Dilan? Apa yang ada di pikiranmu ketika nama itu disebut? Hampir bisa dipastikan, yang paling diingat di benak sebagian remaja, Dilan adalah sesosok remaja yang jago ngerayu gebetan dengan kata-kata romantis dan puitisnya kepada seorang cewek bernama Milea. Yupz, setahun pasca premiernya di awal tahun 2018, film ‘Dilan 1991’ banyak diburu di Februari tahun ini. Konon ada yang uring-uringan karena nggak kebagian nonton film ini. Ckckck, sampe segitunya ya?!
Kritikan Pedas Buat Dilan!
Dilan, sosok anak SMA yang lagi digandrungi remaja, dan kayaknya nggak sedikit yang sudah meniru gaya pacarannya Dilan. Bukan cuman pacaran, perilaku ‘bad boy’ bin flamboyant dengan hobi tawuran, gank motor, rese di sekolah, juga menjadi gambaran sosok Dilan. Di filmnya digambarkan, Dilan anak SMA yang suka dipanggil guru BP, pernah bentrok dengan guru, nggak punya adab ketika ngomong sama guru dan kepala sekolah. Sehingga karuan aja, kalo banyak pihak, justru menanyakan kenapa sosok seperti itu bisa jadi idola, dan filmnya diburu banyak orang?
Nih, salah satu kritikan terhadap film yang dibintangi Iqbaal Ramadhan ini muncul dari Kakorlantas Polri Irjen Pol Refdi Andri. Beliau menilai bahwa penampilan Dilan yang nggak memakai helm saat berkendara adalah hal yang membahayakan karena tidak memberikan contoh di dalam keamanan dalam berkendara. Begitupun dengan Kasat Lantas Polres Bandung, AKP Hasby Ristama, yang memberikan pernyataan senada bahwa sosok Dilan akan membuat masyarakat ter-"brainstroming" alias menjadi contoh buruk bagi masyarakat dalam berkendara (kumparan.com, 20/2/2019).
Kritikan lain, muncul dari Budayawan Sunda Hawe Setiawan, "Saya sendiri sebagai warga Jabar, tidak melihat ada urgensi dengan pembuatan taman atau pojok Dilan di Kota Bandung itu. Saya hanya melihat kemarin kegiatan publik berupa pawai, tidak lebih dari euforia kolektif saja. Ini semua marketing industri pertunjukan. Tidak ada urgensinya dengan nilai simbolik bagi Jawa Barat," (news.detik.com, 26/2/2019).
Pengamat dan Peneliti Komunikasi Politik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Profesor Karim Suryadi juga punya penilain kurang baik terhadap film Dilan "Dampaknya ke arus menonton ya, mungkin satu-satunya dampak dibentuk Dilan corner, menambah ke penasaran publik, dan bertanya ada apa dengan film Dilan dengan dibentuk corner, spesial banget," katanya. Jadi menurut beliau, dampaknya alih-alih membangkitkan semangat bagi publik dan apresiasi, justru menambah membangkitkan minat ingin menonton film itu. Jadi dampaknya justru ke arah komersil (kompas.com).
Dan yang paling mutakhir, kritikan bin penolakan keras disampaikan oleh unsur mahasiswa kepada Dinas Pendidikan Kota Makassar. "Kan kalau film bukan dinas yang menilainya. Kan ada lembaga sensor film. Mereka datang ke dinas dan menyampaikan aspirasi. Ya saya terima saja dengan baik," kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Rahman Bando saat berbincang dengan detikcom, Kamis (28/2/2019).
Dilan Versus Muhamad Al Fatih
Coba kalo ditanyakan, apa sih sisi positif dari film Dilan? Apa yang layak dari Dilan untuk bisa dijadikan inspirasi kebaikan? Hampir separoh lebih filmnya, isinya bagaimana ngasih tutorial ngerayu gebetan, trus tawuran, sok jagoan. Kalo pun itu dianggap sebagai sisi positifnya, apa coba positifnya pacaran? Nggak ada positifnya sama sekali. Kalo "postifnya" dosa, "positifnya" zina yaitu positif bisa hamil, mungkin itu baru bener “positifnya” pacaran. Naudzubillah...
Apa? Tawuran dan sok jagoan itu positif? Maksudnya, nilai setia sama kawan genk motor dan tawuran itu mau disebut positif juga? Okelah, kalo setia atau persahabatan, mungkin bisa sedikit disebut positif, tapi buat apa kalo kesetiaan dan persahabatan tapi ujung-ujungnya tawuran, vandalisme? Hampir semua orang tua ataupun guru sepakat kalo tawuran itu bikin ricuh dan salah satu masalah besar dunia pendidikan, yang sampe sekarang masih kumat-kumatan terjadi di sekolahan.
So, sosok Dilan yang flamboyan penuh kegombalan bukanlah sosok idaman, bukan potret pemuda yang mampu menginspirasi kebaikan bahkan nggak ada kontribusinya buat kebangkitan generasi. Kalo ada upaya bikin pojok Dilan, maka sebenarnya itu adalah simbolisasi ide kebebasan dan memfasiliasi kemaksiatan. Karena so pasti, gimana umumnya taman aja, pasti di sana ada campur baur cowok-cewek, bahkan ada yang berpacaran. Intinya meskipun mungkin di taman tersebut bisa dilakukan hal positif, tapi lebih banyak peluang kemaksiatan di sana.
Perilaku pacaran, jauh dari nilai-nilai Islam yang ditampilkan sosok Dilan jelas menunjukkan bahwa Dilan nggak pantas bin nggak layak jadi idola remaja. Bukan nggak mungkin, kalo sosok Dilan masih dijadikan idola, efek buruknya bakalan makin marak perilaku buruk pacaran, pergaulan bebas, geng motor, kekerasan dan sebagainya. Ini bukan isapan jempol, dan ini mustinya yang jadi bahan pikiran penulisnya, para pembuat filmnya dan si pembuat taman Dilan itu sendiri, atau bahkan tokoh-tokoh remaja serupa lainnya di kemudian hari.
Kalo memang mau serius, ngasih sosok yang bisa dijadikan teladan buat anak-anak remaja, bisa dihadirkan sosok-sosok sholeh yang bisa jadi inspirasi remaja menciptakan masa depannya dan masa depan negerinya, masa depan kaum muslimin pada umumnya. Sosok seperti Muhammad Al Fatih, bisa dijadikan salah satu figure, di mana di saat usianya masih remaja diisi dengan ketaatan, disiplin, rajin, dan sebagainya. Bahkan, ada hal besar yang bisa ditiru dari sosok M Al Fatih ini, yang ini hampir nggak ada dikebanyakan generasi muda. Apa itu? Ya, big dream alias mimpi besar yang terinspirasi dari hadits nabi. Wow!
Kalo ada anak muda, impiannya kayak M Al Fatih, patut diacungin jempol, kalo perlu kalo semua jari tangan dan kaki kita jempol semua, kita kasih deh buat apresiasi remaja yang model begituan. Sosok yang langka, seorang anak remaja punya impian menaklukan kota Konstantinopel, dan memburu prestasi seperti yang dijanjikan nabi, sebagai “sebaik-baiknya pemimpin/panglima”. Bisyaroh alias berita gembira dari Rasulullah SAW yang berbunyi “…Kalian pasti akan membebaskan Konstantinopel, sehebat-hebat Amir (panglima perang) adalah Amir-nya dan sekuat-kuatnya pasukan adalah pasukannya” (HR Ahmad), inilah yang disambut dengan semangat membara oleh Muhammad sang penakluk (al fatih).
Bukan Generasi Dilan Penakluk Roma
Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata, "bahwa ketika kami duduk di sekeliling Rasulullah SAW untuk menulis, tiba-tiba beliau SAW ditanya tentang kota manakah yang akan ditaklukan lebih dahulu, Konstantinopel ataukah Roma? Rasulullah SAW menjawab, "Kota Heraklius terlebih dahulu (maksudnya Konstantinopel).
Konstantinopel dan Roma adalah dua simbol dua negara adidaya di masa itu. Konstantinopel mewakili Romawi Timur, sementara Roma mewakili Romawi Barat. Sementara kaum muslimin sendiri di Arab saat itu, merupakan cikal bakal adidaya baru yang para pemimpinnya impiannya sudah sangat besar, yakni menaklukan dua kota besar Roma dan Konstantinopel.
Dengan bekal sprit bisyarah nabi tersebut, yang menjadi penyemangat para Khalifah setelahnya untuk melakukan futuhat. Tercatat dalam sejarah bahwa Abu Ayyub al-Anshari (44 H) pada Khalifah Muawiyyah bin Abu Sufyan. Kemudian, selanjutnya secara berurutan ada Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik (98 H) pada masa Kekhalifahan Umayyah, lalu Khalifah Harun al-Rasyid (190 H) masa Kekhalifahan Abasiyyah, Khalifah Beyazid I (796 H) masa Kekhalifahan Utsmanityyah, Khalifah Murad II (824 H) masa Kekhalifahan Utsmaniyyah juga tercatat dalam usaha penaklukan konstantinopel, tetapi karena satu dan lain hal, Allah belum mengizinkan kaum muslim memenangkan pertempuran itu.
Akhirnya, Allah mengijinkan Muhamamd II alias Muhammad al-Fatih, yang menaklukan kota ini. Sejak kecil dia dididik oleh ulama-ulama besar pada zamannya, khususnya Syaikh Aaq Syamsuddin yang nggak hanya menanamkan kemampuan beragama dan ilmu Islam, tetapi juga membentuk mental pembebas pada diri Mumammad al-Fatih. Nggak heran kalo usia 23 tahun, al-Fatih telah menguasai 7 bahasa dan memimpin ibukota Khilafah Islam di Adrianopel (Edirne) sejak berumur 21 tahun. Sebagian besar hidup al-Fatih berada di atas kuda, dan Beliau tidak pernah meninggalkan shalat rawatib dan tahajjudnya untuk menjaga kedekatannya dengan Allah dan memohon pertolongan dan idzinnya atas keinginannya yang telah terpancang kuat dari awal: Menaklukan Konstantinopel.
Subhanallah, ini sebuah penegasan bahwa kemenangan nggak akan bisa dicapai dengan mengandalkan kekuatan belaka, bukan pula karena kecerdasan dan strategi perang. Muhammad al-Fatih sangat memahami bahwa kemenangan hanya akan tercapai dengan izin dan pertolongan Allah. Maka ia meminta seluruh pasukannya bermunajat pada Allah, menjauhkan diri dari maksiat, bertahajjud pada malam harinya dan berpuasa pada esok harinya. Pada tanggal 29 Mei 1453, serangan terakhir dilancarkan, dan sebelum Ashar, al-Fatih sudah menginjakkan kakinya di gerbang masuk konstantinopel. Berakhirlah pengepungan selama 52 hari lamanya dan penantian panjang akan janji Allah selama 825 tahun lamanya. Konstantinopel dibebaskan kaum muslim melalui tangan al-Fatih!
Nah, begitulah seharusnya seorang pemuda itu impiannya menaklukan adidaya demi menyambut berita gembira dari Rasulullah SAW. Kalo remaja, pikiranya cuman menaklukan hati gebetan, alaaah itu sih cemen binti dosa bangets. Kalo anak remaja hobinya tawuran, main keroyokan, hih itu mah nggak level. Contoh dong Muhammad Al Fatih, di usianya yang masih sangat muda, melatih diri dan pasukannya menjadi pasukan pilihan terbaik, bukan buat tawuran, tapi buat perang melawan musuh Romawi saat itu. Kalo remaja hobinya bikin puisi kayak Dilan, nggak sebanding dengan Muhammad Al Fatih bikin karya sebuah alat perang yang super dahsyad kala itu. Kalo remaja masih doyan maksiat, itu bukan karakter remaja penakluk, seharusnya remaja penakluk hari-harinya dipenuhi ketaatan layaknya Muhammad Al Fatih.
Gaes, Konstantinopel sudah takluk dengan semangat, kecerdasan, ketekunan, disiplin dan itu tidak akan terulang kembali karena posisi yang mulia dalam bisyarah rasulullah telah ditempati oleh Muhammad al-Fatih. Penaklukan kota Roma hanya menunggu waktu dan posisi kemuliaan itupun akan ditempati oleh satu orang. Dan posisi itu nggak mungkin ditempati oleh generasi-generasi Dilan, melainkan posisi itu akan diambil oleh generasi selevel Muhammad Al Fatih.
Then, 1400 tahun yang lalu, Allah telah berfirman kepada kaum muslim, dengan suatu firman yang sangat istimewa, firman ini yang harus menjadi spirit buat kita menaklukkan kota selanjutnya, Roma. Allah SWT befirman:
“dan (telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan) yang lain (atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah menentukan-Nya. dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS al-Fath [48] : 21). Allahu Akbar! []
***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:
Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG - https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Tidak ada komentar:
Posting Komentar