Rabu, 23 Mei 2018

MEMBASAHI LISAN DENGAN KEBAIKAN



Tahu ngga guys bahwa salah satu aktivitas yang paling sering dilakukan oleh manusia adalah berbicara? Terdapat satu penelitian yang mengklaim bahwa rata- rata seorang pria berbicara 7.000 kata per hari. Waw, jika satu lembar A4 berisikan sekitar 300 kata, maka rata-rata seorang laki-laki berbicara sekitar 23 halaman A4!

Bawel banget ya laki-laki! Eits tapi jangan seneng dulu temen-temen perempuan. Karena menurut penelitian yang sama, ternyata rata-rata seorang perempuan berbicara 20.000 kata per hari atau hampir 3 kali lipat dibandingkan laki-laki. Artinya, per hari perempuan berbicara sekitar 66 halaman A4! Dikit lagi jadi novel tuh!

Itu adalah hasil rata-rata, artinya yang ngga merasa seperti itu ya jangan tersinggung, karena bisa jadi kamu di bawah rata-rata, bisa jadi justru di atas rata-rata, he he.

Apa sih yang dibicarakan? Ya macam-macam, kamu sendiri seringnya ngobrol apa?

Pembicaraan itu bisa jadi sesuatu yang simpel, sekedar “Hei genks, apa kabar?” “Kemana aja, sombong nih,” “Bro minjem duit dong!”

Atau bisa jadi pembicaraan sesuatu yang pelik, ngomongin nasib umat mau dibawa kemana, berbicara di mimbar-mimbar di hadapan ratusan dan ribuan masyarakat.

Bisa juga pembicaraan yang disampaikan oleh para da’i untuk menyeru dan mengajak jama’ahnya dalam rangka meningkatkan ketaqwaan dan keimanan kepada Allah SWT.

Guys, dalam Islam, setiap aktivitas kita itu akan dihisab dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak saat Yaumul Hisab, termasuk apa yang keluar dari lisan kita. Lisan ini dapat menghantarkan kita ke Surga, sebagaimana lisan ini dapat menghantarkan kita ke Neraka. Saking pentingnya Islam memerintahkan kita untuk memperhatikan lisan, Rasul saw. bersabda,

“Iman seorang hamba tidak akan istiqamah, sehingga hatinya istiqamah. Dan hati seorang hamba tidak akan istiqamah, sehingga lisannya istiqamah. Dan orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatan-kejahatannya, tidak akan masuk surga.” (HR. Ahmad)

Rasul saw. juga mengingatkan kita bahwa lisan ini merupakan salah satu sumber kesalahan dan dosa.

“Mayoritas kesalahan anak Adam adalah pada lidahnya.” (HR. Thabarani, Ibnu ‘Asakir, dan lainnya)

Lalu, bagaimana agar kita mampu menjaga lisan ini sehingga memastikan hanya kebaikan saja yang keluar pada bulan suci Ramadhan ini? Berikut beberapa poin yang patut kita simak.

1.   Ingat prinsip “Berkata baik atau diam”

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim)

Jika kita diajak membicarakan sesuatu yang jelek, keburukan, atau pembicaraan yang sia-sia oleh teman kita, ingatkan mereka untuk tidak melanjutkan hal tersebut. Jika mereka tetap melanjutkannya, maka hendaknya kita ngga usah ikut-ikutan dan diam saja, serta tinggalkan pembicaraan itu.

Namun jika pembicaraan itu adalah pembicaraan yang baik, misalnya ngajakin rapat untuk membangkitkan semangat anak-anak muda sekitar komplek untuk ngaji, justru kita harus nimbrung seraya memberikan konstribusi- kontribusi positif dalam pembicaraan.

2.   Memperbanyak berdzikir

“Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.” (TQS Ghafir [40: 55)

Ketahuilah guys bahwa berdzikir adalah sesuatu yang ringan diucapkan, namun sangat berat dalam timbangan amal kebaikan kita. Perbanyak berdzikir, baik setelah shalat fardhu, ketika di perjalanan, atau pada kesempatan apapun asalkan tidak di tempat-tempat najis.

3.   Tidak banyak berdebat kusir

“Aku memberikan jaminan untuk mendapatkan rumah di tepi surga kepada siapa saja yang dapat menjauhi debat kusir walaupun ia berada pada pihak yang benar.” (HR. Abu Dawud dan lainnya) Debat kusir adalah debat yang penuh dengan kesia-siaan, yang tidak menghasilkan pertambahan  ketaatan  pada Allah  SWT. Termasuk debat yang harus ditinggalkan adalah debat dengan orang bodoh yang istiqamah dalam kebodohannya, berbeda dengan debat yang memang bertujuan untuk memberikan nasihat pada orang yang menginginkan kebenaran, bukan mencari pembenaran (justifikasi atas kesalahan dia).

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:
Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://mobile.twitter.com/koreapi1453?s=09
IG - https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg
Whatsapp - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9

Selasa, 22 Mei 2018

MEMBASAHI MATA DENGAN TANGISAN



Guys, apa sih yang membuat kita menangis? Banyak hal ya. Mulai dari sakit gara-gara jempol kaki nabrak lemari, ketakutan gara-gara nonton film hantu, sampai gara-gara motong bawang ngga pake masker.

Tapi, jujur ya, ingat ngga kapan terakhir kali kita nangis karena inget dosa? Kapan terakhir kali kita nangis karena membayangkan azab Allah atas amal buruk kita? Kapan terakhir kali kita nangis karena takut tidak masuk surga?

Mungkin   jarang   sekali   kita   nangis   karena   hal-hal tersebut. Paling banter kalau istigashah dan ESQ menjelang ujian nasional, itupun bukan nangis inget dosa, tapi gara-gara kaki udah sakit acaranya kelamaan.

Apa yang sebenarnya terjadi? Kalau ditanya, apakah kita takut dengan azab Allah, jawabannya pasti takut, ya ngga? Kalau ditanya, apakah kita takut kelak tidak masuk surga, jawabannya juga pasti takut, betul? Tapi kenapa kita jarang sekali menangis karena itu?

Pertanyaan tersebut bukan datang dari pembicara, melainkan retoris dari Allah SWT sendiri.

“Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis?” (TQS an-Najm [53]: 59-60)

Allah SWT menjelaskan pada kita bahwa Rasul saw. dan para sahabat adalah orang-orang yang ketika dibacakan ayat-ayat kebesaran-Nya, yang menunjukkan kerasnya siksa api Neraka, balasan atas dosa-dosa, dan lainnya, membuat mereka terjatuh, tersungkur, dan menangis. Allah SWT berfirman,

“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (TQS Maryam [19]: 58)

Rasulullah Muhammad saw. sendiri adalah seorang Nabi yang perkasa dan tegar dalam kebenaran, namun jika ayat al-Qur’an dibacakan untuknya, hatinya meleleh dan air matanya berlinangan. Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, telah bersabda Nabi saw. kepadaku,

“Bacalah al-Quran untukku!” Maka aku pun bertanya,”Wahai Rasul! Apakah aku harus membaca al- Quran  untukmu,  sedangkan  al-Quran  itu  diturunkan kepadamu? Beliau saw. bersabda, “Aku sangat menyukai mendengarkan al-Quran dari orang lain.” Ibnu Mas’ud berkata; Maka aku membacakan al-Quran surat an-Nisa untuk Rasul, hingga aku sampai pada ayat: “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (TQS. an-Nisa [4]: 41). Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Cukup sampai di sini.” Aku menoleh kepada Rasul saw., ternyata kedua   matanya   mengucurkan   air   mata.”   (Mutafaq‘alaih).

Para sahabat juga sama, mereka senantiasa menangis ketika dibacakan ayat-ayat kebesaran Allah untuk mereka.

“Ketika Nabi saw. sakit menjelang wafat, Bilal datang meminta idzin untuk memulai shalat. Rasulullah bersabda, ‘Perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah’. ‘Aisyah  berkata,  ‘Abu Bakar itu orang yang terlalu lembut, kalau ia mengimami shalat, ia mudah menangis. Jika ia menggantikan posisimu, ia akan mudah menangis sehingga sulit menyelesaikan bacaan Qur’an.’ Nabi tetap berkata, ‘Perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah’. ‘Aisyah lalu berkata hal yang sama, Rasulullah pun mengatakan hal yang sama lagi, sampai ketiga atau keempat kalinya Rasulullah berkata, ‘Sesungguhnya kalian itu (wanita) seperti para wanita pada kisah Yusuf, perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah’.”

Inilah karakter yang mesti kita tumbuhkan guys, yaitu senantiasa mengingat dan menangisi atas dosa-dosa yang telah kita kerjakan, seraya berusaha memperbaiki diri.

“Sesungguhnya seorang Mukmin itu melihat dosa- dosanya seolah-olah dia berada di kaki sebuah gunung, dia khawatir gunung itu akan menimpanya. Sebaliknya, orang yang durhaka melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya, dia mengusirnya dengan tangannya –begini–, maka lalat itu terbang.”(HR Tirmidzi)

Lalu bagaimana jika ngga terbiasa menangis secara alami? Bangunlah larut malam, sebelum sahur, bersujudlah dan bayangkan Allah SWT sedang melihat kita meski kita tidak melihat Dia, tumpahkan semua dosamu pada-Nya seraya memaksakan diri untuk meneteskan air mata berharap ampunan dan ridho-Nya.

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:
Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://mobile.twitter.com/koreapi1453?s=09
IG - https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg
Whatsapp - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9

Senin, 21 Mei 2018

JAGA MATA, JAGA LISAN, JAGA HATI



Sesungguhnya Allah SWT Maha Baik, memberikan berbagai keberkahan dan limpahan rahmat pada  kita. Allah SWT Maha Kaya, Dia tidak butuh secuil pun balasan dari kita, dan kita pun mustahil  abadan abada untuk membayar segala rahmat dari Allah SWT.

Diantara rahmat Allah SWT adalah memberikan kita mata, lisan, dan hati.

Guys, sebagai seorang remaja muslim, menjaga mata, lisan, dan hati ini memang membutuhkan tekad dan keistiqamahan yang luar biasa. Trend hari ini menunjukkan godaan penglihatan, pembicaraan, dan pemikiran yang merusak dan meracuni kita begitu massif hampir-hampir tak terbendung.

Munculnya fashion yang kebarat-baratan, menampilkan aurat bahkan mengekspos seluas-luasnya, memperlihatkan  sisi  sensualitas yang begitu memanjakan mata, telah meracuni mata para remaja muslim di negeri-negeri muslim sendiri.

Bahkan ada istilah baju Yukensi, yang merupakan slengean dari bahasa Inggris, “You Can See”, secara literal berarti “kamu bisa lihat”. Lihat apa? Ya bebas aja apa yang mau dilihat, bisa dilihat.

Godaan pembicaraan juga sangat kuat. Ada aja pembicaraan,  mulai  dari  yang  penting,  ngga  penting,

sampai super ngga penting. Bahkan pembicaraan itu pun dibicarain lagi (dikomen) sama orang lain, jadinya gosip deh. Padahal, tahu ngga bahwa menggosipin teman kita sama  buruknya seperti memakan bangkai  saudaranya sendiri?

Ada remaja yang ngomongin bola, bola aja dari pagi sampai malam, belum tentu juga lebih hebat dari yang diomongin. Yang ngomongin akhwat, akhwat aja dari pagi sampai malam, belum tentu juga akhwatnya mikirin yang ngomongin. Yang ngomongin hantu, hantu aja dari pagi sampai malam, ngga tahu dia kalau hantunya sedang ngedengerin.

Kata-kata kotor dan kasar pun hari ini sudah tidak asing lagi diucapkan oleh kids zaman now. Ngga di kampung ngga di kota, mulut mereka begitu fasih mengucapkan seluruh umpatan dan isi kebun binatang, baik dengan teman sebaya ataupun ke yang lebih tua; ngga jarang ke orang tuanya sendiri!

Ok, kalau mata dan lisan paham, tapi bagaimana dengan godaan hati? Nah ini nih godaan yang super duper berat. Godaan hati dapat datang kapan saja dan dimana saja, walaupun kita sudah berhati-hati. Yaiya, karena setan ngga akan milih-milih tempat untuk menggoda kita. Jangankan di rumah, di mesjid pun setan bisa menggoda kita agar tidak khusyuk beribadah!

Belum lagi godaan hati masalah cinta. Kalau sudah mengidap  ke  ABG, kegalauannya bisa tak henti-henti, mikirin si dia aja seharian.

Nah guys, bulan Ramadhan ini adalah momen yang tepat untuk melatih kita dalam rangka menjaga mata, lisan, dan hati kita. Ramadhan menjadi momen bagi kita untuk mengokohkan benteng pertahanan keimanan dan ketaqwaan kita sehingga kita bisa menjaga diri sepanjang tahun ke depan hingga kita bertemu Ramadhan lagi, dan me-recharge benteng itu lagi.

Pada bulan suci Ramadhan, Allah SWT sendiri menutup pintu Neraka se-rapat-rapat nya dan membelengu setan dan jin jahat sejak malam-malam awal Ramadhan.

“Pada awal malam bulan Ramadhan, setan-setan dan jin-jin jahat dibelenggu, pintu neraka ditutup, tidak ada satu pintu pun yang dibuka.” (HR. Tirmidzi)

Lihat, betapa luasnya kasih dan sayangnya Allah sama kita. Nikmat apalagi yang tidak kita syukuri?

Menjaga mata, lisan, dan hati adalah perkara yang berat namun  bisa dilakukan. Ingat,  kemaksiatan  yang  besar bisa muncul dari kemaksiatan yang kecil, jangan sekali- kali kita anggap remeh suatu kemaksiatan.

Dengan menjaga mata kita dari hal-hal yang haram dipandang, jiwa kita akan lebih suci. Hafalan-hafalan akan semakin kuat. Pemikiran kita pun bisa terbebas dari pemikiran-pemikiran yang belum halal bagi diri seorang remaja.

Dengan menjaga lisan kita dari hal-hal yang haram diucapkan, diri kita akan lebih terhormat. Saudara- saudara mukmin kita tidak tersakiti dengan lisan kita, dan kita pun terhindar dari konflik-konflik yang tidak perlu.

Dengan menjaga hati kita dari hal-hal yang haram menjadi keyakinan dan pemikiran, kepribadian kita akan semakin islami. Kita punya waktu untuk lebih dekat dengan Allah SWT. Cinta kita suci dan tentunya berharap terhindar dari tertutupnya mata, lisan, dan hati dari memikirkan ayat Allah SWT. Allah SWT berfirman,

“Katakanlah, ‘Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?’ Perhatikanlah bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda- tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga).” (TQS al-An’am [6]: 46)

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:
Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://mobile.twitter.com/koreapi1453?s=09
IG - https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg
Whatsapp - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9


Minggu, 20 Mei 2018

RAMADHAN PRODUKTIF



Guys, yuk kita sedikit merenung, flashback ke Ramadhan tahun lalu. Tahun lalu, sebelum kita mengawali bulan suci Ramadhan 1438 H, mungkin diantara kita ada yang menulis dengan tinta tebal dalam kertas berwarna,

TARGET BULAN SUCI RAMADHAN 1438 H

Lalu kita tulisin tuh di bawah-bawahnya, target-target yang terinpirasi dari kajian-kajian pra-Ramadhan. Misalnya, mesti khatam-an al-Qur’an, sedekah dan infaq per hari minimal Rp.10.000, shalat dhuha dan tarawih ngga pernah bolong.

Ada juga yang memang sejak awal tidak memiliki target apapun pada bulan  suci  Ramadhan. Anggapannya, ah sama-sama aja mau Ramadhan atau ngga. Cuman bedanya ngga dikasih uang jajan aja sama ortu karena siangnya ngga makan.

Bahkan, trend nya anak zaman now adalah menghabiskan waktu shaum dengan bermain game online. Waduh, lihat saja, selama bulan suci Ramadhan, mendadak warnet game buka 24 jam. Orang lain shubuh- shubuh ke mesjid, ini anak udah mantengin di depan layar. Sampai magribnya buka bareng di mesjid, ini anak masih juga main game.

Akhirnya, Ramadhan yang disebut-sebut sebagai penghulunya para bulan berlalu tanpa meninggalkan bekas. Tidak produktif!

Padahal, karakter seorang muslim pada hakikatnya adalah karakter yang produktif, apalagi bagi temen- temen yang masih remaja dan pemuda. Allah SWT berfirman,

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah  dengan  sungguh-sungguh  (urusan)  yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (TQS al-Insyirah [94]: 7-8)

Senantiasa belajar, menghasilkan suatu karya, sebagaimana para sahabat dan ulama terdahulu. Hal ini karena remaja muslim memegang teguh warning dari Allah SWT bahwa setiap manusia menyia-nyiakan waktu dan senantiasa merugi, kecuali sebagian saja. Allah SWT berfirman,

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan   amal   saleh   dan   nasehat   menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (TQS al-‘Asr [103]: 1-3)

Jika pada bulan-bulan biasa saja karakter seorang remaja muslim produktif, maka sudah selayaknya di bulan Ramadhan ini kita lebih produktif. Betul apa betul?

Nah, lalu bagaimana caranya agar kita bisa menjadikan bulan Ramadhan ini produktif dan tidak berlalu dengan sia-sia? Ada 2 manajemen yang perlu kita perhatikan, guys.

1.   Manajemen aktivitas
Secara umum, dalam manajemen aktivitas, kita membagi aktivitas kita dalam 4 kategori.

Penting dan Mendesak: Aktivitas yang wajib dilakukan dan wajib saat itu juga.

Penting dan Tidak Mendesak: Aktivitas yang wajib dilakukan namun tidak wajib saat itu juga.

Tidak Penting dan Mendesak: Aktivitas yang tidak wajib dilakukan namun jika dilakukan wajib saat itu juga.

Tidak Penting dan Tidak Mendesak: Aktivitas yang tidak wajib dilakukan dan jika dilakukan tidak wajib saat itu juga.

Standar kepentingan dan mendesak nya, sebagai seorang muslim, haruslah dikembalikan kepada hukum syara’ yaitu ahkamul khamsah: Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh, dan Haram.

Maka, sebagai seorang muslim, setiap kita melakukan aktivitas perlu kita sadari dulu aktivitas yang kita lakukan: Apa hukum aktivitas tersebut?

Jika aktivitas tersebut Wajib dan Sunnah, maka kita prioritaskan untuk kerjakan. Selalu ingatkan diri kita setiap saat bahwa setiap kebaikan akan dilipatgandakan di bulan Ramadhan Jika aktivitas tersebut Mubah, bisa jadi dikerjakan, namun lebih baik diminimalisir bahkan tinggalkan. Dan jika aktivitas tersebut Makruh dan Haram, maka sudah jelas jangan dikerjakan sama sekali.

2.   Manajemen waktu
Ramadhan      produktif      artinya      betul-betul memanfaatkan 24 jam x 29/30 hari selama bulan Ramadhan. Jangan sampai ada aktivitas kita yang berleha-leha    dan    santai-santai    tanpa    ada keberkahan di dalamnya selama kita sadar. Bahkan,    meski    kita    sedang    di    perjalanan, usahakan    mulut    kita    tak    berhenti    untuk melantunkan dzikir.

Jika kita sekolah, maka manfaatkan istirahat dan dengan tilawah al-Qur’an. Jika kita pulang sekolah cepat, maka manfaatkan waktu tersebut dengan menulis dan menghasilkan karya-karya sekemampuan kita.

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:
Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://mobile.twitter.com/koreapi1453?s=09
IG - https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg
Whatsapp - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9

Sabtu, 19 Mei 2018

YANG PENTING TAQWA



Guys, merupakan fakta bahwa setiap dari kita memiliki kehidupan yang berbeda-beda. Ada yang bercita-cita menjadi pengusaha, dia berusaha keras membangun impiannya, dan kemudian sukses memiliki kerajaan bisnis; namun ada juga yang tidak kalah keras usahanya, namun sudah nasib, ketipu, bangkrut, bahkan berhutan miliaran.

Ada yang memiliki kehidupan yang serba dinamis dan sangat mobile, sarapan di Indonesia, makan siang di Malaysia, makan malamnya di Filipina; ada juga yang kegiatannya muter-muter di situ aja, paling jauh Rancaekek-Majalaya.

Ada yang punya kehidupan mirip naik roller coaster, hari- harinya penuh dengan tantangan dan petualangan yang berbeda; ada juga yang tiap hari kerjanya itu-itu aja, naik turunin tuas untuk celup kain selama 8 jam non-stop.

Ada yang hari-harinya diisi dengan kegiatan super produktif, paginya ia menulis buku, siangnya ia mencari nafkah, sorenya ia berdakwah ke tengah-tengah ummat, malamya ia berkumpul dengan keluarga, dan sepertiga malamnya ia habiskan hanya berkhalwat dengan Rabb- nya; namun ada juga yang seharian kerjanya hanya main mobile legend dan tidur nungguin buka puasa.

Ada yang sekolah, ada yang kuliah, ada yang kerja. Ada yang sudah menikah, ada yang sudah punya cucu, ada yang memilih ngejomblo dan tidak menikah meskipun ia mampu.

Tapi guys, siapapun kita, dimanapun kita berada, harus satu yang wajib kita ingat: yang penting taqwa. Dari Abu Dzar al-Ghifari ra., Rasulullah saw. bersabda,


“Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada, dan hendaknya setelah melakukan kejelekan engkau melakukan kebaikan yang dapat menghapusnya. Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad 21354, Tirmidzi 1987, ia berkata: ‘hadits ini hasan shahih’)

Kita seorang pengusaha? Jadilah pengusaha yang bertaqwa. Kita seorang guru? Jadilah guru yang bertaqwa. Kita seorang siswa? Jadilah siswa yang bertaqwa. Kita seorang penguasa? Jadilah penguasa yang bertaqwa.

Siapapun kita, apapun profesi kita, berapapun umur kita, sudah sehebat apapun ilmu kita, setinggi apapun posisi kita di hadapan manusia; yang harus didahulukan dibandingkan yang lain adalah taqwa.

Bukankah Allah sendiri yang menjamin pada kita jalan keluar atas segala permasalahan kita jika kita bertaqwa? Dalam penggalan surat Talaq ayat 2-3, Allah SWT berfirman,

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”

Bukankah kita senantiasa diingatkan setiap shalat Jum’at agar kita bertaqwa dan menjaga keislaman kita hingga kita mati? Allah SWT berfirman dalam Ali Imran ayat 102,

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”

Bukankah di sisi Allah kita semua sama, melainkan yang membedakan adalah derajat taqwa? Allah SWT berfirman,

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (TQS al- Hujurat [49]: 13)

Dan bulan Ramadhan inilah bulan yang Allah turunkan, bulan yang istimewa dengan shaum Ramadhan-nya, juga bertujuan agar kita bertaqwa. Allah SWT berfirman dalam al-Baqarah ayat 183,

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:
Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://mobile.twitter.com/koreapi1453?s=09
IG - https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg
Whatsapp - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9

Jumat, 18 Mei 2018

LIMPAHAN RAHMAT



Ada yang namanya Rahmat? Biasanya banyak banget, hampir di setiap sekolah kayaknya ada yang namanya Rahmat. Kalau ada, Selamat. Karena orang tuamu memberikan nama tersebut dengan harapan agar menjadi orang yang senantiasa dirahmati oleh Allah SWT.

Tapi guys, rahmat itu apa si? Rahmat adalah kata yang diserap dari bahasa Arab, dengan kata aslinya terdiri dari tiga  huruf,  ‘ر’, 'ح’,   dan  ‘م’   dan  mendapatkan   huruf tambahan   ‘ن’ atau 'ة'.   Kita   menjumpainya   dalam   al-Qur’an, misalnya sebagai salah satu Nama Allah dalam surat al- Fatihah ayat 1,

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”

Atau dalam al-Anbiya ayat 107,

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

Rahmat   bermakna   kasih   sayang.   Rahmatnya   Allah kepada makhluknya bermakna kasih sayang yang sangat luas, diberikan baik kepada alam semesta, kehidupan, dan manusia, baik yang muslim maupun yang kafir.

Misalnya Muhammad bin Jarir ath-Thabari dalam Tafsir ath-Thabari, menafsirkan al-Anbiya ayat 107 di atas, mengatakan,

“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, ditetapkan baginya rahmat di dunia dan akhirat. Namun siapa saja yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul- Nya, bentuk rahmat bagi mereka adalah dengan tidak ditimpa musibah yang menimpa umat terdahulu, seperti mereka semua di tenggelamkan atau di terpa gelombang besar”

Sadar atau ga sadar, Allah SWT telah memberikan kita rahmat yang begitu besar, dalam bentuk rezeki kesehatan, iman, islam, keselamatan dari marabahaya, tubuh yang sempurna, pahala dan kebaikan yang berlimpah.

Tapi Allah Maha Baik, di bulan Ramadhan ini Allah tambahkan lagi rahmat-Nya.

“Pada awal malam bulan Ramadhan, setan-setan dan jin-jin jahat dibelenggu, pintu neraka ditutup, tidak ada satu pintu pun yang dibuka. Pintu surga dibuka, tidak ada satu pintu pun yang ditutup. Kemudian Allah menyeru,
‘wahai penggemar kebaikan, rauplah sebanyak mungkin, wahai penggemar keburukan, tahanlah dirimu’. Allah pun memberikan pembebasan dari neraka bagi hamba- Nya. Dan itu terjadi setiap malam.” (HR. Tirmidzi 682)

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman   (yang   artinya),   “Kecuali   amalan   puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151)

“Jika  Ramadhan  tiba,  berumrahlah  saat  itu  karena umrah Ramadhan senilai dengan haji.” (HR. Bukhari no. 1782 dan Muslim no. 1256).

Coba guys, dengan berlimpahnya rahmat Allah khusus di bulan  Ramadhan,  apakah  mungkin  kita  masih  adem ayem aja di bulan Ramadhan ini? Ngga tergiur gitu dengan limpahan rahmat yang Allah berikan pada kita?

Allah sendiri yang menyuruh kita, “rauplah kebaikan sebanyak mungkin,” yang perwujudannya seperti yang dilakukan Rasul dan para sahabat. Baca Qur’an, sedekah, menghapal al-Qur’an, dakwah, bahkan jihad sekalipun dilakukan oleh Rasul dan para sahabat ketika bulan Ramadhan.

Harus terbentuk dalam mindset kita, “Bagaimana jika ini Ramadhan terakhir  dalam hidup kita? Bagaimana  jika tahun depan kita tidak lagi menginjakkan kaki kita di dalam bulan yang mulia ini?”

Sehingga, selagi kita masih berada di awal-awal Ramadhan ini, yuk tetep pertahankan semangat kita agar dari awal hingga akhir Ramadhan, kita  tetep bersemangat dalam meraih kebaikan dan rahmat dari Allah SWT.

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:
Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://mobile.twitter.com/koreapi1453?s=09
IG - https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg
Whatsapp - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9

Kamis, 17 Mei 2018

DARI RAMADHAN KE RAMADHAN



Guys, berapa usia kamu sekarang? Mungkin ada yang 13, 14, atau mungkin 15 tahun. Artinya, setidaknya kita sudah melewati bulan suci Ramadhan sebanyak 15 kali dalam hidup kita. Sudah 15 kali tamu agung yang diutus Allah hadir ke rumah kita. Sudah 15 kali bulan yang di dalamnya melimpah rahmat dan ampunan hadir dalam hidup kita.

Tentu, yang usianya sudah sepuh, jauh lebih banyak merasakan bulan suci Ramadhan dibandingkan dengan kita-kita yang masih remaja dan pemuda.

Tapi coba kita pikirin deh matang-matang. Setelah Allah SWT dengan ke-Maha Baik-annya itu memberikan kita kesempatan begitu banyak bersandingan dengan Ramadhan, apakah terjadi perubahan dalam hidup kita?

Umumnya, yang terjadi adalah seperti ini.

Pada  hari-hari  biasa,  jauh  sebelum  Ramadhan, kehidupan kita penuh dengan aktivitas sia-sia. Mulut kita juga penuh  dengan  perkataan  yang sia-sia. Mata dan telinga kita banyak berinteraksi dengan sesuatu yang sia- sia. Ngga jarang, kemaksiatan menyelimuti diri kita dari ujung rambut hingga ujung jempol kaki.

Menjelang Ramadhan, mulai terasa atmosfer-atmosfer ‘religi’nya. Iklan sirup mulai muncul di TV. Grup band mulai  mempersiapkan  lagu  edisi   Ramadhan.  Trailer  sinetron pasca berbuka sudah mulai disiarkan untuk hawar-hawar.

Ketika bulan Ramadhan, semua orang mendadak islami. Yang tadinya ngga pake kerudung, kini pake kerudung. Yang tadinya jarang shalat, kini selalu shaf pertama. Yang tadinya selalu bangun jam 6 pagi, kini sejak jam 2 malam udah di jalan teriak-teriak bangunin orang sahur pake drum dan galon bekas.

Pertengahan hingga akhir Ramadhan, aura ibadah berubah menjadi aura belanja. Yang tadinya ahli mesjid mulai bertransisi menjadi ahli mall dan ahli pusat perbelanjaan. Yang tadinya tangannya tak berhenti bertasbih kini tak berhenti ngaduk adonan kue lebaran. Yang tadinya mantengin  jadwal kajian kini mantengin jadwal kereta api.

Saat idul Fitri, semua orang bersuka cita. Bukan karena berhasil memerangi hawa nafsu, tapi karena punya baju baru. Seketika selesai shalat idul fitri jadi rewog, semua makanan dihidangkan di meja makan, lupa tuh kemarin- kemarin bilang “Kita shaum untuk merasakan bagaimana nasib orang kelaparan”.

Dan setelah selesai masa-masa mudik, drastis berkurang bahkan seolah lenyap tak berbekas, kesan ketika kita kemarin melaksanakan ibadah shaum di bulan suci Ramadhan.

Pertanyaannya:  apakah  ini  yang  hendak  dicapai  oleh Ramadhan?

Apakah betul seperti ini tujuan mulia yang hendak Allah berikan kepada kita? Rutinitas yang terus dikerjakan belasan  tahun,  puluhan  tahun,  bahkan  hingga  kita meninggal kelak. Maenya kieu-kieu wae Ramadhan teh?

Kalau kita mau buka mata dan buka pikiran, tentu jawabannya tidak. Pasti bukan seperti ini yang diinginkan dengan hadirnya Ramadhan di hidup kita. Lebih dari itu, bahkan jauh lebih besar dari itu.

Coba kita pikir: Mengapa para Rasul saw. dan para sahabat membuncah kebahagiannya menjelang Ramadhan, serta menangis pilu ketika berakhirnya Ramadhan? Mungkinkah makna Ramadhan bagi beliau- beliau yang mulia sama dengan kita? Pasti beda.

Di  sinilah  guys,  saatnya  kita  menghentikan  rutinitas buruk dari Ramadhan ke Ramadhan. Oke, fine, itu kita yang dulu. Let bygones be bygones. Kita bertaubat nashuha kepada Allah atas rutinitas buruk kita selama ini, dan berhijrah ke sesuatu yang baru. Siap teman-teman?

Lalu, apa sebenarnya kesuksesan dalam diri kita yang diinginkan oleh Ramadhan? Simak ini.

1.   Tujuannya agar kita bertaqwa

Allah SWT berfirman,

 “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (TQS al-Baqarah: 185)

Maka, kalau setelah Ramadhan ketaqwaan kita kepada Allah tidak meningkat, sudah dipastikan bahwa tujuan ini tidak tercapai alias gagal. Yang salah bukan al-Qur’annya, tapi pasti kitanya. Setuju?

2.   Istiqamah Dalam Kebaikan Pasca Ramadhan

Tapi istiqamah itu kan berat? Yaialah, kalau ringan namanya istirahat. Oleh karena itu berat, hadiah istiqamah juga bukan ciki dor atau kelereng gopean, tapi ridho dan jannah-Nya. Allah berfirman,

 “Sesungguhnya  orang-orang  yang  mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu’.” (TQS Fussilat [41]: 30

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:
Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://mobile.twitter.com/koreapi1453?s=09
IG - https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg
Whatsapp - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9

Rabu, 16 Mei 2018

TAMU AGUNG TELAH TIBA



Guys, bayangin kalau rumah kamu didatengi oleh kepala sekolah, orang yang paling dihormati di sekolah kamu. Bagaimana reaksimu? Pastinya merasa bangga dong, dan akan menjamu tamu tersebut dengan baik.

Sekarang, bayangin kalau rumah kamu didatengi oleh bupati? Wah, tamunya kepala sekolah saja kamu akan menjamu dengan baik, apalagi selevel bupati, pejabat nomor 1 di kabupaten. Pastinya akan menjamu jauh lebih baik lagi, kalau perlu bersih-bersih rumah dulu!

Kali ini bayangin kalau rumah kamu didatengi oleh kepala negara? Wah... pastinya dalam menjamu akan lebih baik lagi dibandingkan dengan tamunya kepala sekolah ataupun bupati.

Nah, sekarang guys, bagaimana kalau tamunya adalah sesuatu yang lebih agung daripada semua orang tadi, bahkan diturunkan langsung dari Rabb alam semesta? Siapa kah tamu tersebut? Ya, tamu itu adalah bulan suci Ramadhan, yang hari ini kita berada di dalamnya.

Guys, sadar ngga kamu bahwa hari ini adalah hari yang beda dari yang kemarin? Lah, memang apanya yang beda? Satu hari tetep 24 jam, Matahari tetep terbit dari timur dan terbenam di barat; terus, apanya yang beda?

Perbedaannya adalah, hari ini kita sedang berada dalam bulan yang di dalamnya rahmat, ampunan, dilipatgandakan seluruh amal kebaikan, serta ditutupnya pintu Neraka serapat-rapatnya.

Maka, meskipun satu hari nya tetep 24 jam, namun keberkahan setiap detiknya beda dengan di bulan lain. Meskipun Mataharinya tetep terbit dari timur, tapi makna fajar nya berbeda beda dengan di bulan lain. Dan meskipun Mataharinya tetep terbenam di barat, namun kebahagiaan memandangnya berbeda dengan di bulan lain.

Memangnya, seberapa agung kah bulan suci Ramadhan? Cukuplah kegembiraan Rasul saw. dan para sahabatnya yang mulia menjadi bukti betapa agungnya bulan ini.

Ma’la bin Fadhal berkata,
“Dulu sahabat Rasulullah berdoa kepada Allah sejak enam blan sebelum masuk Ramadhan agar Allah sampaikan umur mereka ke bulan yang penuh berkah itu. Kemudian selama enam bulan sejak Ramadhan berlalu, mereka berdoa agar Allah terima semua amal ibadah mereka di bulan itu. Diantara doa mereka ialah, ‘Yaa Allah, sampaikan aku ke Ramadhan dalam keadaan selamat. Yaa Allah, selamatkan aku saat Ramadhan dan selamatkan amal ibadahku di dalamnya sehingga menjadi amal yang diterima.”

Bayangin guys. Dalam pandangan sahabat, kemuliaan yang begitu agung pada bulan Ramadhan sehingga membuat mereka senantiasa ingat Ramadhan sepanjang tahun, baik sebelum maupun setelah berlalunya!

Allah SWT sendiri memfirmankan tentang keagungan Ramadhan, diantaranya melalui al-Baqarah ayat 185,
 “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

Maka, sudah sepantasnya kita ‘menjamu’ tamu agung ini dengan penjamuan extraordinary. Terlebih karena ia hanya hadir di rumah kita selama 29 atau 30 hari, tidak pantes bagi kita untuk menyia-nyiakan kehadirannya. Diantara penjamuan kita adalah:

1. Memperbanyak waktu ‘berkhalwat’ dengan Allah SWT. Selama 1 bulan ke depan kita shaum, banyak waktu-waktu yang sangat indah bagi kita berkhalwat dengan Allah. Pada momen itu tidak ada hijab antara kita dan Dia. Diantaranya adalah waktu sepertiga malam, saat-saat i’tikaf, serta malam yang lebih baik dari 1.000 bulan, Laylatul Qadr.

2. Memaksimalkan amal ibadah. Saat Ramadhan jangan tanggung dalam meningkatkan amal ibadah. Jangan cuman tambah sedikit, yang biasanya dhuha 2 rakaat, paling nambah 4 rakaat. Sayang, guys. Maksimalkan semua waktu kita untuk meningkatkan amal ibadah, baik ibadah mahdhah maupun ghair mahdhah.

3. Momen yang tepat untuk banyak-banyak mengajak teman kita berhijrah. Mumpung Ramadhan, mumpung ghirah keislaman sedang berapi-apinya, jangan lewatkan momen ini untuk berdakwah. Selain berdakwah sendiri merupakan perkataan yang dijamin oleh Allah merupakan perkataan terbaik (Fussilat: 33), ditambah pada bulan terbaik, tentu menjadi aktivitas dakwah yang terbaik.[]

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:
Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://mobile.twitter.com/koreapi1453?s=09
IG - https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg
Whatsapp - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9

Selasa, 15 Mei 2018

Ahlan wa Sahlan Ramadhan!!



Kalo udah liat iklan sirop berseliweran di tipi, udah bisa ketebak bentar lagi pasti bulan puasa.  Selain juga di pasar harga sembako yang seolah udah jadi kebiasaan kalo mau puasa atau lebaran pasti naik. Huft.. kapan ya negeri ini punya kebiasaan yang bikin hati adem hehe.. wah.. ini sih jeritan hati emak-emak kita yang harus “puter otak” ngadepin mahalnya harga kebutuhan rumah tangga. Yes, dalam hitungan jam atau mungkin bisa jadi saat Temans semua pegang dan baca buletin kece ini sudah memasuki bulan mulia, bulan Ramadhan. Ngga kerasa emang waktu begitu cepat bergulir, rasa-rasanya baru kemarin kita kumpul bareng keluarga saat Ramadhan dan Idul Fitri. Bener ga? Itulah kenapa sebenarnya waktu kita hidup di dunia pun sebenarnya sangat cepat dan sebentar. Yang kemaren masih bocah ingusan (eh.. emang ingusan? Hihi..) sekarang udah abegeh ajah, atau malah ada yang ngerasa dewasa dengan seragam putih abu-nya. Hikmahnya buat kita, jangan pernah deh anggap karna kita masih muda itu artinya perjalanan hidup masih panjang dan jauh dari kematian. Weleh..weleh.. Yakin deh, ngga ada yang bisa jamin!!. Baca nih, TQS Al A’raf ayat 34 “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya”.

Ups, jadi bahas ajal gini. Hmm.. ngga apa-apa deh biar jadi reminder. Jangan sampe kita yang ngaku masih remaja ini dan ngerasa hidupnya masih panjang jadi mikir sah-sah aja kalo nikmatin masa muda dengan bebas ngelakuin apa aja tanpa perlu diatur. Hmm… ini sih namanya ngelantur bin ngawur. Justru seharusnya sebagai generasi muda kita harus mengisi masa ini dengan menjadi remaja keren yang bertaqwa. Naahhh.. cocok!! Momentum Ramadhan ini bisa kita pakai untuk menempa diri kita menjadi remaja bertaqwa. So, let’s move!!

Bukan Puasa Sekedar

Temans, puasa menurut kamu itu apa? Hmm… ngga makan ngga minum. Itu sih jawaban anak TeKa. Hehe.. emang bener juga sih jawabannya tapi bagi remaja SMART with Islam tentu memaknai Puasa lebih dari sekedar menahan lapar dan haus aja. Itu sih rugi pake bingits. Eits, ada lho hadits Rasul saw yang berkaitan dengan ini. “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasa tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga (haus) saja” HR. Ibnu Majah. Kok bisa? Yaa.. Iyalaah bisa. Gimana ngga hangus tuh pahala puasa, ngelakuin puasa tapi masih berkata dusta (bohong). Nih.. Rasulullah saw ngingetin melalui sabdanya “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkan, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan” (HR. Bukhari). Pokoknya orang-orang yang puasanya ngga batal tapi bisa ngebatalin pahala puasanya adalah orang-orang yang menjalankan ibadah puasa tapi teteeep maksiat, misal pacaran atau bedua-duaan dengan lawan jenis, korupsi, mencuri dan perbuatan yang melanggar syari’at lainnya. Catet sobat. Jangan sampe di puasa kali ini kita merugi karna ngga dapet apa-apa (pahala kebaikan).

Padahal, Allah Swt udah nyiapin pahala khusus and special untuk ibadah puasa yang kita jalanin ikhlas karna Allah Swt. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda “Setiap amalan kebaikan anak Adam akan dilipatgandakan menjadi sepuluh hingga tujuh ratus kali dari kebaikan yang semisal. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “Kecuali puasa, amalan tersebut untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya karena dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya demi Aku” (HR. Muslim). Makanya, puasa atau ngganya kita cuma kita dan Allah aja yang tahu. Misal, mau badan dilemes-lemesin, bibir dikering-keringin, mata disayu-sayuin orang lain ngga ada yang tahu apa sebenernya kita masih puasa atau udah batalin puasa tanpa mereka tahu, tapi Allah udah pasti tahu. Ada lagi nih sebaik-baiknya balasan yang Allah kasih buat orang-orang yang berpuasa. Dari Sahl bin Sa’ad dari Nabi saw, beliau bersabda “Sesungguhnya di surga ada suatu pintu yang disebut “ar rayyan”. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya. Nanti orang yang berpuasa akan diseru  “Mana orang yang berpuasa?”. Lantas mereka pun berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya. Jika orang yang berpuasa telah memasukinya, maka akan tertutup dan setelah itu tidak ada lagi yang memasukinya” (HR. Bukhori). Maa sya Allah.. cihuy banget kan tuh, siapa juga yang ngga pengen.

Eits… tunggu dulu Temans, untuk dapetin grand price yang sekece itu tentu ada syarat dan ketentuan yang berlaku. Pertama, Puasa yang kita lakukan harus berlandaskan keimanan kepada Allah Swt. Karna emang Allah menyeru wajibnya berpuasa hanya kepada orang yang beriman. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa” (TQS. Al Baqarah : 183). Selain sabda Rasul saw yang mengatakan “Barangsiapa berpuasa Ramadhan karna iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR. Bukhori dan Muslim). Apapun perintah Allah kalo kita kerjainnya ngga pake landasan iman kepada Allah, bakalan berat deh ngejalaninnya. Apalagi puasa yang harus menahan bukan hanya yang membatalkan puasa tapi juga menahan dari hal-hal yang bisa membatalkan pahala puasa yang dibahas sebelumnya.

Kedua, niatkan dan targetkan kalo puasa yang dilakukan untuk menjadikan kita menjadi manusia yang bertaqwa bukan supaya dapet hadiah dari ortu. Yah.. kalo rejeki ngga akan kemana saat kita bisa meraih taqwa dikasih bonus juga dari ortu. Alhamdulillaah yaah. Kalopun ngga, tuh grand price yang Allah siapin apa ngga bikin mata berbinar, hati berbunga-bunga, pipi merona, dan bibir mengucap mau mau mau. And the last, isi dan hiasi puasa kita dengan mengerjakan amalan-amalan wajib lain seperti sholat full 5 waktu (buat yang masih suka bolong-bolong sholat wajibnya, ayo semangat sholatnya), menutup aurat (buat yang masih umbar aurat, niatkan Ramadhan kali ini sebagai awal untuk menutup auratnya sesuai tuntunan Syariat Islam), menuntut ilmu khususnya ilmu agama (buat yang masih males hadir ke kajian keislaman, azzamkan diri untuk mencintai majelis ilmu karna hidup kalo ngga pake ilmu apalagi ilmu Islam alamat bakal kicau bilau eh kacau balau), bantu orang tua di rumah (buat yang masih suka bilang ntar ntar yang ujungnya ngga dikerjain kalo disuruh ortu, yuk..mulai sekarang patuh dan semangat bantu ortu)  dan selain itu sempurnakan puasa kita dengan amalan-amalan sunah seperti sholat rawatib, dhuha, tahajud, tilawah Al Qur’an, perbanyak shodaqoh daaan masih banyak lagi. Allah ta’ala berfirman di dalam hadits qudsi “Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri padaKu dengan amalan wajib yang Aku cintai. Dan hambaKu senantiasa mendekatkan diri padaKu dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya“. (HR. Bukhori).

Hikmah Puasa itu……

You know what friends? Pada hakikatnya puasa itu melatih kita banyak hal, selama syarat dan ketentuan yang disebutkan sebelumnya itu kita penuhi. Seperti melatih kita untuk menjadi manusia yang sabar dalam ketaatan kepada Allah, “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu…” (TQS. Ali Imran: 200). Dan catet ya, sabar itu ngga ada batasnya makanya Allah Swt kasih pahala tanpa batas. “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (TQS. Al-Zumar: 10). So, lagi puasa tapi ternyata banyak godaan dari sana sini? Jawabannya S-A-B-A-R. Innallaaha ma’ashshoobiriin sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Ayoo.. pilih bareng sama Allah terus apa mau tergoda dan join dengan syaithon?? Kalo syaithon lagi beraksi menggoda usir dengan berlindung kepada Allah and kencengin kedekatan kita sama Allah. Jangan mau nurutin bisikannya syaithon karna setan itu musuh yang nyata meski wujudnya tak terindera.

Selain sabar, puasa juga melatih kita untuk menjadi pribadi yang disiplin. Coba aja perhatiin, saat puasa kita dibangunkan untuk makan sahur meski mata masih sepet rapet karna ngantuk tapi mau ngga mau bangun untuk “mengamunisi” tubuh yang ngga makan dan minum dari waktu subuh sampai maghrib. Dan saat adzan subuh berkumandang makan sahur pun harus diakhiri meski makanan yang kita makan enak banggeet. Trus, saat berbuka puasa kita pasti nungguin bedug maghrib ditabuh dan adzan maghrib berkumandang, ngga berani tuh mendahului berbuka meski semenit. Itu artinya puasa telah melatih kita untuk disiplin waktu. Keren kan? Satu hal lagi, puasa juga melatih kita melaksanakan banyak amalan-amalan baik yang wajib maupun yang sunah. Naaahh…. Puasa Ramadhan telah mentraining kita sebulan penuh, itu artinya kita harus melanjutkan itu semua di sebelas bulan berikutnya. Jangan sampe puasa cuma bikin kita seperti bunglon yang ngga konsisten alias gampang berubah. Pas bulan Ramadhan aja rajin sholatnya, aurat ditutup giliran Ramadhannya berakhir eehhh… sholatnya males-malesan, hijabnya dilepas. Astaghfirulloh, don’t try this ya Temans.

Seharusnya puasa menempa kita, ibarat seperti kepompong yang merubah ulat menjadi kupu-kupu cantik nan indah. Dengan menjalankan puasa full sebulan berlandaskan iman dan ilmu (Islam), maka di akhir Ramadhan kelak akan kita dapati pribadi diri yang bertaqwa. Next, istiqomahlah dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dengan semangat tholabul ilmi dan mencari teman yang bisa menjadi #TemanSurga. Ahlan wa sahlan Ramadhan!! Semoga Ramadhan tahun ini Allah berikan kita hidayah untuk menjalankan segala perintahNya dan meninggalkan segala laranganNya. Semangat Menjalankan Ibadah Puasa. Barokallohu fiikum.[]

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:
Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://mobile.twitter.com/koreapi1453?s=09
IG - https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg
Whatsapp - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9

Sabtu, 12 Mei 2018

Pendidikan Karakter? Islam Jawabannya!

Menjelang peringatan Hari Pendidikan Nasional 02 Mei kemarin, sempat beredar poster acara nobar yang bakal diadain oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Poster ini jadi viral di dunia maya lantaran bukan sembarang film yang mau diputar, tapi film keluaran terbaru berkisah keseharian pelajar dengan konfliknya seputar cinta. Kamu pasti nggak asing dengan salah satu film ini. Dilan 1990!

Pihak kemendikbud menjelaskan, film “Dilan” masih mempunyai relevansi dengan momentum Hardiknas. Hal senada ditegaskan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Pak Muhajir Effendi. Ia memastikan film itu mengandung muatan positif bagi pendidikan karakter siswa. Serius?

Bukannya menuai dukungan, rencana pemutaran film Dilan justru memancing kontra dari berbagai pihak sebelum akhirnya tak jadi ditayangkan. Ketua Umum IGI (Ikatan Guru Indonesia) Muhammad Ramli Rahim mengatakan, ada alasan kuat mengapa film Dilan tak layak diputar dalam peringatan Hardiknas. "Ada hal yang sangat tidak mendidik di dalamnya, adegan saat Dilan berkelahi dengan guru, membentak dan memukulnya bahkan memburunya hingga terbirit-birit," lanjutnya. Catat!

Krisis Pendidikan Karakter

Idealnya sebuah sistem pendidikan, tak sekedar mampu mentransfer ilmu dengan baik pada anak didik. Namun juga bisa membentuk karakter berakhlak mulia pada siswa. Ini yang tengah dikejar oleh pemerintah demi menguatkan pendidikan karakter di sekolah. Lantaran dari hari ke hari, perilaku remaja khususnya pelajar bikin prihatin.

Tengok aja pasca pelaksanaan Ujian Nasional kemarin, banyak kejadian pelajar yang berpesta merayakan pasca ujian selesai. Dari mulai corat-coret seragam sekolah, pesta miras, hingga tawuran. Perilaku tak terpuji ini menunjukkan kalo para pelajar negeri kita tengah mengalami krisis pendidikan karakter. Ngenes!
Kericuhan terjadi di saat perayaan hari kelulusan di sejumlah wilayah di Kabupaten Pati. Setidaknya, ada 3 titik kericuhan ditangani polisi. Ketiganya melibatkan oknum berseragam siswa. Sejumlah korban luka dilarikan ke rumah sakit. (news.detik.com, Kamis 03 Mei 2018)

Keempat orang oknum pelajar yang kedapatan sedang merayakan kelulusan dengan minum-minuman keras jenis tuak, pada Kamis (03/05/2018) sore, diamankan anggota Polres Bojonegoro. Keempat pelajar tersebut diamankan petugas saat minum-minum di sebuah warung yang berlokasi di Desa Ngampel Kecamatan Kapas Kabupaten Bojonegoro. (https://planet.merdeka.com, 4 Mei 2018)

Konvoi siswa-siswi usai pengumuman kelulusan siswa-siswi SMA/SMK se-Bali yang diumumkan pada Kamis, 3 Mei 2018, mengakibatkan beberapa kecelakaan. Setidaknya ada tiga orang dirawat di Instalasi Gawat Darurat RS Bali Mandara karena mengalami patah tulang akibat kecelakaan itu. (liputan6.com, 04 Mei 2018)

Selain euforia pasca pengumuman kelulusan, degradasi moral para pelajar juga kerap menjadi headline media massa. Tingkat sadisme dan seks bebas di kalangan remaja Indonesia kian memprihatinkan. Ind Police Watch (IPW) mendata, sepanjang Januari 2018 bayi yang dibuang di Indonesia sebanyak 54 bayi. Pelaku umumnya wanita muda berusia antara 15 hingga 21 tahun. (hidayatullah.com, Rabu (31/01/2018). Ngeri!

‘Pendidikan Karakter’ dalam Islam

Istilah pendidikan karakter sebenarnya nggak dikenal dalam sistem pendidikan Islam. Eit, bukannya Islam nggak peduli dengan perbaikan sikap mental dan karakter anak didiknya. Tapi justru, dari awal sistem pendidikan Islam diterapkan oleh negara, pendidikan karakter udah jadi bagian di dalamnya. Nggak ada pemisahan antara pola pendidikan yang fokus pada kegiatan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi dengan pendidikan karakter untuk membentuk pribadi berakhlak mulia. Keduanya sudah satu paket. 

Dalam Islam, pendidikan bertujuan untuk membentuk manusia yang memiliki: (1) Kepribadian Islam; (2) Menguasai pemikiran Islam dengan handal; (3) Menguasai ilmu-ilmu terapan (pengetahuan, ilmu, dan teknologi/PITEK); (4) Memiliki ketrampilan yang tepat guna dan berdaya guna.

Keliatan kan, Islam menempatkan pembentukan karakter pelajar yang berkepribadian Islam sebagai langkah pertama dan utama. Pendidikan karakter ini harus dilakukan pada semua jenjang pendidikan yang sesuai dengan proporsinya melalui berbagai pendekatan. Salah satu di antaranya adalah dengan menyampaikan pemikiran Islam kepada para siswa. Pada tingkat TK-SD materi kepribadian Islam yang diberikan adalah materi dasar karena mereka berada pada jenjang usia menuju baligh. Artinya, mereka lebih banyak diberikan materi yang bersifat pengenalan keimanan.

Barulah setelah mencapai usia baligh, yaitu SMP, SMU, dan PT materi yang diberikan bersifat lanjutan (pembentukan, peningkatan, dan pematangan). Hal ini dimaksudkan untuk memelihara sekaligus meningkatkan keimanan serta keterikatannya dengan syariat islam. Indikatornya adalah bahwa anak didik dengan kesadaran yang dimilikinya telah berhasil melaksanakan seluruh kewajiban dan mampu menghindari segala tindak kemaksiatan kepada Allah Swt.

Kurikulum pendidikan Islam dibangun berlandaskan akidah sehingga setiap pelajaran dan metodologinya disusun selaras dengan asas itu. Konsekuensinya, waktu pelajaran untuk memahami tsaqâfah Islam dan nilai-nilai yang terdapat di dalamnya mendapat porsi yang besar, tentu saja harus disesuaikan dengan waktu bagi ilmu-ilmu lainnya. Ilmu-ilmu terapan diajarkan sesuai dengan tingkat kebutuhan dan tidak terikat dengan jenjang pendidikan tertentu (formal).

Di tingkat perguruan tinggi (PT), kebudayaan asing dapat disampaikan secara utuh. Misalnya, materi tentang ideologi sosialisme-komunisme atau kapitalisme-sekularisme dapat disampaikan kepada kaum Muslim setelah mereka memahami Islam secara utuh. Materi ideologi selain Islam dan konsepsi-konsepsi lainnya disampaikan bukan bertujuan untuk dilaksanakan, melainkan untuk dijelaskan cacat-celanya dan ketidaksesuaiannya dengan fitrah manusia. 

Secara struktural, kurikulum pendidikan Islam dijabarkan dalam tiga komponen materi pendidikan utama, yang sekaligus menjadi karakteristiknya, yaitu: (1) pembentukan kepribadian Islami); (2) penguasaan tsaqâfah Islam; (3) penguasaan ilmu kehidupan (PITEK, keahlian, dan ketrampilan). Ini lho, konsep pendidikan karakter yang jauh-jauh hari sudah dipakai dalam Islam. 

Pelajar Islam, Berkarakter dan Berprestasi

Jika saat ini negara begitu merindukan lahirnya para pelajar berkatakter, sistem pendidikan Islam bakal penuhi. Pelajar berkarakter, tak hanya piawai dalam urusan ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi juga dibekali sikap mental generasi berprestasi. Berikut beberapa prinsip yang melekat pada pelajar berkarakter produk sistem pendidikan Islam.

Pertama, mental berkontribusi. Dia harus punya prinsip yang mendorongnya berprestasi bukan semata karna piala atau penghargaan tingkat dunia. Tapi untuk berbagi manfaat pada masyarakat. Sikap mental ini penting dimiliki oleh setiap pelajar. Biar mereka belajar nggak sekedar mengejar nilai akademis. Tapi juga terpacu untuk mengasah keterampilan sehingga menghasilkan karya yang berguna untuk membantu manusia. Inilah sebaik-baiknya manusia.

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Kedua, keep learn. Siswa berkarakter nggak pernah merasa cukup dengan ilmu yang udah diperolehnya. Belajar terus dan terus belajar. Bukan tanpa istirahat ya. Cuman lebih banyak mengisi waktu luangnya dengan hal-hal yang bermanfaat. Belajar juga bukan berarti hanya duduk di kelas, dengerin guru ngoceh. Tapi juga belajar secara mandiri dengan membaca buku di perpustakaan atau di rumah. Dia juga tak sungkan untuk mendatangi orang-orang pintar yang jadi rujukannya. Biar bisa diskusi dan menyerap berbagai ilmu yang dibagi. Ilmu itu didatangi, bukan mendatangi.

Ketiga, sabar jalanin proses. Pepatah bilang, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Kaya gitu deh yang namanya belajar. Untuk dapetin hasil maksimal, kita dituntut untuk berani berkorban waktu, pikiran, tenaga, harta, atau kepentingan pribadi. Nggak semua pelajar sanggup jalanin proses itu dengan sabar. Makanya hanya mereka yang konsisten dan serius bakal sampe di garis finish dengan segudang prestasi yang membanggakan.

Imam Syafi’i rahimahullah mengingatkan, “Tidak mungkin menuntut ilmu orang yang pembosan, merasa puas jiwanya kemudian ia menjadi beruntung, akan tetapi ia harus menuntut ilmu dengan menahan diri, merasakan kesempitan hidup dan berkhidmat untuk ilmu, maka ia akan beruntung.”

Keempat, berdakwah. Kewajiban berdakwah nggak pandang usia atau status pendidikan. Selama dia muslim dan udah baligh, wajib saling mengingatkan satu sama lain. Tak terkecuali pelajar. Aktivitas dakwah sebagai bagian dari pendidikan karakter, akan menjaga pelajar agar keep in touch dengan aturan Islam. Nggak lupa diri dan meminimalisir sikap egois bin individualis. Sehingga ilmunya, bisa diamalkan untuk mendukung kebangkitan Islam dan kaum Muslimin. 

Sahabat, ngeliat potret pendidikan dalam negeri yang masih berkutat dalam program penguatan pendidikan karakter sepertinya banyak yang harus dibenahi. Kalo negara kita tetap bertahan dengan aturan demokrasi sekuler kaya sekarang untuk ngatur rakyatnya, maka bibit-bibit pelajar berkarakter makin sulit ditemui. Lantaran kurikulum pendidikan sekuler menggiring siswa untuk menjadi pelajar instant yang berorientasi pada prestasi hasil belajar. Bukan proses pembelajarannya. Dan masalah terbesar yang menjerumuskan para pelajar pada perilaku amoral, yang notabene tak berkarakter justru akibat gaya hidup sekuler yang melingkupi keseharian mereka. 

Jadi, kalo pemerintah kita pengen meningkatkan mutu pendidikan, bisa bercermin pada sistem pendidikan Islam. Lebih bagus lagi kalo pemerintah nggak cuman ngaca, tapi pake sistem pendidikan Islam untuk melahirkan para pelajar berkarakter dan berprestasi. Saatnya keluar dari jeratan pendidikan kapitalis sekuler dan beralih pada sistem pendidikan Islam.

Saat ini, cara terbaik untuk melahirkan para pelajar berkarakter, khususnya pelajar muslim adalah dengan mengenalkan mereka pada Islam lebih dalam. Tak sekedar mengenal ajaran agamanya sebatas ibadah ritual semata, tapi menjadikan syariah Islam sebagai aturan hidup dalam keseharian. Karena itu, mari gencarkan acara pengajian di lingkungan sekolah sebagai bagian dari program penguatan pendidikan karakter. Siswa dan siswi didorong untuk aktif ngaji, bukan ditakut-takuti. #YukNgaji!

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:
Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://mobile.twitter.com/koreapi1453?s=09
IG - https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg
Whatsapp - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9

Jumat, 04 Mei 2018

Jadilah Ayah Tangguh untuk Generasi Tangguh


#TemanSurga, kata orang, menjadi seorang ayah adalah keindahan tertinggi bagi seorang pria. Momen-momen saat ia mendekap anaknya, membelai rambut dan mencium kening sembari mendoakan dunia-akhiratnya adalah momen yang ngga pernah dirasakan jomblo ngenes atau orang yang pacaran dengan cinta palsunya.

Tentu, menjadi ayah berarti siap berkorban. Ia menyadari bahwa saat ini, di pundaknya tergantung beban nafkah, pengayoman, pendidikan, penjagaan, dan pemimpinan istri dan anaknya; untuk itu dibutuhkan kesiapan seorang pria sebelum ia memberanikan diri mengajak anak orang menuju pelaminan.

Ayah tangguh adalah kunci generasi tangguh. Ia yang menanggung tanggungjawab terberat dalam keluarga. Ketika ada masalah, ialah yang pertama kali turun tangan. Dan ketika ada kebahagiaan, ialah yang terakhir kali merasakan.

Figur ayah tangguh terbaik yang bisa dicontoh umat manusia adalah Rasulullah Muhammad saw. Beliau mengemban risalah Ilahiah, pemimpin negara, serta ayah yang sangat menyayangi keluarganya. Dalam sirah kita melihat bagaimana sayangnya beliau terhadap Qasim, Zainah, Ruqayyah, Umm Kultsum, Abdullah, Fatimah, dan Ibrahim; meskipun hanya beberapa anaknya saja yang melihat sang ayah dipanggil Allah SWT.

Namun, rasa sayangnya itu sama sekali tidak menghalanginya untuk bersikap tidak adil terhadap hukum syara’. Hal ini ditegaskan Rasulullah saw. bahwa andai Fatimah, darah dagingnya sendiri mencuri, maka beliau sendiri yang akan memotong tangannya.

Saudaraku, ini pesan #TemanSurga untukmu. Jadilah ayah tangguh untuk generasi tangguh. Kelak pimpinlah istri dan anakmu untuk hidup #DuniaAkhiratBareng. Persiapkan dirimu dengan mulai mendewasakan diri, mulai memikirkan bagaimana masa depan, dan pastinya mengkaji Islam agar mampu menjaga keluarga kita kelak dari kerak Neraka Jahannam.

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:
Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://mobile.twitter.com/koreapi1453?s=09
IG - https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg
Whatsapp - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9

Rabu, 02 Mei 2018

Kado Na'as untuk Hardiknas

Bagaimana mampu kuseka air mata darah?
Tatkala pengguna seragam putih-merah bercumbu mesra di selasar sekolah
Ah, tak cukup rasanya hanya dengan buang muka
Bahkan aku mual, serasa ingin muntah

Ada prahara langganan yang tak kalah updet
Pelulusan plus adegan corat-coret
Lengkap dengan kendaraan yang bunyinya bak roket
Mau pamerin otak ular keket?

Piuh! Penonton geleng kepala
Tapi anak sekolah itu melenggang pongah

Harusnya hari ini bahagia
Harusnya hari ini berbangga
Tapi apa?
Hina dina meraja duduk di singgasana

Para pelajar itu bertingkah kurang ajar
Masih bau kencur sudah punya pacar
Yang sudah agak besar kerjanya menganiaya pengajar
Yang kuliah lebih parah terpapar kelakar
Meski tidak semua ikut terbakar

Kenapa?
Kenapa engkau begitu, anakku?

Ingin kuteriak sampai tercekak
Dimana mamak dan bapak?
Dimana adik dan kakak?
Dimana pendidik dan pejabat yang katanya merakyat?

Hari yang didaulat sebagai pendidikan nasional
Nyatanya hanya mendulang kecewa nan emosional

Bagaimana tidak?
Generasi penerus kian gemar merusak

Kecil-kecil bukannya belajar menjadi manusia tersohor
Malah sibuk jadi predator dengan dandanan menor

Kenapa?
Kenapa engkau begitu, anakku?
Tak tersisakah rasa malu dalam kalbu?
Aku yang melihatmu malah tergugu

Hardiknas? Ya, itu namamu
Bocah-bocah na'as, kado tiap tahun untukmu
Sungguh! Aku tidak mau menjadi kamu

#RinduPendidikanIslam
#TolakPendidikanSekuler

Sumber: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=481452118940644&id=100012275796534

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:
Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://mobile.twitter.com/koreapi1453?s=09
IG - https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg
Whatsapp - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9

Selasa, 01 Mei 2018

// Paradoks Hardiknas //

Apa kabar dunia pendidikan Indonesia? Alhamdulillah moral remajanya makin baik.. Siswanya rajin-rajin, pinter-pinter, manut-manut.. Ga ada tawuran, ga ada murid yg kurang ajar, murid bunuh guru itu cuma isu, guru cabuli 25 siswi itu hanya hoax, siswa SD berani mesum itu bohong...

Jangan bikin heboh deh, pendidikan kita baik-baik aja kok.. Guru-gurunya berkualitas, berintegritas... Pelajar jauh dari barang haram yang namanya narkoba dan miras. Ga bener kalo ada berita narkoba masuk pesantren... Fitnah kalo ada pelajar pesta oplosan..
Apalagi pesta seks... Siapa bilang sih? Jangan ngaco ah..

Sistem pendidikan Indonesia ini sudah dirancang terbaik loh.. (kata Mendikbud). Kurikulumnya sekuler, memisahkan agama dari kehidupan. Makanya outputnya juga begitu.. Ga mau diatur sama agama. Maunya bebas semau gue. Kalo hamil duluan ya tinggal dinikahkan aja, ato suruh aborsi kalo malu...

Beda sama sistem pendidikan Islam, landasannya aqidah Islam. Kemana-mana diatur agama. Wajar kalo outputnya macam Imam Syafi'i dan Ibnu Sina. Kalo suruh milih, sistem pendidikan sekuler atau sistem pendidikan Islam, kamu mau yang mana?

#TolakPendidikanSekuler
#RinduPendidikanIslam

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:
Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://mobile.twitter.com/koreapi1453?s=09
IG - https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg
Whatsapp - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9