Senin, 28 Januari 2019

Halal Food VS Junk Food


Hidup untuk makan atau makan untuk hidup? Dua kalimat yang mirip-mirip tapi maknanya bisa jauh banget. Di mana kalo hidup untuk makan seolah hari-hari seseorang diisi cuma sama makan, makan inilah itulah. Pokoknya kuliner-an terus. Entah kapan diawali, rasanya saat ini makan sudah bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan jasmani saja. Tapi, sekarang makan sudah jadi pemenuh gengsi semata. Dari mulai memenuhi rasa kepenasaranan dengan jenis makanan baru sampai makan cuma buat gaya doang. Kalau kaya gini sih, bukan perut yang kenyang tapi kepuasan gengsi yang kenyang. Biar dibilang gaul and ngga kuper karna udah cicip makanan yang lagi hits apalagi kalau makannya di tempat yang juga lagi nge-trend. Kalau makan untuk hidup, kalimat ini bermakna makan sebagai pemenuh kebutuhan jasmani dan bisa dibilang menyambung hidup di mana makan sebagai amunisi seseorang untuk menjalankan aktifitasnya sehari-hari. Nah, kalau kamu yang mana?

“Perang” Terselubung Di Balik Makan dan Makanan
Setiap yang hidup pasti membutuhkan makanan dan harus makan. Bukan hanya manusia saja tapi hewan dan tumbuhan pun membutuhkan makan dan makanan. Kenapa makhluk hidup harus makan? Karna makan adalah salah satu kebutuhan pokok atau mendasar jadi kalau makhluk hidup ngga makan yaa bisa mati. Contohnya aja kalau kita telat makan aja bisa kena sakit maag, kalau keseringan telat makan ditambah kecapean dan fisik lagi ngga fit bisa kena sakit typus. Atau malah ada juga yang malah sengaja ngga makan biar badannya kurus, emang sih kurus tapi kurusnya karena kena penyakit anoreksia. Itulah orang kalau sudah terjebak sama propaganda pemikiran Barat yang bilang kalau perempuan cantik itu KuTiLang alias Kurus Tinggi Langsing. Makanya ngga sedikit juga lho remaja yang punya tubuh gemuk merasa minder dan ngga jarang juga mereka jadi korban perundungan (bullying). Haduhh.. padahal Rasulullah saw bersabda “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”. Catet tuh guys, yang dilihat itu hati dan amal yang sesuai dengan tuntunan yang dibawa Rasul.

Eiya, bicara soal propaganda barat ngga cuma soal kalau cantik itu wajib kurus lho.. ternyata banyak propaganda yang dijadikan alat Barat sebagai “perang terselubung” mereka untuk menjauhkan remaja muslim dari jati dirinya dan lebih milih terlebih bangga dengan pemikiran dan gaya hidup Barat. Kenapa terselubung? Karena perangnya ngga bikin berdarah tapi bikin hidup salah arah. Lihat saja banyak remaja yang ngga sadar sudah jadi korban perang pemikiran (ghowzul fikr) Barat. Barat cukup bikin sesuatu itu viral maka banyak remaja labil akhirnya ngikut. Fakta nih, Barat cukup propagandakan atau bahasa gampangnya ngiklanin kalau remaja gaul itu makannya fast food. Yes, makanan cepat saji yang diolah sedemikian rupa. Di mana gaya hidup instan yang akhirnya bikin masyarakat lebih  memilih dan menyukai makanan yang proses penyajiannya ngga butuh waktu berjam-jam. Nah, biasanya fast food ini kebanyakannya adalah junk food, meski bisa jadi ada makanan cepat saji tapi ngga termasuk junk food walau memang jumlahnya sedikit. Nah, sayangnya justru yang lebih jadi favorit remaja adalah junk food.

Junk food, makanan yang rendah nutrisi tinggi lemak ini namun dipromosikan sebagai makanan modern. Nah, dari sini banyak orang yang suka dengan makanan jenis ini. Coba deh, seandainya kamu disodorin makanan yang secara terang-terangan disampaikan kalau makanan itu mengandung sesuatu yang berbahaya bagi tubuh terlebih jika dikonsumsinya dalam jumlah yang besar atau banyak dengan frekuensi sering. Trus, dikasih tahu juga penyakit apa saja yang siap mengintai. Kira-kira teman-teman masih mau makan gak? Pasti nggak, minimal akan berpikir seribu kali. Tapi, pada kenyataannya junk food atau ada yang bilang dengan istilah makanan “sampah” (karna gak bernutrisi) ini malah jadi makanan favorit. Tanya kenapa? Inilah friends yang disebut sebagai propaganda atau perang pemikiran. Dengan tanpa sadar remaja mengikuti apa saja yang diviralkan oleh Barat meski itu sesat, ya salah satunya ini tentang makan makanan yang dianggap modern padahal sebenarnya makanan itu unfaedah.

For your information, ini dia beberapa bahaya junk food yang bisa merusak kesehatan tubuh kita. 1. Mengganggu Sistem Ingatan. Sebuah studi menunjukkan bahwa orang sehat yang makan junk food selama lebih dari lima hari maka akan berdampak buruk pada hati, kecepatan dan sensitivitasnya. Jika terus dilanjutkan makan junk food selama lima hari bisa semakin memperburuk ingatan. Ini disebabkan, karena pola makan yang buruk dapat menyebabkan reaksi kimia tertentu yang menyebabkan peradangan di otak, yang berhubungan dengan ingatan.  2. Tidak Bisa Mengontrol Nafsu Makan. Terlalu banyak konsumsi lemak jenuh yang ditemukan dalam makanan olahan dan makanan yang digoreng dapat membuat otak sulit untuk memproses seberapa besar rasa lapar dan apa yang telah dimakan. 3. Meningkatkan Risiko Demensia (pikun). Sebuah penelitian menunjukkan bahwa kelebihan asam lemak dan manisan dapat meningkatkan kadar insulin dalam tubuh secara substansial. Semakin tinggi tingkat insulin dalam tubuh, semakin banyak otak berhenti merespons hormon ini dan menjadi resisten terhadapnya. Ini membatasi kemampuan untuk mengingat atau berpikir, sehingga menciptakan risiko demensia. 4. Dapat Menyebabkan Depresi. Mengkonsumsi makanan tinggi lemak dan gula mengubah aktivitas kimia otak dan ini dapat menyebabkan ketidakmampuan untuk mengatasi stres, dan itu akan membuat kamu tertekan. 5. Tidak Sabaran dan Keinginan yang Tidak Terkendali. Junk food dipenuhi dengan karbohidrat olahan, yang mengubah tingkat gula darah. Kandungan lemak dan gula yang tinggi dalam junk food akan membuat kamu banyak makan hanya karna didorong oleh rasa penasaran atau keinginan saja bukan kebutuhan. Pengen makan ini, pengen makan itu. 6. Menyebabkan Gangguan Pencernaan. Salah satu efek junk food pada perut adalah bahwa hal itu menyebabkan masalah pencernaan seperti Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) dan Irritable Bowel Syndrome (IBS). Alasannya, karena makanan cepat saji ini digoreng dan minyak dari makanan terakumulasi di perut, menyebabkan keasaman. 7. Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung. Makanan cepat saji meningkatkan kadar kolesterol dan trigliserida, yang merupakan faktor risiko utama dari gejala penyakit jantung. Lemak yang ada di dalam junk food berakumulasi di tubuh dan membuat obesitas. Semakin bertambah berat badan maka semakin tinggi risiko penyakit jantung. (okezone.com)

Gimana TemanS, sudah bikin merinding? Sayangnya bahaya-bahaya ini tidak lebih diviralkan dibandingkan dengan propaganda kalau junk food itu makanan kekinian, terlebih kalau remaja hang out-nya di restoran cepat saji seperti ada kebanggaan tersendiri gitu dibanding makan di warteg. Nah, di sini Barat telah berhasil “brainwash” remaja melalui food (makanan). Kebayang ngga sih, kalau remaja kita sebagai harapan bangsa dicekoki dengan makanan yang ngga sehat ditambah dengan di”racuni” pemikirannya agar mengikuti gaya hidup ala Barat. Sudahlah tubuh dilemahkan dengan asupan makanan yang tak bergizi, pemikiran pun ditumpulkan agar remaja muslim berpikiran instan se-instan makanan yang dimakan. Bagaimana bisa kebangkitan haqiqi bisa diraih dari generasi yang lemah? Ini saatnya buat kamu yang baca buletin ini khususnnya, untuk terus mengajak teman-temanmu menjadi remaja muslim ideal yang tercermin melalui pola pikir dan pola sikap.

Remaja Keren itu Iman Inside, Healthy Outside
Barat emang menguasai media besar di dunia. Sehingga bagi mereka sangat mudah untuk mengiklankan “produk-produk” yang sengaja dijual ke negeri-negeri muslim. TemanS, sebagai seorang muslim apapun yang kita lakukan semuanya harus terikat dengan syariat Islam. Termasuk soal makan dan makanan. Tatacara makan diatur begitupun makanan yang masuk ke dalam tubuh kita. Makan jangan asal makan perut buncit langsung kenyang. Karna Allah SWT melarang makan berlebihan, “...makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (TQS. Al A’raf: 31)

Aktifitas makan bisa jadi bernilai ibadah lho kalau sesuai tuntunan Islam. Makanan yang kita makan pun harus yang halal dan thoyyib (baik) untuk tubuh kita. Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surat An Nahl: 114 “Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah”. Nah.. harus lebih selektif nih pilih makanan, pastikan halal dan thoyyib-nya. Karna Islam ngga memandang makan itu sebagai prestise, makan itu adalah kebutuhan mendasar manusia. Jadi, ngga peduli tuh mau makan di mana dan makan apa yang penting halal dan thoyyib. Thoyyib di sini, makanan sehat bergizi. So, junk food sudah pasti bukan makanan thoyyib yaa.

Kalau makanan yang akan kita santap sudah pasti halal dan thoyyib. Iringi makan kita dengan mencuci tangan sebelum makan. Terus baca basmallah dan do’a. Bukan hanya sekedar foto makanannya sebelum makan yah. Makannya pakai tangan kanan, jangan ikut-ikutan gaya Barat, makan pakai tangan kiri. “Bacalah basmallah (jika akan makan/minum, makanlah dengan tangan kananmu“ (HR. Bukhari). Makan juga harus duduk ya TemanS, jangan makan berdiri seperti kebiasaan orang-orang Barat. Nabi SAW, melarang seorang laki-laki minum sambil berdiri. Qatadah r.a berkata, “Kami bertanya kepada Anas “bagaimana dengan makan (sambil berdiri)? Anas menjawab, “itu lebih parah dan lebih jelek”. (HR. Muslim). You know what? Makan dan minum sambil berdiri juga berbahaya lho bagi kesehatan. Bisa menimbulkan efek penyakit perut dari mulai asam lambung naik sampai resiko kegemukan karna ternyata makan sambil berdiri malah membuat kita selalu merasa lapar dan ingin makan terus. Eits, jangan lupa ucapkan hamdallah saat kita selesai makan. Alhamdulillaah.

Dengan senantiasa mengikatkan segala aktifitas dan pemikiran dengan Islam ditambah dengan makan dan minum dengan yang halal dan thoyyib maka generasi beriman kuat dan berraga tangguh akan lahir membawa perubahan dan kebangkitan haqiqi.[]

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Senin, 21 Januari 2019

REMAJA DIRINDU SURGA



Be different. Itulah prinsip yang dipegang remaja biar eksis dalam pergaulan di antara teman sebaya. Harus beda. Dari mulai potongan rambut hingga potongan kuku. Dari mulai gaya bahasa sampai gaya busana. Nggak ketinggalan, casing hape dan casing wajah juga mesti beda. Pokoknya nggak sama.

Tapi ya namanya penampilan, dibedain gimanapun biasanya nggak bertahan lama. Apalagi remaja penganut banci trendi, gampang berubah ngikutin tren. Nggak konsisten. Temennya keranjingan budaya korea, ikut-ikutan dandan ala wanita korea pakai skinny jeans padahal betisnya bak talas Bogor. Niatnya skinny, malah menyiksa kaki. Hadeuh...!

Dilema Remaja Muslim Milenial
Gaya hidup remaja emang nggak ada matinya. Setiap hari ada aja trend kekinian yang meramaikan lini masa sosial media. Dari mulai penampilan, gaya bicara, tren fashion, hingga makanan juga nggak mau ketinggalan. Kalo nggak bisa ngikutin tren, bisa ketinggalan jaman. Endingnya, tersisih dari pergaulan.

Wajar kalo remaja muslim sering ngalami kegalauan dalam urusan pergaulan. Di satu sisi, nggak mau ketinggalan tren yang lagi ngehit demi menjaga persahabatan. Namun di sisi lain, ogah juga bergaya hidup sekuler ala barat yang jauh dari aturan agama. Serba salah. Bimbang. Pilih ridho manusia atau ridho Sang Pencipta?

Di sekolah, nggak ada lagi tuh yang namanya jaga jarak dengan lawan jenis. Yang ada, laki perempuan gaul bebas tanpa batas. Benih-benih cinta dibiarkan tumbuh liar. Berangkat sekolah bareng, ngerjain tugas bareng, nongkrong bareng, hang out bareng, sampe tidur juga bareng. Gaswat!

Kalo ada yang berani jaga jarak dalam bergaul, seringnya dianggap sok suci, sok alim, atau nggak solider. Meski kedengerannya sepele, julukan ini lumayan dalem dan bikin minder lho. Akhirnya melahirkan dilema, antara gaul bebas dan gaul islam.

Nggak heran kalo banyak remaja muslim yang rela menggadaikan idealismenya biar dianggap gaul dan diterima oleh temen-temennya. Mereka cari jalan aman biar tetep cocok dengan tuntutan jaman. Biasanya dalam urusan gaya hidup dan penampilan yang paling banyak menyita perhatian. Dari sini lahirlah perilaku pacaran islami atau tren kerudung gaul. Keliatannya kekinian padahal mah sama dengan malpraktik nilai-nilai Islam. Niatnya ikhlas biar dapet ridho Allah swt tapi caranya nggak ngikutin sepeti yang dicontohkan Rasul saw.

Walhasil, jadi kaya bunglon dah pake gonta-ganti warna kulit biar cocok ama lingkungannya. Bunglon nggak akan ditanya di akherat kenapa gonta-ganti warna, lah kita pastinya bakal ditanya Allah swt kenapa nggak berani konsisten dengan nilai-nilai Islam. Siap?

Menggenggam Bara Api, Berani?
Perbedaan waktu dan budaya sering dijadikan alasan biar bisa lolos dari ketatnya aturan Islam. Jamannya Rasul saw dan jamannya kita kan keadaannya sangat jauh berbeda tuh. Dulu transportasi cuman ngandelin onta. Kini, macam-macam angkot dengan berbagai trayek siap mengantarkan kita. Dulu, nggak ada koran, majalah, atau televisi. Kini, berbagai media massa mengenalkan kita pada budaya luar yang dikasih label modern. So, penerapan aturan Islam yang komplit hanya cocok di jaman Rasul. Hari gini, aturan Islam kayanya lebih pas disesuaikan dengan situasi kondisi yang lebih modern. Gitu katanya.

Waktu emang nggak bisa kita cegah untuk terus berlalu. Jaman pun bakal terus berganti tanpa bisa kita batasi. Yang perlu disadari, perubahan keadaan dari waktu ke waktu itu cuman terjadi pada bentuk sarana dan prasarana sekitar kita aja. Sementara kebutuhan hidup manusia nggak ada yang berubah. Begitu juga dengan aturan Islam yang diturunkan untuk mengatur tata cara manusia dalam memenuhi kebutuhannya. Tetep sama.

Pada masa Rasul manusia kudu makan, sekarang pun sama. Yang berbeda, apa yang dimakannya. Islam mengharamkan daging babi untuk dikonsumsi. Kini, meski daging babi udah disterilkan dari kandungan cacing pita yang menjijikkan atau dikemas dalam bentuk nugget atau kornet, tetep aja jatuhnya haram.

Dulu manusia melestarikan jenisnya dengan pernikahan. Untuk itu, Islam mengharamkan perzinahan untuk menjaga garis keturunan dan berpacaran yang mendekati perzinahan. Kini, meski seks bebas kian dianggap lumrah dengan alasan suka sama suka dan pasangannya mau bertanggung jawab, tetep aja judulnya zina yang dilaknat dunia akhirat.

Dulu, Islam mewajibkan berpakaian kudu sempurna biar aurat tertutup rapat. Kini, walau udah jadi tren pakaian yang irit bahan, tetep aja mengumbar aurat itu melanggar aturan.

Sialnya, saking merajalelanya kemaksiatan di tengah masyarakat, perilaku yang bener malah jadi gunjingan. Remaja nggak berpacaran, dianggap punya kelainan disangka penyuka sesama jenis. Remaji berhijab rapi, dianggap cari sensasi biar cakep kalo lagi selfie. Pelajar jujur saat ujian, temannya bilang sok pinter. Pemuda aktif berdakwah dan ngingetin orang, dituduh teroris.

Bukan cuman tuduhan atau cap negatif yang diterima remaja remaji yang konsisten pegang aturan Islam dalam keseharian. Tapi ada juga yang dinyinyirin di sosial media, dimusuhin teman sebaya, dicap anak durhaka, sampai yang dapat masalah dengan nilai pelajaran di sekolahnya.
Untuk itu, dituntut kesabaran super ekstra untuk tetap istiqomah. Seperti diingatkan Rasulullah saw dalam sabdanya, “Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260).

Pastinya panas banget. Perih. Tangan bisa melepuh. Tapi jangan khawatir, kesabaran menggenggam bara api itu Allah kasih ganjaran setimpal. Unlimited pahala dan surga sebaik-baiknya tempat kembali.

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10).

Sebagaimana disebut dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, Al Auza’i menyatakan bahwa pahala mereka tak bisa ditimbang dan tak bisa ditakar. Saking banyaknya. Berani menggenggam bara api?

Istiqomah, Penuh Berkah!
Seorang shahabat bernama Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqofi pernah berkata pada Rasulullah saw. “Wahai Rasulullah! Katakanlah kepadaku satu perkara yang dapat aku jadikan pegangan.” Beliau bersabda:
“Katakan, ‘Aku beriman kepada Allah’, kemudian beristiqomalah.” (HR. Muslim)

Dalam bahasa arab, Istiqomah adalah anonim dari thughyan (penyeimbang atau melampaui batas). Ia bisa berarti berdiri tegak di suatu tempat tanpa pernah bergeser. Karena akar kata istiqomah dari kata “qooma” yang berarti berdiri. Maka secara etimologi, istiqomah berarti tegak lurus. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, istiqomah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen.

Rasulullah saw. ngasih kabar gembira bagi kita-kita yang selalu bersabar dan tetep istiqomah. Sabda beliau:

“Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari yang memerlukan kesabaran. Kesabaran pada masa-masa itu bagaikan memegang bara api. Bagi orang yang mengerjakan suatu amalan pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengerjakan semisal amalan itu. Ada yang berkata,’Hai Rasululah, apakah itu pahala lima puluh di antara mereka?” Rasululah saw. menjawab,”Bahkan lima puluh orang di antara kalian (para shahabat).” (HR Abu Dawud, dengan sanad hasan)

Allah swt bakal ngejamin kebaikan bagi yang istiqomah. Sehingga tak ada alasan bagi kita untuk takut dan bersedih hati. Seperti ditegaskan dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Robb kami ialah Allah” kemudian mereka beristiqomah (meneguhkan pendirian mereka), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (QS. Fushshilat [41]: 30).

Teman, sikap istiqomah adalah produk dari keimanan yang ada dalam diri kita. Makanya, untuk memelihara sikap istiqomah kita juga perlu memupuk keimanan kita. caranya?

Pertama, banyak berpikir. Para sahabat, generasi awal kaum Muslimin yang berhasil dididik Rasulullah saw. mengaitkan aktivitas berpikir dengan keimanan. Mereka menjelaskan bahwa, “Cahaya dan sinar iman adalah banyak berpikir” (Kitab ad-Durrul Mantsur, Jilid II, hlm. 409). Semakin kita banyak berpikir tentang kebesaran Allah swt dan mengkaji Islam lebih dalam, lambat laun cahaya keimanan kita akan semakin bersinar. Makanya ikut ngaji.

Kedua, perbanyak ibadah dan jauhi maksiat. Rasul pernah bilang, “iman itu kadang bertambah dan kadang berkurang”. Rasul juga bilang, “iman bertambah dengan taat, dan iman bekurang dengan maksiat”. Makanya kita kudu getol beribadah, baik yang sunah apalagi yang wajib. Dan jangan lupa, jauhi pelaku maksiat juga tempat maksiat. Biar kita nggak kebawa-bawa sesat.

Ketiga, bergaul dengan orang-orang alim. Perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh teman dekatnya. Makanya, sering-sering deh ngumpul dengan teman yang bisa mengajak kita untuk tetap taat dan mengingatkan kita agar jauh dari maksiat. Dengan begitu, tanki semangat kita untuk istiqomah selalu terisi penuh.

Keempat, banggalah menjadi bagian dari kelompok al-ghuroba (orang-orang yang terasing) yang dirindu surga. Siapakah al-ghuroba itu?
“Siapakah orang-orang yang terasing itu ya Rasulullah ? “Orang-orang yang selalu memperbaiki (amar ma’rur dan nahi munkar) di saat manusia dalam keadaan rusak”, jawab Rasulullah   (HR. Thabrani)

Ekspresi kebanggaannya dengan istiqomah dalam dakwah. Kosisten menyampaikan kebenaran, mengajak pada kebaikan, dan mencegah kemungkaran. Catat!

Temans, emang bukan perkara mudah istiqomah jalankan syariah ketika lingkungan sekitar kita jauh dari nilai-nilai islam. Nggak gampang juga konsisten berdakwah saat teman-teman sebaya terjangkiti virus individualis yang cuman mikirin diri sendiri. Tapi semuanya terasa indah saat Allah selalu menaungi gerak langkah kita. Nggak khawatir hidup nelangsa, karena Allah yang Maha Kuasa senantiasa melindungi kita. Yakin deh, Allah swt pasti akan mengganti setiap pengorbanan kita dengan kebaikan di dunia dan akhirat. Bukan cuman untuk kita, tapi juga untuk keluarga, teman, dan orang-orang yang kita sayangi. So, mau jadi remaja dirindu surga? Kuncinya, istiqomah! Yuk![]

Sumber: http://temansurga.com/buletin-teman-surga-047-remaja-dirindu-surga/

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Senin, 14 Januari 2019

Remaja Peduli Lingkungan


Jagalah Kebersihan. Buanglah Sampah Pada Tempatnya. Sering lihat dong, kalimat imbauan seperti ini? Yes, kalimat imbauan ini biasanya ada di tempat-tempat umum dari mulai WC umum sampai arena rekreasi. Ajakan ini tentu supaya kita peduli dengan lingkungan, menjaganya agar tetap bersih dan indah. Cuma, ya itu... meski sudah jelas dan disiapkan tempat sampah, tetap saja ada yang dengan mudah buang sampah sembarangan. By the way, kenapa kita bahas lingkungan? Sesuatu yang sepele sih, tapi banyak juga yang abai padahal dari yang sepele bisa berdampak besar. Karna kalau bukan kita yang peduli lingkungan siapa lagi? Alam dan lingkungan ini tercipta sudah sangat luar biasa, kita manusialah yang diberi akal untuk bisa menjaga dan merawatnya bukan malah mengotori dan merusaknya. Bisa dibilang “jagalah alam, maka alam akan menjagamu” maksudnya gimana kita bisa menikmati indahnya alam, segarnya udara, dan semilirnya angin di antara rindangnya pepohonan kalau kita jorok dengan buang sampah sembarangan, bakar sampah seenaknya, tebang pohon sesukanya.

Jangan Cuek Sama Lingkungan

Alam, manusia dan kehidupan sejatinya tidak terpisahkan. Allah SWT ciptakan ketiganya sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan, serba kurang dan membutuhkan kepada yang lain. Oleh karnanya, alam ngga bisa merawat dirinya sendiri sehingga dia membutuhkan manusia untuk menjaga dan merawatnya. Begitupun sebaliknya, kita manusia bergantung pula pada alam baik darat, laut dan udara. Kita bisa menyambung hidup dengan makan dan minum yang alam telah menyediakannya. Kita ngga perlu sampai pergi ke planet Pluto untuk bercocok tanam atau menikmati hasil laut. Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surat Al Baqarah :168 “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu”. Dan di dalam Qur’an Surat Al Maidah :96 “Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.

Allah SWT sudah sangat sempurna menciptakan alam ini, dimana keseimbangan ekosistem tercipta dan teratur dengan begitu detail. Namun, sangat disayangkan ibarat peribahasa “Air susu dibalas dengan air tuba”, manusia yang oleh Allah diberi amanah untuk menjaga alam malah berbuat kerusakan di darat dan di laut. So, bisa tebak dong apa yang akan terjadi? Ya, bencana alam di mana-mana. Ada asap pasti ada api, segala akibat pasti ada sebabnya. Kebiasaan buang sampah sembarangan, bahkan ngga sedikit sampah rumah tangga bahkan pabrik dengan mudahnya dibuang ke kali (sungai). Walhasil, saat hujan deras turun banjir tak bisa terelakkan. Dan kalau sudah banjir tentu segala aktifitas menjadi lumpuh, mau pergi ke sekolah juga susah karna terrendam banjir. Kebiasaan nebang pohon secara sembarang dan besar-besaran atau aktifitas penggundulan hutan  menyebabkan tanah longsor yang bisa menimbun apa saja yang ada di bawahnya. Terlebih hutan yang sejatinya sebagai paru-paru bumi menjadi rusak, hutan tidak lagi mampu mensupplay oksigen dengan baik. Rasanya untuk menghirup udara yang bersih dan segar menjadi sesuatu yang “mahal”. Kebiasaan lain yang dilakukan beberapa nelayan yang ingin cara gampang tapi menghasilkan ikan yang banyak dengan menggunakan bahan kimia atau peledak, tentu hal ini menyebabkan rusaknya ekosistem laut selain merusak keindahan taman laut. “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. TQS. Ar Ruum: 41. Padahal dalam surat lain Allah SWT memperingatkan kita untuk tidak berbuat kerusakan “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya...” (TQS. Al A’raf: 56)

Seperti bencana alam yang belakangan ini "marathon" terjadi, tentu tak seorang pun dari kita menghendakinya. Namun, seperti apa yang Allah katakan dalam surat Ar Ruum ayat 41 bahwa apa yang terjadi ini agar manusia tersadar atas kelalaiannya dan kembali kepada Allah, menjaga apa yang telah Allah amanahkan. Bencana alam ini tentu menyisakan kesedihan, duka dan keprihatinan. Dalam waktu sekejap apa yang selama ini dimililki apakah itu harta atau keluarga hilang begitu saja. Bagi korban selamat tentu harus bersyukur karna masih diberi kesempatan untuk beribadah kepada Allah sekaligus bersabar dalam menerima musibah ini. “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". (TQS. Al Baqarah: 155-156)

Menjadi tanggung jawab kita bersama untuk me-recovery korban dan wilayah yang terkena dampak bencana. Negara tentu menjadi pioner dalam menanggulangi bencana sampai para korban bisa kembali ke kehidupan dan aktifitas semula. Kita sebagai remaja muslim pun harus aktif mengambil bagian untuk membantu para korban. Misal, mengumpulkan donasi baik berupa uang, makanan, pakaian atau barang-barang lainnya yang dibutuhkan. Sembari membantu mereka untuk menumbuhkan semangat bangkit dari musibah yang dialami. Selain mengingatkan dan menguatkan keimanan kepada Allah yang menetapkan Qodho dan Qodar baik dan buruknya berasal dari Allah.

Islam Mengatur Kelestarian Lingkungan

Ok, sekarang kita semakin paham kenapa kita harus menjaga lingkungan. Sekali lagi, sesuatu yang oleh kebanyakan orang dianggap sepele (kecil) padahal berdampak besar. Kesadaran menjaga alam (lingkungan) harus ditumbuhkan. Betapa tidak, sesuatu yang tidak tumbuh dari kesadaran akan sangat sulit untuk dipraktekkan. Kesadaran membuang sampah pada tempatnya, kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan sebagai bagian dari keimanan kita kepada Allah. Annazhoofatu minal iimaan, kebersihan itu sebagian dari iman. (HR. Ahmad). Allah itu Maha Suci maka saat kita hendak beribadah kepadaNya kita diwajibkan untuk bersuci, membersihkan diri. Dari kebiasaan menjaga kebersihan diri, seorang muslim akan dengan mudah terdorong untuk menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan. “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan” (HR. Muslim).

Islam sebagai agama yang paripurna telah mengatur pelestarian lingkungan hidup dan melarang perbuatan merusak lingkungan hidup karena akan membahayakan kehidupan manusia di bumi ini. salah satu bukti bahwa Islam sangat memperhatikan lingkungan alam sekitar adalah perintah Nabi Muhammad saw untuk menyingkirkan gangguan dari jalan. Dari Abu Hurairah ia berkata Rasulullah saw bersabda “Iman itu ada tujuh puluh atau enam puluh sekian cabang. Cabang yang paling utama adalah ucapan Laa ilaaha illaAllah, sedangkan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan...” (Muttafaq ‘alaih). Kebayang yah, hal-hal yang bisa mengganggu pejalan kaki saat melintasi jalan saja sangat diperhatikan apalagi hal-hal yang bisa membahayakan manusia. Oleh karnanya, apa saja tindakan yang bisa merusak lingkungan wajib untuk dicegah.

Rasul saw pun memerintahkan untuk menanam pohon. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Ahmad dari Anas bin Malik, Rasulullah saw bersabda “Jika kiamat terjadi dan salah seorang di antara kalian memegang bibit pohon kurma, lalu ia mampu menanamnya sebelum bangkit berdiri, hendaklah ia bergegas menanamnya”. Dalam hadits lain Rasulullah saw bersabda “Tanamlah bibit pohon yang ada di tanganmu sekarang juga, meski besok kiamat. Allah akan tetap memperhitungkan pahalanya”. Kita tahu bahwa manusia sangat bergantung akan keberadaan pohon-pohon yang menghasilkan oksigen. Pemerintah berhak memerintahkan kepada rakyatnya untuk menanam pohon. Al Qurthubi berkata dalam tafsirnya “Bercocok tanam termasuk fardhu kifayah. Imam (penguasa) berkewajiban mendesak rakyatnya untuk bercocok tanam dan yang semakna dengan itu, seperti menanam pohon. Kewajiban menanam pohon diiringi  dengan larangan menebang pohon tanpa adanya alasan yang benar. “Barangsiapa yang menebang pepohonan, maka Allah akan mencelupkan kepalanya ke dalam neraka” (HR. Abu Dawud).

Menjaga alam adalah kewajiban bagi kita, karna dari alam-lah kita bisa mengimani keberadaan Allah SWT sebagai Al Khaliq (Pencipta) sekaligus Al Mudabbir (Pengatur). Dan dari alam pula kita bisa melihat tanda-tanda kebesaran Allah yang menghantarkan kita menemukan hakikat jati diri. Yuk, kita mulai dari diri sendiri untuk memperhatikan kebersihan diri sebagai bagian dari akhlak Islam, kemudian asah kepekaan dengan peduli pada lingkungan sekitar. Segera switch kebiasaan buruk mengotori atau merusak lingkungan dengan kebiasaan baik untuk selalu menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan. Remaja muslim yang keren itu yang menjaga bukan yang merusak alam.[]

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Senin, 07 Januari 2019

Apa Kabar Raportmu?

Kalo ditanyai raport, kira-kira ada yang senyum kecut nggak? Ada yang malu-maluin kucing, eh malu-malu kucing? Tapi yang jelas, kita yakin kalo nilai raport man-teman pembaca setia Teman Surga ngga ada yang kebakaran. Iya kan? Kalo ada, cepet-cepet panggil pemadam kebakaran, hehe…

Penilaian Manusia Penting Nggak Sih?
Kali aja ada yang ngeles, “Ah penilaian manusia mah nggak penting, yang penting penilaian Allah”, Ngeles begitu itu tanda nggak mampu, hehee… Iya soalnya kalo emang nilai dari manusia nggak penting, ya nggak mungkin ada sekolah, ada guru, ada raport. Raport sejenis kumpulan evaluasi prestasi, tingkah laku, perilaku kita selama 1 semester, kurang lebih 6 bulan. Kalo rapor dinilai nggak penting ya nggak mungkin sampai ada penghargaan bagi yang berprestasi.

Dalam beberapa hal memang ada penilian manusia nggak lebih penting dibandingkan dengan penilaian dari Allah. Kayak contoh ibadah sholat kita, tentu saja niat kita ibadah adalah karena Allah maka penilaian benar-salahnya, sah atau tidaknya sholat kita pake standarnya dari Allah, yang sudah dituntutkan bagi kita di Qur’an dan hadits. Nah, dengan berbekal standar dari Allah tersebut manusia bisa ngasih penilaian udah bener belum sholatnya, udah sesuai syarat dan rukun belum sholatnya, dan lain sebagainya.

Jadi, boleh nggak manusia ngasih penilaian? Boleh bangets. Jangan terkecoh dengan kata-kata mba-mba youtuber yang lagi kacau pikirannya, yang ngoceh kalo manusia (orang Islam) nggak bisa ngasih nilai salah atau bener terhadap orang lain. Jangan karena modal ketenaran, orang bisa sembarangan dianut omongannya. Kudu ada standar atau rujukkannya, yakni kembai ke Qur’an, Hadits untuk mengatakan sesuatu itu baik-buru, benar-salah.

Kalo kita sebagai muslim mengatakan alias menilai orang yang selain Islam disebut kafir, karena memang Qur’an mengatakan begitu (QS At Taubah: 30-31, QS Al-Maidah : 17, QS.Al Bayyinah: 6). Nah, kita berkata atau menyampaikan penilaian seperti itu, nggak bisa dicap sebagai menghina orang lain. Itu adalah hasil justifikasi al-Qur’an yang mana al-Qur’an merupakan pedoman hidup seorang muslim. Jadi wajar bin boleh dong, kalo kita pake standar Qur’an untuk menilai sesuatu itu baik-buruk, benar-salah.

Oke kembali ke persoalan rapor tadi ya, gaes. Jadi raport itu memang semata-mata menilai aktivitas yang sifatnya duniawi. Raport sebagai bentuk evaluasi belajar, sehingga kalo dikatakan penilaian raport itu nggak penting atau nggak perlu, maka kita nggak bisa ngevaluasi belajar kita sudah baik atau belum, sudah sesuai standar atau belum.

Itulah kenapa rapor bisa jadi unsur penilaian kita bisa naik kelas atau nggak. Karena emang evaluasi itu dibutuhkan bagi aktivitas yang memerlukan proses. Selama proses belajar kita satu semester atau satu tahun itulah yang menjadi acuan penilaian atau evalusi, kita layak atau nggak untuk dapat nilai bagus, sehingga bisa naik kelas, dan sebagainya. Jadi, jangan sampe masih ada yang menyepelekan penilaian manusia, dengan dalih yang penting penilian dari Allah. Nggak, nggak boleh gitu. Penilaian dari Allah itu memang penting, tapi penilaian dari manusia (raport) dibutuhkan untuk yang sifatnya mengevaluasi proses pembelajaran kita di sekolah.

Rapormu Banyak Merahnya?
Masih musim nggak sih angka merah di raport? Hehe… kayak buah-buahan aja pake musim segala. Sepertinya sudah nggak ada ya, nilai rapor merah alias kebakaran, kecuali emang kamunya kelewat bandel. Disebut nilai merah, biasanya karena nilainya 5 ke bawah, atau kalo dalam bentuk huruf nilainya banyakan D.

Tapi kalo sampe ada yang nilainya merah, emang saatnya kamu evaluasi. Jangan karena mentang-mentang nggak suka sama pelajarannya, atau nggak suka sama gurunya, lantas dibiarin nilainya merah. “Peduli amat, yang penting mah pelajaran lain nggak merah”, jangan sampe punya pikiran kayak gitu. Karena itu tandanya kita menyepelekan pelajaran atau penilaian dan akhirnya kita malas belajar. Kalo di masa masih sekolah saja sudah malas belajar, maka jangan nyesel kalo nanti kita tua jadi nggak ngerti. Iya serius, penyesalan-penyesalan kita sekarang atau hari ini, kalo kita mau jujur, itu karena banyaknya kesalahan kita di masa lalu.

Ketika kita sekarang SMA misalnya, nggak suka pelajaran matematika, itu bukan karena tiba-tiba saja kita tidak suka. Tapi dimulai dari kita SD, trus SMP, eh ternyata berlanjut sampe kita SMA. Jangan-jangan nanti kuliah, atau bahkan kelak kalo punya anak, kita bakal menanamkan “dendam” ketidaksukaan  matematika kepada anak kita. Makanya hati-hati yang hari ini masih menyepelekan belajar, trus mengacuhkan penilaian rapor yang dapat nilai merah, itu ngaruh lho di masa depan kita kelak.

Kata petuah Imam Ali ra bahwa “Balas dendam terbaik adalah dengan menjadikan kita lebih baik”. Jadi, jangan sampe kesalahan-kesalahan di masa lalu, terulang tanpa kita pernah evaluasi, yang berujungnya pada penyesalan. Nah, kita nggak pernah tahu langkah kita itu sudah baik atau belum, kalo terkait dengan pelajaran sekolah ada nilai merahnya, itu menjadi warning agar kita hati-hati dalam proses belajar kita.

Apalagi kalo item atau unsur penilaian yang dapat nilai merah itu terkait dengan perilaku kita, itu harus lebih hati-hati lagi. Misalnya, di item penilaian budi pekerti, sopan santun, akhlak, ini adalah item yang penting dan jangan sampe dapat nilai merah. Kalo sampe ada yang dapat nilai merah di item tersebut, berarti memang ada yang error di pemahaman dan perilaku kita. Ini harus cepet-cepet dievaluasi. Kalo sudah dievaluasi, harus segera diperbaiki. Sebab kalo nggak segera dievaluasi, maka akan jadi habits alias kebiasaan yang mendarah daging, sampe kita dewasa, bahkan tua.

Meskipun kebanyakan orang lebh fokusnya kalo lihat raport yang dilihat adalah nilai mata pelajaran, sementara yang non pelajaran, cenderung dipandang sebelah mata. Padahal salah satu kita tujuan sekolah agar akhlak dan budi pekerti kita menjadi baik. Kalo sekolah hanya memproduksi orang-orang pinter, tapi nggak peduli dengan perilaku anak didik, maka berarti ada yang salah pada sekolah tersebut. Demikian pula orang tua, yang fokus melihat rapot anaknya dari sisi kepandainnya, tapi abai terhadap perbaikan nilai-nilai spiritual si anak, maka anaknya hanya akan jadi orang pinter tapi minus nilai spiritualnya. Jangan sampe kayak gitu ya, gaes.

Hisablah Dirimu Sebelum Dihisab
“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allôh dan hendaklah setiap jiwa melihat apa yang sudah dia kerjakan untuk esok hari, dan bertaqwalah kepada Allôh, sesungguhnya Allôh mengetahui apa yang kalian kerjakan” (QS. Al Hasyr 46)

Pelajaran penting dari evaluasi rapor sekolah kita, bahwa kita memang perlu mengevaluasi langkah, perilaku, perbuatan, amal kita selama hari kemarin, bahkan selama kita di dunia, untuk persiapan hari yaumul hisab kelak. Kalo pun memang nggak ada manusia yang menilai sholat kita misalnya, maka kita tetap harus peduli dengan sholat kita, wudhu kita, puasa kita, doa kita, dzikir kita, dan sebagainya sudahkah itu benar sesuai tuntunan Qur’an-Hadits ataukah tidak? Itu sebagai bahan evaluasi.

Kalo perlu kita buat semacam daily activity untuk aktivitas ibadah sunnah apalagi yang wajib. Misalnya kita bikin target dan nilai sendiri, hari ini mau berapa lembar membaca al-qur’anya, trus dijaga jangan sampai besok, jumlah lembarannya berkurang dari hari ini. Demikian juga, kita mau target berapa rakaat qiyamul lail kita hari ini, dan tercapai nggak target yang sudah kita buat tersebut, trus dievaluasi kira-kira sebab nggak nyampenya target kenapa? Dan besok harus sampai pada target yang sudah kita tentukan. Begitu seterusnya, untuk hal-hal yang wajib ataupun sunah.

Umar ra pernah mengucapkan kata-katanya yang sangat terkenal: “Haasibu anfusakum qabla antuhasabu” (Hisablah dirimu sebelum kelak engkau dihisab). Begitu pentingnya kita melakukan muhasabah secara berkala, karena segala perkataan dan perbuatan kita dicatat dengan cermat oleh malaikat Raqib dan Atid dan akan dimintakan pertanggung jawabannya kelak di hadapan Allah, baik besar maupun kecil.

"Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Al Qaf 18)

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al Zalzalah:7-8)

Nah, evaluasilah atau hisablah diri kita masing-masing meskipun mungkin tidak ada manusia yang mengevaluasi. Jadikanlah hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini. Serta kelak di yaumul hisab, kita termasuk salah satu pemuda-pemudi yang berhak dapat naungan dari Allah SWT.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzi, An-Nasai, Al Baihaqi)

Semoga di yaumul hisab kelak, kita bukan termasuk orang yang bangkrut. Bangkrut dalam artian, timbangan amal kebaikan kita kalah berat dengan timbangan amal keburukan. Karena, ternyata amal saleh yang dilakukan terlalu sedikit untuk menebus dosa-dosa kita yang banyak sehingga kita harus menebusnya di neraka. Nadzubillah min dzalik.

So, mulai hari ini jangan sepelekan raportmu. Jangan abaikan nilai raportmu. Teruslah berevaluasi, baik urusan dunia, terlebih-lebih urusan akhirat. Jangan putus asa memperbaiki diri. Ganbate kudase, gaes. Man Jada Wajadda. Barang siapa bersungguh-sunguh dia akan berhasil. Allahu Akbar! []

Sumber: http://temansurga.com/buletin-teman-surga-045-apa-kabar-raportmu/

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Sabtu, 05 Januari 2019

2019 SAATNYA HIJRAH

Sepanjang tahun 2018 kemarin banyak isu menarik terkait generasi milenial. Dari mulai film Dilan yang booming menjadi role model, remaja berusia 17 tahun yang terlibat jaringan perdagangan narkoba internasional, hingga rame-rame mabuk rebusan pembalut berhasil menyita perhatian nasional sekaligus menunjukkan betapa mirisnya moral sebagian remaja dan pemuda saat ini.

Syukurnya, tidak semua generasi milenial berlaku seperti itu. Masih banyak berita mengenai mereka yang tentunya membanggakan apalagi karena keteguhan mereka dalam ber-Islam. Apa saja berita tersebut? Lets check this out!

Miftahul Jannah, Judoka Juara di Hati Muslimah. Siapa yang tidak mengenal Miftahul Jannah, seorang atlet judo Asian Paragames 2018 yang didiskualifikasi oleh panitia karena enggan melepas hijab (kerudung) nya saat hendak bertanding?

Miftahul Jannah memilih untuk mundur dari pertandingan semata-mata demi menjaga aturan Allah untuk menutup aurat demi kemuliaan dirinya sebagai seorang muslimah. Meskipun gagal menjadi juara, tetapi sikap dia menjadikannya juara di hati umat Islam. Mulai dari Ustadz Adi Hidayat sampai PLT Gubernur Aceh menghadiahkannya umrah dan beasiswa kuliah karena bangga atas sikap istiqamahnya menjaga syariat Islam.

Khabib Nurmagedov, Membawa ‘Kemenangan Islam’ di Ring MMA. Petarung profesional muslim dari Dagestan, Rusia, ini sempat viral di seluruh media sosial saat berhasil memenangkan pertarungan melawan mantan juara UFC Lightweight Champion Conor McGregor.

Pertandingan ini menjadi spesial karena sebelum pertandingan, selain Conor menghina orang tua dan tanah airnya, ia juga menghinakan syariat Islam di hadapan Khabib dengan tanpa malu menyodorkan minuman keras. Setelah kekalahan yang memalukan dan meruntuhkan arogansi Conor, Khabib secara terbuka mengatakan pada awak media bahwa kemenangan yang diraih semata-mata karena pertolongan Allah SWT. “Alhamdulillah! I know you guys don't like this. Alhamdulillah!” katanya pada dunia setelah pertandingan.

Trend Hijrah yang Semakin Booming di Kalangan Remaja dan Pemuda. Semua yang memperhatikan dapat melihat dengan jelas bahwa trend hijrah bergulir laksana bola salju yang semakin lama semakin membesar.

Menjamurnya komunitas-komunitas pemuda muslim seperti Pemuda Hijrah, Teman Surga, Indonesia Tanpa Pacaran, dan Yuk Ngaji yang setiap kegiatannya selalu penuh dihadiri ratusan hingga ribuan orang menunjukkan arah baru generasi milenial. Mereka yang dulu diremehkan, dihina, dicaci hanya karena membawa Islam ini ke tengah remaja, kini mereka lah the most wanted men bagi para remaja dan pemuda yang ingin berhijrah kepada Islam secara kaffah.

Semua yang terjadi sepanjang tahun 2018 ini bukannya tiba-tiba atau tanpa sebab, melainkan berupa pertolongan Allah yang datang melalui wasilah para pemuda pengemban dakwah yang siang-malam bekerja tanpa henti untuk menyeru generasi mereka dan mengajaknya pada keagungan Islam. Mereka berhasil merubah pola pikir remaja yang dulunya dipenuhi dengan slogan “muda foya-foya, tua kaya raya”, berganti menjadi gaya hidup sesuai aturan Islam.

Selanjutnya, generasi milenial yang taat syariat ini pun mengisi setiap ruang remaja dan pemuda dan mengajak mereka meninggalkan berbagai tradisi dan pemikiran kufur a la Barat, seperti pacaran, LGBT, sekulerisme, valentine-an, hingga perayaan tahun baruan yang baru saja kita lewati. Mereka berdakwah melalui media sosial, meme, video, kajian, dan aksi-aksi turun ke jalan yang tentunya membutuhkan pengorbanan waktu, pikiran dan tenaga mereka.

Oleh karena itu, sesungguhnya momen tahun 2019 ini adalah momen yang tepat untuk generasi milenial menentukan arah hidupnya, apakah bersikukuh mempertahankan gaya hidup lama yang sekuler, penuh hura-hura dan tak memperdulikan masa depan, atau berhijrah kepada gaya hidup baru yang sesuai dengan syariat Islam, bersama-sama menjadikan Islam sebagai aturan hidup baik secara personal, bermasyarakat, hingga bernegara? Pilihannya di tangan kamu kawan! Tapi ingat, bagi seorang muslim sejati, maka mereka akan lebih memilih yang kedua demi menyongsong kemenangan dan kemuliaan Islam sesuai dengan janji Allah SWT,

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (TQS an-Nur: 55)

Sumber: http://www.ihsan.id/2019/01/2019-saatnya-hijrah.html?m=1

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Jumat, 04 Januari 2019

Tahun Baru, Dosa Baru?



Waduh, masa’ sih kita memulai bilangan tahun dengan dosa baru? Apalagi untuk dosa lama aja kita belum pernah melakukan tobatnya, tapi udah bikin dosa baru. Keterlaluan abis deh kalo sampe punya cita-cita seperti itu. Tapi kenyataannya, ternyata banyak di antara kita yang malah merayakan tahun baru masehi dengan melakukan aktivitas maksiat. Evaluasi diri aja!

Boys and gals, sebenarnya dalam pandangan Islam, untuk mengevaluasi diri selama ini udah ada tuntunannya dalam al-Quran, sebagaimana firman Allah Swt. (yang artinya): “Demi Waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati  supaya  mentaati  kebenaran  dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS al-Ashr [103] 1-3)

Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan baik amalannya, dan sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan jelek amalannya.” (HR Ahmad)

Orang yang pasti beruntung adalah orang yang mencari kebenaran, orang yang mengamalkan kebenaran, orang yang mendakwahkan kebenaran dan orang yang sabar dalam menegakan kebenaran. Mengatur waktu dengan baik agar tidak sia-sia adalah dengan mengetahui dan memetakan, mana yang wajib, sunah, haram, mana yang makruh, en mana yang mubah. Intinya kudu taat sama syariat Islam.

Itu artinya perubahan waktu ini harusnya kita jadikan momentum (saat yang tepat) untuk mengevaluasi diri. Jangan malah hura-hura bergelimang kesenangan di malam tahun baru masehi. Sudahlah merayakannya haram, eh, caranya maksiat pula. Halah, apa itu nggak dobel-dobel dosanya? Na'udzubillahi min dzalik!

Sobat muda muslim, nggak baik hura-hura, lho. Hindari deh ya. Jangan sampe lupa diri. Nggak baik kalo kita nyesel seumur-umur akibat kita menzalimi diri sendiri. Sebab, kita nggak bakalan diberi kesempatan  ulang  untuk  berbuat  baik atau bertobat, bila kita udah meninggalkan dunia ini. Firman Allah Swt.:

“Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zalim permintaan uzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi.” (QS ar-Rûm [30]: 57)

Jadi, nggak usah deh kita ikutan heboh merayakan tahun baru masehi. Kita evaluasi diri, dan itu dilakukan setiap hari biar lebih seru. Jangan nunggu pergantian tahun baru masehi, entar tobat belum eh udah mati duluan. Rugi berat! Yuk kita tingkatin terus amal baik kita, jangan cuma menumpuk dosa. Hari demi hari harus lebih baik. Yup, mari mulai sekarang juga untuk evaluasi diri. Are you ready? [@alazizyrevolusi]

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg