“Tidak ada malam yang lebih indah bagiku selain malam yang dingin dan gelap, penuh dengan hujan deras, ketika aku berada di barisan depan pasukan, menanti pagi untuk menyerang musuh.” – Sayfullah
Quote gacor di atas pastinya keluar dari lisan seorang pecinta perang sejati. Eit jangan salah. Si Cinta perang ini bukan orang yang hobi menumpahkan darah dan mencari masalah. Sebaliknya, dia adalah sosok menakjubkan di sepanjang sejarah kemiliteran dunia Islam.
Ia berasal dari suku Quraisy, dari klan Makhzum yang merupakan salah satu suku terkemuka di Mekah. Ayahnya, Walid bin al-Mughirah, adalah seorang pemuka suku Quraisy yang sangat dihormati. Nama lengkapnya adalah Khalid bin Walid bin al-Mughirah al-Makhzumi. Tahu kan?
Khalid bin Walid adalah seorang jenderal besar yang telah membawa pasukan Islam memenangkan berbagai pertempuran. Beberapa di antaranya adalah Perang Mu’tah (629 M); Penaklukan Mekah (630 M); Perang Hunain (630 M) melawan suku Hawazin; Perang Yarmuk (636 M) melawan kekaisaran Bizantium; serta Penaklukan Persia dalam Pertempuran Walaja dan Pertempuran Ullais.
Sehingga Rasulullah saw menggelarinya “Pedang Allah yang Terhunus” (Sayfullah al-Maslul) setelah Khalid bin Walid membuktikan kehebatannya dalam perang Mu’tah.
*# ‘Bulan Sabit’ di Medan Perang*
Prestasi besar Khalid bin Walid bukan cuma dikagumi oleh kaum Muslim, tetapi juga oleh orang kafir. Zahid Ivan Salam, dalam sebuah karyanya, mengatakan bahwa seorang Jenderal Nazi Jerman, Erwin Rommel, mencontek strategi perang Khalid dan itu membuatnya selalu menang dalam pertempuran melawan sekutu di front Afrika.
Salah satu strategi perang jitu Khalid bin Walid diterapkannya pada Perang Walaja melawan Persia. Perang Walaja terjadi pada bulan Mei 633 Masehi di sebuah daerah bernama Walaja (sekarang Irak). Waktu itu jumlah pasukan Islam hanya 15.000 prajurit, sementara jumlah pasukan Persia lebih banyak tiga kali lipatnya. Pasukan Persia dipimpin oleh seorang jenderal bernama Andarzaghar, pasukan Islam tentu saja dipimpin oleh Khalid bin Walid.
Andarzaghar dengan pongah sesumbar bahwa dia akan mengalahkan pasukan Islam. Dia menetapkan sasaran untuk tiba di Walaja lebih dahulu daripada pasukan Islam. Sayangnya, pasukan Persia bergerak amat lambat karena membawa peralatan perang yang berat. Pasukan Islam mendahului pasukan Persia tiba di Walaja. Khalid pun memerintahkan pasukannya berkemah di sekitar Walaja sambil terus mengawasi medan.
Akhirnya terlihatlah pasukan Persia datang berduyun-duyun dengan seluruh peralatan perang mereka yang berat. Lokasi perang Walaja ini adalah sebuah padang rumput yang luas, yang berada di antara dua lereng bukit yang tingginya 20 sampai 30 kaki. Saat Khalid melihat pasukan Persia sudah memasuki medan perang, ia menyaksikan bahwa kebanyakan pasukan Persia adalah infanteri (pasukan jalan kaki), dan jumlah kavaleri (pasukan berkuda) Persia jauh lebih sedikit daripada pasukan kavaleri Muslim. Jumlah kavaleri Muslim adalah 5.000 personil, dan Khalid membagi pasukan ini menjadi dua detasemen.
Pada malam sebelum pertempuran, Khalid memerintahkan kedua pasukan berkuda ini untuk bergerak ke belakang lereng bukit itu. satu detasemen di belakang bukit sebelah kanan, dan sisanya di belakang lereng bukit sebelah kiri. Khalid menempatkan pasukan berkudanya di belakang barisan pasukan Persia tanpa sepengetahuan mereka. Khalid memerintahkan mereka untuk tetap bersembunyi di belakang kedua lereng bukit itu dan hanya menyerang jika diberi tanda.
Pertempuran pun dimulai. Andarzhagar menerapkan strategi bertahan pada awal peperangan itu. Dia amat percaya diri dengan kekuatan pasukannya, dan dia berharap pasukan Islam akan cepat kehabisan tenaga dan kelelahan. Barulah setelah itu dia akan melancarkan serangan balasan dan menghancurkan pasukan Islam sekaligus.
Khalid memerintahkan pasukannya untuk berhadap-hadapan dengan pasukan Persia dan menyerang dengan sengit. Mereka berjihad di jalan Allah dengan gigih. Benar saja, pasukan Persia punya pertahanan yang cukup kuat, walaupun pasukan Islam terus menekan, mereka tetap bisa bertahan.
Maka tiba-tiba Khalid memerintahkan pasukannya untuk mundur perlahan-lahan. Bagian tengah pasukan Islam pun mundur, dan terus mundur, hingga perlahan-lahan bentuk barisan pasukan Islam jadi melengkung seperti bulan sabit (karena yang diperintahkan mundur hanya bagian tengah saja, pasukan sayap diperintakan untuk tetap mempertahankan posisinya, dan bahkan meluaskan jangkauan).
Andarzaghar melihat pasukan Islam mundur, dan dia seolah menyaksikan kesempatan emas. Dia melancarkan serangan umum untuk mengejar pasukan Islam dan menghancurkannya sekaligus. Pasukan Persia pun mengejar pasukan Islam. Saat itulah pasukan Persia masuk ke dalam jebakan pasukan Islam. Dengan semakin dalam mengejar pasukan Islam, Pasukan Persia makin terjebak di dalam lengkungan berbentuk bulan sabit yang dibuat pasukan Islam, sehingga mereka hampir terkepung oleh pasukan Islam. Saat itulah Khalid memberi tanda kepada pasukan kavaleri yang berada di balik kedua bukit itu.
Sekonyong-konyong pasukan kavaler Muslim bergerak dengan sangat cepat dari balik bukit dan memukul bagian belakang pasukan Persia. Formasi bulan sabit itu pun ditutup dengan datangnya pasukan kavaleri Muslim dari balik bukit, membuat pasukan Persia terjebak dalam lingkaran pasukan Muslim. Mereka dikelilingi pasukan Muslim dan tidak ada lagi tempat melarikan diri. Saat itulah pasukan Persia digempur dan dihabisi. Dan kemenangan pun kembali diraih para kesatria Muslim.
Khalid bin Walid kembali berhasil membawa pasukan Islam pada kemenangan, namun mereka yakin bahwa semua ini adalah karunia Allah ‘azza wajalla. “Terkadang Tuhan memberimu kemenangan karena strategi yang baik, terkadang Tuhan memberimu kemenangan hanya karena imanmu.”
Meski keseharian Khalid bin Walid dihabiskan untuk kejayaan militer Islam, namun siapa sangka akhir hayatnya justru di atas pembaringan dalam rumahnya. “Aku telah berperang di seratus medan, mencari kematian di setiap langkahku, namun di tempat tidur inilah aku akan mati seperti seekor unta mati.” Khalid bin Walid, si Pedang Allah yang Terhunus, wafat pada tahun 642 M (21 H) di kota Homs, Suriah, dalam usia sekitar 50 tahun.
Sejatinya, panglima Khalid bin Walid masuk dalam daftar idola kita. Bukan tokoh fiksi superhero Marvel atau DC. Berjuang untuk kejayaan Islam, sampai nanti sampai mati. Gass! []
https://buletintemansurga.com/buletin-teman-surga-258-si-pedang-allah-yang-terhunus/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar