Kamis, 27 Februari 2020

The Thinking is Power



Persoalan di dunia remaja itu seolah tidak ada habisnya. Semakin ke sini, problematika yang dihadapi remaja makin ruwet bin mumet. Dari mulai soal perasaan yang baperan. Halu gak jelas. Menghalalkan segala cara demi prestise. Kecanduan narkoba. Gila game. Terlibat pergaulan bebas. Menjadi pelaku perundungan. Tawuran bahkan hingga bunuh-bunuhan, ada!


Banyak faktor yang mendorong remaja terlibat tindakan amoral semisal yang disebutkan. Salah satu penyebab yang paling dominan adalah lemahnya taraf berpikir yang melanda generasi muda masa kini. Semua mau serba praktis dan instan. Dari mulai makanan bahkan hingga menyelesaikan soal-soal pelajaran. Tinggal ketuk-ketuk layar smartphone, seketika semua ada.


Termasuk ketika menghadapi persoalan kehidupan, malas berfikir rumit-rumit untuk menyelesaikannya. Sehingga muncul selogan, “Senggol, bacok!”. Semua diselesaikan dengan kekerasan. Siapa yang kuat dan nekat, dialah yang dianggap hebat. Ya, semisal hukum rimba gitu. Serem, kan?!



Budaya Berfikir, Aktifitas Orang Beriman


Dalam Alquran banyak sekali ayat yang menyinggung tentang aktifitas berpikir. Setidaknya ada 43 ayat dalam Alquran yang menyeru manusia agar menggunakan akalnya untuk berpikir. Mengapa aktifitas berpikir ini begitu diperhatikan oleh Allah Swt? Sebab, perbuatan seseorang akan sangat dipengaruhi oleh pemahaman yang didapatkan melalui proses berpikir tersebut.


Berpikir di sini tentu saja bukan asal saja, ya! Terdapat empat unsur yang harus ada agar terwujudnya sebuah pemikiran. Yakni adanya indra, objek (fakta), otak, dan tabung informasi. Keempat komponen inilah yang akan saling berkaitan, memproses sebuah pemikiran, dan kemudian menghasilkan sebuah pemahaman.


Adapun faktor yang paling berpengaruh dalam membentuk pemahaman adalah tabung informasi yang dimiliki oleh masing-masing individu. Maka sangat mungkin antara individu yang satu dengan yang lainnya memiliki pandangan serta sikap berbeda pada satu objek/fakta yang sama. Semua ini ditentukan oleh tabung informasi yang dipunya.


Sebagai contoh, ada fakta ritual mencontek setiap kali musim ujian. Fakta yang ada ini, tentu tidak semua orang membenarkan. Pro dan kontra pasti akan ada. bahkan di kalangan remaja itu sendiri.


Ada yang merasa biasa saja karena memang sudah rutinitas musiman dan banyak pula yang mengamalkan. Ada yang sampai mengancam kalau tidak mendapat contekan.  Ada juga yang risih dan kesal dengan budaya mencontek ini. Nah, apa yang membuat mereka beda sikap dalam memandang aktifitas mencontek ini? Betul, tabung informasinya.


Tabung informasi ini kita dapatkan dari apa yang kita dengar, baca dan tonton. Artinya, tabung informasi ini bukanlah sesuatu yang tiba-tiba ada. Ia adalah sesuatu yang harus diusahakan. So, kita kudu bin wajib pilah-pilih apa saja yang layak untuk dimasukkan ke dalam tabung informasi yang kita punya. Jangan sampai nyampah. Pastikan informasi yang masuk adalah informasi yang pasti kebenarannya.


Sebagai seorang muslim, kita harus sadar bahwa sumber informasi yang pasti kebenarannya adalah wahyu Ilahi. Yakni Alquran dan Assunnah. Inilah  yang seharusnya menjadi santapan setiap hari sebagai pengisi tabung informasi yang kita miliki. Bukan K-Pop, Drakor, atau konten-konten unfaedah lainnya yang bergentayangan di jagat maya. Catat!


Sebagaimana para pemuda pada masa peradaban islam, mereka unggul dengan bekal pemikiran yang berasaskan islam. setiap fakta yang mereka hadapi, selalu dikaitkan dengan tabung informasi yang bersumber dari wahyu Ilahi. Sehingga keimanan mereka bertambah. Karya-karya merekapun cetar mendunia bahkan dikenal hingga masa sekarang.


Sebut saja Muhammad Al-Fatih. Ketika Ia mengindra Konstantinopel, maka seketika itu pula ia mengaitkannya dengan tabung informasi yang dimiliki. Sebuah kabar gembira dari Rasulullah Saw., bahwa Konstantinopel pasti akan takluk. Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin yang menaklukkanya. Sebaik-baik pasukan adalah pasukannya. Hingga pada akhirnya, Muhammad Al-Fatih menjadi seorang pemuda yang berhasil membuktikan kebenaran sabda Nabi Saw. Konstantinopel takhluk di tangan seorang pemuda yang mengoptimalkan aktivitas berfikirnya dan tebal keimanannya. Luar biasa!


Jejak Keagungan Peradaban Islam


Sudah jamak diketahui, bahwa islam pernah mengampu kancah peradaban dunia. Tidak kurang dari tiga belas abad, peradaban islam menjadi mercusuar dalam berbagai hal kehidupan. Bahkan negeri-negeri barat sekalipun, mereka berkiblat pada dunia islam.


Sepanjang peradaban islam itulah, khazanah serta keagungan yang ditorehkan oleh para ilmuan dan pemikir muslim tidak terhitung jumlahnya. Dalam hal kedokteran, fisika, arsitektur, geografi, ilmu astronomi, kimia, apoteker, geologi, dan berbagai cabang ilmu lainnya berkembang sangat pesat.


Tidak hanya sekadar capaian duniawi, lebih dari itu para ilmuan muslim mendedikasikan buah pikir mereka untuk kemaslahatan umat seluas-luasnya. Menorehkan tinta emas peradaban yang sulit untuk dilupakan. Semua ini mereka lakukan hanya dengan satu dorongan, yakni harapan peroleh rida Allah Swt. dan layak menjadi penduduk surga. Masyaallah!


Berfikir, Bikin Hidup Lebih Hidup


Penting untuk kita ketahui, bahwa maju mundurnya sebuah peradaban adalah ditentukan oleh seberapa tinggi tingkat pemikiran generasinya. Percayalah, peradaban rusak yang kita saksikan hari ini tidak akan pernah berubah selama generasi mudanya hanya jadi kaum rebahan. Perubahan hanya bisa terjadi jika adanya revolusi pemikiran.


Berfikir benar dengan cara rutin mengkaji islam. Memahami apa yang Allah Swt. titahkan dalam Alquran dan Assunah. Sebab telah kita ketahui, bahwa tidak ada kebenaran mutlak kecuali yang bersumber dari wahyu. Maka tidak berlaku bila akal semata yang menjadi penentu. Benarnya, akal mutlak harus tunduk pada wahyu, bukan nafsu.


Ingat, corak peradaban masa depan ada di pundak kita. Mau jadi pejuang atau pecundang, pilihan ada pada kita. Generasi smart tentu tidak akan memilih yang sia-sia. Berubah dan berbuatlah untuk menghasilkan peradaban yang agung nan mulia, peradaban islam. dimulai dengan mengaktifkan produktifitas berpikir kita. Setelahnya, rasakan sensasi yang berbeda. Bahwa hidup akan terasa lebih hidup karenanya. Keren![]


***

Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/koreapi1453/
Twitter - https://twitter.com/koreapi_1453?s=09
IG -  https://www.instagram.com/koreapi.1453?igshid=3x7tpluws2nb
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Kamis, 20 Februari 2020

Laju Generasi Tembakau? STOP!


Kebiasaan Prabu, 16 tahun, tiap selesai kelas adalah ngumpul bareng temen-temennya dan ngobrol ngalor ngidul. Dan di sela-sela obrolannya selalu ada asap mengepul, berasal dari lintingan tembakau yang mereka hisap.


Prabu pertama kali mencoba merokok saat duduk di kelas delapan Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau sekitar usia 13 tahun. Ia mencoba karena penasaran, kebetulan pula ketika itu ada teman menawari. Pas banget deh.


Prabu sempat mencoba untuk berhenti merokok, tapi hanya bertahan sehari. Mayoritas temannya di sekolah merokok. Itu membuat dia semakin sulit melepas ketergantungan terhadap rokok. Kini Prabu menjadi perokok aktif yang menghabiskan rata-rata sekitar setengah bungkus setiap hari. Harganya pun masih terjangkau dibanding uang jajannya. “Menurut saya enggak terlalu mahal, masih murah,” kata Prabu di kawasan Jakarta Timur kepada reporter Tirto, Selasa (22/1/2019).


Selain Prabu, di luar sana masih banyak pelajar yang aktif merokok baik di area sekolah, lingkungan rumah, apalagi tempat nongkrongnya. Tobacco Atlas merilis data bahwa Indonesia merupakan negara dengan perokok anak terbanyak di dunia. Dan terjadi peningkatan dari tahun ke tahun.


Data Riskesdas 2018 menunjukkan 7,8 juta atau 9,1 persen anak Indonesia merokok. Bila tidak ada upaya menghentikan perokok anak, angka tersebut diperkirakan akan melejit menjadi 15,95 persen pada 2030 (data Bappenas 2018).


Perokok Remaja Makin Bertambah


Dulu waktu penulis duduk di bangku sekolah menengah tahun 90-an, merokok bagi pelajar SMP apalagi SD itu suatu yang tabu. Kalo ketahuan, bisa kena damprat orang tua atau guru di sekolah. Mereka yang nekat, sembunyi-sembunyi di pojokan kantin saat jam istirahat agar bisa ngobar alias ngerokok bareng-bareng. Ya, satu batang dikeroyok biar cepet habis dan irit. Jangan bayangin rasa dan baunya kaya gimana itu rokok filter berpindah dari satu mulut ke mulut yang lain tanpa melalui proses karantina. Yang penting, asyiknya rame-rame!


Kini, merokok di kalangan pelajar seolah menjadi suatu yang wajar tanpa rasa malu dan takut. Malah dijadikan simbol gaul keren dan kekinian. Tak heran jika rentang usianya sudah bukan lagi dominasi seragam putih biru, tapi sudah masuk pergaulan putih merah.


Data Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak menunjukkan, jumlah perokok anak di bawah umur 10 tahun di Indonesia mencapai 239.000 orang. Sebanyak 19,8 persen pertama kali mencoba rokok sebelum usia 10 tahun dan hampir 88,6 persen pertama kali mencobanya di bawah usia 13 tahun!


Tentu bukan tanpa penyebab munculnya fenomena perokok muda yang terus tumbuh dan kecanduan tembakau. Setidaknya ada tiga hal yang sangat berpengaruh terhadap perilaku remaja, khususnya pelajar yang doyan ngudud.


1. Harga Rokok Murah


Murahnya harga rokok turut menjadi penyebab tingginya angka perokok remaja. Media Officer Yayasan Lentera Anak, Iyet Endro mengatakan berdasarkan survey pada Oktober 2017 yang dilakukan Lentera Anak pada 10 kota di Indonesia, harga rokok dijual mulai Rp 600 sampai dengan Rp 1.000 per batang.


Sementara uang saku anak-anak SD rata-rata adalah Rp 10 ribu, untuk anak-anak SMP adalah sebanyak Rp 13 ribu dan untuk anak-anak SMA rata-rata adalah Rp 29 ribu. Sehingga sangat timpang lantaran harga rokok itu dijual per batang hanya Rp 1.000 saja dan mudah diakses pelajar di warung-warung pinggir jalan hingga pedagang asongan.


2. Kurangnya Pengaturan Kawasan Tanpa Rokok (KTR)


KTR merupakan ruangan atau area yang dilarang untuk kegiatan merokok, memproduksi, menjual, mengiklankan, atau mempromosikan produk tembakau. Kawasan tersebut meliputi tempat pelayanan kesehatan, tempat proses belajar dan mengajar, tempat anak bermain, tempat beribadah, tempat kerja, angkutan umum, dan tempat publik.


Sayangnya, tak semua wilayah di Indonesia yang peduli dengan pengaturan KTR ini. Di area  perkotaan saja yang notabene lebih maju dari sisi pembangunan dan intelektualitasnya, asap rokok masih banyak mengisi ruang udara KTR di tempat umum.


Padahal, ketegasan pemerintah daerah dalam menjaga KTR agar steril dari segala yang berbau rokok bisa berdampak besar dalam menahan laju pertumbuhan generasi tembakau di masa depan.


3. Maraknya Iklan Rokok


Pancingan untuk jadi perokok bagi remaja juga datang dari industri rokok. Tiap hari remaja dicekokin oleh iklan rokok yang menggoda dengan label keren, macho, en bikin confident.


Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) melakukan penelitian berjudul ‘Hubungan antara Status Merokok pada Pelajar dengan Iklan, Promosi dan Sponsor Rokok di Pulau Jawa’. Hasil penelitian tersebut mengungkapkan banyak remaja menjadi perokok pemula akibat menjadi korban iklan rokok. (Republika, 17 Sept, 2017)


4. Tekanan teman sebaya (peer pressure)


Tren merokok bagi remaja kian menjadi tuntutan pergaulan. Terutama dikalangan anak cowok, ada tekanan teman sebaya. Kalo ada temennya yang anti rokok, dibilang banci. Walhasil, ada rasa gengsi dan malu kalo mulut nggak ikut ngebul pas lagi kumpul bareng. Tetep pede meski diselingi batuk-batuk dikit. Maklum pemula!


5. Meniru Perilaku Orangtua


Makin lengketnya remaja dengan rokok banyak dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Lantaran mereka hidup diantara para perokok aktif. Di rumah, bokap sering keliatan asyik ngepulin asap rokok sehabis makan atau selagi santai. Di sekolah, mulai dari tukang dagang sampe guru pun nggak ketinggalan merokok. Akhirnya, aturan larangan merokok dari guru atau ortu dianggap angin lalu. Ya iyalah, wong yang bikin aturannya sendiri ngerokok. Ups!


Apapun alasannya, kalo udah kecantol ngerokok, susah berhentinya. Awalnya tuntutan pergaulan, terus jadi kecanduan. Lantaran dalam rokok ada kandungan nikotin yang bersifat adiktif alias bikin ketagihan. Bawaannya mulut asem kalo sehari nggak ngerokok. Apalagi rokok dijual bebas dan murah. Kalo pun lagi cekak, banyak temen yang nawarin gratisan. Kalo udah gini, gimana bisa berhenti laju pertumbuhan generasi tembakau?


Rokok dan Kesehatan Kita


Label peringatan akan bahaya rokok jelas-jelas tercantum di bungkus rokok meski dengan tulisan kecil. Tapi kayanya, udah nggak mempan tuh ngingetin para smokers. Soalnya, bahaya rokok kan nggak seampuh racun tikus yang sekali tenggak langsung bikin kejang-kejang. Rokok perlu waktu lama untuk nunjukkin bahayanya yang mematikan. Jadinya banyak perokok yang cuek bebek dengan bahaya rokok.


Padahal kalo dibiarin, akibatnya bisa seperti yang dialami seorang pria pecandu rokok di Makassar yang menderita kanker pita suara yang ganas. Dia gak bisa makan dan minum secara normal lewat mulutnya, tapi harus dengan bantuan selang yang ditembuskan lewat badannya langsung ke kerongkongannya. Sakit banget rasanya. Ia berkata, “ia menyesal merokok. Memang rokok tidak langsung buat kita mati, tapi membuat kita menderita..” (serambinews.com, 25 Agustus 2018)


Apa yang dialami Pria bernama Ardiyanto di atas bukan terjadi seketika lho. Tapi sebuah proses panjang yang diawali saat pertama kali doi nikmatin asap rokok yang ternyata mengandung 7.000 bahan kimia berbahaya dalam setiap batangnya. Lebih lanjut Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan RI dr Eni Gustina, MPH mengatakan, asap tembakau punya 69 jenis bahan karsinogenik. Zat berbahaya ini dapat menyebabkan kematian akibat kanker.


Selain kanker pita suara dan kanker paru-paru, kebiasaan ngerokok juga ngasih efek buruk pada kesehatan gigi dan mulut. Lidah jadi susah ngerasain rasa pahit, asin, dan manis, karena rusaknya ujung sensoris dari alat perasa (tastebuds) akibat tumpukan hasil pembakaran rokok yang berwarna hitam kecoklatan. Jumlah karang gigi yang bisa bikin gusi berdarah pada perokok cenderung lebih banyak daripada yang bukan perokok. Gigi dapat berubah warna karena tembakau. Dan perubahan mukosa (selaput lendir) akibat merokok menyebabkan kanker mulut.


Bahkan kebiasaan ngerokok mengancam kesehatan organ seksual. Untuk cowok, bisa mengalami disfungsi ereksi alias impotensi. Sementara wanita yang saat remaja diketahui menjadi penghisap rokok dikemudian hari akan mengalami resiko terkena kanker payudara lebih besar bila dibandingkan dengan yang tidak pernah merokok.


Saking banyaknya dampak buruk rokok bagi kesehatan kita, nggak heran kalo setiap tahunnya angka kematian yang diakibatkan berbagai penyakit yang disebabkan rokok, seperti kanker paru-paru dan penyakit jantung terus meningkat.


Globocan 2018 menyatakan, dari total kematian akibat kanker di Indonesia, Kanker paru menempati urutan pertama penyebab kematian yaitu sebesar 12,6%. Berdasarkan data Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan 87% kasus kanker paru berhubungan dengan merokok. Waduh!


Kalo udah tahu kaya gini, masa iya sih kita masih anggap omong kosong bahaya rokok terhadap kesehatan kita. Jangan tertipu ama produk rokok rendah tar dan nikotin yang menyesatkan atau adanya tembakau alternatif. Bahaya rokok nggak jadi berkurang meski sudah ada pengganti rokok seperti vape alias rokok elektrik. Sama beracunnya. Kalo terus-menerus dihisap itu asap rokoknya, bisa-bisa kita jadi awet muda alias nggak akan pernah tua lantaran keburu tutup usia selagi belia. Waduh!


Sayangi Masa Depanmu!


Temans, bukan kewenangan kita untuk ngelarang kamu-kamu ngerokok. Kita cuman bisa ngasih himbauan untuk ngejauhin rokok. Karena apapun sikap yang diambil, kamu sendiri yang bakal ngerasain konsekuensinya. Bukan kita atau orang lain. Kamu yang bakal ngerasain segala macam gangguan kesehatan akibat rokok. Kamu juga yang bakal nikmatin sehatnya hidup tanpa rokok.



Dalam Islam, kita dianjurkan untuk menjauhi perilaku yang ngasih keburukan pada diri sendiri seperti ngerokok. Allah swt berfirman, “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan“. (QS. Al Baqarah: 195)


Kita mesti nyadar kalo identitas sebatang rokok, bukan hanya mitos simbol kejantanan seperti yang digembor-gemborkan iklan. Tapi juga simbol penyakit kanker, impotensi, serta gangguan kesehatan lainnya. Dan pastinya, hidup tanpa rokok, nggak bikin kamu terhina kok. Malah jadi lebih keren dan sehat. Makanya, sangat beralasan bagi kita untuk nggak temenan ama rokok, vape, atau tembakau alternatif lainnya.

Bagi yang udah terbiasa ngudud, segera hentikan kebiasaan ngerokok. Sayangi hidupmu. Sayangi orang-orang terdekatmu. Sayangi masa depanmu. Meski awalnya nggak mudah, asal serius dan konsisten Allah swt pasti ngasih jalan keluar. Kamu pasti bisa!

Bagi yang belum pernah merokok, pertahankan. Jangan tergoda oleh tawaran teman sebaya. Atau bombardir iklan yang merajalela. Kebahagian hidup bagi seorang muslim, bukan dibalik vaping atau smoking. Tapi ridho Allah swt yang selalu menyertai perbuatan kita.

Selagi masih dikasih kesempatan, ayo kita sama-sama ikut ambil bagian dalam aktifitas menebar kebaikan. Hiasi keseharian kita dengan menuntut ilmu dan ikut pengajian. Jangan biarkan tembakau merenggut masa depan kita. Generasi Tembakau? Stop! []


***

Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/koreapi1453/
Twitter - https://twitter.com/koreapi_1453?s=09
IG -  https://www.instagram.com/koreapi.1453?igshid=3x7tpluws2nb
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Selasa, 11 Februari 2020

Cinta Mulia, Bersih Tidak Ternoda!



Guys, jumlah korban meninggal dunia akibat virus Corona Wuhan atau 2019-nCoV sampai tulisan ini dibuat masih terus bertambah. Pihak otoritas China mengumumkan sudah lebih dari 1000 orang meninggal dunia karena terinfeksi virus Corona. Iyyy...ngeri banget ya Guys? Gara-gara virus ini semua orang di seluruh belahan bumi ini dibuat sibuk dan khawatir, tak terkecuali kamu. Bagaimana tidak ngeri dan khawatir, coz virus ini dalam waktu singkat sudah banyak memakan korban jiwa, dan konon belum ada anti-vrusnya alias tidak ada obatnya... Semoga kita semua terhindar dari virus yang jahat dan mematikan itu...aamiin. 


Ngomong-ngomong tentang virus Corona, TemanSurga juga mau ngingetin  untuk hati-hati sama virus lain yang jahat dan mematikan yang menyerang kebanyakan kawula muda alias para remaja, dan virus ini sengaja lho disebar dan biasanya mewabah pada bulan Februari. Virus apakah itu? Yups...virus Merah Jambu. Siapa saja yang sudah terserang virus ini pasti bakal klepek-klepek tak berdaya, perasaan gelisah, makan jadi gak enak, malam susah tidur, parahnya lagi hati dan jantung selalu berdegub lebih tidak beraturan. Yang unik virus ini disebarkan dengan kemasan cinta-cintaan. 


Tapi Guys, maaf ya ngomong tentang virus bukan berarti Teman Surga kali ini mau bahas virus-virusan, tapi ingin fokus bicara soal cinta saja yang dijadikan kemasan penyebaran virus itu, yang bagi para remaja bisa berupa  rasa yang diuapayakan terangkai dalam bentuk kata untuk diungkapkan di momen istimewa, di februari ini. Eits...


Bagi mereka yang sudah terserang virus Merah Jambu, bulan Februari itu rasanya sesuatu. Ada aroma-aroma cinta yang tiba-tiba merebak di mana-mana. Otomatis, semua tersuasanakan dengan simbol bentuk hati dan serba-serbi berwarna pink. Di pusat perbelanjaan, di jalan-jalan, bahkan tayangan-tayangan di televisi maupun sosial media, semuanya kompak mengusung tema pinky-pinky. 


Tapi, sebenarnya salah gak sih jika rasa cinta itu melanda, menerjang, dan meluluh-lantakkan hati kita? Terus, bagaimana agar cinta tidak menorehkan luka luar-dalam pada si Pecinta? Adakah cinta yang mengukir bahagia tanpa harus ada duka yang menganga? Ya, Ampun! Maafkan jika narasi ini sudah seperti drakor saja ya, dear. Melow-melow club! Hihihi.


Hakikat Rasa Cinta: Fitrah dan Mulia


 Kamu manusia, sehat, tumbuh, berkembang, dan berakal? Fix, kamu pasti punya rasa cinta. Pasti pernah jatuh cinta. Bahkan, mungkin sedang jatuh cinta. Iyes atau iyes banget?

 

Jangan sangka kalau Teman Surga adalah paranormal, ya. Sama sekali bukan. Teman Surga hanya ingin sampaikan, bahwa adanya rasa cinta itu adalah fitrah bagi manusia. Tahu kan fitrah? Ya, fitrah itu adalah sesuatu yang alami. Bawaan sejak kita lahir di dunia. Siapa yang membekalkan rasa cinta tersebut? Benar, Dialah yang telah menciptakan kita. Dialah Allah Swt.


”Allah pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan (juga). Dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)


 Masyaallah, betapa besar kuasa Allah Swt. Setelah membaca kala ilahi tersebut, menjadi sangat jelas bagi kita bahwa rasa cinta atau cendrung terhadap lawan jenis itu adalah fitrah alias alami terjadi. Oleh karena itu, fitrah ini tidak akan mungkin bisa dibasmi. Namun, tidak juga boleh dilepas secara liar dan bebas. Allah Swt. memiliki rambu-rambu untuk kita agar cinta yang ada membawa bahagia, bukan petaka.


 Ok, pertama coba kita selidiki. Apa sih tujuan Allah Swt. memberikan rasa cinta? Jawabannya sudah ada dalam surat Asy-Syura ayat 11. Ya, tujuan diberikan rasa cinta adalah untuk wasilah atau jalan berkembang biaknya keturunan. So, Allah Swt. berikan rasa cinta, agar makhluk jenis manusia ini tetap eksis di muka bumi, bro and sist!


 Inilah tujuan mulia dari getar-getar cinta yang ada. Tujuan mulia ini tidak bisa didapat begitu saja berdasarkan hawa nafsu kita. Melainkan ada tata cara atau syariat yang Allah berikan agar tujuan mulia tersebut bisa terwujud dengan jalan yang mulia pula. Nah, di sinilah ada syariat pernikahan. Yapz, rasa cinta itu fitrahnya harus disatukan di pelaminan. Bukan di pojokan kelas, apalagi di jalanan. Paham, kan?


 Lah, bagaimana yang masih sekolah? Belum siap menikah! Tenang, sebagai kebutuhan naluri, rasa cinta ini gak akan buat kamu mati, kok. Betul bahwa rasa cinta itu tidak bisa dihilangkan, tapi dia bisa dialihkan. Jaga pandangan, jaga interaski, perbanyak amal saleh, sibukkan diri dengan berbagai kegiatan positif. Dan, biarkan waktu yang akan membawamu pada cinta yang semestinya. Cinta mulia, cinta yang bersih tanpa noda. Asyik!


Waspada, Malapraktik Cinta!


 Jadi begitu ya, Sobat. Perkara cinta ini ada tata caranya agar mulia dan berbuah bahagia. Tata cara yang ada bukan bersumber dari akal manusia semata, melainkan terlahir dari wahyu Allah Swt. So, jangan sampai kita salah dalam memaknai dan mengamalkan perkara cinta. Sebab, menyimpang sedikit saja dari syariat bisa menjebloskan kita dalam aktivitas malapraktik cinta. 


Makanya, sedih banget jika ada teman-teman yang terjebak dalam malapraktik cinta. Yakni mengumbar naluri cinta bukan dalam aktivitas yang semestinya. Gaul bebas, pacaran, sampai pada level perzinaan. Apalagi di momen februari ini, virus-virus banyak bergentayangan. Hiks! Iya sih, awalnya terlihat romantis. Di pertengahannya jadi melankolis. Tapi kemudian berubah jadi dramatis, dan akhirnya berujung tragis. Sadis!


 Begitulah, malapraktik cinta nyata membawa petaka. Sudah berapa banyak generasai muda yang jadi korban dari malapraktik cinta? Dari mulai matinya nurani, aborsi, bahkan bunuh diri. Mereka yang meregang nyawa di tangan pacar pun, jangan ditanya lagi. Usia SMP, SMA, Mahasiswa, merata ada. Dibekap, dicekik, dibuang ke sungai, dibakar, juga dicangkul, semua ini nyata adanya.   Teman-teman pasti sudah pernah mendengar beritanya, kan? Serem!


Remaja Muslim, Remaja Istimewa


 Jujur deh, bagaimana perasaanmu ketika mendengar berita-berita horor di atas? Sedih, kesal, marah, benci, terluka? Semuanya campur jadi satu, kan? Karenanya cukup! Tidak boleh lagi ada korban malapraktik cinta selanjutnya.


 Sebagai remaja muslim, sejatinya kita telah dilabeli dengan gelar umat yang terbaik. Kita adalah generasi istimewa. Generasi leader, bukan generasi follower. Kita yang mewarnai, buka diwarnai. Bagaimana bisa?


 Smart with islam, inilah jawabannya. Sebutan muslim tidak cukup hanya sekadar identitas formalitas saja. Seorang muslim juga harus menjadikan aqidah islam sebagai landasannya dalam berpikir dan bertingkah laku. Sehingga jadilah dirinya memiliki kepribadian yang baik, kepribadian Islam.


Kepribadian islam inilah yang akan mampu menjadikan remaja muslim sebagai remaja yang istimewa. Remaja yang tidak mudah terseret arus kebebasan yang menyesatkan. Hidupnya memiliki prinsip yang jelas. Baginya, hidup adalah untuk menggapai rida Allah Swt. Maka standar hidupnya bukanlah trend atau apa yang sedang kekinian, melainkan halal dan haram saja yang menjadi patokan.


Segala pikir dan lakunya selalu dimatching-kan dengan syariat yang mulia. Remaja muslim sangat memahami, bahwa segala yang dilarang dalam syariat pasti akan membawa mudharat (bahaya). Karenanya, ia tidak akan ragu untuk menjauhi aktivitas pacaran. Ia juga tidak akan tergiur untuk ikut-ikutan merayakan valentinan. Se-unyu apapun konsep dan konten yang ditawarkan. Jawabanya tegas dan jelas, BIG NO untuk apapun yang menyalahi syariat-Nya! Keren!


Cinta Tak Melulu Tentangnya


 Dear, di awal kita sudah bahas bahwa cinta itu adalah fitrah, kan. Nah, sebagai naluri yang alami ada, ternyata cinta itu tidak melulu soal si doi, loh! Cinta, kasih sayang, perhatian, semuanya itu juga tertuju untuk orang-orang terdekat kita. Siapa mereka? Ya, orang tua yang selalu ada untuk kita sejak kita bayi yang tidak bisa apa-apa. Mereka yang berjuang, berpeluh, berkorban apa saja untuk kebahagiaan kita. Merekalah, yang paling berhak dan utama untuk kita cintai, sayangi, dan kasihi. Coba ingat, kapan terakhir kali kamu mengungkapkan rasa cinta kepada kedua orang tua? atau jangan-jangan belum pernah sekalipun? Jangan sampai menyesal di kemudian hari. Segeralah, raih dan cium tangan kedua orang tua mu. Peluk mereka dan ucapkan rasa cinta terdalammu untuk keduanya.


 Kemudian, keluargamu seluruhnya. Kakak, adik, paman, tante, pakde, bude, kakek dan nenek. Mereka semua adalah yang sudah jelas menjadi bagian dalam hidupmu. Mereka adalah orang-orang yang berhak atas cinta dan kasih sayangmu. Sudahkah hak mereka itu engkau tunaikan? Berkomunikasilah. Bercengkramalah. Berkah, rahmat kebahagiaan akan tercurah untukmu.

So, cinta tidak harus selalu tentang dirinya yang bukan siapa-siapa. Cinta yang ada haruslah tetap mulia. Harus dijaga agar tidak ternoda. Cinta hanya untuk yang Allah Swt. halalkan saja, tidak untuk selainnya. Taati titah-Nya, hidupmu akan melaju dalam kebaikan. Cintamu akan terjaga dalam kesucian. Cinta yang mulia, bersih tidak ternoda. Perjuangkan![]


***

Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/koreapi1453/
Twitter - https://twitter.com/koreapi_1453?s=09
IG -  https://www.instagram.com/koreapi.1453?igshid=3x7tpluws2nb
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Selasa, 04 Februari 2020

Jangan Tanggalkan Jilbabmu, Sis!


Dear, kalo disuruh milih kamu mau pilih mana, antara donat yang dijajakan di pinggir jalan nggak pake penutup, dengan donat yang dijual di toko dibungkus dan dimasukin etalase? Coba kita tebak ya, kamu pasti pillih donat yang di dalam etalase. Alasannya, juga udah jelas, karena lebih terjaga, higienis, aman. Nah, meski nggak sama-sama amat, ibaratnya seorang muslimah ketika di luar rumah kalo diibaratkan donat, maka seharusnya memilih kayak donat yang dibungkus di dalam toko, dan ditaruh di etalase 


Kenapa? Selain itu logis dan bisa diterima akal sehat, karena memang ternyata Islam itu sangat ngelindungin wanita muslimah. Buktinya dalam soal berpakaian (di luar rumah) saja diatur dengan mewajibkan pakaian khusus, berupa jilbab dan kerudung. Ehh…. lha koq miris banget, sampe ada seorang muslim or muslimah bikin pernyataan jilbab nggak wajib bagi muslimah. Duh cilaka tenan iki!


Jilbab Wajib Bagi Muslimah!


Biar man-teman nggak termakan ocehan liberal yang menyatakan jilbab nggak wajib bagi muslimah, maka kita kudu tahu landasan disyariatkannya jilbab untuk menutupi aurat muslimah. Sementara batasan aurat perempuan berdasarkan pada firman Allah Ta’ala dalam Surat An-Nur 31, “Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) tampak pada diri mereka…” 


Menurut Ibnu Abbas ra. yang dimaksud dengan frasa illa maa zhahara minha dalam ayat tersebut adalah muka dan telapak tangan. Hal ini dipertegas berdasarkan pada hadis Nabi Saw.: Dari ‘Aisyah ra. bahwa Asma’ binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah Saw. dengan memakai pakaian yang tipis. Rasulullah Saw. pun berpaling dari dia dan bersabda, “Asma’, sungguh seorang wanita itu, jika sudah haidh (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini.” Beliau menunjuk wajah dan kedua telapak tangan beliau.” (HR. Abu Dawud). 


Dari dalil-dalil tersebut jelas aurat perempuan adalah seluruh tubuh, kecuali wajah dan telapak tangan. Nggak bener kalo ada yang bilang aurat nggak wajib ditutup, karena nggak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama mu’tabar tentang kewajiban memakai jilbab dan khimar bagi Muslimah yang sudah baligh. Sebagaimana Allah sampaikan dalam Surat Al-Ahzab: 59:


“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

 

Penjelasan di dalam Kamus Al-Muhith, kalo jilbab itu seperti sirdab (terowongan) atau sinmar (lorong), yaitu baju atau pakaian longgar buat perempuan selain baju kesehariannya, baju mihnah. Sedangkan dalam Kamus Ash-Shahhah, al-Jauhari mengatakan, “Jilbab adalah kain panjang dan longgar (milhafah) yang sering disebut mula’ah (baju kurung/gamis).”


Itu tadi, penjelasan tentang jilbab alias bajunya, sementara selain harus pake baju jilbab, maka untuk penutup kepala hingga dada, muslimah wajib pake khimar (kerudung). Hal tersebut juga ada landasan dalilnya, dalam Al-Qur’an Surat An-Nur 31:


“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya.”


Salah satu mufassir, Imam Ali ash-Shabuni, menyatakan kalo khimar (kerudung) adalah ghitha’ ar-ra’si ‘ala sudur (penutup kepala hingga mencapai dada) agar leher dan dada tidak tampak. Sehingga, jelas bin gamblang, kalo jilbab dan khimar (kerudung) merupakan pakaian syar’i bagi Muslimah utamanya ketika keluar rumah atau bertemu dengan lelaki ajnabiyah (asing). Indikasi kewajiban jilbab ini makin kuat, ketika seorang muslimah nggak memiliki, maka sesama Muslimah harus meminjamkan jilbabnya. Ada hadis yang meriwayatkan hal tersebut, dari Imam Bukhari dan Imam Muslim:


“Wahai Rasulullah, seorang wanita di antara kami tidak memiliki jilbab (bolehkah dia keluar)?” Lalu Rasul Saw. bersabda, “Hendaklah kawannya meminjamkan jilbabnya untuk dipakai wanita tersebut.”


Hadits di atas disampaikan oleh Rasulullah, ketika para wanita disunnahkan untuk pergi keluar rumah untuk sholat dan merayakan hari raya idul fitri. Tapi ada beberapa wanita saat itu belum banyak memiliki jilbab, maka Rasulullah memerintahkan sesama muslimah untuk meminjaminya. Jadi, kalo seandainya jilbab itu nggak wajib bagi muslimah, tentu Rasulullah nggak meminta mereka keluar rumah tanpa jilbab. Sehingga dari sini jelas udah, kalo jilbab dan khimar wajib bagi wanita muslimah.


Berjilbab Karena Iman


Kenapa sih kita harus berjilbab karena iman? Ya, sama dengan perintah ataupun larangan (syariat) dari Allah yang lain, kalo nggak kita yakini dengan keimanan, nanti kalo ada kampanye liberal ngajakin lepas jilbab, maka bisa jadi bakal disambutnya dengan suka cita. Tapi kalo kita pake jilbabnya karena dorongan keimanan, bakalan kekeuh berjilbab, walau apapun dan siapapun penghalangnya. 


Just info aja, pada saat tulisan ini dibikin, ramai di linimasa Komunitas Hijrah Indonesia dalam lama facebooknya menggelar apa yang mereka sebut sebagai ‘No Hijab Day’, dirayakan setiap 1 Februari. Berdasarkan flyer digital yang beredar, dasar perayannya mereka adalah mensupport apa yang sudah diinisiasi oleh Yasmine Mohammad (YM). Siapa YM? Singkatnya, dia adalah aktivis liberal human rights.  Aksi ini diduga sebagai aksi kontra World Hijab Day yang diperingati pada 1 Februari. 


Nah, makanya bagi yang berjilbab atau berhijabnya nggak kuat-kuat amat alasannya, maka dengan adanya isu atau kampanye kayak di atas, bisa jadi batu ujian yang berat. Untuk itu, sekali lagi dorongan kita berjilbab haruslah karena iman, karena meyakini ini perintah Allah, dzat yang menciptakan kita, dzat yang memiliki surga-neraka, yang kelak akan meghizab kita di yaumul akhir.


Dear Sis, jangan berjilbab hanya sekedar ngikutin trend, sebab kalo ngikutin trend, nanti kalo trendnya berubah, bisa jadi cara berjilbab kita berubah, atau malah kita berubah nggak pake jilbab lagi. Maka bagi yang merasa awalnya berjilbab karena ngikutin trend, sebaiknya diluruskan niatnya dan coba memperdalam lagi pemahaman Islam, utamanya terkait dengan jilbab ini.  


Jujur, kita masih ngeliat nggak sedikit Muslimah yang memutuskan untuk berjilbab karena faktor mode, fesyen. Akhirnya, muncullah fenonema ‘jilbab gaul’ atau ‘kerudung punuk onta’, ‘jilbab legging’, dll. Satu sisi, kita patut bersyukur ada kesadaran sebagian muslimah untuk menutup auratnya, cuman kalo dorongan atau motivasi berjilbab karena alasan mode, fesyen, maka bukan nggak mungkin kita lihat muslimah sudah berjilbab tapi tampilnya tabaruj, atau bahkan seksi binti ketat. 


Sehingga, akhirnya terjadi semacam blunder. Iya, kita bahagia dan bangga sebagian muslimah sudah menutup auratnya, tapi di sisi yang lain, kadang muslimah yang hijabnya belum syar’i itu tadi dijadikan representasi atau ‘model’ hijab syar’i. Akibatnya, kalo ada orang-orang yang dalam hatinya ada “penyakit”, akan memanfaatkan atau menjadikan muslimah yang hijjabnya belum syar’i itu sebagai bahan framing, bahan tudingan. “itu lho yang berjilbab aja pacaran”… “itu lho yang berjilbab aja pergi ke diskotik….”, “itu lho yang berjilbab aja selingkuh….” Duh…


Padahal, sekali lagi hal kayak gitu terjadi karena kaum muslimah nggak memahami dengan benar apa itu jilbab dan berjilbabnya bukan karena dorongan iman. Makanya modal semangat aja nggak cukup untuk berjilbab, tapi juga harus dibarengi memahami Islam. Salah paham atau mungkin nggak mau paham mengenai kewajiban menutup aurat dan berjilbab maka kita masih sering mendengar ocehan “Saya belum siap berjilbab. Nanti saja kalau niatnya sudah mantap.” 


Yakin aja, pernyataan kayak gitu muncul selain karena ngeles ogah berjilbab, tapi juga karena mereka nggak paham kewajiban menutup aurat dan jilbab. Padahal yang namanya melaksanakan kewajiban siap atau nggak siap, yang namanya kewajiban kudu bin mutlak dilaksanakan dan dosa kalo ditinggalkan. 


Jilbab Hati? Jilbab Kontesktual?


Para penolak jilbab itu nggak jauh-jauh pernyataanya pasti seputar ini “… yang penting sekarang hatinya dulu. Buat apa berjilbab kalau hatinya busuk.” Atau “Jilbab fisik itu penting, tapi yang lebih penting kan jilbab hati.” mungkin ini juga “Perintah berjilbab jangan dipahami tekstualnya, kalo dipahami kontekstual, jilbab itu nggak wajib”, dan masih banyak ocehan-ocehan serupa yang lain.


Kalo kita nggak memiliki pemahaman Islam yang mapan, dan iman yang kokoh, bakal termakan isu semacam itu. Pernyataan itu nyeleneh, liberal bin sesat. Coba dengan logika yang sama, kalo standar melaksanakan kewajiban nunggu hati baik, tentu aja nggak bakal ada orang yang mau sholat, dengan alasan nunggu hati baik, atau buat apa sholat kalo hatinya nggak baik. Nah gitu kan jadi kacau.


Maka yang benar, suatu kewajiban yang telah disyariatkan oleh Allah, salah satunya kewajiban menutup aurat dan berjilbab adalah kewajiban setiap Muslimah yang telah balig, baik ia berhati baik atau busuk. Pun kewajiban shalat juga berlaku baik bagi Muslim yang berakhlak baik atau yang kelakuannya masih belum baik. Justru dengan dorongan iman, “memaksakan” diri menutup aurat dan berjilbab, seorang Muslimah akan terdorong untuk terus-menerus memperbaiki hatinya dan memperbagus akhlaknya.


Sis, Jilbab Itu Cermin Rasa Malumu


Di masa para shahabiyah kala itu, para wanitanya amat menjaga kehormatan dan aurat mereka. Salah satu shahabiyah yang memiliki rasa malu yang tinggi adalah Ummul Mukminin Aisyah ra., istri Rasulullah saw., dalam sebuah riwayat diceritakan, setelah Rasulullah saw. wafat, Aisyah ra. terbiasa berziarah ke makam beliau, yang berada di dalam kamarnya, tanpa mengenakan hijab. Ketika ayah beliau, Abu Bakar ra., wafat dan dikebumikan di sebelah makam Rasulullah saw., Aisyah ra. masih leluasa berziarah tanpa mengenakan hijab. 


Namun, kebiasaan itu berubah ketika Umar bin al-Khaththab ra. dikuburkan di kamarnya bersebelahan dengan makam Rasulullah saw. dan Abu Bakar ra. Setiap kali masuk ruangan itu, Aisyah ra. mengenakan hijab secara sempurna. Itu ia lakukan karena Umar ra. bukanlah mahram-nya. Padahal Umar ra. telah meninggal dan jasadnya terkubur di dalam tanah (Jalaluddin as-Suyuthi, Syarh ash-Shudur bi Syarh Hal al-Mawta wa al-Qubur. Beirut: Dar ar-Rasyid, 1916).


So, Sis jangan tanggalkan jilbabmu karena jilbabmu adalah cerminan dari rasa malumu. Sebab kalo jilbabmu sudah kau tanggalkan, bukan hanya hilang rasa malumu, tapi juga adzab di yaumul akhir menunggumu, naudzubillah min dzalik. []


***

Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/koreapi1453/
Twitter - https://twitter.com/koreapi_1453?s=09
IG -  https://www.instagram.com/koreapi.1453?igshid=3x7tpluws2nb
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Minggu, 02 Februari 2020

Mau Eksis? Contohlah Uwais!



Popularitas, impian yang banya dikejar kawula muda. Bayangan hidup mewah, glamour, berlimpah harta seperti banyak dipertontonkan artis idola seolah begitu mudah diraih melalui ajang pencarian bakat. Kebelet pengen ngerasain terkenal di dunia maya, jadi bahan pembicaraan di sosial media, dan kerap jadi headline media massa. 

Sayangnya, banyak remaja yang lupa diri ketika popularitas jadi ambisi. Kebahagiaan hidup diukur dari berlimpahnya materi. 
Berlomba-lomba mengejar kesenangan dunia terhanyut dalam kehidupan hedonis yang bikin depresi. ujung-ujungnya tak pernah menemukan kebahagiaan sejati. 

Sebagai seorang muslim, bukan popularitas yang bikin kita bahagia. Apalagi di hadapan manusia. Nggak banget. Tapi ridho Allah sang pemilik bumi yang mesti kita kejar setiap harinya. Tak peduli dengan penilaian manusia dalam menjalankan syariat, yang penting kita taat. Seperti dicontohkan olah salah seorang shahabat. Dia terasing di antara penduduk bumi. Tapi di hadapan Allah swt dan Rasul-nya, masya Allah.... begitu mulia. Sampai-sampai dapat pujian dari baginda Nabi saw. Siapa dia? 

Pemuda Miskin Harta yang Mulia

Nama lengkapnya Uwais bin Amir bin Jus'in al Qarni al Muradi al Yamani. Karna asalnya dari kabilah/suku Qarn di Yaman sebelah selatan Arab Saudi, maka Uwais lebih dikenal dengan nama Uwais Al Qarni. 

Keseharian Uwais dihabiskan untuk mencari nafkah dengan berdagang dan menggembala kambing milik orang lain. Di rumahnya yang sangat sederhana, Uwais tinggal berdua bersama Ibunya yang sudah tua renta, lumpuh, dan buta. Sementara dirinya,  Allah uji dengan penyakit sopak yang membuat kulit di tubuhnya belang putih.

Uwais senantiasa merawat sepenuh hati dan selalu berusaha memenuhi semua permintaan ibunya. Termasuk satu permintaan Sang Ibu yang sulit untuk dipenuhi oleh Uwais yaitu keinginannya untuk berhaji ke Tanah Suci. Uwais termenung dan berpikir agar bisa mewujudkan permintaan Ibundanya tersayang. 

Uwais sangat tahu bahwa perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki kendaraan. Uwais terus berpikir mencari jalan keluar hingga menemukan ide brilian.

Uwais membeli seeokar anak lembu lalu membuatkan kandangnya di puncak bukit. Setiap pagi beliau bolak balik menggendong anak lembu itu turun bukit untuk memberinya makan lalu menggendong naik bukit untuk masuk kandang. Apa yang dilakukan Uwais tentu membuat orang yang melihatnya keheranan bahkan ada menganggapnya gila. 
Hingga semakin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang diperlukan Uwais untuk menggendong lembu. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa berat lagi. 

Sudah delapan bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu Uwais telah mencapai berat 100 kg sehingga cukup kokoh untuk membawa bekal perjalanan. Begitu juga dengan otot Uwais yang makin membesar dan semakin kuat sehingga sanggup untuk menggendong Ibunya saat berhaji dengan berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah sejauh 590 KM. Amazing!

Dengan penuh kasih sayang dan bakti kepada Ibunya, Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi permintaan Ibunya. Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata kesampaian berada di Baitullah. Di hadapan Ka’bah, Uwais dan Ibunya berdoa.
“Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais.
“Bagaimana dengan dosamu?” tanya sang Ibu keheranan.

Uwais menjawab, “Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga.”

Uwais, Most Wanted!

Selain dikenal sebagai pemuda yang taat kepada ibunya, Uwais juga dikenal sebagai pemuda yang taat beribadah. Dia sangat ingin bertemu dengan Nabi Muhammad saw seperti para tetangganya yang baru datang dari Madinah. Hatinya selalu bertanya-tanya, kapankah ia dapat bertemu Nabi Muhammad saw dan memandang wajah beliau dari dekat? Ia rindu mendengar suara Nabi saw, kerinduan karena iman.

Tapi bukankah ia mempunyai seorang ibu yang telah tua renta dan buta, lagi pula lumpuh? Bagaimana mungkin ia tega meninggalkannya dalam keadaan yang demikian? Hatinya selalu gelisah.

Akhirnya, suatu hari ia datang mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan mohon ijin agar ia diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah. Ibu Uwais Al-Qarni terharu mendengar permohonan anaknya. Ia berkata, “pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang.”

Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al-Qarni sampai juga di kota madinah dan menemukan rumah Nabi. Namun sayang, Nabi tidak berada di rumahnya , beliau berada di medan pertempuran. Betapa kecewanya Uwais. Akhirnya, Uwais kembali pulang kembali ke Yaman dengan perasaan amat haru.

Peperangan telah usai dan Nabi saw pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi saw menanyakan kepada Siti Aisyah ra tentang orang yang mencarinya. Siti Aisyah ra membenarkan dan mengatakan bahwa Uwais telah pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. 

Nabi Muhammad saw berkata kepada para sahabatnya. “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di tengah talapak tangannya.”
Sesudah itu Nabi saw memandang kepada Ali ra dan Umar ra seraya berkata, “suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Waktu terus berganti, dan Nabi saw kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khatab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi saw itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib ra. 

Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni. Hingga suatu ketika, Uwais Al-Qarni turut bersama rombongan kafilah dari Yaman yang baru tiba di kota Madinah. Khalifah Umar ra dan Ali ra segera pergi menjumpai Uwais Al-Qarni yang tengah menjaga unta-unta kafilah di perbatasan kota.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, khalifah Umar ra dan Ali ra memberi salam. Uwais menjawab salam sambil mendekati kedua sahabat Nabi saw ini dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar ra dengan segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi saw. Memang benar! 

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais Al-Qarni telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali ra memohon agar Uwais membacakan do'a dan istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “saya lah yang harus meminta do'a pada kalian.”
Mendengar perkataan Uwais, khalifah berkata, “Kami datang ke sini untuk mohon doa dan istighfar dari anda.” Seperti yang dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Uwais Al-Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. 

Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”
Waktu berlalu, Uwais Al Qarni wafat dan berita wafatnya telah menggemparkan Kota Yaman. Karena saat hari kematiannya, begitu banyak orang yang datang untuk mengurus jenazahnya padahal tak banyak yang mengenalnya. Suatu riwayat mengatakan bahwa mereka ialah para malaikat yang Allah utus untuk memuliakan Uwais Al-Qarni di hari kematiannya. 

Terasing di Bumi, Populer di Langit

Teman surga, wajar aja kalo hidup kita pengen eksis. Dikenal banyak orang. Berharap bisa menjadi wasilah untuk menyebarkan kebaikan Islam. Apalagi di era teknologi internet saat ini, begitu mudahnya orang terkenal. Yang penting eksis di dunia maya. 

Tapi kita mesti siap kecewa. Jika eksis kita hanya berharap pada penilaian manusia. Kontent dakwah dan kebaikan Islam tak selalu mendapat tempat di dunia maya. Terlebih lagi kalo udah menyentuh isu sensitif seputar LGBT, kebijakan pemerintah yang menyengsarakan rakyat, atau perilaku kebanyakan remaja yang terhanyut dalam kehidupan hedonis. Lebih banyak yang nyinyirin dibanding yang mikirin. 

Tapi, Teman Surga tak perlu risau bin galau. Tetaplah istiqomah dalam berdakwah. Konsisten berbagi kebaikan di dunia maya meski banyak yang tak menyukainya. Yakinlah, sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan akan menjadi jejak kebaikan bagi kita di akhirat kelak. 

Dan agar bisa eksis, cukuplah kita bercermin pada Uwais. Terasing di antara penduduk bumi, namun begitu populer di antara penduduk langit. Apa yang bisa kita teladani dari seorang Uwais? 

Pertama, berbakti pada orang tua tanpa tapi tanpa nanti. Karena tiada balasan bagi seorang yang berbuat baik kepada kedua orang tuanya selain SurgaNya. Rasulullaah saw bersabda “Kedua orang tua itu adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orang tua kalian. Jika kalian enggan memasukinya, silakan sia-siakan orang tua kalian” (HR. Tirmidzi). 

Pantang bagi kita menyepelekan permintaan orang tua. Sesulit apapun, Allah swt pasti tunjukkan jalan. Bahagiakan kedua orang tua dengan menjadikan kita anak yang sholeh dan sholehah. Istiqomah di jalan dakwah, akan berbuah kebaikan dan kemuliaan bagi kita dan orang tua tercinta. 

Kedua, cinta nabi cinta syariah. Tak cukup kita tunjukkan kecintaan pada Nabi saw dengan hanya bersholawat. Sempurnakan kecintaan kita pada Nabi saw dengan selalu terikat pada syariat. Tolak dengan tegas segala bentuk pemikiran dan budaya barat yang sesat. Seperti perayaan tahun baru atau valentine days yang sarat dengan maksiat. 
Allah swt berfirman: “Apa saja yang diberikan oleh Rasul kepada kalian, maka ambillah. Dan apa saja yang dilarangnya, maka tinggalkanlah.” (QS. al-Hasyr: 7)

Imam Ibn Katsir rahimahullah, dalam kitab tafsir beliau menjelaskan makna ayat ini adalah: “Jika Rasul memerintahkan sesuatu, maka lakukanlah, dan jika Rasul melarang kalian dari sesuatu, maka jauhilah. Sesungguhnya Rasul hanya memerintahkan kepada yang baik, dan melarang dari sesuatu yang buruk.” So, mau eksis? Contohlah Uwais![]