Selasa, 24 Desember 2019

HADIAH TERBAIK UNTUK IBU


Air wudhu’ selalu membasahimu…

Ayat suci selalu dikumandangkan…

Suaramu penuh keluh dan kesah…

Berdoa untuk putra putrinya…


Oh ibuku…

Engkaulah wanita…

Yang ku cinta selama hidupku…

Maafkan anakmu bila ada salah…

Pengorbananmu tanpa balas jasa…


Lirik lagu Sakha ini bikin baper kalo kita dengerin sambil liatin foto ibu tercinta. Cobain deh. Siapin tissue. Apalagi kalo disambung dengan lagu Bunda-nya Melly Goeslaw atau Ibu-nya Iwan Fals. Lagu-lagu lawas yang selalu mengingatkan kita pada sosok pahlawan sepanjang masa yang dekat dengan kita. 


Hari Ibu, Universal

Ngomongin tentang ibu, mengingatkan kita pada perayaan hari Ibu yang digelar setiap tanggal 22 Desember di negeri kita. Hari Ibu tanggal 22 Desember ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional yang Bukan Hari Libur.


Penetapan tanggal tersebut disesuaikan dengan tanggal pelaksanaan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama kali diselenggarakan di Yogyakarta pada tanggal 22 Desember 1928. Dalam kongres tersebut, mereka juga membahas tentang perbaikan nasib kaum perempuan dan perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita. 


Karena ibu dengan segala bentuk panggilannya, hadir di setiap pemukaan bumi, nggak heran kalo hari Ibu juga dirayain di negara-negara lain yang jatuh pada tanggal yang berbeda-beda.


Hari Ibu di Meksiko jatuh pada tanggal 10 Mei. Hari Ibu di negara ini dirayakan dengan orang-orang yang memakai baju-baju berwarna meriah. Biasanya, orang-orang Meksiko memberikan hadiah yang mereka buat dengan tangan sendiri untuk ibu mereka. 


Sejarah Hari Ibu di Amerika Serikat dimulai untuk mengenang Anna Jarvis. Kemudian, hari Ibupun disahkan oleh Presiden Woodrow Wilson untuk dirayakan di setiap Hari Minggu kedua di bulan Mei, bertepatan dengan Joint Revolution di tanggal 8 Mei 1914. 


Hari Ibu di Thailand jatuh pada tanggal 12 Agustus. Hari ini dipilih juga sebagai peringatan ulang tahun Ratu Sirikit. Sirikit merupakan ibu negara yang sangat dihormati akibat aksi sosialnya. Dia juga menjadi presiden palang merah Thailand sejak 1956. 


Peringatan hari Ibu digelar setiap tahun. Meski kita ngerayainnya jor-joran, tetap gak akan cukup untuk membalas jasa dan cinta ibu pada kita. Tapi bukan berarti kita gak boleh mengungkapkan rasa sayang kita kepada ibunda tercinta di momen spesial itu. Santuy aja. Jadikan sebagai momen untuk menjalin hubungan lebih dekat dengan Ibu. Bukan untuk meniru budaya orang-orang kafir ya...


Baktiku Bukan Karena Hari Ibu


Jasa ibu dalam melahirkan dan mendidik anaknya itu dirasakan oleh semua orang. Tak hanya oleh kita sebagai seorang muslim. Makanya di negara-negara Barat, peringatan hari ibu identik dengan aksi balas budi dari anak kepada orang tua. Ya sebatas itu aja. 


Namun bagi seorang muslim, bakti kita kepada ibu bukan semata karena tradisi atau balas jasa. Bukan juga sebagai bentuk solidaritas hari ibu. Tapi karena perintah Allah swt. Agar bisa menimbun pahala dan mengurangi dosa. Sehingga dapat tiket masuk surga dan dijauhkan dari neraka. Itu aja. Nggak ada niatan yang lain. 


Allah swt sudah menempatkan ibu dalam kedudukan yang mulia. Karena itu kita diperintahkan untuk berbakti padanya. Firman-Nya, “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)


Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil, kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar daripada kepada ayah.


Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)


Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketika melahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi X : 239. al-Qadhi Iyadh menyatakan bahwa ibu memiliki keutamaan yang lebih besar dibandingkan ayah).


Berbuat baik kepada ibu adalah amal sholeh yang dapat menghapuskan dosa-dosa kita lho. Itu artinya, berbakti kepada ibu merupakan jalan untuk masuk surga. Yang harus kita lakukan setiap waktu. Nggak mesti tunggu hari ibu. Sebagaimana ditegaskan dalam hadits dari Mu’awiyah bin Jahimah as-Sulami bahwa ayahnya Jahimah as-Sulami Radhiyallahu anhu  datang kepada Nabi Muhammad saw dan berkata:


Wahai Rasûlullâh! Aku ingin ikut dalam peperangan (berjihad di jalan Allâh Azza wa Jalla ) dan aku datang untuk meminta pendapatmu.” Maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu mempunyai ibu?” Dia menjawab, “Ya.” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tetaplah bersamanya! Karena sesungguhnya surga ada di bawah kedua kakinya.”


Hadiah Terbaik untuk Ibu


Di hari Ibu, banyak yang berlomba-lomba ngasih hadiah terbaik untuk ibundanya. Selain bunga yang paling banyak, ada juga yang traktir makan di restoran mewah, liburan bersama anak cucu, kue bikinan sendiri, atau mengerjakan semua tugas ibu seharian penuh agar ibu bisa beristirahat dan mendapatkan layanan super premium bak hotel bintang lima. 


Bagaimana dengan kita? sesuaikan aja dengan kemampuan materi kita dalam memberi hadiah. Yang penting, ungkapkan rasa sayang secara lisan dan ngasih hadiah untuk merawat rasa sayang kita padanya. Rasulullah saw mengingatkan kita dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Saling bersalamanlah (berjabat tanganlah) kalian, maka akan hilanglah kedengkian (dendam). Saling memberi hadiahlah kalian, maka kalian akan saling mencintai dan akan hilang kebencian.” (HR. Malik)


Selain pemberian hadiah secara materi, hal terbaik yang bisa kita persembahkan untuk Ibu sepanjang masa adalah dengan menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Hadiah terbaik yang akan memberikan kebanggaan baginya di dunia dan menyelamatkannya di akhirat. 

Lantaran doa anak sholeh akan mendatangkan keberkahan untuk orangtuanya. Diriwayatkan dari hadits Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat seorang hamba sholeh di surga, lalu ia berkata: Wahai Tuhanku, darimana aku dapatkan semua ini? Kemudian Allah menjawab: Dengan sebab istighfar anakmu untuk dirimu.” (HR. Ahmad)


Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda, “Apabila seseorang meninggal dunia maka (pahala) amalnya terputus kecuali 3 perkara: shodaqoh jariyah, ilmu bermanfaat, atau anak sholeh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)


Di momen hari Ibu, bisa juga kita jadikan ajang evaluasi diri. Sudahkah kita menjadi anak yang sholeh dan sholehah untuk kebaikan bunda tercinta? Sudahkah kita memberikan kebanggaan padanya di dunia karena amal sholeh kita? 


Nggak usah baper kalo ngerasa belum. Ini saatnya kita mulai membangun beberapa karakter anak sholeh dan sholehah berikut dalam diri kita.  


Pertama, beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT

Ini pondasi dasar untuk menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Keimanan yang bukan cuman perkataan, tapi ditunjukkan dengan perbuatan. Selalu dekat dalam ketaatan dan jauh dari kemaksiatan. Pantang ikut ngerayain tahun baruan yang udah jelas-jelas budaya kafir yang sesat dan menyesatkan. 


kedua, berakhlak mulia. 

Anak yang sholeh memiliki akhlak mulia, bermoral dan berprilaku terpuji. Seperti berbuat baik kepada orang lain (tetangga, teman, guru, dls), jujur dalam berkata, mudah memaafkan, tidak sombong, dapat dipercaya, santun dalam berbicara, menghargai orang lain dan lain sebagainya.


Terhadap ibu, anak sholeh selalu menjaga sikap. Pantang baginya bikin ibunya kecewa atau menyakiti hatinya. Jika orangtua meminta bantuan, tanpa tapi tanpa nanti, sesegera mungkin dipenuhi. 


Anak sholeh selalu berbicara dengan lemah lembut pada ibunya. Jika ada perbedaan pendapat, nggak pake ngegas yang bisa bikin sakit hatinya. Tetap santun saat menjelaskan duduk pekaranya. Nggak pake bete saat menemaninya belanja. Tetap bahagia ketika diminta belanja keperluan sehari-hari. Tetap tersenyum saat dapat giliran beres-beres rumah. Berikan layanan terbaik bak bintang lima untuknya. 


Ketiga, menjaga sholat dan ibadahnya

Anak-anak sholeh terlihat dari bagaimana ia menjaga sholat wajibnyanya tepat waktu dan berjamaah di mesjid/mushola. Sholatnya dengan penuh kekhusyuan, tumaíninah atau tidak terburu-buru dalam sholat, memperbanyak ibadah sunnah, seperti sholat sunnah, puasa sunnah, menghidupkan malam-malam untuk beribadah, membaca dan menghafalkan Al-Qurían serta mengamalkannya. 


Keempat, cinta terhadap ilmu

Anak sholeh itu seorang pembelajar. Nggak pernah puas dengan ilmu yang telah didapatkan, terutama ilmu agama. Ngaji rutin jadi bagian dari kegiatan mingguannya. Baca buku untuk menambah wawasan keislaman bagian dari kesehariannya. Karena dia super yakin, ilmu yang akan memuliakannya di dunia dan akhirat.


Kelima, aktif dalam berdakwah. 

Anak sholeh nggak egois. Keterlibatannya dalam dakwah bagian dari persembahan terbaik untuk ibunda tercinta. Karena hanya dakwah yang menjadi jalan kemuliaan baginya di dunia dan akhirat. 


Temans, agar bisa menanamkan beberapa karakter anak sholeh di atas dalam diri kita, kuncinya rutin ikut pengajian. Sampai nanti, sampai mati. Mari berikan hadiah terbaik untuk ibu kita. So, tunggu apalagi, #YukNgaji!

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Selasa, 17 Desember 2019

Be A Smart Shopper, Please!!!



Gratis ongkir, Flash Sale, Diskon Akhir dan Awal Tahun. Buat para shopper itu semua bakal bikin “mata” jadi laper buat belanja. Biasanya yang punya kecenderungan dan ketertarikan buat belanja-belanji itu kaum hawa. Konon katanya sudah nalurinya perempuan. Hmm.. that it’s true? Yang cewek kayanya senyum-senyum nih. Mungkin ada yang berdalih, ya namanya  juga perempuan banyak pakai “pernak pernik”, it’s mean kalau cowok cukup pakai baju, celana, sendal atau sepatu berbeda dengan perempuan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Makanya para kapital banyak yang melirik potensi besar ini dengan menawarkan dan menjual segala sesuatu yang konon bisa membuat penampilan kaum hawa lebih modis, apalagi kalau ada tawaran diskon yang menggiurkan. Ngga sampai disitu, saat ini dimana teknologi semakin berkembang membuat belanja cukup dari rumah atau dimana saja kita berada tanpa perlu beranjak mendatangi toko. Yupz.. belanja online melalui e-commerce yang benar-benar memanjakan para shopper terlebih bagi shopacholic. Hanya dengan sentuhan jari klik apa yang diinginkan beberapa saat paket akan dikirim. Malah bukan hanya itu, sistem pembayaran pun bisa dilakukan di tempat ketika barang sampai ditangan pembeli atau istilahnya COD (Cash On Delivery) yang semakin memudahkan para pelanggan online shopping. 


  Kalangan muda seperti kamu-kamu ini ternyata cukup banyak dan aktif juga berbelanja online. Survei lembaga riset Snapcart di Januari 2018 mengungkapkan bahwa generasi milenial menjadi pembelanja terbanyak di bidang e-commerce yakni sebanyak 50 persen. Jika digabung dengan generasi Z maka jumlah pembelanja dari generasi muda mencapai 80 persen. Ngga heran pangsa pasar yang besar ini dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan e-commerce untuk menawarkan produk-produknya tentu dengan promosi yang menggiurkan. 


You Are Trapped In Fashion


Setiap orang pasti pernah membelanjakan uangnya apakah itu untuk membeli kebutuhan atau hanya sekedar ingin memuaskan keinginan saja. Ya, itulah manusia dengan fitrah yang Allah telah berikan, manusia memiliki kebutuhan yang wajib untuk dipenuhi. Namun, manusia juga memiliki dorongan keinginan yang merupakan bagian dari naluri mempertahankan diri (gharizatul baqa) misal ingin beli tas baru sementara yang lama masih bagus dan layak biar bisa ganti-ganti atau karna tergiur diskon gede. Hal senada dengan yang dikatakan oleh Head of HiTech and Communication Media MarkPlus, bahwa kebanyakan perempuan tidak melakukan perencanaan ketika akan berbelanja online. Sebanyak 35,4 persen perempuan melakukan browsing terlebih dahulu untuk mencari produk serta merk yang ingin dibeli. Ini membuktikan bahwa perilaku perempuan Indonesia yang sekedar iseng browsing pada e-commerce tertentu dapat mengarahkan mereka pada pembelian.  Hmm.. emang ya antara kebutuhan dan keinginan itu beda. Kebutuhan ada batasnya sedangkan keinginan bisa ngga berbatas guys. Sama seperti belanja sesuatu, bisa karna kebutuhan atau karna keinginan semata bahkan ada yang belanja menjadi kecanduan atau yang biasa disebut shopaholic. Bagi para shopaholic belanja sudah bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan namun mereka kalap berbelanja bahkan untuk hal-hal yang tidak penting dan merasa terpuaskan saat keinginan berbelanja sudah terpuaskan. Berbeda halnya dengan shopalogic di mana mereka yang secara pikiran, perasaan, maupun perbuatan cerdas, intinya orang ini masih berpikir rasional saat berbelanja dan bisa membedakan atau menentukan mana kebutuhan dan keinginan.


Produk best seller dari belanja online ternyata adalah produk fashion dan perempuan tentu menjadi shopper terbanyak. Dalam survei ditunjukkan sebanyak 66,9 persen perempuan memilih produk pakaian, baru kemudian disusul oleh produk kecantikan dengan presentase 57,3 persen. Yes, mayoritas perempuan memang lebih punya kepekaan lebih terhadap penampilan, makanya ngga heran segala hal yang bisa menunjang agar tampil lebih cantik dan modis akan dilakukan meski ngga jarang harus mengeluarkan “ongkos” yang mahal. Outlook is number one. Ikutin gaya dan trend fashion kekinian seolah menjadi keharusan agar tetap bisa eksis dan ngga ketinggalan jaman. Dan, seperti yang kita tahu yang menjadi “kiblat” fashion dunia adalah negara barat. So, negara barat pulalah yang “memainkan” fashion apa yang tahun ini menjadi trend. Seperti roda yang terus berputar tiada henti begitulah fashion dimainkan dan bagi yang mengikuti trend fashion barat seolah berlari tanpa garis finish. Ya, standar barat dalam mengakui eksistensi seseorang dalam suatu komunitas salah satunya dari penampilan dan bagaimana seseorang loyal dalam berbelanja tentu dengan saldo rekening yang fantasis. Seperti yang saat ini viral dilakukan oleh para artis dengan menunjukkan isi rekening atm yang dimilikinya. Semakin besar saldo rekening yang dimilikinya maka eksistensinya sebagai orang dengan kelas sosial atas pun diakui. Inilah yang disebut sebagai standar materialistik. 


And do you know? Fashion ternyata menjadi salah satu senjata dalam memerangi dan melemahkan generasi muda kita. Tentu bukan fisik yang diperangi namun pemikiran yang akan mempengaruhi gaya hidup termasuk gaya berpakaian. Lihat saja, remaja yang berhasil “diperangi” pemikirannya seketika terjebak dalam konsep cantik ala barat, gaul ala barat. Cantik ala barat adalah yang berkulit putih dan langsing maka skincare yang bisa menjadikan wajah dan kulit menjadi putih dan produk pelangsing pun laris manis di pasaran. Gaul ala barat pun dimaknai dengan mengikuti segala apa yang datangnya dari barat termasuk gaya berpakaian yang tentu saja tidak sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Kalau sudah seperti ini, generasi muda Islam menjadi lemah dalam mempertahankan identitasnya sebagai seorang muslim. Perlahan tapi pasti barat membuat remaja muslim seolah tak mengenali hakikat dirinya kebalikannya mereka lebih hapal tentang apa saja yang berasal dari budaya barat.


Back to Muslim Identity


Tak kan pernah bosan untuk mengatakan Islam adalan agama sempurna dan tak henti pula Teman Surga mengajak kamu semua untuk menjadikan Islam sebagai tuntunan hidup. Semua dalam Islam sudah terukur dan diatur dengan sangat pas. Bahkan dalam urusan membelanjakan uang untuk membeli sesuatu. Islam menghalalkan berbelanja baik secara online maupun offline selama aktifitasnya tidak bertentangan dengan syari’at islam. Allah SWT berfirman “Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275). Pertama, yang perlu dipahami dan diingat adalah bahwa yang kita beli adalah sesuatu yang dihalalkan atau dibolehkan. Meskipun jual beli hukumnya adalah halal namun terlarang bagi kita untuk membeli sesuatu yang haram. Misal. Beli baju yang mengumbar aurat sedangkan perempuan wajib untuk menutup aurat. Jelas dan tegas Allah memerintahkannya dalam Qur’an Surat Al Ahzab: 59 “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. 


Maka meski fashion barat silih berganti, bagi seorang muslimah fashion terbaiknya adalah khimar (kerudung) dan jilbab. Bukan berarti seorang muslimah tidak boleh memperhatikan penampilan, namun Islam menuntun para muslimah untuk tidak berlebihan. Allah SWT berfirman, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki) masjid. Makan dan minumlah, tapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A‘raaf, 7: 31). 


Ketika Rasulullah SAW sedang duduk beristirahat di masjid, tiba-tiba ada seorang perempuan golongan muzainah terlihat memamerkan dandanannya di masjid sambil menyeret-nyeret busana panjangnya. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: ”Hai sekalian manusia, laranglah istri-istrimu (termasuk anak-anak remaja perempuan yang mereka miliki) mengenakan dandanan seraya berjalan angkuh di dalam masjid. Sesungguhnya Bani Israil tidak akan dilaknati sehingga kaum perempuan mereka dandanan menyolok (berlebihan) dan berjalan di dalam masjid. (Diriwayatkan Ibnu Majah). Karna dalam Islam tujuan berpakaian yang syar’i adalah sebagai pelindung kehormatan serta menandakan identitas sebagai seorang muslim yang tunduk dengan aturan Allah SWT bukan sebagai gaya hidup agar tampil keren. 


Islam pun telah mengatur bagaimana seseorang membelanjakan hartanya, karna kembali apa yang diperoleh dan dikeluarkan dari harta kita akan dimintai pertanggungjawaban. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya” (HR. At Tirmidzi). So, cerdaslah menjadi pembelanja, bukan tidak boleh membeli apa yang diinginkan namun yang perlu diingat bahwa apa yang kita beli tetaplah bermanfaat dan tidak akan menyengsarakan kita kelak di akhirat.


The last, penampilan bukanlah segalanya namun jika Allah yang menjadi tujuan dari segalanya maka kita pun akan tunduk terhadap apa yang menjadi aturannya termasuk dalam hal berpenampilan dan memandang harta yang dimiliki. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim). Karna harta hanyalah titipan yang menjadi ujian apakah dengannya akan membawa kita pada ridhoNya atau tidak. Dan orang kaya pada hakikatnya adalah orang yang bersyukur dan senantiasa bersikap qona’ah (merasa cukup dan puas dengan rezki yang Allah berikan) yang akan melahirkan rasa ridha dan selalu merasa cukup dalam diri manusia, dan inilah kekayaan yang sebenarnya. Sebagaimana sabda Rasululah SAW, “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya kemewahan dunia (harta), akan tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan (kecukupan) dalam jiwa (hati)”. 


***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Selasa, 10 Desember 2019

ISLAM AGAMA TERORIS?




Gaes, kalo ada salah satu kucing di sekitar rumah kita, nyuri ikan yang mau kita makan, trus kita marah lalu membenci dan memukul atau nyiramin air ke semua kucing yang mendekati kita, sepertinya kita sepakat. perilaku kayak gitu selain lebay juga nggak logis. Sepadan dengan itu, kalo ada yang kelihatan rajin sholat di masjid, tapi ternyata nyuri sendal, lantas ada yang bilang kalo gitu sholatnya sia-sia, mending nggak usah sekalian sholat aja. Nah yang bilang gitu itu dia pasti lagi ngaco. Wadaw!


Fenomena kayak di atas itu yang disebut menggebyah uyah, atau bahasa orang kulon disebut generalisasi atau generalisir. Generalisasi adalah proses penalaran yang membentuk kesimpulan secara umum melalui suatu kejadian, hal, dan sebagainya. Generalisasi seperti ini sama seperti manusia (termasuk kalian gaes) sama seperti monyet hanya karena sama-sama mahluk hidup yang berkaki 2, 

Kira-kira kayak gitulah penjelasan kekeliruan teori generalisasi kalo diterapkan pada kasus manusia – monyet. Nah, rupa-rupanya teori generalisasi itu juga yang dipake untuk membuat sebuah kesimpulan ‘Islam itu teroris’. Kita ingat beberapa waktu lalu lagi rame opini tentang ‘celana cingkrang’ dan ‘cadar’ disebut-disebut sebagai ciri teroris. Sontak, rame-rame orang protes dong, sama protesnya kalo kita disebut monyet gegara memiliki ciri yang sama sebagai mahluk berkaki dua. Padahal bisa jadi celana cingkrang adalah bagian dari mode, bahkan gaya kekinian modis seperti yang dipraktekkan opa-opa korea ya celana cingkarang itu. Apa iya para opa-opa korea itu mau disebut teroris? Pasti, hanya orang yang konslet otaknya aja, kalo ada yang bilang gitu.


Virus Islamophobia!

Coba kalo kita baca berita di belahan bumi yang lain, misalnya baru-baru ini beredar video penganiayaan seorang muslimah berjilbab di sebuah kafe, di Australia. Lalu di Norwegia, berita terbaru ada sekolompok aktivis berdemo sambil membakar al-qur’an.  Sebelumnya juga sempat gempar aksi penembakan di Masjid Al Noor dan Linwood, kota Christcruch, Selandia Baru yang menewaskan 49 kaum muslim. 


Penggunaan idiom ‘islam teroris’ di Barat maupun di seluruh dunia, popular sejak peristiwa tragedi WTC pada 11 September 2001 lalu, komunitas Islam disebut sebagai penyebab tragedi itu, walaupun fakta dan bukti korelasi hal tersebut nggak lebih hanya sebuah tuduhan, yang nggak pernah ada bukti nyatanya. 


Tapi opini sudah terlanjur menggelinding, apalagi diserukan oleh negara dengan presidennya waktu itu George W Bush, dengan pilihan kepada siapapun wa bil khusus umat muslim, disuruh milih antara carrot or stick. Carrot (wortel) maksudnya, kalo mau bersama Amrik, kalian aman dan akan dikasih ‘perlindungan’. Tapi kalo kamu kamu nggak setuju alias nggak pro kebijakan anti teroris akan dikasih Stick alias pukulan, yang artinya kalian akan ditindak mulai dari dicap pro teroris atau teroris itu sendiri. Sejak saat itulah kampanye war on terrorism dikumandangkan, yang nggak lain sasaranya udah pasti umat Islam.


Akhirnya, Barat yang mayoritas non muslim, dengan adanya kampanye itu, bagi sebagian orang Barat membuat mereka anti terhadap Islam alias islamophobia. Jadi semenjak saat itu sampe sekarang virus islamophobia itu masih berjangkit, dan suatu waktu bisa tetiba aja dihembuskan, seperti contohnya peristiwa-peristiwa yang disebut di atas tadi. Sehingga bisalah ditarik kesimpulan sebutan “islam teroris” itu muncul karena Islamophobia, yang islamophobia itu sendiri merupakan akibat dari agenda Barat memerangi Islam, karena sejatinya Islam nggak pernah menebarkan terror seperti yang dituduhkan pada peristiwa 911.


Perang Peradaban Barat Versus Islam

Pernah dengar kata “kebarat-baratan” kan? Nah, begitulah Barat diidentikan dengan gaya hidup, pandangan hidup, dan sejenisnya dari suatu kaum tertentu. Siapa yang biasa disebut mewakili Barat? Tak lain negara-negara Eropa dan Amerika. 


Perseteruan pemikiran antara Barat dengan Islam dalam catatan sejarah, sangat meruncing tatkala Negara-negara Eropa, terutama Perancis mencoba keluar dari apa yang mereka sebut The Dark Age alias masa gelap Eropa, lalu berlanjut ditandai dengan kebangkitan Eropa yang disebut Renaisance. Kebangkitan Eropa ini nggak lain terpicu oleh kemajuan yang sangat pesat, sebelumnya yang dialami oleh dunia Islam saat itu. Islam saat itu menemui puncak kejayaannya, penemuan, para ilmuwan bahkan wilayah futuhat sudah memasuki Spanyol di Eropa. 


Kemajuan dunia Islam saat itu dicontek abis oleh Eropa, apalagi saat Perang Salib telah terjadi berabad-abad, ditambah gempuran dari pasukan Tartar kepada Daulah Islam, maka lengkaplah penderitaan kaum muslimin saat itu. Hinga akhirnya berpuncak runtuhnya kekuasaan kaum muslimin di Turki tahun 1924. Jadi, kalo berbicara perang peradaban (ghazwul fikri) keberlangsungannya sudah berabab-abad silam dimulainya.


Disisi yang lain, menurut Syaikh Taqiyudin An-Nabhani dalam bukunya Daulah Islam menyebutkan, Barat (Eropa) saat itu telah dengan sengaja memerangi dunia Islam dengan serangan misionarisnya yang mengatasnamakan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan. Gerakan misionaris merangsek ke tubuh kaum muslimin sambil menyerukan gerakan kesukuan Arab dan Turki. Misi mereka saat itu ada 2 (dua), yakni: (1) Memisahkan Arab dari Turki sebagai pusat Daulah Ustmaniyah; (2) Menjauhkan kaum muslimin dari ikatan yang hakiki, yakni ikatan Islam. Berkat gerakan inilah muncul fanatisme yang memecah kesatuan umat Islam, sehingga buta terhadap ideologi Islam.


Sobat, dengan dipaparkannya secuil fragmen dimulainya perang peradaban di atas, menjadikan kita ngeh bahwa memang ghazwul fikri itu benar-benar ada, bukan mengada-ada. Pertarungan antara haq dan batil itu sudah berlangsung lama dan ternyata kita berada di dalam arena peperangan itu, tanpa menyadari kita menjadi bagian yang ikut diserang. Maka kalo kita sudah ngeh akan adanya perang peradaban, maka setelah ini berarti kita tidak bisa santai-santai saja memandang Barat hanya sebatas film-film bioskop yang sudah kita lihat semenjak kita kecil, akan tetapi kita harus memandang Barat, dengan pandangan yang waspada.


Barat yang dimaksud di sini tentu saja peradabannya, bukan sementah-mentahnya tekhnologinya. Jangan gegara kita harus waspada terhadap Barat, lalu kita juga anti terhadap tekhnologi yang diciptakan oleh orang-orang Barat. Jadi yang lebih kita waspadai tentu saja ada produk-produk pemikiran Barat yang notabene sekuler, yakni memisahkan agama untuk mengatur kehidupan, untuk kita ambil dan adopsi sebagai life style maupun sebagai way of life kita sebagai seorang muslim. Dengan cara pandang perang seperti itulah seharusnya kita memposisikan diri, sebagaimana Barat pun tetap akan setia memposisikan Islam sebagai musuh peradabannya dalam salah satu kampanyenya war on terorisme. 


Islam Nggak Pernah Ngajarin Teror

Kalo dituduh Islam itu teroris, artinya kan itu menuduh ajaran Islam, mulai dari akidah sampe syariat ngajarin untuk menteror. Padahal kalo mau jujur, coba cari aja 1 aja ajaran Islam yang mengajak umatnya untuk melakukan terror?! Nggak akan pernah ditemukan ajaran itu, paling-paling menemukan yang selama ini dituduh mengajarkan aksi terorisme yaitu ajaran jihad. Padahal jihad bukan dan tidak sama sekali mengajarkan aksi terror, karena merupakan ajaran mulia yang berasal dari Allah rabbul alamin, pencipta seluruh umat manusia. Maka adalah logis dan konsekuen dong, kalo kita menerapkan ajaran yang memang diperintahkan oleh Dzat yang menciptakan kita. 

“Hai orang-orang beriman, apabila kamu bertemu orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur).” (QS. Al-Anfaal : 15)


Jihad itu sendiri dilakukan sebagai nasrul islam ilal alam alias menyebarkan Islam ke seluruh dunia. Dan pada faktanya ajaran jihad itu beda banget dengan imperialisme yang dilakukan Barat. “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 193)


Jadi, jihad itu bukan penjajahan sebagaimana imperialisme yang dilakukan Barat, taruh aja contoh Amrik menjajah Irak dengan alasan bom nuklir bawah tanah yang disimpan Saddam Husein, yang nggak pernah ada buktinya tuduhan itu. Jihad nggak kayak gitu. Kalo pun memang jihad itu diidentikan dengan perang, maka jihad itu ada semacam adab-adabnya, nggak sebagaiman perang pada umumnya. “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampui batas” (QS. Al-Baqarah : 190)

“Berjalanlah dengan menyebut nama Allah dan di jalan Allah, perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah. Janganlah mecincang (mayat) dan janganlah berbuat curang serta jangan membunuh anak kecil” (HR Muslim 1731)


Dari penjelasan mengenai jihad adan adabnya di atas, jelas sekali kalo tindakan seperti peledakan bom ataupun bom bunuh diri bukan di dalam wilayah perang, seperti di Indonesia atau negara lainnya bukanlah termasuk jihad fi sabilillah. Alasannya: (1) Tindakan tersebut dilakukan bukan dalam wilayah perang; (2) Tindakan tersebut nyata-nyata telah mengorbankan banyak orang yang seharusnya tidak boleh dibunuh. Tindakan ini haram dan termasuk dosa besar (QS al-Isra’ [17]: 33; QS. an-Nisa’ [4]: 93; QS an-Nisa’ [4]: 29). (3). 


Tindakan teror seperti peledakan bom, jujur aja menimbulkan fitnah besar bagi umat Islam. Digeneralisir seolah-olah itu Islam dan Islam terkait dengan terorisme. Di sisi yang lain memang ada upaya jahat untuk menjadikan aksi peledakan bom itu mengarah kepada Islam dan kaum muslimin. Sehingga kita memang harus waspada, Islam itu sejatinya bukan teroris, jihad juga bukanlah terorisme. Jika ada yang menjadikan ajaran jihad sebagai tertuduh dan dituduh mengajarkan terorisme. Itu Jahat! []


***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Selasa, 03 Desember 2019

AKU ANAK SHOLIH!!





Dunia anak, dunianya bermain. Masa anak-anak memang saat di mana kita cuma ngerasain yang happy-happy aja, main bareng temen, dan belum ada beban hidup yang berarti kecuali merengek karna ingin sesuatu. Setiap dari kita pasti punya cerita seru sewaktu anak-anak yang masih diingat sampai sekarang. 

Bicara soal anak, kalau dalam undang-undang seseorang yang di bawah 18 tahun masih terkategori anak. Ups, berarti kamu yang masih berseragam putih biru dan putih abu masih tergolong anak ya... Eits, tapi bukan berarti kamu auto jadi anak-anak lagi, ngga mau sekolah trus pengennya maen melulu. Inget guys, dalam Islam ketika kamu telah baligh di situ kamu sudah dituntut untuk dewasa dalam berpikir dan berperilaku sesuai dengan tuntunan Islam. 

Meski kita pahami usia berapapun kita tetaplah anak bagi orang tua, yang dari kitalah orang tua tak mengharapkan apapun kecuali anaknya menjadi anak yang sholih/sholihah. “Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh”. (TQS. Ash Shaffaat: 100). Perjuangan dan pengorbanan orang tua dari mulai kita masih di kandungan sampai besar tentu sulit bahkan tidak bisa kita membalasnya. Namun, menjadi anak yang menyejukkan hati orang tua (qurrota’ayun) tentu menjadi hal yang diharapkan oleh semua orang tua. Menurut Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu berkata qurrota’ayun adalah keturunan yang mengerjakan keta’atan sehingga dengan keta’atannya itu membahagiakan orang tuanya di dunia dan akhirat. 

Hai Kids, How Are You??

 Focus. Let’s the picture. Gimana potret anak negeri ini dan dunia?  Dalam hal penjaminan perlindungan anak sepertinya masih menemukan rintangan besar. Di mana, anak-anak justru kian rentan menjadi korban kekerasan. Tengok saja hasil Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) yang dirilis Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) pada 2018 lalu. Survei menunjukkan, 2 dari 3 anak dan remaja di Indonesia pernah mengalami kekerasan sepanjang hidupnya. Apa yang dialami anak itu meliputi kekerasan seksual, kekerasan emosional, dan kekerasan fisik. Sebagian kekerasan bahkan dilakukan oleh lingkungan terdekat, termasuk keluarga. Tak cuma menjadi korban, survei juga menemukan anak sebagai pelaku kekerasan. Sebanyak 3 dari 4 anak melaporkan pernah melakukan kekerasan emosional dan fisik terhadap teman sebaya. Untuk kesejahteraan, ternyata mengejutkan bahwa fakta anak Indonesia ternyata masih mengkhawatirkan. 

Mengenai kemiskinan anak dan deprivasi hak-hak dasar anak di Indonesia yang dirilis oleh BPS (Badan Pusat Statistik) menyatakan bahwa masih banyak anak yang hidup di garis kemiskinan. Lebih dari separuh anak Indonesia atau sekitar 57% masih hidup miskin. Hal ini tentu, berbanding lurus dengan jaminan pendidikan bagi anak Indonesia. Pendidikan yang seharusnya adalah hak bagi anak Indonesia namun tak semua anak bisa mendapatkannya. Sebanyak lima juta anak di Indonesia (sebagian besar berasal dari daerah terpencil), tidak memperoleh kesempatan bersekolah ataupun memperoleh pendidikan.  Angka anak putus sekolah pun masih mengkhawatirkan. Dari data yang dimiliki Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), jumlah anak usia 7-12 tahun di Indonesia yang tidak bersekolah berada di angka 1.228.792 anak. Untuk karegori usia 13-15 tahun di 34 provinsi, jumlahnya 936.674 anak. Sementara usia 16-18 tahun ada 2.420.866 anak  yang tidak bersekolah. 

Anak Indonesia dalam jebakan dekadensi moral. Generasi Z yang terlahir dengan kecanggihan teknologi membuat mereka ketagihan berlama-lama dengan gawai (gadget)nya dengan tanpa batasan yang jelas apalagi pemahaman yang benar bagaimana memanfaatkan teknologi ini. Yang diketahuinya bahwa menggenggam smartphone adalah “kewajiban” bagi kids jaman now. Padahal, ancaman sedang mengintai mereka tanpa disadari. Berselancar di dunia maya dengan melewati batas ruang dan waktu, seolah dunia ada dalam genggaman. Mungkin jika ada orang yang jahat datang ke rumah, orang tua kita pasti serta merta menolak bahkan mengusirnya. Namun, apa daya kebanyakan orang tua masih lalai dengan membiarkan anaknya bebas menggunakan gadget padahal ancaman dan bahaya dengan sangat mudah masuk dan mempengaruhi anak-anak. Lihat saja, anak sekolah dasar begitu sangat luwes melakukan aktifitas pacaran tanpa malu. 

Tentu apa yang mereka lakukan hasil copy paste dari yang mereka lihat. Dari mulai gandengan tangan, peluk, saling mengungkapkan cinta bahkan dengan polosnya mereka menggunakan sebutan “ayah, bunda”. Sampai sini, apa masih ada yang menganggap ini hal lucu yang dilakukan anak-anak? Oh big no, ini adalah sinyal gawat darurat yang harus menjadi perhatian dan penanganan serius dari berbagai kalangan di negeri ini. Meski sangat disayangkan dan disesalkan jika kita mendengar statement dari seorang tokoh nasional yang mengatakan bahwa mendidik anak sekolah dasar bagaimana menjaga diri dengan tidak bersentuhan dengan lawan jenis (yang bukan mahrom) seolah lebih dianggap bibit radikal yang harus mendapat perhatian serius dibanding dengan anak-anak yang terpapar virus liberalisme.

 Sedikit mengintip potret anak di belahan dunia lain agar kita pun meluaskan pandangan terhadap kondisi anak di belahan dunia lain. Anak-anak yang khususnya berada di daerah konflik bahkan peperangan tentu sangat memilukan hati, jangankan untuk bersekolah dan hidup sejahtera, makan layak sekedar untuk bermain saja sungguh sangat sulit mereka lakukan. Di usianya yang sangat mungil mereka harus kuat menahan perihnya lapar dan untuk menyambung hidup terpaksa memakan rumput karna tidak adanya makanan yang layak. Bukan indahnya kembang api yang mereka lihat tapi langit negeri mereka merah menyala dari dentuman bom yang dilemparkan oleh kafir penjajah.  

Mungkin teman-teman pernah mendengar bait senandung lagu nan memilukan hati berjudul Athuna al Thufuli yang berarti Beri Kami Masa Kecil. Dari lagu ini betapa begitu mendalam rasa kesedihan dan penderitaan dari anak-anak di Suriah, Palestina, dan anak anak lainnya di sekitar Timur Tengah. Kutipan terjemahan liriknya “Aku adalah seorang anak yang ingin menyampaikan sesuatu. Tolong dengarkan aku. Aku adalah seorang anak yang ingin bermain. Kenapa tidak kau biarkan aku”. Jangankan untuk riang bermain, mereka harus menerima sulit dan perihnya bertahan hidup dalam kondisi diperangi. 

Back To Fitrah : Be Sholih

  Dari Abu Hurairah radhiyallohu‘anhu berkata, Nabi SAW bersabda, “Tidaklah ada dari bayi yang lahir melainkan terlahir di atas fitrah. Lalu kedua orang tuanya lah yang meyahudikannya, menashranikannya, atau memajusikannya. Sebagaimana seekor binatang yang melahirkan binatang dengan anggota tubuh yang sempurna. Adakah kalian mendapatinya cacat?” Lalu Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu membaca, “(Tetaplah pada) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia di atas fitrah itu.” (HR. Bukhori).  Ya, setiap yang terlahir ke dunia pada hakikatnya dalam keadaan fitrah. Maka menjadikan anak tetap berada pada kefitrahannya adalah sebuah keharusan. Agar kelak sang anak berjalan di bumi Allah ini dengan lurus dan selamat.

Mengenalkan tentang Tuhannya (Allah) sedari dini tentu akan menempa diri anak-anak sebagai muslim yang membanggakan, yaitu anak yang sholih/sholihah. Mungkin teman-teman sewaktu PAUD atau Taman Kanak-Kanak pernah menyanyikan yel-yel tepuk anak sholih “Aku prok.prok..prok .. Anak Sholeh prok.. 3x Rajin Sholat prok..3x Rajin ngaji Prok..3x cinta islam prok..3x sampai mati. Lailaahaillallah, muhammadur rosululloh Islam.. Islam yss”. 

Lirik yang sederhana namun sebenarnya penuh makna, ciri waladan sholih (anak sholih) adalah yang tertanam dalam hati dan benaknya iman kepada Allah dan RasulNya, seperti yang ditanamkan Luqman kepada anaknya agar tidak menyekutukan Allah  “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.” (QS. Lukman: 13).

Selain itu taat dan tunduk kepada segala perintah Allah SWT dengan rajin sholatnya, rajin ngaji dan mengkaji isi al qur’an, berbakti kepada kedua orang tua “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS. Lukman: 14).

Dan senantiasa mencintai Islam sebagai way of life dan bangga menjadi seorang muslim/muslimah. Menjadi generasi Z yang sholih/sholihah saat ini memang tidaklah mudah meski bukan berarti sulit dan tidak bisa, selama keimanan dan ketaqwaan terus kokohkan sebagai benteng dari serangan pemikiran dan budaya barat yang akan melemahkan jiwa dan raga generasi muslim sebagai umat terbaik. Maka, membersamai hidup dengan ilmu Islam adalah sebuah keniscayaan yang harus dilakukan oleh kita semua sebagai generasi pemimpin masa depan. So, cintailah ilmu sibukkan diri dengan hal-hal yang positif dan berrmanfaat. Jangan mudah terpengaruh dan rapuh dengan label-label yang tak mendasar dan tak bertanggung jawab yang ditujukan bagi mereka yang bergiat dalam kesholihan. Stay focus to be sholih!!

Rabu, 27 November 2019

GURUKU PAHLAWANKU





Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru

Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku

Sebagai prasasti terima kasihku

Tuk pengabdianmu


Lirik lagu wajib nasional ciptaan Pak Sartono di atas kerap diperdengarkan dalam momen pendidikan. Termasuk saat peringatan hari guru nasional setiap tanggal 25 November. Kalo udah dengerin lagu Hymne Guru ini, tak terasa merembes mili. Haru. 


Peran guru pada kehidupan kita selalu terukir  dalam sanubari. Tak terlupakan jasa mereka yang telah mengajarkan kita kemampuan calistung alias membaca, menulis, dan berhitung saat kita mengenyam pendidikan di sekolah dasar. Begitu juga dengan guru-guru kita di tingkat SMP atau SMA yang sering dibikin jengkel, marah, bahkan menangis oleh perilaku nakal kita. Namun mereka tetap bersabar dan terus ngajarin kita. Maafin kita ya Pak, Bu..


Pahlawan Tanpa Tanda Jasa


Sebutan pahlawan bukan cuman untuk mereka yang ikut berperang melawan penjajah. Tapi juga mereka yang dengan sabar dan tabah dalam pengabdiannya berusaha sekuat tenaga mencerdaskan kita-kita. Merekalah guru-guru kita, pemberi ilmu dengan biaya ikhlas tanpa kenal waktu.


Tanpa guru, hidup kita bisa mati kutu dan tak berarti karena minim ilmu. Meski era teknologi memungkinkan kita dapat banyak informasi tanpa harus bertanya pada guru, sosok guru bagi kita tetap tak tergantikan.


Guru yang turut membentuk pondasi keilmuan dan karakter kita. Jika tidak ada guru, kita tidak bisa menjadi apa-apa di masa depan. Selama 12 tahun guru-guru membimbing kita agar memiliki mental pembelajar yang pantang menyerah. Mereka dengan sabar ngajarin kita apa yang belum dimengerti. Mereka sering jadi tempat bertanya, tak hanya dalam urusan pelajaran tapi juga masalah keseharian. Karena mereka sudah banyak makan asam garam kehidupan dibanding kita yang baru seumur jagung. 


Guru ngajarin kita untuk taat pada aturan. Belajar disiplin. Sebuah pembiasaan yang akan menjaga kita dari perilaku tak terpuji di hari depan nanti. Untuk itu, setiap guru punya cara-cara yang berbeda. Ada beberapa yang punya cara keras, ada yang punya cara lembut. Namun, apapun caranya percayalah kalau mereka hanya mau mendidik kita untuk jadi pribadi yang lebih disiplin dan lebih baik.


Kalo kita nggak ngerjain tugas, terlambat masuk, atau bolos terus ditegur oleh guru, itu tanda mereka sayang dan peduli sama kita. Ngeri kalo kita berbuat salah terus guru cuek aja lantaran kita sering nggak terima kalo ditegur. Bisa berabe masa depan kita. Kita nggak belajar dari kesalahan dan akan tumbuh menjadi pribadi yang arogan. Sok jagoan. 


Padahal, di dunia kerja kelak kita akan berhadapan dengan banyak aturan. Begitu juga saat kita membangun rumah tangga. Semuanya ada aturan yang mesti kita taati agar hidup kita punya arti. 


Guru adalah bagian dari hidup kita. Mereka adalah orang tua kedua kita. Banyak unforgetable moment bersama mereka yang tersimpan dalam memory otak kita. Mereka bukan pribadi egois yang cuman ngajar karena tuntutan profesi. Mereka gelisah kalo muridnya bermasalah. Baik dalam urusan akademis atau  keluarga. Mereka khawatir kalo muridnya sakit, atau tak masuk sekolah tanpa kabar. Karena mereka menyayangi muridnya sama seperti mereka menyayangi anak-anaknya sendiri. Entah apakah kita sekhawatir itu kalo guru kita sakit, atau malah teriak kegirangan karena ada jam kosong. 


Guru-guru tak berlepas tangan dengan masa depan kita. Mereka menaruh harapan besar kesuksesan dapat kita raih di masa depan. Untuk itu mereka ngajarin dan ngedoain kita tanpa lelah. Bukan materi atau banjir pujian yang mereka perjuangkan. Mereka akan sangat bahagia jika melihat anak-anak muridnya sukses. Sebab, dengan begitu mereka tahu kalau didikan mereka berguna dan bisa membuat kamu mengharumkan nama orangtua dan sekolah. Bahkan dengan kesuksesan kamu ini, guru tidak meminta pamrih, loh. Merekalah pahlawan tanpa tanda jasa namun berlimpah doa. 


Penghargaan Islam terhadap Guru


Dalam Islam, guru memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan mulia di sisi Allah SWT. Lantaran guru dengan keilmuannya yang bisa mengajar anak didik agar cerdas secara akademik dan terbangun kepribadian islamnya. Nggak heran kalo pemerintahan Islam, sangat menghargai profesi guru. Tak sekedar dikalungkan gelar pahlawan tanpa tanda jasa, tapi jamina kesejahteraan hidupnya. Tanpa membedakan apakah guru PNS atau honorer. Sama mulianya. 


Sejarah telah mencatat bahwa guru dalam naungan Pemerintahan Islam mendapatkan penghargaan yang tinggi dari negara termaksud pemberian gaji yang melampaui kebutuhannya. Diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah, dari Sadaqoh ad-Dimasyqi, dar al- Wadl-iah bin Atha, bahwasanya ada tiga orang guru di Madinah  yang mengajar anak-anak dan Khalifah Umar bin Khattab memberi gaji lima belas dinar (1 dinar = 4,25 gram emas; 15 dinar = 63,75 gram emas; bila saat ini 1 gram emas Rp. 500 ribu, berarti gaji guru pada saat itu setiap bulannya sebesar 31.875.000).


Asyik banget ya, dalam naungan Pemerintahan Islam yang dipimpin oleh seorang Khalifah para guru akan terjamin kesejahteraannya sehingga dapat memberi perhatian penuh dalam mendidik anak-anak muridnya tanpa harus dipusingkan lagi untuk membagi waktu dan tenaga demi  mencari tambahan pendapatan. Tidak hanya itu, negara/pemerintahan Islam juga menyediakan semua sarana dan prasarana secara cuma-cuma dalam menunjang profesionalitas guru menjalankan tugas mulianya.


Sehingga selain mendapatkan gaji yang besar, mereka juga mendapatkan kemudahan untuk mengakses sarana dan prasarana untuk meningkatkan kualitas mengajarnya. Hal ini tentu akan membuat guru bisa fokus untuk menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan pencetak SDM berkualitas yang dibutuhkan negara untuk membangun peradaban yang agung dan mulia.


Baktiku Untuk Guru-guruku


Sebagai seorang murid, bentuk bakti kita pada guru bisa dilakukan dengan bercermin pada adab para ulama dalam menutut ilmu. Sehingga mereka tumbuh menjadi tokoh-tokoh Islam yang dikenal karena ketinggian ilmunya. Apa aja sih yang dilakukan para ulama saat belajar pada guru-gurunya? 


Pertama, fokus dengerin penjelasan guru. 


Ibnul Jamaah mengatakan, “Seorang penuntut ilmu harus duduk rapi, tenang, tawadhu’, mata tertuju kepada guru, tidak membetangkan kaki, tidak bersandar, tidak pula bersandar dengan tangannya, tidak tertawa dengan keras, tidak duduk di tempat yang lebih tinggi juga tidak membelakangi gurunya”.


Kedua, berbicara sopan kepada guru. 


Para Sahabat Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam, muridnya Rasulullah, tidak pernah kita dapati mereka beradab buruk kepada gurunya tersebut, mereka tidak pernah memotong ucapannya atau mengeraskan suara di hadapannya. Bahkan Umar bin khattab yang terkenal keras wataknya tak pernah meninggikan suaranya di depan Rasulullah. 


Ketiga, manfaatkan waktunya bertanya untuk memperbanyak ilmu. 


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS. An Nahl: 43).


Bertanyalah kepada para ulama, begitulah pesan Allah di ayat ini, dengan bertanya maka akan terobati kebodohan, hilang kerancuan, serta mendapat keilmuan. Tidak diragukan bahwa bertanya juga mempunyai adab di dalam Islam. Para ulama telah menjelaskan tentang adab bertanya ini. Mereka mengajarkan bahwa pertanyaan harus disampaikan dengan tenang, penuh kelembutan, jelas, singkat dan padat, juga tidak menanyakan pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya.


Keempat, sabar dalam membersamai sang guru. 


Kalo kamu kena teguran karena tak mengerjakan tugas? Dapat hukuman lantaran bercanda kelewatan? Atau kena sentil karena gangguin teman? Woles aja. Meski sakit hati, bikin malu, dan ngerasa nggak nyaman, tetap bersabar dan jangan pernah berpaling dari kebaikan guru. Apalagi sampai bertindak kasar dan melawan. Nggak banget. 


Al Imam As Syafi Rahimahullah mengingatkan, “Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru. Sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya”


Begitulah cara orang-orang terdahulu mendapatkan keberkahan ilmu dengan memuliakan gurunya. Mencintai ilmu berarti mencintai orang yang menjadi sumber ilmu. Menghormati ilmu berarti harus menghormati pula orang yang memberi ilmu. Itulah guru. Tanpa pengajaran guru, ilmu tak akan pernah bisa didapatkan oleh si murid.


Seorang ulama, DR. Umar As-Sufyani Hafidzohullah mengatakan, “Jika seorang murid berakhlak buruk kepada gurunya maka akan menimbulkan dampak yang buruk pula, hilangnya berkah dari ilmu yang didapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya, atau tidak dapat menyebarkan ilmunya. Itu semua contoh dari dampak buruk.”


Kelima, jadilah investasi kebaikan bagi guru di akhirat nanti. 


Mungkin kita nggak bisa memberi hadiah berupa materi, atau mrngajak para guru untuk menunaikan umroh bersama, tapi kita bisa melakukan yang lebih baik dari itu. Seriusan? 


Yup, jadilah pribadi mulia yang akan menjadi investasi kebaikan bagi guru-guru kita di akhirat dengan memanfaatkan ilmu yang kita timba dari mereka. Imam Syafi’ie menasihati kita para pemburu ilmu, “Ilmu adalah yang bermanfaat dan bukan hanya dihafalkan” (Siyar A’lamin Nubala, 10: 89).


Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang semakin membuat seseorang semakin mengenal Rabbnya, tidak menjadikannya sombong di hadapan yang lain dan tidak digunakan untuk membodoh-bodohi orang lain.


Untuk itu, mari ikut ambil bagian dalam barisan pengemban dakwah Islam. Semoga jalan kemuliaan itu tak hanya mengantarkan kita pada pintu surga, tapi juga mengalirkan pahala yang tak putus untuk guru-guru kita. 


Berbahagialah selagi masih ada guru yang sabar mengajari kita. Jangan pernah melupakan kebaikan para guru yang dengan telaten membimbing kita. Mereka yang telah mengantarkan kita pada titik ini dan kelak pada puncak keberhasilan di dunia dan akhirat. Seperti kata group band Radja, ‘Aku ada karena kau pun ada....’. 


Mari kita panjatkan doa semoga Allah swt senantiasa melimpahkan keberkahan pada guru-guru kita di dunia dan akhirat. Peluk erat dan salam takzim untukmu pahlawanku. Selamat hari guru...


***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Jumat, 22 November 2019

FATHER'S DAY



Kayaknya, nggak semua pada ngeh ya, kalo ada ‘hari ayah’. Masyarakat sih kenalnya ‘hari ibu’, tapi kalo ‘hari ayah’ banyak yang belum tahu. Yups, itu wajar sih, karena memang ‘hari ayah’ ini, wa bil khusus di Indonesia sendiri baru diperingati tahun 2006, saat masa pemerintah presiden SBY. Kalo di dunia internasional sendiri, yang namanya “father’s day” banyak versinya dari masing-masing negara, dan berbeda-beda pula tanggal peringatannya.

Di negerinya penggemar tempe ini, hari ayah diperingati tanggal 12 November. Sementara di negara tetangga Australia, udah dimulai lebih dulu tanggal 1 September. Di negara para Avenger di Amrik, hari ayah diperingati setiap tanggal 20 Juni. Menurut situs Wikipedia, paling banyak negara yang memperingati hari ayah-nya pada tanggal 17 Juni. Tapi jangan pusing ya, dengan berbedanya tanggal dari masing-masing negara memperingati hari ayah, karena emang untuk peringatan hari ibu alias mother’s day pun masing-masing negara juga berbeda penyebutannya.

Tapi bukan masalah itu sih sebenarnya yang kita mau bahas di buletin yang dinanti-nanti setiap terbitannya ini. Kita juga nggak sedang membahas tentang hukum memperingati hari “father’s day” yang memang merupakan lahir dari budaya dan inisiatif masing-masing negara. Lebih tepatnya, bahasan kita kali ini, mau menjadikan moment tersebut untuk mengingat-ingat peran, jasa dan gimana seharusnya kita sebagai anak, menghormati sosok seorang ayah. Kuy-lah, simak sampe tuntas buletin kece ini…

Father, Part of Parent

Kalo selama ini kita disibukkan atau diributkan dengan ‘hari ibu’, maka kayaknya nggak adil kalo ayah juga nggak dikasih porsi untuk diperhatikan. Bukan apa-apa, ayah kan juga bagian dari orang tua, sehingga ketika kita menghormati ibu, memang seharusnya kita juga kudu menghormati ayah.

Dalam Al-Qur’an surat Al-Ahqaaf ayat ke 15 Allah SWT berfirman : “Kami perintahkan pada manusia supaya berbuat baik pada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, serta melahirkannya dengan susah payah (juga). Mengandungnya hingga menyapihnya yaitu tiga puluh bulan, sehingga jika dia sudah dewasa serta umurnya hingga empat puluh tahun ia berdo’a : “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang sudah Engkau berikan kepadaku serta pada ibu bapakku serta agar aku bisa berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) pada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat pada Engkau serta sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri,” (Qs. Al-Ahqaaf : 15).

Dalam rentetan sejarah yang diceritakan di dalam al-qur’an, peran ayah juga nggak sedikit disebut. Seperti misalnya, secara khusus diceritakan bagaimana keluarga Lukmanul al-Hakim mendidik anak-anaknya. Allah Ta’ala menceritakan kisah Luqman Al Hakim dalam surat Luqman ayat 13 sampai 19, ketika ia memberikan nasehat yang berharga kepada anaknya:
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”” (QS. Luqman: 13).

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS. Luqman: 14).

Itulah salah satu kisah yang diceritakan dalam al-Qur’an, seorang ayah yang bukan nabi atau rasul, tapi diceritakan bagaimana posisinya sebagai ayah mendidik anak-anaknya. Nah, dari sini emang kita nggak bisa anggap sepele peran ayah (disamping ibu) menyiapkan masa depan anak-anaknya. Maka kalo hormat, patuh, taat pada ibu, begitulah seharusnya juga kita perlakukan ayah kita.

Ayah dan ibu itu satu kesatuan, lihatlah di QS Lukman ayat 14 tadi, meskipun di kalimat sebelumnya disebutkan peran ibu yang telah mengandung, tapi di akhir ayat ditutup dengan penyebutan ibu-bapakmu. Dan emang pada kenyatannya, ayah dan ibu itu kan saling support dan saling melengkapi dalam mengasuh dan mendidik kita sebagai anaknya. Jadi, kalo ibu kita, perannya memang lebih banyak ke soal pengasuhan, tapi kalo ayah karena tugas atau kewajibannya mencari nafkah, maka interaksinya dengan kita tidak seintens ibu.

Bukan berarti ayah, nggak berperan. Justru, kalo kita tahu, ibu kita, cara ngasuhnya sampe cara ngomongnya ke kita, itu juga hasil obrolan ayah dan ibu kita. Itu artinya, ayah sebenarnya mau ngomong ke kita langsung, tapi ayah lebih suka, kalo ibu yang menyampaikannya ke kita. Kalo nggak percaya, coba deh boleh nanya ke ibunya yang di rumah, bener atau nggak sih kayak gitu.

So gaes, mulai sekarang nggak usah ya, dibeda-bedain antara ayah dan ibu, peran keduanya, atau masing-masing dalam hidup kita sangat besar. Emang sih, Rasulullah sendiri juga berpesan agar menghormati ibu, bahkan sampe disebut 3 kali, baru kemudian disebut ayah. Tapi bukan berarti, ayah nggak penting. Tentu aja penting dong, karena nggak akan ada kita, kalo nggak ada peran ayah.

Father, a Son’s First Hero

Kalo boleh diibaratkan ayah, bagi seorang anak, beliau itu kayak sesosok pahlawan yang punya dua pedang. Pedang pertama adalah perang perak, dimana pedang itu menggambarkan posisi ayah sebagai pemimpin tertinggi di rumahnya. Ayah memiliki peran penting, gimana keluarga atau anak-anaknya itu mau dibentuk. Dalam Al Quran, Allah juga telah menggariskan tugas setiap lelaki beriman.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka yang selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At Tahrim: 6).

Rasulullah saw juga bersabda: “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya. Seorang lelaki adalah pemimpin bagi anggota keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya atas mereka.” (HR Muslim).

Trus, pedang kedua, adalah pedang emas, dimana ini menggambarkan seorang ayah sebagai seorang yang merupakan “sumber” yang dapat mengalirkan kasih yang dibutuhkan seluruh keluarganya. Dalam hal ini Rasulullah SAW, mengingatkan kita pada sebuah hadits: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku” (HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Nah, tinggal kita nih sekarang, memposisikan kita sebagai orang yang dididik oleh seorang ayah yang memiliki ‘dua pedang’ tersebut. Sangat bersyukurlah kalo kita dikaruniai seorang ayah mampu mendidik, mengasuh kita dengan penuh kesempurnaan sebagaimana digariskan oleh Islam. Namun, kalo ada diantara man-teman pembaca yang belum dikarunia ayah yang demikian, tentu kita tetap harus taat kepada beliau, sang ayah, selama tidak mengajak kepada kemaksiatan. Sebagaimana Allah sampaikan dalam firman-Nya:

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik,” (QS. Luqman: 15).

Hal ini dikuatkan oleh hadits: “Tidak ada ketaatan dalam bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam perkara yang ma’ruf (baik)” (HR. Al Bukhari, Muslim).

Bagi man-teman yang secara qadarallah sudah ditinggal oleh ayahnya, maka nggak ada yang paling membahagian bagi beliau di tempat peristirahatnya, kecuali kita mempersembahkan diri kita sebagai anak sholeh. Itulah persembahan dan balasan terbaik buat ayah kita, ketika beliau masih hidup maupun ketika sudah meninggal.

“Apabila manusia mati maka amalnya terputus kecuali karena tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakan orang tuanya.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud).

Begitulah sosok ayah memang identik dengan dua pedang tadi, beliau pelindung keluarga, he’s hero. Karena itu sosok ayah, di satu sisi itu lebih protektif, dibanding ibu. Tapi disisi lain, ayah juga biasanya lebih baik dan lebih bisa percaya bahwa buah hati mereka mampu melakukan dan bisa belajar mandiri. Dan sifat kayak gitu, biasanya akan lebih disukai oleh anak perempuannya. Makanya bagi seorang anak perempuan, ayah itu adalah cinta pertamanya. Tapi jangan salah, sifat protektif dan mandiri itu juga biasanya ngalir ke darah anak laki-lakinya. Nah, kamu pembaca buletin ini, khususnya yang cowok merasa kayak gitu nggak? Hehe…

Everyday Is Father’s Day

Sekali lagi, nggak perlu dibanding-bandingkan dengan ibu, sebaliknya ayah kudu disandingkan dengan ibu. Pun sebenarnya nggak perlu hari khusus atau cuman di hari ayah saja kita menghormati atau menghargai ayah. Setiap hari adalah hari ayah, tidak perlu hari khusus untuk bisa menghormati ayah kita. Sama seperti ketika kita menghormati ibu, kita pun juga menghormati ayah di setiap hari-hari kita, sebagaimana pesan Lukmanul al-Hakim yang sudah disinggung di atas tadi.

Salah satu bentuk menghormati ayah di setiap hari kita, kasih suguhan akhlak yang baik kepada ayah. Sebagai anak, hampir mustahil bisa membayar atau membalas jasa orang tua kita. Maka, menjadi anak yang berbakti dan menghormati orang tua bisa menjadi salah satu cara untuk kita berusaha membalas jasa mereka.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kaish sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (QS. Al Isra’ 23-24)

Ketika sekarang kita masih sekolah, harusnya kita bisa mengindera dan merasakan betapa kasih sayang ayah itu nggak kecil. Keseriusan ayah dalam mencari nafkah biar kita tetap bisa sekolah, nggak bisa kita bayar atau kita ganti dengan imbalan uang ketika nanti kita sudah besar. Percaya deh, sekali lagi boleh koq nanya ke ibu atau ayah kita, persembahan atau balasan apa yang mereka inginkan dari anak-anaknya. Balasan kita berbuat baik kepada beliau, trus kemudian nggak memperlakukan atau berkata kasar kepada beliau berdua, itu sudah cukup bisa jadi obat pelipur lara, bagi orang tua yang shalih-shalihah.

Dalam QS Al Isra diatas, kita juga diminta merendahkan diri kepada kedua orang tua kita, itu membuktikan bahwa emang setinggi apapun kelak jabatan, pangkat, atau pekerjaan kita, tetap nggak boleh sombong di hadapan orang tua. Justru, menghormati orang tua bisa berarti apapun yang kita lakukan adalah dalam restu orang tua. Sebaiknya di setiap kegiatan yang akan kita lakukan, kita meminta restu orang tua kita. Seperti yang disebutkan dalam hadis, ‘Ridha Allah terletak pada ridha orang tua, dan murka Allah terletak pada kemurkaan orang tua’ (HR. Baihaqi).

So, jangan bikin orang tua kita murka sama kita, dengan mempersembahkan diri kita menjadi anak yang shalih-shalihah di setiap hari-hari kita mulai hari ini dan hari-hari kedepan. Siap? []

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Kamis, 21 November 2019

Generasi Digital: Cerdas Bermedia Sosial


“Ga ada loe ga rame". Pernah denger tagline ini dong? Keseruan emang bisa tercipta saat kita kumpul bareng temen-temen. Katanya dunia lebih berwarna aja gitu. Wajar aja sih, namanya juga manusia makhluk sosial pasti seneng kumpul, berinteraksi dan berbagi cerita satu sama lain selain melakukan hal-hal seru tentunya. Makanya ngga heran kalau banyak komunitas, grup, perkumpulan, squad apalah namanya dibuat untuk bisa bersosialisasi. Ada yang bikin grup atau kumpul karna alasan kesamaan hobi, ada juga yang karna teman sepermainan dari kecil, atau bisa juga karna alumni dari satu sekolah yang sama. Nah, biasanya yang lebih sering kumpul dan punya grup-grup itu remaja putri. Basic sih, karna cewek itu seneng ngobrol trus banyak banget hal yang bisa diulik dan dibahas dari kaum hawa ini. Bener apa betul??

Dari masalah jerawat sampe masalah outfit apa yang cocok buat dipake hangout. Ups.. tapi kita ngga akan bahas jerawat apalagi outfit yang lagi trend yaa.. Because of what? Karna buat Teman Surga jerawat sih kecil, eh.. emang jerawat kecil yah, ngapain dibesar-besarin trus dibikin galau segala? Then, buat Teman Surga yang sholih/ah outfit terkeren itu yang menutup aurat (titik) jadi ngga perlu heboh ngikutin setiap ada tren busana baru yang notabene berasal dari barat sana. Nih ya guys, ngikutin tren barat itu udah kaya lari marathon tapi ngga ada garis finish, nyampe kagak tapi capek iya. Sudah hentikan saja menjadi follower tren barat.

Gen Z, It’s You?

Bicara soal bersosialisasi mungkin buat generasi milenial yang lahir dalam rentang tahun 1981 sampai 1995 masih mengalami masa kecil dan remaja dengan berkumpul dan main seru-seruan bersama teman-teman, dari main petak umpet, bola bekel, kelereng, lompat tali, egrang dan jenis permainan tradisional lainnya. Kenapa disebut generasi milenial? Karna mereka mengalami masa remaja di tahun milenium yaitu tahun 2000. Kalaupun sudah ada gadget belum secanggih sekarang ini. Beda halnya kamu generasi Z yang lahir dalam rentang tahun 1995 sampai 2010 dimana perkembangan teknologi sudah canggih dan pesat, bahkan bisa jadi saat kamu terlahir dan menghirup dunia untuk pertama kali, orang tuamu tak lupa mengabadikan momen yang membahagiakan ini dengan menggunakan gadget canggihnya. Ngga heran bagi generasi Z seolah mereka tumbuh bersama canggihnya gadget, dan ga sempet tuh main seperti generasi kakak-kakakmu. IPhone dan android booming di masa ini. Bahkan adik-adik kita yang masih imut pun sudah bisa membuka channel youtube meski belum bisa baca dan tulis.

Buat kamu generasi Z, pegang gadget yang canggih sudah biasa. Punya dan aktif berselancar di dunia maya juga sudah pasti. That’s why, kamu disebut sebagai generasi digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 89 persen remaja telah memiliki smartphone. Jumlah itu meningkat dibanding 2012 yang hanya 41 persen. Penelitian ini dilakukan oleh Common Sense Media, dengan responden 1.413 orang antara usia 13-17 tahun di seluruh bagian Amerika Serikat. Kaum Gen Z paling banyak menggunakan media sosial Instagram, Snapchat dan Youtube. Instagram masih menjadi media sosial favorit para remaja saat ini, fitur-fitur instagram yang semakin bikin remaja-remaja betah berlama-lama dengan instagramnya, dari mulai kepo-in artis idolanya sampai rajin upload instastory. Dilansir laman Mashable, Rabu(24/10/2018) berdasarkan riset Pipper Jaffray, Instagram dikatakan menjadi platform yang paling banyak digunakan oleh kalangan remaja perbulannya, yaitu 85 persen. Posisi kedua setelah IG adalah youtube, ada yang nonton drakor, liat aksi panggung boyband kesukaan dan ngikutin juga aksi youtuber favorit. Makanya ga heran kalau sekarang banyak banget muncul para youtuber atau vlogger bak jamur dimusim hujan. Dan ketiga teratas adalah Snapchat.

Dibanding 2012, cara remaja berkomunikasi masih secara pribadi. Namun kini hal itu berubah menjadi hanya berkirim pesan. Berkat ponsel yang kini menjadi pintar dan koneksi internet yang lebih cepat, 10 persen dari responden memilih video-chatting sebagai cara favorit mereka untuk berkomunikasi. Selain itu, lebih dari setengah juga menyadari bahwa media sosial mengalihkan perhatian mereka ketika harus melakukan pekerjaan rumah atau memperhatikan orang sekitar. 42 persen responden juga menyadari bahwa di media sosial mengambil banyak waktu mereka yang bisa dihabiskan dengan teman-teman mereka di dunia nyata. Nah lhoo.. asyik bermedsos ria malah bikin males bantuin Ibu di rumah, ngga sedikit lho remaja yang ngga mengindahkan panggilan ortunya saat memanggil karna saking ‘khusyu”nya berselancar di media sosial. Don’t try this at home ya friends.

Dampak Negatif Media Sosial Bagi Remaja Putri

  Ternyata wanita muda dan remaja putri adalah salah satu kelompok usia yang sangat aktif menggunakan media sosial. Mungkin bisa lepas dari gadget saat tidur dan belajar dikelas. Ups.. itu juga kalau ngga ada yang diem-diem buka hape pas lagi di kelas lho yaa apalagi pas guru lagi terangin pelajaran. Ngga boleh ya guys. Bicara soal remaja putri yang lebih aktif di media sosial ternyata hal ini membawa dampak negatif yang ngga sedikit bahkan bisa membahayakan kesehatan akibat kekurangan tidur, aktivitas fisik yang tidak memadai karna males gerak, dan membuat mereka terkena cyberbullying. Dalam hasil penelitian yang diterbitkan di jurnal Lancet, disebutkan, risiko tersebut tak terlihat pada anak laki-laki. Para peneliti dari University College London mempelajari penggunaan media sosial dari hampir 13.000 remaja di Inggris, sejak mereka berusia 13-16 tahun. Para peneliti juga mengevaluasi laporan para remaja yang menjadi responden terkait level kesejahteraan yang dirasakan. Studi ini menemukan, 27 persen remaja wanita yang sering menggunakan media sosial memiliki level stres dan tekanan psikologis yang tinggi. (kompas.com)

Contoh aja nih, biasanya remaja putri yang aktif di media sosial dengan membagikan gambar atau video dari kegiatannya misal melalui instagram pasti mengharapkan respon dari yang melihatnya dengan banyaknya jumlah like. Kalau banyak yang like tuh rasanya happy banget, kebalikannya giliran postingannya sepi respon atau like mereka pun ga segan untuk menghapus postingannya. 43 persen mengatakan mereka telah menghapus postingan di media sosial kerena terlalu sedikit yang memberikan like. 43 persen lainnya juga menunjukkan remaja yang merasa buruk ketika tak ada yang memberikan komentar atau like pada postingan mereka. Over all, pengalaman media sosial tampak menjadi lingkungan remaja secara digital. Ketika disukai dan populer, akan memberikan mereka dorongan emosional. Sementara jika mereka dikucilkan akan membuat mereka buruk. Ga aneh sih, secara jiwa remaja yang labil masih butuh ruang untuk eksis dan diakui.

Selain itu, yang tak kalah bahayanya dari dampak medsos bagi remaja putri adalah meningkatnya cyber bullying. Kita tahu bahwa bully atau perundungan di kalangan remaja saat ini tidaklah sedikit baik itu di lingkungan sekolah atau di luar sekolah. Pelaku bisa cepat ditangani dan korban bisa melapor ke pihak sekolah. Namun, berbeda dengan cyberbullying yang merupakan aksi di mana pelaku dapat mengintai korbannya dimanapun ia berada, apalagi di zaman media sosial seperti sekarang. Menurut data Bullying Statistics yang dilansir Kamis (15/3/2018) cyberbullying sangat berbahaya bagi anak-anak muda karena mengakibatkan kecemasan, depresi, bahkan bunuh diri. Sayangnya, pelaku cyberbullying belum tentu sadar bahwa perilakunya tidaklah terpuji. Data yang diperoleh dari UNICEF pada 2016 sebanyak 41 sampai 50 persen remaja Indonesia pernah mengalami cyber bullying. Perilaku cyber bullying sulit dilacak karna mereka muncul di dunia maya saja untuk membully korbannya, meski bisa saja ditelusuri terlebih jika sudah sampai terjadi cyber crime. Cyber bullying lebih banyak terjadi dalam bentuk verbal, yaitu mengolok-olok dengan menghina fisik atau biasa disebut body shaming (mempermalukan tubuh). Bagi remaja putri diolok fisik tentu lebih sensitif dibanding laki-laki, (maaf) dibilang gendut, kulit yang gelap, hidung yang ngga mancung dan masih banyak lagi. Yang dikhawatirkan adalah ketika korban body shaming melakukan upaya tidak sehat untuk mencapai "kecantikan"nya atau yang lebih parah jika korban merasa sudah tidak sanggup menerima bully-an ini memutuskan untuk bunuh diri. Seperti yang terjadi pada sosok artis korea sulli yang memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri diduga karna bully-an atau komen nyinyir dari netizen tentang diri dan kehidupannya.

Kunci Pengaman Di kala Remaja Bermedsos

  Bagai dua sisi mata uang. Perkembangan teknologi sebagai hasil dari berkembangnya ilmu sains bisa berpengaruh positif dan juga negatif. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya, maka jika remaja tidak dibekali dengan ilmu terlebih ilmu agama dalam membentengi diri dari hal-hal yang buruk tentu akan berdampak yang tidak baik khususnya bagi remaja yang masih butuh bimbingan. Setidaknya ada dua hal yang bisa jadi “kunci” agar kita terhindar dari sosmed addict. Pertama, pastikan aktifitas kamu di sosmed hanya yang mendatangkan pahala misal menyebarkan dan mengajak pada kebaikan, sebaliknya hindarkan diri dari hal-hal yang mendatangkan mudhorot (bahaya) dan dosa misal posting foto atau video yang mengumbar aurat atau melakukan cyber bullying. Kedua, jadikan media sosial sebagai wasilah kamu untuk menambah ilmu yang bermanfaat. So, jadilah pengguna medsos yang smart, jangan habiskan waktumu dengan yang hal yang sia-sia. Media sosial bukanlah segalanya, tetaplah hidup di dunia nyata. Karena kehidupan sebenarnya ada di dunia nyata, bukan dunia maya. Berinteraksilah dengan sesama. Kebayang dong seandainya kita lebih sering “hidup” di dunia maya dibanding di dunia nyata, akhirnya kita akan kesulitan saat membutuhkan pertolongan dari seseorang. Kembali ke fitrah bahwa kita adalah makhluk sosial yang ngga akan pernah bisa hidup sendiri di dunia ini. So, be smart untuk cari dan lakukan yang manfaat agar kita selamat dunia sampai akhirat.

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Minggu, 17 November 2019

Wahai Pemuda, Entah Apa Yang Merasukimu!


Kamu pasti nggak asing lagi dengan tiga kalimat yang sering dibacakan dengan lantang dalam peringatan Hari Soempah Pemoeda setiap tanggal 28 Oktober. Kalo kita baca tuh teks Soempah Pemoeda dengan tanpa ekspresi, pastinya garing banget dong. Tapi coba kamu baca sambil merem terus bayangin gimana kuatnya keinginan para pemoeda jaman doeloe untuk mengambil perannya sebagai martir revolusi. Yap, sebagai ujung tombak perjuangan menuju gerbang kemerdekaan. Wuiih..heroik banget kan.

Lantas, apa kabar pemuda dan pemudi masa kini yang lagi asyik kecanduan game online atau terhanyut ngikutin cerita cinta drama Korea? Masih adakah semangat untuk menyambung tongkat estafet perjuangan? Lets cekidot!

Yang Muda Yang Terlena

Zaman sudah berubah. Keadaan pemuda 91 tahun lalu pastinya beda dengan remaja milenial. Ketika dulu sebelum negeri kita merdeka para pemoeda dan pemoedi dari seluruh nusantara berkumpul untuk menyatukan tekad perjuangan meraih kemerdekaan, kini para pemuda juga berkumpul dengan gadget masing-masing untuk main bareng. Bukan melawan para penjajah, tapi terjun dalam arena permainan Mobile Legends, PUBG Mobile, Garena Free Fire, Arena of Valor atau Clash of Clans. Inilah fenomena kecanduan game online yang sudah banyak makan korban remaja.

Kecanduan game telah diakui oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai gangguan kesehatan mental. Tahu sendiri kalo orang sudah terganggu kesehatan mentalnya, bisa lupa diri dan kelakuannya tak terkendali. Karena kecanduan game online, seorang remaja 16 tahun dari malang berinisial AS rela acak-acak rumah tetangga & embat ponsel. "Saya mencuri ponsel dan uang Rp 50 ribu. Uangnya saya buat jajan dan bermain game online. Karena saya kecanduan bermain game. Kemudian saya traktir teman-teman," terangnya. (Tribunnews.com, 09/08/2019)

Sementara di Bogor, Rumah sakit jiwa RSMM (Rumah Sakit Marzuki Mahdi) Kota Bogor menangani puluhan pasien anak dan remaja yang mengalami gangguan jiwa. Beberapa di antaranya merupakan pasien gangguan kejiwaan akibat kecanduan gadget.

"Kalau selama 2019 itu kita tangani 10-15 pasien (akibat kecanduan gadget). Ada 3 orang yang sempat jalani rawat inap, tapi sekarang sudah pulang. Sampai sekarang, kita layani antara 2 sampai 3 orang (pasien akibat kecanduan gadget) yang rawat jalan setiap hari," kata dr Ira Safitri T, Dokter spesialis kejiwaan anak dan remaja yang ditemui di RSMM, Jalan Semeru, Bogor Barat Kota Bogor, Kamis (17/10/2019). (Detiknews, 17/10/2019)

Dalam urusan cinta dan pergaulan, potret buram remaja milenial bikin miris. Penelitian yang dilakukan oleh Reckitt Benckiser Indonesia lewat alat kontrasepsi Durex terhadap 500 remaja di lima kota besar di Indonesia menemukan, 33 persen remaja pernah melakukan hubungan seks pra nikah. Dari hasil tersebut, 58 persennya melakukannya di usia 18 sampai 20 tahun. (Liputan6.com, 19/07/2019)

Parahnya lagi, sejumlah remaja Indonesia menjadi “mucikari” untuk teman sebayanya. Salah satunya, polisi mengamankan seorang remaja berinisial EGR (17) yang terlibat kasus prostitusi 'online" anak di bawah umur pada Kamis (7/3/2019). (Tribunnews.com, 10/03/2019)

Akibat perilaku seks bebas yang kian beringas, angka kehamilan remaja yang tak dikehendaki terus meningkat setiap tahunnya. Tercatat dari BKKBN, 48 dari 1000 remaja di Indonesia mengalami kehamilan. Hal senada juga pernah disampaikan oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.“Selama 2013, anak-anak usia 10 - 11 tahun yang hamil di luar nikah mencapai 600.000 kasus. Sedangkan remaja usia 15 - 19 tahun yang hamil di luar nikah mencapai 2,2 juta,” ucap Khofifah pada kesempatan pengajian umum puncak hari lahir Muslimat NU ke-68, tahun 2014.

Kondisi di atas berbanding lurus dengan kenaikan angka aborsi yang dilakukan remaja. Sebanyak 58% remaja yang mengalami kehamilan tidak diinginkan (KTD), melakukan upaya untuk menggugurkan kandungannya. Ngeri!

Masih banyak potret buram remaja milenial yang kerap menghiasi headline media massa. Dari budaya konsumtif dalam fenomena remaja hypebeast hingga aksi bullying di sekolah dan kekerasan remaja pada aksi tawuran atau kriminalitas genk motor. Ada apa dengan remaja saat ini?

‘Kerasukan’ Setan Berjamaah

Hidup dalam lingkungan sekular sekarang, banyak remaja yang ‘kerasukan’ setan. Eits, bukan kerasukan dalam arti tersusupi makhluk ghaib yang tiba-tiba masuk dalam tubuh terus ngomong gak jelas sampai minta-macam-macam ya. Bukan seperti itu.

Tapi kerasukan godaan setan sehingga dekat dengan perilaku maksiat. Tahu sendiri kan, dari awal ketika Iblis alias nenek moyangnya jin diusir oleh Allah swt dari surga karena kesombongannya, bikin komitmen bakal menjerumuskan manusia dalam jurang kemaksiatan. Mungkin biar mereka punya temen di neraka.

Allah swt berfirman, “Iblis menjawab, ‘Karena Engkau telah menghukumku tersesat, maka saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’râf/7:16-17)

Iblis menggoda manusia agar mau bermaksiat pada Allah swt. Godaannya halus dikemas pakai bahasa dan tren kekinian. Hingga banyak remaja yang gak sadar dan merasa nyaman dengan perilaku maksiatnya. Lantaran iblis membisikan kata-kata yang bikin remaja menganggap perilaku maksiatnya seperti budaya pacaran, nenggak miras, ngisep chimenk, aksi tawuran, shophaholic, hingga kecanduan game online dan sosial media sebagai suatu yang wajar, simbol pergaulan modern, gaya hidup kekinian, serta seabreg label menyesatkan lainnya.

"Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya." (QS. Al-Hijr: 39)

Ciri perilaku remaja yang ‘kerasukan’ setan di antaranya menggap remeh perbuatan dosa. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk di sebuah gunung dan khawatir gunung tersebut akan menimpanya. Sedangkan seorang yang fajir (yang gemar maksiat), ia akan melihat dosanya seperti seekor lalat yang lewat begitu saja di hadapan batang hidungnya,” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6308).

Kalo yang kerasukan cuman seorang, bisa jadi oknum remaja yang wajib masuk panti rehabilitasi. Tapi kalo ternyata yang kerasukannya berjamaah, bisa jadi inilah produk kehidupan sekular yang menjauhkan remaja dari aturan agama. Seperti yang diinginkan oleh musuh-musuh Islam.

William Ewart Gladstone (1809-1898), mantan PM Inggris mengatakan: “Percuma kita memerangi umat Islam, dan tidak akan mampu menguasasinya selama di dalam dada pemuda-pemuda Islam bertengger Al-Qur’an. Tugas kita sekarang adalah mencabut Al-Qur’an dari hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai mereka. Minuman keras dan musik lebih menghancurkan umat Muhammad daripada seribu meriam. Oleh karena itu tanamkanlah ke dalam hati mereka rasa cinta terhadap materi dan seks.”

Penangkal ‘Kerasukan’ Godaan Setan

Ngeliat kondisi remaja yang kian memprihatinkan, tentu kita nggak bisa tinggal diam. Jangan sampai makin banyak remaja yang terlena, terasuki godaan setan, dan terpapar gaya hidup sekular. Lantas, apa yang bisa kita lakukan sebagai remaja?

Pertama, kuatkan akidah dan keimanan kita. Caranya adalah dengan menyadari sepenuh hati kalo hidup kita nggak cuman di dunia. Ada kehidupan akhirat setelah kita wafat. Di sana, kita akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap amal sholeh dan amal salah selama hayat dikandung badan. Untuk itu, kita harus membiasakan diri mengaitkan perilaku di dunia dengan kehidupan akhirat kelak. Ini yang akan menjaga diri kita agar tetap taat dan jauh dari maksiat. Karena setiap detik yang kita lalui, itu ada itung-itungannya di hari perhitungan nanti.

“Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.” (QS. Al-Qiyamah: 13 - 15)

Kedua, jangan kendorin ibadahnya. Setelah yang wajibnya tertunaikan, geber terus ibadah sunahnya setiap hari mulai dari shalat tahajud, shalat sunah fajar, shalat dhuha, atau shalat rawatib. Lengkapi juga dengan puasa sunah senin kamis atau ayamul bidh (puasa tengah bulan). Jangan lupa, basahi lisan kita dengan bacaan quran setiap harinya. Kalo udah begini, insya Allah godaan setan nggak akan mempan.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya setan adalah kuman (virus) bagi hati anak Adam. Jika hati anak Adam sedang dzikir atau ingat kepada Allah, kuman itu menjadi mati (kabur). Sebaliknya, jika hatinya sedang lupa (kepada Allah), kuman itu (pun) beraksi menggodanya.” (HR. Ibnu Abi Dun-ya)

Ketiga, rutin ikut pengajian. Tak sekedar baca quran, tapi mengenal Islam lebih dalam. Yap, dengan belajar Islam, kita jadi tambah wawasan Islam, tahu kondisi umat Islam, dan makin mengenal kemuliaan aturan hidup Islam. Dengan begitu, kita tak mudah terpedaya oleh godaan setan.

Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata mengenai mempelajari dan mengajarkan ilmu. “Pelajariah ilmu karena sesungguhnya memperlajari ilmu itu adalah takut kepada Allah swt, menuntutnya adalah ibadah, mem?elajarinya adalah tasbih, mendalaminya adalah jihad, mengajarkannya adalah sedekah, mengorbankan untuk ahlinya adalah taqarrub kepada Allah swt. Dia adalah teman dalam kesendirian, sahabat dalam khalwat, petunjuk saat bahagia dan sengsara, keseimbangan di kala hati kosong, kawan ketika tidak ada teman selainnya, serta cahaya jalan ke surga...”

Teman surga, kita pastinya nggak pengen masa muda kita habis nggak jelas gitu lantaran terhanyut budaya sekuler yang bikin kita kerasukan. Kita juga nggak rela dong nasib umat Islam dan kita kian menderita akibat penjajahan. Makanya wajar kalo kita-kita yang masih muda, kuat, dan cakep ini mesti ambil peran sebagai agent of change. Untuk kebaikan Islam dan kaum Muslimin. Jangan tunggu esok. Jangan liat orang lain. Mulai hari ini, ikut ngaji. Pake aturan hidup Islam dan jadilah seorang martir revolusi. Kalo bukan kita, siapa lagi?

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Selasa, 12 November 2019

Pelajar Ataupun Santri, Tetap Smart With Islam



“Nak... seandainya nanti Ibu sudah meninggal, ngga ada yang lebih Ibu harapkan selain dari do'a kamu nak. Pesen Ibu jangan pernah tinggalkan sholat, ingat slalu do'akan orang tuamu". Seketika hati ini tersentak sebagai anak yang mungkin terkadang or sering lalai mendo'akan orang tua. Keinginan “sederhana” setiap orang tua terhadap anaknya yang sudah dirawat dan disayanginya sedari kecil bahkan sedari dalam kandungan. Yakiiiiinnn pake banget, orang tua mana yang ngga bahagia punya anak yang sholih, bakti, santun dan sayang sama orang tua apalagi kalau ditambah anaknya itu berprestasi. Namun, beda halnya ketika anaknya hebat luarbiasa, berprestasi tapi suka bentak orang tua, nasehat orang tua dianggep angin lalu.  Jangankan buat doa'in mereka, sholat aja bolong-bolong. Kalau kaya gini sih, bukannya bahagia yang ada hati ortu nelangsa. Hyks. Semoga itu bukan kita.

Agama (Islam) Itu Basic

Tidak sedikit orang tua yang ngeri (takut) atau khawatir dengan kondisi saat ini di mana “dunia” ini seolah semakin tidak bersahabat karna diurus oleh orang-orang yang tidak mau taat kepada Rabb-Nya, dengan tidak menerapkan aturanNya. Begitu mudahnya kemaksiatan menggurita, dari mulai kaum penyuka sejenis yang semakin eksis, seperti baru-baru ini salah satu personil boyband westlife yang merasa bahagia karna memiliki anak meski pasangannya laki-laki juga. Then, freesex di kalangan remaja merajalela, bahkan inses (hubungan seksual yang dilakukan oleh pasangan yang memiliki ikatan keluarga yang dekat/sedarah) sudah semakin bertambah.

Semua berawal dari apa yang mereka lihat, sering nonton video porno inilah yang mengawali. Kalau pun ngga nonton video porno, apa yang berserakan baik di televisi terlebih di sosial media telah menuntun siapa saja yang melihatnya terpengaruh, berawal dari ikutan baper lama-lama pengen ikutan cinta-cintaan. Entah gimana awal ceritanya, sampai ada kasus kakak beradik berpacaran bahkan sampai menikah dan punya anak. Dan ada yang makin bikin darah rasanya mendidih, di Sukabumi seorang Ibu yang mengajak kedua anaknya untuk berhubungan badan. Innalillaahi. Kalau ditanya kok bisa?

Sebenarnya, akal sehat bakal ngga terima dengan semua kemaksiatan ini. Tapi, yaa.. karna akalnya sudah teradiasi liberal, seolah ngerasa kalau ngga pacaran akan menyebabkan kematian. Makanya jomblo menurut mereka seperti “aib".

Seandainya mau dipretelin satu-satu, edisi ini ngga akan cukup untuk sebutin apa aja kemaksiatan yang bikin mulut ngga tau mau ngomong apa lagi, nge-batin prihatin, sakit tapi ngga berdarah, ngelus dada nyesek. Buat para ortu yang melek kondisi semua ini dan kekhawatiran orang tua bergejolak jangan sampai anaknya terjerumus menjadi korban sekaligus pelaku kemaksiatan, pasti akan berpikir trus aku kudu piye (harus bagaimana)? What should I do? Kebanyakan orang tua, akhirnya menjadi lebih selektif dari mulai memilihkan sekolah, memastikan dengan siapa anak-anaknya berteman dan bergaul. Dan yang terpenting para ortu akan membekali anak-anaknya dengan ilmu agama, mengokohkan benteng iman dan taqwa keluarganya.  “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.  (TQS. At tahrim: 6)

Intinya basic agama harus kuat, ada yang panggil guru ngaji ke rumah, ada juga yang masukin anaknya ke sekolah Islam Terpadu, atau ada juga yang memilih untuk menyekolahkan anaknya di Pesantren. “Mondok” untuk beberapa waktu menjadi santri dan menempa diri menjadi pribadi yang mumpuni dengan ilmu agama (Islam). Sebisa mungkin dijauhkan dari paparan kemaksiatan yang disebabkan racun liberalisme.

Sebenarnya inilah bukti betapa pendidikan di negeri kita ini masih mendikotomikan antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan (sains). Seolah, yang belajar ilmu agama di sekolah Islam Terpadu atau Pesantren minim ilmu sains-nya. Begitupun sebaliknya, orang-orang yang “jenius” di sains tapi “cetek” (dangkal) ilmu agamanya karna bersekolah di sekolah umum. Padahal, pendidikan dan sekolah di dalam Islam berrtujuan untuk menjadikan para pelajarnya menguasai tsaqofah Islam dan menguasai ilmu sains dan teknologi and tentunya yang berkarakter mulia, akhlakul karimah. Keren kan?

Menjadi Pelajar dan Santri Sholih Smart with Islam

Santri dan pesantren masih dianggap ngga populer dan kurang keren. Bahkan ada juga orang tua yang menjadikan pesantren sebagai “senjata” buat “nakut-nakutin” anaknya kalau nakal. Jadilah banyak anak-anak yang menganggap pesantren menjadi tempat yang seolah “menakutkan” dan mengekang kebebasan, ngga boleh ini ngga boleh itu harus begini harus begitu. Di kala pelajar-pelajar lain bebas bawa hape ke sekolah, di pesantren para santri diberi aturan untuk tidak menggunakan telepon seluler. Jangankan berselancar di dunia maya, bertemu dan melepas rindu dengan keluarga saja tidak bisa setiap saat. Hal ini dilakukan tentu untuk menempa pribadi pelajar (santri) menjadi bermental tangguh, mandiri dan disiplin. Apalagi kalau kelak lulus menjadi seorang Hafidz Qur'an bakal berantakan hapalannya kalau bentar-bentar lihat hape, apalagi yang dilihat yang bikin hapalan cepet lepas, karna menjaga hapalan lebih sulit dibanding menambah hapalan.

Semua tergantung niat awal, seandainya pun orang tua yang mengarahkan kita untuk ke pesantren tapi kalau kitanya juga happy dan ngga terpaksa “karna ortu” , pasti kita bakalan enjoy ngejalanin proses belajarnya di mana sehari-hari ketemu sama kitab-kitab kuning yang mengharuskan santri belajar dan mengusai ilmu nahwu sharaf dan balaghah. Belajar tentang aqidah akhlak, fiqih, hadits, tarikh dan masih banyak lagi. Al Qur'an harus selalu dibawa untuk dihapal kecuali ke tempat yang kotor atau najis. Meski sepertinya “melelahkan” tapi orang yang lillaah pasti bisa menjaga semangat dan keistiqomahannya. Apa yang dikatakan oleh Imam Syafi'i ini bisa dijadikan pemantik api semangat di kala lelah belajar mulai mendekat. “Bila engkau tak tahan lelahnya belajar maka kau harus tahan perihnya kebodohan”. 

Berbeda jika semua karna terpaksa, belajar ngga enjoy, hapal Qur'an susah pokoknya semua aturan pesantren seperti dipenjara. Walhasil, ngga sedikit yang akhirnya baik saat liburan pulang ke rumah merasa bebas dari mulai pegang dan main hape sesuka hati, males-malesan ngga mau ngerjain apa yang biasa dilakuin di pesantren, jalan-jalan ke mal, nonton ke bioskop dan masih banyak lagi yang ngga bisa dilakukan selama di pesantren. Hadeuuhh.. Kalau gini sih, bisa jadi santri setengah-setengah alias setengah sholih setengah salah. Maksudnya, pas lagi di pesantren melakukan amal shoiih eh pas di luar atau keluar pesantren melakukan amal salah. See, seperti yang ditampilkan di film the santri jauuuuhh banget sama profil santri yang sesungguhnya.  Di mana ada adegan khalwat (berdua-duaan) dengan lawan jenis, padahal Rasul bersabda “Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya syaitan menjadi yang ketiga di antara mereka berdua”. (HR. Ahmad).

So, please.. remaja SMART with Islam think smart and do right yaa.. jangan ikut-ikutan apa yang ngga ada tuntunannya dalam Al Qur'an dan Sunnah. “Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Bukhari). Yang dilarang Allah dan RasulNya ngga usah pake dipikir-pikir langsung tinggalin, apa yang diperintahkan Allah dan RasulNya segera kerjain. “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu". (HR. Muhammad: 33)

For you all teman surga, di mana pun kamu bersekolah dan menimba ilmu, apakah itu di sekolah umum, sekolah Islam Terpadu atau di Pondok Pesantren. Mau labelmu pelajar ataupun santri. Yang pasti dan tetap adalah kamu itu seorang muslim/muslimah sejati yang wajib taat terhadap syariat Allah dan RasulNya. Mempelajari dan mengkaji ilmu-ilmu Islam bukan menjadi kewajiban santri di Pesantren saja tapi kita semua tak terkecuali. Meski kamu bersekolah di sekolah umum, di mana pelajaran agama Islam sangat minim yaitu hanya dua jam pelajaran dalam seminggu. Kamu masih bisa kok ikut kajian-kajian Islam baik itu yang diisi oleh kakak pembina Rohis di sekolah atau semangat mendatangi majelis-majelis ilmu di luar sekolah. Ingat ya, pelajar ataupun santri sama-sama pembelajar jadi tugasnya ya belajar bukan pacaran, tawuran, kebut-kebutan di jalan. Karna belajar itu bukan pencitraan, belajar cuma di sekolah yang penting dapet nilai bagus. Setelah itu apa yang dipelajari menguap, terlebih yang mempelajari ilmu agama (Islam) jangan cuma buat penuh-penuhin memori otak, tahu dalil ini dan dalil itu tapi giliran praktekin banyak dalih (alasan) bahkan melanggar syariat. Rasulullah saw, mengingatkan dalam sabdanya, “Al-Qur'an adalah hujjah pembelamu atau yang menjatuhkanmu” (HR. Muslim). Which is, bisa menjadi pembela saat al-Qur'an diamalkan namun sebaliknya akan menjatuhkanmu jika tidak diamalkan. The last, jadikan ilmu yang kalian dapatkan bisa bemanfaat bagi umat baik ilmu agama ataupun ilmu pengetahuan. So, bukan seberapa banyak ilmu dan hapalan kamu tapi sebaik apa amal yang kamu lakukan. “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun". (TQS. Al Mulk: 1-2)

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg