Selasa, 30 Juli 2019

Narkoba Masih Menggila



Kayaknya harapan tahun 2019 bakal sepi kasus selebritis yang terkena narkoba, bakal berujung harapan kosong. Because of, artis peran yang berinisial JN, menambah deretan panjang pesohor negeri ini, ditangkap polisi terkait kasus narkoba. Senin (22/7/2019) pukul 23.30 WIB di A Residences, Jakarta Selatan penangkapan aktor muda yang berperan sebagai Nathan di film ‘Dear Nathan’ ini, hanya selang beberapa hari setelah penangkapan komedian senior N, yang diringkus pada Jumat (19/7) lalu. Beberapa bulan sebelumnya juga sempat heboh berita vokalis band Zivilia, ditangkap polisi bukan hanya sebagai pemakai, tapi juga pengedar narkoba. Wah, wah..

Pengin Feel Good and Better?
Saking seringya selebritis yang kena narkoba, kita jadi bertanya-tanya, kenapa ya koq kaum selebritis yang selalu jadi korban jeratan narkoba? Dan rata-ratanya yang kena kasusnya, masih pada muda. Iya, serius memang artis dan narkoba, bukan lagi sebuah korelasi yang asing di masyarakat Indonesia. Hampir tiap tahun, pemberitaan kita nggak pernah sepi dari kasus narkoba dan artis. Why? Kenapa Ya?

Coba kita kutip pernyataan salah satu pakar di sebuah laman internet. Menurut psikiater dari RS Jiwa Dr Soeharto Heerdjan Jakarta, dr Nova Riyanti Yusuf, SpKJ hal tersebut dikarenakan gaya hidup artis yang mayoritas glamor. Banyak artis yang 'kebablasan' berkecimpung di dunia hiburan.  Sumber yang lain menyatakan seperti dilansir dari Psychology Today, artis merasa cemas ketika menghadapi kritik dan kompetisi yang dialami sehari-hari, akhirnya termanifestasi dalam bentuk depresi, kekurangan tidur, menangis tanpa ada alasan yang jelas, bad mood, kurang konsentrasi, paranoid, kurangnya rasa percaya pada sesama, dan munculnya rasa benci akan diri sendiri. Dengan rasa depresi berlebihan ini, obat terlarang menjadi rute keluar yang dapat digunakan untuk menghibur diri.

Wow, asumsi di atas itu pas banget kayak apa yang dialami oleh Bobbi Kristina, putri mendiang diva pop Whitney Houston akhirnya meninggal dunia. Gadis malang berusia 22 tahun itu ditemukan tenggelam di bath tub-nya pada Januari tahun 2015. Kalo dari segi kekayaan, kurang kaya apa mereka? Lahir dari keluarga selebriti; ibunya diva musik pop yang mungkin jadi idolanya bapak-ibunya man-teman sekalian. Whitney menjual jutaan kopi album rekaman dan penghargaan platinum. Ayahnya rapper yang juga pernah menjadi top selebriti. Tapi seluruh jagat dunia hiburan tahu, keluarga Whitney-Bobby Brown tidak bahagia. Pertengkaran, penganiayaan, drugs jadi bagian keluarga pesohor ini. Whitney berkali-kali keluar panti rehab untuk menanggulangi kecanduannya. Ia tewas tenggelam setelah mengkonsumsi minuman beralkohol dan kokain.

Mengejar Dunia, Dapartnya Narkoba
Oiya, kita dari tadi ngomongin dunia selebritis, bukan semata-mata benci terhadap mereka, tapi ini sebagai bentuk peringatan bagi kita semua, karena mereka kebetulan pesohor negeri ini, jadi wajar dong kita ikut nimbrung ngasih uneg-uneg dan solusi. Biar kita yang bukan selebritis nggak terjerat di kasus yang sama, dan juga jangan mentang-mentang, artis pujaannya, lalu kita punya sikap posesif, wrong or right, pokoke saya ngefans sama dia. Nggak boleh kita punya prinsip gitu.

Yawis, kita sekarang coba cari akar masalahnya dari si-selebritis itu sendiri, kenapa koq bisa konsumsi narkoba? Jadi, kalo membaca lagi uraian di atas tadi, sebenarnya kita sudah bisa tarik benang merahnya. Bahwa para seleb yang sudah terlanjur jadi public figure, satu sisi kayak semacam kena krisis diri, harus tampil sempurna, nggak boleh salah dan sebagainya. Di sisi yang lain, tuntutan skenario bikin mereka harus kerja seharian, bahkan ada yang syutingnya striping, tampil tiap hari di teve, maka stamina tetap kudu prima, supaya menghidari ketidaksempurnaan tampilan di muka umum.

Nah, karena pekerjaan mengharuskan mereka seperti itu, akhirnya pantaslah kalo mereka disebut layaknya menghamba pada dunia, mereka kejar dunia untuk kesempurnaan hidup, tapi malah narkoba yang jadi pelariannya. Jadi, gaya hidup mewah, bekerja tak kenal waktu, menjadi keseharian mereka.

Kalo masih ada yang ngimpi jadi artis or selebritis, sepertinya kudu berpikir ulang. Kalo masih banyak yang kepincut untuk ikut audisi-audisi jadi artis, sepertinya harus berpikir berkali-kali. Bukan berarti semua artis seperti itu, tapi itu kebanyakan, apalagi kalo dunia sudah yang dikejar, wah alamat agama (Islam) nggak bakal digubris.

Jadi artis, jangan cuman dilihat terkenal dan banyak duitnya aja. Iya, mungkin ada beberapa artis yang mudah untuk mendapatkan dunianya, tetapi yang jadi masalah dan harus dipikirkan juga adalah life style alias gaya hidup, setelah nanti jadi artis beneran. Kalo life style, jauh dari nilai-nilai Islam, maka nggak jamin, kalo dia nanti nggak bakal sama nasibnya kayak pendahulunya.

Maka, sebagai bentuk peringatan, kita yang masih menghamba pada dunia, kudu renungkan firman Allah berikut
“Dan tidaklah kehidupan dunia kecuali hanyalah permainan dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Apakah kalian tidak mau berpikir ? “ (QS. Al-An’am: 32).

Atau, juga yang masih cemas jika urusan dunianya nggak terpenuhi, sabda Rasulullah Saw berikut bisa jadi renungan
“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah dan khamilah (sejenis pakaian yang terbuat dari wool/sutera). Jjika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah” (HR. Bukhari).

Bukan nggak boleh kaya, tapi pembahasan kita dari tadi, bahwa kekayaan yang kita cari secara berlebihan, malah jatuhnya kita diperbudak oleh dunia. Jangan sampai kayak gitu. Dalam urusan dunia, mencari pekerjaan atau kekayaan masih lah harus ingat sama urusan kita kelak di akhirat. Makanya, doa kita setiap hari kan  “Rabbana atina fiddun ‘ya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina aza bannar“, supaya dikasih kebaikan dunia-akhirat. Wake Up Bro, Jangan Jadi Hamba Dunia.

Nggak Melulu Salah Selebritisnya
Kalo soal hukum mengkonsumsi narkoba, secara umum Islam melarang penyalaggunaan narkoba, karena salah satunya bisa menghilangkan akal. Kalo soal detailnya pembahasan hukum narkoba dan jenis-jenisnya, boleh tanya kepada para Ustadz atau Guru Agama ya. Tapi fokus bahasan kita di sini, lebih kepada sebab fundamental kenapa seseorang, lebih khususnya selebritis terjerat kasus narkoba. Dan, sedikit banyak tadi kita sudah uraikan sebabnya.

Maka yang kudu dibenerin dari kita adalah mindset kita terhadap dunia dan akhirat. Seringlah bertanya, tiga pertanyaan penting, yakni ‘darimana kita berasal, untuk apa kita hidup, dan kemana setelah kita mati?’. Tapi nggak cukup cuman bertanya, harus nyari jawaban yang shahih (benar) terhadap 3 pertanyaan penting itu. Carilah guru ngaji, yang bisa mengajarkan dan ngasih jawaban itu dengan tuntas. Sebab, ujung dari jawaban terhadap pertanyaan itu yang bikin kita punya mindset terhadap hidup kita.

Kenapa kita jadi hamba uang, hamba dunia, hamba harta, itu karena mindset kita yang salah terhadap kehidupan dunia. Kalo mindset kita benar, maka kita akan berkesimpulan bahwa puncak dari kebahagiaan bukan di banyak harta, banyak pemuja, melainkan puncak kebahagiaan adalah ridha Allah. Loh koq bisa? Ya bisa to, ya kan buat apa kita dapat segalanya di dunia, tapi kalo Allah ngak ridha? Kalo Allah nggak ridha, kita cuman dapat dunianya doang, akhirat kita rugi. Itu bertentangan dengan kita tadi, yang memohon kebaikan di dunia dan akhirat.

Then, kalo sudah kita benerin mindset, lalu apakah masalah narkoba selesai? Jawabannya, enggak. Lah? Iya, dong kan selebritis atau kita hidup di dunia, di tanah air kita ini, kan nggak sendiri. Hidup bersama orang lain, dan hidup di bawah sebuah sistem negara. Kalo pun mindset kita udah bener, jangan lupa ada orang lain yang mindsetnya tentang hidup, beda dengan kita. Trus, kalo kita mau berusaha meluruskan mindset masyarakat, kita kan juga kudu sadar bahwa di negeri kita ini ada aturan atau hukum. Hukum yang ada, harus yang bikin jera dan jangan pilih kasih. Mentang-mentang selebritis, dihukumnya cuma beberapa bulan, abis itu dilepasin lagi.

Nah, makanya khusus untuk kasus narkoba yang menjerat selebritis, nggak sepenuhnya salah si-selebritisnya. Masyarakatnya yang sekuler, yang meminggirkan prinsip-prinsip Islam, jelas juga salah dalam hal ini. Sebab masyarakat yang sekuler, akan tetap melahirkan selebritis-selebritis yang sekuler pula. Perumpamaan masyarakat yang rusak, seperti pernah disabdakan Rasulullah saw

“Perumpamaan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang terjerumus dalam kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berundi dalam sebuah kapal. Nantinya ada sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah kapal tersebut. Yang berada di bagian bawah kala ingin mengambil air, tentu ia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, “Andaikata kita membuat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita.” Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu.” (HR. Bukhari).

Maka masyarakat yang sekuler ini, harus didakwahi, bukan saja agar mereka kenal kembali kepada Islam, akan tetapi juga agar mereka nggak islamophobia dan akhirnya mau menerapkan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Kalo dakwah alias amar maruf sudah jadi kultur di masyarakat, maka sesiapapun pelaku maksiat akan diingatkan oleh masyarakat. Termasuk perilaku maksiat mengkonsumsi narkoba dan pengedarnya. Makanya, jangan malas dan takut berdakwah. Dakwahkan Islam sekarang juga, jangan ditunda! []

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Rabu, 24 Juli 2019

Kenali Simbol Kita




Oleh: Irwansyah

Sobat milenial, pasti sudah pada tahukan, kemarin jagad maya dihebohkan dengan viralnya foto siswa MAN 1 Sukabumi bersama bendera yang bertuliskan kalimat tauhid.

Bagaimana tanggapan kalian ketika melihat hal itu? Atau masih ada beranggapan kalau itu adalah bendera teroris. Waduh!

Wajar bila di antara sobat milenial masih ada yang beranggapan kalau bendera tauhid itu adalah bendera teroris. Karena hari ini masih ada media yang berusaha menggiring opini negatif tentang bendera tersebut. Padahal faktanya bendera tauhid adalah salah satu simbol kita umat Islam.

Bendera tauhid ada dua jenis warna. Yaitu hitam dan putih. Yang berwarna hitam disebut ar-rayah. Sedangkan yang berwarna putih disebut al-liwa'.

Bendera liwa’ Rasulullah berwarna putih dan rayah-nya berwarna hitam.” (HR. Tirmidzi, Hakim, Ibnu Majah dan al-Khatib).

Gimana sobat milenial, sudah tahukan? Jadi, jangan ada lagi yang beranggapan kalau bendera tersebut adalah bendera teroris. Itu adalah simbol kita. Simbolnya umat Islam. Warisan dari Rasulullah. Jadi Harus dirawat dan dijaga ya.

Eits, satu lagi sobat milenial. Jangan lupa beritahukan juga kepada teman-teman lain yang belum paham mengenai hal ini. Biar gak ada lagi yang beranggapan kalau bendera tauhid itu bendera teroris.

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Senin, 22 Juli 2019

Bangkitlah Anak Indonesia



Namanya juga anak-anak. Saat adik kita tiba-tiba pecahin gelas, dengan santainya ngebanting hape, ngerusak remote tv, sembunyiin kunci motor, atau bikin nangis anak tetangga karna rebutan mainan pasti jawaban dari Ibu kita sesaat setelah menghela nafas panjang adalah “namanya juga anak-anak”. Anak-anak seolah “kebal hukum”, ngga boleh dimarahin, kalaupun ditegur pasti dengan bahasa yang lembut. Kamu yang jadi kakak jangan iri, dulu waktu kamu kecil juga gitu. Memang yang namanya anak kecil seandainya pun melakukan hal yang bikin jengkel, ngga bisa gitu aja dimarahin apalagi sampai dipukulin. Karna mereka masih belum ngerti mana yang boleh dan mana yang ngga, atau mana yang bahaya untuk dilakukan mana yang ngga. Ya iyalah, mereka itu masih belum bisa berpikir apalagi tertaklif (terbebani hukum syara). Di dalam hadits riwayat Abu Dawud, Rasulullaah saw bersabda yang artinya “Pena diangkat dari tiga golongan yaitu orang yang tidur hingga terbangun, orang yang masih kecil hingga ia baligh, dan dari orang yang gila hingga kembali berakal”. Maksudnya diangkat pena adalah apa yang mereka lakukan tidak dicatat dan tidak dimintai pertanggung jawaban oleh Allah. Nah, adik kecil kita termasuk di antaranya ya, meski mereka tetap harus didampingi dan diajarkan hal-hal baik dan positif sedari dini. How about you? Yakin deh, di antara kamu pasti ngga ada yang mau dianggap anak kecil. Merasa sudah remaja bahkan ingin dianggap dewasa. Walau kadang ngga sedikit juga yang masih bertindak seperti anak-anak. Misalnya, marah atau nangis kalau apa yang diinginkan ngga dikasih ortu.

Apa Kabar Anak Indonesia Hari Ini?
Pengennya sih langsung jawab Alhamdulillah, Luar Biasa, Allohu Akbar!!. Tapi, sepertinya jawaban ini masih sebatas doa dan harap. Bukan bermaksud pesimis, tapi fakta yang terjadi masih bikin kita miris. So, yuk guys kita kritis jangan sampai Ibu Pertiwi menangis karna lihat anak bangsa bertingkah hedonis liberalis. Dari mulai jadi fans fanatik artis atau boy/girlband korea yang kalau ditelisik ngga ada faedahnya sedikitpun mengidolakan mereka sampai terjerumus ke pergaulan bebas yang merusak. Ya, semua ada awalnya semua ada sebabnya. You are what you see, you are what read. Kalau yang dilihat dan ditontonnya drama korea, konser boy or girlband korea walhasil disadari atau tanpa disadari anak remaja mulai meniru perilaku idolanya. Cara berdandan dan berpakaiannya sampai tingkah laku.

Sempat viral di media sosial bocah (anak) SD yang berani pacaran dan sayang-sayangan bahkan memanggil dengan sebuatan ayah bunda, yang remaja sama juga apalagi baru-baru ini atau masih ditayangkan film remaja yang konon bermuatan sex education di mana ceritanya sepasang anak remaja yang pacaran trus having sex sampai akhirnya “dua garis” deh alias hamil. Ceritanya sang pacar berani bertanggung jawab dengan menikahi kekasihnya yang hamil. Dan si calon ibu pun hamil di usia sekolahnya. Katanya pesan yang ingin disampaikan oleh pembuat film ini adalah agar remaja-remaja tidak melakukan sex pra nikah yang akan merugikan karna kehilangan masa muda akibat pernikahan dan hamil dini.  Tapi, apa iya akhirnya pesan yang sampai ke para remaja yang menonton mereka jadi menjauhi aktifitas pacaran dan free sex? Kalau pun iya, apa menanamkan pemahaman bahwa sesuatu itu berbahaya, merugikan terlebih itu adalah perbuatan maksiat (dosa) apa harus dengan cara memberi tontonan seperti itu yang ada film itu malah menuntun para remaja untuk meniru hal serupa. Ibaratnya ketika hendak menyampaikan bahwa menyentuh kawat bertegangan listrik ini berbahaya, apa harus dengan langsung menyentuhnya? Apalagi di usia remaja yang terkadang lebih mengedepankan atau mendahulukan tindakan daripada mikir dulu ditambah rasa kepenasarannya yang di atas rata-rata justru malah bikin remaja ikut-ikutan ngelakuin apa yang dilihat.

Catat friends, ngga bosen-bosen deh Teman Surga buat ngingetin. Kamu yang manis, lucu, dan imut. You are so special, kamu itu the best. Tapi, musuh-musuh Islam ngga suka kalau remaja muslim khususnya jadi spesial dan terbaik makanya mereka merusak dengan cara yang slow but sure. Mereka sebarkan racun pemikiran hedonis liberalis melalui food, fun, fashion, film. See... film menjadi salah satu cara mereka membius remaja agar terpengaruh dan menjadi follower gaya hidup bebas dan ngga mau diatur. Nanti cabangnya kalau udah gitu, si remaja bakal jadi anak pembangkang yang ngga nurut sama ortu lebih dengerin apa kata teman dan apa kata idolanya padahal uang jajan aja masih ngerengek minta ke ortu. Astaghfirulloh. Trus, gimana dengan aktifitas belajar di sekolah? Udah bisa ketebak, remaja yang sudah terbius cara berpikir hedonis biasanya males belajar, pun belajar lebih seneng pake jurus sistem kebut semalam atau kalau udah mepet banget aksi contek mencontek jadi andalan. Ini fakta, meski ngga banyak ada juga lho remaja yang berprestasi di sekolah, santun ke orang tua pokoknya baik budi deh kalau di mata ortu. Tapi ternyata diluaran si anak baik dan pintar ini ngga malu untuk berdua-duaan sama pacarnya. Dan pada saat digerebek dan dilaporkan ke ortunya bisa dipastikan orang tuanya ngga percaya karna menurutnya anaknya baik, pintar dan berprestasi di sekolah. So, that’s why pintar di sekolah saja ngga cukup, baik di hadapan ortu pun bisa jadi hanya kamuflase.

Jangan salahkan bunda mengandung. Semua orang tua pasti mengharapkan agar anaknya yang selama 9 bulan dikandungan ibu lahir dan dibesarkan dengan kasih sayang menjadi anak sholih/sholihah dan membanggakan. Namun, saat anaknya semakin tumbuh besar dan mulai bergaul dengan teman-temannya di sinilah seolah peran orang tua luput dalam membersamai anaknya yang beranjak dari anak-anak menjadi remaja ini. Seandainya pun, dirumah sudah dibekali iman dan ilmu agama (Islam) oleh orang tua ternyata masih ada celah jika orang tua tidak menempatkan anak di lingkungan yang mendukungnya menjadi anak sholih/sholihah. Karena pengaruh lingkungan (teman) sangat besar di masanya yang senang kumpul dan main bersama teman sebayanya, tak hanya teman bermain ternyata pemberian gadget yang tanpa disertai dengan pemahaman ilmu (Islam) dan penggunaan media sosial yang sangat mudah diakses oleh semua orang termasuk anak-anak pun menjadi media yang cepat dalam memberi pengaruh kepada mereka. Lihat saja, ada anak laki-laki kecil yang bicara saja belum jelas tapi begitu gemulai memperagakan gerakan tari girlband korea BlackPink. Sayangnya, orang dewasa atau orang tua yang melihatnya malah tertawa geli karna menganggap itu sebagai sesuatu yang lucu. Yaa Allah, padahal si adik kecil itu sudah terpengaruh dari apa yang ditonton. Dan sangat mungkin sekali jika ini dibiarkan terus akan merusak kepribadian si anak lelaki ini kelak saat ia besar nanti. Na’udzubillah.

Fakta lain yang juga mencengangkan dan membuat miris. Terungkapnya data bahwa lima persen pelajar di SMAN dan SMKN unggulan di Jakarta punya ide untuk bunuh diri. Tentu ada atau bahkan banyak faktor yang melatarbelakangi kenapa pelajar yang “berpendidikan” ini malah punya keinginan untuk bunuh diri. Namun, yang pasti terdapat split personality pada diri pelajar tersebut yang diakibatkan salah mengambil pandangan hidup. Simplenya begini, remaja yang menjadi korban sekaligus pelaku dari gaya hidup yang dipropagandakan oleh Barat telah menjadikan mereka terseret dengan cara berpikir sekuler (memisahkan aturan agama dari kehidupan). Hal ini menjadikan remaja lemah dan tak mampu melawan derasnya arus liberalisasi, termasuk rapuh dalam menghadapi persoalan kehidupan yang tidak bisa dipungkiri pasti adanya. Contoh sederhananya, munculnya perasaan sedih yang mendalam saat tidak diterima di sekolah favorit yang diinginkan, bahkan menganggap apa yang sudah dikorbankan selama ini untuk belajar dan bisa lulus ujian menjadi sia-sia. Padahal, terlepas dari sistem pendidikan saat ini bisa jadi sekolah yang sebenarnya bukan menjadi tujuan dan impian kamu justru menjadi wasilah kamu untuk bisa lebih kenal dengan agamamu (Islam), intinya ada hikmah dan kebaikan di dalamnya. Seperti yang Allah SWT firmankan dalam QS. Al Baqarah: 216 “...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. Catet, baik menurut kita belum tentu menurut Allah begitupun sebaliknya.

Please, Save Generation Right Now!!
Emang sedarurat itu? Emangnya separah itu? Fakta dan data sudah terpampang nyata friends. Kalau ngga sekarang juga diselamatkan, maka nasib bangsa di masa mendatang akan hancur. Karna kelak yang akan memimpin bangsa ini adalah generasi (muda) saat ini. So, buat kamu anak bangsa kembalilah pada fitrahmu berada dalam agama yang lurus yaitu Islam. “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. QS. Ar Rum: 30. So, let’s delete semua pemikiran yang bukan berasal dari Islam seperti Sekulerisme, Liberalisme, Hedonisme dll. Karna bukan hanya unfaedah tapi juga merusak dan merugikan di dunia dan di akhirat.

Next, masih anak-anak atau sudah dewasa bukan dilihat dari sudah punya KTP atau belum. Islam sudah sangat jelas memberi batas bahwa dewasa adalah yang sudah baligh (buat yang perempuan sudah menstruasi dan yang laki-laki sudah ihtilam atau mimpi basah) selain itu juga bisa membedakan mana yang benar dan yang salah. So, di usia berapapun kamu baligh berarti kamu sudah tertaklif (terbebani) hukum syara yang dimana setiap perbuatan kamu harus bin wajib terikat dengan aturan Islam. The last, berani bikin “arus baru” untuk bisa melawan arus liberalisasi meski ngga mudah tapi bukan berarti mustahil. Selama nafas dakwah Islam terus dihembuskan dari satu ayat yang kamu sampaikan ke temanmu dan seterusnya begitu sampai Islam menjadi arus yang membawa umat (Islam) kembali berada di nalaan yang lurus.

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Kamis, 18 Juli 2019

Teman Baru, Semangat Baru



Siapa sih yang nggak pengin punya temen? Hampir bisa dipastikan, kita semua sangat hepy kalo punya banyak teman. Mulai teman main di rumah, di sekolah, bahkan teman di dunia maya sekalipun. Memang ada sih beberapa orang yang memiliki karakter bawaan introvert, yang biasanya suka menyendiri, tapi nggak setiap orang introvert, nggak punya teman. Pasti punya teman, cuman mungkin jumlah temannya, nggak terlalu banyak.

Nah, ngomongin teman, sekarang kan masa-masanya masuk sekolah, ada juga yang naik tingkat dari SD ke SMP, dari SMP ke SMA, pastinya dong bakal punya teman-teman baru. Jangan lupa lho ya, buletin ini juga bisa jadi teman kamu. Teman dalam mencari ilmu, teman menambah tsaqofah, dan yang pasti teman dalam ketaatan.

Tapi yang kita mau kupas di sini, soal teman dalam wujud manusia ya. Namanya juga manusia, pasti punya karakter yang berbeda-beda. Kadangkala kita mencari teman atau mau berteman, kalo kita ng-frend banget sama dia, alias suka cocok-cocokan. Ada yang suka banget berteman dengan tipe orang yang hobinya traktir temannya. Wah, kalo ada model teman yang kayak gitu, kayaknya semuanya ngga bakalan nolak berteman dengan dia, hehee..

Temanmu Surga-Nerakamu
Ada hadist yang sangat masyhur, dan kayaknya man-teman sering dengar hadits ini:
"Kawan pendamping yang sholih adalah ibarat penjual minyak wangi. Bila dia tidak memberikanmu minyak wangi, setidaknya kamu akan mencium keharumannya. Sedangkan kawan pendamping yang buruk adalah ibarat tukang pandai besi. Bila kamu tidak terjilat apinya, setidaknya kamu akan terkena asapnya." (HR. Bukhori)

"Seseorang adalah sejalan dan sealiran dengan kawan akrabnya, maka hendaklah kamu berhati-hati dalam memilih kawan pendamping." (HR. Ahmad)

Hadits-hadits di atas ngasih pemahaman kepada kita, agar kita bener-bener selektif milih teman, karena warna hidup kita salah satu corak dominannya akan diwarnai oleh siapa teman kita. Coba kita perhatikan dalam keseharian kita, pada umumnya kita akan selalu mencari dan bertemu dengan teman. Di sekolah, tempat duduk kita aja, kita nyari teman sebangku yang kita nyaman dengan dia. Lalu, belum nanti kalo pas istirahat, mulai dari teman main, sampe teman jajan di kantin, kita penginnya juga nyari teman, nggak pengin sendirian, syukur-syukur ditraktirin, wkwkwk…

Di rumah, pulang sekolah, kalo kebetulan teman sekolah dan teman rumah kita beda, maka sepulang sekolah, kita juga bakalan nyari teman rumah tersebut. Main dengan dia, belajar sama dia, hangout bareng dia. Jadi, ternyata separoh lebih hidup kita habiskan bersama teman-teman kita. Kalo kita nggak hati-hati, selektif milih teman, istilahnya kita akan salah gaul. Kalo udah salah gaul, maka perilaku buruk teman kita, akan nular ke kita dengan mudah.

Sebaliknya, kalo teman-teman kita orang baik, yang selalu mengingatkan kepada kebenaran alias teman taat, maka disitulah kita juga bisa kebawa pada kebaikan. Allah SWT pun mensinyalir bahwa teman terbaik adalah teman takwa:

Teman-teman karib (para sahabat yang di Dunia saling berkasih-sayang) pada hari itu (di Hari Penghakiman-Pembalasan) saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa. (QS. Az-Zukhruf 67)

Tapi, nyari teman baik, teman takwa, teman taat, teman surga, di kondisi sekarang ini, kan nggak gampang?! Nggak gampang, bukan berarti nggak bisa. Bisa koq, hanya saja kita memang kudu serius mencarinya dan kalo udah ketemu harus istiqomah berteman dengannya. Kenapa harus istiqomah berteman dengan teman yang bisa ngajak ke surga? Ya, salah satu alasanya, karena bisa jadi dari sisi jumlah, teman yang kayak gitu, nggak banyak. Kalo nggak banyak, berarti nanti orang yang sering kita jumpai justru sebaliknya. Kalo diibaratkan ekstrimnya kayak, ada setitik putih di tengah lautan hitam. Nah, kira-kira kayak gitu.

Saat seperti itu, bukan berarti yang banyak itu yang benar, dan kebenaran nggak ditentukan oleh banyaknya orang.  Apalagi jika kebanyakan orang itu disetir oleh hawa nafsunya, maka Al-Qur’an sudah mengingatkan hal tersebut

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allâh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allâh). Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang orang yang mendapat petunjuk.” (QS. al-An’âm:116-117)

Lalu, alasan lain, kenapa kita kudu istiqomah mencari dan berteman dengan teman yang shalih, adalah karena pasti ujiannya nggak sedikit. Sebab, saat ini kita sedang hidup dalam arena sekularisme, di mana agama (Islam) aturannya dipinggirkan alias nggak dipake dalam keseharian. Kesehariannya lebih banyak menggunakan perasaan, atau kesepakatan tak tertulis, yang cenderung bertentangan dengan tata aturan Islam.

Kalo kita nggak kuat-kuat amat imannya, berteman dengan orang baik itu nggak gampang di kondisi seperti ini. Mulai dari ejekan, sok alim-lah, sok ustadz-lah, sok bau surga-lah dan sejenisnya akan sering mampir ke telinga kita. Di kondisi kayak gitulah iman dan keistiqomahan kita berteman dengan teman yang baik akan benar-benar teruji. Kalo benteng kita nggak kuat-kuat amat akan jebol, selanjutnya kita galau dan bisa jadi kita jatuh di pelukan teman-teman yang justru menjauhkan kita kepada ketaatan. Naudzubillah min dzalik.

Oleh karenanya, kalo udah punya teman taat, teman surga, pegang erat-erat, jangan sampe lepas. Pesan Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu: “Tidaklah seorang hamba diberi kenikmatan yang lebih besar setelah keislaman, selain sahabat yang sholih. Maka apabila kalian mendapati teman yang sholih, peganglah ia erat-erat”.

Imam Syafi’i pun berpetuah ” Apabila kalian memiliki teman yang membantumu dalam ketaatan, maka genggam erat tangannya, karena mendapatkan seorang sahabat itu sulit sedangkan berpisah darinya itu mudah.”

Fadilah Punya Teman Baik
Biar makin yakin bin mantab, berikut ini fadilah alias keutamaan kita punya teman yang baik, teman yang mengajak kepada kebaikan.

Pertama, akan senantiasa ada yang saling ingat-mengingatkan. Pepatah arab mengatakan “Shadiqaka man shadaqaka laa man shaddaqaka” (Sahabat sejati-mu adalah yang senantiasa jujur (kalau salah diingatkan), bukan yang senantiasa membenarkanmu). Pada faktanya emang benar, kalo namanya sahabat sejati pasti bakal seperti itu perilaku kepada sahabatnya. Kalo ada teman, selalu membenarkan kita meski kita salah, nah yang kayak gitu ngak bakal lama jadi teman, dan nggak layak disebut sahabat sejati.

Kedua, namanya sahabat atau teman, pasti orang yang sangat akrab dengan kita, bahkan mungkin dia tahu kelemahan dan kelebihan kita, oleh karenanya teman yang baik akan selalu saling mendoakan, agar tak terjadi hal buruk menimpa kita. Dan doa dari teman, salah satu doa yang makbul.

“Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” (HR. Muslim)

Ketiga, ada hadits yang bunyinya “Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.’” (HR. Bukhari, Muslim). Itu artinya, teman taat yang kita mencintainya dan dia mencintai kita karena Allah, InsyaAllah akan saling bertemu lagi kelak di surga. Berteman di dunia, bertetangga di surga.

Keempat, pesan dari Syekh Hasan Al- Bashri, ”Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari klamat.” (Ma’alimut Tanzil 4/268). Jadi kalo kita punya banyak teman-teman baik, jika kelak kita di hari kiamat, teman baik itu bisa membawa kita kepada surga. Sehingga kita bisa pesankan kepada teman-teman baik kita, jika kelak di akhirat kita tidak bertemu, tolong cari aku di neraka, dan ajaklah aku ke surga. Aamiin.

Warning! Teman Lawan Jenis
Satu catatan penting, di saat mau mencari teman-teman baru untuk bisa menumbuhkan semangat baru, maka tak perlu repot-repot mencari teman lawan jenis. Artinya, dalam Islam aturan pertemanan dengan lawan jenis, sangat diatur, karena al-aslu alias hukum asalnya, kehidupan cowok-cewek itu terpisah. Baru boleh bertemu jika ada keperluan yang dibolehkan oleh syara (hajat syar’i). Jadi, yang selama ini sudah berteman dengan lawan jenis, maka sudah harus mulai diijaga interaksinya. Bagi yang belum punya teman lawan jenis, nggak usah galau kalo nggak punya teman lawan jenis.

Namanya teman, berbeda dengan yang bukan teman. Kalo disebut teman berarti adalah orang yang dekat, yang kita sering berinteraksi dengannya. Nah, berabe bangets kalo teman kita yang beda jenisnya. Karena sudah fitrahnya, ibarat magnet yang berbeda kutubnya akan saling tarik-menarik. Ini bukan hanya sekedar kekhawatiran, tapi sudah kebukti bahwa cowok-cewek kalo interaksinya terlau intens, bakal menimbulkan pelanggaran-pelanggaran syariat. Sudah banyak bukti, dari teman akhirnya demen alias suka. Bukan hanya masalah perasaan, tapi interaksi yang lain kayak ngobrol bareng, pun yang diatur oleh Islam, nggak diindahkan lagi, entah itu mereka antara nggak tahu atau emang nggak mau tahu.

Makanya penting banget hal ini jadi perhatian dalam berteman. Jangan hanya karena alasan pengin dapat motivasi, semangat baru, lalu serampangan berteman dengan lawan jenis. Awalnya sih ketemuan, lalu janjian, terus telepon-teleponan, habis itu saling motivasi, kemudian saling merasa nyaman, akhirnya interaksi yang nggak karuan. Duh.. jadi kelewatan deh.

Nyiksa banget, kalo kita nggak boleh berteman dengan lawan jenis, padahal kita hidup di dunia kan memang sudah ditakdirkan berlawanan jenis?! Man-teman satu hal yang kudu kita camkan bersama bahwa nggak ada aturan Islam (yang berasal dari Allah) yang nyiksa manusia. Allah ngasih aturan buat manusia, tentu saja untuk kemaslahatan umat manusia, salah satunya aturan pergaulan lawan jenis.

Adanya kita berlawan jenis, itu hak prerogratif Allah, lalu Allah ciptakan juga ketertarikan antar lawan jenis itu sebagai sebuah fitrah, bisa jadi nikmat, tapi bisa juga jadi laknat, jika nggak menuruti aturan Allah dalam berinteraksi. Sama kayak Allah ciptakan rasa lapar, bukan berarti kita dilarang lapar atau dilarang makan, tapi pada saat makan kita harus ingat aturan. Nggak boleh makan yang haram, nggak boleh berlebihan, dan sebagainya.

Nah, demikian pula dengan berteman lawan jenis. Bukan berarti nggak boleh bertemu atau berinteraksi dengan lawan jenis, akan tetapi diatur. Mulai dari ketemuan, obrolan, interaksi, transaksi, sampe soal perasaan. Makanya, ketika kita berinteraksi dengan lawan jenis, misalnya karena urusan kerja kelompok, urusan organisasi, nggak boleh mengedepankan perasaan. Kalo interaksi cowok-cewek pake baper, nantinya malah ada perasaan-perasaan lain ngikutin, kayak rasa nyaman, sampe rasa jatuh cinta. Wah bisa gaswat tuh!

Interaksi dengan teman lawan jenis, kudu hati-hati, seperti berduaan, berboncengan dengan lawan jenis tentu saja nggak boleh meskipun alasannya memotivasi atau urusan organisasi. Rasulullah saw berpesan “Ingatlah, bahwa tidaklah seorang laki-laki itu berkhalwat dengan seorang wanita kecuali yang ketiganya adalah setan.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim)

Katanya, seakan-akan rasanya lebih nyambung kalo curhat atau ngobrol dengan lawan jenis. Ah itu alasan yang terlalu dibuat-buat dan mengada-ada, padahal sebetulnya nggak perlu ada yang kayak gitu. Makanya cukupkan diri berteman yang cowok dengan yang cowok, yang cewek dengan yang cewek, itu tidak akan mengurangi dan menghilangkan fadilah dari berteman yang sudah disebutkan di atas.

So, selamat dan semangat mencari teman baru, teman baik, teman yang membawa kita ke surganya Allah SWT. Aamiin []

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Jumat, 12 Juli 2019

BACK TO SCHOOL



Panjang dan lama. Liburan yang dinikmati oleh para pelajar di tahun ini. Puas?? Mungkin jawabannya akan berbeda-beda, ada yang bilang kurang lama ada juga yang ngerasa kangen kembali ke sekolah. Kangen suasana belajar, kangen jajanan di kantin atau kangen dikasih uang jajan? Ups..  Kalau kamu yang mana nih?. Liburan kali ini memang panjang dari mulai libur lebaran sampai libur akhir tahun ajaran. Ada yang saat masuk sekolah langsung naik kelas ada juga yang berubah status dari anak SD ke SMP atau ada juga yang dari anak SMP ke SMA. Nah.. buat yang masuk ke sekolah baru, sangat bisa jadi lumayan kelimpungan karna harus menjadi pejuang sekolah zonasi. Di mana sekolah zonasi konon ditujukan agar ada pemerataan kualitas pendidikan. Jadi, ngga ada tuh label sekolah favorit atau unggulan yang biasanya diisi oleh siswa-siswa berprestasi dengan sekolah yang biasa-biasa saja atau tidak unggulan. That's why Pemerintah bikin kebijakan dengan sistem zonasi ini. Dalam Permendikbud No 14/2018 pasal 16 disebutkan bahwa sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah wajib menerima calon peserta didik yang berdomisili pada radius zona terdekat dari sekolah paling sedikit sebesar 90 persen dari total jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima.

Hiruk pikuk sekolah zonasi memang tak bisa dihindari guys. Bahkan baru-baru ini ada seorang anak asal pekalongan viral karena membakar semua piagam prestasi miliknya karena sekolah yang menjadi impiannya tidak masuk ke zonanya. Meski pemerintah merevisi kebijakannya dengan memberi peluang 15 persen kepada peserta didik untuk masuk ke sekolah favorit melalui jalur prestasi. Pro kontra kebijakan ini sepertinya masih akan bergulir, namun satu yang pasti kamu selaku pelajar punya tugas utama yaitu belajar. Seandainya pun saat ini kamu tidak bersekolah di tempat favorit yang kamu harap dan tuju, jangan sampai semangatmu kendor untuk belajar dan berprestasi. So, keep fight guys!!

Never stop to learning
Selama nyawa masih dikandung badan rasanya belajar ngga ada berhentinya deh. Karena hakikatnya belajar bukan soal “makan bangku sekolahan” aja ya, lebih dari itu belajar tentang banyak hal yang membuat kita ngga “buta” hidup di dunia ini. Terutama belajar tentang kehidupan dengan ilmu agama (Islam) tentunya. Tholabul ilmi faridhotun ‘alaa kulli muslimin, menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Nahh.. kamu muslim kan?? So, jangan pernah alergi sama yang namanya belajar atau menuntut ilmu apalagi merasa mencukupkan diri hanya sampai lulus sekolah doang seketika belajar berhenti. Oh, Big No!!.

Asal kamu tahu. Menjadi seorang muslim itu berarti menjadi seorang yang cerdas yaitu yang senantiasa menggunakan akalnya untuk berpikir benar. Untuk perkara iman atau aqidah saja harus melalui proses berpikir. Agar menjadi iman yang kokoh dan berpengaruh dengan amal (perbuatan)nya.  Jadi, bukan iman yang sekedar iman keturunan ya guys tapi iman yang dibenarkan oleh akal, diyakini  dalam hati, Imam Syafi’i berkata ketahuilah bahwa kewajiban pertama bagi seorang mukallaf adalah berpikir dan mencari dalil untuk mengenal Allah Ta’ala. Mukallaf itu adalah orang yang terbebani hukum syara, dan itu adalah kamu-kamu yang sudah baligh. Maksudnya ketika Allah perintahkan sesuatu kepada kita sebagai hambaNya maka bagi yang sudah baligh dia wajib mentaatinya, jika melanggar tentu ia berdosa. Di banyak ayat Al Qur’an kita diperintahkan untuk memperhatikan apa saja yang kita indera lalu memikirkan tentang kebesaran Allah atas ciptaanNya, sehingga dapat menguatkan keimanan dan keyakinan kita kepada Allah sebagai Pencipta. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”. (TQS. Ali Imran: 190)

Kembali ke laptop, eh salah back to the topic tentang kamu anak sekolahan yang kembali bersekolah. Anak sekolahan seharusnya sudah terbiasa dan terasah untuk senantiasa menggunakan akalnya untuk berpikir, apalagi sebagai generasi pemimpin sikap berpikir kritis harusnya menjadi kekhasan dari remaja milenial. Namun, sayang seribu sayang generasi muda kita malah malas untuk berpikir benar. Generasi kita masih terbius oleh ‘bisa’ (racun) pemikiran liberalisme yang menjadikan mereka hanya mencukupkan diri sebatas berpikir instan. Jangankan buat mikir pas belajar, buat mikir yang lebih dari itu sudah bikin pusing tujuh keliling, ditambah mual, perut kembung, mata kunang-kunang. Ups... tapi beneran sih ngga sedikit remaja yang berstatus pelajar lebih sibuk dan disibukkan dengan hal-hal yang remeh temeh (sepele). Hal yang ngga penting malah dipikirin misal mikirin kenapa Song Joong Ki sama Song Hye Kyo cerai padahal mereka adalah pasangan serasi dan romantis kalau memerankan drama korea sampai bikin para penggila drakor ikutan baper. Giliran ditanya kenapa remaja sekarang susah banget kalau diajak sholat dan kajian palingan dijawab ketawa sambil garuk-garuk kepala. Apalagi kalau ditanya gimana caranya bikin remaja muslim milenial ini bisa bangkit dan menjadi garda terdepan dalam perubahan hakiki bagi bangsa bahkan dunia?.

Sebenarnya ngga aneh sih, kalau remaja kita bingung tentang arti bahkan perjuangan menuju kebangkitan yang haqiqi yaitu kebangkitan yang diawali dengan berubahnya cara berpikir dari berpikir yang rendah menjadi berpikir luhur. Berpikir rendah itu misal seperti pemikiran “semau gue” alias apapun yang dipikirkan, diucapkan dan dikerjakan ngga boleh ada yang atur-atur pokonya bebas gimana gue aja. Kenapa pemikiran “semau gue” disebut sebagai berpikir rendah? Karna manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang lemah, serba kurang, terbatas dan pastinya membutuhkan kepada yang lain. Nah.. hakikat manusia yang seperti ini, eh.. bisa-bisanya manusia ngerasa paling tahu dan buat aturan sesukanya sesuai keinginan dan hawa nafsu. Kalau udah begini, si manusia bakal mengalami kerugian dan kesengsaraan. Masa sih? Kayanya happy happy aja tuh apalagi kalau hidup semau gue, bebaass. Iyess.. bisa jadi happy. Tapi coba look at your deepest heart. Yakin itu happy yang kamu mau? Happy yang ngga sempurna, karna ketentraman hati ngga bisa dibohongin pasti ada segurat gelisah yang akan kamu rasain.

Okelah, seandainya aman-aman saja, baik-baik saja atau happy-happy saja di dunia ini, but di akhirat belum tentu guys. Inget, dunia itu sementara akhirat selamanya. Masa mau menggadaikan yang selamanya dengan yang sebentar dan numpang lewat. Rasulullah saw, mengingatkan buat yang cerdas. Ibnu Umar ra. Berkata “suatu hari aku duduk bersama Rasulullah saw, tiba-tiba datang seorang laki-laki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi saw dan bertanya “Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’ Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ (HR. Ibnu Majah). See, cerdas itu ngga hanya tentang pintarnya kamu dalam bidang akademik di sekolah ya. Pelajar keren itu, yang cerdas dalam beriman juga cerdas dalam berilmu. Noted.

So, ubah cara berpikir rendah (pemikiran selain Islam) menjadi berpikir luhur nan mulia (pemikiran Islam) dengan begitu kita hanya akan melakukan hal-hal sesuai dengan tuntunan Islam. “Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi daripadanya” (HR. Ad Duruquthni).

To Be Smart With Islam
Better late than never. Kembali ke sekolah, mantapkan komitmen diri menjadi pembelajar sejati. Recharge and refresh nih apa aja yang harus kamu siapkan. Dalam kitab Ta’lim Muta’alim hal utama dan pertama yang harus dimiliki para pencari ilmu adalah niat yang sungguh-sungguh, niat mengharapkan ridho Allah SWT. Setelah niat yang sungguh-sungguh terpatri di dalam hati, miliki 6 hal berikut ini sebagai modal untuk belajar atau menuntut ilmu. Pertama, kecerdasan. Ulama membagi kecerdasan menjadi dua yaitu : muhibatun minallah (kecerdasan yang diberikan Allah). Misal, seseorang yang memiliki kemampuan ingatan atau hapalan yang kuat. Selain itu ada kecerdasan yang didapat dengan usaha (muktasab). Misal, dengan rajin mencatat ilmu atau pelajaran, mengulang-ngulang materi yang dipelajari. Kedua, bersungguh-sungguh. Ngga ada tuh kata malas di kamusnya para pembelajar sejati, seperti kata pepatah Man jadda wa jadda. Kalau kita bersungguh-sungguh niscaya kita akan mendapatkan kesuksesan. Ketiga, kesabaran. Yes, belajar juga butuh sabar ya guys. Perjalanan menuntut ilmu begitu panjang, meniscayakan adanya pengorbanan yang harus kita berikan baik waktu, pikiran, atau fisik. Namun, Imam Syafi’i mengatakan “Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan”. Keempat, biaya. Dalam menuntut ilmu tentu butuh biaya (bekal). Seperti Imam Malik yang menjual salah satu penopang atap rumahnya untuk menuntut ilmu. Bersyukurlah jika orang tuamu begitu baik telah membiayai sekolahmu. Jadi jangan sia-siakan pengorbanan mereka belajarlah dengan sungguh-sungguh. Kelima, bimbingan guru. Menuntut ilmu itu harus dibimbing oleh seorang guru terlebih ilmu agama agar tidak salah dalam memahami ilmu. Jasa guru begitu luar biasa dalam mengajarkan ilmu bagi kita, maka hormati dan muliakanlah mereka. Keenam, waktu. Imam Al Baihaqi berkata, “Ilmu tidak akan mungkin didapatkan kecuali dengan kita meluangkan waktu”. Karna tidak ada kata selesai untuk belajar, maka waktu yang panjang dibutuhkan dalam menimba ilmu. Belajar dulu, belajar lagi dan belajar terus semakin kita mendapatkan ilmu maka seharusnya semakin bertaqwa kepada Allah karna Allah yang memberikan kita kemudahan untuk bisa menyerap dan mengerti banyak ilmu. Imam Al Qadhi ditanya “Sampai kapan seseorang harus menuntut ilmu?” Beliau menjawab “Sampai ia meninggal dan ikut tertuang tempat tintanya ke liang kubur”. Buat kamu Para Pencari Ilmu yang sholih dan sholihah bersemangatlah menjadi generasi yang gemilang karna kamu adalah calon pemimpin di masa yang akan datang.

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Kamis, 04 Juli 2019

CARA BELAJAR GENERASI DIGITAL



Libur telah tiba, libur telah tiba, hore!

Hehe, bagi anak-anak generasi tahun 90-an pasti tahu banget lagu di atas? Lagu itu dipopulerkan oleh penyanyi cilik perempuan. Memang, masa-masa libur sekolah itu biasanya paling ditunggu-tunggu oleh para siswa. Ibaratnya lepas semua beban yang ada di pundak setelah belajar, menghadapi ujian praktek, ulangan harian, dan ujian akhir sekolah. Bahkan, mungkin sudah ada yang punya rencana liburan mau dipakai ngapain aja. Kalau kalian sudah punya rencana belum?

Yang hobi naik gunung, mungkin sudah kepikiran mau gunung apa saja yang didaki. Yang hobi travelling, udah punya plan kota mana yang mau dikunjungi. Yang cuma kepengen tapi ngga punya duit alias sobat missqueen, paling ngga jauh-jauh rebahan aja di rumah wkwk. Tapi ke manapun dan di manapun kamu berada, generasi zaman now ngga akan pernah jauh dari yang namanya gadget. Betul ngga Bro?

Era informasi dan komunikasi sangat memudahkan kita dari semua hal. Kita bisa tahu apa yang terjadi di Amerika Serikat yang literally di bawah kaki kita sambil rebahan di kasur. Kita bisa ngobrol cas cis cus dengan orang Swedia keturunan Viking dibantu google translate dan aplikasi Whats App. Kita pun bisa mempelajari apapun dengan gadget seukuran 6 inchi yang tidak jarang sampai ke kamar mandi pun kita bawa. Welcome to digital age.

Perkembangan Teknologi Digital

Orang tua kita sering bercerita,

“Dulu, mama belajar jalan kaki ke sekolah 5 kilometer. Belum ada buku tulis, adanya papan yang kita gunakan untuk belajar dan setelah ganti pelajaran langsung dihapus lagi. Ngga ada internet, kalau mau ke perpustakaan jalan kaki jauh itu pun bergantian baca bukunya,” ujarnya dengan tatapan memandang awan membayangkan masa lalu.

Memang, faktanya semisal itu pada zaman dulu. Jangankan internet, TV tabung hitam putih saja hanya dimiliki orang kaya atau balai desa sehingga kalau mau mendapatkan informasi kumpul semua ramai-ramai kayak nonton layar tancap.

Fast forward 30 years later, perkembangan teknologi begitu pesat. Ingat, perkembangan teknologi tidak mengikuti garis linear melainkan eksponensial. Dalam waktu singkat, kita memiliki handphone segede batu bata yang bisa buat mengganjal pintu. Muncul lagi flip phone yang hits banget dan hampir pasti ada di setiap sitcom Barat. Lalu muncul smartphone generasi awal yang mungil dan membuat kita terkejut terheran-heran kok bisa layar disentuh kayak warteg. Dan sampailah kita pada masa kini, di mana anak SD pakai kaos supreme dengan iPhone di tangan bukan lagi pemandangan langka.

Logikanya, perkembangan teknologi digital ini membuat pembelajaran dan pencerdasan masyarakat semakin meningkat, bukan? And that’s where you wrong, buddy. Generasi smartphone saat ini phone nya doang yang smart, sementara penggunanya belum tentu.

McKinley Shindel dalam tulisannya Misuse of Modern Technology memaparkan secara singkat bagaimana perkembangan teknologi, lebih spesifik penggunaan smartphone oleh anak muda, membuat sangat ketergantungan tanpa ada arahan yang jelas. Smartphone menggantikan hampir semua hal; jam, radio, kalkulator, TV, termasuk permainan. Lebih dari itu, semua informasi termasuk informasi negatif berpotensi mempengaruhi mereka melalui gadget tersebut.
Maka hari ini, banyak remaja-remaja dan pemuda yang mengekspresikan diri mereka lewat dunia digital dengan cara yang negatif bahkan cenderung maksiat. Viral challenge-challenge yang tidak bermanfaat seperti Kiki Challenge yang bahkan mencelakakan adalah satu dari sekian banyak penyalahgunaan teknologi.

Padahal, dengan perkembangan teknologi yang setiap hari semakin cepat seharusnya bisa dengan dimanfaatkan dengan baik termasuk perkembangan metodologi cara belajar. Dan ini berkaitan erat dengan mindset dan karakteristik remaja dan siswa kita saat ini.

Kisah Para Pendekar Ilmu

Mari kita flashback lebih jauh 12 abad yang lalu, di mana hidup seorang pemuda dengan berkah yang melimpah dari Allah, otak yang begitu cerdas dan mampu menghapal hadis begitu banyak, serta pemahaman agama yang membuatnya menuliskan jejak-jejak shahih Rasulullah dan para sahabat sehingga kita generasi akhir zaman ini bisa mengikuti suri tauladan yang dikasihi Allah tersebut. Pemuda itu bernama Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badrdizbah Al-Ju’fiy Al Bukhari atau biasa disebut Imam Bukhari.

Hanya keridhoan Allah lah yang mendorong ia berjalan selama 16 tahun dari Bukhara menuju Bashrah, Mesir, Hijaz, Kufah, Baghdad, hingga sebagian Asia Barat, menempuh ribuan kilometer, bertemu 80.000 perawi, dan mengumpulkan satu juta hadis yang kemudian ia seleksi sebanyak 9.082 hadis yang kini kita kenal dengan nama Shahih Bukhari.

Tidak hanya Imam Bukhari, ada juga pemuda dari Khurasan yang merupakan keturunan kabilah Arab yang mahsyur. Ia digelari al-Hafizh, al-Mujawwid, al-Hujjah, ash-Shadiq, dan sederetan gelar lain yang menunjukkan keluruhan ilmu nya. Beliau bernama lengkap Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Ward bin Kusyadz al-Qusyairi an-Naisaburi atau biasa disebut Imam Muslim.

Ia memiliki 120 guru. Dari hasil pembelajarannya sekurangnya ada 18 kitab mashsyur yang hingga kini masih kita baca dan paper tak terhingga jumlahnya yang mungkin hilang ditelan zaman. Kitab Shahih-nya dipuji oleh ulama bahkan al-Hafizh Abu Ali an-Naisaburi mengatakan, “Tidak ada di kolong langit ini sebuah kitab dalam ilmu hadits yang lebih shahih dari kitabnya Muslim.” Dan sama hal nya dengan Imam Bukhari, ia menghabiskan 15 tahun dengan berjalan dari satu wilayah ke wilayah lain demi mendapatkan ilmu-ilmu yang mulia dalam naungan rahmat Ilahi.

Ada lagi pemuda yang lahir di kota Gaza, Palestina. Ayahnya merupakan keturunan dari Bani Muththalib. Nasabnya sampai pada Rasulullah bertemu di Abdul Manaf. Kitab-kitab nya tak terhitung jumlahnya. Kemampuan Bahasa dan sastra Arabnya mengagumkan sampai-sampai ia disebut Imamnya bahasa Arab. Beliau bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Idris asy-Syafi'i al-Muththalibi al-Qurasyi atau biasa disebut Imam Syafi’i.

Ia menjadi salah satu imam mazhab fiqih yang hari ini di Indonesia paling banyak menganut, mazhab Syafi’i. Salah satu karangannya adalah “Ar-Risalah”, buku pertama tentang ushul fiqh dan kitab “Al Umm” yang berisi madzhab fiqhnya yang baru. Ia dikirim untuk belajar pada usia 13 tahun ke Madinah pada Imam Malik dan tak pernah berhenti belajar hingga Allah mencabut nyawanya di usia 52 tahun. Bahkan pada kondisi sakit wasir nya yang begitu parah ia tak pernah meninggalkan perjalanan demi belajar dan mengajar meski tak jarang darah mengalir pada pelana dan kakinya.

Kisah tiga pendekar ilmu di atas selayaknya menjadi panutan generasi remaja dan pemuda zaman now untuk senantiasa mencari ilmu. Terlebih, perkembangan teknologi yang ada hari ini seharusnya membuat kita lebih mudah lagi untuk belajar dimana distance and language barrier semakin tipis yang membuat kita praktis bisa mempelajari apapun hanya dengan memainkan jari jemari kita pada layar smartphone atau laptop kita.

Cara Belajar Generasi Digital

Telah disebutkan bahwa perkembangan digital memudahkan kita untuk belajar di manapun dan kapanpun. Hari ini banyak sekali kanal-kanal yang bisa kita manfaatkan untuk belajar. Apa saja sih? Yuk cekidot!

1. Channel Youtube Edukasi

Youtube adalah situs video sharing nomor satu di dunia dan situs nomor dua tertinggi di dunia setelah google.com (versi Alexa). Hampir 5 milyar video ditonton setiap hari dengan jumlah pengguna mencapai 1,3 milyar orang di seluruh dunia.

Setiap youtuber atau content creator mengupload video beragam, baik hiburan, informasi, maupun edukatif. Meskipun banyak (banget) konten-konten tak bermanfaat di Youtube yang harus kamu hindari, banyak juga loh channel yang edukatif dan bermanfaat.

Misalnya channel Mathantic dengan 1 juta subscriber yang rutin memproduksi konten pembelajaran tentang matematika dasar. Bagi kamu yang ingin mempelajari tentang wawasan dan budaya dunia, National Geograhic juga memiliki channel dengan 11 juta subscriber dengan video baru hampir setiap hari nya.

2. Aplikasi Smartphone

Apa saja aplikasi yang kamu install di gadget kamu? Jangan cuma free fire atau mobile legend yang ngehabisin memory, install juga dong aplikasi-aplikasi yang dapat menambah kemampuan akademik dan skill produktivitas kamu.

Misalnya buat kamu yang seneng belajar bahasa seperti Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin dan sebagainya, kamu bisa install DuoLinggo. Untuk kamu yang masih sekolah ada juga aplikasi bimbel online seperti Ruangguru. Untuk kamu yang ingin belajar lifestyle yang lebih sehat banyak aplikasi fitness dan resep makanan sehat bertebaran di Play Store untuk android atau App Store untuk IOS.

3. Berlangganan e-Journal dan e-Paper

Buat para senior remaja; mahasiswa, peneliti, dosen, hari ini mendapatkan jurnal dan paper ilmiah semudah membalikkan telapak tangan. Banyak situs penyedia e-journal dan e-paper yang bisa diakses untuk bahan penelitian. Ada doaj.org yang memiliki database jutaan artikel dan paper ilmiah Open Access full text. Ada juga jurn.org dengan jutaan artikel dan paper ilmiah yang meliputi ilmu seni, kemanusiaan, sains, dan lain-lain. Namun tentu saja, harus memperhatikan kaidah-kaidah dalam mensitasi paper ilmiah orang dan jangan sampai jatuh pada plagiat.

Tentu saja, peranan teknologi dan dunia digital hanya bersifat membantu dan memudahkan kamu dalam belajar. Metode pembelajaran pun tetap harus terikat pada hukum syara karena di manapun dan aktivitas apapun yang kita lakukan, Islam harus selalu menjadi pegangan.

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg