Jumat, 20 September 2019

MUSLIM BROTHERHOOD



Gaes, dalam bergaul setuju atau nggak setuju ada faktanya teman-teman kita kadangkala ngeliat sebelah mata teman-temannya yang menurutnya nggak ‘selevel’. Akibat lanjutannya, kadang berangkat dari pandangan kayak gitu, lalu muncullah bullying, mulai dari verbal bahkan sampe fisik. Semoga, man-teman pembaca bulletin keceh teman surga ini, nggak ada yang kayak gitu. Nah, biar nggak kayak gitu, trus juga bisa ngingetin teman-teman kita yang sering ngelakuin hal kayak gitu, yuk simak sampe tuntas bulletin ini. Oiya, jangan lupa, kasihkan bulletin ini ke teman-teman kamu, sebagai bentuk dakwahmu. Siap?!

No Body Perfect
Betapapun kita menginginkan orang lain sesempurna kita, itu suatu hil yang mustahal, eh.. kebalik, suatu hal yang mustahil. Karena kenyatannya kita sendiri aja, nggak sempurna. Apa kita sudah terlanjur jadi sosok yang sempurna, lalu bisa mengolok-olok seenak-enaknya orang lain? Enggak bro, kita ini juga nggak sempurna. Kita ada yang tidurnya ngorok alias mendengkur misalnya, yang bisa jadi itu menurut orang lain, memandang diri kita nggak sempurna. Jadi, sebenarnya yang bikin kita mudah merendahkan orang lain, karena kita merasa diri kita lebih tinggi, lebih baik, lebih berharga. Itulah cikal bakal, tumbuhnya rasa sombong dari situ. Naudzubillah min dzalik.

Coba deh, sebelum kita mudah meremehkan orang lain, inget lagi, kita ini siapa yang menciptakan? Kita diciptakan dari sumber yang sama, yakni al-Khaliq Allah Subhanullahu Wa Ta’ala, Allah yang Maha Suci dan Maha Tinggi. Sehingga nggak layak banget kita sombong, hanya Allah yang berhak ‘sombong’, kalo kita sombong, itu namanya TER-LA-LU. Sebab harta kita, bahkan tubuh dan nyawa kita ini, hanya pinjaman dari Allah, kalo suatu saat, Allah memintanya lagi, kita nggak bisa ngapa-ngapain.

Bro en Sis, ini renungan bersama buat kita, nggak layak kita sombong, dan nggak boleh memandang remeh orang lain. Kelebihan yang kita miliki itu hanya titipan, nggak lantas bikin kita tinggi hati lalu merendahkan orang lain yang mungkin punya kekurangan. Kalo pun, memang ada faktanya ada orang yang tidak sempurna fisik atau perilakunya, pasti Allah telah memberinya potensi yang berbeda dengan kita. Justru orang yang kita anggap remeh, bisa jadi adalah orang yang termulia di hadapan Allah, karena ketaatannya. Bahkan Allah juga sudah menyatakan, bahwa yang paling mulia diantara kita bukan karena harta, jabatan apalagi fisik, melainkan ketakwaan.

“…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al-Hujurat: 13).

Beda Pendapat, Bolehkah Merendahkan?
Dikutip dari Buku ‘Kisah-Kisah Unik’ karya Dr. Aidh Al-Qarni, Saat itu para shahabat berkumpul dalam satu majelis, sementara Rasulullah SAW tidak bersama mereka. Khalid bin Walid, Abdurrahman bin Auf, Bilal, dan Abu Dzar duduk di dalam majelis. Abu Dzar adalah orang yang memiliki ketajaman dan temperamen tinggi.

Orang-orang berbicara mengenai satu topik pembicaraan. Lalu Abu Dzar berbicara dan menyampaikan sebuah usulan, “Aku mengusulkan agar pasukan diperlakukan demikian dan demikian.”. Tiba-tiba Bilal menimpali, “Tidak, itu adalah usulan yang salah.”

Lantas Abu Dzar berkata, “Beraninya kamu menyalahkanku, wahai anak wanita berkulit hitam?” “Lâ Ilâha illallâh! Bercerminlah engkau. Lihatlah siapa dirimu sebenarnya?” Lanjut Abu Dzar. Seketika itu Bilal berdiri dengan terkejut dan marah sejadi-jadinya sambil berkata, “Demi Allah, aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah SAW,” lalu Bilal pun pergi kepada Rasulullah SAW.

Ketika Bilal sampai kepada Rasulullah SAW, dia berkata, “Wahai, Rasulullah. Maukah engkau mendengar apa yang telah dikatakan oleh Abu Dzar kepadaku?” Rasulullah saw. menjawab, “Apakah yang telah dikatakannya?” Bilal berkata, “Dia telah berkata begini dan begitu.”

Seketika itu rona muka Rasulullah SAW berubah. Lalu Abu Dzar bergegas datang dengan tergopoh-gopoh. Dia berkata, “Wahai, Rasulullah. Assalâmu ‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.” Ketika itu Rasulullah sangat marah, hingga dikatakan, “Kami tidak tahu apakah Nabi menjawab salamnya atau tidak.” Nabi bersabda, “Wahai, Abu Dzar. Engkau telah menghinakannya dengan merendahkan ibunya. Di dalam dirimu terdapat sifat jahiliyah.” (HR. Bukhari).

Kalimat tersebut terdengar bagaikan petir di telinga Abu Dzar. Lantas dia menangis, dan menghampiri Rasulullah, lalu berkata, “Wahai, Rasulullah. Beristigfarlah untukku. Mintakanlah ampunan dari Allah untukku.” Kemudian dia keluar dari masjid sambil menangis. Abu Dzar pergi dan meletakkan kepalanya di atas tanah yang dilalui Bilal. Lalu Bilal menghampirinya.

Abu Dzar menghempaskan pipinya ke atas tanah, dan berkata, “Demi Allah, wahai Bilal.  Aku tidak akan mengangkat pipiku, kecuali engkau menginjaknya dengan kakimu. Engkaulah orang yang mulia dan akulah yang hina.”   Lantas Bilal menangis dan mendekat, lalu menciumi pipi itu. Pipi itu tidak pantas diinjak dengan kaki, namun hanya pantas untuk dikecup. Pipi itu lebih mulia di sisi Allah daripada diinjak dengan kaki.

Kemudian keduanya berdiri dan berpelukan sambil menangis. Allah akan meninggikan kedudukanmu, wahai Abu Dzar, sampai batas ini. Sungguh, itulah didikan Islam, dan kehidupan di bawah naungan Al-Qur’an.

“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman. Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Mahagagah lagi Mahabijaksana.” (QS Al-Anfal: 63).

Man-teman semuanya, coba renungkanlah kata-kata Abu Dzar “Demi Allah, aku tidak akan mengangkat pipiku hingga engkau menginjaknya dengan kakimu.” Itulah perilaku para sahabat Nabi SAW, ketika melakukan sebuah kesalahan karena merendahkan orang lain, yang mungkin berbeda pendapat. Satu sisi kita belajar dari Abu Dzar, di sisi yang lain, kita belajar juga dari sosok seorang Bilal bin Rabbah yang pemaaf.

Maka dari fragmen perikehidupan para sahabat diatas, kita mendapati pelajaran bahwa kita yang saat ini masih suka mencela-cela saudara kita, apalagi yang seiman dan seislam hanya gegara berbeda pendapat, lalu mengatainya di sosmed, itu bukanlah perilaku muslim yang mulia. Berbeda pendapat, berbeda mazhab, berbeda pandangan fikih, nggak lantas membuat kita suka mencela dan merendahkan, apalagi sampe menyebut dengan merendahkan fisik, keturunan, ataupun kedudukan sosial. Sungguh itu nggak layak dilakukan oleh sesama saudara muslim.

Kalo pun memang berbeda pendapat, beda pandangan soal fikih misalnya, maka sikap yang diambil bisa dua. Pertama, kita menghormati pendapat fikih yang berseberangan dengan pendapat yang kita ambil dan kita kerjakan. Kedua, kita bisa berdiskusi, adu argumentasi dalam diskusi yang sehat dengan mengetangahkan dalil masing-masing. Jika akhirnya dari diskusi tersebut ternyata ada landasan kuat dalil maupun penggalian dalil, maka kembali ke pilihan pertama, menghormati.

Sehingga tidak lantas, menghina dan menghujatnya di sosial media, yang berakibat itu bisa ditiru oleh netizen yang lain. Apalagi, kalo yang ngelakuin itu sudah seorang tokoh yang diagung-agungkan, maka sudah pasti, bakal jadi viral sekaligus panutan ditiru para netizen-nya yang belum tentu paham akan apa inti dari ilmu yang diperdebatkan tersebut.

Sesama Muslim Itu BrotherHood
Yuk, bijaklah dalam berperilaku, santunlah dalam bersosial media, gunakanlah adab ketika berbeda pendapat. Selama itu saudara kita semuslim dan seaqidah, nggak layak kita meremehkan. Perbedaan pendapat, itu sudah lampau terjadi di masa-masa sahabat, tabi’in, tabi’t tabi’in, tapi tidak lantas membuat mereka mencela apalagi berpecah-belah. Cukuplah pelajaran dari Abu Dzar dan Bilal tadi menjadi pengingat bagi kita agar, kita saling menghormati, saling menyayangi.

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min BERPERANG maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan berbuat ANIAYA terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah BERSAUDARA, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (QS. Al-Hujuraat: 9-10)

Ketika sesama kaum muslimin berselisih, seharusnya perselisihan tersebut dikembalikan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. “Kemudian jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (As-Sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya” (Qs. An-Nisaa’: 59).

Nah, pertanyannya gimana kalo dengan yang bukan muslim? Pada prinsipnya ketika dengan yang bukan muslim, kita pun nggak boleh merendahkan yang memang terkait fisik, harta dan sejenisnya. Kembali ke sikap dasar, bahwa itu hal yang nggak layak kita lakukan kalo itu berkaitan dengan kemanusiaaan, tapi kalo sudah soal agama atau ibadah, ya maka prinsipnya lakum dinukum wa liyadin ‘untukmu agamamu, untukku agamaku’, itulah toleransi yang sebenarnya. Jangan sampe kalo urusan agama, kita bersikap yang keliru, keras dengan yang sesama saudara muslim, tapi malah justru lembek kepada orang yang bukan muslim.

"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, . . ." (QS. Al-Fath: 29)

Maka, demi menjaga muslim brotherhood harusnya sikap kita yang kita ambil dengan saudara muslim adalah berkasih sayang, bukan sebaliknya. “ Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imron: 159)

Maksud dari bersikap keras di sini adalah bertutur kata kasar (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 3/233, Muassasah Qurthubah). Al Hasan Al Bashri mengatakan dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3/232, “Berlaku lemah lembut inilah akhlaq Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang di mana beliau diutus dengan membawa akhlaq yang mulia ini.”

So, mulai saat ini yuk dijaga sikap dan perkataan kita terhadap sesama muslim agar ukhuwah brotherhood itu juga tetap terjaga. Jika ada selisih pendapat, kita tidak boleh merendahkan atau menjelekkan saudara kita sesama muslim. Apalagi, kita cuman dititipin harta, ketampanan atau kecantikan oleh Allah, lalu kita merendahkan saudara kita yang lain, itu nggak boleh. Catet! []

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Minggu, 15 September 2019

BE A SMART READER



Saat kita terlahir ke dunia, tangisan adalah komunikasi yang sering digunakan di kala merasa lapar dan butuh makan, merasa haus ingin minum, merasakan sakit dan tidak nyaman dan masih banyak lagi. Sampai terus bertumbuhnya sang bayi mulai bisa mengikuti kata per kata yang disampaikan Ibunya sebagai sosok yang paling sering bersama dengan bayi mungilnya. Meski terkadang belum terlalu jelas bicara, namun sudah bisa berkomunikasi dengan kata. Tak letih ibu mengajarkan kita bicara dan mengenalkan nama-nama benda yang ada disekitar kita. Bisa bicara dengan beberapa kata tidak berarti kita langsung bisa membaca. Lagi, lagi.. Ibu sebagai guru pertama mengajarkan huruf per huruf yang dirangkai menjadi kata, dan kata per kata yang dirangkai menjadi kalimat sampai akhirnya kita bisa membaca dan belajar banyak. Bisa membaca pada saat itu membuat kita senang mengeja dan membaca setiap kata atau tulisan yang dilihat. Dan ada kebahagiaan tersendiri saat kita berhasil membaca tulisan tersebut dengan benar. But, gimana kamu sekarang ini? Saat usiamu beranjak remaja, apakah membaca masih menjadi kegemaran kamu?

You Are What You Read

For your information. Angka buta aksara atau buta huruf di negeri ini memang menurun hingga tersisa kurang lebih 1% dari total penduduk Indonesia itu artinya jumlah penduduk Indonesia yang bisa membaca sudah diatas 98%. Namun sayangnya hal ini tidak dibarengi dengan peningkatan minat membaca terlebih di kalangan pelajar. Hasil dari penelitian dari Program for International Student Assessment (PISA), Indonesia berada pada ranking 62 dari 70 negara yang disurvei. Ada beberapa faktor yang membuat minat baca di kalangan pelajar rendah bahkan perpustakaan rasanya sudah jarang atau mungkin tidak pernah disinggahi, jika pun mengunjungi perpustakaan karna ada tugas sekolah. Akhirnya buku-buku di perpustakaan pun banyak yang kotor, rusak  bahkan habis dimakan oleh rayap. Faktor pertama rendahnya minat membaca, sulitnya mengakses buku-buku berkualitas. Kedua, buku-bukunya dirasa kurang menarik sehingga kurang antusias untuk membaca. Akhirnya mereka lebih senang membaca buku-buku terjemahan dari luar negeri. Ketiga, tentu peran pemerintah yang harus lebih concern dalam meningkatkan minat membaca salah satunya menyediakan buku-buku berkualitas yang menarik dibaca dan memfasilitasi perpustakaan-perpustakaan yang nyaman dan bikin betah berlama-lama membaca.

Buku adalah jendela dunia, dari membaca kita jadi tahu apa saja yang ada di dunia ini. Dari buku kita mengetahui dan memahami banyak hal. Tentu buku yang kita baca harus buku yang berfaedah ya friends, buku yang mengandung ilmu yang bermanfaat. B’coz you are what your read, kamu adalah apa yang kamu baca. Kalau senangnya baca buku fantasi, ngga jauh pasti kamu senang berpikir fantasi dan berimajinasi. Nah, hati-hati nih.. misal kamu baca buku yang peran utamanya bisa terbang pakai sapu, trus punya tongkat sihir dan keajaiban lainnya akhirnya kamu berimajinasi ingin seperti itu. Ngga sedikit lho, orang-orang yang terobsesi menjadi apa yang diimajinasikan sampai rela mengeluarkan banyak uang hanya untuk mengoperasi tubuhnya agar mirip dengan tokoh tertentu. Ada yang terobsesi menjadi putri duyung, menjadi seperti barbie, menjadi superhero seperti spiderman atau superman. So, mulailah pilih buku bacaan yang bikin kamu jadi tambah cerdas dan tambah sholih. Kalau sudah begini kamu pasti bakalan jadi tambah keren.

Buku dan ilmu memiliki tempat yang istimewa di dalam Islam. Buku adalah cara agar ilmu bisa terjaga dan terus memberikan manfaat bahkan ketika penulisnya sudah meninggal dunia. Dan ini bakal jadi amal jariyah yang terus memberikan pahala selama ilmu tersebut masih dimanfaatkan. Islam mewajibkan menuntut ilmu bagi setiap muslim baik ilmu pengetahuan terlebih ilmu agama. Oleh karnanya, banyak keutamaan yang dimiliki seorang penuntut ilmu yaitu Allah angkat derajatnya dan Allah mudahkan jalan ke surga bahkan dimintakan ampun atas dosa-dosanya. Allah SWT berfirman “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (TQS. Al Mujadilah: 11). Selain itu Rasulullah saw bersabda “Barang siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya ke surga. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayapnya (memayungkan sayapnya) sebagai tanda ridho pada penuntut ilmu. Sesungguhnya orang yang berilmu dimintai ampun oleh setiap penduduk langit dan bumi, hingga ikan yang berada didalam air...” (HR. Abu Daud).

Buku dibayar dengan emas? Yess.. siapa saja yang mempunyai karya yang dibukukan maka Ia akan dibayar dengan emas seberat berat buku tersebut. Kemudian buku tersebut bisa diperbanyak dan disebarkan tanpa perlu izin dari sang penulis. Hal ini pernah terjadi pada masa Khalifah Al Makmun yang memberikan emas kepada Hunain bin Ishak seberat kitab-kitab yang Ia salin ke bahasa arab. Sudahlah dihargai dan dibayar dengan emas, kita pun bisa mendapat pahala yang mengalir selama buku dan ilmunya dimanfaatkan. Amazing!! Kalau kaya gini sih siapa yang ngga pengen jadi penulis? Yang perlu TemanS ingat, ada pahala yang mengalir bahkan ketika kita sudah meninggalkan dunia ini sekali pun, saldo pahala akan terus mengisi pundi-pundi amalan kita.

Generasi Milenial Cinta Al Qur'an

Iqra!! Bacalah!! Ayat pertama dari surat Al-Alaq yang memerintahkan untuk membaca. Karna dari membacalah kita dapat mengetahui tentang banyak hal. that’s why orang yang hobinya membaca pasti orang yang punya wawasan luas dan pengetahuan yang banyak. Yakin deh, orang kaya gini ngga akan tulalit kalau diajak ngobrol atau diskusi tentang apa saja. Kalau menurut kebanyakan orang, gaul itu yang slalu mengikuti apa saja yang sedang happening. Tapi, bagi versi Teman Surga gaul itu yang tahu tentang banyak hal dan tak segan membagi ilmunya kepada yang membutuhkan. Ngga keren kan, dandanan modis stylish tapi pas ditanya ini dan itu jawabnya cuma garuk-garuk kepala karna ngga tahu.

Memanglah, di era 4.0 sekarang ini bisa dibilang masa yang hampir semuanya menggunakan teknologi atau internet. Semua bisa dilakukan melalui ponsel pintar yang hanya dengan sentuhan jemari seolah kita bisa menjelajah dunia. Termasuk membaca, di era digital ini buku pun dibuat menjadi e-book atau electronic book yaitu buku digital yang berisi informasi. Hal ini tentu memudahkan bagi siapa saja yang mau mencari informasi, walaupun tetap saja ada plus minus dari yang namanya teknologi. Misal, kalau baca buku melalui smart phone tidak lebih leluasa dibanding membaca bukunya langsung, ditambah mata mudah lelah saat membaca tulisan di layar HP, tablet ataupun PC. Kemajuan teknologi memang tidak bisa dihindarkan karna itu adalah hasil dari berkembangnya ilmu pengetahuan (sains), namun bagi kita seorang muslim harus bijak dalam memanfaatkan atau menggunakan teknologi sesuai dengan syariat Islam.

Wahai generasi milenial!! Kalau bukan kamu siapa lagi? Generasi cemerlang yang kelak membawa perubahan negeri ini menjadi gemilang. So, mulailah senang membaca buku yang berfaedah karna dari situ kamu akan tertunjuki pada ilmu yang bisa menerangi dunia bahkan kelak akhiratmu. Jika membaca sudah menjadi habbitmu, pastikan bahwa kamu tidak termasuk ke dalam yang belum bisa membaca Al-Qur’an. Jika angka buta aksara Indonesia hanya 1%, ternyata untuk angka buta aksara (huruf) Al-Qur’an di Indonesia masih tinggi yaitu sekitar 65%. Bisa jadi ngga sedikit orang yang hapal huruf hijaiyah tapi belum bisa membaca Al-Qur’an. Masih besarnya rasa malu untuk memulai belajar baca Al-Qur’an ketika sudah beranjak remaja atau dewasa menjadi faktor yang juga menghambat berkurangnya angka buta huruf al Qur’an. Padahal, bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali? Sungguh sangat disayangkan, karna Al Qur’an adalah pedoman (petunjuk) hidup manusia agar selamat di dunia dan di akhirat. “...Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)...”. (TQS. Al Baqarah: 185). Bisa jadi banyak faktor kenapa angka buta aksara Alqur’an masih sangat tinggi. Namun, alasan yang mendasar adalah kurangnya kesadaran dan pemahaman bahwa Al Qur’an itu adalah kalamullah (perkataan) Allah yang mengandung perintah dan larangan, di mana setiap muslim wajib tunduk menjalankan perintahNya dan menjauhi apa yang dilarangNya. Kitab sempurna yang berisi berbagai macam hal dari mulai keimanan sampai bagaimana membangun suatu pemerintahan. Oleh karnanya, bagaimana mungkin bisa memahami dan mengamalkan apa yang tersurat di dalamnya, jika membaca Al Qur’an saja belum bisa. Padahal, memahami dan mengamalkannya adalah wajib hukumnya.

Bagi yang sudah bisa membaca Al-qur’an dengan tartil, ber-istiqomahlah. Dan bagi yang sedang and mau belajar membaca Al-Qur’an ber-semangatlah. Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang mahir dengan Al-Qur’an akan bersama-sama dengan rombongan malaikat yang mulia dan senantiasa berbuat baik. Dan orang yang membaca Al-Qur’an tapi terbata-bata dan sangat berat baginya, ia akan mendapatkan dua pahala”. (HR. Muslim). Next, iringi mengaji Al-Qur’an dengan mengkaji Al-Qur’an, niscaya hatimu akan tenang dan kamu akan temukan betapa indah dan sempurnanya Kalam Illaahi ini.

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Rabu, 04 September 2019

HIJRAH KUY!



Tren hijrah di kalangan generasi milenial terus bergulir bak bola salju. Berbagai komunitas hijrah bermuncul seperti jamur di musim hujan. Kegiatan bertema hijrah pun nggak ketinggalan meramaikan lini masa sosial media. Adem ngeliat hijabers dan koko-ers membanjiri acara kajian Islam. Lebih bahagia lagi saat banyak aktivis hijrah saling mengingatkan dan menguatkan satu sama lain.

Terlebih lagi di bulan Muharam 1441 H saat ini, fenomena hijrah tak bisa dilepaskan dari momen pergantian tahun hijriah. Peristiwa hijrah Rasulullah saw dan para shahabat dari Mekkah ke Madinah menjadi tonggak berdirinya negara Islam yang membuka pintu dakwah lebih luas ke seluruh dunia. Tak hanya itu, hijrahnya Rasul juga menunjukkan loyalitas para sahabat dan eratnya ukhuwah di antara kaum Anshar dan Muhajirin. Ngiri.

Muhasabah Sebelum Berhijrah
Secara bahasa, hijrah artinya berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu keadaan ke keadaan yang lain. Rasulullah saw berhijrah dari Mekkah yang penuh kemaksiatan menuju Madinah yang disiapkan untuk menjadi negeri penuh berkah.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bârî menjelaskan, asal dari hijrah adalah meninggalkan dan menjauhi keburukan untuk mencari, mencintai dan mendapatkan kebaikan. Itu berarti, hijrah juga bisa diartikan dengan perubahan diri dari yang buruk menuju yang baik. Gitu.

Namun sebelum berhijrah, titik balik mereka yang mendapatkan hidayah semua bermula dari muhasabah. Mereka mengevaluasi ketidaknyamanan yang terjadi pada diri, keluarga, pergaulan, ibadah, atau bisnisnya. Seperti inilah yang diingatkan oleh Sayyidina Umar bin Khaththab, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (di akhirat, red).”

Yup, selagi kita masih hidup di dunia  yang fana ini, biasakan menghitung amal sholeh dan amal salah yang kita lakukan. Biar bisa memperbaiki diri dan sebelum tiba di hari perhitungan sebenarnya di akhirat kelak.

Selebriti yang berhijrah, sebelumnya berpikir tentang kehidupannya. Berlimpah harta tapi tidak bahagia. Selalu merasa terancam popularitasnya akan turun. Hubungan keluarga nggak harmonis. Banyak kewajiban yang terlalaikan. Hidupnya tersandera oleh kesenangan dunia. Mereka seolah tersadarkan oleh firman Allah swt.

Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit dan pada hari Kiamat (dibangkitkan) dalam keadaan buta.  (Q.S Thaha 124)

Imam Ibnu Katsir berkata tentang ayat ini : Barangsiapa yang menyelisihi perintah-Ku dan ketentuan syariat yang Aku turunkan kepada Rasul-Ku (dengan) berpaling darinya, melupakannya, dan mengambil selain petunjuknya  maka baginya penghidupan yang sempit dan sengsara, yaitu di dunia, dan tidak ada kelapangan dalam hatinya. Bahkan hatinya sempit dan sesak karena penyimpangannya, meskipun (terlihat) secara zhahir (hidupnya) senang. Berpakaian , makan dan bertempat tinggal sesukanya. Akan tetapi hatinya selalu diliputi kegundahan, keguncangan dan keraguan karena jauhnya dari kebenaran dan petunjuk-Nya. (Kitab Tafsir Ibnu Katsir).

Karena itu, muhasabah sebelum berhijrah menjadi suatu keharusan. Biar kita sadar dan bertanggungjawab untuk memperbaiki diri dari kondisi sekarang menuju kondisi yang lebih baik dan penuh berkah. Kita hisab mandiri setiap hari. Buat diri kita nggak nyaman karena telah melalaikan kewajiban atau melakukan kemaksiatan. Dengan begitu, dorongan untuk berhijrah memperbaiki diri lebih cetar membahana.

Hijrah Paket Komplit
Baginda Nabi saw. pernah bersabda: “Muslim itu adalah orang yang menjadikan Muslim yang lain selamat dari lisan dan tangannya. Orang yang berhijrah itu adalah orang yang meninggalkan apa saja yang telah Allah larang” (HR al-Bukhari, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ahmad, dll).

Dalam prakteknya, meninggalkan yang Allah swt larang bukan perkara mudah. Apalagi yang sebelumnya dekat dengan maksiat. Perlu perjuangan ekstra untuk bertobat. Begitulah yang kebanyakan dihadapi mereka yang berhijrah. Banyak tantangan yang dihadapi dari sahabat, kerabat, keluarga, rekan kerja, hingga teman sebaya. Ada yang mendukung, tak sedikit yang mencibir bin nyinyir.

Walhasil, proses hijrah terkadang masih tarik ulur. Belum berani total meninggalkan yang dilarang dan melaksanakan yang diperintah. Masih pilah pilih aturan syariah. Yang bermanfaat diambil. Yang memberatkan ditunda dulu. Padahal kalo mau tobat, jangan nanggung. Entar dosanya keburu menggunung. Khawatir belum juga bertobat, eh ajal sudah mendekat. End game!

Padahal Allah swt sudah ngingetin, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” (Qs Ali Imran: 133)

Makanya, biar tahan banting saat berhijrah, jangan setengah-setengah. Ambil hijrah paket komplit. Tunjukin kalo hijrah kita seriusan. Bukan karena bawaan teman apalagi hilang ingatan. Apa yang mesti kita lakukan ketika memilih hijrah paket komplit?

Pertama, berubah penampilan. Bukan untuk pencitraan. Tapi bagian dari ketaatan. Untuk yang cewek, pelajari dan pahami tata cara berbusana yang sempurna baik di dalam rumah atau di luar rumah. Berhijab tak sekedar menutup aurat dengan tetap menampilkan lekuk tubuh. Patokannya bukan modis bin fashionable biar masuk kategori OOTD muslimah milenial. Tapi standar Islam yang Allah ridhoi.

Untuk cowok, gak masalah membiasakan diri pakai kemeja koko, manjangin jengot atau berkopiah. Berpenampilanlah seperti muslim yang taat. Biar pada tahu dan mendukung kita dalam berhijrah, bukan untuk menuai pujian manusia atau banjir like di sosial media.

Kedua, benahi pemikiran. Tak sekedar penampilan, cara berpikir kita tentang kehidupan, kebahagiaan, materi, keluarga, pertemanan, dan dunia kerja juga mesti ikut dibenahi. Karena bisa jadi, sebelum hijrah banyak informasi salah dan menyesatkan yang mangkal di memori otak kita. sehingga kita berbuat semaunya, mati-matian mengejar kesenangan dunia dan melupakan aturan-Nya.

Karena itu, mengenal Islam lebih dalam jadi suatu keharusan. Perkuat pondasi hijrah kita dengan aktif ikut pengajian. Ringankan langkah kaki kita menuju majlis ta’lim. Buka mata dan telinga kita untuk menyimak ceramah ustadz via channel youtube atau podcast sambil menemani perjalanan atau aktifitas.

Ketiga, aktif berdakwah. Tak cukup memperbaiki diri, berhijrah juga ikut ambil bagian dalam memperbaiki masyarakat. Eits, gak usah minder karena ngerasa ilmu islamnya masih belum mumpuni. Keterlibatan kita dalam dakwah gak mesti ceramah di atas podium. Bisa di belakang layar dengan dukungan materi, peralatan, jaringan, atau kemampuan di bidang yang kita tekuni.

Atau minimal aktif di sosial media dengan membagikan kontent-kontent dakwah yang menginspirasi. Turun ke jalan menyuarakan kebenaran atau membagikan media dakwah.

Dengan hijrah paket komplit ini, insya Allah akan lebih banyak keberkahan yang kita dapat. Persahabatan yang tulus hingga kehidupan yang nyaman dan bahagia.

Istiqomah dalam Hijrah
Jalan hijrah itu nggak semulus jalan tol. Ada aja onak duri, kerikil tajam, turunan curam, tanjakan tinggi, belokan tajam atau batu besar yang menghadang di tengah jalan. Dan pilihan kita cuman jalan itu saja yang harus dilewati. Nggak ada jalan pintas atau jalan layang alias fly over. Karena itu dibutuhkan kesabaran ekstra untuk meniti jalan hijrah dan tetap istiqomah.

Rasulullah saw. ngasih kabar gembira bagi kita-kita yang selalu bersabar dan tetep istiqomah. Sabda beliau:

“Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari yang memerlukan kesabaran. Kesabaran pada masa-masa itu bagaikan memegang bara api. Bagi orang yang mengerjakan suatu amalan pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengerjakan semisal amalan itu. Ada yang berkata,’Hai Rasululah, apakah itu pahala lima puluh di antara mereka?” Rasululah saw. menjawab,”Bahkan lima puluh orang di antara kalian (para shahabat).” (HR Abu Dawud, dengan sanad hasan)

Kita sering ngerasa khawatir kalo istiqomah bikin kita sengsara. Rizki kita berkurang dan ajal lebih cepat datang. Padahal mah kenyataannya, yang nggak istiqomah juga banyak yang rizkinya seret dan ajalnya deket. Justru yang pasti, Allah swt bakal ngejamin kebaikan bagi yang berani istiqomah. Seperti ditegaskan dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Robb kami ialah Allah” kemudian mereka beristiqomah (meneguhkan pendirian mereka), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (QS. Fushshilat [41]: 30).

Sikap istiqomah dalam berhijrah adalah produk dari keimanan yang ada dalam diri kita. Makanya, untuk memelihara sikap istiqomah kita juga perlu memupuk keimanan kita. Caranya?

Pertama, banyak berpikir. Para sahabat, generasi awal kaum Muslimin yang berhasil dididik Rasulullah saw. mengaitkan aktivitas berpikir dengan keimanan. Mereka menjelaskan bahwa, “Cahaya dan sinar iman adalah banyak berpikir” (Kitab ad-Durrul Mantsur, Jilid II, hlm. 409). Semakin kita banyak berpikir tentang kebesaran Allah swt dan mengkaji Islam lebih dalam, lambat laun cahaya keimanan kita akan semakin bersinar. Makanya ikut ngaji.

Kedua, perbanyak ibadah dan jauhi maksiat. Rasul pernah bilang, “iman itu kadang bertambah dan kadang berkurang”. Rasul juga bilang, “iman bertambah dengan taat, dan iman bekurang dengan maksiat”. Makanya kita kudu getol beribadah, baik yang sunah apalagi yang wajib. Dan jangan lupa, jauhi pelaku maksiat juga tempat maksiat. Biar kita nggak kebawa-bawa sesat.

Ketiga, bergaul dengan orang-orang alim. Perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh teman dekatnya. Makanya, sering-sering deh ngumpul dengan teman yang bisa mengajak kita untuk tetap taat dan mengingatkan kita agar jauh dari maksiat. Dengan begitu, tanki semangat kita untuk istiqomah selalu terisi penuh.

Emang nggak mudah menjadikan ridho Allah swt di atas pertimbangan materi, kepentingan keluarga, atau solidaritas teman. Tapi percaya deh, Allah swt pasti akan mengganti setiap pengorbanan kita dalam berhijrah dengan kebaikan dunia akhirat. Bukan cuman untuk kita, tapi juga untuk keluarga, teman, dan orang-orang yang kita sayangi. So, hijrah kuy?! Siapa takut! 

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Sabtu, 31 Agustus 2019

Menggenggam Asa Orang Tua


Satu kata untuk wanita yang melahirkanmu? Ibu, Umi, Mamah, Ambu, Emak, apapun kamu memanggilnya rasanya satu kata kurang untuk melukiskan sosok wanita yang begitu hebat ini. Selama kurang lebih sembilan bulan kita berada dalam dekapan rahimnya, menyatu dalam tubuhnya, begitupun sayangnya yang sudah mulai tumbuh sedari kita baru menjadi nutfah. Coba deh kamu tanya bagaimana dulu kamu dikandung dan dilahirkan. Pasti setiap dari kita punya cerita yang berbeda dan itu akan menjadi kenangan tersendiri, intinya kita akan paham betapa luar biasa pengorbanan dan kasih sayang seorang ibu.

Semua orang tua terlebih seorang ibu pasti selalu mendoakan yang terbaik untuk anaknya bahkan sebelum anaknya dilahirkan ke dunia. Mengharapkan kelak anaknya menjadi anak yang sholih/sholihah, sukses dan berbakti kepada orang tua. Ibu adalah orang pertama yang bersedih jika anaknya menangis, orang yang pertama cemas dan khawatir ketika anaknya sakit atau belum pulang sekolah dari jadwal biasanya, orang yang pertama kali bahagia saat anaknya meraih cita-citanya dan menjadi orang yang berhasil. Meski omelan, cerewet Ibu bikin kamu ngga suka tapi percaya deh itu adalah wujud perhatian dan kepedulian Ibu untuk kita. Kalau kitanya manut nurut, hormat kayanya ngga bakalan deh Ibu cape-cape ngomelin kita atau cerewetin kita. Cuma ya itulah, remaja zaman now yang sudah lebih banyak kepengaruhan apa yang dilihat (ditonton) dan apa yang dilihat walhasil kadang atau sering kali kalau dikasih tahu ortu atau Ibu malah balik “ngegas”. Seperti yang baru-baru ini viral terjadi dimana seorang anak laki-laki yang kesal karna tidak diberi uang sepuluh ribu rupiah, tega memukul bahkan menendang kepala wanita tua yang telah melahirkan dan membesarkannya terlebih sang Ibu sedang sakit kala itu. Ibarat air susu dibalas air tuba, pengorbanan dan kasih sayang orang tua malah dibalas dengan kelakuan tak terpuji yang bukan saja menyakiti hati tapi juga fisik. Tak lama video ini terupload dan viral, Polsek Tegalsari, Surabaya langsung memanggil dan memeriksa pelaku yang melakukan tindak kekerasan kepada Ibunya. Namun, kasus kekerasan tersebut kemudian diselesaikan dengan cara mediasi karna sang Ibu tidak tega jika harus melihat anaknya ditahan. Itulah seorang Ibu sebagaimanapun anaknya nakal bahkan menyakitkan hati tetap saja kasih sayang Ibu jauh lebih besar. Semoga kejadian dan perlakuan buruk kepada orang tua ngga akan pernah terulang lagi ya friends.

Jasa Ibumu
Masih ingat dulu, di zaman jahiliyah anak perempuan dikubur hidup-hidup? Karna bagi mereka memiliki anak perempuan itu adalah aib yang memalukan. “Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu”. (TQS. An Nahl: 58-59). Namun, ketika Rasul diutus dan mengemban Islam budaya jahiliyah ini lambat laun hilang dan mengubah kedudukan wanita menjadi sosok yang dimuliakan memiliki harkat, derajat dan martabat. Kebayang ngga sih  guys, kalau kebiasaan membunuh atau mengubur anak perempuan hidup-hidup ngga dihentikan niscaya ngga akan lahir orang-orang hebat, cerdas, sholih/sholihah, salah satunya seperti kamu.

Islam hadir memang untuk memberi rahmat bagi seluruh alam. Membawa manusia dari kehidupan yang tidak beradab menuju ke peradaban yang mulia. Termasuk memuliakan seorang wanita yang kelak akan menjadi seorang Ibu dari generasi pemimpin hebat di masa datang. Meski kesusahan demi kesusahan dialami seorang Ibu, Ia akan rela karna itu adalah fitrah. Hanya ridho Allah yang dituju, sehingga di dalam firmanNya Allah SWT menegaskan dan memerintahkan kita untuk berbakti, berbuat baik kepada orang tua. “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (TQS. Luqman: 14)

Dari Abu Hurairah ra, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah saw dan berkata, “Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?” Nabi saw menjawab, “Ibumu!” Dan orang tersebut kembali bertanya, “Kemudian siapa lagi?” Nabi saw menjawab, “Ibumu!” Dan orang tersebut kembali bertanya, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ibumu!”. Orang tersebut bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Nabi saw menjawab, “Kemudian ayahmu”. (HR. Bukhari). Iman Al Qurthubi menjelaskan hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang Ibu harus tiga kali lipat besarnya.  Karna seorang Ibu telah mengalami kesulitan saat masih hamil, lalu melahirkan dan menyusui serta merawatnya.

Can you imagine? Saat hamil, seorang Ibu kepayahan dari mulai mual yang ringan sampai makan ini salah makan itu muntah, seluruh badan pegal karna beratmu di perut Ibu semakin bertambah. Mau tidur enak dan nyaman? Rasanya sulit didapat. Masa mendekati dan tiba saatnya melahirkan, mau tahu rasa sakitnya? Sakitnya itu seperti 20 tulang patah bersamaan. Jika badan manusia hanya mampu menanggung rasa sakit hingga 45 Del, namun saat Ibu yang akan melahirkan akan merasakan sakit hingga 57 Del. Tak berakhir sampai di situ, Sang Ibu yang baru saja berjuang antara hidup dan mati saat melahirkan buah hati kesayangannya, harus “memaksa” diri untuk kembali kuat dan sehat demi menyusui anaknya ditambah tubuh mungil kamu yang masih sangat bergantung pada Ibumu.

Kamu dan Asa Ibumu
Perjuangan dan pengorbanan seorang Ibu begitu luar biasa, rasanya membalas setetes air susunya yang telah menjadi darah daging kita pun ngga akan bisa. Dari Abu Burdah, ia melihat Ibnu Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar ka’bah sambil menggendong Ibunya di punggungnya. Orang itu bersenandung, “Sesungguhnya diriku adalah tunggangan Ibu yang sangat patuh”. Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari. 0rang itu lalu berkata, “Wahai Ibnu Umar apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab, “Belum, walaupun setarik nafas yang ia keluarkan ketika melahirkan”. Beliau lalu thawaf dan shalat dua raka’at pada maqam Ibrahim lalu berkata, “Wahai Ibnu Abi Musa (Abu Burdah), sesungguhnya setiap dua raka’at (pada maqam Ibrahim) akan menghapuskan berbagai dosa yang diperbuat sesudahnya”. (dikeluarkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod).

Lihatlah bagaimana generasi salaf begitu memuliakan Ibunya. Ali bin al-Husain tak ingin makan satu meja dengan ibundanya. Alasannya? Ia takut bila merebut menu yang diinginkan ibunya. Ada lagi Usamah yang pernah memanjat pohon kurma, lalu mengupasnya dan menyuapi ibunya. Mengapa ia melakukan hal itu? Ia menjawab, “Ibuku memintanya. Apa pun yang ia minta dan saya mampu, pasti saya penuhi.”

Begitulah perhatian salaf terhadap ibu mereka. Aisyah bahkan pernah bertutur, ada dua nama yang ia nilai paling berbakti kepada sosok ibu, yaitu Usman bin Affan dan Haritsah bin an-Nu’man. Nama yang pertama tak pernah menunda-nunda perintah ibundanya. Sedangkan yang kedua, rajin membasuh kepala sang ibu, menyuapinya, dan tidak banyak bertanya saat ibundanya memerintahkan suatu hal.     

See, jangankan membalas satu tarikan nafas saat Ibu melahirkan apalagi semua jerih dan payah yang telah Ibu korbankan untuk kita sampai tumbuh remaja seperti sekarang ini. Lalu, jika begitu adanya masihkah kita menjadi anak yang membantah apalagi durhaka terhadapnya? Astaghfirullah, Please, don’t ever do that!!. Rasulullah saw bersabda, “Maukah aku kabarkan kepada kalian mengenai dosa-dosa besar yang paling besar? Beliau bertanya ini 3 kali. Para sahabat mengatakan, “tentu wahai Rasulullah”. Nabi bersabda, “syirik kepada Allah dan durhaka kepada orang tua” (HR. Bukhari-Muslim). Oleh karna itu, berbuat baiklah kepadanya jangan membuatnya bersedih apalagi sakit hatinya, segera minta maaf atas kesalahan yang pernah kita perbuat baik disengaja ataupun ngga. Mintalah doa karna doanya seorang Ibu itu mujarab alias maqbul. Ngga percaya? Kisah dari seorang Imam Masjidil Haram sekaligus hafidz qur’an yang memiliki suara yang sangat menyentuh hati siapa saja yang mendengarnya, Ia-lah Syeikh Abdurrahman Assudais. Singkat cerita pada saat Imam Assudais kecil pernah melakukan hal yang membuat Ibunya kesal dan marah, betapa tidak Assudais kecil menaburkan pasir ke dalam hidangan kambing yang disiapkan untuk menyambut tamu. Seketika melihat hal tersebut, Ibu Assudais berkata kepada anaknya “Pergilah, semoga Allah menjadikanmu Imam Masjidil Haram”. Dan doa dari Assudais kecil kini terbukti, anaknya kini telah menjadi Imam Masjidil Haram, Imam Assudais. Maa sya Allah. So, kalau kamu pengen jadi orang sukses dunia dan akhirat jangan pernah lupa untuk selalu meminta doa kepada orang tuamu karna Rasulullah saw bersabda, “Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi (kemakbulannya), yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang didzalimi”. (HR. Abu Daud).

For you, Teman Surga yang sholih dan sholihah. Muliakanlah orang tuamu, berbuatlah baik kepadanya, jadilah anak yang membanggakan’ bukan saja karna dengan memberikan prestasi terbaikmu di sekolah namun lebih dari itu jadilah anak yang sholih dan sholihah, berakhlak mulia. Sungguh tak ada yang lebih berharga selain memiliki anak yang sholih, bukankah setiap orang tua pasti selalu menginginkan kelak anaknya menjadi sholih/sholihah, berbakti? Karna amalan yang tak akan terputus salah satunya adalah doa anak yang sholih. Dan tak ada yang lebih menyejukkan mata orang tua selain melihat anak-anaknya menjadi pribadi yang cerdas, santun dan senantiasa memuliakan orang tuanya. Jika, sudah begini ridho Allah akan senantiasa bersamamu karna orang tuamu ridho atas apa yang kamu lakukan terhadapnya.

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Jumat, 30 Agustus 2019

MABAR YUK!!!



Mabar yuk?! Kalimat ajakan yang kayaknya sudah nggak asing di telinga remaja saat ini. Bisa dibilang ini kosakata baru dalam dunia gaul remaja, seiring makin ramenya game online yang mainnya ngajak rame-rame. Apalagi kamu yang sering aktif di dumay, media sosial, game online khususnya game yang bergenre moba, mmo, fps dan lain sebagainya yang penting bermain dengan kerjasama satu tim, seperti mobile legend (ml), aov, dota2, pubg, warsong, toram, free fire dan lain sebagainya pasti sering mendengar kata mabar ini. Contohnya seperti ini : mabar ff kuy, ayo mabar pubg, mabar ml cuy dan lain sebagainya.

Kalo di dunia nyata kita bisa menyebutnya dengan kopdar (kopi darat), kalau di online kita menyebutnya mabar, hanya saja ada perbedaan mabar dan kopdar ini, mabar lebih sering digunakan untuk mengajak teman atau sahabat untuk bermain game, jika kopdar bisa berarti luas, seperti ngobrol, bercerita, reuni dan lain sebagainya. Nah, ajakan mabar ini, mau nggak mau telah menyita waktu, bahkan ekstrimnya ngerampok waktu kita, hingga akhirnya kita lupa aktivitas-aktivitas yang lain, yang jauh lebih penting, bahkan jauh lebih wajib daripada sekedar main game online. Trus, gimana dong seharusnya kita mengatur, membagi, alias memenej waktu kita biar nggak banyak yang tersia hanya gara-gara main game? Makanya, yuk simak sampe kelar ya buletin Teman Surga edisi kali ini.

Kecanduan Mabar = Penyakit Jiwa?
Istilah ‘kecanduan’, identik dengan yang nggak baik, apalagi kalo kecanduan main game bareng, wah udah pasti bahaya banget. Jadi, kalo teman-teman ngeliat orang kumpul-kumpul atau mojok, trus masing-masing sambil pegang gadget, meskipun sambil ngobrol, tapi obrolannya kayak orang ngajak berkelahi. Hajar bro, tembak cuy, tendang bray, dan teriakan-teriakan sejenis, maka bisa dipastikan mereka sedang main mobil legend, dota atau pubg. Bayangin, kalo aktivitas mabar kayak gitu ada di setiap sudut rumah, setiap hari, setiap waktu, gimana kalo akhirnya nggak bikin teman-teman kita itu makin keranjingan dan akhirnya kecanduan mabar, sampe lupa diri dan lupa waktu.

Namanya juga game, makin sering kita mainnya, makin bikin penasaran, makin kita tertantang untuk ngalahin, terdorong untuk bisa ngelewatin level yang lebih tinggi. Ditambah lagi, kalo mainnya bareng teman-temannya, pasti nggak pengin kalah dengan teman gaulnya. Ada perasaan malu dan minder kalo kalah saat main game bareng. Di situlah pemicu yang bikin dia makin menggilai game tersebut. Parahnya kalo sudah jadi candu, menurut beberapa sumber itu bisa identik dengan penyakit jiwa. Loh koq bisa? Iya bisa dong, makanya kita kudu waspada, jangan-jangan kita main game udah pada tahap kecanduan.

Apa sih cirinya orang disebut ‘kecanduan’ game, yang selevel dengan penyakit jiwa? Menurut Psikiater Rumah Sakit Hasan Sadikin, dr Teddy Hidayat, cirinya adalah ketika orang tersebut memainkannya secara berlebihan. Si pecandu tidak bisa menghentikan dirinya bermain. Kapanpun dia mau, akan melakukannya. Ketika bermain game itu jadi hal terpenting dalam skala prioritasnya. Dibandingkan dengan kepentingan keluarga, atau bermain bersama teman, ia akan memilih untuk bermain game. Dari sinilah masalah biasanya muncul. PR tidak dikerjakan, kewajiban diabaikan, dan terganggunya fungsi diri. Fungsinya di sekolah terganggu, di pekerjaan terganggu. Fungsi sebagai anggota keluarga pun terganggu. Ini berlaku untuk jenis permainan sendiri maupun bersamaan.

Selama ini, pasien dengan kecanduan game yang datang kepadanya, kerap mengeluhkan beberapa ciri gangguan mental. Mulai dari sifat emosional, uring-uringan kalau dilarang bermain game, sampai gangguan jiwa. Gangguan jiwa yang diderita, kecemasan, paranoid, nggak bisa tidur, diliputi rasa takut yang hebat. Ada satu dampak lain akibat bermain game yang paling buruk terhadap perkembangan kepribadian anak. Ia mengatakan, yakni mental terganggu, tumbuh jadi anak egois, jam sosialisasi yang kurang, hingga tidak bisa berempati terhadap sesama. Tentu ini menjadi momok, karena satu generasi ke depan, ujarnya, dapat memiliki kemampuan sosialnya rendah.

Waduh, parah banget ternyata ya dampak main game?! Itu belum seberapa, Komisi Perlindungan Anak Daerah Kota Bekasi menyebut, telah terjadi pergeseran pola kekerasan yang melibatkan anak-anak. Dari semula berupa kekerasan seksual yang mendominasi, kini mengarah kepada kekerasan fisik. Ketua KPAD Kota Bekasi Aris Setiawan mengatakan, hingga akhir Maret 2019, lembaganya menerima 23 pengaduan terkait kekerasan anak. Saat diverifikasi, jumlahnya mengecil menjadi 16 kasus. Dominannya kasus yang berupa tawuran. Berdasarkan penanganan yang telah dilakukannya terhadap kasus-kasus tawuran tersebut, mayoritas dipicu karena permainan gim online yang saat ini sedang populer. Permainan tersebut memancing pemainnya mempraktikkan apa yang ada dalam gim tersebut dalam kehidupan nyata dan diwujudkan dengan cara tawuran. (sumber: pikiranrakyat.com) Ckckck…

Bahkan WHO sendiri menempatkan kecanduan main game, disebut sebagai sebuah penyakit. Pada pertemuan ke-72 Majelis Kesehatan Dunia (WHA) pada Sabtu (25 Mei 2019) kemarin, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah meresmikan kecanduan bermain game sebagai penyakit 'modern'. Menurut WHO, seperti yang dilansir dari Venture Beat, penyakit yang dinamai gaming disorder ini didefinisikan sebagai pola perilaku bermain game yang ditandai dengan gangguan pengendalian diri untuk bermain game, meningkatnya prioritas terhadap bermain game melebihi minat dan kegiatan lain dalam keseharian, dan berlanjutnya bermain game meskipun ada konsekuensi negatifnya. Tuh kan?! Jadi, masih mau keranjingan main game?!

Mabar = Mati Bareng?
Waktu kita di dunia ini sebenarnya cuman ada 3, yakni ‘kemarin’, ‘kini’, dan ‘esok’. Nah, kalo waktu ‘kemarin’ sudah kita lewatkan begitu saja, artinya nggak kita manfaatkan dengan baik, maka seharusnya ‘kini’ saatnya kita menyadari hal tersebut, agar ‘esok’ kita tidak menyesal. Sebab ‘kemarin’ memang telah berlalu, dan ‘kini’ sedang kita jalani, sementara ‘esok’, kita tidak pernah tahu apakah Allah masih kasih kesempatan untuk mentaubati perbuatan kita kemarin, lalu memperbaikinya hari ini dan besok. Bisa jadi kemarin-kemarin kita mabuk mabar, main bareng game online, eh nggak tahunya besok kita juga mabar, tapi mati bareng. Naudzubillah min dzalik.

Ihh, ngeri kan kalo tetiba kita mati bareng pas mabar game online? Padahal kita belum sempat ngisi aktivitas hidup kita dengan yang baik-baik, yang Allah perintahkan. Karena memang ajal alias maut itu nggak pake permisi, kalo dia mau pamit. Malaikat Izrail, kalo mau datang nggak pake ngasih tahu dulu, miscall dulu kek, whats app dulu apa gitu. Nggak, nggak pernah gitu, datang aja tiba-tiba sesuai dengan apa yang Allah tugaskan ke Dia, untuk mencabut nyawa seseorang. Pas mau dicabut nyawa kita, pas itu juga kita lagi maksiat, duhh… betapa ngeri ngebayanginnya.

Lho, apa mabar alias main bareng itu maksiat? Ya, tergantung main barengnya, main apa, dan mainnya pas waktu apa. Kalo mainnnya main bareng, mainin perasaan anak orang, wkwkwk… apaan sih. Nggak maksudnya, kalo mainnya main bareng game yang ada konten maksiatnya, parno lah, judi-lah, dan sejenisnya udah pasti itu maksiat bin dosa. Belum lagi, kalo waktu mainnya sampe ngelupain waktu sholat wajib, atau malah nggak pernah bisa sholat, maksudnya nggak hafal doa-doa dalam sholat, eh malah asik main game, daripada ngambil waktu buat ngapalin doa-doa sholat. Nah, kalo sampe ngelupain sholat atau kewajiban-kewajiban yang lain, kayak belajar, ngebantu orang tua, berdakwah, maka udah pasti main bareng kayak gitu mengandung maksiat.

Perhatikan firman Allah berikut ini:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran:185)

Yes, dunia itu bisa memperdayakan, dan sayang banget kalo akhirnya kita diperdaya hanya dengan menghabiskan waktu kita main game aja. Mungkin aja kamu seneng main game bareng teman-teman kamu, tapi sadarilah sebenarnya itu melenakan. Waktu itu nggak pernah bisa balik lagi kalo udah lewat, makanya kita seringkali menyesal kalo waktu itu sudah lewat. Sebelum semuanya terlambat, sebelum datang penyesalan yang lebih dalam, yuk kita sudahi mabar yang tiada gunanya. Kalo pun masih mau main game, pastikan itu hanya selingan di waktu luang, ketika aktivitas-aktivitas yang lebih penting, yang lebih wajib sudah dikerjakan dengan tuntas.

Jangan menjadikan mabar sebagai salah satu agenda di jadwal kita sehari-hari, karena pantasnya mabar hanya dijadikan sekadarnya aja. Kita lebih pantas untuk menyiapkan diri menghadapi masa depan, entah itu masa depan dunia dengan cita-cita kita, terlebih masa depan akhirat dengan amal-amal shalih kita. Sekali lagi, dunia ini hanya kesenangan yang bisa melenakan, ibaratnya seorang musafir, kita di dunia ini hanya singgah, maka sekali singgah, manfaatkan waktu dengan baik, memperbanyak bekal untuk tujuan akhir kita. Kita ini penduduk asli surga, dan kita akan kembali ke tempat asal kita, jangan terlena dalam perjalanan sebagai musafir di dunia.

Mabar Ngaji Islam
Mabar alias main game online bareng, kalo keseringan kita lakuin bisa kecanduan, dan bisa jadi habits atau kebiasaan kita mengisi waktu. Padahal banyak aktivitas yang masih kita bisa lakuin di saat kita masih remaja seperti sekarang ini. Hadist dari Rasulullah SAW berikut ini bisa jadi renungan:

“Segeralah beramal sebelum datang tujuh perkara; apakah kalian akan menanti sampai datang kemiskinan yang melupakan, atau kaya yang membuat sombong, atau sakit yang merusak kehidupan, atau tua yang melemahkan kekuatan, atau kematian yang menyegerakan, atau datangnya dajjal, makhluk gaib yang paling buruk dinanti, atau datangnya hari kiamat, hari yang sangat dahsyat dan mengerikan” (HR. Tirmizi)

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Al Hakim)

Maka, kalo soal prioritas amal yang kita harus lakuin mumpung Allah masih ngasih kesempatan di masa muda sekarang ini adalah: (1) Kerjakan yang Wajib, Tinggalkan yang Haram; (2) Rutinkan yang Sunnah, Hindari yang Makruh; (3) Kurangi yang Mubah. Nah, main game baik itu yang bareng-bareng maupun sendiri-sendiri masuk kategori yang mubah, sementara sudahkah kita ngelakuin yang wajib-wajib dan yang sunah? Pasti banyak yang belum.

Jangan-jangan kita malah belum banyak yang tahu, mana perbuatan yang masuk kategori hukumnya wajib, sunnah, haram, makruh maupun mubah? Padahal kaidahnya adalah al-ilmu qablal ‘amal, ilmu itu sebelum amal. Yes, mulai sekarang jangan ditunda-tunda lagi untuk datang ke kajian, ngikuti kajian, jangan anti sama kajian, karena dengan ngaji Islam kita jadi tahu perbuatan kita sia-sia atau enggak. Jadi, mabar kita selama ini main game bareng, kita ubah dengan mabar alias yuk maos (ngaji) bareng di kajian, di majelis ilmu, di halaqah. Di tempat seperti itulah kita akan bisa mawas diri, kita bisa tahu jati diri kita, yang selanjutnya diri ini jadi tahu apa yang musti dilakuin selama di dunia ini sebagai musafir, sebagai hamba Allah yang sedang menempuh perjalanan menuju peristirahatan kita yang abadi yakni akhirat. Yuk, jangan ragu dan jangan takut, datangi tempat-tempat kajian ilmu. Yuk ngaji![]

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Kamis, 15 Agustus 2019

Ayo Bangkit Sobat!!



Mati gaya. Pemadaman listrik yang terjadi beberapa hari lalu khususnya di Pulau Jawa dengan durasi yang lama ternyata bikin remaja milenial yang kesehariannya ngga bisa jauh dari gadget ini seolah mati kutu, ngga berkutik bingung mau ngapain. Ibaratnya, secanggih apapun gadget atau teknologi kalau listrik sebagai sumber energi utamanya sudah mati, yaa.. ngga akan bisa berguna. Bahkan, dengan kejadian mati listrik massal kemarin ini, menimbulkan kerugian di sektor usaha dan layanan publik hingga triliunan rupiah lho guys meski ngga sampai sehari padamnya. Kebayang ya friends, listrik padam seolah “dunia” terhenti sesaat dengan hiruk pikuk aktivitas dan kesibukan manusia. Bisa terlihat betapa manusia begitu bergantung dengan “listrik”. Jangankan mati listrik sejam dua jam, lihat lampu indikator batre hp yang low aja udah panik apalagi ini hampir setengah hari bahkan ada yang seharian mati listrik. Ups, by the way kita ngga akan membahas tentang padamnya listrik ya guys. Walaupun sebagai generasi muda harapan bangsa, tetap harus kritis dengan setiap peristiwa yang terjadi. Jangan cuma bisanya ngedumel kesel karna ngga bisa ngeksis dan ngakses sosmed. Eits, kritis bukan berarti komen-komen yang cenderung nyinyir lho yaa.. kritis di sini adalah sikap yang menggunakan akal kita untuk berpikir dari mulai cari tahu apa yang terjadi secara detail, lalu apa yang menjadi penyebabnya sampai tataran solusi. Wiiihh... berat deh. hmm.. Ngga berat kok, ya minimal teman-teman tahu dan ngga cuek dengan apa yang terjadi di sekitar, sambil terus bersemangat mengkaji Islam. Listrik yang mati kok Islam yang dikaji? Naah.. inilah kerennya Islam, jangankan listrik, semua hal sekecil apapun Islam punya aturannya guys. So, Islam bukan sekedar ngurusin agama and ibadah doang lho ya. Islam telah berhasil membangun peradaban mulia dengan generasi hebatnya selama kurang lebih 13 abad. Tentu ngga berlebihan, kalau aku dan kamu bisa bertekad untuk menjadi generasi hebat yang bisa membawa negeri ini menjadi yang terdepan.

Yakin Sudah Merdeka?
Sudahlah, kamu itu masih “bau kencur” ngga usah ribet ngurusin dan mikirin negeri ini. Toh, saat ini kita sudah merdeka, kamu bisa melakukan apa aja tanpa harus merasakan ketertekanan dan penderitaan karna dijajah oleh penjajah. Ups,, kalau ada statement begini jangan langsung baper ya friends hanya karna kamu memilih menjadi remaja milenial yang cenderung melawan arus dari remaja kebanyakan. Ya, mau ditutup mata pakai apa aja juga tetep aja kelihatan kalau remaja sekarang ini banyak yang lebih memilih berhaluan hidup hedon dan permisif. Yang di pikirannya gimana caranya happy, just it. Bebas merdeka melakukan apa aja tanpa perlu diatur-atur. Yakin merdeka guys? Mungkin para kompeni sudah pergi dari negeri ini dan sudah tidak lagi menjajah secara fisik. Tapi, apatah perginya penjajah dari negeri ini jika ternyata mereka masih dengan leluasa menjajah generasi muda harapan bangsa ini melalui “racun” pemikiran liberal yang disuntikkan ke pikiran para remaja. Berjuta cara akan dilakukan demi menjadikan generasi hebat ini “berkiblat” pada gaya hidup barat. Cara yang mudah dan cepat melalui Film dan Song. Setelah dua garis biru yang kontroversi dengan adegan sepasang pelajar yang berpacaran hingga having sex dan akhirnya hamil, konon film ini bertujuan untuk memberikan sex edukasi. Zonk, yang ada bukannya remaja menjauhi malah merasa “dituntun” untuk melakukan hal serupa. Karna apa? Ya itulah tabiat remaja, penasaran dan pengen coba-coba. Kalau sudah begini, fix mereka berhasil bikin remaja semakin terjerumus pada gaya hidup liberal, bergaul bebas tanpa batas.

Next baru-baru ini sedang viral, film yang katanya akan tayang bulan oktober namun proses syuting sudah dimulai dan berjalan. Film yang berlatar belakang kehidupan seorang santri. Film ini didirect oleh seorang sutradara Hollywood asli Blitar. Lalu mau dibawa kemana arah film ini? Pasti selalu ada “pesan” yang ingin disampaikan kepada yang menonton, dan lagi-lagi kalangan remaja. Yess, clear.. yang memproduksi film ini ingin menampilkan Islam Nusantara yaitu Islam yang moderat dan toleran, bukan Islam yang radikal atau teroris. Hmm... menarik untuk dicermati. Film memang media yang sering digunakan untuk menginfluence siapa saja yang menontonnya, dengan alur cerita yang dibuat dan begitu apik penonton dibawa masuk kedalam cerita dan pada akhirnya mereka pun terpengaruh dengan “pesan” terselubung dari film tersebut. Katanya film itu akan tayang bertepatan dengan hari santri. Menurut KBBI, santri adalah orang yang mendalami agama Islam. Saat mendalami Islam para santri biasanya “mondok” atau bermukim di pesantren untuk beberapa waktu yang tidak sebentar. Sosok santri yang tawadhu dengan keilmuannya, menjunjung tinggi adab menjadi seorang pembelajar dan senantiasa lekat dengan taqarrub ilallaah. Namun, seolah film ini ingin merubah image santri menjadi santri “modern” dengan terbuka dengan nilai-nilai di luar Islam seperti paham moderat dan toleran. Wait!! Jangan cepat-cepat ingin dibilang gaul dan modern friends. Simplenya gini, Islam yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw sebagai rahmat bagi seluruh alam sudah SEMPURNA. Menambah embel-embel di belakang kata Islam justru seolah membuat Islam menjadi tidak sempurna terlebih jika disandingkan dengan paham yang berasal dari luar Islam. Memoderatkan Islam sama saja menjadikan Islam bisa menerima dan kompromi dengan nilai-nilai di luar Islam meski sebenarnya itu bertentangan dengan Islam itu sendiri. Seolah ketika ada muslim yang memegang teguh prinsip agama Islam dianggap ngga moderat, fanatik bahkan ekstrim. Bukankah Allah SWT sudah menegaskan bahwa agama ini (Islam) sudah sempurna ”...Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu...”. TQS. Al Maidah: 3

Pernah lihat perayaan hari besar agama tertentu trus yang ngerayainnya semua agama termasuk muslim? Atau pernah lihat pegawai suatu kantor atau mall yang pakai topi atau kostum sinterklas meski sebenarnya dia muslim? Nah.. ini yang dibilang jadi Islam itu harus toleran. Yang intinya toleran itu sikap menghargai perbedaan baik itu berupa pandangan, kepercayaan atau keyakinan. Cuma.. sikap menghargainya too much deh, Islam sebagai agama paripurna telah memberikan porsi yang pas seperti apa menghargai umat dan perayaan hari besar agama lain. Hargai dan hormati dengan cara biarkan mereka dengan agama, keyakinan dan perayaan agama tanpa perlu kita ikut-ikutan. Karna untuk area aqidah Islam jelas ya.. pertama, Islam saja melarang adanya paksaan dalam agama. Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surat Al Baqarah: 256 “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)..”. Meski dakwah kepada Islam itu wajib tapi kita tidak boleh memaksa orang di luar Islam untuk masuk kedalam Islam. Kedua, Islam mengatur bagaimana menghargai dan menghormati perayaan agama lain dengan prinsip “lakum diinukum waliyadiin, untukmu agamamu dan untukku-lah agamaku” jadi nafsi nafsi aja ya.. alias masing-masing.

Song. Selain film, lagu atau nyanyian juga ternyata bisa membuat para remaja ikut larut dengan bait demi bait lirik yang dinyanyikan. Asal enak didengar terlebih sang penyanyi punya tampang menarik,  lagu apa pun yang mereka bawakan so fasih dihapal meski ngga sedikit yang berisikan tentang sesuatu yang bertentangan dengan aqidah atau mengajarkan bergaul bebas. Belum lagi, saat penyanyi atau girl/boyband korea favoritnya “manggung” atau konser, jerit histeris menjadi bukti bahwa mereka begitu mengidolakannya. Malah pernah ada, penonton yang diajak naik ke atas panggung rela pasrah bahkan senang bukan kepalang untuk dipeluk cium oleh sang idola. Bertaruh harga diri pun sepertinya siap mereka lakukan untuk sang idola. Na’udzubillah.

So, jika fenomena banyaknya generasi muda yang terpapar gaya hidup barat, baik itu cara berpikir dan berperilaku, itu artinya generasi kita masih “TERJAJAH”.

Merdeka Nan Hakiki
Bebasnya fisik dari penjajahan namun masih tersanderanya pikiran yang ikut manut dengan life style barat, sebenarnya membuat generasi ini adanya seperti tidak adanya. Jumlah generasi muda negeri ini sangat banyak bahkan bisa dikatakan mayoritas, tentu itu artinya potensi mereka pun luar biasa. Namun, karena generasi muda kita telah terbius dengan cara berpikir instan, bebas, always having fun membuat potensi generasi untuk membangun negeri menjadi terhibernasi. Seandainya pun potensi mereka digunakan, lebih diarahkan pada hal-hal yang tidak hakiki. Jangankan untuk membangkitkan dan memajukan bangsa, bersikap peduli dengan kondisi negeri saja tidak.

Come on guys, berhentilah sejenak lalu mulai berpikir mau sampai kapan menjadi pembebek kebudayaan barat. Kalian adalah generasi pemimpin, mulailah memimpin diri untuk menghempaskan cara berpikir dan bersikap ala barat. Lalu, mulai bangkit dan isi masa mudamu dengan ilmu dan takwa. Imam syafi’i pernah mengatakan bahwa “eksistensi seorang pemuda –demi Allah- adalah dengan ilmu dan ketakwaan. Jika keduanya tidak ada padanya, maka tidak ada jati diri padanya”. Dengan ilmu, kalian bisa menggunakan potensi yang telah Allah berikan untuk berkarya membangun peradaban mulia (Islam) kelak. Betapa banyak Islam telah berhasil melahirkan generasi cemerlang yaitu para ilmuwan yang karyanya masih “menerangi” hingga kini. Dengan takwa, kalian bisa menjadi generasi qur'ani yang senantiasa tunduk taat kepada Allah Azza wa Jalla. Karna hakikatnya merdeka adalah saat aku, kamu dan kita semua bisa menjalankan seluruh perintah Allah SWT.

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Kamis, 08 Agustus 2019

Pengorbananmu, Jati Dirimu!



“Tiada Cinta Tanpa Pengorbanan”... ciee... melow banget ya kalo ngomongin soal cinta pengorbanan. Rasanya seperti kisah di film aja. Punya rasa cinta harus siap berkorban. Bukan hanya cinta pada lawan jenis, kecintaan pada segala hal sejatinya bakal menuntut kita untuk banyak berkorban. Kalo gak mau berkorban, rasa cintanya dianggap receh. Crink!

Pengorbananmu Untuk Apa?

Hari gini, berani berkorban sebagai ekspresi cinta bukan hal yang asing bagi remaja milenial. Kecintaannya pada hal-hal berikut, menuntut mereka untuk selalu berkorban. Tanpa tapi. Tanpa nanti.

Pertama, game online. Hobi yang satu ini, seolah sudah mendarah daging dalam diri generasi milenial. Kemudahan akses internet dan terjangkaunya harga gadget, bikin remaja nggak ketinggalan main game online. Di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja bisa mabar (main bareng) everyday. Awalnya sih cuman ngisi waktu luang. Lama kelamaan jadi kecanduan. Bawaannya gelisah kalo satu hari aja gak main game main ML atau PUBG.

Kalo udah kecanduan, tahu sendiri akibatnya. Akan banyak waktu luang dikorbankan. Banyak kewajiban terlalaikan. Bagi anak-anak, periode emas mereka banyak direnggut game online. Bagi remaja, waktu produktifitas mereka habis buat main game. Bukan cuman waktu, harta juga dikorbankan untuk beli kuota. Termasuk pikiran yang banyak tersita dengan kompetisi game biar naik level dan jadi juara.

Kedua, idola. Bagi remaja, punya idola itu bagian dari eksistensi. Biar update. Kekinian. Dan nggak jadi korban bully. Karena remaja perlu model yang bisa mereka tiru. Dan keberadaan idola, seolah menjadi jawabannya.

Kalo udah punya idola, nggak cukup sekedar ditulis dalam biodata. Minimal posternya nempel di dinding kamar. Cukup? Pastinya belum. Sebagai tanda fans, mereka bela-belain hadiri konser musisi idolanya meski harga tiketnya selangit. Nggak ketinggalan update berita keseharian sang idola. Nabung biar dandanannya, busananya, hingga aksesorisnya seperti yang dipakai sang idola. Fans berat bakal dituntut pengorbanan waktu, harga, dan pikirannya. Padahal, belum tentu sang idolanya mikirin doi.

Ketiga, persahabatan. Di balik ikatan solidaritas persahabatan, pastinya menuntut pengorbanan. Dari mulai main bareng, jalan bareng, atau makan bareng. Kalo udah lengket banget, lahir peer pressure alias tekanan teman sebaya meski nggak kerasa. Sungkan untuk berbeda, selalu berusaha sama. Walhasil, waktu, harta, pikiran dan tenaga harus selalu ada sahabat-sahabat kita.

Keempat, cinta. Kalo untuk yang satu ini, remaja nggak usah ditanya. Dalam urusan cinta, remaja yang letoy bisa berubah jadi hell boy. Mendadak jadi perkasa dan rela ngorbanin apa aja. Meski duit pas-pasan, banyak belanja aksesoris demi pencitraan. Waktu hidupnya banyak dipake untuk mikirin si dia. Berharap di balik setiap pengorbanannya, berbalas cinta sejati dari sang buah hati. Meski kenayataan sering berbicara sebaliknya.

Emang sih, kita bebas menentukan pengorbanan kita untuk apa dan siapa. Tapi bagi seorang muslim, kebebasan itu bukan berarti semau kita. Ada rambu-rambunya agar setiap pengorbanan yang kita lakukan berbuah pahala. Bukan malah menjerumuskan kita pada kubangan dosa.

Mungkin ada di antara temen kita yang banyak menghabiskan waktu untuk main game atau penyaluran hobi. Kalo kita itung-itung, kebaikan apa sih yang diperoleh dari setiap waktu berharga yang kita korbankan. Okelah kalo sesekali main game sebagai ajang relaksasi, melepas penat bin jenuh nggak masalah. Tapi kalo udah keseringan bakan sampai kecanduan, lebih besar mudharatnya daripada manfaatnya.

Padahal Rasul ngingetin kita tentang keutamaan seorang muslim. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,  “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Pengorbanan kita sejatinya berbuah pahala dan kebaikan bagi orang lain. Kalo kita banyak berkorban dalam berpacaran atau ikut tawuran, alamat berbuah dosa dan keburukan bagi orang lain. Lantaran kemaksiatan yang kita lakukan. Untuk itu, kita mesti punya standar untuk menilai apakah pengorbanan untuk empat hal di atas, sekedar luapan emosi atau ekspresi cinta sejati. Biar nggak kebablasan!

Belajar dari Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Para Shahabat
Driser, kamu pasti punya orang yang amat kamu sayangi yang amat bersejarah dalam hidup kamu. Sampai-sampai kamu rela mati untuk melindunginya. Sekarang, gimana perasaan kamu jika harus kehilangannya di depan mata kamu? Sedih pastinya. Bahkan mungkin nggak cuman sedih. Lebih dari itu, mental kamu bisa down bin rapuh.

Kalo kejadian yang menimpa Nabi Ibrahim as ini bukan lagi andai-andaian. Beliau harus ikhlas ’mengorbankan’ putra tercintanya, Nabi Ismail as. Padahal Nabi Ismail itu anak semata wayang yang sangat dinantikan kelahirannya dari istri keduanya, Siti hajar. Meski begitu, Nabi Ibrahim tetep pada pendiriannya. Apalagi Nabi Ismail yang saat itu menginjak usia remaja, menerima keputusan ayahnya dengan besar hati. Nabi Ibrahim pun siap menghunuskan pisaunya di leher putra tersayangnya….. tahan napas kalian!
…. saat mata pisau baru menempel di leher Ismail, turunlah wahyu Allah untuk mencegahnya. Rupanya, perintah Allah untuk menyembelih Ismail itu sekedar ujian keimanan kepada keduanya. Sejauh mana kepatuhan dan ketaatan mereka dalam melaksanakan perintah Allah swt. Dan mereka berhasil melaluinya dengan gemilang. Sehingga pada akhirnya Allah mengganti objek penyembelihan itu dengan seekor domba (QS Ash-Shâffat [37]: 107). Phew…hampir saja!
Ekspresi cinta sejati, ditunjukkan oleh Rasul dan para shahabat yang mengorbankan hidupnya untuk Islam. Ini bukan sekedar luapan emosi, lantaran semangat pengorbanannya tetep menyala selama hayat dikandung badan.

Kamu kenal Khalid bin Walid yang berjuluk ’Singa Allah’? Dialah panglima perang yang selalu siap pasang badannya di medan jihad. Dia bilang,
”Aku lebih menyukai malam yang sangat dingin dan bersalju, di tengah-tengah pasukan yang akan menyerang musuh pada pagi hari, daripada menikmati indahnya malam pengantin bersama wanita yang aku cintai atau aku dikabari dengan kelahiran anak laki-laki.” (HR. Al-Mubarak dan Abu Nu’aim).

Ada juga Umair bin Abi Waqash yang ngeyel pengen ikut perang badar dengan diam-diam menyelinap ke barisan pasukan kaum Mulsimin. Padahal usianya baru 16 tahun. Kalo ketahuan Rasul pasti nggak boleh tuh. Tapi ternyata, setelah Rasul tahu keinginan dan semangatnya yang menggebu-gebu, beliau mengizinkannya. Umair pun dengan gembira segera merangsek ke medan perang hingga terbunuh sebagai syahid. (HR. Al-Hakim dan Ibn Sa’ad).

Atau Abu Bakar ash-Shiddiq yang menginfakkan seluruh hartanya untuk keperluan jihad fi sabilillah. Dan Utsman bin Affan yang mendanai 10.000 pasukan perang Tabuk dari koceknya sendiri dengan membelikan masing-masing kendaraan, perbekalan, dan senjata lengkap. Nggak ketinggalan Mushab bin Umair yang rela meninggalkan kehidupan mewah dan popularitasnya demi menyebarkan dakwah Islam di yastrib (Madinah).

TemansSurga walau harta kita pas-pasan, nggak piawai memainkan pedang, atau wawasan Islam yang masih cetek, kita bisa kok berkorban untuk Islam seperti Rasul dan para shahabat. Yang penting kita getol menyampaikan kebenaran Islam di mana saja, kapan saja, kepada siapa saja, sesuai dengan kemampuan yang kita punya. Semuanya terasa mudah kalo kita bisa meraih inspiring love alias cinta yang menggugah. Cinta yang menggugah kita untuk rela berkorban tanpa pamrih. Itulah cinta kepada Allah, rasul-Nya, Islam, dan kaum Muslimin.

Transaksi Anti Rugi

Kalo diukur secara materi, mungkin ada yang ngerasa pengorbanan kita untuk Islam nggak ada untungnya. Mungkin tekor lantaran nggak terasa timbal baliknya. Ibaratnya kalo kita beli pulsa, kita dapat kuota bisa untuk internetan. Kalo kita curahkan tenaga dan pikiran untuk kerja kantoran, kita dapat gaji setiap bulan.

Tapi kalo kita bersedekah, gak dapat apa-apa selain ucapan terima kasih. Begitu juga kalo getol berdakwah, gak ada yang gaji atau ngasih tunjangan. Padahal kalo bicara untung rugi, nggak ada yang bisa ngalahin keuntungan yang kita peroleh jika ’bertransaksi’ dengan Allah. Seperti ditegaskan dalam firman-Nya:

Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu Telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang Telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah [9]: 111)

Tuh kan, gimana nggak untung kalo pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, harta, dan jiwa raga kita dibayar mahal oleh Allah swt dengan surga-Nya di akhirat nanti. Bahkan di dunia pun kita diuntungkan karena punya alasan kuat untuk lebih pede dan optimis jalanin hidup meski dihadang berbagai masalah. Dan mental kita lebih tegar dan kuat jika harus kehilangan benda kesayangan, orang tercinta, atau hobi yang digeluti ketika menjadikan ridho Allah sebagai tujuan hidup. Lantaran Allah swt siap menolong kita setiap saat. Seperti ditegaskan dalam firman-Nya:

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. Muhammad [47]: 7)

Kalo kita mengharapkan surga sebagai tempat kembali setelah kita mati, kita mesti rela berkorban untuk Islam. Tapi jangan mentang-mentang lagi bulan haji, berkorban cuman diartikan motong kambing, kerbau, atau sapi. Bukan cuman itu.

Termasuk berkorban untuk Islam kalo kita meluangkan waktu dalam mengkaji Islam, mau mikirin urusan kaum Muslimin di seluruh dunia, menyumbangkan tenaga dalam menyebarkan dakwah Islam, membelanjakan harta di jalan Allah, serta memasang badan kita demi membela Islam dan kaum Muslimin. Kalo ngerasa belum siap, segera persiapkan diri kita dengan ikut ngaji. Nggak pake tarsok. Jangan sampe ketika maut menjemput, kita belum 'bertransaksi jual beli’ dengan Allah swt. Rugi banget dah. Pengorbananmu, jatidirimu![]

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg