"Bila engkau bisa tersenyum saat hatimu penuh dengan duka nestapa, maka sesungguhnya engkau sedang meringankan bebanmu sendiri dan membuka satu pintu untuk kebahagiaan."
Kata mutiara ini bukan berasal dari remaja tanggung asal Gorontalo yang lagi viral lantaran kisah cintanya yang kandas itu. Tapi dari sosok ulama yang ngajarin kita agar jangan jadi sad boy. Lho, emang gak boleh sedih?
Sedih Itu Rahmat
Rasa sedih pada diri kita itu normal kok. Tandanya kita punya perasaan dan hati kita lunak. Apalagi kalo rasa sedih itu sampai bikin merembes mili, ada kebaikan di dalamnya. Seperti yang dirasakan orang beriman saat melakukan dosa. Nabi saw mengabarkan bahwa itu adalah tanda iman. “Barangsiapa yang merasa bergembira karena amal kebaikannya dan sedih karena amal keburukannya, maka ia adalah seorang yang beriman” (HR. Tirmidzi).
Allah swt telah menganugerahkan rasa sedih pada diri kita ketika kehilangan harta, pekerjaan, atau orang-orang yang kita sayangi. Bersedihlah kalo kita pengen mengungkapkan rasa kecewa itu. Tapi gak usah lama-lama. Apalagi sampai air mata kering, mata sembab, biwir beureum-beureum jawér hayam panon coklat kopi susu. Jangan ya.
Karena kesedihan kita tak akan merubah keadaan. Sebagaimana nasihat dari seorang ulama Dr. Aidh al-Qarni : Pernahkah engkau mendengar bahwa kesedihan dapat mengembalikan sesuatu yang telah berlalu dan luka lara dapat memperbaiki sebuah kesalahan? Bila tidak, lalu untuk apa engkau bersedih?
Dalam al-Qur’an kata-kata sedih tidaklah datang kecuali dalam konteks larangan atau kalimat negatif (peniadaan). Sebagaimana yang dijelaskan Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam bukunya Madaarijus Saalikiin. Dalam konteks larangan, misalnya adalah firman Allah ‘azza wa jalla, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita” (QS. At-Taubah: 40)
Adapun dalam konteks kalimat negatif (peniadaan) misalnya firman Allah ta’ala, “Mereka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS. Al-Baqarah: 38)
Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan, kesedihan adalah keadaan yang tidak menyenangkan, tidak ada maslahat bagi hati. Suatu hal yang paling disenangi setan adalah, membuat sedih hati seorang hamba. Hingga menghentikannya dari rutinitas amalnya dan menahannya dari kebiasaan baiknya.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Sesungguhnya pembicaraan bisik-bisik itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita” ([QS. Al-Mujadalah: 10]. Madaarijus Saalikiin hal: 1285).
La Tahzan!
Tak perlu berlarut-larut dengan berbagai kesedihan. Kita harus segera move-on. Agar roda hidup kita terus berjalan. Nggak berhenti oleh bayang-bayang suram masa lalu yang melow dan bikin galau. Gimana caranya agar kita bisa tegar menghagapi kesedihan?
Pertama, tidak membesar-besarkan apa yang telah hilang dan sadar bahwa itu adalah hal yang memang mungkin terjadi. Jangan terjebak oleh tren digital yang mengekspose kesedihan sebagai bahan kontent yang menggugah perasaan dan berpotensi mendulang cuan.
Ingat, Allah yang menciptakan kesedihan agar kita menyadari nikmatnya kebahagiaan, sehingga ia bersyukur dan berbagi. Dan sempitnya kesedihan diciptakan agar ia tunduk bersimpuh di hadapan Tuhan Yang Maha Rahmat dan Mengasihi, serta tidak menyombongkan diri.
Seperti aduannya Nabi Ya’qub saat lama berpisah dengan putra tercinta; Yusuf ‘alaihimas sasalam “Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan penderitaan dan kesedihanku” (QS. Yusuf: 86). Camkan nasihat Dr. 'Aidh al-Qarni "Jangan pernah menjadikan kesusahan dan kesedihan sebagai tema pembicaraan. Karena, hal itu akan menghalangimu dari kebahagiaan."
Kedua, Bersikap sabar. Sebagaimana diingatkan oleh al-Qarni “Bersyukurlah engkau tatkala mendapatkan kesenangan dan bersabarlah ketika tertimpa musibah. Jangan mengkhayal, bahwa dalam hidup ini engkau akan sehat tanpa pernah sakit, selalu kaya dan tidak pernah miskin, mendapatkan suami yang tanpa cela dan teman tanpa aib; semua ini mustahil terjadi.” Kesabaran itu dapat memberikan ketenangan kepada seseorang dalam menghadapi tantangan di hidupnya. Karena orang yang sabar memiliki keyakinan bahwasanya Allah akan memberikan pertolongan kepadanya.
Ketiga, Berdoa. Do’a adalah pengikat manusia dengan Allah. Jangan pernah letih untuk berdo’a dan memohon pertolongan Allah, karena hanya Allah lah yang mampu menolong dan mengatur segala urusan manusia.
Oleh karenanya, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam senantiasa berlindung dari rasa sedih. Di antara doa yang sering dipanjatkan Nabi adalah, // Allahumma innii a’uudzubika minal hammi wal hazani…// “Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari gundah gulana dan rasa sedih…” (HR. Bukhari dan Muslim).
Keempat, Memperkuat iman. Iman yang kuat dapat menjadikan seseorang lebih tegar dalam menjalani kehidupan. Orang yang imannya kuat tidak akan mudah putus asa dalam menghadapi berbagai halangan dan tantangan. Orang beriman akan terbebas dari perasaan bahagia terlalu berlebihan yang menyebabkan seseorang melupakan Allah dan perasaan terlalu larut dalam kesedihan yang menyebabkan seseorang putus asa dan menyalahkan Allah.
Kelima, mendekat pada Al-Qur’an. Sebagaimana yang diungkapkan ulama Aidh Al-Qarni, “Hiduplah Bersama Al-Qur’an! Baik dengan cara menghafal, membaca, mendengarkan, atau merenungkannya. Sebab ia adalah obat paling mujarab untuk mengusir kesedihan.”
Kita Adalah Pemenang
Allah swt menghadirkan masalah dalam hidup kita, untuk menghadirkan keajaiban di dalamnya. Jangan katakan “Wahai Allah, masalahku sangat besar”, tapi katakan “Wahai masalah, Allah itu Maha Besar. Berbagai masalah itulah yang membuat kita bertahan dan berTuhan. Jika kita lari dari masalah, berarti kita lari dari kasih sayang Allah.
Pemenang adalah orang yang pandai bersyukur dan berusaha bangkit dari masalah. Seorang pemenang tak akan menghabiskan waktunya untuk meratapi kesedihan yang menutup kebahagiaan yang ada di depan mata.
Seorang pemenang akan melihat masalah sebagai batu loncatan untuk naik kelas. Bertambah keimanannya, kesabarannya, berbaik sangkanya pada Allah swt, kemampuan mengelola hati, dan mendongkrak keterampilannya untuk menemukan jalan keluar.
Seorang pemenang menyakini bahwa di balik setiap kesulitan akan ada kemudahan. Setelah cucuran air mata akan terbit sebuah senyuman. Sebagaimana setelah malam yang gelap gulita akan hadir siang hari yang terang benderang. Teruslah bergerak menjemput pertolongan-Nya.
Seorang pemenang menyadari kalo untuk membalikkan keadaan dari kesedihan menjadi kebahagiaan perlu proses yang mesti dijalani. Berusaha memantaskan diri untuk mengundang pertolongan Allah swt. Dan proses itu tak semudah membalikan telapak tangan. Kita harus siap untuk mengorbankan harta waktu, tenaga, dan pikiran.
Karena perubahan itu tanggung jawab kita. Untuk itu, mulailah dengan membenahi cara berpikir kita agar selalu terpaut dengan ajaran Islam yang sempurna. Berani membiasakan diri untuk mengenal Islam lebih dalam dengan hadir dalam majelis-majelis ilmu. Getol beribadah dalam keseharian untuk mendongkrak keimanan kita.
“Janganlah kamu lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (QS. Ali Imran: 139).
"Lihatlah masa lalu dan tataplah masa depanmu. Dalam hidup ini selalu ada ujian; ia akan selalu datang silih berganti. Maka, setiap orang harus bisa keluar dari ujian itu sebagai pemenang." (Dr. 'Aidh al-Qarni) La tahzan gaes! []