Selasa, 27 November 2018

Muliakan Gurumu




Pernah dengar kan slogan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa? Siapa lagi kalau bukan cikgu alias guru. Yes... sedari kita sekolah Te-Ka, sampe sekarang pastinya banyak banget guru yang begitu luar biasa mengajari kita tentang ilmu pengetahuan bahkan juga ikut mendidik kita agar menjadi anak yang bukan saja berprestasi tapi juga berbudi baik. So, that’s why guru adalah orang tua kita di sekolah karna perannya yang juga mendidik kita. Jadi, kalo ada guru yang menegur, bersikap tegas sama kita supaya kita disiplin itu sih wajar. Iya ngga temans? Kebayang ngga tuh, kalau guru ngga mendidik kita untuk disiplin, mau jadi apa coba kita nanti setelah lulus. Sedangkan salah satu  modal sukses meraih cita-cita adalah disiplin. So, kamu mau sukses dunia wal akhiroh? Ayoo... terusin bacanya.

Guruku sayang, Guruku Malang
Sosok guru tak ubahnya bagaikan pembawa cahaya, karna pada hakikatnya ilmu adalah cahaya (al ilmu nuur). Mungkin sembari kita membaca buletin ini memori kita kembali ke masa dimana saat kita sekolah pertama kali entah itu saat Taman Kanak-Kanak atau Sekolah Dasar. Guru-guru kita pada saat itu luar biasa sabar mengajari kita membaca, menulis, bahkan membesarkan hati kita dengan sapaannya yang lembut bahwa kita adalah anak yang pintar. Memanglah guru adalah profesi yang mulia dimana mereka tak segan untuk membagi ilmunya kepada semua muridnya tak terkecuali, mereka ngga pernah tuh berpikir kalau ilmunya dibagikan maka ilmu mereka akan berkurang. Seorang guru bisa mencetak banyak profesi seperti dokter, arsitek, polisi dan lain-lain tapi seorang dokter, arsitek atau polisi belum tentu bisa jadi seorang guru. itulah unik dan kerennya seorang guru. Satu lagi, seorang guru ngga akan pernah punya perasaan iri ketika melihat anak didiknya menjadi seorang yang berhasil atau sukses yang ada mereka malah bangga meski kita tahu “balasan” atas jasanya yang luarbiasa rasanya belum sebanding. Bisa jadi inilah yang akhirnya mereka dikatakan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Tapiiii... bukan berarti tanpa tanda jasa trus guru-guru kita boleh diperlakukan semena-mena ya!! Don’t ever do that ya friends!! Seperti yang baru-baru ini viral di media sosial nih, beberapa pelajar yang terlihat berlaku tidak sopan terhadap gurunya dengan mendorong ditambah dengan mengoloknya. Hal ini tentu tidak patut dilakukan seorang murid kepada gurunya meski kabar menyebutkan mereka melakukan itu dengan alasan bercanda. Kalau kaya gitu sih, becanda yang kelewatan bin kebablasan. Fakta memprihatinkan lainnya dari dunia pendidikan kita bagaimana seorang siswa ada yang berani melukai gurunya bahkan ada yang memenjarakan gurunya hanya karena tidak terima saat ditegur. Sontak saja banyak yang akhirnya memberi perhatian khusus kepada guru tersebut betapa seorang guru yang berjasa harus menerima balasan jeruji penjara. Tentu teguran atau bahkan marahnya guru sekalipun yang tentu berada pada koridor yang dibenarkan adalah dalam rangka mendisiplinkan anak didiknya. Ingat sobat, teguran guru kita saat ini bisa jadi kunci keberhasilan kita di masa depan. Bayangkan jika perbuatan yang tidak baik masih terus kita lakukan karna tidak ada yang menegur, maka kita akan menjadi sosok yang tidak baik di masa yang akan datang.
Come on friends, bisa jadi guru-guru kita masih belum tersejahterakan dalam kehidupannya tapi apakah itu membuat mereka berhenti dari tugasnya? Tidak. Mereka malah terus bersemangat untuk mencerdaskan anak bangsa agar negeri ini bisa dibangun oleh putra dan putri negerinya sendiri. Stop untuk melabeli guru-guru kita dengan label yang tidak baik misalnya guru “killer” karna dipandang galak oleh kita padahal coba deh renungi ngga mungkin ada guru yang ngga ada sebab musabab trus marah-marah. Stop bully guru dengan label apa pun, mulailah untuk menghormati dan memuliakannya. Rasulullah saw bersabda “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti (hak) orang yang berilmu” (HR. Ahmad).

Guru : Digugu dan Ditiru
Pernah dengar peribahasa Guru kencing berdiri, murid kencing berlari? Pasti sering dengar ya..  peribahasa itu bermakna bahwa seorang murid biasanya mencontoh gurunya. Oleh karnanya, seorang guru harus bisa menjadi sosok yang digugu dan ditiru. Yang pertama, guru harus bisa digugu dimana perkataannya harus dijadikan panutan. Itu kenapa seorang guru harus punya kewibawaan, ilmu serta wawasan yang mumpuni. Karena apapun yang dikatakan seorang guru akan dianggap benar oleh murid-muridnya. Coba aja kamu perhatikan ketika adikmu yang masih TK atau SD, mereka sering bilang “kata bu guru begini bukan begitu, atau “kata bu guru yang ini bukan yang itu” maka sang anak biasanya akan lebih manut dengan gurunya. Yang kedua, guru harus bisa ditiru baik apa yang diucapkannya berupa ilmu pengetahuan dan budi pekertinya. Intinya kepribadian guru akan ditiru oleh sang murid.
For your information nih, dalam Islam goals atau tujuan dari pendidikan adalah mendidik muridnya agar menguasai ilmu pengetahuan, sains dan skill (keterampilan) lainnya yang berguna didalam kehidupan, Tidak cukup hanya itu, pendidikan Islam pun harus mempu membentuk muridnya agar berkepribadian mulia (Islam) dimana mereka senantiasa menyandarkan apa dipikirkan dan apa yang akan dilakukan sesuai dengan perntah Allah. Jadi, kalau ada guru matematika, guru sejarah atau guru yang lainnya mengajarkan kita tentang akhlak yang mulia, mendidik kita dengan tuntunan agama, mengingatkan kita untuk sholat, bahkan menutup aurat itu merupakan suatu kewajaran bahkan kewajiban, karna pada hakikatnya semua guru itu adalah guru agama. Ingat TemanS, menjadi cerdas aja ngga cukup. Agar lebih keren dan disayang orang tua terlebih oleh Allah. Jadilah pelajar yang SMART with Islam yaitu pelajar sholih/sholihah yang cerdas. Kalau udah kaya gini, in sya Allah sukses dunia dan akhirat bisa didapat.
Gimana, sudah kebayang betapa tugas guru begitu mulia? Para guru yang mendedikasikan dirinya untuk mencerdaskan generasi, maka bisa dibayangkan entah berapa banyak ilmu dan amal jariyah yang didapatkan seorang guru karna ilmunya yang bermanfaat telah dibagikan kepada murid-muridnya. So, orang tua kita sudah mengamanahkan dan mempercayakan kita dididik di sekolah sedari dini, let’s study yang betul.

Berkahi ilmu dengan hormati guru
Sebagai seorang penuntut ilmu kita wajib untuk mengikuti rambu-rambu alias adab-adab dalam menuntut ilmu salah satunya adab murid terhadap guru agar ilmu yang kita dapatkan menjadi berkah dan berfaedah. DR. Umar As-Sufyani Hafidzohulloh mengatakan “Jika seorang murid berakhlak buruk kepada gurunya maka akan menimbulkan dampak yang buruk pula, hilangnya berkah dari ilmu yang didapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya atau tidak dapat menyebarkan ilmunya”. Para ulama mazhab, Imam Ahmad, Imam Syafi’i, dan lainnya adalah murid-murid yang sangat menghormati dan memuliakan para gurunya. jangankan berbuat gaduh saat belajar, Imam Syafi’i merasa segan meski hanya untuk minum air saat sedang belajar. Sedangkan Imam Malik saat hendak membuka lembaran bukunya, maka Ia melakukannya dengan sangat perlahan agar tidak berisik. Pantas saja mereka menjadi ‘orang besar”, itu karna memuliakan guru.  Maka ilmu mereka pun menjadi berkah dan nama mereka sampai saat ini dikenal dan ilmunya dijadikan rujukan dalam beramal. Kamu mau seperti mereka?? Let’s check and do it.
Pertama, adab duduk adalah dengan tidak membentangkan kaki dan tidak bersandar. Ini kl duduknya bukan di kursi ya guys.Ibnul Jamaah mengatakan “Seorang penuntut ilmu harus duduk rapi, tenang, tawadhu, mata tertuju kepada guru, tidak membentangkan kaki, tidak bersandar, tidak pula bersandar dengan tangannya, tidak tertawa dengan keras, tidak duduk di tempat yang lebih tinggi dan juga tidak membelakangi guru. Kedua, adab berbicara. Imam Abu Hanifah pun jika berada didepan Imam Malik, Ia layaknya seorang anak di hadapan ayahnya. Para sahabat adalah murid bagi Rasulullah saw dan mereka tidak pernah beradab buruk, tidak pernah memotong ucapan atau mengeraskan suara di hadapan Rasulullah saw. Bahkan orang sekaliber Umar Bin Khattab yang terkenal keras wataknya tidak pernah menarik suaranya di hadapan Rosul sampai beliau kesulitan mendengar suara Umar saat berbicara. “Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah saw duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satupun dari kami yang berbicara” (HR. Bukhari). Ketiga, Adab bertanya. Bisa jadi apa yang diajarkan oleh guru ada yang belum kita pahami sehingga kita bertanya kepadanya. Allah swt berfirman, Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS. An Nahl: 43). Dengan bertanya maka akan terobati kebodohan, hilang kebingungan, serta mendapat ilmu. Para ulama telah menjelaskan tentang adab bertanya ini. Mereka mengajarkan bahwa pertanyaan harus disampaikan dengan tenang, penuh kelembutan, jelas, singkat dan padat, juga tidak menanyakan pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya. Keempat, Adab mendengarkan pelajaran. Diriwayatkan Yahya bin Yahya Al Laitsi tak beranjak dari tempat duduknya saat para kawannya keluar melihat rombongan gajah yang lewat di tengah pelajaran, Yahya mengetahui tujuannya duduk di sebuah majelis adalah mendengarkan apa yang dibicarakan gurunya bukan yang lain. Maa sya Allah. How about us? Hhmm.. kayanya ada temen kita ngobrol, kita malah ikutan asik ngobrol padahal guru sedang menjelaskan pelajaran. Mulai sekarang ubah kebiasaan ini yah.
Kelima, Mendoakan guru-guru. Banyak dari kalangan salaf berkata, “Tidaklah aku mengerjakan sholat kecuali aku pasti mendoakan kedua orang tuaku dan guru guruku semuanya.” Keenam,  guru juga manusia. Meski tugasnya mulia, bisa jadi ada kekurangan atau kesalahan yang guru lakukan namun tentu ngga tiba-tiba kita jadi berlaku tidak hormat pada mereka apalagi mencari-cari kesalahan guru. Para ulama salaf senantiasa berdoa “Ya Allah tutupilah aib guruku dariku, dan janganlah kau hilangkan keberkahan ilmunya dariku.” Adab dalam menegur mereka pun perlu diperhatikan mulai dari cara yang sopan dan lembut saat menegur dan tidak menegurnya di depan orang banyak. The last but not least, meneladani guru. Merupakan suatu keharusan seorang penuntut ilmu mengambil ilmu serta akhlak yang baik dari gurunya. Ibnu Utsaimin berkata, “Jika gurumu itu sangat baik akhlaknya, jadikanlah dia qudwah atau contoh untukmu dalam berakhlak. Namun bila keadaan malah sebaliknya, maka jangan jadikan akhlak buruknya sebagai contoh untukmu, karena seorang guru dijadikan contoh dalam akhlak yang baik, bukan akhlak buruknya, karena tujuan seorang penuntut ilmu duduk di majelis seorang guru adalah mengambil ilmunya kemudian akhlaknya.”  Oke temanS, semoga kita menjadi orang yg bisa memuliakan para cikgu.

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Selasa, 20 November 2018

Dicari: Generasi Qur’ani!




Ajang pencarian bakat tengah merajalela di layarkaca. Dari orang dewasa, remaja, hingga anak-anak berlomba-lomba ikut audisi. Siapa tahu kepilih dan masuk babak eliminasi, workshop, atau spektakuler. Kan lumayan, bisa nongol di layar kaca saban hari. Apalagi kalo anak-anak yang jadi peserta kompetisi. Lucu, Imut, dan ngegemesin. Ini yang dicari produsen televisi untuk naekin rating biar para pemasang iklan kepancing.  Dan pastinya kebanjiran fulus. Cring..cring..!

Sedari Kecil Berlomba Jadi Idola

"Mau lihat tingkah polos mereka, mau lihat kelucuan mereka, saksikan....," Bunyi iklan pencarian bakat anak-anak di sebuah stasiun televisi ini cukup menarik perhatian pemirsa. Anak-anak dengan segala tingkah polosnya saat menjadi peserta disorot dari berbagai sudut pandang. Sejak saat audisi, tampil menggemaskan di depan juri, hingga performance di babak eliminasi dan spektakuler. Nggak ketinggalan adegan drama saat sang anak nggak lolos audisi atau tereliminasi.

Sedari kecil adik-adik zaman now banyak yang didorong oleh orangtuanya ikut ajang pencarian bakat. Katanya sih, sebagai media penyaluran bakat. Ngasih pengalaman baru untuk nunjukin kemampuan apa yang dikuasainya, ngerasain deg-degan saat berkompetisi, hingga belajar bersikap ketika menang atau kalah.

Niat awalnya sih sang ortu pengen ngeliat anaknya tampil dihadapan juri. Aktualisasi diri. Polos. Nervous. Setelah lolos audisi hingga tembus babak grand final, jadi kepikiran deh kalo anaknya bisa jadi idola baru. Apalagi selama berlangsungnya kompetisi, media terus-terusan menampilkan keseharian peserta dari berbagai sisi. Terutama bagian yang menguras emosi. Otomatis saking seringnya nongol di layar kaca, peserta ajang pencarian bakat makin dikenal masyarakat. Kalo udah gitu, pintu popularitas makin terbuka luas.  Tahu sendiri kan, gimana rasanya kalo bisa jadi populer. Hmm....ortunya pun kecipratan tajir. Aktualisasi berujung komersialisasi. Ya gitu deh.

Ujung-ujungnya, adik-adik yang lucu bin imut alumni ajang pencarian bakat banyak yang jadi bintang iklan, artis sinetron, bintang tamu talkshow, panggilan manggung, dan sederet kegiatan yang banyak mengisi pundi-pundi rupiahnya. Kehidupannya naik level. Tadinya hanya ngeliat artis idolanya hidup mewah, perlahan diri dan keluarganya bisa ikut mencicipi hidup dengan harta berlimpah. Sepertinya kebahagiaan hidup sudah dalam genggaman tangan.

Padahal, dibalik popularitas banyak tekanan hidup yang bisa merampas kebahagiaan masa kecilnya. Jadwal manggung dan panggilan tampil yang padat, bisa menyita waktu sekolahnya. Tak ada lagi waktu bermain tanpa sorotan kamera dengan teman-teman sebaya. Usia anak-anak yang seharusnya banyak digunakan untuk bermain dan belajar, malah banyak yang jadi jadi tulang punggung ekonomi keluarga. Ngenes!

Dalam Islam, anak-anak adalah investasi bagi orangtuanya dan umat di masa depan. Bagi ayah bunda, anak yang soleh akan menjadi penyelamat bagi keduanya di akhirat. Bagi umat, anak yang soleh akan menjaga agar umat Islam tetap mulia dengan aktifitas dakwah dan kontribusi keilmuannya. Namun, mungkinkah anak-anak soleh generasi qur’ani dambaan umat ini bisa lahir dari ajang pencarian bakat?

Bercermin Pada Generasi Sahabat

Bila kita bicara tentang membangun generasi, maka harusnya kita mengambil contoh dari generasi terbaik yang pernah ada,yaitu generasi sahabat Rasulullah. Bagaimana mereka mengisi masa kecilnya sehingga menjadi generasi terbaik teladan sepanjang masa.
"Ya Ghulam, maukah kau mendengar beberapa kalimat yang sangat berguna?" tanya Rasulullah suatu ketika pada seorang pemuda kecil. "Jagalah (ajaran-ajaran) Allah, niscaya kamu akan mendapatkan-Nya selalu menjagamu. Jagalah (larangan-larangan) Allah, maka kamu akan mendapati-Nya selalu dekat di hadapanmu."

Pemuda beruntung itu adalah Abdullah bin Abbas. Ibnu Abbas, begitu ia biasa dipanggil. Hidup  dengan Rasulullah sejak kecil membuatnya tumbuh menjadi seorang lelaki berkepribadian luar biasa.

Suatu ketika, benaknya dipenuhi rasa ingin tahu yang besar tentang bagaimana cara Rasulullah shalat. Malam itu, ia sengaja menginap di rumah bibinya, Maimunah binti Al-Harits, istri Rasulullah.

Sepanjang malam ia berjaga, sampai terdengar olehnya Rasulullah bangun untuk menunaikan shalat. Ia segera mengambil air untuk bekal wudhu Rasulullah. Di tengah malam buta itu, betapa terkejutnya Rasulullah menemukan Abdullah bin Abbas masih terjaga dan menyediakan air wudhu untuknya.

Rasa bangga dan kagum menyatu dalam dada Rasulullah. Beliau menghampiri Ibnu Abbas, dan dengan lembut dielusnya kepala bocah belia itu. "Ya Allah, berikan dia keahlian dalam agama-Mu, dan ajarilah ia tafsir kitab-Mu." Demikian doa Rasulullah.

Abdullah bin Abbas lahir tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah. Saat Rasulullah wafat, ia masih sangat belia, 13 tahun umurnya. Ibnu Abbas benar-benar merasa kehilangan. Sosok yang menjadi panutannya, kini telah tiada. Walau demikian, ia tak mau berlama-lama tenggelam dalam kedukaan. Ibnu Abbas segera bangkit dari kedukaan. Maka ia pun mulai melakukan perburuan ilmu.

Didatanginya para sahabat senior. Ia bertanya pada mereka tentang apa saja yang perlu ditimbanya. Ia ketuk satu pintu dan berpindah ke pintu lain, dari rumah-rumah para sahabat Rasulullah. Tak jarang ia harus tidur di depan rumah mereka, karena para sahabat tengah istirahat. Namun betapa terkejutnya mereka begitu melihat Ibnu Abbas tidur di depan pintu rumah.

"Wahai keponakan Rasulullah, kenapa tidak kami saja yang menemuimu?" kata para sahabat yang menemukan Ibnu Abbas di depan rumah mereka.
"Tidak, akulah yang mesti mendatangi anda," jawabnya.

Demikianlah kehidupan Ibnu Abbas, hingga kelak ia benar-benar menjadi seorang pemuda dengan ilmu dan pengetahuan yang tinggi. Karena tingginya dan tak berimbang dengan usianya, ada yang bertanya tentangnya. "Bagaimana anda mendapatkan ilmu ini, wahai Ibnu Abbas?"

"Dengan lidah dan gemar bertanya, dengan akal yang suka berpikir," demikian jawabnya.
Selain teladan Ibnu Abbas, sebagai orang tua, kita bisa bercermin pada al-Ghumaisha , ibu Anas bin Malik. Usia Anas masih sangat muda, ketika ibunya al-Ghumaisha mentalqinnya dengan dua kalimat syahadat. Ibunya mengisi hatinya yang bersih dengan kecintaaan kepada Nabi Muhammad bin Abdullah. Maka di benak Anas pun mulai tumbuh rasa cinta kepada Rasul sekalipun dia belum pernah bersua dengan Nabi yang mulia tersebut.
Tidak lama setelah Rasulullah saw tinggal di Madinah setelah berhijrah dari Mekkah, al-Ghumaisha binti Milhan, datang kepada beliau dengan disertai Anak anak laki-lakinya. Ia bermaksud menitipkan Anas bin Malik kecil agar berbakti pada Rasulullah.  Anas bin Malik atau Unais (Anak kecil) hidup di samping Nabi dan berada di bawah bimbingan beliau sampai Nabi berpulang ke ar-Rafiq al-A’la yaitu selama kurang lebih 10 tahun.

Anas bin Malik hidup setelah Rasulullah saw wafat selama delapan puluh tahun lebih. Selama itu Anas mengisi dada umat dengan ilmu Rasulullah saw yang agung dan menumbuhkan akal pikiran mereka dengan fikih kenabian.

Temans, dari kisah Ibnu Abbas dan Anas bin Malik, kita bisa ngeliat bagaimana Rasulullah saw dan para Sahabat membentuk generasi qurani. Sebagai orang tua, pendidikan agama jadi prioritasnya. Bukan mengasah bakat biar bisa ikut audisi dan jadi idola baru. Ayah bunda jadi teladan bagi buah hatinya. Kesholehan mereka  akan berbuah bakti anak sepanjang masa.

Sebagai remaja, belajar ilmu agama adalah aktifitas utama kita. Tak cukup dengan pelajaran agama di sekolah, buru ilmu pada forum pengajian. Luangkan waktu untuk mendatangi guru, tilawah quran, dan baca buku bermutu. Yuk!

Jadi Bagian Generasi Qurani

Generasi Qur’ani adalah generasi yang menjiwai dan mengamalkan Al-Qur’an.  Seperti para sahabat Rasul yang kuat aqidahnya, benar ibadahnya, dan bagus akhlaknya. Apakah kita bisa seperti mereka? Bisa! Sayid Qutub dalam kitab Ma’alim fit Thariq (Petunjuk Jalan) telah memberikan jawabannya.

Pertama, mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai Rujukan utama dalam beramal. Istilah kerennya, sebagai “Way of Life” (Pedoman hidup). Para sahabat adalah “Al-Qur’an yang berjalan” karena senantiasa menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya. Jika Al-Qur’an melarang mereka, segera mereka tinggalkan sebaliknya jika Al-Qur’an memerintahkan mereka, segera mereka melaksanakan. Tanpai tapi tanpa nanti.

Kedua, mereka mempelajari Al-Qur’an untuk menerima perintah Allah. Para Sahabat tilawah Al-Qur’an bukan sekedar untuk membaca, menambah pengetahuan, atau menikmati keindahan sasteranya. Mereka membaca Al-Qur’an untuk menerima perintah dan larangan tentang semua urusan pribadi, keluarga, masyarakat dan negara.

Allah swt berfirman, “Barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thoha: 123-124)

Ketiga, mereka masuk Islam kemudian meninggalkan semua perbuatan-perbuatan jahiliyah yang bertentangan dengan Islam.

Para sahabat setelah mereka menerima Islam sebagai dien mereka, Muhammad sebagai Rasul-Nya, Allah sebagai Rabnya, mereka segera meninggalkan kebiasaan jahiliyah yang bertentangan dengan Islam tanpa ragu-ragu lagi.

Umar bin Khattab pernah tertawa kemudian menangis, kemudian ditanya apa sebabnya kemudian beliau menjelaskan aku tertawa karena teringat masa jahiliyah duhulu ketika membuat patung sebagai tuhan dari makanan, aku bawa kemana-mana namun ketika aku kelaparan di tengah hutan tuhan patung itu aku makan. Lalu aku menangis karena aku teringat aku pernah menguburkan anakku, wanita hidup-hidup ketika masa jahiliyah karena aku merasa malu memiliki anak wanita.

Nah temans,menjadi generasi qurani tak cukup dengan pakai gantungan kunci bertuliskan ‘Back to Quran’ di tas sekolah kita. Tak hanya pakai kaos dakwah bertuliskan cinta Rasulullah. Tapi tunjukkan dengan menjadikan aturan Islam sebagai standar perbuatan kita. Tunduk bin patuh dengan perintah dan larangan dalam Al-Quran dan Sunnah. Menjadikan Rasulullah saw dan para sahabatnya sebagai teladan.

Generasi qur’ani anti pacaran, jaga pergaulan dengan lawan jenis, dan nggak alergi ikut pengajian. Generasi qur’ani tak berlomba-lomba ikut audisi pencarian bakat, tapi pantang menyerah mengejar ridho Illahi sebagai tanda taat. Generasi qur’ani nggak latah ikut tahun baruan tapi aktif di majlis ta’lim dan forum pengajian. Generasi qur’ani pantang egois bin individualis, tapi peduli dengan masalah lingkungan sekitar dan urusan umat. Generasi qur’ani itu kamu. Iya kamu. Siap? Berangkaaat..!

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Minggu, 11 November 2018

Are You The Next Hero?



Captain America, Iron man, Spiderman, Superman, Batman dan masih banyak lagi karakter superhero yang diidolakan anak-anak. Setiap masa pasti ada sosok pahlawan yang jadi idola. Mungkin kalo jamannya orang tua atau nenek dan kakek kita Gatot Kece eh salah Gatot Kaca yang saking hebatnya sampe bergelar otot kawat tulang besi. Widdiiih,, gimana musuh ga pilih pulang kampung. Emang banyak anak-anak bahkan orang dewasa sekalipun yang mengidolakan sosok superhero karna sosok tersebut begitu baik dan punya kehebatan yang mumpuni. Sampe-sampe saking ngefansnya ada loh orang yang sampe niru gaya, dari mulai kostum yang dipakai bahkan sampai ada yang rela ngeluarin uang banyak untuk merubah wajahnya supaya mirip dengan sosok pahlawan idolanya. Don’t ever try this yes..

Di Mana ada Penjajahan Di Situ ada Pahlawan
Hero atau Pahlawan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, pejuang yang gagah berani. Secara manusiawi, kita pasti senang kepada orang yang baik, membela kebenaran, melindungi yang lemah. Jadi, ga heran kalo sosok hero di atas yang sebenarnya fiktif begitu diidolakan khususnya oleh anak-anak apalagi ditambah mereka memiliki kekuatan atau senjata yang digunakan untuk melumpuhkan atau melawan musuhnya. Makanya kata pahlawan ngga selalu dipakai untuk mereka-mereka yang berjuang di medan perang aja. Misalnya kita sering dengar istilah pahlawan tanpa tanda jasa sebagai sebutan bagi seorang guru dimana mereka juga berjuang mendidik generasi. Terusnya ada lagi istilah pahlawan devisa sebagai sebutan bagi tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri. Bahkan kita juga suka menyebut orang-orang yang berjasa di dalam kehidupan kita dengan sebutan “pahlawan” misalnya kepada Ibu yang telah begitu berjasa dari mulai mengandung, melahirkan, mengasuh bahkan mendidik kita. Kepada Ayah yang juga begitu berjasa sebagai pemimpin rumah tangga yang bertanggung jawab dan tentu ikut mendidik kita.
Teman, sedari kita Sekolah Dasar ibu dan bapak guru mengajarkan tentang bagaimana perjuangan para pahlawan dalam membela kebenaran, melawan ketidakadilan bahkan melawan penjajahan. Sebut saja Pangeran Diponegoro yang terkenal karna memimpin perang sabil, perang melawan penjajahan Belanda di tanah Jawa. Semangat Pangeran Diponegoro berkobar karna perjuangannya didukung tokoh-tokoh agama yang menginginkan tanah Jawa dipimpin oleh pemimpin yang mendasarkan hukumnya pada Syariat Islam. Ada lagi Tuanku Imam Bonjol yang punya nama asli Muhammad Shahab. Beliau adalah salah seorang ulama, pemimpin dan pejuang yang berperang melawan Belanda dalam peperangan yang dikenal dengan nama Perang Padri. Berikutnya nama yang pekikan takbirnya membakar semangat juang rakyat Surabaya untuk bertempur melawan kembalinya penjajah Belanda yang berakhir dengan pertempuran 10 November 1945. Dialah Sutomo yang lebih dikenal dengan Bung Tomo. Sebenarnya masih banyak tokoh-tokoh heroik yang berjuang melawan ketidakadilan dan penjajahan, karna pada hakikatnya di dalam Islam ngga ada dan bahkan haram hukumnya berlaku sewenang-wenang apalagi menjajah suatu wilayah setelah itu sumber daya alamnya dieksploitasi.
Secara fitrah, manusia diciptakan oleh Allah memiliki ghorizatul baqa yaitu naluri untuk mempertahankan diri, keluarga termasuk wilayah tempat kita hidup dan tinggal. Maka ngga heran, dimana ada penjajahan pasti muncul para pejuang yang melawan penjajahan tersebut, bahkan mereka berjuang sampai titik darah penghabisan. Terjadinya perang bisa jadi tidak bisa dipungkiri. Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surat Al Hajj : 39-40 “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah". Itu kenapa, para pejuang di Nusantara ini begitu bersemangat berjuang melawan penjajahan, melawan kedzaliman.

Berjuang lillaah walau lelah
Setiap manusia, pada hakikatnya memiliki dorongan atau motivasi dari apa yang diperbuatnya. Kalau remaja jaman sekarang sering banget bilang “mager” alias males gerak, itu artinya remaja tersebut ngga punya dorongan atau motivasi perbuatan. Jangankan berjuang mati-matian, sekedar bergerak melakukan aktifitas berfaedah aja males. But, kamu yang lagi baca buletin kece ini insya Allah ngga akan mengidap penyakit “mager” ini. Karna apa? Karna dia paham kalau sekecil apapun yang kita lakukan akan bernilai ibadah jika semua dilakukan karna Allah dan caranya benar. Ok deh, kita bahas emang apa aja sih yang bisa dijadiin motivasi. Pertama, motivasi materi (al quwwah al madiyyah) maksudnya seseorang berbuat sesuatu karna didorong ingin mendapatkan materi. Misalnya aja, mereka yang berperang karna ingin mendapatkan harta kekayaan. Atau kamu misalnya yang kalo belajar karna ingin dapat nilai bagus semata. Tapi yah.. yang namanya materi ngga selamanya bisa dijadikan motivasi dalam berbuat karna seandainya kita ngga mendapatkan yang kita inginkan kecewa mendalam dan ngga mau lagi untuk berbuat bisa jadi back to “mager”. Kedua, motivasi moral atau emosional (al quwwah al ma’nawiyyah) kalau yang ini ketika perbuatan yang kita lakukan didorong oleh pengaruh emosional atau psikologis. Misalnya perlawanan seseorang karena merasa ditindas, merasa didzalimi, atau wilayah tempat tinggalnya dirampas. Atau misalnya kamu nih, yang semangat belajar karna merasa dilecehkan atau dibully akhirnya kamu belajar tekun untuk membuktikan kalau kamu bisa berprestasi. Tapi, lagi-lagi motivasi emosional ini juga tidaklah kuat dijadikan sandaran motivasi, karna yang namanya emosi atau psikologis bisa berubah-ubah. Yang ketiga, motivasi spiritual (al quwwah ar ruhiyyah) motivasi ini lahir dari keyakinan dan kesadaran diri sebagai seorang hamba Allah yang menyandarkan segala perbuatannya pada perintah dan laranganNya. Motivasi ini adalah motivasi seumur hidup selama keimanan kepada Allah masih terpatri kuat di dalam diri. Inilah motivasi terkuat dan konstan yang bisa mengalahkan dua motivasi sebelumnya. Contohnya aja, para pahlawan yang berjuang di medan perang karna memang dihadapkan dengan musuh, “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” TQS. Al Baqarah 190. Mereka jihad fii sabilillaah meski harus kehilangan harta bahkan jiwa sekalipun. Karna mereka berjuang lillaah (karna Allah).
Sama seperti kamu, kalau Allah atau pahala dan surga Allah kamu jadikan motivasi maka nilai bagus dan pengakuan sebagai anak berprestasi itu hanya bonus sehingga seandainya materi berupa nilai dan pengakuan ngga kamu dapatkan, semangat belajar kamu tetap akan membara.

Pahlawan atau Bukan?
Kembali bicara soal pahlawan, kita harus cermat ya Teman dalam menentukan apakah seseorang itu layak disematkan gelar pahlawan atau tidak. Kamu pernah dengar nama Mustafa Kemal Attaturk? Ada sebagaian kalangan yang menganggapnya sebagai pahlawan, padahal Mustafa adalah seorang yahudi yang menyamar menjadi seorang muslim untuk menghancurkan Daulah Utsmani di Turki. Setelah Daulah Islam Utsmani dihancurkan, Mustafa Kemal langsung memimpin Turki dan mensekulerkan serta meliberalkan Turki seperti dihapuskannya nilai-nilai dan simbol-simbol Islam. Dilarangnya adzan, para wanitanya dilarang mengenakan hijab. Di akhir kisah hidup seorang Mustafa Kemal pun sungguh sangat mengerikan. Berkebalikan dengan Mustafa Kemal Pasha Attaturk, ada seorang tokoh yang namanya justru dibuat menjadi sosok yang menakutkan padahal Dia adalah seorang pahlawan Islam dari Brazil. Pada abad ke XVI (1550 M), Islam mulai masuk ke Brazil. Saat itu, Portugis memasukkan orang-orang Afrika ke Brazil sebagai tenaga kerja. Mayoritas orang-orang Afrika itu beragama Islam. Tahun demi tahun jumlah muslim di Brazil semakin banyak. Ketika posisi Islam di Brazil semakin menguat. Pasukan Salibis menghabisi mereka dan berusaha menghancurkan Islam hingga ke akar-akarnya. Namun, pada tahun 1643 tiba-tiba muncul seorang pahlawan Islam yang dengan gagah berani mendeklarasikan berdirinya Negara Islam di Brazil setelah sebelumnya bergerak mendakwahkan Islam ke berbagai penjuru Brazil dan mengajak para tokoh dan pimpinan di wilayah itu untuk masuk Islam. Dan nama pahlawan itu adalah Zumbi Dos Palmares. Salibis mengira Islam di Brazil telah mati. Rupanya Zumbi telah menghidupkan Islam kembali di Brazil. Seketika Zumbi pun menjadi target oleh Salibis. Dan saat ini, nama Zumbi atau Zombie dimonsterisasi menjadi sosok yang menakutkan. Hayoo.. siapa yang suka menakut-nakuti adiknya dengan Zombie?
So, clear ya.. sebagai seorang remaja Muslim kita harus melek sejarah yang benar terlebih sejarah Islam. Apa yang tertuang di sepanjang Peradabannya, Islam telah begitu banyak memberikan khasanah yang luar biasa, dimana kita jadi tahu dan paham bagaimana Islam pertama kali datang dan didakwahkan oleh Rasulullah saw, tegaknya Negara Islam yang berawal dari Madinah lalu meluas menguasai 2/3 dunia, kemudian kita pun akan mengerti apa yang menyebabkan Islam dengan institusinya melemah dan sampai akhirnya hancur menjadi kurang lebih 50 negara kecil. Berhentikah kita? TIDAK. Selanjutnya tugas dan kewajiban kitalah untuk menjemput bisyarah (kabar gembira) dari Allah dan RasulNya bahwa Islam akan kembali tegak dan Kaum Muslim akan bersatu. Dengan apa? Tentu dengan berjuang melalui ngaji dan dakwah kepada Islam sesuai tuntunan Al Qur’an dan Sunnah. Allahu Akbar!!

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Senin, 05 November 2018

Kami Kira Sudah Kiamat!?



Satu bulan lebih udah berlalu, pasca gempa, tsunami dan likuifasi Kota Palu yang tadinya seperti kota mati kini berangsur pulih. Alhamdulillah, evakuasi, pendistribusian logistik, pembangunan tenda-tenda pengungsian, serta pemulihan fisik maupun mental sudah digerakkan baik oleh pemerintah maupun para relawan. Pertanyaan yang harus dijawab oleh semua orang, “Masih adakah masa depan untuk mereka?”

Tim relawan “Teman Surga” yang berada di Te Ka Pe menyempatkan untuk ngobrol dengan teman-teman remaja yang sebagian jadi korban gempa dan tsunami Palu. Tujuannya biar kita bisa ngambil hikmah, biar kita bisa ikut bangun semangat kembali pasca musibah. Yuk simak aja ulasannya sampe kelar ya ?!

Sisa Pilu Musibah Palu
“Saat berkumpul bersama keluarga.” ucap Vena polos, siswi SMKS PGRI Palu, saat kami bertanya padanya momen apa yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Tapi momen kayak gitu udah nggak bisa dirasakan kembali sama Vena dan juga remaja-remaja lainnya di Palu, pasca musibah gempa Palu pada 28 September 2018 lalu. Ya, gempa, tsunami, dan likuifaksi yang melumpuhkan Palu, Donggala, dan Sigi menyisakan cerita dan kenangan yang mungkin akan selalu dikisahkan pada anak-cucu masyarakat Palu, khususnya bagi mereka para survivor musibah yang dahsyat ini.

Musibah ini menelan ribuan korban jiwa, meluluhlantakkan permukaan bumi, menghancurkan ribuan rumah, bangunan, sekolah, kampus, jalan, bahkan menenggelamkan kampung dan perumahan khususnya daerah Balaroa, Petobo, dan Jono Oge. “Bumi terbelah lalu tertutup lagi, kemudian tanah berputar seperti diblender. Kami kira ini sudah kiamat,” saksi salah seorang pemuda.

“Pada saat gempa itu, aku lagi siap-siap mau shalat. Tiba-tiba bumi bergetar. Aku tabuang-buang, terjatuh tak bisa bergerak. Yang parah adikku, dia lagi mandi pas kejadian, mau siap-siap magrib. Ada juga temanku itu di kos-an lagi main Mobile Legend, tabuang-buang juga,” kata Fadil, siswa Darul Iman, menceritakan masa gempa itu.

“Aku segera pulang. Nggak ketemu sama orang tua, semua udah mengungsi. Aku segera menuju tempat pengungsian. Harus hati-hati itu, salah sedikit bangunan roboh,” lanjutnya mengenang malam itu yang sangat mencekam. Fadil dan Vena adalah dua di antara ribuan remaja yang menjadi korban maupun dampak dari musibah gempa, tsunami, dan likuifaksi di Palu. Banyak di antara mereka yang di usia semuda ini kehilangan adik, kakak, teman, kerabat, bahkan orang tuanya pada kejadian tersebut.

Salah satunya Galang, yang videonya sempat viral di media sosial, dimana ia melihat dengan mata kepalanya sendiri ibunya tertelan bumi kemudian tertutup kembali, setelah itu menghilang dibawa tanah yang bergerak begitu dahsyat. Jangankan anak seusia dirinya, orang dewasa sekalipun banyak yang belum bisa lepas dari trauma yang mendalam kehilangan rumah, pekerjaan, anak, dan keluarganya.

Tentu, secara individual, nggak semua remaja dan masyarakat mengalami langsung musibah 28 September 2018 kemarin, terutama orang-orang yang jauh dari lokasi kejadian. Tapi luka ini tentu nggak hanya luka mereka yang terkena gempa, melainkan luka seluruh muslim, karena memang derita mereka tentu saja derita kita, sebagaimana sabda Rasulullah saw:
“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” (HR. Muslim)

Nextnya setelah kita empati dengan derita pilu saudara kita di Palu, kita juga kudu tergerak untuk membantu. Coba perhatikan, petikan hadits Rasulullah saw yang menyampaikan janji Allah bagi siapa aja yang mau untuk membantu dan meringankan beban muslim di dunia, maka Allah akan menolong dia di akhirat.
“Dari Abu Hurairah  dia berkata: Rasulullah  bersabda: “Barang siapa yang membantu seorang Muslim (dalam) suatu kesusahan di dunia, maka Allah akan menolongnya dalam kesusahan pada Hari Kiamat. Dan barang siapa yang meringankan (beban) seorang Muslim yang sedang kesulitan, maka Allah akan meringankan (bebannya) di dunia dan akhirat.” (HR Muslim).”

Harta Boleh Hilang, Tapi Iman Jangan
Kalimat singkat, padat, dan menusuk jiwa itu terucap oleh Dani, siswa SMAN 3 Palu yang sampe sekarang masih tidur di tenda karena rumahnya rusak akibat gempa. Ia sendiri mengalami luka serius pada kakinya akibat terkena reruntuhan saat gempa meskipun kini berangsur membaik.

Kalimat itu nggak cuman sekedar jargon. Karena memang hanya iman-lah yang harusnya jadi sandaran pertama dan terakhir bagi seorang hamba Allah. Dengan iman, seseorang akan mampu untuk tetap bertahan dalam kondisi apapun. Ia akan selalu sabar dan tetap optimis walau tekanan dan ujian bertubi-tubi berdatang. Kekuatan yang akan dirasakan bagi orang yang betul-betul dalam keadaan terdesak.

Seperti kisah ajaib muadzin Masjid Terapung yang selamat dari terjangan tsunami, di mana imam dan hampir seluruh jamaah terbawa hanyut oleh air yang ganas, sementara dirinya, dengan izin Allah bisa selamat, konon katanya karena terus menerus mendawamkan kalimat tauhid, laa ilaahaillallah muhammadurrasulullah. Begitulah, apa yang dirasa nggak masuk akal dan mustahil bagi manusia yang bodoh ini, tapi kalo Allah berkendak, itu sangat mudah.
“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia.” (QS Yaasiin 82)

Semangat teman-teman remaja untuk memulai “hidup kembali”, sangat terasa getarannya. Saat kami coba menanyakan kepada para siswa SMAN 4 Palu tentang kondisi yang mereka alami saat ini, apa jawab mereka? “Kami ingin bangkit dari keterpurukan ini, kak.” Betul, bahwa musibah telah menimpa mereka. Betul, kalo kondisi yang ada saat ini nggak se-ideal dan semudah seperti dulu lagi. Gempa, tsunami, dan likuifaksi adalah bagian dari keputusan Allah yang nggak mungkin bisa manusia halau. Tapi tetap terpuruk dalam kegalauan tentu saja bukan sikap baik seorang Muslim.

Kalo dibilang trauma, pasti trauma itu masih tersisa. Terbukti saat beberapa kali terjadi gempa kecil, refleks mereka berteriak dan berhamburan keluar sehingga sekolah harus memulangkan mereka, termasuk juga para gurunya. Tapi keinginan untuk bangkit nggak pernah padam dalam diri mereka. Keinginan untuk mengejar cita-cita di masa depan masih terus mereka kejar. Ada Amrul yang bercita-cita pengin jadi arsitek. Ada Ina yang bercita-cita mau jadi dokter hewan. Ada Yusri yang cita-citanya mau jadi tentara. Dan masih banyak lagi lainnya yang nggak putus asa terus menatap masa depan.

Tapi, nggak semua remaja seperti para siswa SMAN 4 Palu. Berbeda dengan Husnul, remaja berusia 17 tahun yang kini tinggal di tenda kompleks pengungsian Masjid Agung Darussalam. Ia dan beberapa teman remaja yang mengaku udah malas lagi untuk sekolah, dan bingung apa yang dia mau lakukan buat di masa depannya. Kejadian luar biasa ini udah memupuskan sebagian harapan mereka.

Untuk Husnul dan teman-temannya yang semisal, nggak boleh dibiarkan begitu saja dan harus segera dibangkitkan semangatnya melalui mental recovery yang berkala. Doain ya tim relawan “Teman Surga” bersama tim mental recovery bisa membangkitkan semangat mereka kembali.

Mereka Inspirasi Kita
Tentu saja, apapun tujuan maupun cita-cita mereka, ngga boleh melupakan the ultimate quest sebagai seorang manusia di dunia ini, yaitu sebagai seorang hamba Allah yang berupaya meraih ridho dan surgaNya kelak di akhirat. Bagi mereka yang bersabar dalam menerima cobaan, maka Allah akan hapuskan dosa-dosanya dan memberikan kabar gembira berupa jannah yang luasnya seluas langit dan bumi.
“...Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka.” (QS al-Hajj 34-35)

Remaja-remaja Palu yang kuat adalah inspirasi bagi remaja siapapun kita dan  di manapun kita berada. Di kondisi yang demikian pelik, tak surut keinginan mereka untuk bangkit. Bahkan, sebagian siswa siap menjadi inisiator kebangkitan di sekolahnya masing-masing. Takbir! Allahu Akbar!

Mereka berkomitmen untuk terus berupaya menguatkan dirinya, untuk kemudian ditularkan semangatnya pada ratusan temannya. Alhamdulillah, mereka nggak berpikir egois dan individualistis, justru bertekad untuk merangkul dan mengajak temannya yang mungkin sampai saat ini masih trauma berat, agar selanjutnya bangkit kembali. Mereka turun di tengah teman-temannya, menjadi pelopor kebaikan yang akan menduplikasi diri sehingga tersebar ke seluruh siswa di kota Palu dan harapannya juga di tempat lain.

Untuk itu, pembinaan yang mereka butuhkan haruslah pembinaan yang luar biasa, yang mampu memberikan energi untuk membangkitkan generasi muda dan umat. Nggak lain nggak bukan berupa pembinaan yang akan merubah pola pikir maupun perilaku para remaja agar sesuai dengan keridhoan Alah SWT, perilaku Islami.

Mengapa harus Islam? Karena Islam adalah syariat yang Allah SWT turunkan dengan jaminan keselamatan dunia dan akhirat dalam mengatur hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan manusia lain, dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Islam lah yang mengangkat seseorang dari kondisi jahiliyah menjadi mulia. Dengan Islam seorang manusia akan bangkit secara hakiki, bukan bangkit yang semu.

Ketika para remaja inisiator kebangkitan Palu ini terbina dengan Islam, mereka tidak hanya memiliki motivasi dunia melainkan juga motivasi akhirat. “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS Fussilat 33)

Terakhir, Fadil memberikan pesan buat seluruh  #TemanSurga di manapun kalian berada. “Pesan saya buat para remaja adalah bahwa ini peringatan dan teguran dari Allah SWT. Selagi ada kesempatan, yuk kita tobat dari kesalahan-kesalahan yang kita lakukan selama ini. Kita masih diselamatkan oleh Allah SWT, karena itu jangan sia-siakan kesempatan.” Subhanallah, wa Allahu Akbar! []

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg