Kamis, 17 Mei 2018

DARI RAMADHAN KE RAMADHAN



Guys, berapa usia kamu sekarang? Mungkin ada yang 13, 14, atau mungkin 15 tahun. Artinya, setidaknya kita sudah melewati bulan suci Ramadhan sebanyak 15 kali dalam hidup kita. Sudah 15 kali tamu agung yang diutus Allah hadir ke rumah kita. Sudah 15 kali bulan yang di dalamnya melimpah rahmat dan ampunan hadir dalam hidup kita.

Tentu, yang usianya sudah sepuh, jauh lebih banyak merasakan bulan suci Ramadhan dibandingkan dengan kita-kita yang masih remaja dan pemuda.

Tapi coba kita pikirin deh matang-matang. Setelah Allah SWT dengan ke-Maha Baik-annya itu memberikan kita kesempatan begitu banyak bersandingan dengan Ramadhan, apakah terjadi perubahan dalam hidup kita?

Umumnya, yang terjadi adalah seperti ini.

Pada  hari-hari  biasa,  jauh  sebelum  Ramadhan, kehidupan kita penuh dengan aktivitas sia-sia. Mulut kita juga penuh  dengan  perkataan  yang sia-sia. Mata dan telinga kita banyak berinteraksi dengan sesuatu yang sia- sia. Ngga jarang, kemaksiatan menyelimuti diri kita dari ujung rambut hingga ujung jempol kaki.

Menjelang Ramadhan, mulai terasa atmosfer-atmosfer ‘religi’nya. Iklan sirup mulai muncul di TV. Grup band mulai  mempersiapkan  lagu  edisi   Ramadhan.  Trailer  sinetron pasca berbuka sudah mulai disiarkan untuk hawar-hawar.

Ketika bulan Ramadhan, semua orang mendadak islami. Yang tadinya ngga pake kerudung, kini pake kerudung. Yang tadinya jarang shalat, kini selalu shaf pertama. Yang tadinya selalu bangun jam 6 pagi, kini sejak jam 2 malam udah di jalan teriak-teriak bangunin orang sahur pake drum dan galon bekas.

Pertengahan hingga akhir Ramadhan, aura ibadah berubah menjadi aura belanja. Yang tadinya ahli mesjid mulai bertransisi menjadi ahli mall dan ahli pusat perbelanjaan. Yang tadinya tangannya tak berhenti bertasbih kini tak berhenti ngaduk adonan kue lebaran. Yang tadinya mantengin  jadwal kajian kini mantengin jadwal kereta api.

Saat idul Fitri, semua orang bersuka cita. Bukan karena berhasil memerangi hawa nafsu, tapi karena punya baju baru. Seketika selesai shalat idul fitri jadi rewog, semua makanan dihidangkan di meja makan, lupa tuh kemarin- kemarin bilang “Kita shaum untuk merasakan bagaimana nasib orang kelaparan”.

Dan setelah selesai masa-masa mudik, drastis berkurang bahkan seolah lenyap tak berbekas, kesan ketika kita kemarin melaksanakan ibadah shaum di bulan suci Ramadhan.

Pertanyaannya:  apakah  ini  yang  hendak  dicapai  oleh Ramadhan?

Apakah betul seperti ini tujuan mulia yang hendak Allah berikan kepada kita? Rutinitas yang terus dikerjakan belasan  tahun,  puluhan  tahun,  bahkan  hingga  kita meninggal kelak. Maenya kieu-kieu wae Ramadhan teh?

Kalau kita mau buka mata dan buka pikiran, tentu jawabannya tidak. Pasti bukan seperti ini yang diinginkan dengan hadirnya Ramadhan di hidup kita. Lebih dari itu, bahkan jauh lebih besar dari itu.

Coba kita pikir: Mengapa para Rasul saw. dan para sahabat membuncah kebahagiannya menjelang Ramadhan, serta menangis pilu ketika berakhirnya Ramadhan? Mungkinkah makna Ramadhan bagi beliau- beliau yang mulia sama dengan kita? Pasti beda.

Di  sinilah  guys,  saatnya  kita  menghentikan  rutinitas buruk dari Ramadhan ke Ramadhan. Oke, fine, itu kita yang dulu. Let bygones be bygones. Kita bertaubat nashuha kepada Allah atas rutinitas buruk kita selama ini, dan berhijrah ke sesuatu yang baru. Siap teman-teman?

Lalu, apa sebenarnya kesuksesan dalam diri kita yang diinginkan oleh Ramadhan? Simak ini.

1.   Tujuannya agar kita bertaqwa

Allah SWT berfirman,

 “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (TQS al-Baqarah: 185)

Maka, kalau setelah Ramadhan ketaqwaan kita kepada Allah tidak meningkat, sudah dipastikan bahwa tujuan ini tidak tercapai alias gagal. Yang salah bukan al-Qur’annya, tapi pasti kitanya. Setuju?

2.   Istiqamah Dalam Kebaikan Pasca Ramadhan

Tapi istiqamah itu kan berat? Yaialah, kalau ringan namanya istirahat. Oleh karena itu berat, hadiah istiqamah juga bukan ciki dor atau kelereng gopean, tapi ridho dan jannah-Nya. Allah berfirman,

 “Sesungguhnya  orang-orang  yang  mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu’.” (TQS Fussilat [41]: 30

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:
Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://mobile.twitter.com/koreapi1453?s=09
IG - https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg
Whatsapp - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar