Selasa, 25 Juni 2019

Frustasi? Owh, No!



Lagi Viral, seenggaknya ketika tulisan ini dibuat, ada kasus percobaan bunuh diri yang mau dilakuin sama seorang cowok yang coba terjun dari jembatan tol Lempuyangan, Yogjakarta. Berita dan videonya viral, di sosial media. Selidik punya selidik, alasan dia mau bunuh diri, karena frustasi, depresi diputusin pacarnya. Duh, duh…. Sepele banget hidup loe!

Gaes, tanpa bermaksud meremehkan masalah mereka yang sedang frustasi hingga hendak atau sudah bunuh diri, di sini di buletin ini kayaknya memang perlu dibahas kasus bunuh diri ini. Sebab, nggak sedikit kasus bunuh diri ini dilakukan oleh para remaja atau pelajar yang frustasi. Bahkan satu bulan yang lalu, di situs liputan6.com diberitakan ada seorang remaja di Malaysia bunuh diri, gegara dia bikin polling di Instagram. Anehnya polling yang dia bikin, minta pendapat atau choice ke netizen, apakah dia masih perlu  hidup (Life) atau mati (Dead). Parahnya, mungkin karena netizen atau followernya kebanyakan orang alay dan suka galau, akhirnya hasil pollingnya malah ngasih saran dia untuk Dead. Walah, ckckck… edan tenan iki!

Nah, karena kita empati dan peduli pada nasib remaja, maka masalah ini perlu kita bahas, agar teman-teman remaja pada ngeh nih, kira-kira apa saja sih penyebab yang bisa atau gampang bikin stress, kenapa orang bisa stess lalu bunuh diri, dan yang lebih penting adalah gimana caranya biar kita terhindar dari upaya atau perilaku yang bisa mengarah ke bunuh diri. Yowis, gak usah lama-lama, cekidot aja dah buletin kesayanganmu ini.

Menelusuri Akar Masalah
Kalo kita baca berita-berita tentang kasus bunuh diri, penyebabnya bisa beragam. Ada yang karena putus cinta, ditingal nikah sama mantan. Ada yang bunuh diri karena stress sudah kuliah jauh-jauh ke luar negeri, begitu pulang ke Indo, nggak dapat pekerjaan. Tapi ada juga yang coba bunuh diri, karena masalah sepele dua pele, karena nggak punya gadget yang bagus kayak teman-temannya. Ada juga yang bunuh diri sekeluarga, gegara nggak sanggup ngelanjutin hidup. Dan penyebab-penyebab yang lain.

Dari sekian kasus tersebut, kira-kira kita bisa mengasumsikan, apa penyebab utama alias akar masalahnya koq bisa sampe mereka bunuh diri? Sebelum ngejawab, pertanyaan itu, ada baiknya coba kita uraikan dulu, unsur-unsur dari kasus bunuh diri. Jadi, secara global, kalo boleh disusun, unsur-unsur dari kasus ini, adalah yang (1) Manusia (individu) itu sendiri beserta segala potensi pemikirannya; (2) Masalah atau problem hidup manusia; dan (3) Interaksi sosial manusia dengan lingkungan sekitarnya, termasuk peraturan atau hukum yang berlaku di masyarakat. Coba, kita urai satu per satu, lalu nanti kita kaitkan antar ketiganya.

Pertama, manusia diciptakan oleh Allah sebagai mahluk ciptaan terbaik, tertuang dalam Al- Qur’an di Surah At-Tin ayat 4 “ Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. Di ayat lain, lebih gamblang lagi

“Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan”. (Q.S Al Isra’: 70)

Dari penciptaan yang sempurna tersebut beserta segala potensi hidupnya, maka kesempurnaan manusia sebagai makhluk Allah SWT tidak dilihat dari segi fisik (kecantikan ataupun ketampanan seseorang), tapi sempurna di mata Allah SWT adalah siapa yang paling bertaqwa di antara mereka semua. Allah berfirman dalam (Q.S Al-Hujurat : 13)

Jadi, dari unsur yang pertama (manusia), kata kunci yang bisa kita catat adalah keyword “takwa”. Mau seganteng atau sejelek apapun, mau sekaya atau semiskin apapun, mau setinggi atau serendah apapun pendidikannya, tetap standar bakunya untuk mengukur baik-buruknya seseorang adalah ketakwaannya kepada Allah.

Kedua, unsur berupa masalah atau problem hidup manusia. Ini jelas unsur yang penting dan pasti ada, pada kasus bunuh diri. Setiap orang yang hendak atau udah bunuh diri, pasti karena memiliki masalah, yang tadi sudah disebutkan macam-macam sebab masalahnya. Tapi yang kudu kita pahami bareng-bareng bahwa, bukan ada atau enggak adanya masalah di kehidupan yang manusia yang jadi pangkal persoalan. Sebab, manusia dan masalah itu kayak dua sisi keping mata uang, di manapun manusia hidup, selama dia masih hidup, pasti akan ketemu dengan yang namanya masalah.

Kalo bukan di situ pangkal persoalannya, lalu di mana pangkal persoalan dari masalah hidup manusia? Sekali lagi, yang jadi persoalan bukan ada atau tidaknya masalah, melainkan cara pandang seseorang itu terhadap masalah yang dia hadapi. Bisa jadi masalahnya sama, tapi karena berbeda cara memandang masalah, maka akhirnya berbeda cara menyikapi masalah tersebut. Masalahnya yang dihadapi misalnya, masalah sepele nggak punya gadget yang bagus dan terbaru, lalu gengsi dan minder dengan teman-teman gaulnya. Tapi dengan cara pandang yang benar dan berbeda, ada orang yang biasa-biasa aja, meskipun gadgetnya nggak sebagus punya temannya, atau bukan gadget yang terbaru. Pun dengan contoh masalah-masalah yang lain.

Nah, pertanyaan penting berikutnya, lalu apa unsur yang bisa menyusun cara pandang seseorang terhadap persoalan hidup? Melalu kajian yang mendalam Syekh Taqyiuddin An-Nabhani menjelaskan bahwa unsur yang mempengaruhi cara pandang seseorang (view of life) adalah pemahaman seseorang tersebut. Sementara yang bisa menyusun pemahaman seseorang tergantung pada asupan informasi (maklumat) dan tsaqofah Islam yang masuk ke dalam benaknya yang diproses melalui proses berfikir.

Jadi, kalo selama ini seseorang asupan informasi dan tsaqofahnya bukan dari pemikiran-pemikiran islami, pantas saja jika cara pandang dia terhadap hidup (view of life) menjadi salah. Kalo cara pandangnya sudah salah, akibat berikutnya berupa aktivitas atau tindakan yang diambil pun jadi salah. Sehingga dari unsur yang kedua (masalah) ini, kita bisa tarik kata kuncinya berupa “pemahaman”. Pemahamanlah yang membuat seseorang berbeda ketika menyikapi problematika kehidupan. Kalo cara pandangnya terhadap persoalan salah alias nggak islami, maka bunuh diri biasanya menjadi salah satu jalan bagi mereka untuk mengakhiri masalah.

Ketiga, interaksi sosial manusia dengan lingkungannya. Ini unsur yang juga nggak bisa dilepaskaitkan dengan problematika manusia. Sebab manusia hidup nggak bisa sendiri, karena karakter manusia yang serba lemah, serba kurang, maka manusia membutuhkan yang lain. Untuk itulah, kemudian manusia berinteraksi dengan manusia lain. Dari interaksi yang kontinyu, maka di masyarakat kita akan mengenal aturan, hukum, pranata sosial.

Nah, kalo selama interaksi yang mengatur antar manusia menggunakan aturan yang tidak islami, pantas aja kalo interaksinya nggak syar'i. Salah satu penyebab seseorang depresi, stress, atau merasa minder, kayak dicontohkan karena nggak punya gadget tadi, adalah berupa interaksi, atau pergaulan. Kalo cara atau aturan gaul, dan teman-teman gaulnya nggak mendukung seorang remaja bertakwa, nggak mendukung seorang remaja untuk memiliki pemahaman yang islami, maka masalah bunuh dari masih bisa jadi ancaman bagi remaja.

Lebih lengkapnya, kalo ketiga unsur itu digabungkan, penjelasannya gini. Jadi, kalo seseorang individu manusia tidak menyadari potensi dirinya diciptakan sebagai mahluk terbaik, lalu dia salah dalam menghadapi problematika kehidupan, ditambah lagi lingkungan sekitarnya mendukung untuk tetap berada di jalan yang salah, maka dia akan mudah sekali stress, yang salah satu ujugnya bisa berupa bunuh diri.

Cara Elegan Ngadepin Ujian
Seperti sudah diungkap di atas, bahwa manusia nggak bisa lepas dari yang namanya masalah. Nah, adakalanya masalah itu jadi ujian bagi manusia. Kaidah atau rumusnya masih sama, yakni “kalo salah dalam memandang masalah (ujian), maka salah mengambil sikap”. Yes, karena itulah kita kudu tahu gimana cara ngadepin masalah/ujian dalam hidup kita.

Bisa dikatakan, ujian yang dihadapi manusia yang dikasih oleh Allah, bisa berlevel tingkatannya. Ada yang diuji dengan masalah yang ringan, ada yang diujian dengan ujian yang sangat berat, seperti yang dialami oleh para Nabi terdahulu. Dari beragam dan berlevelnya ujian manusia, maka beginilah cara pandang yang benar terhadap masalah:

Pertama, memandang masalah merupakan bentuk kasih sayang Allah swt yang berupa ujian dan peringatan. Al-Quran menegaskan hal ini dalam surat al-Anbiya ayat 35:

"Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan."

Kedua, menganggap masalah merupakan cara Allah swt untuk meningkatkan derajat dan status kita sebagai hamba. Al-Quran surat al-Insyiqaq ayat 6 menegaskan:

"Hai manusia, sesungguhnya kamu sudah bekerja untuk Tuhanmu dengan sungguh-sungguh, maka kamu (kelak) akan menemuinya."

Ketiga, mempercayai bahwa Allah swt memberikan masalah sesuai dengan kadar kemampuan kita. Allah swt Maha Adil yang tidak akan membebani hambaNya di luar batasnya. Cara pandang seperti ini akan membuat kita selalu optimis dalam menjalani hidup dan menghadapi masalah. Ketika kita telah yakin, maka kita tinggal mencari jalan keluarnya. Al-Quran mengingatkan dalam surat al-Baqarah ayat 45:

"Dan mohonlah pertolongan Allah dengan sabar dan salat, dan sesungguhnya hal itu sangat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’."

Keempat, meyakini bahwa di mana ada kesulitan di situ pasti ada kemudahan, sebagaimana firman Allah swt dalam Q.S al-Insyirah: 6,

"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."

Yuk Kita Renungkan!
Sahabat Ibnu Mas’ud pernah menceritakan penjelasan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang karakter manusia

Nabi Muhammad saw pernah membuat bangun segi empat, lalu beliau membuat garis lurus di tengahnya yang menembus bangun segi empat itu. Kemudian beliau membuat garis kecil-kecil menyamping di antara garis tengah itu. Lalu beliau bersabda,

“Ini manusia. Dan ini ajalnya, mengelilinginya. Dan garis yang menembus bangun ini adalah obsesinya. Sementara garis kecil-kecil ini adalah rintangan hidup. Jika dia berhasil mengatasi rintangan pertama, dia akan tersangkut rintangan kedua. Jika dia berhasil lolos rintangan kedua, dia tersangkut rintangan berikutnya.” (HR. Bukhari).

Dari hadits dan gambar di atas, kita bisa pahami bahwa problematika manusia akan selalu ada, ketika selesai satu problem, akan menghadang di depannya problem yang lain. Maka nggak perlu dan nggak usah stress. Justru yang kita perlukan sekarang, jika kita sudah tahu dan paham bahwa masalah akan datang pada setiap kesempatan, di situlah kita butuh bekal menghadapi masalah tadi. Dan di atas tadi sudah diuraikan panjang bin lebar, kalo kita musti memperbanyak asupan pemahaman berupa informasi dan tsaqofah Islam yang benar, biar kita nggak mudah stress dalam menghadapi masalah.

Al akhir, sebagai bahan renungan coba perhatikan hadits Rasulullah saw berikut ini:
“Perhatikanlah orang yang lebih rendah keadaannya dari pada kalian, dan jangan perhatikan orang yang lebih sukses dibandingkan kalian. Karena ini cara paling efektif, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah bagi kalian.” (HR. Ahmad, Turmudzi, dan Ibn Majah)

Jadi, dari hadits tersebut kesimpulan kita masih sama, bahwa bukan banyak atau beratnya masalah yang kita hadapi yang bikin kita galau bin stress, tapi cara menghadapi masalah dengan bekal tsaqofah Islam yang benar, yang membuat kita tetap enjoy ketika diuji dengan masalah, makanya #yukngaji biar nggak mudah stress, dan nggak gampang bunuh diri. []

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Rabu, 19 Juni 2019

HOLIDAY CHALLENGE



Libur Idul Fitri yang beriringan dengan momen kenaikan kelas atau kelulusan membuat para pelajar mendapatkan waktu libur yang lebih banyak. Saat libur lebaran bagi Teman's Surga yang mudik ke kampung halaman orang tua tentu menjadi hal yang dinanti karena kerinduan akan kehangatan dan keseruan berkumpul dengan sanak saudara sudah begitu menggebu, meski tak bisa dipungkiri untuk tahun ini biaya transportasi baik darat, laut dan udara semakin melangit. Namun hal itu tidak menjadi halangan karena Allah SWT memerintahkan kita untuk menjalin dan menyambung tali silahturahmi dengan keluarga. “... Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (TQS. An Nisa: 1). Rasulullaah SAW pun bersabda dalam banyak haditsnya tentang keutamaan silahturahmi. Dari Abu Ayyub Al Anshori, Rasul SAW pernah ditanya tentang amalan yang dapat memasukkan ke dalam surga, lantas Rasul menjawab, “Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).” (HR. Bukhari). Luar biasa ya TemanS keutamaan bersilahturahmi ini hingga menjadikan amalan ini salah satu yang bisa membawa kita ke SurgaNya. Bersyukurlah jika kita masih memiliki dan dikelilingi sanak saudara maka jalinlah selalu tanpa harus menunggu momen Idul Fitri. Jangan sampai remaja-remaja kece seperti kamu cuek dan ngga kenal dengan saudara sendiri.

Ok back to holiday, karna momen liburan ini sepertinya masih berlanjut untuk beberapa waktu, kira-kira akan diisi apa lagi yaa liburan Teman's Surga kali ini?

Berakit-rakit Dahulu Berenang-renang ke Tepian?

Setelah melewati proses belajar sepanjang satu semester dan menghadapi ujian biasanya para pelajar diberikan waktu libur (tidak adanya proses belajar di sekolah). Mungkin sebagian besar pelajar kita merasa libur adalah saatnya bebas dari segala beban belajar yang dirasa berat. I'm feel free!! Pikirnya. Yes, bebas dari segala tugas. Saatnya melakukan semua hal yang ngga bisa dilakukan saat sekolah. Misalnya, tidur sampai puas, bangun siang, maenin hape, kalaupun keluar rumah kongkow sama temen dari mulai nonton bioskop atau kulineran ke tempat makan kekinian yang instagramable. Hhmm.. seharusnya ngga segininya juga sih guys. Pertama, meski belajar itu sangat bisa jadi melelahkan dan membutuhkan pengorbanan namun jika semua ditujukan hanya karena Allah maka Allah akan membalas peluhnya para penuntut ilmu dengan banyak kebaikan baik di dunia maupun kelak di akhirat. Kedua, betul bahwa manusia secara fitrah membutuhkan waktu untuk rehat atau beristirahat karna manusia bukanlah robot. Bahkan Allah ciptakan malam dan siang adalah untuk keseimbangan agar kita ngga seharian penuh belajar terus-terusan atau ibadah terus-terusan tapi Allah berikan waktu bagi manusia untuk rehat (beristirahat). “Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?" Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?" Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya”. (TQS. Al Qashash : 71-73). Nah, waktu libur sekolah yang diberikan sejatinya jangan sampai membuat kita justru jadi lalai beribadah atau lebih banyak melakukan hal-hal mubah yang melenakan. Seperti yang disebutkan sebelumnya. Mubah adalah syariat terhadap suatu perbuatan yang dimana jika kita melakukannya tidak berdosa namun tak mendapat pahala juga. Oleh karenanya, untuk perbuatan-perbuatan mubah kita harus lebih mempertimbangkan apakah yang kita lakukan lebih banyak manfaat atau mudharatnya. Atau malah jangan sampai yang tadinya perbuatan mubah ternyata membawa kepada keharaman misalnya yang awalnya tidur itu hukumnya mubah, karna saking malasnya untuk bangun sampai melalaikan sholat yang wajib. Contoh lainnya, menonton yang hukumnya mubah atau boleh-boleh saja namun perlu diperhatikan ya guys film apa yang ditonton apalagi kalau nontonnya di bioskop bisa terjadi ihtilath atau campur baur antara laki-laki dan perempuan dan ini hukumnya haram lho yaa friends.

Namun, bisa juga lho.. aktifitas mubah yang akhirnya bisa mendatangkan nilai kebaikan dan pahala. Misal nih, saat kita liburan ke suatu tempat bukan saja sekedar melepas penat namun kita bisa memperhatikan alam ciptaan Allah yang begitu indah sehingga darinya keimanan kepada Allah semakin terpatri kuat. “Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa”. (TQS. Yunus: 6). Dan dari hasil tafakur alam ini, akan menjadikan kita sebagai hamba yang semakin taqwa, karna di antara ciptaanNya kita hanyalah bagian terkecil yang lemah, serba kurang dan bergantung kepada Allah. Jadi, liburan ngga sekedar seru-seruan aja, seneng-seneng doang.

Jangan sampai kita terjebak dalam konsep barat yang memaknai happy itu sekedar kepuasan material dan jasadiyah saja. Jadi wajar aja meski sudah mengeluarkan materi yang banyak tapi ngga worth it, masih aja ngerasa ngga puas atau ngerasa masih belum dapetin happy yang seutuhnya, happy yang hanya berdimensi duniawi. Banyak dalil yang menyebutkan betapa kesenangan dunia adalah sesuatu yang menipu. Allah Ta'ala berfirman “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. TQS. Al Hadid : 20

See, kesenangannya saja menipu bahkan dunianya saja diibaratkan bagaikan bangkai. Sahabat yang mulia, Jabir bin Abdullah, mengabarkan bahwa Rasulullah pernah melewati sebuah pasar hingga kemudian banyak orang yang mengelilinginya. Sesaat kemudian beliau melihat bangkai anak kambing yang cacat telinganya. Rasulullah mengambil dan memegang telinga kambing itu seraya bersabda, ''Siapa di antara kalian yang mau memiliki anak kambing ini dengan harga satu dirham.'' Para sahabat menjawab, ''Kami tidak mau anak kambing itu menjadi milik kami walau dengan harga murah, lagi pula apa yang dapat kami perbuat dengan bangkai ini?'' Kemudian Rasulullah berkata lagi, ''Apakah kalian suka anak kambing ini menjadi milik kalian?'' Mereka menjawab, ''Demi Allah, seandainya anak kambing ini hidup, maka ia cacat telinganya. Apalagi dalam keadaan mati.” Mendengar pernyataan mereka, Nabi bersabda, ''Demi Allah, sungguh dunia ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada bangkai anak kambing ini untuk kalian.'' (HR. Muslim).

Jadi, meskipun liburan keliling dunia sekali pun pasti tetap saja ada yang kurang dan kosong selama konsep kebahagiaannya menggunakan rumus sekuler yang hanya mampu memberikan kebahagiaan jasadi duniawi.

Liburan ala Teman Surga

Cuma Islam yang punya formula canggih yang bisa ngatur liburan yang more beautiful more meaningful. BerIslam ngga melulu soal ibadah tapi dalam Islam semua hal bisa bernilai ibadah selama diniatkan karna Allah dan caranya sesuai tuntunan syariat Islam. Cakeep. Bahkan termasuk liburan yang bisa bernilai ibadah selain bisa me-refresh jiwa dan hati kita kalau sudah begini bahagia haqiqi bisa dengan mudah kita dapatkan. Bahagia yang bukan hanya jasadi duniawi tapi bahagia yang bisa mengisi “ruang kosong” meski ngga harus bayar mahal dengan berkeliling dunia.

Imam An Nawawi mengatakan: “Rehatkan jiwa kalian dari rutinitas dengan melakukan yang dibolehkan”. Sedangkan Ali ra berkata: “Rehatkan hati kalian, karena hati juga merasa bosan sebagaimana jiwa kalian merasa capek dan bosan”. So, Islam adalah agama yang seimbang dan tidak memberatkan diri. Rasulullah saw bersabda “Sesungguhnya agama ini mudah. Tiada orang yang memberatkan diri dalam urusan agama, kecuali ia akan dikalahkan. Maka mudahkanlah, mendekatlah, bergembiralah dan gunakan sebaik mungkin waktu pagi, waktu sore, dan sebagian waktu malam kalian untuk memperbanyak kebaikan”. (HR. Bukhari)

Liburan adalah saatnya di mana seseorang rehat sejenak dari berbagai rutinitas keseharian, namun tetap berfadah dan bernilai ibadah. Misal nih, di liburan kali ini kamu mau belajar berkuda dan memanah. Seru kan tuh, kalau remaja lain mager sama aktifitas fisik macam ini kamu justru tertantang buat bisa naklukin kuda dan panah yang ngga semua remaja bisa. Serunya dapet, challenge-nya dapet, pahala sunnahnya dapet jugaa. Dalam salah satu hadits shahih yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, Nabi pernah bersabda: “ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah”.

Intinya ada saatnya kita ibadah shalat, puasa dan lain-lain, ada saatnya kita belajar, ada saatnya kita pun untuk berlibur atau rihlah. Dengan catatan semua itu dilakukan dalam koridor syariat Islam dan Allah ridho. So, siap menerima tantangan mengisi liburan yang menyenangkan sekaligus berfaedah?

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Sabtu, 15 Juni 2019

Siap Mudik ke Kampung Akhirat?



Di negeri Ibu Pertiwi, lebaran identik dengan fenomena mudik alias pulang kampung. Udah jadi budaya yang berurat akar sampai tujuh turunan lho. Setiap menjelang hari raya, para pemudik alias mudikers berbondong-bondong memadati terminal angkutan umum, stasiun, dan mungkin ada juga yang ke Bandara. Lengkap dengan barang bawaannya dari tas besar, kardus oleh-oleh, nggak ketinggalan gadget, powerbank, dan kuota full. Biar mudiknya kekinian.

Selain pakai angkutan umum, mudikers juga terlihat memadati jalan aspal. Terutama yang pakai motor dengan modifikasi seadanya biar bisa ngangkut anak istri dan barang bawaannya yang bejibun. Kreatif tanpa batas. Jarak ratusan kilometer pun dijabanin. Yang penting bisa nyampe ke kampung halaman pas lebaran. Bertemu sanak keluarga dan melepas rindu pada orang tua tercinta.

Oiya melalui media ini, tim TemanSurga menyampaikan selamat 'Idul Fitri ya, mohon maaf lahir dan batin. Semoga semua amal ibadah kita di bulan Ramadhan kemarin dicatat sebagai amal sholeh, dan menjadikan kita sebagai hambaNya yang bertaqwa, aamiin.

Ngapain Pulang Kampung?

Pasti udah pada tahu ya gimana rasanya selama perjalanan mudik ke kampung halaman. Atau mungkin juga termasuk yang sudah ngalamin serunya mudik menjelang lebaran. Sepanjang perjalanan darat kita bakal disuguhi oleh asap-asap knalpot menyesakkan pernafasan. Kemacetan bak ular yang lama terurai di jalan utama maupun jalan alternatif. Ke sana ke sini, mentok. Pasrah.

Jalan tol yang konon kabarnya bebas hambatan, ternyat saat mudik jadi mitos berkepanjangan. Kedisiplinan pengguna jalan menjadi barang langka. Agar tepat sampai tujuan, taat rambu urusan bekalangan. Ngingetin mudikers agar tertib lalu lintas ibarat ngajarin anak PAUD flash mob. Capek deh!

Kadang terpikir, pertanyaan serius untuk apa bela-belain mudik ke kampung halaman?
Padahal ketidaknyamanannya banyak dikeluhkan netizen yang membanjiri sosial media. Tapi ya gitu, justru jadi pengalaman unik dan terulang setiap tahunnya. Dan hasilnya, jawaban yang kita peroleh, biasanya nggak jauh dari tiga berikut.

Pertama, silaturahmi. Dalam Islam, silaturahmi terutama saat lebaran bukan sekedar bersalaman atau malah jadi ajang pamer kepunyaan. Tapi buah dari ketakwaan sesuai anjuran Rasulullah saw.

“Siapa yang bertakwa kepada Rabb-nya dan menyambung silaturrahmi niscaya umurnya akan diperpanjang dan hartanya akan diperbanyak serta keluarganya akan mencintainya.” (HR. Bukhari)

Dari Abu Ayyub Al Anshori, Rasulullah saw pernah ditanya tentang amalan yang dapat memasukkan ke dalam surga, lantas Rasul menjawab, “Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).” (HR. Bukhari)

Terlebih lagi, silaturahmi juga akan memperpanjang usia dan membuka pintu rezeki kita. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata “Siapa yang bertakwa kepada Rabb-nya dan menyambung silaturrahmi niscaya umurnya akan diperpanjang dan hartanya akan diperbanyak serta keluarganya akan mencintainya.” (HR. Bukhari)

Kedua, ziarah. Agenda ziarah kubur santer dilakukan pasca lebaran. Apalagi saat pulang kampung. Ziarah ke makam kakek, nenek, sanak atau kerabat atau mungkin orang tua. Semata-mata ngikutin ajaran Rasulullah saw agar kita selalu ingat akan akhirat dan kematian sebagai sebuah kepastian.

“Lakukanlah ziarah kubur karena hal itu lebih mengingatkan kalian pada akhirat (kematian).” (HR. Muslim).

Ziarah kubur juga ngasih kebaikan bagi mayit seorang muslim/muslimah yang diziarahi. Lantaran kita yang berziarah diperintahkan untuk mengucapkan salam kepada mayit, mendo'akannya, dan memohonkan ampun untuknya. Dari ‘Aisyah radhiyallahu 'anha, “Nabi pernah keluar ke Baqi', lalu beliau mendo'akan mereka. Maka 'Aisyah menanyakan hal tersebut kepada beliau. Lalu beliau menjawab: "Sesungguhnya aku diperintahkan untuk mendo'akan mereka”[HR. Ahmad]

Ketiga, berbagi rezeki. Saat mudik, biasanya mudikers nggak cuman bawa badan doang. Kebanyakan bawa buah tangan untuk keluarga dan kerabat di kampung halaman. Tak sedikit yang udah nyiapin dana lebih lantaran dapat THR untuk berbagi rezeki. Meski tak banyak, yang penting bisa berbagi kebahagiaan dan kebanjiran doa dari sanak saudara. Berkah hartanya.

Temans, apapun tujuan kita pulang kampung, semoga tetap penuh keberkahan ya. Jauh-jauh dari sifat riya atau ujub bin takabur. Kebahagiaan bertemu sanak keluarga, semoga menjadi amal sholeh yang membuka pintu rezeki dan kebaikan sebanyak mungkin.

Pulang Kampung Sebenarnya

Kalo ngeliat orang-orang pada mudik, jadi inget ama diri sendiri. Sebagai hamba Allah, kita semua pasti bakal pulang kampung ke tempat yang abadi. Bukan ke desa atau udik, tapi ke kampung akhirat. Karena kehidupan dunia hanya sementara.

“Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini adalah kesenangan sementara. Dan sesungguhya akhirat itu adalah negeri tempat kembali” (QS. AL-Mu’min [40]: 39).

Banyak dari kita yang lupa atau nggak peduli dengan tempat kembalinya kelak. Pulang ke kampung akhirat tak sedikitpun tersirat dalam benak. Sehingga ngotot mengejar kesenangan dunia dengan menghalakan segala cara. Nggak peduli halal haram, yang penting bisa nikmati hidup dan berfoya-foya.

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. al-Hadid [57]: 20)

Orang yang tergila dengan dunia, lupa akan akhirat, gambarannya seperti yang disampaikan oleh Yahya bin Mu'adz Ar-Razi, “Dunia adalah khamarnya setan. Siapa yang mabuk, barulah tersadarkan diri ketika kematian (yang gelap) itu datang. Nantinya ia akan menyesal bersama dengan orang-orang yang merugi.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 381)

Padahal Rasulullah saw mengingatkan kita  ketika ditanya tentang kehidupan dunia. “Apa peduliku dengan dunia? Tidaklah aku tinggal di dunia melainkan seperti musafir yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu musafir tersebut meninggalkannya.” [HR. Tirmidzi]

Makanya, jangan sampai kita lupa dengan kampung akhirat. Tempat kembali yang abadi. Apalagi mudik ke kampung akhirat gak kenal waktu, usia, atau status sosial. Bisa kapan aja nggak mesti tunggu lebaran tiba. Bisa siapa saja nggak harus yang berlimpah harta atau tua renta. Tak ada notifikasi, meski gadget kita paling canggih sedunia. Saat ajal menjemput, perjalanan menuju kampung akhirat dimulai. Bersiaplah!

Bekal Apa Yang Sudah Kita Siapkan?

Sebelum pulang ke kampung halaman, mudikers jauh-jauh hari sudah mempersiapkan bekalnya. Tahu sendiri, biaya perjalanan pastinya ada kenaikan. Belum lagi oleh-oleh dan berbagi rezeki dengan sanak kerabat. Makanya nggak heran kalo mudikers kerja keras banting tulang demi momen mudik tahunan.

Nah, yang mudik ke kampung halaman aja nyiapin bekalnya bejibun, padahal cuman beberapa hari sebelum balik lagi ke kota. Bagaimana dengan bekal kita untuk pulang ke kampung akhirat? Seberapa banyak bekal yang kita siapkan? Bekal apa saja yang harus kita siapkan?

Rasulullah saw  mengingatkan, "Yang mengikuti mayit sampai ke kubur ada tiga, dua akan kembali dan satu tetap bersamanya di kubur. Yang mengikutinya adalah keluarga, harta, dan amalnya. Yang kembali adalah keluarga dan hartanya. Sedangkan yang tetap bersamanya di kubur adalah amalnya.”[HR. Bukhari Muslim]

Sebagaimana Luqmanul Hakim pernah memberikan wejangan kepada anaknya tentang perumpamaan dunia ini, ia berkata pada anaknya: “Wahai anakku! Ketahuilah bahwa sesungguhnya dunia ini merupakan lautan yang dalam dan luas, maka hendaklah engkau isi perahumu dengan ketakwaan kepada Allah Swt., dan di dalamnya diisi dengan keimanan kepada Allah Swt., sedangkan layarnya diisi dengan tawakkal kepada Allah Swt. Mudah-mudahan kamu selamat, namun saya tidak melihat kamu selamat.”

Allah swt juga menegaskan dalam firman-Nya. “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 197)

Udah jelas ya, bekal yang kita bawa mudik ke kampung akhirat bukan harta kekayaan, sanak kerabat, jumlah follower, subscriber, atau status sosial. Tapi amal sholeh yang lahir dari ketakwaan. Untuk itu, kita mesti jadi remaja cerdas.

Ibnu Umar meriwayatkan: “Kami bersepuluh datang kepada Nabi saw, ketika seorang Anshar berdiri dan bertanya ‘Wahai Nabi Allah swt, siapakah manusia yang paling cerdas dan paling mulia?’ Maka Rasulullah saw menjawab ‘Mereka yang paling banyak mengingat mati dan paling banyak mempersiapkan kematian. Merekalah orang yang paling cerdas. Mereka akan pergi dengan membawa kehormatan dunia dan kemuliaan akhirat” (HR. Ibnu Majah)

Remaja cerdas akan terbiasa untuk berpikir baik-buruknya dalam kacamata Islam sebelum berbuat. Nggak asal ngikut. Dia belajar untuk menjadikan dunia sebagai ladang pahala. Bukan ladang cari kesenangan yang melenakan. Dia berlatih untuk menundukkan hawa nafsu di bawah kendali aturan hidup Islam. Dia bukan remaja bermental bedug yang baru bersuara setelah dipukul. Tapi akan berusaha untuk ngasih nilai lebih dalam hidup dengan berdakwah dan menyampaikan kebenaran Islam untuk kebaikan dirinya dan umat. Remaja cerdas bukan turunan Fir'aun yang bertaubat ketika ajal telah mendekat. Karena dia tahu, hidupnya bisa berakhir kapan aja.

Rasul saw bersabda: “Jika kalian bangun di pagi hari, janganlah mengharap akan (hidup) sampai sore; dan jika berada di waktu sore jangan berharap akan (hidup) sampai besok pagi. Pergunakan masa sehatmu untuk (mempersiapkan) masa sakit, dan masa hidup untuk (menyiapkan bekal) kematian, seakan-akan kalian tidak tahu nama kalian besok pagi.”(HR.Bukhari)

Temans, kita pasti bisa jadi remaja cerdas. Asalkan mau mengenal Islam lebih dalam yang bisa bikin kita jadi lebih pede untuk jalanin hidup di dunia juga kehidupan kedua di akhirat. Siap mudik ke kampung akhirat? Siapa takut!

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Sabtu, 01 Juni 2019

Kejar Lailatul Qadar



Baru saja ramai terdengar dendang lagu Ramadhan tiba, Ramadhan tiba, marhaban Yaa Ramadhan. Tapi sekarang tak terasa kita sudah ada di fase ketiga di bulan Ramadhan yang mulia ini. Bagi yang menyambut Ramadhan dengan gembira tentu perasaan sedih akan menyelimuti hati saat tahu bahwa sang tamu istimewa akan segera pergi. Menahannya agar tidak pergi tentu tidaklah mungkin karna waktu terus berputar. Namun, kita masih bisa membersamai dan memanfaatkan keberadaanya dengan sebaik-baiknya di sepertiga akhir bulan Ramadhan ini.

Ramadhan Berakhir? What next?

Pemandangan yang sepertinya masih serupa di setiap tahunnya dapat kita lihat. Semakin hari puasa berlalu ternyata membuat shaf shalat di mesjid semakin maju alias lebih sedikit jama'ahnya. Bukannya bertambah khusyuk beribadah malah lebih padat ngadain bubar atau buka bareng, lebih  sibuk pergi ke mall pilah-pilih apa yang akan dipakai saat lebaran dari kepala sampai kaki. Apalagi tawaran diskon menarik yang bisa bikin kalap belanja. Sebenarnya boleh dan sah-sah saja kita mengekspresikan kesyukuran dan kebahagiaan pada saat Idul Fitri nanti dengan menggunakan pakaian yang serba baru. Karna sesungguhnya Allah SWT itu indah dan mencintai keindahan. Tapi, itu bukanlah satu keharusan yang mutlak karna jika tidak ada baju barunya masih ada baju lama yang masih layak dipakai dan menutup aurat. Kemenangan hakiki bukanlah berada pada pakaian baru yang kita kenakan tapi bagaimana kita reborn menjadi manusia fitrah yang bertaqwa. Ya, fitrahnya manusia semestinya adalah tunduk dan taat (menghamba) kepada Allah SWT Sang Pencipta. “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (TQS.  Ar Ruum : 30). Dengan ketundukan inilah akan menjadikan seseorang bertaqwa yang senantiasa melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, karena mengharap pahala dari Allah Ta’ala dan rasa takut terhadap adzab Allah.

Bagi yang puasanya adalah puasa orang awam, tidak aneh rasanya jika dalam mengisi hari-hari di bulan puasa ini sama dengan yang kebanyakan orang lakukan. Pun ke mesjid untuk sholat tarawih hanya getol di awal-awal hari saja karna ikut euforia datangnya Ramadhan, selanjutnya sholat tarawih pun berganti dengan agenda buka bareng temen dari SD sampai SMA belum lagi buka bareng sama temen-temen komunitas. Qur'an dibaca secukupnya karna ngga punya target dan ngga bertekad untuk mengkhatam-kannya. Apalagi untuk mengejar lailatul qodar di sepuluh malam terakhir, ibarat kata baterai karna ngga rajin nge-charge walhasil jadi low-bat. Akhirnya di akhir-akhir puasa biasanya sudah agak males, dari mulai sahur yang mau-mau ngga-ngga. Lebih banyak tidurnya dibanding ibadahnya. Ngisi waktu dengan main games, yang harusnya semakin rajin ke mesjid ditambah i-tikaf malah lebih semangat kalau sudah ngerancang acara buka bareng teman-teman padahal isinya makan doang, yang banyak ketawa-ketiwinya trus ditutup dengan foto selfi next upload. Saking heboh dan serunya bukber ngga jarang juga tuh bukber berubah menjadi makbar alias maksiat bareng. Misal, ninggalin sholat magrib karna keasyikannya jadi lupa waktu. Belum lagi ada interaksi yang ngga halal dengan teman lawan jenis. Haduhh.. jangan sampai ini terjadi ya guys. "

Sungguh rugi luar biasa jika di Ramadhan yang mulia ini kita ngga mendapatkan “apa-apa”. Bahkan Rasulullah saw sudah mengingatkan “Dan celakalah seseorang yang mendapatkan bulan Ramadhan, kemudian melewatinya sebelum dosa-dosanya diampuni”. (HR. At Tirmidzi). Nah lho.. sampai Rasul bilang celaka, bagaimana tidak bulan mulia ini adalah saat di mana ampunan Allah turun bagi siapa saja yang bertaubat dan memohon ampun dari segala dosa-dosanya. Dosa sebesar dan sebanyak apapun akan Allah ampuni sampai bersih seperti bayi yang baru lahir yang tidak membawa dosa satu pun. “Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (TQS. Az Zumar : 53-54). So, that's why kita harus perbanyak istighfar dan memperbanyak amal sholih terlebih di penghujung bulan Ramadhan ini.

1 Malam 1000 Bulan

Inilah salah satu yang menjadi keistimewaan bulan Ramadhan, yaitu malam mulia (Lailatul Qadr). Dan Allah mengabadikan malam mulia ini dalam Qur'an Surat Al Qadr. “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. Malam yang spesial ini dirahasiakan Allah kapan terjadinya, hanya bagi yang bersungguh-sungguhlah yang bisa mendapatkannya. Allah hanya memberi clue (petunjuk) bahwa malam itu ada di malam ganjil di 10 malam terakhir. Rasulullah saw bersabda “Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan (HR. Bukhari). Oleh karnanya, di 10 malam terakhir ini disunnahkan untuk beri'tikaf di mesjid. Yaitu berdiam diri di mesjid dalam rangka mendapatkan ridha Allah SWT dengan bermuhasabah diri dan qiyamul lail dengan memperbanyak ibadah seperi membaca Al Qur'an atau sholat-sholat sunnah.

Betapa beruntungnya bagi yang mendapatkan lailatul qadr ini. Jika dapat hadiah atau THR dari om tante atau nenek dan kakek saja sudah bahagia apalagi mendapati malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Bayangin aja, pahala yang didapatkan saat kita melaksanakan amal sholih di malam itu  pahalanya lebih baik dari kita melaksanakan ibadah selama 1000 bulan penuh. Maa sya Allah. Secara kita ngga pernah tahu sampai kapan umur kita di dunia ini. Mendapatkan malam mulia ini tentu sangat-sangat berharga luar biasa. Allah Ta'ala melalui Rasulullah saw memberi tahu tanda kemunculan lailatul qadr ini. Hadits Ubadah bin Ash Shamit radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Lailatul Qadr (terjadi) pada sepuluh malam terakhir, barangsiapa yang menghidupkan malam-malam itu karena berharap keutamaannya maka sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang, dan malam itu adalah pada malam ganjil, ke dua puluh sembilan, dua puluh tujuh, dua puluh lima, dua puluh tiga atau malam terakhir di bulan Ramadhan”, dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda pula, “Sesungguhnya tanda Lailatul Qadr adalah malam cerah, terang, seolah-olah ada bulan, malam yang tenang dan tentram, tidak dingin dan tidak pula panas, pada malam itu tidak dihalalkan dilemparnya bintang, sampai pagi harinya, dan sesungguhnya tanda Lailatul Qadr adalah matahari di pagi harinya terbit dengan indah, tidak bersinar kuat, seperti bulan purnama, dan tidak pula dihalalkan bagi setan untuk keluar bersama matahari pagi itu”.  Seperti halnya teman-teman memilih smartphone atau gadget pasti menginginkan yang memiliki kecanggihan atau kehebatan dibanding dengan gadget lainnya. Tentu juga pasti akan mengejar dan meraih malam yang 1000 kali lebih baik dari malam-malam lainnya.

Refleksi Lailatul Qadar

Ramadhan sudah di penghujung waktu. Bergiat ibadah di sisa hari yang hanya terhitung jari ini tentu harus kita utamakan. Jika kita refleksikan dari lailatul qadar ini banyak yang bisa kita ambil ibrah dan hikmahnya terutama bagi kaum milenials seperti kamu. Pertama, bahwa pada saat lailatul qadar ini Allah SWT menurunkan Al Qur'an Karim secara sempurna. Inna anzalnaahu fii lailatil qadr, Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan”. (TQS. Al Qadr : 1). Ibnu ‘Abbas dan selainnya mengatakan, “Allah menurunkan Al Qur'an secara utuh sekaligus dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah yang ada di langit dunia. Kemudian Allah menurunkan Al Qur'an kepada Rasulullah saw tersebut secara terpisah sesuai dengan kejadian-kejadian yang terjadi selama 23 tahun.” (Tafsir Al Qur'an Al 'Azhim, 14: 403). So, Al Qur'an sebagai pedoman hidup manusia sudah turun dengan sempurna. Remaja muslim milenial yang keren itu yang bangga hidup bersama Al Qur'an dari mulai membacanya, memahaminya hingga mengamalkan isi Al-Qur'an yang merupakan perintah Allah SWT. Biarlah ramadhan kali ini menjadi awal bagi kita untuk memperdalam apa saja yang terkandung di dalam Al Qur'aan yang mulia ini. Terlebih di akhir zaman sekarang ini, pemuda yang menggenggam dan memperjuangkan Al Qur'anlah yang menjadi harapan bagi bangkitnya Peradaban Mulia yaitu Peradaban Islam. Kedua, saat malaikat-malaikat turun di malam mulia ini merefleksikan bahwa keberkahan akan didapatkan ketika kita menyempurnakan ketundukan kepada Allah SWT, hidup dengan aturanNya yang sempurna. Ramadhan adalah tempat untuk kita melatih diri menjadi pribadi yang senantiasa dekat dengan Allah SWT, tunduk dan terikat dengan aturan Allah misal bagi yang akhwat yang belum berhijab di Ramadhan kali ini berniat dan bertekad untuk istiqomah untuk menutup aurat. Semoga di akhir perjalanan Ramadhan ini kita bisa menjadi pemenang, menjadi insan bertaqwa. Aamiin

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg