**
Pandemi corona masih bertahan. Sekolah pun kembali resmi diliburkan. Praktis, hampir semua kegiatan dialihkan ke dunia dalam jaringan. Maka rebahan menjadi posisi ternikmat dalam menjalani hari-hari yg tidak biasa ini.
Ngusap-ngusap layar hp udah melebihi jadwal minum obat. Over dosis deh rasanya. Ada yg samaan?
Belum lagi godaan saat berselancar di samudera persosmedan. Bbeeeh! Banyak iklan berseliweran. Segala rupa penawaran terpampang nyata di beranda. Dari mulai cemilan, aksesoris hp, fashion, dan aneka barang menggiurkan lainnya berlenggak-lenggok minta perhatian.
Huh! Sering deh khilaf klik ”Beli sekarang”. Padahal setelah dipikir-pikir, apa yang dipesan itu hanya keinginan bukan kebutuhan. Ada yg begitu juga? Hiks!
Fix, Dear! Kita para remaja harus melek finansial agar hidup lebih bijak dalam memperhitungkan nominal. Ingat, dalam persoalan harta ini kelak kita akan ditanya ”dari mana” & ”untuk apa”. Bukan kaleng-kaleng nih, Guys. Kalau sudah menyangkut pahala dan dosa, enggak ada kata santuy untuk kita. Sepakat!
*Sumber Penghasilan Remaja*
Biarpun masih remaja & berstatus siswa sejatinya kita sudah memiliki sumber penghasilan loh, Guys. Yapz, sebab kepemilikan harta di dalam Islam itu bukan sekadar dari bekerja.
Tanpa bekerja pun, seseorang bisa peroleh harta. Dari mana? Salah satunya adalah dari pemberian. Nah, coba dihitung sudah berapa jumlah rupiah yg orang tua berikan untuk kita? Dijamin bakal kesulitan deh menghitungnya. Enggak terhitung, kan?
Eh, tapi, sebagai remaja kita juga sangat bisa kok bekerja untuk menghasilkan uang. Di zaman serba digital seperti saat ini, rasanya banyak cara untuk bisa menghasilkan uang. secara mandiri kita bisa berjualan apa saja secara online.
Minimal untuk kalangan teman sekitar dulu. Eits, tapi tetap harus patuhi protokol loh, ya. Hanya menjual sesuatu yg halal. Aaasiap!
Apa sih pentingnya ngomongin sumber penghasilan bagi remaja? Jelas sangat penting, Guys. Sebab kita adalah seorang muslim dan semua urusan itu tidak ada yang sia-sia. Semuanya penting di dalam Islam.
Apalagi masalah harta, penting banget untuk diobrolin. Seperti yang sudah kita singgung di awal tadi, soal harta ini berat hisabnya. Nah, loh!
Dear #TemanSurga, rasa syukur akan muncul dengan mengetahui dari mana sumber harta yang kita miliki. Jika syukur itu sudah bertabur di hati, maka kita tdk akan sembarangan lagi dlm memperoleh & membelanjakan harta.
Kita akan mudah mendeteksi dari mana dan untuk apa harta yang kita punya. Kita akan berjuang untuk mendapatkan harta yang halal. Juga membelanjakannya untuk apa-apa yg diridai Allah Swt. Begitulah rasa syukur, mendekatkan kita kpd takwa. Masyaallah!
Jadi, meskipun sumber penghasilan kita baru dari orang tua saja, kita juga tetap harus memastikan bahwa itu halal. Artinya, kita benar-benar menerima pemberian itu dari org tua. bukan mengambil sendiri tanpa izin. Uppss, ini namanya mencuri ya, Guys!
Jangan dilakukan meskipun itu milik org tua kita sendiri. Mencuri tetaplah mencuri dan dia haram hukumnya. Harta yg didapat dari mencuri pun menjadi haram & haram pula dibelanjakan untuk apapun.
Tahukan konsekuensi haram? Yaps, haram sama dengan dosa, dosa sama dg neraka. Ampun, dah! Amit-amit!
Nah, sudah tergambar kan kenapa penting ngomongin sumber penghasilan bagi remaja? Yes, agar kita paham dan memastikan bahwa uang yg kita pakai untuk beli cilok itu adalah uang yg halal.
Sehingga tubuh kita tumbuh tanpa terpapar sedikitpun keharaman. Alhasil, belajar jadi berkah. Ibadah terasa mudah. Hidup di dunia terasa indah. Mati dg gelar husnul khatimah. Di akhirat mendapat Jannah. Omo!
*Prinsip dalam Membelanjakan Harta*
Setelah tahu dari mana sumber harta yang kita punya, selanjutnya adalah cari tahu bagaimana cara membelanjakannya. Bener banget, Dear! Islam memang super keren dengan seperangkat aturan yang telah Allah Swt tetapkan.
Begitu detailnya, sampai permasalahan belanja juga masuk dalam pembahasan. Enggak sembarangan nih, Guys! Allah Swt. langsung berikan panduan untuk kita dlm perkara ini.
*_”Janganlah kalian berbuat israf (menafkahkan harta di jalan kemaksiatan) krn Allah tidak menyukai orang-orang yg berbuat israf.”_ (QS. al-An’am [6]: 141)*
Nah, jelas banget kan ya! Meskipun harta itu ada dalam genggaman kita, bukan berarti kita bebas mau pakai buat apa saja. Batasannya sudah sangat jelas dlm firman Allah Swt. Bahwa kita dilarang membelanjakan harta dlm kemaksiatan.
Karena hakikatnya, harta yg ada di kita itu hanyalah titipan, Guys. Hak milik tetap ada pada Allah Swt. sebagai Sang Penguasa alam semesta. So, dlm menggunakan harta kita harus dapat izin dari-Nya. Alias enggak boleh asal nyelonong aja beli-beli ini & itu. Catet!
Termasuk dalam kemaksiatan adalah menjadikan hawa nafsu dlm menghambur-hamburkan harta. Yaps, lebih kpd mengutamakan keinginan (nafsu) dari pd kebutuhan. Hayo ngaku, siapa yg begini? Kuy istigfar berjamaah! Nastagfirullah!
Tidak dipungkiri, sih! Bahwa saat ini godaan belanja itu sangat besar. Bukan hanya kaum emak-emak yang diserang tawaran menggiurkan. Kita para kalangan remaja pun tidak lepas dari bidikan para pembuat iklan.
Mulai dari produk yg unyu-unyu sampai tawaran diskon gila-gilaan, seringkali membuat kita kalap enggak karu-karuan. Pontang-panting cari aliran dana demi mendapatkan apa yg sedang diinginkan.
Tidak jarang manyun ke orang tua gara-gara enggak dapat barang incaran. Busyet bener deh tuh tukang iklan, tahu aja kalau saat ini kita selalu on di jagad persosmedan! Serbuan iklan berhamburan membutakan mata dan pikiran. Tepok jidat!
Kalau sudah sekacau ini, lantas bagaimana solusinya? Tenang, selalu ada solusi dalam Islam. Mari kita simak bersama pesan-pesan berikut ini. Cusss!
*Bedakan antara Kebutuhan dan Keinginan*
Dear #TemanSurga, ketahuilah bahwa Islam membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Disebut kebutuhan adalah ketika sesuatu itu tdk kita dapatkan maka akan menyebabkan kematian.
Apa saja yang termasuk kebutuhan? Makanan, minuman, pakaian, & tempat tinggal merupakan kebutuhan bagi manusia. Demikian juga pendidikan, kesehatan, dan keamanan.
Nah, Islam memandang bahwa kebutuhan ini bersifat terbatas. Artinya, kita bisa menakar seberapa harta yg harus dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Misalnya seperti makan.
Lambung kita pasti memiliki keterbatasan dalam menampung makanan, kan? Begitu juga dg kebutuhan yang lainnya, memiliki sifat yg terbatas. Artinya, dlm memenuhi kebutuhan untuk hidup semestinya tidak perlu berfoya-foya.
Adapun yg memiliki sifat tidak terbatas itu adalah keinginan. Keinginan ini lebih cendrung kpd hawa nafsu. Seringkali berhasrat membeli sesuatu bukan karena butuh tetapi hanya sekadar ingin. Inilah yg menjadikan kita terpacu untuk berbudaya konsumtif.
Membeli apa saja yang terlihat. Istilahnya mah lapar mata. Akhirnya tanpa sadar telah berprilaku boros bahkan mubazir. Betul apa bener?
Lalu bagaimana agar kita bisa mengendalikan keinginan sehingga dpt menggunakan harta sesuai dg kebutuhan?
Kita bisa memulainya dengan mendahulukan skala prioritas.
*Pertama*, membeli benda atau makanan hanya yg halal saja. Standar halal ini sudah harga mati, yes. tdk bisa ditawar-tawar lagi.
*Kedua*, pastikan barang atau makanan itu memang kita butuhkan. Sebelum membeli coba pikirkan terlebih dahulu. Jika berbentuk makanan maka timbang-timbang maslahatnya untuk tubuh.
Membawa maslahat atau mudharat. Jadi mengkonsumsi sesuatu bukan hanya sekadar enak atau kekinian semata, tetapi juga harus dipertimbangkan kebaikannya untuk tubuh. Sebab memasukkan makanan atau minuman sembarangan ke dalam tubuh adalah bentuk kedzaliman terhadap diri sendiri.
Jika yg akan kita beli dlm bentuk benda, kitapun harus jeli dalam memilihnya. Pastikan barang dlm kebaikan. Menjadi sarana untuk menunjang kebaikan masa depan di dunia dan akhirat kita.
*Ketiga*, kendalikan diri dari budaya konsumtif dg selalu bersikap qonaah. Yakni bersyukur dg apa yg sudah dimiliki. Tutup mata dari berbagai godaan iklan yg menggila. Dari pd stalking aneka promo & diskonan, lebih baik mata digunakan untuk mengulang pelajaran atau hafalan Al Qur’an. Cakep!
*Keempat*, jangan lelah untuk terus mengkaji Islam scr kaffah alias menyeluruh. Hal ini dipastikan mampu membentengi diri kita dari bisikan hawa nafsu setan. Sebab pemahaman ilmu Islam adalah senjata bagi kita untuk melawan derasnya arus kebebasan dlm kehidupan.
Memahami Islam secara keseluruhan artinya kita memiliki pegangan yg kokoh dalam menghadapi berbagai godaan. Insyaallah kita pun tdk akan hanyut terseret-seret tren yg tidak pernah ada habisnya. Yapz, kita menjadi pribadi yang memiliki prinsip hidup sekokoh karang. tidak tergoyahkan!
Dear remaja, semoga semakin semangat ya untuk bijak dalam mengelola finansialnya. Ingat, bahwa harta yg kita punya kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Pastikan bahwa harta kita bersumber dari yg halal dan dibelanjakan hanya untuk yg halal lagi kita butuhkan.
So, remaja melek finansial? Why not! Justru harus bin kudu![]