Selasa, 21 Maret 2023

CHOICE, CHANGE, CHAMPION


“Life is choice” begitu kalimat yang sering kita dengar, betul atau betul? Sadar nggak sadar konsep ini sebenarnya sudah sering kita praktekkan. Sejak kecil hingga dewasa senantiasa kita dihadapkan dengan berbagai pilihan. Bahkan tiap jam pun juga selalu bersinggungan dengan pilihan. Dari mau makan apa, pakai baju warna apa, sampai mau pilih lanjut SMA di mana juga bicara tentang pilihan. Selagi nyawa kita masih berhembus urusan pilih-memilih ini tidak akan pernah usai.

Jika kita sudah mewarnai Januari dengan berbagai resolusi yang kita tuliskan, mestinya di bulan Februari ini perjuangan juga terus dilanjutkan. Penelitian berbicara 90% orang gagal menjalankan resolusinya; 64% orang melupakan resolusinya di bulan kedua. Jangan sampai ya, resolusi kita untuk berubah jadi lebih baik di segala hal menjadi gagal hanya karena berbagai distraksi yang dihadapkan. Misalnya, yang kemarin punya resolusi bisa move on dari mantan kudu terus dilanjutkan nih, bahkan harus dinaikkan tarafnya bukan hanya move on tapi juga move up. 

Sedih deh pokoknya kalau bulan Februari gagal move on karena diajak ngerayain valentine. Kalau mau dianalogikan dengan proses pembentukan habits, sekali putus siklusnya akan ambyar selamanya. Hijrahmu pun demikian, jangan biarkan siklusnya putus sekali. Khawatir siklusnya putus ketika nafas kita berakhir berhembus. Wah, bisa su’ul khatimah jatuhnya nanti.

Memang cinta adalah fitrah, meski begitu bukan berarti karena cinta adalah fitrah bisa di ekspresikan seenaknya sob. Bayangin aja kalau fitrah diekspresikan seenaknya hasilnya akan terjadi kerusakan di mana-mana. Sobat sendiri juga tahu kan yang lagi trending di negeri ini? Anak-anak usia sekolah yang minta dispensasi nikah. Naudzubillah! Itu semua akibat pengekspresian cinta seenaknya. Tidak kah kita takut dengan peringatan dari Allah dan Rasul ”Jika zina dan riba tersebar luas di suatu kampung, maka sungguh mereka telah menghalalkan atas diri mereka sendiri azab Allah” (HR. Al-Hakim, Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani)

Supaya manusia mampu menjalankan tugasnya dengan baik di muka bumi ini, maka Allah memberikan kepada manusia potensi kehidupan yang terdiri dari akal, hajatul udhowiyah (kebutuhan jasmani) dan gharizah (naluri). Seperti yang kita ketahui sob, harta yang paling berharga yang dititipkan kepada manusia adalah akal. Akal juga lah yang membedakan manusia dengan hewan. Tidak ada satupun netizen yang protes jika ada hewan yang mengawini betina tanpa nikah dulu, karena memang hewan tidak Allah titipi akal. Tapi jika ada remaja yang menyerahkan kehormatannya dengan suka rela dalam ikatan pacaran jangan heran jika netizen banyak yang protes, karena manusia diberi akal, beda dengan hewan!

Sehingga keberadaan akal ini akan menjadi navigasi untuk memenuhi potensi yang Allah titipkan, itupun juga harus dibimbing dengan wahyu, karena kalau tidak akan kacau juga pemenuhannya, sebab akal tidak mampu membedakan baik-buruk, terpuji dan tercela jika tidak dipandu dengan Alquran.

Selanjutnya kita bicara tentang naluri dan kebutuhan jasmani. Meski keduanya sama-sama menuntut untuk dipenuhi tapi keduanya juga memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Pemenuhan kebutuhan jasmani hukumnya wajib, jika tidak dipenuhi efek terburuknya akan menimbulkan kematian. Karena karakteristik kebutuhan jasmani rangsangannya dari dalam tubuh kita sendiri contohnya makan, minum, buang hajat dll. Bayangin aja apa yang terjadi kalau kita pensiun minum selama tiga pekan, bisa pindah alam secara cepat alias mati he he he. Sedangkan jika kita bicara tentang naluri, jika tidak dipenuhi, tidak sampai menimbulkan kematian, melainkan hanya gelisah, karena rangsangannnya berasal dari luar. Nggak heran dong, jika konten yang sobat konsumsi serba uwu, channel yang kita subscribe tentang merah jambu nalurimu akan senantiasa membuncah menuntut pemenuhan, karena kita yang mengizinkan rangsangan itu menyapa terus menerus.

So, pengendalian naluri manusia khususnya dalam pembahasan ini, yakni gharizatun-nau (naluri melestarikan jenis) adalah choice yang harus dipilih, apa akan dipenuhi dengan cara yang Allah ridha dengan jalan pernikahan atau dengan pacaran, termasuk ikut merayakan valentine itu sendiri.

Tapi kan, aku belum siap menikah... Nah jika belum siap PR kita adalah menyiapkan Sob. Sebab pernikahan itu bukan hanya urusan menyatukan dua insan yang dimabuk cinta, melainkan juga terdapat tanggung jawab besar untuk menunaikan syariatnya Allah yang berkaitan dengannya. Jadi modal cinta aja nggak cukup, butuh modal ilmu, kematangan emosional dll.

Maka sesiapapun pemuda yang mengaku mencintai Allah dan Rasulnya harus berani mengambil arus anti mainstream yakni pernikahan tanpa diawali dengan pacaran. Agar waktu yang Allah karuniakan di usia muda benar-benar diisi dengan perjuangan penegakan agama Allah, bukan habis mikirin doi doang. Ingat ya sob usia muda adalah usia yang paling besar hisabnya. Begitulah Rasulullah mengingatkan kita “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya”(HR. Tirmidzi)

Nggak kebayang deh, mau jawab pertanyaan Allah pakai jawaban apa kalau usia muda kita habis buat caper di depan doi atau galau soalan doi juga. Betapa naifnya kita, bermaksiat dengan nikmat yang Allah Ta’ala berikan. Yuk saatnya kembali pada aturan yang sudah Allah turunkan. Tentunya dengan mengkaji Islam. Gimana ceritanya kita bisa tau apa yang Allah minta kalau nggak melakukan pengkajian? Mustahil sob.

Apa cukup hanya dengan mengkaji Islam? Tentu tidak. Karena se-shalih-shalihnya kita menjaga, kekuatan media menyebarkan konten-konten tidak senonoh lebih besar gaungnya. Sekarang deh sambil baca buletin ini, coba buka tik-tok, pasti yang viral kebanyakan yang tidak menutup aurat. Haduh miris! Maka langkah selanjutnya adalah amalkan hasil pengkajian Islam tadi kemudian didakwahkan kepada semua pemuda di negeri ini.

Pemuda harus bergerak, sebab karena budaya gaul bebas yang diimpor oleh peradaban Barat ke negeri ini membuat banyak muslimah di negeri ini statusnya gawat. Dari digoda lelaki buaya lewat chat-chatan mbangunin tahajjud sampai kehilangan identitasnya sebagai manusia mulia, sepotong coklat untuk menebus syahwat. Naudzubillah

Mari mewarnai Rajab dengan penuh ketaatan. Bulan mulia, bulan menuai pahala, bulan haram yang super luar biasa ganjarannya. Semoga sobat semua mampu untuk memerangi hawa nafsu dengan menjadi pemuda muslim original! Apa tuh? Pemuda dengan identitas aslinya sebagai hamba Allah yang memiliki tugas besar menjadi pemimpin di bumi, jangan biarkan bumi rusak karena pemudanya tidak taat pada aturan yang Allah turunkan.

https://temansurga.online/buletin-teman-surga-212-choice-change-champion/

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/koreapi1453/ 
Twitter - https://twitter.com/koreapi_1453?s=09
IG - https://instagram.com/koreapi.1453?igshid=3x7tpluws2nb
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar