Sabtu, 04 Februari 2023

LA TAHZAN GAES!

"Bila engkau bisa tersenyum saat hatimu penuh dengan duka nestapa, maka sesungguhnya engkau sedang meringankan bebanmu sendiri dan membuka satu pintu untuk kebahagiaan."

Kata mutiara ini bukan berasal dari remaja tanggung asal Gorontalo yang lagi viral lantaran kisah cintanya yang kandas itu. Tapi dari sosok ulama yang ngajarin kita agar jangan jadi sad boy. Lho, emang gak boleh sedih?

Sedih Itu Rahmat

Rasa sedih pada diri kita itu normal kok. Tandanya kita punya perasaan dan hati kita lunak. Apalagi kalo rasa sedih itu sampai bikin merembes mili, ada kebaikan di dalamnya. Seperti yang dirasakan orang beriman saat melakukan dosa. Nabi saw mengabarkan bahwa itu adalah tanda iman. “Barangsiapa yang merasa bergembira karena amal kebaikannya dan sedih karena amal keburukannya, maka ia adalah seorang yang beriman” (HR. Tirmidzi).

Allah swt telah menganugerahkan rasa sedih pada diri kita ketika kehilangan harta, pekerjaan, atau orang-orang yang kita sayangi. Bersedihlah kalo kita pengen mengungkapkan rasa kecewa itu. Tapi gak usah lama-lama. Apalagi sampai air mata kering, mata sembab, biwir beureum-beureum jawér hayam panon coklat kopi susu. Jangan ya.
 
Karena kesedihan kita tak akan merubah keadaan. Sebagaimana nasihat dari seorang ulama  Dr. Aidh al-Qarni : Pernahkah engkau mendengar bahwa kesedihan dapat mengembalikan sesuatu yang telah berlalu dan luka lara dapat memperbaiki sebuah kesalahan? Bila tidak, lalu untuk apa engkau bersedih?

Dalam al-Qur’an kata-kata sedih tidaklah datang kecuali dalam konteks larangan atau kalimat negatif (peniadaan). Sebagaimana yang dijelaskan Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam bukunya Madaarijus Saalikiin. Dalam konteks larangan, misalnya adalah firman Allah ‘azza wa jalla, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita” (QS. At-Taubah: 40)

Adapun dalam konteks kalimat negatif (peniadaan) misalnya firman Allah ta’ala, “Mereka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS. Al-Baqarah: 38)

Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan, kesedihan adalah keadaan yang tidak menyenangkan, tidak ada maslahat bagi hati. Suatu hal yang paling disenangi setan adalah, membuat sedih hati seorang hamba. Hingga menghentikannya dari rutinitas amalnya dan menahannya dari kebiasaan baiknya.
 
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Sesungguhnya pembicaraan bisik-bisik itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita” ([QS. Al-Mujadalah: 10]. Madaarijus Saalikiin hal: 1285).

La Tahzan!

Tak perlu berlarut-larut dengan berbagai kesedihan. Kita harus segera move-on. Agar roda hidup kita terus berjalan. Nggak berhenti oleh bayang-bayang suram masa lalu yang melow dan bikin galau. Gimana caranya agar kita bisa tegar menghagapi kesedihan?

Pertama, tidak membesar-besarkan apa yang telah hilang dan sadar bahwa itu adalah hal yang memang mungkin terjadi. Jangan terjebak oleh tren digital yang mengekspose kesedihan sebagai bahan kontent yang menggugah perasaan dan berpotensi mendulang cuan.
 
Ingat, Allah yang menciptakan kesedihan agar kita menyadari nikmatnya kebahagiaan, sehingga ia bersyukur dan berbagi. Dan sempitnya kesedihan diciptakan agar ia tunduk bersimpuh di hadapan Tuhan Yang Maha Rahmat dan Mengasihi, serta tidak menyombongkan diri.
 
Seperti aduannya Nabi Ya’qub saat lama berpisah dengan putra tercinta; Yusuf ‘alaihimas sasalam “Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan penderitaan dan kesedihanku” (QS. Yusuf: 86). Camkan nasihat Dr. 'Aidh al-Qarni "Jangan pernah menjadikan kesusahan dan kesedihan sebagai tema pembicaraan. Karena, hal itu akan menghalangimu dari kebahagiaan."
 
Kedua, Bersikap sabar. Sebagaimana diingatkan oleh al-Qarni “Bersyukurlah engkau tatkala mendapatkan kesenangan dan bersabarlah ketika tertimpa musibah. Jangan mengkhayal, bahwa dalam hidup ini engkau akan sehat tanpa pernah sakit, selalu kaya dan tidak pernah miskin, mendapatkan suami yang tanpa cela dan teman tanpa aib; semua ini mustahil terjadi.” Kesabaran itu dapat memberikan ketenangan kepada seseorang dalam menghadapi tantangan di hidupnya. Karena orang yang sabar memiliki keyakinan bahwasanya Allah akan memberikan pertolongan kepadanya.

Ketiga, Berdoa. Do’a adalah pengikat manusia dengan Allah. Jangan pernah letih untuk berdo’a dan memohon pertolongan Allah, karena hanya Allah lah yang mampu menolong dan mengatur segala urusan manusia.

Oleh karenanya, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam senantiasa berlindung dari rasa sedih. Di antara doa yang sering dipanjatkan Nabi adalah, // Allahumma innii a’uudzubika minal hammi wal hazani…// “Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari gundah gulana dan rasa sedih…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keempat, Memperkuat iman. Iman yang kuat dapat menjadikan seseorang lebih tegar dalam menjalani kehidupan. Orang yang imannya kuat tidak akan mudah putus asa dalam menghadapi berbagai halangan dan tantangan. Orang beriman akan terbebas dari perasaan bahagia terlalu berlebihan yang menyebabkan seseorang melupakan Allah dan perasaan terlalu larut dalam kesedihan yang menyebabkan seseorang putus asa dan menyalahkan Allah.

Kelima, mendekat pada Al-Qur’an. Sebagaimana yang diungkapkan ulama Aidh Al-Qarni, “Hiduplah Bersama Al-Qur’an! Baik dengan cara menghafal, membaca, mendengarkan, atau merenungkannya. Sebab ia adalah obat paling mujarab untuk mengusir kesedihan.”

Kita Adalah Pemenang

Allah swt menghadirkan masalah dalam hidup kita, untuk menghadirkan keajaiban di dalamnya. Jangan katakan “Wahai Allah, masalahku sangat besar”, tapi katakan “Wahai masalah, Allah itu Maha Besar. Berbagai masalah itulah yang membuat kita bertahan dan berTuhan. Jika kita lari dari masalah, berarti kita lari dari kasih sayang Allah.

Pemenang adalah orang yang pandai bersyukur dan berusaha bangkit dari masalah. Seorang pemenang tak akan menghabiskan waktunya untuk meratapi kesedihan yang menutup kebahagiaan yang ada di depan mata.

Seorang pemenang akan melihat masalah sebagai batu loncatan untuk naik kelas. Bertambah keimanannya, kesabarannya, berbaik sangkanya pada Allah swt, kemampuan mengelola hati, dan mendongkrak keterampilannya untuk menemukan jalan keluar.
Seorang pemenang menyakini bahwa di balik setiap kesulitan akan ada kemudahan. Setelah cucuran air mata akan terbit sebuah senyuman. Sebagaimana setelah malam yang gelap gulita akan hadir siang hari yang terang benderang. Teruslah bergerak menjemput pertolongan-Nya.
 
Seorang pemenang menyadari kalo untuk membalikkan keadaan dari kesedihan menjadi kebahagiaan perlu proses yang mesti dijalani. Berusaha memantaskan diri untuk mengundang pertolongan Allah swt. Dan proses itu tak semudah membalikan telapak tangan. Kita harus siap untuk mengorbankan harta waktu, tenaga, dan pikiran.
 
Karena perubahan itu tanggung jawab kita. Untuk itu, mulailah dengan membenahi cara berpikir kita agar selalu terpaut dengan ajaran Islam yang sempurna. Berani membiasakan diri untuk mengenal Islam lebih dalam dengan hadir dalam majelis-majelis ilmu. Getol beribadah dalam keseharian untuk mendongkrak keimanan kita.
 
“Janganlah kamu lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (QS. Ali Imran: 139).
 
"Lihatlah masa lalu dan tataplah masa depanmu. Dalam hidup ini selalu ada ujian; ia akan selalu datang silih berganti. Maka, setiap orang harus bisa keluar dari ujian itu sebagai pemenang." (Dr. 'Aidh al-Qarni) La tahzan gaes! []

Waspada Budaya Hura-Hura!


Menjelang pergantian tahun, banyak yang sibuk ikut ambil bagian dalam perayaan tahun baru. Kalo udah bicara perayaan, pastinya nggak akan jauh dari suasana hura-hura. Itulah tradisi yang tetep lestari dari tahun ke tahun yang dekat dengan dunia remaja. Lantaran kerap menjanjikan kesenangan yang gak ada habisnya. Tanpa sadar, banyak remaja yang terjerumus dalam gaya hidup hedonisme. Apaan tuh? 

Hedonisme dan Budaya Hura-hura

Paham hedonisme pertama kali dikembangkan oleh dua orang filsuf Yunani, yaitu Epicurus (341-270 SM) dan Aristippus of Cyrine (435-366 SM). Istilah hedonisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu hedone yang artinya kenikmatan, kegembiraan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Hedonisme merupakan pandangan yg menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. 

Jadi, kaum hedonis menganggap bahwa orang akan bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan baginya. 

Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup. Karena mereka beranggapan hidup ini hanya sekali, mesti dinikmati sampai mentok. Hidup dijalani semaunya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas. Pandangan mereka terangkum dalam pandangan Epikuris yang menyatakan,"Bergembiralah engkau hari ini, puaskanlah nafsumu, karena besok engkau akan mati".

Dari gaya hidup hedonisme inilah lahir budaya hura-hura. Kegiatan foya-foya yang menjanjikan kesenangan, kemeriahan dalam keseharian. Budaya ini yang sekarang banyak digandrungi remaja. Dan kalo udah kecanduan gaya hidup hedonis, apa aja bisa dijadikan alasan untuk ngadain pesta pora. 

Mulai dari pesta ulang tahun, pesta kenaikan kelas, pesta perpisahan sekolah, pesta tujuh belasan, dan hampir tidak terlewatkan pestaphoria perayaan tahun baru. Perlahan namun pasti, budaya hura-hura telah menggiring remaja untuk menjadi bagian dari kaum hedonis pemuja kesenangan dunia. 

Nol Manfaat Full Maksiat

Budaya hedonis memang menjanjikan kesenangan. Namun di balik itu, hidup kita bakal belangsakan. Lantaran hedonisme bisa bikin kita: 

Pertama, lemah mental. Doyan pesta pora bisa bikin mental kita lemah saat menghadapi musibah atau kesempitan dalam hidup. Karena yang ada di otak kita hanya kesenangan. Sehingga kita jadi alergi dengan kesedihan, menghalalkan segala cara untuk berpesta, dan nggak berani hadapi masalah. 

Ketika pesta usai dan kaki kembali menginjak bumi, ternyata masalah masih ada dan setia nungguin kita. Ya iyalah, karena masalah datang untuk diatasi, bukan dihindari. Kita mesti inget, pesta pora nggak bikin masalah kita beres dan nggak juga membantu kita beresin masalah. Yang ada, masalah kita malah bertambah. Berabe kan?

Kedua, sarang maksiat. Dari awal, budaya hura-hura lahir dari pola hidup masyarakat Barat yang anti dari aturan agama. Apalagi aturan Islam. Nggak heran kalo dalam setia pesta pora, kemaksiatan merajalela. Mulai dari fastabiqul aurat alias berlomba-lomba memamerkan aurat dan daya tarik seksual, campur baur laki perempuan yang bebas tanpa batas, peredaran narkoba dan minuman keras, hingga situasi yang bisa memancing emosi seperti sering terlihat dalam setiap kerusuhan konser musik. Makanya kita mesti jauh-jauh dari tempat pesta pora, biar nggak kecipratan dosa lantaran diem aja di tengah kemaksiatan yang merajalela.

Ketiga, tasyabuh bil kuffar. Perayaan hari-hari besar yang selalu dimeriahkan dengan pesta tak lepas dari muatan ajaran di luar Islam. Seperti perayaan tahun baru Masehi. 
Perayaan tahun baru Masehi bukan hari raya umat Islam. Penetapan 1 Januari sebagai tahun baru yang awalnya diresmikan Kaisar Romawi Julius Caesar (tahun 46 SM), diresmikan ulang oleh pemimpin tertinggi Katolik, yaitu Paus Gregorius XII tahun 1582. Penetapan ini kemudian diadopsi oleh hampir seluruh negara Eropa Barat yang Kristen sebelum mereka mengadopsi kalender Gregorian tahun 1752. (www.en.wikipedia.org; www.history.com)

Sebagai muslim, nggak ada pantasnya kita meniru-niru budaya di luar Islam. Kaya perayaan tahun baru itu. Kalo kita ikut-ikutan, sama aja kita membenarkan apa yang diyakini oleh penganut agama lain. Padahal Rasul dengan tegas melarang umatnya untuk meniru-niru budaya atau tradisi agama dan kepercayaan lain. Rasulullah saw. bersabda:
“Barangsiapa yang menyerupai (bertasyabuh) suatu kaum, maka ia termasuk salah seorang dari mereka.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan ath-Thabrani)

Itulah beberapa bahaya di balik gaya hidup hedonis yang hanya membuat diri dan masa depan kita hancur berantakan. Nggak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Ini sudah cukup beralasan bagi kita untuk katakan tidak pada budaya hura-hura. Setuju?

Catatan Akhir Tahun

Dalam hidup, selalu ada perubahan yang nggak bisa kita hindari. Ada suka ada duka. Ada masa muda ada masa tua. Ada saatnya kita hidup, ada waktunya kita meninggal dunia. Pertanyaannya, siapkah kita menghadapi perubahan itu?

Nggak gampang jawab pertanyaan ini. Karena faktanya, kita lebih banyak mempersiapkan diri untuk memaksimalkan waktu luang, harta berlimpah, dan masa muda untuk bersenang-senang. Sebaliknya, kita sering ngerasa belum siap dan enggan mempersiapkan diri menghadapi kondisi hidup yang sulit. 

Kita cuman bisa mengeluh dan ngandelin ortu untuk beresin setiap kesulitan yang dihadapi. Padahal suatu saat, kita akan kehilangan orang tua dan harus hidup mandiri. Lantas, apa yang udah kita siapin menghadapi saat itu? Keterampilan apa yang udah kita asah dari sekarang untuk menjalankan tanggung jawab kita nanti? Amal baik apa yang sudah kita tabung untuk menghadapi hari perhitungan di akhirat nanti?

Kalo kamu perhatiin Pak Tani, nggak mungkin doi memanen padi kalo sebelumnya nggak pernah membajak sawahnya, menanam benih padi, ngasih pupuk, menyiangi, atau menjaganya dari hama padi. Begitu juga yang terjadi dengan kita. 

Keberhasilan masa depan kita tidak diperoleh dengan tunai saat kita tua nanti, melainkan hasil usaha ‘cicilan’ kita sejak remaja. Apa pun yang kita kerjain selagi muda, sedikit banyak akan mempengaruhi potret masa depan kita. 
Jangan pernah berharap masa depan terbingkai indah jika menjadi aktivis pestaphoria. Dan jangan salahkan orang lain, teman, orang tua, atau lingkungan jika masa depan kita suram. Allah swt mengingatkan kita dalam firman-Nya:

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, (QS. Al-Mudatsîr [74]: 38)
Ayat ini juga ngingetin kita tentang masa depan di akherat. Saat dimintai pertanggungjawaban oleh Allah swt, kita nggak bisa berlindung dengan alasan diajak temen untuk ngedugem, clubbing, atau terhanyut dalam pestaphoria. Kita nggak bisa ngeles. Semua resiko perbuatan selama di dunia, kita yang nanggung. Makanya kalo kita cerdas, pastinya nggak akan sia-siakan masa remaja dengan menjadi aktivis pestaphoria. Sabda Rasul:
“orang yang cerdas adalah orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya serta biasa beramal untuk bekal kehidupan setelah mati. 

Sebaliknya, orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya, sementara dia berangan-angan kepada Allah”.
Sekarang kita punya alasan kuat untuk nggak ikut-ikutan pesta perayaan tahun baru dan menghapus gaya hidup hedonis dan budaya hura-hura dalam kamus hidup kita. 

Pastinya lebih keren kalo kita isi masa muda dengan kegiatan bermanfaat yang selalu terikat syariat dan bisa mencerahkan masa depan kita di dunia dan akherat. Di antaranya, dengan ikut dan aktif dalam pengajian. Yuk! [].