahun yang dekat dengan dunia remaja. Lantaran kerap menjanjikan kesenangan yang gak ada habisnya. Tanpa sadar, banyak remaja yang terjerumus dalam gaya hidup hedonisme. Apaan tuh? 

Hedonisme dan Budaya Hura-hura

Paham hedonisme pertama kali dikembangkan oleh dua orang filsuf Yunani, yaitu Epicurus (341-270 SM) dan Aristippus of Cyrine (435-366 SM). Istilah hedonisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu hedone yang artinya kenikmatan, kegembiraan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Hedonisme merupakan pandangan yg menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. 

Jadi, kaum hedonis menganggap bahwa orang akan bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan baginya. 

Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup. Karena mereka beranggapan hidup ini hanya sekali, mesti dinikmati sampai mentok. Hidup dijalani semaunya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas. Pandangan mereka terangkum dalam pandangan Epikuris yang menyatakan,"Bergembiralah engkau hari ini, puaskanlah nafsumu, karena besok engkau akan mati".

Dari gaya hidup hedonisme inilah lahir budaya hura-hura. Kegiatan foya-foya yang menjanjikan kesenangan, kemeriahan dalam keseharian. Budaya ini yang sekarang banyak digandrungi remaja. Dan kalo udah kecanduan gaya hidup hedonis, apa aja bisa dijadikan alasan untuk ngadain pesta pora. 

Mulai dari pesta ulang tahun, pesta kenaikan kelas, pesta perpisahan sekolah, pesta tujuh belasan, dan hampir tidak terlewatkan pestaphoria perayaan tahun baru. Perlahan namun pasti, budaya hura-hura telah menggiring remaja untuk menjadi bagian dari kaum hedonis pemuja kesenangan dunia. 

Nol Manfaat Full Maksiat

Budaya hedonis memang menjanjikan kesenangan. Namun di balik itu, hidup kita bakal belangsakan. Lantaran hedonisme bisa bikin kita: 

Pertama, lemah mental. Doyan pesta pora bisa bikin mental kita lemah saat menghadapi musibah atau kesempitan dalam hidup. Karena yang ada di otak kita hanya kesenangan. Sehingga kita jadi alergi dengan kesedihan, menghalalkan segala cara untuk berpesta, dan nggak berani hadapi masalah. 

Ketika pesta usai dan kaki kembali menginjak bumi, ternyata masalah masih ada dan setia nungguin kita. Ya iyalah, karena masalah datang untuk diatasi, bukan dihindari. Kita mesti inget, pesta pora nggak bikin masalah kita beres dan nggak juga membantu kita beresin masalah. Yang ada, masalah kita malah bertambah. Berabe kan?

Kedua, sarang maksiat. Dari awal, budaya hura-hura lahir dari pola hidup masyarakat Barat yang anti dari aturan agama. Apalagi aturan Islam. Nggak heran kalo dalam setia pesta pora, kemaksiatan merajalela. Mulai dari fastabiqul aurat alias berlomba-lomba memamerkan aurat dan daya tarik seksual, campur baur laki perempuan yang bebas tanpa batas, peredaran narkoba dan minuman keras, hingga situasi yang bisa memancing emosi seperti sering terlihat dalam setiap kerusuhan konser musik. Makanya kita mesti jauh-jauh dari tempat pesta pora, biar nggak kecipratan dosa lantaran diem aja di tengah kemaksiatan yang merajalela.

Ketiga, tasyabuh bil kuffar. Perayaan hari-hari besar yang selalu dimeriahkan dengan pesta tak lepas dari muatan ajaran di luar Islam. Seperti perayaan tahun baru Masehi. 
Perayaan tahun baru Masehi bukan hari raya umat Islam. Penetapan 1 Januari sebagai tahun baru yang awalnya diresmikan Kaisar Romawi Julius Caesar (tahun 46 SM), diresmikan ulang oleh pemimpin tertinggi Katolik, yaitu Paus Gregorius XII tahun 1582. Penetapan ini kemudian diadopsi oleh hampir seluruh negara Eropa Barat yang Kristen sebelum mereka mengadopsi kalender Gregorian tahun 1752. (www.en.wikipedia.org; www.history.com)

Sebagai muslim, nggak ada pantasnya kita meniru-niru budaya di luar Islam. Kaya perayaan tahun baru itu. Kalo kita ikut-ikutan, sama aja kita membenarkan apa yang diyakini oleh penganut agama lain. Padahal Rasul dengan tegas melarang umatnya untuk meniru-niru budaya atau tradisi agama dan kepercayaan lain. Rasulullah saw. bersabda:
“Barangsiapa yang menyerupai (bertasyabuh) suatu kaum, maka ia termasuk salah seorang dari mereka.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan ath-Thabrani)

Itulah beberapa bahaya di balik gaya hidup hedonis yang hanya membuat diri dan masa depan kita hancur berantakan. Nggak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Ini sudah cukup beralasan bagi kita untuk katakan tidak pada budaya hura-hura. Setuju?

Catatan Akhir Tahun

Dalam hidup, selalu ada perubahan yang nggak bisa kita hindari. Ada suka ada duka. Ada masa muda ada masa tua. Ada saatnya kita hidup, ada waktunya kita meninggal dunia. Pertanyaannya, siapkah kita menghadapi perubahan itu?

Nggak gampang jawab pertanyaan ini. Karena faktanya, kita lebih banyak mempersiapkan diri untuk memaksimalkan waktu luang, harta berlimpah, dan masa muda untuk bersenang-senang. Sebaliknya, kita sering ngerasa belum siap dan enggan mempersiapkan diri menghadapi kondisi hidup yang sulit. 

Kita cuman bisa mengeluh dan ngandelin ortu untuk beresin setiap kesulitan yang dihadapi. Padahal suatu saat, kita akan kehilangan orang tua dan harus hidup mandiri. Lantas, apa yang udah kita siapin menghadapi saat itu? Keterampilan apa yang udah kita asah dari sekarang untuk menjalankan tanggung jawab kita nanti? Amal baik apa yang sudah kita tabung untuk menghadapi hari perhitungan di akhirat nanti?

Kalo kamu perhatiin Pak Tani, nggak mungkin doi memanen padi kalo sebelumnya nggak pernah membajak sawahnya, menanam benih padi, ngasih pupuk, menyiangi, atau menjaganya dari hama padi. Begitu juga yang terjadi dengan kita. 

Keberhasilan masa depan kita tidak diperoleh dengan tunai saat kita tua nanti, melainkan hasil usaha ‘cicilan’ kita sejak remaja. Apa pun yang kita kerjain selagi muda, sedikit banyak akan mempengaruhi potret masa depan kita. 
Jangan pernah berharap masa depan terbingkai indah jika menjadi aktivis pestaphoria. Dan jangan salahkan orang lain, teman, orang tua, atau lingkungan jika masa depan kita suram. Allah swt mengingatkan kita dalam firman-Nya:

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, (QS. Al-Mudatsîr [74]: 38)
Ayat ini juga ngingetin kita tentang masa depan di akherat. Saat dimintai pertanggungjawaban oleh Allah swt, kita nggak bisa berlindung dengan alasan diajak temen untuk ngedugem, clubbing, atau terhanyut dalam pestaphoria. Kita nggak bisa ngeles. Semua resiko perbuatan selama di dunia, kita yang nanggung. Makanya kalo kita cerdas, pastinya nggak akan sia-siakan masa remaja dengan menjadi aktivis pestaphoria. Sabda Rasul:
“orang yang cerdas adalah orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya serta biasa beramal untuk bekal kehidupan setelah mati. 

Sebaliknya, orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya, sementara dia berangan-angan kepada Allah”.
Sekarang kita punya alasan kuat untuk nggak ikut-ikutan pesta perayaan tahun baru dan menghapus gaya hidup hedonis dan budaya hura-hura dalam kamus hidup kita. 

Pastinya lebih keren kalo kita isi masa muda dengan kegiatan bermanfaat yang selalu terikat syariat dan bisa mencerahkan masa depan kita di dunia dan akherat. Di antaranya, dengan ikut dan aktif dalam pengajian. Yuk! [].

Senin, 26 Desember 2022

KASIH IBU, DUNIA AKHIRAT


”Seorang ibu mampu mengasuh sepuluh orang anak. Namun sepuluh anak, belum tentu mampu merawat seorang ibu.”

Ungkapan ini sering kita dengar, ya teman-teman. Jika dipikir-pikir memang benar demikian. Sekeras dan sepahit apapun kondisi yang harus dihadapi dalam menjaga anak-anaknya, seorang ibu selalu siap sedia. Tidak ada kata takut, lelah, atau marah untuk melindungi anak-anaknya. Bahkan mati demi anakpun, seorang ibu rela melakukannya. Betapa mulia dan luar biasanya hati seorang Ibu. Maasya Allah!

Simbah Darah Perjuangan Ibu

Sejak awal terdeteksi adanya kehidupan lain di rahim ibu, maka sejak itu pula seluruh kasih tercurah. Ibu begitu bahagia dan sangat hati-hati menjaga. Agar janin yang ada di rahimnya baik-baik saja hingga tiba waktunya terlahir ke dunia. Janin itu adalah kita. Ya, kita yang dahulu bergantung di Rahim ibu tercinta. Kita yang dulu tak berdaya dan tak bisa apa-apa. Kita yang saat ini sudah beranjak remaja dan seringkali melupakan jerih payah ibunda. Hiks!

Bukan tanpa beban ketika ibu mengandung kita selama sembilan bulan. Bahkan dari awal kita melekat di rahimnya, ketidaknyamanan sudah ibu rasakan. Mual yang begitu dahsyat. Pusing yang luar biasa. Badan lemah tak berdaya. Susah makan dan kesusahan lainnya. Namun, senyum tulus tetap tersungging manis di bibirnya. Mata ibu selalu berbinar menanti kelahiran kita ke dunia. 

Meskipun untuk itu, segala ketidaknyamanan harus ia telan. Namun ibu tetap ikhlas dan bahagia. ”Bikin melow enggak sih, woy! Huhuhu!”

Semakin besar ukuran kita di Rahim ibu, bukan semakin ringan beban yang ibu rasakan. Percayalah, semakin hari semakin berat Guys. Rasa mual dan lemas bisa saja usai di usia kita yang ke tiga bulan di dalam kandungan. Namun drama berikutnya siap menyambut. Tubuh ibu mulai terasa berat. Semakin bertmbah usia kita, semakin berat. Tidak jarang seorang ibu kesusahan untuk bisa nyenyak tidur. Sebab perutnya yang membesar menjadikannya serba salah dalam mengatur posisi tidur. Miring tidak nyaman. Telentang tidak enak. Telungkup tidak mungkin  lah ya kan?! Belum lagi kalau kita tiba-tiba beratraksi di dalam perut ibu. Ibu merasakan keram dan nyeri di bagian perutnya. Sungguh sangat melelahkan. Namun lagi-lagi, ibu tetap tersenyum bahagia di tengah rasa tidak nyaman yang mendera.

”Alhamdulillah, bayiku aktif, bayiku sehat.” gumam ibu kita. Beliau bersyukur untuk kita, meskipun dirinya harus menahan kesusahan. Oh Ibu! Bikin mewek enggak sih, woy!
Belum selesai sampai di sini. Ketika usia kita sudah genap sembilan bulan di rahim ibu, maka episode berikutnya dimulai. Momen yang paling ditungu sekaligus momen paling sakit untuk raga ibu. Ya, proses kelahiran kita ke dunia. Guys, demi apa? Ibu kita bersimbah darah, berjuang untuk melahirkan kita dengan selamat di muka bumi ini. Rasa sakitnya seperti seluruh tulang tubuh yang diremukkan secara bersamaan. Sakit banget, Guys. 

Tapi lagi-lagi, ibu kita tetap memiliki stok senyuman yang seolah tidak pernah habis untuk kita. Bahkan kali ini, senyumnya berubah menjadi tawa lebar penuh kesyukuran. Ya, saat dirinya bersimbah darah dan terdengar suara tangis kita yang pertama kali di dunia. Segala perih yang ibu rasa terbayar, seolah tidak pernah ada sakit yang ia rasakan. Pecah deh bendungan di kelopak mata. Huuuwaaa! Sehebat itu ibu kita, Guys! Setelah ini wajib peluk ibu dan ucapkan terimaskih kepadanya. Bukan hanya setahun sekali, tapi setiap hari ya, Guys.

Sedemikian dahsyatnya kesusahan seorang ibu dalam mengandung dan melahirkan, hingga Allah SWT mengabadikannya di dalam Alquran:
”…. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).” (QS. Al-Ahqaf: 15)

“… Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnnya dalam usia dua tahun.  …” (QS. Luqman: 14)

Bakti Pada Ibu

Oleh sebab begitu dahsyat perjuangan seorang ibu, maka sudah semestinya kita berbakti padanya.  Bahkan Allah SWT mewajibkan bagi setiap anak untuk berbakti kepada ibu dan bapaknya. Tidak dibenarkan bagi seorang anak untuk menyakiti hati ibu dan bapaknya meski hanya dengan ucapan “Ah!”.

Demikianlah Allah SWT memberikan aturan bagi kita sebagai anak kepada orang tua. Dan aturan ini berlaku sepanjang masa. Bahkan ketika orang tua sudah meninggal dunia sekalipun, kita tetap wajib berbakti kepadanya dengan cara senantiasa beramal saleh dan mendoakannya.

So, ucapan terimakasih serta ungkapan cinta penuh sayang kita kepada ibu tidaklah terbatas hanya di momen tahunan saat peringatan hari ibu saja. Sebagai generasi Islam, maka kita harus senantiasa berlaku manis dan memuliakan ibu serta bapak kita sepanjang masa. Di setiap helaan nafas kita. Begitu ya, Guys!

”Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah., dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

”… Dan janganlah sekali-kali kamu mengatakan uf (ah) kepada kedua orangtuamu.” (QS. Al-Isra’: 23)

Surga Di Telapak Kaki Ibu

Dari Mua’wiyah bin Jahimah As-Sulami, ia datang menemui Rasulullah SAW. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya ingin ikut berperang dan sekarang saya memohon nasihat kepadamu.’ Rasulullah SAW lalu bersabda, ‘Kamu masih punya ibu?’. Mu’awiyah menjawab, ‘Ya, masih.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Berbaktilah kepada ibumu (lebih dahulu) karena sungguh ada surga di bawah kedua kakinya.”

Maasya Allah, begitu mulia kedudukan ibu di mata Allah SWT. Maka sudahkah kita memuliakannya? Jangan tunggu nanti ya, Guys. Yuk segera kita labuhkan bakti kepada ibu. Sepanjang masa, di setiap helaan nafas kita. Sebab ibu pun demikian, kasihnya ibu berkekalan untuk kita di dunia hingga akhirat kelak.  Semoga kita bisa berkumpul dengan ibu tercinta dengan bahagia. Tidak hanya di dunia tapi juga hingga Surga. Amiin![]

https://yubi.id/koreapi1453

Rabu, 14 Desember 2022

Hidup Kok Ogah Ribet

Kebayang nggak sob, gimana jadinya kalo internet hilang dari bumi? Padahal hari ini seluruh aktivitas manusia sangat lekat dengan internet. Apapun yang kita butuhkan bisa kita dapatkan dengan sentuhan jempol saja. Scin care abis langsung gerakan jempol untuk checkout, kamu bingung tanya Om Google, saking pinternya Om Google pasti langsung ngasih feedback. Gak bakalan kayak doi kalo lagi ngambek ditanya diem saja. Sifat instan, efisien, fleksibel emang jadi ciri-ciri yang sangat dekat dengan Gen Z.

Internet dan teknologi memang seperti mata uang, di satu sisi kehadirannya memudahkan kita dan membuat lebih mandiri, di sisi lain kita jadi menginginkan semua hal dengan instan. Dari urusan menyelesaikan pendidikan sampai urusan belajar agama. Hayo siapa yang nyelesain tugas yang deadlinenya besuk tapi baru dikerjain selepas subuh? Udahlah gitu nanyanya ke Om Google lagi. Masa iya pemuda yang menyandang status agent of change ngerjain tugas pake sistem kebut semalam?

Nggak berhenti sampai situ aja kita jadi tahu A sampai Z tentang agama dari channel sosmed dengan begitu mudahnya. Walopun kadang kita masih pilih-pilih mana pendapat yang cocok buat kita…upsss.

Karakter instan yang melekat pada diri kita sebenarnya berperan besar dalam pembentukan mental. Generasi hari ini terbiasa mencari informasi yang lebih sederhana. Daripada membaca buku, kita lebih percaya membaca berita yang sudah disederhanakan di IG dengan judul yang nendang. Ditambah lagi kita jarang memvalidasi apakah berita yang kita baca benar-benar bisa dipercaya sumbernya alias valid. Semakin mudah mengakses informasi sebanding juga semakin banyaknya kita terkena hoax, sebab siapapun bisa mengunggah informasi, siapapun bisa mengomentarinya.

Sadarilah sob, jika setiap hari kita mengonsumsi informasi yang tidak valid, efek yang ditimbulkan buka hanya sehari dua hari, melainkan akan menjadi gambaran siapa diri kita. Karena infromasi yang kita konsumsi akan menjadi pemikiran, pemikiran akan membentuk pemahaman, pemahaman digunakan sebagai kompas untuk melakukan aktivitas, aktivitas yang dilakukan terus menerus akan menjadi habits (kebiasaan).
Kebayang nggak seandainya setiap hari beramal dengan pemahaman yang salah? Bisa jadi amalan kita nggak diterima Allah karena salah satu syaratnya tidak terpenuhi yaitu beramal dengan cara yang benar. Dan beramal dengan benar tidak bisa instan, butuh belajar. Ngeri banget nggak tuh kalau amalan kita nggak diterima karena syaratnya belum lengkap? 
Maka satu hal yang harus menjadi perhatian adalah karakter instan tidak boleh dilekatkan pada setiap kesempatan. Sebab semua butuh proses, bahkan untuk memasak mie instan sekalipun juga butuh proses.

Hadirnya kita di dunia ini juga melewati proses yang panjang, butuh sembilan bulan di dalam kandungan sampai detik teman-teman lahir di dunia. Kemudian terus tumbuh berproses, dari bayi merah yang mungil, tumbuh menjadi anak kecil yang lucu, sampai saatnya menginjak usia baligh adalah proses yang Allah siapkan sebelum akhirnya Allah berikan kewajiban untuk mengemban dua visi: beribadah dan menjadi pemimpin bumi (ingat memimpin bumi ya, bukan cuma memimpin diri sendiri).

Sejak saat mencapai baligh, Allah catat semua amal perbuatan kita. Rasulullah bersabda: “Pena (pencatat amal) akan diangkat dari tiga orang, yaitu: dari orang yang tidur sampai dia bangun, dari anak-anak sampai dia balig, dan dari orang yang gila sampai dia sadar (berakal).” (HR. Ibnu Majah). Hadis ini menunjukkan bahwa anak-anak, orang gila, dan orang yang tidur tidaklah dibebani dengan perintah dan larangan (dalam agama). Ini adalah bagian dari bentuk rahmat dan kasih sayang Allah terhadap mereka.

Sehingga jika sobat sudah baligh, wajib untuk menaati apa yang Allah perintahkan dan menjauhi apa yang Allah larang. Sehingga tidak bisa beramal seenaknya sendiri, karena setiap perbuatan kita ada hukumnya. Hai Sob, udah berapa tahun melewati fase baligh tapi masih gini-gini aja?

Sehingga alasan ogah ribet tidak bisa dijadikan dalih untuk tidak belajar agama Islam. Ulama-ulama terdahulu mampu produktif menuliskan 40 lembar tulisan setiap hari (padahal zaman dahulu akses ilmu tidak semudah hari ini). Lha kok kita kajian sepekan sekali saja ogah-ogahan. Jangan heran jika kita kesulitan mengemban dua tugas yang sudah Allah tetapkan di dunia ini, karena kita nggak mau belajar Islam. Akibatnya kerusakan terus terjadi, karena tidak menggunakan manual book instruction dari pencipta bumi. Sebagai contoh hari ini teknologi semakin maju, tapi moral bangsa juga semakin rusak.

Agar kerusakan tidak semakin menjadi-jadi, sudah saatnya kita menggunakan Islam yang mengatur seluruh kehidupan kita, termasuk karakteristik keinstanan kita. Sehingga tidak ada ceritanya pemuda yang terdistraksi dari visi hidupnya karena waktunya habis 10 jam di depan sosial media. Tidak ada orang yang salah fokus menggunakan internet sehingga terkena penyakit mental dan depresi.

Sobat, sadarilah bahwa Gen Z adalah cucunya para pemimpin. Nggak percaya? Coba lihat bio instagram teman-teman sobat sekalian, baru membuat komunitas kecil, sudah dituliskan founder komunitas A, ini menunjukkan bahwa karakter instan gen z tidak selamanya buruk, hanya saja karakter ini perlu dikelola dengan Islam. Sebab jika tidak kita akan senantiasa dieksploitasi oleh teknologi dan peradaban yang menaunginya.

Hari ini potensi pemuda yang penuh energi itu hanya disalurkan untuk joget-joget di depan tiktok, nongkrong di trotoar atau menyanyikan lagu patah hati. Padahal masa muda adalah masa yang paling berat pertanggungjawabannya. “Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi Rabb-Nya, hingga dia ditanya tentang lima perkara, tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan, serta apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya.” (HR Tirmidzi)

Sedangkan dengan Islam, pemuda diaruskan untuk mencita-citakan kewajiban, karena saking sulitnya menjalankan kewajiban sampai harus dicita-citakan. Tak heran mereka mendapatkan predikat umat terbaik. Muhammad Al-Fatih misalnya karena beliau mengerti menaklukkan Konstantinopel tidaklah mudah, beliau mencita-citakan hal tersebut dan mengarahkan potensinya untuk dibina dengan Islam, dan dengan izin Allah, Konstantinopel takluk di tangan Muhammad Al Fatih.

Siapkah teman-teman untuk menjadi bagian dari pemuda yang mencita-citakan kewajiban yang Allah firmankan di dalam Alquran? Mengingat banyaknya kewajiban yang belum bisa terterapkan sehingga perlu diperjuangkan. Maka selamat belajar, selamat berjuang dan tetap semangat mencita-citakan kewajiban! []

Jumat, 02 Desember 2022

Euforia Gila Bola

Setelah empat tahun menanti, akhirnya gelaran piala dunia 2022 di Qatar bergulir pertengahan November ini. Biasanya hajatan besar sepak bola ini dilaksanakan bulan Juni, tapi lantaran pertengahan tahun bertepatan dengan musim panas di Qatar yang suhunya bisa mencapai 50 derajat celcius akhirnya diundur menjelang akhir tahun. Meski begitu, euforia para gila bola tetep tak terbendung. 

Bayangin aja, selama pandemi sekitar 2 tahun semua pagelaran sepakbola minim penonton demi mencegah penularan wabah covid. Kini, kehadiran penonton setelah pandemi mereda ibarat botol minuman bersoda yang dikocok terus dibuka tutupnya, auto membuncah. 

Hasilnya, Piala Dunia 2022 yang digelar selama 29 hari ini diperkirakan akan dihadiri 1,5 juta turis mancanegara. Belon lagi yang nonton di rumah-rumah via layar kaca. Termasuk di negeri kita, meski harus beli set top box biar bisa nobar tetep dijabanin. Gaspol!

Sepakbola Tak Sekedar Permainan

Kalo kita ngulik sejarahnya, sepak bola pertama kali ada di Cina sekitar abad ke-3 dan 2 sebelum Masehi di masa Dinasti Han. Saat itu masyarakat China melakukan sepak bola dengan cara digiring dan dimasukkan ke dalam jaring kecil.

Bola yang digunakan pada masa ini terbuat dari kulit hewan. Masyarakat China dahulu menyebut olahraga yang dimainkan di atas bidang persegi ini dengan sebutan tsu chu. Tsu yang memiliki arti menerjang bola dengan kaki. Sementara itu, chu dapat diartikan sebagai sebuah bola yang memiliki lapisan kulit dan berisi.

Sepak bola kemudian berkembang dan menjadi olahraga populer ke seluruh dunia. Sehingga, resmi menjadi salah satu cabang olahraga pertama yang dipertandingkan dalam kompetisi olahraga terbesar di dunia, yaitu Olimpiade. Selanjutnya, piala dunia sebagai kompetisi sepak bola internasional pertama kali dilaksanakan pada tahun 1930 di Uruguay.

Antusias masyarakat terhadap sepakbola memancing berbagai kompetisi di berbagai tempat. Dari tingkat desa, hingga piala dunia. Tak ayal, pertandingan antar klub, daerah atau negara telah melahirkan fanatisme antar suporter. Fenomena kaya gini sering dianggap wajar sebagai ekspresi dari sebuah cinta atas dasar rasa se-tanah air, sebangsa, senegara, atau sebuah komunitas semu (fans club). Padahal, sikap ashobiyah ini gampang memancing kerusuhan yang dilakukan suporter. 

Yang terbesar, sekaligus yang terburuk di Eropa mungkin adalah Tragedi Heysel, pada laga antara Liverpool kontra Juventus di Final Liga Champions, 29 Mei 1985. Para Liverpudlian yang tak terima tim kesayangannya kalah 0-1 dari Juve, melancarkan serangan ke pendukung 'Bianconeri' dan mengakibatkan 39 orang tewas serta 600 orang luka. Sementara di Mesir, tercatat 74 orang meregang nyawa dan sekitar seribu orang mengalami luka-luka akibat kericuhan antarsuporter usai pertandingan antara klub Al Masry dengan Al Ahly, di Kota Port Said, Rabu 1 Februari 2012.

Selain memancing kerusuhan, ashobiyah juga melahirkan sikap rasisme atau merendahkan orang lain karena perbedaan ras atau warna kulit. Nuansa rasisme ini kental sekali di English Premier League. Sebuah survei yang dilakukan ICM Research dan hasilnya dipublikasikan BBC pada Mei 2004 memperlihatkan 51% dari responden menyatakan kalau Inggris adalah negara yang rasis. 

Selain tawuran, pasar taruhan selama ajang piala dunia juga cukup menggiurkan. Nilai taruhan pada Piala Dunia 2022 kini tembus US$35 miliar atau setara dengan Rp550 triliun. Menurut analis Barclays, jumlah ini meningkat 65 persen dari pertandingan Piala Dunia yang diadakan di Rusia pada 2018 silam. 
 
Terakhir yang sering luput dari perhatian remaja. Aksi nobar alias nonton bareng ajang piala dunia yagn sering digelar di cafe atau rumah makan. Laki perempuan campur baur kaya jemuran. Nggak sedikit yang memanfaatkan untuk mojok berduaan. Nggak ketinggalan, godaan setan pun berkeliaran menggoda setiap pasangan untuk bermaksiat. Dari sekedar nonton, ikut taruhan, sampe mabuk-mabukan. Parah!

Hati-Hati, Permainan yang Melalaikan
Dalam Islam, olahraga maupun permainan hukumnya mubah. Akan tetapi, Islam juga ngingetin jangan sampai aktivitas mubah ini berubah menjadi kegiatan lahwun munadhamun (kesia-siaan yang terorganisasi). Kata lahwun berasal dari kata laha yang berarti perbuatan yang dapat memalingkan seseorang dari kewajibannya, perbuatan yang menyibukkan seseorang dan dapat membuatnya berpaling dari kebenaran. 

Imam Asy-Syathibi menyatakan, “Hiburan, permainan, dan bersantai adalah mubah atau boleh, asal tidak terdapat suatu hal yang terlarang.” Selanjutnya beliau menambahkan, “Namun demikian, hal tersebut tercela dan tidak disukai oleh para ulama. Bahkan, mereka tidak menyukai seorang lelaki yang dipandang tidak berusaha untuk memperbaiki kehidupannya di dunia dan tempat kembalinya di akhirat kelak karena ia telah menghabiskan waktunya dengan berbagai macam kegiatan yang tidak mendatangkan suatu hasil duniawi dan ukhrawi.”

Setiap aktivitas olahraga maupun permainan yang menyebabkan manusia lalai dari tugas utamanya sebagai abdullah yang harus beribadah kepada Allah Swt. dan lalai untuk menyibukkan diri dari kewajiban menuntut ilmu dan berdakwah amar makruf nahi mungkar. Maka, sejatinya telah terjerumus pada hal yang sangat berdosa. Hati-hati!.

Apalagi permainan yang terorganisir itu bikin umat Islam terjerumus dalam kemaksiatan. Terbiasa mengumbar aurat, baik pemain maupun penonton; menunda atau malah meninggalkan salat; saling menghina, mengejek dan memancing perselisihan antara pemain maupun suporter. 

Inilah gambaran jelas lahwun munadhamun, kesia-siaan yang terorganisasi dan berdampak buruk bagi kehidupan seorang muslim di dunia terlebih di akhirat kelak. Allah Swt. telah mengingatkan di dalam firmannya;
“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau.…” (QS. Al-An’am: 32)

Jadi, kalo kamu suka nonton sepak bola, nikmati saja permainannya. Bukan sikap ashobiyahnya. Kalo kamu ngefans ama satu tim, bagusnya simpan dalam hati saja. Nggak perlu ditunjukkan dalam ekspresi berlebihan. Apalagi sampai sewot gak karuan karena tim kesayangan menelan kekalahan. Woles aja cuy!.

Yang perlu kita sadari, ajang kompetisi sepakbola seperti piala dunia selain menyuburkan ashobiyah juga bisa banyak menyita waktu dan perhatian umat. Akibatnya, umat nggak peduli lagi dengan masalah yang menimpanya selain urusan sepakbola. 
Padahal, Rasulullah saw mengingatkan kita agar ketika bangun di pagi hari auto mikir kondisi umat Islam bukan skor pertandingan. “Barangsiapa yang bangun pagi tetapi dia tidak memikirkan kepentingan umat Islam maka dia bukan bagian dari mereka (umat Nabi Muhammad saw ).” (HR. Muslim).

Umat nggak ngeh kalo lagi dijajah secara budaya dan pemikiran melalui gegap gempita ajang kompetisi olahraga yang diadakan secara periodik. Makanya tugas kita untuk menyadarkan umat akan bahaya ajang olahraga yang melenakan dan bersama-sama untuk aktif ikut ngaji dan terjun dalam aktifitas dakwah. Dijamin tak akan melalaikan tapi justru memuliakan. Yuk![341]

Tanda Cinta Untuk Guru


Pahlawan tanpa tanda jasa. Itulah gelar mulia yang diberikan kepada guru di negeri ini. Sudah fix kalo guru adalah sosok berjasa di balik perjalanan kita dalam menimba ilmu. Dari Taman Kanak-Kanak hingga Perguruan Tinggi. Baik di sekolah formal atau non formal.
Minggu ini, para pahlawan itu berulang tahun. Yup, negara menetapkan tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional. Lantas, bagaimana sikap terbaik kita sebagai tanda cinta untuk guru yang tak lekang oleh waktu? Biar nggak penasaran, kita spill caranya. 

Guru Sumber Ilmu

Dalam Islam, guru memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan mulia di sisi Allah SWT. Lantaran guru dengan keilmuannya bisa mengajar anak didik agar cerdas secara akademik dan terbangun kepribadian Islamnya. Nggak heran kalo dulu pemerintahan Islam, sangat menghargai profesi guru. Tak sekedar dikalulngi gelar pahlawan tanpa tanda jasa, tapi dijamin kesejahteraan hidupnya. Tanpa membedakan apakah guru PNS ataukah swasta atau honorer. Sama mulianya. 

Sejarah telah mencatat bahwa guru dalam naungan Islam mendapatkan penghargaan yang tinggi dari negara dengan memberikan gaji yang melampaui kebutuhannya. Diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah, dari Sadaqoh ad-Dimasyqi, dar al- Wadl-iah bin Atha, bahwasanya ada tiga orang guru di Madinah yang mengajar anak-anak dan Khalifah Umar bin Khattab ra. memberi gaji lima belas dinar (1 dinar = 4,25 gram emas; 15 dinar = 63,75 gram emas; bila saat ini 1 gram emas Rp. 850.000, berarti gaji guru pada saat itu setiap bulannya sebesar 54.187.500).

Asyik banget ya. Kalo para guru terjamin kesejahteraannya, tentu bakal ngasih perhatian penuh dalam mendidik anak-anak muridnya. Nggak lagi dipusingkan untuk mencari tambahan pendapatan. Tidak hanya itu, negara menurut Islam juga wajib menyediakan semua sarana dan prasarana dengan maksimal dalam menunjang profesionalitas guru menjalankan tugas mulianya.

Dalam kedudukannya sebagai sumber ilmu, perlakuan murid pada sang guru sangat terjaga adabnya. Seperti ditunjukkan para ulama. Nggak heran kalo mereka tumbuh dan menjadi tokoh-tokoh Islam yang dikenal karena ketinggian ilmunya. Apa aja sih yang dilakukan para ulama saat belajar pada guru-gurunya? 

Pertama, fokus dengerin penjelasan guru. 
Ibnul Jamaah mengatakan, “Seorang penuntut ilmu harus duduk rapi, tenang, tawadhu’, mata tertuju kepada guru, tidak membentangkan kaki, tidak bersandar, tidak pula bersandar dengan tangannya, tidak tertawa dengan keras, tidak duduk di tempat yang lebih tinggi juga tidak membelakangi gurunya”.

Bahkan diriwayatkan Yahya bin Yahya Al Laitsi tak beranjak dari tempat duduknya saat para kawannya keluar melihat rombongan gajah yang lewat di tengah pelajaran, Yahya mengetahui tujuannya duduk di sebuah majelis adalah untuk mendengarkan apa yang dibicarakan gurunya bukan yang lain.

Kedua, berbicara sopan kepada guru. 
Para Sahabat Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam, muridnya Rasulullah, tidak pernah kita dapati mereka memotog ucapannya atau mengeraskan suara di hadapannya. Bahkan Umar bin Khattab yang terkenal keras wataknya tak pernah meninggikan suaranya di depan Rasulullah. Dalam hadist Abi Said al Khudry radhiallahu ‘anhu juga menjelaskan,
"Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satu pun dari kami yang berbicara” (HR. Bukhari).

Ketiga, sabar dalam membersamai sang guru. 

Kalo kamu kena teguran karena tak mengerjakan tugas? Dapat hukuman lantaran bercanda kelewatan? Atau kena sentil karena gangguin teman? Woles aja. Meski sakit hati, bikin malu, dan ngerasa nggak nyaman, tetap bersabar dan jangan pernah berpaling dari kebaikan guru. Apalagi sampai bertindak kasar dan melawan. Atau malah menjelek-jelekkan nama baiknya di sosial media biar viral. Nggak banget. 

Al Imam As Syafi Rahimahullah mengingatkan, “Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru
Sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya”

Berbahagialah selagi masih ada guru yang sabar mengajari kita. Jangan pernah melupakan kebaikan para guru yang dengan telaten membimbing kita. Mereka yang telah mengantarkan kita pada titik ini dan kelak pada puncak keberhasilan di dunia dan akhirat. Seperti dalam lagu salah satu group band “Aku ada karena kau pun ada....”

Muliakan Gurumu, Berkah Ilmumu

Burhanuddin az-Zarnuji berkata, “Orang-orang yang hadir di majlis ilmu itu banyak, namun mengapa yang keluar (berhasil) hanya sedikit? Hal itu, karena kebanyakan mereka tidak mengerjakan adab penuntut ilmu.”

Catet tuh. Salah satu faktor yang menjadi kesuksesan para penuntut ilmu adalah komitmen mereka dalam menjaga adab alias sopan santun saat menjalani proses bejalar. Baik ketika menimba ilmu maupun perlakukan mereka terhadap para guru. Kenapa menjaga adab itu sangat penting, terutama bagi kita selaku pelajar? 

Mencintai ilmu berarti mencintai orang yang menjadi sumber ilmu. Menghormati ilmu berarti harus menghormati pula orang yang memberi ilmu. Itulah guru. Tanpa pengajaran guru, ilmu tak akan pernah bisa didapatkan oleh si murid.

Seorang ulama, DR. Umar As-Sufyani Hafidzohullah mengatakan, “Jika seorang murid berakhlak buruk kepada gurunya maka akan menimbulkan dampak yang buruk pula, hilangnya berkah dari ilmu yang didapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya, atau tidak dapat menyebarkan ilmunya. Itu semua contoh dari dampak buruk.”

Seperti apa bentuk memuliakan guru, kita bisa merujuk pada kitab Ta’lim Muta’alim karya Sheikh Az-Zarnuji. Di antaranya, 
Seorang murid tidak berjalan di depan gurunya
Tidak duduk di tempat gurunya
Tidak memulai bicara padanya kecuali dengan izin guru
Harus menjaga waktu, jangan mengetuk pintunya, tapi menunggu sampai guru keluar
Seorang murid harus mencari kerelaan hati guru, harus menjauhi hal-hal yang menyebabkan guru marah, mematuhi perintahnya asal tidak bertentangan dengan agama.

Termasuk menghormati guru adalah juga dengan menghormati putra-putra guru, dan sanak kerabat guru
Jangan menyakiti hati seorang guru karena ilmu yang dipelajarinya akan tidak berkah.

Inilah salah satu penerapan dari hadits Rasulullah saw: 
“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti hak ulama” (HR. Ahmad).

Mari kita tunjukkan tanda cinta untuk guru yang tak lekang oleh waktu. Awali dengan menunjukkan penghormatan kita pada semua guru. Agar ilmu mudah kita terima dan bermanfaat untuk semua. Muliakan gurumu, berkah ilmumu. Yuk!

Rabu, 28 September 2022

HIJABKU PELINDUNGKU


 
 
Ada yang spesial untuk muslimah di setiap September. Teman-teman udah pada tahu apa yang spesial? Yapz, sejak 2004 lalu telah ditetapkan hari solidaritas hijab internasional setiap 4 September. Spesial banget kan?
 
Btw, apa sih yang melatarbelakangi adanya hari solidaritas hijab internasional ini? Betul banget, guys. Momen ini diadakan sebagai bentuk dukungan bagi muslimah di seluruh dunia untuk mengenakan hijab tanpa perlu takut diintimidasi atau dikriminalisasi. Sebab faktanya memang demikian, masih banyak negeri-negeri yang secara resmi melarang penggunaan hijab bagi muslimah. Mengsedih banget sih rasanya.
 
Kalau secara internasional ada momen dukungan bagi muslimah untuk berhijab, lain lagi cerita di negeri kita tercinta. Meski katanya menjadi salah satu negara yang turut mendukung Hari Solidaritas Hijab Internasional, nyatanya perkara hijab masih saja dipersoalkan. Persoalan yang tampaknya sengaja digiring menggelinding sampai bikin pusing.
 
Teman-teman sudah tahu dong beritanya. Ramai diberitakan bahwa seorang siswi jadi depresi gara-gara katanya dipaksa memakai kerudung. Hal yang bikin janggal, auto ramai pula seruan untuk mengembalikan seragam sekolah seperti tempo doeloe, Guys. Rok span selutut dan baju berlengan pendek bagi siswi. Lengkap dengan jargon ”Sekolah negeri bukan sekolah Islam!” Nah, loh! Bikin puyeng enggak tuh, Guys?
 
Ya, seolah-olah berkerudung itu menjadi beban mental yang menakutkan. Lebih menakutkan dari narkoba bahkan pergaulan bebas. Dari pada kampanye menolak kerudung di sekolah, apakah tidak lebih baik menolak gaul bebas ya? Bukankah kerudung itu memuliakan sedangkan gaul bebas itu menghinakan? Tapi kok malah banyak yang memilih gaya dan gaul bebas ya? Hem, gimana-gimana? Mumpung momennya lagi ramai tentang Hari Solidaritas Hijab Internasional, yuk kita kuliti aja tentang perkara hijab. Gaskeun!
 
Perempuan Itu Mulia
 
Guys, tahu enggak sih kalau perempuan itu sangat dimuliakan dalam Islam? Bahkan Islam memandang bahwa perempuan itu adalah kehormatan yang wajib dijaga. Tidak boleh asal-asalan dalam memperlakukan sosok perempuan.
 
Begitu istimewanya perempuan dalam Islam, sampai-sampai dibuatkan tutorial khusus untuk menjaga diri si kaum hawa ini. Ada batasan aurat yang harus dilindungi. Tidak boleh sembarang mata memandang. Apalagi sembarang tangan menyentuh, sungguh ini tidak dibenarkan. Perempuan dalam Islam itu bagai berlian. Ya, memang sesepesial itu, Guys.
 
Oleh karena itu, yang namanya berlian pasti ditempakan di tempat istimewa pula. Tidak mungkin dibiarkan terbuka begitu saja di pinggir jalan. Tidak boleh setiap orang asal-asalan memegang. Berlian akan berada di dalam toko yang super eksklusif. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihat dan menyentuhnya. Super banget, kan?!
 
Begitulah posisi perempuan dalam frame Islam. Diperlakukan bagai berlian. Oleh sebab itu, auratnya harus terjaga. Diberi hijab sempurna. Agar terhindar dari tatapan dan sentuhan liar yang menghinakan. Guys, meleleh enggak sih dijaga sampai sebegininya?
 
Jadi, ketika ada perintah memakai hijab semestinya kita kudu gimana dong? Mengsedih atau mengbahagia nih? Ngerti kan jawabannya? Ngerti dong. Masak enggak ngerti! 
 
Berhijab Titah Tuhan, Bukan Tawaran
 
Bestie-bestie saleha, saat ini kita memang sedang berada di medan pertempuran pemikiran. Di mana antara yang hak dan batil saling bergumul sengit. Serbuan informasi begitu dahsyat menghantam benak kita setiap hari. Gawatnya, saat ini informasi sesat lebih mendominasi daripada informasi yang benar.
 
Saat ini standar baik atau buruknya sesuatu dinilai berdasarkan asas manfaat semata. Sama sekali tidak memandang halal atau haram, Guys. Lebih ekstrim lagi, sesuatu dikatakan benar atau salah tergantung pada kenyamanan setiap individu. Sesuatu dikatakan benar ketika si individu merasa nyaman, dan sesuatu itu disebut salah ketika si individu merasa tidak nyaman. Gawat berlipat-lipat ini, Guys!
 
Artinya kebebasan menjadi sebuah gaya hidup yang digaungkan. Bebas berpendapat. Bebas berekspresi. Dan bebas apa saja. Seolah-olah kebahagiaan itu hadir karena adanya kebebasan. Padahal sesuatu yang bebas itu biasanya akan menyebabkan kebablasan dan berujung pada kebinasaan. Serem enggak sih, Bestie?
 
Sebagai seorang muslim semestinya kita sadar bahwa hidup kita diatur sepenuhnya oleh Sang Pencipta. Tidak ada kebebasan secara mutlak untuk kita. Sebab hakikatnya apa yang ada pada diri kita adalah titipan Tuhan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Oleh karena itu, kita tidak boleh semaunya sendiri dalam mengatur diri, ada rambu-rambu yang harus kita taati.
 
Ya, misalnya berkaitan degan tata cara berbusana. Kita semestinya memahami bahwa menutup aurat itu adalah kewajiban. Sebagaimana yang telah Allah SWT firmankan dalam QS. An-Nur ayat 31 dan QS. Al-Ahzab ayat 59.  So, berhijab dalam rangka melindungi aurat adalah titah Tuhan, bukan tawaran. Maka, tidak layak bagi kita menawar-nawar apa yang telah Tuhan titahkan. Tugas kita adalah mendengar dan menaati apa-apa yang sudah dititahkan.
 
Tidak perlu bertanya kenapa. Karena setiap perintah dan larangan sudah pasti telah Allah SWT perhitungkan. Bukan untuk menguntungkan Allah SWT loh ya. Semua perintah dan larangan-Nya justru dalam rangka menjaga kita dari berbagai mara bahaya. Baik di dunia ataupun di akhirat nanti. Sesayang itu loh Allah SWT sama kita. Yakin enggak jauh cinta? 
 
Sungguh, tidak ada yang paling tahu tentang diri kita kecuali yang menciptakan kita. So, tugas kita di bumi ini simple banget sebenarnya. Tinggal manut dan nurut dengan rambu-rambu dari Sang Maha Pencipta. Maka insyaallah akan mendapatkan kemuliaan plus kebahagiaan. Jadi enggak ada ceritanya trauma karena titah Allah SWT. Sebab kita paham, bahwa ini adalah kebaikan. Sip, ya!
 
Yuk Belajar Islam
 
Guys, karena peluru kebebasan yang menyesatkan itu begitu cepat melesat, maka kita butuh tameng yang tebal dan kuat. Jangan sampai kita lumpuh dan tergelepar dengan serbuan ide-ide kebebasan. Sehingga kita menjadi generasi Islam yang kehilangan jati diri dan mudah depresi. Jangan ya, Guys!
 
Oleh karena itu penting bagi kita untuk belajar Islam. Tidak cukup sekadar belajar tentang ibadah ritual semata. Sebab Islam adalah jalan hidup, sehingga kita perlu belajar Islam secara keseluruhan. Bagaimana tata cara berpakaian, batasan interaksi dengan lawan jenis, dan lain sebagainya. Semua ada aturannya dalam Islam. Kita tinggal pahami, yakini, dan mentaati. Mengamalkan seluruh syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga kita selamat dan bahagia, di dunia hingga surga.


***

Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

https://yubi.id/koreapi1453