Selasa, 26 November 2024

GURU, ENGKAU PENYELAMATKU

Masa demi masa terus berganti. Hingga kini tibalah era digitalisasi. Di mana gelombang informasi deras menghampiri. Mau tahu tentang apa saja tak perlu ke mana-mana. Cukup usap smartphone dalam genggaman, maka semua yang kita butuhkan telah tersedia. Namun demikian, wajib kita sadari bahwa peran guru tidak akan pernah terganti oleh kecanggihan digitalisasi.

Ya, guru adalah sosok yang istimewa. Ia memang tidak akan selalu menuruti kemauan kita sebagaimana dunia maya. Tetapi guru akan selalu ada untuk memenuhi kebutuhan kita agar sukses sebagai manusia, memiliki takwa, hingga selamat di dunia sampai akhirat kelak. Guru adalah pelita dalam gulita rimbanya kehidupan. Guru tidak akan pernah tergantikan oleh kecanggihan zaman. Selamat hari guru. Guru, engkaulah penyelamatku.

*# Refleksi Diri Sebagai Murid*

Guys, di momen hari guru ini alangkah baiknya kita merenung. Merefleksi diri kita, apakah sudah menjadi murid yang baik bagi guru-guru kita? Mengingat, di era saat ini moralitas seolah tercampak tak berbekas. Begitu mudah melawan bahkan mengancam guru tercinta. Nastagfirullah, semoga hal ini tidak dilakukan oleh Teman Surga ya, aamiin!

Namun kita juga tidak boleh menutup mata, ternyata banyak di luar dari kita yang bangga ketika melawan kepada gurunya. Seolah kebal dosa dan malah jadi merajalela. Padahal, sebagai seorang murid harusnya bersikap sopan dan baik kepada gurunya. Agar sang guru meridhainya dan ilmu yang diberikan pun menjadi berkah.

Kita harus ingat selalu, bahwa masuk ke sekolah dan melalui jenjang demi jenjang itu bukanlah sekadar untuk dapat informasi tentang banyak ilmu. Melainkan juga ada proses pendidikan di dalamnya yang diberikan oleh guru. Kita diajarkan tentang kedisiplinan, kejujuran, sopan santun, kebijaksanaan, tanggung jawab, dan banyak lagi lainnya yang ini tidak akan kita dapatkan dari Google. Karena untuk membentuk karakter itu tidak hanya butuh informasi semata. Tetapi juga butuh adanya rasa serta keteladanan. Ini hanya bisa didapatkan jika kita berinteraksi dengan guru.

Jadi bagaimana interaksi kita kepada guru selama ini? Semoga senantiasa terjaga dengan baik dari hari ke hari. Karena keberkahan ilmu kita tergantung dari keridaan guru-guru kita.

*# Hormat Kepada Guru*

Guys, kita harus selalu ingat bahwa keridaan guru itu sangat penting dalam hidup kita. Oleh karena itu, Imam Az-Zarnuzi dalam kitabnya yang begitu populer yakni Ta’limul Muta’allim, menjabarkan tentang bagaimana adab seorang murid kepada guru. Hal ini ditujukan agar para penuntut ilmu peroleh keberkahan ilmu untuk keselamatan hidup di dunia hingga akhirat nanti. Yuk kita simak ulasannya!

# Pertama, sebagai bentuk penghormatan kita kepada guru adalah dengan tidak berjalan di depannya. Jika ada guru yang hendak berjalan, maka hendaknya kita dahulukan beliau. Kemudian kita berjalan di belakangnya.

# Kedua, tidak menduduki tempat duduk guru. Ini adalah adab yang jarang diketahui oleh murid. Setelah ini, maka harus selalu diingat ya. Bahwa kita harus menahan diri agar tidak duduk-duduk di tempat guru kita.

# Ketiga, tidak memulai pembicaraan di hadapan guru kecuali jika diberi izin olehnya. Nah, ini nih yang sering banget kebablasan. Guru udah masuk ke kelas, tapi muridnya masih pada asyik ngobrol. Bahkan guru sedang serius menjelaskan, kita malah asyik cengengesan bercanda sama teman. Ingat, ini bentuk tidak menghormati guru. Jangan ya dek ya. Bisa jadi dosa!

# Keempat, tidak banyak berbicara di hadapannya. Ingat selalu, bahwa kita sedang berhadapan dengan guru. Jangan sekali-sekali menyamakan guru kita dengan teman bermain ya Bestie. Kudu ada batasannya. Harus tetap jaga adab kepadanya.

# Kelima, menghormati anak ataupun kerabat guru. Ini juga bagian dari penghormatan kepada guru ya Guys. Jadi kita juga harus jaga sikap dan adab kepada keluarga guru kita. Enggak boleh semena-mena, ya.

Nah ini beberapa adab yang harus kita biasakan kepada guru. Kesimpulannya adalah seorang penuntut ilmu harus mencari keridhaan gurunya. Berupaya menjauhi apa-apa yang membuat guru murka. Selalu berusaha melaksanakan perintah guru selama perintah itu bukan kemaksiatan ya Guys ya. Sebab kita tidak boleh taat kepada makhluk dalam rangka bermaksiat kepada Allah SWT. So, tetap ada batasan dalam mentaati guru ya guys ya. Jangan sampai mentang-mentang mau taat sama guru, malah jadi bermaksiat seperti berita viral beberapa waktu lalu. Naudzubillah. Bukan gitu juga konsepnya ya guys ya!

*# Guru, Engkau Penyelamatku*

Guys, udah jelas ya bahwa kedudukan guru itu sangat mulia. Tidak bisa disamakan atau dibandingkan denga kecanggihan teknologi manapun. Guru memiliki naluri dan hati dalam mendidik kita. Guru memahami apa yang kita butuhkan untuk keselamatan dunia dan akhirat kita. Maka sekali lagi, jangan pernah meremehkan guru-guru kita.

Di dalam kitab Ta’limul Muta’allim juga dituliskan sebuah syair, ”Sesungguhnya guru dan dokter itu, keduanya tidak akan memberikan nasihat jika tidak dihormati. Tahanlah sakitmu jika kamu kasar terhadap dokter. Dan nikmatilah kebodohanmu jika kamu kasar terhadap gurumu.”

Demikianlah kemuliaan seorang guru. Maka berhati-hatilah kita agar tidak terbenam dalam kebodohan. Jangan sampai kita menyakiti hati guru. Karena jika hati guru tersakiti, maka kita akan terhalang dari keberkahan ilmu. Kita tidak akan dapat mengambil manfaat ilmu tersebuat kecuali hanya sedikit. Hal ini tentu akan sangat berbahaya bagi kita dalam menghadapi kehidupan dunia apalagi akhirat kelak.

So, manfaatkan kesempatan yang ada sebaik mungkin. Jaga perasaan guru-guru kita. Mintalah doa dan ridanya. Inshaallah, guru-guru kita akan menjadi penyelamat di dunia hingga akhirat. Wallahu’alam. []

https://buletintemansurga.com/buletin-teman-surga-263-guru-engkau-penyelamatku/

Minggu, 24 November 2024

APATIS NO, KRITIS YES!

Peran pemuda dalam kebangkitan bangsa nggak bisa dipandang sebelah mata. Banyak ulama sudah mengingatkan akan hal ini.

Syaikh Ibn Jibrin bilang, "Pemuda adalah harapan bangsa. Jika pemudanya rusak, maka rusaklah seluruh masyarakat." Begitu juga dengan Imam Al-Ghazali, "Pemuda adalah cerminan masa depan. Jika pemudanya baik, maka masa depan akan cerah."

Itu artinya, generasi muda muslim saat ini secara alaminya akan menjadi bagian dari pemegang estafet kepemimpinan umat di masa depan.

Kalo pemudanya peduli dan optimis menatap masa depan, insya Allah kebaikan akan diraih negeri ini. Sebaliknya, kalo pemudanya cenderung individualis bin egosentris, ngeri juga ngebayangin wajah Ibu pertiwi di masa depan.

Dan yang jadi pertanyaan, apa kabar pemuda muslim saat ini? Masihkah ada harapan kebangkitan Islam kembali terwujud di masa depan sebagaimana dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya? Atau sebaliknya akan kehilangan predikat umat terbaik alias terpuruk tak berdaya? Hmm... gimana ya jawabnya?

*# Apatis? NO!*

Pemuda yang bakal melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan suatu bangsa idealnya punya sikap kritis dan peduli dengan keadaan negeri ini. Nggak cuman mikirin kebaikan dirinya sendiri, tapi juga turut berkontribusi untuk kebangkitan umat.

Sayangnya, sosial media yang banyak digandrungi remaja cenderung membentuk karakter pemuda individualis bin apatis. Yang dipikirin cuman dirinya sendiri, self reward, ogah ribet ngurusin negeri ini.

Emang sih, sudah ada pemerintah yang berwenang ngurusin negeri kita tercinta. Tapi bukan berarti kita tutup mata dengan berbagai masalah yang tersaji di depan mata. Bukan apa-apa. Lantaran nanti kita-kita juga yang kena getahnya.

Rasulullah saw mengingatkan kita dalam sebuah hadits dari An Nu'man bin Basyir rahiyallahu'anhuma, "Perumpamaan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang terjerumus dalam kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berundi dalam sebuah kapal. Nantinya ada sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah kapal tersebut. Yang berada di bagian bawah kala ingin mengambil air, tentu ia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, Andaikata kita membuat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita. Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu." (HR. Bukhari no. 2493).

Ibnu Hajar memberikan beberapa faedah terkait hadits di atas. Diantaranya : hadits tersebut berisi pelajaran bahwa hukuman bisa jadi menimpa suatu kaum dikarenakan meninggalkan ingkarul mungkar atau merubah kemungkaran. Dan hendaknya saling mengingatkan jika ada kekeliruan atau bahaya yang diperbuat oleh saudara kita seperti orang yang berada di atas perahu melihat orang bawah ingin melubangi kapal supaya bisa mendapat air. (Lihat Fathul Bari, 5: 296).

Makanya jauh-jauh deh dengan sikap apatis yang diartikan sikap acuh tak acuh, tidak peduli, atau masa bodoh terhadap segala hal yang terjadi di sekitar. Kalo sikap ini dipelihara para pemuda, niscaya estafet kepemimpinan umat gak ada yang nerusin. Yang tua makin bangka, yang muda tak berdaya. Kondisi umat pun kita merana. Ih jangan sampai dong!

*# Kritis? Yes!*

Punya sikap kritis, bukan berarti kita ngerecokin urusan orang lain lho. Lebih pas kalo sikap kritis dimaknai sebagai wujud kepedulian dan ekspresi cinta. Karena itu, sikap kritis juga berfungsi sebagai kontrol. Baik kontrol sosial maupun kontrol secara personal.

Adanya sikap kritis, membantu kita menjaga masyarakat agar tetep beradab. Kalo nggak ada yang kritis terhadap gaya hidup remaja yang hedonis, alamat remaja makin terancam masa depannya. Kalo nggak ada yang kritis saat ngeliat retsleting celana kita yang terbuka, kita bisa tengsin berat. Itu berarti, sepedas apapun kritikan yang disampaikan, akan ngasih kebaikan untuk kita semua. Pastinya!

Untuk ngasih nilai lebih pada sikap kritis kita, ekspresikan bukan hanya untuk kepentingan sendiri. Tapi untuk kepentingan bersama. Bukan hanya kritis ama temen sekolah atau sikap anggota keluarga di rumah, Kritisi juga situasi politik, ekonomi, pendidikan, sosial, atau budaya yang mengancam kehidupan umat. Nggak berat kok. Hanya perlu sedikit kepedulan kita aja.

Tapi sebagai pemuda muslim yang baik dan benar, tentu sikap kritis kita bukan asal bunyi dong. Biar orang laen enak dengan sikap kritis kita, boleh juga pake aturan maen sikap kritis yang etis. Ini beberapa tips dari kita:

Pertama, bukan untuk menjatuhkan apalagi melecehkan. Kita nggak maen vonis bersalah pada orang lain. Soalnya, boleh jadi kesalahan orang lain di mata kita, ternyata itulah hal terbaik yang bisa dia perbuat seperti yang dia pahami. Cari tahu dulu alasan dia berbuat itu sebelum ngasih masukan. Ajukan pertanyaan "ada apa?", bukan "kenapa?". Biar orang nggak merasa disudutkan. Ok?

Kedua, kritisi cara berpikirnya bukan orangnya. Sikap kritis udah sepantasnya jadi ajang persahabatan, bukan permusuhan. Kalo beda pendapat, teteplah berdiskusi dan beradu argumen dalam ruang adu pendapat. Jangan bawa-bawa kekurangan fisik lawan bicara atau masalah pribadi dia ke arena diskusi. Nggak fair tuh!

Ketiga, sodorkan bukti. Jangan sampai sikap kritis kita mencoreng nama baik atau dianggap provokator. Entar kena somasi repot deh. Kalo mengkritisi kebijakan pemerintah yang bikin rakyat sengsara dunia akherat misalnya, sertai bukti yang kuat dan akurat. Jangan cuman bermodalkan megaphone, poster, atau spanduk aja saat demonstrasi. Kalo ada bukti, cukup sedikit bicara tapi mengena. Cocok!

Keempat, kritisi dengan solusi. Terutama kalo menyangkut kepentingan umum, siapkan solusi yang ngasih kebaikan untuk semua. Bukan solusi yang malah nambah masalah baru. Seperti dalam masalah HIV/AIDS. Kondomisasi atau pembagian jarum suntik steril sering jadi andalan pemerintah dan LSM untuk mengerem penyebaran wabah HIV. Padahal solusi itu malah kian melestarikan budaya seks bebas dan penggunaan narkoba. Bagusnya, negara pake aturan Islam yang sempurna untuk ngatur rakyatnya. Karena hanya ketegasan aturan Islam yang bisa mengeliminasi budaya seks bebas dan peredaran narkoba dari masyarakat. Itu baru solusi mak nyus!

Biar nggak asal kritis, pake kacamata Islam untuk ngeliat kondisi yang layak dikritisi. Di sini pentingnya kita mengenal Islam lebih dalam. Ikut ngaji gitu lho. Dengan ikut ngaji, bisa menumbuhkan sikap kritis, penyampaiannya lebih etis, nggak pake anarkis, dan solusi yang ditawarkan juga ideologis. Mantabs! []

https://buletintemansurga.com/buletin-teman-surga-262-apatis-no-kritis-yes/

BUKAN SANTRI BIASA

Sosok predator anak,  pimpinan pesantren panti Asuhan di Tangerang ini tengah jadi sorotan media. Gimana nggak, figur ayah yang sejatinya pelindung dan pengayom anak asuh malah disalahgunakan untuk memaksa anak-anak santri mengikuti nafsu bejatnya. Ngeri!

Dampaknya, masyarakat ada yang punya pikiran negatif dengan pendidikan di Pesantren. Mereka berpikir ulang untuk mengajak anaknya nyantri. Nggak deh. Entar jadi korban lagi. Nah lho!

*# Jejak Para Pahlawan Santri*

Pondok pesantren sebagai salah satu pilihan tempat menimba ilmu agama tak boleh dipandang sebelah mata. Meski kasus predator anak itu telah mencoreng nama baik pesantren, tapi bukan berarti semua pesantren sama kondisinya. Nggak gitu konsepnya. Itu hanya oknum aja.

Karena dari dulu sejak jaman perjuangan kemerdekaan, pesantren menjadi salah satu produsen para pahlawan nasional. Para santri pejuang telah meninggalkan jejak sejarah berjuang mengusir para penjajah dari bumi pertiwi. Mereka diantaranya:

*1. KH Hasyim Asyari*
Pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sebagai seorang ulama ternama di Indonesia, KH Hasyim Asyari pernah mengenyam pendidikan agama di berbagai pesantren, termasuk Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, dan Pesantren Trenggilis di Semarang. Selain itu, Beliau juga menimba ilmu di Pesantren Kademangan di Bangkalan dan Pesantren Siwalan di Sidoarjo yang diasuh oleh Kyai Ya'qub.

*2. KH Ahmad Dahlan*
Pendiri Muhammadiyah yang lahir dengan nama Muhammad Darwis, memiliki latar belakang pendidikan di pesantren sejak kecil. Beliau bahkan pernah belajar agama dan bahasa Arab di Makkah selama lima tahun pada tahun 1883 saat berusia 15 tahun

*3. Pangeran Diponegoro*
Dalam masa kecilnya, Pangeran Diponegoro dibesarkan oleh nenek buyutnya, GKR Ageng Tegalreja, yang merupakan putri dari salah satu ulama terkenal, yaitu Ki Ageng Derpoyudo. Diponegoro memiliki keterlibatan awal dalam dunia pesantren dan erat hubungannya dengan ulama-ulama masa itu. Beliau juga belajar di Pondok Pesantren Gebang Tinanar di Ponorogo yang dipimpin oleh Kiai Hasan Besari.

*4. KH Wahid Hasyim*
Putra dari KH Hasyim Asy'ari pernah menuntut ilmu di beberapa pesantren, termasuk Pondok Pesantren Siwalan, Panji, dan Lirboyo di Kediri.

*5. KH Zainal Arifin*
Beliau adalah seorang pemimpin Hizbullah dan pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia. Dia belajar di dua pesantren, yaitu Pondok Pesantren Karay Sumenep dan Syaikhana KH. Muhammad Kholil Bangkalan.

*6. KH Zainal Mustafa*
Beliau adalah Wakil Rais Syuriyah NU dan penggagas pemberontakan melawan penjajah di Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat. KH Zainal Mustafa memiliki latar belakang pendidikan dari empat pesantren yang berbeda, yakni Pondok Pesantren Gunung Pari, Cilenga Leuwisari, Sukaraja Garut, Sukamiskin Bandung, dan Jamanis Rajapolah.

*7. KH Noer Ali*
KH Noer Ali dikenal sebagai simbol perjuangan dan keberanian di Bekasi. Selama hidupnya, KH Noer Ali menimba ilmu dari Guru Maksum di Kampung Bulak, Guru Mughni, dan pesantren Guru KH Marzuki.

*8. H Andi Mappanyukki*
Beliau merupakan seorang Raja Bone dari Suku Bugis, adalah salah satu tokoh yang memegang peran penting dalam perjuangan melawan penjajah Belanda dan Jepang antara tahun 1945-1949. H Andi Mappanyukki merupakan simbol perjuangan Sulawesi Selatan dan kontribusinya dalam memerdekakan tanah airnya diakui secara resmi.

*9. Buya Hamka*
Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah, adalah seorang tokoh yang memiliki banyak peran dalam sejarah Indonesia. Buya Hamka adalah seorang ulama, sastrawan, wartawan, penulis, dan pengajar. Selain itu, ia terlibat dalam dunia politik melalui partai Masyumi hingga partai tersebut dibubarkan. Buya Hamka juga menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, dan ia aktif dalam Muhammadiyah hingga akhir hayatnya.

*# Bukan Pemuda Biasa*

Jejak Sejarah para pahlawan santri di atas patut kita teladani. Getol menimba ilmu di bangku sekolah baik di pesantren atau pendidikan formal sama-sama berpeluang menjadi calon pemimpin masa depan. Kuncinya, sebagaimana  diingatkan oleh para ulama berikut:

Imam Syafi’i: "Jika kamu tidak menyibukkan dirimu dengan kebaikan, maka ia akan menyibukkanmu dengan keburukan."

Syaikh Abdul Aziz bin Baz: “Pemuda harus menjadikan ibadah sebagai prioritas, karena usia muda adalah waktu paling kuat untuk beramal.”

Ibnu Taimiyah: “Kebahagiaan pemuda adalah ketika mereka memegang teguh ajaran agama dan menjauhi hawa nafsu.”

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin: “Jangan sia-siakan waktumu dengan hal yang tidak bermanfaat. Pemuda yang bijak adalah yang memanfaatkan waktunya untuk belajar dan beribadah.”

Syaikh Shalih Al-Fauzan: “Pemuda harus menjaga pandangan, karena pandangan yang tidak dijaga akan membawa pada kehancuran.”

Imam Nawawi: “Carilah ilmu sebelum engkau sibuk oleh dunia. Karena ilmu adalah warisan terbaik yang akan menemanimu hingga akhir hayat.”

Syaikh Muhammad Al-Ghazali: "Keberhasilan pemuda diukur dari bagaimana mereka memanfaatkan waktu dengan baik dan tidak tenggelam dalam kesenangan sementara."

Nasihat para ulama di atas mengerucut pada satu aktifitas yang dekat dengan dunia pesantren. Ngaji. Ya. Terus ngaji sampai nanti sampai mati. Walopun tidak jadi santri, yang penting istiqomah mengenal Islam lebih dalam dan terikat syariat setiap saat. Yuk! []

https://buletintemansurga.com/buletin-teman-surga-261-bukan-santri-biasa/

REMAJA "KEBAL" DOSA

Check in. Bagi seorang traveler alias tukang jalan-jalan, istilah ini udah familier. Begitu juga dengan seorang pengusaha atau karyawan yang harus keluar kota berhari-hari untuk urusan bisnis. Udah sering check in di penginapan demi tugasnya.

Tapi bagi seorang remaja putri usia 13 tahun yang bilang udah biasa check in bareng pacarnya saat ditanya content creator, tentu bikin netizen geleng-geleng kepala. Beragam komentar miring langsung berhamburan memadati linimasa sosial media.

Gimana nggak heboh, usia 13 tahun itu sebaya bocil kelas 1 smp. Bisa-bisanya check in dan berasyik masyuk dengan pacarnya di hotel. Ngeri. Dan sialnya, bukan cuman urusan syahwat, belakangan warganet juga dihebohkan oleh perilaku sadis remaja di kota pempek. IS, 16 tahun, bersama 3 orang teman sebayanya tega membunuh dan memperkosa AA (13 thn) karena cintanya ditolak.

Sementara di Jakarta, dua remaja putri kakak adik pelajar SMA tega menghabisi ayah kandungnya. Mereka nggak terima dimarahi oleh sang ayah karena telah mencuri uangnya. Sependek itu sumbu emosinya. Ngeri!

*# Ada Apa dengan Remaja Kita?*

Perilaku remaja yang ‘kebal’ dosa seperti beberapa kasus di atas, nggak bisa dianggap sepele. Baik dosa besar seperti meninggalkan sholat, zina atau menghilangkan nyawa maupun dosa-dosa lainnya seperti membuka aurat, gaul bebas cewek dan cowok, menyebarkan berita hoax dan sebagainya. Apapun level dosanya, sama aja maksiatnya kepada Allah swt. Nggak ada yang bener.

Lantas, gimana ceritanya sampai remaja ‘kebal’ dosa? Terbiasa bermaksiat. Pemuja syahwat. Nggak ada penyesalan meski telah melakukan perbuatan tercela. Kok bisa?

Pertama, lemahnya iman. Mereka yang ‘kebal’ terhadap perbuatan dosa, biasanya akidahnya kendor. Dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin (ketika) ia melihat dosa-dosanya, adalah seperti (ketika) ia duduk di lereng sebuah gunung, dan ia sangat khawatir gunung itu akan menimpanya. Sedangkan seorang fajir (orang yang selalu berbuat dosa), ketika ia melihat dosa-dosanya adalah seperti ia melihat seekor lalat yang hinggap di batang hidungnya, kemudian ia mengusirnya seperti ini lalu terbang (ia menganggap remeh dosa).” (HR. Bukhari)

Kedua, tontonan jadi tuntunan. Hari gini, remaja begitu mudah mengakses hiburan tanpa sensor dari genggaman tangannya. Terbiasa melihat tontonan vulgar hingga kucuran darah segar yang merajalela menyapa remaja. Saking terbiasanya, mereka penasaran untuk melakukan hal yang sama. Berburu pengalaman baru dan menjadikan tontonan tak pantas itu sebagai tuntunan.

Ketiga, nggak ada sanksi tegas. Kemaksiatan akan berulang kalo pelakunya nggak dikasih sanksi alias hukuman yang bikin kapok. Bukannya berujung penyesalan, malah ketagihan. Tak sekedar mendekam di balik jeruji besi atau pembinaan di dalam rumah tahanan. Tapi sanksi setimpal yang bikin orang lain berpikir ribuan kali untuk melakukan kemaksiatan yang sama. Seperti penerapan hukum yang telah ditetapkan oleh Islam.

Usia remaja, doyan coba-coba. Pola hidupnya beranjak dewasa, namun cara berpikirnya masih harus banyak dibina. Informasi salah yang mereka terima, melahirkan remaja yang ‘kebal’ terhadap perbuatan dosa. Di sinilah pentingnya kita membenahi cara berpikir remaja.

Pola Pendidikan sekuler yang mengepung kegiatan belajar remaja, harus diimbangi dengan asupan nutrisi iman yang kokoh dan kuat. Ajak pelajar muslim untuk mengenal Islam lebih dalam. Galakan program pengajian untuk membentengi generasi muda muslim dari serangan budaya dan pemikiran sesat.

Sejatinya, ketika remaja jauh dari pengawasan guru, orang tua, atau pihak sekolah, godaan setan gencar menggoda mereka berbuat dosa. Saat itu, tak ada yang bisa diharapkan untuk melindungi dan menjaga mereka selain keimanan dan akidah yang tertancap kuat dalam dirinya.

*# Obat Anti Maksiat*

Seorang laki-laki menghadap Ibrahim bin Adham, seorang ulama Sufi. Beliau termasuk salah satu dokter hati. Lelaki tersebut berkata kepadanya, “Sungguh, saya telah menjerumuskan diri saya dalam kemaksiatan. Oleh karena itu, tolong berikan saya resep untuk mencegahnya.” Ibrahim bin Adham berkata kepadanya, “Jika engkau mampu melakukan lima hal, engkau tidak akan menjadi ahli maksiat.” Lelaki tersebut berkata – Dia sangat penasaran untuk mendengarkan nasihatnya, “Tolong ungkapkan apa yang ada di benak Anda wahai Ibrahim bin Adham!”

Ibrahim bin Adham berkata, “Pertama, ketika engkau hendak berbuat maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka janganlah engkau makan sedikit pun dari rezeki Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Lelaki tersebut heran kemudian dia bertanya, “bagaimana Anda bisa mengatakan hal tersebut wahai Ibrahim. Padahal semua rezeki berasal dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala?” Ibrahim berkata, “Jika engkau telah menyadari hal itu, maka apakah pantas engkau makan rezeki-Nya padahal engkau berbuat maksiat kepada-Nya?” Lelaki tersebut menjawab, “Tentu tidak pantas. Lalu apa yang kedua, wahai Ibrahim!”

“Kedua, jika engkau hendak berbuat maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka janganlah engkau tinggal di bumi-Nya.”

Lelaki tersebut terheran-heran melebihi yang pertama, kemudian dia berkata, “Bagaimana Anda bisa mengatakan hal tersebut wahai Ibrahim? Padahal setiap bagian bumi ini milik Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Ibrahim menjelaskan kepadanya, “Jika engkau telah menyadari hal itu, maka apakah pantas engkau tinggal di bumi-Nya padahal engkau berbuat maksiat kepada-Nya?” Lelaki tersebut menjawab, “Tentu tidak pantas. Lalu apa yang ketiga, wahai Ibrahim!”

Ibrahim bin Adham berkata, “Ketiga, jika engkau hendak berbuat maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka carilah tempat di  mana Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak dapat melihatmu, lalu berbuatlah maksiat di tempat itu!”

Lelaki tersebut berkata, “Bagaimana Anda bisa mengatakan hal tersebut wahai Ibrahim? Padahal Allah Maha Mengetahui hal-hal rahasia (Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi). Dia dapat mendengar merayapnya semut pada batu besar yang keras di malam yang gelap.” Ibrahim menjelaskan kepadanya, “Jika engkau telah menyadari hal itu, maka apakah pantas engkau berbuat maksiat kepada-Nya?” Lelaki tersebut menjawab, “Tentu tidak pantas. Lalu apa yang keempat, wahai Ibrahim!”

Ibrahim bin Adham berkata, “Keempat, jika malaikat maut datang untuk mencabut nyawamu, maka katakanlah padanya, ‘Tundalah kematianku sampai waktu tertentu!’

Lelaki tersebut bertanya, “Bagaimana Anda bisa mengatakan hal tersebut wahai Ibrahim? Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman: “Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.” (QS. Al-Araf: 34)

Ibrahim bin Adham menjeaskan kepadanya, “Jika engkau telah menyadari hal itu, lantas mengapa engkau masih mengharap keselamatan?” Dia menjawab, “Iya. Lalu apa yang kelima wahai Ibrahim?”

Ibrahim bin Adham berkata, “Kelima, apabila malaikat Zabaniyah – mereka adalah malaikat penjaga – mendatangimu untuk menyeretmu ke neraka Jahannam, maka janganlah engkau ikut mereka.

Belum sampai lelaki ini mendengarkan nasihat yang kelima, dia berkata sambil menangis, “Cukup, Ibrahim. Saya memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertaubat kepada-Nya. Akhirnya dia senantiasa beribadah sampai meninggal dunia.”

Semoga kisah inspiratif di atas, bisa menjadi  pengingat ketika kita tergoda bermaksiat. Jangan lupa, ikut ngaji sampai nanti sampai mati. Agar tak terjerumus dalam komunitas remaja pendosa. Yuk ngaji! []

https://buletintemansurga.com/buletin-teman-surga-260-remaja-kebal-dosa/

GUYS, KEPOIN KEAGUNGAN PERADABAN ISLAM, YUK!

Hai Guys, edisi kali ini kita akan bahas soal peradaban nih. Agak gimana gitu yah anak zaman now bahas-bahas peradaban? Eits, jangan puyeng dulu. Dijamin pembahasan kita kali ini bakalan seru dan ngebuka jendela pengetahuan wa bilkhusus tentang Islam yang lebih luas lagi.

Kita awali dengan ungkapan seorang sejarawan sains asal Belgia-Amerika, George Sarton. Ia menyatakan bahwa peradaban Islam pada abad pertengahan adalah era yang sangat penting dalam sejarah manusia. Karena menurutnya, saat itulah ilmu pengetahuan menjadi sangat subur.

Satu lagi, kita simak yuk pernyataan Bill Gates. Tahu kan siapa Doi? Yaps, Doi adalah pendiri Microsoft, Guys. Lantas apa pendapat Doi terkait peradaban Islam? Bill Gates menegaskan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi Islam telah memengaruhi dunia modern secara besar-besaran. Terutama dalam bidang matematika, astronomi, dan kedokteran. Waw!

Gimana wahai generasi Islam, malu enggak tuh sama Pakde George dan Pakde Bill Gates kalau kita sampai enggak tahu soal peradaban Islam yang secetar itu? Masak iya sih mereka yang bukan muslim justru lebih paham dari kita yang sejak orok sudah jadi Muslim? Apa kata dunia? Malu, dong! Hiks!

*# Islam Masa Kini*

Guys, ngerasa enggak sih jika saat ini kita tuh jadi kayak jauh banget dari Islam? Islam sejak lahir sih, tapi banyak enggak pahamnya tentang apa yang menjadi ketetapan Allah SWT dan Rasulullah-Nya. Padahal semua petunjuk kehidupan itu sudah komplit di dalam Alquran dan Hadist, tapi kita terus-terusan tersesat. Lagi dan lagi hidup dalam kebuntuan. Terasa hampa di tengah hingar bingarnya dunia. Adakah merasakan hal yang sama?

Wajar sih, Guys. Karena memang saat ini kita hidup jauh dari peradaban Islam. Lebih tepatnya, peradaban Islam sudah enggak ada lagi di masa kita saat ini. Yaps, sejak 1924M yang lalu. Ketika kekhilafahan Islam yang berpusat di Turkiye diruntuhkan. Sejak keruntuhan peradaban Islam, kaum muslimin tidak lagi merasakan bagaimana keagungan Islam. Islam hanya dipandang sebagai agama ritual yang hanya bicara soal salat, puasa, membayar zakat, haji, dan umroh. Padahal, Islam tidak hanya mengatur perihal ritualitas saja melainkan juga mengatur seluruh aspek kehidupan kita.

Lantas apa saja sih keagungan peradaban Islam yang bisa kita kepoin saat ini? Yuk kita kepoin lebih dalam lagi!

*# Keagungan Islam Di Bidang Pendidikan*

Ilmu dalam pandangan Islam sangat diperhatikan. Bahkan Allah SWT sudah spil ke kita tentang derajat orang-orang berilmu yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang tidak berilmu.

“Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadalah:11)

Jika kita hitung-hitung, maka akan kita dapati banyak sekali kata ilmu yang Allah SWT sebutkan di dalam Alquran. Setidaknya ada 779 kata ilmu yang Allah SWT ualng-ulang. Selain dari itu, Rasulullah SAW juga menegaskan tentang kedudukan ilmu. Beliau SAW bersabda: “Dunia itu terlaknat dan segala yang terkandung di dalamnya pun terlaknat, kecuali orang yang berdzikir kepada Allah, yang melakukan ketaatan kepada-Nya, seorang ‘alim atau penuntut ilmu syar’i.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah. Dalam Shohihul Jami’, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan)

Sebab besarnya perhatian Allah SWT dan Rasulullah SAW terhadap ilmu inilah, maka peradaban Islam begitu serius dalam menjamin pendidikan bagi setiap individu manusia yang ada di dalam naungannya. Bukan hanya untuk muslim, tetapi juga berlaku bagi non muslim. Perhatian yang amat besar ini pula, yang menjadikan kaum muslim berlomba-lomba untuk mendalami ilmu secara luas dalam berbagai bidang ilmu. Luar biasa!

Salah satu fasilitas pendidikan yang diberikan oleh peradaban Islam adalah dibangunnya perpustakaan umum. Perpustakaan ini dibangun dengan sangat megah dan indah. Dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang memadai untuk siapa saja yang mau mereguk ilmu di dalamnya. Hingga saat ini kita masih dapat menjumpai beberapa perpustakaan terkemuka pada masa peradaban Islam berjaya. Diantaranya: Perpustakaan Baghdad, Cordoba, Sevilla, Kairo, Quds, Damaskus, Tripoli, Madinah, Sana’ (Yaman), Waqas, dan Qairwan.

Lalu bagaimana hasil (output) pendidikan di dalam peradaban Islam? Yuk kita kepoin  kesaksian dari para tokoh barat. Cekidot!

Briffault, seorang sejarahwan berkebangsaan Amerika, mengatakan, ”Tidak satupun kemajuan peradaban di Eropa kecuali secara meyakinkan dan pasti telah mengambil dari kemajuan perdaban Islam.”

Daniel Briffault berkata, ”Sejak tahun 700 Masehi, cahaya peradaban Arab Islam mulai berkibar membentang dari Timur Tengah menuju arah Timur sampai daerah Persia dan ke Barat sampai ke Spanyol. Mereka telah mengembalikan penemuan-penemuan sebagaian besar ilmu pengetahuan klasik dan membukukan penemuan-penemuan baru yang mereka temukan dalam bidang matematika, kimia, fisika, dan ilmu-ilmu lain. Dalam keadaan yang demikian ini, maka kaum muslimin arab merupakan guru bangsa Eropa, karena kaum muslimin telah menyumbangkansaham besar demi mengantarkan kebangkitan ilmu-ilmu pengetahuan di benua Eropa ini.”

Gimana Guys, terang-ang-ang-ang nggak nih dengan luar biasanya peradaban Islam di bidang pendidikan? Ini baru kesaksian dari dua tokoh Barat loh. Masih banyak lagi kesaksian lainnya yang enggak akan cukup kalau dituliskan semua di lembaran buletin ini. Kalian searching aja deh, dijamin makin terkagum-kagum dengan dahsyatnya keagungan peradaban Islam yang pernah ada. Ingat ya, jangan sampai orang Barat lebih tahu tentang keagungan Islam daripada kita. Malu!

*# Kembalinya Peradaban Islam*

Guys, apakah peradaban Islam hanya berkutat dalam dunia pendidikan? Tentu saja tidak, ya. Peradaban Islam itu memperhatikan dan mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Dari sisi spiritualitas, pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, politik, kenegaraan, dan lain sebagainya. Seluruhnya diperhatikan dan diatur berdasarkan wahyu Allah SWT. Jadi sama sekali jauh dari hawa nafsu.

Alhasil, peradaban Islam mampu melahirkan peradaban dunia yang beradab, makmur, sejahtera, dan penuh kedamaian sepanjang 13 abad. Dimulai sejak Rasulullah SAW hijrah ke Madinah hingga keruntuhan peradaban Islam di pusat ibu kotanya yang terakhir (Turkiye) pada tahun 1924 M. Yapz, sudah 100 tahun lebih peradaban Islam itu lenyap. Maka wajar, jika hari ini banyak yang kabur bahkan sengaja dikubur apa-apa yang berkaitan dengan keagungan peradaban Islam. Sehingga kita sebagai generasi Islam masa kini, menjadi asing di dalam agamanya sendiri.

Maka menjadi tugas kita sebagai generasi muda untuk memperjelas yang kabur dan menggali yang terkubur. Agar keagungan peradan Islam dapat kembali terlihat dan bahkan kembali menjadi mercusuar peradaban dunia. Emangnya bisa?

Jawabannya adalah pasti bisa. Sebab kembalinya peradaban Islam telah dijanjikan oleh Allah SWT. Juga telah dikabarkan oleh Rasulullah SAW. Bahwa ending dari panggung peradaban dunia ini akan kembali dikendalikan oleh Islam. Rahmatan lil alamin akan kembali menyelimuti alam semesta dan seisinya sebelum semuanya berakhir (kiamat). Plot twist banget, ya. Tapi ini disutradarai oleh Allah SWT dan Rasulullah saw, maka pasti beneran akan kejadian.

Pertanyaanya, kita mau ada di posisi sebagai apa? Enggak mau tahu alias bodo amat? Atau meyakini apa yang Allah SWT dan Rasulullah saw kabarkan, kemudian lanjut lebih semangat lagi belajar Islam? Yaps, paling bener kita pilih yang kedua aja ya. Semoga kita termasuk generasi yang turut berkontribusi untuk kembalinya keagungan peradaban Islam di masa yang akan datang. Sebentar lagi, inshaallah. Bismillah! []

https://buletintemansurga.com/buletin-teman-surga-259-guys-kepoin-keagungan-peradaban-islam-yuk/

SI PEDANG ALLAH YANG TERHUNUS

“Tidak ada malam yang lebih indah bagiku selain malam yang dingin dan gelap, penuh dengan hujan deras, ketika aku berada di barisan depan pasukan, menanti pagi untuk menyerang musuh.” – Sayfullah

Quote gacor di atas pastinya keluar dari lisan seorang pecinta perang sejati. Eit jangan salah. Si Cinta perang ini bukan orang yang hobi menumpahkan darah dan mencari masalah. Sebaliknya, dia adalah sosok menakjubkan di sepanjang sejarah kemiliteran dunia Islam.

Ia berasal dari suku Quraisy, dari klan Makhzum yang merupakan salah satu suku terkemuka di Mekah. Ayahnya, Walid bin al-Mughirah, adalah seorang pemuka suku Quraisy yang sangat dihormati. Nama lengkapnya adalah Khalid bin Walid bin al-Mughirah al-Makhzumi. Tahu kan?

Khalid bin Walid adalah seorang jenderal besar yang telah membawa pasukan Islam memenangkan berbagai pertempuran. Beberapa di antaranya adalah Perang Mu’tah (629 M); Penaklukan Mekah (630 M); Perang Hunain (630 M) melawan suku Hawazin; Perang Yarmuk (636 M) melawan kekaisaran Bizantium; serta Penaklukan Persia dalam Pertempuran Walaja dan Pertempuran Ullais.

Sehingga Rasulullah saw menggelarinya “Pedang Allah yang Terhunus” (Sayfullah al-Maslul) setelah Khalid bin Walid membuktikan kehebatannya dalam perang Mu’tah.

*# ‘Bulan Sabit’ di Medan Perang*

Prestasi besar Khalid bin Walid bukan cuma dikagumi oleh kaum Muslim, tetapi juga oleh orang kafir. Zahid Ivan Salam, dalam sebuah karyanya, mengatakan bahwa seorang Jenderal Nazi Jerman, Erwin Rommel, mencontek strategi perang Khalid dan itu membuatnya selalu menang dalam pertempuran melawan sekutu di front Afrika.

Salah satu strategi perang jitu Khalid bin Walid diterapkannya pada Perang Walaja melawan Persia. Perang Walaja terjadi pada bulan Mei 633 Masehi di sebuah daerah bernama Walaja (sekarang Irak). Waktu itu jumlah pasukan Islam hanya 15.000 prajurit, sementara jumlah pasukan Persia lebih banyak tiga kali lipatnya. Pasukan Persia dipimpin oleh seorang jenderal bernama Andarzaghar, pasukan Islam tentu saja dipimpin oleh Khalid bin Walid.

Andarzaghar dengan pongah sesumbar bahwa dia akan mengalahkan pasukan Islam. Dia menetapkan sasaran untuk tiba di Walaja lebih dahulu daripada pasukan Islam. Sayangnya, pasukan Persia bergerak amat lambat karena membawa peralatan perang yang berat. Pasukan Islam mendahului pasukan Persia tiba di Walaja. Khalid pun memerintahkan pasukannya berkemah di sekitar Walaja sambil terus mengawasi medan.

Akhirnya terlihatlah pasukan Persia datang berduyun-duyun dengan seluruh peralatan perang mereka yang berat. Lokasi perang Walaja ini adalah sebuah padang rumput yang luas, yang berada di antara dua lereng bukit yang tingginya 20 sampai 30 kaki. Saat Khalid melihat pasukan Persia sudah memasuki medan perang, ia menyaksikan bahwa kebanyakan pasukan Persia adalah infanteri (pasukan jalan kaki), dan jumlah kavaleri (pasukan berkuda) Persia jauh lebih sedikit daripada pasukan kavaleri Muslim. Jumlah kavaleri Muslim adalah 5.000 personil, dan Khalid membagi pasukan ini menjadi dua detasemen.

Pada malam sebelum pertempuran, Khalid memerintahkan kedua pasukan berkuda ini untuk bergerak ke belakang lereng bukit itu. satu detasemen di belakang bukit sebelah kanan, dan sisanya di belakang lereng bukit sebelah kiri. Khalid menempatkan pasukan berkudanya di belakang barisan pasukan Persia tanpa sepengetahuan mereka. Khalid memerintahkan mereka untuk tetap bersembunyi di belakang kedua lereng bukit itu dan hanya menyerang jika diberi tanda.

Pertempuran pun dimulai. Andarzhagar menerapkan strategi bertahan pada awal peperangan itu. Dia amat percaya diri dengan kekuatan pasukannya, dan dia berharap pasukan Islam akan cepat kehabisan tenaga dan kelelahan. Barulah setelah itu dia akan melancarkan serangan balasan dan menghancurkan pasukan Islam sekaligus.

Khalid memerintahkan pasukannya untuk berhadap-hadapan dengan pasukan Persia dan menyerang dengan sengit. Mereka berjihad di jalan Allah dengan gigih. Benar saja, pasukan Persia punya pertahanan yang cukup kuat, walaupun pasukan Islam terus menekan, mereka tetap bisa bertahan.

Maka tiba-tiba Khalid memerintahkan pasukannya untuk mundur perlahan-lahan. Bagian tengah pasukan Islam pun mundur, dan terus mundur, hingga perlahan-lahan bentuk barisan pasukan Islam jadi melengkung seperti bulan sabit (karena yang diperintahkan mundur hanya bagian tengah saja, pasukan sayap diperintakan untuk tetap mempertahankan posisinya, dan bahkan meluaskan jangkauan).

Andarzaghar melihat pasukan Islam mundur, dan dia seolah menyaksikan kesempatan emas. Dia melancarkan serangan umum untuk mengejar pasukan Islam dan menghancurkannya sekaligus. Pasukan Persia pun mengejar pasukan Islam. Saat itulah pasukan Persia masuk ke dalam jebakan pasukan Islam. Dengan semakin dalam mengejar pasukan Islam, Pasukan Persia makin terjebak di dalam lengkungan berbentuk bulan sabit yang dibuat pasukan Islam, sehingga mereka hampir terkepung oleh pasukan Islam. Saat itulah Khalid memberi tanda kepada pasukan kavaleri yang berada di balik kedua bukit itu.

Sekonyong-konyong pasukan kavaler Muslim bergerak dengan sangat cepat dari balik bukit dan memukul bagian belakang pasukan Persia. Formasi bulan sabit itu pun ditutup dengan datangnya pasukan kavaleri Muslim dari balik bukit, membuat pasukan Persia terjebak dalam lingkaran pasukan Muslim. Mereka dikelilingi pasukan Muslim dan tidak ada lagi tempat melarikan diri. Saat itulah pasukan Persia digempur dan dihabisi. Dan kemenangan pun kembali diraih para kesatria Muslim.

Khalid bin Walid kembali berhasil membawa pasukan Islam pada kemenangan, namun mereka yakin bahwa semua ini adalah karunia Allah ‘azza wajalla. “Terkadang Tuhan memberimu kemenangan karena strategi yang baik, terkadang Tuhan memberimu kemenangan hanya karena imanmu.”

Meski keseharian Khalid bin Walid dihabiskan untuk kejayaan militer Islam, namun siapa sangka akhir hayatnya justru di atas pembaringan dalam rumahnya. “Aku telah berperang di seratus medan, mencari kematian di setiap langkahku, namun di tempat tidur inilah aku akan mati seperti seekor unta mati.” Khalid bin Walid, si Pedang Allah yang Terhunus, wafat pada tahun 642 M (21 H) di kota Homs, Suriah, dalam usia sekitar 50 tahun.

Sejatinya, panglima Khalid bin Walid masuk dalam daftar idola kita. Bukan tokoh fiksi superhero Marvel atau DC. Berjuang untuk kejayaan Islam, sampai nanti sampai mati. Gass! []

https://buletintemansurga.com/buletin-teman-surga-258-si-pedang-allah-yang-terhunus/