Selasa, 06 Maret 2018

JANGAN MAKSIAT, DOSANYA BERAT, KAMU GAK AKAN KUAT

Makjleb yak liat judulnya? Jangan baper dulu dund. Itu slogan yang perlu kita inga inga mulai saat ini dan seterusnya. Kenapa? Ehm. Karena eh karena, godaan akhir zaman semakin menggeliat dan bertaburan di mana-mana. Oiya, judul di atas adalah salah satu plesetan dari gombalannya tokoh film remaja saat ini yang lagi in. Salah satu gombalan yang receh, so ngga ada yang perlu kita ambil.

Antara Kita, Baligh dan Mukallaf

Apa itu Baligh dan Mukallaf? Sama ngga sih keduanya? Ayo kita cari tau. Ternyata ada dua istilah yang seringkali disebut kalo kita lagi ngomongin hukum dalam fikih, yaitu baligh dan mukallaf. Kadang-kadang ada yang suka ketuker atau ngga salah memaknai kedua kata tersebut.

Dalam pandangan fikih, secara tegas baligh adalah kondisi di mana seseorang sudah mencapai usia dewasa secara biologis. Bagi perempuan, berupa haid dan bagi laki-laki berupa mimpi basah. Bagi seseorang yang sudah mencapai usia 15 tahun tetapi belum menemui tanda-tanda kedewasaan secara biologis di atas tadi, maka Fikih menyebutkan bahwa orang tersebut secara otomatis dianggap baligh. Hayo, kalian udah pada baligh apa belum?

Nah sekarang kita kenalan sama mukallaf. Ternyata baligh merupakan salah satu kriteria yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang mukallaf selain muslim dan berakal sehat. Muslim adalah kondisi di mana seseorang sudah mengikrarkan syahadat. Sedangkan berakal sehat adalah kondisi ketika akal seseorang berfungsi secara normal. Jika ketiga kriteria ini terpenuhi mulai dari muslim, berakal sehat, dan baligh, maka orang tersebut masuk dalam klasifikasi mukallaf.

Lalu apa itu mukallaf? Mukallaf adalah seseorang yang sudah mendapatkan beban (taklif) berupa syariat. Ia sudah berkewajiban menunaikan seluruh perintah dan menjauhi larangan syariat Islam. Baginya, syariat sudah berlaku, baik hukum yang bersifat taklifi (wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram) dan seluruh dimensi syariat. Singkatnya, ia sudah menjadi subjek hukum yang sempurna.

Sebagai subjek hukum yang sempurna, maka mukallaf terikat dengan ketentuan syariat yang mengatur mana yang boleh dan mana yang tidak, mana yang dianjurkan untuk dilaksanakan dan mana yang dianjurkan untuk dijauhi. Ia juga sudah mendapatkan hak dan kewajiban secara sempurna. Maka setiap tindak tanduknya hanya akan dapat dua kemungkinan. Pahala dan dosa.

Maksiat Versus Taat

Hidup ini kalo ngga maksiat, ya taat. Kalo ngga maksiat, ya melakukan aktivitas yang bernilai ibadah. Maka kalau ngga dapet pahala ya dapet dosa. Lalu apa aja sih yang masuk kategori maksiat n taat? Sebenernya gampang bener. Kalo kita ngelakuin yang diperintahkan Allah, maka disebut taat berbuah pahala. Nah kalo kita ngelanggar yang Allah larang itulah yang disebut maksiat dan berbuah dosa. Easy kan yak?

Nah, Allah itu Maha Baik. Allah menyembunyikan segala aib kita selama di dunia. Kebayang ngga sih kalo Allah nandain kita pake 1 titik untuk 1 dosa di wajah kita. Macamnya, ngga bakalan berani kita keluar rumah karena banyak titik-titiknya. Aib kita, dosa kita selama ini ditutup sama Allah. Ngerasa sering buat salah ngga sih? Mulai dari boong sama orangtua mungkin, minjem uang gopek sama temen tapi ngga dikembaliin dari tahun lalu mungkin, suka ngebully temen mungkin, atau kita suka ghosob. Do you know what is ghosob? Ghosob is you, you, and you minjem barang orang lain tanpa izin. Hayo lho…

Oiya, jangan kelupaan. Bisa jadi kita selama ini seriiiiiiiiing banget maksiat sama Allah. Contohnya, kita ninggalin solat 5 waktu. Ehm. Padahal nanti ibadah yang paling pertama dihisab itu solat. Eh tapi yang ngerasa udah solat 5 waktu, ngga boleh lho ongkang ongkang kaki gitu aja. Karena banyak kewajiban lain yang harus kita lakukan. Misalnya, puasa dan bayar utang puasa. Udah pada bayar belon? Ramadhan sebentar lagi lho.

Atau yang udah pada solat 5 waktu, bukan berarti ngga ada kewajiban nutup aurat. Menutup aurat adalah kewajiban ketika kita berada di luar rumah dan bertemu orang yang bukan mahrom kita. Nah kita ngga boleh milih-milih ibadah yang kita senengin aja. Ada lho yang getol banget solat karena doi percaya banget sama penelitian kalo solat itu bisa menyehatkan badan. Tapi dia buka lagi auratnya begitu beres solat. Atau ada juga yang seneng shaum sunnah. Shaum daud malahan. Tapi dia bukan ngejer sunnahnya. Tapi ngejer langsingnya. Hadeuh hadeuh… Padahal Allah akan ngasih kita imbalan sesuai niat awal kita doing something. Kalo mau solat niatnya cuma sehat dan niat shaum cuma langsing singset, ya bakal itu doang yang didapat.

Emang maksiat endingnya happy?

Ngga banget. Mana ada maksiat yang endingnya happy. Meskipun ketika kita melakukan maksiat, kesenangan sesaat yang akan kita dapatkan. Pak De Rhoma Irama juga pernah bilang, kenapa yang enak-enak itu diharamkan. Eaaakkk. Ada yang tau ngga tuh ama lagu itu? Hati-hati dengan kesenangan sesaat dari yang kita lakukan. Karena balasan atas kemaksiatan kita itu banyakan dipending sampai di akhirat. Oh wooww.

Mungkin kita pernah nanya, “Emang seberat apa sih dosa kalo kita bermaksiat itu?”. Well, emangnya mau masuk neraka? Do you know kalo api di neraka itu beribu kali lipat panasnya di dunia. Buat kamu yang ngerasa udah ga mempan sama yang namanya api, yang suka gaya-gayaan matiin api di lilin, ngga bakalan sama deh. Buat kamu yang selama ini jago debus, sama punya tenaga dalem, juga ngga bakalan mempan sama panasnya api neraka.

Mau tau hukuman di neraka yang paling ringan? Nih dia nih…. Disebutkan dalam Shahihain, dari hadits Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah seseorang yang diletakkan dua buah bara api di bawah telapak kakinya, seketika otaknya mendidih.” (Muttafaq ‘Alaih, sebagian tambahan Al-Bukhari, “sebagaimana mendidihnya kuali dan periuk.”

Dalam redaksi lain, “Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah seseorang memiliki dua sandal dan dua tali sandal dari api neraka, seketika otaknya mendidih karena panasnya sandal tersebut sebagaimana kuali mendidih. Orang tersebut merasa bahwa tak ada seorang pun yang siksanya lebih pedih daripadanya, padahal siksanya adalah yang paling ringan di antara mereka.” (HR. Muslim)

Nah, di neraka nanti bakalan banyak yang keGeeRan kalo siksaan buat dia udah pedih bener. Kalo makan yang pedes tuh semacam udah level paling tinggi, padahal eh padahal justru itu siksa yang paling ringan di neraka. Pada merinding ngga sih baca terjemahan hadis di atas? Kalo ada yang masih bilang, ah itu mah urusan ntar, bakalan didoain deh supaya yang maksiat segera kembali ke jalan yang bener.

Penyesalan di akhirat adalah penyesalan yang tiada terkira. Sampai-sampai digambarkan, mereka menggigit tangannya sendiri sebagai bentuk penyesalan dan kerugian. Berangan-angan kalau saja ia dikembalikan lagi ke dunia maka ia akan menjadi orang beriman yang baik. Namun penyesalan itu tak lagi ada gunanya. Sebagaimana dalam ayat “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang lalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”.” (QS. Al-Furqan: 27). “Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta kami akan menjadi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-An’am: 27)

Taqwa wanna be.

Menjadi orang yang bertaqwa adalah cita-cita yang harus kita raih sekuat tenaga. Mau lulus UN aja kita sampe kursus di bimbel sama privat segala. Apalagi kita yang mau meraih syurga firdaus Allah SWT. Godaan pasti ada dan ngga jarang kita harus menahan diri dari kesenangan yang bersifat sementara. Kita punya pacar yang kita idam-idamkan hanyalah kesenangan sesaat. Apa yang bisa dibanggakan dari sebuah status *in a relationship* kalau di facebook. Apalagi kita sampai bermuram durja seolah-olah kita adalah jomblo paling ngenes di seantero sekolahan hehe. Tenang bro sist, kita masih bisa kok menjadi para johap alias jomblo happy. Kita bisa berkreasi dengan banyak aktifitas positif yang berpahala. Contohnya, banyak-banyak ikut kajian keislaman. Udahlah nambah temen, nambah ilmu lagi.

Supaya kita makin kuat dan bisa meringankan langkah kita menjadi seorang individu yang taqwa, maka carilah teman yang juga taat kepada Allah swt. Karena seorang teman adalah cerminan bagi yang lainnya. Maka, carilah teman yang sholih/sholihah, mereka adalah seorang teman yang in syaa Allah akan bisa saling menguatkan satu sama lain sehingga mudah-mudahan bisa menjadi teman di dunia dan teman di surga nanti. Maka carilah teman surga. Wah, sama seperti nama buletin kesayangan kita ini ya? hehe…

Maka jika kalian telah menemukan teman sholih/ah itu, peganglah erat-erat mereka. Bisa saja karena nasihatnya, kita bisa meraih syurga Allah. Bisa jadi teman yang kadang kita anggap menyebalkan karena selalu mengajak pada kebaikan itu justru yang menyelamatkan kita di akhirat. Dan pada saat itu mungkin kita bersyukur, alhamdulillaah selalu diingatkan pada kebaikan. Temen surga itu temen yang selalu ngajak kita kepada kebaikan. Bukan mereka yang selalu iya in kemaksiatan kita. Karena sesahabat-sahabatnya kita sama sahabat kita, kalau ada sahabat yang tinggal kelas, ngga bakalan deh ada yang mau nemenin. Apalagi klo sahabat kita masuk nereka, ih ngga banget deh mau nemenin ke sana. Na’udzubillaah.

Maka, mengajilah, karena dengan ngaji kita akan tau mana maksiat mana yang taat. Dan dengan ngaji, akan buat hidup kita jauh lebih bermakna. Dan percayalah, karena dosa itu berat, jadi jangan coba-coba bercita-cita mau jadi orang pendosa atau mau lama-lama di neraka. Na’udzubillaah.. So, ngga usah baper sama celaan orang ketika kita berusaha  jadi muslim/ah yang taat. Kita doakan agar orang yang mencela itu segera berubah dan menjadi baik  dan kita bisa barengan endingnya di syurga Firdaus Allah swt. Tetap semangat menebar kebaikan kawan.[]

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:
Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://mobile.twitter.com/koreapi1453?s=09
IG - https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg
Whatsapp - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9

Jumat, 02 Maret 2018

TRAGEDI 3 MARET 1924

Bulan Maret bagi kaum Muslimin, nggak seharusnya lewat gitu aja tanpa kesan. Kali ini, kita kupas sedikit tentang tragedi buruk yang menimpa kaum Muslimin tepat pada 94 tahun yang lalu. Met baca!

Pada perang Dunia I (1914 M), Inggris berhasil menduduki Istambul. Seorang agen Inggris keturunan Yahudi Dunamah dari Salonika, Mustafa Kemal Pasha, ditugaskan untuk menjalankan agenda Inggris di Turki sebagaimana tercantum dalam “Pernyataan Curzon”, di antaranya: menghapuskan Khilafah Islamiyah; mengusir Khalifahnya; menyita semua harta kekayaannya; serta menerapkan hukum sipil sebagai pengganti hukum Daulah Islamiyah yang bersumberkan Islam.

Dengan berbagai taktik dan strategi, Mustafa Kemal berhasil membentuk parlemen baru yaitu Majelis Raya Nasional yang berpusat di Ankara pada 19 Maret 1920. Akibatnya, Sultan Muhammad VI Wahiduddin yang saat itu menjabat sebagai Khalifah, merasa terancam dan mengasingkan diri ke Malta. Kemudian posisinya digantikan oleh Abdul Majid II bin Abdul Aziz.

Majelis Raya Nasional menggelar sidang pada 1 Maret 1924 selama 3 hari untuk menyikapi dualisme pemerintahan di Ankara dan Istambul. Terjadi perdebatan yang sengit karena Mustafa Kemal sebagai pimpinan majelis terang-terangan hendak menghapus kekhilafahan.

Akhirnya, tepat pada pagi tanggal 3 Maret 1924, Majelis Raya Nasional mengumumkan telah menyetujui penghapusan Khilafah dan pemisahan agama dari urusan-urusan negara. Malamnya, Khalifah Abdul Majid II diusir dari rumah kediamannya atas perintah Mustafa Kemal. Khalifah dipaksa naik mobil dan dibawa melintasi perbatasan Negara menuju Swiss. Kemudian diturunkan dengan dibekali satu kopor berisi pakaian dan sejumlah uang.

Sobat, demikianlah drama penghapusan kekhilafahan sekaligus pengusiran Khalifah terakhir. Tragis bin menyedihkan. Tugas kita sekarang ialah agar Khilafah Islam tegak kembali. Yuk!!! [ahr]


***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:
Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://mobile.twitter.com/koreapi1453?s=09
IG - https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg
Whatsapp - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9

Kamis, 01 Maret 2018

Gaul Islam, Gaul Sehat

Gaul atau bergaul adalah ciri khas kehidupan manusia. Hampir nggak ada manusia yang bisa hidup tanpa pergaulan. Manusia memang nggak mungkin hidup tanpa orang lain, karena itulah perlu interaksi alias pergaulan. Nah, ngomongin soal pergaulan atau interaksi, kalo pergaulan itu terjadi antara pria dengan sesama pria atau wanita dengan sesama wanita, insya Allah pergaulan kayak gitu sejatinya nggak akan menimbulkan problem alias nggak perlu aturan khusus untuk mengatur interaksinya.

Tapi pergaulan yang bisa dan biasa menimbulkan persoalan adalah interaksi pria dan wanita. Pergaulan inilah yang perlu adanya pengaturan khusus, karena dari pergaulan tersebut muncul interaksi-interaksi yang lain. Maksudnya, “pengaturan khusus” disini adalah pengaturan yang hubungannya langsung pergaulan jenis laki-laki dan wanita. Maka tulisan kita di sini, tentu aja akan fokus ngebahas pergaulan pria-wanita. Are u ready?

Yuk Kenalan dengan Gharizatul Nau’
Naluri melestarikan jenis alias gharizah an-nau bisa juga diartikan naluri mencintai dan dicintai. Tapi meski bicara cinta, nggak melulu urusannya dengan lawan jenis. Karena naluri ini sebenarnya jika dipenuhi dengan benar, maka keberlangsungan jenis manusia bisa terjaga di dunia. Bukan hanya soal jumlahnya tapi juga kelanjutan jenis manusia dari segi identitas serta kehormatannya sebagai manusia yang berbeda dengan binatang.

Oleh karena itu, naluri ini nggak hanya bicara cinta atau ketertarikan antar lawan jenis, tapi gharizah an-nau’ ini juga tampak ketika muncul rasa sayang kepada keluarga, rasa sayang kepada sesama, dan dorongan seksual. Munculnya dorongan ini membutuhkan pemenuhan, sekalipun tuntutan pemenuhannya tidak sampi mutlak, alias gak akan sampai menimbulkan kematian bila sampai tidak terpenuhi. Namun bagaimanapun juga pemenuhan kebutuhan naluri ini tidak boleh diserahkan aturannya kepada manusia. Kalo pemenuhannya diserahkan kepada manusia maka kita bisa lihat faktanya seperti apa yang terjadi saat sekarang ini, terjadinya pemenuhan naluri dengan cara yang keliru dan pastinya ini bisa mengancam keberlangsungan jenis manusia.

Misal saja pemenuhan naluri an-nau ini dengan cara menikah sesama jenis. Jadi cowok menikahi cowok, atau cewek menikah dengan cewek (ih jizayyy, naudzubillah), akibatnya punahlah jenis manusia. Karena gimana bisa seorang cowok hamil atau mengandung anak? Atau seorang cewek juga gimana bisa mengandung anak kalo tidak ada lelaki yang menghamilinya? Nah, kalo pemenuhan gharizah an-nau dengan cara seperti ini dibiarkan, sudah pasti jumlah kelahiran akan berkurang, jika jumlah kelahiran berkurang itu artinya sedikit demi sedikit jenis manusia akan bisa punah. Seperti fakta yang hari ini teradi di negara-negara Barat dan Jepang dengan apa yang disebut lost generation.

Praktik pemenuhan gharizah an-nau yang salah juga bisa mengancam kepunahan jenis manusia adalah memuaskan dengan binatang. Mungkin kedengarannya menjijikkan, tapi itu fakta yang terjadi di tengah-tengah kita, ketika memang manusia dikasih hak untuk mengatur sendiri pemenuhan gharizah an-nau. Orang-orang yang ada di golongan ini orientasinya hanya memuaskan keinginan hasrat seksual semata, nggak memikirkan tentang keturunan apalagi urusan moral, etika dan agama. Naudzubillah min dzalik.

Ada juga pemuasan pemenuhan gharizah an-nau yang tidak secara langsung memusnahkan jenis manusia, akan tetapi merusak harkat dan martabat manusia itu sendiri. Apa itu? Yakni mereka yang memuaskan kebutuhan seksualnya dengan saudara sendiri, atau dengan sesama jenis tapi tanpa ikatan pernikahan. Praktik ini tentu saja akan merusak nilai sakralnya arti sebuah keluarga. Praktik incest akan merusak siklus atau silsilah keluarga, jadi nggak jelas mana bapak, mana anak, mana kakak, mana adik, akhirnya nggak ada bedanya manusia dengan ayam yang suka main tubruk aja, nggak ngeliat dulu itu induk yang pernah melahirkannya.

Sementara yang memenuhi gharizah an-nau dengan lawan jenis tapi tanpa ikatan pernikahan alias samen liven or kumpul kebo, juga nggak ada bedanya. Ini praktik yang juga akan merusak jenis manusia dan sekaligus menghancurkan martabat manusia. Orang-orang yang mempraktikkan hal ini, mau enaknya saja tapi tanpa mau terikat dengan komitmen. Pacaran masuk dalam kategori yang ini.

Praktik-praktik pemenuhan gharizah atau pergaulan pria wanita yang sudah dipaparkan di atas sebenarnya khas milik orang Barat yang sekular, tetapi pemahaman itu sukses ditransfer ke negeri-negeri muslim sehingga kita bisa lihat, nggak ada bedanya masyarakat Barat dengan masyarakat dunia Islam. Praktik homoseks misalnya, sudah bukan hal yang tabu bahkan diundang-undangkan di Amerika dan beberapa negara Eropa, nah bukan nggak mungkin negeri-negeri Islam yang memandang bahwa aturan itu bermanfaat pasti akan dibuat dan disahkan undang-undang pernikahan sesama jenis.

Wa bil khusus di negeri kita tercinta ini, pelaku LGBT tidak dapat dijerat atau tidak dikategorikan kriminal, alias tidak ada sanksi hukumnya. Naudzubillah, bener-bener mengundang adzab Allah ini. Lha wong tidak dibuatkan peraturan saja, sudah banyak praktik homo dan lesbi. Maka kalo semakin legal dan berkembang praktik homoseks, saat itulah kepunahan jenis manusia menjadi ancaman kita bersama.

Begitulah, Barat dengan paham sekularisme-nya telah nyata merasuki pemikiran kaum muslimin sehingga melunturkan pemahaman kita tentang kehidupan, sehingga tolok ukur kita terhadap segala sesuatu diukur dengan azas manfaat atau tidak. Keberhasilan peradaban Barat masuk ke tubuh kaum muslimin juga pada persoalan pergaulan pria dan wanita.

Ubah Mindset Instingtif
Cara pandang atau mindset kita tentang lawan jenis tidak boleh layaknya hewan, dimana melihat lawan jenis dengan pandangan insting ‘betina-jantan’, meskipun fitrahnya manusia saling tertarik antar lawan jenis. Dan memang Allah memberikan naluri an-nau’ dan pengaturannya demi keberlangsungan jenis manusia, Allah berfirman:
“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. al Hujurat 13)

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak” (QS. an-Nisa 1).

Melarang setiap  pria maupun wanita memandang lawan jenisnya dengan pandangan disertai syahwat (nafsu birahi)
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nur 30)

Begitulah cara pandang Islam mengenai hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan harus diletakkan dalam kerangka melestarikan kelangsungan jenis manusia dengan segenap atribut kemanusiaannya, bukan hanya perkembangbiakan manusia.

Kalo dalam kehidupan binatang, eksistensi mereka terjaga dengan hubungan seksual tanpa memperhatikan tetek bengek ikatan, karena memang hewan tidak dilengkapi dengan potensi akal. Maka cara pemenuhan naluri seksual oleh manusia haruslah berbeda dengan cara hewan memenuhi naluri seksualnya.

Kalo cara pandang terhadap pria-wanita didominasi oleh orientasi seksual berupa ‘jantan-betina’, maka fakta-fakta terindera atau fakta-fakta pemikiran yang bisa membangkitkan naluri seksual menjadi sesuatu yang lazim dan mesti ada di tengah masyarakat.

Cara pandang seperti ini mendapat pembenaran oleh Sigmund Freud yang mengajarkan bahwa dorongan naluri kalo tidak dipenuhi akan menyebabkan kematian. Sebagai konsekuensi dari cara pandang tersebut maka fokus dari cara pandang tersebut adalah kelezatan dan kesenangan. Atas dasar alasan itu munculnya perselingkuhan di tengah masyarakat, dianggap wajar dalam masyarakat Barat.

Gaul Islam, Gaul Sehat
Terbukti, cara pandang pemenuhan gharizah an-nau’ sekedar instingtif, maka manusia nggak ada bedanya dengan hewan bahkan bisa lebih rendah dari hewan. Di dunia hewan, hampir nggak kita jumpai, misalnya kambing jantan suka kambing jantan trus mereka melakukan hubungan badan. Tapi pada pergaulan manusia hal itu terjadi dengan adanya lesbi dan homo. Itulah bukti nyata kalo salah cara pandang dan cara pemenuhan gharizah an-nau’ manusia bisa lebih hina dari kambing.

Trus, seperti apa cara pandang pergaulan pria dan wanita di masyarakat seharusnya menurut Islam?

Memisahkan pria dan wanita dalam kehidupan. Pernyataan bahwa “pergaulan pria-wanita dalam pandangan Islam perlu dipisahkan”, diambil setelah kita meneliti dan memahami sejumlah dalil al-Quran dan as-Sunnah. Kita juga akan menemukan bahwa Allah Swt. sendiri telah mewajibkan kaum wanita untuk mengenakan jilbab jika mereka hendak keluar rumah (QS. Al Ahzab 59, An-Nur 31). Allah telah menjadikan seluruh tubuh wanita sebagai aurat, kecuali wajah dan kedua telapak tangannya:
“Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita, apabila telah balig (mengalami haid), tidak layak tampak dari tubuhnya kecuali ini dan ini (seraya menunjuk muka dan telapak tangannya).” (HR Abu Dawud)

Allah telah mengharamkan atas wanita untuk memperlihatkan perhiasannya terhadap selain mahram-nya.
"Dan janganlah mereka (perempuan) memhentakkan kaki (atau mengangkatnya) agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan." (QS. An-Nur 31)

Allah juga telah melarang para wanita bepergian, meskipun untuk keperluan ibadah haji, jika mereka tidak disertai oleh mahram-nya:
"Tidak halal (boleh) bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir, melakukan safar sejauh sehari semalam (perjalanan) dengan tanpa mahram (yang menyertainya)". (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad )

Kita akan menemukan pula bahwa, Allah Swt. telah melarang seseorang untuk memasuki rumah orang lain, kecuali dengan seizin penghuninya:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian agar kalian (selalu) ingat” (QS. an-Nur 27)

Kita pun akan menemukan bahwa, Allah Swt. tidak mewajibkan kaum wanita melakukan shalat berjamaah, shalat Jumat, ataupun melibatkan diri dalam aktivitas jihad, sebaliknya Allah mewajibkan semua aktivitas tersebut bagi kaum pria. Allah Swt. juga telah mewajibkan kaum pria berusaha mencari penghidupan, tetapi Allah tidak mewajibkan hal itu bagi kaum wanita.

Fakta-fakta apa yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. bisa menjadi bukti bahwa Beliau telah memisahkan kaum pria dari kaum wanita; misalnya, menjadikan shaf-shaf kaum wanita, ketika menunaikan shalat di dalam masjid, berada di belakang shaf-shaf kaum pria; memerintahkan kaum wanita keluar lebih dulu—setelah selesai menunaikan shalat berjamaah di dalam masjid—yang kemudian disusul oleh kaum pria.

Suatu saat, tatkala Rasulullah saw. mengajar di masjid, kaum wanita mengadu kepada beliau, ‘Kami telah dikalahkan oleh kaum pria. Oleh karena itu, hendaklah engkau menyediakan waktu khusus bagi kami satu hari saja’.

Dalil-dalil di atas yang menjadi dasar bahwa asal muasal kehidupan laki-laki dengan wanita itu terpisah (infishol).

Berikutnya, karena dorongan keinginan pemenuhan gharizah berasal dari luar diri manusia dengan adanya stimulus berupa fakta atau pemikiran, maka Islam mencegah atau melarang fakta-fakta terindera ataupun fakta-fakta pemikiran yang bisa merangsang nafsu seksual, seperti:
Islam melarang berkhalwat (berdua-duaan laki-laki dan wanita yang bukan mahrom): “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa ada mahrom wanita tersebut, karena syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.” (HR. Ahmad)

Melarang wanita bersolek dan berhias mempercantik diri untuk menonjolkan kecantikannya (tabaruj), memakai wewangian di hadapan laki-laki asing (non mahram)

“Janganlah mereka memukul-mukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS. An-Nuur 31)

“Setiap wanita yang menggunakan wewangian, kemudian ia keluar dan melewati sekelompok manusia agar mereka dapat mencium bau harumnya, maka ia adalah seorang pezina” (HR. Ahmad, an-Nasa’i, dan al-Hakim)

Islam juga mewajibkan wanita ketika keluar rumah untuk menutup aurat:
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya” (QS. An-Nur 31)

“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". (QS. Al Ahzab 59)

Aturan-aturan itu semua dan yang serupa lainnya, diberikan Islam dalam rangka mencegah agar pemenuhan gharizah an-nau’ nggak hanya berdasar insting, dan nggak memandang lawan jenis hanya dengan pandangan seksual.

Subhanalllah, betapa mulianya kalo aturan Islam diterapkan secara kaffah dalam kehidupan. Siapa yang rindu aturan Islam diterapkan? []

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:
Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://mobile.twitter.com/koreapi1453?s=09
IG - https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg
Whatsapp - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9

Senin, 26 Februari 2018

Gaul Bebas? Coret!

Pertemanan lintas gender alias gaul bebas udah jadi menu keseharian remaja en remaji. Gak di sekolah, gak di rumah, udah biasa aja temenan dengan lawan jenis. Biar eksis dan nggak dianggap alien alias makhluk asing oleh temen sebaya. Karena kalo jaga jarak, alamat dikucilkan dari pergaulan dan bagi remaja itu rasanya nggak nyaman.

Namanya temenan dengan lawan jenis, pastinya nggak sekedar menjalin persahabatan. Kita udah paham kalo laki perempuan itu diciptakan untuk saling tarik menarik satu sama lain layaknya dua kutub yang memiliki muatan magnet. Semakin dekat, semakin kuat tarikannya satu sama lain. Awalnya sih cuman temenan, kelamanan jadi demenan. Pepatah jawa bilang, witing trisno jalaran soko kulino. Rasa cinta mendadak menyeruak dalam kalbu lantaran keseringan ketemu. Ini yang berabe.

Temenan Jadi Demenan
Remaja emang paling betah temenan dengan lawan jenis. Selain menumbuhkan rasa kebersamaan, juga melahirkan rasa simpati, terus empati, lama-kelamaan mulai tumbuh benih-benih cinta di hati. Akhirnya, jatuh hati. Makanya agak-agak mustahil kalo temenan ama lawan jenis itu nggak ada affair. Soalnya banyak yang ngakunya teman tapi tingkahnya kayak orang yang pacaran. Teman tapi mesra.

Emang bukan perkara aneh kalo remaja temenan ama lawan jenis. Dalam kacamata orang tua, dinilai bagus buat menepis kekhawatiran kalo anaknya penyuka sesama jenis (hiii…..). Dalam kacamata psikologi, dianggap penting sebagai ajang sosialisasi untuk perkembangan jiwa remaja. Dan bagi remaja sendiri, jadi keharusan biar ada tempat buat menyalurkan masa pubertasnya. Temenan sekalian nyari demenan. Maunya!

Namun dalam kacamata Islam, temenan dengan lawan jenis berarti membuka pintu masuknya virus merah jambu. Meskipun kita bilang bisa menguasai perasaan, yang udah ngalamin bilang akhirnya perasaan yang menguasai kita. Apalagi kalo temennya punya tampang eye catching, kalo ngobrol nyambung, dan care banget. Langsung deh, tadinya temenan jadi demenan. Kalo pun nggak jadian, tapi sering keliatan mesra-mesraan. Waspadalah!

Pacaran, Potret Pergaulan Bebas
Belon afdhol kalo udah demenan tapi nggak ada ikatan. Khawatir disalip teman, pujaan hati harus segera dimiliki. Rasa cinta udah semestinya dikasih ekspresi. Kalo udah saling cinta, nggak perlu lagi kode. Langsung gaspol!

Siapkan rencana untuk sebuah momen tak terlupakan. Sebuah ‘aksi penembakan’ yang menjadi saat-saat menegangkan bagi para aktivis pacaran. Soalnya, penting banget buat kelanjutan hubungan kasihnya dengan pujaan hati. Kalo ditolak, hubungan cukup sampe level teman (temen apa TTM?). Kalo diterima, yes! Hubungan bisa lanjut ke yang lebih serius. Maksudnya, serius menuju pelaminan? Eits, jangan asal nuduh dong. Maksudnya, serius merhatiin isi dompet pacar. Dan pastinya, serius ngenal pacar luar dalam. Nah lho? Kaya servis mobil aja luar dalam. Hoeks!

Kalo udah jadian, tak sungkan lagi untuk body contact. Bagi orang pacaran, seolah ada aturan tak tertulis yang ’mengizinkan’ mereka untuk saling bersentuhan secara fisik. Mulai dari ’kegiatan biasa’ seperti pegangan tangan, cium kening, plus pipi kiri dan kanan hingga yang mendekati zina seperti pelukan, saling membelai, kissing, necking, atau petting. Kalo udah gini, setan bersorak ngerasa sukses telah menjerumuskan keturunan Adam dan Hawa pada gelimang dosa.

Nggak ketinggalan, keseharian orang pacaran selalu pengen berdua-duaan dengan pasangannya. Dimana saja, kapan aja. Dalam keramaian maupun melipir ke pojokan. Biar bisa ngobrol lebih bebas dan intim diselingi canda tawa mesra yang kian mendekatkan hubungan cinta mereka. Pihak ketiga yang mau ikutan nimbrung, mesti izin dulu. Kecuali setan kali yaa. Soalnya setan kan nggak keliatan, jadi bisa dengan mudah menyelinap diantara mereka dan menggoda hati keduanya untuk mendekati zina.

Dari aktifitasnya, keliatan banget kalo pacaran itu jadi potret pergaulan bebas remaja. Bergaul lebih dekat dengan lawan jenis yang belum halal dalam kacamata Islam. Kalo udah halal mah, seintim apapun pergaulannya insya Allah berkah. Lah, kalo cuman diikat oleh emosi dan tanda cinta sebatas lisan, nggak ada hitam di atas putih, gampang putus nyambung kaya tali jemuran. Hati-hati ah!

Ajang Baku Syahwat
Udah bawaan dari lahir kalo kita punya kebutuhan biologis. Ekspresi naluri mempertahankan keturunan melahirkan ketertarikan pada lawan jenis. Tak sekedar rasa cinta tapi hingga pada pemenuhunan naluri seksual. Makanya, islam menjaga pergaulan antara lawan jenis kalo belum halal. Biar syahwat bisa kita kendalikan. Bukan malah mengendalikan kita.

Aktifitas pacaran itu menjadi ajang baku syahwat. Karena peluang untuk bermaksiat terbuka luas. Ikatan pacaran seolah jadi pembenaran untuk mengekspresikan cinta dari sekedar ucapan hingga hubungan badan. Kalo sudah berduaan, jadi lupa daratan. Lantaran termakan godaan setan. Mendekati zina pun tak sungkan.

Survei PKBI, bahwa 63% remaja di beberapa kota besar telah melakukan seks pranikah. Survei yang dilakukan juga menyebutkan perilaku seks bebas remaja yaitu perilaku ciuman 21.0%, perilaku pelukan 36.7%, perilaku memegang organ reproduksi 9.9%, keinginan berhubungan seksual 9.9%, perilaku petting 1.4%, perilaku intercost atau hubungan seksual 1.1%. (PKBI, 2015).

Survei RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) 2017 yang dilakukan oleh BKKBN menunjukkan kalo remaja laki-laki maupun perempuan mengaku pertama kali punya pacar di usia 16 tahun. Mereka yang punya pacar kebanyakan mengaku pernah melakukan hubungan seksual dibanding remaja pada umumnya. (tribunnews.com, 01/11/17)

Sudah jelas banget kalo pacaran yang notabene perilaku gaul bebas itu telah menjadi ajang baku syahwat. Meski bilangnya bisa jaga diri, kenyataannya makin lama berhubungan makin mudah terjerumus dalam kemaksiatan. Apalagi kalo udah ketemu momen spesial seperti hari kasih sayang. Pasangan remaja berduyun-duyun merayakan dengan bebas tanpa batas sebagai ekspresi cinta. Padahal modus!

Romantisme dalam perayaan VD memancing para aktivisnya untuk jor-joran dalam mengekpresikan cinta pada pasangannya. Apalagi gaya hidup permisif alias serba boleh dalam berperilaku makin mewabah di kalangan remaja. Sehingga perayaan VD kian hari tak sekedar tukar kado atau candle light dinner aja. Tapi udah menjurus ke arah erotisme dan seks bebas. Nah lho!

Bukan nuduh, cuman fakta di lapangan sepertinya mengiyakan. Yang paling keliatan, adanya peningkatan jumlah pembelian alat kontrasepsi kondom yang didominasi remaja menjelang malam valentine. Pantauan Radar Bekasi, di beberapa minimarket diketahui pembelian kondom meningkat sekitar 30 persen. Rata-rata pembeli kondom masuk dalam kategori remaja atau ABG. (http://jabar.pojoksatu.id/bekasi/2017/02/14/)

Ketika pergaulan bebas merajalela, penyakit sosial akan ikut meramaikan. Banyak kita temukan remaja yang notabene pelajar kedapatan hamil diluar nikah. Akibat pacaran yang kebablasan. Nggak heran kalo data BKKBN 2013 lalu menyebutkan sebanyak 20,9 persen remaja di Indonesia mengalami kehamilan dan kelahiran sebelum menikah. Ngeri!

Parahnya, ketika ngerasa belum siap untuk punya anak, tak sedikit remaji yang nekat mengaborsi bayi yang dikandungnya. Data Pusat Unggulan Asuhan Terpadu Kesehatan Ibu dan Bayi pada 2013 juga menyebut, sekitar 2,1 – 2,4 juta perempuan setiap tahun diperkirakan melakukan aborsi. Sebanyak 30 persen di antaranya dilakukan remaja.

Belum lagi rasa malu yang ditanggung remaji ketika terbongkar aibnya hamil diluar nikah. Ngerasa tak suci dan ujung-ujungnya terjun dalam dunia prositusi. Makin terjerumus dalam gaya hidup seks bebas yang rawan penyebaran penyakit menular seksual hingga HIV/AIDS.

Orang tua, keluarga, pihak sekolah maupun teman sebaya sangat punya alasan untuk terus mengingatkan remaja agar menjauhi pacaran. Terlebih kita sebagai seorang muslim, tak ada celah sedikitpun bagi remaja untuk menjalin asmara sebelum merit dalam ikatan pacaran. Karena dari awal, Islam sudah punya aturan super komplit untuk menjaga pergaulan antar lawan jenis biar nggak bebas.

Gaul Bebas Mengundang Bencana
Gaul bebas di kalangan remaja tak bisa dianggap biasa. Usia puber tak seharusnya jadi pemakluman terhadap ekspresi rasa suka di antara mereka dengan berpacaran. Orangtua pun tak perlu khawatir jika putra atau putrinya tak punya pacar. Boleh jadi mereka tengah menjaga kemuliaannya di masa muda untuk meraih kebaikan di masa tua.

Yang perlu kita khawatirkan justru ketika gaul bebas kian merajalela. Karena akan mengundang bencana. Tak hanya pada pelakunya saja yang bisa terjangkit penyakit menular seksual atau wabah hiv/aids. Tapi juga seluruh masyarakat akan terkena akibatnya jika mendiamkan.

Imam Ibnul Qayyim mengingatkan, “Tidak diragukan lagi bahwa membiarkan kaum perempuan bergaul bebas dengan kaum laki-laki adalah biang segala bencana dan kerusakan, bahkan ini termasuk penyebab (utama) terjadinya berbagai melapetaka yang merata. Sebagaimana ini juga termasuk penyebab (timbulnya) kerusakan dalam semua perkara yang umum maupun khusus. Pergaulan bebas merupakan sebab berkembangpesatnya perbuatan keji dan zina, yang ini termasuk sebab kebinasan massal (umat manusia) dan wabah penyakit-penyakit menular yang berkepanjangan.”

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Jika perbuatan zina telah nampak (tersebar) di suatu negeri maka Allah akan membinasakan negeri tersebut.”

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz lebih menegaskan hal ini dalam ucapan beliau, “Dalil-dalil (dari Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alahi wasallam) secara tegas menunjukkan haramnya (laki-laki yang) berduaan dengan perempuan yang tidak halal baginya, (demikian pula diharamkan) memandangnya, dan semua sarana yang menjerumuskan (manusia) ke dalam perkara yang dilarang oleh Allah.

Selain keluarga dan sekolah, negara juga sangat berkepentingan untuk menghentikan gaya hidup gaul bebas. Negara yang bisa menghentikan tayangan-tayangan remaja yang menyajikan keseharian publik figure yang erat dengan pergaulan bebas. Negara yang bisa memberikan sanksi yang tegas pada pelaku zina biar pelakunya kapok dan masyarakat jadi tercegah untuk berbuat hal yang sama.

Terlebih, kita selaku remaja muslim mesti berani katakan tidak pada gaul bebas. Jaga jarak dengan lawan jenis kecuali dalam interaksi yang diperbolehkan. Bentengi diri kita dari bisikan setan dan godaan media yang memprovokasi remaja untuk dekat dengan lawan jenis. Gaul bebas? Coret! [@Hafidz341]

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:
Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://mobile.twitter.com/koreapi1453?s=09
IG - https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg
Whatsapp - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9

Jumat, 23 Februari 2018

Anak Muda? Mudah

"Mudah"

Kata yang terbilang tidak asing di telinga kita hari ini.

Begitu  mudahnya kita mendengar kata "mudah" saat seseorang yakin atas apa yang dia lakukan.

Karena kata ini yang memicu negatif menjadi positif namun kadang terbalik yang positif menjadi negatif.

Ketika seorang pemuda dengan mudah mengankat semangat dia kala ia tak mampu bangkit.

Ada pula ketika pemuda yang jatuh karena mudahnya ia terpengaruh dengan apa yang dia lalui.

Fakta anak muda hari ini adalah mudah.

Anak muda hari ini mudah menerima mentah-mentah doktrin sekuler yang menjerumuskan dirinya pada kemaksiatan.

Anak muda hari ini mudah meniru apa yang ia lihat sekilas baik dalam acara, sinetron dan reality ahow lainnya.

Sehingga anak muda hari ini mudah tergerus dengan bentuk pemikiran dan perilaku sekuler.

Namun di satu sisi adapula yang masih kurang dari diri anak muda.

Anak muda seharusnya mudah menyebarkan kebaikan karena ia adalah tonggak peradaban.

Anak muda seharusnya mudah menjadikan dirinya sebagai objek yang baik karena ia adalah penerus bangsa.

Anak muda...

Jangan cuma mudah jatuh cinta tapi mudahkan dirinmu untuk menjatuhkan segala bentuk kebathilan dalam jiwa anak muda.

By Anca An-Nafis (Ketua Gema Pembebasan Konawe)
***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:
Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://mobile.twitter.com/koreapi1453?s=09
IG - https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Sabtu, 03 Februari 2018

Derita Guru, Ada Apa?

Keadaan pendidikan hari ini semakin saja menunjukkan keprihatinan. Belum lagi maraknya kesenjagan sosial yang terjadi di dalam sistem pendidikan hari ini.

Kasus baru-baru ini terjadi di pulau Jawa seorang guru seni meninggal usai mengeluh sakit di leher.

Kala itu seorang siswa tidak memasuki jam pelajaran dan guru seni tersebut menegur.

Lantas siswa itu tidak menerima dan melakukan tindakan tak mendidik dan menghajar guru tersebut hingga terpental di bangku istirahat sekolah.

Itu hanya satu dari sekian. Masihkah kita ingat apa yang terjadi di Sulawesi Selatan tempo hari?

Guru harus mendapatkan perawatan khusus setelah tulang hidungnya patah.

Fenomena ini semakin menunjukkan bahwa ada masalah dengan sistem pendidikan hari ini.

Sekolah yang notabene sebagai wadah regenerasi utama kini menjadi tempat lika-likunya masalah.

Inilah dampak semakin jauhnya sistem pendidikan hari ini dengan syariat Islam. Maka guru, siswa dan lainnya akan mengalami kesenjangan.

Inilah pentingya kesadaran terhadap Islam. Pelaksanaan yang sesuai dengan Islam akan menghasilkan generasi yang bertaqwa.

Harapan terbaik dari kasus terbaru ini. Semoga ada muhasabah yang terbaik yang kita lakukan untuk senantiasa berada pada posisi taat tanpa tapi.

Oleh : Anca An-Nafis (Member of FPM-Konawe)

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:
Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://mobile.twitter.com/koreapi1453?s=09
IG - https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Kamis, 01 Februari 2018

KEPOIN VALENTINE DAY

Assalamualaikum soub, apa kabar nih? Gak kerasa yah kita udah memasuki bulan Februari. Biasanya sih bulan ini diidentikkan dengan bulan kasih sayang or Valentine Day yang penuh dengan nuansa lope-lope, hehe.

Soub, ada gak di antara kalian yang selalu merayakan Valentine Day tiap tahunnya (hayooo ngakuuu :D) atau ada yang sudah mempersiapkan kado, coklat, bunga, de el el untuk perayaan Valentine Day yang jatuh tepat pada tanggal 14 nanti?

Mungkin sobat merayakan Valentine Day karena hanya sekedar ikut trend jaman now biar kekinian gitcuuu, tanpa tau seluk-beluk Valentine Day. Nah sub, melalui tulisan singkat ini saya akan ngajak kalian buat kepoin history of Valentine Day and hukum merayakannya . But sebelum kita lanjut, makan dulu cemilannya, itupun kalau cemilannya ada, hehehehe.

History of Valentine Day.

Sebenarnya ada banyak versi yang tersebar berkenaan dengan asal-usul Valentine’s Day. Namun, pada umumnya kebanyakan orang mengetahui tentang peristiwa sejarah yang dimulai ketika dahulu kala bangsa Romawi memperingati suatu hari besar setiap tanggal 15 Februari yang dinamakan Lupercalia. Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan dijadikan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik menjadi agama negara di Roma, penguasa Romawi dan para tokoh agama katolik Roma mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Book Encyclopedia 1998).

The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” yang dimaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.
Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan Tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.

Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan daripada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga ia pun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (The World Book Encyclopedia, 1998).

Nah, soub dari penjelasan di atas kita bisa menarik kesimpulan bahwa Valentine Day berasal dari upacara keagamaan Romawi Kuno yang penuh dengan paganisme dan kesyirikan. Upacara Romawi Kuno di atas akhirnya dirubah menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day atas inisiatif Paus Gelasius I. Jadi acara valentine menjadi ritual agama Nashrani yang dirubah peringatannya menjadi tanggal 14 Februari, bertepatan dengan matinya St. Valentine. Hari valentine juga adalah hari penghormatan kepada tokoh nashrani yang dianggap sebagai pejuang dan pembela cinta.

Soub sekarang kita udah tau kaannn seperti apa sejarah Valentine Day itu sendiri.

Hukum Merayakan Valentine Day

Sejarahnya udah kita bahas. Next, apa sih hukum merayakan Valentino Rossi eh maksud saya Valentine day (hehehe) tentunya dengan sudut pandang Islam.
Dalam pandangan Islam sendiri merayakan Valentine Day hukumya haram alias gak boleh soub, coz Valentine day adalah ritual yang asal muasalnya adalah dilakukan oleh orang nasrani serta orang romawi yang menyembah berhala, dan jika dilihat dari faktanya Valentine Day juga dekat akan perbuatan zina dan campur baur antara cewek dan cowok dalam suatu pesta (kalo pak ustat nyebutnya ikhtilat) dan itu semuaa bertentangan dengan syariat Islam yang kita emban.

Ikut trend masa kini boleh-boleh saja soub, but kita juga harus memperhatikan apakah trend tersebut sesuai dengan aturan agama kita ataw gak, kalau sesuai monggo, tapi kalo gak plisss kita jauh-jauh aja yah.

Sooo, sebagai generasi muslim yang kece-kece sungguh sangat disayangkan jika masih ada yang ikut serta dalam perayaan Valentine Day nanti, bukan cuma itu soub, kita juga gak boleh mengucapkan selamat hari Valentine, juga tidak boleh membantu menyemarakkan acara ini dengan jual beli, mengirim kartu, mencetak, dan mensponsori acara tersebut karena ini termasuk tolong menolong dalam dosa dan kemaksiatan.

Masih ingatkannn soub dengan sabda Rasulullah, “Barang siapa yang meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.” (HR. at-Tirmidzi).
Semoga Allah senantiasa melindungi kita semua dari perbuatan-perbuatan maksiat.
Wallahu’alam.  
#SayNoToValentineDay

By Syah Revolt
(Member of Dakwah Remaja Konawe)

*dikutip dari berbagai sumber

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:
Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://mobile.twitter.com/koreapi1453?s=09
IG - https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg