Sabtu, 31 Agustus 2019

Menggenggam Asa Orang Tua


Satu kata untuk wanita yang melahirkanmu? Ibu, Umi, Mamah, Ambu, Emak, apapun kamu memanggilnya rasanya satu kata kurang untuk melukiskan sosok wanita yang begitu hebat ini. Selama kurang lebih sembilan bulan kita berada dalam dekapan rahimnya, menyatu dalam tubuhnya, begitupun sayangnya yang sudah mulai tumbuh sedari kita baru menjadi nutfah. Coba deh kamu tanya bagaimana dulu kamu dikandung dan dilahirkan. Pasti setiap dari kita punya cerita yang berbeda dan itu akan menjadi kenangan tersendiri, intinya kita akan paham betapa luar biasa pengorbanan dan kasih sayang seorang ibu.

Semua orang tua terlebih seorang ibu pasti selalu mendoakan yang terbaik untuk anaknya bahkan sebelum anaknya dilahirkan ke dunia. Mengharapkan kelak anaknya menjadi anak yang sholih/sholihah, sukses dan berbakti kepada orang tua. Ibu adalah orang pertama yang bersedih jika anaknya menangis, orang yang pertama cemas dan khawatir ketika anaknya sakit atau belum pulang sekolah dari jadwal biasanya, orang yang pertama kali bahagia saat anaknya meraih cita-citanya dan menjadi orang yang berhasil. Meski omelan, cerewet Ibu bikin kamu ngga suka tapi percaya deh itu adalah wujud perhatian dan kepedulian Ibu untuk kita. Kalau kitanya manut nurut, hormat kayanya ngga bakalan deh Ibu cape-cape ngomelin kita atau cerewetin kita. Cuma ya itulah, remaja zaman now yang sudah lebih banyak kepengaruhan apa yang dilihat (ditonton) dan apa yang dilihat walhasil kadang atau sering kali kalau dikasih tahu ortu atau Ibu malah balik “ngegas”. Seperti yang baru-baru ini viral terjadi dimana seorang anak laki-laki yang kesal karna tidak diberi uang sepuluh ribu rupiah, tega memukul bahkan menendang kepala wanita tua yang telah melahirkan dan membesarkannya terlebih sang Ibu sedang sakit kala itu. Ibarat air susu dibalas air tuba, pengorbanan dan kasih sayang orang tua malah dibalas dengan kelakuan tak terpuji yang bukan saja menyakiti hati tapi juga fisik. Tak lama video ini terupload dan viral, Polsek Tegalsari, Surabaya langsung memanggil dan memeriksa pelaku yang melakukan tindak kekerasan kepada Ibunya. Namun, kasus kekerasan tersebut kemudian diselesaikan dengan cara mediasi karna sang Ibu tidak tega jika harus melihat anaknya ditahan. Itulah seorang Ibu sebagaimanapun anaknya nakal bahkan menyakitkan hati tetap saja kasih sayang Ibu jauh lebih besar. Semoga kejadian dan perlakuan buruk kepada orang tua ngga akan pernah terulang lagi ya friends.

Jasa Ibumu
Masih ingat dulu, di zaman jahiliyah anak perempuan dikubur hidup-hidup? Karna bagi mereka memiliki anak perempuan itu adalah aib yang memalukan. “Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu”. (TQS. An Nahl: 58-59). Namun, ketika Rasul diutus dan mengemban Islam budaya jahiliyah ini lambat laun hilang dan mengubah kedudukan wanita menjadi sosok yang dimuliakan memiliki harkat, derajat dan martabat. Kebayang ngga sih  guys, kalau kebiasaan membunuh atau mengubur anak perempuan hidup-hidup ngga dihentikan niscaya ngga akan lahir orang-orang hebat, cerdas, sholih/sholihah, salah satunya seperti kamu.

Islam hadir memang untuk memberi rahmat bagi seluruh alam. Membawa manusia dari kehidupan yang tidak beradab menuju ke peradaban yang mulia. Termasuk memuliakan seorang wanita yang kelak akan menjadi seorang Ibu dari generasi pemimpin hebat di masa datang. Meski kesusahan demi kesusahan dialami seorang Ibu, Ia akan rela karna itu adalah fitrah. Hanya ridho Allah yang dituju, sehingga di dalam firmanNya Allah SWT menegaskan dan memerintahkan kita untuk berbakti, berbuat baik kepada orang tua. “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (TQS. Luqman: 14)

Dari Abu Hurairah ra, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah saw dan berkata, “Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?” Nabi saw menjawab, “Ibumu!” Dan orang tersebut kembali bertanya, “Kemudian siapa lagi?” Nabi saw menjawab, “Ibumu!” Dan orang tersebut kembali bertanya, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ibumu!”. Orang tersebut bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Nabi saw menjawab, “Kemudian ayahmu”. (HR. Bukhari). Iman Al Qurthubi menjelaskan hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang Ibu harus tiga kali lipat besarnya.  Karna seorang Ibu telah mengalami kesulitan saat masih hamil, lalu melahirkan dan menyusui serta merawatnya.

Can you imagine? Saat hamil, seorang Ibu kepayahan dari mulai mual yang ringan sampai makan ini salah makan itu muntah, seluruh badan pegal karna beratmu di perut Ibu semakin bertambah. Mau tidur enak dan nyaman? Rasanya sulit didapat. Masa mendekati dan tiba saatnya melahirkan, mau tahu rasa sakitnya? Sakitnya itu seperti 20 tulang patah bersamaan. Jika badan manusia hanya mampu menanggung rasa sakit hingga 45 Del, namun saat Ibu yang akan melahirkan akan merasakan sakit hingga 57 Del. Tak berakhir sampai di situ, Sang Ibu yang baru saja berjuang antara hidup dan mati saat melahirkan buah hati kesayangannya, harus “memaksa” diri untuk kembali kuat dan sehat demi menyusui anaknya ditambah tubuh mungil kamu yang masih sangat bergantung pada Ibumu.

Kamu dan Asa Ibumu
Perjuangan dan pengorbanan seorang Ibu begitu luar biasa, rasanya membalas setetes air susunya yang telah menjadi darah daging kita pun ngga akan bisa. Dari Abu Burdah, ia melihat Ibnu Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar ka’bah sambil menggendong Ibunya di punggungnya. Orang itu bersenandung, “Sesungguhnya diriku adalah tunggangan Ibu yang sangat patuh”. Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari. 0rang itu lalu berkata, “Wahai Ibnu Umar apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab, “Belum, walaupun setarik nafas yang ia keluarkan ketika melahirkan”. Beliau lalu thawaf dan shalat dua raka’at pada maqam Ibrahim lalu berkata, “Wahai Ibnu Abi Musa (Abu Burdah), sesungguhnya setiap dua raka’at (pada maqam Ibrahim) akan menghapuskan berbagai dosa yang diperbuat sesudahnya”. (dikeluarkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod).

Lihatlah bagaimana generasi salaf begitu memuliakan Ibunya. Ali bin al-Husain tak ingin makan satu meja dengan ibundanya. Alasannya? Ia takut bila merebut menu yang diinginkan ibunya. Ada lagi Usamah yang pernah memanjat pohon kurma, lalu mengupasnya dan menyuapi ibunya. Mengapa ia melakukan hal itu? Ia menjawab, “Ibuku memintanya. Apa pun yang ia minta dan saya mampu, pasti saya penuhi.”

Begitulah perhatian salaf terhadap ibu mereka. Aisyah bahkan pernah bertutur, ada dua nama yang ia nilai paling berbakti kepada sosok ibu, yaitu Usman bin Affan dan Haritsah bin an-Nu’man. Nama yang pertama tak pernah menunda-nunda perintah ibundanya. Sedangkan yang kedua, rajin membasuh kepala sang ibu, menyuapinya, dan tidak banyak bertanya saat ibundanya memerintahkan suatu hal.     

See, jangankan membalas satu tarikan nafas saat Ibu melahirkan apalagi semua jerih dan payah yang telah Ibu korbankan untuk kita sampai tumbuh remaja seperti sekarang ini. Lalu, jika begitu adanya masihkah kita menjadi anak yang membantah apalagi durhaka terhadapnya? Astaghfirullah, Please, don’t ever do that!!. Rasulullah saw bersabda, “Maukah aku kabarkan kepada kalian mengenai dosa-dosa besar yang paling besar? Beliau bertanya ini 3 kali. Para sahabat mengatakan, “tentu wahai Rasulullah”. Nabi bersabda, “syirik kepada Allah dan durhaka kepada orang tua” (HR. Bukhari-Muslim). Oleh karna itu, berbuat baiklah kepadanya jangan membuatnya bersedih apalagi sakit hatinya, segera minta maaf atas kesalahan yang pernah kita perbuat baik disengaja ataupun ngga. Mintalah doa karna doanya seorang Ibu itu mujarab alias maqbul. Ngga percaya? Kisah dari seorang Imam Masjidil Haram sekaligus hafidz qur’an yang memiliki suara yang sangat menyentuh hati siapa saja yang mendengarnya, Ia-lah Syeikh Abdurrahman Assudais. Singkat cerita pada saat Imam Assudais kecil pernah melakukan hal yang membuat Ibunya kesal dan marah, betapa tidak Assudais kecil menaburkan pasir ke dalam hidangan kambing yang disiapkan untuk menyambut tamu. Seketika melihat hal tersebut, Ibu Assudais berkata kepada anaknya “Pergilah, semoga Allah menjadikanmu Imam Masjidil Haram”. Dan doa dari Assudais kecil kini terbukti, anaknya kini telah menjadi Imam Masjidil Haram, Imam Assudais. Maa sya Allah. So, kalau kamu pengen jadi orang sukses dunia dan akhirat jangan pernah lupa untuk selalu meminta doa kepada orang tuamu karna Rasulullah saw bersabda, “Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi (kemakbulannya), yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang didzalimi”. (HR. Abu Daud).

For you, Teman Surga yang sholih dan sholihah. Muliakanlah orang tuamu, berbuatlah baik kepadanya, jadilah anak yang membanggakan’ bukan saja karna dengan memberikan prestasi terbaikmu di sekolah namun lebih dari itu jadilah anak yang sholih dan sholihah, berakhlak mulia. Sungguh tak ada yang lebih berharga selain memiliki anak yang sholih, bukankah setiap orang tua pasti selalu menginginkan kelak anaknya menjadi sholih/sholihah, berbakti? Karna amalan yang tak akan terputus salah satunya adalah doa anak yang sholih. Dan tak ada yang lebih menyejukkan mata orang tua selain melihat anak-anaknya menjadi pribadi yang cerdas, santun dan senantiasa memuliakan orang tuanya. Jika, sudah begini ridho Allah akan senantiasa bersamamu karna orang tuamu ridho atas apa yang kamu lakukan terhadapnya.

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Jumat, 30 Agustus 2019

MABAR YUK!!!



Mabar yuk?! Kalimat ajakan yang kayaknya sudah nggak asing di telinga remaja saat ini. Bisa dibilang ini kosakata baru dalam dunia gaul remaja, seiring makin ramenya game online yang mainnya ngajak rame-rame. Apalagi kamu yang sering aktif di dumay, media sosial, game online khususnya game yang bergenre moba, mmo, fps dan lain sebagainya yang penting bermain dengan kerjasama satu tim, seperti mobile legend (ml), aov, dota2, pubg, warsong, toram, free fire dan lain sebagainya pasti sering mendengar kata mabar ini. Contohnya seperti ini : mabar ff kuy, ayo mabar pubg, mabar ml cuy dan lain sebagainya.

Kalo di dunia nyata kita bisa menyebutnya dengan kopdar (kopi darat), kalau di online kita menyebutnya mabar, hanya saja ada perbedaan mabar dan kopdar ini, mabar lebih sering digunakan untuk mengajak teman atau sahabat untuk bermain game, jika kopdar bisa berarti luas, seperti ngobrol, bercerita, reuni dan lain sebagainya. Nah, ajakan mabar ini, mau nggak mau telah menyita waktu, bahkan ekstrimnya ngerampok waktu kita, hingga akhirnya kita lupa aktivitas-aktivitas yang lain, yang jauh lebih penting, bahkan jauh lebih wajib daripada sekedar main game online. Trus, gimana dong seharusnya kita mengatur, membagi, alias memenej waktu kita biar nggak banyak yang tersia hanya gara-gara main game? Makanya, yuk simak sampe kelar ya buletin Teman Surga edisi kali ini.

Kecanduan Mabar = Penyakit Jiwa?
Istilah ‘kecanduan’, identik dengan yang nggak baik, apalagi kalo kecanduan main game bareng, wah udah pasti bahaya banget. Jadi, kalo teman-teman ngeliat orang kumpul-kumpul atau mojok, trus masing-masing sambil pegang gadget, meskipun sambil ngobrol, tapi obrolannya kayak orang ngajak berkelahi. Hajar bro, tembak cuy, tendang bray, dan teriakan-teriakan sejenis, maka bisa dipastikan mereka sedang main mobil legend, dota atau pubg. Bayangin, kalo aktivitas mabar kayak gitu ada di setiap sudut rumah, setiap hari, setiap waktu, gimana kalo akhirnya nggak bikin teman-teman kita itu makin keranjingan dan akhirnya kecanduan mabar, sampe lupa diri dan lupa waktu.

Namanya juga game, makin sering kita mainnya, makin bikin penasaran, makin kita tertantang untuk ngalahin, terdorong untuk bisa ngelewatin level yang lebih tinggi. Ditambah lagi, kalo mainnya bareng teman-temannya, pasti nggak pengin kalah dengan teman gaulnya. Ada perasaan malu dan minder kalo kalah saat main game bareng. Di situlah pemicu yang bikin dia makin menggilai game tersebut. Parahnya kalo sudah jadi candu, menurut beberapa sumber itu bisa identik dengan penyakit jiwa. Loh koq bisa? Iya bisa dong, makanya kita kudu waspada, jangan-jangan kita main game udah pada tahap kecanduan.

Apa sih cirinya orang disebut ‘kecanduan’ game, yang selevel dengan penyakit jiwa? Menurut Psikiater Rumah Sakit Hasan Sadikin, dr Teddy Hidayat, cirinya adalah ketika orang tersebut memainkannya secara berlebihan. Si pecandu tidak bisa menghentikan dirinya bermain. Kapanpun dia mau, akan melakukannya. Ketika bermain game itu jadi hal terpenting dalam skala prioritasnya. Dibandingkan dengan kepentingan keluarga, atau bermain bersama teman, ia akan memilih untuk bermain game. Dari sinilah masalah biasanya muncul. PR tidak dikerjakan, kewajiban diabaikan, dan terganggunya fungsi diri. Fungsinya di sekolah terganggu, di pekerjaan terganggu. Fungsi sebagai anggota keluarga pun terganggu. Ini berlaku untuk jenis permainan sendiri maupun bersamaan.

Selama ini, pasien dengan kecanduan game yang datang kepadanya, kerap mengeluhkan beberapa ciri gangguan mental. Mulai dari sifat emosional, uring-uringan kalau dilarang bermain game, sampai gangguan jiwa. Gangguan jiwa yang diderita, kecemasan, paranoid, nggak bisa tidur, diliputi rasa takut yang hebat. Ada satu dampak lain akibat bermain game yang paling buruk terhadap perkembangan kepribadian anak. Ia mengatakan, yakni mental terganggu, tumbuh jadi anak egois, jam sosialisasi yang kurang, hingga tidak bisa berempati terhadap sesama. Tentu ini menjadi momok, karena satu generasi ke depan, ujarnya, dapat memiliki kemampuan sosialnya rendah.

Waduh, parah banget ternyata ya dampak main game?! Itu belum seberapa, Komisi Perlindungan Anak Daerah Kota Bekasi menyebut, telah terjadi pergeseran pola kekerasan yang melibatkan anak-anak. Dari semula berupa kekerasan seksual yang mendominasi, kini mengarah kepada kekerasan fisik. Ketua KPAD Kota Bekasi Aris Setiawan mengatakan, hingga akhir Maret 2019, lembaganya menerima 23 pengaduan terkait kekerasan anak. Saat diverifikasi, jumlahnya mengecil menjadi 16 kasus. Dominannya kasus yang berupa tawuran. Berdasarkan penanganan yang telah dilakukannya terhadap kasus-kasus tawuran tersebut, mayoritas dipicu karena permainan gim online yang saat ini sedang populer. Permainan tersebut memancing pemainnya mempraktikkan apa yang ada dalam gim tersebut dalam kehidupan nyata dan diwujudkan dengan cara tawuran. (sumber: pikiranrakyat.com) Ckckck…

Bahkan WHO sendiri menempatkan kecanduan main game, disebut sebagai sebuah penyakit. Pada pertemuan ke-72 Majelis Kesehatan Dunia (WHA) pada Sabtu (25 Mei 2019) kemarin, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah meresmikan kecanduan bermain game sebagai penyakit 'modern'. Menurut WHO, seperti yang dilansir dari Venture Beat, penyakit yang dinamai gaming disorder ini didefinisikan sebagai pola perilaku bermain game yang ditandai dengan gangguan pengendalian diri untuk bermain game, meningkatnya prioritas terhadap bermain game melebihi minat dan kegiatan lain dalam keseharian, dan berlanjutnya bermain game meskipun ada konsekuensi negatifnya. Tuh kan?! Jadi, masih mau keranjingan main game?!

Mabar = Mati Bareng?
Waktu kita di dunia ini sebenarnya cuman ada 3, yakni ‘kemarin’, ‘kini’, dan ‘esok’. Nah, kalo waktu ‘kemarin’ sudah kita lewatkan begitu saja, artinya nggak kita manfaatkan dengan baik, maka seharusnya ‘kini’ saatnya kita menyadari hal tersebut, agar ‘esok’ kita tidak menyesal. Sebab ‘kemarin’ memang telah berlalu, dan ‘kini’ sedang kita jalani, sementara ‘esok’, kita tidak pernah tahu apakah Allah masih kasih kesempatan untuk mentaubati perbuatan kita kemarin, lalu memperbaikinya hari ini dan besok. Bisa jadi kemarin-kemarin kita mabuk mabar, main bareng game online, eh nggak tahunya besok kita juga mabar, tapi mati bareng. Naudzubillah min dzalik.

Ihh, ngeri kan kalo tetiba kita mati bareng pas mabar game online? Padahal kita belum sempat ngisi aktivitas hidup kita dengan yang baik-baik, yang Allah perintahkan. Karena memang ajal alias maut itu nggak pake permisi, kalo dia mau pamit. Malaikat Izrail, kalo mau datang nggak pake ngasih tahu dulu, miscall dulu kek, whats app dulu apa gitu. Nggak, nggak pernah gitu, datang aja tiba-tiba sesuai dengan apa yang Allah tugaskan ke Dia, untuk mencabut nyawa seseorang. Pas mau dicabut nyawa kita, pas itu juga kita lagi maksiat, duhh… betapa ngeri ngebayanginnya.

Lho, apa mabar alias main bareng itu maksiat? Ya, tergantung main barengnya, main apa, dan mainnya pas waktu apa. Kalo mainnnya main bareng, mainin perasaan anak orang, wkwkwk… apaan sih. Nggak maksudnya, kalo mainnya main bareng game yang ada konten maksiatnya, parno lah, judi-lah, dan sejenisnya udah pasti itu maksiat bin dosa. Belum lagi, kalo waktu mainnya sampe ngelupain waktu sholat wajib, atau malah nggak pernah bisa sholat, maksudnya nggak hafal doa-doa dalam sholat, eh malah asik main game, daripada ngambil waktu buat ngapalin doa-doa sholat. Nah, kalo sampe ngelupain sholat atau kewajiban-kewajiban yang lain, kayak belajar, ngebantu orang tua, berdakwah, maka udah pasti main bareng kayak gitu mengandung maksiat.

Perhatikan firman Allah berikut ini:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran:185)

Yes, dunia itu bisa memperdayakan, dan sayang banget kalo akhirnya kita diperdaya hanya dengan menghabiskan waktu kita main game aja. Mungkin aja kamu seneng main game bareng teman-teman kamu, tapi sadarilah sebenarnya itu melenakan. Waktu itu nggak pernah bisa balik lagi kalo udah lewat, makanya kita seringkali menyesal kalo waktu itu sudah lewat. Sebelum semuanya terlambat, sebelum datang penyesalan yang lebih dalam, yuk kita sudahi mabar yang tiada gunanya. Kalo pun masih mau main game, pastikan itu hanya selingan di waktu luang, ketika aktivitas-aktivitas yang lebih penting, yang lebih wajib sudah dikerjakan dengan tuntas.

Jangan menjadikan mabar sebagai salah satu agenda di jadwal kita sehari-hari, karena pantasnya mabar hanya dijadikan sekadarnya aja. Kita lebih pantas untuk menyiapkan diri menghadapi masa depan, entah itu masa depan dunia dengan cita-cita kita, terlebih masa depan akhirat dengan amal-amal shalih kita. Sekali lagi, dunia ini hanya kesenangan yang bisa melenakan, ibaratnya seorang musafir, kita di dunia ini hanya singgah, maka sekali singgah, manfaatkan waktu dengan baik, memperbanyak bekal untuk tujuan akhir kita. Kita ini penduduk asli surga, dan kita akan kembali ke tempat asal kita, jangan terlena dalam perjalanan sebagai musafir di dunia.

Mabar Ngaji Islam
Mabar alias main game online bareng, kalo keseringan kita lakuin bisa kecanduan, dan bisa jadi habits atau kebiasaan kita mengisi waktu. Padahal banyak aktivitas yang masih kita bisa lakuin di saat kita masih remaja seperti sekarang ini. Hadist dari Rasulullah SAW berikut ini bisa jadi renungan:

“Segeralah beramal sebelum datang tujuh perkara; apakah kalian akan menanti sampai datang kemiskinan yang melupakan, atau kaya yang membuat sombong, atau sakit yang merusak kehidupan, atau tua yang melemahkan kekuatan, atau kematian yang menyegerakan, atau datangnya dajjal, makhluk gaib yang paling buruk dinanti, atau datangnya hari kiamat, hari yang sangat dahsyat dan mengerikan” (HR. Tirmizi)

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Al Hakim)

Maka, kalo soal prioritas amal yang kita harus lakuin mumpung Allah masih ngasih kesempatan di masa muda sekarang ini adalah: (1) Kerjakan yang Wajib, Tinggalkan yang Haram; (2) Rutinkan yang Sunnah, Hindari yang Makruh; (3) Kurangi yang Mubah. Nah, main game baik itu yang bareng-bareng maupun sendiri-sendiri masuk kategori yang mubah, sementara sudahkah kita ngelakuin yang wajib-wajib dan yang sunah? Pasti banyak yang belum.

Jangan-jangan kita malah belum banyak yang tahu, mana perbuatan yang masuk kategori hukumnya wajib, sunnah, haram, makruh maupun mubah? Padahal kaidahnya adalah al-ilmu qablal ‘amal, ilmu itu sebelum amal. Yes, mulai sekarang jangan ditunda-tunda lagi untuk datang ke kajian, ngikuti kajian, jangan anti sama kajian, karena dengan ngaji Islam kita jadi tahu perbuatan kita sia-sia atau enggak. Jadi, mabar kita selama ini main game bareng, kita ubah dengan mabar alias yuk maos (ngaji) bareng di kajian, di majelis ilmu, di halaqah. Di tempat seperti itulah kita akan bisa mawas diri, kita bisa tahu jati diri kita, yang selanjutnya diri ini jadi tahu apa yang musti dilakuin selama di dunia ini sebagai musafir, sebagai hamba Allah yang sedang menempuh perjalanan menuju peristirahatan kita yang abadi yakni akhirat. Yuk, jangan ragu dan jangan takut, datangi tempat-tempat kajian ilmu. Yuk ngaji![]

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Kamis, 15 Agustus 2019

Ayo Bangkit Sobat!!



Mati gaya. Pemadaman listrik yang terjadi beberapa hari lalu khususnya di Pulau Jawa dengan durasi yang lama ternyata bikin remaja milenial yang kesehariannya ngga bisa jauh dari gadget ini seolah mati kutu, ngga berkutik bingung mau ngapain. Ibaratnya, secanggih apapun gadget atau teknologi kalau listrik sebagai sumber energi utamanya sudah mati, yaa.. ngga akan bisa berguna. Bahkan, dengan kejadian mati listrik massal kemarin ini, menimbulkan kerugian di sektor usaha dan layanan publik hingga triliunan rupiah lho guys meski ngga sampai sehari padamnya. Kebayang ya friends, listrik padam seolah “dunia” terhenti sesaat dengan hiruk pikuk aktivitas dan kesibukan manusia. Bisa terlihat betapa manusia begitu bergantung dengan “listrik”. Jangankan mati listrik sejam dua jam, lihat lampu indikator batre hp yang low aja udah panik apalagi ini hampir setengah hari bahkan ada yang seharian mati listrik. Ups, by the way kita ngga akan membahas tentang padamnya listrik ya guys. Walaupun sebagai generasi muda harapan bangsa, tetap harus kritis dengan setiap peristiwa yang terjadi. Jangan cuma bisanya ngedumel kesel karna ngga bisa ngeksis dan ngakses sosmed. Eits, kritis bukan berarti komen-komen yang cenderung nyinyir lho yaa.. kritis di sini adalah sikap yang menggunakan akal kita untuk berpikir dari mulai cari tahu apa yang terjadi secara detail, lalu apa yang menjadi penyebabnya sampai tataran solusi. Wiiihh... berat deh. hmm.. Ngga berat kok, ya minimal teman-teman tahu dan ngga cuek dengan apa yang terjadi di sekitar, sambil terus bersemangat mengkaji Islam. Listrik yang mati kok Islam yang dikaji? Naah.. inilah kerennya Islam, jangankan listrik, semua hal sekecil apapun Islam punya aturannya guys. So, Islam bukan sekedar ngurusin agama and ibadah doang lho ya. Islam telah berhasil membangun peradaban mulia dengan generasi hebatnya selama kurang lebih 13 abad. Tentu ngga berlebihan, kalau aku dan kamu bisa bertekad untuk menjadi generasi hebat yang bisa membawa negeri ini menjadi yang terdepan.

Yakin Sudah Merdeka?
Sudahlah, kamu itu masih “bau kencur” ngga usah ribet ngurusin dan mikirin negeri ini. Toh, saat ini kita sudah merdeka, kamu bisa melakukan apa aja tanpa harus merasakan ketertekanan dan penderitaan karna dijajah oleh penjajah. Ups,, kalau ada statement begini jangan langsung baper ya friends hanya karna kamu memilih menjadi remaja milenial yang cenderung melawan arus dari remaja kebanyakan. Ya, mau ditutup mata pakai apa aja juga tetep aja kelihatan kalau remaja sekarang ini banyak yang lebih memilih berhaluan hidup hedon dan permisif. Yang di pikirannya gimana caranya happy, just it. Bebas merdeka melakukan apa aja tanpa perlu diatur-atur. Yakin merdeka guys? Mungkin para kompeni sudah pergi dari negeri ini dan sudah tidak lagi menjajah secara fisik. Tapi, apatah perginya penjajah dari negeri ini jika ternyata mereka masih dengan leluasa menjajah generasi muda harapan bangsa ini melalui “racun” pemikiran liberal yang disuntikkan ke pikiran para remaja. Berjuta cara akan dilakukan demi menjadikan generasi hebat ini “berkiblat” pada gaya hidup barat. Cara yang mudah dan cepat melalui Film dan Song. Setelah dua garis biru yang kontroversi dengan adegan sepasang pelajar yang berpacaran hingga having sex dan akhirnya hamil, konon film ini bertujuan untuk memberikan sex edukasi. Zonk, yang ada bukannya remaja menjauhi malah merasa “dituntun” untuk melakukan hal serupa. Karna apa? Ya itulah tabiat remaja, penasaran dan pengen coba-coba. Kalau sudah begini, fix mereka berhasil bikin remaja semakin terjerumus pada gaya hidup liberal, bergaul bebas tanpa batas.

Next baru-baru ini sedang viral, film yang katanya akan tayang bulan oktober namun proses syuting sudah dimulai dan berjalan. Film yang berlatar belakang kehidupan seorang santri. Film ini didirect oleh seorang sutradara Hollywood asli Blitar. Lalu mau dibawa kemana arah film ini? Pasti selalu ada “pesan” yang ingin disampaikan kepada yang menonton, dan lagi-lagi kalangan remaja. Yess, clear.. yang memproduksi film ini ingin menampilkan Islam Nusantara yaitu Islam yang moderat dan toleran, bukan Islam yang radikal atau teroris. Hmm... menarik untuk dicermati. Film memang media yang sering digunakan untuk menginfluence siapa saja yang menontonnya, dengan alur cerita yang dibuat dan begitu apik penonton dibawa masuk kedalam cerita dan pada akhirnya mereka pun terpengaruh dengan “pesan” terselubung dari film tersebut. Katanya film itu akan tayang bertepatan dengan hari santri. Menurut KBBI, santri adalah orang yang mendalami agama Islam. Saat mendalami Islam para santri biasanya “mondok” atau bermukim di pesantren untuk beberapa waktu yang tidak sebentar. Sosok santri yang tawadhu dengan keilmuannya, menjunjung tinggi adab menjadi seorang pembelajar dan senantiasa lekat dengan taqarrub ilallaah. Namun, seolah film ini ingin merubah image santri menjadi santri “modern” dengan terbuka dengan nilai-nilai di luar Islam seperti paham moderat dan toleran. Wait!! Jangan cepat-cepat ingin dibilang gaul dan modern friends. Simplenya gini, Islam yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw sebagai rahmat bagi seluruh alam sudah SEMPURNA. Menambah embel-embel di belakang kata Islam justru seolah membuat Islam menjadi tidak sempurna terlebih jika disandingkan dengan paham yang berasal dari luar Islam. Memoderatkan Islam sama saja menjadikan Islam bisa menerima dan kompromi dengan nilai-nilai di luar Islam meski sebenarnya itu bertentangan dengan Islam itu sendiri. Seolah ketika ada muslim yang memegang teguh prinsip agama Islam dianggap ngga moderat, fanatik bahkan ekstrim. Bukankah Allah SWT sudah menegaskan bahwa agama ini (Islam) sudah sempurna ”...Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu...”. TQS. Al Maidah: 3

Pernah lihat perayaan hari besar agama tertentu trus yang ngerayainnya semua agama termasuk muslim? Atau pernah lihat pegawai suatu kantor atau mall yang pakai topi atau kostum sinterklas meski sebenarnya dia muslim? Nah.. ini yang dibilang jadi Islam itu harus toleran. Yang intinya toleran itu sikap menghargai perbedaan baik itu berupa pandangan, kepercayaan atau keyakinan. Cuma.. sikap menghargainya too much deh, Islam sebagai agama paripurna telah memberikan porsi yang pas seperti apa menghargai umat dan perayaan hari besar agama lain. Hargai dan hormati dengan cara biarkan mereka dengan agama, keyakinan dan perayaan agama tanpa perlu kita ikut-ikutan. Karna untuk area aqidah Islam jelas ya.. pertama, Islam saja melarang adanya paksaan dalam agama. Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surat Al Baqarah: 256 “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)..”. Meski dakwah kepada Islam itu wajib tapi kita tidak boleh memaksa orang di luar Islam untuk masuk kedalam Islam. Kedua, Islam mengatur bagaimana menghargai dan menghormati perayaan agama lain dengan prinsip “lakum diinukum waliyadiin, untukmu agamamu dan untukku-lah agamaku” jadi nafsi nafsi aja ya.. alias masing-masing.

Song. Selain film, lagu atau nyanyian juga ternyata bisa membuat para remaja ikut larut dengan bait demi bait lirik yang dinyanyikan. Asal enak didengar terlebih sang penyanyi punya tampang menarik,  lagu apa pun yang mereka bawakan so fasih dihapal meski ngga sedikit yang berisikan tentang sesuatu yang bertentangan dengan aqidah atau mengajarkan bergaul bebas. Belum lagi, saat penyanyi atau girl/boyband korea favoritnya “manggung” atau konser, jerit histeris menjadi bukti bahwa mereka begitu mengidolakannya. Malah pernah ada, penonton yang diajak naik ke atas panggung rela pasrah bahkan senang bukan kepalang untuk dipeluk cium oleh sang idola. Bertaruh harga diri pun sepertinya siap mereka lakukan untuk sang idola. Na’udzubillah.

So, jika fenomena banyaknya generasi muda yang terpapar gaya hidup barat, baik itu cara berpikir dan berperilaku, itu artinya generasi kita masih “TERJAJAH”.

Merdeka Nan Hakiki
Bebasnya fisik dari penjajahan namun masih tersanderanya pikiran yang ikut manut dengan life style barat, sebenarnya membuat generasi ini adanya seperti tidak adanya. Jumlah generasi muda negeri ini sangat banyak bahkan bisa dikatakan mayoritas, tentu itu artinya potensi mereka pun luar biasa. Namun, karena generasi muda kita telah terbius dengan cara berpikir instan, bebas, always having fun membuat potensi generasi untuk membangun negeri menjadi terhibernasi. Seandainya pun potensi mereka digunakan, lebih diarahkan pada hal-hal yang tidak hakiki. Jangankan untuk membangkitkan dan memajukan bangsa, bersikap peduli dengan kondisi negeri saja tidak.

Come on guys, berhentilah sejenak lalu mulai berpikir mau sampai kapan menjadi pembebek kebudayaan barat. Kalian adalah generasi pemimpin, mulailah memimpin diri untuk menghempaskan cara berpikir dan bersikap ala barat. Lalu, mulai bangkit dan isi masa mudamu dengan ilmu dan takwa. Imam syafi’i pernah mengatakan bahwa “eksistensi seorang pemuda –demi Allah- adalah dengan ilmu dan ketakwaan. Jika keduanya tidak ada padanya, maka tidak ada jati diri padanya”. Dengan ilmu, kalian bisa menggunakan potensi yang telah Allah berikan untuk berkarya membangun peradaban mulia (Islam) kelak. Betapa banyak Islam telah berhasil melahirkan generasi cemerlang yaitu para ilmuwan yang karyanya masih “menerangi” hingga kini. Dengan takwa, kalian bisa menjadi generasi qur'ani yang senantiasa tunduk taat kepada Allah Azza wa Jalla. Karna hakikatnya merdeka adalah saat aku, kamu dan kita semua bisa menjalankan seluruh perintah Allah SWT.

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Kamis, 08 Agustus 2019

Pengorbananmu, Jati Dirimu!



“Tiada Cinta Tanpa Pengorbanan”... ciee... melow banget ya kalo ngomongin soal cinta pengorbanan. Rasanya seperti kisah di film aja. Punya rasa cinta harus siap berkorban. Bukan hanya cinta pada lawan jenis, kecintaan pada segala hal sejatinya bakal menuntut kita untuk banyak berkorban. Kalo gak mau berkorban, rasa cintanya dianggap receh. Crink!

Pengorbananmu Untuk Apa?

Hari gini, berani berkorban sebagai ekspresi cinta bukan hal yang asing bagi remaja milenial. Kecintaannya pada hal-hal berikut, menuntut mereka untuk selalu berkorban. Tanpa tapi. Tanpa nanti.

Pertama, game online. Hobi yang satu ini, seolah sudah mendarah daging dalam diri generasi milenial. Kemudahan akses internet dan terjangkaunya harga gadget, bikin remaja nggak ketinggalan main game online. Di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja bisa mabar (main bareng) everyday. Awalnya sih cuman ngisi waktu luang. Lama kelamaan jadi kecanduan. Bawaannya gelisah kalo satu hari aja gak main game main ML atau PUBG.

Kalo udah kecanduan, tahu sendiri akibatnya. Akan banyak waktu luang dikorbankan. Banyak kewajiban terlalaikan. Bagi anak-anak, periode emas mereka banyak direnggut game online. Bagi remaja, waktu produktifitas mereka habis buat main game. Bukan cuman waktu, harta juga dikorbankan untuk beli kuota. Termasuk pikiran yang banyak tersita dengan kompetisi game biar naik level dan jadi juara.

Kedua, idola. Bagi remaja, punya idola itu bagian dari eksistensi. Biar update. Kekinian. Dan nggak jadi korban bully. Karena remaja perlu model yang bisa mereka tiru. Dan keberadaan idola, seolah menjadi jawabannya.

Kalo udah punya idola, nggak cukup sekedar ditulis dalam biodata. Minimal posternya nempel di dinding kamar. Cukup? Pastinya belum. Sebagai tanda fans, mereka bela-belain hadiri konser musisi idolanya meski harga tiketnya selangit. Nggak ketinggalan update berita keseharian sang idola. Nabung biar dandanannya, busananya, hingga aksesorisnya seperti yang dipakai sang idola. Fans berat bakal dituntut pengorbanan waktu, harga, dan pikirannya. Padahal, belum tentu sang idolanya mikirin doi.

Ketiga, persahabatan. Di balik ikatan solidaritas persahabatan, pastinya menuntut pengorbanan. Dari mulai main bareng, jalan bareng, atau makan bareng. Kalo udah lengket banget, lahir peer pressure alias tekanan teman sebaya meski nggak kerasa. Sungkan untuk berbeda, selalu berusaha sama. Walhasil, waktu, harta, pikiran dan tenaga harus selalu ada sahabat-sahabat kita.

Keempat, cinta. Kalo untuk yang satu ini, remaja nggak usah ditanya. Dalam urusan cinta, remaja yang letoy bisa berubah jadi hell boy. Mendadak jadi perkasa dan rela ngorbanin apa aja. Meski duit pas-pasan, banyak belanja aksesoris demi pencitraan. Waktu hidupnya banyak dipake untuk mikirin si dia. Berharap di balik setiap pengorbanannya, berbalas cinta sejati dari sang buah hati. Meski kenayataan sering berbicara sebaliknya.

Emang sih, kita bebas menentukan pengorbanan kita untuk apa dan siapa. Tapi bagi seorang muslim, kebebasan itu bukan berarti semau kita. Ada rambu-rambunya agar setiap pengorbanan yang kita lakukan berbuah pahala. Bukan malah menjerumuskan kita pada kubangan dosa.

Mungkin ada di antara temen kita yang banyak menghabiskan waktu untuk main game atau penyaluran hobi. Kalo kita itung-itung, kebaikan apa sih yang diperoleh dari setiap waktu berharga yang kita korbankan. Okelah kalo sesekali main game sebagai ajang relaksasi, melepas penat bin jenuh nggak masalah. Tapi kalo udah keseringan bakan sampai kecanduan, lebih besar mudharatnya daripada manfaatnya.

Padahal Rasul ngingetin kita tentang keutamaan seorang muslim. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,  “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Pengorbanan kita sejatinya berbuah pahala dan kebaikan bagi orang lain. Kalo kita banyak berkorban dalam berpacaran atau ikut tawuran, alamat berbuah dosa dan keburukan bagi orang lain. Lantaran kemaksiatan yang kita lakukan. Untuk itu, kita mesti punya standar untuk menilai apakah pengorbanan untuk empat hal di atas, sekedar luapan emosi atau ekspresi cinta sejati. Biar nggak kebablasan!

Belajar dari Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Para Shahabat
Driser, kamu pasti punya orang yang amat kamu sayangi yang amat bersejarah dalam hidup kamu. Sampai-sampai kamu rela mati untuk melindunginya. Sekarang, gimana perasaan kamu jika harus kehilangannya di depan mata kamu? Sedih pastinya. Bahkan mungkin nggak cuman sedih. Lebih dari itu, mental kamu bisa down bin rapuh.

Kalo kejadian yang menimpa Nabi Ibrahim as ini bukan lagi andai-andaian. Beliau harus ikhlas ’mengorbankan’ putra tercintanya, Nabi Ismail as. Padahal Nabi Ismail itu anak semata wayang yang sangat dinantikan kelahirannya dari istri keduanya, Siti hajar. Meski begitu, Nabi Ibrahim tetep pada pendiriannya. Apalagi Nabi Ismail yang saat itu menginjak usia remaja, menerima keputusan ayahnya dengan besar hati. Nabi Ibrahim pun siap menghunuskan pisaunya di leher putra tersayangnya….. tahan napas kalian!
…. saat mata pisau baru menempel di leher Ismail, turunlah wahyu Allah untuk mencegahnya. Rupanya, perintah Allah untuk menyembelih Ismail itu sekedar ujian keimanan kepada keduanya. Sejauh mana kepatuhan dan ketaatan mereka dalam melaksanakan perintah Allah swt. Dan mereka berhasil melaluinya dengan gemilang. Sehingga pada akhirnya Allah mengganti objek penyembelihan itu dengan seekor domba (QS Ash-Shâffat [37]: 107). Phew…hampir saja!
Ekspresi cinta sejati, ditunjukkan oleh Rasul dan para shahabat yang mengorbankan hidupnya untuk Islam. Ini bukan sekedar luapan emosi, lantaran semangat pengorbanannya tetep menyala selama hayat dikandung badan.

Kamu kenal Khalid bin Walid yang berjuluk ’Singa Allah’? Dialah panglima perang yang selalu siap pasang badannya di medan jihad. Dia bilang,
”Aku lebih menyukai malam yang sangat dingin dan bersalju, di tengah-tengah pasukan yang akan menyerang musuh pada pagi hari, daripada menikmati indahnya malam pengantin bersama wanita yang aku cintai atau aku dikabari dengan kelahiran anak laki-laki.” (HR. Al-Mubarak dan Abu Nu’aim).

Ada juga Umair bin Abi Waqash yang ngeyel pengen ikut perang badar dengan diam-diam menyelinap ke barisan pasukan kaum Mulsimin. Padahal usianya baru 16 tahun. Kalo ketahuan Rasul pasti nggak boleh tuh. Tapi ternyata, setelah Rasul tahu keinginan dan semangatnya yang menggebu-gebu, beliau mengizinkannya. Umair pun dengan gembira segera merangsek ke medan perang hingga terbunuh sebagai syahid. (HR. Al-Hakim dan Ibn Sa’ad).

Atau Abu Bakar ash-Shiddiq yang menginfakkan seluruh hartanya untuk keperluan jihad fi sabilillah. Dan Utsman bin Affan yang mendanai 10.000 pasukan perang Tabuk dari koceknya sendiri dengan membelikan masing-masing kendaraan, perbekalan, dan senjata lengkap. Nggak ketinggalan Mushab bin Umair yang rela meninggalkan kehidupan mewah dan popularitasnya demi menyebarkan dakwah Islam di yastrib (Madinah).

TemansSurga walau harta kita pas-pasan, nggak piawai memainkan pedang, atau wawasan Islam yang masih cetek, kita bisa kok berkorban untuk Islam seperti Rasul dan para shahabat. Yang penting kita getol menyampaikan kebenaran Islam di mana saja, kapan saja, kepada siapa saja, sesuai dengan kemampuan yang kita punya. Semuanya terasa mudah kalo kita bisa meraih inspiring love alias cinta yang menggugah. Cinta yang menggugah kita untuk rela berkorban tanpa pamrih. Itulah cinta kepada Allah, rasul-Nya, Islam, dan kaum Muslimin.

Transaksi Anti Rugi

Kalo diukur secara materi, mungkin ada yang ngerasa pengorbanan kita untuk Islam nggak ada untungnya. Mungkin tekor lantaran nggak terasa timbal baliknya. Ibaratnya kalo kita beli pulsa, kita dapat kuota bisa untuk internetan. Kalo kita curahkan tenaga dan pikiran untuk kerja kantoran, kita dapat gaji setiap bulan.

Tapi kalo kita bersedekah, gak dapat apa-apa selain ucapan terima kasih. Begitu juga kalo getol berdakwah, gak ada yang gaji atau ngasih tunjangan. Padahal kalo bicara untung rugi, nggak ada yang bisa ngalahin keuntungan yang kita peroleh jika ’bertransaksi’ dengan Allah. Seperti ditegaskan dalam firman-Nya:

Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu Telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang Telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah [9]: 111)

Tuh kan, gimana nggak untung kalo pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, harta, dan jiwa raga kita dibayar mahal oleh Allah swt dengan surga-Nya di akhirat nanti. Bahkan di dunia pun kita diuntungkan karena punya alasan kuat untuk lebih pede dan optimis jalanin hidup meski dihadang berbagai masalah. Dan mental kita lebih tegar dan kuat jika harus kehilangan benda kesayangan, orang tercinta, atau hobi yang digeluti ketika menjadikan ridho Allah sebagai tujuan hidup. Lantaran Allah swt siap menolong kita setiap saat. Seperti ditegaskan dalam firman-Nya:

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. Muhammad [47]: 7)

Kalo kita mengharapkan surga sebagai tempat kembali setelah kita mati, kita mesti rela berkorban untuk Islam. Tapi jangan mentang-mentang lagi bulan haji, berkorban cuman diartikan motong kambing, kerbau, atau sapi. Bukan cuman itu.

Termasuk berkorban untuk Islam kalo kita meluangkan waktu dalam mengkaji Islam, mau mikirin urusan kaum Muslimin di seluruh dunia, menyumbangkan tenaga dalam menyebarkan dakwah Islam, membelanjakan harta di jalan Allah, serta memasang badan kita demi membela Islam dan kaum Muslimin. Kalo ngerasa belum siap, segera persiapkan diri kita dengan ikut ngaji. Nggak pake tarsok. Jangan sampe ketika maut menjemput, kita belum 'bertransaksi jual beli’ dengan Allah swt. Rugi banget dah. Pengorbananmu, jatidirimu![]

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Selasa, 30 Juli 2019

Narkoba Masih Menggila



Kayaknya harapan tahun 2019 bakal sepi kasus selebritis yang terkena narkoba, bakal berujung harapan kosong. Because of, artis peran yang berinisial JN, menambah deretan panjang pesohor negeri ini, ditangkap polisi terkait kasus narkoba. Senin (22/7/2019) pukul 23.30 WIB di A Residences, Jakarta Selatan penangkapan aktor muda yang berperan sebagai Nathan di film ‘Dear Nathan’ ini, hanya selang beberapa hari setelah penangkapan komedian senior N, yang diringkus pada Jumat (19/7) lalu. Beberapa bulan sebelumnya juga sempat heboh berita vokalis band Zivilia, ditangkap polisi bukan hanya sebagai pemakai, tapi juga pengedar narkoba. Wah, wah..

Pengin Feel Good and Better?
Saking seringya selebritis yang kena narkoba, kita jadi bertanya-tanya, kenapa ya koq kaum selebritis yang selalu jadi korban jeratan narkoba? Dan rata-ratanya yang kena kasusnya, masih pada muda. Iya, serius memang artis dan narkoba, bukan lagi sebuah korelasi yang asing di masyarakat Indonesia. Hampir tiap tahun, pemberitaan kita nggak pernah sepi dari kasus narkoba dan artis. Why? Kenapa Ya?

Coba kita kutip pernyataan salah satu pakar di sebuah laman internet. Menurut psikiater dari RS Jiwa Dr Soeharto Heerdjan Jakarta, dr Nova Riyanti Yusuf, SpKJ hal tersebut dikarenakan gaya hidup artis yang mayoritas glamor. Banyak artis yang 'kebablasan' berkecimpung di dunia hiburan.  Sumber yang lain menyatakan seperti dilansir dari Psychology Today, artis merasa cemas ketika menghadapi kritik dan kompetisi yang dialami sehari-hari, akhirnya termanifestasi dalam bentuk depresi, kekurangan tidur, menangis tanpa ada alasan yang jelas, bad mood, kurang konsentrasi, paranoid, kurangnya rasa percaya pada sesama, dan munculnya rasa benci akan diri sendiri. Dengan rasa depresi berlebihan ini, obat terlarang menjadi rute keluar yang dapat digunakan untuk menghibur diri.

Wow, asumsi di atas itu pas banget kayak apa yang dialami oleh Bobbi Kristina, putri mendiang diva pop Whitney Houston akhirnya meninggal dunia. Gadis malang berusia 22 tahun itu ditemukan tenggelam di bath tub-nya pada Januari tahun 2015. Kalo dari segi kekayaan, kurang kaya apa mereka? Lahir dari keluarga selebriti; ibunya diva musik pop yang mungkin jadi idolanya bapak-ibunya man-teman sekalian. Whitney menjual jutaan kopi album rekaman dan penghargaan platinum. Ayahnya rapper yang juga pernah menjadi top selebriti. Tapi seluruh jagat dunia hiburan tahu, keluarga Whitney-Bobby Brown tidak bahagia. Pertengkaran, penganiayaan, drugs jadi bagian keluarga pesohor ini. Whitney berkali-kali keluar panti rehab untuk menanggulangi kecanduannya. Ia tewas tenggelam setelah mengkonsumsi minuman beralkohol dan kokain.

Mengejar Dunia, Dapartnya Narkoba
Oiya, kita dari tadi ngomongin dunia selebritis, bukan semata-mata benci terhadap mereka, tapi ini sebagai bentuk peringatan bagi kita semua, karena mereka kebetulan pesohor negeri ini, jadi wajar dong kita ikut nimbrung ngasih uneg-uneg dan solusi. Biar kita yang bukan selebritis nggak terjerat di kasus yang sama, dan juga jangan mentang-mentang, artis pujaannya, lalu kita punya sikap posesif, wrong or right, pokoke saya ngefans sama dia. Nggak boleh kita punya prinsip gitu.

Yawis, kita sekarang coba cari akar masalahnya dari si-selebritis itu sendiri, kenapa koq bisa konsumsi narkoba? Jadi, kalo membaca lagi uraian di atas tadi, sebenarnya kita sudah bisa tarik benang merahnya. Bahwa para seleb yang sudah terlanjur jadi public figure, satu sisi kayak semacam kena krisis diri, harus tampil sempurna, nggak boleh salah dan sebagainya. Di sisi yang lain, tuntutan skenario bikin mereka harus kerja seharian, bahkan ada yang syutingnya striping, tampil tiap hari di teve, maka stamina tetap kudu prima, supaya menghidari ketidaksempurnaan tampilan di muka umum.

Nah, karena pekerjaan mengharuskan mereka seperti itu, akhirnya pantaslah kalo mereka disebut layaknya menghamba pada dunia, mereka kejar dunia untuk kesempurnaan hidup, tapi malah narkoba yang jadi pelariannya. Jadi, gaya hidup mewah, bekerja tak kenal waktu, menjadi keseharian mereka.

Kalo masih ada yang ngimpi jadi artis or selebritis, sepertinya kudu berpikir ulang. Kalo masih banyak yang kepincut untuk ikut audisi-audisi jadi artis, sepertinya harus berpikir berkali-kali. Bukan berarti semua artis seperti itu, tapi itu kebanyakan, apalagi kalo dunia sudah yang dikejar, wah alamat agama (Islam) nggak bakal digubris.

Jadi artis, jangan cuman dilihat terkenal dan banyak duitnya aja. Iya, mungkin ada beberapa artis yang mudah untuk mendapatkan dunianya, tetapi yang jadi masalah dan harus dipikirkan juga adalah life style alias gaya hidup, setelah nanti jadi artis beneran. Kalo life style, jauh dari nilai-nilai Islam, maka nggak jamin, kalo dia nanti nggak bakal sama nasibnya kayak pendahulunya.

Maka, sebagai bentuk peringatan, kita yang masih menghamba pada dunia, kudu renungkan firman Allah berikut
“Dan tidaklah kehidupan dunia kecuali hanyalah permainan dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Apakah kalian tidak mau berpikir ? “ (QS. Al-An’am: 32).

Atau, juga yang masih cemas jika urusan dunianya nggak terpenuhi, sabda Rasulullah Saw berikut bisa jadi renungan
“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah dan khamilah (sejenis pakaian yang terbuat dari wool/sutera). Jjika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah” (HR. Bukhari).

Bukan nggak boleh kaya, tapi pembahasan kita dari tadi, bahwa kekayaan yang kita cari secara berlebihan, malah jatuhnya kita diperbudak oleh dunia. Jangan sampai kayak gitu. Dalam urusan dunia, mencari pekerjaan atau kekayaan masih lah harus ingat sama urusan kita kelak di akhirat. Makanya, doa kita setiap hari kan  “Rabbana atina fiddun ‘ya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina aza bannar“, supaya dikasih kebaikan dunia-akhirat. Wake Up Bro, Jangan Jadi Hamba Dunia.

Nggak Melulu Salah Selebritisnya
Kalo soal hukum mengkonsumsi narkoba, secara umum Islam melarang penyalaggunaan narkoba, karena salah satunya bisa menghilangkan akal. Kalo soal detailnya pembahasan hukum narkoba dan jenis-jenisnya, boleh tanya kepada para Ustadz atau Guru Agama ya. Tapi fokus bahasan kita di sini, lebih kepada sebab fundamental kenapa seseorang, lebih khususnya selebritis terjerat kasus narkoba. Dan, sedikit banyak tadi kita sudah uraikan sebabnya.

Maka yang kudu dibenerin dari kita adalah mindset kita terhadap dunia dan akhirat. Seringlah bertanya, tiga pertanyaan penting, yakni ‘darimana kita berasal, untuk apa kita hidup, dan kemana setelah kita mati?’. Tapi nggak cukup cuman bertanya, harus nyari jawaban yang shahih (benar) terhadap 3 pertanyaan penting itu. Carilah guru ngaji, yang bisa mengajarkan dan ngasih jawaban itu dengan tuntas. Sebab, ujung dari jawaban terhadap pertanyaan itu yang bikin kita punya mindset terhadap hidup kita.

Kenapa kita jadi hamba uang, hamba dunia, hamba harta, itu karena mindset kita yang salah terhadap kehidupan dunia. Kalo mindset kita benar, maka kita akan berkesimpulan bahwa puncak dari kebahagiaan bukan di banyak harta, banyak pemuja, melainkan puncak kebahagiaan adalah ridha Allah. Loh koq bisa? Ya bisa to, ya kan buat apa kita dapat segalanya di dunia, tapi kalo Allah ngak ridha? Kalo Allah nggak ridha, kita cuman dapat dunianya doang, akhirat kita rugi. Itu bertentangan dengan kita tadi, yang memohon kebaikan di dunia dan akhirat.

Then, kalo sudah kita benerin mindset, lalu apakah masalah narkoba selesai? Jawabannya, enggak. Lah? Iya, dong kan selebritis atau kita hidup di dunia, di tanah air kita ini, kan nggak sendiri. Hidup bersama orang lain, dan hidup di bawah sebuah sistem negara. Kalo pun mindset kita udah bener, jangan lupa ada orang lain yang mindsetnya tentang hidup, beda dengan kita. Trus, kalo kita mau berusaha meluruskan mindset masyarakat, kita kan juga kudu sadar bahwa di negeri kita ini ada aturan atau hukum. Hukum yang ada, harus yang bikin jera dan jangan pilih kasih. Mentang-mentang selebritis, dihukumnya cuma beberapa bulan, abis itu dilepasin lagi.

Nah, makanya khusus untuk kasus narkoba yang menjerat selebritis, nggak sepenuhnya salah si-selebritisnya. Masyarakatnya yang sekuler, yang meminggirkan prinsip-prinsip Islam, jelas juga salah dalam hal ini. Sebab masyarakat yang sekuler, akan tetap melahirkan selebritis-selebritis yang sekuler pula. Perumpamaan masyarakat yang rusak, seperti pernah disabdakan Rasulullah saw

“Perumpamaan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang terjerumus dalam kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berundi dalam sebuah kapal. Nantinya ada sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah kapal tersebut. Yang berada di bagian bawah kala ingin mengambil air, tentu ia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, “Andaikata kita membuat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita.” Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu.” (HR. Bukhari).

Maka masyarakat yang sekuler ini, harus didakwahi, bukan saja agar mereka kenal kembali kepada Islam, akan tetapi juga agar mereka nggak islamophobia dan akhirnya mau menerapkan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Kalo dakwah alias amar maruf sudah jadi kultur di masyarakat, maka sesiapapun pelaku maksiat akan diingatkan oleh masyarakat. Termasuk perilaku maksiat mengkonsumsi narkoba dan pengedarnya. Makanya, jangan malas dan takut berdakwah. Dakwahkan Islam sekarang juga, jangan ditunda! []

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Rabu, 24 Juli 2019

Kenali Simbol Kita




Oleh: Irwansyah

Sobat milenial, pasti sudah pada tahukan, kemarin jagad maya dihebohkan dengan viralnya foto siswa MAN 1 Sukabumi bersama bendera yang bertuliskan kalimat tauhid.

Bagaimana tanggapan kalian ketika melihat hal itu? Atau masih ada beranggapan kalau itu adalah bendera teroris. Waduh!

Wajar bila di antara sobat milenial masih ada yang beranggapan kalau bendera tauhid itu adalah bendera teroris. Karena hari ini masih ada media yang berusaha menggiring opini negatif tentang bendera tersebut. Padahal faktanya bendera tauhid adalah salah satu simbol kita umat Islam.

Bendera tauhid ada dua jenis warna. Yaitu hitam dan putih. Yang berwarna hitam disebut ar-rayah. Sedangkan yang berwarna putih disebut al-liwa'.

Bendera liwa’ Rasulullah berwarna putih dan rayah-nya berwarna hitam.” (HR. Tirmidzi, Hakim, Ibnu Majah dan al-Khatib).

Gimana sobat milenial, sudah tahukan? Jadi, jangan ada lagi yang beranggapan kalau bendera tersebut adalah bendera teroris. Itu adalah simbol kita. Simbolnya umat Islam. Warisan dari Rasulullah. Jadi Harus dirawat dan dijaga ya.

Eits, satu lagi sobat milenial. Jangan lupa beritahukan juga kepada teman-teman lain yang belum paham mengenai hal ini. Biar gak ada lagi yang beranggapan kalau bendera tauhid itu bendera teroris.

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Senin, 22 Juli 2019

Bangkitlah Anak Indonesia



Namanya juga anak-anak. Saat adik kita tiba-tiba pecahin gelas, dengan santainya ngebanting hape, ngerusak remote tv, sembunyiin kunci motor, atau bikin nangis anak tetangga karna rebutan mainan pasti jawaban dari Ibu kita sesaat setelah menghela nafas panjang adalah “namanya juga anak-anak”. Anak-anak seolah “kebal hukum”, ngga boleh dimarahin, kalaupun ditegur pasti dengan bahasa yang lembut. Kamu yang jadi kakak jangan iri, dulu waktu kamu kecil juga gitu. Memang yang namanya anak kecil seandainya pun melakukan hal yang bikin jengkel, ngga bisa gitu aja dimarahin apalagi sampai dipukulin. Karna mereka masih belum ngerti mana yang boleh dan mana yang ngga, atau mana yang bahaya untuk dilakukan mana yang ngga. Ya iyalah, mereka itu masih belum bisa berpikir apalagi tertaklif (terbebani hukum syara). Di dalam hadits riwayat Abu Dawud, Rasulullaah saw bersabda yang artinya “Pena diangkat dari tiga golongan yaitu orang yang tidur hingga terbangun, orang yang masih kecil hingga ia baligh, dan dari orang yang gila hingga kembali berakal”. Maksudnya diangkat pena adalah apa yang mereka lakukan tidak dicatat dan tidak dimintai pertanggung jawaban oleh Allah. Nah, adik kecil kita termasuk di antaranya ya, meski mereka tetap harus didampingi dan diajarkan hal-hal baik dan positif sedari dini. How about you? Yakin deh, di antara kamu pasti ngga ada yang mau dianggap anak kecil. Merasa sudah remaja bahkan ingin dianggap dewasa. Walau kadang ngga sedikit juga yang masih bertindak seperti anak-anak. Misalnya, marah atau nangis kalau apa yang diinginkan ngga dikasih ortu.

Apa Kabar Anak Indonesia Hari Ini?
Pengennya sih langsung jawab Alhamdulillah, Luar Biasa, Allohu Akbar!!. Tapi, sepertinya jawaban ini masih sebatas doa dan harap. Bukan bermaksud pesimis, tapi fakta yang terjadi masih bikin kita miris. So, yuk guys kita kritis jangan sampai Ibu Pertiwi menangis karna lihat anak bangsa bertingkah hedonis liberalis. Dari mulai jadi fans fanatik artis atau boy/girlband korea yang kalau ditelisik ngga ada faedahnya sedikitpun mengidolakan mereka sampai terjerumus ke pergaulan bebas yang merusak. Ya, semua ada awalnya semua ada sebabnya. You are what you see, you are what read. Kalau yang dilihat dan ditontonnya drama korea, konser boy or girlband korea walhasil disadari atau tanpa disadari anak remaja mulai meniru perilaku idolanya. Cara berdandan dan berpakaiannya sampai tingkah laku.

Sempat viral di media sosial bocah (anak) SD yang berani pacaran dan sayang-sayangan bahkan memanggil dengan sebuatan ayah bunda, yang remaja sama juga apalagi baru-baru ini atau masih ditayangkan film remaja yang konon bermuatan sex education di mana ceritanya sepasang anak remaja yang pacaran trus having sex sampai akhirnya “dua garis” deh alias hamil. Ceritanya sang pacar berani bertanggung jawab dengan menikahi kekasihnya yang hamil. Dan si calon ibu pun hamil di usia sekolahnya. Katanya pesan yang ingin disampaikan oleh pembuat film ini adalah agar remaja-remaja tidak melakukan sex pra nikah yang akan merugikan karna kehilangan masa muda akibat pernikahan dan hamil dini.  Tapi, apa iya akhirnya pesan yang sampai ke para remaja yang menonton mereka jadi menjauhi aktifitas pacaran dan free sex? Kalau pun iya, apa menanamkan pemahaman bahwa sesuatu itu berbahaya, merugikan terlebih itu adalah perbuatan maksiat (dosa) apa harus dengan cara memberi tontonan seperti itu yang ada film itu malah menuntun para remaja untuk meniru hal serupa. Ibaratnya ketika hendak menyampaikan bahwa menyentuh kawat bertegangan listrik ini berbahaya, apa harus dengan langsung menyentuhnya? Apalagi di usia remaja yang terkadang lebih mengedepankan atau mendahulukan tindakan daripada mikir dulu ditambah rasa kepenasarannya yang di atas rata-rata justru malah bikin remaja ikut-ikutan ngelakuin apa yang dilihat.

Catat friends, ngga bosen-bosen deh Teman Surga buat ngingetin. Kamu yang manis, lucu, dan imut. You are so special, kamu itu the best. Tapi, musuh-musuh Islam ngga suka kalau remaja muslim khususnya jadi spesial dan terbaik makanya mereka merusak dengan cara yang slow but sure. Mereka sebarkan racun pemikiran hedonis liberalis melalui food, fun, fashion, film. See... film menjadi salah satu cara mereka membius remaja agar terpengaruh dan menjadi follower gaya hidup bebas dan ngga mau diatur. Nanti cabangnya kalau udah gitu, si remaja bakal jadi anak pembangkang yang ngga nurut sama ortu lebih dengerin apa kata teman dan apa kata idolanya padahal uang jajan aja masih ngerengek minta ke ortu. Astaghfirulloh. Trus, gimana dengan aktifitas belajar di sekolah? Udah bisa ketebak, remaja yang sudah terbius cara berpikir hedonis biasanya males belajar, pun belajar lebih seneng pake jurus sistem kebut semalam atau kalau udah mepet banget aksi contek mencontek jadi andalan. Ini fakta, meski ngga banyak ada juga lho remaja yang berprestasi di sekolah, santun ke orang tua pokoknya baik budi deh kalau di mata ortu. Tapi ternyata diluaran si anak baik dan pintar ini ngga malu untuk berdua-duaan sama pacarnya. Dan pada saat digerebek dan dilaporkan ke ortunya bisa dipastikan orang tuanya ngga percaya karna menurutnya anaknya baik, pintar dan berprestasi di sekolah. So, that’s why pintar di sekolah saja ngga cukup, baik di hadapan ortu pun bisa jadi hanya kamuflase.

Jangan salahkan bunda mengandung. Semua orang tua pasti mengharapkan agar anaknya yang selama 9 bulan dikandungan ibu lahir dan dibesarkan dengan kasih sayang menjadi anak sholih/sholihah dan membanggakan. Namun, saat anaknya semakin tumbuh besar dan mulai bergaul dengan teman-temannya di sinilah seolah peran orang tua luput dalam membersamai anaknya yang beranjak dari anak-anak menjadi remaja ini. Seandainya pun, dirumah sudah dibekali iman dan ilmu agama (Islam) oleh orang tua ternyata masih ada celah jika orang tua tidak menempatkan anak di lingkungan yang mendukungnya menjadi anak sholih/sholihah. Karena pengaruh lingkungan (teman) sangat besar di masanya yang senang kumpul dan main bersama teman sebayanya, tak hanya teman bermain ternyata pemberian gadget yang tanpa disertai dengan pemahaman ilmu (Islam) dan penggunaan media sosial yang sangat mudah diakses oleh semua orang termasuk anak-anak pun menjadi media yang cepat dalam memberi pengaruh kepada mereka. Lihat saja, ada anak laki-laki kecil yang bicara saja belum jelas tapi begitu gemulai memperagakan gerakan tari girlband korea BlackPink. Sayangnya, orang dewasa atau orang tua yang melihatnya malah tertawa geli karna menganggap itu sebagai sesuatu yang lucu. Yaa Allah, padahal si adik kecil itu sudah terpengaruh dari apa yang ditonton. Dan sangat mungkin sekali jika ini dibiarkan terus akan merusak kepribadian si anak lelaki ini kelak saat ia besar nanti. Na’udzubillah.

Fakta lain yang juga mencengangkan dan membuat miris. Terungkapnya data bahwa lima persen pelajar di SMAN dan SMKN unggulan di Jakarta punya ide untuk bunuh diri. Tentu ada atau bahkan banyak faktor yang melatarbelakangi kenapa pelajar yang “berpendidikan” ini malah punya keinginan untuk bunuh diri. Namun, yang pasti terdapat split personality pada diri pelajar tersebut yang diakibatkan salah mengambil pandangan hidup. Simplenya begini, remaja yang menjadi korban sekaligus pelaku dari gaya hidup yang dipropagandakan oleh Barat telah menjadikan mereka terseret dengan cara berpikir sekuler (memisahkan aturan agama dari kehidupan). Hal ini menjadikan remaja lemah dan tak mampu melawan derasnya arus liberalisasi, termasuk rapuh dalam menghadapi persoalan kehidupan yang tidak bisa dipungkiri pasti adanya. Contoh sederhananya, munculnya perasaan sedih yang mendalam saat tidak diterima di sekolah favorit yang diinginkan, bahkan menganggap apa yang sudah dikorbankan selama ini untuk belajar dan bisa lulus ujian menjadi sia-sia. Padahal, terlepas dari sistem pendidikan saat ini bisa jadi sekolah yang sebenarnya bukan menjadi tujuan dan impian kamu justru menjadi wasilah kamu untuk bisa lebih kenal dengan agamamu (Islam), intinya ada hikmah dan kebaikan di dalamnya. Seperti yang Allah SWT firmankan dalam QS. Al Baqarah: 216 “...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. Catet, baik menurut kita belum tentu menurut Allah begitupun sebaliknya.

Please, Save Generation Right Now!!
Emang sedarurat itu? Emangnya separah itu? Fakta dan data sudah terpampang nyata friends. Kalau ngga sekarang juga diselamatkan, maka nasib bangsa di masa mendatang akan hancur. Karna kelak yang akan memimpin bangsa ini adalah generasi (muda) saat ini. So, buat kamu anak bangsa kembalilah pada fitrahmu berada dalam agama yang lurus yaitu Islam. “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. QS. Ar Rum: 30. So, let’s delete semua pemikiran yang bukan berasal dari Islam seperti Sekulerisme, Liberalisme, Hedonisme dll. Karna bukan hanya unfaedah tapi juga merusak dan merugikan di dunia dan di akhirat.

Next, masih anak-anak atau sudah dewasa bukan dilihat dari sudah punya KTP atau belum. Islam sudah sangat jelas memberi batas bahwa dewasa adalah yang sudah baligh (buat yang perempuan sudah menstruasi dan yang laki-laki sudah ihtilam atau mimpi basah) selain itu juga bisa membedakan mana yang benar dan yang salah. So, di usia berapapun kamu baligh berarti kamu sudah tertaklif (terbebani) hukum syara yang dimana setiap perbuatan kamu harus bin wajib terikat dengan aturan Islam. The last, berani bikin “arus baru” untuk bisa melawan arus liberalisasi meski ngga mudah tapi bukan berarti mustahil. Selama nafas dakwah Islam terus dihembuskan dari satu ayat yang kamu sampaikan ke temanmu dan seterusnya begitu sampai Islam menjadi arus yang membawa umat (Islam) kembali berada di nalaan yang lurus.

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg