Senin, 25 Februari 2019

Eksis Di Dunia Sampai Ke Surga



Hai guys, jangan lupa subscribe, share and comment. Buat para milenial yang lebih seneng lihat youtube dibanding nongkrongin televisi pasti sudah ngga asing dengan istilah-istilah tersebut. Di jaman digital saat ini keberadaan gawai (gadget) yang semakin canggih ditambah dengan aplikasi yang semakin inovatif membuat generasi Z semakin enjoy dengan dunia mayanya. Malah ada juga lho anak-anak dan remaja yang kecanduan gadget sampai berdampak pada gangguan jiwa. Selain ada juga istilah phubbing yang diartikan sebagai sikap acuh tak acuh atau cuek saat berada dalam satu lingkungan. Misalnya saat kumpul keluarga bukannya berbincang hangat dan saling bercerita malah asyik dengan smartphonenya senyam senyum sendiri, giliran ditanya jawabnya ngga nyambung. Pengaruh gadget memang tergantung si empunya, bisa positif bisa juga negatif. Karna secanggih apapun teknologi tetap lebih canggih akal manusia yang digunakan untuk berpikir benar. Cuma pertanyaan selanjutnya, remaja kita sekarang ini sudah bisa dan terbiasa berpikir benar belum? Perlu jawaban yang komprehensif sepertinya. Berat banget nih istilah. Tenang aja kamu cukup baca aja si buletin yang keren ini sampe khatam, in sya Allah kamu bakal paham gimana cara jadi milenial yang ideal. So, let’s check this one out.

Viralkan Amal Sholih BUKAN Amal Salah

Viral. Apa sih viral itu? Sama seperti virus yang dengan mudah dan cepat tersebar bahkan dalam hitungan detik. Nah, di sinilah peran media sosial sangat besar untuk membuat sesuatu itu viral bahkan menjadi trending topic. Seperti baru-baru ini video seorang pelajar yang berlaku tidak terpuji terhadap gurunya menjadi ramai diperbincangkan. Guru yang seharusnya dihormati bahkan dimuliakan sebagai seorang pengajar dan pendidik malah diperlakukan tidak sepantasnya bahkan bisa dibilang ngga beradab. Kejadian yang sangat memalukan dan memilukan ini pun direkam atau diabadikan oleh siswa lainnya dan parahnya lagi diupload ke media sosial, seketika berita itupun menjadi viral. Bukan menjadi sebuah pelajaran untuk tidak meniru perbuatan tercela tersebut, yang ada malah perbuatan yang serupa dilakukan oleh pelajar-pelajar lain, karna sudah tersebar di media sosial di mana setiap orang bisa melihatnya. Inilah trend di kalangan penggiat media sosial, untuk merekam berbagai kejadian di sekitar, menguploadnya dengan memberi judul yang membuat orang penasaran untuk melihat. Lalu seketika berita itupun menjadi viral dan individunya menjadi terkenal. Pokoknya apapun dan siapapun bisa menjadi viral dan terkenal. Mereka tidak tampil di layar kaca tapi banyak orang memperbincangkannya. Mereka biasa disebut sebagai artis youtube. Aksinya yang mencuri perhatian telah mengundang banyak subscriber memfollow apa saja yang youtuber itu lakukan. Dan sekarang youtube dan menjadi youtuber sedang ngetrend di kalangan milenials. Para artis yang biasa hilir mudik di layar kaca pun ikutan punya channel youtube pribadi. Konon, dari youtube bisa dapat uang yang lumayan menggiurkan loh.  Semakin banyak subscriber maka semakin banyak pula “penghasilan” yang didapatkan.

Makin ke sini keberadaan media sosial khususnya youtube sudah semakin popular bahkan dari bocah yang belum bisa baca aja sudah hapal dan bisa menayangkan video konten anak-anak yang mereka suka. Di era digital seperti sekarang ini, dunia seolah ada dalam genggaman. Apa saja yang terjadi di belahan dunia mana saja bisa dengan mudah dan cepat kita ketahui. Sayangnya, belum ada filter atau sensor dari tayangan-tayangan unfaedah atau negatif. Inilah sebab, sebagai remaja harus paham bagaimana kita cerdas dalam memanfaatkan teknologi. Ngga ada yang salah dengan kemajuan dan kecanggihan teknologi, karna itu adalah hasil dari kecerdasan manusia yang telah Allah berikan modal utamanya berupa otak yang memiliki kemampuan luar biasa. Namun, kecanggihan teknologi sesungguhnya tertakluk kepada siapa saja yang menggunakannya. Bisa jadi baik jika digunakan untuk kebaikan, akan buruk jika digunakan untuk keburukan. Dan tentu pengaruh baik dan buruk itu akan berpulang kepada manusianya. “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri...” TQS. Al Isra: 7. Selain itu apa yang kita lihat, dengar, dan sebarkan akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah kelak. “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” TQS. Qiyamah: 36. So, hati-hati ya friends pastikan apa yang kita lihat atau tonton adalah sesuatu yang mendatangkan kebaikan apakah itu ilmu atau hikmah. Terlebih apa yang kita sebar harus bisa memberikan kebaikan dan bisa memberikan keteladanan. Jangan sampai apa yang kita share adalah sesuatu yang tidak baik atau mencontohkan sesuatu yang buruk terlebih maksiat. Semakin banyak yang follow, ternyata malah memberikan tumpukan dosa. “(ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu”. TQS. An Nahl: 25. Na’udzubillah. So, sebelum kita share sesuatu pikirkan dulu ini benar atau salah, mendatangkan manfaat atau laknat, akan mendekatkan pada taat atau pada maksiat. Ribet banget? Pilih ribet sebelum upload and share apa ribet karna harus mempertanggung jawabkannya di hadapan Allah?

To be Milenial Ideal

Paham banget. Kamu yang lagi ada di masa remaja pasti masih punya banyak banget energi. Ibarat kata baterai masih full. Full energinya remaja kalau ngga diarahin bisa disalurkan ke hal-hal yang sia-sia. Paham juga kalau remaja adalah masa transisi dari anak-anak yang butuh ruang dan waktu untuk bisa tampilkan eksistensinya. Di mana pengakuan diri menjadi sesuatu yang dicari. Katanya gak ngeksis, gak ngehitz. Salah satu cara untuk ngeksis adalah dengan tampil menjadi vlogger atau youtuber. Generasi milenial memilih memanfaatkan media untuk menampilkan diri. Eits, tapi ngga cukup dong jadi milenial abal-abal yang cuma akrab dengan digital tapi kurang pakai akal (berpikir). Maksudnya gini Temans, boleh saja ngeksis, cuma yang pertama perlu kamu pikirkan apa tujuan kamu ngeksis? Inget yaa.. milenial Ideal itu bukan yang berpikir instan apalagi melakukan sesuatu tanpa dipikir. Ngeksisnya ala remaja TemanSurga adalah dalam rangka menyebarkan keindahan Islam, lebih mendekatkan diri dan teman-teman dengan agamanya. Buat apa kita eksis dikenal banyak orang tapi Allah Sang Pencipta kita ngga menganggap eksistensi (keberadaan) kita. Kalau kaya gini sih, sakitnya tuh di sini (dunia) dan di sana (akhirat). Karna apa yang kita lakukan itu ngga disukai Allah. Misal, kamu share foto atau video kamu tapi sedang ngga berhijab padahal Allah perintahkan bagi wanita muslimah untuk menutup auratnya. “Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan". TQS. Thaha: 126.

Kejar subscriber atau follower boleh alias tidak dilarang. Tapi, mantapkan terlebih dahulu kalau kamu adalah youtuber muslim/muslimah sejati yang menampilkan diri dengan pesona kepribadian Islam yang luhur, setelah itu pribadimu yang sholih/sholihah menjadi leader di antara follower-mu. Caranya rajinlah ke kajian (Islam). Sedikit banyak subscriber atau follower bukanlah menjadi tujuan yang utama. Karna milenial ideal adalah yang paham bahwa yang utama adalah membawa keindahan dan kehebatan Islam sebagai jalan hidup. Menjadi media atau perantara orang lain menemukan kebenaran Islam adalah kebahagiaan. Menjadi wasilah orang lain mendapatkan hidayah untuk hijrah menuju Islam kaffah itulah yang menjadi arah. Rasulullah saw bersabda “Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang-orang uang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun” (HR. Muslim). Dari Sahl bin Sa’ad, bahwasanya Rasulullah saw bersabda “Demi Allah, sungguh Allah memberi petunjuk kepada satu orang melalui perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah”. (HR. Bukhari). Unta merah adalah harta teristimewa di kalangan orang arab kala itu. Dan permisalan unta merah yang diungkapkan Rasulullah saw untuk mengungkapkan betapa berharga (mulianya) perbuatan tersebut. Gimana guys, Makin semangat buat konten bermanfaat sesuai syariat?.

Paham, emang ngga mudah untuk sebarkan kebenaran Islam di jaman now, kala media dikuasai oleh yang berkuasa, yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar. Hoax dibilang fakta, eh yang fakta malah dibilang hoax. Jangankan mendapatkan jutaan subscriber, menyampaikan kebenaran si penyebar malah diuber (dikejar). Terlebih budaya hedonis yang sudah terpampang nyata di kalangan remaja saat ini, sehingga menjadikan mereka seolah alergi dengan konten-konten yang “berbau” religi atau agama. Tapi, buat kamu milenial ideal ingatlah bahwa pada akhirnya kebenaran akan tetap menjadi kebenaran sampai kiamat sekalipun dan Allah SWT berjanji atas kemenangan agama (Islam) ini. Allah berfirman dalam surat Ash Shaf ayat 9.  “Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci”. Wahai Milenial Muslim Sejati, jangan pernah surutkan langkah untuk sebarkan Islam yang berkah. #LanjutkanPerjuangan!!

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9

Senin, 18 Februari 2019

Apa Kabar Moral Pelajar?


"Sebenarnya saya mulai marah merasa dilecehkan, tapi saya redam. Kalau saya memukul anaknya, perilaku itu sangat tidak terpuji dan bukan cara terbaik untuk mendidik," Ujar Nur Khalim (30), guru honorer di SMP PGRI Wringinanom saat dilecehkan muridnya AA, kelas IX.

Awalnya, Pak Nur Khalim menegur baik-baik karena ngeliat AA kedapatan tengah asyik merokok di dalam kelas. Bukannya berhenti merokok, AA malah ngomel-ngomel terus nantangin guru IPS itu sambil memegang krah baju dan memegang leher pak Guru. Video perilaku tak terpuji siswa ini sempat viral di sosial media dan mengundang banjir hujatan netizen.

Meski akhirnya AA meminta maaf di depan orang tua dan kepala sekolahnya sambil mencium kaki Pak Nur Khalim sebagai bentuk penyesalan saat mediasi di Mapolsek Wringinanom, Minggu (10/2/2019).

Sementara di kota Makassar, 4 siswa SMP dan orang tua siswa menganiaya Faisal Pole (38) pegawai honorer petugas kebersihan SMP Negeri 2 Galesong Takalar, Sulawesi Selatan hingga bersimbah darah.

Bermula ketika para siswa pelaku itu mengejek Faisal Pole yang tengah membersihkan pekarangan sekolah dengan perkataan yang tidak sopan. Merasa dilecehkan, faisal terpancing emosinya dan menampar salah satu siswa. Buntutnya, siswa itu pulang dan mengadu kepada orangtuanya. Tak lama kemudian, dia beserta ayahnya mendatangi sekolah dan bersama keempat rekan siswa lainnya memukuli Faisal Pole dengan sapu hingga berdarah. Miris!

Ada Apa dengan Moral Pelajar?

Apa yang menimpa Pak Nur Khalim atau Pak Faisal Pole bukan pertama kali ini aja viral di sosial media. Kalo kita telusuri ke belakang, ternyata banyak perilaku tak terpuji bahkan cenderung brutal ditunjukkan banyak pelajar pada gurunya. Baik saat jam pelajaran di sekolah, atau di luar lingkungan sekolah.

Saat kegiatan belajar mengajar berlangsung misalnya, sering kedapetan pelajar yang tak menghargai gurunya yang tengah menjelaskan pelajaran di depan kelas. Ada yang asyik main ponsel sambil cekakak cekikik cekukuk sendiri kaya orang kesurupan. Nggak mau ketinggalan update status di sosial media.

Seorang guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) Darrusalam, Kecamatan Pontianak Timur, Nuzul Kurniawati menjadi korban penganiayaan yang dilakukan oleh muridnya sendiri berinisial NF, Rabu (7/3/2018).

Peristiwa tersebut terjadi ketika proses belajar mengajar sedang berlangsung di kelas VIII di SMP tersebut, NF malah bermain telepon seluler (ponsel). Korban kemudian menegur NF yang saat itu masih asyik bermain ponsel, tapi tak digubris lalu merebut ponsel tersebut dari tangan pelaku. Tak terima ditegur, NF kemudian memukul korban menggunakan kursi plastik hingga korban sempoyongan.  Ponsel yang dipegang korban saat itu terlepas dan terempas ke lantai. Melihat ponselnya terlepas dari pegangan korban, pelaku kemudian mengambilnya lalu melemparkannya ke korban tepat mengenai bagian lehernya. Tega!

Sering juga kita temukan, ada siswa yang bikin forum sendiri ngobrol dengan teman sebangku di depan, belakang, kiri atau kanannya saat guru sedang mengajar. Giliran bete, temennya diisengin atau bikin pertunjukkan yang bikin rusuh dan memancing perhatian teman sekelas.

Sebuah video viral di instagram menunjukkan aksi siswa main kuda-kudaan saat jam pelajaran berlangsung. Kejadian itu berlangsung di salah satu kelas di SMK PGRI 8 Ngawi. Wakil Kepala Sekolah SMK PGRI 8 Sumarlin membenarkan jika video tersebut direkam anak didiknya saat pelajaran berlangsung. Di akhir video, sang guru berusaha menegur ketiga siswa yang berbuat ulah tersebut.

Yang lebih parah, ketika kekecewaan siswa terhadap gurunya berujung pada tindakan fisik. Siswanya kalap, hingga tega menganiaya, bahkan menumpahkan darah dan menghabisi nyawa gurunya sendiri. Ngeri!

Tahun 2017 lalu, seorang murid SMAN 1 Kubu berinisial EY nekat melakukan tindakan sangat tak terpuji. Dia tega menghajar gurunya PR (34) menggunakan kursi kayu dan tangan kosong pada saat pembagian rapor, Sabtu (17/6). Dia sakit hati kepada PR, karena beranggapan bahwa nilai mata pelajaran yang diajarkan PR yang menyebabkan dirinya tidak naik kelas.

Emang nggak semua pelajar berperilaku kurang ajar terhadap gurunya. Tapi kalo jumlahnya lebih dari satu dan banyak terjadi di berbagai daerah, tak bisa dianggap sekedar oknum pelajar pelakunya. Pelajar yang merendahkan, melecehkan, persekusi, hingga tindakan fisik terhadap gurunya tak bisa dianggap wajar meski bilangnya cuman bercanda. Ada apa dengan moral pelajar?

Minim Pendidikan Adab

Para pelajar yang lahir dan dibesarkan dalam lingkungan yang jauh dari nilai-nilai Islam, minim sekali dapat pendidikan adab. Baik di dalam keluarga, lingkungan sekitar rumah, atau di sekolah.  Padahal dalam dunia menuntut ilmu, pendidikan adab ini menjadi pondasi bagi para pelajar biar bisa menundukkan hawa nafsunya.

Imam Abu Hanifah dulu lebih menyukai mempelajari kisah-kisah para ulama dibandingkan menguasai bab fiqih. Beliau berkata, “Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai bab fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlak luhur mereka.”

Yup, pendidikan adab akan membentuk karakter pelajar yang berakhlak mulia. Mereka akan berusaha konsisten menjauhi perilaku maksiat. Pantang bagi mereka untuk berkata kasar, jorok, mengumpat atau mencela baik pada teman sebaya, staf honorer atau guru yang mulia. Rasul saw mengingatkan kita, “Sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun yang paling berat ditimbangan kebaikan seorang mu’min pada hari kiamat seperti akhlaq yang mulia, dan sungguh-sungguh (benar-benar) Allah benci dengan orang yang lisannya kotor dan kasar.” (HR. At Tirmidzi nomor 2002).

Pendidikan adab akan menjaga para pelajar dari sikap brutal. Saat merasa kecewa dan emosinya meledak-ledak, dia ingat nasihat Rasulullah saw, "Siapa yang menahan marah, padahal ia dapat memuaskan pelampiasannya, maka kelak pada hari kiamat, Allah akan memanggilnya di depan sekalian makhluk. Kemudian, disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya." (HR. Abu Dawud - At-Tirmidzi)

Dalam pendidikan sekuler saat ini, pembinaan adab para pelajar sangat minim. Para pelajar didorong untuk berprestasi dari sisi akademis dan keberlimpahan materi sebagai tolok ukur keberhasilannya. Namun kering dari nilai ruhiyah dan akhlak terpuji.

Ada anak pandai dalah hal mata pelajaran umum tapi sisi agamanya kurang. Ada anak yang sangat terampil tapi perilakunya buruk, kurang sopan sama guru dan orang tuanya, suka minum minuman keras, terlibat narkoba, hamil di luar nikah, melakukan aborsi, tawuran dan lainnya.

Untuk saat ini, pendidikan adab yang maksimal bagi para pelajar bisa dilakukan dengan mendorong mereka untuk mengenal Islam lebih dalam. Baik secara mandiri, gabung komunitas pengajian remaja maupun difasilitasi sekolah di luar jam pelajaran. Yang penting, para pelajar kuat imannya, kokoh akidahnya, sehingga terjaga perilakunya.

Muliakan Gurumu, Berkah Ilmumu

Dalam Islam, kedudukan seorang guru begitu mulia. Karena berkat keilmuannya, guru akan membawa kebaikan pada muridnya baik di dunia maupun di akhirat. Tak heran jika secara materi, pemerintahan Islam sangat menjamin kesejahteraan seorang guru. Seperti yang dilakukan oleh khalifah Umar bin Khathab.

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah, dari Sadaqoh ad-Dimasyqi, dar al- Wadl-iah bin Atha, bahwasanya ada tiga orang guru di Madimah yang mengajar anak-anak dan Khalifah Umar bin Khattab memberi gaji lima belas dinar (1 dinar = 4,25 gram emas; 15 dinar = 63,75 gram emas; bila saat ini 1 gram emas Rp. 500 ribu, berarti gaji guru pada saat itu setiap bulannya sebesar 31.875.000).

Secara sosial, penghargaan murid terhadap guru bukan semata karena balas budi. Tapi lebih dari itu, tuntutan keimanan demi mengejar ridho Illahi. Rasul saw ngingetin dalam sabdanya,

“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti (hak) orang yang berilmu (agar diutamakan pandangannya).” (HR. Ahmad)

Dalam literatur pendidikan Islam, pelajaran pertama yang diterima seorang murid adalah bab Adabu Mu’allim wa Muta’allim (adab antara guru dan murid). Ali bin Abi Thalib mengingatkan sekecil apa pun ilmu yang didapat dari seorang guru tak boleh diremehkan.

Imam Syafi’i pernah membuat rekannya terkagum-kagum karena tiba-tiba saja ia mencium tangan dan memeluk seorang lelaki tua. Para sahabatnya bertanya-tanya, "Mengapa seorang imam besar mau mencium tangan seorang laki-laki tua? Padahal masih banyak ulama yang lebih pantas dicium tangannya daripada dia?"

Imam Syafi’i menjawab, "Dulu aku pernah bertanya padanya, bagaimana mengetahui seekor anjing telah mencapai usia baligh? Orang tua itu menjawab, "Jika kamu melihat anjing itu kencing dengan mengangkat sebelah kakinya, maka ia telah baligh."

Hanya ilmu itu yang didapat Imam Syafi’i dari orang tua itu. Namun, sang Imam tak pernah lupa akan secuil ilmu yang ia dapatkan. Baginya, orang tua itu adalah guru yang patut dihormati. Sikap sedemikian pulalah yang menjadi salah satu faktor yang menghantarkan seorang Syafi’i menjadi imam besar.

Temans, seorang guru hakikatnya tak gila hormat. Ketulusannya dalam mengajar, bukan karena materi, tuntutan profesi atau pengen dihargai. Meski begitu, kita sebagai murid udah sepatutnya tahu diri untuk menghormati guru. Membalas kebaikan guru merupakan suatu kewajiban bagi murid. Sebagaimana yang diperintahkan Allah dalam firman-Nya, "Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu." (QS al-Qashash [22]: 77).

Sekeras apapun guru mendidik kita, selama tak melanggar hukum syara, tak ada alasan bagi kita untuk membencinya. Apalagi sampai ngasih laporan lebay pada orang tua, curhat di sosial media, atau dibawa ke meja pengadilan. Yang harus kita lakukan adalah bersabar dan menerimanya dengan suka cita agar ilmu yang kita terima berkah. Imam Syafi’i mengingatkan kita, “Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru, sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu kerana memusuhinya.” Muliakan gurumu, agar berkah ilmumu.

Apa kabar moral pelajar? Luar biasa.. ikut ngaji, berprestasi, akhlak terpuji!

Sumber: temansurga.com

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9

Kamis, 14 Februari 2019

VALENTINE'S DAY? NO WAY!




Kehebohan Valentine’s Day (VD) sebagai sebuah perayaan hampir-hampir menjadi menu wajib dan menggantikan hari besar lainnya. Coba bandingkan peringatan Isra’ Mi’raj, dan Maulid Nabi dengan Valentine’s Day. Jauh banget dah. Peringatan hari besar Islam identik dengan ceramah, dihadiri oleh sosok berjenggot dan perempuan berjilbab, dan dirayakan secara sederhana. Itu semua bagi sebagian orang dianggap sebagai simbol kuno.

Sebaliknya dengan perayaan VD yang identik dengan pesta sambil membawa pasangan lawan jenis masing-masing, baju rapi jali bagi yang cowok dan gaun malam yang setengah telanjang bagi si cewek, dan perayaan secara mewah. Inilah simbol yang katanya modern yang banyak diikuti remaja. 

Anak SD, SMP, SMA, hingga kuliah bahkan yang sudah kerja pun merasa bahwa merayakan hari Valentine adalah wajib. Didorong oleh media baik elektronik semacam TV dan cetak semisal surat kabar, majalah dan tabloid, momen Valentine’s Day ini sengaja di blow-up oleh pihak-pihak tertentu. Seakan-akan ada rasa malu dan ketinggalan jaman bila sampai tidak ikut merayakan hari yang katanya penanda kasih sayang itu.

Valentine, bukan budaya kita

Sudah banyak tulisan yang membahas tentang hal ini. Kalo kamu rajin browsing internet dan banyak baca artikel di sana, akan terlihat bahwa Valentine bukanlah milik kita. Sedikit mengulas bahwa ada beberapa versi yang menyebutkan darimana asal muasal perayaan VD ini. Ada versi yang mengatakan bahwa hari Valentine adalah perayaan untuk mengenang pendeta Valentino yang mati karena membela keyakinannya. Ada juga yang bilang pendeta ini mati karena membela cinta dua jenis anak manusia padahal gereja telah melarangnya. Bahkan ada versi yang mengatakan bahwa pada tanggal 14 Februari ini adalah musim kawin sejenis burung tertentu. Dari sekilas penjelasan di atas, kamu-kamu jadi faham kan bahwa sesungguhnya budaya hari Valentine dan merayakannya bukan berasal dari Islam. 

‘Kan boleh, cuma sekadar ikut merayakan saja. Bukankah ini hari kasih sayang sedunia yang universal?’ Mungkin sebagian dari kamu berdalih begitu. Oke, tapi bagi kaum muslimin, kita udah diwanti-wanti sama Allah Swt. melalui firmanNya:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS al-Israa [17]: 36)

Nah, inilah uniknya Islam. Tidak ada yang namanya sekadar ikut, cuma ngikut atau ikut-ikutan saja. Sebelum melakukan suatu perbuatan, sebagai muslim, kita harus paham apa dan bagaimana Islam menyikapinya. Ini mendidik kamu, para remaja muslim, agar tidak menjadi generasi pembebek. Generasi yang bisanya cuma ikut-ikutan tanpa tahu ilmunya. Islam mengajak kamu untuk cerdas dalam menyikapi sesuatu.

Tidak ada kata “cuma” dalam kehidupan seorang muslim. Itu karena tiap perbuatan meskipun itu sebesar debu akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Begitu juga dengan perayaan Valentine. Banyak orang berdalih untuk membenarkan dirinya sendiri ketika ia turut larut dalam perayaan ini. Atau, meskipun ia tidak turut merayakan, tapi ia juga tidak melarang. Walah, ragu-ragu maksudnya? Begitulah, di satu sisi orang seperti ini takut dicap fanatik, tapi di sisi lain ia juga takut dianggap ketinggalan jaman. Jadilah, antara bilang iya dan tidak dalam penyikapannya. 

Valentine, sarana perusak generasi

Rasulullah saw. Bersabda:

“Kamu telah mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga jika mereka masuk ke dalam lubang biawak, kamu tetap mengikuti mereka. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apakah yang engkau maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani? Baginda bersabda: Kalau bukan mereka, siapa lagi?” (HR. Bukhari Muslim)

Bukan karena Rasulullah pinter meramal ketika apa yang dikatakan beliau ternyata benar adanya. Tapi karena beliau khawatir terhadap kebodohan umat yang semakin meluas. Kebodohan inilah yang menjadi penyebab kaum muslim yang seharusnya sebagai umat terbaik, malah menjadi umat pengekor. Dan ternyata, semua itu menjadi kenyataan ketika kita melihat kelakuan remaja-remaja sekarang yang bisanya cuma mengikut budaya Barat. 

Emang sih, nggak semua yang berasal dari Barat itu buruk. Tapi dalam hal perayaan hari Valentine ini jelas-jelas buruk dan merusak generasi muda. How? Pertama, mulai dari asal muasalnya aja udah jelas-jelas nggak benar menurut pandangan Islam untuk ikut merayakan. Kedua, yang namanya merayakan Valentine, umumnya sama pasangan alias kekasih atau pacar. Ketiga, kalo udah mulai urusan pacar-pacaran begini, mau dibawa kemana hubungan dua anak manusia berlainan jenis kelamin ini? Gaul bebas? Sangat mungkin! 

See, nggak kekurangan cara musuh Islam untuk merusak kaum muslimin termasuk generasi mudanya. Seiring dengan semakin bebasnya teknologi informasi berupa alat telekomunikasi, budaya merayakan Valentine ini dengan mudah masuk ke kamar-kamar kita. Bisa lewat surat kabar, majalah remaja, radio, TV, internet, HP, dll. 

Bo’ong besar kalo ada yang bilang bahwa Valentine adalah hari kasih sayang. Kalo memang seperti itu, kenapa juga yang dijadikan sasaran adalah anak-anak muda? Kenapa bukan ibu-bapak kita, kakek-nenek kita? Soalnya jauh lebih strategis merusak generasi yang bakal menjadi penerus peradaban alias pemuda. Kalo pemudanya rusak, ho ho ho, mudah banget merusak sendi lainnya. Betul itu. (betul,,, betul,,, betul,,,-UpinIpin Mode-On) hehe..

Valentine, wajah buruk budaya Barat

Valentine’s Day diyakini sebagai hari kasih sayang. Ah, masa’ iya sih? Jangan mudah kamu dibodohi oleh slogan semacam ini. Why? Karena kalo beneran mereka yang suka menjajakan Valentine itu memang merayakan kasih sayang, tanya buktinya. Angka perceraian tinggi, anak-anak menjadi rusak karena brokenhome, prostitusi merajalela bahkan disahkan oleh negara, aborsi juga legal, para orang tua ditelantarkan di panti jompo dll. Inikah kasih sayang yang bisa dicontohkan oleh mereka?

Lalu sekarang coba tengok ke arah Timur. Irak hancur lebur, muslimahnya jadi korban perkosaan para tentara Barat, anak-anak kecil dan orangtua serta warga sipil dibantai tanpa ampun, negerinya dijajah dan porak-poranda. Belum lagi Afghanistan, Bosnia, Chechnya, bahkan Indonesia. Semuanya dijajah. Bila tidak secara fisik, pastilah secara ekonomi dengan hutang yang diwariskan pada anak cucu kita. Secara budaya, salah satunya adalah memaksakan perayaan Valentine ini ke generasi muda kita. Waspadalah! Waspadalah! (bang Napi kali...?)

Pheww….ternyata jauh banget ya kenyataan dengan syahdunya lirik lagu cinta zaman now? Jaka sembung bawa kebo, nggak nyambung bo’. Masa’ iya sih, setelah tahu hakikat asli wajah buruk di balik Valentine, kamu masih suka-cita menyambutnya? Nyadar euy!

Valentine itu hanya sebuah momen bagi para kapitalis yang mata duitan untuk menangguk untung sebanyak-banyaknya. Coklat, boneka, dan bunga jadi laris manis. Begitu juga dengan kartu sok romantis padahal aslinya cuma pingin mendapat kecup manis dari sang gebetan. Walah, naudzubillah banget. 

Campakkan Valentine!

Yo’i, saatnya kita mencampakkan budaya yang jelas-jelas nggak memberi manfaat apa pun pada kita, kaum muslimin. Kalo hanya dengan alasan kasih sayang, Islam adalah sumber dan muara kasih sayang itu sendiri. Mulai dari haramnya aborsi karena setiap anak punya hak hidup, naluri sayang seorang ibu juga dijaga agar tidak dirusak oleh paham atas nama kebebasan. Begitu juga dengan penghargaaan seorang anak yang tinggi untuk menghormati ibu dan bapaknya. Nggak ada konsep penitipan panti jompo dalam Islam. Toh, betapa pun tuanya orangtua kita, merekalah yang dulu pernah melahirkan dan membesarkan kita dengan kasih sayang. Tul kan?

Hubungan laki-laki dan perempuan bila ingin berkasih-sayang, ada sarananya. Pernikahan. Di sinilah satu sama lain diajari untuk mengenal kasih-sayang sejati yang diikuti tanggung jawab. Bukan hanya bisa memberi bunga, coklat dan boneka tanpa berani berkomitmen dan maunya sekadar pacaran mulu. Tapi Islam mengajarkan cowok untuk jadi laki-laki sejati, begitu dengan para cewek. Jangan mau digombali hanya dengan rayuan tak bermutu. 

Bukan hanya dengan sesama manusia, kasih sayang dianjurkan oleh Islam untuk diberikan juga pada makhluk lainnya semisal hewan, tumbuhan dan lingkungan. Hewan boleh disembelih sewajarnya untuk kebutuhan umat manusia. Tidak boleh menyiksa apalagi menyakitinya. Jangan malah kebalik. Banyak orang kafir itu yang tidak mau menyakiti binatang, tapi malah hobi membantai umat manusia terutama kaum muslimin. Tumbuhan juga harus diperlakukan dengan seharusnya. Tidak boleh ada eksploitasi hutan demi memuaskan nafsu para kapitalis yang haus duit.

Mereka yang suka gembar-gembor Valentine’s Day dan kasih sayang, malah mereka juga yang enggan untuk melindungi dan menyayangi bumi. Contohnya Amerika tuh yang menolak peduli terhadap efek global warming atau pemanasan global. Ozon yang semakin menipis karena efek rumah kaca, toh itu juga banyak berasal dari negaranya yang penuh dengan gedung bertingkat dan pemakaian freon secara berlebihan.

Kalau sudah begini, kamu masih percaya dengan Valentine’s Day adalah hari kasih sayang? Universal pula? Naif banget kalo iya. Moga aja dengan artikel sederhana ini kamu tersadar akan bualan nggak bermutu tentang makna kasih sayang. Cukup Islam saja sebagai tolok ukur dalam seluruh perbuatan kita. Insya Allah pasti selamat dunia-akhirat. Dijamin!

So, mari kita campakkan Valentine dan ambil Islam saja sebagai the way of life yang penuh kasih sayang. Yuk, kaji Islam biar cerdas dan taqwa. Allahu Akbar!

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Rabu, 13 Februari 2019

Valentine: Maksiat Berbungkus Kasih Sayang

Oleh: Hj. Irena Handono

Meski nasihat-nasihat, imbauan-imbauan para ulama, ustadz-ustadzah tentang Valentine selalu didengungkan tiap bulan Pebruari,  tapi ternyata masih banyak orang tua para remaja yang masih berpemahaman salah tentang Valentine’s Day. Valentine hanya dianggap sebagai budaya remaja modern saja. Padahal ada bahaya besar di balik Valentine yang siap menerkam para remaja. Ini yang tidak disadari para orang tua.

Tiap bulan Februari, remaja yang notabene mengaku beragama Islam ikut-ikutan sibuk mempersiapkan perayaan Valentine. Walau banyak ustad-ustazah memperingatkan nilai-nilai akidah Kristen yang dikandung dalam peringatan tersebut, namun hal itu tidak terlalu dipusingkan mereka. "Aku ngerayain Valentine kanbuat fun-fun aja...." begitu kata mereka.

Tanggal 14 Februari dikatakan sebagai ‘Hari Kasih Sayang’. Apa benar? Mari kita tilik sejarahnya.

Siapakah Valentine?
Tidak ada kejelasan, siapakah sesungguhnya yang bernama Valentine. Beragam kisah dan semuanya hanyalah dongeng tentang sosok Valentine ini. Tetapi setidaknya ada tiga dongeng yang umum tentang siapa Valentine.

Pertama, St Valentine adalah seorang pemuda bernama Valentino yang kematiannya pada 14 Pebruari 269 M karena eksekusi oleh Raja Romawi, Claudius II (265-270). Eksekusi yang didapatnya ini karena perbuatannya yang menentang ketetapan raja, memimpin gerakan yang menolak wajib militer dan menikahkan pasangan muda-mudi, yang hal tersebut justru dilarang. Karena pada saat itu aturan yang ditetapkan adalah boleh menikah jika sudah mengikuti wajib militer.

Kedua,  Valentine seorang pastor di Roma yang berani menentang Raja Claudius II dengan menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan dan menolak menyembah dewa-dewa Romawi. Ia kemudian meninggal karena dibunuh dan oleh gereja dianggap sebagai orang suci.

Ketiga, seorang yang meninggal dan dianggap sebagai martir, terjadi di Afrika di sebuah provinsi Romawi. Meninggal pada pertengahan abad ke-3 Masehi. Dia juga bernama Valentine.

Ucapan ”Be My Valentine”
Ken Sweiger dalam artikel “Should Biblical Christians Observe It?” mengatakan, kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti : “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, hal itu berarti melakukan perbuatan yang dimurkai Tuhan (karena memintanya menjadi “Sang Maha Kuasa”) dan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Dalam Islam hal ini disebut syirik, artinya menyekutukan Allah Subhannahu wa Ta’ala. Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” dewa Matahari. Disebut Tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri!

Tradisi penyembah berhala

Festival Lupercalia, Cikal Bakal Valentine

Sebelum masa kekristenan, masyarakat Yunani dan Romawi  beragama pagan yakni menyembah banyak Tuhan atau Paganis-polytheisme. Mereka memiliki perayaan/pesta yang dilakukan pada pertengahan bulan Pebruari yang sudah menjadi tradisi budaya mereka. Dan gereja menyebut mereka sebagai kaum kafir.

Di zaman Athena Kuno, tersebut disebut sebagai bulan GAMELION. Yakni masa menikahnya ZEUS dan HERA. Sedangkan di zaman Romawi Kuno, disebut hari raya LUPERCALIA sebagai peringatan terhadap Dewa LUPERCUS, dewa kesuburan  yang digambarkan setengah telanjang dengan pakaian dari kulit domba.

Perayaan ini berlangsung dari 13 hingga 18 Pebruari, yang berpuncak pada tanggal 15. Dua  hari pertama (13-14 Februari) dipersembahkan untuk Dewi Cinta (Queen of Feverish Love) Juno Februata. Di masa ini ada kebiasaan yang digandrungi yang disebut sebagai Love Lottery/Lotre pasangan, di mana para wanita muda memasukkan nama mereka dalam sebuah bejana kemudian para pria mengambil satu nama dalam bejana tersebut yang kemudian menjadi kekasihnya selama festival berlangsung. Seiring dengan invasi tentara Roma, tradisi ini menyebar dengan cepat ke hampir seluruh Eropa.

Hal ini menjadi penyebab sulitnya penyebaran agama Kristen yang saat itu tergolong sebagai agama baru di Eropa. Sehingga untuk menarik jemaat masuk ke Gereja maka diadopsilah perayaan kafir pagan ini dengan memberi kemasan kekristenan. Maka Paus Gelasius I pada tahun 469 M mengubah upacara Roma Kuno Lupercalia ini menjadi Saint Valentine's Day.

Ini adalah upaya Gelasius menyebarkan agama kristen melalui budaya setempat. Menggantikan posisi dewa-dewa pagan dan mengambil St Valentine sebagai sosok suci lambang cinta. Ini adalah bentuk sinkretisme agama, mencampuradukkan budaya pagan dalam tradisi Kristen. Dan akhirnya diresmikanlah Hari Valentine oleh Paus Gelasius pada 14 Februari di tahun 498.

Bagaimanapun juga lebih mudah mengubah keyakinan masyarakat setempat jika mereka dibiarkan merayakan perayaan di hari yang sama hanya saja diubah ideologinya. Umat Kristen meyakini St  Valentino sebagai pejuang cinta kasih. Melalui kelihaian misionaris, Valentine’s Day dimasyarakatkan secara internasional.

Jelas sudah, Hari Valentine sesungguhnya berasal dari tradisi masyarakat di zaman Romawi Kuno, masyarakat kafir yang menyembah banyak Tuhan juga berhala. Dan hingga kini Gereja Katholik sendiri tidak bisa menyepakati siapa sesungguhnya St Valentine. Meskipun demikian perayaan ini juga dirayakan secara resmi di Gereja Whitefriar Street Carmelite di Dublin-Irlandia.

Valentine di Indonesia
Valentine’s Day disebut ‘Hari Kasih Sayang’, disimbolkan dengan kata ‘LOVE’. Padahal kalau kita mau jeli, kata ‘kasih sayang’ dalam bahasa inggris bukan ‘love’ tetapi ‘Affection’. Tapi mengapa di negeri-negeri muslim seperti Indonesia dan Malaysia,  menggunakan istilah Hari Kasih Sayang. Ini penyesatan.

Makna ‘love’ sesungguhnya adalah sebagaimana sejarah GAMELION dan LUPERCALIA pada masa masyarakat penyembah berhala, yakni sebuah ritual seks/perkawinan. Jadi Valentine’s Day memang tidak memperingati kasih sayang tapi memperingati love/cinta dalam arti seks. Atau dengan bahasa lain, Valentine’s Day adalah HARI SEKS BEBAS.

Dan pada kenyataannya tradisi seks bebas inilah yang berkembang saat ini di Indonesia. Padahal di Eropa sendiri tradisi ini mulai ditinggalkan. Maka, semua ini adalah upaya pendangkalan akidah generasi muda Islam.

Inilah yang dikatakan Samuel Zweimer dalam konferensi gereja di Quds (1935): “Misi utama kita bukan menghancurkan kaum Muslim. Sebagai seorang Kristen tujuan kalian adalah mempersiapkan generasi baru yang jauh dari Islam, generasi yang sesuai dengan kehendak kaum penjajah, generasi malas yang hanya mengejar kepuasan hawa nafsu”.

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Senin, 11 Februari 2019

Cinta Allah Di Atas Segalanya


Remaja dan Cinta. Dua hal yang melekat saat remaja sudah kenal dengan lawan jenis dan muncul rasa suka-sukaan. Makanya ada yang bilang remaja itu penuh warna, ya itu salah satunya karna sudah terkena virus merah jambu. Saat remaja sudah mulai berinteraksi dengan lawan jenis di situlah rasa suka bisa muncul. Dilanjut ngganya rasa suka itu, berakhir menjadi pacar atau memendam rasa suka, itu tergantung bagaimana cara pandang remaja tersebut. Rasa suka atau cinta yang menggebu pada diri remaja bisa dikarenakan banyak faktor dari mulai buku apa yang dibaca, film apa yang ditonton dan komunitas atau lingkungan yang seperti apa yang mereka aktif di dalamnya. Misal aja nih, kalau yang jadi favorit untuk dibaca adalah buku-buku atau novel romance, terus yang ditonton drakor (drama korea) ditambah punya teman-teman (lingkungan) yang jadi supporter pacaran, sangat mungkin sekali jika rasa suka itu berlanjut dan berakhir menjadi pacaran. Gaya pacarannya? Ya itu, ngga jauh dari apa yang mereka baca dan tonton atau lihat. You are what you read, you are what you watch.

Sesungguhnnya, gaya berpacaran kids jaman now bisa dibilang parah sih. Bebas pacaran yang bebas blass. Fakta sudah banyak berseliweran di media sosial, bikin perasaan campur aduk melihat ulah mereka dari mulai miris, prihatin, sedih bahkan marah. Gimana ngga campur aduk, generasi yang dijadikan harapan untuk bangkitkan masa depan bangsa malah jadi generasi yang “sakit” identitas jati diri dan kepribadiannya. Remaja kita “sakit amnesia” lupa ingatan bahwa dirinya adalah seorang remaja muslim/muslimah yang terpancar darinya kepribadian muslim sejati. Saat Barat begitu gencarnya mempropagandakan gaya hidup sekuler-liberal, maka seolah pola pikir dan pola sikap remaja kita terinstal dengan identitas dan kepribadian Barat. Memamerkan kemesraan yang tak pantas di muka umum seolah sudah lazim. Bahkan, yang lebih parahnya saking sudah teridap penyakit liberal akut, remaja kita tak segan bahkan tak malu menjadi pelaku LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, TransGender). Menjadi pasangan sesama jenis yang lagi-lagi seolah tak ada urat malu menunjukkan rasa suka dan cintanya di depan khalayak ramai. Na’udzubillaah.

You’re On Target!!

Pernah lihat atau mencoba olah raga sunnah panahan atau memanah? Buat yang belum pernah coba mungkin sepintas terlihat mudah, hanya tinggal melepaskan anak panah menuju papan target. Tapi, bagi yang sudah mencoba atau mempraktekkan sangat bisa jadi akan bilang olah raga ini tak semudah teori. Dari mulai menempatkan anak panah pada busur dan memegang kuat anak panah, lalu mengangkat busur dan mengarahkan panah pada titik target, setelah itu baru melepas anak panah. Keakuratan anak panah yang melesat menuju titik target tergantung sejauh mana ketajaman pemanah melihat titik target dan ketepatan dalam melepas anak panah. So, buat kamu remaja kece yang cewek atau cowok, you have to try it. Olah raga memanah yang bukan saja banyak faedah tapi juga bernilai ibadah lho karna dianjurkan oleh Rasulullah saw.

Namun, sayang beribu sayang. Tak sedikit remaja kita asyik dengan hal-hal unfaedah bahkan haram. Kebalikannya, untuk hal-hal yang berfaedah bahkan berpahala malah mager alias males gerak. Mereka lebih milih memanah hati dari target yang disukai, berharap tepat sasaran dan sang target merespon sesuai yang diharapkan oleh pemanah abal-abal ini. Biasanya, laki-laki dianggap lebih aktif dan ekspresif untuk menyatakan cinta dibandingkan perempuan. Perempuan yang berbalut malu-malu ngarep (berharap) lebih memilih untuk pasif menunggu saat ada lelaki yang “menembak” dan menginginkan untuk menjadi pacarnya. Baginya masih dianggap tabu jika perempuan yang menyatakan terlebih dahulu. So, bisa dibilang perempuan sebagai target sedang laki-lakinya adalah pemanahnya.

Konon, lelaki memiliki jiwa penantang dan penakluk. Sedang perempuan yang dianggap lemah akan mudah untuk ditaklukkan menjadi kekasihnya. Lihat saja, program televisi reality show bertajuk "Katakan Cinta", yang menjadi peserta kebanyakan adalah para pria yang dengan segala macam cara dilakukan untuk membuktikan cintanya agar sang pujaan hati luluh dan mau menerimanya sebagai pacar. Dari mulai sesuatu yang ekstrim membahayakan sampai sesuatu yang memalukan. Katanya kalau sudah abis-abisan melakukan pengorbanan cinta, pasti sang wanita tertekuk klepek-klepek dan dengan wajah yang bersemu merah akhirnya menerima cinta si "pejuang" cinta.

Eits, sampe sini jangan cepet-cepet baper jadi berharap ada yang nyatain cinta trus minta kamu jadi pacarnya ya. Apalagi karna kelamaan jomblo sedang teman-teman yang lain sudah punya pacar. Cup..cup.. girls, kamu ngga akan jadi hina kok hanya karna kamu ngga pacaran. Bully-an teman-teman hanya karna kamu ngga pacaran juga ngga akan bikin kamu langsung berhenti bernapas kan? Yang harus kamu ingat ya friends, pacaran itu adalah status palsu dimana cinta berbalut nafsu. Cinta yang diperjuangkan pun adalah ilusi berbalut dusta. Bagaimana bisa dikatakan cinta sedang yang hendak dituju adalah kemaksiatan. Jadi, buat kamu para ukhti jangan ngerasa GR alias Gede Rasa karna seolah diperjuangkan kalau hanya untuk dijadikan pasangan dalam bermaksiat. Seorang lelaki yang merasa mudah “menaklukkan” seorang wanita berpeluang untuk mencari target selanjutnya yang lebih menantang. Maka ngga heran, kebalikan dari reality show “Katakan Cinta” yang kebanyakan pesertanya adalah laki-laki. Giliran reality show “Katakan Putus” yang kebanyakan peserta atau pelapornya adalah para perempuan yang merasa dikhianati. Ngga sedikit sang pelapor nangis bombay karna ngeliat apa yang dilakukan pacarnya. Terus, apa sang pacar akan nangis bombay juga? Yang udah-udah sih ngga, biasa aja tuh pikirnya masih banyak perempuan lain. Nah, kalau udah kaya gini yang rugi siapa? Apalagi kalau sampai si perempuan sudah terlanjur memberikan apa yang menjadi kesucian dan kehormatannya begitu saja hanya karna ingin membalas pembuktian dan pengorbanan cintanya. Allah SWT menegaskan dalam Qur’an Surat Al Isra ayat 32 “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”. Nastaghfirulloh. Ini sih namanya rugi serugi ruginya. Kalau udah kaya gini, perempuan (maaf) sama seperti barang bekas pakai. Sama seperti dahulu saat masa jahiliyyah di mana Islam belum datang. Orang-orang Yunani menganggap perempuan sebagai pemuas kesenangan saja. Orang-orang Romawi memberikan hak atas seorang ayah atau suami untuk menjual anak perempuan atau istrinya. Orang-orang Arab Jahiliyyah pun biasa mengubur anak perempuan mereka hidup-hidup karna menurut mereka memiliki anak perempuan adalah sebuah aib. See.. apa yang terjadi sekarang seolah kembali ke masa kegelapan jahiliyyah dimana Islam belum datang sebagai cahaya yang menerangi.

Cintailah Sejatinya Cinta

For you brothers, yang baca buletin ini, yakin deh kalau kamu bukanlah lelaki si pejuang cinta dusta. Jadikan gambaran ini sebagai pelajaran bahwa seorang lelaki sejati itu yang bisa memperlakukan perempuan sesuai tuntunan Islam dengan menghormati, menghargai bahkan memuliakannya. Karna bagaimana pun Ibu yang melahirkanmu adalah seorang perempuan. Bisa jadi antum juga punya saudara perempuan yang pastinya tidak akan rela jika ada yang melecehkannya sedikit pun. Rasulullah saw bersabda “Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita” (HR. Muslim). Buat kamu wahai ukhties, kamu itu ngga boleh lemah. Jangan mudah luluh hati dan perasaan saat ada yang menyatakan cinta dan menginginkanmu jadi pacarnya. Kamu harus punya prinsip yang kuat untuk berani bilang TIDAK saat ada yang mengajakmu pacaran atau ngedate. Begitu juga, berani say no to chocolate and Valentine Day. Karna lelaki sejati itu bukan yang berani mengajakmu bermaksiat tapi yang berani nge-halal-in kamu. So, selama kamu belum siap nge-halal-in atau di-halal-in lebih baik perbanyak kegiatan berfaedah seperti aktif di Rohis untuk mengajak teman-teman yang tadinya asyik pacaran jadi asyik kajian. Selain itu, perkuat benteng keimanan dengan beribadah kepada Allah dalam rangka mendekat untuk taat. Insya Allah, keinginan untuk bermaksiat akan minggat (pergi) dari dalam diri.

Cinta yang sejatinya fitrah biarlah tetap fitri (suci) jangan nodai dengan senoktah perbuatan haram. Sebelum mencintai makhluk, bergelutlah dengan mencintai Al Khaliq agar kita senantiasa dituntun pada jalan yang benar termasuk menempatkan dan mendapatkan cinta yang Allah ridhoi. Jangan sampai cinta kepada makhluk lebih kita perjuangkan mati-matian, tapi cinta kepada Allah Yang Maha Mematikan malah ditempatkan di posisi ke sekian. Bukankah Allah yang Maha Menghidupkan? Dari Anas Bin Malik dari Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda, “Tidak (sempurna) iman salah seorang kalian sehingga Allah dan rasulNya lebih dia cintai daripada selainnya, dan hingga ia dilempar ke neraka lebih disukainya dari pada kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya. Dan tidak (sempurna) iman salah seorang kalian sehingga saya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya atau manusia semuanya”. (HR. Ahmad).[]

Sumber: temansurga.com

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Senin, 04 Februari 2019

Jangan Nodai Cintamu

Kayaknya bisa ditebak banget, ketika ngeliat judul buletin kali ini, ada yang langsung semangat, ada yang senyam-senyum, ada yang matanya berbinar, ada yang giginya gemetar, hehee… Ya, karena emang pembicaraan tentang cinta, jadi obrolan favorit teman-teman remaja, wa bil khusus di bulan Februari seakan jadi bulan merah jambu berbincang soal cinta. Tapi tentu bukan asal cinta-cintaan donk yang ingin kita kupas di sini, melainkan cinta yang sehat, biar cinta kita nggak gampang kena noda.

Allah Anugerahkan Cinta
Ketika cinta diobrolin sama remaja maknanya jadi sempit, paling-paling nggak beda kayak sinetron atawa film itu khan. Cinta cuman diartikan sempit sebagai cinta lawan jenis. Padahal Allah SWT menciptakan rasa ini dalam diri manusia nggak cuma dalam rangka memadu kasih dua insan yang lagi mabuk asmara. Tapi bisa juga berupa cinta ortu kepada anaknya, kakak kepada adiknya, suami kepada isterinya, dan seterusnya.

Coba lihat, buah-buah cinta seorang bapak bekerja banting tulang, peras keringat untuk menghidupi keluarganya. Dia rela jadi tukang becak, jadi pemulung tanpa malu asalkan dapat fulus supaya bisa menyambung hidup keluarganya. Ibu kita dengan cintanya telah rela bersusah payah mengandung selama 9 bulan, abis gitu harus menyusui sampe dua tahun, harus mengganti popok kalo pas kita ngompol, menyuapi ketika makan, dan seterusnya sampe kita gede. Coba kalo ortu kita nggak cinta sama kita, mungkin kalo Kita pipis atau (maaf) ee dibiarin aja...iyy kebayang kan? Jijay deh...

Cinta bisa bemakna cinta kepada saudara seakidah. Bahkan dalam hadis Mutafaq ‘alaih dari Anas dari Nabi saw. ia bersabda: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Tuh khan, aktivitas mencintai disetarakan dengan keimanan lho.

Trus, kecintaan kita juga kudu kita tanamkan kepada Allah dan RasulNya. Ini malah justru yang lebih penting. Menurut al-Zujaj: “Cintanya manusia kepada Allah dan RasulNya adalah menaati keduanya dan ridho terhadap segala perintah Allah dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah saw”. Sehingga seorang hamba akan bersegera memenuhi seruan-Nya. Meski harus ditukar dengan cintanya pada anak-istri, keluarga, atau harta benda (lihat QS at-Taubah [9]: 24)

Nah inilah makna cinta bagi seorang muslim. Begitu universal dan luas. Saking luasnya nggak perlu dibatasi dengan hari khusus di bulan februari yang dianggap spesial bagi sebagian kalangan. Sebab kita bisa mencintai siapa aja, di mana aja, kapan aja sepanjang hari selama hidup kita dan tidak terbatas cuma kepada lawan jenis aja.

Cinta yang Ternodai
Cinta yang “suci” itu jangan dinodai dengan perbuatan yang haram. Jangan diracuni dengan aktivitas yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Seperti pacaran, gaul bebas, atau mengekspresikannya dengan aktivitas yang bertentangan dengan Islam, berupa V-Day.

Kegiatan rutin tahunan V-Day sudah kepalang dinobatkan sebagai hari kasih sayang di seluruh dunia. Termasuk kita jadi latah ikut heboh setiap tanggal 14 Pebruari. Padahal V-Day ternyata punya latar belakang peristiwa yang bukan berasal dari Islam. Yup, kita emang harus mengingatkan kepada semua orang, terutama remaja muslim tentang bahayanya perayaan yang satu ini. Karena V-Day ibarat racun berlumur madu. Kelihatan manis tapi sebetulnya berkadar racun tingkat tinggi bin berbahaya. Apalagi kalo dibungkus dengan embel-embel cinta. Duh...mana ada yang tahan untuk mencicipinya?

V-Day sudah terlanjur diidentikkan sebagai perayaan cinta atau hari kasih sayang. Ironisnya, remaja-remaja muslim ho-oh aja, tanpa pernah berpikir kalo kasih sayang wal cinta itu udah dibungkus rapi dengan harapan semua orang nggak pernah tahu mana yang original cinta, mana yang nafsu. Cinta emang universal, semua orang boleh mencinta dan dicintai siapa aja. Tapi kalo kita udah bicara V-Day udah beda banget. V-Day nggak selalu berbanding lurus dengan kasih sayang.

Mungkin ada yang mengelak “ah itu perayaan V-Day yang bebas banget itu khan di Barat, di Indonesia nggak mungkin kayak gitu”. Siapa bilang nggak mungkin? Kita semua nggak ada yang berani menjamin kalo di kehidupan serba permisif seperti sekarang ini, orang bisa nggak terjerumus pergaulan bebas. Kamu mungkin menyela “ah itu khan juga tergantung orangnya”. Ya, bisa jadi begitu, tapi bisa jadi enggak. Lho koq?

Gaes, nggak bisa dipungkiri kalo perayaan selalu dipengaruhi oleh cara pandang seseorang terhadap kehidupan. Kalo sebagian remaja memandang bahwa hidup ini adalah sebagai ajang hura-hura dan foya-foya, maka perayaan V-Day pun nggak jauh-jauh amat dengan sikap hidup hedonis, materialis dan liberalis. Nggak ada yang namanya halal dan haram. Lha wong agamanya ditinggalin di masjid koq. Agama nggak boleh ikut campur urusan anak muda.

Jadi, jangan pernah bilang free sex dalam perayaan V-Day, nggak mungkin terjadi di Indonesia. Karena Rasulullah sendiri bersabda : “Kamu telah mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga jika mereka masuk ke dalam lubang biawak, kamu tetap mengikuti mereka. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apakah yang engkau maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani? Baginda bersabda: Kalau bukan mereka, siapa lagi?” (HR Bukhari Muslim)

Padahal hadits itu udah disampaikan berabad-abad yang lalu dan terbuktilah kalo mulai cara bicara kita, cara makan, cara tidur, dan ngapain aja kita, ternyata hasil contekan dari budaya Barat. Inilah yang disebut westernisasi. Jadi upaya membarat-kan kaum muslim, nggak cuman dalam hal fisik, tapi juga pemikiran. Bukti kuatnya, remaja muslim kita jadi nggak pede, takut disebut nggak gaul, ketika remaja seusianya pada rame menyambut V-Day, sementara dia cuman ngamplo (jawa: bengong) di rumah, atau malah-malah nolak V-Day.

Makanya, ati-ati deh. Kalo udah banyak yang ngingetin bahwa aktivitas kamu memperingati V-Day adalah salah, segera aja campakkan nafsu untuk ber V-Day ria. Sebab bukan hanya kamu ngikutin aktivitas yang nggak jelas juntrungannya, tapi juga kegolong masuk ke dalam golongannya orang Yahudi dan Nasrani tadi.

Pake Akal Sehat Mengkritisi V-Day
V-Day yang dari semula emang sengaja ditujukan untuk penghormatan kepada pendeta St. Valentino yang mati dihukum penguasa Romawi, emang sengaja disulap pake embel-embel hari kasih sayang. Supaya kamu-kamu yang muslim nggak merasa jengah ketika ikutan merayakannya. Terus perayaan yang semula ditujukan bagi muda-mudi aja untuk cari pasangan seks, sengaja dikamuflase dan diperluas hingga ke sayang or cinta pada ayah ibu or sesama.

Banyaknya teman-temanmu yang ikut merayakan V-Day bukan berarti acara tersebut sah dan legal. Persoalannya, sah atau legalnya suatu acara bukan karena tergantung dari banyaknya orang melakukan perbuatan tersebut. Tidak juga tergantung dari selera manusia yang memandang persoalan hanya dari sudut pandang baik atau buruk menurut ukuran perasaan dan pikiran semata. Tapi seluruhnya disandarkan kepada ajaran-ajaran Islam. Islam sebagai patokan.

Dengan masih berjubelnya para pendukung V-Day, justru harusnya bikin kita berpikir kritis “ada apa dibalik V-Day?”. Dan nggak semua orang bisa atawa mau berpikir kayak gitu. Bagi yang nggak mau diajak berpikir hal itu, karena di benaknya udah keserang virus EGP alias emang gue pikirin. Sementara bagi yang nggak bisa berpikir hal itu, lebih karena otaknya sering dininabobokan dengan hiburan dan kesenangan, sehingga kalo diminta berpikir agak sedikit berat, otaknya serasa keluar asap, tanda nggak mampu. Di sinilah perlunya kita melihat persoalan dengan pandangan yang jernih, kritis dan mendalam khas Islam.

Berpikir tentang “ada apa di  balik V-Day” sebenarnya nggak harus butuh tenaga ekstra, apalagi kudu makan multivitamin pencerdas otak. Nggak seperti itu. Cukup, semua orang bisa merasakan, adanya keganjilan, keanehan, ketidakberesan di balik fenomena menjamurnya perayaan V-Day. Itu artinya, kita semua kudu berpikir tentang ada apa di balik ‘tembok’. Kenapa kita katakan ‘tembok’? Karena emang ada semacam penghalang yang sengaja dipasang menutupi atau membuat kita tertutup, agar kita nggak bisa ngeliat ada di balik ‘tembok’ tentang V-Day.

Nah, wajar aja kalo kita kemudian berpikir kritis mencari tahu kenapa ada tembok didirikan di depan kita. Lalu siapa yang mendirikan tembok itu, apa tujuannya didirikan tembok dan semua pertanyaan-pertanyaan kritis. Tembok yang sengaja dipasang di depan kita tadi, adalah upaya untuk membuat kabur alias kamuflase agar perayaan V-Day identik dengan pencurahan cinta dan kasih sayang.

Padahal kalo nggak ada tembok itu, kita semua bisa ngeliat dengan mata dan kepala kita sendiri alias dengan akal sehat kita bahwa perayaan cinta seperti yang digembar-gemborkan itu sebetulnya cuman perayaan yang nggak jauh-jauh dari ngelakuin seks bebas. Yang kalo di negeri asal V-Day, disebutnya sebagai making love alias aku ingin bercinta. Dan semua orang ngeh kalo yang dimaksud ‘bercinta’ itu adalah intercourse alias hubungan suami-isteri. Naudzubillah !

Makanya kamu kudu berhati-hati dan jeli kalo ada orang menghubungkan V-Day dengan cinta. Itu arti sebenarnya adalah menghubungkan V-Day dengan seks. Kamu kudu kritis mencari tahu tujuan diadakannya V-Day ini, siapa orang-orang di baliknya, siapa yang getol banget mempromosikannya, trus kenapa juga harus V-Day. Jangan mau hanya jadi remaja kayak kerbau dicocok hidungnya, ngikut apa pun yang dilakukan oleh orang lain meski itu bertentangan dengan keyakinan kita.

Dan yang paling penting, kalo kita menilik sejarah perayaan V-Day, ternyata khan V-Day berasal dari peradaban yang jauh banget dari Islam. V-Day berasal dari peradaban dari sebuah kaum penyembah berhala. Di sisi lain ketika V-Day dipopulerkan oleh agama Kristen, itupun sebuah peradaban yang juga bertentangan dengan Islam sebagai ad-dien kita.

Itu sebabnya, tradisi jahiliyah ini mesti digugat keberadaannya. Sudah saatnya budaya yang lahir dari peradaban rusak ini diboikot, bahkan seharusnya di-delete dari daftar pergaulan muda-muda Islam. Jangan sampe kejadian serupa menimpa adik-adik kita yang mulai beranjak remaja. Pokoknya harus dihilangkan dari benak remaja Islam.

Untuk urusan cinta juga sama. Kita emang nggak bisa menghindar dari cinta, tapi kita bisa mengatur cara mengekspresikan cinta. Dan Islam udah punya aturannya, biar nggak ketuker dengan ayam jago yang maen sosor aja kalo udah kebelet. Nggak ada tuh dalam Islam yang namanya pacaran, HTS (Hubungan Tanpa Status), friendzone ataupun pacaran islami. Yang ada dalam Islam adalah mekanisme khitbah dan nikah untuk penyaluran hasrat mencintai lawan jenis.

Dan perlu dicatet, mekanisme ini bukanlah pilihan, tapi kewajiban. Allah Swt. berfirman:
”Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS al-Ahzab 36)

Kalo kita sudah punya benteng sekaligus kita tahu cara mengkspresikan cinta. Maka gampang banget berani berkata ‘tiiidaaak..!' pada ajakan teman untuk bermaksiat berpartisipasi dalam perayaan V-Day atau gaul bebas dengan lawan jenis. Ngapain juga kita kudu ngikut ajakan dia? Demi nilai persahabatan? No Way! Seorang sahabat yang baik dan benar, pasti ngajak kita untuk taat, bukan untuk bermaksiat. Catet![]

Sumber: temansurga.com

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg