Rabu, 27 November 2019

GURUKU PAHLAWANKU





Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru

Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku

Sebagai prasasti terima kasihku

Tuk pengabdianmu


Lirik lagu wajib nasional ciptaan Pak Sartono di atas kerap diperdengarkan dalam momen pendidikan. Termasuk saat peringatan hari guru nasional setiap tanggal 25 November. Kalo udah dengerin lagu Hymne Guru ini, tak terasa merembes mili. Haru. 


Peran guru pada kehidupan kita selalu terukir  dalam sanubari. Tak terlupakan jasa mereka yang telah mengajarkan kita kemampuan calistung alias membaca, menulis, dan berhitung saat kita mengenyam pendidikan di sekolah dasar. Begitu juga dengan guru-guru kita di tingkat SMP atau SMA yang sering dibikin jengkel, marah, bahkan menangis oleh perilaku nakal kita. Namun mereka tetap bersabar dan terus ngajarin kita. Maafin kita ya Pak, Bu..


Pahlawan Tanpa Tanda Jasa


Sebutan pahlawan bukan cuman untuk mereka yang ikut berperang melawan penjajah. Tapi juga mereka yang dengan sabar dan tabah dalam pengabdiannya berusaha sekuat tenaga mencerdaskan kita-kita. Merekalah guru-guru kita, pemberi ilmu dengan biaya ikhlas tanpa kenal waktu.


Tanpa guru, hidup kita bisa mati kutu dan tak berarti karena minim ilmu. Meski era teknologi memungkinkan kita dapat banyak informasi tanpa harus bertanya pada guru, sosok guru bagi kita tetap tak tergantikan.


Guru yang turut membentuk pondasi keilmuan dan karakter kita. Jika tidak ada guru, kita tidak bisa menjadi apa-apa di masa depan. Selama 12 tahun guru-guru membimbing kita agar memiliki mental pembelajar yang pantang menyerah. Mereka dengan sabar ngajarin kita apa yang belum dimengerti. Mereka sering jadi tempat bertanya, tak hanya dalam urusan pelajaran tapi juga masalah keseharian. Karena mereka sudah banyak makan asam garam kehidupan dibanding kita yang baru seumur jagung. 


Guru ngajarin kita untuk taat pada aturan. Belajar disiplin. Sebuah pembiasaan yang akan menjaga kita dari perilaku tak terpuji di hari depan nanti. Untuk itu, setiap guru punya cara-cara yang berbeda. Ada beberapa yang punya cara keras, ada yang punya cara lembut. Namun, apapun caranya percayalah kalau mereka hanya mau mendidik kita untuk jadi pribadi yang lebih disiplin dan lebih baik.


Kalo kita nggak ngerjain tugas, terlambat masuk, atau bolos terus ditegur oleh guru, itu tanda mereka sayang dan peduli sama kita. Ngeri kalo kita berbuat salah terus guru cuek aja lantaran kita sering nggak terima kalo ditegur. Bisa berabe masa depan kita. Kita nggak belajar dari kesalahan dan akan tumbuh menjadi pribadi yang arogan. Sok jagoan. 


Padahal, di dunia kerja kelak kita akan berhadapan dengan banyak aturan. Begitu juga saat kita membangun rumah tangga. Semuanya ada aturan yang mesti kita taati agar hidup kita punya arti. 


Guru adalah bagian dari hidup kita. Mereka adalah orang tua kedua kita. Banyak unforgetable moment bersama mereka yang tersimpan dalam memory otak kita. Mereka bukan pribadi egois yang cuman ngajar karena tuntutan profesi. Mereka gelisah kalo muridnya bermasalah. Baik dalam urusan akademis atau  keluarga. Mereka khawatir kalo muridnya sakit, atau tak masuk sekolah tanpa kabar. Karena mereka menyayangi muridnya sama seperti mereka menyayangi anak-anaknya sendiri. Entah apakah kita sekhawatir itu kalo guru kita sakit, atau malah teriak kegirangan karena ada jam kosong. 


Guru-guru tak berlepas tangan dengan masa depan kita. Mereka menaruh harapan besar kesuksesan dapat kita raih di masa depan. Untuk itu mereka ngajarin dan ngedoain kita tanpa lelah. Bukan materi atau banjir pujian yang mereka perjuangkan. Mereka akan sangat bahagia jika melihat anak-anak muridnya sukses. Sebab, dengan begitu mereka tahu kalau didikan mereka berguna dan bisa membuat kamu mengharumkan nama orangtua dan sekolah. Bahkan dengan kesuksesan kamu ini, guru tidak meminta pamrih, loh. Merekalah pahlawan tanpa tanda jasa namun berlimpah doa. 


Penghargaan Islam terhadap Guru


Dalam Islam, guru memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan mulia di sisi Allah SWT. Lantaran guru dengan keilmuannya yang bisa mengajar anak didik agar cerdas secara akademik dan terbangun kepribadian islamnya. Nggak heran kalo pemerintahan Islam, sangat menghargai profesi guru. Tak sekedar dikalungkan gelar pahlawan tanpa tanda jasa, tapi jamina kesejahteraan hidupnya. Tanpa membedakan apakah guru PNS atau honorer. Sama mulianya. 


Sejarah telah mencatat bahwa guru dalam naungan Pemerintahan Islam mendapatkan penghargaan yang tinggi dari negara termaksud pemberian gaji yang melampaui kebutuhannya. Diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah, dari Sadaqoh ad-Dimasyqi, dar al- Wadl-iah bin Atha, bahwasanya ada tiga orang guru di Madinah  yang mengajar anak-anak dan Khalifah Umar bin Khattab memberi gaji lima belas dinar (1 dinar = 4,25 gram emas; 15 dinar = 63,75 gram emas; bila saat ini 1 gram emas Rp. 500 ribu, berarti gaji guru pada saat itu setiap bulannya sebesar 31.875.000).


Asyik banget ya, dalam naungan Pemerintahan Islam yang dipimpin oleh seorang Khalifah para guru akan terjamin kesejahteraannya sehingga dapat memberi perhatian penuh dalam mendidik anak-anak muridnya tanpa harus dipusingkan lagi untuk membagi waktu dan tenaga demi  mencari tambahan pendapatan. Tidak hanya itu, negara/pemerintahan Islam juga menyediakan semua sarana dan prasarana secara cuma-cuma dalam menunjang profesionalitas guru menjalankan tugas mulianya.


Sehingga selain mendapatkan gaji yang besar, mereka juga mendapatkan kemudahan untuk mengakses sarana dan prasarana untuk meningkatkan kualitas mengajarnya. Hal ini tentu akan membuat guru bisa fokus untuk menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan pencetak SDM berkualitas yang dibutuhkan negara untuk membangun peradaban yang agung dan mulia.


Baktiku Untuk Guru-guruku


Sebagai seorang murid, bentuk bakti kita pada guru bisa dilakukan dengan bercermin pada adab para ulama dalam menutut ilmu. Sehingga mereka tumbuh menjadi tokoh-tokoh Islam yang dikenal karena ketinggian ilmunya. Apa aja sih yang dilakukan para ulama saat belajar pada guru-gurunya? 


Pertama, fokus dengerin penjelasan guru. 


Ibnul Jamaah mengatakan, “Seorang penuntut ilmu harus duduk rapi, tenang, tawadhu’, mata tertuju kepada guru, tidak membetangkan kaki, tidak bersandar, tidak pula bersandar dengan tangannya, tidak tertawa dengan keras, tidak duduk di tempat yang lebih tinggi juga tidak membelakangi gurunya”.


Kedua, berbicara sopan kepada guru. 


Para Sahabat Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam, muridnya Rasulullah, tidak pernah kita dapati mereka beradab buruk kepada gurunya tersebut, mereka tidak pernah memotong ucapannya atau mengeraskan suara di hadapannya. Bahkan Umar bin khattab yang terkenal keras wataknya tak pernah meninggikan suaranya di depan Rasulullah. 


Ketiga, manfaatkan waktunya bertanya untuk memperbanyak ilmu. 


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS. An Nahl: 43).


Bertanyalah kepada para ulama, begitulah pesan Allah di ayat ini, dengan bertanya maka akan terobati kebodohan, hilang kerancuan, serta mendapat keilmuan. Tidak diragukan bahwa bertanya juga mempunyai adab di dalam Islam. Para ulama telah menjelaskan tentang adab bertanya ini. Mereka mengajarkan bahwa pertanyaan harus disampaikan dengan tenang, penuh kelembutan, jelas, singkat dan padat, juga tidak menanyakan pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya.


Keempat, sabar dalam membersamai sang guru. 


Kalo kamu kena teguran karena tak mengerjakan tugas? Dapat hukuman lantaran bercanda kelewatan? Atau kena sentil karena gangguin teman? Woles aja. Meski sakit hati, bikin malu, dan ngerasa nggak nyaman, tetap bersabar dan jangan pernah berpaling dari kebaikan guru. Apalagi sampai bertindak kasar dan melawan. Nggak banget. 


Al Imam As Syafi Rahimahullah mengingatkan, “Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru. Sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya”


Begitulah cara orang-orang terdahulu mendapatkan keberkahan ilmu dengan memuliakan gurunya. Mencintai ilmu berarti mencintai orang yang menjadi sumber ilmu. Menghormati ilmu berarti harus menghormati pula orang yang memberi ilmu. Itulah guru. Tanpa pengajaran guru, ilmu tak akan pernah bisa didapatkan oleh si murid.


Seorang ulama, DR. Umar As-Sufyani Hafidzohullah mengatakan, “Jika seorang murid berakhlak buruk kepada gurunya maka akan menimbulkan dampak yang buruk pula, hilangnya berkah dari ilmu yang didapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya, atau tidak dapat menyebarkan ilmunya. Itu semua contoh dari dampak buruk.”


Kelima, jadilah investasi kebaikan bagi guru di akhirat nanti. 


Mungkin kita nggak bisa memberi hadiah berupa materi, atau mrngajak para guru untuk menunaikan umroh bersama, tapi kita bisa melakukan yang lebih baik dari itu. Seriusan? 


Yup, jadilah pribadi mulia yang akan menjadi investasi kebaikan bagi guru-guru kita di akhirat dengan memanfaatkan ilmu yang kita timba dari mereka. Imam Syafi’ie menasihati kita para pemburu ilmu, “Ilmu adalah yang bermanfaat dan bukan hanya dihafalkan” (Siyar A’lamin Nubala, 10: 89).


Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang semakin membuat seseorang semakin mengenal Rabbnya, tidak menjadikannya sombong di hadapan yang lain dan tidak digunakan untuk membodoh-bodohi orang lain.


Untuk itu, mari ikut ambil bagian dalam barisan pengemban dakwah Islam. Semoga jalan kemuliaan itu tak hanya mengantarkan kita pada pintu surga, tapi juga mengalirkan pahala yang tak putus untuk guru-guru kita. 


Berbahagialah selagi masih ada guru yang sabar mengajari kita. Jangan pernah melupakan kebaikan para guru yang dengan telaten membimbing kita. Mereka yang telah mengantarkan kita pada titik ini dan kelak pada puncak keberhasilan di dunia dan akhirat. Seperti kata group band Radja, ‘Aku ada karena kau pun ada....’. 


Mari kita panjatkan doa semoga Allah swt senantiasa melimpahkan keberkahan pada guru-guru kita di dunia dan akhirat. Peluk erat dan salam takzim untukmu pahlawanku. Selamat hari guru...


***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Jumat, 22 November 2019

FATHER'S DAY



Kayaknya, nggak semua pada ngeh ya, kalo ada ‘hari ayah’. Masyarakat sih kenalnya ‘hari ibu’, tapi kalo ‘hari ayah’ banyak yang belum tahu. Yups, itu wajar sih, karena memang ‘hari ayah’ ini, wa bil khusus di Indonesia sendiri baru diperingati tahun 2006, saat masa pemerintah presiden SBY. Kalo di dunia internasional sendiri, yang namanya “father’s day” banyak versinya dari masing-masing negara, dan berbeda-beda pula tanggal peringatannya.

Di negerinya penggemar tempe ini, hari ayah diperingati tanggal 12 November. Sementara di negara tetangga Australia, udah dimulai lebih dulu tanggal 1 September. Di negara para Avenger di Amrik, hari ayah diperingati setiap tanggal 20 Juni. Menurut situs Wikipedia, paling banyak negara yang memperingati hari ayah-nya pada tanggal 17 Juni. Tapi jangan pusing ya, dengan berbedanya tanggal dari masing-masing negara memperingati hari ayah, karena emang untuk peringatan hari ibu alias mother’s day pun masing-masing negara juga berbeda penyebutannya.

Tapi bukan masalah itu sih sebenarnya yang kita mau bahas di buletin yang dinanti-nanti setiap terbitannya ini. Kita juga nggak sedang membahas tentang hukum memperingati hari “father’s day” yang memang merupakan lahir dari budaya dan inisiatif masing-masing negara. Lebih tepatnya, bahasan kita kali ini, mau menjadikan moment tersebut untuk mengingat-ingat peran, jasa dan gimana seharusnya kita sebagai anak, menghormati sosok seorang ayah. Kuy-lah, simak sampe tuntas buletin kece ini…

Father, Part of Parent

Kalo selama ini kita disibukkan atau diributkan dengan ‘hari ibu’, maka kayaknya nggak adil kalo ayah juga nggak dikasih porsi untuk diperhatikan. Bukan apa-apa, ayah kan juga bagian dari orang tua, sehingga ketika kita menghormati ibu, memang seharusnya kita juga kudu menghormati ayah.

Dalam Al-Qur’an surat Al-Ahqaaf ayat ke 15 Allah SWT berfirman : “Kami perintahkan pada manusia supaya berbuat baik pada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, serta melahirkannya dengan susah payah (juga). Mengandungnya hingga menyapihnya yaitu tiga puluh bulan, sehingga jika dia sudah dewasa serta umurnya hingga empat puluh tahun ia berdo’a : “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang sudah Engkau berikan kepadaku serta pada ibu bapakku serta agar aku bisa berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) pada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat pada Engkau serta sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri,” (Qs. Al-Ahqaaf : 15).

Dalam rentetan sejarah yang diceritakan di dalam al-qur’an, peran ayah juga nggak sedikit disebut. Seperti misalnya, secara khusus diceritakan bagaimana keluarga Lukmanul al-Hakim mendidik anak-anaknya. Allah Ta’ala menceritakan kisah Luqman Al Hakim dalam surat Luqman ayat 13 sampai 19, ketika ia memberikan nasehat yang berharga kepada anaknya:
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”” (QS. Luqman: 13).

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS. Luqman: 14).

Itulah salah satu kisah yang diceritakan dalam al-Qur’an, seorang ayah yang bukan nabi atau rasul, tapi diceritakan bagaimana posisinya sebagai ayah mendidik anak-anaknya. Nah, dari sini emang kita nggak bisa anggap sepele peran ayah (disamping ibu) menyiapkan masa depan anak-anaknya. Maka kalo hormat, patuh, taat pada ibu, begitulah seharusnya juga kita perlakukan ayah kita.

Ayah dan ibu itu satu kesatuan, lihatlah di QS Lukman ayat 14 tadi, meskipun di kalimat sebelumnya disebutkan peran ibu yang telah mengandung, tapi di akhir ayat ditutup dengan penyebutan ibu-bapakmu. Dan emang pada kenyatannya, ayah dan ibu itu kan saling support dan saling melengkapi dalam mengasuh dan mendidik kita sebagai anaknya. Jadi, kalo ibu kita, perannya memang lebih banyak ke soal pengasuhan, tapi kalo ayah karena tugas atau kewajibannya mencari nafkah, maka interaksinya dengan kita tidak seintens ibu.

Bukan berarti ayah, nggak berperan. Justru, kalo kita tahu, ibu kita, cara ngasuhnya sampe cara ngomongnya ke kita, itu juga hasil obrolan ayah dan ibu kita. Itu artinya, ayah sebenarnya mau ngomong ke kita langsung, tapi ayah lebih suka, kalo ibu yang menyampaikannya ke kita. Kalo nggak percaya, coba deh boleh nanya ke ibunya yang di rumah, bener atau nggak sih kayak gitu.

So gaes, mulai sekarang nggak usah ya, dibeda-bedain antara ayah dan ibu, peran keduanya, atau masing-masing dalam hidup kita sangat besar. Emang sih, Rasulullah sendiri juga berpesan agar menghormati ibu, bahkan sampe disebut 3 kali, baru kemudian disebut ayah. Tapi bukan berarti, ayah nggak penting. Tentu aja penting dong, karena nggak akan ada kita, kalo nggak ada peran ayah.

Father, a Son’s First Hero

Kalo boleh diibaratkan ayah, bagi seorang anak, beliau itu kayak sesosok pahlawan yang punya dua pedang. Pedang pertama adalah perang perak, dimana pedang itu menggambarkan posisi ayah sebagai pemimpin tertinggi di rumahnya. Ayah memiliki peran penting, gimana keluarga atau anak-anaknya itu mau dibentuk. Dalam Al Quran, Allah juga telah menggariskan tugas setiap lelaki beriman.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka yang selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At Tahrim: 6).

Rasulullah saw juga bersabda: “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya. Seorang lelaki adalah pemimpin bagi anggota keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya atas mereka.” (HR Muslim).

Trus, pedang kedua, adalah pedang emas, dimana ini menggambarkan seorang ayah sebagai seorang yang merupakan “sumber” yang dapat mengalirkan kasih yang dibutuhkan seluruh keluarganya. Dalam hal ini Rasulullah SAW, mengingatkan kita pada sebuah hadits: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku” (HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Nah, tinggal kita nih sekarang, memposisikan kita sebagai orang yang dididik oleh seorang ayah yang memiliki ‘dua pedang’ tersebut. Sangat bersyukurlah kalo kita dikaruniai seorang ayah mampu mendidik, mengasuh kita dengan penuh kesempurnaan sebagaimana digariskan oleh Islam. Namun, kalo ada diantara man-teman pembaca yang belum dikarunia ayah yang demikian, tentu kita tetap harus taat kepada beliau, sang ayah, selama tidak mengajak kepada kemaksiatan. Sebagaimana Allah sampaikan dalam firman-Nya:

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik,” (QS. Luqman: 15).

Hal ini dikuatkan oleh hadits: “Tidak ada ketaatan dalam bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam perkara yang ma’ruf (baik)” (HR. Al Bukhari, Muslim).

Bagi man-teman yang secara qadarallah sudah ditinggal oleh ayahnya, maka nggak ada yang paling membahagian bagi beliau di tempat peristirahatnya, kecuali kita mempersembahkan diri kita sebagai anak sholeh. Itulah persembahan dan balasan terbaik buat ayah kita, ketika beliau masih hidup maupun ketika sudah meninggal.

“Apabila manusia mati maka amalnya terputus kecuali karena tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakan orang tuanya.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud).

Begitulah sosok ayah memang identik dengan dua pedang tadi, beliau pelindung keluarga, he’s hero. Karena itu sosok ayah, di satu sisi itu lebih protektif, dibanding ibu. Tapi disisi lain, ayah juga biasanya lebih baik dan lebih bisa percaya bahwa buah hati mereka mampu melakukan dan bisa belajar mandiri. Dan sifat kayak gitu, biasanya akan lebih disukai oleh anak perempuannya. Makanya bagi seorang anak perempuan, ayah itu adalah cinta pertamanya. Tapi jangan salah, sifat protektif dan mandiri itu juga biasanya ngalir ke darah anak laki-lakinya. Nah, kamu pembaca buletin ini, khususnya yang cowok merasa kayak gitu nggak? Hehe…

Everyday Is Father’s Day

Sekali lagi, nggak perlu dibanding-bandingkan dengan ibu, sebaliknya ayah kudu disandingkan dengan ibu. Pun sebenarnya nggak perlu hari khusus atau cuman di hari ayah saja kita menghormati atau menghargai ayah. Setiap hari adalah hari ayah, tidak perlu hari khusus untuk bisa menghormati ayah kita. Sama seperti ketika kita menghormati ibu, kita pun juga menghormati ayah di setiap hari-hari kita, sebagaimana pesan Lukmanul al-Hakim yang sudah disinggung di atas tadi.

Salah satu bentuk menghormati ayah di setiap hari kita, kasih suguhan akhlak yang baik kepada ayah. Sebagai anak, hampir mustahil bisa membayar atau membalas jasa orang tua kita. Maka, menjadi anak yang berbakti dan menghormati orang tua bisa menjadi salah satu cara untuk kita berusaha membalas jasa mereka.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kaish sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (QS. Al Isra’ 23-24)

Ketika sekarang kita masih sekolah, harusnya kita bisa mengindera dan merasakan betapa kasih sayang ayah itu nggak kecil. Keseriusan ayah dalam mencari nafkah biar kita tetap bisa sekolah, nggak bisa kita bayar atau kita ganti dengan imbalan uang ketika nanti kita sudah besar. Percaya deh, sekali lagi boleh koq nanya ke ibu atau ayah kita, persembahan atau balasan apa yang mereka inginkan dari anak-anaknya. Balasan kita berbuat baik kepada beliau, trus kemudian nggak memperlakukan atau berkata kasar kepada beliau berdua, itu sudah cukup bisa jadi obat pelipur lara, bagi orang tua yang shalih-shalihah.

Dalam QS Al Isra diatas, kita juga diminta merendahkan diri kepada kedua orang tua kita, itu membuktikan bahwa emang setinggi apapun kelak jabatan, pangkat, atau pekerjaan kita, tetap nggak boleh sombong di hadapan orang tua. Justru, menghormati orang tua bisa berarti apapun yang kita lakukan adalah dalam restu orang tua. Sebaiknya di setiap kegiatan yang akan kita lakukan, kita meminta restu orang tua kita. Seperti yang disebutkan dalam hadis, ‘Ridha Allah terletak pada ridha orang tua, dan murka Allah terletak pada kemurkaan orang tua’ (HR. Baihaqi).

So, jangan bikin orang tua kita murka sama kita, dengan mempersembahkan diri kita menjadi anak yang shalih-shalihah di setiap hari-hari kita mulai hari ini dan hari-hari kedepan. Siap? []

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Kamis, 21 November 2019

Generasi Digital: Cerdas Bermedia Sosial


“Ga ada loe ga rame". Pernah denger tagline ini dong? Keseruan emang bisa tercipta saat kita kumpul bareng temen-temen. Katanya dunia lebih berwarna aja gitu. Wajar aja sih, namanya juga manusia makhluk sosial pasti seneng kumpul, berinteraksi dan berbagi cerita satu sama lain selain melakukan hal-hal seru tentunya. Makanya ngga heran kalau banyak komunitas, grup, perkumpulan, squad apalah namanya dibuat untuk bisa bersosialisasi. Ada yang bikin grup atau kumpul karna alasan kesamaan hobi, ada juga yang karna teman sepermainan dari kecil, atau bisa juga karna alumni dari satu sekolah yang sama. Nah, biasanya yang lebih sering kumpul dan punya grup-grup itu remaja putri. Basic sih, karna cewek itu seneng ngobrol trus banyak banget hal yang bisa diulik dan dibahas dari kaum hawa ini. Bener apa betul??

Dari masalah jerawat sampe masalah outfit apa yang cocok buat dipake hangout. Ups.. tapi kita ngga akan bahas jerawat apalagi outfit yang lagi trend yaa.. Because of what? Karna buat Teman Surga jerawat sih kecil, eh.. emang jerawat kecil yah, ngapain dibesar-besarin trus dibikin galau segala? Then, buat Teman Surga yang sholih/ah outfit terkeren itu yang menutup aurat (titik) jadi ngga perlu heboh ngikutin setiap ada tren busana baru yang notabene berasal dari barat sana. Nih ya guys, ngikutin tren barat itu udah kaya lari marathon tapi ngga ada garis finish, nyampe kagak tapi capek iya. Sudah hentikan saja menjadi follower tren barat.

Gen Z, It’s You?

Bicara soal bersosialisasi mungkin buat generasi milenial yang lahir dalam rentang tahun 1981 sampai 1995 masih mengalami masa kecil dan remaja dengan berkumpul dan main seru-seruan bersama teman-teman, dari main petak umpet, bola bekel, kelereng, lompat tali, egrang dan jenis permainan tradisional lainnya. Kenapa disebut generasi milenial? Karna mereka mengalami masa remaja di tahun milenium yaitu tahun 2000. Kalaupun sudah ada gadget belum secanggih sekarang ini. Beda halnya kamu generasi Z yang lahir dalam rentang tahun 1995 sampai 2010 dimana perkembangan teknologi sudah canggih dan pesat, bahkan bisa jadi saat kamu terlahir dan menghirup dunia untuk pertama kali, orang tuamu tak lupa mengabadikan momen yang membahagiakan ini dengan menggunakan gadget canggihnya. Ngga heran bagi generasi Z seolah mereka tumbuh bersama canggihnya gadget, dan ga sempet tuh main seperti generasi kakak-kakakmu. IPhone dan android booming di masa ini. Bahkan adik-adik kita yang masih imut pun sudah bisa membuka channel youtube meski belum bisa baca dan tulis.

Buat kamu generasi Z, pegang gadget yang canggih sudah biasa. Punya dan aktif berselancar di dunia maya juga sudah pasti. That’s why, kamu disebut sebagai generasi digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 89 persen remaja telah memiliki smartphone. Jumlah itu meningkat dibanding 2012 yang hanya 41 persen. Penelitian ini dilakukan oleh Common Sense Media, dengan responden 1.413 orang antara usia 13-17 tahun di seluruh bagian Amerika Serikat. Kaum Gen Z paling banyak menggunakan media sosial Instagram, Snapchat dan Youtube. Instagram masih menjadi media sosial favorit para remaja saat ini, fitur-fitur instagram yang semakin bikin remaja-remaja betah berlama-lama dengan instagramnya, dari mulai kepo-in artis idolanya sampai rajin upload instastory. Dilansir laman Mashable, Rabu(24/10/2018) berdasarkan riset Pipper Jaffray, Instagram dikatakan menjadi platform yang paling banyak digunakan oleh kalangan remaja perbulannya, yaitu 85 persen. Posisi kedua setelah IG adalah youtube, ada yang nonton drakor, liat aksi panggung boyband kesukaan dan ngikutin juga aksi youtuber favorit. Makanya ga heran kalau sekarang banyak banget muncul para youtuber atau vlogger bak jamur dimusim hujan. Dan ketiga teratas adalah Snapchat.

Dibanding 2012, cara remaja berkomunikasi masih secara pribadi. Namun kini hal itu berubah menjadi hanya berkirim pesan. Berkat ponsel yang kini menjadi pintar dan koneksi internet yang lebih cepat, 10 persen dari responden memilih video-chatting sebagai cara favorit mereka untuk berkomunikasi. Selain itu, lebih dari setengah juga menyadari bahwa media sosial mengalihkan perhatian mereka ketika harus melakukan pekerjaan rumah atau memperhatikan orang sekitar. 42 persen responden juga menyadari bahwa di media sosial mengambil banyak waktu mereka yang bisa dihabiskan dengan teman-teman mereka di dunia nyata. Nah lhoo.. asyik bermedsos ria malah bikin males bantuin Ibu di rumah, ngga sedikit lho remaja yang ngga mengindahkan panggilan ortunya saat memanggil karna saking ‘khusyu”nya berselancar di media sosial. Don’t try this at home ya friends.

Dampak Negatif Media Sosial Bagi Remaja Putri

  Ternyata wanita muda dan remaja putri adalah salah satu kelompok usia yang sangat aktif menggunakan media sosial. Mungkin bisa lepas dari gadget saat tidur dan belajar dikelas. Ups.. itu juga kalau ngga ada yang diem-diem buka hape pas lagi di kelas lho yaa apalagi pas guru lagi terangin pelajaran. Ngga boleh ya guys. Bicara soal remaja putri yang lebih aktif di media sosial ternyata hal ini membawa dampak negatif yang ngga sedikit bahkan bisa membahayakan kesehatan akibat kekurangan tidur, aktivitas fisik yang tidak memadai karna males gerak, dan membuat mereka terkena cyberbullying. Dalam hasil penelitian yang diterbitkan di jurnal Lancet, disebutkan, risiko tersebut tak terlihat pada anak laki-laki. Para peneliti dari University College London mempelajari penggunaan media sosial dari hampir 13.000 remaja di Inggris, sejak mereka berusia 13-16 tahun. Para peneliti juga mengevaluasi laporan para remaja yang menjadi responden terkait level kesejahteraan yang dirasakan. Studi ini menemukan, 27 persen remaja wanita yang sering menggunakan media sosial memiliki level stres dan tekanan psikologis yang tinggi. (kompas.com)

Contoh aja nih, biasanya remaja putri yang aktif di media sosial dengan membagikan gambar atau video dari kegiatannya misal melalui instagram pasti mengharapkan respon dari yang melihatnya dengan banyaknya jumlah like. Kalau banyak yang like tuh rasanya happy banget, kebalikannya giliran postingannya sepi respon atau like mereka pun ga segan untuk menghapus postingannya. 43 persen mengatakan mereka telah menghapus postingan di media sosial kerena terlalu sedikit yang memberikan like. 43 persen lainnya juga menunjukkan remaja yang merasa buruk ketika tak ada yang memberikan komentar atau like pada postingan mereka. Over all, pengalaman media sosial tampak menjadi lingkungan remaja secara digital. Ketika disukai dan populer, akan memberikan mereka dorongan emosional. Sementara jika mereka dikucilkan akan membuat mereka buruk. Ga aneh sih, secara jiwa remaja yang labil masih butuh ruang untuk eksis dan diakui.

Selain itu, yang tak kalah bahayanya dari dampak medsos bagi remaja putri adalah meningkatnya cyber bullying. Kita tahu bahwa bully atau perundungan di kalangan remaja saat ini tidaklah sedikit baik itu di lingkungan sekolah atau di luar sekolah. Pelaku bisa cepat ditangani dan korban bisa melapor ke pihak sekolah. Namun, berbeda dengan cyberbullying yang merupakan aksi di mana pelaku dapat mengintai korbannya dimanapun ia berada, apalagi di zaman media sosial seperti sekarang. Menurut data Bullying Statistics yang dilansir Kamis (15/3/2018) cyberbullying sangat berbahaya bagi anak-anak muda karena mengakibatkan kecemasan, depresi, bahkan bunuh diri. Sayangnya, pelaku cyberbullying belum tentu sadar bahwa perilakunya tidaklah terpuji. Data yang diperoleh dari UNICEF pada 2016 sebanyak 41 sampai 50 persen remaja Indonesia pernah mengalami cyber bullying. Perilaku cyber bullying sulit dilacak karna mereka muncul di dunia maya saja untuk membully korbannya, meski bisa saja ditelusuri terlebih jika sudah sampai terjadi cyber crime. Cyber bullying lebih banyak terjadi dalam bentuk verbal, yaitu mengolok-olok dengan menghina fisik atau biasa disebut body shaming (mempermalukan tubuh). Bagi remaja putri diolok fisik tentu lebih sensitif dibanding laki-laki, (maaf) dibilang gendut, kulit yang gelap, hidung yang ngga mancung dan masih banyak lagi. Yang dikhawatirkan adalah ketika korban body shaming melakukan upaya tidak sehat untuk mencapai "kecantikan"nya atau yang lebih parah jika korban merasa sudah tidak sanggup menerima bully-an ini memutuskan untuk bunuh diri. Seperti yang terjadi pada sosok artis korea sulli yang memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri diduga karna bully-an atau komen nyinyir dari netizen tentang diri dan kehidupannya.

Kunci Pengaman Di kala Remaja Bermedsos

  Bagai dua sisi mata uang. Perkembangan teknologi sebagai hasil dari berkembangnya ilmu sains bisa berpengaruh positif dan juga negatif. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya, maka jika remaja tidak dibekali dengan ilmu terlebih ilmu agama dalam membentengi diri dari hal-hal yang buruk tentu akan berdampak yang tidak baik khususnya bagi remaja yang masih butuh bimbingan. Setidaknya ada dua hal yang bisa jadi “kunci” agar kita terhindar dari sosmed addict. Pertama, pastikan aktifitas kamu di sosmed hanya yang mendatangkan pahala misal menyebarkan dan mengajak pada kebaikan, sebaliknya hindarkan diri dari hal-hal yang mendatangkan mudhorot (bahaya) dan dosa misal posting foto atau video yang mengumbar aurat atau melakukan cyber bullying. Kedua, jadikan media sosial sebagai wasilah kamu untuk menambah ilmu yang bermanfaat. So, jadilah pengguna medsos yang smart, jangan habiskan waktumu dengan yang hal yang sia-sia. Media sosial bukanlah segalanya, tetaplah hidup di dunia nyata. Karena kehidupan sebenarnya ada di dunia nyata, bukan dunia maya. Berinteraksilah dengan sesama. Kebayang dong seandainya kita lebih sering “hidup” di dunia maya dibanding di dunia nyata, akhirnya kita akan kesulitan saat membutuhkan pertolongan dari seseorang. Kembali ke fitrah bahwa kita adalah makhluk sosial yang ngga akan pernah bisa hidup sendiri di dunia ini. So, be smart untuk cari dan lakukan yang manfaat agar kita selamat dunia sampai akhirat.

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Minggu, 17 November 2019

Wahai Pemuda, Entah Apa Yang Merasukimu!


Kamu pasti nggak asing lagi dengan tiga kalimat yang sering dibacakan dengan lantang dalam peringatan Hari Soempah Pemoeda setiap tanggal 28 Oktober. Kalo kita baca tuh teks Soempah Pemoeda dengan tanpa ekspresi, pastinya garing banget dong. Tapi coba kamu baca sambil merem terus bayangin gimana kuatnya keinginan para pemoeda jaman doeloe untuk mengambil perannya sebagai martir revolusi. Yap, sebagai ujung tombak perjuangan menuju gerbang kemerdekaan. Wuiih..heroik banget kan.

Lantas, apa kabar pemuda dan pemudi masa kini yang lagi asyik kecanduan game online atau terhanyut ngikutin cerita cinta drama Korea? Masih adakah semangat untuk menyambung tongkat estafet perjuangan? Lets cekidot!

Yang Muda Yang Terlena

Zaman sudah berubah. Keadaan pemuda 91 tahun lalu pastinya beda dengan remaja milenial. Ketika dulu sebelum negeri kita merdeka para pemoeda dan pemoedi dari seluruh nusantara berkumpul untuk menyatukan tekad perjuangan meraih kemerdekaan, kini para pemuda juga berkumpul dengan gadget masing-masing untuk main bareng. Bukan melawan para penjajah, tapi terjun dalam arena permainan Mobile Legends, PUBG Mobile, Garena Free Fire, Arena of Valor atau Clash of Clans. Inilah fenomena kecanduan game online yang sudah banyak makan korban remaja.

Kecanduan game telah diakui oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai gangguan kesehatan mental. Tahu sendiri kalo orang sudah terganggu kesehatan mentalnya, bisa lupa diri dan kelakuannya tak terkendali. Karena kecanduan game online, seorang remaja 16 tahun dari malang berinisial AS rela acak-acak rumah tetangga & embat ponsel. "Saya mencuri ponsel dan uang Rp 50 ribu. Uangnya saya buat jajan dan bermain game online. Karena saya kecanduan bermain game. Kemudian saya traktir teman-teman," terangnya. (Tribunnews.com, 09/08/2019)

Sementara di Bogor, Rumah sakit jiwa RSMM (Rumah Sakit Marzuki Mahdi) Kota Bogor menangani puluhan pasien anak dan remaja yang mengalami gangguan jiwa. Beberapa di antaranya merupakan pasien gangguan kejiwaan akibat kecanduan gadget.

"Kalau selama 2019 itu kita tangani 10-15 pasien (akibat kecanduan gadget). Ada 3 orang yang sempat jalani rawat inap, tapi sekarang sudah pulang. Sampai sekarang, kita layani antara 2 sampai 3 orang (pasien akibat kecanduan gadget) yang rawat jalan setiap hari," kata dr Ira Safitri T, Dokter spesialis kejiwaan anak dan remaja yang ditemui di RSMM, Jalan Semeru, Bogor Barat Kota Bogor, Kamis (17/10/2019). (Detiknews, 17/10/2019)

Dalam urusan cinta dan pergaulan, potret buram remaja milenial bikin miris. Penelitian yang dilakukan oleh Reckitt Benckiser Indonesia lewat alat kontrasepsi Durex terhadap 500 remaja di lima kota besar di Indonesia menemukan, 33 persen remaja pernah melakukan hubungan seks pra nikah. Dari hasil tersebut, 58 persennya melakukannya di usia 18 sampai 20 tahun. (Liputan6.com, 19/07/2019)

Parahnya lagi, sejumlah remaja Indonesia menjadi “mucikari” untuk teman sebayanya. Salah satunya, polisi mengamankan seorang remaja berinisial EGR (17) yang terlibat kasus prostitusi 'online" anak di bawah umur pada Kamis (7/3/2019). (Tribunnews.com, 10/03/2019)

Akibat perilaku seks bebas yang kian beringas, angka kehamilan remaja yang tak dikehendaki terus meningkat setiap tahunnya. Tercatat dari BKKBN, 48 dari 1000 remaja di Indonesia mengalami kehamilan. Hal senada juga pernah disampaikan oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.“Selama 2013, anak-anak usia 10 - 11 tahun yang hamil di luar nikah mencapai 600.000 kasus. Sedangkan remaja usia 15 - 19 tahun yang hamil di luar nikah mencapai 2,2 juta,” ucap Khofifah pada kesempatan pengajian umum puncak hari lahir Muslimat NU ke-68, tahun 2014.

Kondisi di atas berbanding lurus dengan kenaikan angka aborsi yang dilakukan remaja. Sebanyak 58% remaja yang mengalami kehamilan tidak diinginkan (KTD), melakukan upaya untuk menggugurkan kandungannya. Ngeri!

Masih banyak potret buram remaja milenial yang kerap menghiasi headline media massa. Dari budaya konsumtif dalam fenomena remaja hypebeast hingga aksi bullying di sekolah dan kekerasan remaja pada aksi tawuran atau kriminalitas genk motor. Ada apa dengan remaja saat ini?

‘Kerasukan’ Setan Berjamaah

Hidup dalam lingkungan sekular sekarang, banyak remaja yang ‘kerasukan’ setan. Eits, bukan kerasukan dalam arti tersusupi makhluk ghaib yang tiba-tiba masuk dalam tubuh terus ngomong gak jelas sampai minta-macam-macam ya. Bukan seperti itu.

Tapi kerasukan godaan setan sehingga dekat dengan perilaku maksiat. Tahu sendiri kan, dari awal ketika Iblis alias nenek moyangnya jin diusir oleh Allah swt dari surga karena kesombongannya, bikin komitmen bakal menjerumuskan manusia dalam jurang kemaksiatan. Mungkin biar mereka punya temen di neraka.

Allah swt berfirman, “Iblis menjawab, ‘Karena Engkau telah menghukumku tersesat, maka saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’râf/7:16-17)

Iblis menggoda manusia agar mau bermaksiat pada Allah swt. Godaannya halus dikemas pakai bahasa dan tren kekinian. Hingga banyak remaja yang gak sadar dan merasa nyaman dengan perilaku maksiatnya. Lantaran iblis membisikan kata-kata yang bikin remaja menganggap perilaku maksiatnya seperti budaya pacaran, nenggak miras, ngisep chimenk, aksi tawuran, shophaholic, hingga kecanduan game online dan sosial media sebagai suatu yang wajar, simbol pergaulan modern, gaya hidup kekinian, serta seabreg label menyesatkan lainnya.

"Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya." (QS. Al-Hijr: 39)

Ciri perilaku remaja yang ‘kerasukan’ setan di antaranya menggap remeh perbuatan dosa. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk di sebuah gunung dan khawatir gunung tersebut akan menimpanya. Sedangkan seorang yang fajir (yang gemar maksiat), ia akan melihat dosanya seperti seekor lalat yang lewat begitu saja di hadapan batang hidungnya,” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6308).

Kalo yang kerasukan cuman seorang, bisa jadi oknum remaja yang wajib masuk panti rehabilitasi. Tapi kalo ternyata yang kerasukannya berjamaah, bisa jadi inilah produk kehidupan sekular yang menjauhkan remaja dari aturan agama. Seperti yang diinginkan oleh musuh-musuh Islam.

William Ewart Gladstone (1809-1898), mantan PM Inggris mengatakan: “Percuma kita memerangi umat Islam, dan tidak akan mampu menguasasinya selama di dalam dada pemuda-pemuda Islam bertengger Al-Qur’an. Tugas kita sekarang adalah mencabut Al-Qur’an dari hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai mereka. Minuman keras dan musik lebih menghancurkan umat Muhammad daripada seribu meriam. Oleh karena itu tanamkanlah ke dalam hati mereka rasa cinta terhadap materi dan seks.”

Penangkal ‘Kerasukan’ Godaan Setan

Ngeliat kondisi remaja yang kian memprihatinkan, tentu kita nggak bisa tinggal diam. Jangan sampai makin banyak remaja yang terlena, terasuki godaan setan, dan terpapar gaya hidup sekular. Lantas, apa yang bisa kita lakukan sebagai remaja?

Pertama, kuatkan akidah dan keimanan kita. Caranya adalah dengan menyadari sepenuh hati kalo hidup kita nggak cuman di dunia. Ada kehidupan akhirat setelah kita wafat. Di sana, kita akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap amal sholeh dan amal salah selama hayat dikandung badan. Untuk itu, kita harus membiasakan diri mengaitkan perilaku di dunia dengan kehidupan akhirat kelak. Ini yang akan menjaga diri kita agar tetap taat dan jauh dari maksiat. Karena setiap detik yang kita lalui, itu ada itung-itungannya di hari perhitungan nanti.

“Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.” (QS. Al-Qiyamah: 13 - 15)

Kedua, jangan kendorin ibadahnya. Setelah yang wajibnya tertunaikan, geber terus ibadah sunahnya setiap hari mulai dari shalat tahajud, shalat sunah fajar, shalat dhuha, atau shalat rawatib. Lengkapi juga dengan puasa sunah senin kamis atau ayamul bidh (puasa tengah bulan). Jangan lupa, basahi lisan kita dengan bacaan quran setiap harinya. Kalo udah begini, insya Allah godaan setan nggak akan mempan.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya setan adalah kuman (virus) bagi hati anak Adam. Jika hati anak Adam sedang dzikir atau ingat kepada Allah, kuman itu menjadi mati (kabur). Sebaliknya, jika hatinya sedang lupa (kepada Allah), kuman itu (pun) beraksi menggodanya.” (HR. Ibnu Abi Dun-ya)

Ketiga, rutin ikut pengajian. Tak sekedar baca quran, tapi mengenal Islam lebih dalam. Yap, dengan belajar Islam, kita jadi tambah wawasan Islam, tahu kondisi umat Islam, dan makin mengenal kemuliaan aturan hidup Islam. Dengan begitu, kita tak mudah terpedaya oleh godaan setan.

Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata mengenai mempelajari dan mengajarkan ilmu. “Pelajariah ilmu karena sesungguhnya memperlajari ilmu itu adalah takut kepada Allah swt, menuntutnya adalah ibadah, mem?elajarinya adalah tasbih, mendalaminya adalah jihad, mengajarkannya adalah sedekah, mengorbankan untuk ahlinya adalah taqarrub kepada Allah swt. Dia adalah teman dalam kesendirian, sahabat dalam khalwat, petunjuk saat bahagia dan sengsara, keseimbangan di kala hati kosong, kawan ketika tidak ada teman selainnya, serta cahaya jalan ke surga...”

Teman surga, kita pastinya nggak pengen masa muda kita habis nggak jelas gitu lantaran terhanyut budaya sekuler yang bikin kita kerasukan. Kita juga nggak rela dong nasib umat Islam dan kita kian menderita akibat penjajahan. Makanya wajar kalo kita-kita yang masih muda, kuat, dan cakep ini mesti ambil peran sebagai agent of change. Untuk kebaikan Islam dan kaum Muslimin. Jangan tunggu esok. Jangan liat orang lain. Mulai hari ini, ikut ngaji. Pake aturan hidup Islam dan jadilah seorang martir revolusi. Kalo bukan kita, siapa lagi?

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Selasa, 12 November 2019

Pelajar Ataupun Santri, Tetap Smart With Islam



“Nak... seandainya nanti Ibu sudah meninggal, ngga ada yang lebih Ibu harapkan selain dari do'a kamu nak. Pesen Ibu jangan pernah tinggalkan sholat, ingat slalu do'akan orang tuamu". Seketika hati ini tersentak sebagai anak yang mungkin terkadang or sering lalai mendo'akan orang tua. Keinginan “sederhana” setiap orang tua terhadap anaknya yang sudah dirawat dan disayanginya sedari kecil bahkan sedari dalam kandungan. Yakiiiiinnn pake banget, orang tua mana yang ngga bahagia punya anak yang sholih, bakti, santun dan sayang sama orang tua apalagi kalau ditambah anaknya itu berprestasi. Namun, beda halnya ketika anaknya hebat luarbiasa, berprestasi tapi suka bentak orang tua, nasehat orang tua dianggep angin lalu.  Jangankan buat doa'in mereka, sholat aja bolong-bolong. Kalau kaya gini sih, bukannya bahagia yang ada hati ortu nelangsa. Hyks. Semoga itu bukan kita.

Agama (Islam) Itu Basic

Tidak sedikit orang tua yang ngeri (takut) atau khawatir dengan kondisi saat ini di mana “dunia” ini seolah semakin tidak bersahabat karna diurus oleh orang-orang yang tidak mau taat kepada Rabb-Nya, dengan tidak menerapkan aturanNya. Begitu mudahnya kemaksiatan menggurita, dari mulai kaum penyuka sejenis yang semakin eksis, seperti baru-baru ini salah satu personil boyband westlife yang merasa bahagia karna memiliki anak meski pasangannya laki-laki juga. Then, freesex di kalangan remaja merajalela, bahkan inses (hubungan seksual yang dilakukan oleh pasangan yang memiliki ikatan keluarga yang dekat/sedarah) sudah semakin bertambah.

Semua berawal dari apa yang mereka lihat, sering nonton video porno inilah yang mengawali. Kalau pun ngga nonton video porno, apa yang berserakan baik di televisi terlebih di sosial media telah menuntun siapa saja yang melihatnya terpengaruh, berawal dari ikutan baper lama-lama pengen ikutan cinta-cintaan. Entah gimana awal ceritanya, sampai ada kasus kakak beradik berpacaran bahkan sampai menikah dan punya anak. Dan ada yang makin bikin darah rasanya mendidih, di Sukabumi seorang Ibu yang mengajak kedua anaknya untuk berhubungan badan. Innalillaahi. Kalau ditanya kok bisa?

Sebenarnya, akal sehat bakal ngga terima dengan semua kemaksiatan ini. Tapi, yaa.. karna akalnya sudah teradiasi liberal, seolah ngerasa kalau ngga pacaran akan menyebabkan kematian. Makanya jomblo menurut mereka seperti “aib".

Seandainya mau dipretelin satu-satu, edisi ini ngga akan cukup untuk sebutin apa aja kemaksiatan yang bikin mulut ngga tau mau ngomong apa lagi, nge-batin prihatin, sakit tapi ngga berdarah, ngelus dada nyesek. Buat para ortu yang melek kondisi semua ini dan kekhawatiran orang tua bergejolak jangan sampai anaknya terjerumus menjadi korban sekaligus pelaku kemaksiatan, pasti akan berpikir trus aku kudu piye (harus bagaimana)? What should I do? Kebanyakan orang tua, akhirnya menjadi lebih selektif dari mulai memilihkan sekolah, memastikan dengan siapa anak-anaknya berteman dan bergaul. Dan yang terpenting para ortu akan membekali anak-anaknya dengan ilmu agama, mengokohkan benteng iman dan taqwa keluarganya.  “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.  (TQS. At tahrim: 6)

Intinya basic agama harus kuat, ada yang panggil guru ngaji ke rumah, ada juga yang masukin anaknya ke sekolah Islam Terpadu, atau ada juga yang memilih untuk menyekolahkan anaknya di Pesantren. “Mondok” untuk beberapa waktu menjadi santri dan menempa diri menjadi pribadi yang mumpuni dengan ilmu agama (Islam). Sebisa mungkin dijauhkan dari paparan kemaksiatan yang disebabkan racun liberalisme.

Sebenarnya inilah bukti betapa pendidikan di negeri kita ini masih mendikotomikan antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan (sains). Seolah, yang belajar ilmu agama di sekolah Islam Terpadu atau Pesantren minim ilmu sains-nya. Begitupun sebaliknya, orang-orang yang “jenius” di sains tapi “cetek” (dangkal) ilmu agamanya karna bersekolah di sekolah umum. Padahal, pendidikan dan sekolah di dalam Islam berrtujuan untuk menjadikan para pelajarnya menguasai tsaqofah Islam dan menguasai ilmu sains dan teknologi and tentunya yang berkarakter mulia, akhlakul karimah. Keren kan?

Menjadi Pelajar dan Santri Sholih Smart with Islam

Santri dan pesantren masih dianggap ngga populer dan kurang keren. Bahkan ada juga orang tua yang menjadikan pesantren sebagai “senjata” buat “nakut-nakutin” anaknya kalau nakal. Jadilah banyak anak-anak yang menganggap pesantren menjadi tempat yang seolah “menakutkan” dan mengekang kebebasan, ngga boleh ini ngga boleh itu harus begini harus begitu. Di kala pelajar-pelajar lain bebas bawa hape ke sekolah, di pesantren para santri diberi aturan untuk tidak menggunakan telepon seluler. Jangankan berselancar di dunia maya, bertemu dan melepas rindu dengan keluarga saja tidak bisa setiap saat. Hal ini dilakukan tentu untuk menempa pribadi pelajar (santri) menjadi bermental tangguh, mandiri dan disiplin. Apalagi kalau kelak lulus menjadi seorang Hafidz Qur'an bakal berantakan hapalannya kalau bentar-bentar lihat hape, apalagi yang dilihat yang bikin hapalan cepet lepas, karna menjaga hapalan lebih sulit dibanding menambah hapalan.

Semua tergantung niat awal, seandainya pun orang tua yang mengarahkan kita untuk ke pesantren tapi kalau kitanya juga happy dan ngga terpaksa “karna ortu” , pasti kita bakalan enjoy ngejalanin proses belajarnya di mana sehari-hari ketemu sama kitab-kitab kuning yang mengharuskan santri belajar dan mengusai ilmu nahwu sharaf dan balaghah. Belajar tentang aqidah akhlak, fiqih, hadits, tarikh dan masih banyak lagi. Al Qur'an harus selalu dibawa untuk dihapal kecuali ke tempat yang kotor atau najis. Meski sepertinya “melelahkan” tapi orang yang lillaah pasti bisa menjaga semangat dan keistiqomahannya. Apa yang dikatakan oleh Imam Syafi'i ini bisa dijadikan pemantik api semangat di kala lelah belajar mulai mendekat. “Bila engkau tak tahan lelahnya belajar maka kau harus tahan perihnya kebodohan”. 

Berbeda jika semua karna terpaksa, belajar ngga enjoy, hapal Qur'an susah pokoknya semua aturan pesantren seperti dipenjara. Walhasil, ngga sedikit yang akhirnya baik saat liburan pulang ke rumah merasa bebas dari mulai pegang dan main hape sesuka hati, males-malesan ngga mau ngerjain apa yang biasa dilakuin di pesantren, jalan-jalan ke mal, nonton ke bioskop dan masih banyak lagi yang ngga bisa dilakukan selama di pesantren. Hadeuuhh.. Kalau gini sih, bisa jadi santri setengah-setengah alias setengah sholih setengah salah. Maksudnya, pas lagi di pesantren melakukan amal shoiih eh pas di luar atau keluar pesantren melakukan amal salah. See, seperti yang ditampilkan di film the santri jauuuuhh banget sama profil santri yang sesungguhnya.  Di mana ada adegan khalwat (berdua-duaan) dengan lawan jenis, padahal Rasul bersabda “Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya syaitan menjadi yang ketiga di antara mereka berdua”. (HR. Ahmad).

So, please.. remaja SMART with Islam think smart and do right yaa.. jangan ikut-ikutan apa yang ngga ada tuntunannya dalam Al Qur'an dan Sunnah. “Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Bukhari). Yang dilarang Allah dan RasulNya ngga usah pake dipikir-pikir langsung tinggalin, apa yang diperintahkan Allah dan RasulNya segera kerjain. “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu". (HR. Muhammad: 33)

For you all teman surga, di mana pun kamu bersekolah dan menimba ilmu, apakah itu di sekolah umum, sekolah Islam Terpadu atau di Pondok Pesantren. Mau labelmu pelajar ataupun santri. Yang pasti dan tetap adalah kamu itu seorang muslim/muslimah sejati yang wajib taat terhadap syariat Allah dan RasulNya. Mempelajari dan mengkaji ilmu-ilmu Islam bukan menjadi kewajiban santri di Pesantren saja tapi kita semua tak terkecuali. Meski kamu bersekolah di sekolah umum, di mana pelajaran agama Islam sangat minim yaitu hanya dua jam pelajaran dalam seminggu. Kamu masih bisa kok ikut kajian-kajian Islam baik itu yang diisi oleh kakak pembina Rohis di sekolah atau semangat mendatangi majelis-majelis ilmu di luar sekolah. Ingat ya, pelajar ataupun santri sama-sama pembelajar jadi tugasnya ya belajar bukan pacaran, tawuran, kebut-kebutan di jalan. Karna belajar itu bukan pencitraan, belajar cuma di sekolah yang penting dapet nilai bagus. Setelah itu apa yang dipelajari menguap, terlebih yang mempelajari ilmu agama (Islam) jangan cuma buat penuh-penuhin memori otak, tahu dalil ini dan dalil itu tapi giliran praktekin banyak dalih (alasan) bahkan melanggar syariat. Rasulullah saw, mengingatkan dalam sabdanya, “Al-Qur'an adalah hujjah pembelamu atau yang menjatuhkanmu” (HR. Muslim). Which is, bisa menjadi pembela saat al-Qur'an diamalkan namun sebaliknya akan menjatuhkanmu jika tidak diamalkan. The last, jadikan ilmu yang kalian dapatkan bisa bemanfaat bagi umat baik ilmu agama ataupun ilmu pengetahuan. So, bukan seberapa banyak ilmu dan hapalan kamu tapi sebaik apa amal yang kamu lakukan. “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun". (TQS. Al Mulk: 1-2)

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Senin, 04 November 2019

Pelajar Hebat, Taat Syariat



“Kakak yang orasi, kami yang eksekusi!”

Slogan anak STM di atas yang ikut turun ke jalan bersama mahasiswa dalam aksi damai minggu lalu sempat viral di dunia maya. Slogan yang lugas, ringan, dan tanpa beban itu seolah mencerminkan kepiawaian pelajar STM untuk urusan teknis. Mereka tak pandai berorasi, tapi siap mengeksekusi sesuai intruksi. Ngeri!

Keberanian pelajar STM dengan menampilkan beberapa aksi heroiknya mendapat sambutan luar biasa dari netizen. Julukan the Avenger pun sampai ke pundak mereka. Pantang menyerah, berani adu nyali, kompak, dan sederet sifat pendekar lainnya makin melambungkan nama Serdadu Tanpa Markas (STM) ini. Inikah salah satu cerminan pelajar hebat milenial?

Pelajar Hebat, Prinsipnya Taat

Kita gak akan bahas aksi heroik teman-teman STM yang mengundang decak kagum netizen. Kita sekedar ngasih gambaran, seperti apa remaja hebat yang menjadi dambaan umat. Mereka adalah remaja yang punya kelebihan dibanding yang lain dan konsisten berpegang teguh pada beberapa prinsip berikut.

Pertama, mental berkontribusi. Pelajar hebat punya prinsip yang mendorongnya unjuk gigi bukan semata karna piala atau penghargaan tingkat dunia. Tapi untuk berbagi manfaat pada masyarakat. Bersikap kritis bukan untuk menuai sanjung puji. Tapi tanggung jawab sebagai anak negeri. Sikap mental ini penting dimiliki oleh setiap pelajar. Biar mereka belajar nggak sekedar mengejar nilai akademis. Tapi juga terpacu untuk mengasah keterampilan sehingga menghasilkan karya yang berguna untuk membantu manusia dan berani bersuara ketika kezhaliman merajalela.

Kedua, keep learn. Pelajar hebat nggak pernah merasa cukup dengan ilmu yang udah diperolehnya. Belajar terus dan terus belajar. Bukan tanpa istirahat ya. Cuman lebih banyak mengisi waktu luangnya dengan hal-hal yang bermanfaat. Belajar juga bukan berarti hanya duduk di kelas, dengerin guru ngoceh. Tapi juga belajar secara mandiri dengan membaca buku di perpustakaan atau di rumah. Dia juga tak sungkan untuk mendatangi orang-orang pintar yang jadi rujukannya. Biar bisa diskusi dan menyerap berbagai ilmu yang dibagi. Ilmu itu didatangi, bukan mendatangi.

Dari Abul Qasim At Tafakur, aku mendengar Abu Ali al Hasan bin ‘Ali bin Bundar Al Zanjani bercerita bahwa Khalifah Harun Ar Rasyid mengutus seseorang kepada Imam Malik bin Anas agar beliau berkenan datang ke istana supaya dua anak Harun Ar Rasyid yaitu Amin dan Makmun bisa belajar agama langsung kepada Imam Malik. Imam Malik menolak permintaan Khalifah Harun Ar Rasyid dan mengatakan, ‘Ilmu agama itu didatangi bukan mendatangi.’

Untuk kedua kalinya Khalifah Harun Ar Rasyid mengutus utusan yang membawa pesan sang khalifah, ‘Kukirimkan kedua anakku agar bisa belajar agama bersama murid-muridmu.’  Respon balik Imam Malik, ‘Silahkan dengan syarat keduanya tidak boleh melangkahi pundak supaya bisa duduk di depan dan keduanya duduk dimana ada tempat yang longgar saat pengajian.’ Akhirnya kedua putra khalifah tersebut hadir dengan memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Imam Malik. (Mukhtashar Tarikh Dimasyq, hal. 3769, Syamilah).

Ketiga, sabar jalanin proses. Pepatah bilang, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Kaya gitu deh yang namanya belajar. Untuk dapetin hasil maksimal, kita dituntut untuk berani berkorban waktu, pikiran, tenaga, harta, atau kepentingan pribadi. Nggak semua pelajar sanggup jalanin proses itu dengan sabar. Makanya hanya mereka yang konsisten dan serius bakal sampe di garis finish dengan segudang prestasi yang membanggakan.

Imam Syafi’i rahimahullah mengingatkan, “Tidak mungkin menuntut ilmu orang yang pembosan, merasa puas jiwanyakemudian ia menjadi beruntung, akan tetapi ia harus menuntut ilmu dengan menahan diri, merasakan kesempitan hidup dan berkhidmat untuk ilmu, maka ia akan beruntung.”

Keempat, berdakwah. Kewajiban berdakwah nggak pandang usia atau status pendidikan. Selama dia muslim dan udah baligh, wajib saling mengingatkan satu sama lain. Tak terkecuali pelajar. Meski statusnya masih anak didik dengan usia yang rata-rata masih muda belia, tugasnya bukan cuman belajar. Tapi juga mengenal islam lebih dalam sebagai bagian dari menuntut ilmu plus menyampaikan ke orang lain sesuai kemampuannya.
Aktivitas dakwah akan menjaga pelajar agar keep in touch dengan aturan Islam. Nggak lupa diri dan meminimalisir sikap egois bin individualis. Sehingga ilmunya, bisa diamalkan untuk mendukung kebangkitan Islam dan kaum Muslimin.

Kikis Mental Pecundang

Sebagai pelajar hebat, tentu harus punya mental pemenang dan steril dari sikap pecundang. Sikap pengecut hanya akan melemahkan semangat kita untuk mengukir prestasi dan bersikap kritis. Sikap pengecut alias mental korban cuman bikin hidup kita diam di tempat. Gak bisa move on. Gagal UAN bukannya evaluasi, malah bunuh diri. Ditolak cinta bukannya bersyukur karena jauh dari maksiat, malah pelihara dendam kesumat. Minta smartphone ke ortu belum dipenuhi bukannya usaha biar bisa beli sendiri, malah nilep uang bayaran sekolah yang bikin ortu sakit hati. #TepokJidat!

Saatnya kita kikis mental pecundang. Biar kita pantas menjadi pelajar hebat. Berikut mental korban yang harus kita tendang.

Pertama, Futur. Saat perjuangan ketemu hambatan yang tak kunjung teratasi, seorang pecundang memilih mundur dari pertarungan. Nggak ada semangat untuk cari jalan agar hambatan segera teratasi. Sebaliknya, pelajar hebat akan mengevaluasi diri dan perilakunya. Hambatan dilihat sebagai tantangan yang harus ditaklukkan biar naik level. Persis kaya maen game. Segera belajar dan cari tahu, gimana caranya agar hambatan tak jadi batu sandungan. Tapi justru tetap menjaga fokus kita di jalan perjuangan. Yup, hambatan adalah sahabat yang mengingatkan kita akan pentingnya jalani proses perubahan. Nyes!

Kedua, Kalah sebelum bertanding. Belon juga turun ke medan perang, udah ngeper duluan dengan kehebatan musuh atau terjalnya jalan ujian. Itu juga kata orang, bukan sendirinya yang ngeliat. Bayangannya udah gagal aja. Pelajar hebat punya keyakinan yang kuat dirinya bisa lewati ujian. Dia bakal berusaha persiapkan banyak untuk berikan yang terbaik. Bisikan setan nggak didengar. Bayangannya dia sudah memegang tropi juara. Yup, dia udah menang melawan nafsu setan sebelum bertanding. Keren!

Ketiga, Tak bisa menerima kegagalan. Udah berusaha sekuat tenaga, ternyata hasilnya tak sesuai harapan. Langsung nangis. Ngambek. Mengurung di dalam kamar. Gak papa kalo sedih sebentar lalu bangun dan move on. Tapi jangan dimanjain. Itu godaan setan yang memasung produktifitas. Pelajar hebat nyadar kalo proses gak ada yang mulus kaya jalan raya yang baru diaspal. Kegagalan udah menjadi bagian dari proses yang dijalaninya. Karena dia siap menjadi pemenang dan berani menerima kegagalan. Terus berusaha karena pasti suatu saat kemenangan akan ada ditangan. Hamasah!

Keempat, Selalu ingin dikasihani. Fokus dengan kekurangan yang ada pada diri sendiri. Selalunya membesar-besarkan hambatan yang ditemui. Lalu merasa dirinya gak bisa melewati. Dan bilang sama orang agar dimaklumi. Pelajar hebat tangannya ada di atas untuk memberi bantuan bukan malah selalu menengadahkan tangan dan pasang mimik wajah kasihan. Dia gak cerita kekurangan dirinya, tapi fokus menularkan semangatnya. Biar yang lain juga bisa menjadi pemenang seperti dirinya. Yes!

Kelima, Nyari pembenaran. Udah jelas dirinya yang bangun kesiangan lantaran begadang semalaman, jadi telat shalat shubuh dan masuk sekolah. Tapi bilang ke guru ibunya telat bangunin, jalanan macet, bla..bla..bla. Dia gak berani ngaku kalo emang dirinya yang bermasalah, malah mencari kambing hitam untuk disalahkan. Pelajar hebat akan langsung evaluasi diri saat melakukan kesalahan. Segera perbaiki, tambah ilmu dan berusaha lebih baik lagi. Gak ada ceritanya nyari pembenaran. Biar energinya nggak tersedot buat nyari kesalahan orang lain. Tapi fokus keluar dari masalah dan membuka jalan kemenanangan. Mantabs!

Pelajar Hebat, Taat Syariat

Orang hebat kata Rasulullah saw bukan yang pandai bergulat atau jago berkelahi. Bukan yang kegirangan tanpa rasa takut ketika ditembak water canon saat aksi. Bukan juga yang berani maju saat ditembakkan gas air mata terus diambil dan dilempar balik ke penembaknya. Bukan seperti itu.

Dalam Islam, orang hebat itu yang taat syariat. Mereka yang takut hanya kepada Allah swt sehingga berusaha sekuat tenaga untuk selalu istiqomah menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Walaupun lingkungan sekitarnya jauh dari nilai-nilai Islam.

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260).

Syaikh Al-Mubarakfuri menukil perkataan Al-Qari mengenai hadits di atas, “Tidak mungkin menggenggam bara api kecuali dengan kesabaran yang sangat dan menanggung kesusahan yang sangat. Ini bisa terjadi pada zaman yang tidak bisa terbayangkan lagi bagaimana bisa menjaga agama kecuali dengan kesabararan yang besar.”

Karena itu, kita bisa mengenali karakter pelajar hebat di era digital saat ini dari perilakunya. Dalam bergaul, senantiasa menjaga jarak dengan lawan jenis yang bukan muhrim. Anti jalan bareng alias berkhalwat atau campur baur dengan lawan jenis (ikhtilat) tanpa ada keperluan yang dibolehkan syara. Nggak ada budaya pacaran dalam kamus hidupnya.

Dalam belajar, selalu menjalani prosesnya dengan sabar dan ikhtiar. Nggak pakai jalan pintas untuk dapatkan hasil yang memuaskan. Nyontek saat ulangan, selalu dihindarinya. Dan belajar Islam menjadi bagian dari kesehariannya.

Dalam menghadapi masalah, aturan Islam selalu jadi pegangannya. Masalah apapun yang dihadapinya, dia akan cari tahu jawabannya dalam Islam. Nggak berpaling pada gaya hidup sekuler atau ide sesat liberal yang bisa menyengsarakan hidupnya.

Dalam berbusana, menutup aurat selalu jadi keutamaannya. Nggak peduli dengan tren fashion, yang penting nyaman dipakai dan sesuai aturan Islam. Yang dikejar ridho Allah, bukan sanjung puji manusia atau banjir like di sosial media.

Dalam menyampaikan pendapat, meski harus turun ke jalan bukan semata ikut-ikutan. Tapi didasari oleh keimanan. Sebagai bagian dari aktifitas dakwah menyampaikan kebenaran dan mencegah kemungkaran. Sehingga kalo ditanya tujuannya, jawabannya nggak belepotan.

Nah, untuk jadi pelajar hebat yang taat syariat, kuncinya cuman satu. Rutin ikut pengajian untuk mengenal Islam lebih dalam. Seperti para ulama yang terpelihara rasa takutnya pada Allah swt sehingga istiqomah dalam menjalankan syariah dan aktif berdakwah. So, tunggu apalagi. #YukNgaji![]

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg