Sabtu, 25 Mei 2019

Bangkit dengan Al-Qur'an, Why Not?



Bulan Ramadhan udah sampe di setengahnya, itu artinya kita akan ketemu dengan apa yang biasa disebut Nuzulul Qur'an, alias waktu turunnya Al-Qur’an. Kebetulan banget, kalo mau dicocok-cocokin, tanggal 20 Mei di negeri kita ini disebut sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Jadi deh, akhirnya judul buletin kesayangan kita kali ini bakal ngebahas, bangkit dengan Al-Qur'an.

Yuk, duduk dan simak dengan seksama bahasan kita kali ini. Tapi inget, kalo baca buletin teman surga pas waktu siang hari, jangan sambil ngemil kuaci, hehe…eh, kecuali para akhwat yang lagi dapet, dan gak puasa, dipuas-puasin makan kuacinya, se-ember, wkwkw…

Kayak Apa Sih Bangkit Itu?
Kenapa masalah bangkit atau kebangkitan kita perlu bahas? Analogi sederhananya gini gaes. Ibarat orang tidur, kalo kamu ngajak ngomong orang tidur, tentu aja nggak bakalan ada responnya. Mau se-ekpsresif apapun kamu menyampaikan bahasa pesan yang pengin kamu sampaikan ke orang tidur, bakalan percuma. Beda banget, kalo teman kamu itu sudah bangun, kesadarannya udah penuh, trus kamu ajakin ngomong, maka dengan kesadarannya, dia akan bereaksi. Entah itu dengan kata atau perbuatan, dengan anggukan atau gelengan, dan seterusnya.

Artinya, ketika kita ngomong tentang kebangkitan, tujuannya untuk membuat seseorang tersadar, lalu merespon atas kesadaran itu. Tapi nggak cukup segitu, sebab untuk membuat orang tersadar lalu bangun atau bangkit, maka konten alias isi obrolan kita tentang kesadaran kita itu menjadi penting. Kalo sekedar sadar lalu nggak terbangun dan bereaksi, maka bisa dipastikan ada yang salah pada konten obrolannya. Nah, lalu obrolan macam apa agar bikin orang itu bangkit?

Konten obrolan, harus ngajak seseorang itu berpikir, terutama berfikir tentang hakikat hidup dia di dunia ini. Atau setidaknya berfikir tentang keadaan dia saat ini, sampe dia sadar bahwa dirinya saat ini sedang tidak dalam kondisi terbaik, lalu dicari perbandingan pribadi-pribadi yang bisa dan lebih baik dari dirinya. Kongkritnya gini, gaes. Ajak dia berpikir fakta dan data, keadaan umat Islam saat ini secara umum, yang mengalami keterpurukan di berbagai segi, sampe dia mengangguk, tanda setuju dan nggak berani membantah. Lalu, bandingkan dengan apa yang disebut oleh bahasa Al-Qur'an dengan sebutan “Khairu Umat” (umat yang terbaik), yakni yang secara khusus generasi para sahabat.

Kenapa koq musti dibandingkan? Iya, musti dicarikan pembandingnya. Karena seseorang tidak akan menyadari atau memahami dirinya terpuruk, kalo nggak ada standar alias ukuran. Nggak sedikit kan, teman-teman kita, enjoy aja dengan keterpurukan mereka, karena mereka nggak sadar bahwa dirinya sedang terpuruk, dan padahal dirinya bisa tidak terpuruk alias bangkit menjadi khairu umat. Atau ada juga teman-teman kita, merasa dirinya baik-baik saja, nggak perlu bangkit, nggak juga terpuruk, ya udah jadi remaja biasa-biasa saja. Nah, sehingga kalo kita menghadirkan pembandingnya, kita bisa jadi punya kiblat, owh begitu tho, bangkit yang sejati itu?!

Bangkit dengan Al-Qur'an, Emang Bisa?
Kalo pertanyannya, sekedarar bisa or kagak, maka jawabannya, pasti BISA. Cuman, persoalan berikutnya yang justru lebih penting, adalah kita mau atau enggak bangkit dengan Al-Qur'an? Oke, untuk menjawab pertanyaan bisa atau enggak kita bangkit dengan Al-Qur'an, maka kita coba simak fragmen kebangkitan para sahabat saat itu ketika masih di Mekah, maupun para sahabat Anshor yang di Madinah. Sahabat atau kaum muslimin di Mekah yang baru masuk Islam saat itu, benar-benar bisa merasakan perbedaan alias perbandingan yang mencolok, antara sebelum datangnya Islam dan sesudah datangnya Islam.

Risalah Islam yang dibawa oleh Baginda Rasulullah SAW, saat itu benar-benar membalikan keadaan atau kebiasaan masyarakat pagan penyembah berhala di Mekah. Bukan hanya tentang sesembahan yang dilarang, tapi juga aturan tentang tata cara ibadah, bermuamalah, aturan makanan, sebagiannya diturunkan ketika Rasulullah SAW masih di Mekah. Praktis, saat itu bikin para pemuka Quraisy, kebangkaran jenggot dengan Risalah yang dibawah oleh Rasulullah, yang notabene sumbernya dari Al-Qur'an.

Dari sisi para sahabat sendiri, baik di antara asabiqunal awallun alias orang-orang yang masuk Islam duluan, maupun kaum muslimin secara umum, juga merasakan perubahan dirnya. Perubahan diri, yang dimaksud di sini, tentu aja kebangkitan diri. Ada Bilal bin Rabbah, yang hanya seorang budak, tapi berani menentang tuannya, untuk tetap mempertahankan aqidah Islam. Ada Yasir dan istrinya yang harus syahid, juga demi mempertahankan keislamannya. Ada Mushab bin Umair, yang rela harus bersusah-susah dalam kehidupannya, padahal dirinya berasal dari keluarga kaya, tapi itu semua harus ditinggalkan, karena keluarganya tidak lagi mensubsidi, gegara Mushab mengikuti agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW, meninggalkan agama nenek moyang orang Mekah saat itu. Dan masih banyak lagi, fragmen-fragmen kebangkitan para sahabat, utamanya setelah memeluk Islam, dan meninggalkan agama atau sesembahan lamanya.

Demikian pula, apa yang terjadi pada masyarakat Madinah, wa bil khusus suku Aus dan Khazraj. Sebelum Rasul hijrah, Bani Aus dan Khazraj telah bertempur puluhan tahun, bahkan pada Perang Bu'ats (lima tahun sebelum hijrah) semua pemimpin kedua pihak tewas (riwayat Bukhari). Di saat kondisi kayak gitu, Rasul bertemu dengan enam orang Khazraj dan Aus. Kepada mereka Rasul mengajak beriman dan membela dakwah dengan kekuatan. Mereka langsung setuju karena ingin sekali ada perdamaian dan butuh pemersatu masyarakat. Apalagi, kaum Yahudi telah mengancam menyerang mereka. (riwayat Ibnu Hisyam).

Diabadikanlah kisah persatuan dua kabilah atau kaum tersebut dalam Al-Qur’an, untuk ngasih pesan kepada kita bahwa berkat Al-Qur'an, bangsa yang dulunya suka berperang bisa bangkit dan bersatu.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang  yang bersaudara.” (QS Ali Imran:103)

Oke, itu argumentasi dari sisi pertanyaan, apakah kita BISA bangkit dengan Al-Qur'an? Berikutnya, ngejawab persoalan MAU atau tidak kita bangkit dengan Al-Qur'an? Sepertinya sudah sedikit bisa ketebak, kayaknya ketika ditanya mau atau enggak, jawabannya masih mikir-mikir dulu. Apalagi kalo sampe ada jawaban, nggak mau, maka berarti ada yang salah dari sisi keimannya kepada Al-Qur’an. Di sisi yang lain, dia masih ragu akan kebenaran Al-Qur'an. Allah sudah menegaskan bahwa kita nggak boleh ragu terhadap Al-Qur'an
“Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa….” (QS. Al Baqarah: 2)

Kalimat yang menunjukkan tidak ada keraguan yaitu kalimah لَا رَيْبَ ۛ kata لَا  dalam ayat tersebut, adalah la nafi'ah yang mempunyai arti tidak. Kata لَا dalam bahasa arab ada 2, yaitu la nafi'ah dan la nahiyah, la nahiyah berarti jangan, la nafi'ah berarti tidak. Kalo sudah nggak ragu terhadap Al-Qur'an, maka tinggal persoalan hawa nafsu kita mau tunduk atau nggak dengan Al-Qur'an. Di banyak ayat maupun hadits, Allah dan Rasul-Nya sudah menyingung kita agar kita jangan ngikutin hawa nafsu, baik dalam perkara iman maupun syariat.

“Hai Ahli Kitab! Janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Mâidah: 77)

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65)

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

"Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga keinginannya mengikuti apa yang aku bawa." (Hadits hasan shahîh dalam kitab al-Hujjah, dengan sanad shahih)

Al-Qur'an nggak hanya bicara masalah ketaatan individu, tapi juga masyarakat bahkan urusan negara. Pertanyannya masih sama, MAU atau tidak kita bangkit dengan Al-Qur'an? Kalo masih ragu-ragu, atau jawabannya masih pilih-pilih ayat atau syariat yang mau kita terapkan aja, itu artinya kita memilih Islam dan Al-Qur'an kayak milih makanan di prasmanan. Pembahasan Islam prasmanan, udah kita bahas di edisi sebelum ini. Jadi, ketika ada pertanyaan mau atau enggak bangkit dengan Al-Qur'an, jawabannya kudu tegas, MAU!

Bukan Sekedar Dilombakan
Nah, tinggal satu persoalan nih, kalo kita emang mau bangkit dengan Al-Qur'an, lalu gimana jalan atau caranya? Yes, ibarat sebuah tata tertib atau peraturan, maka Al-Qur'an hanya akan jadi tulisan atau pajangan, kalo nggak diterapkan dalam kehidupan. Dan hakekatnya Islam juga adalah penerapan. Nggak cuman teori, nggak cuman ngaku beriman, tapi juga kudu bisa membuktikan dengan amal shalih. Ada sekitar 59 ayat Al-Qur'an yang menerangkan bahwa Allah 'Azza wa Jalla tidak memasukkan kaum mukminin ke surga dengan pengakuan iman semata, tetapi dengan rahmat dan taufiq-Nya kepada mereka berupa iman dan amal shalih. Salah satunya berikut:

"Barang siapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun." (QS. Al-Nisa': 124)

Sekali lagi, kalo mau bangkit dengan Al-Qur’an, ya kudu menerapkan isi kandungan Al-Qur'an dalam aktivitas kita sehari-hari, baik sebagai individu, masyarakat maupun dalam bentuk negara. Nggak boleh pilih-pilih ayat yang cuman kita senangi aja, nggak boleh begitu. Apalagi Al-Qur'an cuman sekedar dilombakan, dicari bacaan terbaik atau sekedar d-ientertaining-kan dijadikan bahan hiburan, nggak boleh cuman begitu. Kudu lebih dari itu, yakni diterapkan dalam kehidupan.

Jadi penyikapan terhadap Al-Qur an yang benar, agar bisa membangkitkan itu, pertama harus diimani dulu, kemudian dibaca, lalu dipelajari atau dimaknai ayat-ayatnya, sembari menerapkan ayat-ayat yang sudah kita pelajari dan kita hafalkan tersebut. Sehingga, jangan sampe puas hanya berhenti di membaca, atau menghafalkan saja, apalagi bangga sekedar dilombakan. Tapi yang jauh lebih penting adalah menerapkannya. Jangan sampe, kita seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW berikut

Rasulullah SAW bersabda, "Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Al-Qur'an, bacaan kamu dibandingkan bacaan mereka sungguh tidak ada apa-apanya, demikian shalat dan puasa kamu dibandingkan shalat dan puasa mereka tidak ada apa-apanya. Mereka membaca Al-Qur'an dan mengiranya sebagai pembela mereka, padahal ia adalah hujjah yang menghancurkan alasan mereka. Shalat mereka tidak sampai ke tenggorokan, mereka lepas dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari busurnya." (HR. Abu Dawud, Bukhari, Muslim)

Naudzubiilh min dzalik. []

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Jumat, 17 Mei 2019

Keluargaku, Pondasi Masa Depanku



Harta yang paling berharga
Adalah keluarga
Istana yang paling indah
Adalah keluarga

Puisi yang paling bermakna
Adalah keluarga
Mutiara tiada tara
Adalah keluarga

Ngomongin soal keluarga dan lirik lagu di atas, jadi inget serial tv tahun 90-an yang sukses bikin baper. Awal tahun ini, sinetron karya Arswendo Atmowiloto itu diangkat ke layar lebar. Dan hasilnya, lebih dari 1 juta penonton sejak pertama kali dirilis pada 3 Januari 2019.

Remaja dan Broken Home

Nggak heran banyak yang menyukai film keluarga Ara dan Euis. Selain menghibur, banyak hikmah dan pelajaran berharga dalam berkeluarga yang bisa diambil, juga kisah kesehariannya yang langka kita temui dalam keluarga saat ini. Yup, di era milenial, keharmonisan keluarga yang diwarnai dengan hubungan baik antara orang tua dan anak lebih banyak kita saksikan di layar kaca dibanding dunia nyata.

Karena saat ini, banyak keluarga yang kurang harmonis.  Buntut-buntunya anak-anak deh yang jadi  korban.  Mereka tertekan secara batin, merasa tidak aman dan seringkali tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang cukup dari orang tuanya. Akibatnya fatal. Perkembangan remaja yang besar dalam keluarga broken home lebih banyak mengarah pada perilaku negatif. Sebuah survei di Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar, 30 persen anak pelaku kejahatan di penjara itu latar belakang keluarganya broken home. Ngeri!

Secara psikologis, memang tekanan mental yang menimpa remaja broken home tak bisa dihindari. Kondisi ini melahirkan beberapa dampak yang cukup memprihatinkan.  Akibat ke egoisan dari kedua orang tua maka mereka tidak akan fokus dan kurang nya perhatian kepada anak sehingga tidak ada lagi kasih sayang. Kamu bisa bayangin kan kalo berada di posisi ini?  Rasanya kasih sayang orang tua sudah ga ada lagi.

Banyak riset menunjukkan anak-anak dan remaja berperilaku antisosial adalah buah penelantaran pengasuhan dari orang tua. Akal dan batin mereka kering, akibatnya  mereka gampang bersikap kasar secara verbal atau fisik pada orang lain, membully, emosi meledak-ledak, atau cuek pada lingkungan, sampai terlibat dalam aksi kejahatan. Ada juga yang muncul sebagai anak yang inferior, tidak punya kepercayaan diri, pemurung dan penyendiri. Tentu ini bukan kamu banget kan..

Psikolog Kory Floyd PhD dalam Psycholog Today mengistilahkan anak-anak dan orang dewasa yang berperilaku seperti itu sebagai kelompok yang mengalami ‘lapar sentuhan’ (skin hunger). Orang yang mengalami lapar sentuhan dalam hidupnya akan merasa kurang bahagia, kesepian, dan lebih merasa depresi juga stress. Masya Allah..

Rumahku Surgaku

Temans, tentu kita tidak ingin punya keluarga yang broken home. Sepanjang sejarah yang ada, keluarga broken home itu nyaris memakan korban.  Dan korbannya hampir bisa dipastikan selalu yang dalam posisi anak. Jangan sampai deh keluarga kita menjadi keluarga menyedihkan seperti itu.

Yang namanya kebahagian sebuah keluarga itu terwujud  mulai dari  dalam rumahnya. Kamu pernah ga punya impian rumah idaman?  Apakah rumah yang seperti istana? Seperti di kayangan? Atau seperti di negeri dongeng?

Yang pasti semua orang ingin rumahnya itu nyaman, setiap saat bisa rukun damai bersama dengan orang-orang yang dicintainya. Apalagi kalau kebutuhan  mulai dari sandang, pangan, papan, atau gadget dan kuota udah  disiapin oleh orang tuanya tercinta. Begitu juga dengan kebutuhan kasih sayang, perlindungan, tempat curhat, dan konsultasi untuk cari solusi dari masalah yang kita hadapi.  Hem, surga dunia ini mah namanya.

Tapi emang udah seharusnya rumah itu senantiasa jadi surga bagi para penghuninya. Rumah yang penuh dengan keberkahan sehingga anggota keluarga selalu dalam rahmat-Nya. Mau tahu ga sih supaya rumah kita penuh keberkahan?  Let’s chek it.

Pertama, hadirkan dalam rumah membaca Al Quran

Kadang tanpa kita sadari, dengan bertambah banyaknya aktifitas keseharian kita, seolah kita lupa dengan Al Quran yang kita taruh di atas meja kita, lemari atau mungkin dalam saku kita. Cuman jadi pajangan. Dibeli menjelang bulan Ramadhan, hingga lebaran tahun berikutnya masih rapi terbungkus plastik seperti ketika pertama kali beli. Awet. Tak tersentuh.

Padahal, justru lantunan dan bacaan Al-Qur’an yang terdengar dari dalam rumah kita akan memberikan keberkahan dan dijauhkan dari setan. Rasulullah saw bersabda,  “Jangan kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya syetan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqarah” (HR. Muslim).

Disamping itu, membaca Al-Qur’an di rumah dengan penuh kekhusyukan menjadikan para malaikat akan mendekat.

Kedua, Tunaikan shalat sunnah.

Kita bisa membiasakan untuk menunaikan shalat sunnah di dalam rumah. Minimal shalat dhuha atau tahajud setiap harinya. Ibnu Umar menyampaikan bahwa Nabi saw bersabda: “Jadikanlah bagian dari shalat kalian di rumah-rumah kalian, dan jangan kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan.” (HR. Al-Bukhari)

Ketiga, senantiasa mengamalkan dzikir di dalam rumah .

Dalam situasi apapun, hendaknya anggota keluarga senantiasa dzikir kepada Allah, sehingga lahir ketentraman hati. Dan Rasulullah saw menjelaskan bahwa dzikir menjadikan rumah kita hidup dan bersinar.

“Perumpamaan rumah yang dijadikan sebagai tempat mengingat Allah dan rumah yang tidak dijadikan sebagai tempat mengingat Allah adalah bagaikan perbedaan antara orang yang hidup dan mati.” (HR. Muslim).

Keempat, persahabatan antara orang tua dan anak.

Hubungan orang tua dan anak idealnya seperti sahabat. Saling mengingatkan dan menguatkan. Semoga orang tua kamu termasuk orang tua yang bisa meluangkan waktu untuk memberikan waktu berkualitas bersama anak seperti saat kamu sakit, bagi rapot, pentas di sekolah, dan sesekali mengantar ke sekolah atau ke tempat pengajian. Rasulullah saw saja selalu menghibur anak-anak yang bersedih.  Contohnya saat  ada seorang anak yang punya julukan Abu Umair bersedih karena burung peliharaannya mati. Beliau menghampiri dan menghiburnya.

Kelima, eratkan kebersamaan antar anggota keluarga.

Hubungan kita dengan anggota keluarga harus dijaga agar tidak kering kerontang. Membangun rasa saling perhatian dengan kakak, adik, dan anggota keluarga lainnya harus  sungguh-sungguh kita wujudkan. Kalau perlu singkirkanlah gadget. Karena seringkali gadget ini membuat yang dekat (keluarga)menjadi jauh, dan yang jauh (teman, kolega) jadi dekat. Sama-sama di depan meja makan sih, tapi hati dan fikiran masing-masing berselancar dengan gadgetnya. Hambar nian keluarga kayak begini… Semoga kita terhindar dari “musibah” seperti ini.  Kita bisa melihat contoh kedekatan  Rasulullah saw dengan keluarganya. Beliau sering bercanda dengan cucu-cucunya, bermain kuda-kudaan, atau menggendong mereka saat shalat. Kalau orang tua kamu gimana?

Keenam, sama-sama menimba ilmu.

Sebaik-baik rumah adalah rumah yang penuh dengan semangat menuntut ilmu. Semua penghuninya berlomba-lomba menjadi ahli ilmu. Buku menjadi sahabat seluruh penghuni rumah. Diskusi berbagai ilmu agama ataupun ilmu dunia menjadi keseharian yang lazim dalam rumah, semuanya dalam suasana penuh keakraban dan saling berlomba dalam kebaikan.

Temans, kebayang dong gimana indahnya kalo generasi milenial saat ini lahir dan besar dari keluarga harmonis yang selalu diliputi rahmat. Pendidikan dan pengasuhan dalam rumah akan menjadi pondasi yang akan membentuk bangunan masa depannya di dunia dan akhirat.

Remaja gencar mengejar prestasi akademis karena orang tua mengajarkanya untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain dengan keilmuannya. Remaja getol beribadah, menimba ilmu agama, dan berdakwah karena orang tua yang mendidiknya menjadi bagian dari pelaku kebangkitan umat dan investasi bagi kedua orang tuanya di akhirat.  So, Jadikan keluarga kita keluarga sholeh, keluarga yang menjadi pondasi masa depan kita. And, mari jadikan rumah kita layaknya surga. Nyaman dan penuh berkah. Broken home? No way!

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Selasa, 07 Mei 2019

Welcome Ramadhan



Alhamdulillah yang dinanti tlah kembali menemui insan yang merindu. Ya, merindu bulan Ramadhan yang agung. Bisa jadi kita sedang menjalankan ibadah shaum Ramadhan saat buletin ini ada di genggaman tangan TemanSurga. Kesyukuran adalah hal pertama yang harus kita panjatkan karna Allah Ta'ala menyampaikan umur kita untuk bisa kembali berpuasa dan meraih banyak pahala dan ampunan di bulan mulia ini. Banyak hal yang menjadi ciri bahwa kita sudah dekat atau sedang berada di bulan puasa ini. Dari mulai ber-seliweran-nya iklan sirup di tv, semakin banyaknya penjaja makanan menjelang berbuka puasa sampai maraknya acara program televisi yang mendadak religi. Eits.. apa itu menjadi barometer baku bahwa seperti itulah bulan puasa? Atau hal ini hanya terjadi di negeri berflower saja? Cuuzz.. lanjut baca.

Wajibnya puasa Ramadhan bagi setiap muslim pastinya sudah diketahui bahkan dalilnya banyak yang menghapalnya. Gimana ngga hapal, setiap ada pesantren kilat ramadhan di sekolah ayat ini pasti sering dibacakan. Ya, Qur’an surat Al Baqarah 183 menjadi dalil diwajibkannya puasa ramadhan bagi orang-orang yang beriman. Hhmm.. sebenarnya siapa saja bisa berpuasa namun hanya landasan iman-lah yang menjadi pembeda nilai dari ibadah ini. Meski Allah SWT telah mewajibkan, tapi ada saja yang tetap santai ngga berpuasa malah makan dan minum seenaknya. Bagi seorang yang berstatus muslim tapi tidak menjalankan ibadah puasa tentu perlu direkonstruksi keimanannya. Orang yang kaya gini perlu “disadarkan” bahwa kita ini hidup di dunia bersandar hanya kepada Allah sebagai Pencipta dan Pengatur. Dan Sang Pencipta mengatur agar kita berpuasa penuh selama sebulan sebagai bukti ketaatan kita kepadaNya.

Oiya, ternyata puasa itu bukan cuma menahan makan dan minum lho TemanS, menurut Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin puasa memiliki tiga tingkat. Pertama, puasanya orang awam (orang kebanyakan) yaitu menahan makan, minum, dan menjaga kemaluan dari godaan syahwat. Just it. Maksudnya puasa sih puasa  cuma sayang dari puasanya cuma dapat lapar dan haus aja. Karna meski tubuhnya berpuasa dari makan dan minum ternyata dia masih bermaksiat kepada Allah seperti puasa tapi pacaran meski katanya pacarannya lebih “sopan” dengan ngajak buka puasa dan tarawih bareng. Atau ada lagi nih, puasa sih puasa tapi itu lisan udah kaya perosotan anak TK kalau udah ngomongin atau ghibah-in orang. Atau puasa sih puasa tapi masih umbar aurat. Nah, yang kaya gini nih yang pahala puasanya bisa menguap hilang. Rasulullah saw bersabda “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga (haus) saja” (HR. Ibnu Majah). Ini sih rugi pake banget guys. Kalau orang yang puasanya model begini perlu di-reset dengan mulai meluruskan niat berpuasa benar-benar hanya karna Allah dan tanamkan dalam benak bahwa perintah berpuasa hakikatnya adalah menahan diri bukan hanya dari makan dan minum tapi menahan diri dari memperturuti hawa nafsu atau melakukan kemaksiatan kepada Allah. Dan yang berikutnya, biar ngga awam harus rajin ikut kajian cari ilmu supaya paham apa saja yang akan membatalkan pahala puasa dan bagaimana agar puasa kita sampai kepada derajat taqwa.

Tingkatan kedua, puasanya orang khusus yaitu selain menahan makan dan minum serta godaan syahwat juga menahan pandangan, pendengaran, ucapan, gerakan tangan dan kaki dari segala macam bentuk dosa. Puasa yang kaya gini disebut sebagai puasanya para shalihin (orang-orang shalih). Menurut Imam Al Ghazali, seseorang tidak akan mencapai kesempurnaan dalam tingkatan puasa kedua ini kecuali harus melewati enam hal sebagai prasayaratnya, yaitu menahan pandangan dari segala hal yang dicela dan dimakruhkan. Nah tuh.. mata dijaga. Terhadap hal yang makruh aja harus ditahan apalagi yang haram. Menjaga lidah dari perkataan yang sia-sia, berdusta, mengumpat, berkata keji, dan mengharuskan berdiam diri. Hhmm.. hati-hati lidah tak bertulang lho.. jangan sampai berucap yang unfaedah semisal ghibah atau gosipin orang, bohong bilangnya puasa padahal ngga. Gunakan lisan kita untuk berzikir kepada Allah serta membaca Al-Quran. Apalagi pahala baca Al Qur’an di bulan puasa itu luar biasa. Nabi Muhammad saw bersabda, “Siapa saja yang membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan “alif lam mim” satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf” (HR. Tirmidzi). Menjaga pendengaran dari mendengar kata-kata yang tidak baik. Mencegah anggota tubuh yang lain dari perbuatan dosa. Tidak berlebih-lebihan dalam berbuka, sampai perutnya penuh makanan. Hatinya senantiasa diliputi rasa cemas (khauf) dan harap (roja) karena tidak diketahui apakah puasanya diterima atau tidak oleh Allah.

Dan tingkatan yang ketiga, Puasa khususnya orang yang khusus adalah ‎puasanya hati dari kepentingan jangka pendek dan pikiran-pikiran duniawi serta menahan segala hal yang dapat memalingkan dirinya pada selain Allah SWT. Puasa khusus yang lebih khusus lagi yaitu, di samping hal di atas adalah puasa hati dari segala keinginan hina dan segala pikiran duniawi, serta mencegah memikirkan apa-apa selain Allah Swt (shaum al-Qalbi ‘an al-Himam ad-Duniyati wa al-Ifkaar al-Dannyuwiyati wakaffahu ‘ammaa siwa Allaah bi al-Kulliyati). Menurut Al-Ghazali, tingkatan puasa yang ketiga ini adalah tingkatan puasanya para nabi , Shiddiqqiin, dan Muqarrabin. Maa sya Allah, inilah tingkatan yang bukan hanya fisik tapi hati pun tunduk taat kepada Allah.

Menjadi kebanyakan bukan berarti keren, seperti puasanya orang awam tentu kita ngga mau dong masuk ke kriteria ini. So, ngga ada salahnya untuk me-restart niat. Tentu bukan niat yang terucap di lisan saja tanpa makna tapi juga harus menghadirkan hati yang senantiasa lurus kepada Allah semata. Jadi, ngga ada tuh niat puasa biar langsing atau biar dibilang anak sholih/sholihah apalagi puasa biar dikasih hadiah sama ortu. Makanya, biar terjaga niat kita hindari meng-upload hal-hal yang berpeluang bakal menghilangkan pahala puasa kita. Misal, bikin status “Alhamdulillah puasa hari ini lancar” atau foto selfie lagi baca qur’an dan sholat tarawih. Kenapa harus dengan dorongan keimanan? Pertama, karna Allah menyeru perintah puasa ini kepada orang-orang yang beriman. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (TQS. Al Baqarah: 183). Kedua, hanya puasa yang berlandaskan iman saja yang akan diganjar ampunan atas dosa yang telah diperbuat. “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni” (HR. Bukhari dan Muslim). Selain itu, sabda Rasulullah saw mengatakan “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku...” (HR. Bukhari). So, jagalah hati.. jangan sampai ada yang lain selain Allah.
Setelah niat ikhlas liLlaahi Ta’ala, hiasi puasa Ramadhan kita dengan amalan-amalan terbaik, tidak menyia-nyiakan momen Ramadhan mulia yang cuma setahun sekali ini. Yaitu mulailah merancang target dan amalan apa saja yang akan dilakukan. Misal mau khatam qur’an berapa kali, nambah hapalan berapa surat, membiasakan dan mengistiqomahkan sholat dhuha dan tahajud, sholat tarawih di mesjid, rutin menghadiri kajian Islam guna menambah keimanan dan pemahaman tentang agama. Jangan sampai kita malah lebih banyak merancang pengan makan sahur dan berbuka sama apa aja, ditambah yang lebih padat bikin jadwal buka bersamanya. Haduuh.. ingat ya friends ramadhan itu bulan merasakan lapar bukan kenyang. Untuk apa kita menahan diri dari lapar dan haus kalau magrib tiba saatnya berbuka malah seolah “balas dendam” dengan makan ini dan itu.

Ingaaatt Fokuuss!! Apa fokus kita?? yes, menjadi muttaqiin (orang-orang yang bertaqwa). Puasa dapat menghantarkan kepada derajat taqwa tentu jika dilandasi dengan keimanan. Taqwa adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, karena mengharap pahala dari Allah Ta’ala dan rasa takut terhadap adzab Allah. Hikmahnya, dari puasalah seseorang akan menahan hawa nafsu yang kemudian akan menghindarkan dari perbuatan maksiat dan keburukan. Sebagaimana sabda Rasulullah saw “Puasa adalah perisai” (HR. An Nasa’i). Selanjutnya, puasa melatih kita untuk kuat dan sabar. Sehingga akan lebih mudah bagi kita meninggalkan apa-apa yang Allah ngga suka begitupun dengan puasa yang disertai dengan amalan-amalan sholih lainnya akan membuat kita lebih mudah dan terbiasa melakukan ketaatan dalam melaksanakan syariat Allah (Islam).

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg