Selasa, 24 Desember 2019

HADIAH TERBAIK UNTUK IBU


Air wudhu’ selalu membasahimu…

Ayat suci selalu dikumandangkan…

Suaramu penuh keluh dan kesah…

Berdoa untuk putra putrinya…


Oh ibuku…

Engkaulah wanita…

Yang ku cinta selama hidupku…

Maafkan anakmu bila ada salah…

Pengorbananmu tanpa balas jasa…


Lirik lagu Sakha ini bikin baper kalo kita dengerin sambil liatin foto ibu tercinta. Cobain deh. Siapin tissue. Apalagi kalo disambung dengan lagu Bunda-nya Melly Goeslaw atau Ibu-nya Iwan Fals. Lagu-lagu lawas yang selalu mengingatkan kita pada sosok pahlawan sepanjang masa yang dekat dengan kita. 


Hari Ibu, Universal

Ngomongin tentang ibu, mengingatkan kita pada perayaan hari Ibu yang digelar setiap tanggal 22 Desember di negeri kita. Hari Ibu tanggal 22 Desember ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional yang Bukan Hari Libur.


Penetapan tanggal tersebut disesuaikan dengan tanggal pelaksanaan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama kali diselenggarakan di Yogyakarta pada tanggal 22 Desember 1928. Dalam kongres tersebut, mereka juga membahas tentang perbaikan nasib kaum perempuan dan perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita. 


Karena ibu dengan segala bentuk panggilannya, hadir di setiap pemukaan bumi, nggak heran kalo hari Ibu juga dirayain di negara-negara lain yang jatuh pada tanggal yang berbeda-beda.


Hari Ibu di Meksiko jatuh pada tanggal 10 Mei. Hari Ibu di negara ini dirayakan dengan orang-orang yang memakai baju-baju berwarna meriah. Biasanya, orang-orang Meksiko memberikan hadiah yang mereka buat dengan tangan sendiri untuk ibu mereka. 


Sejarah Hari Ibu di Amerika Serikat dimulai untuk mengenang Anna Jarvis. Kemudian, hari Ibupun disahkan oleh Presiden Woodrow Wilson untuk dirayakan di setiap Hari Minggu kedua di bulan Mei, bertepatan dengan Joint Revolution di tanggal 8 Mei 1914. 


Hari Ibu di Thailand jatuh pada tanggal 12 Agustus. Hari ini dipilih juga sebagai peringatan ulang tahun Ratu Sirikit. Sirikit merupakan ibu negara yang sangat dihormati akibat aksi sosialnya. Dia juga menjadi presiden palang merah Thailand sejak 1956. 


Peringatan hari Ibu digelar setiap tahun. Meski kita ngerayainnya jor-joran, tetap gak akan cukup untuk membalas jasa dan cinta ibu pada kita. Tapi bukan berarti kita gak boleh mengungkapkan rasa sayang kita kepada ibunda tercinta di momen spesial itu. Santuy aja. Jadikan sebagai momen untuk menjalin hubungan lebih dekat dengan Ibu. Bukan untuk meniru budaya orang-orang kafir ya...


Baktiku Bukan Karena Hari Ibu


Jasa ibu dalam melahirkan dan mendidik anaknya itu dirasakan oleh semua orang. Tak hanya oleh kita sebagai seorang muslim. Makanya di negara-negara Barat, peringatan hari ibu identik dengan aksi balas budi dari anak kepada orang tua. Ya sebatas itu aja. 


Namun bagi seorang muslim, bakti kita kepada ibu bukan semata karena tradisi atau balas jasa. Bukan juga sebagai bentuk solidaritas hari ibu. Tapi karena perintah Allah swt. Agar bisa menimbun pahala dan mengurangi dosa. Sehingga dapat tiket masuk surga dan dijauhkan dari neraka. Itu aja. Nggak ada niatan yang lain. 


Allah swt sudah menempatkan ibu dalam kedudukan yang mulia. Karena itu kita diperintahkan untuk berbakti padanya. Firman-Nya, “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)


Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil, kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar daripada kepada ayah.


Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)


Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketika melahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi X : 239. al-Qadhi Iyadh menyatakan bahwa ibu memiliki keutamaan yang lebih besar dibandingkan ayah).


Berbuat baik kepada ibu adalah amal sholeh yang dapat menghapuskan dosa-dosa kita lho. Itu artinya, berbakti kepada ibu merupakan jalan untuk masuk surga. Yang harus kita lakukan setiap waktu. Nggak mesti tunggu hari ibu. Sebagaimana ditegaskan dalam hadits dari Mu’awiyah bin Jahimah as-Sulami bahwa ayahnya Jahimah as-Sulami Radhiyallahu anhu  datang kepada Nabi Muhammad saw dan berkata:


Wahai Rasûlullâh! Aku ingin ikut dalam peperangan (berjihad di jalan Allâh Azza wa Jalla ) dan aku datang untuk meminta pendapatmu.” Maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu mempunyai ibu?” Dia menjawab, “Ya.” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tetaplah bersamanya! Karena sesungguhnya surga ada di bawah kedua kakinya.”


Hadiah Terbaik untuk Ibu


Di hari Ibu, banyak yang berlomba-lomba ngasih hadiah terbaik untuk ibundanya. Selain bunga yang paling banyak, ada juga yang traktir makan di restoran mewah, liburan bersama anak cucu, kue bikinan sendiri, atau mengerjakan semua tugas ibu seharian penuh agar ibu bisa beristirahat dan mendapatkan layanan super premium bak hotel bintang lima. 


Bagaimana dengan kita? sesuaikan aja dengan kemampuan materi kita dalam memberi hadiah. Yang penting, ungkapkan rasa sayang secara lisan dan ngasih hadiah untuk merawat rasa sayang kita padanya. Rasulullah saw mengingatkan kita dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Saling bersalamanlah (berjabat tanganlah) kalian, maka akan hilanglah kedengkian (dendam). Saling memberi hadiahlah kalian, maka kalian akan saling mencintai dan akan hilang kebencian.” (HR. Malik)


Selain pemberian hadiah secara materi, hal terbaik yang bisa kita persembahkan untuk Ibu sepanjang masa adalah dengan menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Hadiah terbaik yang akan memberikan kebanggaan baginya di dunia dan menyelamatkannya di akhirat. 

Lantaran doa anak sholeh akan mendatangkan keberkahan untuk orangtuanya. Diriwayatkan dari hadits Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat seorang hamba sholeh di surga, lalu ia berkata: Wahai Tuhanku, darimana aku dapatkan semua ini? Kemudian Allah menjawab: Dengan sebab istighfar anakmu untuk dirimu.” (HR. Ahmad)


Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda, “Apabila seseorang meninggal dunia maka (pahala) amalnya terputus kecuali 3 perkara: shodaqoh jariyah, ilmu bermanfaat, atau anak sholeh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)


Di momen hari Ibu, bisa juga kita jadikan ajang evaluasi diri. Sudahkah kita menjadi anak yang sholeh dan sholehah untuk kebaikan bunda tercinta? Sudahkah kita memberikan kebanggaan padanya di dunia karena amal sholeh kita? 


Nggak usah baper kalo ngerasa belum. Ini saatnya kita mulai membangun beberapa karakter anak sholeh dan sholehah berikut dalam diri kita.  


Pertama, beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT

Ini pondasi dasar untuk menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Keimanan yang bukan cuman perkataan, tapi ditunjukkan dengan perbuatan. Selalu dekat dalam ketaatan dan jauh dari kemaksiatan. Pantang ikut ngerayain tahun baruan yang udah jelas-jelas budaya kafir yang sesat dan menyesatkan. 


kedua, berakhlak mulia. 

Anak yang sholeh memiliki akhlak mulia, bermoral dan berprilaku terpuji. Seperti berbuat baik kepada orang lain (tetangga, teman, guru, dls), jujur dalam berkata, mudah memaafkan, tidak sombong, dapat dipercaya, santun dalam berbicara, menghargai orang lain dan lain sebagainya.


Terhadap ibu, anak sholeh selalu menjaga sikap. Pantang baginya bikin ibunya kecewa atau menyakiti hatinya. Jika orangtua meminta bantuan, tanpa tapi tanpa nanti, sesegera mungkin dipenuhi. 


Anak sholeh selalu berbicara dengan lemah lembut pada ibunya. Jika ada perbedaan pendapat, nggak pake ngegas yang bisa bikin sakit hatinya. Tetap santun saat menjelaskan duduk pekaranya. Nggak pake bete saat menemaninya belanja. Tetap bahagia ketika diminta belanja keperluan sehari-hari. Tetap tersenyum saat dapat giliran beres-beres rumah. Berikan layanan terbaik bak bintang lima untuknya. 


Ketiga, menjaga sholat dan ibadahnya

Anak-anak sholeh terlihat dari bagaimana ia menjaga sholat wajibnyanya tepat waktu dan berjamaah di mesjid/mushola. Sholatnya dengan penuh kekhusyuan, tumaíninah atau tidak terburu-buru dalam sholat, memperbanyak ibadah sunnah, seperti sholat sunnah, puasa sunnah, menghidupkan malam-malam untuk beribadah, membaca dan menghafalkan Al-Qurían serta mengamalkannya. 


Keempat, cinta terhadap ilmu

Anak sholeh itu seorang pembelajar. Nggak pernah puas dengan ilmu yang telah didapatkan, terutama ilmu agama. Ngaji rutin jadi bagian dari kegiatan mingguannya. Baca buku untuk menambah wawasan keislaman bagian dari kesehariannya. Karena dia super yakin, ilmu yang akan memuliakannya di dunia dan akhirat.


Kelima, aktif dalam berdakwah. 

Anak sholeh nggak egois. Keterlibatannya dalam dakwah bagian dari persembahan terbaik untuk ibunda tercinta. Karena hanya dakwah yang menjadi jalan kemuliaan baginya di dunia dan akhirat. 


Temans, agar bisa menanamkan beberapa karakter anak sholeh di atas dalam diri kita, kuncinya rutin ikut pengajian. Sampai nanti, sampai mati. Mari berikan hadiah terbaik untuk ibu kita. So, tunggu apalagi, #YukNgaji!

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Selasa, 17 Desember 2019

Be A Smart Shopper, Please!!!



Gratis ongkir, Flash Sale, Diskon Akhir dan Awal Tahun. Buat para shopper itu semua bakal bikin “mata” jadi laper buat belanja. Biasanya yang punya kecenderungan dan ketertarikan buat belanja-belanji itu kaum hawa. Konon katanya sudah nalurinya perempuan. Hmm.. that it’s true? Yang cewek kayanya senyum-senyum nih. Mungkin ada yang berdalih, ya namanya  juga perempuan banyak pakai “pernak pernik”, it’s mean kalau cowok cukup pakai baju, celana, sendal atau sepatu berbeda dengan perempuan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Makanya para kapital banyak yang melirik potensi besar ini dengan menawarkan dan menjual segala sesuatu yang konon bisa membuat penampilan kaum hawa lebih modis, apalagi kalau ada tawaran diskon yang menggiurkan. Ngga sampai disitu, saat ini dimana teknologi semakin berkembang membuat belanja cukup dari rumah atau dimana saja kita berada tanpa perlu beranjak mendatangi toko. Yupz.. belanja online melalui e-commerce yang benar-benar memanjakan para shopper terlebih bagi shopacholic. Hanya dengan sentuhan jari klik apa yang diinginkan beberapa saat paket akan dikirim. Malah bukan hanya itu, sistem pembayaran pun bisa dilakukan di tempat ketika barang sampai ditangan pembeli atau istilahnya COD (Cash On Delivery) yang semakin memudahkan para pelanggan online shopping. 


  Kalangan muda seperti kamu-kamu ini ternyata cukup banyak dan aktif juga berbelanja online. Survei lembaga riset Snapcart di Januari 2018 mengungkapkan bahwa generasi milenial menjadi pembelanja terbanyak di bidang e-commerce yakni sebanyak 50 persen. Jika digabung dengan generasi Z maka jumlah pembelanja dari generasi muda mencapai 80 persen. Ngga heran pangsa pasar yang besar ini dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan e-commerce untuk menawarkan produk-produknya tentu dengan promosi yang menggiurkan. 


You Are Trapped In Fashion


Setiap orang pasti pernah membelanjakan uangnya apakah itu untuk membeli kebutuhan atau hanya sekedar ingin memuaskan keinginan saja. Ya, itulah manusia dengan fitrah yang Allah telah berikan, manusia memiliki kebutuhan yang wajib untuk dipenuhi. Namun, manusia juga memiliki dorongan keinginan yang merupakan bagian dari naluri mempertahankan diri (gharizatul baqa) misal ingin beli tas baru sementara yang lama masih bagus dan layak biar bisa ganti-ganti atau karna tergiur diskon gede. Hal senada dengan yang dikatakan oleh Head of HiTech and Communication Media MarkPlus, bahwa kebanyakan perempuan tidak melakukan perencanaan ketika akan berbelanja online. Sebanyak 35,4 persen perempuan melakukan browsing terlebih dahulu untuk mencari produk serta merk yang ingin dibeli. Ini membuktikan bahwa perilaku perempuan Indonesia yang sekedar iseng browsing pada e-commerce tertentu dapat mengarahkan mereka pada pembelian.  Hmm.. emang ya antara kebutuhan dan keinginan itu beda. Kebutuhan ada batasnya sedangkan keinginan bisa ngga berbatas guys. Sama seperti belanja sesuatu, bisa karna kebutuhan atau karna keinginan semata bahkan ada yang belanja menjadi kecanduan atau yang biasa disebut shopaholic. Bagi para shopaholic belanja sudah bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan namun mereka kalap berbelanja bahkan untuk hal-hal yang tidak penting dan merasa terpuaskan saat keinginan berbelanja sudah terpuaskan. Berbeda halnya dengan shopalogic di mana mereka yang secara pikiran, perasaan, maupun perbuatan cerdas, intinya orang ini masih berpikir rasional saat berbelanja dan bisa membedakan atau menentukan mana kebutuhan dan keinginan.


Produk best seller dari belanja online ternyata adalah produk fashion dan perempuan tentu menjadi shopper terbanyak. Dalam survei ditunjukkan sebanyak 66,9 persen perempuan memilih produk pakaian, baru kemudian disusul oleh produk kecantikan dengan presentase 57,3 persen. Yes, mayoritas perempuan memang lebih punya kepekaan lebih terhadap penampilan, makanya ngga heran segala hal yang bisa menunjang agar tampil lebih cantik dan modis akan dilakukan meski ngga jarang harus mengeluarkan “ongkos” yang mahal. Outlook is number one. Ikutin gaya dan trend fashion kekinian seolah menjadi keharusan agar tetap bisa eksis dan ngga ketinggalan jaman. Dan, seperti yang kita tahu yang menjadi “kiblat” fashion dunia adalah negara barat. So, negara barat pulalah yang “memainkan” fashion apa yang tahun ini menjadi trend. Seperti roda yang terus berputar tiada henti begitulah fashion dimainkan dan bagi yang mengikuti trend fashion barat seolah berlari tanpa garis finish. Ya, standar barat dalam mengakui eksistensi seseorang dalam suatu komunitas salah satunya dari penampilan dan bagaimana seseorang loyal dalam berbelanja tentu dengan saldo rekening yang fantasis. Seperti yang saat ini viral dilakukan oleh para artis dengan menunjukkan isi rekening atm yang dimilikinya. Semakin besar saldo rekening yang dimilikinya maka eksistensinya sebagai orang dengan kelas sosial atas pun diakui. Inilah yang disebut sebagai standar materialistik. 


And do you know? Fashion ternyata menjadi salah satu senjata dalam memerangi dan melemahkan generasi muda kita. Tentu bukan fisik yang diperangi namun pemikiran yang akan mempengaruhi gaya hidup termasuk gaya berpakaian. Lihat saja, remaja yang berhasil “diperangi” pemikirannya seketika terjebak dalam konsep cantik ala barat, gaul ala barat. Cantik ala barat adalah yang berkulit putih dan langsing maka skincare yang bisa menjadikan wajah dan kulit menjadi putih dan produk pelangsing pun laris manis di pasaran. Gaul ala barat pun dimaknai dengan mengikuti segala apa yang datangnya dari barat termasuk gaya berpakaian yang tentu saja tidak sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Kalau sudah seperti ini, generasi muda Islam menjadi lemah dalam mempertahankan identitasnya sebagai seorang muslim. Perlahan tapi pasti barat membuat remaja muslim seolah tak mengenali hakikat dirinya kebalikannya mereka lebih hapal tentang apa saja yang berasal dari budaya barat.


Back to Muslim Identity


Tak kan pernah bosan untuk mengatakan Islam adalan agama sempurna dan tak henti pula Teman Surga mengajak kamu semua untuk menjadikan Islam sebagai tuntunan hidup. Semua dalam Islam sudah terukur dan diatur dengan sangat pas. Bahkan dalam urusan membelanjakan uang untuk membeli sesuatu. Islam menghalalkan berbelanja baik secara online maupun offline selama aktifitasnya tidak bertentangan dengan syari’at islam. Allah SWT berfirman “Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275). Pertama, yang perlu dipahami dan diingat adalah bahwa yang kita beli adalah sesuatu yang dihalalkan atau dibolehkan. Meskipun jual beli hukumnya adalah halal namun terlarang bagi kita untuk membeli sesuatu yang haram. Misal. Beli baju yang mengumbar aurat sedangkan perempuan wajib untuk menutup aurat. Jelas dan tegas Allah memerintahkannya dalam Qur’an Surat Al Ahzab: 59 “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. 


Maka meski fashion barat silih berganti, bagi seorang muslimah fashion terbaiknya adalah khimar (kerudung) dan jilbab. Bukan berarti seorang muslimah tidak boleh memperhatikan penampilan, namun Islam menuntun para muslimah untuk tidak berlebihan. Allah SWT berfirman, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki) masjid. Makan dan minumlah, tapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A‘raaf, 7: 31). 


Ketika Rasulullah SAW sedang duduk beristirahat di masjid, tiba-tiba ada seorang perempuan golongan muzainah terlihat memamerkan dandanannya di masjid sambil menyeret-nyeret busana panjangnya. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: ”Hai sekalian manusia, laranglah istri-istrimu (termasuk anak-anak remaja perempuan yang mereka miliki) mengenakan dandanan seraya berjalan angkuh di dalam masjid. Sesungguhnya Bani Israil tidak akan dilaknati sehingga kaum perempuan mereka dandanan menyolok (berlebihan) dan berjalan di dalam masjid. (Diriwayatkan Ibnu Majah). Karna dalam Islam tujuan berpakaian yang syar’i adalah sebagai pelindung kehormatan serta menandakan identitas sebagai seorang muslim yang tunduk dengan aturan Allah SWT bukan sebagai gaya hidup agar tampil keren. 


Islam pun telah mengatur bagaimana seseorang membelanjakan hartanya, karna kembali apa yang diperoleh dan dikeluarkan dari harta kita akan dimintai pertanggungjawaban. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya” (HR. At Tirmidzi). So, cerdaslah menjadi pembelanja, bukan tidak boleh membeli apa yang diinginkan namun yang perlu diingat bahwa apa yang kita beli tetaplah bermanfaat dan tidak akan menyengsarakan kita kelak di akhirat.


The last, penampilan bukanlah segalanya namun jika Allah yang menjadi tujuan dari segalanya maka kita pun akan tunduk terhadap apa yang menjadi aturannya termasuk dalam hal berpenampilan dan memandang harta yang dimiliki. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim). Karna harta hanyalah titipan yang menjadi ujian apakah dengannya akan membawa kita pada ridhoNya atau tidak. Dan orang kaya pada hakikatnya adalah orang yang bersyukur dan senantiasa bersikap qona’ah (merasa cukup dan puas dengan rezki yang Allah berikan) yang akan melahirkan rasa ridha dan selalu merasa cukup dalam diri manusia, dan inilah kekayaan yang sebenarnya. Sebagaimana sabda Rasululah SAW, “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya kemewahan dunia (harta), akan tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan (kecukupan) dalam jiwa (hati)”. 


***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Selasa, 10 Desember 2019

ISLAM AGAMA TERORIS?




Gaes, kalo ada salah satu kucing di sekitar rumah kita, nyuri ikan yang mau kita makan, trus kita marah lalu membenci dan memukul atau nyiramin air ke semua kucing yang mendekati kita, sepertinya kita sepakat. perilaku kayak gitu selain lebay juga nggak logis. Sepadan dengan itu, kalo ada yang kelihatan rajin sholat di masjid, tapi ternyata nyuri sendal, lantas ada yang bilang kalo gitu sholatnya sia-sia, mending nggak usah sekalian sholat aja. Nah yang bilang gitu itu dia pasti lagi ngaco. Wadaw!


Fenomena kayak di atas itu yang disebut menggebyah uyah, atau bahasa orang kulon disebut generalisasi atau generalisir. Generalisasi adalah proses penalaran yang membentuk kesimpulan secara umum melalui suatu kejadian, hal, dan sebagainya. Generalisasi seperti ini sama seperti manusia (termasuk kalian gaes) sama seperti monyet hanya karena sama-sama mahluk hidup yang berkaki 2, 

Kira-kira kayak gitulah penjelasan kekeliruan teori generalisasi kalo diterapkan pada kasus manusia – monyet. Nah, rupa-rupanya teori generalisasi itu juga yang dipake untuk membuat sebuah kesimpulan ‘Islam itu teroris’. Kita ingat beberapa waktu lalu lagi rame opini tentang ‘celana cingkrang’ dan ‘cadar’ disebut-disebut sebagai ciri teroris. Sontak, rame-rame orang protes dong, sama protesnya kalo kita disebut monyet gegara memiliki ciri yang sama sebagai mahluk berkaki dua. Padahal bisa jadi celana cingkrang adalah bagian dari mode, bahkan gaya kekinian modis seperti yang dipraktekkan opa-opa korea ya celana cingkarang itu. Apa iya para opa-opa korea itu mau disebut teroris? Pasti, hanya orang yang konslet otaknya aja, kalo ada yang bilang gitu.


Virus Islamophobia!

Coba kalo kita baca berita di belahan bumi yang lain, misalnya baru-baru ini beredar video penganiayaan seorang muslimah berjilbab di sebuah kafe, di Australia. Lalu di Norwegia, berita terbaru ada sekolompok aktivis berdemo sambil membakar al-qur’an.  Sebelumnya juga sempat gempar aksi penembakan di Masjid Al Noor dan Linwood, kota Christcruch, Selandia Baru yang menewaskan 49 kaum muslim. 


Penggunaan idiom ‘islam teroris’ di Barat maupun di seluruh dunia, popular sejak peristiwa tragedi WTC pada 11 September 2001 lalu, komunitas Islam disebut sebagai penyebab tragedi itu, walaupun fakta dan bukti korelasi hal tersebut nggak lebih hanya sebuah tuduhan, yang nggak pernah ada bukti nyatanya. 


Tapi opini sudah terlanjur menggelinding, apalagi diserukan oleh negara dengan presidennya waktu itu George W Bush, dengan pilihan kepada siapapun wa bil khusus umat muslim, disuruh milih antara carrot or stick. Carrot (wortel) maksudnya, kalo mau bersama Amrik, kalian aman dan akan dikasih ‘perlindungan’. Tapi kalo kamu kamu nggak setuju alias nggak pro kebijakan anti teroris akan dikasih Stick alias pukulan, yang artinya kalian akan ditindak mulai dari dicap pro teroris atau teroris itu sendiri. Sejak saat itulah kampanye war on terrorism dikumandangkan, yang nggak lain sasaranya udah pasti umat Islam.


Akhirnya, Barat yang mayoritas non muslim, dengan adanya kampanye itu, bagi sebagian orang Barat membuat mereka anti terhadap Islam alias islamophobia. Jadi semenjak saat itu sampe sekarang virus islamophobia itu masih berjangkit, dan suatu waktu bisa tetiba aja dihembuskan, seperti contohnya peristiwa-peristiwa yang disebut di atas tadi. Sehingga bisalah ditarik kesimpulan sebutan “islam teroris” itu muncul karena Islamophobia, yang islamophobia itu sendiri merupakan akibat dari agenda Barat memerangi Islam, karena sejatinya Islam nggak pernah menebarkan terror seperti yang dituduhkan pada peristiwa 911.


Perang Peradaban Barat Versus Islam

Pernah dengar kata “kebarat-baratan” kan? Nah, begitulah Barat diidentikan dengan gaya hidup, pandangan hidup, dan sejenisnya dari suatu kaum tertentu. Siapa yang biasa disebut mewakili Barat? Tak lain negara-negara Eropa dan Amerika. 


Perseteruan pemikiran antara Barat dengan Islam dalam catatan sejarah, sangat meruncing tatkala Negara-negara Eropa, terutama Perancis mencoba keluar dari apa yang mereka sebut The Dark Age alias masa gelap Eropa, lalu berlanjut ditandai dengan kebangkitan Eropa yang disebut Renaisance. Kebangkitan Eropa ini nggak lain terpicu oleh kemajuan yang sangat pesat, sebelumnya yang dialami oleh dunia Islam saat itu. Islam saat itu menemui puncak kejayaannya, penemuan, para ilmuwan bahkan wilayah futuhat sudah memasuki Spanyol di Eropa. 


Kemajuan dunia Islam saat itu dicontek abis oleh Eropa, apalagi saat Perang Salib telah terjadi berabad-abad, ditambah gempuran dari pasukan Tartar kepada Daulah Islam, maka lengkaplah penderitaan kaum muslimin saat itu. Hinga akhirnya berpuncak runtuhnya kekuasaan kaum muslimin di Turki tahun 1924. Jadi, kalo berbicara perang peradaban (ghazwul fikri) keberlangsungannya sudah berabab-abad silam dimulainya.


Disisi yang lain, menurut Syaikh Taqiyudin An-Nabhani dalam bukunya Daulah Islam menyebutkan, Barat (Eropa) saat itu telah dengan sengaja memerangi dunia Islam dengan serangan misionarisnya yang mengatasnamakan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan. Gerakan misionaris merangsek ke tubuh kaum muslimin sambil menyerukan gerakan kesukuan Arab dan Turki. Misi mereka saat itu ada 2 (dua), yakni: (1) Memisahkan Arab dari Turki sebagai pusat Daulah Ustmaniyah; (2) Menjauhkan kaum muslimin dari ikatan yang hakiki, yakni ikatan Islam. Berkat gerakan inilah muncul fanatisme yang memecah kesatuan umat Islam, sehingga buta terhadap ideologi Islam.


Sobat, dengan dipaparkannya secuil fragmen dimulainya perang peradaban di atas, menjadikan kita ngeh bahwa memang ghazwul fikri itu benar-benar ada, bukan mengada-ada. Pertarungan antara haq dan batil itu sudah berlangsung lama dan ternyata kita berada di dalam arena peperangan itu, tanpa menyadari kita menjadi bagian yang ikut diserang. Maka kalo kita sudah ngeh akan adanya perang peradaban, maka setelah ini berarti kita tidak bisa santai-santai saja memandang Barat hanya sebatas film-film bioskop yang sudah kita lihat semenjak kita kecil, akan tetapi kita harus memandang Barat, dengan pandangan yang waspada.


Barat yang dimaksud di sini tentu saja peradabannya, bukan sementah-mentahnya tekhnologinya. Jangan gegara kita harus waspada terhadap Barat, lalu kita juga anti terhadap tekhnologi yang diciptakan oleh orang-orang Barat. Jadi yang lebih kita waspadai tentu saja ada produk-produk pemikiran Barat yang notabene sekuler, yakni memisahkan agama untuk mengatur kehidupan, untuk kita ambil dan adopsi sebagai life style maupun sebagai way of life kita sebagai seorang muslim. Dengan cara pandang perang seperti itulah seharusnya kita memposisikan diri, sebagaimana Barat pun tetap akan setia memposisikan Islam sebagai musuh peradabannya dalam salah satu kampanyenya war on terorisme. 


Islam Nggak Pernah Ngajarin Teror

Kalo dituduh Islam itu teroris, artinya kan itu menuduh ajaran Islam, mulai dari akidah sampe syariat ngajarin untuk menteror. Padahal kalo mau jujur, coba cari aja 1 aja ajaran Islam yang mengajak umatnya untuk melakukan terror?! Nggak akan pernah ditemukan ajaran itu, paling-paling menemukan yang selama ini dituduh mengajarkan aksi terorisme yaitu ajaran jihad. Padahal jihad bukan dan tidak sama sekali mengajarkan aksi terror, karena merupakan ajaran mulia yang berasal dari Allah rabbul alamin, pencipta seluruh umat manusia. Maka adalah logis dan konsekuen dong, kalo kita menerapkan ajaran yang memang diperintahkan oleh Dzat yang menciptakan kita. 

“Hai orang-orang beriman, apabila kamu bertemu orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur).” (QS. Al-Anfaal : 15)


Jihad itu sendiri dilakukan sebagai nasrul islam ilal alam alias menyebarkan Islam ke seluruh dunia. Dan pada faktanya ajaran jihad itu beda banget dengan imperialisme yang dilakukan Barat. “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 193)


Jadi, jihad itu bukan penjajahan sebagaimana imperialisme yang dilakukan Barat, taruh aja contoh Amrik menjajah Irak dengan alasan bom nuklir bawah tanah yang disimpan Saddam Husein, yang nggak pernah ada buktinya tuduhan itu. Jihad nggak kayak gitu. Kalo pun memang jihad itu diidentikan dengan perang, maka jihad itu ada semacam adab-adabnya, nggak sebagaiman perang pada umumnya. “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampui batas” (QS. Al-Baqarah : 190)

“Berjalanlah dengan menyebut nama Allah dan di jalan Allah, perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah. Janganlah mecincang (mayat) dan janganlah berbuat curang serta jangan membunuh anak kecil” (HR Muslim 1731)


Dari penjelasan mengenai jihad adan adabnya di atas, jelas sekali kalo tindakan seperti peledakan bom ataupun bom bunuh diri bukan di dalam wilayah perang, seperti di Indonesia atau negara lainnya bukanlah termasuk jihad fi sabilillah. Alasannya: (1) Tindakan tersebut dilakukan bukan dalam wilayah perang; (2) Tindakan tersebut nyata-nyata telah mengorbankan banyak orang yang seharusnya tidak boleh dibunuh. Tindakan ini haram dan termasuk dosa besar (QS al-Isra’ [17]: 33; QS. an-Nisa’ [4]: 93; QS an-Nisa’ [4]: 29). (3). 


Tindakan teror seperti peledakan bom, jujur aja menimbulkan fitnah besar bagi umat Islam. Digeneralisir seolah-olah itu Islam dan Islam terkait dengan terorisme. Di sisi yang lain memang ada upaya jahat untuk menjadikan aksi peledakan bom itu mengarah kepada Islam dan kaum muslimin. Sehingga kita memang harus waspada, Islam itu sejatinya bukan teroris, jihad juga bukanlah terorisme. Jika ada yang menjadikan ajaran jihad sebagai tertuduh dan dituduh mengajarkan terorisme. Itu Jahat! []


***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Selasa, 03 Desember 2019

AKU ANAK SHOLIH!!





Dunia anak, dunianya bermain. Masa anak-anak memang saat di mana kita cuma ngerasain yang happy-happy aja, main bareng temen, dan belum ada beban hidup yang berarti kecuali merengek karna ingin sesuatu. Setiap dari kita pasti punya cerita seru sewaktu anak-anak yang masih diingat sampai sekarang. 

Bicara soal anak, kalau dalam undang-undang seseorang yang di bawah 18 tahun masih terkategori anak. Ups, berarti kamu yang masih berseragam putih biru dan putih abu masih tergolong anak ya... Eits, tapi bukan berarti kamu auto jadi anak-anak lagi, ngga mau sekolah trus pengennya maen melulu. Inget guys, dalam Islam ketika kamu telah baligh di situ kamu sudah dituntut untuk dewasa dalam berpikir dan berperilaku sesuai dengan tuntunan Islam. 

Meski kita pahami usia berapapun kita tetaplah anak bagi orang tua, yang dari kitalah orang tua tak mengharapkan apapun kecuali anaknya menjadi anak yang sholih/sholihah. “Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh”. (TQS. Ash Shaffaat: 100). Perjuangan dan pengorbanan orang tua dari mulai kita masih di kandungan sampai besar tentu sulit bahkan tidak bisa kita membalasnya. Namun, menjadi anak yang menyejukkan hati orang tua (qurrota’ayun) tentu menjadi hal yang diharapkan oleh semua orang tua. Menurut Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu berkata qurrota’ayun adalah keturunan yang mengerjakan keta’atan sehingga dengan keta’atannya itu membahagiakan orang tuanya di dunia dan akhirat. 

Hai Kids, How Are You??

 Focus. Let’s the picture. Gimana potret anak negeri ini dan dunia?  Dalam hal penjaminan perlindungan anak sepertinya masih menemukan rintangan besar. Di mana, anak-anak justru kian rentan menjadi korban kekerasan. Tengok saja hasil Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) yang dirilis Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) pada 2018 lalu. Survei menunjukkan, 2 dari 3 anak dan remaja di Indonesia pernah mengalami kekerasan sepanjang hidupnya. Apa yang dialami anak itu meliputi kekerasan seksual, kekerasan emosional, dan kekerasan fisik. Sebagian kekerasan bahkan dilakukan oleh lingkungan terdekat, termasuk keluarga. Tak cuma menjadi korban, survei juga menemukan anak sebagai pelaku kekerasan. Sebanyak 3 dari 4 anak melaporkan pernah melakukan kekerasan emosional dan fisik terhadap teman sebaya. Untuk kesejahteraan, ternyata mengejutkan bahwa fakta anak Indonesia ternyata masih mengkhawatirkan. 

Mengenai kemiskinan anak dan deprivasi hak-hak dasar anak di Indonesia yang dirilis oleh BPS (Badan Pusat Statistik) menyatakan bahwa masih banyak anak yang hidup di garis kemiskinan. Lebih dari separuh anak Indonesia atau sekitar 57% masih hidup miskin. Hal ini tentu, berbanding lurus dengan jaminan pendidikan bagi anak Indonesia. Pendidikan yang seharusnya adalah hak bagi anak Indonesia namun tak semua anak bisa mendapatkannya. Sebanyak lima juta anak di Indonesia (sebagian besar berasal dari daerah terpencil), tidak memperoleh kesempatan bersekolah ataupun memperoleh pendidikan.  Angka anak putus sekolah pun masih mengkhawatirkan. Dari data yang dimiliki Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), jumlah anak usia 7-12 tahun di Indonesia yang tidak bersekolah berada di angka 1.228.792 anak. Untuk karegori usia 13-15 tahun di 34 provinsi, jumlahnya 936.674 anak. Sementara usia 16-18 tahun ada 2.420.866 anak  yang tidak bersekolah. 

Anak Indonesia dalam jebakan dekadensi moral. Generasi Z yang terlahir dengan kecanggihan teknologi membuat mereka ketagihan berlama-lama dengan gawai (gadget)nya dengan tanpa batasan yang jelas apalagi pemahaman yang benar bagaimana memanfaatkan teknologi ini. Yang diketahuinya bahwa menggenggam smartphone adalah “kewajiban” bagi kids jaman now. Padahal, ancaman sedang mengintai mereka tanpa disadari. Berselancar di dunia maya dengan melewati batas ruang dan waktu, seolah dunia ada dalam genggaman. Mungkin jika ada orang yang jahat datang ke rumah, orang tua kita pasti serta merta menolak bahkan mengusirnya. Namun, apa daya kebanyakan orang tua masih lalai dengan membiarkan anaknya bebas menggunakan gadget padahal ancaman dan bahaya dengan sangat mudah masuk dan mempengaruhi anak-anak. Lihat saja, anak sekolah dasar begitu sangat luwes melakukan aktifitas pacaran tanpa malu. 

Tentu apa yang mereka lakukan hasil copy paste dari yang mereka lihat. Dari mulai gandengan tangan, peluk, saling mengungkapkan cinta bahkan dengan polosnya mereka menggunakan sebutan “ayah, bunda”. Sampai sini, apa masih ada yang menganggap ini hal lucu yang dilakukan anak-anak? Oh big no, ini adalah sinyal gawat darurat yang harus menjadi perhatian dan penanganan serius dari berbagai kalangan di negeri ini. Meski sangat disayangkan dan disesalkan jika kita mendengar statement dari seorang tokoh nasional yang mengatakan bahwa mendidik anak sekolah dasar bagaimana menjaga diri dengan tidak bersentuhan dengan lawan jenis (yang bukan mahrom) seolah lebih dianggap bibit radikal yang harus mendapat perhatian serius dibanding dengan anak-anak yang terpapar virus liberalisme.

 Sedikit mengintip potret anak di belahan dunia lain agar kita pun meluaskan pandangan terhadap kondisi anak di belahan dunia lain. Anak-anak yang khususnya berada di daerah konflik bahkan peperangan tentu sangat memilukan hati, jangankan untuk bersekolah dan hidup sejahtera, makan layak sekedar untuk bermain saja sungguh sangat sulit mereka lakukan. Di usianya yang sangat mungil mereka harus kuat menahan perihnya lapar dan untuk menyambung hidup terpaksa memakan rumput karna tidak adanya makanan yang layak. Bukan indahnya kembang api yang mereka lihat tapi langit negeri mereka merah menyala dari dentuman bom yang dilemparkan oleh kafir penjajah.  

Mungkin teman-teman pernah mendengar bait senandung lagu nan memilukan hati berjudul Athuna al Thufuli yang berarti Beri Kami Masa Kecil. Dari lagu ini betapa begitu mendalam rasa kesedihan dan penderitaan dari anak-anak di Suriah, Palestina, dan anak anak lainnya di sekitar Timur Tengah. Kutipan terjemahan liriknya “Aku adalah seorang anak yang ingin menyampaikan sesuatu. Tolong dengarkan aku. Aku adalah seorang anak yang ingin bermain. Kenapa tidak kau biarkan aku”. Jangankan untuk riang bermain, mereka harus menerima sulit dan perihnya bertahan hidup dalam kondisi diperangi. 

Back To Fitrah : Be Sholih

  Dari Abu Hurairah radhiyallohu‘anhu berkata, Nabi SAW bersabda, “Tidaklah ada dari bayi yang lahir melainkan terlahir di atas fitrah. Lalu kedua orang tuanya lah yang meyahudikannya, menashranikannya, atau memajusikannya. Sebagaimana seekor binatang yang melahirkan binatang dengan anggota tubuh yang sempurna. Adakah kalian mendapatinya cacat?” Lalu Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu membaca, “(Tetaplah pada) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia di atas fitrah itu.” (HR. Bukhori).  Ya, setiap yang terlahir ke dunia pada hakikatnya dalam keadaan fitrah. Maka menjadikan anak tetap berada pada kefitrahannya adalah sebuah keharusan. Agar kelak sang anak berjalan di bumi Allah ini dengan lurus dan selamat.

Mengenalkan tentang Tuhannya (Allah) sedari dini tentu akan menempa diri anak-anak sebagai muslim yang membanggakan, yaitu anak yang sholih/sholihah. Mungkin teman-teman sewaktu PAUD atau Taman Kanak-Kanak pernah menyanyikan yel-yel tepuk anak sholih “Aku prok.prok..prok .. Anak Sholeh prok.. 3x Rajin Sholat prok..3x Rajin ngaji Prok..3x cinta islam prok..3x sampai mati. Lailaahaillallah, muhammadur rosululloh Islam.. Islam yss”. 

Lirik yang sederhana namun sebenarnya penuh makna, ciri waladan sholih (anak sholih) adalah yang tertanam dalam hati dan benaknya iman kepada Allah dan RasulNya, seperti yang ditanamkan Luqman kepada anaknya agar tidak menyekutukan Allah  “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.” (QS. Lukman: 13).

Selain itu taat dan tunduk kepada segala perintah Allah SWT dengan rajin sholatnya, rajin ngaji dan mengkaji isi al qur’an, berbakti kepada kedua orang tua “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS. Lukman: 14).

Dan senantiasa mencintai Islam sebagai way of life dan bangga menjadi seorang muslim/muslimah. Menjadi generasi Z yang sholih/sholihah saat ini memang tidaklah mudah meski bukan berarti sulit dan tidak bisa, selama keimanan dan ketaqwaan terus kokohkan sebagai benteng dari serangan pemikiran dan budaya barat yang akan melemahkan jiwa dan raga generasi muslim sebagai umat terbaik. Maka, membersamai hidup dengan ilmu Islam adalah sebuah keniscayaan yang harus dilakukan oleh kita semua sebagai generasi pemimpin masa depan. So, cintailah ilmu sibukkan diri dengan hal-hal yang positif dan berrmanfaat. Jangan mudah terpengaruh dan rapuh dengan label-label yang tak mendasar dan tak bertanggung jawab yang ditujukan bagi mereka yang bergiat dalam kesholihan. Stay focus to be sholih!!