Kamis, 23 April 2020

Ramadhan Tiba, Kuy Kejar Surga!


Hallo #TemanSurga! Tidak terasa bulan Sya’ban akan segera pergi. Ramadhan Agung telah bersiap untuk hadir menyambangi. Gimana perasaanmu Guys?

Emang agak berbeda ya di tahun ini. Bagaimanapun, bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia. Jujur, kehadiran Ramadhan selalu kita nanti-nanti. Limpahan berkah dan rahmat Allah Swt.. menjadi alasannya. Senang ketika Ramadhan akan bertandang? Pasti!

Namun di sisi lain, kali ini kita dihadapkan pada situasi dan kondisi yang 180 derajat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ramadhan tahun ini, kita diminta tidak boleh ada hiruk-pikuk. Semuanya cukup merayakan suka cita dengan di rumah aja. nyesek enggak, sih? Banget!

Tapi kita kudu tetap yakin bahwa ini semua adalah ketetapan dari Allah Swt. Sebagai generasi smart with islam, kita udah paham banget bahwa jika datangnya dari Allah Swt. semua urusan itu baik. Karenanya, tidak ada yang sia-sia dalam urusan orang beriman. Ditimpa kesenangan ia bersyukur dan ketika dilanda kesusahan ia bersabar. Dua-duanya baik. Dapat pahala.

Termasuk dalam kondisi pandemi Covid-19 yang belum juga usai menjelang Ramadhan ini. Kita wajib bersabar karenanya. Juga, harus bersyukur karena masih diberi sehat hingga detik ini. Tinggal banyakin merengek ke Allah Swt. agar usia kita sampai di bulan yang mulia. Bertemu dengan bulan yang dirindu, Ramadhan Karim.

So, bukan saatnya lagi buang-buang waktu ya Guys. Buang tuh mager. Campakkan halu. Singkirkan kesedihan. Kuy move on. Sambut Ramadhan yang mulia!

Persiapkan Diri, Sambut Bulan Suci

Dear #TemanSurga, bukan hanya ujian sekolah yang harus dipersiapkan! Kita juga mesti bersiap untuk menyambut datangnya bulan yang suci. Sepakat juga ya jika dikatakan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan istimewa? Nah, masak sih bulan yang mulia mau kita sambut biasa-biasa aja? Big No!

Super hero Baginda Nabi Muhammad Saw. sudah memberikan tutorial super komplit soal hal ini. Ya, amalan luar biasa untuk menyambut bulan yang istimewa. Amalan ini tentu saja harus kita ketahui untuk diteladani. Apa sajakah itu?

  1. Meningkatkan kuantitas dan kualitas shalat

Nah, ini penting banget. Latihan buat kita agar tetap strong beribadah selama Ramadhan nanti terutama shalat. Ingat kalau di Ramadhan itu kita akan banyak melakukan aktivitas shalat. Karenanya, sebelum Ramadhan tiba kita harus sudah terbiasa memperbanyak shalat dan menjaga kualitasnya. Ini demi kebaikan kita  kok!

Insyaallah! Masih ada waktu, ayo mulai tambah deh kuantitas shalatnya. Jangan cukup hanya di shalat wajib. Rawatib, duha, witir dan tahajud mari mulai dibiasakan. Semangat!

  1. Berinterakasi dengan Al Qur’an

Ini adalah amalan kedua Rasulullah Saw.. ketika bersiap menyambut Ramadhan. Kita tahu, bahwa salah satu keistimewaan Ramadhan adalah diturunkannya kitab suci umat islam yakni Al Qur’an. Oleh karena itu, Nabi Muhammad Saw. selalu memperbanyak berinteraksi dengan Al Qur’an menjelang Ramadhan. Sehingga ketika Ramadhan tiba, aktivitas berlama-lama dengan Al Qur’an sudah menjadi kebiasaan. Asyik pakai banget, nih! Wajib copy paste!

  1. Memperbanyak Sedekah

Amalan yang tidak kalah penting dalam menyambut bulan suci Ramadhan adalah membiasakan sedekah. Hal ini pula yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Kenapa harus dilatih? Ya, agar kita terbiasa melakukannya. Kalau sudah biasa, maka tidak ada beban dalam menunaikannya. Minimal, rajin senyum. Senyum juga bagian dari sedekah, kan? Hehehe, enggak sepelit itu juga kali! #TemanSurga mah pada dermawan, insyaallah.

Catat Resolusimu!

Persiapan menyambut Ramadhan sudah dilakukan. Selanjutnya jangan lupa buat catatan. Resolusi apa yang mau dicapai selama Ramadhan, tulis!

“Kenapa sih mesti begitu? Ribet amat! Puasa ya puasa aja. Jalani apa adanya. Gitu aja kok repot!”

Hallo Guys, masih punya cita-cita masuk jannah? Tidak ada surga bagi hamba yang meremehkan amalnya. Semua harus optimal dan untuk itu butuh direncanakan. Persis! Buat rencana, eksekusi, dan evaluasi. Pilih mana, evaluasi diri sendiri mumpung masih di dunia atau nunggu nanti dievaluasi sama Allah Swt. pas udah di akhirat? Ingat, di akhirat mah enggak ada lagi kesempatan untuk nambah amal ya Guys, catet!

Yups jangan ditunda-tunda ya Guys!  Allah Swt. telah mewarning kita soal waktu. Jangan main-main dengannya. Karena waktu ibarat pedang. Salah mencengkramainya, kita akan binasa. Longgar dalam ketaatan, hati-hati karena pasti akan digantikan dengan kemaksiatan. Horor enggak, sih?!

”Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebaikan dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Asr: 1-3)

Dalam satu tahun hanya sekali Ramadhan datang. Waktu satu bulan itu sungguh sangatlah singkat. Namun di balik singkatnya waktu Ramadhan. Allah Swt. limpahkan keberkahan bagi orang yang beriman. Obral besar-besaran pakai banget.

Berbagai amal dilipat gandakankan pahalanya. Bahkan amal sunnahpun dihitung sebagai amal wajib di sisi Allah. Intinya, rugi besar bagi yang melewatkan Ramadhan begitu saja. Karena apa? Karena belum tentu berjumpa dengan Ramadhan di tahun berikutnya. Juga belum pasti amal kita di bulan-bulan lainnya peroleh banyak pahala. So, mumpung obral jangan diabaikan. Borong!

Nah, sebagai bentuk kesungguhan kita untuk berubah menjadi lebih baik, maka perlu banget nih untuk membuat resolusi. Jangan cuma dibayangin. Ambil pena, siapkan kertas kosong. Bila perlu pakai kertas origami yang warna-warni, yes! Kuy, tuliskan resolusimu selama nongkrong bareng Ramadhan satu bulan full. Apa aja daftarnya? Cekidot!

  1. Tadarus dan mengkhatamkan Al Qur’an

Buat target berapa kali khatam Al Qur’an selama Ramadhan. Eits, tidak sekadar khatam loh ya. Pastikan membaca Al Qur’an dengan tartil dan tadaburi maknanya. Agar apa yang kita baca betul-betul membekas dan menjadi petunjuk dalam kehidupan.

  1. Perbanyak sedekah

Salah satu sedekah yang bisa kita lakukan adalah memberikan bukaan bagi yang berpuasa. Meski hanya satu butir kurma, pahalanya bisa berlipat ganda, loh. Bahkan bisa setara dengan pahala orang yang berpuasa. Bagi para remaja muslimah yang lagi dapet, bisa banget mengamalkan amalan ini. Meski datang bulan, tetap bisa raup pahala di bulan Ramadhan. Mantap!

  1. Melaksanakan shalat tarawih

Sudah tau dong ya kalau shalat tarawih ini hanya ada di bulan Ramadhan? Oleh karena itu, pastikan aktivitas shalat tarawih ada dalam daftar resolusimu. Jangan sampai shalat yang hanya ada satu tahun sekali ini luput dari amalan harian selama Ramadhan. Bisa rugi besar kita! So, Catat ya!

  1. Melakukan Itikaf di Sepuluh Malam Terakhir

Jangan lupa masukkan amalan ini di daftar resolusimu. Sebab dikabarkan,  pada sepuluh malam terakhir ini pula akan ada satu malam yang istimewa. Yakni malam lailatul qadar. Baginda Nabi Saw. saja memburunya, lantas bagaimana dengan kita? Harus mengupayakannya ya Gusy, gas pol!

  1. Berdakwah

Dakwah adalah aktivitas agung nan mulia. Amalan yang dilakukan oleh para Nabi dan Rasul, juga para sahabat. Sebagai remaja Islam yang memiliki kepedulian tinggi, aktivitas dakwah ini tentu menjadi rutinitasnya. Apa lagi selama Ramadhan, amal ini tidak akan mungkin dilewatkan.

Tetap menebar cinta melalui dakwah. Jadikan beranda sosmed kita sebagai mimbar-mimbarnya. Suarakan semua hal tentang Islam dari sana. Sehingga rahmatan lil alaminnya Islam semakin dirundukan oleh siapa saja. semangat!

  1. Bertaubat

Bulan Ramadhan adalah bulan ampunan. Maka jangan lupa agendakan Ramadhanmu untuk bertaubat dengan sungguh-sungguh. Memohon ampunan Allah Swt. seraya mengharap ridha-Nya. Semoga peroleh keberkahan hidup di dunia dan di akhirat.

Gimana, Guys? Semoga semakin mantap menyongsong datangnya bulan suci Ramadhan. Jangan berleha-leha, manfaatkan waktu sebaik-baiknya. Ramadhan tiba, kuy kejar Surga! Enggak pakai lama! Enggak pakai tunda! Segera![]


***

Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/koreapi1453/
Twitter - https://twitter.com/koreapi_1453?s=09
IG -  https://www.instagram.com/koreapi.1453?igshid=3x7tpluws2nb
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Jumat, 17 April 2020

Ramadhan yang Kurindukan



Tak lama lagi, kita bakal berjumpa lagi dengan bulan suci Ramadhan. Bulan mulia yang ‘memaksa’ sebagian besar umat Islam untuk inget akherat. Soalnya di bulan-bulan laen, banyak dari kita yang pura-pura lupa dengan surga atau neraka. Asyik aja berlomba-lomba mengejar kesenangan dunia. Boro-boro inget ama pahala dan dosa. Ketutup sama hawa nafsu yang gak ada ujungnya.

Makanya beruntung banget kita masih bisa ketemuan lagi dengan bulan puasa ini. Jadi masih dikasih kesempatan untuk tobat. Atau minimal bisa mendongkrak kesadaran kita tentang akherat. Lantaran di bulan suci, geliat umat Islam menunjukkan tanda-tanda kehidupannya. Di dunia nyata, dunia maya, juga dalam dunia layar kaca. Segala hal yang berbau gaya hidup hedonis kudu rela dikarantina. Minggir!


Jangan Jadi Kaum Rebahan

Bulan Ramadhan selalu dinanti kehadirannya. Karena di bulan ini kita punya kesempatan guede banget untuk menambah tabungan pahala kita. Coba simak cuplikan khotbah Rasulullah SAW menjelang bulan Ramadhan yang diriwayatkan Imam Ali R.A.

“Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian bulan Allah yang membawa berkah, rahmat, dan maghfirah, bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama, malam-malam di bulan Ramadhan adalah malam-malam yang paling utama, jam demi jamnya adalah jam yang paling utama.

“Lalu Amirulmukminin Ali bin Abi Thalib berdiri dan berkata: ‘Ya Rasulallah, amal apa yang paling utama di bulan ini.’ Rasul yang mulia menjawab, ‘Ya Abal Hasan, amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah SWT”

“Inilah bulan yang ketika engkau diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Pada bulan ini napasmu menjadi tasbih, tidurmu menjadi ibadah, amal-amalmu diterima, dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah, Rab-mu dengan hati yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan saum dan membaca kitab-Nya. Sungguh celakalah orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah pada bulan yang agung ini.

“Wahai manusia! Barang siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini, dia akan berhasil melewati shiraatalmustaqim, pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Barang siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya dan membantunya di bulan ini, maka Allah akan meringankan pemeriksaannya di hari kiamat.

“Barang siapa yang menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murkanya pada hari dia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa yang memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakannya di hari berjumpa dengan-Nya, dan barang siapa yang menyambungkan tali silaturahmi di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari dia berjumpa dengan-Nya. Dan barang siapa yang memutuskan silaturahmi di bulan ini, Allah akan memutuskan dia dari rahmat-Nya.

“Siapa yang melakukan salat sunat di bulan Ramadhan, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barang siapa yang melakukan salat fardu, baginya ganjaran seperti 70 salat fardu di bulan yang lain. “Barang siapa yang memperbanyak salawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barang siapa yang pada bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama dengan mengkhatamkan Al-Quran di bulan-bulan yang lain.“Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak akan pernah menutupkan-nya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup maka mohonkanlah kepada Rab-mu agar tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar mereka tidak pernah lagi menguasaimu.

Tuh kan, bener apa yang kita bilang. Banyak banget amal kebaikan yang berbuah pahala berlipat di bulan Ramadhan. Makanya sayang banget kalo kita cuman puasa kita dipake bengang-bengong gak ada kerjaan nunggu bedug magrib dipukul. Mentang-mentan liburan, banyak waktu untuk besantuy ria. Meskipun tidurnya orang puasa berpahala, tetep aja masih lebih baik ikut kajian Islam, tilawah qur’an, atau bersedekah. Jadi, jangan biarkan Ramadhan cuman berakhir di pelaminan, eh di pembaringan. Jauh-jauh deh dari komunitas kaum rebahan. Rugi!


Teladan Ramadhan Para Shahabat

Sebaik-baiknya teladan kita dalam berperilaku mulia, tentu Rasulullah saw dan para shahabat. Seperti yang mereka tunjukkan saat Ramadhan tiba. Para Shahabat sangat menanti kedatangan Ramadhan setiap tahunnya. Kerinduan mereka, bak calon pengantin menantikan hari pernikahannya. Begitu menggebu.

Nggak heran kalo ekspresi bahagia menyambut datangnya bulan mulia, ditunjukkan para shahabat sejak bulan Sya’ban. Diriwayatkan Anas bin Malik bahwa para sahabat Nabi saw jika melihat bulan sabit Sya’ban mereka serta merta meraih mushaf mereka dan membacanya. Kaum Muslimin mengeluarkan zakat harta mereka agar yang lemah menjadi kuat dan orang miskin mampu berpuasa di bulan Ramadhan. Para gubernur memanggil tawanan, barangsiapa yang mesti dihukum segera mereka dihukum atau dibebaskan. Para pedagang pun bergerak untuk melunasi apa yang menjadi tanggungannya dan meminta apa yang menjadi hak mereka. Sampai ketika mereka melihat bulan sabit Ramadhan segera mereka mandi dan i’tikaf.”

Ketika memasuki bulan Ramadhan, para Shahabat makin greget. Diriwayatkan bahwa Umar bin Khatthab menyambutnya dengan menyalakan lampu-lampu penerang di masjid-masjid untuk ibadah dan membaca Al-Qur’an. Dan konon, Umar adalah orang pertama yang memberi penerangan di masjid-masjid. Sampai pada zaman Ali bin Abi Thalib. Di malam pertama bulan Ramadhan ia datang ke masjid dan mendapati masjid yang terang itu ia berkata, “Semoga Allah menerangi kuburmu wahai Ibnul Khatthab sebagaimana engkau terangi masjid-masjid Allah dengan Al-Qur’an.”

Sebagaimana Nabi saw, dalam bulan Ramadhan mereka meningkat kedermawanannya. Pada bulan agung ini mereka semakin rajin bersedekah. Mereka melakukan demikian karena meneladani Rasulullah SAW yang digambarkan Ibnu Abbas, “Beliau lebih dermawan di bulan Ramadhan melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari, Muslim). Bentuk sedekah yang sering diberikan mereka di bulan Ramadhan ialah: memberi makan dan menyiapkan buka (ta`jil) bagi orang-orang yang berpuasa.

Sahabat semisal Abdullah bin Umar RA, setiap kali berbuka, beliau selalu menyertakan orang miskin dan anak yatim. Anda bisa membayangkan betapa besarnya sedekah mereka di bulan Ramadhan. Apa yang mereka lakukan terinspirasi dari hadits nabi yang menyatakan bahwa orang yang menyiapkannya, akan diberi ganjaran tanpa mengurangi ganjarannya sedikit pun (HR. Ahmad, Nasai).

Hal lain yang dilakukan sahabat ialah tadarus al-Qur`an. Pada momen agung ini, mereka bersungguh-sungguh dalam membaca al-Qur`an. Utsman bin Affan misalnya, menyelesaikan bacaan al-Qur`annya setiap hari sekali. Abdullah bin Amru bin `Ash mampu mengkhatamkan al-Qur`an seharian (walaupun diperintah Rasul minimal tiga hari). Ada yang mengkhatamkannya selama tiga malam sekali, ada yang tujuh malam sekali, sampai ada juga yang sepuluh malam sekali baru bisa khatam. Itu semua menggambarkan betapa semangatnya mereka dalam membaca al-Qur`an.

Di samping itu, mereka terbiasa duduk di masjid bakda shalat shubuh hingga terbit matahari. Mereka meneladani kebiasaan nabi duduk di masjid setelah subuh hingga matahari terbit (HR. Muslim). Di sisi lain, mereka juga tahu bahwa orang yang duduk di masjid pada waktu tersebut, ganjarannya bagaikan haji dan umrah secara sempurna (HR. Tirmidzi). Selanjutnya biasa dilanjutkan dengan ibadah lain seperti shalat Dhuha. Poll banget kegiatan harian Ramadhannya.

Persiapan Menjelang Ramadhan

Ramadhan udah di depan mata. Layaknya menyambut sang pujaan hati, tak ada salahnya kita persiapkan diri. Agar ramadhan kali ini lebih berarti. Biar kamu nggak bingung tanya sana-sini, berikut beberapa tips dari kami. Monggo!

Pertama, murnikan niat. Setiap amal ibadah, nggak akan punya nilai kalo ada noda dalam keiklhasan kita. Makanya hati-hati kalo dorongan kita berpuasa karena temen-temen juga puasa atau iming-iming door prize dari ortu di akhir Ramadhan. Padahal hanya yang berpuasa karena Allah swt saja yang dijanjikan pengampunan dosa. Rasul saw bersabda:

Barangsiapa shaum Ramadhan karena beriman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang sekarang ( HR.Bukhary Muslim).

Kedua, sisihkan harta. Selagi masih dikasih uang jajan, bagus banget kalo kita sisihkan untuk Ramadhan ntar. Eit, jangan salah sangka ya. Uang simpanan itu bukan untuk berburu kuliner Ramadhan. Tapi untuk dilipatgandakan nilainya di hadapan Allah swt. Diantaranya dengan menyediakan ifthar alias makanan berbuka bagi yang berpuasa. Rasul saw bersabda:

“Barangsiapa pada bulan Ramadhan memberi makan kepada orang yang berbuka puasa, maka itu menjadi ampunan bagi dosa-dosanya, dan mendapat pahala yang sama tanpa sedikit pun mengurangi pahala orang lain.  Mereka (para sahabat) berkata, ‘Wahai Rasulallah, tidak setiap kami mempunyai makanan untuk diberikan kepada orang yang berbuka puasa.’ Beliau berkata, ‘Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi buka puasa meski dengan sebutir kurma, seteguk air, atau sesisip susu…Barangsiapa memberi minum orang yang berpuasa maka Allah akan memberinya minum seteguk dari telagak di mana ia tidak akan haus hingga masuk surga.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi)

Ketiga, jaga lisan dan perilaku kita. Kamu pasti bisa kalo cuman menahan lapar dan haus selama kurang lebih empat belas jam. Tapi jangan lupa kalo puasa juga mengharuskan kita untuk menahan hawa nafsu dalam perkataan maupun perbuatan. Terkadang puasa sih iya, tapi gosip jalan terus. Gaul bebas tanpa hambatan. Padahal gara-gara hawa nafsu itu, kita akan kehilangan pahala puasa kita. Rasul saw bersabda:

“Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.” (HR Ahmad)

Keempat, mengkaji Islam. Amal tanpa ilmu, gak bermutu alias nggak bernilai.  Ilmu tanpa amal, cuman nyampe teori belaka. Dalam Islam, setiap amal kudu dibarengi ilmu dan setiap ilmu kudu diamalkan. Makanya, kita kudu punya ilmunya biar amalan di bulan Ramadhan bener-bener berbuah tiket surga di akherat kelak. Disinilah pentingnya kita ikut kajian Islam.

Nah teman surga, mumpung di bulan puasa, jangan sampe waktu terbuang percuma. Ikuti kajian ramadhan online yang saban hari digelar demi menimba ilmu. Luangkan untuk tilawah qur’an setiap waktu. Syukur-syukur bisa hatam 30 juz minimal satu kali selama Ramadhan.

Yang ini juga nggak boleh kelewat, shalat tarawih sebulan penuh. Dan tetep beraktivitas seperti biasa meski #dirumahaja. Semoga Allah swt memasukkan kita dalam golongan mukmin kuat yang dicintai-Nya. Amiin. Meski puasa, tetep perkasa dan selalu greget mengejar pahala. []


***

Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/koreapi1453/
Twitter - https://twitter.com/koreapi_1453?s=09
IG -  https://www.instagram.com/koreapi.1453?igshid=3x7tpluws2nb
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Selasa, 07 April 2020

Hidup Sehat Itu Penting!



Apa kabar kamu hari ini, Dear? Sudah lebih tiga pekan belajar di rumah. Tidak ke mana-mana, segalanya serba dunia maya. Gimana, sudah mulai rindu dengan suasana belajar di sekolah? Kangen dengan canda tawa bersama sahabat, juga nasihat langsung dari para guru? Sudah mulai jemu dengan karantina yang tak jua kunjung berlalu?

Ya, sepertinya kita kudu lebih bersabar lagi menghadapi kondisi ini. Fokus perbanyak amal saleh serta doa agar bencana corona segera sirna. Selain itu, coba deh mulai cek dan ricek hal-hal apa saja yang kamu alami selama masa sosial distancing. Percaya gak percaya, banyak banget loh hikmah yang bisa jadi pelajaran.

Bagi kita para remaja, hal apa sih yang biasanya sering luput dari kesadaran? Yes, betul banget! Soal kebersihan dan kesehatan adalah hal yang lumrah kita dengar tetapi sering hilang dari ingatan. Banyak faktor sih  yang menjadikan remaja lupa dengan masalah kebersihan dan kesehatn. Eh, faktor atau alasan ya?  Hem, sepertinya emang hanya alasan, deh. Hehehe!

Alasan yang paling sering terungkap adalah padatnya jadwal. Bener, kita-kita ini memiliki jadwal yang super padat ya kan. Udah kayak selebritas lah pokoknya. Apalagi bagi yang sekolahnya seharian. Berangkat pagi, pulang udah sore. Belum lagi terjebak macet, kehujanan atau telat dapat jemputan. Bbbehhh, udah deh! Langsung tepar itu sampai rumah. Betul?

Kemudian jadi halal deh itu si mager. Makan mau yang serba instan. Kamar udah seperti sarang tikus, bodo amat. Rumah kotor belum disapu, kan ada mama yang ready selalu. Cucian piring numpuk, pura-pura gak tahu. Baju kotor sudah bergelantungan di balik pintu, tinggal semprot lagi pakai pewangi baju. Ada yang semager ini? Setop manggut-manggutnya, seneng banget ya berasa ada teman? Hadeh!

Kalau dipikir-pikir, memang bikin capek sih aktivitas harian yang selalu kita jalani. Tetapi bukan kemudian berarti sah jika kita melupakan hal penting dalam kehidupan. Yapz, menjaga kebersihan dan kesehatan itu sangat penting loh bagi kehidupan kita. Apalagi sebagai generasi islam, tumbuh sehat itu adalah sebuah keharusan.

Tanya kenapa? Kompleks banget deh jawabannya. Semua kewajiban yang harus dilakukan oleh umat islam itu menuntut kondisi tubuh yang sehat, Dear. Mau aktifitas belajar, salat, puasa, naik haji, berbakti pada orang tua, semuanya itu membutuhkan kekuatan dan kesehatan fisik kita. Apalagi jika bercita-cita ingin menjadi penakhluk seperti Muhammad Al-Fatih, sehat jiwa raga udah mesti kudu itu mah. Gak bisa nego!

Dear  #TemanSurga, kondisi sosial distancing yang berlangsung saat ini pas banget jadi ajang terapi buat kita. Ya, terapi untuk membangun dan membiasakan pola hidup sehat. Full di rumah aja kan? Cucok banget deh untuk memulai kebiasaan baik demi kualitas hidup kita. Mulai dari mana? Cekidot!

  1. Pola Makan Sehat

Hari gini siapa sih yang gak kenal dengan berbagai varian makanan dan minuman serba instan? Selain kemasannya menarik, rasanya juga selalu endolita. Lezat memanjakan lidah. Iya, kan?

Tetapi sayangnya, sedikit dari kita yang aware tentang kandungan gizi pada jajanan tersebut. Sehat atau tidak mah nanti aja, paling penting itu enak dan kekinian. Apalagi kalau kemasannya instragamable, gas pol komandan. Hempaskan soal kesehatan. Duh! Padahal mengkonsumsi makanan yang begituan dapat menyebabkan beragam penyakit nyarang di tubuh loh, Dear. Serem, tau!

Setop lah ya! Jangan lanjutkan ke-santuy-an memamah makanan serta minuman rendah nutrisi itu. Yuk mulai perbaiki semuanya dari hari ini. mumpung di rumah aja, saatnya membentuk habits baru yang memberi dampak positif buat diri kita.

Makan dan minum hanya yang bergizi dan bernutrisi. Bahasa kekinian mah real food, ya. Bahasa imannya, halal dan thayib! Yapz, tidak sekadar halal, kita juga harus pastikan bahwa apa yang masuk ke tubuh kita adalah sesuatu yang thayib atau baik.

Selain untu kesehatan tubuh yang paripurna, mengkonsumsi makanan dan minuman halal lagi thayib ini juga dalam rangka mentaati perintah Allah SWT., loh! Yeah, Islam itu emang super duper keren. Sampai-sampai urusan makan dan minumpun tidak luput dari syariatnya. Demi apa coba? Demi kebaikan kita, Bro dan Sist! Tandai dan garis bawahi, yah!

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi. Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168)

Aduhai ngerinya, perkara makanan bisa menjerumuskan kita pada  langkah-langkah setan nih, Sob! Serem bin horor loh ini. Udah deh, mumpung lagi di rumah aja dan gak ngumpul-ngumpul bareng teman, ini saat yang tepat banget buat memulai kebiasaan makan minum halalan thayiban. Jadi, sip ya untuk makan dan minum yang sehat-sehat aja? Aasiap!

  1. Bersih-bersih Diri

#TemanSurga yang kece badai di seluruh nusantara, adakah yang punya kebiasaan males untuk bersih-bersih diri sendiri? Mandi minimal dua kali dalam sehari. Gosok gigi menjelang tidur malam. Memakai pakaian bersih dan rapi. Ada yang masih mager?

No! No! No! Hempaskan mager kamu secepatnya. Bagaimana mau jadi generasi unggul dan mengukir peradaban gemilang jika urusan mandi aja belum kelar?

Sebagai remaja smart with islam, perkara kebersihan diri ini harusnya sudah khata. Yes, kita bisa. Kita mampu. Jika selama ini mager karena sudah terlalu penat dengan rutinitas yang padat, maka saat ini tidak ada alasan. Waktu kita sangat lapang untuk membangun habits peduli pada kebersihan diri.

Ingat, ini semua buka soalan ”Gue” semata. Remaja islam bukanlah makhluk yang hanya mementingkan dirinya sendiri, kan? Pun, remaja saleh-salehah juga tidak akan memndang hidup hanya sekadar dunia. Yes, hidup kita juga sangat berkaitan erat dengan keabadian. Kehidupan akhirat.

Jadi, peduli pada kebersihan diri ini juga dalam rangka menjalankan syariat. Dalam rangka taat. Dalam rangka peroleh banyak pahala sebagai bekal menuju surga. Widiw, kalau sudah menyangkut masalah surga mah jangan sampai lolos. Kerjakan deh penuh suka cita!

  1. Beres-beres Kamar

Hai, apa kabar dengan lantai kamarmu? Sudah disapu hari ini?  Itu buku atau daun, bisa gitu ya berserak menguasai ruangan? Halo, itu sudut kamarmu atau sudut kamar spiderman? Sarang laba-labanya di mana-mana.  Hihihi! Aib banget ya kayaknya kalau ngomongin soal kamarnya remaja.

Yang lalu biarlah berlalu. Masih ada waktu untuk menjadi lebih baik. Kapan? Hari ini dong, dear! Sebab hari inilah yang pasti, sedangkan hari esok itu masih rahasia. Yapz, tidak ada jaminan bahwa esok kita masih bisa membuka mata. *Musik pengiring mendadak melow. Hiks!

Dear #TemanSurga, jika kita memang benar mencintai Allah SWT., maka sudah semestinya kita juga mencintai apa yang Allah SWT. Dear, Sang Pencipta itu Maha Indah dan begitu mencintai keindahan. Maka cukuplah ini menjadi alasan bagi kita untuk bergegas membereskan kamar kita. Agar tampak bersih dan indah. Bukan sekadar untuk kenyamanan, tetapi juga untuk peroleh reward dari-Nya. MasyaAllah!

Bener deh, ya. Sungguh luar biasa segala urusan orang yang beriman. Tidak ada yang sia-sia. Soalan beres-beres kamar aja bisa berbuah pahala. Maka nikmat mana yang mau kita dustakan? Bro and Sist, gercep gih berbenah kamar masing-masing. Gak pakai lama!

  1. Menjaga Lingkungan

Tidak cukup hanya memperhatikan kebersihan diri sendiri, generasi terbaik juga wajib bin kudu untuk peduli lingkungan ya, Dear! Kita bisa memulai dengan membuang sampah pada tempatnya. Meminamilisir sampah plastik. Perbanyak menanam meski hanya di sekitar rumah.

Banyak banget tutorial bercocok tanam yang bisa kita amati, tiru, dan modifikasi. Dari mulai menanam macam-macam bunga hingga berbagai jenis sayur, bisa kita lakukan di rumah. Kabar bahagianya, lagi-lagi, aktivitas tanam-menanam ini juga ada disinggung loh dalam syariat islam. Wow!

“Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau menanam tetumbuhan kemudian burung, manusia, dan hewan ternak memakan buah-buahan dari pohon yang dia tanam kecuali hal tersebut terhitung sedekah baginya.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat Imam Muslim terdapat tambahan kalimat,

“Dan buah-buahan yang dicuri dari pohon tersebut maka hal itu adalah sedekah baginya,” dan juga tambahan “maka hal tersebut adalah sedekah baginya sampai hari kiamat.” (HR. Muslim)

Sesuper ini loh apresiasi yang Allah SWT kasih ketika manusia menjaga alam semesta termasuk lingkungan tempat tinggal kita. Kurang apa lagi coba? Adakah hal yang lebih membahagikan daripada peroleh kebaikan dari Rabb penguasa alam semesta?

Nah #TemanSurga, sudah semakin jelas kan bahwa hidup sehat itu penting banget. Bukan hanya sekadar  untuk kepentingan di dunia yang fana, tetapi juga berimbas pada kedudukan kita di alam baka. Masih komitmen mau masuk surga, kan? Kuy, jaga diri dengan istiqomah menjalankan pola hidup sehat. Semangat![]


***

Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/koreapi1453/
Twitter - https://twitter.com/koreapi_1453?s=09
IG -  https://www.instagram.com/koreapi.1453?igshid=3x7tpluws2nb
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Rabu, 01 April 2020

ISLAM DI LAYAR LEBAR



Gaes, kalian sudah atau pernah nonton film-film islami ini: Hijab (2015), Ada Surga di Rumahmu (2015), Sang Kiai (2013), Sang Pencerah (2010 ), 99 Cahaya di Langit Eropa (2013), Ayat-Ayat Adinda (2015), Haji Backpacker (2014), Mencari Hilal (2015), Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea (2016), Assalamualaikum Beijing (2014), Surga yang Tak Dirindukan (2015), Bulan Terbelah di Langit Amerika 2 (2016) ? Kalo belum pernah nonton berarti kamu emang bukan golongan Sufi alias suka film, hehe. Tapi bagi golongan sufi, film-film itu atau mungkin yang terbaru udah pada lahap ditonton abis.


Selera Masyarakat atau Nilai Islam?

Film-film islami kayaknya emang gencar diproduksi akhir-akhir ini. Nggak tahu apa ini sebuah fenomena atau emang menangkap peluang pasar di saat ghirah keislaman masyarakat mulai naik. Sebagai sebuah contoh aja, saat di negeri ini lagi rame-ramenya aksi massa 212, lalu muncul inisiatif bikin film The Power of Love (212). Meski sempat mengalami kontroversi untuk ditayangkan di bioskop, tapi karena hanya menangkap fenomena aja, akhirnya film tersebut bisa dibilang nggak begitu booming, ketka semangat 212 mulai meredup, eh tapi lebih tepatnya diredupkan, hehehe…..


Sekedar contoh lagi, ada film yang tergolong film islami, diangkat dari buku yang ditulis oleh seorang Ustadz yang populer di kalangan Milenial “Udah Putusin Aja” lalu diangkat di layar lebar tahun 2018, tapi ternyata nongkrongnya di bioskop cuman seumur jagung. Pasti man-teman generasi Z, pada nggak tahu film itu, kecuali beberapa generasi milienial aja yang kebetulan fanatik film. Karena memang film itu dibuat setelah mengalami proses yang panjang. Penulisnya sendiri ngejelasin bahwa di film tersebut adegan-adegannya sudah disesuaikan. Tapi malah justru ketika disesuaikan dengan nilai-nilai Islam, malah filmnya kurang laku di pasaran.


Kalo bisa dibilang dua conto film di atas mewakili film yang kurang sesuai selera masyarakat. Tapi ada lagi satu film layar lebar juga yang man-teman ada yang belum pernah nonton film Alif Lam Mim. Film yang digawangi oleh Arie K Untung ini, konon emang dinilai ekstrim, karena ada penggambaran perang antar kebatilan dan kebenaran (Islam), apalagi dibumbui nilai-nilai jihad di dalamnya. Maka pantas aja, bukan nggak sesuai selera masyarakat tapi juga dinilai berbahaya bagi masyarakat yang jamaknya mengadopsi prinsip sekularisme.


Ya, di tengah masyarakat sekular kayak gini, emang si pembuat film dihadapkan antara idealisme ataukah selera masyarakat. Kalo pengin laku ya ngikutin selera pasar, dan menyedikitkan nilai-nilai Islam dalam filmnya, apalagi nilai-nilai yang dianggap masih ekstrim kayak nilai jihad. Sementara penonton yang mayoritas masih masyarakat sekuler, juga nggak begitu peduli dengan nilai-nilai Islam alias masa bodo, yang penting mah menghibur, itu kayaknya prinsip penonton.


Jadi, klop deh akhirnya film yang cukup laku, yang ada kurasan air matanya, ada melo bin bapernya, mirip film-film islami yang ditonton kakak atau mamak-mamak kita, kayak Surga yang Tak Dirindukan 1 dan 2, Ketika Cinta Bertasbih 1 dan 2, dan sejenisnya.


Mereduksi Nilai Islam

Dulu di jamannya kakak-kakak kita, pernah ada film Ayat-Ayat Cinta. Bisa dibilang film Ayat-Ayat Cinta merupakan film islami pertama yang diangkat dari novel best seller karya Kang Abik. Sebagai film islami pertama, film tersebut bisa dibilang cukup berhasil menyita perhatian masyarakat kala itu, khususnya di bioskop. Waktu itu juga, masih jayanya jaman CD/VCD, sehingga di lapak-lapak mamang VCD di emperan, banyak juga dijual versi bajakannya.


Tapi sayang sejuta sayang, kalo film tersebut nggak sesuai karya aslinya di novel. Kang Abik, sebagai penulisnya waktu itu juga ngakuin, kalo di versi filmnya, ada beberapa part yang direduksi, dikompromi “sesuai selera” producer film. Ya, wajar sih kalo emang standarnya kapitalistik rupiah, buat nyari untung, maka pikirannya si producer film kudu ngelakuin hal kayak gitu. Dan sepertinya itu yang bakal berlaku di setiap film-film apapun, termasuk film yang kontennya islami.


Di film Sultan Agung misalnya, juga berlaku hal kayak gitu. Ustadz Salim A Fillah sebagai pemerhati sejarah Islam, pernah mengkritik keras sutradara film tersebut, karena menghilangkan bagian-bagian penting dari cerita asli tentang Sultan Agung. Tapi emang sih khusus sutradara satu ini mengantongi rapor merah kalo bikin film yang bernuansa Islam. Kayak udah jamak, hampir semua orang tahu kalo film-filmnya “agak miring” memposisikan Islam.


So, nggak abis pikir, kalo yang direduksi alias dihilangkan atau disesuaikan itu justru nilai-nilai Islam. Misalnya, dari si penulis buku atau penulis skenario maunya idealis banget ingin menampilkan nilai-nilai Islam, misal aja hijab syar’i, nggak pacaran dan sejenisnya. Tapi kalo si producer dan sutradara nggak menghendaki, ya bisa hilang nilai-nilai itu. Atau kalo pun ditampilkan aslinya, kayaknya bakal kurang laku di masyarakat, seperti film ‘Udah Putusin Aja’ yang kita ceritakan di atas tadi.


Itu artinya gini gaes, bahwa telah terjadi kapitalisasi agama. Maksudnya, para producer dan perangkatnya dengan sengaja ngangkat tema-tema Islami, karena mumpung lagi diminati masyarakat, tapi dengan tujuan tetap nyari sebongkah berlian dari situ. Sebenarnya sih sah-sah aja dari sisi nyari duitnya, tapi kalo sampe mereduksi atau sampe mau ganti nilai-nilai Islam dengan nilai-nilai selain Islam, liberalis misalnya, maka itu bukan lagi wajar, tapi kurang ajar. Berarti memang si pembuat film, ada misi di situ. Nah itu yang gaswat, kalewat-lewat!


Bukan Islam Sesungguhnya

Satu sisi wajib kita syukuri, kalo sekarang film-film islami menghiasi layar lebar. Tapi di sisi yang lain, sepertinya kita masih harus bersabar kalo mau jadiin film, khususnya layar lebar sebagai tuntunan bagi masyarakat, belum seratus persen bisa. Karena dari sekian banyak film islami yang sudah ada, mungkin bisa dihitung dengan jari yang bisa benar-benar dibilang murni menyampaikan pesan Islam. Selalu ada bumbu-bumbu yang ingin ditambahkan, biar laku, biar meriah, biar menarik untuk ditonton masyarakat (yang sekular).


Contohny di film Sultan Agung, Ust Salim A Fillah menyampaikan  tulisanya di fanspage resmi beliau “di banyak bagian film harus menundukkan pandangan karena kostum para tokoh putri terlebih santriwati Padepokan Jejeran belum sesuai harapan, haha. Juga adegan-adegan masa remaja Raden Mas Rangsang dan gadis bernama Lembayung dari jalan mesra di pematang sawah hingga mandi di air terjun yang dijadikan sub alur utama cerita kan sesungguhnya tidak berdasar sejarah” Tuh kan ?!


Itu baru satu contoh film aja lho ya. Gimana kalo setiap film dibegituin? Bakal ambyar nilai-nilai Islam. Maka, sepertinya kita masih harus berpikir cukup panjang bin rumit kalo menjadikan film sebagai sebuah tuntunan. Karena selalu bakal berperang kepentingan antara hiburan atau nilai-nilai Islam yang sesungguhnya. Sehingga, dulu pernah ada seloroh bilang gini Tuh Rhoma Irama aja pacaran, di filmnya”. Meski nggak semua film Bang Haji isinya begitu, tapi itulah kesan dan pesan yang ditangkap masyarakat, sehingga akhirnya dijadikan prinsip sebagian dari mereka.


Maka bagi siapa aja yang ke depannya bikin film yang di dalamnya ada konten Islam, kudu memperhatikan hal kayak gitu. Trus, bagi penontonnya sendiri, nggak usah menjadikan film itu sebagai tuntunan hidup kita. Justru kalo ada dari konten film yang nggak sesuai dengan Islam, bertentangan dengan nilai Islam, maka kita kudu berani mengkritik dan menyampaikannya kepada masyarakat. Kalo pun ditonton, hanya sekedar hiburan, tapi kalo hiburan ternyata bertentangan dengan nilai-nilai Islam, ya nggak usah ditonton, Abaikan aja!


Menggagas Film Dakwah?

Gimana kalo jadiin film layer lebar, sebagai wasilah atau sarana dakwah? Ya tentu saja boleh, tapi tentu aja dengan banyak catatan. Sekali lagi, karena mengingat mayoritas masyarakat kita masih sekuler. Memandang Islam hanya sebelah mata, Islam hanya dicukupkan pada ibadah ritual. Nah, kalo masyarakatnya masih begitu, trus filmnya kudu sesuai dengan selera masyarakat, maka bisa gaswat, nilai-nilai Islam yang mau kita dakwahkan jadi ikut tereduksi.


Urgent bin penting banget, yang utama Islam ini nggak bisa ditawar-tawar. Biar dikata, kita orang yang fundamentalis, atau orang yang kolot sekalipun, kalo itu Islam ya tetap harus kita pegang. Sebagaimana Rasulullah SAW sampaikan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi)

Seseorang nggak mungkin menggenggam bara api yang panas. Rasulullah ingin mengajarkan melalui hadits ini, mereka yang memiliki kesabaran yang ekstra di tengah kesulitan yang luar biasa itulah gambaran orang yang konsekuen dengan ajaran Islam saat ini. Tapi nantikan balasannya di sisi Allah yang luar biasa andai mau bersabar. Ingatlah janji Allah:

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10).

Itulah hal prinsipil kalo mau menggagas film dakwah. Selanjutnya penting juga bagi para penggagasnya kudu paham Islam yang sesungguhnya, maksudnya harus memahami Islam yang kaffah. Kalo nggak paham-paham amat, maka yang terjadi, misalnya suatu adegan sudah dianggap Islami, tapi malah ternyata belum. Nah yang kayak gitu itu blunder. Ya blunder, bukan blender, hehee..


Blunder kalo film itu udah tayang di masyarakat, trus menganggapnya itu ajaran Islam yang sesungguhnya. Contoh aja misalnya, tentang ajaran jilbab dan kerudung, atau bahasa trendnya sekarang hijab. Nah, kalo para pemain, pemeran, apalagi kru sutradaranya memahami kalo celana panjang (legging) itu sebagai hijab, kerudung nggak menutup dada sebagai hijab, atau baju ketat (kaos) sebagai hijab. Maka film kayak gini kalo diproduksi dan abis itu tayang, apalagi sampe trending, waduh bisa gaswat blundernya bagi ajaran Islam tentang hijab. Padahal yang diajarkan oleh Islam, bukan begitu yang namanya jilbab dan kerudung (hijab).


Nah, itu contoh satu ajaran aja, gimana kalo semua nilai Islam yang dibawa oleh film, hampir selalu begitu ditampilkannya. Sehingga para pembuat film memang harus mau ngaji dulu Islam yang kaffah, baru bikin filmnya. Ngaji selain dapat ilmunya, juga bisa dapat pahalanya, kalo ikhlas. InsyaAllah kalo ngajinya ikhlas, memburu ridha Allah, itu yang bikin hati tenang, sehingga kalo ingin mengemas film jadi film dakwah, insyaAllah itu lebih berkah. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.[]


***

Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/koreapi1453/
Twitter - https://twitter.com/koreapi_1453?s=09
IG -  https://www.instagram.com/koreapi.1453?igshid=3x7tpluws2nb
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg