Senin, 29 Oktober 2018

Cinta Kalimat Tauhid, Nggak Bisa Ditawar




Kalimat tauhid Laa Illaha illa Allah Muhammaddurasulullah jadi trending tropik di telinga siapapun, seenggaknya beberapa pekan belakangan ini. Pasalnya, karena ulah salah satu organisasi yang membakar bendera yang di situ tertulis kalimat tauhid. Tentu saja sontak bikin darah hampir seluruh kaum muslimin di dunia bergejolak.

Karuan aja marah, lha wong kalimat tauhid itu kan bukan cuman kalimat biasa, tapi kalimat itu sebagai pertanda persaksian kita sebagai seorang muslim. Kita muslim atau kagak ditentukan oleh ikrar syahadat yang di dalamnya kalimat tauhid tercantum. Kalimat Laa illaaha illa Allah ada di dalam dada setiap muslim, kayak bagian tubuh dari kaum muslimin yang nggak bisa dipisahin. Jadi, ketika ada yang melecehkan kalimat tauhid, maka terkoyaklah dada kaum muslimin.

Sebaliknya, kalo ada yang melecehkan bahkan membakarnya, berarti dia udah misahin diri dari kaum muslimin. Apapun alasannya, misal karena benci dan dendam kepada organisasi yang lain, maka membakar kalimat tauhid dalam bentuk apapun, tentu nggak dibenarkan. Karena emang kalimat tauhid itu bukan hak milik ormas tertentu. Mengalamatkan kesalahan ormas tertentu gegara sering membawa kalimat tauhid dalam kegiatannya, hanyalah alasan yang dicari-cari. Bilang aja loe benci kalimat tauhid. Widih serem dong, kalo seorang muslim benci kalimat tauhid, jadi selama ini dia …. (silahkan diisi sendiri titiknya ya, hehehe).

Kalimat Pemersatu
Kalo pengin bukti, kalimat apa yang bisa menyatukan jutaaan manusia, dari berbagai ras, suku, bahkan lintas negara dan benua adalah kalimat tauhid. Apa buktinya? Kalimat tauhid itu berbahasa Arab, sementara bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur’an, dan sampai detik ini nggak ada yang bisa menyangkal keotentikan Al-Qur’an masih dalam bahasa Arab, meskipun Islam udah menyebar hampir ke seluruh negara. Artinya, kaum muslimin seluruh dunia membaca Al-Qur’an berbahasa yang satu, bahasa Arab, dan kalimat tauhid jelas sekali bahasanya satu, bahasa Arab.

Jadi melecehkan kalimat tauhid berarti mengoyak persatuan kaum muslimin seluruh dunia. Dan itu kebukti koq di beberapa laman ada berita presiden Turki juga ikut prihatin terhadap pembakaran bendera tauhid yang terjadi di Indonesia. Ada juga beberapa video yang mewakili kaum muslimin dari negara lain, mengecam pembakaran bendera tauhid di Indonesia.

Kalimat tauhid bukan cuman sekedar simbol biasa, sama seperti Al-Qur’an atau sosok Rasulullah SAW merupakan bagian yang nggak terpisahkan dari kaum muslimin. Seperti yang terjadi beberapa tahun lalu, Rasulullah SAW pernah dikartunkan oleh surat kabar Charly Hebdo, maka sontak kaum muslimin seluruh dunia marah besar. Itu menunjukkan gamblang bangets, kalo simbol-simbol Islam itu memang bukan sekedar simbol, tapi alat pemersatu kaum muslimin seluruh dunia, apapun warna darahnya (emang warna darah beda-beda ya?)

Bukti lain, kalo tauhid ini kalimat pemersatu, kasus terkini bisa kita lihat di negeri kita ini. Ketika ada kasus pembakaran bendera tauhid di Garut, maka ormas-ormas Islam seakan melupakan sekat keorganisasiannya. Ustadz, ulama, para tokoh juga melupakan perbedaan pendapatnya selama ini, lalu bersatu suara mengecam, minimal menyanyangkan pembakaran bendera tauhid ini.

Jadi, jangan sekali-kali melecehkan simbol-simbol Islam tersebut, kalo nggak mau berhadapan dengan kaum muslimin seluruh dunia. Dan ini sekaligus jadi sebuah tanda gaes, bahwa memang kaum muslimin ini masih hidup, ibarat singa yang sedang tidur, tetiba dibangunin sama kasus-kasus kayak pembakaran bendera tauhid ini. Alhamdulillah, ghirah alias semangat pemersatu itu masih ada, dan emang kudu bin harus tetap menyala-nyala pada setiap muslim.

Pembakar Heroisme
Membakar bendera tauhid sama saja dengan membakar semangat heroisme kaum muslimin. Karena kalimat tauhid yang berbentuk bendera itu pulalah di masa diutusnya Rasulullah SAW pernah membakar semangat heroisme para sahabat. Itulah bendera Rasulullah SAW, yang berwarna dua jenis. Ada kalimat tauhid yang di kain berwarna hitam itu namanya ar-raya, dan yang berkain putih namanya al-liwa.

Kita sebut dengan sebutan kayak gitu bukan tanpa dalil, tapi memang ada dalilnya, hal ini berdasarkan hadits berikut; Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasai di Sunan al-Kubra telah mengeluarkan dari Yunus bin Ubaid mawla Muhammad bin al-Qasim, ia berkata: Muhammad bin al-Qasim mengutusku kepada al-Bara’ bin ‘Azib bertanya tentang rayah Rasulullah Saw seperti apa? Al-Bara’ bin ‘Azib berkata:
“Rayah Rasulullah Saw berwarna hitam persegi panjang terbuat dari Namirah.”

Dalam Musnad Imam Ahmad dan Tirmidzi, melalui jalur Ibnu Abbas meriwayatkan: “Rasulullah Saw telah menyerahkan kepada Ali sebuah panji berwarna putih, yang ukurannya sehasta kali sehasta. Pada liwa (bendera) dan rayah (panji-panji perang) terdapat tulisan ‘Laa illaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah’. Pada liwa yang berwarna dasar putih, tulisan itu berwarna hitam. Sedangkan pada rayah yang berwarna dasar hitam, tulisannya berwarna putih.”.

“Panji Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam berwarna hitam, berbentuk segi empat dan terbuat dari kain wol.” (HR Tirmizi)

Arrayah yang dipakai Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam berwarna hitam, sedangkan liwa’ (benderanya) berwarna putih. (HR Thabrani, Hakim, dan Ibnu Majah).

Imam At-Tirmidzi dan Imam Ibn Majah telah mengeluarkan dari Ibn Abbas, ia berkata: “Rayah Rasulullah Saw berwarna hitam dan Liwa beliau berwarna putih.”
Imam An-Nasai di Sunan al-Kubra, dan at-Tirmidzi telah mengeluarkan dari Jabir:  “Bahwa Nabi Saw masuk ke Mekah dan Liwa’ beliau berwarna putih.”
Ibn Abiy Syaibah di Mushannaf-nya mengeluarkan dari ‘Amrah ia berkata: “Liwa Rasulullah Saw berwarna putih.”

Dan sederet dalil hadits yang lain, yang  menunjukkan bahwa emang bendera tauhid, bendera Rasulullah sudah ada di masa Rasulullah SAW, bukan saat ini doang ada. Jadi, kalo ada yang bilang bahwa bendera tauhid itu bendera milik organisasi tertentu, berarti memang dia kurang ngaji. Makanya jangan banyakan makan micin, makan itu sayuran, biar agak cerdas…. Wkwkwkw..

Nah, dari bendera itulah, kaum muslimin, terutama para sahabat terutama saaat perang, berusaha mempertahankan bendera atau panji ar-raya tersebut agar tidak jatuh ke tanah. Karena kalo dalam perang, sudah menjadi kesepakatan, kalo panji yang dibawa oleh panglima perang itu jatuh ke tanah, itu ngebuktiin kalo pasukan itu kalah. Makanya kisah heroik, panglima perang mu’tah sangat bisa mewakili gambaran bendera tauhid itu.

Rasulullah Saw. menyampaikan berita duka atas gugurnya Zaid, Ja‘far, dan Abdullah bin Rawahah di perang mu’tah karena mempertahankan panji Rasulullah SAW. Ajaibnya, menurut beberapa riwayat bahwa Rasulullah SAW menyampaikan hadits ini ketika beliau di Madinah tidak ikut berperang di Mu’tah, jadi berita ini istilahnya disampaikan secara live oleh Rasulullah. Beliau SAW, bersabda:
“Ar-Râyah dipegang oleh Zaid, lalu ia gugur; kemudian diambil oleh Ja‘far, lalu ia pun gugur; kemudian diambil oleh Ibn Rawahah, dan ia pun gugur.” (HR. Bukhari)

Perang mu’tah salah satu perang paling dahsyat, karena melawan kekuatan adidaya waktu itu, yakni Romawi. Raja Romawi bernama Heraklius di Balqa bersama 100.000 tentara dan bergabung bersama mereka kabilah-kabilah Arab yang beragama Nasrani yang berjumlah 100.000 tentara total tentara musuh berjumlah 200.000 tentara.

Ketika peperangan sudah berkecamuk dahsyat, maka pusat perhatian musuh tertuju kepada pembawa bendera tauhid panji Rasulullah SAW, hingga mati syahidlah panglima pertama, Zaid bin Haritsa radhiallahu ‘anhu. Lalu ar-raya diambil panglima kedua, Ja’far bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Beliau berperang habis-habisan sampe tangan kanannya putus, lalu bendera dibawa dengan tangannya kirinya, akhirnya tangan kirinya pun putus, akhirnya Jafar merangkul bendera dengan dadanya hingga terbunuh.

Itulah sekelumit fragmen perang mu’tah, dimana para panglimanya gagah berani mempertahankan panji tauhid. Terutama Ja’far bin Abi Thaib, sebagai balasannya, dalam hadits diriwayatkan bahwa Allah ganti kedua tangannya dengan dua sayap agar di surga ia dapat terbang ke mana saja. Setelah beliau syahid ditemukan pada tubuhnya terdapat 90 luka lebih berupa tebasan pedang, tusukan panah atau tombak yang menunjukkan keberaniannya dalam menyerang musuh. Allahu Akbar!

Generasi Tauhid
Well, gaes gimana membaca fragmen keberanian generasi Islam masa lalu mempertahankan kaimat tauhid? Apa kalian nggak tergerak hatinya untuk ikut mempertahankan dan memperjuangkan panji tauhid? Di mana kecintaan kita terhadap kalimat tauhid, jika kita tidak ikut terbakar ghirahnya ketika kalimat tauhid itu dibakar? Ya, memang yang membakar sesama muslim, tapi artinya kita tetap harus sadarkan dia, bahwa perbuatannya salah, harus bertobat kembali ke jalan yang lurus. Kita jangan hanya diam dan membiarkan hal seperti ini terjadi berulang lagi. Kita kudu respect, Bro.

Boleh main gadget, asal jangan ngelupain untuk membela kalimat tauhid. Jangan jadi generasi latah yang suka ikutan yang trending, tapi nggak ada manfaat dan pengaruhnya buat Islam. Kita kudu jadi generasi tauhid. Generasi yang meyakini Maha Tunggalnya Allah, lalu meresapi dalam hati, dan terwujud dalam perbuatan kita sehari-hari. Inget ya, kalimat syahadat kita juga ada kandungan tauhid. Jadi itu kudu kita bela, kalo ada yang melecehkan. Kita kudu marah, kalo ada yang menghinakan. Kalo nggak marah dan membela ketika Islam dan simbol-simbolnya dihinakan, maka simaklah perkataan Buya Hamka berikut:

“Jika agamamu, nabimu, kitabmu dihina dan engkau diam saja, jelaslah ghiroh telah hilang darimu.
Jika ghiroh tidak lagi dimiliki oleh bangsa Indonesia, niscaya bangsa ini akan mudah dijajah oleh asing dari segala sisi.
Jika ghiroh telah hilang dari hati, gantinya hanya satu, yaitu kain kafan. Sebab kehilangan ghiroh sama dengan mati”

Ayo kawan, terbitkan ghirahmu sekarang juga, dan jangan pernah padamkan. Jadikan dirimu generasi tauhid yang berani memegang bendera tauhid dan tetap mengibarkannya, walaupun musuh masih terus mempersekusi. Takbir! Allahu Akbar![]

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Senin, 22 Oktober 2018

Hebatnya Kedokteran dalam Islam




Pengen jadi dokter... Biasanya itu jawaban kebanyakan anak-anak mungkin termasuk kamu dulu kalau ditanya udah gede pengen jadi apa? Sosok seorang dokter begitu menjadi idola, berseragam putih bersih, ramah dan suka menolong. Meski terkadang pada kenyataannya sewaktu kita kecil sakit dan dibawa ke dokter tetep aja ada drama nangis karna takut disuntik. Sebenernya anak kecil itu kan polos ya, ibaratnya belum ada maklumat (informasi) kalau disuntik itu sakit, walaupun emang ada sakit sedikit kaya digigit semut. Tapi yang bikin anak-anak takut disuntik karna sering ditakut-takutin, misal kalau nakal nanti disuntik lho.. jadilah jangankan lihat wujud suntikan dibilang mau ke dokter aja udah kaya mau ketemu drakulesti.

Oiya, ngomong-ngomong dokter tanggal 24 Oktober diperingati sebagai Hari Dokter Nasional yang identik dengan Hari Ikatan Dokter Indonesia (IDI). IDI adalah nama terakhir yang dikukuhkan sebagai nama perkumpulan para dokter Indonesia. Sebelumnya organisasi ini bernama Vereniging van lndische Artsen tahun 1911, dengan tokohnya adalah dr. J.A.Kayadu yang menjabat sebagai ketua dari perkumpulan ini. Pada tahun 1926 perkumpulan ini berubah nama menjadi Vereniging van lndonesische Geneeskundige atau disingkat VIG. Tahun 1943 dalam masa pendudukan Jepang, VIG dibubarkan dan diganti menjadi Jawa izi Hooko-Kai. Yah, ngga aneh ya TemanS kalo tiga nama sebelumnya berbau Belanda dan Jepang karna dua negara tersebut pernah lama bercokol di Nusantara ini.
Ok, ngga berpanjang-panjang lagi di edisi Teman Surga kali ini kita akan bahas tentang dunia kedokteran. Siapa tahu diantara kamu-kamu ada yang punya cita-cita jadi seorang dokter sholih dan sholihah. Cakeeepp. Kalaupun ngga ini bakal bikin khasanah sejarah Islam kamu bertambah. So, let’s check it out.

Be Sholih Doctor, Be The Best Doctor
Kata dokter berasal dari bahasa belanda yang penulisannya sama persis. Dokter dengan keilmuannya berupaya sebaik mungkin untuk menyelamatkan, menyembuhkan dan mengobati siapa saja yang membutuhkan (dalam kondisi sakit). For your information nih, jenjang yang harus kalian lewati kalo mau jadi seorang dokter. Pertama bagi teman-teman yang ingin menjadi seorang dokter biasanya sudah diarahkan dengan masuk jurusan IPA. Setelah itu kuliah kedokteran kurang lebih 4 tahun, mahasiswa dibekali ilmu kedokteran dasar seperti anatomi, fisiologi, biokimia, dan sebagainya. Setelah itu dilanjut dengan istilah magang di rumah sakit selama kurang lebih 2 tahun, kamu akan digelari sebagai dokter muda atau dikenal juga dengan istilah co-assisten atau Coass. Nah, saat kamu jadi Coass baru boleh memeriksa pasien tentu aja masih dibawah supervisi dari tenaga medis. Selesai magang, kamu harus melewati ujian kompetensi yah semacam UN-lah. Baru setelah lulus, kamu akan disumpah (eits.. bukan sumpah serapah apalagi sumpah pocong yah) tapi kamu akan mengikuti sumpah dokter yang itu artinya kamu resmi dipanggil Bu Dokter atau Pak Dokter. Akhirnyaa.. eh, ini belum akhir meski kamu sudah resmi jadi dokter tahap selanjutnya adalah kamu harus melewati tahap internship selama 1 tahun, program pematangan yang mirip seperti magang dimana kamu akan ditempatkan di rumah sakit selama 8 bulan dan di puskesmas selama 4 bulan. Dan internship ini menjadi syarat supaya kamu dapat Surat Tanda Registrasi (STR) yaitu surat yang mengakui kamu adalah dokter yang terdaftar di Indonesia. Kalo sudah semua terlewati, boleh deh kamu buka praktek. Gimana? Jenjang yang panjang bukan? Tapi, kalau cita-cita mulia ini sudah terpatri In sya Allah kamu bisa melewatinya. Kenapa harus sebegitunya, yaa... karna profesi dokter gimana juga berkaitan dengan tubuh dan nyawa seseorang.

Menjadi seorang dokter bukan hanya dituntut profesionalisme dalam menangani pasien, tapi lebih dari itu seorang dokter harus bisa memberikan energi positif kepada pasien dengan mengajak pasien untuk bersabar dan banyak beristighfar karna ujian sakit yang Allah berikan bisa menggugurkan dosa. “Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti akan dihapuskan kesalahannya sebagaimana pohon yang mengugurkan daun-daunnya” (HR. Bukhari). Dan bisa jadi juga dengan sakit pula-lah Allah menginginkan agar hambaNya mendekat padaNya.

Selain itu dokter pun harus bisa menyemangati pasien agar memperbanyak do’a karna bagaimanapun seorang dokter tetaplah manusia yang hanya bisa berusaha semaksimal mungkin, namun yang memberikan kesembuhan dan kesehatan tetaplah Allah SWT Yang Maha Menyembuhkan.

Selain itu, seorang dokter juga harus senantiasa melibatkan Allah dan bertawakal kepada Allah dalam segala aktifitasnya. Saat memeriksa pasien, menulis resep obat, akan dan sedang operasi bahkan ketika selesai menjalankan tugasnya sekali pun. Tentu aja seorang dokter juga harus menjaga ibadahnya. Maa sya Allah.. sudahlah tugasnya mulia, ramah terhadap pasien, sholih/sholihah pula. Kecee banget deh.

Dunia Kedokteran Masa Kejayaan Islam
TemanS, sehat dan sakit dalam pandangan Islam bisa jadi sama-sama menjadi ujian. Kok bisa? Waktu kita diberi sehat, sebenarnya Allah menguji kita apakah kita bisa menjaga nikmat yang satu ini ngga. Karna terkadang bahkan seringnya kita lalai dengan melakukan sesuatu yang malah menghilangkan nikmat sehat ini. “Ada dua kenikmatan yang sering terlupakan oleh banyak orang yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu luang” (HR. Bukhari). Begitupun sakit juga adalah ujian, apakah kita sabar saat ditimpa penyakit atau malah marah-marah? Apakah saat kita sakit membuat kita semakin dekat dengan Allah atau malah saat kita sakit malah membenci takdir sakit yang Allah berikan? “Sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui cobaan yang besar pula. Apabila Allah mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya. Barangsiapa yang ridho (menerimanya) maka Allah akan meridhoinya dan barangsiapa yang murka (menerimanya) maka Allah murka kepadanya”. (HR. At Tirmidzi)

Kesehatan dalam Islam merupakan kebutuhan asasi setiap warga negara yang harus dijamin oleh Negara. Baik itu pasien yang kaya maupun yang miskin, yang arab atau non arab. Terus, ngga ada tuh pemisahan kelas-kelas perawatan pasien seperti sekarang ini, di mana semakin mahal kelas maka semakin baik fasilitasnya. Kalau Islam memberikan semuanya yang terbaik tak terkecuali. Kalaupun ada pemisahan hanya memisahkan pasien laki-laki dan pasien perempuan. Oleh karenanya, negara wajib menyediakan fasilitas dan pelayanan kesehatan gratis dan terbaik tentunya, berikut dengan tenaga medis yang berkualitas, profesional dan tentunya bertaqwa kepada Allah. Emang bisa? Dapat fasilitas dan pelayanan kesehatan terbaik dan gratis? Yes, jangankan gratis, pasien yang benar-benar sembuh akan diberi pakaian ganti yang baru dan diberi sejumlah uang yang mencukupinya sampai ia mampu kembali bekerja.

Our beloved Rasulullah saw sangat memberi perhatian besar terhadap masalah kesehatan. Dimana Nabi Muhammad saw pernah didatangi 8 orang dari Urainah yang hendak bergabung menjadi warga negara Daulah Islam di Madinah. Saat itu, kedelapan orang tersebut dalam keadaan sakit. Rasulullah saw lantas meminta mereka dirawat sampai sehat dan pulih kembali. Dan ketika Rasul dihadiahi seorang dokter oleh Muqauqis (Raja Mesir) beliau meminta dokter tersebut segera memberikan pengobatan kepada seluruh warga Madinah secara gratis. Islam menjadi pioner dalam memperkenalkan rumah sakit berstandar tinggi. Pada awal kejayaan Islam tepatnya pada masa kepemimpinan Harun Ar Rasyid (786 M – 809 M) telah dibangun rumah sakit Baghdad. Sampai abad ke 13 telah tersebar rumah sakit-rumah sakit disepanjang Jazirah Arab hinggake Cordova, Spanyol.

Untuk pertama kalinya nih, Islam menerapkan pencatatan penyakit pasien atau yang lebih dikenal dengan istilah rekam medis. Dokter dan perawat yang memenuhi kualifikasi saja yang diperbolehkan bekerja di rumah sakit. Khalifah Al Mughtadir pada masa Abbasiyah memerintahkan dokter Istana, Sinan Ibn Thabil untuk menyeleksi 860 dokter yang ada di Baghdad. Abu Osman Sa’id Ibnu Yaqub menyeleksi dokter-dokter di Damaskus, Mekkah dan Madinah.

Tokoh-tokoh Inspiratif dibidang Kedokteran Muslim
Kebanyakan orang sekarang  mengagumi dan percaya banget pada keahlian dokter-dokter yang berasal dari negera-negara Barat. Padahal, Islam dengan segala kegemilangannya banyak melahirkan para ilmuwan yang justru menjadi panutan di dunia barat bahkan sampai saat ini. Khususnya ilmuwan yang bergelut di dunia kesehatan, ada nama Ibnu Sina (Avicena) yang menjadi Bapak Kedokteran. Beliau digelari Medicorum Principal alias Raja Diraja Dokter oleh kedokteran Eropa Klasik. Ibnu Sina menulis banyak buku tentang kedokteran seperti al-Qanun fi at Tibb (Prinsip-prinsip Kedokteran). Tokoh selanjutnya adalah Abul Qasim az Zahrawi al Qurtubi (Abulcasis). Beliau adalah ahli bedah dan dokter gigi muslim berkebangsaan Spanyol pada masa Pemerintahan Abdurrahman III. Next, Ibnu Rusyd (Averoes) merupakan perintis ilmu jaringan tubuh (histologi). Karyanya berjudul al-Kulliyat fi at-Tibb (Kedokteran Umum). Dalam buku ini dijelaskan bahwa seseorang tidak akan terjangkit penyakit cacar dua kali, Ia juga menjelaskan fungsi retina. Buat kamu sisters, ada juga lho tokoh Muslimah yang menjadi dokter. Diantaranya, Ukhtu al-Hufaid bin Zuhur dan putrinya yang menjadi dokter wanita yang bekerja di Istana Khalifah al Mansur, Andalusia. Berikutnya ada nama Zainab seorang ahli penyakit mata dan ilmu bedah pada masa Bani Umayyah.

For the last, sejarah kegemilangan Islam termasuk dalam bidang kedokteran menunjukan bahwa Islam sebagai agama sekaligus sebagai sistem kehidupan yang sempurna, mampu memberikan kesejahteraan bagi seluruh warga negaranya. Sehingga dari sini terciptalah sebuah peradaban yang agung dan mulia. Makanya, yuk ngaji
biar makin melek tentang kehebatan Islam.


***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter -
IG - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09 https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Minggu, 14 Oktober 2018

Perilaku Gay Itu Maksiat Bro




Heboh, sebuah grup Facebook diduga kelompok gay yang anggotanya pelajar SMP dan SMA Garut. Grup FB tersebut disinyalir masih aktif dan beranggotakan kurang lebih 2.500 member. Kasus ini menjadi heboh lantaran dihebohkan warganet Garut khususnya, dan netizen pada umumnya. Padahal grup-grup serupa di kota-kota lain juga tak kalah hebohnya.

Tapi gaes, kalian nggak perlu kepoin terlalu dalam, apalagi sampe masuk ke grup yang begituan. Just you know aja, bahwa ada kasus seperti di kotamu, dan sampe saat ini kasus seperti itu (kelompok gay) kayaknya masih aja berulang, dan belum ada upaya serius untuk menanganinya.

Nah, sayang sejuta sayang, nggak sedikit yang menganggap masalah gay ini bukan sebuah penyimpangan, malah disebutnya sebagai sebuah kewajaran sampe nyangkut hak-hak kemanusiaan. Hadew, ini sudah pemikiran yang keblinger, dan bakal bisa gaswat bin bahaya kalo sampe diadopsi teman-teman kita di sekolah. Yuk ah, kita kudu serius ngebahas masalah penyimpangan gay ini dari sisi perspekif Islam. Cekidot…

Gay Itu Penyimpangan, Bro

TemanS, Gay itu merupakan bagian dari perilaku menyimpang yang biasa disebut LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgander). Keempatnya satu sama lain, saling berkaitan. Namun sayangnya, masih ada beberapa orang, bahkan bisa terbilang publik figure maupun pakar menyatakan ini bukan penyimpangan. Bahkan tak jarang yang justru membelanya. Naudzubillah min dzalik.

Kamu kudu tahu, kalau perilaku LGBT itu bukanlah sesuatu yang fitrah. Kalau fitrah itu artinya diciptakan dari sononya, dari Sang Pencipta. Ada banyak yang berpendapat kalo gay itu semacam genetik, karena gen dan hormon. Jadi menurut aliran ini, seseorang begitu lahir punya bakat untuk jadi gay… WHATS?!?! Waduh-waduh yang berbicara seperti itu bukan orang biasa lho, mereka sering dilabeli pakar, khususnya dokter atau psikiater. Padahal ini adalah pendapat yang keliru.

Jadi gaes, LGBT termasuk gay di dalamnya, adalah satu bentuk penyimpangan perilaku.  Perilaku ini lahir dari gaya hidup liar yang diajarkan sekularisme-liberalisme. Menurut mereka perilaku seks bebas seperti lesbianisme, gay, biseksual, dan transgender itu boleh karena merupakan hak asasi manusia (HAM) dan bagian dari kebebasan individu yang harus dihormati. Gubrag..

You know Friends, perilaku gay bisa terjadi karena kesalahan pendidikan, baik di dalam maupun di luar rumah. Di dalam rumah karena kesalahan perlakuan orangtua kepada anaknya. Misalnya anak cowok sering diperlakukan kayak anak cewek . Trus gay juga bisa terjadi karena lingkungan, pergaulan, bacaan dan tontonan seputar begituan yang terus dikonsumsi. Apalagi dengan berkembangnya berbagai aplikasi internet, komunitas gay ini terus mempromosikan dan menularkan perilaku bejatnya kepada anak baik-baik sekalipun.

Meski suatu penyimpangan, sayangnya yang terjadi di masyarakat gay itu dianggap suatu kewajaran. Kalo sudah dianggap wajar, yang terjadi selanjutnya adalah pembiaran kemaksiatan. Karena pada fakta berikutnya, para pelaku gay itu demonstratif menujukkan gaya hidupnya. Nah, kalo kemaksiatan aja sudah dibiarkan, mau jadi apa negeri kita ini?

Nggak Usah Bawa-Bawa Agama (Islam)?

Perilaku gay tentu nggak bisa dibiarkan begitu saja. Nggak cukup argumentasi yang menyatakan “pelakunya (gay) merasa nyaman, bahagia koq”. Karena kalo dibiarkan ukuran kenyamanan atau kebahagiaan, maka berbagai perilaku yang menurut sekelompok orang nyaman-nyaman aja, belum tentu nyaman bagi yang lain. Apalagi, kalo ini dibawa ke ranah agama (Islam), tentu itu pandangan yang sangat bertentangan, dan perilakunya di masyarakat bisa disebut zarimah (kemaksiatan). Kalo perilaku kaum gay diminta dibiarkan saja, karena pelakunya merasa nyaman dan bahagia, maka lantas apa peran aturan Islam? Mau dibawa kemana aturan-aturan Islam tentang interaksi antar manusia, interaksi antar lawan jenis?

Muncullah akhirnya pernyataan “janganlah bawa-bawa agama (Islam)”. Woy!! Kalo sampe sekarang masih ada yang menyatakan kayak gitu, dan kalo dia orang Islam suruh deh baca QS. Ali Imron ayat 102:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”

Atau juga suruh baca QS. Al Baqarah 208:
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

Seenggaknya dua ayat di atas bisa jadi argumentasi kalo selama kita hidup disuruh sama Allah untuk bertakwa dan memakai aturan-aturan Islam secara kaafah, biar nanti matinya tetap dalam keadaan Islam. Itu kan artinya, selama hidup kita disuruh sama Allah untuk bawa-bawa agama (Islam).


Islam telah melarang perilaku semacam, gay, lesbi, homoseksual ini. Perilaku ini akan menimbulkan kerusakan di tengah masyarakat. Paling fundamentalnya, jika perilaku gay atau kalo orientasi seksual menjadi sesama jenis ini dibiarkan dan bahkan dibikin undang-undangnya, maka bakal merusak tatanan keluarga di masyarakat. So, nggak ada lagi pernikahan alias terjadi desakralisasi institusi pernikahan. Pernikahan sesama jenis dianggap wajar dan jangan dianggap kriminal. Jika perilaku gay atau menikah sesasama jenis ini sudah merajalela, punahlah spesies manusia, dan itu bertentangan dengan kodrat manusia. Akibat lebih parahnya, adalah berarti kalo ini dibiarkan, kita telah mengundang adzab Allah, sebagaimana Allah pernah menimpakan adzab kepada kaum Nabi Luth AS. Naudzubillah min dzalik

Propaganda Haq Vs Bathil
Di sisi yang lain, para pelaku LGBT di mana-mana sudah unjuk diri, mereka sudah deklarasi, bahkan menggelar beberapa event, seperti yang baru ini akan diadakan di Bali, pesta kaum gay dan waria dengan label ‘Mister & Miss Gaya Dewata’. Naudzubillah min dzalik.

Jadi, apakah maksudnya “menghormati” mereka adalah membiarkan acara-acara maksiat seperti itu tetap ada? Apakah yang dimaksud “menghargai hak asasi” adalah mewajarkan grup-grup FB yang berisi kaum gay, lesbi dan sejenisnya? Tentu kalo tujuan dan maksud dari pelaku dan pendukung propaganda kaum gay itu adalah untuk melegalkan kemaksiatan, melegalkan perilaku menyimpang, membolehkan nikah sesama jenis, maka satu kata saja untuk tujuan seperti itu, TOLAK!

Kenapa harus ditolak, karena semu itu adalah perilaku sampah yang hakikatnya adalah mempertuhankan hawa nafsu dan membunuh akal sehat. Bukankah ini suatu kebodohan? Firman Allah SWT (artinya) : “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (daripada binatang ternak itu).(QS Al-Furqaan : 43-44).

Karena itu, sebagai muslim pegangan kita adalah dalil (Qur’an, Hadits), jelas bahwa perilaku LGBT adalah perilaku maksiat, membelanya adalah bathil. Sebagai lawannya, man-teman kudu berani mendakwahkan al-haq (kebenaran).

Sebagai bentuk dakwah, yuk suarakan dan opinikan bahwa gay dan sejenisnya adalah perilaku maksiat, kriminal dan sudah pasti dosa. Inilah dalil-dalil tentang hal tersebut:
Pertama, perilaku sodom, gay dan sejenisnya termasuk fahisyah (keji):
“Sesungguhnya perbuatan yang paling kutakuti akan menimpa umatku adalah perbuatan yang dilakukan oleh kaum Luth”(HR. Ibnu Majah)

“Sungguh dilaknat orang yang melakukan perbuatan seperti yang dilakukan kaum Luth”(HR. Ahmad).

Dan (Kami juga telah mengutus Nabi) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan yang sangat hina itu, yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelum kalian?” [Al-A’raaf: 80].

Perbuatan fahisyah adalah suatu perbuatan yang sangat hina dan mencakup berbagai macam kehinaan serta kerendahan. Hal ini sebagaimana penafsiran ahli tafsir, Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah, ketika beliau menjelaskan fahisyah dalam ayat ini,
“Perbuatan yang sampai pada tingkatan mencakup berbagai macam kehinaan, jika ditinjau dari sisi besarnya dosa dan kehinaannya!”. (Tafsir As-Sa’di)

Kedua, perilaku kaum gay adalah perbuatan musyrifiin (melampaui batas)
“Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kalian ini adalah kaum yang melampaui batas. (QS. Al-A’raaf 81).

Al-Baghawi rahimahullah, menjelaskan makna “musyrifiin (melampui batas)” dalam ayat ini,
“Melampui batasan yang halal (beralih) kepada perkara yang haram”. (Tafsir Al-Baghawi).

Ketiga, perilaku kaum gay adalah termasuk (zarimah) kriminal:
“Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kriminal itu.” (QS. Al-A’raaf: 80).

Sehingga dalam Kitab Subulus Salam dijelaskan mengenai orang yang mengerjakan (homoseks) pekerjaan kaum Luth, tidak diragukan lagi bahwa itu adalah perbuatan dosa besar. Tentang hukumnya ada beberapa pendapat: Pertama, bahwa ia dihukum dengan hukuman zina diqiyaskan (dianalogikan) dengan zina karena sama-sama memasukkan barang haram ke kemaluan yang haram. Ini adalah pendapat Hadawiyah dan jama’ah dari kaum salaf dan khalaf, demikian pula Imam Syafi’i. Kedua, pelaku homoseks dan yang dihomo itu dibunuh semua baik keduanya itu muhshon (sudah pernah nikah dan bersetubuh) atau ghoiru muhshon (belum pernah nikah) karena hadits tersebut. Itu menurut pendapat pendukung dan qaul qadim As-Syafi’i.

Terakhir, sebagai pengingat bagi kita semua friends, bahwa Allah sudah pasti lebih tahu apa yang terbaik dan apa yang tidak baik bagi makhluk-Nya. Allah berfirman,
“Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?” (QS. al-Baqarah: 140).

So, Allah sudah pasti menurunkan syariat untuk kebaikan dan kemashlahatan manusia. Allah memerintahkan dan melarang sesuatu pasti untuk kemaslahatan dan kebaikan manusia. Jadi, nggak usah menggugat aturan dari Allah, kita hanya harus siap tunduk, termasuk larangan tentang perilaku gay. Wallahu’alam bi showab[]

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter -
IG - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09 https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg


Jumat, 12 Oktober 2018

Pedoman Islam Menyikapi Musibah


Oleh: Al Azizy Revolusi

Soeara-peladjar.com - Sebagai agama sempurna, Islam memberikan pedoman lengkap guna menyikapi segala macam peristiwa, baik suka maupun duka. Sabda Nabi SAW, "Sungguh menakjubkan keadaan orang mukmin, karena semua keadaannya baik baginya, dan itu tidak terjadi pada siapa pun kecuali pada orang mukmin. Jika dia mendapat kelapangan dia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika dia ditimpa kesulitan dia bersabar, maka itu pun baik baginya." (HR. Muslim).

Pedoman Islam itu antara lain menyangkut bagaimana menyikapi musibah. Oleh ulama musibah didefinisikan sebagai "segala apa yang dibenci yang terjadi pada manusia" (kullu makruuhin yahullu bi al-insan) (Ibrahim Anis, al-Mu’jam al-Wasith, h. 527). Musibah gempa bumi Lombok dan Palu yang lalu benar-benar telah melahirkan berbagai hal yang dibenci, seperti robohnya rumah, kematian anggota keluarga, rusaknya perabotan, dan sebagainya.

Bagaimana pedoman Islam dalam menyikapi musibah seperti ini? Bagi shahibul musibah (yang terkena musibah) Islam memberikan pedoman sikap antara lain :

1. IMAN DAN RIDHO TERHADAP KETENTUAN (QADAR) ALLAH

Kita wajib beriman bahwa musibah apa pun seperti gempa bumi, banjir, wabah penyakit, sudah ditetapkan Allah SWT dalam Lauhul Mahfuzh. Kita pun wajib menerima ketentuan Allah ini dengan lapang dada (ridho). Allah SWT berfirman :
"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (QS al-Hadid [57] : 22)

Kita pun wajib menerima taqdir Allah ini dengan rela, bukan dengan menggerutu atau malah menghujat Allah SWT. Misalnya dengan berkata,"Ya Allah, mengapa harus aku? Apa dosaku ya Allah?" Hujatan terhadap Allah Azza wa Jalla ini sungguh kurang ajar dan tidak sepantasnya, sebab Allah SWT berfirman :
"Dia [Allah] tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai." (QS al-Anbiyaa` [21] : 23)

2. SABAR MENGHADAPI MUSIBAH

Sabar, menurut Imam Suyuthi dalam Tafsir al-Jalalain, adalah menahan diri terhadap apa-apa yang Anda benci (al-habsu li an-nafsi ‘alaa maa takrahu). Sikap inilah yang wajib kita miliki saat kita menghadapi musibah. Selain itu, disunnahkan ketika terjadi musibah, kita mengucapkan kalimat istirja’ (Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun ). Allah SWT berfirman :

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" . (QS al-Baqarah [2] : 155-156)

Dengan demikian, sabarlah ! Jangan sampai kita meninggalkan sikap sabar dengan berputus asa atau berprasangka buruk seakan Allah tidak akan memberikan kita kebaikan di masa depan. Ingat, putus asa adalah su`uzh-zhann billah (berburuk sangka kepada Allah) ! Su`uzh-zhann kepada manusia saja tidak boleh, apalagi kepada Allah.

Memang, orang yang tertimpa musibah mudah sekali terjerumus ke dalam sikap putus asa (QS 30 : 36). Namun Allah SWT menegaskan, sikap itu adalah sikap kufur, sebagaimana firman-Nya :
"Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (QS Yusuf [12] : 87)

3. MENGETAHUI HIKMAH DI BALIK MUSIBAH

Seorang muslim yang mengetahui hikmah (rahasia) di balik musibah, akan memiliki ketangguhan mental yang sempurna. Berbeda dengan orang yang hanya memahami musibah secara dangkal hanya melihat lahiriahnya saja. Mentalnya akan sangat lemah dan ringkih, mudah tergoncang oleh sedikit saja cobaan duniawi.

Hikmah musibah antara lain diampuninya dosa-dosa. Sabda Rasulullah SAW :
"Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah tertusuk duri atau lebih dari itu, kecuali dengannya Allah akan menghapus sebagian dosanya." (HR Bukhari dan Muslim)

Muslim yang mati tertimpa bangunan atau tembok akibat gempa, tergolong orang yang mati syahid. Sabda Nabi SAW :
"Orang-orang yang mati syahid itu ada lima golongan; (1) orang yang terkena wabah penyakit tha’un, (2) orang yang terkena penyakit perut (disentri, kolera, dsb), (3) orang yang tenggelam, (4) orang yang tertimpa tembok/bangunan, dan (5) orang yang mati syahid dalam perang di jalan Allah." (HR Bukhari dan Muslim)

"Akan diampuni bagi orang yang mati syahid setiap-tiap dosanya, kecuali utang." (HR Muslim)

Hikmah lainnya ialah, jika anak-anak muslim meninggal, kelak mereka akan masuk surga. Sabda Nabi SAW :
"Anak-anak kaum muslimin [yang meninggal] akan masuk ke dalam surga." (HR Ahmad)

4. TETAP BERIKHTIAR

Maksud ikhtiar, ialah tetap melakukan berbagai usaha untuk memperbaiki keadaan dan menghindarkan diri dari bahaya-bahaya yang muncul akibat musibah. Jadi kita tidak diam saja, atau pasrah berpangku tangan menunggu bantuan datang.

Beriman kepada ketentuan Allah tidaklah berarti kita hanya diam termenung meratapi nasib, tanpa berupaya mengubah apa yang ada pada diri kita. Allah SWT berfirman :
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS ar-Ra’du [13] : 11)

Ketika terjadi wabah penyakit di Syam, Umar bin Khattab segera berupaya keluar dari negeri tersebut. Ketika ditanya,"Apakah kamu hendak lari dari taqdir Allah?" maka Umar menjawab,"Ya, aku lari dari taqdir Allah untuk menuju taqdir Allah yang lain."

Rasulullah SAW pun memberi petunjuk bahwa segala bahaya (madharat) wajib untuk dihilangkan. Misalnya ketiadaan logistik, tempat tinggal, masjid, sekolah, dan sebagainya. Nabi SAW bersabda,"Tidak boleh menimbulkan bahaya bagi diri sendiri dan bahaya bagi orang lain." (HR Ibnu Majah)

5. MEMPERBANYAK BERDOA DAN BERDZIKIR

Dianjurkan memperbanyak doa dan dzikir bagi orang yang tertimpa musibah. Orang yang mau berdoa dan berdzikir lebih mulia di sisi Allah daripada orang yang tidak mau atau malas berdoa dan berdizikir. Rasululah SAW mengajarkan doa bagi orang yang tertimpa musibah : "Allahumma jurnii fii mushiibatii wa akhluf lii khairan minhaa (Ya Allah, berilah pahala dalam musibahku ini, dan berilah ganti bagiku yang lebih baik daripadanya.) (HR Muslim)

Dzikir akan dapat menenteramkan hati orang yang sedang gelisah atau stress. Allah SWT berfirman :
"Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS ar-Ra’du [13] : 28)

Dzikir yang dianjurkan misalnya bacaan istighfar, "Astaghfirullahal ‘azhiem". Sabda Nabi SAW :
"Barangsiapa memperbanyak istighfar, maka Allah akan membebaskannya dari kesedihan, akan memberinya jalan keluar bagi kesempitannya, dan akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya." (HR. Abu Dawud).

6. BERTAUBAT

Tiada seorang hamba pun yang ditimpa musibah, melainkan itu akibat dari dosa yang diperbuatnya. Maka sudah seharusnya, dia bertaubat nasuha kepada Allah SWT. Orang yang tak mau bertaubat setelah tertimpa musibah, adalah orang sombong dan sesat. Allah SWT berfirman :
"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar." (QS asy-Syuura [42] : 30)

Sabda Nabi SAW "Setiap anak Adam memiliki kesalahan (dosa). Dan sebaik-baik orang yang bersalah, adalah orang yang bertaubat." (HR at-Tirmidzi).

Bertaubat nasuha rukunnya ada 3 (tiga). Pertama, menyesali dosa yang telah dikerjakan. Kedua, berhenti dari perbuatan dosanya itu. Ketiga, ber-azam (bertekad kuat) tidak akan mengulangi dosanya lagi di masa datang. Jika dosanya menyangkut hubungan antar manusia, misalnya belum membayar utang, pernah menggunjing seseorang, pernah menyakiti perasaan orang, dan sebagainya, maka rukun taubat ditambah satu lagi, yaitu menyelesaikan urusan sesama manusia dan meminta maaf.

7. TETAP ISTIQOMAH PADA ISLAM

Dalam setiap musibah, selalu ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkannya untuk tujuan jahat. Misalkan saja upaya kotor berupa Pemurtadan. Caranya adalah dengan memberikan bantuan logistik, medis, uang, rumah, dan sebagainya.
Tapi semuanya itu tidaklah diberikan dengan tulus, melainkan ada maksud keji di baliknya. Ujung-ujungnya, orang-orang kafir itu ingin sekali memurtadkan orang Islam meninggalkan agamanya. Na`uzhu billah min dzalik.

Di sinilah seorang muslim dituntut untuk bersikap istiqamah, yaitu konsisten di atas satu jalan dengan mengamalkan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan (mulazamah al-thariq bi fi'li al-wajibat wa tarki al-manhiyyat). Allah SWT mewajibkan kita istiqamah :

"Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan" (QS Huud [11] : 112)

Muslim yang murtad (keluar dari agama Islam) dan menjadi kafir, sungguh telah tertipu mentah-mentah dunia akhirat. Allah SWT berfirman :
"Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya." (QS al-Baqarah [2] : 217).

Karena itu wajiblah bagi kita untuk terus istiqamah mempertahankan keislaman kita. Jangan mudah tergiur oleh bujuk rayu setan berbentuk manusia itu. Jangan mati kecuali tetap memegang teguh agama Islam. Allah SWT berfirman :
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS Ali Imraan [3] : 102)

Nah, Demikianlah atara lain pedoman Islam dalam menyikapi musibah. Khususnya bagi shahibul musibah (yang terkena musibah). Dengan berpegang teguh dengan pedoman-pedoman Islam di atas, mudah-mudahan Allah SWT akan memberikan rahmat, hidayah, dan hinayah-Nya kepada kita semua. Amin ! (tor)

Sumber: http://www.soeara-peladjar.com/2018/10/pedoman-islam-menyikapi-musibah.html

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - 
IG - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09 https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Senin, 08 Oktober 2018

Ujian Oh Ujian




Innalillaahi wa inna ilaihi roji’un. Temans, Pertiwi kembali bersedih. Tepat hari Jum’at 28 September 2018 Provinsi Sulawesi Tengah tepatnya Kota Donggala diguncang gempa berkekuatan 7,4 skala richter, disusul gelombang tsunami yang menyapu hampir seluruh rumah dan bangunan di Kota Palu. Belum usai, tanah yang mengalami likuifaksi dimana tanah menggembur dan mencair sehingga menelan bangunan dan semua yang ada di atasnya. Peristiwa yang memakan ribuan korban meninggal dunia ini tentu mengejutkan kita semua setelah beberapa waktu lalu Lombok diguncang gempa bumi. Akibat peristiwa ini Kota Palu seolah menjadi kota mati, sampai saat ini pencarian korban tewas masih terus dilakukan begitupun evakuasi terhadap korban selamat. Keprihatinan tentu tidaklah cukup untuk menghadapi bencana alam ini. Bantuan dari semua pihak tentu sangat dinanti oleh para korban baik itu berupa materi dan moril termasuk pendampingan pasca bencana, karena sangat bisa jadi di antara mereka ada yang mengalami trauma. Trauma karna menyaksikan peristiwa yang amat dahsyat atau trauma kesedihan mendalam karna kehilangan segala yang dimiliki termasuk sanak keluarga yang dicintai. Tentu ngga ada seorang pun yang mau mengalami ini, namun ada Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu. “Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki”. TQS.  Hud: 107. Dan setiap apa yang terjadi, Allah SWT pasti menginginkan agar kita sebagai hambaNya mencari hikmah. “Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)”. TQS. Al Baqarah: 269

Antara Remedial dan Ujian Naik Kelas
Buat kamu para student, selama kamu belum dinyatakan lulus tentu belajar dan ujian sudah jadi “kudapan” yang mau ngga mau harus dijadikan favorit. Aneh rasanya jika ada seorang yang mengaku pelajar tapi anti belajar, walhasil ketika ujian tiba bingung harus mengisi atau menjawab apa, karna ternyata kapasitas memori di otak masih full alias jarang diisi. Kalaupun terisi dan ter-save as paling hal-hal yang unfaedah seperti lirik lagu, alur cerita film atau drama korea, atau kebiasaan dan kesukaan dari artis idola. Haduhh, yang kaya gini jangan penuh-penuhin otak kamu deh.. segera delete abis itu refresh atau format ulang. Sayang banget punya mesin pintar dan canggih alias otak tapi ngga digunakan dan dimanfaatkan dengan benar. Komputer pentium secanggih apapun juga kalah hebat sama otak kamu. So, use it or you will lose it.

Kembali ke belajar, remedial dan ujian naik kelas. Kamu pernah remed? Karna nilai ulangan kamu kurang akhirnya kamu harus terima kalo nama kamu disebutin untuk remed atau perbaikan. Banyak faktor kenapa kamu bisa diremed, bisa karna emang ngga belajar, atau pas ngerjain ulangan lagi kurang sehat atau bahkan bisa jadi kamu sudah belajar dengan baik trus kondisi badan juga fit tapi ternyata malah ikutan diremed juga. Kalo yang terakhir bisa buktiin kalo belajar itu adalah bagian dari usaha sedangkan hasil itu Allah yang tentukan. Man proposes God disposes. Eits, tapi bukan berarti kamu melipat tangan dan menopang dagu tanpa berusaha, ingat Temans apapun yang kita lakukan bernilai di mata Allah selama yang kita lakukan benar. Misal, meski diremed tapi pas ulangan kita jujur ngerjain sendiri itu yang justu nilainya gede banget di hadapan Allah dibanding nilainya gede di mata guru tapi hasil nyontek, kalo yang ini udah pasti nilainya NOL besar di hadapan Allah. Ayo, pilih mana?? Yupp... Teman Surga kaya kamu pasti pilih dapet nilai bagus, dapet pahala kebaikan dari Allah karna jujur ngerjainnya trus dibanggain sama ortu deh karna punya anak yang sholih udah gitu smart lagi.

Ujian Cinta Hakiki
Friends, sejatinya saat kita remed banyak kebaikan yang kita dapat selain perbaikan nilai, kita juga jadi bisa belajar dan bisa lebih memahami pelajaran, bisa belajar ikhlas karna meski usaha yang kita lakukan sudah baik dan benar tapi tetap diremed, bisa jadi juga karna Allah yang mau menguji siapa tahu kalo kita dikasih nilai bagus kita malah jadi sombong dan membanggakan diri yang akhirnya gagal dapetin nilai pahala dari Allah. Kembali semua yang terjadi pasti ada hikmahnya. Sama seperti ujian kehidupan yang Allah berikan tidak mungkin kalau tidak ada maksud dan tujuan. Ada ujian kehidupan yang ringan ada juga yang berat. Kaya kamu lagi ulangan tengah semester sama ujian kenaikan kelas atau bahkan ujian kelulusan tentu beda kan bobot soal ujiannya. Intinya Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’aha, Allah tidak akan membebani seseorang di luar batas kemampuannya. QS. Al Baqarah: 286

Seperti apa yang menimpa saudara-saudara kita saat ini di Kota Palu, Donggala dan sekitarnya. Bagi korban meninggal dunia kita doakan semoga Allah ampuni kesalahannya dan husnul khotimah, buat yang masih hidup atau selamat tentu suatu kesyukuran karna bagaimanapun itu artinya Allah masih memberi kesempatan. Kesempatan memperbaiki hidup dengan tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan dan kesempatan agar semakin menambah amal kebaikan. Sedikit merefleksi atas apa yang terjadi di Sulawesi Tengah, gempa bumi yang begitu dahsyat ternyata bukanlah semata karna kehendak alam, bisa jadi kita (manusia) dengan sengaja atau tidak melakukan kerusakan di bumi ini. “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. TQS. Ar Rum: 41. Kerusakan bukan hanya soal kita ngerusak alam misalnya bakar hutan, buang sampah ke kali (sungai), tapi kerusakan pun bisa karna kemaksiatan yang dilakukan manusia dengan melakukan apa yang Allah larang dan benci misalnya pacaran, pergaulan bebas, perilaku LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) dan kemaksiatan lainnya.

Suatu hari di Madinah terjadi gempa bumi. Rasulullaah SAW lalu meletakkan kedua tangannya di atas tanah seraya berkata “Tenanglah.. belum datang saatnya bagimu”, lalu Nabi menoleh ke arah para sahabat dan berkata, “sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian, maka jawablah (buatlah Allah ridho kepada kalian). Umar bin Khattab RA mengingat kejadian itu dan ketika terjadi gempa bumi, Ia berkata kepada penduduk Madinah, “Wahai manusia, apa ini? Alangkah cepatnya, apa yang kalian kerjakan (dari maksiat kepada Allah)? Andai gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi”. Umar pun mengingatkan kaum muslimin agar menjauhi maksiat dan segera kembali kepada Allah. Ibnu Qayyim al Jauziyyah rahimahullloh berkata “Allah SWT mengizinkan untuknya maksudnya bumi kadang-kadang untuk bernafas, lalu muncullah gempa besar padanya dari situlah timbul rasa takut, taubat, berhenti dari kemaksiatan, merendahkan diri kepadaNya dan penyesalan pada diri hamba-hambaNya, sebagaimana yang dikatakan ulama salaf (terdahulu) ketika terjadi gempa bumi, sesungguhnya Rabb kalian menginginkan agar kalian bertaubat”.
Seperti halnya remedial, ujian kehidupan yang kita alami adalah agar kita evaluasi kesalahan yang kita lakukan untuk selanjutnya kita perbaiki dengan tidak mengulangi kesalahan tersebut dan menggantinya dengan melakukan amal sholih. Yang harus selalu kita ingat nih ya TemanS, selama masih ada yang menegur kita itu artinya kita ini masih disayang. Coba aja kalo kita misal ngga disiplin di sekolah trus ngga ada yang negur, pasti kita akan terbiasa dengan ketidakdisplinan yang pada akhirnya membuat hidup kita berantakan plus masa depan jadi suram. Hiii... ngga mau dong kaan? “Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kesulitan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. TQS. An Nisa: 111.

Satali tiga uang, saat Allah menegur kita, memperingatkan kita mungkin melalui kesedihan, kehilangan, atau mungkin diberikan rasa sakit, itu artinya Allah sayang banget sama kita, Allah ngga pengen kita terus menerus berada dalam kesalahan yang tentu akan merugikan diri sendiri. “Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridho maka ia akan meraih ridho Allah. Barangsiapa yang tidak suka maka Allah pun akan murka” (HR. Ibnu Majah). Intinya, saat Allah tegur harapannya yang ditegur bukan hanya menoleh tapi juga kembali dan mendekat kepada Allah bukan malah berpaling lari menjauh dari peringatan Allah. “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". [TQS. Thaha: 124 ]

So, for you...brothers and sisters.. jangan pernah mengaku diri seorang pelajar dari sebuah sekolah kalo kita ngga mau diuji sampai kita naik kelas dan berhasil lulus dengan predikat istimewa. Jangan mengaku diri seorang mukmin kalo kita belum diuji “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?..”. TQS. Al Ankabut: 2. Percaya deh, tidak ada yang ingin Allah berikan melalui ujian selain bertambahnya kebaikan dan menaikan derajat kita, ibaratnya naik kelas. Nah nanti pas kelulusan di akhir masa kehidupan baru deh dapet predikat bertaqwa setelah perhitungan amal selama di dunia. Ujian itu tanda cinta buat ngebuktiin kalo cintanya kepada Allah bukan cinta gombal tapi cinta hakiki, yang dibuktikan dengan melakukan amal sholih.

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://mobile.twitter.com/koreapi1453?s=09
IG - https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Senin, 01 Oktober 2018

Ayah Ibu, Pemegang Tiket Surgaku

Namanya manusia, normalnya nggak ada yang awet muda. Seiring bertambahnya usia, pasti akan sampai pada usia lanjut. Dan dari tahun ke tahun, manusia yang memasuki usia lanjut terus bertambah. Populasi orang berusia di atas 65 tahun sedunia sekarang ada sekitar 617 juta orang.
Sementara di Indonesia, berdasarkan sensus penduduk pada tahun 2010, jumlah lanjut usia di Indonesia 18,1 juta jiwa (7,6 persen dari total penduduk). Lalu pada tahun 2014 jumlah lansia menjadi 18,781 juta jiwa dan diperkirakan pada tahun 2025 jumlahnya akan mencapai 36 juta jiwa.
Perhatian masyarakat dunia terhadap kaum lansia yang mengalami penurunan produktifitas dalam aktifitas sehari-hari, melahirkan penetapan Hari Lanjut Usia Internasional (International Day of Older Persons) dalam Sidang Umum PBB setiap 1 Oktober berdasarkan resolusi No. 45/106, tanggal 14 Desember 1990.
Temans, bisa jadi dari banyaknya lansia yang ada di Indonesia salah duanya adalah orang tua atau kakek nenek kita. Bagaimana perhatian kita selama ini pada mereka?

Orang Tua Dan Barang Rongsokan
Ubasuteyama (Gunung Pembuangan Nenek) adalah cerita rakyat Jepang bedasarkan legenda tradisi membuang orang yang sudah tua di gunung. Kisahnya tentang anak laki-laki yang harus membuang ibunya yang sudah tua ke gunung untuk mengurangi jumlah mulut yang harus diberi makan.
Pada suatu hari, ada seorang pemuda yang berniat membuang ibunya ke hutan, karena si ibu telah lumpuh dan agak pikun. Si pemuda tampak bergegas menyusuri hutan sambil menggendong ibunya. Si ibu yang kelihatan tidak berdaya berusaha menggapai ranting pohon yang bisa diraihnya, lalu mematahkannya dan menaburkannya di sepanjang jalan yang mereka lalui.
Sesampai di dalam hutan yang sangat lebat, si anak menurunkan ibu tersebut dan mengucapkan kata perpisahan sambil berusaha menahan sedih karena ternyata dia tidak menyangka tega melakukan perbuatan ini terhadap ibunya.
Justru si Ibu sangat tegar… dalam senyumnya ia berkata “Anak ku, ibu sangat menyayangimu. Sejak kau kecil sampai dawasa, Ibu selalu merawatmu dengan segenap cintaku. Bahkan sampai hari ini, rasa sayangku tidak berkurang sedikit pun…tadi ibu sudah menandai sepanjang jalan yang kita lalui dengan ranting-ranting kayu. Ibu takut kau tersesat….ikutilah tanda itu agar kau selamat sampai di rumah.”
Setelah mendengar kata-kata tersebut, si anak menangis dengan sangat keras, kemudian langsung memeluk ibunya dan kembali menggendongnya untuk membawa ibu pulang ke rumah. Pemuda tersebut akhirnya merawat ibu yang sangat mengasihinya sampai ibunya meninggal.
Legenda Ubasuteyama sudah tak berlaku lagi saat ini. Meski begitu,  pendangan negatif terhadap lansia masih sering kita temui. Di sebagian besar negara khususnya negara maju, lansia tidak lagi dianggap sebagai orang yang harus dihormati dan dihargai. Lansia cenderung dianggap menjadi beban hidup, pemboros uang dan menambah beban ekonomi keluarga yang menanggungnya.
Di Korea misalnya, orang percaya bahwa manusia diberi Tuhan jangka hidup selama 60 tahun. Orang yang hidup lebih lama berarti mengambil umur orang lain. Lansia yang hidup hingga usia 60 tahun ke atas akan dianggap sebagai orang yang mengambil jatah umur orang lain dan mereka akan cenderung diabaikan dan tidak lagi dihormati.
Di Amerika Serikat, usia tua adalah peranan yang tidak banyak diinginkan. Sebagian besar lansia di Amerika tinggal di panti-panti jompo dan jarang sekali mereka yang ikut pada anaknya. Hal ini disebabkan budaya Amerika sendiri yang mengharuskan anak yang usianya sudah menginjak 18 tahun untuk hidup mandiri dan bebas dari orangtua. Sehingga pada akhirnya anak tersebut merasa tidak bertanggung jawab terhadap orangtua mereka lagi. Ngeri!
Tradisi Ubasuteyama dan pengabaian anak terhadap orangtua mengingatkan kita terhadap barang rongsokan. Ya, namanya barang saat masih berfungsi kita jaga baik-baik. Kita rawat sepenuh hati. Seiring perjalanan waktu dan pemakaian, tuh barang mulai bermasalah. Sudah tak berfungsi. Akhirnya jadi barang rongsokan. Tempatnya di gudang atau halaman belakang. Boro-boro kita rawat. Kita tengok juga pas lagi ada tukang loak yang nyari untuk didaur ulang.
Apa bedanya sikap kita terhadap barang rongsokan dengan perilaku abai terhadap orang tua? Karena usianya yang lanjut, produktifitas menurun, sakit-sakitan, dan tak mandiri lagi, dianggap menjadi beban keluarga. Wajahnya yang keriput, rambutnya yang putih, giginya yang ompong, ingatannya melemah, pendengarannya yang berkurang, ngobrol gak nyambung, dianggap merusak pandangan mata kalo ada di tengah keluarga. Akhirnya, ada yang ‘mengasingkan’ orangtuanya di kamar belakang yang minim pengawasan, di ruangan sempit yang terpisah dari bangunan rumah utama, atau diungsikan ke panti jompo. Sedih. Seperti itukah perlakuan kita?

Muliakan Orangtua dan Rawatlah Ia Hingga Akhir Hayat
Sebagai seorang muslim, penghormatan kita terhadap orang tua bukan semata karena tradisi atau belas kasihan. Bukan juga sebagai bentuk solidaritas hari lanjut usia sedunia. Tapi karena perintah Allah SWT. Agar bisa menimbun pahala dan mengurangi dosa. Sehingga dapat tiket masuk surga dan dijauhkan dari neraka. Itu aja. Nggak ada niatan yang lain.
Dari Abu Umamah yang meriwayatkan bahwa seorang laki-laki mendatangi Nabi saw dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah hak kedua orangtua atas anak-anaknya?” Maka Rasulullah saw menjawab: “Mereka adalah (jalanmu menuju) surga dan neraka.”
Rasulullah saw pernah mencela seseorang yang tidak dapat masuk surga karena tidak berbuat baik kepada orang tuanya. “Sungguh hina, sungguh hina, kemudian sungguh hina, orang yang mendapatkan salah seorang atau kedua orangtuanya lanjut usia di sisinya (semasa hidupnya), namun ia (orangtuanya) tidak memasukkannya ke Surga.” (HR: Ahmad).
Secara gamblang Allah menyebutkan dalam firman-Nya bahwa kedudukan orangtua sangat mulia. Bahkan karena begitu mulianya, Allah langsung memandu umat Islam jangan sampai salah dalam bergaul untuk memuliakan orangtua, lebih-lebih di usia mereka yang sudah lanjut. Berkata “ah” saja kepada orangtua, Allah sangat melarangnya.
 “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” "Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah : "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil."  (QS. Al- Isra’ [17]: 23 - 24).
Mujahid, salah seorang ahli tafsir al-Qur’an yang terkemuka dari generasi Tabi’in pernah menyatakan: “Jika kedua orangtua telah berusia lanjut, sehingga mereka tidak bisa buang air kecil maupun buang air besar sendiri, maka janganlah merasa jijik atau mengatakan ucapan “ah” kepada mereka berdua. Namun buanglah air kencing dan kotorannya, sebagaimana yang pernah mereka lakukan ketika kia masih kecil.”
Diriwayatkan bahwa suatu kali, seorang bertanya kepada Sa’id bin al-Musayyab ra, ‘Aku paham seluruh ayat yang berkenaan dengan kewajiban berbuat baik dan bersikap hormat terhadap orangtua, kecuali penggalan kalimat yang berbunyi ‘rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua’. Sa’id menjawab, “Itu berarti bahwa engkau harus memperlakukan mereka sebagaimana seorang pelayan memperlakukan majikannya.”
Jasa orang tua merawat kita sewaktu kecil hingga dewasa lalu berkeluarga, nggak akan pernah terbayarkan oleh bakti kita pada mereka berdua. Karena itu, merawat orangtua apalagi yang sudah lanjut usia, jangan pake itung-itungan. Waktu, tenaga, harta, dan pikiran kita untuk berbuat baik pada keduanya akan menjadi investasi kebaikan bagi keluarga kita kelak. Rasulullah saw mengaitkannya dengan kebaikan anak-anak kita terhadap diri kita saat menjadi orang tua.
Abdullan bin Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Berbaktilah kepada orangtuamu, maka anak-anakmu (pun) akan berbakti kepadamu. Dan maafkanlah mereka, maka istri-istrimuu akan memaafkanmu”.
Terlebih lagi, Allah SWT akan menjamin bakti anak kepada orangtuanya dengan kemudahan yang bakal ia dapatkan saat kematiannya. Jabir meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa mendapati tiga perkara dalam dirinya, maka niscaya Allah akan memudahkan saat kematiannya dan memasukkannya ke surga, yaitu bersikap lemah lembut kepada kaum dhuafa, berbakti kepada orangtua, dan berbuat baik kepada hamba sahaya.” (HR. Tirmidzi)
Dalam Islam, nggak dikenal panti jompo. Karena Islam mengajarkan sungguh kerugian besar bila ada seorang Muslim yang menjumpai orangtuanya lanjut usia tetapi tidak merawatnya dengan tangannya sendiri, lebih mementingkan dirinya sendiri, mengkhawatirkan masa depannya sendiri, dan malah justru menitipkannya ke panti jompo, na’udzubillahi min dzalik.
Temans, tak ada alasan bagi kita untuk bersikap durhaka pada orangtua. Sebaliknya, kita wajib menempatkan mereka dalam kedudukan yang terhormat sehingga mereka merasa nyaman dan tentram berada di tengah anak-cucunya. Jika orangtua meminta bantuan, tanpa tapi tanpa nanti, sesegera mungkin dipenuhi. Jika ada perlakuannya yang menurut kita nggak menyenangkan, jangan diumbar di sosial media. Simpan dalam hati dan doakan yang terbaik untuk keduanya.
Bicaralah dengan lemah lembut pada keduanya. Jika ada perbedaan pendapat, nggak usah ngegas yang bisa bikin sakit hatinya. Tetap santun saat menjelaskan duduk pekaranya. Nggak pake bete saat menemaninya belanja. Tetap bahagia ketika diminta belanja keperluan sehari-hari. Tetap tersenyum saat dapat giliran beres-beres rumah. Berikan layanan terbaik bak pelayanan bintang lima untuk keduanya.
Dan kalo kamu sampai pada tulisan ini, coba temui mereka, berikan pelukan hangat dan ungkapkan rasa sayangmu. Kalo berjauhan, hubungi mereka, sampaikan rasa sayang dan rindumu. Bahagia mereka, bahagia kita. Ridho mereka, tiket kita ke surga.
So, tunggu apalagi, mari kita muliakan kedua orangtua kita. Niscaya surga akan berhias menanti dan menyambut kehadiran kita semua. Ayah Ibu, I Love You Full!


***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://mobile.twitter.com/koreapi1453?s=09
IG - https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg