Jumat, 28 Februari 2025

HIDUPKAN RAMADHANMU, JINAKKAN NAFSUMU!

Ramadhan datang lagi! Alhamdulillah. Bulan penuh berkah yang selalu ditunggu-tunggu umat Islam sedunia. Gimana nggak, hanya di bulan ini pahala diobral berlipat ganda, doa lebih mudah dikabulkan, dan pintu surga dibuka lebar.

Tapi, jujur aja nih ya, ternyata banyak dari kita yang masih ngeliat Ramadhan sebagai sekadar ritual tahunan. Bangun sahur setengah ngantuk, puasa sambil rebahan, ngabuburit sambil scrolling TikTok, terus buka puasa kayak balas dendam. Abis itu? Yaudah, lanjut begadang atau nonton series sampai sahur. Gitu aja tiap hari sampai malam takbiran.

Eits, kalau gini terus, sayang banget dong Ramadhannya? Padahal, bulan ini bisa jadi ajang upgrade diri buat jadi pribadi yang lebih baik. Bukan cuma soal nahan lapar dan haus, tapi juga nahan diri dari hal-hal yang bikin pahala puasa hangus.

Jadi, gimana caranya biar Ramadhan kita nggak gitu-gitu aja? Let's go kita bahas!

*# Kenali Musuh Utama: Nafsu yang Liar!*

Kita semua punya musuh utama yang harus ditaklukkan: hawa nafsu! Nafsu ini bukan cuma soal makanan atau minuman, tapi juga dorongan buat melakukan hal-hal yang kurang manfaat atau bahkan maksiat. Contohnya?

# Nafsu Makan: Lihat makanan dikit langsung kepikiran, buka puasa pengennya segala macam. Balas dendam.

# Nafsu Mager: Tarawih? Aduh, capek. Ngaji? Besok aja deh. Shalat? Nanti-nanti dulu.

# Nafsu Hiburan: Scroll medsos berjam-jam sampai lupa waktu, binge-watching drama Korea, atau mabar sampai sahur.

#Nafsu Emosi: Dikit-dikit emosi, gampang tersinggung, atau malah jadi tukang gibah.

Allah udah ngingetin kita soal pentingnya mengendalikan hawa nafsu dalam Al-Qur'an: "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya)." (TQS. An-Nazi'at: 40-41)

Imam Abu Hamid al-Ghazali pernah mengatakan dalam kitab Ihyâ’ ‘Ûlûmiddîn: “Kebahagiaan adalah ketika seseorang mampu menguasai nafsunya. Kesengsaraan adalah saat seseorang dikuasai nafsunya.”

Repotnya, nafsu itu tak mudah dikendalikan. Sepulang dari perang badar, Nabi ﷺ bersabda, “Kalian semua pulang dari sebuah pertempuran kecil dan bakal menghadapi pertempuran yang lebih besar. Lalu ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ, ‘Apakah pertempuran akbar itu, wahai Rasulullah?’ Rasul menjawab, ‘jihad (memerangi) hawa nafsu’.”

Lantas bagaimana caranya mengendalikan hawa nafsu? Rasulullah saw mengingatkan dalam sabdanya, Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (HR al-Hakim, al-Khathib, Ibn Abi ‘Ashim dan al-Hasan bin Sufyan).

Dari hadits ini, kita dapat petunjuk kalo yang bisa menjinakkan hawa nafsu itu adalah keimanan yang ditunjukkan dengan mengikuti syariat. Ini pas banget dengan momen Ramadhan. Suasana bulan suci mendukung kita untuk lebih beriman, banyak beramal sholeh, dan taat syariat. Cocok!

*# Hidupkan Ramadhanmu Nafsu Mati Kutu*

Cara praktis yang diajarkan Rasulullah saw untuk mengendalikan hawa nafsu itu dengan puasa. Nafsu itu ibarat kayu kering, sementara makanan adalah bahan bakarnya. Api yang menjalar pada kayu itu akan kian berkobar ketika bahan bakar disuplai tanpa batas. Untuk memadamkan api yang berkobar, caranya mudah. Kurangi bahan bakarnya, perlahan api akan mengecil bahkan padam. Seperti itulah yang terjadi saat orang berpuasa.

Sebelum Ramadhan, kita bisa menunaikan puasa sunah untuk mengendalikan nafsu. Mulai dari puasa senin kamis, puasa tengah bulan (ayamul bidh), atau sekalian puasa Daud. Tapi bulan suci ini, bagi kita yang sudah baligh, berpuasa itu wajib. Tentunya jangan cuma puasanya doang yang naik level dari sunnah menjadi wajib. Tapi juga mesti diikuti dengan ibadah lainnya. Coba tantang diri sendiri:

# Bisa nggak shalat selalu di awal waktu?

# Bisa nggak tarawih full sebulan?

# Bisa nggak khatam Qur'an minimal sekali?

Jangan cuma jadikan ibadah sebagai formalitas, tapi benar-benar nikmati. Ingat, Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang mendirikan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari & Muslim)

Untuk lebih menghidupkan Ramadhan, kita mesti kurangi yang namanya waktu ‘toxic’. Apaan tuh?  Waktu luang yang bisa memancing kita untuk beraktifitas yang minim pahala. Ngerasa gak ada hal-hal penting untuk dikerjakan, larinya ke gadget.

Emang sih, hari gini gadget nggak bisa dipisahkan dari tangan eh kehidupan kita. Tapi jangan sampai kita jadi budak teknologi. Coba deh, kurangi alokasi waktu kita untuk:

# Scrolling medsos berlebihan bin gaje yang nggak ada manfaatnya.

# Konten toxic yang bikin hati makin keras (drama, gosip, atau konten negatif).

# Game nonstop sampai lupa ibadah.

Sebaliknya, konversi waktu luang itu dengan yang lebih berkualitas dan berpahala mumpung bulan puasa:

# Dengarkan kajian atau podcast Islami.

# Ikut tantangan one-day-one-juz atau hafalan surat pendek.

# Gunakan medsos untuk menyebarkan konten dakwah

Allah SWT mengingatkan dalam firman-Nya: "Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran." (TQS. Al-‘Asr: 1-3)

Tuh kan, jangan sampai kita termasuk golongan orang yang merugi apalagi di bulan puasa. Buang-buang waktu berharga dan seret dari kegiatan berpahala. Double ruginya!

Makanya, pahami kalo ramadhan itu bukan waktunya jadi anak gabut yang cuma rebahan dan asocial alias nggak peduli sekitar. Justru ini saatnya buat lebih banyak berbagi dan berbuat baik:

# Bagi takjil ke tetangga atau orang yang membutuhkan.

# Bantu kerjaan rumah biar nggak cuma ibu yang repot.

# Jadilah teman yang baik, bukan tukang drama atau biang gosip.

Kalo rangkaian kegiatan positif di atas kita kerjakan selama Ramadhan, insya Allah hawa nafsu bakal mati kutu dibuatnya. Nggak ada waktu untuk memanjakan syahwat yang menyimpang dan nyerempet maksiat. Saatnya jadi versi terbaik dari diri kita sendiri.

Sebagai muslim sejati, jangan sampai menyia-nyiakan Ramadhan yang datangnya setahun sekali. Saatnya bagi kita untuk berbenah diri. (1) Upgrade ibadah biar lebih dekat dengan Allah, (2) Kurangi kebiasaan toxic yang bikin kita rugi, (3) Banyak berbagi dan peduli sama sesama, (4) Stop pacaran selamanya, (5) Jaga lisan dan hati supaya lebih bersih, (5) Kenali Islam lebih dalam. Agar setelah Ramadhan, kita bener-bener menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Nggak pake lama, yuk hidupkan Ramadhanmu dan Jinakkan nafsumu. Gass! []

_Buletin Teman Surga Edisi #269 (Syaban 1446 / Februari 2025)_

https://buletintemansurga.com/buletin-teman-surga-269-hidupkan-ramadhanmu-jinakkan-nafsumu/

LITERASI PENGGUNCANG DUNIA

"Islam tidak akan berjaya tanpa ilmu, dan ilmu tidak akan berkembang tanpa literasi." – Ibnu Rushd

Kebangkitan sebuah bangsa kalo mengandalkan kekuatan fisik, nggak akan awet. Giliran kekuatannya melemah dimakan usia, tak ada regenerasi, perlahan-lahan predikat bangsa terkuat hanya tinggal sejarah.

Sebaliknya, jika kebangkitan sebuah bangsa ditopang oleh peningkatan taraf berfikir, niscaya akan kokoh tanpa mengenal masa kadaluarsa. Dan taraf berfikir seseorang itu dipengaruhi oleh kemampuan mendasar dalam membaca dan menulis. Kemampuan ini yang erat kaitannya dengan dunia literasi.

Nggak heran kalo studi yang dilakukan oleh David McClelland, seorang psikolog sosial asal Amerika, menunjukkan bahwa literasi memengaruhi kemajuan suatu bangsa. Ia membandingkan perkembangan Inggris dan Spanyol pada abad ke-16 dan menemukan bahwa buku-buku di Inggris pada masa itu mengandung "virus" yang mendorong pembacanya untuk berprestasi.

Sementara buku-buku di Spanyol didominasi oleh cerita romantis yang membuat pembacanya kurang termotivasi untuk maju. Hal ini berkontribusi pada kemajuan Inggris dibandingkan Spanyol pada periode tersebut. Bagaimana dengan Islam?

*# Literasi Islam Mengguncang Dunia*

“Rata-rata tingkat kemampuan literasi (kemampuan melek huruf membaca dan menulis) Dunia Islam di abad pertengahan lebih tinggi daripada Byzantium dan Eropa. Karya tulis ditemukan di setiap tempat dalam peradaban ini.” (Jonathan Bloom & Sheila Blair, Islam - A Thousand Years of Faith and Power, Yale University Press, London, 2002, p-105).

Pernyataan penulis Barat di atas menguatkan pengakuan Jacques C. Reister, seorang sejarahwan Barat tentang ketinggian peradaban Islam, “Selama lima ratus tahun Islam menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan dan peradabannya yang tinggi.”

Pengakuan para ilmuwan Barat tentang ketinggian peradaban Islam terutama yang berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sangat dipengaruhi oleh kuatnya budaya literasi.

Budaya literasi dalam sejarah peradaban Islam telah melahirkan banyak Ilmuwan polymath (menguasai beberapa bidang ilmu) yang berjasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia. Sebut saja Al Farabi (872-950 M) seorang ahli Filsafat, Logika, Matematika,  Ilmu Alam, Teologi, Ilmu Politik dan Kenegaraan. Atau Al Batani (858-929 M) ahli Astronomi dan ahli Matematika. Ada juga Ibnu Tsina (980-1037 M) ahli Kedokteran,  Ibnu Batutah (1304-1369) seorang pengembara dan pengarang kisah fiksi, atau Ibnu Rusyd (1126-1198 M) ahli Filsafat, Kedoteran, dan Fiqih. Dan masih banyak lagi.

Kalo buku dianggap sebagai salah indikator kemajuan sebuah bangsa seperti studi yang dilakukan oleh David McClelland di atas, maka Islam juaranya. Karena peradaban Islam menjadi peradaban gilang-gemilang paling depan yang ditopang oleh buku. Ini bukan omon-omon lho. Bukti sejarah menunjukan para khalifah Islam pada masa lalu memahami benar hal ini.

Pada abad ke-10, misalnya, di Andalusia saja terdapat 20 perpustakaan umum. Yang terkenal di antaranya adalah Perpustakaan Umum Cordova, yang saat itu memiliki tidak kurang dari 400 ribu judul buku. Ini termasuk jumlah yang luar biasa untuk ukuran zaman itu.

Padahal empat abad setelahnya, dalam catatan Chatolique Encyclopedia, Perpustakaan Gereja Canterbury saja, yang terbilang paling lengkap pada abad ke-14, hanya miliki 1800 judul buku. Jumlah itu belum seberapa, apalagi jika dibandingkan dengan Perpustakaan Darul Hikmah di Kairo yang mengoleksi tidak kurang 2 juta judul buku. Perpustakaan Umum Tripoli di Syam—yang pernah dibakar oleh Pasukan Salib Eropa—bahkan mengoleksi lebih dari 3 juta judul buku, termasuk 50 ribu eksemplar al-Quran dan tafsirnya.

Dari perpustakaan-perpustakaan itulah dimulainya penerjemahan buku-buku, yang dilanjutkan dengan pengkajian dan pengembangan atas isi buku-buku tersebut. Dari sini pula sesungguhnya dimulainya kelahiran para ilmuwan dan cendekiawan Muslim yang kemudian melahirkan karya-karya yang amat mengagumkan, yang mereka sumbangkan demi kemajuan peradaban Islam saat itu. Bahkan kegemilangan budaya literasi dalam khazanah peradaban Islam digunakan sebagai referensi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Eropa.

Salah satu karya di bidang medis yang paling penting yang diterjemahkan adalah The Canon of Medicine (1025) karya Ibnu Sina. Buku ini tetap menjadi buku teks medis standar di Eropa hingga periode awal masa modern, selama abad ke-15 dan ke-16.

Tanpa kehadiran para ilmuwan dan cendekiawan Muslim yang telah mewariskan peradaban yang sangat agung, kemajuan peradaban Barat saat ini tidak mungkin terjadi. Secara jujur, hal ini diakui oleh salah seorang cendekiawan Barat sendiri, yakni Emmanuel Deutscheu yang asal Jerman itu. Ia mengatakan, “Semua ini (yakni kemajuan peradaban Islam) telah memberikan kesempatan baik bagi kami untuk mencapai kebangkitan (renaissance) dalam ilmu pengetahuan modern.”

*# Literasi, Harga Mati!*

Bukan tanpa sebab kalo literasi dunia Islam mampu mengguncang dunia. Lantaran mencari ilmu diwajibkan sejak seorang manusia lahir hingga meninggal dunia, dan umat Islam diwajibkan mencari ilmu walau harus pergi ke negeri China. Dengan ilmu yang dimilikinya, mereka diharapkan dapat menjadi pelita bagi yang lain, dan dapat beramal shaleh. Kebaikannya akan terus mengalir baik di dunia maupun di akhirat. Menjadi sebaik-baiknya manusia yang paling bermanfaat bagi yang lain.

Selain kewajiban mencari ilmu, Islam juga adalah agama yang memerintahkan untuk memuliakan orang yang berilmu. Rasulullah SAW bersabda : “Jadilah engkau orang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang yang menyukai ilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka” (HR. Baihaqi).

Rasulullah SAW memerintahkan umatnya menjadi ‘Alim (orang berilmu, guru, pengajar). Jika belum sanggup, jadilah Muta’allim (orang yang menuntut ilmu, murid, pelajar, santri) atau menjadi pendengar yang baik (Mustami’an), paling tidak. menjadi Muhibban atau pecinta ilmu, simpatisan pengajian, donatur lembaga dakwah dan pendidikan dengan harta, tenaga, atau pikiran, atau mendukung majelis-majelis ilmu.

Dan Rasulullah  SAW menegaskan, jangan jadi orang kelima (Khomisan), yaitu tidak jadi guru, murid, pendengar, juga tidak menjadi pendukung. Celakalah golongan kelima ini.

Hmm…. Segitunya Islam memuliakan ilmu dan orang yang berilmu. Nggak heran kalo literasi Islam mampu mengguncang dunia. Kini giliran kita, selaku umatnya untuk kembali menyalakan literasi Islam. Baca buku dan tulisan bermanfaat guna menambah wawasan. Sehingga nggak mati kutu ketika mau menuangkan isi pikiran dalam bentuk tulisan.

Memang perlu waktu tak sebentar untuk menghidupkan kembali literasi Islam. Namun langkah pertama kita menjadi bagian dari pembaca dan penulis, meski newbie, akan berdampak positif pada perkembangan literasi Islam di masa depan. Jadi, yuk kita mulai dengan getol membaca dan rajin menulis. Literasi harga mati. Gaskeun! []

_Buletin Teman Surga Edisi #268 (Syaban 1446 / Februari 2025)_

https://buletintemansurga.com/buletin-teman-surga-268-literasi-pengguncang-dunia/

HIDUPKAN BUDAYA LITERASI DI SEKOLAH

_Laporan index minat baca yang kau rilis berulangkali/ Telah menyentak seluruh jiwa dan hati sanubari/ Menampar rona merah muka anak negeri/ Yang baru saja merangkak meraih mimpi //_
 
_Nilai yang kau beri sungguh tak bisa kumengerti/ Yang telah melempar harga diri ke bawah titik nadir sampai mati/ Bagaimana bisa hal ini terjadi/ Menimpa seluruh anak negeri yang sedang merajut mimpi //_

Penggalan puisi karya pegiat literasi Pak Idris Apandi, M.Pd bertajuk Literasi Atau Mati! di atas, cukup menggambarkan kondisi dunia literasi dalam negeri. Memprihatinkan. Gimana nggak, berdasarkan studi "Most Littered Nation In the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61).

Hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022 juga menempatkan posisi membaca siswa Indonesia di urutan ke 69 dari 80 negara yang yang terdaftar dalam penilaian PISA 2022 oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Dan peringkat ke-6 dari 8 negara Asean yang berpartisipasi.

Dilaporkan, skor literasi membaca di Indonesia hanya sebesar 359 poin pada tahun 2022. Capaian ini tercatat lebih rendah dibanding tahun 2018 yang memiliki skor 371 poin. Bahkan jika ditelisik lebih jauh, skor literasi membaca Indonesia juga lebih rendah dibandingkan capaian pada tahun 2000. Ini menjadikan skor literasi 2022 Indonesia sebagai rekor terendah sejak awal berpartisipasi dalam PISA.

Sebagai informasi, studi PISA ini melibatkan sebanyak 14.000 pelajar di Indonesia berusia 15 tahun kelas VIII di tingkat SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan kelas X di tingkat SMA (Sekolah Menengah Atas) atau SMK (Sekolah Menengah Kejuruan). Sementara, data PISA tahun 2022 diambil pada periode Mei-Juni 2022.

Ngeri juga kalo skor literasi Ibu Pertiwi terus menukik tajam. Bagaimana wajah masa depan negeri kita jika kualitas literasinya anjlok dibawah rata-rata. Padahal budaya literasi yang telah mengawal perjuangan para pahlawan kemerdekaan. Literasi juga yang telah melahirkan seorang Buya Hamka, maestro sastra Islam Indonesia yang mendunia. Lantas, apa kabar literasi pelajar?

*# Menyala Literasi Sekolahku!*

Bagi yang belum tahu, literasi itu berkaitan dengan minat baca dan kemampuan mengolah kata. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia online, arti kata literasi adalah kemampuan menulis dan membaca. Secara harfiah, “literacy” berasal dari bahasa Latin yaitu “literatus” artinya “a learned person” yaitu orang yang belajar, atau bahasa Latin lainnya yaitu “litera”(huruf) serta dari kamus Merriam – Webster disebut “literature”dan bahasa Inggris “letter”.

Budaya literasi erat kaitannya dengan dunia pendidikan. Gimana nggak, kegiatan menulis dan membaca sebagai bentuk literasi dasar, udah jadi cemilan harian generasi pelajar. Makanya, miris kalo kita ngeliat siswa siswi yang notabene generasi terdidik, minat baca bukunya minim dan tradisi menulisnya pudar.

Untuk itu, harus ada langkah nyata yang bisa dilakukan oleh sekolah selaku tempat belajar formal untuk menghidupkan kembali budaya literasi. Berikut beberapa kegiatan yang bisa jadi pilihan.

*# Jadwal Wajib Kunjung Perpustakaan*

Jadwal berkunjung ke perpustakaan adalah contoh program gerakan literasi pertama yang bisa dilaksanakan di sekolah. Program ini bisa diterapkan dengan cara menyusun jadwal agar setiap kelas bisa mengunjungi perpustakaan. Bisa perpustakaan sekolah atau perpustakaan daerah.

Bukan hanya berkunjung saja, tetapi wajibkan pula siswa untuk meminjam buku. Lalu  menuliskan resume dari beberapa lembar buku yang telah dibacanya. Kemudian wajibkan pula siswa untuk mengembalikan buku.

*# Pemberdayaan Mading Setiap Kelas*

Pemberdayaan mading di setiap kelas ini bisa dilakukan dengan cara mewajibkan siswa untuk membaca bebas ataupun mencari referensi apapun di sekitar sekolah setidaknya selama 10 menit.

Setelah itu, wajibkan siswa untuk membuat laporan, karangan ataupun resum dari apa yang dibacanya ataupun diamatinya, dan hasilnya tempelkan pada mading kelas. Sebagai langkah awal, program ini bisa dilakukan setiap seminggu sekali.

*# Membaca Buku Non Pelajaran Sebelum Proses Belajar Dimulai*

Buku non pelajaran yang dimaksudkan di sini bisa berupa buku cerita, novel ataupun buku jenis lain yang lebih mengajarkan nilai budi pekerti, norma agama, dan lain-lain yang lebih disesuaikan pada tahap perkembangan siswa.

*# Posterisasi Sekolah*

Membuat poster-poster yang berisi ajakan, motivasi maupun kata mutiara yang ditempel atau digantung di beberapa spot di kelas atau di sekolah. Ini bisa memancing kreatifitas siswa untuk mengabadikan kata mutiara sendiri atau tokoh idolanya.

# Membuat Sudut Baca di beberapa tempat di sekolah

Sudut baca merupakan suatu tempat khusus di bagian kelas/sekolah yang menyediakan kumpulan buku bacaan dan tempat duduk yang nyaman untuk membaca. Tempatnya bisa di depan kelas, pojok kelas, samping kantin, depan ruang guru, samping mushola sekolah, dll.

*# Membuat Buletin atau Koran Sekolah*

Buletin atau koran sekolah bisa jadi media penyaluran hobi literasi siswa. Mulai dari cerpen, liputan kegiatan, opini remaja, hingga puisi. Media sekolah ini bisa diterbitkan setiap bulan. Siswa juga bisa belajar menjadi jurnalis media massa.

*# Diskusi Pegiat Literasi*

Acara bedah buku atau meet and greet dengan pegiat literasi bisa semakin mendekatkan pelajar dengan dunia kepenulisan. Banyak inspirasi dan motivasi yang bisa didapat para siswa agar semangat literasi tetap manyala.

*# Mengadakan Lomba Duta Literasi Sekolah*

Agenda Lomba Duta Literasi sekolah merupakan salah satu program alternatif untuk memotivasi anak dalam ber-literasi. Beberapa kriteria untuk menjadi Duta Literasi Sekolah antara lain adalah siapa peminjam buku perpustakaan terbanyak dalam satu semester / siapa yang berhasil menyelesaikan banyak buku untuk dibaca dalam satu semester dll.

*# Mengadakan Lomba Karya Literasi Antar Kelas*

Lomba Karya Literasi antar kelas juga bisa menjadi salah satu program gerakan literasi sekolah yang menarik. Lombanya bisa berupa lomba mading antar kelas, lomba poster antar kelas, lomba membuat pohon literasi antar kelas, dll.

Apapun pilihan kegiatannya, semoga bisa kesampaian ya di setiap sekolah. Bukan apa-apa, biar generasi muda khususnya pelajar terbiasa baca buku dan menuangkan ide dalam bentuk tulisan. Kalo udah gitu, bisa jadi akan lahir para calon pejuang literasi yang akan menginspirasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia. Menyala literasi sekolahku. Gaas! []

_Buletin Teman Surga Edisi #265 (Rajab 1446 / Januari 2025)_

https://buletintemansurga.com/buletin-teman-surga-265-hidupkan-budaya-literasi-di-sekolah/

GAZA MEMANGGIL: #AYNULMUSLIMUN?!

Masih ingat peristiwa Badai Aqsa alias Taufan AL-Aqsha 07 Oktober 2023 silam?

Anggota Biro Politik dan Kepala Kantor Hubungan Arab dan Islam gerakan Hamas, Khalil Al-Hayya, mengatakan bahwa aksi heroik Badai Al-Aqsa membangkitkan semangat jihad Palestina.

“Pada tanggal 7 Oktober, kami dan gerakan perlawanan lainnya mengarahkan serangan strategis terhadap pasukan Zionis di tingkat keamanan dan militer, untuk menunjukkan kegagalan penjajah dan bahwa kehadirannya tidak memiliki masa depan di tanah Palestina,” imbuhnya.

Menurut data PBB, udah lebih dari satu tahun, Agresi pendudukan tentara Zionis yang terus berlanjut terhadap Gaza telah menyebabkan 41.870 orang gugur sebagai syuhada, melukai 97.166 orang lainnya, dan mengungsinya 90% populasi Jalur Gaza. Apa artinya data ini bagi kita sesame muslim? Kebencian musuh-musuh Islam itu nyata!

Coba dengar baik-baik, Gaza Memanggil: #AynulMuslimiun?!

*# Islam Menjawab*

Kalo kita ngerasa panggilan dari Gaza itu sebatas kampanye kemanusiaan, sama seperti mereka yang bukan sesama saudara muslim. Tak ada dorongan kuat untuk merespon panggilan muslim di Gaza. Acuh tak acuh. Apalagi kalo tinggalnya jauh dari Palestina. Cuek bebek.

Beda cerita kalo sejatinya kita bagian dari umatnya Muhammad yang mulia. Islam mengajarkan kita agar peduli dengan nasib sesama muslim di manapun berada. Tak dibatasi oleh sekat-sekat negara. Karena kita satu saudara.

Persaudaraan kita sesama muslim itu diikat oleh keyakinan yang sama akan keesaan Allah swt dan kerasulan Muhammad saw. Keyakinan yang membangun akidah ini menguatkan keimanan kita dan kepedulian kepada sesama muslim yang diibaratkan seperti satu tubuh. Sehingga kita merasakan sakit dan pedihnya penderitaan muslim di Gaza. Rasulullah saw kembali mengingatkan,

”Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit, seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Kalo salah satu bagian dari tubuh kita sakit, pastinya organ tubuh lain akan merespon dengan cepat tanpa perintah. Misal Ketika kaki kita tanpa alas menginjak pecahan kaca yang berakibat luka di telapak, secara otomatis mulut kita akan berteriak mengaduh. Tangan kita refleks memegang bagian yang luka agar tidak banyak keluar darah. Zat antibodi dalam tubuh kita membentuk benteng agar luka tidak infeksi. Seperti itulah solidaritas dalam satu tubuh.

Karena itu, jika kita mendengar Gaza Memanggil, tanpa delay kita berusaha meresponnya dengan memberikan pertolongan sesuai dengan kemampuan kita. Bukan cuman untuk kebaikan mereka, tapi juga kebaikan kita karena kita satu tubuh. Seperti itulah cerminan saudara sesama muslim.

*# Umat Islam Bergerak*

Dalam Islam, hilangnya nyawa seorang muslim tanpa alasan syar’i itu lebih berat urusannya dibanding hancurnya dunia dan seisinya. Nabi Muhammad saw bersabda: “Kehancuran dunia ini lebih ringan di sisi Allah dibandingkan dengan pembunuhan seorang Muslim.” (HR: an-Nasa’i).

Makanya, nggak heran kalo pembelaan terhadap nyawa seorang muslim yang melayang oleh perilaku keji musuh Islam bukan kaleng-kaleng. Seperti ditunjukkan Rasulullah saw terhadap kaum Yahudi Bani Qainuqa.

Di dalam Kitab Tarikh Ibnu Hisyam dikisahkan, suatu hari, ada seorang Muslimah yang datang ke Pasar Bani Qainuqa’. Ia hendak melakukan transaksi jual beli dengan salah satu pedagang Yahudi.

Tanpa sepengetahuan Muslimah itu, datanglah seorang Yahudi lainnya, menghampirinya, dan mengikat ujung kerudungnya. Sehingga ketika Muslimah tersebut berdiri, maka tersingkaplah auratnya.

Orang-orang Yahudi di sekitarnya pun tertawa. Muslimah ini pun berteriak, lalu datanglah seorang sahabat Muslim membelanya. Terjadilah perkelahian antara Muslim dan Yahudi, dan terbunuhlah Yahudi yang mengganggu Muslimah tadi. Melihat hal itu, orang-orang Yahudi tidak tinggal diam. Mereka mengeroyok sahabat Muslim tadi hingga ia pun terbunuh.

Sampailah kejadian tersebut kepada Rasulullah saw, tentang adanya pelanggaran yang sangat besar, yaitu gangguan orang Yahudi yang bermaksud membuka aurat Muslimah. Ditambah terbunuhnya seorang sahabat yang dikeroyok beberapa orang Yahudi, karena sahabat tadi berusaha membela Muslimah.

Lalu Rasulullah saw pun segera mengumpulkan para sahabatnya dan mempersiapkan pasukan perangnya. Beliau memberikan bendera perang kepada Hamzah bin Abdul Muthalib, sahabat yang dikenal dengan “Asadullah” (Singa Allah).

Pasukan kaum Muslimin pun menuju Bani Qainuqa. Kaum Muslimin pun melakukan pengepungan terhadap benteng Bani Qainuqa’, dimulai pada pertengahan bulan Syawal, tahun 2 H, dan berakhir pada tanggal 1 Dzulqa’dah tahun yang sama. Ketika itu Bani Qainuqa’ menyerah dan tunduk kepada putusan Rasulullah saw.

Pasca Rasulullah saw wafat, pembelaan terhadap nyawa seorang muslim tak lekang oleh waktu. Pada tahun 837, Khalifah al-Mu’tasim Billah menyahut seruan seorang budak muslimah yang konon berasal dari Bani Hasyim yang sedang berbelanja di pasar, yang meminta pertolongan karena diganggu dan dilecehkan oleh orang Romawi. Kainnya dikaitkan ke paku sehingga ketika berdiri, terlihatlah sebagian auratnya.

Wanita itu lalu berteriak memanggil nama Khalifah Al-Mu’tashim Billah: “waa Mu’tashimaah!” (di mana engkau wahai Mutashim… Tolonglah aku!)

Setelah mendapat laporan mengenai pelecehan ini, maka sang Khalifah pun menurunkan puluhan ribu pasukan untuk menyerbu kota Ammuriah (Turki). Seseorang meriwayatkan bahwa panjangnya barisan tentara ini tidak putus dari gerbang istana khalifah di kota Baghdad hingga kota Ammuriah (Turki), begitu besarnya pasukan yang dikerahkan oleh khalifah.

Catatan sejarah menyatakan di bulan April, 833 Masehi, kota Ammuriah dikepung oleh tentara Muslim selama kurang lebih lima bulan hingga akhirnya takluk di tangan Khalifah al-Mu’tasim pada tanggal 13 Agustus 833 Masehi.

Sebanyak 30.000 prajurit Romawi terbunuh dan 30.000 lainnya ditawan. Pembelaan kepada Muslimah ini sekaligus dimaksudkan oleh khalifah sebagai pembebasan Ammuriah dari jajahan Romawi.

Lantas apa yang bisa kita lakukan untuk menjawab panggilan dari Gaza? Kalo kita punya pasukan militer, nggak pake lama langsung kirimkan ke Palestina untuk mengusir zionis Yahudi.

Kalo gak punya, selain mengirimkan doa atau bantuan kemanusiaan, kita mesti aktif terlibat dalam dakwah. Agar umat Islam yang banyak namun bagai buih di lautan ini bangun dan bersatu mengembalikan kepemimpinan Islam sedunia. Kepemimpinan yang akan mengayomi, melindungi, dan membela umat Islam tanpa kecuali. Seperti yang dilakukan Rasulullah saw dan khalifah al-Mu’tashim.

Jangan dianggap sepele aktifitas dakwah kita dengan mengaji rutin setiap pekan, mengenal Islam lebih dalam. Aktif memviralkan konten dakwah di sosial media. Gencar membagikan buletin Teman Surga. Semuanya menunjukan keberpihakan dan kepedulian kita pada muslim Gaza dan umat Islam seluruh dunia. #AynulMuslimiun? Here We Come..!!! []

_Buletin Teman Surga Edisi #264 (Jumadil Akhir 1446 / Desember 2024)_

https://buletintemansurga.com/buletin-teman-surga-264-gaza-memanggil-aynulmuslimun/

Selasa, 26 November 2024

GURU, ENGKAU PENYELAMATKU

Masa demi masa terus berganti. Hingga kini tibalah era digitalisasi. Di mana gelombang informasi deras menghampiri. Mau tahu tentang apa saja tak perlu ke mana-mana. Cukup usap smartphone dalam genggaman, maka semua yang kita butuhkan telah tersedia. Namun demikian, wajib kita sadari bahwa peran guru tidak akan pernah terganti oleh kecanggihan digitalisasi.

Ya, guru adalah sosok yang istimewa. Ia memang tidak akan selalu menuruti kemauan kita sebagaimana dunia maya. Tetapi guru akan selalu ada untuk memenuhi kebutuhan kita agar sukses sebagai manusia, memiliki takwa, hingga selamat di dunia sampai akhirat kelak. Guru adalah pelita dalam gulita rimbanya kehidupan. Guru tidak akan pernah tergantikan oleh kecanggihan zaman. Selamat hari guru. Guru, engkaulah penyelamatku.

*# Refleksi Diri Sebagai Murid*

Guys, di momen hari guru ini alangkah baiknya kita merenung. Merefleksi diri kita, apakah sudah menjadi murid yang baik bagi guru-guru kita? Mengingat, di era saat ini moralitas seolah tercampak tak berbekas. Begitu mudah melawan bahkan mengancam guru tercinta. Nastagfirullah, semoga hal ini tidak dilakukan oleh Teman Surga ya, aamiin!

Namun kita juga tidak boleh menutup mata, ternyata banyak di luar dari kita yang bangga ketika melawan kepada gurunya. Seolah kebal dosa dan malah jadi merajalela. Padahal, sebagai seorang murid harusnya bersikap sopan dan baik kepada gurunya. Agar sang guru meridhainya dan ilmu yang diberikan pun menjadi berkah.

Kita harus ingat selalu, bahwa masuk ke sekolah dan melalui jenjang demi jenjang itu bukanlah sekadar untuk dapat informasi tentang banyak ilmu. Melainkan juga ada proses pendidikan di dalamnya yang diberikan oleh guru. Kita diajarkan tentang kedisiplinan, kejujuran, sopan santun, kebijaksanaan, tanggung jawab, dan banyak lagi lainnya yang ini tidak akan kita dapatkan dari Google. Karena untuk membentuk karakter itu tidak hanya butuh informasi semata. Tetapi juga butuh adanya rasa serta keteladanan. Ini hanya bisa didapatkan jika kita berinteraksi dengan guru.

Jadi bagaimana interaksi kita kepada guru selama ini? Semoga senantiasa terjaga dengan baik dari hari ke hari. Karena keberkahan ilmu kita tergantung dari keridaan guru-guru kita.

*# Hormat Kepada Guru*

Guys, kita harus selalu ingat bahwa keridaan guru itu sangat penting dalam hidup kita. Oleh karena itu, Imam Az-Zarnuzi dalam kitabnya yang begitu populer yakni Ta’limul Muta’allim, menjabarkan tentang bagaimana adab seorang murid kepada guru. Hal ini ditujukan agar para penuntut ilmu peroleh keberkahan ilmu untuk keselamatan hidup di dunia hingga akhirat nanti. Yuk kita simak ulasannya!

# Pertama, sebagai bentuk penghormatan kita kepada guru adalah dengan tidak berjalan di depannya. Jika ada guru yang hendak berjalan, maka hendaknya kita dahulukan beliau. Kemudian kita berjalan di belakangnya.

# Kedua, tidak menduduki tempat duduk guru. Ini adalah adab yang jarang diketahui oleh murid. Setelah ini, maka harus selalu diingat ya. Bahwa kita harus menahan diri agar tidak duduk-duduk di tempat guru kita.

# Ketiga, tidak memulai pembicaraan di hadapan guru kecuali jika diberi izin olehnya. Nah, ini nih yang sering banget kebablasan. Guru udah masuk ke kelas, tapi muridnya masih pada asyik ngobrol. Bahkan guru sedang serius menjelaskan, kita malah asyik cengengesan bercanda sama teman. Ingat, ini bentuk tidak menghormati guru. Jangan ya dek ya. Bisa jadi dosa!

# Keempat, tidak banyak berbicara di hadapannya. Ingat selalu, bahwa kita sedang berhadapan dengan guru. Jangan sekali-sekali menyamakan guru kita dengan teman bermain ya Bestie. Kudu ada batasannya. Harus tetap jaga adab kepadanya.

# Kelima, menghormati anak ataupun kerabat guru. Ini juga bagian dari penghormatan kepada guru ya Guys. Jadi kita juga harus jaga sikap dan adab kepada keluarga guru kita. Enggak boleh semena-mena, ya.

Nah ini beberapa adab yang harus kita biasakan kepada guru. Kesimpulannya adalah seorang penuntut ilmu harus mencari keridhaan gurunya. Berupaya menjauhi apa-apa yang membuat guru murka. Selalu berusaha melaksanakan perintah guru selama perintah itu bukan kemaksiatan ya Guys ya. Sebab kita tidak boleh taat kepada makhluk dalam rangka bermaksiat kepada Allah SWT. So, tetap ada batasan dalam mentaati guru ya guys ya. Jangan sampai mentang-mentang mau taat sama guru, malah jadi bermaksiat seperti berita viral beberapa waktu lalu. Naudzubillah. Bukan gitu juga konsepnya ya guys ya!

*# Guru, Engkau Penyelamatku*

Guys, udah jelas ya bahwa kedudukan guru itu sangat mulia. Tidak bisa disamakan atau dibandingkan denga kecanggihan teknologi manapun. Guru memiliki naluri dan hati dalam mendidik kita. Guru memahami apa yang kita butuhkan untuk keselamatan dunia dan akhirat kita. Maka sekali lagi, jangan pernah meremehkan guru-guru kita.

Di dalam kitab Ta’limul Muta’allim juga dituliskan sebuah syair, ”Sesungguhnya guru dan dokter itu, keduanya tidak akan memberikan nasihat jika tidak dihormati. Tahanlah sakitmu jika kamu kasar terhadap dokter. Dan nikmatilah kebodohanmu jika kamu kasar terhadap gurumu.”

Demikianlah kemuliaan seorang guru. Maka berhati-hatilah kita agar tidak terbenam dalam kebodohan. Jangan sampai kita menyakiti hati guru. Karena jika hati guru tersakiti, maka kita akan terhalang dari keberkahan ilmu. Kita tidak akan dapat mengambil manfaat ilmu tersebuat kecuali hanya sedikit. Hal ini tentu akan sangat berbahaya bagi kita dalam menghadapi kehidupan dunia apalagi akhirat kelak.

So, manfaatkan kesempatan yang ada sebaik mungkin. Jaga perasaan guru-guru kita. Mintalah doa dan ridanya. Inshaallah, guru-guru kita akan menjadi penyelamat di dunia hingga akhirat. Wallahu’alam. []

https://buletintemansurga.com/buletin-teman-surga-263-guru-engkau-penyelamatku/

Minggu, 24 November 2024

APATIS NO, KRITIS YES!

Peran pemuda dalam kebangkitan bangsa nggak bisa dipandang sebelah mata. Banyak ulama sudah mengingatkan akan hal ini.

Syaikh Ibn Jibrin bilang, "Pemuda adalah harapan bangsa. Jika pemudanya rusak, maka rusaklah seluruh masyarakat." Begitu juga dengan Imam Al-Ghazali, "Pemuda adalah cerminan masa depan. Jika pemudanya baik, maka masa depan akan cerah."

Itu artinya, generasi muda muslim saat ini secara alaminya akan menjadi bagian dari pemegang estafet kepemimpinan umat di masa depan.

Kalo pemudanya peduli dan optimis menatap masa depan, insya Allah kebaikan akan diraih negeri ini. Sebaliknya, kalo pemudanya cenderung individualis bin egosentris, ngeri juga ngebayangin wajah Ibu pertiwi di masa depan.

Dan yang jadi pertanyaan, apa kabar pemuda muslim saat ini? Masihkah ada harapan kebangkitan Islam kembali terwujud di masa depan sebagaimana dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya? Atau sebaliknya akan kehilangan predikat umat terbaik alias terpuruk tak berdaya? Hmm... gimana ya jawabnya?

*# Apatis? NO!*

Pemuda yang bakal melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan suatu bangsa idealnya punya sikap kritis dan peduli dengan keadaan negeri ini. Nggak cuman mikirin kebaikan dirinya sendiri, tapi juga turut berkontribusi untuk kebangkitan umat.

Sayangnya, sosial media yang banyak digandrungi remaja cenderung membentuk karakter pemuda individualis bin apatis. Yang dipikirin cuman dirinya sendiri, self reward, ogah ribet ngurusin negeri ini.

Emang sih, sudah ada pemerintah yang berwenang ngurusin negeri kita tercinta. Tapi bukan berarti kita tutup mata dengan berbagai masalah yang tersaji di depan mata. Bukan apa-apa. Lantaran nanti kita-kita juga yang kena getahnya.

Rasulullah saw mengingatkan kita dalam sebuah hadits dari An Nu'man bin Basyir rahiyallahu'anhuma, "Perumpamaan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang terjerumus dalam kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berundi dalam sebuah kapal. Nantinya ada sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah kapal tersebut. Yang berada di bagian bawah kala ingin mengambil air, tentu ia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, Andaikata kita membuat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita. Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu." (HR. Bukhari no. 2493).

Ibnu Hajar memberikan beberapa faedah terkait hadits di atas. Diantaranya : hadits tersebut berisi pelajaran bahwa hukuman bisa jadi menimpa suatu kaum dikarenakan meninggalkan ingkarul mungkar atau merubah kemungkaran. Dan hendaknya saling mengingatkan jika ada kekeliruan atau bahaya yang diperbuat oleh saudara kita seperti orang yang berada di atas perahu melihat orang bawah ingin melubangi kapal supaya bisa mendapat air. (Lihat Fathul Bari, 5: 296).

Makanya jauh-jauh deh dengan sikap apatis yang diartikan sikap acuh tak acuh, tidak peduli, atau masa bodoh terhadap segala hal yang terjadi di sekitar. Kalo sikap ini dipelihara para pemuda, niscaya estafet kepemimpinan umat gak ada yang nerusin. Yang tua makin bangka, yang muda tak berdaya. Kondisi umat pun kita merana. Ih jangan sampai dong!

*# Kritis? Yes!*

Punya sikap kritis, bukan berarti kita ngerecokin urusan orang lain lho. Lebih pas kalo sikap kritis dimaknai sebagai wujud kepedulian dan ekspresi cinta. Karena itu, sikap kritis juga berfungsi sebagai kontrol. Baik kontrol sosial maupun kontrol secara personal.

Adanya sikap kritis, membantu kita menjaga masyarakat agar tetep beradab. Kalo nggak ada yang kritis terhadap gaya hidup remaja yang hedonis, alamat remaja makin terancam masa depannya. Kalo nggak ada yang kritis saat ngeliat retsleting celana kita yang terbuka, kita bisa tengsin berat. Itu berarti, sepedas apapun kritikan yang disampaikan, akan ngasih kebaikan untuk kita semua. Pastinya!

Untuk ngasih nilai lebih pada sikap kritis kita, ekspresikan bukan hanya untuk kepentingan sendiri. Tapi untuk kepentingan bersama. Bukan hanya kritis ama temen sekolah atau sikap anggota keluarga di rumah, Kritisi juga situasi politik, ekonomi, pendidikan, sosial, atau budaya yang mengancam kehidupan umat. Nggak berat kok. Hanya perlu sedikit kepedulan kita aja.

Tapi sebagai pemuda muslim yang baik dan benar, tentu sikap kritis kita bukan asal bunyi dong. Biar orang laen enak dengan sikap kritis kita, boleh juga pake aturan maen sikap kritis yang etis. Ini beberapa tips dari kita:

Pertama, bukan untuk menjatuhkan apalagi melecehkan. Kita nggak maen vonis bersalah pada orang lain. Soalnya, boleh jadi kesalahan orang lain di mata kita, ternyata itulah hal terbaik yang bisa dia perbuat seperti yang dia pahami. Cari tahu dulu alasan dia berbuat itu sebelum ngasih masukan. Ajukan pertanyaan "ada apa?", bukan "kenapa?". Biar orang nggak merasa disudutkan. Ok?

Kedua, kritisi cara berpikirnya bukan orangnya. Sikap kritis udah sepantasnya jadi ajang persahabatan, bukan permusuhan. Kalo beda pendapat, teteplah berdiskusi dan beradu argumen dalam ruang adu pendapat. Jangan bawa-bawa kekurangan fisik lawan bicara atau masalah pribadi dia ke arena diskusi. Nggak fair tuh!

Ketiga, sodorkan bukti. Jangan sampai sikap kritis kita mencoreng nama baik atau dianggap provokator. Entar kena somasi repot deh. Kalo mengkritisi kebijakan pemerintah yang bikin rakyat sengsara dunia akherat misalnya, sertai bukti yang kuat dan akurat. Jangan cuman bermodalkan megaphone, poster, atau spanduk aja saat demonstrasi. Kalo ada bukti, cukup sedikit bicara tapi mengena. Cocok!

Keempat, kritisi dengan solusi. Terutama kalo menyangkut kepentingan umum, siapkan solusi yang ngasih kebaikan untuk semua. Bukan solusi yang malah nambah masalah baru. Seperti dalam masalah HIV/AIDS. Kondomisasi atau pembagian jarum suntik steril sering jadi andalan pemerintah dan LSM untuk mengerem penyebaran wabah HIV. Padahal solusi itu malah kian melestarikan budaya seks bebas dan penggunaan narkoba. Bagusnya, negara pake aturan Islam yang sempurna untuk ngatur rakyatnya. Karena hanya ketegasan aturan Islam yang bisa mengeliminasi budaya seks bebas dan peredaran narkoba dari masyarakat. Itu baru solusi mak nyus!

Biar nggak asal kritis, pake kacamata Islam untuk ngeliat kondisi yang layak dikritisi. Di sini pentingnya kita mengenal Islam lebih dalam. Ikut ngaji gitu lho. Dengan ikut ngaji, bisa menumbuhkan sikap kritis, penyampaiannya lebih etis, nggak pake anarkis, dan solusi yang ditawarkan juga ideologis. Mantabs! []

https://buletintemansurga.com/buletin-teman-surga-262-apatis-no-kritis-yes/

BUKAN SANTRI BIASA

Sosok predator anak,  pimpinan pesantren panti Asuhan di Tangerang ini tengah jadi sorotan media. Gimana nggak, figur ayah yang sejatinya pelindung dan pengayom anak asuh malah disalahgunakan untuk memaksa anak-anak santri mengikuti nafsu bejatnya. Ngeri!

Dampaknya, masyarakat ada yang punya pikiran negatif dengan pendidikan di Pesantren. Mereka berpikir ulang untuk mengajak anaknya nyantri. Nggak deh. Entar jadi korban lagi. Nah lho!

*# Jejak Para Pahlawan Santri*

Pondok pesantren sebagai salah satu pilihan tempat menimba ilmu agama tak boleh dipandang sebelah mata. Meski kasus predator anak itu telah mencoreng nama baik pesantren, tapi bukan berarti semua pesantren sama kondisinya. Nggak gitu konsepnya. Itu hanya oknum aja.

Karena dari dulu sejak jaman perjuangan kemerdekaan, pesantren menjadi salah satu produsen para pahlawan nasional. Para santri pejuang telah meninggalkan jejak sejarah berjuang mengusir para penjajah dari bumi pertiwi. Mereka diantaranya:

*1. KH Hasyim Asyari*
Pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sebagai seorang ulama ternama di Indonesia, KH Hasyim Asyari pernah mengenyam pendidikan agama di berbagai pesantren, termasuk Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, dan Pesantren Trenggilis di Semarang. Selain itu, Beliau juga menimba ilmu di Pesantren Kademangan di Bangkalan dan Pesantren Siwalan di Sidoarjo yang diasuh oleh Kyai Ya'qub.

*2. KH Ahmad Dahlan*
Pendiri Muhammadiyah yang lahir dengan nama Muhammad Darwis, memiliki latar belakang pendidikan di pesantren sejak kecil. Beliau bahkan pernah belajar agama dan bahasa Arab di Makkah selama lima tahun pada tahun 1883 saat berusia 15 tahun

*3. Pangeran Diponegoro*
Dalam masa kecilnya, Pangeran Diponegoro dibesarkan oleh nenek buyutnya, GKR Ageng Tegalreja, yang merupakan putri dari salah satu ulama terkenal, yaitu Ki Ageng Derpoyudo. Diponegoro memiliki keterlibatan awal dalam dunia pesantren dan erat hubungannya dengan ulama-ulama masa itu. Beliau juga belajar di Pondok Pesantren Gebang Tinanar di Ponorogo yang dipimpin oleh Kiai Hasan Besari.

*4. KH Wahid Hasyim*
Putra dari KH Hasyim Asy'ari pernah menuntut ilmu di beberapa pesantren, termasuk Pondok Pesantren Siwalan, Panji, dan Lirboyo di Kediri.

*5. KH Zainal Arifin*
Beliau adalah seorang pemimpin Hizbullah dan pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia. Dia belajar di dua pesantren, yaitu Pondok Pesantren Karay Sumenep dan Syaikhana KH. Muhammad Kholil Bangkalan.

*6. KH Zainal Mustafa*
Beliau adalah Wakil Rais Syuriyah NU dan penggagas pemberontakan melawan penjajah di Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat. KH Zainal Mustafa memiliki latar belakang pendidikan dari empat pesantren yang berbeda, yakni Pondok Pesantren Gunung Pari, Cilenga Leuwisari, Sukaraja Garut, Sukamiskin Bandung, dan Jamanis Rajapolah.

*7. KH Noer Ali*
KH Noer Ali dikenal sebagai simbol perjuangan dan keberanian di Bekasi. Selama hidupnya, KH Noer Ali menimba ilmu dari Guru Maksum di Kampung Bulak, Guru Mughni, dan pesantren Guru KH Marzuki.

*8. H Andi Mappanyukki*
Beliau merupakan seorang Raja Bone dari Suku Bugis, adalah salah satu tokoh yang memegang peran penting dalam perjuangan melawan penjajah Belanda dan Jepang antara tahun 1945-1949. H Andi Mappanyukki merupakan simbol perjuangan Sulawesi Selatan dan kontribusinya dalam memerdekakan tanah airnya diakui secara resmi.

*9. Buya Hamka*
Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah, adalah seorang tokoh yang memiliki banyak peran dalam sejarah Indonesia. Buya Hamka adalah seorang ulama, sastrawan, wartawan, penulis, dan pengajar. Selain itu, ia terlibat dalam dunia politik melalui partai Masyumi hingga partai tersebut dibubarkan. Buya Hamka juga menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, dan ia aktif dalam Muhammadiyah hingga akhir hayatnya.

*# Bukan Pemuda Biasa*

Jejak Sejarah para pahlawan santri di atas patut kita teladani. Getol menimba ilmu di bangku sekolah baik di pesantren atau pendidikan formal sama-sama berpeluang menjadi calon pemimpin masa depan. Kuncinya, sebagaimana  diingatkan oleh para ulama berikut:

Imam Syafi’i: "Jika kamu tidak menyibukkan dirimu dengan kebaikan, maka ia akan menyibukkanmu dengan keburukan."

Syaikh Abdul Aziz bin Baz: “Pemuda harus menjadikan ibadah sebagai prioritas, karena usia muda adalah waktu paling kuat untuk beramal.”

Ibnu Taimiyah: “Kebahagiaan pemuda adalah ketika mereka memegang teguh ajaran agama dan menjauhi hawa nafsu.”

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin: “Jangan sia-siakan waktumu dengan hal yang tidak bermanfaat. Pemuda yang bijak adalah yang memanfaatkan waktunya untuk belajar dan beribadah.”

Syaikh Shalih Al-Fauzan: “Pemuda harus menjaga pandangan, karena pandangan yang tidak dijaga akan membawa pada kehancuran.”

Imam Nawawi: “Carilah ilmu sebelum engkau sibuk oleh dunia. Karena ilmu adalah warisan terbaik yang akan menemanimu hingga akhir hayat.”

Syaikh Muhammad Al-Ghazali: "Keberhasilan pemuda diukur dari bagaimana mereka memanfaatkan waktu dengan baik dan tidak tenggelam dalam kesenangan sementara."

Nasihat para ulama di atas mengerucut pada satu aktifitas yang dekat dengan dunia pesantren. Ngaji. Ya. Terus ngaji sampai nanti sampai mati. Walopun tidak jadi santri, yang penting istiqomah mengenal Islam lebih dalam dan terikat syariat setiap saat. Yuk! []

https://buletintemansurga.com/buletin-teman-surga-261-bukan-santri-biasa/