Kamis, 14 Maret 2024

BERIKAN YANG TERBAIK BESTIE!

Hukum alam bilang, apa yang kita dapatkan sesuai dengan apa yang kita berikan. Bahasa bulenya, what you get is what you give. Kita ngukurnya dalam perkara yang kita kuasai sebagai manusia ya.

Misal ketika seorang pelajar ngotot belajar menjelang ujian. Setiap waktu luangnya dia pakai untuk mengulang pelajaran. Rajin berlatih soal atau belajar mandiri secara online. Insya Allah dia lebih berpeluang untuk menyelesaikan soal-soal ujian dengan hasil memuaskan.

Sebaliknya, kalo ada pelajar lain yang malas-malasan belajar menjelang ujian. Waktu luangnya lebih banyak dipake mabar atau scrolling gaje linimasa sosial media. Bisa jadi dia bakal keteteran menjawab soal-soal ujian. Jurus andalannya hanya ngitung kancing. Atau nyari contekan. Hasilnya, zonk!

*# Remaja Muslim Premium*

Sebagai seorang muslim, kita diperintahkan mengisi hari-hari kita dengan ibadah. Sebagaimana Allah swt firmankan: _“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”_ *(TQS. Az-Zariyat; 56)*

Ngomongin paerkara ibadah, pastinya kita sudah hafal di luar kepala. Minimal kalo ditanya rukun Islam mah auto bener urutan jawabannya. Dari mulai syahadat hingga menunaikan ibadah haji. Dan biasanya, lima aktifitas ini yang sering dijadikan standar ibadah prioritas.

Padahal, kalo kita ulik lagi aktifitas ibadah yang mencerminkan hubungan manusia dengan Allah swt, gak cuman rukun Islam aja. Ada juga ibadah sunah yang jadi keutamaan dilakukan setelah ibadah wajib kelar dikerjain. Atau pilihan terbaik daripada nongkrong, mabar, atau sekedar mager.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, _“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat”_ *(HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)*

Ibnu Rajab berkata, _“Jika seseorang meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat, kemudian menyibukkan diri dengan hal yang bermanfaat, maka tanda baik Islamnya telah sempurna”_ *(Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 295)*

Inilah hakikat remaja muslim premium. Sehari-hari membiasakan diri untuk mengutamakan nilai yang lebih mulia. Prinsipnya, untuk ibadah yang sunah kalo gak dikerjain bukan dipahami gak apa-apa. Tapi rugi pake banget. Lantaran kehilangan kesempatan untuk menambah tabungan pahala.

Dan balasan bagi remaja muslim premium itu gak main-main lho. Dalam hadits qudsi dari Abu Umamah riwayat ath-Thabrani di dalam al-Kabir, Rasulullah saw bersabda

_“...Hamba-Ku yang terus-menerus mendekatkan dirinya kepadaKu dengan melaksanakan ibadah sunah, maka pasti Aku akan mencintainya. Maka (jika Aku telah mencintainya) Aku akan menjadi hatinya yang ia berpikir dengannya; Aku akan menjadi lisannya yang ia berbicara dengannya; dan Aku akan menjadi matanya yang ia melihat dengannya. Jika ia berdoa kepada-Ku, maka pasti Aku akan mengabulkannya. Jika ia meminta kepadaKu, maka pasti Aku akan memberinya. Jika ia meminta pertolongan kepada-Ku, maka pasti Aku akan menolongnya. Ibadah hambaKu yang paling Aku cintai adalah memberikan nasihat.”_

*# Berikan Yang Terbaik Darimu*

Remaja muslim premium nyadar kalo hidupnya gak cuman di dunia. Tapi bakal dihidupkan lagi di alam akhirat untuk mempertangungjawabkan perilakunya selama hayat masih di kandung badan.

Terlebih lagi Rasulullah SAW menjelaskan tentang perkara-perkara yang akan ditanyakan pada hari kiamat, beliau bersabda: _“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya”_ *(HR. Tirmidzi).*

Untuk itu, dia akan selalu memberikan yang terbaik dari empat hal di atas.

*# Tentang usianya,* dia bercermin pada Sahabat Mushab bin Umair yang memaksimalkan usianya untuk belajar dan berdakwah. Sebelum kenal Islam, beliau terbiasa ikut bersama ayahnya dalam pertemuan para tokoh masyarakat Quraisy di Darun Nadwah. Dia menyimak bagaimana para tokoh itu berdiskusi dan berdebat. Sehingga beliau punya kemampuan yang mumpuni dalam berdiplomasi.

Setelah kenal Islam, Mush’ab diutus ke Yatsrib (Madinah) untuk mempersiapkan tempat hijrah Rasul. Meski masih belia, beliau tak gentar menghadapi pimpinan suku Auz dan Khajraz. Dan hasilnya, penduduk dua suku terkenal di Madinah itu berbondong-bondong masuk Islam setelah para pemimpinnya bersyahadat di hadapan Mush’ab.

*# Tentang Ilmunya,* dia meneladani sahabat Zaid bin Tsabit yang ilmunya dalam bidang literasi digunakan untuk menjadi sekretaris Rasulullah. Suatu saat, seorang anak yang usianya belum genap 13 tahun berjalan mendekati barisan pasukan muslim. Dia membawa sebilah pedang yang panjangya melebihi tinggi badannya. Dia mendatangi Rasulullah saw dan minta izin agar ikut berjihad.

Namun Rasulullah saw menolak karena usia Zaid masih belia. Meski begitu, Rasul memerintahkan Zaid untk belajar bahasa dan tulisan Yahudi. Karena kecerdasan, keterampilan, dan ketekunannya, Zaid berhasil menguasai bahasa Ibrani dan Syriac. Tak hanya itu, kepiawaian Zaid juga membantu Rasulullah saw dalam menghafal dan menuliskan wahyu segera setelah ayat-ayat tersebut diturunkan.

*# Tentang Hartanya,* dia meniru sahabat Thalhah bin Ubaidillah. Seorang pemuda Quraisy yang memilih untuk bergelut di dunia perdagangan sebagai profesinya. Walau masih sangat muda, dia memiliki kelebihan dalam mengatur strategi berdagang yang cerdik dan pintar sehingga dapat mengalahkan pedagang yang lebih tua.

Suat saat, Thalhah menerima keuntungan dari Hadramaut, sebuah lembah di Yaman, senilai 700 ribu dirham (setara dengan Rp 35 miliar sekarang). Kemudian istrinya, Su’da binti Auf, menyarankan untuk membagikan harta tersebut pada fakir miskin. Ia pun membagikan hartanya hingga tak bersisa sedikit pun. Untuk itu, Rasulullah saw menjulukinya Thalhah Al-Jaud (Thalhah yang pemurah) serta Thalhah Al-Fayyadh atau Thalhah yang dermawan.

*# Tentang Tubuhnya,* dia menjadikan sahabat Usamah bin Zaid sebagai role model. Usamah merupakan panglima Islam termuda sekaligus panglima terakhir yang ditunjuk langsung oleh Rasulullah. Ia mulai memimpin perang pada usia 18 tahun.

Bersama pasukannya, Usamah bergerak cepat meninggalkan Madinah menuju perbatasan Syam. Setelah melewati beberapa daerah yang masih tetap memeluk Islam, akhirnya mereka sampai di Wadilqura. Dengan strategi perang yang matang, pasukan Usamah mampu mengalahkan musuh dari pasukan Romawi secara cepat. Setelah 40 hari kemudian, mereka kembali ke Madinah membawa sejumlah harta rampasan perang serta tanpa jatuh korban satu pun.

Teman surga, berikan yang terbaik dari diri kita untuk Islam dan mengejar ridho Allah swt sesuai dengan kemampuan. Waktu kita maksimalkan untuk mengenal Islam lebih dalam. Baca buku Islam atau ikut kajian pekanan. Ilmu yang kita kuasai, apapun bidangnya, maksimalkan untuk berkontribusi dalam kebangkitan Islam dan kaum Muslimin. Harta yang kita punya, meski masih dapat subsidi dari orang tua, sisihkan untuk bersedekah dan membantu orang yang membutuhkan. Serta tubuh kita, maksimalkan untuk berolahraga dan menjaga stamina agar aktifitas dakwahnya nggak kendor.

Mari jadikan diri kita bagian dari barisan remaja muslim premium. Selalu memberikan yang terbaik dalam keaatan serta getol ikut pengajian. You are the best! []

SCREEN TIME VS QUALITY TIME

Wabah pandemi covid-19 sudah lama berakhir. Namun jejak digitalnya, masih merajalela. Bukan, pemberitaan warga yang terpapar virus, tapi perilaku digital imbas dibatasinya aktifitas luar rumah saat pandemi lalu. Terutama di kalangan remaja yang belum bisa move on dari perilku screen time yang over. Waduh!

Dan ternyata, berdasarkan sebuah laporan firma riset data.ai, “State of Mobile 2023”, masyarakat Indonesia berada di ranking teratas secara global sebagai pengguna internet terlama di dunia tahun 2022 lho. Hal ini diketahui dari data durasi screen time dengan rata-rata 5,7 jam per hari. Lebih tinggi sedikit bila dibandingkan dengan Brasil dan Arab Saudi yang mempunyai waktu sekitar 5,3 jam tiap harinya, disusul Korea Selatan dan Singapura. Dan Gen Z adalah kelompok tertinggi yang lama melakukan screen time-nya, yakni mencapai 35%! 

*# Hati-hati Dampak Buruk Screen Time!*

Di balik keseruan bermain HP, banyak dampak negatif yang menyertainya kalo kita kebablasan durasi screen timenya. Apa saja?

*1. Mager Mode: ON!*

Kalo udah betah screen time, biasanya auto mager. Tiduran di kasur sambil scrolling media sosial memang pw banget. Apalagi kalo sambil ngemil makanan ringan. Gak mau berhenti. Kebayang kalo selama screen time, ngunyah terus. Alamat tambun tuh badan. Kalo udah gini, obesitas mengintai remaja. Hati-hati!

Tahu kan kalo obesitas itu berpotensi menimbulkan serangkaian masalah kesehatan lainnya lo, seperti kolesterol, asam urat, diabetes, darah tinggi, dan lainnya. Belum lagi, gangguan mata akibat posisi layar dan radiasi ponsel. Ih jangan sampai deh!

*2. Waktu Tidak Produktif*

Saat liburan, remaja paling banyak mengisi hari-hari liburnya hanya di depan layar gadget. Mentang-mentang gak ada kegiatan sekolah, ngerasa punya me time seharian untuk cari hiburan dari genggaman tangan. Ngerinya, kontent sosial media kan gak ada sensor. 

Dan pastinya, kontent mendidik kalah banyak dengan konten unfaedah yang joget-joget gak karuan, prank, sampai kontent untuk konsumsi dewasa. Belon lagi, game online yang nyandu bikin remaja ogah geser dari tempat duduknya. Waktu produktifnya hangus!

*3. Mudah Cemas dan Stres*

“Anak-anak yang cenderung memiliki banyak screen time dan menggunakan media sosial tanpa aturan dapat mengalami masalah kesehatan mental. Anak-anak ini menonton konten kekerasan atau mengganggu yang dapat merusak kesehatan mental mereka. Ini bisa menjadi masalah yang memprihatinkan karena anak-anak bisa menjadi stres, cemas, depresi, kasar, frustrasi, dan juga merasa kesepian,” kata ahli bedah umum AS, Dr Vivek Murthy. 

*# Waktumu Masa Depanmu*

Tanpa sadar, screen time sering kali merenggut quality time kita. Saking asyik dan serunya berselancar di dunia maya, jadi lupa waktu dan lupa diri. Lupa kalo waktu yang udah berjalan gak bisa balik lagi. Waktu yang sudah terbuang gak bisa didaur ulang. Padahal dalam urusan waktu, Islam udah wanti-wanti agar kita jangan teledor. 

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menyebutkan sebuah perkataan: _“Waktu ibarat pedang, jika engkau tidak menebasnya maka ialah yang akan menebasmu. Dan jiwamu jika tidak kau sibukkan di dalam kebenaran maka ia akan menyibukkanmu dalam kebatilan”_ *(Dinukil oleh Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Al-Jawaab Al-Kaafi hal 109 dan Madaarijus Saalikiin 3/129)*

Ibnul Qoyyim rahimahullah juga berkata: _“Waktu seseorang itulah hakekat umurnya, dialah penentu kehidupan abadinya (di kemudian hari), apakah dalam kenikmatan abadi ataukah dalam kehidupan sengsara dalam adzab abadi yang pedih. Waktu berlalu lebih cepat dari aliran awan. Maka siapa saja yang waktunya dihabiskan untuk Allah dan karena Allah maka waktu itulah hakekat umur dan kehidupannya. Adapun selain itu (jika waktunya tidak dihabiskan untuk dan karena Allah) maka waktu tersebut pada hakekatnya bukanlah termasuk kehidupannya, akan tetapi kehidupannya laksana ibarat kehidupan hewan. Jika ia menghabiskan waktunya dalam kelalaian dan syahwat, serta angan-angan yang batil, dan waktu yang terbaiknya adalah yang ia gunakan untuk tidur dan nganggur maka matinya orang yang seperti ini lebih baik dari pada hidupnya” (Al-Jawaab Al-Kaafi hal 109)_

Syaikh ‘Abdul Malik Al Qosim turut mengingatkan, _“Waktu yang sedikit adalah harta berharga bagi seorang muslim di dunia ini. Waktu adalah nafas yang terbatas dan hari-hari yang dapat terhitung. Jika waktu yang sedikit itu yang hanya sesaat atau beberapa jam bisa berbuah kebaikan, maka ia sangat beruntung. Sebaliknya jika waktu disia-siakan dan dilalaikan, maka sungguh ia benar-benar merugi. Dan namanya waktu yang berlalu tidak mungkin kembali selamanya.”_ *(Lihat risalah “Al Waqtu Anfas Laa Ta’ud”, hal. 3)*

Biar gak teledor sampai lupa menyukuri nikmat waktu, pastikan kita jadikan setiap waktu kita berkualitas. Meskipun sedang screen time. Caranya? 

# Pertama, setiap waktu yang kita pakai bisa menambah pahala. Kalo lagi screen time dan berselancar di dunia maya, jadikan sarana untuk berdakwah. Sharing nasihat, quote dakwah, atau catatan kebaikan yang bisa menginspirasi pembacanya untuk berbuat baik. Nggak usah baperan meski yang ngasih jempol, komentar, atau share-nya cuman seuprit. Just do it. Karena tujuan kita ridho Allah dan berbuah pahala dari jejak digital yang kita tinggalkan. 

Dan kalo pas lagi gak ada kuota, manfaatkan waktu untuk mengurangi screen time. Alokasikan waktunya untuk aktifitas ibadah yang berbuah pahala. Shalat sunah, baca qur’an, atau membantu orang lain yang membutuhkan. 

Ibnu Mas’ud berkata, _“Tiada yang pernah kusesali selain keadaan ketika matahari tenggelam, ajalku berkurang, namun amalanku tidak bertambah.”_

# Kedua, setiap waktu yang kita pakai bisa menambah ilmu. Ini quality time yang tak boleh terlewatkan. Selama kita hidup, kita dituntut untuk terus belajar, berkembang, dan menambah kapasitas keilmuan. Lantaran saban hari, masalah datang silih berganti. Bukan cuman soal ujian sekolah yang bikin pusing tujuh keliling. Tapi justru masalah di luar sekolah yang bisa merenggut masa muda saat kita gak nemu jalan keluarnya. 

Karena itu, jangan habiskan waktu kita dengan aktifitas unfaedah berbalut screen time. Manfaatkan waktu kita untuk membaca buku pelajaran, melahap bacaan Islam, melototin video dakwah, olahraga, atau aktifitas fisik untuk mengasah skill. 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, _“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.”_ *(HR. Tirmidzi, no. 2317; Ibnu Majah, no. 3976)*

Nah Teman Surga, kurangi durasi screen time yang hanya dihabiskan untuk mabar, nonton video unfaedah, atau scrolling gaje lini masa sosial media. Mari jadikan setiap waktu kita quality time untuk nambah pahala dan nambah ilmu. Karena waktumu, masa depanmu! []

REMAJA PENGEN MANDIRI? NORMAL KOK!

Memasuki umur belasan tahun, umumnya remaja mulai ngerasain perubahan yang terjadi pada dirinya. Dari mulai perubahan fisik sampe non fisik. Suara yang pecah, adanya jakun pada cowok, mimpi basah, haid, atau mulai matangnya organ-organ reproduksi menunjukkan adanya perubahan fisik.

Tapi untuk perubahan non fisik yang meliputi kelabilan emosi, perkembangan jiwa, dan pembentukan karakter, nggak keliatan jelas. Kita cuma bisa nebak dari gejala yang ditunjukkan remaja dalam perilakunya. Pakar psikologi bilang, fase ini dikenal dengan proses pencarian jati diri yang dilalui remaja untuk mengetahui peranan dan kedudukannya dalam lingkungan sekaligus mengenali dirinya lebih dekat. Catet tuh!

Dalam proses pencarian jati diri ini, remaja biasanya memerlukan kemandirian yang menurut Sutari Imam Barnadib meliputi: ”Perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi hambatan/masalah, mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain.”

Ya, alon-alon remaja berusaha melepaskan ikatan psikis dengan orang tua. Mereka pengen dihargai sebagai orang dewasa. Pengen bisa berpikir secara merdeka; bisa mengambil keputusan sendiri; punya hak untuk menerima atau menolak masukan dari pihak lain; dan belajar bertanggung jawab terhadap setiap perbuatannya.” Hmm, asyik kali, ya?

Itulah penjelasan dari pakar psikolog akan kebebasan yang dikehendaki remaja. Intinya sih, remaja pengen mandiri. Nggak cuma makan atau mandi sendiri, tapi juga dipercaya dalam berpikir, berbuat, dan bersikap sesuai dengan keinginannya. ”Masa’ mama nggak ngerti sih?”.

*# Ketika Kebebasan Menjadi Kebablasan*

Setiap orang tua pasti ngerti kalo suatu saat nanti, mereka kudu rela melepaskan anaknya hidup mandiri. Namun, gencarnya arus budaya Barat yang membidik remaja membuat tuntutan kebebasan remaja bergeser menjadi liar tak terkendali. Pola hidup sekuler yang dipraktikkan masyarakat Barat jelas-jelas bertolak belakang dengan kehidupan kita selaku Muslim. Parahnya, gaya hidup sekuler itu makin populer di mata remaja dan sering kali menjadi acuan dalam perjalanannya mencari identitas diri. Bahaya kan?

Beberapa akibat kebebasan yang kebablasan hasil jiplakan remaja terhadap budaya Barat adalah:

# Pertama, free thinker alias bebas berpikir. Remaja ngerasa punya hak untuk berpikir tanpa dibatasi oleh norma-norma agama. Yang penting bisa cari jalan keluar dari masalah yang dihadapi atau cari cara biar keinginannya terpenuhi. Sebodo amat meski harus ngambil jalan pintas untuk lari dari masalahnya dengan bunuh diri, nge-drugs, atau nyekek botol minuman keras.

Bisa juga jadi pelaku kriminal atau terjun ke dunia prostitusi pas lagi pengen punya duit lebih demi memenuhi tuntutan tren pergaulan. Ada juga yang mempertaruhkan harga diri dan kehormatannya dalam kontes kecantikan demi popularitas dan limpahan harta. Urusan dosa atau penjara, itu mah belakangan. Ih, ngeri banget deh jadinya.

# Kedua, permissif alias bebas berbuat. Mau ngapain aja di mana aja, banyak yang dijadiin prinsip hidup oleh remaja dalam berbuat. Pokoknya serba ada, eh serba boleh. Mulai dari cara berbusana, berdandan, berbicara, bergaul, atau berperilaku. Bangga jika daya tarik seksualnya disapu setiap mata lawan jenis yang jelalatan. Antimalu jadi pusat perhatian orang lantaran dandanannya yang urakan, norak, dan kekurangan bahan. Dan nggak punya rem buat ngendaliin tutur katanya. Ceplas-ceplos bin asal bunyi. Dan semuanya dilakukan tanpa risih dengan mengantongi label kebebasan berekspresi. So what gitu lho!

# Ketiga, free Sex alias pergaulan bebas. Saat ini, pergaulan bebas antar lawan jenis yang banyak digandrungi remaja sangat mudah terkontaminasi unsur cinta dan seks. Apalagi ditambah dengan kampanye terselubung antijomblo yang diopinikan media via sinetron remaja. Setiap remaja ngerasa kudu punya gacoan biar eksis dalam pergaulan.

Nggak sebatas punya gacoan, pergaulan bebas pun sangat membuka peluang bagi remaja untuk aktif melakukan aktivitas seksual. Pemicunya, bisa karena terpapar pornografi dan pornoaksi yang merajalela di dunia maya. Kurangnya kontrol dari orang tua, sekolah, atau masyarakat bikin mereka enjoy berpetualang menikmati kepuasan sesaat. Gaswat dongs?

Kalo kondisinya seperti di atas, orang tua mana yang nggak keder ortu dengan kebebasan remaja saat ini. Niat ortu ngasih kebebasan biar mandiri, bisa-bisa nyasar malah anak remajanya kehilangan harga diri. Berabe khan?

*# Dewasa di Usia Remaja*

Sobat, kemandirian bagi remaja memang sangat diperlukan untuk mendukung perkembangan jiwanya. Tapi kita kudu mikir seribu kali kalo remaja dibiarkan menafsirkan sendiri kebebasan yang dikehendakinya. Jiwanya yang labil sangat mudah terwarnai oleh lingkungan sekitar. Gelora jiwa mudanya paling gampang terpincut ama budaya Barat yang steril dari aturan Islam.

Makanya kita selaku remaja Muslim wajib nyadar kalo kebebasan dalam berpikir dan berperilaku nggak pernah diajarin dalam Islam. Islam ngajarin adanya kehidupan akhirat yang akan meminta pertanggungjawaban setiap amal perbuatan kita di dunia. Otomatis ini nyambung dengan tabungan pahala dan dosa yang kita kumpulkan sepanjang hidup di dunia. Tiket surga bakal kita peroleh kalo pahala kita surplus.

Sebaliknya, kita bakal diceburkan ke dalam neraka seandainya dosa kita yang surplus. Dan pahala itu baru kita dapetin kalo Allah ridha dengan perbuatan kita. Itu berarti keterikatan dengan aturan Islam seharusnya jadi standar perbuatan dalam keseharian kita. Kalo udah gini, masa’ iya kita mau melepaskan diri dari aturan Allah demi sebuah kebebasan? Allah SWT berfirman:

"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?" (TQS Al Maidah: 50)

Usia remaja mengharuskan kita belajar untuk bertanggung jawab. Sebagai pengingat, kita bisa renungkan firman Allah SWT:

"Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya..." (TQS Al Mudatsir: 38)

Masa depan di dunia dan akhirat ada di tangan kita. Bukan dalam genggaman orang tua atau uluran tangan dari seorang teman. Proses pembelajaran itu bisa kita awali dengan giat mengkaji Islam. Agar kita makin ngeh dengan hubungan kehidupan dunia dan akhirat.

Selain itu, aturan Islam yang komplit juga punya solusi untuk setiap permasalahan hidup yang kita temui. Agar kita terbiasa untuk berpikir panjang sebelum berbuat agar hawa nafsu dan godaan setan mampu kita tundukkan. Sehingga setiap langkah yang kita ambil bisa memberikan kebaikan. Inilah cerminan dari kedewasaan kita dalam bersikap dan berbuat. Karena itulah kita kudu ngaji. Mau dong? Pasti! []

PEMUDA PEMBUKA JALAN HIJRAH

13 tahun. Bukan waktu yang sebentar Rasulullah saw habiskan untuk menyampaikan ajaran Islam di kota Mekkah. Hasilnya? Hanya segelintir penduduk saja yang dapat hidayah dan masuk Islam. Meski begitu, dakwah must go on. Rasulullah saw pun diperintahkan untuk berhijrah ke Yatsrib alias Madinah. 

Demi mempersiapkan tempat yang menjadi tujuan hijrah, Rasulullah saw mengutus salah satu sahabatnya ke Yatsrib. Dan pilihannya jatuh pada seorang pemuda yang kaya, berpenampilan rupawan, dan biasa dengan kenikmatan dunia. Siapa dia?

*# Menjual Dunia Demi Akhirat*
Ia adalah Mush’ab bin Umair. Pemuda yang paling tampan dan kaya di Kota Mekah. Kemudian ketika Islam datang, ia jual dunianya dengan kekalnya kebahagiaan di akhirat. 
Rasulullah saw bersabda, “Aku tidak pernah melihat seorang pun di Mekah yang lebih rapi rambutnya, paling bagus pakaiannya, dan paling banyak diberi kenikmatan selain dari Mush’ab bin Umair.” (HR. Hakim).

Mush’ab bin Umair hidup di lingkungan jahiliyah; penyembah berhala, pecandu khamr, penggemar pesta dan nyanyian, Allah beri cahaya di hatinya, dengan sendirinya ia bertekad dan menguatkan hati untuk memeluk Islam. Ia mendatangi Nabi saw di rumah al-Arqam dan menyatakan keimanannya. Kemudian Mush’ab menyembunyikan keislamannya sebagaimana sahabat yang lain, untuk menghindari intimidasi kafir Quraisy.
Suatu hari Utsmani bin Thalhah melihat Mush’ab bin Umair sedang beribadah kepada Allah Ta’ala, maka ia pun melaporkan apa yang ia lihat kepada ibunda Mush’ab. Saat itulah periode sulit dalam kehidupan pemuda yang terbiasa dengan kenikmatan ini dimulai.
Mengetahui putra kesayangannya meninggalkan agama nenek moyang, ibu Mush’ab kecewa bukan kepalang. Ibunya mengancam bahwa ia tidak akan makan dan minum serta terus berdiri tanpa naungan, baik di siang yang terik atau di malam yang dingin, sampai Mush’ab meninggalkan agamanya.  

Saudara Mush’ab, Abu Aziz bin Umair, tidak tega mendengar apa yang akan dilakukan sang ibu. Lalu ia berujar, “Wahai ibu, biarkanlah ia. Sesungguhnya ia adalah seseorang yang terbiasa dengan kenikmatan. Kalau ia dibiarkan dalam keadaan lapar, pasti dia akan meninggalkan agamanya”. Mush’ab pun ditangkap oleh keluarganya dan dikurung di tempat mereka.

Hari demi hari, siksaan yang dialami Mush’ab kian bertambah. Tidak hanya diisolasi dari pergaulannya, Mush’ab juga mendapat siksaan secara fisik. Ibunya yang dulu sangat menyayanginya, kini tega melakukan penyiksaan terhadapnya. Warna kulitnya berubah karena luka-luka siksa yang menderanya. Tubuhnya yang dulu berisi, mulai terlihat mengurus.

Zubair bin al-Awwam mengatakan, “Suatu ketika Rasulullah saw sedang duduk dengan para sahabatnya di Masjid Quba, lalu muncullah Mush’ab bin Umair dengan kain burdah (jenis kain yang kasar) yang tidak menutupi tubuhnya secara utuh. Orang-orang pun menunduk. Saad bin Abi Waqqash radhiayallahu ‘anhu berkata, “Dahulu saat bersama orang tuanya, Mush’ab bin Umair adalah pemuda Mekah yang paling harum. Ketika ia mengalami apa yang kami alami (intimidasi), keadaannya pun berubah. Kulihat kulitnya pecah-pecah mengelupas dan ia merasa tertatih-taih karena hal itu sampai-sampai tidak mampu berjalan. Kami ulurkan busur-busur kami, lalu kami papah dia.” (Siyar Salafus Shaleh oleh Ismail Muhammad Ashbahani, Hal: 659).

*# Duta Pertama Islam*
Mush’ab bin Umair adalah salah seorang sahabat nabi dengan keilmuan yang mendalam dan kecerdasan yang tinggi. Sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya untuk mendakwahi penduduk Yatsrib, Madinah.
Saat datang di Madinah, Mush’ab tinggal di tempat As’ad bin Zurarah. Di sana ia mengajarkan dan mendakwahkan Islam kepada penduduk negeri tersebut, termasuk tokoh utama di Madinah semisal Saad bin Muadz. 

Dalam waktu yang singkat, sebagian besar penduduk Madinah pun memeluk agama Allah ini. Hal ini menunjukkan –setelah taufik dari Allah- akan kedalaman ilmu Mush’ab bin Umair dan pemahamanannya yang bagus terhadap Alquran dan sunnah, baiknya cara penyampaiannya dan kecerdasannya dalam berargumentasi, serta jiwanya yang tenang dan tidak terburu-buru.

Hal tersebut sangat terlihat ketika Mush’ab berhadap dengan Saad bin Muadz. Setelah berhasil mengislamkan Usaid bin Hudair, Mush’ab berangkat menuju Saad bin Muadz. Mush’ab berkata kepada Saad, “Bagaimana kiranya kalau Anda duduk dan mendengar (apa yang hendak aku sampaikan)? Jika engkau ridha dengan apa yang aku ucapkan, maka terimalah. Seandainya engkau membencinya, maka aku akan pergi”. Saad menjawab, “Ya, yang demikian itu lebih bijak”. Mush’ab pun menjelaskan kepada Saad apa itu Islam, lalu membacakannya Alquran.

Saad memiliki kesan yang mendalam terhadap Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu dan apa yang ia ucapkan. Kata Saad, “Demi Allah, dari wajahnya, sungguh kami telah mengetahui kemuliaan Islam sebelum ia berbicara tentang Islam, tentang kemuliaan dan kemudahannya”. Kemudian Saad berkata, “Apa yang harus kami perbuat jika kami hendak memeluk Islam?” “Mandilah, bersihkan pakaianmu, ucapkan dua kalimat syahadat, kemudian shalatlah dua rakaat”. Jawab Mush’ab. Saad pun melakukan apa yang diperintahkan Mush’ab.

Setelah itu, Saad berdiri dan berkata kepada kaumnya, “Wahai Bani Abdu Asyhal, apa yang kalian ketahui tentang kedudukanku di sisi kalian?” Mereka menjawab, “Engkau adalah pemuka kami, orang yang paling bagus pandangannya, dan paling lurus tabiatnya”.
Lalu Saad mengucapkan kalimat yang luar biasa, yang menunjukkan begitu besarnya wibawanya di sisi kaumnya dan begitu kuatnya pengaruhnya bagi mereka, Saad berkata, “Haram bagi laki-laki dan perempuan di antara kalian berbicara kepadaku sampai ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya!” Tidak sampai sore hari seluruh kaumnya pun beriman kecuali Ushairim.

Karena taufik dari Allah kemudian buah dakwah Mush’ab, Madinah pun menjadi tempat pilihan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya hijrah. Dan kemudian kota itu dikenal dengan Kota Nabi Muhammad (Madinah an-Nabawiyah).

*# Mujahid Tulen*
Mush’ab bin Umair adalah pemegang bendera Islam di peperangan. Pada Perang Uhud, ia mendapat tugas serupa. Muhammad bin Syarahbil mengisahkan akhir hayat sahabat yang mulia ini. Ia berkata: Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu membawa bendera perang di medan Uhud. Lalu datang penunggang kuda dari pasukan musyrik yang bernama Ibnu Qumai-ah al-Laitsi (yang mengira bahwa Mush’ab adalah Rasulullah), lalu ia menebas tangan kanan Mush’ab dan terputuslah tangan kanannya. Bendera pun ia pegang dengan tangan kirinya. Lalu Ibnu Qumai'ah datang kembali dan menebas tangan kirinya hingga terputus. Kemudian anak panah merobohkannya dan terjatuhlah bendera tersebut. Setelah Mush’ab gugur, Rasulullah menyerahkan bendera pasukan kepada Ali bin Abi Thalib (Ibnu Ishaq, Hal: 329).

Setelah perang usai, Rasulullah saw memeriksa sahabat-sahabatnya yang gugur. Abu Hurairah mengisahkan, “Setelah Perang Uhud usai, Rasulullah saw mencari sahabat-sahabatnya yang gugur. Saat melihat jasad Mush’ab bin Umair yang syahid dengan keadaan yang menyedihkan, beliau berhenti, lalu mendoakan kebaikan untuknya.

Tak sehelai pun kain untuk kafan yang menutupi jasadnya kecuali sehelai burdah. Andainya ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua kakinya. Sebaliknya, bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Sehingga Rasulullah bersabda, “Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan kakinya tutupilah dengan rumput idkhir.”

Maa Syaa Allaah, kelu rasanya ngegambarin mulianya pribadi Mush’ab bin Umair ini . Kalo lihat remaja sekarang yang manjanya gak ketulungan, apa iya bisa kayak Mush’ab bin Umair? Jawabnya pasti bisa, asalkan kamu2 jadiin Islam sebagai landasan. Bangga dengan Islam, bangga nyebarin pemikiran islam, istiqomah, dan yakin akan pertolongan Allaah. Yup, kamu pasti bisa! []

PANJANG USIA, HIDUP TAK HAMPA, INI KUNCINYA!

Masih di bulan Syawal, kita mau ngingetin aja. Gimana shaum sunnah syawalnya? Udah kelar atau masih rencana. Padahal cuman 6 hari aja. Tapi daya tariknya kalah seksi dengan acara halal bihalal atau ngumpul bareng teman sambil kulineran. Makan terooos!

Selain shaum sunnah, bulan syawal juga identik dengan kegiatan open house di rumah atau kunjungan ke kerabat. Nggak boleh absen tuh, mudik ke kampung untuk bertemu dengan orangtua, om, tante, nenek, kakek, dan sanak famili yang lain. Setahun sekali, yang jauh mendekat, yang dekat merapat. Makan-makan lagiii!

Namun, dibalik acara kumpul keluarga dan makan-makan itu sejatinya kita tengah menyambung tali silaturahmi yang mungkin selama ini terputus karena kesibukan masing-masing. Btw, kamu tahu kan apa itu silaturahmi?

*# Keutamaan Silaturahmi*

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), silaturahmi adalah mengikat persahabatan atau persaudaraan. Substansi pengertian ini memberikan pembelajaran kepada kita bahwa setiap manusia pada prisnsipnya bersahabat dan bersaudara.

Sementara menurut Islam, silaturahmi itu mengikat kembali tali persaudaraan kepada orang-orang yang masih ada hubungan rahim dengan kita. Kalo dengan orang-orang yang tidak ada hubungan darah dengan kita sebagai contoh teman dekat, tetangga, teman kantor, dsb itu dinamakan silah ukhuwah.

Dan kalo sudah ngomongin tentang silaturahmi, bagi seorang muslim nggak sekedar ketemuan aja. Banyak banget keutamaannya yang bikin hidup kita lebih hidup.

Ini kata Allah SWT dalam QS. An-Nisa : 36 tentang pentingnya silaturahmi atau sila ukhuwah.

“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.”

Begitu pentingnya silaturahmi, ‘imbalan’nya juga gak main-main. Premium.

# Pertama, kunci untuk memperluas rezeki dan memperpanjang umur kita juga loh sebagaimana dalam hadist dikatakan “Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan ingin dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia bersilaturahmi.” (HR. Bukhari)

# Kedua, tanda keimanan. Rasulullah saw mengingatkan, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Abu Hurairah)

Allah swt sayang pada hambaNya yang senantiasa menjaga tali persaudaraan. Bukan hanya kepada saudara sesama muslim saja, tapi juga menjaga hubungan baik dengan yang tidak seagama.

Indah bukan jika kita saling menjaga tali persaudaraan? Ketika kita sakit ada yang menjenguk, ketika sedang mengalami kesusahan ada yang mau membantu, ketika sedang sedih ada yang menghibur.

Jadi hidup kita tuh engga hampa. Karena manusia itu sejatinya makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam perjalanan hidup kita. Gimana engga membutuhkan, kita mau makan aja butuh orang yang menjual barang yang ingin kita makan, lalu butuh orang yang memasaknya, jadi rugilah kita kalau engga menjaga tali persaudaraan ini. Catat!

*# Jagain Jangan Sampai Putus!*

Ups! Kata putus di sini nggak ada hubungannya dengan budaya baku syahwat pacaran lho ya. Kalo urusan yang itu mah, udah putusin aja.

Kalo yang ini, pastinya berkaitan dengan jalinan tali silaturahmi. Kalo Allah swt menyayangi kita yang menjaga tali silaturahmi, pastinya Dia akan marah kalo kita mutusin ikatan persaudaraan ini.

Hayoo, siapa disini yang masih belum mau ketemu dengan sodara sendiri bahkan orang lain? Sobat tau gak sih dosanya memutus tali silaturahmi atau sila ukhuwah ini? Hati-hati loh sobat memutuskan tali silaturahmi atau sila ukhuwah ini bahaya banget dosanya sebagaimana dalam hadist dikatakan

“Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam di mana keduanya bertemu lalu yang ini berpaling dan yang itu berpaling. Yang terbaik di antara keduanya ialah orang yang memulai mengucapkan salam.” (HR. Muslim).

Dan dalam Al-qur’an juga Allah menyebutkan dalam QS. Muhammad ayat 22-23

“Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dikutuk Allah; lalu dibuat tuli (pendengarannya) dan dibutakan penglihatannya.”

Naudzubillahimindzalik, Ketika kita memutuskan tali silaturahmi atau sila ukhuwah ini kita dilaknat oleh Allah dengan dibutakan mata kita serta dibuat tuli pendengaran kita, Serem banget yaaa!

Terus bagaimana dong dengan kita yang sudah terlanjur memutus hubungan?

Tenang aja sobat agama kita tuh indah banget dan mudah lagi. Jika kamu sudah terlanjur maka langkah awal yang harus dilakukan adalah dengan istighfar lalu segera meminta ampunan kepada Allah dengan cara sholat taubat.

Setelah itu baru deh kita cari kontaknya jika masih ada, namun jika tidak kunjung dapat juga kita do’akan orang tersebut agar senantiasa diberikan kesehatan oleh Allah.

Karena sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Yusuf : 87 “”Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”

Ayok sobat kita jangan sampe berputus asa dari Rahmat-Nya Allah. Tetapi, ingat yaa setelah kita bertaubat nggak ada lagi acara musuhan sama teman, sahabat atau kerabat. Karena azab dari Allah itu sangatlah pedih. Jangan sampai kepikiran untuk mampir di neraka ya. Percaya deh, azab di neraka itu nyata. Bukan screen saver.

Makanya, ayo TemanSurga marilah kita mempererat persaudaraan kita untuk meraih ridho Allah bukan membuat cerai berai tali yang sudah kita bentuk dan mendapatkan azab yang pedih dari-Nya. Seperti tagline teman surga: ngaji bareng, main bareng, kesurgapun bareng. Dan yang nggak kalah pentingnya, dengan silaturahmi kita punya peluang untuk memperpanjang usia sehingga bisa lebih banyak menabung pahala. Ini yang bikin hidup kita tak hampa. Jalin silaturahmi? Siapa takut. Yuk! []

LEBARAN TETAP JAGA KETAKWAAN

"Makan ketupat di hari raya, Duduk bersama saling memaafkan, Ramadhan berlalu meninggalkan kita, Jangan kendor kawal ketakwaan" Cakeeep!

Teman Surga di manapun berada, selamat berlebaran ya. Taqabbalallahu minna wa minkum wa taqobbal ya kariim. Semoga Allah Swt menerima amal ibadah serta mengampuni dosa-dosa kita. Kemudian memudahkan jalan kita di sebelas bulan berikutnya untuk menjadi hamba yang lebih baik lagi hingga kembali berjumpa dengan Ramadhan yang mulia. Aamiin!

BTW, Ramadhan memang sudah berlalu, tapi ketakwaan tetap harus ketat dalam kawalan. Jangan sampai gelar takwa yang kita perjuangkan turut sirna bersamaan dengan usainya momen Ramadhan. Duh, rugi banget. So, tetap semangat menjaga takwa hingga ketemu Ramadhan berikutnya adalah pilihan tepat. Yuk bisa, yuk! Bissmillah!

*# Reminder, Ramadhan Momen Latihan*

Kita udah paham banget, bahwa ending dari Ramadhan adalah untuk memperoleh gelar takwa. Hal ini sudah di-mention sama Allah SWT pada Surat Al Baqarah ayat 183. Takwa itu sendiri maknanya adalah tunduk secara totalitas kepada Allah Swt. Menjalankan segala perintah Allah Swt dan menjauhi semua larangan-Nya. Selalu merasa diawasi oleh Allah Swt di manapun, kapanpun, dan dengan siapapun berada. Baik dalam keramaian atau sendirian, selalu sadar bahwa Allah Swt senantiasa melihat. Sehingga tidak ada kesempatan untuk menjalin keakraban dengan kemaksiatan. Begitu!

Nah, untuk melatih ketakwaan ini Allah Swt berikan waktu istimewa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan. 29-30 hari adalah waktu yang sangat cukup bagi kita untuk melatih suatu kebiasaan atau habits. Habits yang mau dilatih selama Ramadhan adalah habits takwa. Habits dalam menjalankan perintah Allah Swt dan menjauhi larangan-Nya.

Pada siang hari kita berpuasa. Panas terik tak jadi persoalan. Air segar di dalam kulkas tak mempan jadi godaan. Meski sendirian, tak ada yang melihat, tetap kita jaga puasa. Setetes pun tak akan kita telan air dingin yang sangat menggoda itu. Kita tahan sampai azan maghrib berkumandang. Kenapa? Karena takwa. Kita takut dosa dan kita inginkan pahala. Karena itu kita tetap berpuasa meski godaan ada di mana-mana. Benar begitu, kan?

Pada malam harinya pula, kita melaksanakan salat tarawih. Dilanjutkan dengan tilawah Alquran. Bahkan banyak di antara kita yang khatam lebih dari sekali selama Ramadhan. Semakin dekat dan akrab dengan kalam-Nya. Terus berpacu dengan waktu, berlomba-lomba mengejar ampunan-Nya. Plus mengharapkan pahala berlipat ganda yang Allah Swt janjikan. Maa syaallah!

Semua aktivitas selama Ramadhan kita tunaikan penuh suka cita. Di hari pertama, mungkin masih terpaksa. Menahan lapar, haus, ngantuk, dan sebagainya. Tapi di hari-hari berikutnya, kita sudah mulai terbiasa. Bahkan merasakan kenyamanan dan enggan berpisah dengan Ramadahan. Vibesnya adem gitu selama Ramadhan. Ada yang merasakan hal serupa? Artinya habits selama Ramadhan sudah terbentuk. Inilah esensi dari Ramadhan, momen untuk kita melatih ketakwaan.

_”Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”_ [TQS. Al Baqarah: 183]

*# Takwa Dalam Semua Perkara*

Berikutnya, kita mesti menaikkan taraf ketakwaan. Bukan hanya sebatas ibadah ritual, tetapi kudu takwa di segala sisi kehidupan. Dalam perkara makanan di prasmanan, kita bisa saja memilih dan memilah. Tapi jika berbicara soal ketakwaan, maka tidak ada pilihan kecuali taat secara totalitas. Bahasa lainnya adalah kaffah.

Hal ini sudah disebutkan oleh Allah Swt dalam Alquran.  Bahwa berislam itu harus dalam semua perkara. Baik dalam perkara hubungannya dengan Allah Swt, dengan diri sendiri, maupun dengan sesama manusia. Semuanya wajib terikat dengan rambu-rambu islam. Inilah ketakwaan yang sempurna.

So, enggak ada ceritanya pada siang hari bepuasa dan menahan segala rupa kemaksiatan. Pas malam harinya merasa bebas mau ngapain aja karena uda buka puasa. Begitupun, usai Ramadhan. Bukan berarti berhenti beramal soleh karena sudah usai Ramadhannya. Semestinya, habits takwa selama Ramadhan menjadi aktivitas harian kita hingga jumpa pada Ramadhan yang akan datang. Tetap jaga salatnya, tilawahnya, pergaulannya, auratanya, dan semua aktivitasnya sesuai dengan aturan Allah Swt.

_”Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu semua ke dalam Islam secara menyeluruh (kaffah). Janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kalian.”_ [TQS. Al Baqarah: 208]

*# Amankan Ketakwaan Meski Sudah Tidak Ramadhan*

Sahabat surga di manapun berada, Ramadhan pasti berlalu. Namun ketakwaan tidak boleh ikutan pergi. Cukuplah satu bulan Ramadhan menjadi wadah untuk menempah diri. Ketika ia pergi, ketakwaan kita telah terbentuk. Tugas kita berikutnya adalah menjaga dan terus berupaya meningkatkan takwa.

Caranya adalah dengan tetap dekat dengan Al Qur’an. Bahkan berupaya lebih akrab lagi. Tidak hanya sekadar membaca, tetapi juga memahami maknanya. Kemudian mengamalkannya dan memviralkannya (dakwah).

Ketika Ramadhan, vibes takwa sangat kental. Semua sevibrasi, berlomba-lomba dalam ketaatan. Tapi seusai ramadahan, biasanya tantangan mulai datang. Sebab vibesnya tak lagi sama. Kemaksiatan kembali menjamur di mana-mana. Maka kita tidak mungkin bisa bertahan dalam kesendirian.

Ya, kita butuh pertemanan dan lingkungan yang kondusif untuk menjaga ketakwaan. Kita juga butuh mentor untuk membimbing kita agar tidak salah arah dalam mendaki takwa. Intinya, jangan sendiri. Sip, ya!

_”Sekeruh-keruhnya hidup berjamaah jauh lebih baik daripada beningnya hidup sendiri.”_ [Ali bin Abi Thalib]

_Rasulullah Saw. Bersabda: ”Barang siapa memisahkan diri dari jamaah satu jengkal saja, maka sungguh dia telah melepaskan tali Islam dari lehernya.”_ [HR. Bukhori]

Rabu, 12 Juli 2023

AL QUR’AN PEDOMAN HIDUPKU

**

Sobat TemanSurga, siapa nih di antara Sobat sekalian kemanapun perginya, google maps patokannya? Atau kalau lagi bingung cari jawabnya ke mbah google? Hayo ngaku. Hihi.. Dari tanya masalah headset yang nggak bisa mengeluarkan irama sampai tutorial ngerjain soal matematika. Secara nggak sadar jutaan orang hari ini rela merogoh koceknya masing-masing untuk mendapatkan sebuah petunjuk.

Misalnya saja, di tengah-tengah musim sibuknya ujian sekolah, ada lho kawan-kawan kita yang bela-belain untuk ndaftar di bimbel-bimbel ternama yang tentu tidak lain dan tidak bukan agar tahu bagaimana tutorial mengerjakan soal dengan mudah tanpa penat. Begitulah hidup, selagi ruh masih melekat di badan, pasti manusia tidak akan pernah luput dari ujian.

Eh iya Sob, ngobrolin soalan ujian, bukankah Allah sendiri yang memberikan jaminan, bahwa setiap masalah yang dihadirkan senantiasa beriringan dengan penyelesaiannya? Tapi mengapa ya hari ini masalah semakin menjadi-jadi tak beraturan. 

Padahal Al Qur’an sudah turun lengkap. Kalau yang salah Al Qur’an tentu mustahil, sebab Al Qur’an wahyu dari Allah dan terbukti bukan hanya mengubah pribadi-pribadi para sahabat yang biasa menjadi orang berkapasitas internasional dan berkepribadian agung, lebih dari itu Al Qur’an mengubah peradaban Arab jahiliyah menjadi peradaban Islam, mengubah peradaban Eropa yang gelap gulita menjadi bercahaya. Berarti yang perlu dievaluasi adalah kitanya nih Sob.

Dan rasa-rasanya berita seks bebas, aborsi, narkoba, korupsi, kemiskinan, sulitnya untuk bisa makan atau sekedar mencari lapangan kerjaan dll adalah gosip yang nongkrong di media kita setiap hari nggak sih Sob? Dari sini kita belajar, hadirnya Al Qur’an sebagai manual book instruction saja tidak cukup untuk mengubah kehidupan kalau tidak ada prosesi pengkajian kemudian dipahami dan diamalkan.

Allah SWT berfirman _“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”_ *(QS. Al Jumuah: 2)*

Kata ‘yatlu’ di dalam surat Al Jumuah di atas maknanya bukan hanya sekedar membaca, karena jika hanya sekedar membaca, dulu di zaman Rasul tidak ada media baca-nya, orang-orangnya ummi semuanya. 

Makanya hari ini kita sering salah kaprah ketika bicara tentang qori’. Qori’ itu Sob bukan cuma bacaannya doang yang bagus. Di zaman Rasulullah qori’ adalah alim ulama yang paling ngerti tentang Al Qur’an. Para sahabat yang bergelar qori’ ini merupakan orang-orang pilihan Rasulullah yang sangat dekat dengan Rasulullah. Nah siap nggak nih Sob, kita jadi orang yang dekat dengan Rasul dengan bersahabat dengan Al Qur’an juga?

Kita ngerti sendiri Sob, belajar makharijul huruf aja membutuhkan waktu yang lama, belajar tajwid apalagi, kebayang nggak sih kalau kita mau memahami tafsir menghabiskan waktu seberapa banyak? 

Ini menunjukkan kepada kita Sob kalo kita nggak boleh mencukupkan diri untuk ngefans pada imam-imam muda di masjid yang berhenti pada bacaannya bagus saja. Karena nggak cukup asal bagus bacaannya saja tapi juga harus ngerti isinya? Ibarat resep obat, sebagus-bagusnya obat kalau nggak diminum ya nggak akan sembuh atas izin Allah.

Sama dengan Al Qur’an, sebagus-bagusnya manual book instruction untuk manusia, kalau nggak dipahami dan diterapkan hanya akan berputar menikmati indahnya lantunan ayatnya saja. Islami sih, tapi gak memberi solusi. Sedih banget.

*Bukan Sekedar Kumpulan Surat*

Dengan Al Qur’an kita menjadi umat yang istimewa. Malaikat yang berinteraksi dengan Al Qur’an sebagai penyampai risalah menjadi malaikat yang istimewa, bulan yang menjadi bulan turunnya Al Qur’an menjadi istimewa, orang yang menghafal Al Qur’an menjadi mendapatkan kemuliaan yang tidak bisa dibeli dengan apapun. Terbukti! 

Al Qur’an bukan sekedar kumpulan surat, melainkan mu’jizat. Setiap hari kita melantunkan doa untuk diberi jalan yang lurus dalam Al Fatihah minimal 17 x. Lantas bagaimana menjadikan Al Qur’an ini menjadi pedoman hidup? Jawabannya sederhana lihat bagaimana Rasulullah mengajarkan.

Ternyata Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk mengambil syariat secara keseluruhan (tidak boleh prasmanan). Allah berfirman _“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”_ *(QS. Al Baqarah: 208).*

Tidak hanya itu, Allah juga mengancam siapapun yang pilih-pilih syariat _“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.”_ *(QS. Al Baqarah: 85)*. Nakutin banget ga sih Sob?

Ya Allah Ya Rabb, memang betul Islam itu sempurna dan paripurna, karena Islam bukan hanya mengatur kehidupan yang sifatnya ritual saja (seperti sholat, puasa, zakat) lebih dari itu Islam mengatur urusan dari bangun tidur sampai tidur lagi. 

So, konten-konten Islami di tiktok yang kita tonton (kaya anjuran sabar, tips lancar rizki dengan Al-Waqiah, shalawat kepada Rasulullah) semuanya itu masih 1% dari syariat yang Allah turunkan. Masih banyak bahasan-bahasan syariat yang butuh kita pelajari.

Percaya nggak kalau Islam ngatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri? Iya Sob ternyata! Dari urusan berpakaian, cara makan, minum dan akhlak kita. Islam juga mengatur sistem pendidikan, kesehatan, muamalah dll yang itu tadi hari ini tidak kita temui di segala lini, jangan heran jika kerusakan menjadi-jadi. 

So, biar bener-bener bisa ngejadiin Al Qur’an sebagai pedoman hidup langkah sederhananya kudu ngaji dulu Sob, biar bisa ngerti surat cintanya Allah kepada kita. 

Sobat sendiri gimana, sudah mengkaji Islam secara intensif belum? Jangan sampai kendor ya, bulan Syawal adalah bulan peningkatan! Pastikan mengkaji Islam masuk target bulan Syawalmu ya. Yuk…![]

Sumber: _Buletin Teman Surga #217 April 2023_