Rabu, 12 Juli 2023

AL QUR’AN PEDOMAN HIDUPKU

**

Sobat TemanSurga, siapa nih di antara Sobat sekalian kemanapun perginya, google maps patokannya? Atau kalau lagi bingung cari jawabnya ke mbah google? Hayo ngaku. Hihi.. Dari tanya masalah headset yang nggak bisa mengeluarkan irama sampai tutorial ngerjain soal matematika. Secara nggak sadar jutaan orang hari ini rela merogoh koceknya masing-masing untuk mendapatkan sebuah petunjuk.

Misalnya saja, di tengah-tengah musim sibuknya ujian sekolah, ada lho kawan-kawan kita yang bela-belain untuk ndaftar di bimbel-bimbel ternama yang tentu tidak lain dan tidak bukan agar tahu bagaimana tutorial mengerjakan soal dengan mudah tanpa penat. Begitulah hidup, selagi ruh masih melekat di badan, pasti manusia tidak akan pernah luput dari ujian.

Eh iya Sob, ngobrolin soalan ujian, bukankah Allah sendiri yang memberikan jaminan, bahwa setiap masalah yang dihadirkan senantiasa beriringan dengan penyelesaiannya? Tapi mengapa ya hari ini masalah semakin menjadi-jadi tak beraturan. 

Padahal Al Qur’an sudah turun lengkap. Kalau yang salah Al Qur’an tentu mustahil, sebab Al Qur’an wahyu dari Allah dan terbukti bukan hanya mengubah pribadi-pribadi para sahabat yang biasa menjadi orang berkapasitas internasional dan berkepribadian agung, lebih dari itu Al Qur’an mengubah peradaban Arab jahiliyah menjadi peradaban Islam, mengubah peradaban Eropa yang gelap gulita menjadi bercahaya. Berarti yang perlu dievaluasi adalah kitanya nih Sob.

Dan rasa-rasanya berita seks bebas, aborsi, narkoba, korupsi, kemiskinan, sulitnya untuk bisa makan atau sekedar mencari lapangan kerjaan dll adalah gosip yang nongkrong di media kita setiap hari nggak sih Sob? Dari sini kita belajar, hadirnya Al Qur’an sebagai manual book instruction saja tidak cukup untuk mengubah kehidupan kalau tidak ada prosesi pengkajian kemudian dipahami dan diamalkan.

Allah SWT berfirman _“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”_ *(QS. Al Jumuah: 2)*

Kata ‘yatlu’ di dalam surat Al Jumuah di atas maknanya bukan hanya sekedar membaca, karena jika hanya sekedar membaca, dulu di zaman Rasul tidak ada media baca-nya, orang-orangnya ummi semuanya. 

Makanya hari ini kita sering salah kaprah ketika bicara tentang qori’. Qori’ itu Sob bukan cuma bacaannya doang yang bagus. Di zaman Rasulullah qori’ adalah alim ulama yang paling ngerti tentang Al Qur’an. Para sahabat yang bergelar qori’ ini merupakan orang-orang pilihan Rasulullah yang sangat dekat dengan Rasulullah. Nah siap nggak nih Sob, kita jadi orang yang dekat dengan Rasul dengan bersahabat dengan Al Qur’an juga?

Kita ngerti sendiri Sob, belajar makharijul huruf aja membutuhkan waktu yang lama, belajar tajwid apalagi, kebayang nggak sih kalau kita mau memahami tafsir menghabiskan waktu seberapa banyak? 

Ini menunjukkan kepada kita Sob kalo kita nggak boleh mencukupkan diri untuk ngefans pada imam-imam muda di masjid yang berhenti pada bacaannya bagus saja. Karena nggak cukup asal bagus bacaannya saja tapi juga harus ngerti isinya? Ibarat resep obat, sebagus-bagusnya obat kalau nggak diminum ya nggak akan sembuh atas izin Allah.

Sama dengan Al Qur’an, sebagus-bagusnya manual book instruction untuk manusia, kalau nggak dipahami dan diterapkan hanya akan berputar menikmati indahnya lantunan ayatnya saja. Islami sih, tapi gak memberi solusi. Sedih banget.

*Bukan Sekedar Kumpulan Surat*

Dengan Al Qur’an kita menjadi umat yang istimewa. Malaikat yang berinteraksi dengan Al Qur’an sebagai penyampai risalah menjadi malaikat yang istimewa, bulan yang menjadi bulan turunnya Al Qur’an menjadi istimewa, orang yang menghafal Al Qur’an menjadi mendapatkan kemuliaan yang tidak bisa dibeli dengan apapun. Terbukti! 

Al Qur’an bukan sekedar kumpulan surat, melainkan mu’jizat. Setiap hari kita melantunkan doa untuk diberi jalan yang lurus dalam Al Fatihah minimal 17 x. Lantas bagaimana menjadikan Al Qur’an ini menjadi pedoman hidup? Jawabannya sederhana lihat bagaimana Rasulullah mengajarkan.

Ternyata Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk mengambil syariat secara keseluruhan (tidak boleh prasmanan). Allah berfirman _“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”_ *(QS. Al Baqarah: 208).*

Tidak hanya itu, Allah juga mengancam siapapun yang pilih-pilih syariat _“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.”_ *(QS. Al Baqarah: 85)*. Nakutin banget ga sih Sob?

Ya Allah Ya Rabb, memang betul Islam itu sempurna dan paripurna, karena Islam bukan hanya mengatur kehidupan yang sifatnya ritual saja (seperti sholat, puasa, zakat) lebih dari itu Islam mengatur urusan dari bangun tidur sampai tidur lagi. 

So, konten-konten Islami di tiktok yang kita tonton (kaya anjuran sabar, tips lancar rizki dengan Al-Waqiah, shalawat kepada Rasulullah) semuanya itu masih 1% dari syariat yang Allah turunkan. Masih banyak bahasan-bahasan syariat yang butuh kita pelajari.

Percaya nggak kalau Islam ngatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri? Iya Sob ternyata! Dari urusan berpakaian, cara makan, minum dan akhlak kita. Islam juga mengatur sistem pendidikan, kesehatan, muamalah dll yang itu tadi hari ini tidak kita temui di segala lini, jangan heran jika kerusakan menjadi-jadi. 

So, biar bener-bener bisa ngejadiin Al Qur’an sebagai pedoman hidup langkah sederhananya kudu ngaji dulu Sob, biar bisa ngerti surat cintanya Allah kepada kita. 

Sobat sendiri gimana, sudah mengkaji Islam secara intensif belum? Jangan sampai kendor ya, bulan Syawal adalah bulan peningkatan! Pastikan mengkaji Islam masuk target bulan Syawalmu ya. Yuk…![]

Sumber: _Buletin Teman Surga #217 April 2023_

The POWER OF RAMADAN


**

Asyiknya puasa, kita serasa dimanja. Di sekolah, kegiatan belajar juga dijadwalkan supaya gak memberatkan yang puasa. Udah mah jam belajar dipangkas, eh ada libur awal dan akhir Ramadan pula. Di rumah, kondisinya juga gak jauh beda. 

Kita punya alasan untuk bermesraan dengan guling seharian. Mager setiap saat. Kan tidurnya orang puasa berpahala. Ciee..pake dalil segala. Padahal mah udah bawaan orok tuh gampang tidur lupa bangun. Puasa gak puasa, teteeep!

Padahal, kalo kita bercermin pada para shahabat, meski puasa mereka tetap perkasa. Lembaran sejarah Islam mencatat dengan tinta emas kisah-kisah kemenangan Umat Islam yang diraihnya saat Ramadan. Coba deh simak.

_1 Ramadan 587 H._ Penghancuran dan penguasaan kota ‘Asqolan yang merupakan pintu masuk menuju kota Al Quds. Penghancuran dan penguasaan kota ini dilakukan oleh Sholahuddin Al Ayyubi sebagai strategi menahan laju kekuatan kaum salib (nasrani) yang akan merebut kota Quds. Pada hari penaklukannya Sholahuddin Al Ayyubi berkata, “ Demi Allah sesungguhnya penghancuran benteng di ‘Asqolan lebih aku sukai walaupun aku harus kehilangan seluruh anakku, karena penguasaan ‘Askolan adalah demi kemaslahatan Islam dan kaum Muslimin”. Sekarang kota ‘Asqolan dikenal dengan nama kota Asduud di negara Palestina.

_6 Ramadan 223 H._ Sultan Al Mu’tasim seorang khalifah ‘Abasiyah mengadakan pengepungan terhadap kota ‘Umuriyah’ yang merupakan benteng pertahanan terkuat kerajaan Benzantiniyyah di Asia kecil. Usaha beliau berhasil dengan takluknya kota tersebut.

_9 Ramadan 222 H._ Panglima Al Afsyiin salah satu panglima perang Khalifah ‘Abasiyah Al Mu’tasim bin Harun Ar Rasyid mampu menaklukan kota albadz pusat pemerintahan Babak Al Khurmi setelah melakukan pertempuran dan pengepungan selama dua tahun penuh. Faktor pemberontakan Babak Al Khurmi yang dimulai tahun 201 H pada masa Khalifah Ma’mun adalah keinginannya untuk merebut kekhalifahan dari ras Arab yang Muslim untuk ras Faris dan Majusi. Selain itu merekapun menolak segala bentuk peribadahan seperti Sholat, Shaum, Zakat, haji dan menghalalkan minum Arak dan menghalalkan segala yang diharamkan oleh Islam. Makanya pantas diperangi.

_17 Ramadan 2 H._ Perang Badar al-Kubra. Boleh dibilang, ini adalah perang “hidup-mati” antara kaum muslimin dengan orang-orang kafir Quraisy. Rasulullah pernah merasa takut, kalau pertempuran itu akan memusnahkan kaum mukminin Madinah di muka bumi ini. Beliau berdoa kepada Allah: “Ya, Allah, jika kelompok ini sekarang binasa tidak ada lagi yang menyembah-Mu di atas muka bumi ini.”

Untungnya, Allah Swt. turut ’campur tangan’ dalam peperangan tersebut. Dan hasilnya, 313 tentara kaum muslimin berhasil menghajar telak dan melibas 1000 pasukan kaum kafir Quraisy.

_20 Ramadan 8 H._ Futuh Makkah (Penaklukan Makkah). Rasulullah SAW keluar bersama 10 ribu pasukan perang dari kaum Muhajirin dan Anshor menuju Makkah. Faktor keberangkatan beliau disebabkan penyerangan yang dilakukan kabilah Bani Bakar sekutu kaum Quraisy terhadap sekutu Rasulullah SAW kabilah Khuza’ah yang berarti pelanggaran terhadap perjanjian Hudaibiyah yang telah disepakati antara kaum Quraisy dengan Rosulullah SAW. Penaklukkan kota Mekkah berhasil dengan gemilang tanpa melalui peperangan. 

_25 Ramadan 658 H._ Perang Ain Jalut yang terjadi antara kaum muslimin dan Tartar merupakan perang yang besar dalam sejarah Islam. Hal itu dikarenakan Tartar mampu menguasai banyak daerah Islam, menjatuhkan Khilafah Abbasiah dan berhasil membunuh Khalifah Mu’tashim Billah di Baghdad pada tahun 656 H / 1256 M. Bahkan meminta Sultan Mamluki “Quds” untuk tunduk di bawah kekuasaannya. Permintaan ini ditolak dan Sultan memutuskan untuk menghadapi Tartar dalam peperangan.

Maka pada hari Jum’at tanggal 25 Ramadan 658 H, bertemulah dua pasukan besar di wilayah Ain Jalut. Dalam peperangan ini Sultan Quds mengumandangkan syiar “Wahai Allah tolonglah hamba-Mu Quds dari kaum Tartar.” Peperangan ini berakhir dengan kemenangan kaum muslimin.

_28 Ramadan 92H._ Kisah kemenangan kaum muslimin pada hari ini dimulai dengan persiapan Musa bin Nashir dengan pasukan dari Arab dan Barbar yang jumlahnya mencapai 7 ribu tentara di bawah kepemimpinan Thoriq bin Ziyad untuk menaklukkan wilayah Andalus. Maka berangkatlah Thoriq bersama pasukan dengan menyeberangi laut pada hari Senin tanggal 5 Rajab 92 H dan mereka mampu memenangkan peperangan menghadapi sekumpulan pasukan Qouth dalam 
perjalan menuju ibukata Andalus.

Akan tetapi musuh kembali menghimpun kekuatan di bawah pimpinan Rodrik raja Qouth dengan pasukan sejumlah 100 ribu tentara. Lalu mereka berjalan menuju selatan untuk menundukkan kekuatan kaum muslimin. Untuk menghadapi kekuatan musuh yang besar maka dikirimlah pasukan tambahan sejumlah 5 ribu tentara sehingga jumlah pasukan Islam di bawah pimpinan Thoriq berjumlah 12 ribu tentara. Maka bertemulah dua pasukan yang tidak seimbang dari segi jumlah pasukan di tepian sungai Wadilaka.

Peperangan terjadi selama empat hari dan pada hari keempat pasukan Qouth mampu dikalahkan dengan menelan kerugian yang sangat besar. Tidak sampai satu tahun wilayah Andalus dapat ditaklukan hampir 100% sehingga terbentuklah sebuah wilayah yang maju dalam ilmu pengetahuan dan peradaban.

Tuh, kebayang nggak sih. Udah mah puasa, ‘dipanggang’ panas terik matahari, menjelajah gurun pasir yang gersang, dan satu lagi…, harus perang! Wah, pastinya berat banget ya jalaninnya. Untung perjuangan kaum Muslimin dilandasi dengan keimanan kepada Allah Swt. Jadinya nggak gampang mundur apalagi kabur dari medan tempur. Malah mereka tambah semangat, karena yakin dengan pertolongan Allah Swt. Laahaula walaa quwwata illa billahi!

*Meski Puasa Tetap Perkasa, Ini Caranya!*

Kita bisa belajar banyak dari ’keperkasaan’ orang-orang yang tetep produktif walau puasa. Mereka bukan termasuk orang yang berbadan kekar kaya atlet binaraga. Bukan juga jelmaan superhero Marvel atau DC. Mereka sama seperti kita kok. Punya rasa lapar dan haus. Cuman mungkin, mereka lebih bisa mengendalikan nafsunya. Jadi nggak gampang tergoda untuk memanjakan dirinya. Mentang-mentang puasa, jadi lemah tak berdaya. Nggak lah yauw!

Kita juga bisa belajar pada keperkasaan mereka yang komitmen berhijrah. Move on dari kemaksiatan menuju ketaatan. Meski menghadapi banyak tantangan, tak surut semangatnya mengejar ampunan. Terutama di bulan Ramadan, saat ridho Allah swt membersamai mereka dalam ibadah dan amal sholehnya demi menghapus dosa. 

Untuk jadi perkasa, yang kita perlu lakukan cuman satu. Bangun dan perkuat benteng akidah sebagai pertahanan untuk menaklukkan hawa nafsu. Karena hawa nafsu kalo nggak dikendalikan bisa menginjak-nginjak harga diri kita sebagai hamba Allah. Itu yang bikin kita lemah bin letoy. Seperti diingatkan dalam firman-Nya:

_“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”._ *(QS. Shâd [38]: 26)*

Jalan yang paling pas untuk memperkuat benteng akidah adalah dengan mengenal Islam lebih dalam. Plus getol beribadah dan berdakwah. Biar lebih ngejoss, banyak deh bergaul dengan orang alim dan takwa agar keimanan tetep terjaga. Kalo keimanan kita udah tangguh, insya Allah hawa nafsu juga bakal ngeper. Fisik kita pun lebih siap ngadepin tantangan demi meraih ridho Allah swt. Nggak peduli meski badan tinggal tulang dan dosa. Yang penting, pantang menyerah meraih berkah!

Nah, mumpung di bulan puasa, jangan sampe waktu terbuang percuma. Nikmati kegiatan pesantren Ramadan demi menimba ilmu. Luangkan waktu untuk tilawah qur’an. Syukur-syukur bisa hatam 30 juz minimal satu kali selama Ramadan. Yang ini juga nggak boleh kelewat, shalat tarawih sebulan penuh. Ini semua yang melahirkan the power of Ramadan dalam diri kita. Semoga Allah swt memasukkan kita dalam golongan mukmin kuat yang dicintai-Nya. Meski puasa, tetep perkasa![]

Sumber: _Buletin Teman Surga 216 #April 2023_

Sabtu, 01 Juli 2023

KUPELUK ERAT RAMADANKU



 
Dalam hitungan hari, bulan mulia akan kembali menyapa kita. Bulan istimewa yang dinantikan miliaran umat Islam di seluruh dunia.
 
Nggak kebayang, tahun lalu kita belum tahu apakah masih bisa ketemu lagi dengan Ramadan kali ini. Tahu sendiri dong, namanya ajal bisa datang kapan aja tanpa notifikasi. Di antara kita mungkin ada yang dalam setahun terakhir kehilangan orang-orang yang dekat atau yang sangat dicintai. Ramadan lalu masih bareng berbuka puasa, namun kali ini kita berziarah ke pusaranya. Emot nangis.
 
Karena itu, betapa bahagia dan beruntungnya kita Allah swt kasih kesempatan untuk kembali bertemu dengan bulan nuzulul quran ini. Lantas, apa yang harus kita lakukan atas peluang dahsyat ini?
 
*Karpet Merah untuk Ramadanku*
 
Bagi sebagian remaja muslim, bisa jadi Ramadan kali ini disikapi sama dengan bulan lainnya. Apalagi kalo ngerasa terbebani dengan kewajiban puasa. Haus dan lapar ditahan seharian cuman untuk menggugurkan kewajiban. Kaya puasa sunah senin kemis aja. Itu juga kalo nggak tergoda oleh bestienya yang ngajakin ngemil sambil ngumpet.
 
Tapi bagi kita, khususnya pembaca setia buletin remaja Teman Surga, pastinya Ramadan selalu istimewa dalam kamus hidup kita. Pasalnya, Rasulullah saw telah mengingatkan berbagai keutamaan bulan mulia dalam khutbahnya menjelang bulan Ramadan.

*_“WAHAI_*_ manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama._

_Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya._

_Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu di hari kiamat._

_Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu._

_Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu._

_(Amirul mukminin k.w. (d__ibaca: _karramaallahu wajhah)_ berkata: “Aku berdiri dan berkata: “Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?”)_

_Jawab Nabi: “Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah.”_

_Wahai manusia! Sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu’.”_

_“Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.”_

_“Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya.“_

_“Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.”(HR. Ibnu Huzaimah)_

Dengan segudang keutamaan yang ada pada bulan Ramadan, tentu sangat beralasan bagi kita untuk menggelar karpet merah akan kedatangan bulan mulia. Istimewa tiada tara.

*Kugenjot Tabungan Pahalaku*
 
Nggak ada yang tahu seberapa banyak tabungan pahala kita sampai saat ini. Meski kita ngaku sholat wajibnya nggak pernah bolong, belum tentu tabungan pahala kita surplus. Malah bisa jadi minus lantaran kemaksiatan yang kita lakukan.
 
Karena itu, yang bisa kita lakukan untuk menjaga tabungan pahala kita agar terus bertambah hingga tiba waktunya diaudit oleh Allah swt di padang Mahsyar, adalah dengan terus menggenjot amal sholehnya. Inilah beruntungnya kita bisa kembali bertemu dengan bulan Ramadan.
 
Tanpa tapi tanpa nanti, langsung gaspol keseharian kita selama Ramadan dengan amal sholeh. Dari bangun tidur sampa tidur lagi, jangan kasih kendor. Apa aja? Simak pesan Rasulullah saw dalam khutbahnya menjelang Ramadan ini:
 
_1. Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirothol mustaqim pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat._

_2. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya._

_3. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka._

_4. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain._

_5. “Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain.” Ramadan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadan itu adalah bulan memberi pertolongan (syahrul muwasah) dan bulan Allah memberikan rezeki kepada mukmin di dalamnya.”_

_6. “Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.”_
_(Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa.) Maka bersabdalah Rasulullah saw, “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.”_

_7. “Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.”_

Dari mulai shalat tahajud sebelum sahur, sahur menjelang shubuh, shalat sunat fajar sebelum shubuh, tadarus quran, shalat dhuha, sedekah, menuntu ilmu, hingga waktu berbuka dilanjut shalat malam. Rutin tanpa absen.
 
*Tak Akan Kulepaskan..*
 
Paket komplit yang menyertai kehadiran Ramadan selalu bikin baper. Gimana nggak, Allah swt yang Maha Pengasih dan Penyayang ngasih kesempatan pada kita selaku hamba-Nya untuk mendapatkan kemudahan pengampunan dosa di bulan ini. Banyakin istighfar.
 
Selain bulan pengampunan dan obral pahala, suasana Ramadan juga bisa bikin keimanan naik drastis sampai ubun-ubun. Karena itu, manfaatkan untuk menguatkan benteng akidah. Agar setelah Ramadan, semangat Islam kita tetap berkobar. Konsisten terikat syariah dan aktif berdakwah.
 
Buang jauh-jauh budaya mager. Hadir di majlis ilmu biar kebanjiran berkah dan panen tsaqofah. Tadarus al-Qur’an gak cuman ngejar khataman. Tapi dibarengi dengan pemahaman setiap ayat yang dibaca. Jangan lupa perbaiki juga cara baca dan ilmu tajwidnya.
 
Dan 10 hari terakhir nanti, siapkan diri kita untuk berburu malam lailatul qadar. I’tikaf di masjid. Bukan sibuk kasak-kusuk nyari diskonan dan flash sale baju lebaran.
 
Terakhir, selama Ramadan jangan bosan untuk selalu menengadahkan tangan. Berdoa agar Allah swt menjaga diri dan menguatkan hati kita. Agar konsisten beramal sholeh. Tanamkan pada diri kita, Ramadan kali ini harus menang banyak. Gaskeuuun..![]
 

Selasa, 21 Maret 2023

MUHASABAH CINTA REMAJA


"Tuhan kuatkan aku/ Lindungiku dari putus asa/ Jika ku harus mati/ Pertemukan aku dengan-Mu"

"Kata-kata cinta terucap indah/ Mengalir berzikir di kidung do'aku/ Sakit yang kurasa biar jadi penawar dosaku"

"Butir-butir cinta air mataku/ Teringat semua yang Kau beri untukku / Ampuni khilaf dan salah selama ini Ya Ilahi/ Muhasabah cintaku"

Pada akhir bulan kedua tahun masehi, bekas-bekas sambutan hari cinta sedunia masih tersisa. Terutama promo cemilan khas seperti coklat atau permen yang masih teronggok di rak-rak mini market. Pastinya, bukan cemilan itu yang kita buru di akhri bulan. 

Tapi sebuah renungan tentang balada cinta yang terus menerus menghantui remaja. Untuk itu, penulis teringat sebuah lagu lawas yang bisa bikin super baper yang dengerinnya. Sebuah single dari group nasyid yang di rilis tahun 2012. Liriknya yang mengharu biru, mengingatkan kita akan sebuah penyesalan saat rasa cinta justra menjauhkan kita dari Dia. Muhasabah Cinta. 

Sebagai bentuk muhasabah dari tren pergaulan remaja, berikut beberapa catatan untuk kita renungkan bersama. 

*# Pertama, Stop Budaya Pacaran*

Pacaran sering dijadikan simbol pergaulan remaja modern. Seolah, belon afdhol jadi remaja kalo gak kenal dunia pacaran. Mitosnya, pacaran bikin remaja tambah gaul, trendi, dan pastinya kekinian. Walhasil, banyak remaja yang terjerumus ke dalam ajang baku syahwat ini. 

Padahal kenyataannya, pacaran cuman jadi tempat ngebucin antar dua remaja yang tengah dimabuk asmara. Terutama di bulan Februari, linimasa sosial media dipenuhi remaja en remaji yang pamer gacoan. Tak sungkan mengumbar kemesraan biar jadi bahan omongan. Banjir pujian.

Kebayang ya kalo udah ngebucin, lupa daratan tapi ingat petunjuk setan. Udah nggak peduli lagi dengan peringatan Allah swt dalam firmanNya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra’ : 32).

Gak ada ceritanya remaja pacaran itu jauh-jauhan. Kalo pun ada LDR, itu cuman kemasan aja. Jauh di mata, dekat di hati. Terpisah jarak, terikat janji. Giliran kopdar, tetep aja deketin zina. Jalan bareng. Makan bareng. Sampai kebablasan tidur bareng. Ngeri!

Karena itu, ayo kita sama-sama kampanyekan stop budaya pacaran. Terutama di kalangan remaja, biar masa depan mereka di dunia dan akhirat tak tergadaikan. 

*# Kedua, Say No To Valentine Day*

Ini yang jadi biang makin terhanyutnya remaja dalam kubangan maksiat atas nama cinta. Tanggal merah jambu yang hanya ada di bulan Februari ini, selalu ditunggu remaja en remaji yang tengah dimabuk asmara. Bahkan yang jomblo sekalipun, bela-belain berburu pasangan biar saat hari H, bisa ikut-ikutan pamer gacoan dan latah mengumbar kemesraan. 

Padahal bagi remaja muslim, gak ada secuilpun kebaikan dengan ikut ambil bagian dari perayaan budaya barat ini. Udah tahu kan, kalo asal muasal perayaan hari kasih sayang ini terhubung dengan budaya pemujaan terhadap dewa-dewa dan penyebaran agama di luar Islam. 

Itu artinya, kalo kita sebagai remaja muslim ikut-ikutan ngerayain sama dengan menggadaikan akidah dan keimanan kita. Cuman dapat kesenangan, tapi kemuliaan agamanya dipertaruhkan. Boncos abis!

_Rasulullah saw mengingatkan kita, “Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut .” (HR. At-Tirmidzi)_

Ibnul Qayyim berkata, “Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari raya!” dan semisalnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutu-kan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid’ah atau kekufuran maka ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah.”

So, jangan sampai budaya pemujaan terhadap rasa cinta ini menjerumuskan kita pada kekufuran. Suarakan dengan lantang pada dunia, remaja muslim nggak valentinan!

*# Ketiga, Jangan Gagal Fokus Gaes!*

Dalam Islam, remaja sejatinya bukan sekedar masa transisi dari kehidupan anak-anak menuju manusia dewasa. Tapi remaja adalah masa emas para calon pemimpin masa depan yang sudah terbebani oleh hukum syariat. Sehingga kehidupan mereka idealnya tak jauh dari dua hal saja sebagaimana diingatkan dalam sebuah nasihat. 

“Demi Allah, hakikat seorang pemuda adalah dengan ilmu dan taqwa; bila keduanya tidak ada padanya maka tidak ada harga diri baginya”. (Imam Syafi’i).

Kalo hari-harinya remaja cuman dihabiskan dengan mengumbar kemesraan di sosial media, pamer gacoan, atau ngebucin tak kenal tempat, pastinya makin menjauh dari perilaku taat. Boro-boro getol membekali dirinya dengan ilmu dan takwa, yang ada ditempel terus oleh perilaku maksiat. Gegara cinta yang ternoda. 

Karena itu, remaja muslim jangan gagal fokus untuk mengisi hari-harinya. Bukan berkutat dalam dunia percintaan. Tapi selalu hadir dalam majelis-majelis ilmu untuk menambah pengetahuan dan tsaqofah islam. Tak lupa, ketakwaannya juga selalu dijaga dengan menjadikan aturan Islam sebagai standar perbuatannya. 

Untuk urusan cinta, cukup dipahami kalo rasa ini adalah anugerah. Kalo udah siap berumah tangga, baru deh tanam benih-benih asmara pada dia yang akan menjadi pasangan sejati pencetak generasi Islam pemimpin masa depan. 

Kalo belum siap, amankan dulu rasa cintanya agar perburuan bekal ilmu dan takwa terus menggelora. Bukakan jalannya dengan aktif dalam pengajian rutin. Kenali Islam lebih dalam sehingga ilmu kita bertambah, makin getol juga beribadah. 

Dan jangan lupa, selalu berdoa agar Allah swt mengampuni dosa dan khilaf kita selama ini yang telah melakukan mal praktek dalam urusan cinta. Seperti kata sebuah group nasyid, "Ampuni khilaf dan salah Selama ini Ya Ilahi/ Muhasabah cintaku". []

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/koreapi1453/ 
Twitter - https://twitter.com/koreapi_1453?s=09
IG - https://instagram.com/koreapi.1453?igshid=3x7tpluws2nb
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

THE PURSUIT OF TRUE LOVE


“Salahkah jatuh cinta?” Hai #TemanSurga remaja-remaji di manapun berada, apa kabarnya hati? Sudah disinggahi sama virus merah jambu? Sudah mulai ada getar-getar tak menentu di dalam dada? Sudah mulai serba salah dengan suasana dan perasaan yang naik turun enggak karuan?
Jika semua pertanyaan di atas jawabannya adalah “YA”, pernahkah terlintas tanya “salahkah jatuh cinta?” Atau gaspol aja teros tanpa tolah-toleh kanan kiri dan depan belakang? Wkwkwk!
Ada apa dengan cinta? Bagaimana cinta sejati yang harus dikejar? Mari kita bicara tentang cinta!
*# Remaja Jatuh Cinta*
Ada banyak remaja yang biasa saja ketika kedatangan rasa cinta. Dinikmati dengan suka cita. Ditekuni hingga tak lagi peduli dengan yang lainnya. Pagi, siang, sore, hingga malamnya hanya ada luapan rasa cinta yang berbunga-bunga. Sama sekali tak terbersit tanya, “Salah atau benar?”

Namun, di sisi yang lain juga pasti ada sosok –sosok yang gugup bukan kepalang ketika disambangi rasa cinta. Perasaan tak nyaman bahkan merasa berdosa. Takut, tapi ingin menyelam lebih dalam. Bingung, harus berbuat apa. Dihantui sebuah tanya yang menggelisahkan, “Salahkah jatuh cinta?”
Kamu yang lagi baca tulisan ini, masuk ke tim mana nih? Jalani dan nikmati, atau pikir dulu seribu kali? Jawab jujur dalam hati, enggak usah pakai nyengir sendiri. Hehehe!
Adalah hal yang manusiawi dan normal ketika kita ada pada fase berpapasan dengan si cinta. Mau atau tidak, rasa itu akan hadir menyelinap di relung-relung hati. Menciptakan debaran yang aneh. Mengganggu konsentrasi. Kadang bikin senyum, tak jarang juga bikin nangis sendiri. Setiap remaja, alaminya merasakan hal ini. Tertarik dengan lawan jenis. Wajar, kok. Itu tandanya normal.

“So, enggak salah dong kalau punya komitmen alias pacaran? Normal kan ya?”
Eitsss, bentar Sist dan Bro. jangan main nyeruduk aja. Kita ngobrol pelan-pelan, yuk. Sambil ngemil juga boleh. Agar tetap enjoy dan santuy. Kuy!
*Mengekspresikan Cinta dengan Pacaran*
Benar bahwa rasa cinta adalah fitrah. Betul bahwa jatuh cinta adalah manusiawi. Mahfum bahwa menyukai lawan jenis adalah wajar. Hanya saja, tetap ada syarat dan ketentuan untuk mengekspresikannya. Bukankah kita muslim? Ya, seorang muslim terikat syariat dalam setiap ekpresi hidupnya. Tidak terkecuali dalam perkara cinta.
Sist dan Bro #TemanSurga, islam itu keren banget. Pandangan hidup yang tidak menafikkan fitrah manusia, tetapi juga tidak membebaskan begitu saja. Islam memberikan kesempatan kepada manusia untuk mengekspresikan apa yang ia rasa, dan bersamaan dengan itu islam juga memberikan aturannya. Tentang cinta misalnya, maka islam melarang kita menodainya dengan cara pacaran. Begitu!
Ribet? Sama sekali enggak. Justru kita mesti bersyukur benget menjadi seorang muslim yang diatur sedemikian detail oleh syariat islam. Karena semua aturan yang ada, hakikatnya adalah untuk kebaikan hidup kita. Tidak hanya baik di dunia, tetapi juga baik hingga sampai ke Surga. Meleleh enggak sih dengan kasih sayangnya Allah SWT ini ke kita? 
Jadi bagaimana mengeskpresikan cinta agar bahagianya sampai ke Surga? Agar enggak celaka di dunia dan enggak sengsara di neraka?
*# Cinta Suci, Taat Ilahi*
Wajib bagi kita menjaga kesucian cinta. Jangan menjadi penoda. Cinta suci itu adalah cinta yang dilandasi dengan ketaatan kepada titah illahi. Bukan cinta buta. Bukan pula cinta berbalut nafsu semata. Cinta suci adalah cinta yang akan menjadi jalan keselamatan hingga ke Surga. Bagaimana caranya merajut cinta suci nan mulia ini?
Caranya adalah dengan taat syariat. Segera laksanakan apa yang Allah SWT perintahkan. Sepahit apapun itu. Segera tinggalkan apa yang Allah SWT larang. Semanis apapun itu. Yakin 100% bahwa taat membawa bahagia dan maksiat membawa petaka. Yakin bahwa apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah SWT. Yakin bahwa apa yang menurut kita buruk, belum tentu buruk pula di sisi Allah SWT. Fix, cukuplah penilaian Allah SWT sebagai standar hidup kita.
Berkaitan dengan mengekspresikan cinta, Allah SWT sudah memberikan rambu-rambunya. Bagi yang sudah mampu, maka disyariatkan untuk segera menikah. Mampu dalam hal apa? Tidak hanya secara biologis semata, tetapi juga mental. Sebab berumahtangga itu banyak tantangan yang menghadang. Butuh kesiapan mental. Oleh karena itu butuh ilmu yang sangat buanyak. Jangan sampai gara-gara tidak cukup ilmu, rumah tangga berubah jadi rumah duka. Hanya air mata yang ada di dalamnya. Serem, kan? Makanya, belajar yang bener selagi masih ada kesempatan belajar. Catet, ya!
Lalu bagaimana bagi yang belum mampu menikah? Maka syariat mengatur kita agar menjaga pandangan. Tahan mata, woy. Tahan jempol. Jangan stalking teros di sosmed si Doi. Setop kepoin apapun tentang dia. Banyakin istigfar untuk meredam genderang rasa dalam dada. Bisa yuk bisa. Kita enggak bakal mati kok, cuma sedikit gelisah aja. Bisa banget dialihkan ke aktivitas lain yang berfaedah.

Setelah menahan pandangan selanjutnya tahan pergaulan. Hindari berdua-duaan dan campur baur dengan lawan jenis yang bukan mahram. Pegang kuat prinsip ini. Enggak papa terlihat asing dan beda dari yang lain. Enggak masalah dibilang makhluk langka. Bukankah berlian juga langka dibandingkan arang? Menjadi langka karena Allah SWT itu istimewa. Aaseeek!
Inilah mengapa penting bagi kita memahami Islam. Wajib mengkajinya secara kaffah. Agar hidup kita memiliki prinsip yang kuat. Tidak mudah baper dengan kondisi. Mampu mengambil sikap tanpa harus ikut-ikutan yang sedang kekinian. Teguh berpendirian, “Taat pasti bahagia, maksiat pasti sengsara.” Meski tak ramai yang membersamai, tak mengapa asalkan Allah SWT meridai.

Siap ya menjaga cinta agar tetap suci? Semangat ya untuk senantiasa taat pada Illahi? Sampai waktunya nanti. Bahagia akan menghampiri. Keberkahan akan menyelimuti. Keselamatan dunia hingga akhirat akan kita dapati. Yuk bisa yuk, menjaga cinta agar tetap suci dengan mentaati titah illahi. Sebab hakikat dari ekspresi cinta adalah mencintai Illahi Rabbi dengan mentaati syariat-Nya. Ya, inilah pengejaran cinta sejati yang semestinya. The pursuit of true love. []

Terhubung dgn teman surga, klik : taplink.cc/temansurga

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/koreapi1453/ 
Twitter - https://twitter.com/koreapi_1453?s=09
IG - https://instagram.com/koreapi.1453?igshid=3x7tpluws2nb
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

CHOICE, CHANGE, CHAMPION


“Life is choice” begitu kalimat yang sering kita dengar, betul atau betul? Sadar nggak sadar konsep ini sebenarnya sudah sering kita praktekkan. Sejak kecil hingga dewasa senantiasa kita dihadapkan dengan berbagai pilihan. Bahkan tiap jam pun juga selalu bersinggungan dengan pilihan. Dari mau makan apa, pakai baju warna apa, sampai mau pilih lanjut SMA di mana juga bicara tentang pilihan. Selagi nyawa kita masih berhembus urusan pilih-memilih ini tidak akan pernah usai.

Jika kita sudah mewarnai Januari dengan berbagai resolusi yang kita tuliskan, mestinya di bulan Februari ini perjuangan juga terus dilanjutkan. Penelitian berbicara 90% orang gagal menjalankan resolusinya; 64% orang melupakan resolusinya di bulan kedua. Jangan sampai ya, resolusi kita untuk berubah jadi lebih baik di segala hal menjadi gagal hanya karena berbagai distraksi yang dihadapkan. Misalnya, yang kemarin punya resolusi bisa move on dari mantan kudu terus dilanjutkan nih, bahkan harus dinaikkan tarafnya bukan hanya move on tapi juga move up. 

Sedih deh pokoknya kalau bulan Februari gagal move on karena diajak ngerayain valentine. Kalau mau dianalogikan dengan proses pembentukan habits, sekali putus siklusnya akan ambyar selamanya. Hijrahmu pun demikian, jangan biarkan siklusnya putus sekali. Khawatir siklusnya putus ketika nafas kita berakhir berhembus. Wah, bisa su’ul khatimah jatuhnya nanti.

Memang cinta adalah fitrah, meski begitu bukan berarti karena cinta adalah fitrah bisa di ekspresikan seenaknya sob. Bayangin aja kalau fitrah diekspresikan seenaknya hasilnya akan terjadi kerusakan di mana-mana. Sobat sendiri juga tahu kan yang lagi trending di negeri ini? Anak-anak usia sekolah yang minta dispensasi nikah. Naudzubillah! Itu semua akibat pengekspresian cinta seenaknya. Tidak kah kita takut dengan peringatan dari Allah dan Rasul ”Jika zina dan riba tersebar luas di suatu kampung, maka sungguh mereka telah menghalalkan atas diri mereka sendiri azab Allah” (HR. Al-Hakim, Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani)

Supaya manusia mampu menjalankan tugasnya dengan baik di muka bumi ini, maka Allah memberikan kepada manusia potensi kehidupan yang terdiri dari akal, hajatul udhowiyah (kebutuhan jasmani) dan gharizah (naluri). Seperti yang kita ketahui sob, harta yang paling berharga yang dititipkan kepada manusia adalah akal. Akal juga lah yang membedakan manusia dengan hewan. Tidak ada satupun netizen yang protes jika ada hewan yang mengawini betina tanpa nikah dulu, karena memang hewan tidak Allah titipi akal. Tapi jika ada remaja yang menyerahkan kehormatannya dengan suka rela dalam ikatan pacaran jangan heran jika netizen banyak yang protes, karena manusia diberi akal, beda dengan hewan!

Sehingga keberadaan akal ini akan menjadi navigasi untuk memenuhi potensi yang Allah titipkan, itupun juga harus dibimbing dengan wahyu, karena kalau tidak akan kacau juga pemenuhannya, sebab akal tidak mampu membedakan baik-buruk, terpuji dan tercela jika tidak dipandu dengan Alquran.

Selanjutnya kita bicara tentang naluri dan kebutuhan jasmani. Meski keduanya sama-sama menuntut untuk dipenuhi tapi keduanya juga memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Pemenuhan kebutuhan jasmani hukumnya wajib, jika tidak dipenuhi efek terburuknya akan menimbulkan kematian. Karena karakteristik kebutuhan jasmani rangsangannya dari dalam tubuh kita sendiri contohnya makan, minum, buang hajat dll. Bayangin aja apa yang terjadi kalau kita pensiun minum selama tiga pekan, bisa pindah alam secara cepat alias mati he he he. Sedangkan jika kita bicara tentang naluri, jika tidak dipenuhi, tidak sampai menimbulkan kematian, melainkan hanya gelisah, karena rangsangannnya berasal dari luar. Nggak heran dong, jika konten yang sobat konsumsi serba uwu, channel yang kita subscribe tentang merah jambu nalurimu akan senantiasa membuncah menuntut pemenuhan, karena kita yang mengizinkan rangsangan itu menyapa terus menerus.

So, pengendalian naluri manusia khususnya dalam pembahasan ini, yakni gharizatun-nau (naluri melestarikan jenis) adalah choice yang harus dipilih, apa akan dipenuhi dengan cara yang Allah ridha dengan jalan pernikahan atau dengan pacaran, termasuk ikut merayakan valentine itu sendiri.

Tapi kan, aku belum siap menikah... Nah jika belum siap PR kita adalah menyiapkan Sob. Sebab pernikahan itu bukan hanya urusan menyatukan dua insan yang dimabuk cinta, melainkan juga terdapat tanggung jawab besar untuk menunaikan syariatnya Allah yang berkaitan dengannya. Jadi modal cinta aja nggak cukup, butuh modal ilmu, kematangan emosional dll.

Maka sesiapapun pemuda yang mengaku mencintai Allah dan Rasulnya harus berani mengambil arus anti mainstream yakni pernikahan tanpa diawali dengan pacaran. Agar waktu yang Allah karuniakan di usia muda benar-benar diisi dengan perjuangan penegakan agama Allah, bukan habis mikirin doi doang. Ingat ya sob usia muda adalah usia yang paling besar hisabnya. Begitulah Rasulullah mengingatkan kita “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya”(HR. Tirmidzi)

Nggak kebayang deh, mau jawab pertanyaan Allah pakai jawaban apa kalau usia muda kita habis buat caper di depan doi atau galau soalan doi juga. Betapa naifnya kita, bermaksiat dengan nikmat yang Allah Ta’ala berikan. Yuk saatnya kembali pada aturan yang sudah Allah turunkan. Tentunya dengan mengkaji Islam. Gimana ceritanya kita bisa tau apa yang Allah minta kalau nggak melakukan pengkajian? Mustahil sob.

Apa cukup hanya dengan mengkaji Islam? Tentu tidak. Karena se-shalih-shalihnya kita menjaga, kekuatan media menyebarkan konten-konten tidak senonoh lebih besar gaungnya. Sekarang deh sambil baca buletin ini, coba buka tik-tok, pasti yang viral kebanyakan yang tidak menutup aurat. Haduh miris! Maka langkah selanjutnya adalah amalkan hasil pengkajian Islam tadi kemudian didakwahkan kepada semua pemuda di negeri ini.

Pemuda harus bergerak, sebab karena budaya gaul bebas yang diimpor oleh peradaban Barat ke negeri ini membuat banyak muslimah di negeri ini statusnya gawat. Dari digoda lelaki buaya lewat chat-chatan mbangunin tahajjud sampai kehilangan identitasnya sebagai manusia mulia, sepotong coklat untuk menebus syahwat. Naudzubillah

Mari mewarnai Rajab dengan penuh ketaatan. Bulan mulia, bulan menuai pahala, bulan haram yang super luar biasa ganjarannya. Semoga sobat semua mampu untuk memerangi hawa nafsu dengan menjadi pemuda muslim original! Apa tuh? Pemuda dengan identitas aslinya sebagai hamba Allah yang memiliki tugas besar menjadi pemimpin di bumi, jangan biarkan bumi rusak karena pemudanya tidak taat pada aturan yang Allah turunkan.

https://temansurga.online/buletin-teman-surga-212-choice-change-champion/

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/koreapi1453/ 
Twitter - https://twitter.com/koreapi_1453?s=09
IG - https://instagram.com/koreapi.1453?igshid=3x7tpluws2nb
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

S.O.S PERGAULAN REMAJA!



Gaul bebas remaja makin beringas. Belakangan, linimasa sosial media ramai oleh pemberitaan ratusan pelajar di kota reog yang minta dispensasi nikah muda ke departemen agama karena kedapatan hamil di luar nikah. Waduh!

Dikutip dari detikjatim.com Ratusan pelajar SMP dan SMA di Ponorogo mengajukan permohonan dispensasi menikah dini dengan alasan hamil di luar nikah. Jumlah permohonan yang dikabulkan PA Ponorogo mencapai 176 kasus. Sedangkan sisanya 8 ditolak, 4 dicabut, 2 tidak diterima, dan 1 gugur. Bahkan dari banyak kasus di atas sudah ada yang melahirkan.

Sementara di kota kembang, Pengadilan Agama (PA) Kota Bandung mencatat 143 warga berusia sekolah mengajukan dispensasi menikah. Belakangan diketahui kasus itu didominasi akibat ratusan pelajar hamil di luar nikah. (Inisumedang.com, 20 Januari 2023).

Kurang lebih sebanyak 276 pasangan mengajukan dispensasi kawin di Pengadilan Agama (PA) Bima sepanjang tahun 2022. Ratusan pasangan di bawah umur itu didominasi pelajar SMP dan SMA di Kota dan Kabupaten Bima.

Kepala Bidang Informasi dan Pengaduan PA Bima, Subhan, SH, mengaku ratusan perkara yang mengajukan dispensasi kawin tersebut sebanyak 85 persen yang mengajukan lantaran hamil di luar nikah. (SUARANTB.COM,17 Januari 2023)

Ratusan pelajar lulusan SMP di Pacitan, Jawa Timur hamil di luar nikah dan memilih menikah dini. Berdasarkan data Pengadilan Agama Pacitan yang mengajukan permohonan dispensasi pada tahun 2022 sebanyak 308 dan minggu kedua Januari 2023 sebanyak 20 pemohon. Disinyalir, faktor ekonomi dan lokasi yang berada di pegunungan menjadi salah satu penyebab para remaja itu memilih nikah dini. Selain itu, para remaja ini juga sudah hamil. (konteks.co.id, Rabu, 18 Januari 2023)

Dari data-data di atas, tak salah kalo SOS alias tanda bahaya pergaulan remaja harus terus dibunyikan. Kalo perlu, kencangkan suaranya. Viralkan di sosial media. Biar warga +62 nyadar bahaya yang tengah mengancam negerinya.

*# Gaul Bebas Kian Beringas*

Setiap hari kita disodorkan potret buram gaul bebas remaja yang menghiasi headline media massa. Beritanya berseliweran liar pada linimasa sosial media. Tak terkendali hingga memancing beragam komentar dari netizen yang bikin potret itu makin buram, lecek dan tak berbentuk kaya kanebo kering. Absurd!

Pertanyaan besarnya, apa yang bikin remaja gaulnya kebablasan? Gak sekedar temenan, tapi juga demenan. Gak sekedar demenan, lanjut pacaran. Gak sekedar pacaran, tapi ngebucin hingga marak perzinahan. Kenapa?

Kalo kita ulik, setidaknya ada tiga faktor yang mungkin bikin remaja kalap dalam pergaulan. Yaitu:

Pertama, informasi sesat seputar pergaulan remaja. Remaja kadung dicekoki gaya hidup pergaulan bebas. Interaksi cewek cowok tanpa batas dilabeli pergaulan modern dan kekinian. Biasa aja gitu mulai dari jalan bareng, belajar bareng, makan bareng, nonton bareng, sampai tidur bareng.

Sejatinya, bergaul dengan lawan jenis hukum asalnya terpisah sebagaimana diatur dalam Islam. Biar manusia tetap terjaga kemuliaannya tak seperti kehidupan hewan. Kalo dibiarkan bebas, nafsu syahwatnya bakal jadi panutan. Akibatnya, musibah datang bertubi-tubi tanpa notifikasi.

Sebagaimana diingatkan oleh Imam Ibnul Qayyim, “Tidak diragukan lagi bahwa membiarkan kaum perempuan bergaul bebas dengan kaum laki-laki adalah biang segala bencana dan kerusakan, bahkan ini termasuk penyebab (utama) terjadinya berbagai melapetaka yang merata. Sebagaimana ini juga termasuk penyebab (timbulnya) kerusakan dalam semua perkara yang umum maupun khusus. Pergaulan bebas merupakan sebab berkembangpesatnya perbuatan keji dan zina, yang ini termasuk sebab kebinasan massal (umat manusia) dan wabah penyakit-penyakit menular yang berkepanjangan.”

Kedua, lingkungan pergaulan yang steril dari aturan islam. Saat ini remaja muslim hidup dalam lingkungan keseharian yang jauh dari nilai-nilai Islam. Masyarakat nggak risih ngeliat remaja pacaran. Mereka menganggap itu hal yang wajar. Sehingga gak ada yang ngingetin saat kemaksiatan merajalela.

Terlebih lagi, pertunjukkan kisah cinta para idola remaja begitu vulgar tayang di berbagai media. Baik offline apalagi online. Terutama linimasa sosial media para idola yang dipantengin terus keseharian dan kisah cintanya. Dari mulai isu kedekatan, pdkt, ungkapan cinta, bucin, sampai putus nyambungnya jadi kontent viral.

Hasilnya, pergaulan remaja makin luput dari pengawasan karena dianggap sudah dewasa. Kenyataannya, dewasa sebelum waktunya akibat terhanyut dalam dekapan syahwat saat berduaan. Bablas. Perzinahan tak terelakkan.

Ketiga, benteng akidah yang rapuh. Hidup dalam lingkungan yang jauh dari nilai-nilai Islam bagi remaja muslim itu sebuah tantangan tersendiri. Gimana nggak, ketika temen-temen sebayanya terbiasa dengan gaul bebas, busana yang mengumbar aurat, hingga berdua-duaan, remaja muslim yang masih komitmen dengan keislamannya mesti bisa jaga diri. Kalo dia pergi, taruhannya bakal dijauhi. Kalo dia tetap di sana, hatinya gelisah dengan kemaksiatan yang merajalela di depan matanya.

Sayangnya, sekuat-kuatnya batu kalo terus dijatuhi tetesan air akan cekung juga. Begitulah yang terjadi pada keimanan remaja muslim yang hidup dalam lingkungan sekuler. Awalnya masih bisa bertahan. Kelamaan, akidahnya makin keropos dihantam gaya hidup hedonis yang menghantam bertubi-tubi keimanannya. Sampai akhirnya menyerah, dan terjerumus dalam pergaulan bebas.
 
*# Tanggung Jawab Bersama*

Gaul bebas di kalangan remaja tak bisa diabaikan. Apalagi sudah makan korban hingga ratusan pelajar yang terenggut masa depannya. Usia puber jangan dijadikan alasan untuk membiarkan mereka pacaran. Apalagi sampai orangtua ngerasa risau bin galau saat putra putrinya tercinta yang beranjak dewasa belum punya pasangan. No way!

Bagusnya orangtua ngerasa bahagia kalo buah hatinya tak terjerumus dalam budaya pacaran. Sambil terus berdoa semoga mereka tetap terjaga kemuliaanya selagi muda demi menjemput kebaikan di masa tua. Ajib kan.

Yang seharusnya bikin kita prihatin adalah ketika gaul bebas remaja kian beringas. Masalahnya, bukan cuman mereka para pelaku gaul bebas aja yang bakal jadi korban. Tapi kita semua generasi muda dambaan umat juga kena getahnya dengan wabah hiv/ids, penyakit menural seksual, prostitusi, aborsi, hingga Allah swt menegur kita dengan caranya.

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Jika perbuatan zina telah nampak (tersebar) di suatu negeri maka Allah akan membinasakan negeri tersebut.”

Selain keluarga dan sekolah, negara juga punya peran besar untuk menjaga kemuliaan generasi muda. Negara yang bisa mecegah merajalelanya tayangan-tayangan remaja yang menyajikan keseharian publik figure yang erat dengan pergaulan bebas. Negara yang bisa memberikan sanksi yang tegas pada pelaku zina biar pelakunya kapok dan masyarakat jadi tercegah untuk berbuat hal yang sama.

Terlebih, kita selaku remaja muslim mesti berani katakan tidak pada gaul bebas. Jaga jarak dengan lawan jenis kecuali dalam interaksi yang diperbolehkan. Bentengi diri kita dari bisikan setan dan godaan media yang memprovokasi remaja untuk dekat dengan lawan jenis. Dan jangan sampai lupa, tetap kenali Islam lebih dalam. Biar benteng akidah tak mudah goyah. Ngaji yuk! []

https://temansurga.com/buletin-teman-surga-211-sos-pergaulan-remaja/

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/koreapi1453/ 
Twitter - https://twitter.com/koreapi_1453?s=09
IG - https://instagram.com/koreapi.1453?igshid=3x7tpluws2nb
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Sabtu, 04 Februari 2023

LA TAHZAN GAES!

"Bila engkau bisa tersenyum saat hatimu penuh dengan duka nestapa, maka sesungguhnya engkau sedang meringankan bebanmu sendiri dan membuka satu pintu untuk kebahagiaan."

Kata mutiara ini bukan berasal dari remaja tanggung asal Gorontalo yang lagi viral lantaran kisah cintanya yang kandas itu. Tapi dari sosok ulama yang ngajarin kita agar jangan jadi sad boy. Lho, emang gak boleh sedih?

Sedih Itu Rahmat

Rasa sedih pada diri kita itu normal kok. Tandanya kita punya perasaan dan hati kita lunak. Apalagi kalo rasa sedih itu sampai bikin merembes mili, ada kebaikan di dalamnya. Seperti yang dirasakan orang beriman saat melakukan dosa. Nabi saw mengabarkan bahwa itu adalah tanda iman. “Barangsiapa yang merasa bergembira karena amal kebaikannya dan sedih karena amal keburukannya, maka ia adalah seorang yang beriman” (HR. Tirmidzi).

Allah swt telah menganugerahkan rasa sedih pada diri kita ketika kehilangan harta, pekerjaan, atau orang-orang yang kita sayangi. Bersedihlah kalo kita pengen mengungkapkan rasa kecewa itu. Tapi gak usah lama-lama. Apalagi sampai air mata kering, mata sembab, biwir beureum-beureum jawér hayam panon coklat kopi susu. Jangan ya.
 
Karena kesedihan kita tak akan merubah keadaan. Sebagaimana nasihat dari seorang ulama  Dr. Aidh al-Qarni : Pernahkah engkau mendengar bahwa kesedihan dapat mengembalikan sesuatu yang telah berlalu dan luka lara dapat memperbaiki sebuah kesalahan? Bila tidak, lalu untuk apa engkau bersedih?

Dalam al-Qur’an kata-kata sedih tidaklah datang kecuali dalam konteks larangan atau kalimat negatif (peniadaan). Sebagaimana yang dijelaskan Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam bukunya Madaarijus Saalikiin. Dalam konteks larangan, misalnya adalah firman Allah ‘azza wa jalla, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita” (QS. At-Taubah: 40)

Adapun dalam konteks kalimat negatif (peniadaan) misalnya firman Allah ta’ala, “Mereka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS. Al-Baqarah: 38)

Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan, kesedihan adalah keadaan yang tidak menyenangkan, tidak ada maslahat bagi hati. Suatu hal yang paling disenangi setan adalah, membuat sedih hati seorang hamba. Hingga menghentikannya dari rutinitas amalnya dan menahannya dari kebiasaan baiknya.
 
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Sesungguhnya pembicaraan bisik-bisik itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita” ([QS. Al-Mujadalah: 10]. Madaarijus Saalikiin hal: 1285).

La Tahzan!

Tak perlu berlarut-larut dengan berbagai kesedihan. Kita harus segera move-on. Agar roda hidup kita terus berjalan. Nggak berhenti oleh bayang-bayang suram masa lalu yang melow dan bikin galau. Gimana caranya agar kita bisa tegar menghagapi kesedihan?

Pertama, tidak membesar-besarkan apa yang telah hilang dan sadar bahwa itu adalah hal yang memang mungkin terjadi. Jangan terjebak oleh tren digital yang mengekspose kesedihan sebagai bahan kontent yang menggugah perasaan dan berpotensi mendulang cuan.
 
Ingat, Allah yang menciptakan kesedihan agar kita menyadari nikmatnya kebahagiaan, sehingga ia bersyukur dan berbagi. Dan sempitnya kesedihan diciptakan agar ia tunduk bersimpuh di hadapan Tuhan Yang Maha Rahmat dan Mengasihi, serta tidak menyombongkan diri.
 
Seperti aduannya Nabi Ya’qub saat lama berpisah dengan putra tercinta; Yusuf ‘alaihimas sasalam “Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan penderitaan dan kesedihanku” (QS. Yusuf: 86). Camkan nasihat Dr. 'Aidh al-Qarni "Jangan pernah menjadikan kesusahan dan kesedihan sebagai tema pembicaraan. Karena, hal itu akan menghalangimu dari kebahagiaan."
 
Kedua, Bersikap sabar. Sebagaimana diingatkan oleh al-Qarni “Bersyukurlah engkau tatkala mendapatkan kesenangan dan bersabarlah ketika tertimpa musibah. Jangan mengkhayal, bahwa dalam hidup ini engkau akan sehat tanpa pernah sakit, selalu kaya dan tidak pernah miskin, mendapatkan suami yang tanpa cela dan teman tanpa aib; semua ini mustahil terjadi.” Kesabaran itu dapat memberikan ketenangan kepada seseorang dalam menghadapi tantangan di hidupnya. Karena orang yang sabar memiliki keyakinan bahwasanya Allah akan memberikan pertolongan kepadanya.

Ketiga, Berdoa. Do’a adalah pengikat manusia dengan Allah. Jangan pernah letih untuk berdo’a dan memohon pertolongan Allah, karena hanya Allah lah yang mampu menolong dan mengatur segala urusan manusia.

Oleh karenanya, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam senantiasa berlindung dari rasa sedih. Di antara doa yang sering dipanjatkan Nabi adalah, // Allahumma innii a’uudzubika minal hammi wal hazani…// “Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari gundah gulana dan rasa sedih…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keempat, Memperkuat iman. Iman yang kuat dapat menjadikan seseorang lebih tegar dalam menjalani kehidupan. Orang yang imannya kuat tidak akan mudah putus asa dalam menghadapi berbagai halangan dan tantangan. Orang beriman akan terbebas dari perasaan bahagia terlalu berlebihan yang menyebabkan seseorang melupakan Allah dan perasaan terlalu larut dalam kesedihan yang menyebabkan seseorang putus asa dan menyalahkan Allah.

Kelima, mendekat pada Al-Qur’an. Sebagaimana yang diungkapkan ulama Aidh Al-Qarni, “Hiduplah Bersama Al-Qur’an! Baik dengan cara menghafal, membaca, mendengarkan, atau merenungkannya. Sebab ia adalah obat paling mujarab untuk mengusir kesedihan.”

Kita Adalah Pemenang

Allah swt menghadirkan masalah dalam hidup kita, untuk menghadirkan keajaiban di dalamnya. Jangan katakan “Wahai Allah, masalahku sangat besar”, tapi katakan “Wahai masalah, Allah itu Maha Besar. Berbagai masalah itulah yang membuat kita bertahan dan berTuhan. Jika kita lari dari masalah, berarti kita lari dari kasih sayang Allah.

Pemenang adalah orang yang pandai bersyukur dan berusaha bangkit dari masalah. Seorang pemenang tak akan menghabiskan waktunya untuk meratapi kesedihan yang menutup kebahagiaan yang ada di depan mata.

Seorang pemenang akan melihat masalah sebagai batu loncatan untuk naik kelas. Bertambah keimanannya, kesabarannya, berbaik sangkanya pada Allah swt, kemampuan mengelola hati, dan mendongkrak keterampilannya untuk menemukan jalan keluar.
Seorang pemenang menyakini bahwa di balik setiap kesulitan akan ada kemudahan. Setelah cucuran air mata akan terbit sebuah senyuman. Sebagaimana setelah malam yang gelap gulita akan hadir siang hari yang terang benderang. Teruslah bergerak menjemput pertolongan-Nya.
 
Seorang pemenang menyadari kalo untuk membalikkan keadaan dari kesedihan menjadi kebahagiaan perlu proses yang mesti dijalani. Berusaha memantaskan diri untuk mengundang pertolongan Allah swt. Dan proses itu tak semudah membalikan telapak tangan. Kita harus siap untuk mengorbankan harta waktu, tenaga, dan pikiran.
 
Karena perubahan itu tanggung jawab kita. Untuk itu, mulailah dengan membenahi cara berpikir kita agar selalu terpaut dengan ajaran Islam yang sempurna. Berani membiasakan diri untuk mengenal Islam lebih dalam dengan hadir dalam majelis-majelis ilmu. Getol beribadah dalam keseharian untuk mendongkrak keimanan kita.
 
“Janganlah kamu lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (QS. Ali Imran: 139).
 
"Lihatlah masa lalu dan tataplah masa depanmu. Dalam hidup ini selalu ada ujian; ia akan selalu datang silih berganti. Maka, setiap orang harus bisa keluar dari ujian itu sebagai pemenang." (Dr. 'Aidh al-Qarni) La tahzan gaes! []

Waspada Budaya Hura-Hura!


Menjelang pergantian tahun, banyak yang sibuk ikut ambil bagian dalam perayaan tahun baru. Kalo udah bicara perayaan, pastinya nggak akan jauh dari suasana hura-hura. Itulah tradisi yang tetep lestari dari tahun ke tahun yang dekat dengan dunia remaja. Lantaran kerap menjanjikan kesenangan yang gak ada habisnya. Tanpa sadar, banyak remaja yang terjerumus dalam gaya hidup hedonisme. Apaan tuh? 

Hedonisme dan Budaya Hura-hura

Paham hedonisme pertama kali dikembangkan oleh dua orang filsuf Yunani, yaitu Epicurus (341-270 SM) dan Aristippus of Cyrine (435-366 SM). Istilah hedonisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu hedone yang artinya kenikmatan, kegembiraan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Hedonisme merupakan pandangan yg menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. 

Jadi, kaum hedonis menganggap bahwa orang akan bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan baginya. 

Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup. Karena mereka beranggapan hidup ini hanya sekali, mesti dinikmati sampai mentok. Hidup dijalani semaunya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas. Pandangan mereka terangkum dalam pandangan Epikuris yang menyatakan,"Bergembiralah engkau hari ini, puaskanlah nafsumu, karena besok engkau akan mati".

Dari gaya hidup hedonisme inilah lahir budaya hura-hura. Kegiatan foya-foya yang menjanjikan kesenangan, kemeriahan dalam keseharian. Budaya ini yang sekarang banyak digandrungi remaja. Dan kalo udah kecanduan gaya hidup hedonis, apa aja bisa dijadikan alasan untuk ngadain pesta pora. 

Mulai dari pesta ulang tahun, pesta kenaikan kelas, pesta perpisahan sekolah, pesta tujuh belasan, dan hampir tidak terlewatkan pestaphoria perayaan tahun baru. Perlahan namun pasti, budaya hura-hura telah menggiring remaja untuk menjadi bagian dari kaum hedonis pemuja kesenangan dunia. 

Nol Manfaat Full Maksiat

Budaya hedonis memang menjanjikan kesenangan. Namun di balik itu, hidup kita bakal belangsakan. Lantaran hedonisme bisa bikin kita: 

Pertama, lemah mental. Doyan pesta pora bisa bikin mental kita lemah saat menghadapi musibah atau kesempitan dalam hidup. Karena yang ada di otak kita hanya kesenangan. Sehingga kita jadi alergi dengan kesedihan, menghalalkan segala cara untuk berpesta, dan nggak berani hadapi masalah. 

Ketika pesta usai dan kaki kembali menginjak bumi, ternyata masalah masih ada dan setia nungguin kita. Ya iyalah, karena masalah datang untuk diatasi, bukan dihindari. Kita mesti inget, pesta pora nggak bikin masalah kita beres dan nggak juga membantu kita beresin masalah. Yang ada, masalah kita malah bertambah. Berabe kan?

Kedua, sarang maksiat. Dari awal, budaya hura-hura lahir dari pola hidup masyarakat Barat yang anti dari aturan agama. Apalagi aturan Islam. Nggak heran kalo dalam setia pesta pora, kemaksiatan merajalela. Mulai dari fastabiqul aurat alias berlomba-lomba memamerkan aurat dan daya tarik seksual, campur baur laki perempuan yang bebas tanpa batas, peredaran narkoba dan minuman keras, hingga situasi yang bisa memancing emosi seperti sering terlihat dalam setiap kerusuhan konser musik. Makanya kita mesti jauh-jauh dari tempat pesta pora, biar nggak kecipratan dosa lantaran diem aja di tengah kemaksiatan yang merajalela.

Ketiga, tasyabuh bil kuffar. Perayaan hari-hari besar yang selalu dimeriahkan dengan pesta tak lepas dari muatan ajaran di luar Islam. Seperti perayaan tahun baru Masehi. 
Perayaan tahun baru Masehi bukan hari raya umat Islam. Penetapan 1 Januari sebagai tahun baru yang awalnya diresmikan Kaisar Romawi Julius Caesar (tahun 46 SM), diresmikan ulang oleh pemimpin tertinggi Katolik, yaitu Paus Gregorius XII tahun 1582. Penetapan ini kemudian diadopsi oleh hampir seluruh negara Eropa Barat yang Kristen sebelum mereka mengadopsi kalender Gregorian tahun 1752. (www.en.wikipedia.org; www.history.com)

Sebagai muslim, nggak ada pantasnya kita meniru-niru budaya di luar Islam. Kaya perayaan tahun baru itu. Kalo kita ikut-ikutan, sama aja kita membenarkan apa yang diyakini oleh penganut agama lain. Padahal Rasul dengan tegas melarang umatnya untuk meniru-niru budaya atau tradisi agama dan kepercayaan lain. Rasulullah saw. bersabda:
“Barangsiapa yang menyerupai (bertasyabuh) suatu kaum, maka ia termasuk salah seorang dari mereka.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan ath-Thabrani)

Itulah beberapa bahaya di balik gaya hidup hedonis yang hanya membuat diri dan masa depan kita hancur berantakan. Nggak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Ini sudah cukup beralasan bagi kita untuk katakan tidak pada budaya hura-hura. Setuju?

Catatan Akhir Tahun

Dalam hidup, selalu ada perubahan yang nggak bisa kita hindari. Ada suka ada duka. Ada masa muda ada masa tua. Ada saatnya kita hidup, ada waktunya kita meninggal dunia. Pertanyaannya, siapkah kita menghadapi perubahan itu?

Nggak gampang jawab pertanyaan ini. Karena faktanya, kita lebih banyak mempersiapkan diri untuk memaksimalkan waktu luang, harta berlimpah, dan masa muda untuk bersenang-senang. Sebaliknya, kita sering ngerasa belum siap dan enggan mempersiapkan diri menghadapi kondisi hidup yang sulit. 

Kita cuman bisa mengeluh dan ngandelin ortu untuk beresin setiap kesulitan yang dihadapi. Padahal suatu saat, kita akan kehilangan orang tua dan harus hidup mandiri. Lantas, apa yang udah kita siapin menghadapi saat itu? Keterampilan apa yang udah kita asah dari sekarang untuk menjalankan tanggung jawab kita nanti? Amal baik apa yang sudah kita tabung untuk menghadapi hari perhitungan di akhirat nanti?

Kalo kamu perhatiin Pak Tani, nggak mungkin doi memanen padi kalo sebelumnya nggak pernah membajak sawahnya, menanam benih padi, ngasih pupuk, menyiangi, atau menjaganya dari hama padi. Begitu juga yang terjadi dengan kita. 

Keberhasilan masa depan kita tidak diperoleh dengan tunai saat kita tua nanti, melainkan hasil usaha ‘cicilan’ kita sejak remaja. Apa pun yang kita kerjain selagi muda, sedikit banyak akan mempengaruhi potret masa depan kita. 
Jangan pernah berharap masa depan terbingkai indah jika menjadi aktivis pestaphoria. Dan jangan salahkan orang lain, teman, orang tua, atau lingkungan jika masa depan kita suram. Allah swt mengingatkan kita dalam firman-Nya:

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, (QS. Al-Mudatsîr [74]: 38)
Ayat ini juga ngingetin kita tentang masa depan di akherat. Saat dimintai pertanggungjawaban oleh Allah swt, kita nggak bisa berlindung dengan alasan diajak temen untuk ngedugem, clubbing, atau terhanyut dalam pestaphoria. Kita nggak bisa ngeles. Semua resiko perbuatan selama di dunia, kita yang nanggung. Makanya kalo kita cerdas, pastinya nggak akan sia-siakan masa remaja dengan menjadi aktivis pestaphoria. Sabda Rasul:
“orang yang cerdas adalah orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya serta biasa beramal untuk bekal kehidupan setelah mati. 

Sebaliknya, orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya, sementara dia berangan-angan kepada Allah”.
Sekarang kita punya alasan kuat untuk nggak ikut-ikutan pesta perayaan tahun baru dan menghapus gaya hidup hedonis dan budaya hura-hura dalam kamus hidup kita. 

Pastinya lebih keren kalo kita isi masa muda dengan kegiatan bermanfaat yang selalu terikat syariat dan bisa mencerahkan masa depan kita di dunia dan akherat. Di antaranya, dengan ikut dan aktif dalam pengajian. Yuk! [].