Selasa, 31 Juli 2018

ZONASI JANGAN BIKIN HIBERNASI

Beberapa waktu lalu dunia medsos dihebohkan oleh aksi remaja bernama Bowo Alpenliebe yang viral dengan tik tok-nya dan Nurrani yang viral karna “syantik”-nya. Bowo dan Nurrani effects pun menjangkiti para remaja yang krisis identitas. Ngga beres di situ, jagat instagram pun ramai oleh aksi challenge yang wush.. bagai ditiup angin tornado ngga berapa lama challenge itu pun viral di Indonesia. Aksi yang dinamakan kiki challenge atau in my feelings challenge ini pertama kali dipopulerkan oleh kreator asal Amerika Serikat. Aksi ini dilakukan oleh seseorang yang keluar dari mobil lalu berjoget beriringan dengan mobil yang sedang melaju perlahan mengikuti irama lagu. Namun, aksi yang kebanyakan dilakukan di jalan raya ini tak sedikit yang malah mengundang bahaya seperti kecelakaan. Hadoohh.. kalo yang beginian aja cepet banget viral dan ditirunya. Padahal, kalo diliat ngga ada faedahnya juga. Yaahh.. alasan mereka sih katanya buat seru seruan. Come on guys, ngga semua juga yang lagi viral langsung kamu tiru mentah-mentah, apalagi kalo diliat gerakan yang ditiru kaum perempuan ini memperlihatkan lekuk tubuhnya. Aurat sist.. aurat...

Zonasi yang Membatasi
Kenapa yah, sesuatu yang sebenarnya gak guna bahkan lebay lebih cepat hits dan viralnya dibanding sesuatu yang kasih inspirasi positif? Segitu darurat-kah krisis identitas generasi muda di negeri ini? Dan se-instan itukah cara berpikir mereka? Di kala remaja lain harus bertarung nyawa hanya untuk sekedar menimba ilmu, melintasi jembatan gantung yang sudah roboh bahkan harus berjuang menyebrangi sungai yang terkadang deras. Tapi itu semua tak menyurutkan semangat mereka untuk menerangi kehidupan masa depanya dari kondisi mereka yang masih papa. Inilah potret yang tak seimbang, akibat pemerintah yang transaksional, di mana rakyat dan pemimpin bertransaksi layaknya penjual dan pembeli. What the maksud? Gini loh TemanS, for your information, di dalam Islam Pemimpin itu wajib mengurusi urusan umat dengan baik sesuai tuntunan dari Allah. Melayani segala kebutuhan hidup seluruh masyarakatnya dengan memberikan yang terbaik. And you know what, Negara ngga hanya memenuhi kebutuhan mendasar berupa sandang, pangan, papan aja loh tapi kesehatan termasuk pendidikan juga menjadi hal mendasar yang wajib Negara fasilitasi tanpa perlu kompensasi apapun dari rakyatnya alias free. Koq bisa free? Duit dari mana negara pasti pajaknya guede ya??

Eitss... it’s big wrong friends, justru beda sama negara kapitalis yang jadiin pajak sebagai sumber pendapatan utamanya kalo dalam Islam pendapatan utama negara dari pengelolaan sumber daya alam. Makanya Islam ngga nge-bolehin tuh siapapun memiliki sumber daya alam secara pribadi. Ngga kayak sekarang yah, tambang minyak dan gas, batu bara, emas, sumber mata air, gunung, laut dan SDA lainnya malah dimiliki dan dikuasa perorangan, sebagian besarnya dimiliki asing. So, that’s why hanya untuk sekedar menyambung hidup saja kita harus bayar (mahal). Apalagi buat sekolah, buat makan aja sulit. Ngga berlebihan dund kalo kita bilang negeri ini masih punya PR besar untuk mensejahterakan rakyatnya termasuk memberikan pendidikan terbaik dan berkualitas.
Ups, jadi ngomongin pendidikan gini nih. Hhmm,, ngga apa-apa lah yaa.. secara yang lagi baca buletin keren ini pasti kamu-kamu yang lagi nikmatin “bangku sekolahan” kan? Yah kalo pun ngga, siapapun anda pasti anda adalah orang yang peduli terhadap generasi. Ya kan, ya kaaan??. By the way, ngomongin pendidikan meski sekarang bukan hari pendidikan. Sepertinya Negeri ini belum punya sistem pendidikan yang ajeg (tetap}. Ganti menteri ganti pula sistemnya. Berubah terus mencari konsep pendidikan yang ideal, karna perubahan demi perubahan belum juga berbanding lurus dengan hasil yang diharapkan. Gimana nih, kamu kamu yang jadi objek pendidikan ngerasain gak? Mungkin karna ini juga yah banyak lahir generasi galau hehehe..

Oiya TemanS, tau gak kalo sekarang ini dunia pendidikan lagi ramai dengan pro dan kontra dari kebijakan yang diterapkan Pemerintah melalui Menteri Pendidikan Bpk. Muhajir Effendi? Kebijakan tersebut menetapkan sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) walaupun hal ini sudah diwacanakan dan diterapkan dari dua tahun lalu. Menurutnya kebijakan ini diambil Pemerintah dalam rangka peningkatan mutu dan akses pendidikan bagi semua kalangan. Wait..wait.. kayanya masih ada yang mengernyitkan dahi nih... belum paham apa itu sistem zonasi. Jadi gini lho.. Teman Surga yang sholih dan sholihah.  Kalau sebelumnya penerimaan siswa baru berdasarkan Nilai UN, dan ini katanya menimbulkan ketidakmerataan pendidikan di mana murid-murid pintar bertumpuk di satu sekolah unggulan makanya muncul deh sekolah favorit dan sekolah biasa (ngga favorit). Nah.. dari sini akhirnya Pemerintah men-zonasi siswa yang mendaftar menjadi siswa atau peserta didik baru dengan melihat jarak terdekat antara sekolah dengan tempat tinggal siswa tersebut.

Ayooo... menurut TemanS-TemanS gimana nih dengan sistem zonasi yang diterapkan Pemerintah ini? Di satu sisi maksud Pemerintah ingin mewujudkan pendidikan yang berkeadilan namun masih ada yang bersuara bahwa cara ini ngga adil. Ngga adilnya? Ya..itu, siapa sih yang ngga mau bersekolah di sekolah yang unggulan apalagi kalo dia juga berprestasi tapi ternyata siswa ini terpaksa harus bersekolah di sekolah yang biasa dengan fasilitas yang masih minim hanya karna di dekat rumahnya ngga ada sekolah yang terkategori unggulan. Dan, berkebalikan jika ada siswa yang biasa aja dalam akademiknya bahkan cenderung bersekolah hanya untuk formalitas doang, bahkan keinginan punya prestasi juga ngga tapi hanya karna rumahnya berdekatan dengan zona sekolah yang unggulan maka dia bisa melenggang mulus masuk sekolah tersebut. Hal ini yang pada akhirnya banyak orang tua dan siswa menjadi resah dan gelisah menunggu di sini.. eh, kok jadi malah nyanyi hehe.. tapi beneran resah loh, gimana orang tua ngga resah kalo anaknya sampe ada yang mau bunuh diri karna ngga diterima di sekolah favorit yang dia inginkan. Waduh..waduhh.. don’t try this ya TemanS.. yah, mungkin Pemerintah melalui Departemen Pendidikan perlu mengevaluasi sistem ini selain akhirnya banyak muncul juga kecurangan-kecurangan yang tetap saja terjadi. Apalagi sampe memunculkan pikiran yang keliru dari para siswa, “ngapain belajar dan dapet nilai bagus kalo akhirnya masuk sekolah yang bukan unggulan”. Cup..cup..cup.. jangan punya pikiran gitu yaa TemanS.

Hmm.. seandainya sebagai anak bangsa boleh bersuara nih, kalo maksud hati Pak Menteri menghilangkan stigma sekolah favorit (unggulan) dan sekolah biasa biar membaur anak-anak yang pinter sama yang biasa-biasa aja. Gimana kalau Pemerintah membangun terlebih dulu sekolah negeri dengan kurikulum dan guru (pendididk) yang berkualitas plus fasilitas teratas dan tentunya gratisss? Hhmm.. sampe sini mungkin Pemerintah agak tarik nafas dulu deh, secara konsep demi konsep yang diberlakukan masih belum jua menemukan kurikulum ideal nan berkualitas buktinya masih lebih banyak generasi yang krisis identitas lho pak dibanding yang smart dan beridentitas. Kalaupun mungkin sebenarnya ngga sedikit remaja yang berkualitas tapi mereka ngga lebih di-viralkan dibandingkan sama yang alay-alay. Hyks.. sedihnyaa..

Wajib Belajar itu Karna Allah
Ok, let’s take a breath friends.. bicara soal pendidikan input dan output. Islam sebagai agama sekaligus sistem kehidupan yang paripurna, memiliki konsep dan sistem pendidikan yang numero uno di dunia lho friends terbukti banyak terlahir generasi emas yaitu para ilmuwan yang memberikan banyak sumbangsih bagi kemajuan dunia. Dari mulai kurikulumnya yang bukan hanya melahirkan generasi smart tapi juga memiliki identitas khas sebagai seorang muslim. Dengan kurikulum Islam ini dijamin deh ngga bakalan lahir generasi alay, generasi galau, generasi pembebek. Trus untuk urusan fasilitas dan infrastruktur ngga usah tanya pasti dikasih yang terbaik, tercanggih dan termutakhir. Pokoknya bikin kita-kita semangat untuk menuntut ilmu. Gimana TemanS mau aja apa mau pake bingits? Dan pendidikan ideal seperti ini hanya bisa kita dapatkan dengan cara menerapkan sistem kehidupan yang ideal dan paripurna apalagi kalo bukan sistem yang diturunkan oleh Yang Maha Segala-galanya, Allah Ta’ala. Karna kalo hanya pendidikannya saja Islam sedang tata pergaulannya Sekuler-Liberal tetep aja akan susah melahirkan generasi cemerlang, generasi Smart with Islam.

Ok fine, kalo untuk pendidikan (Islam) yang kita idam-idamkan masih harus terus kita perjuangkan. Sekarang buat kamu kamu yang mau ngga mau manut sama sistem zonasi ini jangan sampe kamu ter”hibernasi” apalagi bikin kamu shut down.. tetap semangat belajar karna gimana juga menuntut ilmu itu W.A.J.I.B. Dan kalau pada akhirnya kamu harus bersekolah di sekolah yang bukan jadi harapan kamu (sekolah unggulan) yang harus kamu ingat adalah bahwa bisa jadi ada hikmah baik yang akan kamu dapatkan misal dapet sahabat yang bisa bawa kamu ke surga, atau mempermudah kamu untuk dapetin hidayah hijrah menjadi the trully muslim/muslimah. So, di manapun kamu belajar jadikan ridho Allah sebagai hal utama yang kamu kejar, setiap ilmu bermanfaat yang kamu dapatkan membawa kamu menjadi manusia yang lebih bertaqwa, dan jadikan prestasi yang kamu raih sebagai wasilah bukan hanya untuk membanggakan orang tua tapi juga menjadi syi’ar bahwa menjadi seorang remaja muslim juga bisa berprestasi bahkan bukan saja bisa tapi HARUS. Karna Remaja muslim yang keren itu yang berprestasi bukan yang bersensasi. HAMASAH!!

***

Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://mobile.twitter.com/koreapi1453?s=09
IG - https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg
Whatsapp - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9

Kamis, 26 Juli 2018

TEMUKAN SAHABAT SEJATIMU!




Tahun ajaran baru, ketemu suasana baru. Yang naik kelas, jumpa dengan kawan-kawan baru satu angkatan yang dulunya beda kelas. Yang pertama kali menginjakkan kaki di sekolah baru, pastinya ngumpul dengan teman-teman baru yang sebelumnya beda sekolah. Ada rasa canggung ketika berkenalan. Ada rasa sungkan ketika memulai pembicaraan. Nikmatin aja. Langkah-langkah kecil menuju masa depanmu kembali dimulai.

Ya, karena masa depan kita banyak dipengaruhi oleh keberadaan teman-teman sebaya. Itu artinya, peran sahabat untuk meraih impian masa depan gemilang sangat berarti. Mereka yang biasanya membersamai kita dalam suka dan duka. Mereka yang menguatkan kita ketika terpuruk. Mereka yang mengingatkan kita ketika berjaya. Mereka yang bantu tunjukkan jalan saat kita tersesat.

Makanya penting banget kita punya sahabat. Apalagi di lingkungan baru. Harus itu. Bisa jadi, inilah agenda pertama yang mesti kita jalani. Biar ke depannya nanti, kita nyaman jalanin proses pendidikan. Belajar tambah semangat karena punya sahabat.

Hati-hati Peer Pressure

Sebagai remaja pasti kita pengen ngelakuin banyak hal bareng-bareng teman-teman. Apalagi sama teman baru di sekolah atau kelas. Nyoba hal-hal baru bareng, pulang sekolah bareng, nongkrong bareng, atau bahkan cuma sekedar ke kantin bareng-bareng. Pasti seru aja kalo bisa diterima sama teman-teman di sekitar kita karena kalian punya banyak kesamaan.

Saking asyiknya jalan bareng teman, terkadang kita suka nggak enakan. Sungkan untuk menolak ajakannya. Terlepas baik atau buruknya, kita ngikutin aja dengan alasan solider. Masih mending kalo sahabat kita ngajak pada kebaikan. Ayo aja. Lah, kalo ternyata ngajakin yang berbau kemaksiatan, berabe urusannya. Perasaan nggak enakan ini yang dikenal dengan peer pressure alias tekanan teman sebaya.

Peer pressure (tekanan teman sebaya) adalah saat pendapat atau keputusan seseorang dipengaruhi oleh orang lain di kelompok teman sebayanya. Teman sebaya yang bertingkah semaunya, bisa menjerumuskan kamu dalam perilaku negatif. Apalagi kalo dia dominan di antara teman-teman yang lain. Sok kuasa dan jadi leader. Kalo ajakannya nggak diikutin, kita dikucilkan. Ini yang berat bagi remaja. Kehilangan eksistensi. Nggak diterima di antara teman sebaya.

Makanya banyak kasus kenakalan remaja yang berawal dari peer pressure. Beberapa di antaranya:

Merokok.
Kebiasaan menghisap tembakau pada remaja banyak yang dipengaruh oleh teman sebaya. Satu batang dihisap bersama-sama secara bergantian. Alasannya, biar solider. Padahal nggak semua temannya suka merokok. Tapi lantaran diajak jadi ikut-ikutan. Kalo menolak, secara tak tertulis sangsinya bakal dijauhin.

Ngerinya, kebiasaan merokok yang awalnya coba-coba lantaran diajak teman ujungnya bisa kecanduan. Jadi kegiatan keseharian. Lama-kelamaan, bisa dengan mudah terjerumus dalam jeratan narkotika hisap. Terutama kalo peer pressure udah ikut ambil bagian. Kena deh!

Pergaulan bebas.
Biasanya berkaitan dengan status jomblo yang sering jadi bahan bully teman sebaya. Nggak keren kalo usia remaja masih jalan sendiri nggak punya gacoan. Saat ngumpul ngalor ngidul bareng teman, cuman jadi kambing congek dengerin yang lain pada ngoceh kisah-kisah asmaranya. Nggak heran kalo banyak remaja yang galau setengah dewa kalo tak kunjung dapat jawaban dari si dia. Pacaran biar dapat pengakuan.

Parahnya, peer pressure tak hanya memaksa remaja untuk berpacaran. Tapi juga menantang cara berpacaran yang cenderung pada gaya hidup seks bebas. Tak peduli dengan dosa besar yang mengancam pelaku zina. Karena peer pressure, remaja berusaha cari cara agar bisa memuaskan nafsunya. Bahaya!

Tawuran.
Remaja sumbu pendek banyak berkeliaran di sekolah. Terutama kalo dapat kabar temannya ada yang isengin oleh pelajar sekolah lain. Tanpa tabayun mudah terprovokasi. Apalagi kalo dibumbui peer pressure. Langsung bikin rencana untuk melancarakan serangan balasan. Nggak peduli siapa yang salah, yang penting menjaga nama baik sekolah. Padahal bisa jadi masalahnya sepele dan bisa diberesin tanpa harus adu jotos.

Fashion.
Dalam urusan fashion, remaja paling mudah kebawa-bawa. Ngeliat temannya asyik pakai gadget terbaru, merengek sama ortu biar ganti gadget yang sama atau lebih keren. Ada temannya outfit dengan busana kekinian, kasak-kusuk cari model yang sepadan.
Peer pressure dalam fashion seringnya tak terucapkan. Tapi bisa menjerumuskan remaja pada gaya hidup konsumtif. Biar penampilaan bisa samaan atau matching dengan teman, apa aja dijabanin. Yang penting nggak ketinggalan jaman.

Hura-hura.
Usia remaja nggak afdhol kalo absen dari gaya hidup pesta pora. Momen apa aja dijadikan alasan untuk menggelar pesta. Dari tahun baruan, valentinan, april mop, ulang tahun, hari jadian, nonton konser musik, hingga kelulusan semuanya dirayain. Kalo nggak ikut ambil bagian, dianggap merusak persahabatan. Berabe!

Pengaruh negatif peer pessure di atas yang mesti kita waspadai. Kalo diikutin, kita tak bisa jadi diri sendiri. Parahnya, bisa terjerumus dalam kemaksiatan karena pengaruh teman. Sejatinya seorang sahabat sejati nggak akan rela teman karibnya celaka apalagi menuai murka dari sang Pencipta. Makanya, segera temukan sahabat sejatimu.

Menjadi Sahabat Sejati
Mencari sahabat sejati, pastinya nggak kaya bikin mi instan tiga menit udah kecium aroma nikmatnya. Tapi perlu waktu dan kebersamaan yang lumayan panjang. Nggak cuman fisiknya aja yang kontak, tapi udah melibatkan perasaan dari hati yang paling dalem plus banyak kecocokan satu sama lain sehingga bisa saling melengkapi. Ini yang bikin betah tiap orang untuk terus menjalin persahabatan. Dan yang namanya sahabat sejati, nggak bisa dipukul rata. Beda orang, beda juga karakter sahabat sejatinya.

Kalo perburuan sahabat sejati kita hasilnya nihil, nggak usah bete. Kita bisa jadi sahabat sejati bagi orang lain. Apalagi sebagai seorang muslim, menjadi sahabat sejati bukan semata-mata pengen dihargai balik. Tapi bagian dari kewajiban kita sebagai umat terbaik. Bernilai ibadah pula. Nggak sulit kok. Berikut aturan mainnya dalam Islam.

Pertama, Mencintai dan membenci karna Allah swt. Dalam Islam, persahabatan bukan untuk meraih manfaat atau simbol status sosial. Tapi untuk meningkatkan ketaatan kepada Allah swt. Rasul saw bersabda: “Tidaklah kedua orang saling mencintai karena Allah swt, kecuali bahwa dia lebih mencintai sahabatnya.” (Ihya ‘Ulumu al-Dîn).

Kedua, saling menghormati dan menghargai. Jalinan persahabatan nggak selalu mulus. Terkadang ada perbedaan pendapat atau perbuatan yang menyinggung. Sikap terbaik sebagai sahabat sejati, obrolin dan diskusikan dengan kepala dingin. Bukan mendendam atau ngomongin di belakang. Selain untuk mengurangi prasangka buruk, bagus juga untuk menambah kedekatan. Rasul saw mengingatkan, “Jangan saling membenci, jangan saling memusuhi, dan jangan memutus hubungan. Jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara. Tidak diperbolehkan seorang Muslim memboikot sesamanya selama lebih dari tiga hari” (HR. Muslim dan Tirmidzi).

Ketiga, menyembunyikan aib. Kalo kita tahu sahabat sejati berbuat nggak pantas bin tercela, jangan bingung apalagi malah ikut-ikutan dengan alasan solidaritas. Sahabat terbaik akan menjaga aib sodaranya alias nggak diobral ke orang lain. Dan nggak lupa untuk ngingetin juga agar nggak mengulangi perbuatan tercela itu. Rasul saw bersabda, “Siapa saja yang menyembunyikan (aib) seorang muslim, maka Allah akan menyembunyikan (aibnya) di dunia dan akhirat. Allah akan menolong seorang hamba yang gemar menolong saudaranya.” (HR. Muslim).

Keempat, saling mengutamakan. Ada saatnya sahabat perlu uluran tangan kita. Baik waktu, tenaga, harta, atau masukan. Jadi jangan sungkan untuk menawarkan bantuan. Atau kita bisa ngasih hadiah untuk meringankan bebannya. Itulah yang diajarkan rasul saw.

“Tidaklah seorang menemani sahabatnya, meskipun hanya sesaat di siang hari, kecuali ia akan ditanya (tentang tanggung jawabnya) dalam persahabatan itu, apakah dia melaksanakan hak-hak Allah atau mengabaikannya.” (Ihya’ Ulumu al-Diin).

Kelima, saling mengingatkan. Sahabat sejati pastinya akan mengajak untuk berbuat taat, bukan maksiat. Saling menasihati untuk kebaikan dunia akhirat. Karena seorang sahabat sejati, nggak pengen temannya celaka atau dibenci Allah swt. Sama seperti dirinya. Jadi, jangan segan untuk saling mengingatkan dan menyampaikan kebenaran Islam meski terasa pahit.

Nah, semoga beberapa aturan main di atas bisa menjadikan kita sahabat sejati bagi orang lain. Atau nyari sahabat yang memenuhi kriteria di atas. Percaya deh, sahabat sejati pasti ngasih kebaikan bagi kita dunia akhirat. Karena pengaruh teman plus lingkungan sangat besar membentuk cara berpikir dan perilaku kita. Rasul saw mengingatkan, “Orang itu mengikuti agama teman dekatnya; karena itu perhatikanlah dengan siapa ia berteman dekat”. (HR Tirmidzi).

Oh ya, dalam mencari sahabat sejati sebaiknya sesama jenis. Yang cewek bersahabat ama cewek, juga yang cowok ama cowok lagi. Bukan berarti anti lawan jenis lho. Boleh aja berhubungan ama lawan jenis selama ada keperluan yang mengharuskan adanya komunikasi dan interaksi. Seperti dalam mengenyam pendidikan, belanja di pasar, atau berobat ke dokter. Di luar itu, sebaiknya kembali ke alam masing-masing. Selain sesama jenis, muslim or muslimah lebih layak kita jadikan sahabat sejati. Allah swt berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. [QS. Ali-Imran [3]: 118]

Punya sahabat itu memang indah tiada tara. Lebih indah lagi kalo dia adalah sahabat sejati. Yang bisa ngasih semangat kita untuk tetep terikat dengan aturan syar’i dan bersama-sama meraih ridho Illahi. Dan kalo udah punya sahabat, jagalah jalinan persahabatan jangan sampe disia-siakan.

Imam Syafi'ie (Rahimahullah) mengingatkan: “Jika engkau punyai sahabat yang selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah; maka peganglah dia erat-erat; dan jangan sesekali kau lepaskannya. Karena mencari teman baik itu susah. Tetapi melepaskannya sangat mudah sekali". Yuk, temukan sahabat sejatimu!

***

Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://mobile.twitter.com/koreapi1453?s=09
IG - https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg
Whatsapp - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9

Senin, 16 Juli 2018

JANGAN JADI GENERASI TIK TOK YANG ALAY

JANGAN JADI GENERASI TIK TOK YANG ALAY

Buat Men-temen yang Eksis di dunia maya pasti bakalan gak asing lagi ama yang namanya Bowo Alpenliebe, iya kan!. Dia Ngedadak viral lantaran aplikasi tik tok. Tau ga sihh..ternyata umurnya masih 13 tahun friends, nama aslinya  Prabowo Mondardo and masih duduk di kelas VIII SMP. Dia jadi bahan obrolan tuh, and bikin gempar dunia instagram karena jadi seleb di “aplikasi alay”.  Followernya ja ngalahin follower kamu tu friends, hehe… dah nyampe 600 ribuan loch Weww..

Oopss…Ngomong2 neh friends, kamu sendiri tau kan aplikasi tik tok itu apa? Hadeuh..jangan2 pada gak update neh. Tepok lutut 7 kali dah! Tenang friends buat kamu2 yang masih asing ama tik tok kita bakalan kasih tau sekilas tentang aplikasi tik tok neh yah.

Nah, aplikasi TikTok yang lagi hits and  belakangan diblokir di Indonesia neh, adalah aplikasi yang ngasih special effects unik and menarik friends, bisa digunain dengan mudah untuk buat video pendek and bisa dipamerin ke teman-teman atau user lainnya. Buat anak-anak alay yang suka lebay and seneng eksis di dunia maya,  aplikasi sosial video pendek ini memang ngedukung banget. Karena bisa bikin video dengan banyak pilihan  musik terus bergaya bebas, nari-nari lebay, kayak  yang dilakuin ama Bowo.

Generasi Alay Kebablasan
    Friends, pada tau kan apa itu yang namanya alay? Walau pun  istilah Alay itu sendiri emang nggak jelas apa sebenar nya hehe.. Di kalangan remaja nya ja banyak perbedaan pendapat, ada yg bilang anak lebay, anak layangan, anak kelayapan etc. Yah itu lah istilah2 gahoel anak muda mudi zaman now. Yang jelas neh friends kita bisa ngenalin ciri-ciri anak alay itu sendiri let’s check this out!.

    Anak alay biasanya remaja-remaja yang dikenal dengan sikap atau gaya mereka yang narsis always, dan pengen eksis di mana pun lewat cara yang unik and menarik (buat mereka! padahal mah bagi kita aneh and jijay beudd,,dah). Unik or anehnya itu bisa dalam berpakaian, pake Bahasa atau istilah gahoel, juga dalam penggunaan teknologi khususnya dunia maya buat jadi bahan eksis dirinya. Nah kayak bowo gitu deh contohnya.

Bowo itu sebenernya cuma satu dari sekian banyak artis dadakan di dunia maya. Viralnya Bowo juga bukan fenomena baru friends. Pasti kamu-kamu  masih ingat kan, Sinta and Jojo, dua remaja yang ngedadak tenar lewat lipsing ‘Keong Racun’nya. Kamu juga gak asing ama nama Awkarin, Yusi Fadila and yang gak lama sebelum neh ada sosok Nuraini yang ngedadak ‘ngartis’ berkat aksinya juga di dunia maya dengan artis favoritnya.

Nah kehadiran aplikasi Tik Tok neh semakin jadi wadah anak-anak muda alay bereksis diri,  padahal mereka cuma joget-joget gak jelas and pastinya miskin manfaat. Parahnya pengguna aplikasi Tik Tok neh banyak juga dari kalangan cewek alias perempuan bin wanita yang bangga mamerin aurat nya yang seharusnya bukan jadi konsumsi publik. And next, yang ikut jingkrak-jingkrak ngeramein dunia Tik Tok itu juga remaja berkerudung. Iih miris ga siih. Identitas mereka jelas, tapi ke mana rasa malu seorang muslimah yang eksis dengan joget-joget alay itu? Kelihatan banget kalau mereka lebih enjoy dengan aktifitas yang miskin faedah.

Ada lagi Yang lebih bikin miris mpe ngiris  hati bingitzz, yaitu ngelihat tingkah laku para fans Bowo Tik Tok. Mereka mpe fanatiknya  ngidolain sosok Bowo. Di akun-akun fans Bowo itu bertebaran ungkapan-ungkapan yang di luar batas. Contohnya neh: “Kak Bowo ganteng banget. Saya rela ga masuk surga asal perawanku pecah sama Kak Bowo”.  “Ambil aja keperawananku untuk kaka aku iklas”, “Bikin agama baru yuk, Kak Bowo Tuhannya, kita semua umatnya. Yang mau jadi Nabinya chat aku ya.” “tiada yang hebat selain tuhan kita Bowohuakbar”,  “Tiada tuhan selain Bowo kalian harus tunduk sama Bowo tuhanquee. Yang ga tunduk kalian masuk neraka jahanam ya…” dan lain sebagainya.

Astagfirullah… kamu sedih ga sih baca status-status alay and jijay kayak gitu? Ini mah udah kebablasan namanya. Sedihnya lagi, para fans Bowo itu ternyata lumayan banyak. Liat aja antusias fans demi jumpa Bowo sang idola.  Meet and greet digelar dengan tarif 80.000 sampai 100 ribu rupiah. Padahal konon meet and greet artis beneran aja kalau di mall doang mah ga berbayar. Parahnya,  banyak fansnya yang keblinger demi ketemu Bowo. Ada yang bilang di statusnya “aku rela jual ginjal ibuku untuk ketemu sama kak Bowo”.  Bahkan sempat viral juga tuh curhatan seorang ayah yang mengeluhkan kelakuan anaknya yang fans berat Bowo. "Anak saya sudah tergila gila sama bowo. Sampai maling duit saya di laci 500 ribu untuk ketemu Bowo padahal buat bayar kontrakan”. Sungguh Ter…la…lu… Sungguh gak masuk akal sehat. Rela ngelakuin apa pun demi sekedar bertemu seorang fans yang nota bene gak kenal siapa elo. Tapi ini jadi bukti kalau anak alay itu makin menjamur. Mereka abai dengan  identitas dirinya yang muslim, yang harus menjaga kehormatan diri. Bahkan mungkin abai juga dengan hidupnya yang hanya sementara ini. Apakah idolanya akan bisa menyelamatkan hidupnya di dunia apalagi di akhirat?

Generai Alay, kenapa menjamur
Sobat, penah kepikir ga kenapa generasi kita ini jadi makin banyak yang alay trus abai sama aturan agama? Ini semua gegara kita nih jauh dari aturan agama.  Agama Islam yang melekat di akta kelahiran remaja udah ga banyak yang difahami, malah remaja jadi asing dengan aturan- aturan Islam yang lengkap. Ini neh buah nyata dari kehidupan sekuler yang lagi diterapin saat ini. Apaan tuh kehidupan sekuler? Tenang friends kita jelasin, jadi sistem kehidupan sekuler itu misahin agama dari kehidupan. Agama jadinya cuma sebatas ritual doang, ibadah aja gitu. Akhirnya agama disepelein, bahkan dihina-hina macam statusnya para fans Bowo. Hasilnya, remaja zaman now ngalamin krisis identitas. Gak paham sama jati dirinya. Jauh dari agama and lebih memilih gaya hidup bebas sebebas-bebasnya, semaunya, akhirnya mpe kebablasan.

Yang makin jadi bikin Sedih lagi neh, kebanyakan remaja yang kebablasan itu adalah remaja Islam. Mereka  terjerumus ngikutin gaya hidup bebas ala Barat. Barat dijadiin kiblat buat kehidupan, yah katanya sihh keren, gaul, padahal mereka gak tau qlo barat emang sengaja tuh friends bikin remaja muslim nya kayak gitu. Hasilnya, Halal and haram dah gak lagi dijadiin standar berbuat. Yang penting trendi and bisa ngeraih  eksistensi diri. Hedonis. Yang penting seneng. Kehidupan remaja Islam yang serba bebas ini  ga akan  bawa maslahat buat dirinya apalagi buat masyarakat. Sebaliknya, mudharat atau kerusakan siap menerkam and  mencabik-cabik remaja Islam.

So Friends, Mau disadari atau gak, sebenarnya penerapan sistem sekuler ini neh biang keladi lahirnya generasi ‘Bowo’ yang alay bin abai. Kalo sistem neh terus eksis, gak nutup kemungkinan the next ‘Bowo’ akan terus tumbuh subur bahkan lebih hancur dari yang dah ada.

Harus gimana?
  Sebenernya  Bowo or para remaja selebgram lainnya itu adalah korban kemajuan teknologi di era globalisasi. Sementara fansnya itu korban rusaknya sistem kehidupan sekuler yang ngagungin kebebasan. Sebagai seorang muslim neh friends, dah seharusnya nilai agama itu kita jadikan standar berfikir dan berbuat. Standar buat memilih and memilah hal yang positif and negatife dari globalisasi, termasuk media.  Kemajuan teknologi media sah sah aja kita gunakan, tapi apakah harus membuat kita kebablasan?

Sebagai remaja muslim yang baik, kita harus sadar hakikat diri kita. Kita ini makhluk Allah Swt, tujuan hidup kita buat beribadah kepada Allah swt.  Firman Allah: “Tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah” (QS.Adz Dzariyat 56). And kita juga harus sadar kalo setelah kehidupan di dunia ini akan ada balasan atas perbuatan manusia baik ataupun buruk. Allah swt berfirman: “Maka barangsiapa yang mengerjakan kebajikan seberat dzarrah niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan keburukan seberat dzarrah niscaya dia akan melihat (balasan)nya” (QS.Al-Zalzalah 7-8).

Makanya  kita harus tau  hal-hal yang diperintahkan agama Islam untuk dikerjakan (wajib), hal-hal yang dilarang (haram) ataupun yang berbentuk pilihan (mubah). Di antara yang mubah/ boleh itu harus kita pilih yang bermanfaat and ngehindarin yang gak bermanfaat. Ini neh  yang bakalan jadi imunitas terkuat kalo kita berhadapan ama kemajuan di era globalisasi ini. Dengan bekal pemahaman Islam,  otomatis bakalan terjadi filterisasi nilai baik ataupun buruk dengan standar agama. So kita sah aja pake smartphone, pake semua aplikasi yang ada di dalamnya. Tapi kita ga akan terjebak dengan aktifitas yang haram seperti mengakses konten porno. Apalagi sampai ketagihan. Buat remaja putri, aplikasi di smartphone ga akan membuat kamu pengen eksis dengan mengumbar aurat. Remaja muslim yang ideal bakalan punya identitas diri yang  jelas and gak terjebak ama perilaku alay kayak remaja pegiat Tik Tok, karena sadar perbuatan itu ga bermanfaat.

So, kalo kamu memilih untuk menjadi Remaja muslim yang ideal maka yang menjadi tujuan hidup hanyalah kebahagiaan sejati yaitu Ridho Allah. Kebahagiaan sejati emang hanya diberikan oleh Allah swt makanya kebahagiaan yang ini spesial pakai banget. Meski tak berwujud seperti smartphone baru tapi yakin deh kalo kamu dapetin bahagia sejati itu artinya kamu sudah bisa merasakan manisnya iman. Dan percaya deh kalo kamu udah ngerasain yang satu ini ngga ada kebahagiaan lain yang bisa mengalihkan dunia dan akhiratmu. “Ada tiga perkara, siapa saja yang memilikinya ia telah menemukan manisnya iman. Yaitu orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lainnya, orang yang mencintai seseorang hanya karena Allah, dan orang yang tida suka kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke neraka” (Mutafaq ‘alaih).

Last but not the least. Say thanks lah pada mereka yang udah berjasa banget dalam hidup kita, mengajarkan kita pada hal yang baik, mengajak kita kepada kebaikan dan mengingatkan ketika kita salah. Mereka guru di sekolah, orangtua, guru di pengajian, kakak pengisi kajian keislaman kita, bahkan mungkin teman kita sendiri. Doakan mereka, karena kebaikan mereka tidak ternilai oleh harta. Ngga ada yang perlu disesali ketika kita sudah dan sedang melakukan kebaikan. Sekalipun kita ga seeksis anak alay. Sedihlah ketika kita ngga dikelilingi orang baik yang selalu ngingetin kita. So, sobat, setelah kita learn dan akhirnya bisa move kepada hal yang baik, jangan lupa selalu learn untuk bisa move kepada tahapan baik selanjutnya, yaitu takwa. So, tetap mengaji, mengaji, mengaji. Keep spirit and istiqomah. Jadilah remaja sholih, bukan remaja salah. Insya Alah kita akan terjauh dari generasi alay bahkan bisa jadi generasi Islam yang ideal.


***

Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1

FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/

Twitter - https://mobile.twitter.com/koreapi1453?s=09

IG - https://www.instagram.com/remajapejuangislam/

Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Whatsapp - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9

Senin, 09 Juli 2018

Back To School






Setelah libur kenaikan kelas ditambah libur lebaran, rasanya lama bangets ya nggak ngebau bangku sekolah, hehehe… Sudah ada yang kangen pengin ketemu teman-temannya? Atau masih ada yang ngerasa kurang liburan panjangnya? Wah, kalo masih ada yang merasa kurang liburannya, kayaknya keenakan banget ya liburan panjangnya?!

Yuk, balik maning ke sekolah, kembali lagi beraktivitas layaknya pelajar. Berjibaku dengan buku-buku pelajaran, sibuk mengerjakan PR yang dikerjakan di rumah, karena namanya PR –pekerjaan rumah-, bukan pekerjaan sekolah, jadi jangan dikerjakannya pas di sekolah ya.

Then, selamat buat kamu yang tahun ajaran ini, jadi siswa baru, baik di SMP maupun SMA. Buletin kesayanganmu ini, mau menemani hari-hari back to school. Yuk cekidot!

Back To School, Back To Mikir
Yupz, mikir alias berpikir adalah aktivitas ‘wajib’ manusia, wa bil khusus di sekolah, aktivitas mikir itu jadi lebih banyak porsinya. Mikirin pelajaran sekolah, mikir gimana pelajaran itu bisa jadi bekal hidup kita, mikir gimana supaya pelajaran-pelajaran, utamanya pelajaran yang sifatnya afektif untuk bisa kita praktikin di kehidupan sehari-hari.

Aktivitas berpikir hanya dimiliki oleh mahluk Allah bernama manusia, tidak dengan hewan maupun tumbuhan. Dengan aktivitas berpikir itulah, manusia jadi lebih mulia daripada hewan, meski sama-sama dalam kepala sebagian hewan ada yang namanya otak. Sawangsulna alias kebalikannya, ketika manusia nggak menggunakan dengan baik potensi berpikir, maka manusia sederajat atau bahkan lebih rendah dari hewan. Allah SWT sampaikan dalam firman-Nya:

“"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai."(QS. Al-A’raaf: 179)

Di banyak ayat dalam Al-Qur’an nggak sedikit sinonim yang mengajak manusia untuk berpikir atawa menggunakan akalnya. Seperti kata “َفَلَا تْعقِلُونَ‏ / أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ”

Itu artinya, berpikir nggak bisa dilepaskaitkan dengan aktivitas manusia. Nah, ketika kita di sekolah atau sedang sekolah, aktivitas berpikir ini menjadikan kita harusnya terlatih. Bukan berarti yang nggak sekolah, atau pas liburan, kita nggak berpikir, bukan begitu maksudnya. Tapi, sebagai manusia, wa bil khusus pelajar, aktivitas berpikir nggak boleh kita tinggalin.

Malas berpikir adalah ciri generasi instan, generasi yang maunya serba cepet, atawa cepet saji, kayak mie instan. Jangan mau jadi generasi seperti itu. Sebab itu bukan hanya merugikan diri sendiri, tapi juga merupakan tanda buruknya generasi suatu bangsa.

Tapi walaupun memang kudu terus berpikir, bukan berarti menjadikan akal segala-galanya, kemudian menuhankan sains, dan malah kufur terhadap ayat-ayat Allah. Seorang muslim, ketika diperintah oleh Allah untuk berpikir, justru digunakannya untuk berpikir tentang keberadaan Allah. Seorang muslim dengan akidahnya yang lurus, dengan aktivitas berpikir justru akan makin yakin bahwa Allah adalah Sang Khalik, satu-satunya yang layak disembah.

Manusia adalah mahluk, segala yang sifatnya mahluk memilliki kelemahanan, pun dengan yang namanya akal (baca: otak) manusia. Maka, nggak layak sama sekali, kita dikasih akal untuk berpikir sama Allah, lalu malah kufur terhadap Allah. Naudzubillah min dzalik!

Manage Your Time, Manage Your Future
Aktiitas penting kedua yang kudu jadi perhatian, saat kita sudah balik lagi ke sekolah adalah aktivitas memanfaatkan waktu. Ya, jadi sekali lagi tulisan ini semacam reminder aja, kalo selama ini sudah memanfaatkan waktunya dengan baik, maka semakin terpicu untuk lebih baik. Bukan berarti, di luar sekolah, di waktu liburan kita nggak memenej waktu kita. Tetap aja, di manapun kita berada kita tetap kudu memenej hari-hari kita dengan baik.

Ya, kebiasaan buruk alias bad habits kebanyakan kita adalah menelantarkan waktu, bahkan saking ekstrimnya bisa disebut ‘wasting time’, jadi waktu itu terbuang ibarat ngebuang sampah. Duuuuh, jangan sampe terulang seperti itu ya guys. Sebagai anak muda, yang masih berstatus pelajar, waktu ini kudu kita manfaatkan dengan baik. Kayak gimana sih memanfaatkan waktu dengan baik itu?

Pertama, kita kudu tahu, ngeh bin paham mana aktivitas yang wajib, sunnah, mubah, haram dan makruh. Artinya, untuk aktivitas yang hukumnya haram dan makruh sudah jelas, waktu kita nggak sama sekali kita pergunakan di sana. Untuk aktivitas yang hukumnya mubah, maka kita juga kudu buru-buru untuk ninggalin, apalagi kalo aktivitas mubah itu bisa melenakan atau malah mengabaikan yang wajib dan sunnah.

Misalnya, kamu rajin main aplikasi bodoh alias tik-tok yang jelas nggak ada manfaatnya, goyangin dua jari nggak jelas tujuannya, trus di-uplod di instagram. Itu jelas-jelas aktivitas wasting time, atau junk time yang nggak ada ngaruhnya buat masa depanmu. Padahal, masih banyak aktivitas wajib (fardhu) dan sunnah yang belum kita kerjakan. Kalo pun, sudah ngelakuin yang wajib dan sunnah, maka main tik-tok nggak perlu ada dalam daftar waktu kita.

Bener memang nggak sepenuhnya salah tik-tok, dia hanya produk teknologi. Sebelumnya sudah ada produk yang nggak kalah merampok waktu kita, sebut saja ‘mobil legend’. Dan bisa jadi kedepan bakal ada banyak aplikasi macam itu yang bisa mencuri waktu kita. Maka, kuncinya ada di kita yang memanfaatkan teknologi tersebut. Gadget kita itu terserah kita, mau kita install aplikasi apa terserah pilihan kita. Nah, jangan sampe kita install aplikasi-aplikasi yang nggak ngaruh buat masa depan kita.

Kedua, soal memenej waktu, cobalah mulai sekarang untuk berpikir tentang masa depan. Kalo man-teman sudah mulai semenjak sekarang berpikir tentang masa depan, itu artinya persiapannya akan lebih matang, dibandingkan oleh orang-orang tua kita dahulu.

Mikirin masa depan itu nggak melulu soal nanti mau nikah sama siapa, mau punya isteri kayak gimana. Bukan, kayak gitu. Tapi mikirin masa depan itu, seenggaknya ada dalam benak kita berpikir tentang “Gue mau jadi apa, di masa depan”. Setidaknya, kalo kita sudah berpikir kayak gitu, maka kita pasti hati-hati tuh, mengisi waktu atau hari-hari kita. Kita juga hati-hati bangets mau berteman dengan siapa. Trus, juga kita bakal berpikir, kira-kira bekal apa saja yang kudu kita persiapan untuk menuju masa depan tersebut.

Ya, semacam kita berpikir tentang cita-cita, tapi ini lebih dalam dari itu. Sebab kalo cita-cita, mungkin mentoknya kita kerja jadi apa, gajinya berapa, dan sebagainya. Tapi, kalo mikir masa depan ini maksudnya, bahwa jangan sampe masa depan kita kelak gak ada manfaatnya buat Islam dan umat. Yes, kita harus mulai berpikir ‘kontribusi apa yang bisa gue berikan untuk Islam’.

Coba sedikit renungkan, ketika kita yang di sini bisa senang-senang jejingkrakan, makan dengan lauk yang sedap, bisa main bola dengan gembira, tidur pun dengan pulas bahkan kadang terlelap nggak sempat bangun untuk qiyamul lail. Tapi, coba bayangkan dengan saudara kita di Palestina, yang seumuran dengan kita, apakah mereka bisa menikmati ‘fasilitas’ hidup layaknya kita? Enggak, teman-teman. Mereka, kadang tidur harus terganggu dengan desingan peluru, hampir tiap hari mereka harus melakukan perlawanan, meskipun hanya dengan batu melawan tentara-tentara Israel.

Bayangin, kira-kira masa depan mereka seperti apa, mereka aja kagak kebayang. Mungkin yang ada dalam benak mereka, hari ini mereka bisa makan, esok hari tetap harus melakukan perlawanan, kalo “beruntung” esok masih hidup, kalo nggak, berarti mereka telah syahid di jalan Allah. Allahu Akbar! Itulah remaja-remaja Palestina, lah remaja-remaji kita di sini?!

Well, jangan perburuk keadaan kaum muslimin, dengan kita tidak ikut memikirkan kontribusi apa yang kita bisa berikan buat masa depan Islam.

Upgrade Your Tsaqofah
Kemudian bagian berikutnya, yang juga harus jadi bahan pemikiran kita ketika sudah balik ke sekolah adalah menambah pundi-pundi tsaqofah Islam kita. Sebab, dengan sudah masuknya lagi kita ke sekolah itu artinya, digit usia kita nambah dong, nah mau nggak mau, tsaqofah Islam kita juga kudu nambah. Tsaqofah Islam kita itulah bekal kedewasaan kita. Jangan biarkan kedewasaan kita berlalu begitu saja, nggak kita barengin dengan tsaqofah Islam.

Setidaknya ada 2 alasan penting, kenapa bertambahnya usia kita, kudu kita barengin dengan nambahnya tsaqofah kita. Pertama, semakin dewasa kita itu artinya kita baligh, pada saat sudah baligh maka tentu saja, aktivitas yang kita lakukan sudah harus kita pertanggungjawabkan sendiri. Artinya, kita sudah mukallaf (orang yang terbebani hukum).

Kalo kita banyak ngelakuin hal salah (baca: dosa), di saat kita sudah baligh maka kelak di hadapan Allah akan kita pertanggungjawabkan. Oleh karenanya, dengan memperbanyak tsaqofah (pengetahuan dan pemahaman Islam), kita akan banyak tahu konsekuensi-konsekuensi hukum mana yang kita harus jauhi, mana perbuatan yang justru harus banyak dan segera kita kerjakan.

Nah, berbeda keadaanya kalo kita nggak memperbanyak tsaqofah, kita bisa jadi malah banyak ngelakuin hal salah, atau malah sering mengabaikan perkara yang harusnya wajib kita kerjakan sebagai muslim. Berdakwah misalnya, adalah aktivitas wajib yang selama ini nggak banyak kita kerjakan, gara-gara kita nggak tahu, kalo dakwah itu wajib, seperti wajibnya sholat, zakat, puasa ataupun haji.

Kedua, dengan kita memiliki banyak tsaqofah maka kita dengan sengaja telah membangun benteng diri kita dari hal-hal yang tidak bermanfaat, dari hal-hal yang merusak diri kita maupun merusak Islam. Ya, dengan memiliki tsaqofah yang cukup, kita tidak akan mudah terbawa arus, pergaulan yang nggak Islami misalnya. Sebaliknya, kita malah berani melawan arus, memberi contoh pergaulan yang syar’i kepada teman-teman kita.

Pun, ketika saat sekarang banyak pihak menuduh Islam sebagai sumber radikalisme, maka kalo kita memiliki tsaqofah yang mumpuni, akan bisa sikapi dengan benar, serangan tersebut, seraya menyampaikan opini yang lurus tentang Islam. Bayangin, kalo kita nggak banyak memiliki tsaqofah Islam, maka tentu saja kita mudah terombang-ambing arus opini, akan mudah mencaci saudara sendiri, hanya gegara gagal paham soal Islam.

Nah, makanya perlu bin penting, untuk segera mengupgrade tsaqofah Islam kita. Di sekolah, tentu saja nggak cukup untuk bisa mendapatkan luasnya tsaqofah Islam tersebut. Maka, mau nggak mau, kita kudu semangat menjadi pemburu kajian-kajian tsaqofah Islam itu di luar sekolah. Tidak usah takut atau ragu, selama yang disampaikan itu bersumber dari wahyu Allah, datangi dan ikuti majelis-majelis taklim tersebut.

Opini yang mengarahkan anak-anak muda untuk menjauhi rohis, menjauhi majelis-majelis taklim itu hanya opini yang menjadikan generasi muda jauh dari Islam, dan selanjutnya mereka akan mengisi dengan pemahaman-pemahaman, yang malah justru berbahaya dan bisa jadi bertentangan dengan Islam. So, yuk ngaji, jangan tunggu nanti, dan nggak pake kata ‘tapi’! []

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:
Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://mobile.twitter.com/koreapi1453?s=09
IG - https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg
Whatsapp - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9

Selasa, 03 Juli 2018

Bowo Tik Tok, Berhala Jaman Now

Seseorang nggak bakalan jadi idola kalo nggak ada yang mengidolakan. Penggemar adalah energi bagi para seleb (dan yang ngerasa seleb) untuk percaya diri dan menganggap bisa diperhitungkan. Itu sebabnya, banyak juga yang nggak ambil pusing soal perilaku dirinya dan fansnya, yang penting dia dihargai dan diterima sebagai idola. Model ikatan idola dan fans seperti ini udah lama banget. Udah biasa terjadi. Hanya saja, saat para penggemar jenuh dengan bintang sinetron atau seleb-seleb layar kaca, lalu mencari idola lain yang boleh dibilang antimaisntream. Nah, di media sosial banyak orang biasa menjadi luar biasa bila melakukan hal-hal yang unik, menarik, bahkan konyol dan gila. Kok?

Ya, sebenarnya nggak gitu banget sih. Cuma, anehnya kita-kita ini seringkali merasa terpukau kepada hal-hal yang aneh-aneh, gitu. Sementara yang lurus-lurus aja, yang normal-normal aja, yang biasa-biasa aja, yang baik-baik, malah nggak dilirik. Padahal, kenormalan dan kebiasaannya tersebut adalah kebaikan. But, jarang ada yang mau ngikutin. Masih mending mau ngikutin, tahu saja seringkali nggak. Duuaarr!

Beneran. Kurang apa sih dengan maraknya dakwah bagi kalangan remaja? Banyak buku-buku remaja yang kontenya islami, nggak keitung dah para penceramah yang menyasar pasar remaja dengan tema keseharian remaja, bejibun pula akun-akun media sosial yang memberikan teladan kebaikan bagi remaja. Nah itu, kenapa kok sedikit yang menganggapnya sebagai kebaikan? Malah, yang muncul dan jadi viral adalah yang negatif. Apakah kebaikan saat ini nggak laku dan kalah dengan kejahatan dan kebejatan? Silakan dipikirkan dan direnungkan, kenapa bisa begitu.

Siapa sebenarnya idola itu? Apakah memang dia diciptakan pasar atau si idola inilah yang menciptakan pasar? Kalo berdasarkan pengamatan selama ini sih, keduanya bisa memungkinkan untuk dilakukan. Idola baru bisa kapan saja bermunculan, bersamaan dengan digiringnya opini dan persepsi tentang seseorang tersebut. Ini mungkin saja ‘alami’. Tetapi memang memungkinkan pula ada yang settingan. Misalnya, orang biasa tapi melakukan sesuatu yang luar biasa. Terlepas apakah positif atau negatif, bisa saja jadi terkenal karena diblow-up media massa. Bisa juga orang biasa, tak melakukan sesuatu yang luar biasa, namun pihak tertentu yang menilai bahwa seseorang tersebut layak dijadikan idola dan kemudian mengikutinya. Ini lebih karena ada niat tertentu yang sudah disusupi setan. Misalnya macam si Bowo tiktoker itu. Follower di akun instagramnya aja hampir 300 ribuan. Video miskin manfaatnya ada yang ditonton jutaan orang. Bisa jadi yang nonton nggak semuanya fans berat dia, bisa juga haters-nya, bisa juga yang sekedar penasaran kayak saya. Hehe…

Nah, berarti antara seseorang yang diidolakan dan para penggemarnya itu ada semacam simbiosis mutualisme. Para idola pengen publisitas. Para penggemar mencari muara untuk penyaluran demi memuaskan bahagianya punya junjungan. Maka ketika keduanya bertemu dengan perantara media sosial, jadilah ada ikatan antara idola dan fansnya. Walau bisa jadi sebenarnya ikatan yang salah dan rapuh.

Nah, kamu yang mengidolakan kaum seleb; baik artis film dan sinetron, penyanyi, dan pemusik, youtuber, selebgram, tiktoker dan sejenisnya, kudu hati-hati. Soalnya, bukan tak mungkin bila kemudian kamu lupa diri dan akhirnya tanpa sadar mengikuti gaya hidupnya. Pendek kata, kalo kamu sudah menganggap mereka tuntunan hidup kamu, berarti kamu telah menjadikan mereka sebagai “nabi”.

Waduh, jangan sampe deh. Soalnya rugi banget! Tentu saja karena yang diajarkannya bukan kebenaran dan kebaikan. Dan, yang terpenting emang nggak layak dijadiin teladan. Tapi, untuk kasus Si Bowo Tiktoker ini, ada fansnya yang mengusulkan dia jadi tuhan. Malah ada juga penggemarnya yang rela nggak masuk surga asal keperawanannya ‘dipecahkan’ sama Si Bowo. Bener-bener nggak waras!

Makanya kita prihatin banget dan sekaligus menyayangkan kenapa banyak remaja putri yang tergila-gila bocah tiktoker ini. Padahal itu hanya untuk sesuatu yang tak ada gunanya, bahkan bisa menjerumuskan kepada syirik—bila itu diekspresikan secara berlebihan. Bisa jadi berhala or sesembahan dong? Bisa jadi, idola itu berhala jaman now. Waspadalah!

So, sekarang kamu mulai ngeh bahwa “pemujaan” terhadap idola  merupakan salah satu perwujudan yang salah dari naluri beragama. Malah dalam level tertentu bisa menjerumuskan kamu ke dalam kesyirikan, lho. Hati-hati ya! Dan ingat, persoalan nggak berhenti di situ aja. Kamu malah bisa “dituduh” oleh Islam telah menjiplak perilaku mereka dalam kehidupan kamu, jika setiap apa yang dilakukan oleh tokoh idolamu kamu ikuti dengan sepenuh hatimu. Yakni seluruh gaya hidupnya kamu contek abis–nggak satupun yang tersisa. Wah, bisa gaswat itu.

Padahal, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam seharusnya menjadi teladan kita. Benar, cuma beliau yang layak dijadiin teladan dalam hidup kita. Bahkan Allah sudah menjaminnya lewat firman-Nya (yang artinya), “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS al-Ahzab [33]: 21)

Udah ya ngimpinya. Buka mata dan buka telinga. Terima nasihat dari ortu dan gurumu, atau temanmu yang shalih-shalihah Sadar diri dan jauhi maksiat. Tinggalkan para idola yang dipromosikan setan.

Bagi para ortu, jagalah dan didiklah buah hati dengan iman, ilmu, adab, dan kasih sayang. Anak adalah amanah, menyiayiakannya berarti mengkhianati amanah. Pelihara akidah mereka jangan sampai pemikiran dan perilakunya menyeret mereka ke neraka.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS at-Tahrim [66]: 6)

Semoga kita semua dihindarkan dari godaan setan dan dari bujuk rayu bala tentara setan dari kalangan manusia. So, belajar Islam, semangat mencari ilmu agama, berteman dengan orang-orang shalih/shalihah, berguru pada ustaz dan ulama yang benar.[]