Kamis, 14 Maret 2024

REMAJA PENGEN MANDIRI? NORMAL KOK!

Memasuki umur belasan tahun, umumnya remaja mulai ngerasain perubahan yang terjadi pada dirinya. Dari mulai perubahan fisik sampe non fisik. Suara yang pecah, adanya jakun pada cowok, mimpi basah, haid, atau mulai matangnya organ-organ reproduksi menunjukkan adanya perubahan fisik.

Tapi untuk perubahan non fisik yang meliputi kelabilan emosi, perkembangan jiwa, dan pembentukan karakter, nggak keliatan jelas. Kita cuma bisa nebak dari gejala yang ditunjukkan remaja dalam perilakunya. Pakar psikologi bilang, fase ini dikenal dengan proses pencarian jati diri yang dilalui remaja untuk mengetahui peranan dan kedudukannya dalam lingkungan sekaligus mengenali dirinya lebih dekat. Catet tuh!

Dalam proses pencarian jati diri ini, remaja biasanya memerlukan kemandirian yang menurut Sutari Imam Barnadib meliputi: ”Perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi hambatan/masalah, mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain.”

Ya, alon-alon remaja berusaha melepaskan ikatan psikis dengan orang tua. Mereka pengen dihargai sebagai orang dewasa. Pengen bisa berpikir secara merdeka; bisa mengambil keputusan sendiri; punya hak untuk menerima atau menolak masukan dari pihak lain; dan belajar bertanggung jawab terhadap setiap perbuatannya.” Hmm, asyik kali, ya?

Itulah penjelasan dari pakar psikolog akan kebebasan yang dikehendaki remaja. Intinya sih, remaja pengen mandiri. Nggak cuma makan atau mandi sendiri, tapi juga dipercaya dalam berpikir, berbuat, dan bersikap sesuai dengan keinginannya. ”Masa’ mama nggak ngerti sih?”.

*# Ketika Kebebasan Menjadi Kebablasan*

Setiap orang tua pasti ngerti kalo suatu saat nanti, mereka kudu rela melepaskan anaknya hidup mandiri. Namun, gencarnya arus budaya Barat yang membidik remaja membuat tuntutan kebebasan remaja bergeser menjadi liar tak terkendali. Pola hidup sekuler yang dipraktikkan masyarakat Barat jelas-jelas bertolak belakang dengan kehidupan kita selaku Muslim. Parahnya, gaya hidup sekuler itu makin populer di mata remaja dan sering kali menjadi acuan dalam perjalanannya mencari identitas diri. Bahaya kan?

Beberapa akibat kebebasan yang kebablasan hasil jiplakan remaja terhadap budaya Barat adalah:

# Pertama, free thinker alias bebas berpikir. Remaja ngerasa punya hak untuk berpikir tanpa dibatasi oleh norma-norma agama. Yang penting bisa cari jalan keluar dari masalah yang dihadapi atau cari cara biar keinginannya terpenuhi. Sebodo amat meski harus ngambil jalan pintas untuk lari dari masalahnya dengan bunuh diri, nge-drugs, atau nyekek botol minuman keras.

Bisa juga jadi pelaku kriminal atau terjun ke dunia prostitusi pas lagi pengen punya duit lebih demi memenuhi tuntutan tren pergaulan. Ada juga yang mempertaruhkan harga diri dan kehormatannya dalam kontes kecantikan demi popularitas dan limpahan harta. Urusan dosa atau penjara, itu mah belakangan. Ih, ngeri banget deh jadinya.

# Kedua, permissif alias bebas berbuat. Mau ngapain aja di mana aja, banyak yang dijadiin prinsip hidup oleh remaja dalam berbuat. Pokoknya serba ada, eh serba boleh. Mulai dari cara berbusana, berdandan, berbicara, bergaul, atau berperilaku. Bangga jika daya tarik seksualnya disapu setiap mata lawan jenis yang jelalatan. Antimalu jadi pusat perhatian orang lantaran dandanannya yang urakan, norak, dan kekurangan bahan. Dan nggak punya rem buat ngendaliin tutur katanya. Ceplas-ceplos bin asal bunyi. Dan semuanya dilakukan tanpa risih dengan mengantongi label kebebasan berekspresi. So what gitu lho!

# Ketiga, free Sex alias pergaulan bebas. Saat ini, pergaulan bebas antar lawan jenis yang banyak digandrungi remaja sangat mudah terkontaminasi unsur cinta dan seks. Apalagi ditambah dengan kampanye terselubung antijomblo yang diopinikan media via sinetron remaja. Setiap remaja ngerasa kudu punya gacoan biar eksis dalam pergaulan.

Nggak sebatas punya gacoan, pergaulan bebas pun sangat membuka peluang bagi remaja untuk aktif melakukan aktivitas seksual. Pemicunya, bisa karena terpapar pornografi dan pornoaksi yang merajalela di dunia maya. Kurangnya kontrol dari orang tua, sekolah, atau masyarakat bikin mereka enjoy berpetualang menikmati kepuasan sesaat. Gaswat dongs?

Kalo kondisinya seperti di atas, orang tua mana yang nggak keder ortu dengan kebebasan remaja saat ini. Niat ortu ngasih kebebasan biar mandiri, bisa-bisa nyasar malah anak remajanya kehilangan harga diri. Berabe khan?

*# Dewasa di Usia Remaja*

Sobat, kemandirian bagi remaja memang sangat diperlukan untuk mendukung perkembangan jiwanya. Tapi kita kudu mikir seribu kali kalo remaja dibiarkan menafsirkan sendiri kebebasan yang dikehendakinya. Jiwanya yang labil sangat mudah terwarnai oleh lingkungan sekitar. Gelora jiwa mudanya paling gampang terpincut ama budaya Barat yang steril dari aturan Islam.

Makanya kita selaku remaja Muslim wajib nyadar kalo kebebasan dalam berpikir dan berperilaku nggak pernah diajarin dalam Islam. Islam ngajarin adanya kehidupan akhirat yang akan meminta pertanggungjawaban setiap amal perbuatan kita di dunia. Otomatis ini nyambung dengan tabungan pahala dan dosa yang kita kumpulkan sepanjang hidup di dunia. Tiket surga bakal kita peroleh kalo pahala kita surplus.

Sebaliknya, kita bakal diceburkan ke dalam neraka seandainya dosa kita yang surplus. Dan pahala itu baru kita dapetin kalo Allah ridha dengan perbuatan kita. Itu berarti keterikatan dengan aturan Islam seharusnya jadi standar perbuatan dalam keseharian kita. Kalo udah gini, masa’ iya kita mau melepaskan diri dari aturan Allah demi sebuah kebebasan? Allah SWT berfirman:

"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?" (TQS Al Maidah: 50)

Usia remaja mengharuskan kita belajar untuk bertanggung jawab. Sebagai pengingat, kita bisa renungkan firman Allah SWT:

"Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya..." (TQS Al Mudatsir: 38)

Masa depan di dunia dan akhirat ada di tangan kita. Bukan dalam genggaman orang tua atau uluran tangan dari seorang teman. Proses pembelajaran itu bisa kita awali dengan giat mengkaji Islam. Agar kita makin ngeh dengan hubungan kehidupan dunia dan akhirat.

Selain itu, aturan Islam yang komplit juga punya solusi untuk setiap permasalahan hidup yang kita temui. Agar kita terbiasa untuk berpikir panjang sebelum berbuat agar hawa nafsu dan godaan setan mampu kita tundukkan. Sehingga setiap langkah yang kita ambil bisa memberikan kebaikan. Inilah cerminan dari kedewasaan kita dalam bersikap dan berbuat. Karena itulah kita kudu ngaji. Mau dong? Pasti! []

PEMUDA PEMBUKA JALAN HIJRAH

13 tahun. Bukan waktu yang sebentar Rasulullah saw habiskan untuk menyampaikan ajaran Islam di kota Mekkah. Hasilnya? Hanya segelintir penduduk saja yang dapat hidayah dan masuk Islam. Meski begitu, dakwah must go on. Rasulullah saw pun diperintahkan untuk berhijrah ke Yatsrib alias Madinah. 

Demi mempersiapkan tempat yang menjadi tujuan hijrah, Rasulullah saw mengutus salah satu sahabatnya ke Yatsrib. Dan pilihannya jatuh pada seorang pemuda yang kaya, berpenampilan rupawan, dan biasa dengan kenikmatan dunia. Siapa dia?

*# Menjual Dunia Demi Akhirat*
Ia adalah Mush’ab bin Umair. Pemuda yang paling tampan dan kaya di Kota Mekah. Kemudian ketika Islam datang, ia jual dunianya dengan kekalnya kebahagiaan di akhirat. 
Rasulullah saw bersabda, “Aku tidak pernah melihat seorang pun di Mekah yang lebih rapi rambutnya, paling bagus pakaiannya, dan paling banyak diberi kenikmatan selain dari Mush’ab bin Umair.” (HR. Hakim).

Mush’ab bin Umair hidup di lingkungan jahiliyah; penyembah berhala, pecandu khamr, penggemar pesta dan nyanyian, Allah beri cahaya di hatinya, dengan sendirinya ia bertekad dan menguatkan hati untuk memeluk Islam. Ia mendatangi Nabi saw di rumah al-Arqam dan menyatakan keimanannya. Kemudian Mush’ab menyembunyikan keislamannya sebagaimana sahabat yang lain, untuk menghindari intimidasi kafir Quraisy.
Suatu hari Utsmani bin Thalhah melihat Mush’ab bin Umair sedang beribadah kepada Allah Ta’ala, maka ia pun melaporkan apa yang ia lihat kepada ibunda Mush’ab. Saat itulah periode sulit dalam kehidupan pemuda yang terbiasa dengan kenikmatan ini dimulai.
Mengetahui putra kesayangannya meninggalkan agama nenek moyang, ibu Mush’ab kecewa bukan kepalang. Ibunya mengancam bahwa ia tidak akan makan dan minum serta terus berdiri tanpa naungan, baik di siang yang terik atau di malam yang dingin, sampai Mush’ab meninggalkan agamanya.  

Saudara Mush’ab, Abu Aziz bin Umair, tidak tega mendengar apa yang akan dilakukan sang ibu. Lalu ia berujar, “Wahai ibu, biarkanlah ia. Sesungguhnya ia adalah seseorang yang terbiasa dengan kenikmatan. Kalau ia dibiarkan dalam keadaan lapar, pasti dia akan meninggalkan agamanya”. Mush’ab pun ditangkap oleh keluarganya dan dikurung di tempat mereka.

Hari demi hari, siksaan yang dialami Mush’ab kian bertambah. Tidak hanya diisolasi dari pergaulannya, Mush’ab juga mendapat siksaan secara fisik. Ibunya yang dulu sangat menyayanginya, kini tega melakukan penyiksaan terhadapnya. Warna kulitnya berubah karena luka-luka siksa yang menderanya. Tubuhnya yang dulu berisi, mulai terlihat mengurus.

Zubair bin al-Awwam mengatakan, “Suatu ketika Rasulullah saw sedang duduk dengan para sahabatnya di Masjid Quba, lalu muncullah Mush’ab bin Umair dengan kain burdah (jenis kain yang kasar) yang tidak menutupi tubuhnya secara utuh. Orang-orang pun menunduk. Saad bin Abi Waqqash radhiayallahu ‘anhu berkata, “Dahulu saat bersama orang tuanya, Mush’ab bin Umair adalah pemuda Mekah yang paling harum. Ketika ia mengalami apa yang kami alami (intimidasi), keadaannya pun berubah. Kulihat kulitnya pecah-pecah mengelupas dan ia merasa tertatih-taih karena hal itu sampai-sampai tidak mampu berjalan. Kami ulurkan busur-busur kami, lalu kami papah dia.” (Siyar Salafus Shaleh oleh Ismail Muhammad Ashbahani, Hal: 659).

*# Duta Pertama Islam*
Mush’ab bin Umair adalah salah seorang sahabat nabi dengan keilmuan yang mendalam dan kecerdasan yang tinggi. Sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya untuk mendakwahi penduduk Yatsrib, Madinah.
Saat datang di Madinah, Mush’ab tinggal di tempat As’ad bin Zurarah. Di sana ia mengajarkan dan mendakwahkan Islam kepada penduduk negeri tersebut, termasuk tokoh utama di Madinah semisal Saad bin Muadz. 

Dalam waktu yang singkat, sebagian besar penduduk Madinah pun memeluk agama Allah ini. Hal ini menunjukkan –setelah taufik dari Allah- akan kedalaman ilmu Mush’ab bin Umair dan pemahamanannya yang bagus terhadap Alquran dan sunnah, baiknya cara penyampaiannya dan kecerdasannya dalam berargumentasi, serta jiwanya yang tenang dan tidak terburu-buru.

Hal tersebut sangat terlihat ketika Mush’ab berhadap dengan Saad bin Muadz. Setelah berhasil mengislamkan Usaid bin Hudair, Mush’ab berangkat menuju Saad bin Muadz. Mush’ab berkata kepada Saad, “Bagaimana kiranya kalau Anda duduk dan mendengar (apa yang hendak aku sampaikan)? Jika engkau ridha dengan apa yang aku ucapkan, maka terimalah. Seandainya engkau membencinya, maka aku akan pergi”. Saad menjawab, “Ya, yang demikian itu lebih bijak”. Mush’ab pun menjelaskan kepada Saad apa itu Islam, lalu membacakannya Alquran.

Saad memiliki kesan yang mendalam terhadap Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu dan apa yang ia ucapkan. Kata Saad, “Demi Allah, dari wajahnya, sungguh kami telah mengetahui kemuliaan Islam sebelum ia berbicara tentang Islam, tentang kemuliaan dan kemudahannya”. Kemudian Saad berkata, “Apa yang harus kami perbuat jika kami hendak memeluk Islam?” “Mandilah, bersihkan pakaianmu, ucapkan dua kalimat syahadat, kemudian shalatlah dua rakaat”. Jawab Mush’ab. Saad pun melakukan apa yang diperintahkan Mush’ab.

Setelah itu, Saad berdiri dan berkata kepada kaumnya, “Wahai Bani Abdu Asyhal, apa yang kalian ketahui tentang kedudukanku di sisi kalian?” Mereka menjawab, “Engkau adalah pemuka kami, orang yang paling bagus pandangannya, dan paling lurus tabiatnya”.
Lalu Saad mengucapkan kalimat yang luar biasa, yang menunjukkan begitu besarnya wibawanya di sisi kaumnya dan begitu kuatnya pengaruhnya bagi mereka, Saad berkata, “Haram bagi laki-laki dan perempuan di antara kalian berbicara kepadaku sampai ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya!” Tidak sampai sore hari seluruh kaumnya pun beriman kecuali Ushairim.

Karena taufik dari Allah kemudian buah dakwah Mush’ab, Madinah pun menjadi tempat pilihan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya hijrah. Dan kemudian kota itu dikenal dengan Kota Nabi Muhammad (Madinah an-Nabawiyah).

*# Mujahid Tulen*
Mush’ab bin Umair adalah pemegang bendera Islam di peperangan. Pada Perang Uhud, ia mendapat tugas serupa. Muhammad bin Syarahbil mengisahkan akhir hayat sahabat yang mulia ini. Ia berkata: Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu membawa bendera perang di medan Uhud. Lalu datang penunggang kuda dari pasukan musyrik yang bernama Ibnu Qumai-ah al-Laitsi (yang mengira bahwa Mush’ab adalah Rasulullah), lalu ia menebas tangan kanan Mush’ab dan terputuslah tangan kanannya. Bendera pun ia pegang dengan tangan kirinya. Lalu Ibnu Qumai'ah datang kembali dan menebas tangan kirinya hingga terputus. Kemudian anak panah merobohkannya dan terjatuhlah bendera tersebut. Setelah Mush’ab gugur, Rasulullah menyerahkan bendera pasukan kepada Ali bin Abi Thalib (Ibnu Ishaq, Hal: 329).

Setelah perang usai, Rasulullah saw memeriksa sahabat-sahabatnya yang gugur. Abu Hurairah mengisahkan, “Setelah Perang Uhud usai, Rasulullah saw mencari sahabat-sahabatnya yang gugur. Saat melihat jasad Mush’ab bin Umair yang syahid dengan keadaan yang menyedihkan, beliau berhenti, lalu mendoakan kebaikan untuknya.

Tak sehelai pun kain untuk kafan yang menutupi jasadnya kecuali sehelai burdah. Andainya ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua kakinya. Sebaliknya, bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Sehingga Rasulullah bersabda, “Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan kakinya tutupilah dengan rumput idkhir.”

Maa Syaa Allaah, kelu rasanya ngegambarin mulianya pribadi Mush’ab bin Umair ini . Kalo lihat remaja sekarang yang manjanya gak ketulungan, apa iya bisa kayak Mush’ab bin Umair? Jawabnya pasti bisa, asalkan kamu2 jadiin Islam sebagai landasan. Bangga dengan Islam, bangga nyebarin pemikiran islam, istiqomah, dan yakin akan pertolongan Allaah. Yup, kamu pasti bisa! []

PANJANG USIA, HIDUP TAK HAMPA, INI KUNCINYA!

Masih di bulan Syawal, kita mau ngingetin aja. Gimana shaum sunnah syawalnya? Udah kelar atau masih rencana. Padahal cuman 6 hari aja. Tapi daya tariknya kalah seksi dengan acara halal bihalal atau ngumpul bareng teman sambil kulineran. Makan terooos!

Selain shaum sunnah, bulan syawal juga identik dengan kegiatan open house di rumah atau kunjungan ke kerabat. Nggak boleh absen tuh, mudik ke kampung untuk bertemu dengan orangtua, om, tante, nenek, kakek, dan sanak famili yang lain. Setahun sekali, yang jauh mendekat, yang dekat merapat. Makan-makan lagiii!

Namun, dibalik acara kumpul keluarga dan makan-makan itu sejatinya kita tengah menyambung tali silaturahmi yang mungkin selama ini terputus karena kesibukan masing-masing. Btw, kamu tahu kan apa itu silaturahmi?

*# Keutamaan Silaturahmi*

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), silaturahmi adalah mengikat persahabatan atau persaudaraan. Substansi pengertian ini memberikan pembelajaran kepada kita bahwa setiap manusia pada prisnsipnya bersahabat dan bersaudara.

Sementara menurut Islam, silaturahmi itu mengikat kembali tali persaudaraan kepada orang-orang yang masih ada hubungan rahim dengan kita. Kalo dengan orang-orang yang tidak ada hubungan darah dengan kita sebagai contoh teman dekat, tetangga, teman kantor, dsb itu dinamakan silah ukhuwah.

Dan kalo sudah ngomongin tentang silaturahmi, bagi seorang muslim nggak sekedar ketemuan aja. Banyak banget keutamaannya yang bikin hidup kita lebih hidup.

Ini kata Allah SWT dalam QS. An-Nisa : 36 tentang pentingnya silaturahmi atau sila ukhuwah.

“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.”

Begitu pentingnya silaturahmi, ‘imbalan’nya juga gak main-main. Premium.

# Pertama, kunci untuk memperluas rezeki dan memperpanjang umur kita juga loh sebagaimana dalam hadist dikatakan “Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan ingin dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia bersilaturahmi.” (HR. Bukhari)

# Kedua, tanda keimanan. Rasulullah saw mengingatkan, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Abu Hurairah)

Allah swt sayang pada hambaNya yang senantiasa menjaga tali persaudaraan. Bukan hanya kepada saudara sesama muslim saja, tapi juga menjaga hubungan baik dengan yang tidak seagama.

Indah bukan jika kita saling menjaga tali persaudaraan? Ketika kita sakit ada yang menjenguk, ketika sedang mengalami kesusahan ada yang mau membantu, ketika sedang sedih ada yang menghibur.

Jadi hidup kita tuh engga hampa. Karena manusia itu sejatinya makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam perjalanan hidup kita. Gimana engga membutuhkan, kita mau makan aja butuh orang yang menjual barang yang ingin kita makan, lalu butuh orang yang memasaknya, jadi rugilah kita kalau engga menjaga tali persaudaraan ini. Catat!

*# Jagain Jangan Sampai Putus!*

Ups! Kata putus di sini nggak ada hubungannya dengan budaya baku syahwat pacaran lho ya. Kalo urusan yang itu mah, udah putusin aja.

Kalo yang ini, pastinya berkaitan dengan jalinan tali silaturahmi. Kalo Allah swt menyayangi kita yang menjaga tali silaturahmi, pastinya Dia akan marah kalo kita mutusin ikatan persaudaraan ini.

Hayoo, siapa disini yang masih belum mau ketemu dengan sodara sendiri bahkan orang lain? Sobat tau gak sih dosanya memutus tali silaturahmi atau sila ukhuwah ini? Hati-hati loh sobat memutuskan tali silaturahmi atau sila ukhuwah ini bahaya banget dosanya sebagaimana dalam hadist dikatakan

“Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam di mana keduanya bertemu lalu yang ini berpaling dan yang itu berpaling. Yang terbaik di antara keduanya ialah orang yang memulai mengucapkan salam.” (HR. Muslim).

Dan dalam Al-qur’an juga Allah menyebutkan dalam QS. Muhammad ayat 22-23

“Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dikutuk Allah; lalu dibuat tuli (pendengarannya) dan dibutakan penglihatannya.”

Naudzubillahimindzalik, Ketika kita memutuskan tali silaturahmi atau sila ukhuwah ini kita dilaknat oleh Allah dengan dibutakan mata kita serta dibuat tuli pendengaran kita, Serem banget yaaa!

Terus bagaimana dong dengan kita yang sudah terlanjur memutus hubungan?

Tenang aja sobat agama kita tuh indah banget dan mudah lagi. Jika kamu sudah terlanjur maka langkah awal yang harus dilakukan adalah dengan istighfar lalu segera meminta ampunan kepada Allah dengan cara sholat taubat.

Setelah itu baru deh kita cari kontaknya jika masih ada, namun jika tidak kunjung dapat juga kita do’akan orang tersebut agar senantiasa diberikan kesehatan oleh Allah.

Karena sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Yusuf : 87 “”Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”

Ayok sobat kita jangan sampe berputus asa dari Rahmat-Nya Allah. Tetapi, ingat yaa setelah kita bertaubat nggak ada lagi acara musuhan sama teman, sahabat atau kerabat. Karena azab dari Allah itu sangatlah pedih. Jangan sampai kepikiran untuk mampir di neraka ya. Percaya deh, azab di neraka itu nyata. Bukan screen saver.

Makanya, ayo TemanSurga marilah kita mempererat persaudaraan kita untuk meraih ridho Allah bukan membuat cerai berai tali yang sudah kita bentuk dan mendapatkan azab yang pedih dari-Nya. Seperti tagline teman surga: ngaji bareng, main bareng, kesurgapun bareng. Dan yang nggak kalah pentingnya, dengan silaturahmi kita punya peluang untuk memperpanjang usia sehingga bisa lebih banyak menabung pahala. Ini yang bikin hidup kita tak hampa. Jalin silaturahmi? Siapa takut. Yuk! []

LEBARAN TETAP JAGA KETAKWAAN

"Makan ketupat di hari raya, Duduk bersama saling memaafkan, Ramadhan berlalu meninggalkan kita, Jangan kendor kawal ketakwaan" Cakeeep!

Teman Surga di manapun berada, selamat berlebaran ya. Taqabbalallahu minna wa minkum wa taqobbal ya kariim. Semoga Allah Swt menerima amal ibadah serta mengampuni dosa-dosa kita. Kemudian memudahkan jalan kita di sebelas bulan berikutnya untuk menjadi hamba yang lebih baik lagi hingga kembali berjumpa dengan Ramadhan yang mulia. Aamiin!

BTW, Ramadhan memang sudah berlalu, tapi ketakwaan tetap harus ketat dalam kawalan. Jangan sampai gelar takwa yang kita perjuangkan turut sirna bersamaan dengan usainya momen Ramadhan. Duh, rugi banget. So, tetap semangat menjaga takwa hingga ketemu Ramadhan berikutnya adalah pilihan tepat. Yuk bisa, yuk! Bissmillah!

*# Reminder, Ramadhan Momen Latihan*

Kita udah paham banget, bahwa ending dari Ramadhan adalah untuk memperoleh gelar takwa. Hal ini sudah di-mention sama Allah SWT pada Surat Al Baqarah ayat 183. Takwa itu sendiri maknanya adalah tunduk secara totalitas kepada Allah Swt. Menjalankan segala perintah Allah Swt dan menjauhi semua larangan-Nya. Selalu merasa diawasi oleh Allah Swt di manapun, kapanpun, dan dengan siapapun berada. Baik dalam keramaian atau sendirian, selalu sadar bahwa Allah Swt senantiasa melihat. Sehingga tidak ada kesempatan untuk menjalin keakraban dengan kemaksiatan. Begitu!

Nah, untuk melatih ketakwaan ini Allah Swt berikan waktu istimewa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan. 29-30 hari adalah waktu yang sangat cukup bagi kita untuk melatih suatu kebiasaan atau habits. Habits yang mau dilatih selama Ramadhan adalah habits takwa. Habits dalam menjalankan perintah Allah Swt dan menjauhi larangan-Nya.

Pada siang hari kita berpuasa. Panas terik tak jadi persoalan. Air segar di dalam kulkas tak mempan jadi godaan. Meski sendirian, tak ada yang melihat, tetap kita jaga puasa. Setetes pun tak akan kita telan air dingin yang sangat menggoda itu. Kita tahan sampai azan maghrib berkumandang. Kenapa? Karena takwa. Kita takut dosa dan kita inginkan pahala. Karena itu kita tetap berpuasa meski godaan ada di mana-mana. Benar begitu, kan?

Pada malam harinya pula, kita melaksanakan salat tarawih. Dilanjutkan dengan tilawah Alquran. Bahkan banyak di antara kita yang khatam lebih dari sekali selama Ramadhan. Semakin dekat dan akrab dengan kalam-Nya. Terus berpacu dengan waktu, berlomba-lomba mengejar ampunan-Nya. Plus mengharapkan pahala berlipat ganda yang Allah Swt janjikan. Maa syaallah!

Semua aktivitas selama Ramadhan kita tunaikan penuh suka cita. Di hari pertama, mungkin masih terpaksa. Menahan lapar, haus, ngantuk, dan sebagainya. Tapi di hari-hari berikutnya, kita sudah mulai terbiasa. Bahkan merasakan kenyamanan dan enggan berpisah dengan Ramadahan. Vibesnya adem gitu selama Ramadhan. Ada yang merasakan hal serupa? Artinya habits selama Ramadhan sudah terbentuk. Inilah esensi dari Ramadhan, momen untuk kita melatih ketakwaan.

_”Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”_ [TQS. Al Baqarah: 183]

*# Takwa Dalam Semua Perkara*

Berikutnya, kita mesti menaikkan taraf ketakwaan. Bukan hanya sebatas ibadah ritual, tetapi kudu takwa di segala sisi kehidupan. Dalam perkara makanan di prasmanan, kita bisa saja memilih dan memilah. Tapi jika berbicara soal ketakwaan, maka tidak ada pilihan kecuali taat secara totalitas. Bahasa lainnya adalah kaffah.

Hal ini sudah disebutkan oleh Allah Swt dalam Alquran.  Bahwa berislam itu harus dalam semua perkara. Baik dalam perkara hubungannya dengan Allah Swt, dengan diri sendiri, maupun dengan sesama manusia. Semuanya wajib terikat dengan rambu-rambu islam. Inilah ketakwaan yang sempurna.

So, enggak ada ceritanya pada siang hari bepuasa dan menahan segala rupa kemaksiatan. Pas malam harinya merasa bebas mau ngapain aja karena uda buka puasa. Begitupun, usai Ramadhan. Bukan berarti berhenti beramal soleh karena sudah usai Ramadhannya. Semestinya, habits takwa selama Ramadhan menjadi aktivitas harian kita hingga jumpa pada Ramadhan yang akan datang. Tetap jaga salatnya, tilawahnya, pergaulannya, auratanya, dan semua aktivitasnya sesuai dengan aturan Allah Swt.

_”Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu semua ke dalam Islam secara menyeluruh (kaffah). Janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kalian.”_ [TQS. Al Baqarah: 208]

*# Amankan Ketakwaan Meski Sudah Tidak Ramadhan*

Sahabat surga di manapun berada, Ramadhan pasti berlalu. Namun ketakwaan tidak boleh ikutan pergi. Cukuplah satu bulan Ramadhan menjadi wadah untuk menempah diri. Ketika ia pergi, ketakwaan kita telah terbentuk. Tugas kita berikutnya adalah menjaga dan terus berupaya meningkatkan takwa.

Caranya adalah dengan tetap dekat dengan Al Qur’an. Bahkan berupaya lebih akrab lagi. Tidak hanya sekadar membaca, tetapi juga memahami maknanya. Kemudian mengamalkannya dan memviralkannya (dakwah).

Ketika Ramadhan, vibes takwa sangat kental. Semua sevibrasi, berlomba-lomba dalam ketaatan. Tapi seusai ramadahan, biasanya tantangan mulai datang. Sebab vibesnya tak lagi sama. Kemaksiatan kembali menjamur di mana-mana. Maka kita tidak mungkin bisa bertahan dalam kesendirian.

Ya, kita butuh pertemanan dan lingkungan yang kondusif untuk menjaga ketakwaan. Kita juga butuh mentor untuk membimbing kita agar tidak salah arah dalam mendaki takwa. Intinya, jangan sendiri. Sip, ya!

_”Sekeruh-keruhnya hidup berjamaah jauh lebih baik daripada beningnya hidup sendiri.”_ [Ali bin Abi Thalib]

_Rasulullah Saw. Bersabda: ”Barang siapa memisahkan diri dari jamaah satu jengkal saja, maka sungguh dia telah melepaskan tali Islam dari lehernya.”_ [HR. Bukhori]

Rabu, 12 Juli 2023

AL QUR’AN PEDOMAN HIDUPKU

**

Sobat TemanSurga, siapa nih di antara Sobat sekalian kemanapun perginya, google maps patokannya? Atau kalau lagi bingung cari jawabnya ke mbah google? Hayo ngaku. Hihi.. Dari tanya masalah headset yang nggak bisa mengeluarkan irama sampai tutorial ngerjain soal matematika. Secara nggak sadar jutaan orang hari ini rela merogoh koceknya masing-masing untuk mendapatkan sebuah petunjuk.

Misalnya saja, di tengah-tengah musim sibuknya ujian sekolah, ada lho kawan-kawan kita yang bela-belain untuk ndaftar di bimbel-bimbel ternama yang tentu tidak lain dan tidak bukan agar tahu bagaimana tutorial mengerjakan soal dengan mudah tanpa penat. Begitulah hidup, selagi ruh masih melekat di badan, pasti manusia tidak akan pernah luput dari ujian.

Eh iya Sob, ngobrolin soalan ujian, bukankah Allah sendiri yang memberikan jaminan, bahwa setiap masalah yang dihadirkan senantiasa beriringan dengan penyelesaiannya? Tapi mengapa ya hari ini masalah semakin menjadi-jadi tak beraturan. 

Padahal Al Qur’an sudah turun lengkap. Kalau yang salah Al Qur’an tentu mustahil, sebab Al Qur’an wahyu dari Allah dan terbukti bukan hanya mengubah pribadi-pribadi para sahabat yang biasa menjadi orang berkapasitas internasional dan berkepribadian agung, lebih dari itu Al Qur’an mengubah peradaban Arab jahiliyah menjadi peradaban Islam, mengubah peradaban Eropa yang gelap gulita menjadi bercahaya. Berarti yang perlu dievaluasi adalah kitanya nih Sob.

Dan rasa-rasanya berita seks bebas, aborsi, narkoba, korupsi, kemiskinan, sulitnya untuk bisa makan atau sekedar mencari lapangan kerjaan dll adalah gosip yang nongkrong di media kita setiap hari nggak sih Sob? Dari sini kita belajar, hadirnya Al Qur’an sebagai manual book instruction saja tidak cukup untuk mengubah kehidupan kalau tidak ada prosesi pengkajian kemudian dipahami dan diamalkan.

Allah SWT berfirman _“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”_ *(QS. Al Jumuah: 2)*

Kata ‘yatlu’ di dalam surat Al Jumuah di atas maknanya bukan hanya sekedar membaca, karena jika hanya sekedar membaca, dulu di zaman Rasul tidak ada media baca-nya, orang-orangnya ummi semuanya. 

Makanya hari ini kita sering salah kaprah ketika bicara tentang qori’. Qori’ itu Sob bukan cuma bacaannya doang yang bagus. Di zaman Rasulullah qori’ adalah alim ulama yang paling ngerti tentang Al Qur’an. Para sahabat yang bergelar qori’ ini merupakan orang-orang pilihan Rasulullah yang sangat dekat dengan Rasulullah. Nah siap nggak nih Sob, kita jadi orang yang dekat dengan Rasul dengan bersahabat dengan Al Qur’an juga?

Kita ngerti sendiri Sob, belajar makharijul huruf aja membutuhkan waktu yang lama, belajar tajwid apalagi, kebayang nggak sih kalau kita mau memahami tafsir menghabiskan waktu seberapa banyak? 

Ini menunjukkan kepada kita Sob kalo kita nggak boleh mencukupkan diri untuk ngefans pada imam-imam muda di masjid yang berhenti pada bacaannya bagus saja. Karena nggak cukup asal bagus bacaannya saja tapi juga harus ngerti isinya? Ibarat resep obat, sebagus-bagusnya obat kalau nggak diminum ya nggak akan sembuh atas izin Allah.

Sama dengan Al Qur’an, sebagus-bagusnya manual book instruction untuk manusia, kalau nggak dipahami dan diterapkan hanya akan berputar menikmati indahnya lantunan ayatnya saja. Islami sih, tapi gak memberi solusi. Sedih banget.

*Bukan Sekedar Kumpulan Surat*

Dengan Al Qur’an kita menjadi umat yang istimewa. Malaikat yang berinteraksi dengan Al Qur’an sebagai penyampai risalah menjadi malaikat yang istimewa, bulan yang menjadi bulan turunnya Al Qur’an menjadi istimewa, orang yang menghafal Al Qur’an menjadi mendapatkan kemuliaan yang tidak bisa dibeli dengan apapun. Terbukti! 

Al Qur’an bukan sekedar kumpulan surat, melainkan mu’jizat. Setiap hari kita melantunkan doa untuk diberi jalan yang lurus dalam Al Fatihah minimal 17 x. Lantas bagaimana menjadikan Al Qur’an ini menjadi pedoman hidup? Jawabannya sederhana lihat bagaimana Rasulullah mengajarkan.

Ternyata Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk mengambil syariat secara keseluruhan (tidak boleh prasmanan). Allah berfirman _“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”_ *(QS. Al Baqarah: 208).*

Tidak hanya itu, Allah juga mengancam siapapun yang pilih-pilih syariat _“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.”_ *(QS. Al Baqarah: 85)*. Nakutin banget ga sih Sob?

Ya Allah Ya Rabb, memang betul Islam itu sempurna dan paripurna, karena Islam bukan hanya mengatur kehidupan yang sifatnya ritual saja (seperti sholat, puasa, zakat) lebih dari itu Islam mengatur urusan dari bangun tidur sampai tidur lagi. 

So, konten-konten Islami di tiktok yang kita tonton (kaya anjuran sabar, tips lancar rizki dengan Al-Waqiah, shalawat kepada Rasulullah) semuanya itu masih 1% dari syariat yang Allah turunkan. Masih banyak bahasan-bahasan syariat yang butuh kita pelajari.

Percaya nggak kalau Islam ngatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri? Iya Sob ternyata! Dari urusan berpakaian, cara makan, minum dan akhlak kita. Islam juga mengatur sistem pendidikan, kesehatan, muamalah dll yang itu tadi hari ini tidak kita temui di segala lini, jangan heran jika kerusakan menjadi-jadi. 

So, biar bener-bener bisa ngejadiin Al Qur’an sebagai pedoman hidup langkah sederhananya kudu ngaji dulu Sob, biar bisa ngerti surat cintanya Allah kepada kita. 

Sobat sendiri gimana, sudah mengkaji Islam secara intensif belum? Jangan sampai kendor ya, bulan Syawal adalah bulan peningkatan! Pastikan mengkaji Islam masuk target bulan Syawalmu ya. Yuk…![]

Sumber: _Buletin Teman Surga #217 April 2023_

The POWER OF RAMADAN


**

Asyiknya puasa, kita serasa dimanja. Di sekolah, kegiatan belajar juga dijadwalkan supaya gak memberatkan yang puasa. Udah mah jam belajar dipangkas, eh ada libur awal dan akhir Ramadan pula. Di rumah, kondisinya juga gak jauh beda. 

Kita punya alasan untuk bermesraan dengan guling seharian. Mager setiap saat. Kan tidurnya orang puasa berpahala. Ciee..pake dalil segala. Padahal mah udah bawaan orok tuh gampang tidur lupa bangun. Puasa gak puasa, teteeep!

Padahal, kalo kita bercermin pada para shahabat, meski puasa mereka tetap perkasa. Lembaran sejarah Islam mencatat dengan tinta emas kisah-kisah kemenangan Umat Islam yang diraihnya saat Ramadan. Coba deh simak.

_1 Ramadan 587 H._ Penghancuran dan penguasaan kota ‘Asqolan yang merupakan pintu masuk menuju kota Al Quds. Penghancuran dan penguasaan kota ini dilakukan oleh Sholahuddin Al Ayyubi sebagai strategi menahan laju kekuatan kaum salib (nasrani) yang akan merebut kota Quds. Pada hari penaklukannya Sholahuddin Al Ayyubi berkata, “ Demi Allah sesungguhnya penghancuran benteng di ‘Asqolan lebih aku sukai walaupun aku harus kehilangan seluruh anakku, karena penguasaan ‘Askolan adalah demi kemaslahatan Islam dan kaum Muslimin”. Sekarang kota ‘Asqolan dikenal dengan nama kota Asduud di negara Palestina.

_6 Ramadan 223 H._ Sultan Al Mu’tasim seorang khalifah ‘Abasiyah mengadakan pengepungan terhadap kota ‘Umuriyah’ yang merupakan benteng pertahanan terkuat kerajaan Benzantiniyyah di Asia kecil. Usaha beliau berhasil dengan takluknya kota tersebut.

_9 Ramadan 222 H._ Panglima Al Afsyiin salah satu panglima perang Khalifah ‘Abasiyah Al Mu’tasim bin Harun Ar Rasyid mampu menaklukan kota albadz pusat pemerintahan Babak Al Khurmi setelah melakukan pertempuran dan pengepungan selama dua tahun penuh. Faktor pemberontakan Babak Al Khurmi yang dimulai tahun 201 H pada masa Khalifah Ma’mun adalah keinginannya untuk merebut kekhalifahan dari ras Arab yang Muslim untuk ras Faris dan Majusi. Selain itu merekapun menolak segala bentuk peribadahan seperti Sholat, Shaum, Zakat, haji dan menghalalkan minum Arak dan menghalalkan segala yang diharamkan oleh Islam. Makanya pantas diperangi.

_17 Ramadan 2 H._ Perang Badar al-Kubra. Boleh dibilang, ini adalah perang “hidup-mati” antara kaum muslimin dengan orang-orang kafir Quraisy. Rasulullah pernah merasa takut, kalau pertempuran itu akan memusnahkan kaum mukminin Madinah di muka bumi ini. Beliau berdoa kepada Allah: “Ya, Allah, jika kelompok ini sekarang binasa tidak ada lagi yang menyembah-Mu di atas muka bumi ini.”

Untungnya, Allah Swt. turut ’campur tangan’ dalam peperangan tersebut. Dan hasilnya, 313 tentara kaum muslimin berhasil menghajar telak dan melibas 1000 pasukan kaum kafir Quraisy.

_20 Ramadan 8 H._ Futuh Makkah (Penaklukan Makkah). Rasulullah SAW keluar bersama 10 ribu pasukan perang dari kaum Muhajirin dan Anshor menuju Makkah. Faktor keberangkatan beliau disebabkan penyerangan yang dilakukan kabilah Bani Bakar sekutu kaum Quraisy terhadap sekutu Rasulullah SAW kabilah Khuza’ah yang berarti pelanggaran terhadap perjanjian Hudaibiyah yang telah disepakati antara kaum Quraisy dengan Rosulullah SAW. Penaklukkan kota Mekkah berhasil dengan gemilang tanpa melalui peperangan. 

_25 Ramadan 658 H._ Perang Ain Jalut yang terjadi antara kaum muslimin dan Tartar merupakan perang yang besar dalam sejarah Islam. Hal itu dikarenakan Tartar mampu menguasai banyak daerah Islam, menjatuhkan Khilafah Abbasiah dan berhasil membunuh Khalifah Mu’tashim Billah di Baghdad pada tahun 656 H / 1256 M. Bahkan meminta Sultan Mamluki “Quds” untuk tunduk di bawah kekuasaannya. Permintaan ini ditolak dan Sultan memutuskan untuk menghadapi Tartar dalam peperangan.

Maka pada hari Jum’at tanggal 25 Ramadan 658 H, bertemulah dua pasukan besar di wilayah Ain Jalut. Dalam peperangan ini Sultan Quds mengumandangkan syiar “Wahai Allah tolonglah hamba-Mu Quds dari kaum Tartar.” Peperangan ini berakhir dengan kemenangan kaum muslimin.

_28 Ramadan 92H._ Kisah kemenangan kaum muslimin pada hari ini dimulai dengan persiapan Musa bin Nashir dengan pasukan dari Arab dan Barbar yang jumlahnya mencapai 7 ribu tentara di bawah kepemimpinan Thoriq bin Ziyad untuk menaklukkan wilayah Andalus. Maka berangkatlah Thoriq bersama pasukan dengan menyeberangi laut pada hari Senin tanggal 5 Rajab 92 H dan mereka mampu memenangkan peperangan menghadapi sekumpulan pasukan Qouth dalam 
perjalan menuju ibukata Andalus.

Akan tetapi musuh kembali menghimpun kekuatan di bawah pimpinan Rodrik raja Qouth dengan pasukan sejumlah 100 ribu tentara. Lalu mereka berjalan menuju selatan untuk menundukkan kekuatan kaum muslimin. Untuk menghadapi kekuatan musuh yang besar maka dikirimlah pasukan tambahan sejumlah 5 ribu tentara sehingga jumlah pasukan Islam di bawah pimpinan Thoriq berjumlah 12 ribu tentara. Maka bertemulah dua pasukan yang tidak seimbang dari segi jumlah pasukan di tepian sungai Wadilaka.

Peperangan terjadi selama empat hari dan pada hari keempat pasukan Qouth mampu dikalahkan dengan menelan kerugian yang sangat besar. Tidak sampai satu tahun wilayah Andalus dapat ditaklukan hampir 100% sehingga terbentuklah sebuah wilayah yang maju dalam ilmu pengetahuan dan peradaban.

Tuh, kebayang nggak sih. Udah mah puasa, ‘dipanggang’ panas terik matahari, menjelajah gurun pasir yang gersang, dan satu lagi…, harus perang! Wah, pastinya berat banget ya jalaninnya. Untung perjuangan kaum Muslimin dilandasi dengan keimanan kepada Allah Swt. Jadinya nggak gampang mundur apalagi kabur dari medan tempur. Malah mereka tambah semangat, karena yakin dengan pertolongan Allah Swt. Laahaula walaa quwwata illa billahi!

*Meski Puasa Tetap Perkasa, Ini Caranya!*

Kita bisa belajar banyak dari ’keperkasaan’ orang-orang yang tetep produktif walau puasa. Mereka bukan termasuk orang yang berbadan kekar kaya atlet binaraga. Bukan juga jelmaan superhero Marvel atau DC. Mereka sama seperti kita kok. Punya rasa lapar dan haus. Cuman mungkin, mereka lebih bisa mengendalikan nafsunya. Jadi nggak gampang tergoda untuk memanjakan dirinya. Mentang-mentang puasa, jadi lemah tak berdaya. Nggak lah yauw!

Kita juga bisa belajar pada keperkasaan mereka yang komitmen berhijrah. Move on dari kemaksiatan menuju ketaatan. Meski menghadapi banyak tantangan, tak surut semangatnya mengejar ampunan. Terutama di bulan Ramadan, saat ridho Allah swt membersamai mereka dalam ibadah dan amal sholehnya demi menghapus dosa. 

Untuk jadi perkasa, yang kita perlu lakukan cuman satu. Bangun dan perkuat benteng akidah sebagai pertahanan untuk menaklukkan hawa nafsu. Karena hawa nafsu kalo nggak dikendalikan bisa menginjak-nginjak harga diri kita sebagai hamba Allah. Itu yang bikin kita lemah bin letoy. Seperti diingatkan dalam firman-Nya:

_“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”._ *(QS. Shâd [38]: 26)*

Jalan yang paling pas untuk memperkuat benteng akidah adalah dengan mengenal Islam lebih dalam. Plus getol beribadah dan berdakwah. Biar lebih ngejoss, banyak deh bergaul dengan orang alim dan takwa agar keimanan tetep terjaga. Kalo keimanan kita udah tangguh, insya Allah hawa nafsu juga bakal ngeper. Fisik kita pun lebih siap ngadepin tantangan demi meraih ridho Allah swt. Nggak peduli meski badan tinggal tulang dan dosa. Yang penting, pantang menyerah meraih berkah!

Nah, mumpung di bulan puasa, jangan sampe waktu terbuang percuma. Nikmati kegiatan pesantren Ramadan demi menimba ilmu. Luangkan waktu untuk tilawah qur’an. Syukur-syukur bisa hatam 30 juz minimal satu kali selama Ramadan. Yang ini juga nggak boleh kelewat, shalat tarawih sebulan penuh. Ini semua yang melahirkan the power of Ramadan dalam diri kita. Semoga Allah swt memasukkan kita dalam golongan mukmin kuat yang dicintai-Nya. Meski puasa, tetep perkasa![]

Sumber: _Buletin Teman Surga 216 #April 2023_

Sabtu, 01 Juli 2023

KUPELUK ERAT RAMADANKU



 
Dalam hitungan hari, bulan mulia akan kembali menyapa kita. Bulan istimewa yang dinantikan miliaran umat Islam di seluruh dunia.
 
Nggak kebayang, tahun lalu kita belum tahu apakah masih bisa ketemu lagi dengan Ramadan kali ini. Tahu sendiri dong, namanya ajal bisa datang kapan aja tanpa notifikasi. Di antara kita mungkin ada yang dalam setahun terakhir kehilangan orang-orang yang dekat atau yang sangat dicintai. Ramadan lalu masih bareng berbuka puasa, namun kali ini kita berziarah ke pusaranya. Emot nangis.
 
Karena itu, betapa bahagia dan beruntungnya kita Allah swt kasih kesempatan untuk kembali bertemu dengan bulan nuzulul quran ini. Lantas, apa yang harus kita lakukan atas peluang dahsyat ini?
 
*Karpet Merah untuk Ramadanku*
 
Bagi sebagian remaja muslim, bisa jadi Ramadan kali ini disikapi sama dengan bulan lainnya. Apalagi kalo ngerasa terbebani dengan kewajiban puasa. Haus dan lapar ditahan seharian cuman untuk menggugurkan kewajiban. Kaya puasa sunah senin kemis aja. Itu juga kalo nggak tergoda oleh bestienya yang ngajakin ngemil sambil ngumpet.
 
Tapi bagi kita, khususnya pembaca setia buletin remaja Teman Surga, pastinya Ramadan selalu istimewa dalam kamus hidup kita. Pasalnya, Rasulullah saw telah mengingatkan berbagai keutamaan bulan mulia dalam khutbahnya menjelang bulan Ramadan.

*_“WAHAI_*_ manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama._

_Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya._

_Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu di hari kiamat._

_Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu._

_Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu._

_(Amirul mukminin k.w. (d__ibaca: _karramaallahu wajhah)_ berkata: “Aku berdiri dan berkata: “Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?”)_

_Jawab Nabi: “Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah.”_

_Wahai manusia! Sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu’.”_

_“Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.”_

_“Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya.“_

_“Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.”(HR. Ibnu Huzaimah)_

Dengan segudang keutamaan yang ada pada bulan Ramadan, tentu sangat beralasan bagi kita untuk menggelar karpet merah akan kedatangan bulan mulia. Istimewa tiada tara.

*Kugenjot Tabungan Pahalaku*
 
Nggak ada yang tahu seberapa banyak tabungan pahala kita sampai saat ini. Meski kita ngaku sholat wajibnya nggak pernah bolong, belum tentu tabungan pahala kita surplus. Malah bisa jadi minus lantaran kemaksiatan yang kita lakukan.
 
Karena itu, yang bisa kita lakukan untuk menjaga tabungan pahala kita agar terus bertambah hingga tiba waktunya diaudit oleh Allah swt di padang Mahsyar, adalah dengan terus menggenjot amal sholehnya. Inilah beruntungnya kita bisa kembali bertemu dengan bulan Ramadan.
 
Tanpa tapi tanpa nanti, langsung gaspol keseharian kita selama Ramadan dengan amal sholeh. Dari bangun tidur sampa tidur lagi, jangan kasih kendor. Apa aja? Simak pesan Rasulullah saw dalam khutbahnya menjelang Ramadan ini:
 
_1. Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirothol mustaqim pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat._

_2. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya._

_3. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka._

_4. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain._

_5. “Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain.” Ramadan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadan itu adalah bulan memberi pertolongan (syahrul muwasah) dan bulan Allah memberikan rezeki kepada mukmin di dalamnya.”_

_6. “Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.”_
_(Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa.) Maka bersabdalah Rasulullah saw, “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.”_

_7. “Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.”_

Dari mulai shalat tahajud sebelum sahur, sahur menjelang shubuh, shalat sunat fajar sebelum shubuh, tadarus quran, shalat dhuha, sedekah, menuntu ilmu, hingga waktu berbuka dilanjut shalat malam. Rutin tanpa absen.
 
*Tak Akan Kulepaskan..*
 
Paket komplit yang menyertai kehadiran Ramadan selalu bikin baper. Gimana nggak, Allah swt yang Maha Pengasih dan Penyayang ngasih kesempatan pada kita selaku hamba-Nya untuk mendapatkan kemudahan pengampunan dosa di bulan ini. Banyakin istighfar.
 
Selain bulan pengampunan dan obral pahala, suasana Ramadan juga bisa bikin keimanan naik drastis sampai ubun-ubun. Karena itu, manfaatkan untuk menguatkan benteng akidah. Agar setelah Ramadan, semangat Islam kita tetap berkobar. Konsisten terikat syariah dan aktif berdakwah.
 
Buang jauh-jauh budaya mager. Hadir di majlis ilmu biar kebanjiran berkah dan panen tsaqofah. Tadarus al-Qur’an gak cuman ngejar khataman. Tapi dibarengi dengan pemahaman setiap ayat yang dibaca. Jangan lupa perbaiki juga cara baca dan ilmu tajwidnya.
 
Dan 10 hari terakhir nanti, siapkan diri kita untuk berburu malam lailatul qadar. I’tikaf di masjid. Bukan sibuk kasak-kusuk nyari diskonan dan flash sale baju lebaran.
 
Terakhir, selama Ramadan jangan bosan untuk selalu menengadahkan tangan. Berdoa agar Allah swt menjaga diri dan menguatkan hati kita. Agar konsisten beramal sholeh. Tanamkan pada diri kita, Ramadan kali ini harus menang banyak. Gaskeuuun..![]