Senin, 29 April 2019

My School Is My Second Home



Kali ngeliat judul di atas, bukan lantas kalo di rumah kita ada pembantu rumah tangga lalu kita jadikan teman kita sebagai pengganti pembantu rumah tangga. Nggak, nggak kayak gitu maksud dari judul buletin kita kali ini. Judul di atas, ngasih pengertian bahwa fungsi sekolah seenggaknya kayak rumah, di dalamnya ada pendidikan, pengasuhan, dan/atau pembinaan. Jadi kalo di rumah kita punya orang tua, maka di sekolah, para guru kita itulah orang tua kita. Kalo di sekolah kita punya teman, maka teman-teman kita itu ibaratnya saudara adik kakak kita di rumah.

Hormati Gurumu, Sayangi Teman
Gaes, pasti kamu pernah dengar syair lagu ini:
Oh, ibu dan ayah, selamat pagi
Kupergi sekolah sampai kan nanti

Ibu dan ayah:
Selamat belajar nak penuh semangat
Rajinlah selalu tentu kau dapat
Hormati gurumu sayangi teman
Itulah tandanya kau murid budiman

Yupz itu lagu yang kita nyanyikan saat kita masih di TK. Oiya, kita minta man-teman pembaca nginget lagu itu, bukan kita mau ngajak koor nyanyi, tapi coba kita perhatikan penggalan syair lagu itu. Di situ ada perintah atau ajakan dari orang tua, agar kita menghormati guru dan menyanyangi teman. Lalu disebut di situ, itulah tandanya murid budiman.

Nah, bukan berarti nama guru kita namanya pak Budiman. Budiman itu sebagai sebuah idiom untuk menyebut orang yang memperhatikan budi pekerti. Sebab mengormati guru dan menyayangi teman emang termasuk budi pekerti yang luhur. Dan naasnya hari ini budi pekerti alias adab, utamanya menghormati guru itu menjadi suatu yang langka. Masih inget kan dengan kasus guru Ahmad Budi Cahyono di Sampang, Madura yang tewas, di tangan muridnya? Nah, kasus ekstrim itu menjadi tamparan keras dunia pendidikan kita, gaes.

Guru memang nggak gila hormat, tapi sebagai murid menghormati guru adalah kewajiban, bagian dari adab. Bahkan kalo soal adab kepada guru, Islam nggak kurang-kurang memperingatkan hal itu. Sebab, selain itu bentuk penghormatan kita kepada guru, tersebab adab itulah timbul keberkahan dari ilmu yang kita pelajari dari guru-guru kita. Bisa jadi kesuksesan yang hari ini kita rasakan, adalah salah satu dari ridhonya guru kita atas ilmu yang ia berikan. Demikian pula sebaliknya. Kalo kita gagal dalam belajar, pekerjaan, prestasi dan lainnya, bisa jadi karena buah dari rasa nggak hormat kita pada guru.

Kayak kita udah sebutkan tadi, guru adalah orang tua kita di sekolah, dan sekolah adalah rumah kedua kita. Jadi hormat alias beradab kepada orang tua, pun harusnya dilakukan juga pada guru kita. Pada masa generasi tabi'in, ada seorang ulama (cendekiawan) yang sangat luas dan mendalam keilmuannya. Sampai-sampai oleh para ulama lainnya digelari "Rabi'atur Ra'yi" (logika musim semi). Gelar untuk menggambarkan betapa jenius ulama ini. Praktis, Rabi'atur Ra'yi menjadi tujuan utama para penuntut ilmu untuk belajar. Tidak terkecuali Malik bin Anas. Seorang remaja yang kelak akan dikenal sebagai Imam Malik Rahimahullah, peletak dasar Madzhab Maliki.

Ada satu fragmen yang menarik ketika Imam Malik hendak pergi belajar ke gurunya. Diceritakan “Aku berkata kepada ibuku, ‘Aku akan pergi untuk belajar.’ Ibuku berkata,‘Kemarilah!, Pakailah pakaian ilmu!’ Lalu ibuku memakaikan aku mismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan, ‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’ Dia juga pernah mengatakan, ‘Pergilah kepada Rabi'ah (guru Imam Malik, pen)! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’.” (‘Audatul Hijaab 2/207, Muhammad Ahmad Al-Muqaddam, Dar Ibnul Jauzi, Kairo,)

Karena saking urgentnya adab itu, Syaikh Ibnu Mubarak, seorang ulama yang sangat shalih, berkata, "Thalabtul adab tsalatsuna sanah wa thalabtul 'ilm 'isyrina sanah" (Aku belajar adab 30 tahun lamanya, sedang aku belajar ilmu hanya 20 tahun lamanya).

Hormat Guru, Sayangi Muridmu
Rasulullah Saw berpesan: “Tidak termasuk umatku orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti hak ulama.” (HR. Ahmad)

Hadits di atas juga bisa berlaku umum, menghormati atau menyayangi teman juga masuk bagian itu. Nah, sebagai timbal balik, sesuai tekstual hadist di atas bahwa yang muda menghormati alias beradab kepada yang tua, maka yang tua (guru) menyayangi yang muda (muridnya).

Semoga buletin ini juga dibaca oleh para guru, atau man-teman yang pembaca boleh koq ngasihkan buletin teman surga ini kepada gurunya. Karena guru adalah sebagai ganti orang tua kita ketika di sekolah, maka tugas guru nggak hanya cuman sebatas menyampaikan materi pembelajaran, tapi sampe pada proses pengawasan akan perubahan sikap muridnya. Sehingga sebagai guru, kita juga harus menyayangi anak didik kita. Memberikan pengajaran dan pendidikan dilandasi kasih sayang  dan diniatkan ibadah.

Ada pepatah yang masih kita inget bener bunyinya “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”.  Pepatah itu seakan mau ngasih tahu kepada kita kalo fungsi guru itu salah satunya ngasih teladan kepada muridnya. Makanya penting bagi seorang guru memperhatikan perilakunya, biar muridnya nggak asal copas perilaku gurunya. Sekali lagi, guru adalah orang tua dari murid-muridnya di sekolah.

Jadi, kalo ada pepatah “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”, kira-kira kalo gurunya suka bergoyang manja tanpa rasa malu di Tik-Tok, nah jangan salah kalo murid-muridnya nirunya lebih ekstrim dari itu. Kalo gurunya suka main pukul kepada murid-muridnya, maka muridnya bisa jadi mempraktikan hal serupa kepada teman-temanya. Kalo guru misalnya happy aja merokok di sekolah, maka jangan salah jika muridnya yang badung dikasih tahu jangan ngerokok, orang ada contoh dari gurunya.

Karena sekolah bukan cuman bertugas ngisi otak para siswa, tetapi juga menghiasi diri mereka dengan sikap yang anggun dan perilaku yang menawan. Dalam bahasa para guru disebut dengan tiga aspek penilaian, aspek kognitif (intelektualitas), aspek afektif (moralitas), dan aspek psikomotorik (aktualitas). Nah, sebagai murid kita hormati guru, tapi sebagai seorang guru kita juga harus menyayangi murid kita, salah satunya dengan ngasih teladan yang baik buat anak didiknya. Itu namanya impas.  Catet!

Lingkungan Juga Sekolah Kita
Ada satu tempat belajar bagi kita para anak (remaja) di luar ruang formal sekolah, yakni lingkungan. Yes, lingkungan pergaulan, baik di sekitar rumah maupun di tempat yang lain, kalo boleh diibaratkan, juga seperti layaknya sekolah bagi remaja. Karena di lingkungan itulah, dia belajar, dia menyerap, dia memahami, lalu bertingkah laku. Intinya seseorang bersikap sangat tergantung kepada pemahamannya, sementara pemahaman seseorang itu dipengaruhi dari komponen-komponen ketika dia berpikir. Salah satu komponen seseorang memahami sesuatu atau berpikir adalah berupa maklumat tsabiqoh alias informasi yang masuk ke otaknya.

Asupan informasi yang masuk ke otak para remaja, nggak cuman dari rumah, tapi juga dari sekolah, dan yang bisa jadi lebih banyak adalah dari lingkungan. Dari informasi-informasi itulah dia olah, lalu dikaitkan dengan fakta yang dia juga serap dari keseharian pergaulannya. Jadi kalo remaja mendapati informasi yang salah tentang gaya gaul misalnya, lalu didapati fakta di sekitarnya, gaya gaul anak remaja seumurannya yang rusak, maka hasil perilaku si remaja tadi adalah hasil olah pikir antara fakta dan informasi yang dicerap melalui inderanya.

Kalo informasi dan fakta yang dia olah, lalu disimpulkan menjadi perilaku selalu seperti itu, maka menjadilah sebuah pola, yang bernama pola sikap. Jika itu dalam bentuk pemahaman atau pemikiran, dan berlangsung terus menerus menjadilah yang disebut pola pikir. Kalo pola pikir dan pola sikap, dibangun dengan pondasi yang salah, jadilah membentuk sebuah kepribadian (syakhsiyah) yang salah. Inilah yang disinyalir oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya:

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”.  (HR Muslim, Ibnu Majah, Ahmad, Baihaqi)

Hati yang dimaksud di hadits tersebut dalam bahasa arab adalah Qolbun. Menurut beberapa ulama, qolbun itu dalam bentuk fisik bukan hati yang bermakna jantung, akan tetapi qolbu bimakna pemikiran. Jadi, yang dimaksud Rasulullah dalam hadits tersebut, bahwa Allah melihat pemikiran (pola pikir), dan amal (pola sikap).

Nah, kembali ke soal sekolahan atau pendikan tadi. Jadi, lingkungan pergaulan juga sangat berpengaruh, lingkungan pergaulan juga ibarat sekolahan, di sana kita belajar, mendapat informasi, lalu akhirnya membentuk perilaku kita. Nggak salah, jika Rasulullah SAW mengingatkan kita tentang teman gaul kita:

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, segala hal yang melingkupi teman-teman remaja, bisa menjadi sarana bagi dirinya dalam membentuk kepribadiannya. Mulai dari rumah, sekolah, dan lingkungan pergaulannya.

Benteng Terakhir, Negara!
Kalo seorang remaja dibentuk kepribadiannya dari rumah, sekolah, dan lingkunganya, maka yang tak kalah pentingnya yang bisa bertindak menerapkan kebijakan alias aturan bagi pendidikan, adalah para pengambil kebijakan. Mulai dari dinas, menteri, hingga kepala negara merupakan wakil dari negara untuk mengayomi dan melayani warga negaranya, dengan melalui penerapan peraturannya.

Oleh karenanya, nggak berlebihan kalo kita berharap remaja-remaja kita menjadi baik, shalih-shalihah, maka tentu nggak bisa dilepaskaitkan dengan peran negara yang baik. Bukan hanya baik dalam melayani, tapi aturannya juga harus baik (Islam), terlebih perilaku para perilaku penyelenggara negara juga harus baik. Kalo istilah kerennya sih, good and clean government.  Itu harapan sekaligus tantangan, dan nggak ada yang sanggup menjawab tantangan itu, kecuali Islam. Karena Islam dan aturannya dalam catatan sejarahnya pernah diterapkan dalam sebuah negara dalam rentang waktu 13 Abad. Sungguh rentang waktu, yang belum bisa ditandingi oleh sistem negara model apapun.

Sebagai closing statetement, coba ayo sama-sama kita pikirkan ayat 49-50 dari surat Al Maidah berikut, yang merupakan perintah untuk beraturan hanya dengan aturan dari Allah:

”Dan hendaklah kamu berhukum dengan apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memperdayaimu atas sebagian yang Allah turunkan kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang Allah turunkan) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka karena dosa-dosa mereka. Dan sungguh kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan siapakah yang lebih baik dari Allah (dalam menetapkan hukum)  bagi orang-orang yang yakin”.  (QS Al Maidah 49-50)[]

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Selasa, 23 April 2019

Love Your Book



Kutu buku. Kata kiasan ini biasa sering dipakai bagi seseorang yang gemar membaca buku. Itu kah kamu si kutu buku?? Memang bagi sebagian pelajar saat ini membaca bukanlah salah satu kegemaran. Padahal seorang pelajar seharusnya akrab dengan buku dan tidak alergi membaca buku. Apa jadinya jika ke sekolah saja seorang pelajar hanya membawa satu buku tulis dan itupun hanya diselipkan di saku celana? Ibarat kata mau latihan perang tapi persiapan senjata dan mental yang minim gimana skill kita bisa terasah? Sedang musuh mempersiapkan begitu luar biasa, walhasil kita kalah perang sudah bisa dipastikan. Tapi, bener lho.. sesungguhnya kita ini sedang menghadapi peperangan. Ngga sadar ya?? Yes, emang perang ini ngga banyak disadari oleh banyak orang khususnya generasi muda kita. Karna perang ini bukanlah menyerang fisik tapi lebih kepada pemikiran. Ya itu salah satunya yang bikin kita akhirnya jadi males sama yang namanya baca buku dan belajar. Generasi muda kita khususnya muslim disibukkan dengan hal-hal yang unfaedah dan di sini generasi kita kalah untuk bisa melawan serangan budaya barat dan dan lemah untuk memproteksi diri dari serangan pemikiran liberal. Akal generasi muda kita seolah ter-lock sehingga sulit untuk berpikir benar, terlebih berpikir serius tentang apa yang dilihat, didengar dan dirasa.

Come on guys, wake up. Kita tercipta sebagai generasi yang terbaik. So, open your eyes “serangan – serangan” sudah semakiin massif ini waktunya jadi pelajar yang aktif positif dimulai dengan change your habbit, salah satunya mulailah suka membaca.

Semakin Dibaca Semakin Banyak Tahu

Pernah dengar istilah buku adalah jendela dunia?  Karna dengan membacanya kita bisa mengetahui banyak hal, segala yang ingin kita tahu bisa kita dapatkan dengan membaca. Memang tak bisa dipungkiri di zaman digital seperti sekarang ini, kita dimanjakan dengan kemudahan untuk mengetahui banyak hal melalui sentuhan jari. Ponsel pintar pun bisa memberikan banyak informasi yang kita inginkan. Bahkan ada juga e-book atau versi elektronik dari buku. Kalau biasanya buku berisi lembaran-lembaran kertas berisi teks atau gambar, sedangkan e-book berisi informasi digital yang juga berisi teks dan gambar. Kemajuan teknologi ini ngga usah kita nafikan karna hal itu akan terus berkembang seiring dengan kemajuan berfikir manusia meski semua ada plus minusnya. Kalau bicara teknologi, Islam sudah lebih dulu menjadi pioner dalam menciptakan kemajuan dan kecanggihan teknologi. Jadi buat teknologi yang kekinian hanya mengembangkan dari hasil karya ilmuwan – ilmuwan muslim. Sampai seorang Mark Zuckerberg yang notabene menciptakan facebook disebutkan mengidolakan Al Khawarizmi penemu rumus algoritma. Bos facebook ini mengatakan “Saya heran ada orang yang terlalu mengidolakan saya, padahal saya sangat mengidolakan ilmuwan muslim Al Khawarizmi karena tanpa Algoritma dan Aljabar, maka jangan pernah bermimpi ada faceboook, whats App, games bahkan komputer”. Zuckeberg seorang yang mendapat julukan ‘Yahudi Paling Berpengaruh’ oleh The Jerussalem Post ternyata gemar membaca dan biasanya ia akan memilih buku yang dianggap memiliki pandangan yang luas, serta memberikan pengaruh yang besar bagi kehidupan sosial dan bisnis. Dan yang menjadi pilihannya adalah buku tentang sejarah manusia dan alam semesta yang ditulis oleh ilmuwan Islam bernama Ibnu Khaldun.

How about Us?? Sayangnya remaja milenial kita masih lebih asyik bermedsos-an dan menikmati segala hasil kemajuan teknologi, sedang membaca sebagai sesuatu yang mudah dilakukan masih dianggap sebagai sesuatu yang buang – buang waktu, ngga keren. Pelajar sekarang lebih PeDe bawa HP dibanding bawa buku. Coba aja lihat saat kita berada di angkutan umum, mayoritas penumpang asyik dengan gadgetnya dibanding melewati perjalanan dengan membaca buku. Stay alert guys, keseringan lihat gadget bisa bikin mata mudah lelah dan bikin males baca buku lhoo.. karna dengan gadget mata kita fokus pada satu arah sedangkan kalau kita membaca buku otot-otot mata kita bergerak mengikuti baris demi baris kalimat.

Iqra!! Bacalah!! Inilah wahyu yang pertama kali diturunkan oleh Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad SAW yaitu surat Al Alaq yang memerintahkan kita untuk membaca. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qolam (pena), Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (TQS. Al Alaq 1-5)

So, yang namanya pelajar ya tugasnya belajar yaitu proses memahami ilmu pengetahuan dan salah satu caranya adalah dengan membaca. Kebayang yah kalau seorang pelajar malas membaca apalagi bergiat dalam belajar. Mungkin dari sini akhirnya Pemerintah mencanangkan kegiatan literasi sebelum mulai belajar mengajar, diharapkan para pelajar kembali gemar membaca. Hanya karna tak diimbangi dengan penanaman konsep berpikir yang benar dan didasari pada aqidah yang lurus walhasil motivasi pelajar untuk membaca dan belajar tidak kuat. Kalau pun sedikit agak getol membaca dan belajar pas mau ujian aja. Padahal dengan belajar kita bisa mencipta karya dan dari karya yang bermanfaat itulah kita bisa mendapatkan pahala mengalir sepanjang karya yang kita ciptakan masih dimanfaatkan oleh banyak orang.

Oiya, bahkan seorang pahlawan wanita Indonesia Ibu Raden Ajeng Kartini berjuang agar seluruh rakyat Indonesia tak terkecuali diperbolehkan untuk menuntut ilmu. Karna pada saat itu yang diperbolehkan sekolah kebanyakan adalah kaum laki-laki kalaupun yang perempuan hanya dari golongan ningrat atau bangsawan saja. Aturan inilah yang coba didobrak oleh Ibu RA. Kartini. Jadi sebenarnya salah kaprah jika ada yang menilai atau menyimpulan jika RA. Kartini memperjuangkan emansipasi wanita yang mengharuskan menyetarakan antara laki-laki dan perempuan di segala bidang tanpa kecuali. Justru yang diperjuangkan oleh beliau adalah menghilangkan perbedaan antara kaum bangsawan dengan rakyat jelata, karna memang di sisi Allah yang mulia adalah yang bertaqwa “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (TQS. Al Hujurat: 13). Selain itu beliau pun memperjuangkan agar kaum perempuan boleh belajar dan bersekolah. Karna memang dalam Islam kewajiban untuk menuntut ilmu bagi setiap muslim baik yang laki-laki maupun yang perempuan.

Sekali lagi, big wrong ya guys.. kalau RA. Kartini dikatakan sebagai pejuang emansipasi dan feminisme. Apalagi fakta sebenarnya Beliau adalah orang yang haus akan ilmu agama hingga mencari seorang guru untuk mengajarkannya membaca dan mengkaji al qur’an hingga judul bukunya yang sangat fenomenal “habis gelap terbitlah terang (Door Duisternis Tot Licht)” terinspirasi dari satu kalimat di dalam Al Qur’an yaitu Minnazh zhulumaati ilaan Nuur yang terdapat dalam Qur’an Surat Al Baqarah ayat 257. Sayang belum selesai mengkhatamkan belajar membaca dan mengkaji Al Qur’an Ibu Kita Kartini meninggal dunia. Ayoo.. buat kamu-kamu yang perempuan lanjutkan semangatnya Beliau ya untuk belajar mengaji dan mengkaji Al Qur’an Kariim. Eits, buat yang laki-laki jangan kalah semangat dong.

You are What You Read

Kamu adalah apa yang kamu baca. Kalau kamu sukanya baca buku komik, kartun dan yang semisalnya bisa dipastikan kamu suka berpikir imajinatif cenderung berangan-angan ingin seperti tokoh yang dikisahkan dalam buku tersebut. Misal, karna suka baca buku Harry Potter biasanya jadi kepengen punya kekuatan magic juga. Atau karna sukanya baca buku-buku drama romance akhirnya gampang baperan dan kebawa di kehidupan nyata. Nah, biasanya lagi orang-orang yang punya hobi baca buku-buku begini kalau diajak ngobrol dan membahas soal peristiwa sekitar atau kondisi perpolitikan negeri sepertinya akan sedikit ngga nyambung. Karna isu politik dianggap sesuatu yang berat dan rumit. Sebenarnya guys, ringan atau beratnya tema buku yang kita baca tergantung dari seberapa kuat dorongan kita untuk mencari tahu tentang banyak hal dan yang terpenting ada yang disebut sebagai kekuatan motivasi ruhiyyah. Maksudnya, apa saja yang ingin kita lakukan termasuk membaca dan belajar didorong karna kekuatan keimanan kepada Allah, bahwa Allah mencintai orang-orang berilmu dan terlebih dari banyaknya ilmu yang kita miliki maka akan semakin banyak kita bisa menebar manfaat bagi kemaslahatan umat. Maka bagi seorang pelajar yang paham tentang dasar ini akan senantiasa semangat untuk mencari ilmu, dan membaca adalah sebuah kebutuhan yang menyenangkan untuk dilakukan. Coba deh TemanS bayangin, kalau yang dikatakan anak gaul itu adalah yang slalu ngikutin apa yang lagi trend bergaya trendy, hapal bahkan khatam dengan artis-artis korea tapi giliran ditanya tentang rukun iman dan rukum islam aja langsung nyengir-nyengir malu, clingak-clinguk cari jawaban karna ngga hapal. Ini siyh parah bin memalukan. Tapi, saat kamu yang sholih/sholihaah ini diajak ngobrol bahkan diskusi tentang banyak hal paham dan ngga tulalit bahkan banyak tahu tentang ini dan itu, gimana ngga jadi remaja gaul yang ketjeh coba?. Mulai sekarang yuk kita jadikan membaca adalah hobi, cintai buku agar kamu tambah ilmu.

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Selasa, 16 April 2019

Jari Tanpa Tinta




Wacana Golput menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum selalu jadi trending topic. Baik di dunia maya apalagi dalam headline berita. Mungkin dianggap sepele jika pemilih Golput cuma seupil. Masalahnya, presentasi Golput pada setiap Pemilu terus beranjak naik dari tahun ke tahun. Saking populernya istilah tersebut, banyak remaja yang nggak ngeh asal muasal Golput itu sendiri. Padahal bagi kita yang udah termasuk usia pemilih, memahami hakikat golput. Biar kita bisa men sikapi tiap pemilu lebih dewasa dan nggak asal ngikut.

Golput atau golongan putih pada dasarnya adalah sebuah gerakan moral yang dicetuskan pada 3 Juni 1971 di balai Budaya Jakarta, sebulan sebelum hari pemungutan suara pemilu pertama di era Orde Baru dilaksanakan. Arief Budiman sebagai salah seorang eksponen golput berpendapat bahwa gerakan tersebut bukan untuk mencapai kemenangan politik, tetapi lebih untuk melahirkan tradisi di mana ada jaminan perbedaan pendapat dengan penguasa dalam situasi apapun. Menurut kelompok ini, dengan atau tanpa pemilu, kekuatan efektif yang banyak menentukan nasib negara ke depan adalah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).

Kala itu, rezim yang berkuasa memanfaatkan militer untuk menekan rakyat pilih satu partai tertentu, suatu tindakan yang jelas bertentangan dengan prinsip bebas dalam LUBER JURDILl. Sebagai bentuk protes, Arief Budiman dan kawan-kawan mengajak masyarakat memilih golput. Mereka tetap datang ke tempat pemungutan suara tetapi tidak mencoblos lambang partai melainkan bagian putih di sampingnya, sehingga surat suara dihitung tidak sah.

Sejak Pemilu 1955 angka golput cenderung terus naik. Bila dihitung dari pemilih tidak datang dan suara tidak sah, golput pada 1955 sebesar 8,60%. Pada pemilu 1971, ketika Golput dicetuskan dan dikampanyekan justru mengalami penurunan hanya 3,40%. Pemilu 1977 Golput sebesar 3,50%, 3,50% (1982), 3,60% (1987), 4,90% (1992), 6,40% (1997), 7,30% (1999), 15,90% (2004 putaran I), 23,40% (2004 putaran II), 28,30% (2009), 29,01% (2014).

Golput adalah sebuah sikap moral yang dilindungi undang-undang. Hak pemilih untuk tidak memilih, yang dilindungi UUD 1945 pasal 28e ayat 2: Setiap orang berhak atas kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya. Jadi golput bukan gerakan ilegal yang mesti dibasmi bak nyamuk demam berdarah. Apalagi sampai difatwakan haram. Terlalu gagah mengharamkan golput di era demokrasi yang steril dari pemimpin berbasis religi.

Semakin tingginya jumlah pemilih yang tidak ikut memilih dalam pilkada, pilek pilpres atau pil-pil lainnya, seharusnya bikin pemerintah malu bin tengsin. Ngaca dong. Semakin banyak yang Golput menunjukkan masyarakat udah nggak percaya lagi ama para pejabat yang ikut audisi pemimpin. Saat kampanye, berkoar-koar mengumbar janji surga demi kepentingan rakyat. Giliran udah berkuasa, janjinya udah keburu menguap. Yang ada, dianya sibuk kasak-kusuk nyari obyekan biar bisa cepet balik modal ongkos politiknya. Endingnya, kena ciduk KPK dan ngantor di hotel prodeo. Ngenes!

Jadi, sebagai remaja yang melek politik, tunjukin deh sikap dalam menghadapi pemilu dengan baik dan benar sesuai hukum syara. Nggak perlu minder kalau jari kita tanpa tinta saat hari pemilihan tiba. Kalau pun harus masuk bilik suara, pilihlah dengan bijak seperti pertama kali gerakan Golput itu ada. Kita sekedar ngingetin, setiap pilihan dalam hidup akan dimintai pertanggungjawabannya. Tak terkecuali saat mencoblos surat suara. Makanya, pilihlah pemimpin atau wakil rakyat yang taat sama Allah dan Rasul-Nya serta komitmen mengatur urusan rakyat pakai aturan Allah. Kalau enggak ketemu kandidat pemimpinnya, ngapain juga ngotorin jari kita pakai tinta?[@alazizyrevolusi]
***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Senin, 15 April 2019

Stop Nge-Bully Ayo Ngaji!



Kasus penganiayaan yang menimpa salah seorang siswi SMP di Pontianak yang berinisial A masih menjadi buah bibir di kalangan netizen. Selebgram, youtuber, artis, aktivis, tokoh perempuan, para elite, pejabat daerah dan nasional hingga Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun angkat bicara terkait kasus ini. Bahkan sejumlah publik figur sampai membatalkan jadwalnya demi datang ke Kota Khatulistiwa untuk menjenguk korban yang hingga Kamis (11/4/2019), masih dalam perawatan di RS ProMEDIKA Pontianak. Apa yang terjadi pada korban tersebut sampai melahirkan tagar yang jadi trending topik?

Darurat Bullying Pelajar

Awanya, korban dan pelaku terlibat aksi saling sindir via linimasa sosial media dengan pelaku. Berniat ingin menyelesaikan masalah, pertemuan pelaku dan korban berujung penganiayaan secara fisik. Kasus ini menjadi viral lantaran netizen begitu mudah terbawa opini liar yang beredar di dunia maya.

Terlepas dari hoax dan fakta seputar kasus ini kita patut prihatin dengan kekerasan pelajar yang sudah lintas gender. Nggak cuman anak cowok aja yang sering kedapatan berkelahi keroyokan, tawuran, hingga open fight satu lawan satu ala gladiator. Tapi juga pelajar putri ikut-ikutan melampiaskan kemarahannya dengan bullying hingga penganiayaan yang memakan korban. Dan kasus yang terjadi di Pontianak ini bukan yang pertama terjadi di ngeri ini. Ngeri!

Sebelumnya juga sudah banyak kasus bulying yang menimpa dan dilakukan oleh sesama pelajar putri yang terekam oleh media. Meski nggak sampai viral dan mengundang tokoh publik untuk ikut ngasih pernyataan sikap, tapi cukup bikin potret dunia pendidikan kita makin buram.

Pernah ada seorang siswi berinisal WN (14) yang dikeroyok oleh dua remaja putri, LS (16) dan YA (15) di Modernland, Cikokol, Jumat 9 Maret 2018. Dalam aksinya, kedua pelaku memukuli korban menggunakan tangan kosong. Peristiwa itu juga diabadikan dalam video dan tersebar di media sosial. Kedua pelaku kemudian dijerat Pasal 80 ayat 3 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jumlah kasus pendidikan di KPAI per tanggal 30 Mei 2018 berjumlah 161 kasus, dari jumlah tersebut terungkap data anak korban kasus kekerasan dan bullying mencapai 22,4% dan anak pelaku kekerasan dan bullying mencapai 25,5%," kata Komisioner KPAI, Retno Listyarti dalam keterangannya, Minggu (22/7/18).

Retno menjelaskan berdasarkan pengakuan korban, bully dilakukan secara langsung saat di sekolah dan kerap dilanjutkan di dunia maya yang kerap dikenal dengan istilah cyberbully.

Perilaku bullying gak bisa dipandang sebelah mata. Lantaran akibat bullying bisa bikin korban depresi hingga bunuh diri. Seperti yang terjadi pada Elfa Lestari, siswi Kelas X SMAN 1 Bangkinang yang nekat bunuh diri dengan terjun ke Sungai Kampar tahun 2017 silam. Elfa menjadi korban bully oleh teman-teman sekolahnya. Salah satu kata-kata ejekannya yaitu 'Jangan mau berteman sama Elfa karena ayah Elfa gila keluarga ndak beres ayahnya kerja angkut barang di pasar'.

Tingginya kasus bullying di Indonesia secara tidak langsung juga mempengaruhi kualitas belajar para siswa. Fakta menyebutkan, lebih dari 160.000 anak membolos setiap harinya untuk menghindari bullying. Lalu, hampir 10% siswa memutuskan untuk keluar sekolah atau pindah sekolah dengan alasan serupa. Selain kualitas belajar yang menurun, bullying juga menimbulkan dampak psikologis.

Bullying, Why?

Maraknya kasus bullying yang dilakukan pelajar, menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat. Ada apa dengan mental pelajar? Begitu mudahnya mereka mengekspresikan kekecewaan, rasa marah, hingga kebencian dengan perilaku yang menyakiti orang lain.  Setidaknya ada tiga pemicu perilaku bullying yang merajalela.

Pertama, minimnya edukasi dalam proses pencarian jati diri. Ahli kriminologi dari Universitas Diponegoro, Semarang, Nur Rochaeti, mencoba mengungkap latar belakang kasus pengeroyokan terhadap Audrey. Frustrasi disebutnya sebagai salah satu sumber utama timbulnya kenakalan remaja.

Frustasi karena tidak terpenuhinya empat kebutuhan pokok (four wishes) remaja. Adanya kebutuhan untuk memperoleh rasa aman; kebutuhan untuk memperoleh pengalaman baru sebagai usaha untuk memenuhi dorongan ingin tahu, petualangan, dan sensasi; kebutuhan untuk ditanggapi sebagai pemenuhan dorongan cinta dan persahabatan; dan kebutuhan untuk memperoleh pengakuan yang berupa status atau prestise. Perasaan frustrasi akan mendorongnya terutama sekali untuk melakukan perbuatan agresif.

Kedua, dampak sosial media. Psikolog klinis Dr. M.M. Nilam Widyarini, M.Si menyatakan media sosial perlahan mengalami pergeseran fungsi. Keberanian orang untuk mem-bully dan nyinyir karena tidak terjadinya komunikasi secara tatap muka. Komunikasi melalui Internet memungkinkan terjadi deindividualisasi, kondisi ketika identitas seseorang tidak mudah dikenali karena memakai nama samaran.

Tak heran kalau media sosial dimanfaatkan para pelaku bullying sebagai pabrik kebencian. Inilah yang akhirnya membuat orang jauh lebih berani, frontal, galak, dan senang menghujat ketika berada di media sosial.    

Ketiga, kekurangan kasih sayang dalam keluarga. Anak-anak yang jarang dipeluk, dicium, dan diperhatikan orangtuanya akan mengalami kondisi skin hunger (kelaparan kasih sayang). Keadaan ini membuat anak sulit membayangkan rasanya cinta, kasih sayang, dan berempati pada orang lain. Ruang batin anak-anak seperti ini kering dan malah hanya diisi dengan kesedihan bahkan dendam. Mereka sedih karena tak bisa merasakan kasih sayang seperti anak-anak lain, dan juga merasa dendam pada siapa saja yang ia anggap melukai hatinya.

Kasih sayang itu amat bermanfaat bukan saja mengisi ruang batin anak, tapi juga sekaligus sebagai kendali dan rem agresifitas seorang anak. Kecukupan kasih sayang pada seorang anak membuat ia tak mudah melampiaskan amarah apalagi menyakiti orang lain, karena ia bisa khawatir hal itu juga menimpa dirinya.

Keempat,  Pembiaran oleh sistem. Ya, hampir setiap ada kekerasan bahkan berakibat kematian yang dilakukan pelajar selalu ada excuse, pemakluman dan pengecualian. Pelaku tidak dipenjara, tapi diberikan perlakuan khusus yakni dianggap sebagai anak-anak. Minim efek jera. Sehingga memungkinkan remaja lainnya berbuat hal yang sama.

Terakhir, maraknya bullying oleh siswa di tanah air, juga cerminan arah dan pola pendidikan nasional masih bermasalah dan sistem sosial masyarakat yang kacau. Pendidikan nasional gagal membentuk karakter siswa berakhlak mulia, apalagi relijius. Ini semua karena sekulerisme menjadi pijakan bangsa ini termasuk dalam dunia pendidikan. Pelajaran agama minim dan sebatas teori, bukan untuk membentuk karakter yang berakhlak luhur.

Kasus bulying seperti mata rantai yang terus terjadi setiap tahun. Pelaku bullying biasanya pernah jadi korban, sehingga ada ‘dendam kesumat’ yang kebawa hingga dewasa. Kalo nggak segera diputus, mata rantai bullying terus lestari dan bisa mengancam generasi muda.

Stop Bullying, Ayo Ngaji!

Dalam Islam, bullying sangat dilarang karena menyakiti orang lain secara fisik dan mental. Baik bullying dalam bentuk verbal berupa ejekan yang merendahkan, perbuatan yang melukai fisik, atau celaan di dunia maya. Allah swt berfirman:

“Hai orang - orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula suka sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang zalim”. (QS. Al-Hujarat [49]: 11)

Dari ayat di atas sudah sangat jelas bahwa kita semua itu memiliki derajat yang sama di hadapan Allah SWT. Sehingga nggak ada alasan bagi kita untuk merendahkan, melecehkan, menghina, atau apapun bentuknya hanya karena teman kita difable, cacat secara fisik, keturunan tertentu atau beda warna kulit dan bahasa.

Rasulullah saw juga menegaskan agar keberadaan kita nggak bikin orang lain tersakiti oleh lisan dan tangan kita. “Muslim adalah orang yang menyelamatkan semua orang muslim dari lisan dan tangannya. Dan Muhajir adalah orang yang meninggalkan segala larangan Allah”. (HR. Bukhari)

Apalagi kepada sesama muslim, kita dipersaudarakan oleh akidah yang mulia. Rasulullah saw mengingatkan, "Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, ia tidak boleh menganiayanya, menelantarkannya, mendustakannya dan menghinanya. Taqwa itu bersumber di sini (Beliau mengisyaratkan dengan tangan kearah dadanya tiga kali). Cukuplah seorang itu dianggap jahat bila ia senang menghina saudaranya sesama muslim. Setiap muslim itu haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya atas muslim yang lainnya". (HR. Muslim)

Kalo udah jelas-jelas Islam ngelarang bully, tentu seorang muslim nggak akan jadi pelakunya. Kalo kenyataannya banyak remaja muslim yang doyan nge-bully, berarti pemahaman agamanya harus diperkuat. Ini tanggung jawab bersama mulai dari orang tua, keluarga, sekolah, dan juga negara.

Untuk memperkuat pemahaman agama pada diri remaja saat ini tak bisa hanya mengandalkan mata pelajaran agama di sekolah. Keterbatasan waktu dan cakupan materinya, belum mampu melahirkan remaja muslim beraklak mulia. Sehingga harus ada kegiatan tambahan bagi siswa dan siswi untuk mengenal Islam lebih dalam. Tak sekedar belajar lebih jauh tentang ibadah, tapi juga pengokohan akidah. Benteng yang bisa menjaga mereka dari godaan perilaku bullying.

Bagi remaja, pentingnya mengenal Islam lebih dalam juga bagian dari edukasi yang membimbing mereka dalam proses pencarian jati diri. Islam akan mendampingi mereka menemukan arti kebahagiaan hidup. Sehingga mereka tak salah arah dalam upayanya memenuhi kebutuhan akan persahabatan, pengakuan, eksistensi, prestasi, prestise, cinta, maupun petualangan dalam kesehariannya. Kalo udah begini, tak ada lagi remaja yang frustasi. Dan perilaku bullying pun bisa dikurangi.

Kita nggak pernah berharap kaus bullying terulang lagi. Kita selaku pelajar, berperan besar untuk menghentikan budaya kekerasan di kalangan pelajar. Perilaku agresif remaja lebih banyak didorong oleh faktor internal alias dalam diri. Karena itu, pendidikan agama sebagai pondasi remaja muslim mesti diperkuat. Mesti dibarengi dengan kajian yang lebih intensif untuk semua pelajar. Agar keimanannya terjaga, akidahnya kokoh, dan sikap mentalnya juara. Stop nge-bully, ayo ngaji![]

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9

Selasa, 09 April 2019

PRANK!!


Pinokio. Siapa yang ngga kenal dengan kisah dongeng si boneka kayu satu ini? Dongeng yang terkenal dengan cerita di mana ketika Pinokio berbohong maka hidungnya akan bertambah panjang. Sewaktu kita kecil mungkin orang tua pernah mendongeng kisah ini atau juga kita membaca sendiri buku cerita Pinokio ini, yakng pada akhirnya bikin kita jadi takut untuk berbohong karna ngga mau kalau nanti hidungnya bertambah panjang. Padahal itu kan cuma dongeng ya, fiktif belaka. Ayoo, bisa ngebayangin ngga gimana kalau itu kejadian? Hii.. serem ya guys. Misal, kita bohong ke ortu kalau bakal pulang telat bilangnya ada kerja kelompok atau les padahal hang out sama temen-temen. Bohong bilang ngga ngerjain tugas karna ngurus ortu sakit padahal emang males ngerjain aja. Haduh, stop bohong deh. Karna bohong bisa jadi candu loh, sekali ngebohong bisa lanjut ngebohong untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Capek banget yah hidup cuma untuk bohong  dan menutupi kebohongan. Belum lagi nanggung dosanya itu berat, kamu ngga akan kuat.

Sayangnya nih friends, bohong seolah sudah menjadi lumrah malah sudah jadi trend. istilah bohong jaman now disebut hoax yaitu berita atau informasi bohong yang dibuat seolah-olah benar adanya. Terlebih dikondisi saat ini di mana suhu perpolitikan sedang memanas hoax pun menyebar bak virus yang mudah menjalar. Nah, ada juga nih becandaan yang berbalut kebohongan yang sekarang ini juga lagi jadi trending. Yes, apa lagi kalau bukan prank. Kamu pernah nge-prank atau di-prank? Beresin baca buletin kece ini yah.

Becanda Out of Control
Beriringan dengan berkembangnya teknologi digital, kaum milenial semakin asyik dengan dunia maya, dunia yang berada dalam genggaman melalui telepon pintar. Youtube channel semakin dilirik untuk menyebarkan informasi. Vlogging/Video Blogging menjadi hobi dari semua kalangan untuk meng-update segala hal termasuk kegiatan dari para vlogger atau youtuber, malah melalui youtube ini seseorang bisa mendapatkan penghasilan semakin banyak subscriber maka semakin banyak pula pundi yang didapatkan. Para youtuber harus beradu kreatifitas dan berinovasi dalam membuat konten yang bisa menarik banyak subscriber di channelnya. Meski hanya hitungan menit video yang diupload tapi jika kontennya menarik pasti banyak yang memfollownya. Sayang beribu sayang konten yang dianggap menarik justru yang berupa hiburan, bisa dibilang sesuatu yang ringan. Semisal, daily routine yang dilakukan artis idolanya sampai kepo-in isi rumahnya. Melalui youtube atau vlog juga jadi ajang para idola menjawab pertanyaan dari para netizen. Nah, ada satu lagi konten yang saat ini jadi trending dikalangan para vlogger. Apalagi kalau bukan prank, candaan berbalut skenario yang menyertakan kebohongan, tipu-tipu yang bikin korbannya menjadi kaget, ketakutan, nangis-nangis, atau marah-marah. Nah, yang jadi korban biasanya nanti akan membalas prank-nya. Dari prank yang iseng-iseng aja sampai yang ekstrem atau berbahaya. Ngga sedikit lho friends prank yang awalnya buat seseruan, karna kejahilan yang kebangetan dari para pranker ini malah memakan korban jiwa.

Seperti yang terjadi pada seorang pemuda bernama Sandy yang berulang tahun ke-21 mendapat kejutan spesial dari teman-temannya. Seperti remaja pada umumnya, biasanya yang berulang tahun akan dikerjain dengan berbagai hal konyol. Sandy sendiri diikat teman-temannya di sebuah tiang listrik sambil disirami dengan air. Sayangnya, terjadi korsleting pada tiang listrik itu dan menyebabkan Sandy tersetrum. Teman-temannya gak sadar saat Sandy mengalami kejang dan mengira ia cuma bercanda. Setelah dilarikan ke rumah sakit, nyawa Sandy tetap gak tertolong dan akhirnya tewas. Kalau berikut ini terjadi di luar negeri. Prank ini dilakukan empat orang pemuda asal Ohio. Dengan ide yang bertujuan untuk membuat bingung para pengendara yang lewat di jalan dekat rumah mereka, empat orang ini menutup rambu "Stop" yang ada di tepi jalan. Nahas, ulah usil mereka malah memakan korban tewas. Dua orang nenek yang masing-masing berusia 81 dan 85 tahun menjadi korban kekonyolan mereka. Mobil yang ditumpangi keduanya harus terperosok ke dalam jurang karena terus melaju di jalan yang berlubang. Alhasil, empat remaja itu dihukum empat tahun penjara.

Bersenda gurau/becandaan bisa jadi menjadi pilihan tepat dalam melepas kepenatan aktivitas atau rutinitas. Namun, jika senda gurau ini disertakan dengan tipuan atau kebohongan terlebih merugikan orang lain bahkan sampai memakan korban maka tentu senda gurau ini tidaklah patut untuk dilakukan. Pertama, larangan berdusta/bohong saat bercanda. Rasulullah saw bersabda “Celakalah bagi orang yang berbicara berdusta hanya karena ingin membuat orang tertawa. Celakalah dia, celakalah dia”. (HR. Ahmad). Seorang muslim harus berkata benar dalam candaan sekalipun. Allah swt berfirman dalam Qur’an Surat Al Isra: 53 “Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”.

Kedua, dari prank ini yang biasanya muncul dari korban adalah kepanikan atau ketakutan. Padahal Islam melarang seorang muslim menakut-nakuti orang lain walau bermaksud bercanda. Suatu hari seseorang menyembunyikan cambuk milik sahabat yang sedang tertidur. Pada saat terbangun, orang itu ketakutan karena merasa kehilangan cambuk. Rasulullah saw bersabda “Tidak halal bagi seorang muslim membuat takut muslim yang lain”. (HR. Abu Dawud). Ketiga, biasanya saat misi prank dirasa berhasil entah itu membuat korbannya ketakutan, panik atau menangis para pranker ini akan tertawa terbahak saat membuka skenarionya dan korban sadar bahwa dirinya dikerjai/dijahili. Sedasangkan Islam melarang kita untuk banyak tertawa atau tertawa sampai terpingkal-pingkal karna termasuk ke dalam akhlak tercela. Rasulullah saw, teladan tercinta kita mengingatkan “Janganlah kalian banyak tertawa. Sesungguhnya banyak tertawa dapat mematikan hati”. (HR. At Tirmidzi)

Candanya Rasul
Islam ngga segitunya kok friends, kita boleh kok bersenda gurau atau bercanda. Uswah kita saja Rasulullah saw sering mengajak istri dan para sahabatnya bercanda dam bersenda gurau. Tapi candaanya Rasul itu ngga berlebihan tetap ada batasan syara. Jangan sampai kita buat orang lain tertawa tapi kita malah menangis di akhirat kelak karena candaan kita yang melanggar aturan Islam. Tertawanya Rasul ngga pernah sampai terbahak-bahak apalagi terpingkal-pingkal. Dituturkan oleh Aisyah Ra :  Aku belum pernah melihat Rasulullah saw tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan lidahnya, namun beliau hanya tersenyum”. Abu Hurairah ra menceritakan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw : “Wahai, Rasulullah! Apakah engkau juga bersenda gurau bersama kami? “Rasulullah saw menjawab : “Betul, hanya saja aku selalu berkata benar.

Kisah candaan Rasulullah saw dengan seorang nenek. beliau berkata bahwa ada seorang nenek datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasûlullâh! Mintalah kepada Allâh Azza wa Jalla agar aku dimasukkan ke dalam surga.” Rasûlullâh saw bersabda, “Wahai Ummu Fulan! Sesungguhnya surga tidak dimasuki oleh nenek-nenek.” Mendengar ini, nenek itu pergi sambil menangis. Nabi saw bersabda kepada para Sahabatnya, “Kabarkan kepadanya bahwa dia tidak akan masuk surga dalam keadaan tua. sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla berfirman: “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. penuh cinta lagi sebaya umurnya”. (TQS. Al Waqiah: 35-37)

Selain itu ada juga candaan Rasul dengan Ali. Suatu ketika, Rasulullah saw bersama para sahabat sedang berbuka puasa. Buah kurma terhidang di depan mereka. Setiap kali mereka makan kurma, biji-biji sisanya mereka sisihkan di tempatnya masing-masing. Beberapa saat kemudian, Ali menyadari bahwa dia memakan cukup banyak kurma. Jelas saja, biji-biji kurma yang ada di tempatnya menumpuk lebih banyak di bandingkan sahabat yang lain. Muncul keisengan Sahabat Ali. Diam-diam dia memindahkan biji kurma miliknya ke tempat biji kurma milik Rasul. Saat semua biji kurma sudah berpindah tempat, Ali menggoda Rasul. "Wahai Nabi tampaknya engkau begitu lapar. Sehingga makan kurma begitu banyak. Lihat biji kurma di tempatmu menumpuk begitu banyak." Bukannya terkejut atau marah, sambil tersenyum Nabi membalas keisengan Ali. "Ali, tampaknya kamulah yang sangat lapar. Sehingga engkau makan berikut biji kurmanya. Lihatlah, tak ada biji tersisa di depanmu." HR. Bukhari

Jadi, bercanda boleh-boleh aja TemanS asal ngga berlebihan dan tentu tidak mengandung kebohongan/tipuan. Sebagaimana Allah swt menyampaikan dalam firmanNya “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta”. (TQS. An Nahl: 105). So, don’t ever lie ya guys. Emang TemanS ngga mau dijaminkan surga oleh kekasih Allah? Simak nih, Rasulullah saw menyampaikan dalam sabdanya “Saya memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Saya memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan kedustaan walaupun dia bercanda. Saya memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang membaguskan akhlaknya”. (HR. Abu Dawud)

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9

Selasa, 02 April 2019

Ajaran Islam Bukan Prasmanan




Prasmanan? Pasti yang kebayang makanan kan? Hehee. Judul di atas jelas bukan asal ngecap karena kita memang nggak lagi bicarain makanan, nggak juga asal jeplak, tapi kalo kita mau jujur di sekitar kita, nggak sedikit yang ngambil ajaran-ajaran Islam kayak ngambil makanan di sajian prasmanan. Mulai dari urusan individu, masyarakat sampe urusan yang lebih gede dari itu, urusan ngatur negara misalnya. Nggak sedikit teman-teman kita kalo disuruh sholat sih kayaknya nggak berat-berat amat, tapi giliran disuruh ninggalin pacaran, nah itu yang agak berat. Kalo disuruh belajar sih, kayaknya nggak begitu berat, walaupun kadar belajarnya ya segitu-gitunya aja, tapi kalo diminta nggak nyontek waktu ujian yang mana nyontek waktu ujian jelas nggak boleh dalam ajaran Islam, nah itu habits yang kadang agak susah disuruh ninggalin.

Urusannya dengan masyarakat juga kurang lebih kayak gitu.  Sudah jadi maklum di masyarakat apalagi yang sudah jadi ‘kebiasaan umum’, misalnya kalo ada acara manten alias walimah ya umumnya sih campur baur antara tamu pria dan wanita. Ketika ada upaya untuk mengembalikan ajaran Islam berupa terpisahnya kehidupan laki-perempuan, wa bil khusus di acara nikahan, maka nggak sedikit yang keberatan. Mulai dari pengantinnya sendiri, keluarga, sampe ke masyarakatnya.

Padahal nih dalam urusan pemisahan jamaah laki-wanita, di dalam jamaah sholat di masjid itu sudah biasa kita laksanakan, tapi giliran diterapkan pemisahan itu di pernikahan, koq banyak jadi masalah. Ada yang bilang aneh-lah, nggak kayak biasa lumrahnya-lah, entar nggak enak dibilang sama tetangga-lah, dan sebagainya. Akhirnya ajaran Islam tentang hal tersebut, nggak sedikit yang emoh untuk menerapkannya.

Trus, dalam urusan bernegara apakah nggak ada gejala untuk ngambil Islam layaknya makanan prasmanan? Heumm… heummm. Heuumm… heum heum…, kenapa jadi nyany nisa sabyan, hehehe…. Jawabanya, ada. Kita mau ngasih conto, tapi ini contohnya benar-benar riil terjadi ya, bukan mengada-ada, dan bukan sengaja diadain, dan jangan dianggap buletin ini memprovokasi yang engak-enggak. Catet itu ya, biar man-teman juga ngeh, bahwa emang ada bukti nyata yang ngambil Islam ‘semau gue’, alias asal gue seneng, sementara ajaran yang lain ditinggalin dalam urusan negara.

Contoh nyatanya dalam urusan politik. Duh… berat sebenarnya ngasih contoh ini, tapi ini terjadi di panggung politik kita, nyata ada di dunia dan rame di sosmed, dan anak-anak muda milenial juga ikut berkomentar tentangnya. Kita nggak bisa menghindar dari bukti-bukti nyata itu. Apalagi menjelang hajatan pemilihan, fenomena ngambil Islam kayak prasmanan itu terjadi. Jadi, ada sebagian orang dalam urusan berpolitik kalo demi keuntungan kelompoknya, simbol-simbol Islam diambil, tapi giliran ketika disodorkan ajaran Islam bahwa Islam ngatur tentang politik, eh mereka bilang jangan bawa-bawa Islam dalam politik deh, nanti dulu deh pembahasan kayak gitu, atau malah muncul tuduhan sebaliknya, kalo Islam kamu itu radikal, Islam garis keras, dan sebagainya. Duh cilaka tenan!

Islam Bukan Sekularisme
Nah, apa yang sudah dipaparkan di atas itu fakta loh ya, dan memang Islam ini kan ajaran yang sudah sempurna mengatur hidup manusia, sebagaimana Allah sampaikan dalam firman-Nya:
“Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku ridhai Islam itu jadi agama bagimu….” (QS.Al Maidah 3)

“Dan siapa yang mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Ali Imran: 85)

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasu-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir) merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (QS al-Nisa' 150-151).

Karena telah sempurna itu, sikap kita dalam mengambil ajaran Islam nggak boleh setengah-setengah, ngambil ajaran yang kita suka, yang bisa kita terapkan, yang nggak menimbulkan ‘pertentangan’ di masyarakat. Sikap kaya gitu jelas, ditentang oleh Al-Qur’an:
"Apakah kamu beriman kepada sebagian dari Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia. ” (QS. Al-Baqarah :85).

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang beriman dan tidak pula perempuan yang beriman, apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS. Al Ahzab: 36)

Jadi gaes, Islam itu memang bertentangan dengan sekularisme. Tahu kan apa itu ajaran sekularisme? Berasal dari kata sekular dan isme, kamus besar bahasa Indonesia mendefinisikan, sekularisme/se·ku·la·ris·me/ /sékularisme/ n paham atau pandangan yang berpendirian bahwa moralitas tidak perlu didasarkan pada ajaran agama.

Sekularisme secara definisi, adalah doktrin yang menolak campur tangan nilai-nilai keagamaan dalam urusan manusia, alias urusan manusia harus bebas dari agama atau dengan kata lain agama nggak boleh mengintervensi urusan manusia. Segala tata-cara kehidupan antar manusia jadi hak manusia untuk mengaturnya, Tuhan nggak boleh mengintervensinya. Ringkasnya, sekularisme adalah pemikiran yang memisahkan agama dari kehidupan. Agama itu hanya urusan ibadah aja, terkait dengan bagaimana beribadah kepada sang Pencipta. Sementara untuk urusan kehidupan, maka agama nggak boleh ikut campur.

Dari sisi sejarah munculnya sekularisme sebenarnya merupakan bentuk mosi tidak percaya masyarakat Eropa kepada para pendeta saat itu (abad 15an). Di mana kongkalikong antara kaum agamawan dan penguasa beberapa abad lamanya menenggelamkan dunia Barat ke dalam periode yang kita kenal sebagai the dark age. Ilmu pengetahuan yang menopang majunya sebuah peradaban malah dimusuhi. Ketika ada penemuan baru yang dianggap bertentangan dengan sabda dari kekuasaan, dianggap sebagai sebuah pelanggaran yang harus ditebus dengan nyawa. Sebagaimana yang dialami Copernicus yang menyatakan teori heliosentrisnya yang notabene bertentangan dengan teori pemegang kekuasaan yang mengemukan teori geosentris. Pertentangan berabad-abad itu sampe akhirnya, muncul pertentangan dari kaum filosof, ilmuwan, yang selanjutnya muncul “two swords” alias jalan tengah. Dari sisi ruh (spiritual) boleh dikuasai kaum rohaniawan, sementara dari sisi materi  (keduniaan) dikuasai/diperintah, diatur oleh kaum ilmuwan.

Sehingga dari segi teori, sejarah dan praktiknya, sekularisme itu secara watak alias tabiatnya bertentangan 180 derajat dengan Islam. Islam justru sebaliknya, mengajarkan umatnya untuk secara kaffah masuk kedalamnya, nggak boleh setengah-setengah.

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia merupakan musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah: 208)

Serta Al-Qur’an sendiri, sebagai salah satu syariat hukum bagi kaum muslimin, sudah lengkap menjelaskan segala sesuatu:
“Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Quran) sebagai penjelas segala sesuatu.” (QS An-Nahl: 89) Juga firman-Nya (yang artinya), “Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab (Al-Quran).” (QS Al-An’am: 38)

Jadi, Islam bukan dan nggak boleh dijadikan ajaran layaknya makanan prasmanan, kita ambil yang kita suka, kita tolak alias emoh kita terapkan karena nggak sesuai dengan ‘selera’ masyarakat. Padahal segala sesuatu perbuatan kita, telah ada aturan hukumnya dan diatur oleh Islam, sehingga problematika hidup kita, kudu mau diatur dengan Islam, nggak boleh ada rasa berat menerapkannya.
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS An-Nisa’: 65)

“Ucapan seorang mukmin yang apabila mereka diseru kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka hanya, ‘Kami mendengar dan kami taat.’ Dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS An-Nur: 51)

Jangan Nurutin Nafsu
Salah satu alasan kenapa seseorang agak suka berat kalo disuruh ninggalin yang dilarang Allah, dan ngelakuin yang telah diperintah Allah, karena sejatinya mereka menuruti hawa nafsunya dan hawa nafsu orang-orang di sekitarnya. Ketika diminta ngelakuin sholat mungkin nggak berat, tapi kalo sholatnya sudah ketepatan dengan main game PUBG misalnya, nah ketahuan mana yang lebih didahuluin. Kalo sudah dengar adzan, tapi masih main PUBG, lalu sholatnya mepet di akhir waktu, nah itu tanda-tanda banyak ngikutin hawa nafsu.

Demikian juga, misalnya kalo ada sebagian muslimah masih sulit disuruh pake jilbab dengan alasan nanti dan pake tapi. Alasan seperti “Nanti aja, aku siapin teman-teman aku dulu, biar mereka nggak kaget,” atau “tapi nanti teman-temanku menjauh aku gimana?” dan alasan serupa lainnya, itu berarti tandanya masih ngikutin hawa nafsu.

Jadi, bagi yang masih suka milih-milih ajaran atau syariat Islam untuk diterapkan, karena mengikuti hawa nafsu, coba perhatikan firman Allah berikut ini:
“Sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang dirahmati Rabb-ku.” (QS Yusuf: 53)

“Maka pernahkan kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya?” (QS Al-Jatsiyyah: 23)

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (QS Al-Mukminun: 71)

Padahal sikap membenci syariat (ajaran) Islam, meskipun sebagian, termasuk pembatal Islam. Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah berkata dalam Nawaqidh Al-Islam, “(Pembatal Islam) kelima: siapa yang membenci sesuatu dari apa yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meski ia kerjakan, maka ia kafir.” Pernyataan ini disimpulkan dari firman Allah, “Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang Allah turunkan lalu Allah menghapus seluruh amal-amal mereka.” (QS Muhammad: 9)”

Wallahu’alam bi showab []

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9