Selasa, 11 Februari 2020

Cinta Mulia, Bersih Tidak Ternoda!



Guys, jumlah korban meninggal dunia akibat virus Corona Wuhan atau 2019-nCoV sampai tulisan ini dibuat masih terus bertambah. Pihak otoritas China mengumumkan sudah lebih dari 1000 orang meninggal dunia karena terinfeksi virus Corona. Iyyy...ngeri banget ya Guys? Gara-gara virus ini semua orang di seluruh belahan bumi ini dibuat sibuk dan khawatir, tak terkecuali kamu. Bagaimana tidak ngeri dan khawatir, coz virus ini dalam waktu singkat sudah banyak memakan korban jiwa, dan konon belum ada anti-vrusnya alias tidak ada obatnya... Semoga kita semua terhindar dari virus yang jahat dan mematikan itu...aamiin. 


Ngomong-ngomong tentang virus Corona, TemanSurga juga mau ngingetin  untuk hati-hati sama virus lain yang jahat dan mematikan yang menyerang kebanyakan kawula muda alias para remaja, dan virus ini sengaja lho disebar dan biasanya mewabah pada bulan Februari. Virus apakah itu? Yups...virus Merah Jambu. Siapa saja yang sudah terserang virus ini pasti bakal klepek-klepek tak berdaya, perasaan gelisah, makan jadi gak enak, malam susah tidur, parahnya lagi hati dan jantung selalu berdegub lebih tidak beraturan. Yang unik virus ini disebarkan dengan kemasan cinta-cintaan. 


Tapi Guys, maaf ya ngomong tentang virus bukan berarti Teman Surga kali ini mau bahas virus-virusan, tapi ingin fokus bicara soal cinta saja yang dijadikan kemasan penyebaran virus itu, yang bagi para remaja bisa berupa  rasa yang diuapayakan terangkai dalam bentuk kata untuk diungkapkan di momen istimewa, di februari ini. Eits...


Bagi mereka yang sudah terserang virus Merah Jambu, bulan Februari itu rasanya sesuatu. Ada aroma-aroma cinta yang tiba-tiba merebak di mana-mana. Otomatis, semua tersuasanakan dengan simbol bentuk hati dan serba-serbi berwarna pink. Di pusat perbelanjaan, di jalan-jalan, bahkan tayangan-tayangan di televisi maupun sosial media, semuanya kompak mengusung tema pinky-pinky. 


Tapi, sebenarnya salah gak sih jika rasa cinta itu melanda, menerjang, dan meluluh-lantakkan hati kita? Terus, bagaimana agar cinta tidak menorehkan luka luar-dalam pada si Pecinta? Adakah cinta yang mengukir bahagia tanpa harus ada duka yang menganga? Ya, Ampun! Maafkan jika narasi ini sudah seperti drakor saja ya, dear. Melow-melow club! Hihihi.


Hakikat Rasa Cinta: Fitrah dan Mulia


 Kamu manusia, sehat, tumbuh, berkembang, dan berakal? Fix, kamu pasti punya rasa cinta. Pasti pernah jatuh cinta. Bahkan, mungkin sedang jatuh cinta. Iyes atau iyes banget?

 

Jangan sangka kalau Teman Surga adalah paranormal, ya. Sama sekali bukan. Teman Surga hanya ingin sampaikan, bahwa adanya rasa cinta itu adalah fitrah bagi manusia. Tahu kan fitrah? Ya, fitrah itu adalah sesuatu yang alami. Bawaan sejak kita lahir di dunia. Siapa yang membekalkan rasa cinta tersebut? Benar, Dialah yang telah menciptakan kita. Dialah Allah Swt.


”Allah pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan (juga). Dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)


 Masyaallah, betapa besar kuasa Allah Swt. Setelah membaca kala ilahi tersebut, menjadi sangat jelas bagi kita bahwa rasa cinta atau cendrung terhadap lawan jenis itu adalah fitrah alias alami terjadi. Oleh karena itu, fitrah ini tidak akan mungkin bisa dibasmi. Namun, tidak juga boleh dilepas secara liar dan bebas. Allah Swt. memiliki rambu-rambu untuk kita agar cinta yang ada membawa bahagia, bukan petaka.


 Ok, pertama coba kita selidiki. Apa sih tujuan Allah Swt. memberikan rasa cinta? Jawabannya sudah ada dalam surat Asy-Syura ayat 11. Ya, tujuan diberikan rasa cinta adalah untuk wasilah atau jalan berkembang biaknya keturunan. So, Allah Swt. berikan rasa cinta, agar makhluk jenis manusia ini tetap eksis di muka bumi, bro and sist!


 Inilah tujuan mulia dari getar-getar cinta yang ada. Tujuan mulia ini tidak bisa didapat begitu saja berdasarkan hawa nafsu kita. Melainkan ada tata cara atau syariat yang Allah berikan agar tujuan mulia tersebut bisa terwujud dengan jalan yang mulia pula. Nah, di sinilah ada syariat pernikahan. Yapz, rasa cinta itu fitrahnya harus disatukan di pelaminan. Bukan di pojokan kelas, apalagi di jalanan. Paham, kan?


 Lah, bagaimana yang masih sekolah? Belum siap menikah! Tenang, sebagai kebutuhan naluri, rasa cinta ini gak akan buat kamu mati, kok. Betul bahwa rasa cinta itu tidak bisa dihilangkan, tapi dia bisa dialihkan. Jaga pandangan, jaga interaski, perbanyak amal saleh, sibukkan diri dengan berbagai kegiatan positif. Dan, biarkan waktu yang akan membawamu pada cinta yang semestinya. Cinta mulia, cinta yang bersih tanpa noda. Asyik!


Waspada, Malapraktik Cinta!


 Jadi begitu ya, Sobat. Perkara cinta ini ada tata caranya agar mulia dan berbuah bahagia. Tata cara yang ada bukan bersumber dari akal manusia semata, melainkan terlahir dari wahyu Allah Swt. So, jangan sampai kita salah dalam memaknai dan mengamalkan perkara cinta. Sebab, menyimpang sedikit saja dari syariat bisa menjebloskan kita dalam aktivitas malapraktik cinta. 


Makanya, sedih banget jika ada teman-teman yang terjebak dalam malapraktik cinta. Yakni mengumbar naluri cinta bukan dalam aktivitas yang semestinya. Gaul bebas, pacaran, sampai pada level perzinaan. Apalagi di momen februari ini, virus-virus banyak bergentayangan. Hiks! Iya sih, awalnya terlihat romantis. Di pertengahannya jadi melankolis. Tapi kemudian berubah jadi dramatis, dan akhirnya berujung tragis. Sadis!


 Begitulah, malapraktik cinta nyata membawa petaka. Sudah berapa banyak generasai muda yang jadi korban dari malapraktik cinta? Dari mulai matinya nurani, aborsi, bahkan bunuh diri. Mereka yang meregang nyawa di tangan pacar pun, jangan ditanya lagi. Usia SMP, SMA, Mahasiswa, merata ada. Dibekap, dicekik, dibuang ke sungai, dibakar, juga dicangkul, semua ini nyata adanya.   Teman-teman pasti sudah pernah mendengar beritanya, kan? Serem!


Remaja Muslim, Remaja Istimewa


 Jujur deh, bagaimana perasaanmu ketika mendengar berita-berita horor di atas? Sedih, kesal, marah, benci, terluka? Semuanya campur jadi satu, kan? Karenanya cukup! Tidak boleh lagi ada korban malapraktik cinta selanjutnya.


 Sebagai remaja muslim, sejatinya kita telah dilabeli dengan gelar umat yang terbaik. Kita adalah generasi istimewa. Generasi leader, bukan generasi follower. Kita yang mewarnai, buka diwarnai. Bagaimana bisa?


 Smart with islam, inilah jawabannya. Sebutan muslim tidak cukup hanya sekadar identitas formalitas saja. Seorang muslim juga harus menjadikan aqidah islam sebagai landasannya dalam berpikir dan bertingkah laku. Sehingga jadilah dirinya memiliki kepribadian yang baik, kepribadian Islam.


Kepribadian islam inilah yang akan mampu menjadikan remaja muslim sebagai remaja yang istimewa. Remaja yang tidak mudah terseret arus kebebasan yang menyesatkan. Hidupnya memiliki prinsip yang jelas. Baginya, hidup adalah untuk menggapai rida Allah Swt. Maka standar hidupnya bukanlah trend atau apa yang sedang kekinian, melainkan halal dan haram saja yang menjadi patokan.


Segala pikir dan lakunya selalu dimatching-kan dengan syariat yang mulia. Remaja muslim sangat memahami, bahwa segala yang dilarang dalam syariat pasti akan membawa mudharat (bahaya). Karenanya, ia tidak akan ragu untuk menjauhi aktivitas pacaran. Ia juga tidak akan tergiur untuk ikut-ikutan merayakan valentinan. Se-unyu apapun konsep dan konten yang ditawarkan. Jawabanya tegas dan jelas, BIG NO untuk apapun yang menyalahi syariat-Nya! Keren!


Cinta Tak Melulu Tentangnya


 Dear, di awal kita sudah bahas bahwa cinta itu adalah fitrah, kan. Nah, sebagai naluri yang alami ada, ternyata cinta itu tidak melulu soal si doi, loh! Cinta, kasih sayang, perhatian, semuanya itu juga tertuju untuk orang-orang terdekat kita. Siapa mereka? Ya, orang tua yang selalu ada untuk kita sejak kita bayi yang tidak bisa apa-apa. Mereka yang berjuang, berpeluh, berkorban apa saja untuk kebahagiaan kita. Merekalah, yang paling berhak dan utama untuk kita cintai, sayangi, dan kasihi. Coba ingat, kapan terakhir kali kamu mengungkapkan rasa cinta kepada kedua orang tua? atau jangan-jangan belum pernah sekalipun? Jangan sampai menyesal di kemudian hari. Segeralah, raih dan cium tangan kedua orang tua mu. Peluk mereka dan ucapkan rasa cinta terdalammu untuk keduanya.


 Kemudian, keluargamu seluruhnya. Kakak, adik, paman, tante, pakde, bude, kakek dan nenek. Mereka semua adalah yang sudah jelas menjadi bagian dalam hidupmu. Mereka adalah orang-orang yang berhak atas cinta dan kasih sayangmu. Sudahkah hak mereka itu engkau tunaikan? Berkomunikasilah. Bercengkramalah. Berkah, rahmat kebahagiaan akan tercurah untukmu.

So, cinta tidak harus selalu tentang dirinya yang bukan siapa-siapa. Cinta yang ada haruslah tetap mulia. Harus dijaga agar tidak ternoda. Cinta hanya untuk yang Allah Swt. halalkan saja, tidak untuk selainnya. Taati titah-Nya, hidupmu akan melaju dalam kebaikan. Cintamu akan terjaga dalam kesucian. Cinta yang mulia, bersih tidak ternoda. Perjuangkan![]


***

Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/koreapi1453/
Twitter - https://twitter.com/koreapi_1453?s=09
IG -  https://www.instagram.com/koreapi.1453?igshid=3x7tpluws2nb
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Selasa, 04 Februari 2020

Jangan Tanggalkan Jilbabmu, Sis!


Dear, kalo disuruh milih kamu mau pilih mana, antara donat yang dijajakan di pinggir jalan nggak pake penutup, dengan donat yang dijual di toko dibungkus dan dimasukin etalase? Coba kita tebak ya, kamu pasti pillih donat yang di dalam etalase. Alasannya, juga udah jelas, karena lebih terjaga, higienis, aman. Nah, meski nggak sama-sama amat, ibaratnya seorang muslimah ketika di luar rumah kalo diibaratkan donat, maka seharusnya memilih kayak donat yang dibungkus di dalam toko, dan ditaruh di etalase 


Kenapa? Selain itu logis dan bisa diterima akal sehat, karena memang ternyata Islam itu sangat ngelindungin wanita muslimah. Buktinya dalam soal berpakaian (di luar rumah) saja diatur dengan mewajibkan pakaian khusus, berupa jilbab dan kerudung. Ehh…. lha koq miris banget, sampe ada seorang muslim or muslimah bikin pernyataan jilbab nggak wajib bagi muslimah. Duh cilaka tenan iki!


Jilbab Wajib Bagi Muslimah!


Biar man-teman nggak termakan ocehan liberal yang menyatakan jilbab nggak wajib bagi muslimah, maka kita kudu tahu landasan disyariatkannya jilbab untuk menutupi aurat muslimah. Sementara batasan aurat perempuan berdasarkan pada firman Allah Ta’ala dalam Surat An-Nur 31, “Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) tampak pada diri mereka…” 


Menurut Ibnu Abbas ra. yang dimaksud dengan frasa illa maa zhahara minha dalam ayat tersebut adalah muka dan telapak tangan. Hal ini dipertegas berdasarkan pada hadis Nabi Saw.: Dari ‘Aisyah ra. bahwa Asma’ binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah Saw. dengan memakai pakaian yang tipis. Rasulullah Saw. pun berpaling dari dia dan bersabda, “Asma’, sungguh seorang wanita itu, jika sudah haidh (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini.” Beliau menunjuk wajah dan kedua telapak tangan beliau.” (HR. Abu Dawud). 


Dari dalil-dalil tersebut jelas aurat perempuan adalah seluruh tubuh, kecuali wajah dan telapak tangan. Nggak bener kalo ada yang bilang aurat nggak wajib ditutup, karena nggak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama mu’tabar tentang kewajiban memakai jilbab dan khimar bagi Muslimah yang sudah baligh. Sebagaimana Allah sampaikan dalam Surat Al-Ahzab: 59:


“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

 

Penjelasan di dalam Kamus Al-Muhith, kalo jilbab itu seperti sirdab (terowongan) atau sinmar (lorong), yaitu baju atau pakaian longgar buat perempuan selain baju kesehariannya, baju mihnah. Sedangkan dalam Kamus Ash-Shahhah, al-Jauhari mengatakan, “Jilbab adalah kain panjang dan longgar (milhafah) yang sering disebut mula’ah (baju kurung/gamis).”


Itu tadi, penjelasan tentang jilbab alias bajunya, sementara selain harus pake baju jilbab, maka untuk penutup kepala hingga dada, muslimah wajib pake khimar (kerudung). Hal tersebut juga ada landasan dalilnya, dalam Al-Qur’an Surat An-Nur 31:


“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya.”


Salah satu mufassir, Imam Ali ash-Shabuni, menyatakan kalo khimar (kerudung) adalah ghitha’ ar-ra’si ‘ala sudur (penutup kepala hingga mencapai dada) agar leher dan dada tidak tampak. Sehingga, jelas bin gamblang, kalo jilbab dan khimar (kerudung) merupakan pakaian syar’i bagi Muslimah utamanya ketika keluar rumah atau bertemu dengan lelaki ajnabiyah (asing). Indikasi kewajiban jilbab ini makin kuat, ketika seorang muslimah nggak memiliki, maka sesama Muslimah harus meminjamkan jilbabnya. Ada hadis yang meriwayatkan hal tersebut, dari Imam Bukhari dan Imam Muslim:


“Wahai Rasulullah, seorang wanita di antara kami tidak memiliki jilbab (bolehkah dia keluar)?” Lalu Rasul Saw. bersabda, “Hendaklah kawannya meminjamkan jilbabnya untuk dipakai wanita tersebut.”


Hadits di atas disampaikan oleh Rasulullah, ketika para wanita disunnahkan untuk pergi keluar rumah untuk sholat dan merayakan hari raya idul fitri. Tapi ada beberapa wanita saat itu belum banyak memiliki jilbab, maka Rasulullah memerintahkan sesama muslimah untuk meminjaminya. Jadi, kalo seandainya jilbab itu nggak wajib bagi muslimah, tentu Rasulullah nggak meminta mereka keluar rumah tanpa jilbab. Sehingga dari sini jelas udah, kalo jilbab dan khimar wajib bagi wanita muslimah.


Berjilbab Karena Iman


Kenapa sih kita harus berjilbab karena iman? Ya, sama dengan perintah ataupun larangan (syariat) dari Allah yang lain, kalo nggak kita yakini dengan keimanan, nanti kalo ada kampanye liberal ngajakin lepas jilbab, maka bisa jadi bakal disambutnya dengan suka cita. Tapi kalo kita pake jilbabnya karena dorongan keimanan, bakalan kekeuh berjilbab, walau apapun dan siapapun penghalangnya. 


Just info aja, pada saat tulisan ini dibikin, ramai di linimasa Komunitas Hijrah Indonesia dalam lama facebooknya menggelar apa yang mereka sebut sebagai ‘No Hijab Day’, dirayakan setiap 1 Februari. Berdasarkan flyer digital yang beredar, dasar perayannya mereka adalah mensupport apa yang sudah diinisiasi oleh Yasmine Mohammad (YM). Siapa YM? Singkatnya, dia adalah aktivis liberal human rights.  Aksi ini diduga sebagai aksi kontra World Hijab Day yang diperingati pada 1 Februari. 


Nah, makanya bagi yang berjilbab atau berhijabnya nggak kuat-kuat amat alasannya, maka dengan adanya isu atau kampanye kayak di atas, bisa jadi batu ujian yang berat. Untuk itu, sekali lagi dorongan kita berjilbab haruslah karena iman, karena meyakini ini perintah Allah, dzat yang menciptakan kita, dzat yang memiliki surga-neraka, yang kelak akan meghizab kita di yaumul akhir.


Dear Sis, jangan berjilbab hanya sekedar ngikutin trend, sebab kalo ngikutin trend, nanti kalo trendnya berubah, bisa jadi cara berjilbab kita berubah, atau malah kita berubah nggak pake jilbab lagi. Maka bagi yang merasa awalnya berjilbab karena ngikutin trend, sebaiknya diluruskan niatnya dan coba memperdalam lagi pemahaman Islam, utamanya terkait dengan jilbab ini.  


Jujur, kita masih ngeliat nggak sedikit Muslimah yang memutuskan untuk berjilbab karena faktor mode, fesyen. Akhirnya, muncullah fenonema ‘jilbab gaul’ atau ‘kerudung punuk onta’, ‘jilbab legging’, dll. Satu sisi, kita patut bersyukur ada kesadaran sebagian muslimah untuk menutup auratnya, cuman kalo dorongan atau motivasi berjilbab karena alasan mode, fesyen, maka bukan nggak mungkin kita lihat muslimah sudah berjilbab tapi tampilnya tabaruj, atau bahkan seksi binti ketat. 


Sehingga, akhirnya terjadi semacam blunder. Iya, kita bahagia dan bangga sebagian muslimah sudah menutup auratnya, tapi di sisi yang lain, kadang muslimah yang hijabnya belum syar’i itu tadi dijadikan representasi atau ‘model’ hijab syar’i. Akibatnya, kalo ada orang-orang yang dalam hatinya ada “penyakit”, akan memanfaatkan atau menjadikan muslimah yang hijjabnya belum syar’i itu sebagai bahan framing, bahan tudingan. “itu lho yang berjilbab aja pacaran”… “itu lho yang berjilbab aja pergi ke diskotik….”, “itu lho yang berjilbab aja selingkuh….” Duh…


Padahal, sekali lagi hal kayak gitu terjadi karena kaum muslimah nggak memahami dengan benar apa itu jilbab dan berjilbabnya bukan karena dorongan iman. Makanya modal semangat aja nggak cukup untuk berjilbab, tapi juga harus dibarengi memahami Islam. Salah paham atau mungkin nggak mau paham mengenai kewajiban menutup aurat dan berjilbab maka kita masih sering mendengar ocehan “Saya belum siap berjilbab. Nanti saja kalau niatnya sudah mantap.” 


Yakin aja, pernyataan kayak gitu muncul selain karena ngeles ogah berjilbab, tapi juga karena mereka nggak paham kewajiban menutup aurat dan jilbab. Padahal yang namanya melaksanakan kewajiban siap atau nggak siap, yang namanya kewajiban kudu bin mutlak dilaksanakan dan dosa kalo ditinggalkan. 


Jilbab Hati? Jilbab Kontesktual?


Para penolak jilbab itu nggak jauh-jauh pernyataanya pasti seputar ini “… yang penting sekarang hatinya dulu. Buat apa berjilbab kalau hatinya busuk.” Atau “Jilbab fisik itu penting, tapi yang lebih penting kan jilbab hati.” mungkin ini juga “Perintah berjilbab jangan dipahami tekstualnya, kalo dipahami kontekstual, jilbab itu nggak wajib”, dan masih banyak ocehan-ocehan serupa yang lain.


Kalo kita nggak memiliki pemahaman Islam yang mapan, dan iman yang kokoh, bakal termakan isu semacam itu. Pernyataan itu nyeleneh, liberal bin sesat. Coba dengan logika yang sama, kalo standar melaksanakan kewajiban nunggu hati baik, tentu aja nggak bakal ada orang yang mau sholat, dengan alasan nunggu hati baik, atau buat apa sholat kalo hatinya nggak baik. Nah gitu kan jadi kacau.


Maka yang benar, suatu kewajiban yang telah disyariatkan oleh Allah, salah satunya kewajiban menutup aurat dan berjilbab adalah kewajiban setiap Muslimah yang telah balig, baik ia berhati baik atau busuk. Pun kewajiban shalat juga berlaku baik bagi Muslim yang berakhlak baik atau yang kelakuannya masih belum baik. Justru dengan dorongan iman, “memaksakan” diri menutup aurat dan berjilbab, seorang Muslimah akan terdorong untuk terus-menerus memperbaiki hatinya dan memperbagus akhlaknya.


Sis, Jilbab Itu Cermin Rasa Malumu


Di masa para shahabiyah kala itu, para wanitanya amat menjaga kehormatan dan aurat mereka. Salah satu shahabiyah yang memiliki rasa malu yang tinggi adalah Ummul Mukminin Aisyah ra., istri Rasulullah saw., dalam sebuah riwayat diceritakan, setelah Rasulullah saw. wafat, Aisyah ra. terbiasa berziarah ke makam beliau, yang berada di dalam kamarnya, tanpa mengenakan hijab. Ketika ayah beliau, Abu Bakar ra., wafat dan dikebumikan di sebelah makam Rasulullah saw., Aisyah ra. masih leluasa berziarah tanpa mengenakan hijab. 


Namun, kebiasaan itu berubah ketika Umar bin al-Khaththab ra. dikuburkan di kamarnya bersebelahan dengan makam Rasulullah saw. dan Abu Bakar ra. Setiap kali masuk ruangan itu, Aisyah ra. mengenakan hijab secara sempurna. Itu ia lakukan karena Umar ra. bukanlah mahram-nya. Padahal Umar ra. telah meninggal dan jasadnya terkubur di dalam tanah (Jalaluddin as-Suyuthi, Syarh ash-Shudur bi Syarh Hal al-Mawta wa al-Qubur. Beirut: Dar ar-Rasyid, 1916).


So, Sis jangan tanggalkan jilbabmu karena jilbabmu adalah cerminan dari rasa malumu. Sebab kalo jilbabmu sudah kau tanggalkan, bukan hanya hilang rasa malumu, tapi juga adzab di yaumul akhir menunggumu, naudzubillah min dzalik. []


***

Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/koreapi1453/
Twitter - https://twitter.com/koreapi_1453?s=09
IG -  https://www.instagram.com/koreapi.1453?igshid=3x7tpluws2nb
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Minggu, 02 Februari 2020

Mau Eksis? Contohlah Uwais!



Popularitas, impian yang banya dikejar kawula muda. Bayangan hidup mewah, glamour, berlimpah harta seperti banyak dipertontonkan artis idola seolah begitu mudah diraih melalui ajang pencarian bakat. Kebelet pengen ngerasain terkenal di dunia maya, jadi bahan pembicaraan di sosial media, dan kerap jadi headline media massa. 

Sayangnya, banyak remaja yang lupa diri ketika popularitas jadi ambisi. Kebahagiaan hidup diukur dari berlimpahnya materi. 
Berlomba-lomba mengejar kesenangan dunia terhanyut dalam kehidupan hedonis yang bikin depresi. ujung-ujungnya tak pernah menemukan kebahagiaan sejati. 

Sebagai seorang muslim, bukan popularitas yang bikin kita bahagia. Apalagi di hadapan manusia. Nggak banget. Tapi ridho Allah sang pemilik bumi yang mesti kita kejar setiap harinya. Tak peduli dengan penilaian manusia dalam menjalankan syariat, yang penting kita taat. Seperti dicontohkan olah salah seorang shahabat. Dia terasing di antara penduduk bumi. Tapi di hadapan Allah swt dan Rasul-nya, masya Allah.... begitu mulia. Sampai-sampai dapat pujian dari baginda Nabi saw. Siapa dia? 

Pemuda Miskin Harta yang Mulia

Nama lengkapnya Uwais bin Amir bin Jus'in al Qarni al Muradi al Yamani. Karna asalnya dari kabilah/suku Qarn di Yaman sebelah selatan Arab Saudi, maka Uwais lebih dikenal dengan nama Uwais Al Qarni. 

Keseharian Uwais dihabiskan untuk mencari nafkah dengan berdagang dan menggembala kambing milik orang lain. Di rumahnya yang sangat sederhana, Uwais tinggal berdua bersama Ibunya yang sudah tua renta, lumpuh, dan buta. Sementara dirinya,  Allah uji dengan penyakit sopak yang membuat kulit di tubuhnya belang putih.

Uwais senantiasa merawat sepenuh hati dan selalu berusaha memenuhi semua permintaan ibunya. Termasuk satu permintaan Sang Ibu yang sulit untuk dipenuhi oleh Uwais yaitu keinginannya untuk berhaji ke Tanah Suci. Uwais termenung dan berpikir agar bisa mewujudkan permintaan Ibundanya tersayang. 

Uwais sangat tahu bahwa perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki kendaraan. Uwais terus berpikir mencari jalan keluar hingga menemukan ide brilian.

Uwais membeli seeokar anak lembu lalu membuatkan kandangnya di puncak bukit. Setiap pagi beliau bolak balik menggendong anak lembu itu turun bukit untuk memberinya makan lalu menggendong naik bukit untuk masuk kandang. Apa yang dilakukan Uwais tentu membuat orang yang melihatnya keheranan bahkan ada menganggapnya gila. 
Hingga semakin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang diperlukan Uwais untuk menggendong lembu. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa berat lagi. 

Sudah delapan bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu Uwais telah mencapai berat 100 kg sehingga cukup kokoh untuk membawa bekal perjalanan. Begitu juga dengan otot Uwais yang makin membesar dan semakin kuat sehingga sanggup untuk menggendong Ibunya saat berhaji dengan berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah sejauh 590 KM. Amazing!

Dengan penuh kasih sayang dan bakti kepada Ibunya, Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi permintaan Ibunya. Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata kesampaian berada di Baitullah. Di hadapan Ka’bah, Uwais dan Ibunya berdoa.
“Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais.
“Bagaimana dengan dosamu?” tanya sang Ibu keheranan.

Uwais menjawab, “Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga.”

Uwais, Most Wanted!

Selain dikenal sebagai pemuda yang taat kepada ibunya, Uwais juga dikenal sebagai pemuda yang taat beribadah. Dia sangat ingin bertemu dengan Nabi Muhammad saw seperti para tetangganya yang baru datang dari Madinah. Hatinya selalu bertanya-tanya, kapankah ia dapat bertemu Nabi Muhammad saw dan memandang wajah beliau dari dekat? Ia rindu mendengar suara Nabi saw, kerinduan karena iman.

Tapi bukankah ia mempunyai seorang ibu yang telah tua renta dan buta, lagi pula lumpuh? Bagaimana mungkin ia tega meninggalkannya dalam keadaan yang demikian? Hatinya selalu gelisah.

Akhirnya, suatu hari ia datang mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan mohon ijin agar ia diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah. Ibu Uwais Al-Qarni terharu mendengar permohonan anaknya. Ia berkata, “pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang.”

Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al-Qarni sampai juga di kota madinah dan menemukan rumah Nabi. Namun sayang, Nabi tidak berada di rumahnya , beliau berada di medan pertempuran. Betapa kecewanya Uwais. Akhirnya, Uwais kembali pulang kembali ke Yaman dengan perasaan amat haru.

Peperangan telah usai dan Nabi saw pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi saw menanyakan kepada Siti Aisyah ra tentang orang yang mencarinya. Siti Aisyah ra membenarkan dan mengatakan bahwa Uwais telah pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. 

Nabi Muhammad saw berkata kepada para sahabatnya. “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di tengah talapak tangannya.”
Sesudah itu Nabi saw memandang kepada Ali ra dan Umar ra seraya berkata, “suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Waktu terus berganti, dan Nabi saw kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khatab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi saw itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib ra. 

Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni. Hingga suatu ketika, Uwais Al-Qarni turut bersama rombongan kafilah dari Yaman yang baru tiba di kota Madinah. Khalifah Umar ra dan Ali ra segera pergi menjumpai Uwais Al-Qarni yang tengah menjaga unta-unta kafilah di perbatasan kota.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, khalifah Umar ra dan Ali ra memberi salam. Uwais menjawab salam sambil mendekati kedua sahabat Nabi saw ini dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar ra dengan segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi saw. Memang benar! 

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais Al-Qarni telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali ra memohon agar Uwais membacakan do'a dan istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “saya lah yang harus meminta do'a pada kalian.”
Mendengar perkataan Uwais, khalifah berkata, “Kami datang ke sini untuk mohon doa dan istighfar dari anda.” Seperti yang dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Uwais Al-Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. 

Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”
Waktu berlalu, Uwais Al Qarni wafat dan berita wafatnya telah menggemparkan Kota Yaman. Karena saat hari kematiannya, begitu banyak orang yang datang untuk mengurus jenazahnya padahal tak banyak yang mengenalnya. Suatu riwayat mengatakan bahwa mereka ialah para malaikat yang Allah utus untuk memuliakan Uwais Al-Qarni di hari kematiannya. 

Terasing di Bumi, Populer di Langit

Teman surga, wajar aja kalo hidup kita pengen eksis. Dikenal banyak orang. Berharap bisa menjadi wasilah untuk menyebarkan kebaikan Islam. Apalagi di era teknologi internet saat ini, begitu mudahnya orang terkenal. Yang penting eksis di dunia maya. 

Tapi kita mesti siap kecewa. Jika eksis kita hanya berharap pada penilaian manusia. Kontent dakwah dan kebaikan Islam tak selalu mendapat tempat di dunia maya. Terlebih lagi kalo udah menyentuh isu sensitif seputar LGBT, kebijakan pemerintah yang menyengsarakan rakyat, atau perilaku kebanyakan remaja yang terhanyut dalam kehidupan hedonis. Lebih banyak yang nyinyirin dibanding yang mikirin. 

Tapi, Teman Surga tak perlu risau bin galau. Tetaplah istiqomah dalam berdakwah. Konsisten berbagi kebaikan di dunia maya meski banyak yang tak menyukainya. Yakinlah, sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan akan menjadi jejak kebaikan bagi kita di akhirat kelak. 

Dan agar bisa eksis, cukuplah kita bercermin pada Uwais. Terasing di antara penduduk bumi, namun begitu populer di antara penduduk langit. Apa yang bisa kita teladani dari seorang Uwais? 

Pertama, berbakti pada orang tua tanpa tapi tanpa nanti. Karena tiada balasan bagi seorang yang berbuat baik kepada kedua orang tuanya selain SurgaNya. Rasulullaah saw bersabda “Kedua orang tua itu adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orang tua kalian. Jika kalian enggan memasukinya, silakan sia-siakan orang tua kalian” (HR. Tirmidzi). 

Pantang bagi kita menyepelekan permintaan orang tua. Sesulit apapun, Allah swt pasti tunjukkan jalan. Bahagiakan kedua orang tua dengan menjadikan kita anak yang sholeh dan sholehah. Istiqomah di jalan dakwah, akan berbuah kebaikan dan kemuliaan bagi kita dan orang tua tercinta. 

Kedua, cinta nabi cinta syariah. Tak cukup kita tunjukkan kecintaan pada Nabi saw dengan hanya bersholawat. Sempurnakan kecintaan kita pada Nabi saw dengan selalu terikat pada syariat. Tolak dengan tegas segala bentuk pemikiran dan budaya barat yang sesat. Seperti perayaan tahun baru atau valentine days yang sarat dengan maksiat. 
Allah swt berfirman: “Apa saja yang diberikan oleh Rasul kepada kalian, maka ambillah. Dan apa saja yang dilarangnya, maka tinggalkanlah.” (QS. al-Hasyr: 7)

Imam Ibn Katsir rahimahullah, dalam kitab tafsir beliau menjelaskan makna ayat ini adalah: “Jika Rasul memerintahkan sesuatu, maka lakukanlah, dan jika Rasul melarang kalian dari sesuatu, maka jauhilah. Sesungguhnya Rasul hanya memerintahkan kepada yang baik, dan melarang dari sesuatu yang buruk.” So, mau eksis? Contohlah Uwais![]

Rabu, 22 Januari 2020

Doyan Jajan? Hati-Hati Gaes..!



"Tahu bulat, digoreng dadakan, lima ratusan, gurih-gurih nyoi!"  

Kamu pasti udah familier dengan Jingle yang sering terdengar dari penjual tahu bulat yang berkeliling menggunakan mobil bak terbuka ini. Saban hari tuh jingle meramaikan suasana jalan perkotaan hingga memecah kesunyian jalan perkampungan.  Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa berbondong-bondong beli selagi hangat. Apalagi harganya juga sangat terjangkau. Cuman gope gitu lho!


Menjamurnya Jajanan Kekinian

Selain tahu bulat, jajanan pinggir jalan yang siap santap makin banyak dijajakan para pedagang keliling. Malah hari gini, cemilan favorit pelajar ini gampang kita jumpai di depan sekolah. Mulai dari tahu goreng, bakso goreng, sotong, seblak, cilok, cilung, telur gulung, dll. Semuanya laris manis diserbu anak-anak baik saat jam istirahat atau pulang sekolah. 

Apa sih yang bikin cemilan murah meriah basreng dan kaumnya itu diminati remaja dan anak-anak? Yang pasti cita rasa gurihnya yang dominan. Campuran saos kacang, kecap, dan sambal bikin jajanan cilok atau batagor makin mantap disantap. Begitu juga dengan sensasi toping bumbu gurih, manis, hingga pedas yang ditambahkan pada tahu bulat, cimol, cireng, atau basreng. Mak nyus! 

Selain makanan, aneka minuman kekinian dengan cita rasa manis yang dominan juga nggak kalah populernya di kalangan pelajar. Sebut saja Thai Tea. Minuman asal Thailand ini tak pernah kehabisan konsumen meski yang jualnya udah banyak dengan berbagai macam merk. Atau Cheese Tea, perpaduan tea dan keju menghasilkan rasa unik bin nikmat dalam setiap sedotannya. Nggak ketinggalan Boba Drink, tekstur boba yang kenyal dan rasa manis bikin minum es makin asyik. 

Meski enak dan kekinian, kita mesti jujur kalo kebanyakan jajanan yang digandrungi remaja dan pelajar saat ini termasuk kategori makanan sampah alias Junk Food yang tak sehat dan tak aman lho. Menurut data dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM), selama tahun 2006-2010 terdapat sebanyak 40 persen jajanan tidak sehat yang ditemukan mengandung zat adiktif seperti bahan pewarna, pemanis, pengawet, pengenyal, dan penambah rasa.

Dr. Oetoro, seorang dokter spesialis gizi mengatakan bahwa Junk Food mengandung jumlah lemak yang besar, rendah serat, banyak mengandung garam, gula, zat aditif dan kalori tinggi tetapi rendah nutrisi, rendah vitamin, dan rendah mineral sehingga dapat memicu segala macam penyakit berbahaya seperti obesitas, jantung dan kanker. 

Biar kamu bisa pilih jajanan sehat, kenali beberapa jenis makanan yang dicap Junk Food oleh WHO (World Health Organization) yang mesti dihindari. Yaitu,  gorengan, fast food, jeroan dan daging berlemak, asinan, daging olahan, makanan yang dipanggang, sajian manis beku, manisan kering, makanan kaleng, dan semua olahan keju.

Nggak ketinggalan, minuman kekinian dengan harga terjangkau, kandungan gulanya lumayan tinggi bahkan ada yang segaja ditambahkan pemanis buatan. Sangat beresiko terserang sakit diabetes melitus bagi penikmatnya. Mau? 


Bahaya Di Balik Junk Food

Tiada hari tanpa jajan jadi tren remaja kekinian. Uang saku tak hanya untuk ongkos ke sekolah, mesti ada lebih untuk jajan kuliner yang lagi ngehits. Mereka bukan tak tahu bahaya di balik konsumsi Junk Food yang berlebihan. Tapi ngeliat teman merem melek gitu gigitin cilung yang kenyal berbalut saos merah pedas kayanya enak. Tergoda deh. Belon lagi kalo ditraktir temen makan di gerai fast food. Hamburger, kentang goreng, dan soft drink jadi menu utama. Yummy!

Untuk itu, kita mau ngingetin lagi bahaya di balik konsumsi Junk Food jika sering dikonsumsi. Meski nggak tiap hari. Berikut beberapa bahaya yang mengintai para penikmat Junk Food. 

Obesitas. Kelebihan konsumsi lemak trans yang ditemukan dalam makanan yang digoreng dan diolah dapat mengirim sinyal campuran ke otak yang membuat sulit untuk memproses rasa kenyang. Akibatnya, seseorang yang mengonsumsi Junk Food cenderung makan lebih banyak dan mudah lapar. Lemak trans dalam Junk Food juga dapat menyebabkan peradangan di hipotalamus, bagian otak yang mengandung neuron untuk mengendalikan berat badan.

Aterosklerosis. Junk Food berbasis daging dan ikan, serta snack seperti onion ring dan kentang goreng, mengandung kolesterol dan lemak jenuh dalam jumlah besar, zat yang mengancam kesehatan arteri. Semakin banyak makanan ini dikonsumsi semakin besar penumpukan di arteri. Ini mempersempit ruang darah mengalir, sehingga mengurangi jumlah oksigen yang mencapai sel-sel. Kerusakan pada dinding arteri dapat membuat pendarahan dan pembekuan darah yang berbahaya yang disebut Aterosklerosis.

Stroke. Stroke terjadi ketika suplai darah ke bagian otak terganggu atau berkurang, sehingga jaringan oksigen dan nutrisi tidak tercukupi. Stroke dapat disebabkan oleh arteri yang tersumbat (stroke iskemik) atau kebocoran atau pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik). Salah satu penyebab stroke adalah obesitas akibat sering mengonsumsi Junk Food.

Hipertensi. Hipertensi, atau tekanan darah tinggi, secara langsung terkait dengan asupan natrium yang berlebihan. Banyak makanan cepat saji mengandung natrium yang berasal dari garam yang digunakan dalam bumbu. Burger, taco, kentang goreng, dan bahkan pai buah panas memiliki kandungan natrium yang tinggi. Hipertensi meningkatkan perkembangan aterosklerosis dan meningkatkan risiko terkena penyakit jantung.


Perbaiki Pola Makanmu, Terjaga Kesehatanmu

Nggak bisa dipungkiri kalo makan itu kebutuhan jasmani. Artinya, kalo gak makan, kesehatan kita bisa terganggu. Masalahnya, hari gini banyak makanan nggak sehat yang masuk kategori Junk Food seperti diuraikan di atas hits di kalangan remaja.

Mentang-mentang masih muda, sehat, segar bugar, segala macam bentuk jajanan yang murah meriah dengan cita rasa gurih dan manis yang dominan dijabanin. Awal cuman nyicipin ngikutin teman, kelamaan jadi ketagihan. 

Padahal jelas banget kalo bahaya Junk Food nggak bisa disepelekan. Emang sih, dampak kritisnya gak langsung terasa saat itu juga. Paling cepat, cuman sakit perut atau radang tenggorokan yang sering dianggap wajar meski terkadang bikin tepar. Setelah ke dokter, minum obat, kondisinya baik, langsung jajan lagi. Pokoknya tiada hari tanpa jajan meski sudah bawa bekal makan siang dari rumah. 

Padahal kalo kita membaca kisah kehidupan Rasulullah saw, beliau nggak pernah jajan lho. Bukan karena semata2 di Madinah sana saat itu gak ada tukang tahu bulat keliling atau yang jual basreng dan thai tea pinggir jalan ya, tapi karena pola hidup beliau dalam urusan makanan, tak berlebihan. 

Allah swt Ta’ala berfirman, “Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf  [7]: 31)

Larangan sikap berlebih-lebihan juga ditegaskan oleh Rasulullah saw  dalam sabdanya “Tidaklah seorang manusia memenuhi satu wadah yang lebih berbahaya dibandingkan perutnya sendiri. Sebenarnya seorang manusia itu cukup dengan beberapa suap makanan yang bisa menegakkan tulang punggungnya. Namun jika tidak ada pilihan lain, maka hendaknya sepertiga perut itu untuk makanan, sepertiga yang lain untuk minuman dan sepertiga terakhir untuk nafas.” (HR Ibnu Majah no. 3349, dinilai shahih oleh Al-Albani) 

Terkadang, Nabi saw tidak makan sama sekali karena memang tidak punya makanan. Dan pada kondisi semacam itu, beliau pun kemudian berpuasa sunnah. Dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan “Rasulullah saw bertanya kepadaku pada suatu hari, “Wahai ‘Aisyah, apakah Engkau memiliki sesuatu (untuk dimakan pagi ini)?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, kita tidak memiliki makanan sedikit pun (untuk dimakan).” Beliau lalu berkata, “Kalau begitu, aku akan puasa hari ini.” (HR. Muslim no. 1154)

Dengan pola makan sehat, Rasulullah  jarang sakit karena beliau mampu mencegah hal-hal yang berpotensi mendatangkan penyakit. Ada beberapa kebiasaan positif dalam urusan makanan yang membuat Rasulullah saw selalu tampil fit, sehat dan jarang sakit, antara lain:

Pertama, selektif terhadap makanan. Tidak ada makanan yang masuk ke mulut Rasulullah, kecuali makanan yang halal dan thayyib (baik). Halal cara mendapatkannya dan halal barangnya. Sedangkan thayyib berkaitan dengan baik tidaknya atau bergizi tidaknya makanan yang dikonsumsi. Salah satu makanan kegemaran Rasul adalah madu. Beliau biasa meminum madu yang dicampur air untuk membersihan saluran pencernaan. Rasul bersabda,” Hendaknya kalian menggunakan dua macam obat, yaitu madu dan Alquran”(HR. Ibnu Majah dan Hakim).

Kedua, tidak makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Aturannya, kapasitas perut dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu sepertiga untuk makanan (zat padat), sepertiga untuk minuman (zat cair), dan sepertiga lagi untuk udara (gas). Hal ini sebagaimana sabda rasulullah,”Anak Adam tidak memenuhkan suatu tempat yang lebih jelek dari perutnya. Cukuplah bagi mereka beberapa suap yang dapat memfungsikan tubuhnya. Kalau tidak ditemukan jalan lain, maka (ia dapat mengisi perutnya) dengan sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiganya lagi untuk pernafasan” (HR Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

Ketiga, tidak makan/minum sambil berdiri. Dari Anas bin Malik ra dari Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassalam bahwasanya beliau melarang seseorang untuk minum dengan berdiri. Qatadah bertanya kepada Anas, “Bagaimana kalau makan ?” Anas menjawab, “Kalau makan dengan berdiri itu lebih jelek dan lebih buruk.” (HR Muslim). Jika kita minum sambil berdiri, air yang kita minum akan meluncur langsung menuju kandung kemih tanpa disaring terlebih dahulu oleh sistem dalam tubuh. Akibatnya akan terjadi pengendapan di saluran ureter. Endapan ini bila semakin dapat menyebabkan penyakit kristal ginjal atau batu ginjal.

Nah teman, bagi yang doyan jajan Junk Food, hati-hati ya. Jangan cuman mikirin lidah yang pengen selalu dimanjain atau gengsi yang mau dinaikin. Pikirin juga bagian tubuh lain yang sering terkena getahnya lantaran kebiasaan jajan Junk Food yang kalap. Kesehatan tubuh kita gak cuman hari ini saja, tapi juga sampai nanti sampai mati. 

Tak sedikit orang tua yang menjalani sisa hidupnya bergelut dengan berbagai penyakit. Mulai dari diabetes, jantung, gula darah, atau stroke. Padahal, secara medis bisa kita hindari semua itu sedini mungkin dengan menerapkan pola hidup sehat dalam urusan makanan selagi kita masih muda. Seperti dicontohkan Rasulullah saw. So, bijaklah dalam memuaskan nafsu makanmu. Doyan jajan? Hati-hati gaes!


***

Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/koreapi1453/
Twitter - https://twitter.com/koreapi_1453?s=09
IG -  https://www.instagram.com/koreapi.1453?igshid=3x7tpluws2nb
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Kamis, 16 Januari 2020

Pemuda Penakluk Kota Roma



 “Kalaulah dunia ini sebuah negara, maka Konstantinopel inilah yang paling layak menjadi ibu kota negaranya!”

Kata-kata itulah yang diucapkan oleh Napoleon Bonaparte, seorang kaisar sekaligus jenderal kebanggaan Prancis pada abad ke-19 yang terkagum-kagum dengan kota yang letaknya di jalur strategis pertemuan antara benua Asia dan benua Eropa itu. Siapa sangka, ibukota negara dunia itu berhasil ditaklukkan oleh umat islam!


Takluknya Konstantinopel, Jayanya Islam

Berabad-abad lamanya, kota Konstantinopel yang indah dan makmur ini telah menjadi simbol kejayaan di mata dunia internasional. Ia dibangun pada tahun 330 M oleh Kaisar Theodosius. Lokasinya yang strategis membuat ia menjadi salah satu kota terpenting di dunia. Sejak didirikan oleh Kekaisaran Byzantium atau Romawi Timur, ia telah menjadi ibu kota pemerintahaan negeri Byzantium itu.


Konstantinopel dikelilingi oleh tiga lautan dari tiga sisi sekaligus, yaitu Selat Bosphorus, Laut Marmara, dan Selat Tanduk Emas yang terpasang rantai amat besar. Dikelilingi benteng besar dan berlapis-lapis, perairan dalam dan rantai yang kokoh. Mustahil pihak asing bisa masuk dengan mudah. 


Namun sejarah mencatat peristiwa besar pernah terjadi sekitar 567 tahun lalu. Tepatnya pada tanggal 29 Mei 1453. Kota dengan benteng Theodosius legendaris yang memiliki tinggi 30 meter dan ketebalan 30 meter tak tertembus itu akhirnya runtuh di tangan Sultan Muhammad Al-Fatih atau yang juga dikenal dengan nama Sultan Mehmet II.


Sultan ke-7 Turki Utsmani itu berhasil memimpin penaklukan Konstantinopel ketika usianya baru 21 tahun. Ia dianggap telah membuktikan hadis yang diucapkan Nabi Muhammad SAW pada 8 abad sebelumnya.

"Sesungguhnya Konstantinopel itu pasti akan dibuka (dibebaskan). Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya," HR Bukhari.

Emang nggak semudah upload vide receh di tiktok untuk menaklukan Konstantinopel. Bayangin aja, upayanya telah dilakukan sedikitnya sebanyak 8 kali oleh umat Islam. Lima kali pada kekhalifahan Umayyah, satu kali pada kekhalifahan Abbasiyah, dan dua kali pada masa Utsmaniyah. Tiga generasi Bro!

Pada akhirnya pasukan Muhammad Al-Fatih-lah yang mampu membuktikan hadis nabi di atas. Upaya pengepungan kota Konstantinopel berlangsung sejak 6 April 1453 sampai 29 Mei 1453. Setelah berhasil membebaskan Konstantinopel, Muhammad Al-Fatih kemudian mengganti nama kota tersebut menjadi Islam Bul yang berarti kota Islam.


Di kota Islam Bul itu Muhammad Al-Fatih kemudian membangun sekolah, pasar, perumahan, dan rumah sakit. Ia melindungi segenap penduduk, termasuk yang beragama Nasrani maupun Yahudi, dan menerapkan budaya toleransi. Ia menggratiskan pendidikan untuk setiap warga dan bahkan menyediakan rumah untuk para pendatang yang mencari nafkah di kota itu.


Sang Penakluk Konstantinopel


Muhammad al-Fatih dilahirkan pada 27 Rajab 835 H/30 Maret 1432 M di Kota Erdine, ibu kota Daulah Utsmaniyah saat itu. Ia adalah putra dari Sultan Murad II yang merupakan Sultan keenam Daulah Utsmaniyah.


Sultan Murad II memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan anaknya. Ia menempa buah hatinya agar kelak menjadi seorang pemimpin yang baik dan tangguh. Perhatian tersebut terlihat dari Muhammad kecil yang telah menyelesaikan hafalan Alquran 30 juz, mempelajari hadis-hadis, memahami ilmu fikih, belajar matematika, ilmu falak, dan strategi perang. Selain itu, Muhammad juga mempelajari berbagai bahasa, seperti: bahasa Arab, Persia, Latin, dan Yunani. Tidak heran, pada usia 21 tahun Muhammad sangat lancar berbahasa Arab, Turki, Persia, Ibrani, Latin, dan Yunani, luar biasa!


Sultan Muhammad II diangkat menjadi Khalifah Utsmaniyah pada tanggal 5 Muharam 855 H bersamaan dengan 7 Febuari 1451 M. Program besar yang langsung ia canangkan ketika menjabat sebagai khalifah adalah menaklukkan Konstantinopel!


Sultan Muhammad II menyiapkan lebih dari 4 juta prajurit yang akan mengepung Konstantinopel dari darat. Pada saat mengepung benteng Bizantium banyak pasukan Utsmani yang gugur karena kuatnya pertahanan benteng tersebut. Pengepungan yang berlangsung tidak kurang dari 50 hari itu, benar-benar menguji kesabaran pasukan Utsmani, menguras tenaga, pikiran, dan perbekalan mereka.


Di laut, Bizantium telah memagari laut mereka dengan rantai yang membentang di semenanjung Tanduk Emas. Tidak mungkin bisa menyentuh benteng Bizantium kecuali dengan melintasi rantai tersebut.

Akhirnya Sultan Muhammad menemukan ide yang ia anggap merupakan satu-satunya cara agar bisa melewati rantai tersebut. Ia menggandeng 70 kapalnya melintasi perbukitan Galata ke muara setelah meminyaki batang-batang kayu. Hal itu dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, tidak sampai satu malam!


Di pagi hari, Bizantium kaget bukan kepalang, mereka sama sekali tidak mengira Sultan Muhammad dan pasukannya menyeberangkan kapal-kapal mereka lewat jalur darat. Peperangan dahsyat pun tak terelakkan. 


Akhirnya kerajaan besar yang berumur 11 abad itu jatuh ke tangan kaum muslimin. Peperangan besar itu mengakibatkan 265.000 pasukan umat Islam syahid. Pada tanggal 20 Jumadil Awal 857 H bersamaan dengan 29 Mei 1453 M, Sultan al-Ghazi Muhammad berhasil memasuki Kota Konstantinopel. Sejak saat itulah ia dikenal dengan nama Sultan Muhammad al-Fatih, penakluk Konstantinopel.


Setelah itu rentetan penaklukkan strategis dilakukan oleh Sultan Muhammad al-Fatih; la membawa pasukannya menaklukkan Balkan, Yunani, Rumania, Albania, Asia Kecil, dll. Bahkan la telah mempersiapkan pasukan dan mengatur strategi untuk menaklukkan kerajaan Romawi di Italia, akan tetapi kematian telah menghalanginya untuk mewujudkan hal itu.


Jadilah Pemuda Penakluk Kota Roma!


Sosok Al-Fatih begitu fenomenal. Semenjak usia 12 tahun ia sudah diangkat menjadi sultan. Dengan keberhasilannya membebaskan kota Konstantinopel, Ia telah membuktikan hadis Nabi Muhammad SAW pada 8 abad sebelumnya. 


Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash berkata, Saat kami dengan menulis di sekeliling Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau ditanya tentang kota manakah dari kedua kota yang akan dibebaskan terlebih dahulu, Konstantinopel atau Roma? Maka, Rasulullah SAW menjawab, Kota Heraclius akan dibebaskan terlebih dahulu.” Maksudnya adalah Konstantinopel. (HR Ahmad)


Dan ternyata, selain Konstantinopel masih ada satu kota lagi yang dijanjikan Rasul akan dibebaskan oleh umat Islam. Kota Roma. Dalam kitab Mu’jam al-Buldaan, karya Yakut al-Hamawi dijelaskan bahwa maksud Rumiyah dalam hadis di atas adalah ibu kota Italia hari ini, yaitu Roma. (Mu’jam al-Buldan, 3/100).


Setelah pembebasan Konstantinopel tujuh abad yang lalu, hingga sekarang umat Islam belum berhasil membebaskan kota Roma. Tugas umat Islam bukan menunggu. Tapi terus mempersiapkan diri agar bisa bergabung dengan mereka bila Allah menakdirkannya mengalami zaman tersebut. Dan salah satu persiapannya adalah dengan meneladani karakter yang melekat pada AL-Fatih sebagai upaya memantaskan diri dalam pembebasan kota Roma diantaranya, 


Pertama, Berjiwa Pembelajar. Bercermin dari kehidupan Al-Fatih, seorang pejuang Islam tak pernah berhenti belajar. Ash-Shalabi menulis dalam bukunya bahwa sejak kecil Muhammad Al-Fatih telah belajar Al-Qur’ān, hadis, fikih, dan ilmu modern lainnya seperti ilmu berhitung, ilmu falak, sejarah, serta pendidikan kemiliteran, secara teori maupun praktis. 


Dengan ilmu yang kita pelajari, tentu akan lebih banyak kontribusi yang bisa disumbangkan untuk kebangkitan Islam dan kaum Muslimin. Imam Syafi’ie mengingatkan, ‘Barangsiapa yang tidak memanfaatkan masa mudanya untuk menuntut ilmu, maka bertakbirlah empat kali untuknya sebagai tanda kematiannya.”


Kedua, Taat Setiap Saat. Ketaatan menjadi kunci kemenangan para penakluk dalam melawan musuh-musuh Islam. Sebagaimana disampaikan oleh seorang panglima Romawi yang curhat kepada rajanya setelah dikalahkan oleh pasukan Khalid bin Walid.


“Tuanku, tentara kita berperang dengan suatu kaum yang berpuasa pada siang hari dan beramal ibadah pada waktu malam. Mereka berpegang teguh pada janji, saling berkasih sayang sesama mereka bagaikan saudara. Mereka senantiasa mengerjakan kebaikan dan tidak melakukan kemungkaran.” Dia berkata dengan jujur. “Sedangkan tentara kita suka minum arak, melakukan zina, selalu ingkar janji, suka berbuat jahat, dan melakukan kezaliman. Karena itulah kita kalah.” (Diriwayatkan Ahmad bin Marwan al-Malik). 


Ketiga, Getol Beribadah. Kedekatan kita pada Allah swt dalam beribadah akan membuka jalan kemenangan kita dalam berjuang. Karena Allah swt bersama kita. seperti ditegaskan olehNya. 


“Bila seorang mendekat kepada-Ku sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta, bila ia mendekat kapada-Ku sehasta, maka akun mendekat kepadanya sedepa, dan apabila ia datang kepada-Ku dengan berjalan maka Aku datang dengan berlari” (HR. Bukhari)


Seperti itulah yang dilakukan oleh Muhammad al-Fatih. Sejak akil baligh tak pernah absen dalam menjalankan shalat sunnah rawatib dan menunaikan shalat tahajud di kesunyian malam. Cakep!


Keempat, Pantang Menyerah. Bukan perkara mudah untuk mewujudkan janji kemenangan Rasul dalam menaklukkan Konstantinopel. Dan bukan al-Fatih namanya kalo gampang mundur dari pertempuran. Al-Munyawi mengisahkan dalam bukunya, ketika Konstantin menolak untuk menyerahkan kota Konstantinopel, Al-Fatih bersiteguh, “Baiklah! Tidak lama lagi aku akan mempunyai singgasana di Konstantinopel atau aku akan mempunyai kuburan di sana!”


Tekad kuatnya dalam menaklukkan Kontantinopel, melahirkan kecemerlangan dalam berpikir sehingga tercetus ide brilian memindahkan kapal-kapal perang dari pangkalannya di Baskatasy ke Tanduk Emas dengan cara menariknya melalui jalan darat yang ada di antara dua pelabuhan. 


Kelima, Aktif Berdakwah. Seorang penakluk bukan tipikal indivudalis yang cuman mikirin hidupnya sendiri. Dia selalu memikirkan kondisi kaum muslimin dan kebaikan apa yang bisa dilakukannya untuk kebangkitan Islam. Karena itu, aktifitas dakwah sudah menjadi bagian dari kesehariannya. 


Dari mulai ngingetin teman untuk nggak pacaran, ngajakin sohib ikut pengjian, bagikan buletin Teman Surga, terjun dalam aksi damai solidaritas muslim Uyghur hingga bersuara di sosial media. Apapun kontribusi kita dalam berdakwah, tak ada yang percuma. Semuanya bernilai pahala yang berlipat ganda di hadapan Allah swt. 


Itulah beberapa karakter yang bisa kita teladani untuk memantaskan diri jadi bagian dari pemuda penakluk kota Roma. Bukan untuk gagah-gagahan, tapi semata untuk mewujudkan kabar gembira dari Rasulullah saw. Tak sekedar mengagumi kisah heroik Muhammad al-Fatih dalam menaklukkan Konstantinopel, namun ikut berkontribusi sebagai pelaku sejarah kelak dalam membebaskan kota Roma. Siap? Kuy!


***

Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/koreapi1453/
Twitter - https://twitter.com/koreapi_1453?s=09
IG -  https://www.instagram.com/koreapi.1453?igshid=3x7tpluws2nb
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Rabu, 08 Januari 2020

Berani Bersih Itu Baik



Ssstt… man-teman kita mau nanya sesuatu yang rahasia bangets nih ke kamu. Jangan sampe teman di sebelah kamu tahu ya. Pertanyaannya, pernah nggak sih pas waktu siang yang terik, dan berkeringat, trus temanmu dekatin kamu, koq tiba-tiba ada bau yang meggelitik hidung? Bau yang nggak biasa, bau yang bikin kamu, duh kurang nyaman gitu. Pernah nggak sih gitu? Kamunya mau bilang ke temanmu, takut tersinggung, eh nggak dibilang tapi ada baunya. 


Nah, pas tetiba temanmu itu menjauh, koq baunya masih ada sih?! Masa sih, bau ninggalin jejak ?! Ternyata, telisik punya telisik, yang bau burket alias bubur ketek adalah diri kita sendiri, wkwkwk… itu namanya, kuman di seberang lautan nampak, eh burket sendiri segede gajah, tak nampak, hehe…


Gaes, ilustrasi di atas sebagai gambaran aja kalo kejadian yang sepele kayak gitu, sering kita jumpai di pergaulan kita. Bukan hanya masalah burket, tapi ini masalah menjaga kesehatan dan kebersihan tubuh kita sendiri. Salah-salah kalo kita nggak pandai menjaga kebersihan badan kita, bisa memperburuk stabilitas perkawanan kita. Lho iya beneran, kalo misal aja kasusnya kayak ilustrasi di atas, kan kita bisa diledekin, sampe mugkin dijauhin sama teman-teman kita.


Itu baru bau badan, gimana juga kalo kita orang yang nggak rajin menjaga kesehatan mulut dan gigi, yang akibatnya bikin kuman bersarang di mulut, salah satu dampaknya, bau mulut atau karbon monoksida yang keluar dari mulut atau nafas kita jadi bau. Jadi, sekali lagi yang kelihatannya sepele bin remeh, tapi kalo nggak diperhatikan benar-benar bisa bikin runyam pergaulan kita.


Bersih Itu Peduli

Sepertinya ortu kita adalah orang yang paling cerwet deh kalo soal kebersihan diri atau tubuh kita. Mulai dari urusan mandi, sewaktu kita masih kecil, kalo pas pagi hari, baik pas waktu sekolah maupun liburan, ibu kita selalu meminta kita cepetan mandi. Coba diinget-inget, kira-kira berapa kali dalam setiap pagi, ibu kita selalu perintahkan kita mandi, tapi dasar kita ya waktu itu, baru perintah yang ke 100, kayaknya kita baru berangkat ke kamar mandi. Hayo, ngaku siapa yang kayak gitu? Hehe..


Tapi emang beneran, bebersih diri itu penting, kayaknya nggak ada yang mengelak kalo itu penting banget. Sebabnya, bebersih diri itu kaitannya dengan tadi, salah satunya bau badan, tapi juga bebersih diri (mandi) bagi kita yang muslim kaitannya dengan kesucian. Bukan sok suci, tapi kesucian dari hadats, dari najis dan sejenisnya. Sebab kalo kita nggak bersuci (mandi), berarti kita kan masih punya hadats, baik hadats besar maupun kecil. Nah, kalo kita mau ibadah sholat misalnya, dalam kondisi kayak gitu, tentu saja, ibadah sholat kita jadi nggak sah.


Itu baru bersih diri, nah kaitannya dengan bersih lingkungan sekitar kita juga hal yang sangat penting. Lingkungan sekitar tempat kita tinggal, mulai dari rumah, selokan, sampe ke sungai dekat rumah kita, juga penting kita jaga kebersihan dan kesehatannya. Selain memang pencemaran lingkungan di sungai datanya cukup mengejutkan. Menurut data Badan Pusat Statistik tentang perubahan status pencemaran sungai di Tahun 2015. Sebanyak 343 titik sungai mempunyai kualitas buruk dari 471 titik sungai yang dipantau oleh KLHK.

Sedangkan untuk pencemaran di lautan, data LIPI pada tahun 2018 menyebutkan diperkirakan 100 ribu hingga 400 ribu ton plastik pertahun milik masyarakat Indonesia masuk ke laut Indonesia.


Jadi, kalo kita pikir dengan cuek pada kebersihan diri maupun kebersihan lingkungan itu nggak masalah atau nggak ngaruh, maka itu mah salah besar. Dengan nggak pedulinya kita pada bersih diri, bisa berakibat teman kita menjauhi kita karena bau badan. Dengan nggak pedulinya kita pada kebersihan lingkungan, bisa bikin bau nggak sedap karena tumpukan sampah, bahkan kalo dampak yang gede bisa pencemaran kali sampe ke masalah banjir. Semua itu berawal dari kesadaran dan kepedulian kita.


Kesucian Bagian Dari Iman

Islam ini agama yang sempurna dan paripurna, sampe urusan yang sepele saja diurusin, salah satunya urusan thaharah (bersuci). Di dalam buku-buku fikih, pembahasan thaharah ini diletakkan di bab pertama. Salah satu alasan cukup mendasarnya, karena bersuci ini kaitannya dengan ibadah mahdoh (rutinitas) seperti sholat. Sementara Allah ciptakan manusia di dunia ini salah satu misinya adalah beribadah kepada Allah (QS. Ad Dzariyat 56). Nah, kalo disuruh ibadah, trus salah satu syarat sahnya ibadah adalah harus bersuci, maka wajar kalo bab bersuci menjadi penting untuk dibahas.


Rasullullah SAW sendiri menyampaikan, “Kesucian adalah bagian dari iman” (Muslim, No. 223). Dan hadist lain menyebutkan : “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan suka Keindahan.” (Muslim. No. 91). Kalo selama ini kita sering mendengar atau bahkan berucap bahwa “kebersihan sebagian dari iman”, maka mulai saat ini ucapan itu kalo disandarkan sebagai sebuah hadits, para ulama hadits sepakat, bahwa itu bukan hadits, alias hadits palsu. Hadits yang benar, seperti disebutkan di atas.


Atau di hadits lain yang cukup panjang disebutkan: 

“Dari Abi Malik Al-Asy’ari, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Kesucian itu sebagian dari iman, Alhamdulillah memberatkan timbangan, Subhanallah walhamdulillah memenuhi ruang antara langit dan bumi, shalat itu cahaya, sedekah itu bukti nyata, sabar itu pelita, Al-Qur’an itu hujjah (yang membela atau menghujat). Setiap manusia bekerja sampai ada yang menjual dirinya, hingga ia jadi merdeka atau jadi celaka.” (HR. Muslim)


Hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi, serta termasuk bagian dari hadis yang dimasukkan Imam Nawawi di dalam kitab Arba'innya yang fenomenal itu.


Kata thuhur di dalam hadis tersebut mempunyai arti suci. Dan kesucian di dalam agama Islam itu mencakup kesucian maknawi seperti suci dari kekufuran, kemaksiatan, serta kehinaan. Bisa juga mencakup kesucian secara hissi (indrawi), yakni kebersihan. Kesucian juga merupakan syarat sahnya shalat, baik suci dari hadas yang dapat dihilangkan dengan cara berwudu dan mandi, maupun suci dari najis yang harus dibersihkan sehingga sucilah pakaian, badan, dan tempat yang akan digunakan untuk shalat.


Oleh karenanya, bab thaharah atau kesucian ini menjadi pelajaran pertama yang harus dipelajari dalam fiqih Islam. Karena emang kesucian adalah pengantar kita menuju shalat. Sedangkan kunci surga adalah shalat, dan kuncinya shalat adalah bersuci. Itulah kenapa, sampe-sampe bersuci disejajarkan dengan iman, karena emang dengan bersuci kaitannya dengan keyakinan kita akan ibadah kepada Allah, sementara nggak ada ibadah kecuali memang harus dengan iman. Kalo ibadah (sholat), nggak ada iman, kita akan capek, karena cuman ngelakuin gerakan badan, dan ucapan, tapi kosong makna, dan nggak dinilai sebagai ibadah oleh Allah yang memerintahkan kita untuk ibadah. 


Makanya sampe para ulama membuat sebuah kaidah “Ma laa yatimmul Wlwajib illa bihii fa huwa wajib” (perkara yang menjadi penyempurna dari perkara wajib, hukumnya juga wajib) maksudnya, segala perkara yang menjadikan suatu amal kewajiban nggak dapat dikerjakan sama sekali atau bisa dikerjakan namun nggak sempurna kecuali dengan juga mengerjakan perkara tersebut, maka perkara tersebut yang asalnya tidak wajib, dihukumi wajib pula. Nah, salah satunya adalah masalah bersuci, baik wudhu maupun mandi menjadi wajib keberadaannya, sebelum melakukan ibadah sholat.


Sehingga, mulai dari sekarang bebersih diri, menjaga kesucian diri harus menjadi prioritas kita. Kalo masih bau burket, jarang sikat gigi, apalagi jarang mandi, harus jadi warning buat kita, itu artinya kita jarang memperhatikan kebersihan diri. Di dalam sholat saja, selain wajib bersih, juga disunnahkan untuk wangi. 


Dari Muhammad bin Ali ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah, ‘Apakah Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam memakai parfum? Ia menjawab, “Ya, dengan minyak wangi misik dan ‘anbar.” (HR. Nasa’i).


Dari Anas, ia berkata, "adalah Rasulullah SAW berkulit putih bercahaya (putih kemerahan), seolah-olah mutiara yang berkilauan. Apabila berjalan, beliau berjalan tegap. Dan aku belum pernah menyentuh sutra tebal atau sutra tipis yang selembut tapak tangan Rasulullah SAW, dan aku belum pernah mencium bau minyak wangi misk, maupun ambar yang lebih harum dari pada bau harumnya Rasulullah Saw.” (HR. Muslim)


So, tampil kucel, bau burket, bau mulut, bukanlah lifestyle yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Ini berlaku bagi cowok maupun cewek lho ya. Jangan mentang-mentang cewek, lalu tampil apa adanya, bau apa adanya, hehee… jangan sampe bau dan tampilan dari dapur masih nempel pas waktu ketemu sama teman-temannya.


Kalo Masih Aja Nggak Peduli?

Kalo akibat kita nggak peduli kebersihan diri, mungkin efeknya cuman dijauhi teman, atau kalo kuman masih setia nempel di tubuh kita, efeknya bisa gatal atau penyakit kulit. Tapi kalo ketidakpedulian kita berlanjut pada ketidakpedulian terhadap kebersihan lingkungan, maka akibatnya bisa lebih gede. Allah SWT dalam QS. Ar-Rum ayat 41 yang artinya:

“Telah tampak kerusakan di darat dan laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). 


Ath Thobari menjelaskan di dalam kitabnya “Jami’ Al Bayan Fii Ta’wil Al Qur’an”, Allah SWT mengingatkan manusia bahwa, sudah nampak kemaksiatan di daratan bumi dan lautnya dan itu semua akibat dari perbuatan manusia padahal Allah sudah melarangnya. Peringatan Allah sudah sangat nampak saat ini kerusakan lingkungan baik di darat maupun di laut. Seperti pencemaran lingkungan, kebakaran hutan, rusaknya terumbu karang, serta lainnya. 


Banjir, seperti yang akhir-akhir ini menerjang sebagian Jawa Barat dan Jakarta, bukan tidak mungkin adalah salah satu akibat dari ketidakpedulian kita, dan yang jelas itu akibat ulah tangan manusia yang rakus akan dunia dengan menguasai hutan, menggunduli pohonnya. Sehingga hutan yang harusnya menjadi tempat menahan dan tersimpannya air hujan, langsung mengalir aja ke sungai. Air sungai, selokan yang tersumbat bikin air tak tertampung akhirnya menenggalamkan warga sekitar.


Sekali lagi, berawal dari ketidakpedulian kita, ternyata ketidakpedulian yang kita anggap sepele, yang kita pikir dampaknya buat kita aja, eh ternyata eh ternyata akibatnya berdampak pada orang lain. Kalo kita pikir dampaknya, hanya sekedar nyakitin teman, tapi pada faktanya, dampaknya sampe pada banjir yang menelan banyak korban meninggal dunia.


Yuk, kita hentikan ketidakpeduliaan kita, hentikan sikap cuek kita. Saatnya peduli dengan menjadikan Islam sebagai tata aturan bagi kehidupan kita, mulai dari yang urusan kecil, seperti thaharah, sampe urusan yang lebih besar dari itu, mengurusi seluruh urusan umat manusia. Karena kita yakin, Islam mampu menyelesaikan semua problematika hidup kita. Sebab Islam itu syamil dan kamil. Allahu Akbar![]


***

Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/koreapi_1453?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Rabu, 01 Januari 2020

TAHUN BARU, DOSA BARU?

Dosa? belum mulai tahun baru kok udah ngomongin dosa. Yup betul banget tahun baru masehi memang belum di mulai, tapi  nggak terasa ya tahun 2019 sudah mau berakhir. Pastinya banyak banget yang kalian alamin di tahun 2019, dari mulai yang baru hijrah, mulai berhijab, mulai meninggalkan “OPPA” nan jauh di sana yang boro-boro dia kenal kita tapi kitanya yang histeris luar biasa (hehehe…) dan pastinya masih banyak lagi ya… proses atau perubahan yang temen-temen alamin di tahun ini.


Seperti yang sudah-sudah, tahun baru Masehi lebih ramai dari tahun baru Hijriyah. Maraknya pesta penyambutan tahun baru seolah mau nunjukkin bahwa tahun baru masehi itu layak disambut dengan suka-cita dan meriah bin cetar membahana. Semua kalangan merayakannya dengan pesta pora semalam suntuk. Adik-kakak, ponakan, paman-bibi, ayah-ibu, kakek-nenek, tetangga jauh tetangga dekat, pak RT dan pak RW sampe pejabat di atasnya ikutan latah menyambut momen pergantian tahun. Pokoknye semua merasa kudu merayakan tahun baru.  Betul apa bener ?


Di berbagai Media khususnya televisi sudah memberikan iklan jauh-jauh hari terkait perayaan tahun baru, setiap chanelnya mengundang berbagai artis untuk memeriahkan moment tersebut. Mulai dari MC penyanyi pelawak, dari papan atas sampai papan bawah, semuanya dapet Job yang komisinya lebih besar dari hari biasa. Sehingga mereka pun  sangat bersuka cita dengan moment tahun baru ini.


Belum lagi acara-acara televisi yang menayangkan para dukun kekinian dengan sebutan paranormal, yang bisa membaca situasi dan kondisi di tahun yang akan datang dengan didampingi tamu artis yang menjadi pasiennya. Sehingga paranormal pun bersikeras memangil “jin dan jun” untuk menerawang peristiwa demi peristiwa yang di request oleh acara tersebut. Selain itu  ramalan via kartu tarot, teropong lewat bola kristal, atau cuma dengan melihat garis-garis di telapak tangan langsung kebaca gimana nasib pasienya plus dibumbui trik and tips kalo terjadi sesuatu di kemudian hari. Percaya gengs?


Nah…nggak sedikit juga loh dari kalangan remaja yang merayakan dan mengabadikan moment-moment tahun baru bersama sahabat, kerabat ataupun “ TTM” alias teman tapi mesra (ups). Sampai bela-belain nggak jajan sebulan karna uangnya ditabung untuk acara yang nggak bermutu ini. Entah yang buat jalan-jalan ke pantai, ke alun-alun, ke monas dan tempat-tempat lainnya yang ada event-event tahun barunya. Kalo yang hemat paling tiup terompet bersama di rumah sambil bakar jagung dan ditambah cipika cipikinya ketika jam 12 teng telah berbunyi…sambil ngucapin “Happy New Year” (hadeehhh…)


Ada juga yang tipenya “Santuy”, mereka anggap biasa aja dan biarkan jalan sendiri. Sayangnya, mereka emang udah kebiasaannya nggak punya planning: dari waktu ke waktu, hari ke hari, minggu ke minggu, dan bulan ke bulan nggak ada peningkatan yang lebih baik. Prinsip hidupnya “gimana nanti aja” yang penting jalanin aja kaya air yang mengalir. Wah, kacau banget kan guys ? iya klao airnya mengalir ke tempat yang bersih dan baik kalo ke comberan yang penuh sampah dan limbah…naudzubillah deh…, ini sih golongan orang yang nggak punya harapan dan cita-cita. Jangan sampe kita kayak gitu ya gengs.(Aasiapp…)


By the way…tau nggak si asal usul tahun baru ? jangan-jangan auto ngikut aja ni gengs, biar dibilang gaul dan modern alias nggak ketinggalan jaman. Mau tau nggak asal-usulnya? Kita ulas sedikit ya tentang tahun baru, biar yang belum tau jadi tau…setuju? (SETUJU)


Ternyata peringatan tahun baru sudah dimulai sejak 45 tahun SM (Sebelum Masehi) pada masa Kaisar Julius Caesar. Bulan Januari sendiri dipilih  menjadi bulan pertama karena dikaitkan dengan nama dewa Janus yaitu Dewa yang memiliki dua wajah satu menghadap ke (masa) depan dan satu lagi menghadap ke (masa) lalu atau ke belakang. Pada tahun 1582 M, Paus Gregorius XIII mengubah Perayaan Tahun Baru Umat Kristen dari tanggal 25 Maret menjadi 1 Januari. Kalender Gregorian yang kita kenal sebagai kalender  Masehi dibuat berdasarkan kelahiran Yesus Kristus dalam keyakinan Kristen.  Seiring muncul dan berkembangnya agama Kristen, akhirnya perayaan ini diwajibkan oleh para pemimpin gereja sebagai suatu perayaan “suci” satu paket dengan hari Natal. Itulah mengapa ucapan Natal dan Tahun baru dijadikan satu (Merry Christmas and Happy New Year).


Nah itu sedikit penjelasan ya guys, jadi jangan sampai kita ikut-ikutan perayaan yang belum tau asal usulnya dan nggak mau cari tau infonya plus nggak tau hukumnya haram atau tidak ikut-ikutan acara tersebut. Karena kebiasaan buruk tersebut yang cuman ikut-ikutan tanpa landasan syariat islam kita merasa sah-sah aja bahkan dijadikan legalitas untuk nge-follow yang bukan berasal dari Islam. Astaghfirulloh


 Tegas Rasulullah SAW mengingatkan :

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).


Jangan sia-siakan waktu


 Sahabat taman syurga yang dirahmati Allah, udah saatnya kita ber alias muhasabah diri.  Apa sih yang dimaksud dengan muhasabah diri ? Duile hari gini nggak ngerti muhasabah, kuy lah kita simak.

Bro en Sis fillah, Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Hasyr [59]: 18)

Ayat ini merupakan isyarat untuk melakukan muhasabah setelah amal berlalu. Karena itu Umar bin Khaththab ra berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab” (Ibnu Qudamah, Minhajul Qashidin (terj.), hlm. 478)


 Guys…sampai kapan kita jadi remaja santuy…? sebagai manusia sadar nggak sih kita itu mahluk yang terbatas dan nggak sempurna. Itu sebabnya, kita jangan sampe melupakan siapa kita dan misi keberadaan kita di dunia ini. Ini wajib kita pahami betul, jangan sampai kita jadi budak dunia ataupun bucin  alias budak cinta yang nggak ada manfaatnya. Malahan kita jadi terjerumus ke lembah hitam yang semakin membawa kita larut dalam kemaksiatan. Berasa hidupnya masih lama, hidupnya suka semau gue, nggak peduli tentang sekitar, apalagi saudara islam yang tertindas di ughyhur.(Hmmm…jauh deh nggak akan tau…nyebut kata “ughyhur”nya aja susah…hihihi)


 Rasulullah saw bersabda: “Ada dua nikmat, dimana manusia banyak tertipu di dalamnya; kesehatan dan kesempatan.” (HR Bukhari)

Nah nikmat sehat ini nih…yang kadang buat kita lalai, padahal kalo lagi sakit kita ngeluh-ngeluh dan berdoa sama Allah untuk diberikan kesehatan. Tapi pas udah sehat kita lalai dalam beribadah, padahal Allah kasih kesempatan kita untuk beribadah tapi kita malah memilih aktivitas lain yang tidak bermanfaat ketimbang hadir di majelis ilmu untuk menambah tsaqofah Islam. Alhasil kesehatan dan kesempatan yang Alah berikan jadi sia-sia deh.(Hiks..)


Kejadian demi kejadian yang terjadi dalam kurun waktu satu tahun ini harusnya menjadikan kita semakin dekat dengan Allah. Seperti kemaksiatan yang semakin merajalela di tengah remaja entah itu terjerat narkoba, pergaulan bebas hingga LGBT, belum lagi kemiskinan dan pengangguran di mana-mana, ketidakadilan dan kedzoliman yang terus berkepanjangan. Yang seharusnya menjadikan kita sadar dan bertaubat untuk tidak mengulanginya lagi. Karena inilah saatnya kita menjadi agent of change…kalo bukan kita siapa lagi pemuda yang mau peduli dengan umat Islam. 


Jadi jangan sampe kita nyesel seumur hidup akibat kita menzalimi diri sendiri. Sebab, kita nggak bakalan diberi kesempatan ulang untuk berbuat baik atau bertobat, bila kita udah meninggalkan dunia ini.

 Firman Allah Swt.: “Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zalim permintaan uzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi.” (QS ar-Rûm [30]: 57)


Kuy…saatnya kita berubah, menjadi pribadi yang baik dengan mengkaji Islam. Ingat nggak ada kata terlambat selama kita masih bernafas. Yuk evaluasi diri, siapkan bekal sebelum bertemu Allah, jangan kebanyakan numpuk dosa. Karena sebaik-baik bekal adalah takwa. Mau berangkat sekolah aja kita butuh bekal untuk menunut ilmu, mulai dari bekal buku pelajaran, bekal uang untuk ongkos, jajan & quota. Apalagi bekal menghadap Allah harus dipersiapkan dengan matang. Jangan sampai ajal menjemput kamu pada momen pergantian tahun ketika kamu sedang maksiat. Naudzubillahi min dzalik.

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/koreapi_1453?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg