Senin, 31 Desember 2018

#2019 Makin Sholih



#2019. Jauh sebelum tahun 2019 tiba, banyak orang ramai-ramai bikin hastag 2019 plus dengan tagline-nya. Ada yang #2019 Ganti Status, Naik Haji Bareng Keluarga, Masuk Perguruan Tinggi Negeri, Hapal Qur’an 30 juz dan tagline-tagline lainnya. Kalau kamu apa tagline-nya? Selama itu baik bisa jadi harapan dan do’a di tahun depan. Kita manusia, tentu menginginkan sesuatu yang baik bahkan terbaik bagi diri kita. Punya harapan dan cita-cita itu penting, apalagi kalau cita-cita itu baik dan akan memberikan banyak manfaat. “Khoirunnaas anfa’uhum linnaas, sebaik-baik manusia adalah meberikan manfaat bagi manusia“ (HR. Ahmad). Misalnya, kamu pandai matematika sedangkan temanmu kesulitan untuk memahami rumus matematika, maka kamu ingin menjadi sebaik-baiknya manusia kamu ngga akan pelit tuh untuk berbagi ilmu. Eits.. dengan catatan berbagi ilmunya saat belajar yaa bukan pada saat ulangan atau ujian. Atau kamu menguasai ilmu membaca al-qur’an dengan tartil dan indah, sedangkan temanmu ingin bisa membaca al-qur’an maka tanpa berpikir panjang kamu akan membantu temanmu untuk bisa membaca al-qur’an. “Khoirukum man ta’allama al qur’an wa‘allamahu, sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari). Selama kemanfaatan itu terus diamalkan maka sepanjang itu pulalah pahala kebaikan mengalir untuk kamu bahkan ketika kamu sudah tiada atau meninggal, inilah yang disebut sebagai amal jariyah. So, jadilah remaja milenial yang terdepan dalam beramal sholih bukan malah beramal salah. Contohnya, ikut-ikutan heboh ngerayain pergantian tahun. Malah ada yang udah dari jauh-jauh hari merencanakan acara tahun baruan. Nunggu jam 00.00 trus bareng-breng tiup terompet, bakar petasan dan kembang api. Udah gitu doang. Buat seseruan. Seru jangan asal seru, pikirin dulu itu semua berfaedah ngga? Dan yang terpenting sebagai seorang remaja muslim boleh ngga kita ikut-ikutan ngerayain tahun baruan?

Jangan Asal, Kenali Dulu Asalnya
Yes, jangan karna ikutan tahun baruan dengan alasan cuma seseruan ternyata apa yang kita lakukan malah fatal. Kenapa bisa fatal? Karna bisa menggadaikan keimanan kita lho. Segitunya kah? Simak. Sejarah singkatnya, peringatan tahun baru sudah dimulai sejak 45 tahun SM (Sebelum Masehi) pada masa Kaisar Julius Caesar. Januari dipilih menjadi bulan pertama diantaranya karena dikaitkan dengan nama dewa Janus yaitu Dewa yang memiliki dua wajah satu menghadap ke (masa) depan dan satu lagi menghadap ke (masa) lalu atau ke belakang. Pada tahun 1582 M, Paus Gregorius XIII mengubah Perayaan Tahun Baru Umat Kristen dari tanggal 25 Maret menjadi 1 Januari. Kalender Gregorian yang kita kenal sebagai kalender Masehi dibuat berdasarkan kelahiran Yesus Kristus dalam keyakinan Kristen.  Seiring muncul dan berkembangnya agama Kristen, akhirnya perayaan ini diwajibkan oleh para pemimpin gereja sebagai suatu perayaan “suci” satu paket dengan hari Natal. Itulah mengapa ucapan Natal dan Tahun baru dijadikan satu (Merry Christmas and Happy New Year).

Perayaan tahun baru ini seolah bukan lagi milik umat kristiani, karna banyak orang dengan latar belakang agama apapun merayakannya termasuk umat Islam. Astaghfirulloh. Ya,, umat Islam yang ngga paham, mereka ikutan ngerayain dengan tanpa landasan syariat cuma karna banyak yang ngerayain ngerasa udah sah dijadiin legalitas untuk nge-follow apa yang bukan berasal dari ajaran Islam. Ditambah dengan dalih “Tapi kan, kita cuma meramaikan aja dengan tiup terompet, nyalain petasan sama kembang api doang ngga sampe iman sama Tuhan atau Dewa mereka”. Doang? Baca nih, terompet dan kebiasaan meniupnya adalah berasal dari kalangan kaum yahudi. Dari Abu ‘Umair bin Anas dari bibinya yang termasuk shahabiyah Anshor, “Nabi memikirkan bagaimana cara mengumpulkan orang untuk shalat berjamaah. Ada beberapa orang yang memberikan usulan. Yang pertama mengatakan, ‘Kibarkanlah bendera ketika waktu shalat tiba. Jika orang-orang melihat ada bendera yang berkibar maka mereka akan saling memberi tahukan tibanya waktu shalat. Namun Nabi tidak menyetujuinya. Orang kedua mengusulkan agar memakai terompet. Nabi pun tidak setuju, beliau bersabda, ‘Membunyikan terompet adalah perilaku orang-orang Yahudi.’ Orang ketiga mengusulkan agar memakai lonceng. Nabi berkomentar, ‘Itu adalah perilaku Nasrani.’ Setelah kejadian tersebut, Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbihi pulang dalam kondisi memikirkan agar yang dipikirkan Nabi. Dalam tidurnya, beliau diajari cara beradzan.” (HR. Abu Daud). Selain itu menyalakan kembang api, mengitari api unggun adalah kebiasaanya kaum majusi (penyembah api).

Tegas Rasulullah saw mengingatkan “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud). Menyerupai orang kafir (tasyabbuh bil kufar) ini terjadi dalam hal pakaian, penampilan dan kebiasaan (termasuk budaya dan pemikiran mereka tentang kehidupan). Analoginya gini, misal kamu iseng mengenakan pakaian seragam dokter dan bergaya layaknya seorang dokter, maka tentu orang lain akan menganggap kamu sebagai seorang dokter. Jadi, benarlah apa yang disampaikan oleh Rasulullah dalam hadits di atas kalau menyerupai suatu kaum maka bagian dari mereka. So, clear ya TemanS tahun baruan bukanlah ajaran Islam dan merayakannya hukumnya HARAM. Apalagi apa yang dilakukan gak faedah banget, tiup terompet, bakar petasan dan kembang api, belum lagi ditambah dengan aksi maksiat dari mabuk sampai free sex. Na’udzubillah. Allah SWT berfirman dalam QS. Al Furqon: 72 “...apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya”. Sekali lagi, ngga usah ikut-ikutan dengan alasan apapun. Taat itu lakukan apa yang harus dilakukan, dan meninggalkan apa yang harus ditinggalkan tanpa kata “doang” atau “tapi kan”.

Stop Maksiat, Let’s Taat!!

Teman Surga, yuk kita sejenak menarik nafas perenungan. Merefleksi diri terlebih dengan banyaknya peristiwa yang terjadi di bumi pertiwi ini. Dimana, mata kita diperlihatkan pada kedzaliman, kemiskinan, ketidakadilan, kemasiatan di mana-mana. Telinga kita diperdengarkan rontaan orang-orang yang tertindas namun suara mereka parau, tangisan para korban musibah bencana alam yang belakangan terjadi beruntun. Hati kita tersayat pilu oleh ulah generasi muda yang terjebak pergaulan bebas, perilaku LGBT, asyik dengan hal-hal yang tak berfaedah. Rasanya ini semua sudah sangat layak bahkan wajib untuk kita renungi, bermuhasabah dari musibah yang terjadi. Maha Benar Allah dengan kalam-Nya dalam surat Ar Ruum: 41 “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Bukan bermaksud menyamakan Allah dengan manusia. Maha Suci Allah yang tak mungkin bisa disejajarkan dengan makhlukNya. Saat kita berbuat salah, tentu orang tua atau guru akan menegur kita agar kita tahu bahwa apa yang kita lakukan adalah salah dan akan merugikan diri kita bahkan mungkin orang lain, setelah itu kita memperbaikinya dengan tidak mengulangi kesalahan kita dengan begitu In sya Allah kita akan selamat. Tapi, kalo teguran, peringatan demi peringatan tetap membuat kita bergeming jangan salahkan jika kita dimarahi atau bahkan dihukum. Naahh.. gimana kalo kita bermaksiat kepada Allah? Ketika kita diperingatkan dengan ayat-ayatNya dan segera menyesali kesalahan atas kemaksiatan kepada Allah trus kita memperbaikinya, In sya Allah kita selamat. Tapi, jika ayat-ayat Allah tidak dijadikan penuntun dan petunjuk malah diperolok, maka Allah punya cara lain untuk menegur bahkan memberi peringatan kepada hambaNya. “Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat? Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan". (TQS. Thaha: 123 – 126)

Sebaik-baik musibah adalah yang menghantarkan kita untuk lebih dekat dengan Allah, lebih taat kepada perintahNya. Dan seburuk-buruk nikmat adalah yang melalaikan kita dari mengingat Allah bahkan menjerumuskan pada kemaksiatan. Better late than never, kalo sekiranya ada yang pernah bertasyabuh bil kuffar, hidup bebas dengan mem-follow budaya dan aturan barat yang sesat segeralah bertaubat kepada Allah dengan tidak mengulanginya lagi, setelah itu langkahkan hati dan dirimu untuk berhijrah menjadi manusia yang sholih dan sholihah dengan mulai perdalam ilmu agama (Islam), mengamalkan serta mendakwahkannya. Allah swt berfirman : “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa” (TQS. Ali Imran : 133)

Waktu memang begitu cepat bergulir, masa begitu cepat berganti. Setahun dilalui bagai sepekan, hari berlalu bagai sekejap mata. Dan sayangnya, waktu yang pergi itu takkan kembali. Kerugian yang amat besarlah jika masa yang hilang tidak menjadikan kita sosok manusia yang semakin taat, semakin sholih atau sholihah. Teman Surga, tentu cita-cita tertinggi kita adalah berada di surgaNya maka selama nyawa masih dikandung badan mulailah, perbanyaklah, istiqomahlah dalam beramal sholih. Jangan sampai kita menyesal saat tiba masanya ruh atau nyawa kembali kepada pemilikNya (Allah SWT). "Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): "Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin". QS. Sajdah: 12. So, take your time to hijrah and istiqomah.[]

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Minggu, 30 Desember 2018

ADA APA DENGAN TAHUN BARU?




Malam tahun baru ini mau ke mana? Belum punya rencana? Gini deh, kalo kamu udah punya rencana, atau belum punya rencana tapi pengen ngerayain tahun baru, sebaiknya kamu baca ini dulu deh. Biar temen-temen ngerti gimana sejarah en hukumnya ngerayain tahun baru dalam Islam. Tentu aja yang saya maksud tahun baru masehi ya. Tahun baru Islam sendiri sih udah lewat. Terus apa untungnya kita tahu sejarah en hukumnya? Ya, tentu biar bisa nentuin sikap dong. Seorang muslim itu ketika hendak berbuat, wajib tahu dulu hukum perbuatannya itu. Supaya apa? Supaya nggak salah jalan, apalagi sampe terperosok ke jurang. Jangan sampe deh.

Tahu kan gimana suasana tahun baru? Ya seperti biasa, dilalui dengan hiruk-pikuk, hura-hura, pesta en kegiatan gaje (nggak jelas) lainnya. Kok gaje sih? Iya. Coba deh, kalo dipikir-pikir, perayaan tahun baru itu udahlah nggak manfaat, dekat dengan maksiat lagi. Sebut aja dari begadang, pesta kembang api, ngeband, makan-makan sampe nongkrong-nongkrong doang bareng temen. Perhatiin deh, banyak banget yang begadang semalam suntuk demi nunggu detik-detik pergantian tahun. Padahal nggak ditunggu juga, harinya bakal lewat kok. Bahkan ada yang nerusin begadang sampai menjelang pagi. Akibatnya, bisa ketebak deh. Gara-gara melototin jam pergantian tahun, giliran shubuh matanya merem alias nggak sholat Shubuh. Na’udzu billahi min dzalik.

Parahnya lagi, ada juga yang ngerayain pergantian tahun dengan pesta seks, miras en narkoba. Beneran? Percaya atau nggak, tapi emang gitu kenyataannya. Menurut laporan dari BKKBN, kondom emang laris manis tiap akhir tahun tepatnya menjelang tutup tahun begini. Parahnya kebanyakan pembelinya adalah remaja. Nggak heran kalo penginapan, vila, hotel en sejenisnya, ikutan laris disewa pelanggan. Jadi ngerti kan, apa hubungannya alat kontrasepsi yang laris dengan larisnya penyewaan penginapan?

Gitu juga dengan miras en narkoba. Dua barang haram ini malah jadi idola pada perayaan tahun baru. Padahal udah terbukti, miras udah bikin pengkonsumsinya mati konyol. Parahnya, ada pejabat bilang, itu gara-gara miras yang pabrikan dilarang beredar, jadi orang-orang mengkonsumsi yang miras oplosan. Wah, ini sih bener-bener logika yang ngaco. Emang mau negara ini generasinya jadi generasi pemabuk? Dilarang aja udah banyak yang mabuk, gimana dibolehin, ya?

Ini nih, sejarah tahun baru
Sobat, kamu perlu tahu soal ini. Yup, tahun baru masehi, gimana pun nggak bisa dilepasin ama sejarahnya. Banyak versi sih, tapi yang paling pas sepertinya yang ini. Jadi tahun baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Nggak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, ahli astronomi dari Iskandariyah. Sosigenes nyaranin supaya penanggalan baru dibuat mengikuti revolusi matahari, seperti yang dilakukan orang-orang Mesir.

Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari. Caesar nambahin 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga minta agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan pada bulan Februari, supaya bisa menghindar dari penyimpangan dalam kalender baru ini. Sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia sempet ngubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Terus, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, jadi bulan Agustus.

Tapi, dalam perkembangannya, ada seorang pendeta Kristen bernama Dionisius yang kemudian manfaatin penemuan kalender Julius Caesar ini untuk diadopsi jadi penanggalan yang didasarkan pada tahun kelahiran Yesus Kristus. Masehi sendiri adalah nama lain dari Isa Al Masih. Terus, perayaan ini dilestariin en nyebar ke Eropa. Seiring muncul en berkembangnya agama Kristen, perayaan ini diwajibkan oleh para pemimpin gereja jadi suatu perayaan “suci”. Satu paket dengan hari Natal. So, jangan heran kalo ucapan Natal en Tahun Baru dijadiin satu, yaitu “Merry Christmas and Happy New Year”

Islam udah punya hari raya
Sobat, dari sini terbuktikan kalo perayaan tahun baru itu dimulai dari orang-orang kafir en dari dulu udah dirayain oleh orang-orang kafir. So, sama sekali bukan dari Islam. Islam sendiri udah punya tahun baru. Tapi, tahun baru Islam sendiri nggak dianjurkan untuk dirayain. Rasulullah cuma nganjurin untuk merayakan hari raya Idul Fitri en hari raya Idul Adha. Pas Rasulullah ke Madinah en ngeliat orang-orang bersenang-senang ngerayain hari raya terbesarnya orang Persia bangsa Majusi dengan berbagai permainan, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian dua hari itu dengan yang lebih baik dari keduanya yaitu hari raya Idul Adha dan Idul Fitri.” (HR an-Nasa-i no. 1556. Syaikh al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Bro en Sis rahimakumullah, selain itu, ngerayain tahun baru itu termasuk perbuatan niru-niru budaya orang kafir. Bahasa gaulnya, tasyabbuh. Dari dulu tuh ya, Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam udah wanti-wanti kalo kita, sebagai umat Islam haram hukumnya ngikutin jejak orang Persia, Romawi, Yahudi en Nashrani. Sabda Beliau, “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh lika-liku, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Maka, para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi? (HR Muslim no. 2669, dari Abu Sa’id Al Khudri)

Lihat deh Sob, apa yang dikatain Rasulullah emang terjadi saat ini. Dari perayaan tahun baru, gaya hidup, makanan, sampe model pakaian, kaum muslimin ngikutin mereka. Coba deh liat model baju cewek-cewek sekarang, dari ibu-ibu sampe remaja, nggak beda dengan baju atau pakaian oang kafir. Minim abis!

Akibat sekularisme
Bro en Sis Rahimakumullah, please! Udah saatnya kamu melek en bersikap kritis. Di balik acara tahun baru yang bener-bener full maksiat itu, sebenernya ada kepentingan bisnis para pengusaha besar. Nggak peduli mau maksiat kek, mau generasi rusak kek, nggak ada manfaat kek, mereka mendorong masyarakat untuk membelanjakan uangnya sebanyak-banyaknya. Bagi mereka, mengeruk keuntungan sebesar-besarnya adalah tujuan utama.
Parahnya, mereka ini didukung ama media massa yang gila-gilaan sosialisasi en mem-blow-up gaya hidup bebas en liar ini. Terus, ulamanya pada kemana? Sobat, saking maraknya serbuan media massa ini, himbauan dari para ulama pun jadi kalah. Akibat dari sistem sekular yang nguasain negeri ini, agama nggak punya peran dalam kehidupan. Apalagi pengaruh media massa itu kuat banget. Mereka yang berkepentingan di belakangnya sengaja manfaatin momentum ini untuk ngajak en ngarahin masyarakat terutama remaja untuk berpikir bebas tanpa aturan, foya-foya, hura-hura sehingga ketika diajarin en didakwahin Islam, sulit nerimanya. Jawab deh, kira-kira kalo mau ngajakin temen, lebih gampang ngajakin ke konser musik atau ke pengajian? Tuh kan!

Kudu kritis en sesuai syariat
Bro en Sis rahimakumullah, so, sekarang jelas banget kan kalo perayaan tahun baru itu bener-bener gaje? Bukan hanya dari sisi sejarahnya tapi juga aktivitasnya. Perayaan tahun baru itu budaya kafir yang penuh kepentingan untuk merusak umat Islam. Maka udah seharusnya kaum muslimin nggak terus-terusan latah ngikutin tradisi ini. Sayangnya, pemerintah yang harusnya bantuin mencegah fenomena ini, eh malah membiarkan en terkesan ngedukung.

Sobat, sekali lagi, udah saatnya kita kritis. Ingat lho, setiap perbuatan kita akan dimintai pertanggungjawaban. Makanya sebelum berbuat, pikirin dulu sesuai syariat apa nggak? Allah Ta’ala ridho apa nggak dengan apa yang kita perbuat? Jangan takut dikatain nggak gaul atau kampungan. Kalau ada temen yang ngatain kamu kampungan karena nggak ikut ngerayain tahun baru, jawab aja, “Biarin kampungan karena nggak ngerayain tahun baru, yang ngerayain malah lebih primitif karena udah ngikutin tren budaya jahiliyah.” Bener kan? Harus berani bilang gitu.

Begitulah faktanya, Bro en Sis. Emang udah saatnya negeri ini menerapkan syariah Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah. Khilafah Islamiyah itu akan melarang setiap aktivitas yang merusak akidah umat Islam seperti perayaan tahun baru en propaganda media massanya. Selain itu, Khilafah Islamiyah juga akan mencegah setiap tindakan kemaksiatan yang mungkin muncul dengan pendidikan akidah yang kuat pada masyarakat, terutama remaja yang masih ababil. Semoga nggak lama lagi ya? Semangat! [@alazizyrevolusi]


***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Senin, 24 Desember 2018

Ibumu, Ibumu, dan Ibumu




Ibu, bunda, mom, mamah, ummi atau panggilan apapun namanya, yang pasti ibu adalah sosok yang sangat mulia dan kudu kita muliakan. Bukan berarti bapak yang juga sebagai orang tua kita, nggak mulia. Beliau tetap harus kita muliakan juga, bahkan al-qur’an menyebut keduanya secara bersamaan. Walaupun di beberapa dalil menyebutkan bahwa ibu menempati posisi sangat mulia. Kenapa ibu begitu menduduki posisi sangat mulia? Karena dari segi posisi dan peran emang ibu porsinya banyak. Seenggaknya ibu kita mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama hamil, kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Makanya kita sebagai anaknya, durhaka banget kalo sampe kita nggak memuliakan ibu kita.

Muliakan Kedua Orang Tuamu
Prioritasnya tetap kedua orang tua, yakni bapak dan ibu, nggak boleh pilih kasih, keduanya sama-sama mulia dan kudu bin wajib kita muliakan, sebagaimana firman Allah SWT:
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKu-lah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)

Hormatnya kita kepada orang tua kita itu bukan tanpa alasan. Sebab atau alasannya sudah disebutkan dalam sebut hadits:
“Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata, “Ridha Allah tergantung ridha orang tua dan murka Allah tergantung murka orang tua.“ (al hadits)

Bahkan doa mereka makbul lho…
“Ada tiga do’a yang dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak diragukan tentang do’a ini: (1) do’a kedua orang tua terhadap anaknya, (2) do’a musafir (orang yang sedang dalam perjalanan), (3) do’a orang yang dizhalimi.” (HR. Al-Bukhari)

Nah, kira-kira cara apa saja yang kita bisa lakukan untuk menghormati kedua orang tua kita? Walaupun nggak bisa kita sebutin semua, setidaknya apa yang kita tulis di sini bisa mewakili niat baik kita buat memuliakan orang tua kita. Cara yang bisa kita tempuh, untuk menghormati Beliaunya,

Pertama, buatlah mereka senang alias bahagia dengan tertawa
Seseorang datang kepada Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Aku akan berbai’at kepadamu untuk berhijrah, dan aku tinggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis.” Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa-i, Al-Baihaqi, dan Al-Hakim)

Kedua, sudah pasti cara menghormati kedua orang tua adalah mendoakannya. Jelas bahwa doa anak akan menjadi kebahagiaan untuk orang tuanya ya sobat, sebab itu wajib untuk selalu mendoakan kebaikan untuk orang tua.
“Robbirhamhuma kamaa rabbayaani shagiiro” (Wahai Rabb-ku kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil). (QS. Al-Isra : 24).

Ketiga, jangan sampai kita mencela atau memanggil nama orang tua teman kita dengan maksud untuk candaan, karena itu akan berbalik kepada kita.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Termasuk dosa besar adalah seseorang mencela kedua orang tuanya dengan cara dia mencela bapaknya orang lain, maka orang tersebut balas mencela bapaknya. Dia mencela ibu seseorang, maka orang tersebut balas mencela ibunya.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Keempat, jangan membantah kalo disuruh kedua orang tua, walaupun hanya dengan bilang “ah” aja.
Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah perkataan yang baik” (QS. Al-Isra : 23).

Kelima, nafkahi mereka terutama anak laki-laki ke orang tuanya, apalagi kalo mereka sudah tua tidak mampu lagi bekerja atau menghasilkan uang:
“Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka infakkan. Jawablah, “Harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu bapakmu, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan apa saja kebajikan yang kamu perbuat sesungguhnya Allah maha mengetahui” (QS. Al-Baqarah 215)

Keenam, tetap menghormati mereka meskipun mungkin kita berbeda keyakinan dengan orang tua kita:
“Dan jika kedua memaksamu mempersekutukan sesuatu dengan Aku yang tidak ada pengetahuanmu tentang Aku maka janganlah kamu mengikuti kedua dan pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik dan ikuti jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu maka Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS.Luqman : 15).

Ketujuh, jangan jadikan orang tua kita sebagai pembantu alias pengasuh anak-anak kita, padahal seharusnya kita yang kudu merawat mereka ketika mereka sudah tua.
“Sungguh hina, sungguh hina, kemudian sungguh hina, orang yang mendapatkan salah seorang atau kedua orangtuanya lanjut usia di sisinya (semasa hidupnya), namun ia (orangtuanya) tidak memasukkannya ke Surga.” (HR: Ahmad).

Nah, itu beberapa cara memuliakan kedua orang tua kita, yang salahsatu di antaranya adalah ibu kita yang sudah mengandung, menyusui, dan mengasuh serta mengurusi keperluan kita saat kita masih kecil. Ketika kita udah gede, tingkah lakunya jangan kayak bayi gede. Dikit-dikit ibu, baju kita suruh ibu yang nyuci, setrika, kaos kaki hilang minta ibu nyariin, pekerjaan sekolah nyuruh ibu yang ngerjaian. Kalo begitu terus, kapan kita dewasanya, kita akan jadi bayi terus sampe kita besar, bahkan jadi anak mami walaupun sudah berkeluarga. Duh, jangan sampe deh ya.

Ibu Memang Istimewa
Setelah secara umum di atas tadi disebutkan kalo kita diminta memuliakan kedua orang tua, lalu berikutnya ada posisi tertentu ibu kita dapat kedudukan istimewa, bahkan sampe disebut 3 kali. Seperti disebutkan dalam sebuah hadits:
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan, “Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. ….. realitasnya  karena kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketika melahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu, dan seorang ayah tidak memilikinya. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi X : 239).

Kisah yang sangat familiar diriwayatkan Imam Muslim, yakni kisah Juraij, sampai didoakan jelek oleh ibunya gegara si Juraij lebih mengutamakan sholat (sunnah) daripada panggilan ibunya. Imam An Nawawi dalam Syarah Muslim mengatakan: “Para ulama mengatakan: ‘ini dalil bahwa yang benar adalah memenuhi panggilan ibu, karena Juraij sedang melakukan shalat sunnah. Terus melanjutkan shalat hukumnya sunnah, tidak wajib. Sedangkan menjawab panggilan ibu dan berbuat baik padanya itu wajib, dan mendurhakainya itu haram'”.
Rasulullah SAW telah bersabda,” Wajib memenuhi panggilan ibu dari pada sholat sunah,” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Hadits berikut juga cukup fenomenal, karena menunjukkan betapa mulianya seorang ibu, bahkan surga saja berada di bawah telapk kakinya.
“Dari Mu’awiyah bin Jahimah as-Sulami bahwa ayahnya Jahimah as-Sulami datang kepada Nabi Muhammad dan berkata: Wahai Rasulullah! Aku ingin ikut dalam peperangan (berjihad di jalan Allah  dan aku datang untuk meminta pendapatmu.” Maka Rasulullah bersabda, “Apakah kamu mempunyai ibu?” Dia menjawab, “Ya.” Rasulullah  bersabda, “Tetaplah bersamanya! Karena sesungguhnya surga ada di bawah kedua kakinya.” (Imam an-Nasa’i, al-Hakim, dan ath-Thabrani)

Anak Shalih Hasil Didikan Ibu
Selain nama-nama ibu yang udah disebutkan dalam al-Quran,  seperti ibunda nabi Musa,  ibunda Nabi Isa, dan lain sebagainya,  ada banyak ibu-ibu shalihah yang pernah tercatat oleh tinta sejarah, darinya lahir anak-anak shalih. Nah,  karena salking banyaknya, yang kita cantumkan di sini ibu-ibunya para ulama dan pejuang aja,  tanpa menafikan para ibu-ibu shalihah yang lain.

Pertama: Ibu Sufyan ats-Tsaury
Beliau adalah tokoh besar generasi tabi’ at-tabi’in. Ia seorang fakih yang disebut dengan amirul mukminin fil hadits (pemimpin umat Islam dalam hadits Nabi). Di balik ulama besar generasi ketiga ini, ada seorang ibu yang shalihah. Ibu yang mendidik dan menginfakkan waktu untuk membimbingnya. Beliau merasa bimbang jika menuntut ilmu, maka butuh modal dan bekal. Jika mencari modal dan bekal maka tidak bisa fokus belajar. Karena ilmu itu mudah pergi dan menghilang.

Datanglah pertolongan Allah melalui ibunya. Ibunya berkata, “Wahai Sufyan anakku, belajarlah..aku yang akan menanggumu dengan usaha memintalku”. Ibunya menyemangati, menasihati, dan mewasiatinya agar semangat menggapai pengetahuan. Di antara ucapan ibunya adalah “Anakku, jika engkau menulis 10 huruf, lihatlah! Apakah Kau jumpai dalam dirimu bertambah rasa takutmu (kepada Allah), kelemah-lembutanmu, dan ketenanganmu? Jika tidak kau dapati hal itu, ketahuilah ilmu yang kau catat berakibat buruk bagimu. Ia tidak bermanfaat untukmu”.

Kedua: Ibu Imam Malik bin Anas
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Uwais, “Aku mendengar pamanku, Malik bin Anas, bercerita, ‘Dulu, sewaktu aku kecil, ibuku biasa memakaikanku pakaian dan mengenakan imamah (sejenis sorban yang diikatkan di kepala) untukku. Kemudian ia mengantarkanku kepada Rabi’ah bin Abi Abdirrahman. Ibuku mengatakan, ‘Anakku, datanglah ke majelisnya Rabi’ah. Pelajari akhlak dan adabnya sebelum engkau mempelajari hadits dan fikih darinya’.”

Ketiga: Ibu Imam asy-Syafi’i
Ayah Imam asy-Syafi’i wafat dalam usia muda. Ibunyalah yang membesarkan, mendidik, dan memperhatikannya hingga kemudian Muhammad bin Idris asy-Syafi’i menjadi seorang imam besar. Ibunya membawa Muhammad kecil hijrah dari Gaza menuju Mekah.

Imam asy-Sayfi’i bercerita tentang masa kecilnya, “Aku adalah seorang anak yatim. Ibukulah yang mengasuhku. Namun ia tidak memiliki biaya untuk pendidikanku… …aku menghafal Alquran saat berusia 7 tahun. Dan menghafal (kitab) al-Muwaththa saat berusia 10 tahun. Setelah menyempurnakan hafalan Alquranku, aku masuk ke masjid, duduk di majelisnya para ulama. Ku hafalkan hadits atau suatu permasalahan. Keadaan kami di masyarakat berbeda, aku tidak memiliki uang untuk membeli kertas. Aku pun menjadikan tulang sebagai tempat menulis”.

Keempat: Ibu Imam al-Bukhari
Imam al-Bukhari tumbuh besar sebagai seorang yatim. Ibunyalah yang mengasuhnya. Ibunya mendidiknya dengan pendidikan yang terbaik. Mengurus keperluannya, mendoakannya, dan memotivasinya untuk belajar dan berbuat baik.

Saat berusia 16 tahun, ibunya mengajak Imam al-Bukhari bersafar ke Mekah. Kemudian meninggalkan putranya di negeri haram tersebut. Tujuannya agar sang anak dapat menimba ilmu dari para ualma Mekah. Dari hasil bimbingan dan perhatian ibunya, jadilah Imam al-Bukhari seperti yang kita kenal saat ini. Seorang ulama yang gurunya pernah mengatakan, “Tidak ada orang yang lebih hebat darinya (dalam ilmu hadits)”.

Kelima: Ibu Sultan Muhammad al-Fatih

Setelah shalat subuh, Ibu Sultan Muhammad al-Fatih mengajarinya tentang geografi, garis batas wilayah Konstantinopel. Ia berkata, “Engkau –wahai Muhammad- akan membebaskan wilayah ini. Namamu adalah Muhammad sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ. Muhammad kecil pun bertanya, “Bagaimana aku bisa membebaskan wilayah sebesar itu wahai ibu?” “Dengan Alquran, kekuatan, persenjataan, dan mencintai manusia”, jawab sang ibu penuh hikmat.

Itulah ibu Muhammad al-Fatih, mendidik anaknya di waktu berkah pagi hari. Dia tidak membiarkan anaknya terbiasa dengan tidur di waktu pagi. Ia lakukan sesuatu yang menarik perhatian sang anak. Memotivasinya dengan sesuatu yang besar dengan dasar agama dan kasih sayang, bukan spirit penjajahan.

So, gaes. Kita paparkan penggalan kisah di atas agar kita senantiasa jangan meremahkan peran ibu kita sekecil apapun itu.  Orang tua kita,  terutama ibu sumber ilmu,  sumber keberkahan.  Taati mereka selagi mereka taat sama Allah.  Hormati beliau bagaimanapun kondisi ilmu dan keimanan mereka. Semoga kelak kita bisa sesurga dengan bapak dan ibu kita.  Aamiin []

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Minggu, 16 Desember 2018

Liburan UnFaedah?? Unfollow ajah




LIBURAN. Siapa yang ngga langsung berbinar-binar kalau denger kata libur? Apalagi kalau liburnya ngga sehari dua hari. Kalau lihat raut wajah anak sekolah jaman now tiap pulang sekolah kebanyakan udah agak kusut, secara berangkat pagi pulang sore bahkan bisa jadi malem kalau dilanjut les. Capek? Ngga usah ditanya. Coba aja cek, kalau pas ucapin salam mau berangkat sekolah sama salam pas pulang. Biasanya nih, kalau salam mau berangkat suaranya jahr alias keras giliran pulang sekolah ucapan salamnya tiba-tiba jadi sirr alias pelan. Saking capeknya ada juga yang langsung merebahkan badannya di kasur. Sabar yaa TemanS... inilah konsekuensi dari menuntut ilmu pasti ada pengorbanannya. Imam Syafi’i salah seorang pembelajar sejati pernah mengatakan “Kalau kamu tidak tahan dengan lelahnya belajar, maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan”. Hakikatnya belajar itu adalah proses kita mengetahui dan memahami suatu ilmu atau bisa dibilang belajar itu dari yang ngga tahu jadi tahu. Maka kebayang kan betapa perih dan sakitnya bodoh itu, karna kita ngga banyak tahu ini dan itu. So, jangan bangga dulu dengan status “anak gaul” kalau ditanya ini dan itu apalagi tentang ilmu agama jawabannya banyak ngga nyambung, ngga ngerti, ngga tahu. Tulalit..tulalit..koneksi terputus. Kalau anak gaul begini sih ngga ketjeh namanya.

Liburan UnFaedah??

Bagi sebagian kalangan, liburan bukan hanya sebatas melepas penat namun lebih dari itu liburan bagi mereka selain untuk bersenang-senang juga sebagai ajang eksistensi dan pengakuan diri sebagai kaum jetset. Hobi mereka pelesir ke tempat-tempat eksotis dengan menaiki pesawat jet. Soal harga yang harus mereka bayar? Ngga usah tanya, bagi mereka berapa pun biaya yang harus dikeluarkan untuk liburan, ngga masalah. Yang penting bisa membayar kelelahan dan kepenatan yang menumpuk selama bekerja. Liburan keluar negeri untuk beberapa pekan, menikmati suasana yang berbeda, belanja ini itu yang serba branded. Eits, ngga lupa cekrek upload, banyak yang nge-like? Tambah happy dong. Buat kamu yang masih pelajar? Gimana cara libur kamu? Minimal kalau libur hari minggu deh. Bangun siang, mandi cukup sekali atau malah ngga mandi? Nonton kartun sepuasnya dirumah diawali dengan nonton doraemon? Hang out sama temen, nge-mall? Libur pokoknya having fun. Besok seninnya back to school? Yaa... ada juga yang akhirnya harus nambahin booster karna mager buat mengawali hari senin dan kembali dengan rutinitas di sekolah, belajar, bikin tugas. Makanya ada istilah i hate monday. Cung, ada yang kaya gitu? Ups..

Hhmm.. beda racikan beda juga hasilnya. Misal aja racikan bahagia, kalau ngga tepat racikannya maka hasilnya pun kita sebatas dapetin bahagia yang semu. Happy sih happy, cuma ngga long lasting gitu loh. Coba deh lihat, orang-orang yang rela cari bahagia meski harus menebus dengan harga yang ngga murah. Saat mereka menyendiri berkontemplasi ternyata masih menemukan ruang kosong di hati yang ternyata masih ngga terisi juga. Bahagia semu ini dihasilkan dari pandangan hidup sekuler, dimana pandangan ini menstandarkan kebahagiaan hanya berupa kepuasan material dan jasadiyah saja. Jadi wajar aja meski sudah mengeluarkan materi yang banyak tapi ngga worth it, masih aja ngerasa ngga puas atau ngerasa masih belum dapetin happy yang seutuhnya, happy yang hanya berdimensi duniawi.

Banyak dalil yang menyebutkan betapa kesenangan dunia adalah sesuatu yang menipu. Allah Ta’ala berfirman yang artinya “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. TQS. Al Hadid : 20

See, kesenangannya saja menipu bahkan dunianya saja diibaratkan bagaikan bangkai. Sahabat yang mulia, Jabir bin Abdullah, mengabarkan bahwa Rasulullah pernah melewati sebuah pasar hingga kemudian banyak orang yang mengelilinginya. Sesaat kemudian beliau melihat bangkai anak kambing yang cacat telinganya. Rasulullah mengambil dan memegang telinga kambing itu seraya bersabda, ''Siapa di antara kalian yang mau memiliki anak kambing ini dengan harga satu dirham.'' Para sahabat menjawab, ''Kami tidak mau anak kambing itu menjadi milik kami walau dengan harga murah, lagi pula apa yang dapat kami perbuat dengan bangkai ini?'' Kemudian Rasulullah berkata lagi, ''Apakah kalian suka anak kambing ini menjadi milik kalian?'' Mereka menjawab, ''Demi Allah, seandainya anak kambing ini hidup, maka ia cacat telinganya. Apalagi dalam keadaan mati.” Mendengar pernyataan mereka, Nabi bersabda, ''Demi Allah, sungguh dunia ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada bangkai anak kambing ini untuk kalian.'' (HR. Muslim).

Jadi, meski kita kelilingin dunia berapa kali pun, pasti tetap saja ada yang kurang dan kosong selama racikan kebahagiaannya menggunakan rumus sekuler yang hanya mampu memberikan kebahagiaan jasadi duniawi.

Teman Surga On Vacation

Terus kita ngga boleh gitu refreshing, traveling, holiday? Siapa bilang ngga boleh? Ya boleh dong sholih sholihaah. Islam agama kita adalah agama yang fitrah sedangkan manusia membutuhkan liburan juga adalah fitrah karna kita manusia bukanlah robot. “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. TQS. Ar Rum: 30.
BerIslam ngga melulu soal ibadah tapi dalam Islam semua hal bisa bernilai ibadah selama diniatkan karna Allah dan caranya sesuai tuntunan syariat Islam. Bahkan termasuk liburan yang bisa bernilai ibadah selain bisa me-refresh jiwa dan hati kita. Kalau sudah begini, bahagia haqiqi bisa dengan mudah kita dapatkan. Bahagia yang bukan hanya jasadi duniawi, tapi bahagia yang bisa mengisi “ruang kosong” meski ngga harus bayar mahal dengan berkeliling dunia.

Liburan adalah saatnya seseorang rehat sejenak dari berbagai rutinitas keseharian, namun tetap berfadah dan bernilai ibadah. Dalam riwayat bahwa sahabat Hanzhalah ra.(Beliau adalah salah satu juru tulis Nabi saw) dan sahabat Abu Bakar ra. merasa diri mereka munafik, karena di depan Nabi saw mereka semangat beriman dan beribadah, namun jika mereka bertemu dengan keluarga, istri dan anak-anak menyebabkan mereka lupa. Sehingga keduanya menemui Nabi saw dan menceritakan kondisi tersebut. Maka Nabi bersabda “Demi jiwaku yang berada dalam genggamanNya, jika kalian senantiasa dalam berdzikir dalam segala kondisi sebagaimana ketika kalian bersama saya maka para Malaikat akan menyalami kalian di rumah-rumah kalian dan di jalan-jalan kalian. Akan tetapi wahai Hanzalah, sesaat demi sesaat. Beliau mengatakan ini tiga kali” (HR. Muslim).

Imam An Nawawi mengatakan: “Rehatkan jiwa kalian dari rutinitas dengan melakukan yang dibolehkan”. Sedangkan Ali ra berkata: “Rehatkan hati kalian, karena hati juga merasa bosan sebagaimana jiwa kalian merasa capek dan bosan”. So, Islam adalah agama yang seimbang dan tidak memberatkan diri. Rasulullah saw bersabda “Sesungguhnya agama ini mudah. Tiada orang yang memberatkan diri dalam urusan agama, kecuali ia akan dikalahkan. Maka mudahkanlah, mendekatlah, bergembiralah dan gunakan sebaik mungkin waktu pagi, waktu sore, dan sebagian waktu malam kalian untuk memperbanyak kebaikan”. (HR. Bukhari)

Intinya, ada saatnya kita ibadah shalat, puasa dan lain-lain, ada saatnya kita belajar, ada saatnya kita pun untuk berlibur atau rihlah. Dengan catatan semua itu dilakukan dalam koridor syariat Islam dan Allah ridho.

Kuy, Liburan Berfaedah?!

Gimana nih Teman Surga sudah rencanain liburannya? Mau traveling sama keluarga? Boleh.. selama travelingnya ke tempat yang baik dan tujuan yang baik tentunya. Dengan melakukan traveling selain bisa untuk refreshing juga bisa sekalian tadabbur, melihat dan merenungi tanda-tanda kebesaran Allah swt. Banyak ayat yang menganjurkan kita untuk melakukan perjalanan. Salah satunya dalam qur’an surat Al Mulk ayat 15 “Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. Perjalanan yang bisa kamu lakukan adalah dengan melaksanakan ibadah umrah dan ziarah. Rasulullah saw bersabda “Tidak dianjurkan untuk melakukan rihlah atau kunjungan (dalam rangka ibadah) ke suatu tempat kecuali ke tiga masjid (saja) yaitu Masjidil Haram, Masjidku (Masjid Nabawi) dan Masjid Al Aqsha”. (HR. Muslim). Atau bisa juga kamu mengunjungi tempat-tempat bersejarah di mana Islam pernah meninggalkan jejak kegemilangan yang kelak harus kita perjuangkan agar kembali gemilang.

Liburan bisa kita isi dengan bersilahturahmi ke rumah sanak saudara juga lho, sangat bisa jadi kita jarang banget buat ngumpul karna sibuk di sekolah. Nah.. liburan ini bisa dijadiin momen buat merajut kembali silahturahmi atau silah ukhuwah dengan orang-orang sholih. “...Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. TQS. An Nisa: 1

 Atau di liburan kali ini justru jadi peluang besar kamu untuk bisa birrul walidain, misal dengan membantu pekerjaan Ibu dirumah. Buat kamu yang akhwat sekalian bisa latihan buat jadi ummu wa robatul bait kelak he hee. Buat yang ikhwan? Jangan salah, dengan kamu bantu kerjaan Ibu ngga akan ngurangin ke-kece-an kamu kok. Orang tua mana sih, yang ngga makin sayang dan bangga kalau anak-anaknya se-sholih dan se-sholihah kamu. Bisa juga, di liburan ini kamu menyusun kegiatan berfaedah yang mungkin saat sekolah sulit untuk dikerjakan. Misal, khatamin dan hapalin qur’an, atau ngerjain hobi kamu yang saat sekolah susah dikerjain. Eiya, selain itu semua liburan berfaedah lainnya adalah dengan mengikuti kajian-kajian ilmu (Islam), mendatangi majelis-majelis ilmu selain kamu dapat ilmu, kamu bisa ketemu Teman Surga baru plus pahala kebaikan dari Allah swt. Sehingga selepas liburan berlalu, bukan hanya jiwa dan hati yang telah ter-recharge, namun kita mendapati diri menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya dengan semakin meningkatkan iman dan taqwallah. Selamat berlibur dan meraih bahagia haqiqi yaaz...

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Senin, 10 Desember 2018

Say No to “maksiat”




Human Immunodeficiency Virus alias HIV masih menjadi momok menakutkan bagi manusia. Apalagi sampe sekarang, belon ketemu obat yang jitu untuk menaklukkan virus yang pertama kali dikenali pada tahun 1980 ini. HIV menyerang sel darah putih yang mengakibatkan turunnya kekebalan tubuh sehingga mudah terinfeksi berbagai macam penyakit yang tak kunjung sembuh. Kondisi inilah yang dikenal sebagai Acquired Immune Deficiency Syndrome alias AIDS. Ngeri!

Sepak terjang HIV seolah tak terbendung. Epidemi AIDS telah menyebar dengan sangat cepat. Berdasarkan data dari UNAIDS, terdapat 36,9 juta masyarakat berbagai negara hidup bersama HIV dan AIDS pada 2017. Dari total penderita yang ada, 1,8 juta di antaranya adalah anak-anak berusia di bawah 15 tahun. Selebihnya adalah orang dewasa, sejumlah 35,1 juta penderita. Dan jumlah kematian yang disebabkan oleh AIDS sebanyak 940.000 kasus di seluruh dunia. (Kompas.com - 01/12/2018)

Di Indonesia sendiri, jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan sampai dengan Juni 2018 sebanyak 301.959 jiwa dan paling banyak ditemukan di kelompok umur 25-49 tahun dan 20-24 tahun. Jika dikelompokkan berdasarkan latar belakangnya, penderita HIV/AIDS datang dari kalangan pekerja seks komersial (5,3 persen), homoseksual (25,8 persen), pengguna narkoba suntik (28,76 persen), transgender (24,8 persen), dan mereka yang ada di tahanan (2,6 persen).

Dari data di atas, ternyata penyebaran HIV tumbuh subur dalam gaya hidup seks bebas dan penggunaan narkoba suntik yang kian ’banyak’ peminatnya, terutama di kalangan remaja. Hat-hati!

Gaul Bebas Kebablasan
Pada Mei 2011, survey yang dilakukan lembaga internasional DKT bekerja sama dengan Sutra and Fiesta Condoms mengungkap, remaja tak lepas dari seks bebas. Buktinya, 462 responden berusia 15 sampai 25 tahun semua mengaku pernah berhubungan seksual. Semua, 100 persen! Dan, mayoritas mereka melakukannya pertama kali saat usia 19 tahun. Survey dilakukan di Jakarta, Surabaya, Bandung, Bali, dan Yogyakarta (Republika.co.id, 12/12/2011).

Data tahun 2012 juga nggak kalah menariknya. Menteri Komunikasi dan Informasi, Tifatul Sembiring kepada Radar Bogor (Grup JPNN) menuturkan, berdasarkan riset pornografi di 12 kota besar Indonesia terhadap 4.500 siswa-siswi SMP, ditemukan sebanyak 97,2 persen dari mereka pernah membuka situs porno. “Bahkan, data tersebut juga menyebutkan 62,1 persen siswi SMP pernah berzina dan 22 persen siswi SMU pernah melakukan aborsi,” ujarnya. (jpnn.com, 16/6/2012)

Sebuah survei yang dilakukan oleh Komite Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dan Kementrian Kesehatan, (Kemenkes) pada Oktober 2013 memaparkan bahwa sekitar 62,7% remaja di Indonesia telah melakukan hubungan seks di luar nikah.  20% dari 94.270  perempuan yang mengalami hamil di luar nikah juga berasal dari kelompok usia remaja dan  21%  diantaranya pernah melakukan aborsi.Lalu pada kasus terinfeksi HIV dalam rentang 3 bulan sebanyak 10.203 kasus, 30% penderitanya berusia remaja. Astagfirullah.

Selain HIV dan penyakit menular seksual (PMS), perilaku seks bebas juga rawan akan tekanan psikis. Kebanyakan remaja cuman pengen enaknya aja yang sesaat, tapi nggak mau dengan anaknya. Cowoknya nggak mau tanggung jawab, yang ceweknya juga malu kalo ketahuan hamil duluan. Solusinya, aborsi alias pengguguran kandungan. Kalo ceweknya nggak mau aborsi, cowoknya bisa kalap dan tega ngabisin pacarnya. Malah nggak sedikit yang ’tabrak lari’. Kalo udah ditinggalin pacar, ceweknya bisa depresi karena menanggung aib seorang diri. Kepalang tanggung, nggak sedikit diantara mereka yang akhirnya terjerumus dalam dunia prostitusi karena ngerasa udah nggak suci lagi. Na’udzubillah.

Temans, kalo kita masih sayang sama diri sendiri, sama orang-orang yang kita sayangi, sama masa depan kita di akherat, dan nggak pengen disamain dengan hewan, jangan coba-coba mencicipi gaya hidup seks bebas dengan segala keturunannya. Termasuk nggak pacaran sebelum merit. Lantaran, berpacaran cuman menjerat kita dalam lingkaran syahwat yang nggak ada abis-abisnya. Lebih bagus lagi kalo kita juga jauh-jauh dari media porno yang bisa membakar syahwat dan meng-KO akal sehat. So, kalo udah jelas banget dampak buruk dan dosanya, tentu wajar dong kalo kita harus berani bilang, say no to free sex! Betul?

Narkoba Biang Bencana
Hingga saat ini, sepak terjang narkoba yang menjerat remaja semakin menggila. Dan parahnya nggak pandang usia. Apalagi narkoba semakin mudah diperoleh dengan harga terjangkau bagi kantong pelajar. Bayangin aja, cuman seharga pulsa goceng kita bisa dapetin 1 strip narkoba yang isinya 12 tablet. Ditambah lagi, para pengedar narkoba dengan senang hati ngasih gratisan demi menjerat mangsanya.

Walhasil, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat dari 87 juta populasi anak di Indonesia, sebanyak 5,9 juta di antaranya menjadi pecandu narkoba. Mereka jadi pecandu narkotika karena terpengaruh dari orang-orang terdekat.

“Dari total 87 juta anak maksimal 18 tahun, tercatat ada 5,9 juta yang tercatat sebagai pecundu,” kata Komisioner Bidang Kesehatan KPAI, Sitti Hikmawatty dalam konferensi pers di Gedung KPAI, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (6/3/2018).

Lantaran udah kecanduan, nggak sedikit remaja yang menghalalkan segala cara demi menikmati narkoba. Dari tindakan kriminal sampe melacurkan diri. Belum lagi perasaan nggak puas, memaksa penggunanya untuk berpetualang mencari kenikmatan sesaat dari berbagai jenis narkoba. Awalnya, cuman minum pil BK atau megadon, terus ngisep cimeng (ganja), menghirup bubuk morfin, hingga nyuntik heroin yang dicairkan ke dalam urat nadi. Makin lama, bukannya puas malah makin nyandu. Persis kaya minum air laut. Semakin diminum, justru semakin haus!

Secara psikis, pecandu narkoba cenderung menutup diri dari lingkungan dan selalu dihantui rasa takut. Takut ketauan dan takut nggak bisa make lagi. Ini yang menghancurkan hidup pecandu. Secara fisik, narkoba bikin badan kurus kering, mata sayu, gak napsu makan, apalagi olahraga. Rasanya, tubuh kita nagih pengen diisi narkoba terus. Dan kalo udah sakaw, sakitnya nggak ketulungan. Nyawa serasa digantung. Hidup segan mati tak mau. Belon lagi penularan penyakit lewat penggunaan jarum suntik bareng-bareng. Rawan banget kena hepatitis C, Hepatitis B, Sipilis, Malaria, atau HIV. Semuanya bisa berujung pada kematian. Mau?

Temans, menjauhi narkoba bukan hanya musuhan sama pil koplo, ekstasi, ganja, putaw, dan sanak kerabatnya. Tapi juga menjaga diri dari lingkungan yang bisa menyeret kita dalam jeratan narkoba. Seperti tren clubbing dalam dunia gemerlap (dugem) yang bisa mengenalkan kita sama narkoba. Awalnya cuman kenalan, terus penasaran, lalu ikut nyoba yang gratisan, akhirnya jadi ketagihan. Makanya, jangan coba-coba pake narkoba yang jelas-jelas dosa dan bikin hidup kamu sengsara. Oke?!

Berani Katakan, TIDAK!
Bilang ’nggak’, emang tak semudah yang dibayangin. Pastinya kita udah pernah berada pada situasi yang sulit bagi kita untuk berkata tidak. Padahal kita tahu resiko yang bakal ditanggung kalo jawab iya. Tapi ya itu, suka ada pertimbangan yang amat sangat mempengaruhi perasaan kita. Walhasil, mulut lebih manut sama perasaan dibanding akal sehat kita. Gawat tuh!

Emang, menginjak usia remaja, pertimbangan teman sebaya sering kali jadi prioritas dibanding yang lain. Kondisi inilah yang sering dikenal sebagai peer pressure alias tekanan teman sebaya yang kecenderungannya memaksa. Nggak papa sih kalo pemaksaannya terhadap hal yang positif kaya ’terpaksa’ ikut ngaji, menutup aurat, dan menjaga pergaulan. Parahnya, peer pressure lebih sering mengarah pada perilaku negatif. Mulai dari bolos sekolah, tawuran, pacaran, seks bebas, nge-drugs, merokok, nenggak botol, bullying sama teman, sampe tindakan kriminal. Semuanya adalah maksiat kepada Allah.

Peer pressure sering berlindung di balik alasan demi solidaritas teman. Remaja seolah nggak punya pilihan untuk menolak kalo pengen tetep diakui dan diterima sama temannya. Itu berarti, remaja lebih takut dijauhin oleh teman-temannya dibanding mikirin kebaikan untuk dirinya sendiri.

Punya teman itu emang penting dan perlu. Tapi kalo ada unsur pemaksaan untuk berbuat maksiat atas nama solidaritas, itu tanda pertemanan yang nggak sehat. Dalam kondisi itu, kamu harus berani berkata tidak. Menolak ajakan teman bukan berarti memutuskan persahabatan. Justru menunjukkan rasa sayang dan kepedulian kita biar teman nggak makin terjerumus. Inget, kita nggak selamanya muda. Ada masa tua yang harus kita songsong. Dan kita pun nggak selamanya hidup. Ada saatnya kita mesti rela meninggalkan dunia. Apa jadinya masa depan kita, kalo di usia muda terhanyut budaya hedonis yang ngejar kesenangan semata?

Untuk keluar dari peer pressure, kita mesti punya prinsip hidup untuk menilai ajakan teman. Pastinya prinsip yang dipake juga mesti bener. Biar sikap yang kita ambil juga bener. Nah, kalo mencari prinsip hidup yang bener, tentu aja Islam jawabannya. Karena hanya prinsip hidup Islam yang mampu menjaga perilaku kita tetep beretika dan menumbuhkan keberanian pada diri kita untuk berkata tidak dari peer pressure yang ngajak maksiat. Hasilnya, kita lebih berhati-hati dalam bersikap. Allah swt berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isrâ [17]: 36).

Temans, prinsip hidup Islam akan tumbuh dalam diri kita kalo kita mau mengenal Islam. Mengenal Islam bukan hanya tahu cara shalat, puasa, zakat, atau ibadah haji. Yang nggak kalah pentingnya, mengenal Islam sebagai aturan hidup yang akan menyelamatkan kita dunia akhirat. Punya prinsip hidup Islam bikin kita jadi lebih pede dalam bergaul. kita nggak gampang tergoda oleh tren budaya sekuler yang membidik remaja. Malah kita berani speak up, ngingetin teman-teman biar lolos dari jeratan budaya sekuler yang merusak masa mudanya. Yup, saatnya kita berani teriakkan: say no to drugs, free sex, liberalism, hedonism, capitalism. Say no to “maksiat”. And say yes to Islam as way of life!

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Senin, 03 Desember 2018

Jadilah Generasi Pemegang Bara Islam




Gaes, kamu ngerasa nggak sih kalo seakan-akan Islam ditakuti oleh sebagian orang? Terutama di negeri kita tercinta ini, kalo umat Islam sudah kumpul dengan jumlah gede, seolah-olah jadi ancaman pihak lain. Umat Islam identik dengan wajah garang, sebutan teroris, radikal, dan karenanya orang atau umat lain disuruh berhati-hati, mewaspadai Islam. Duh… duh, piye iki? Ini pasti hanya bentukan opini, ini pasti rekayasa menyesatkan tentang Islam, sehingga framing semacam itu kudu diluruskan, biar generasi kita, teman-teman remaja, nggak alergi bin takut terhadap agamanya sendiri.

Jangan Mudah Terprovokasi
Jika ada yang mengatakan Islam atau umatnya radikal, maka kudu dibenerin dulu pemahaman kita tentang radikal itu sejatinya kayak apa. Jangan mudah terprovokasi kalo umat Islam itu radikal, maka malah justru menimbulkan saling curiga sesama muslim. Jangan mudah termakan opini tentang Islam itu radikal, sebelum kita ngeh kalo radikal itu memang dibutuhkan atau nggak oleh umat Islam. Jangan karena hanya nggak pengin dituduh radikal, malahan yang terjadi kita menjadi barisan penyela Islam. Wah, kalo sudah seperti itu namanya, ter-lam-pau itu gaes.

Radikal, secara istilah dalam kamus besar bahasa Indonesia, artinya adalah mendasar (sampai ke hal yang prinsip). Nah, menengok secara istilah maka kalo Islam itu dikatakan radikal, memang seharusnya begitulah Islam, yakni mendasar, mengakar, fundamental, prinsipil atau bahasa sejenisnya. Sebab Islam itu kan memiliki yang namanya akidah. Akidah berasal dari kata al-'aqdu (الْعَقْدُ) yang berarti ikatan, at-tautsiiqu (التَّوْثِيْقُ) yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu (اْلإِحْكَامُ) yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquw-wah (الرَّبْطُ بِقُوَّةٍ) yang berarti mengikat dengan kuat. Nah, dari sisi akidah saja, kita diajarkan untuk mendasar bangets, hal yang kokoh banget. Masa iya, ketika seorang muslim mau memegang teguh Islamnya, kemudian nggak mau disebut radikal?

Iya, memang istilah radikal saat sekarang ini menjadi semacam labeling yang nggak mengenakan. Karena istilah radidkal ini lebih didekatkan dengan yang bikin ricuh, yang berdemo bikin kerusakan, yang ngebom sana-sini. Kalo radikal yang ditunjukkan atau didekatkan dengan hal-hal kayak gitu, itu jelas kita juga nggak setuju, dan Islam nggak ngajarin kayak begitu. Jelas bangets hal seperti itu bukan radikal dalam arti yang sebenarnya. Makanya, sekali lagi, jangan mudah terprovokasi dengan opini yang berkembang saat ini.

Islam juga mengenal yang namanya syariat. Sementara syariat itu kan perwujudan dari akidah tadi, yang mana syariat Islam ini komplit. Mengatur perilaku manusia antara hubungan manusia dengan Allah yang disebut syariat tentang ibadah. Ada juga syariat yang mengatur manusia dengan dirinya sendiri, yang tercantum dalam hukum-hukum akhlak, seperti berpakaian, makanan, dll. Trus, Islam juga memiliki syariat tentang hubungan manusia dengan manusia yang lain, baik dengan muslim maupun non muslim, yang termaktub dalam hukum-hukum muamalah, termasuk di dalamnya aturan atau sistem berpolitik, pendidikan, ekonomi, dll ada disini.

Nah, terhadap syariat-syariat tersebut, perintah Allah kan jelas banget dalam al-Qur’an. “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208).

Kalo seorang muslim, pengin ngejalanin syariatnya yang lengkap dan mulia tersebut, lalu disebut radikal yang lebih ke konotasi negative, maka itu jelas salah bin tuduhan yang jahat banget. Seseorang ketika dia menyatakan diri sebagai muslim dengan kalimat syahadatnya, auto konsekuen untuk terikat dengan syariat Islam. Itu hal yang mendasar banget, hal yang memang seharusnya kaum muslim kudu begitu. Kalo seperti itu diartikan radikal, dalam arti mendasar, itu benar. Tapi kalo sudah diframing untuk didekatkan dengan hal-hal yang sifatnya merusak, negative, maka apa yang kamu lakukan itu jahat, hehee..

Nahyi Munkar Itu Bukan Kriminal
TemanS, ketika seseorang menjadi muslim, setelah bersyahadat dan terikat serta menjalankan syariat, berikutnya adalah mendakwahkan Islam. Amar ma’ruf nahyi munkar Itu juga kewajiban bagi setiap muslim. Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim)

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung” (QS : Ali Imran, 104)

Dan masih banyak dalil lain yang berisi perintah amar maruf nahyi munkar. Sekali lagi, hal itu merupakan pelaksanaan dari syariat berdakwah. Nah, aneh kalo ada yang mencap radikal dalam pengertian negative ketika umat muslim mau berdakwah amar maruf nahyi munkar. Amar ma’ruf alias memerintahkan, mencontohkan, menyarankan kepada kebaikan (ma’ruf) itu jelas yang baik dan benar. Tapi kadangkala yang diidentikan dengan hal yang buruk ketika mau melakukan nahyi munkar alias mencegah kemungkaran. Kayaknya kalo yang bagian ini, nggak semua orang rela untuk melakukan, dan nggak semua orang mudah dicegah untuk nggak ngelakuin kemungkaran.

Memang seakan-akan ada perbedaan antara amar ma’ruf (menyuruh yang baik) dengan nahyi munkar (mencegah yang buruk). Padahal kedua-duanya jalan berbarengan, nggak boleh ditinggalin salah satunya. Hanya saja, memang saat ini yang kelihatan diidentikan dengan kejahatan, dan seakan-akan sebuah kriminal, kalo seorang muslim melakukan nahyi munkar. Padahal antara baik dan buruk kalo dalam pandangan Islam, kayak dua sisi keping mata uang.

Misal, kalo kita menyuruh atau mengajak seorang muslim untuk ngerjain ibadah sholat wajib, itu baik, masuknya ke amar ma’uf. Nah, ketika kita mencegah seorang muslim untuk tidak sholat wajib, serta agar dia tidak mengajak, menularkan ke muslim yang lain untuk sama-sama nggak ngerjain kewajiban sholat, maka aktivitas pencegahan semacam itu masuk kategori nahyi munkar. Jadi, jangan dan nggak boleh dipisah-dipisahin antara amar makruf dengan nahyi munkar, itu satu paket.

Trus, ketika seorang muslim melaksanakan perintah nahyi munkar itu bukan kejahatan, bukan kriminal. Kalo ada yang gerah, ketika kemaksiatan, kemunkarannya dicegah, maka kemungkinannya, dia pelindung dari kemaksiatan tersebut, atau malahan dia pelaku kemaksiatannya, yang masih enggan untuk ninggalin kemaksiatan tersebut. Mencegah kemungkaran pacaran misalnya, biar pacaran nggak jadi life style nya anak-anak muda ketika bergaul dengan lawan jenis, maka itu bagian dari dakwah. Aktivitas kayak gitu, nggak boleh dicap sebagai kejahatan, apalagi disebut intoleran. Justru amal dakwah itu adalah aktivitas mulia, aktivitas para nabi.

Tujuan Mereka Sebut Kita Radikal
Gaes, dari sini kira-kira man-teman bisa menerka nggak, apa kira-kira tujuan dari beberapa pihak yang menuduh kita ini radikal, sehingga Islam itu seakan-akan sebuah ancaman? Ada yang tahu nggak apa tujuan mereka ngelakuin hal kayak gitu?

Nih tujuannya … "Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai." (QS At-Taubat9:32).

Yupz, apa yang mereka lakuin dengan tuduhan-tudahan keji itu semuanya bermuara pada pemadaman cahaya Islam. Mereka nggak rela kalo Islam tetap bercahaya, mereka nggak suka kalo Islam itu kembali Berjaya. Mereka penginnya, generasi-generasi Islam itu jadi generasi yang letoy, nggak peduli dengan Islam, generasi yang ngikut peradaban Barat yang cenderung merusak.

Kita ngomong, eh.. nulis begini bukan tanpa bukti. Ini bukan juga provokasi, karena buktinya sudah terpapar dengan jelas. Kalo Islam dikerdilkan, nggak boleh bicara yang radikal, nggak boleh ngelakuin amar makruf nahyi munkar, maka sudah pasti, generasi muslimnya jadi generasi penganut akidah dan syariat selain Islam. Jelas sekali tujuannya ke situ, dan ini super duper bahaya buat Islam dan generasinya. Karena kalo Islam dicegah dari aktivitas amar makruf nahyi munkar, dan ketika berbicara amar makruf nahyi munkar dicap radikalis, maka sebagian besar isi Al-Qur’an dan Hadist akan tidak terjalankan.

Kalo mereka berhasil menuduhkan radikalis ke generasi muslim, maka nanti bakal muncul sikap defensive apologetic. Nah apa defensive apologetic? Ya, sikap dimana sekan-akan dia menghindari dari tuduhan tersebut, lalu membela dan menempatkan diri seperti yang diinginkan yang menuduhkan. Riilnya kayak gini, kalo generasi muslim kita dituduh “jangan fanatik-fanatik banget deh”, lalu sikap defensive nya “Ah gue mah nggak fanatik, gue orangnya moderat”. Contoh lain yang ekstrim, ketika ada yang menuduh “Kamu teroris ya?”, maka sikap defensivenya “Nggak gue pluralis”.

Nah, sikap seperti itu berbahaya banget man-teman, karena nanti seakan-akan Islam itu dikotak-kotak menjadi Islam teroris vs moderat, islam fundamentalis vs pluralis, islam fanatic vs islam biasa-biasa aja, dan sebagainya. Kalo penggiringan opini jahat kaum yang benci Islam itu berhasil, maka yang terjadi muncullah generasi Islam yang nggak lagi cinta Islam, sebaliknya generasi yang nggak ngeh atau malah benci syariat Islam.

Misalnya ketika ada tuduhan bahwa syariat Islam berupa jihad itu sebagai tindakan teroris, radikalis, dan generasi muslim ayo aja ketika dituduh begitu, maka berikutnya generasi muslim, takut sendiri dengan syariat tentang jihad, atau malah anti dengan jihad. Ini kan parah ?! Padahal, jihad adalah bagian dari syariat Islam.

Memegang Bara Islam
So gaes, Islam berikut syariat-syariatnya ini membawa kedamaian bukan ancaman. Bukan berarti ketika membawa kedamaian, lalu dibelokkan opininya bahwa Islam itu moderat, Islam itu toleran dengan kemungkaran. Nggak begitu juga. Makanya nih gaes, sebagai generasi muslim kita memang kudu banyak-banyak nyari ilmu, biar nggak mudah dibelokkan oleh opini-opini yang menyesatkan. Ilmu itulah yang bakal jadi benteng, ketika ada serangan-serangan dari orang-orang yang hendak memadamkan cahaya Allah tadi. Makanya jangan males, yang rajin ngajinya. #YukNgaji

Then, ilmu dan ngaji juga yang jadi salah satu faktor bisa bikin kita istiqomah di dalam Islam. Di jaman kiwari seperti sekarang ini, serangan-serangan itu makin kuat, kalo kita nggak siapin bentengnya, bakal jebol juga pertahanan Islam kita.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda, “Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi).

Jadi, istilahnya sedia payung sebelum hujan, persiapkan benteng sebelum musuh datang menyerang. Maka saat itulah, istiqomah akan mudah kita dapatkan. Biarlah kita menjadi generasi para pemegang bara Islam, asalkan balasannya surga. Allahu Akbar! []


***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Selasa, 27 November 2018

Muliakan Gurumu




Pernah dengar kan slogan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa? Siapa lagi kalau bukan cikgu alias guru. Yes... sedari kita sekolah Te-Ka, sampe sekarang pastinya banyak banget guru yang begitu luar biasa mengajari kita tentang ilmu pengetahuan bahkan juga ikut mendidik kita agar menjadi anak yang bukan saja berprestasi tapi juga berbudi baik. So, that’s why guru adalah orang tua kita di sekolah karna perannya yang juga mendidik kita. Jadi, kalo ada guru yang menegur, bersikap tegas sama kita supaya kita disiplin itu sih wajar. Iya ngga temans? Kebayang ngga tuh, kalau guru ngga mendidik kita untuk disiplin, mau jadi apa coba kita nanti setelah lulus. Sedangkan salah satu  modal sukses meraih cita-cita adalah disiplin. So, kamu mau sukses dunia wal akhiroh? Ayoo... terusin bacanya.

Guruku sayang, Guruku Malang
Sosok guru tak ubahnya bagaikan pembawa cahaya, karna pada hakikatnya ilmu adalah cahaya (al ilmu nuur). Mungkin sembari kita membaca buletin ini memori kita kembali ke masa dimana saat kita sekolah pertama kali entah itu saat Taman Kanak-Kanak atau Sekolah Dasar. Guru-guru kita pada saat itu luar biasa sabar mengajari kita membaca, menulis, bahkan membesarkan hati kita dengan sapaannya yang lembut bahwa kita adalah anak yang pintar. Memanglah guru adalah profesi yang mulia dimana mereka tak segan untuk membagi ilmunya kepada semua muridnya tak terkecuali, mereka ngga pernah tuh berpikir kalau ilmunya dibagikan maka ilmu mereka akan berkurang. Seorang guru bisa mencetak banyak profesi seperti dokter, arsitek, polisi dan lain-lain tapi seorang dokter, arsitek atau polisi belum tentu bisa jadi seorang guru. itulah unik dan kerennya seorang guru. Satu lagi, seorang guru ngga akan pernah punya perasaan iri ketika melihat anak didiknya menjadi seorang yang berhasil atau sukses yang ada mereka malah bangga meski kita tahu “balasan” atas jasanya yang luarbiasa rasanya belum sebanding. Bisa jadi inilah yang akhirnya mereka dikatakan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Tapiiii... bukan berarti tanpa tanda jasa trus guru-guru kita boleh diperlakukan semena-mena ya!! Don’t ever do that ya friends!! Seperti yang baru-baru ini viral di media sosial nih, beberapa pelajar yang terlihat berlaku tidak sopan terhadap gurunya dengan mendorong ditambah dengan mengoloknya. Hal ini tentu tidak patut dilakukan seorang murid kepada gurunya meski kabar menyebutkan mereka melakukan itu dengan alasan bercanda. Kalau kaya gitu sih, becanda yang kelewatan bin kebablasan. Fakta memprihatinkan lainnya dari dunia pendidikan kita bagaimana seorang siswa ada yang berani melukai gurunya bahkan ada yang memenjarakan gurunya hanya karena tidak terima saat ditegur. Sontak saja banyak yang akhirnya memberi perhatian khusus kepada guru tersebut betapa seorang guru yang berjasa harus menerima balasan jeruji penjara. Tentu teguran atau bahkan marahnya guru sekalipun yang tentu berada pada koridor yang dibenarkan adalah dalam rangka mendisiplinkan anak didiknya. Ingat sobat, teguran guru kita saat ini bisa jadi kunci keberhasilan kita di masa depan. Bayangkan jika perbuatan yang tidak baik masih terus kita lakukan karna tidak ada yang menegur, maka kita akan menjadi sosok yang tidak baik di masa yang akan datang.
Come on friends, bisa jadi guru-guru kita masih belum tersejahterakan dalam kehidupannya tapi apakah itu membuat mereka berhenti dari tugasnya? Tidak. Mereka malah terus bersemangat untuk mencerdaskan anak bangsa agar negeri ini bisa dibangun oleh putra dan putri negerinya sendiri. Stop untuk melabeli guru-guru kita dengan label yang tidak baik misalnya guru “killer” karna dipandang galak oleh kita padahal coba deh renungi ngga mungkin ada guru yang ngga ada sebab musabab trus marah-marah. Stop bully guru dengan label apa pun, mulailah untuk menghormati dan memuliakannya. Rasulullah saw bersabda “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti (hak) orang yang berilmu” (HR. Ahmad).

Guru : Digugu dan Ditiru
Pernah dengar peribahasa Guru kencing berdiri, murid kencing berlari? Pasti sering dengar ya..  peribahasa itu bermakna bahwa seorang murid biasanya mencontoh gurunya. Oleh karnanya, seorang guru harus bisa menjadi sosok yang digugu dan ditiru. Yang pertama, guru harus bisa digugu dimana perkataannya harus dijadikan panutan. Itu kenapa seorang guru harus punya kewibawaan, ilmu serta wawasan yang mumpuni. Karena apapun yang dikatakan seorang guru akan dianggap benar oleh murid-muridnya. Coba aja kamu perhatikan ketika adikmu yang masih TK atau SD, mereka sering bilang “kata bu guru begini bukan begitu, atau “kata bu guru yang ini bukan yang itu” maka sang anak biasanya akan lebih manut dengan gurunya. Yang kedua, guru harus bisa ditiru baik apa yang diucapkannya berupa ilmu pengetahuan dan budi pekertinya. Intinya kepribadian guru akan ditiru oleh sang murid.
For your information nih, dalam Islam goals atau tujuan dari pendidikan adalah mendidik muridnya agar menguasai ilmu pengetahuan, sains dan skill (keterampilan) lainnya yang berguna didalam kehidupan, Tidak cukup hanya itu, pendidikan Islam pun harus mempu membentuk muridnya agar berkepribadian mulia (Islam) dimana mereka senantiasa menyandarkan apa dipikirkan dan apa yang akan dilakukan sesuai dengan perntah Allah. Jadi, kalau ada guru matematika, guru sejarah atau guru yang lainnya mengajarkan kita tentang akhlak yang mulia, mendidik kita dengan tuntunan agama, mengingatkan kita untuk sholat, bahkan menutup aurat itu merupakan suatu kewajaran bahkan kewajiban, karna pada hakikatnya semua guru itu adalah guru agama. Ingat TemanS, menjadi cerdas aja ngga cukup. Agar lebih keren dan disayang orang tua terlebih oleh Allah. Jadilah pelajar yang SMART with Islam yaitu pelajar sholih/sholihah yang cerdas. Kalau udah kaya gini, in sya Allah sukses dunia dan akhirat bisa didapat.
Gimana, sudah kebayang betapa tugas guru begitu mulia? Para guru yang mendedikasikan dirinya untuk mencerdaskan generasi, maka bisa dibayangkan entah berapa banyak ilmu dan amal jariyah yang didapatkan seorang guru karna ilmunya yang bermanfaat telah dibagikan kepada murid-muridnya. So, orang tua kita sudah mengamanahkan dan mempercayakan kita dididik di sekolah sedari dini, let’s study yang betul.

Berkahi ilmu dengan hormati guru
Sebagai seorang penuntut ilmu kita wajib untuk mengikuti rambu-rambu alias adab-adab dalam menuntut ilmu salah satunya adab murid terhadap guru agar ilmu yang kita dapatkan menjadi berkah dan berfaedah. DR. Umar As-Sufyani Hafidzohulloh mengatakan “Jika seorang murid berakhlak buruk kepada gurunya maka akan menimbulkan dampak yang buruk pula, hilangnya berkah dari ilmu yang didapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya atau tidak dapat menyebarkan ilmunya”. Para ulama mazhab, Imam Ahmad, Imam Syafi’i, dan lainnya adalah murid-murid yang sangat menghormati dan memuliakan para gurunya. jangankan berbuat gaduh saat belajar, Imam Syafi’i merasa segan meski hanya untuk minum air saat sedang belajar. Sedangkan Imam Malik saat hendak membuka lembaran bukunya, maka Ia melakukannya dengan sangat perlahan agar tidak berisik. Pantas saja mereka menjadi ‘orang besar”, itu karna memuliakan guru.  Maka ilmu mereka pun menjadi berkah dan nama mereka sampai saat ini dikenal dan ilmunya dijadikan rujukan dalam beramal. Kamu mau seperti mereka?? Let’s check and do it.
Pertama, adab duduk adalah dengan tidak membentangkan kaki dan tidak bersandar. Ini kl duduknya bukan di kursi ya guys.Ibnul Jamaah mengatakan “Seorang penuntut ilmu harus duduk rapi, tenang, tawadhu, mata tertuju kepada guru, tidak membentangkan kaki, tidak bersandar, tidak pula bersandar dengan tangannya, tidak tertawa dengan keras, tidak duduk di tempat yang lebih tinggi dan juga tidak membelakangi guru. Kedua, adab berbicara. Imam Abu Hanifah pun jika berada didepan Imam Malik, Ia layaknya seorang anak di hadapan ayahnya. Para sahabat adalah murid bagi Rasulullah saw dan mereka tidak pernah beradab buruk, tidak pernah memotong ucapan atau mengeraskan suara di hadapan Rasulullah saw. Bahkan orang sekaliber Umar Bin Khattab yang terkenal keras wataknya tidak pernah menarik suaranya di hadapan Rosul sampai beliau kesulitan mendengar suara Umar saat berbicara. “Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah saw duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satupun dari kami yang berbicara” (HR. Bukhari). Ketiga, Adab bertanya. Bisa jadi apa yang diajarkan oleh guru ada yang belum kita pahami sehingga kita bertanya kepadanya. Allah swt berfirman, Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS. An Nahl: 43). Dengan bertanya maka akan terobati kebodohan, hilang kebingungan, serta mendapat ilmu. Para ulama telah menjelaskan tentang adab bertanya ini. Mereka mengajarkan bahwa pertanyaan harus disampaikan dengan tenang, penuh kelembutan, jelas, singkat dan padat, juga tidak menanyakan pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya. Keempat, Adab mendengarkan pelajaran. Diriwayatkan Yahya bin Yahya Al Laitsi tak beranjak dari tempat duduknya saat para kawannya keluar melihat rombongan gajah yang lewat di tengah pelajaran, Yahya mengetahui tujuannya duduk di sebuah majelis adalah mendengarkan apa yang dibicarakan gurunya bukan yang lain. Maa sya Allah. How about us? Hhmm.. kayanya ada temen kita ngobrol, kita malah ikutan asik ngobrol padahal guru sedang menjelaskan pelajaran. Mulai sekarang ubah kebiasaan ini yah.
Kelima, Mendoakan guru-guru. Banyak dari kalangan salaf berkata, “Tidaklah aku mengerjakan sholat kecuali aku pasti mendoakan kedua orang tuaku dan guru guruku semuanya.” Keenam,  guru juga manusia. Meski tugasnya mulia, bisa jadi ada kekurangan atau kesalahan yang guru lakukan namun tentu ngga tiba-tiba kita jadi berlaku tidak hormat pada mereka apalagi mencari-cari kesalahan guru. Para ulama salaf senantiasa berdoa “Ya Allah tutupilah aib guruku dariku, dan janganlah kau hilangkan keberkahan ilmunya dariku.” Adab dalam menegur mereka pun perlu diperhatikan mulai dari cara yang sopan dan lembut saat menegur dan tidak menegurnya di depan orang banyak. The last but not least, meneladani guru. Merupakan suatu keharusan seorang penuntut ilmu mengambil ilmu serta akhlak yang baik dari gurunya. Ibnu Utsaimin berkata, “Jika gurumu itu sangat baik akhlaknya, jadikanlah dia qudwah atau contoh untukmu dalam berakhlak. Namun bila keadaan malah sebaliknya, maka jangan jadikan akhlak buruknya sebagai contoh untukmu, karena seorang guru dijadikan contoh dalam akhlak yang baik, bukan akhlak buruknya, karena tujuan seorang penuntut ilmu duduk di majelis seorang guru adalah mengambil ilmunya kemudian akhlaknya.”  Oke temanS, semoga kita menjadi orang yg bisa memuliakan para cikgu.

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Selasa, 20 November 2018

Dicari: Generasi Qur’ani!




Ajang pencarian bakat tengah merajalela di layarkaca. Dari orang dewasa, remaja, hingga anak-anak berlomba-lomba ikut audisi. Siapa tahu kepilih dan masuk babak eliminasi, workshop, atau spektakuler. Kan lumayan, bisa nongol di layar kaca saban hari. Apalagi kalo anak-anak yang jadi peserta kompetisi. Lucu, Imut, dan ngegemesin. Ini yang dicari produsen televisi untuk naekin rating biar para pemasang iklan kepancing.  Dan pastinya kebanjiran fulus. Cring..cring..!

Sedari Kecil Berlomba Jadi Idola

"Mau lihat tingkah polos mereka, mau lihat kelucuan mereka, saksikan....," Bunyi iklan pencarian bakat anak-anak di sebuah stasiun televisi ini cukup menarik perhatian pemirsa. Anak-anak dengan segala tingkah polosnya saat menjadi peserta disorot dari berbagai sudut pandang. Sejak saat audisi, tampil menggemaskan di depan juri, hingga performance di babak eliminasi dan spektakuler. Nggak ketinggalan adegan drama saat sang anak nggak lolos audisi atau tereliminasi.

Sedari kecil adik-adik zaman now banyak yang didorong oleh orangtuanya ikut ajang pencarian bakat. Katanya sih, sebagai media penyaluran bakat. Ngasih pengalaman baru untuk nunjukin kemampuan apa yang dikuasainya, ngerasain deg-degan saat berkompetisi, hingga belajar bersikap ketika menang atau kalah.

Niat awalnya sih sang ortu pengen ngeliat anaknya tampil dihadapan juri. Aktualisasi diri. Polos. Nervous. Setelah lolos audisi hingga tembus babak grand final, jadi kepikiran deh kalo anaknya bisa jadi idola baru. Apalagi selama berlangsungnya kompetisi, media terus-terusan menampilkan keseharian peserta dari berbagai sisi. Terutama bagian yang menguras emosi. Otomatis saking seringnya nongol di layar kaca, peserta ajang pencarian bakat makin dikenal masyarakat. Kalo udah gitu, pintu popularitas makin terbuka luas.  Tahu sendiri kan, gimana rasanya kalo bisa jadi populer. Hmm....ortunya pun kecipratan tajir. Aktualisasi berujung komersialisasi. Ya gitu deh.

Ujung-ujungnya, adik-adik yang lucu bin imut alumni ajang pencarian bakat banyak yang jadi bintang iklan, artis sinetron, bintang tamu talkshow, panggilan manggung, dan sederet kegiatan yang banyak mengisi pundi-pundi rupiahnya. Kehidupannya naik level. Tadinya hanya ngeliat artis idolanya hidup mewah, perlahan diri dan keluarganya bisa ikut mencicipi hidup dengan harta berlimpah. Sepertinya kebahagiaan hidup sudah dalam genggaman tangan.

Padahal, dibalik popularitas banyak tekanan hidup yang bisa merampas kebahagiaan masa kecilnya. Jadwal manggung dan panggilan tampil yang padat, bisa menyita waktu sekolahnya. Tak ada lagi waktu bermain tanpa sorotan kamera dengan teman-teman sebaya. Usia anak-anak yang seharusnya banyak digunakan untuk bermain dan belajar, malah banyak yang jadi jadi tulang punggung ekonomi keluarga. Ngenes!

Dalam Islam, anak-anak adalah investasi bagi orangtuanya dan umat di masa depan. Bagi ayah bunda, anak yang soleh akan menjadi penyelamat bagi keduanya di akhirat. Bagi umat, anak yang soleh akan menjaga agar umat Islam tetap mulia dengan aktifitas dakwah dan kontribusi keilmuannya. Namun, mungkinkah anak-anak soleh generasi qur’ani dambaan umat ini bisa lahir dari ajang pencarian bakat?

Bercermin Pada Generasi Sahabat

Bila kita bicara tentang membangun generasi, maka harusnya kita mengambil contoh dari generasi terbaik yang pernah ada,yaitu generasi sahabat Rasulullah. Bagaimana mereka mengisi masa kecilnya sehingga menjadi generasi terbaik teladan sepanjang masa.
"Ya Ghulam, maukah kau mendengar beberapa kalimat yang sangat berguna?" tanya Rasulullah suatu ketika pada seorang pemuda kecil. "Jagalah (ajaran-ajaran) Allah, niscaya kamu akan mendapatkan-Nya selalu menjagamu. Jagalah (larangan-larangan) Allah, maka kamu akan mendapati-Nya selalu dekat di hadapanmu."

Pemuda beruntung itu adalah Abdullah bin Abbas. Ibnu Abbas, begitu ia biasa dipanggil. Hidup  dengan Rasulullah sejak kecil membuatnya tumbuh menjadi seorang lelaki berkepribadian luar biasa.

Suatu ketika, benaknya dipenuhi rasa ingin tahu yang besar tentang bagaimana cara Rasulullah shalat. Malam itu, ia sengaja menginap di rumah bibinya, Maimunah binti Al-Harits, istri Rasulullah.

Sepanjang malam ia berjaga, sampai terdengar olehnya Rasulullah bangun untuk menunaikan shalat. Ia segera mengambil air untuk bekal wudhu Rasulullah. Di tengah malam buta itu, betapa terkejutnya Rasulullah menemukan Abdullah bin Abbas masih terjaga dan menyediakan air wudhu untuknya.

Rasa bangga dan kagum menyatu dalam dada Rasulullah. Beliau menghampiri Ibnu Abbas, dan dengan lembut dielusnya kepala bocah belia itu. "Ya Allah, berikan dia keahlian dalam agama-Mu, dan ajarilah ia tafsir kitab-Mu." Demikian doa Rasulullah.

Abdullah bin Abbas lahir tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah. Saat Rasulullah wafat, ia masih sangat belia, 13 tahun umurnya. Ibnu Abbas benar-benar merasa kehilangan. Sosok yang menjadi panutannya, kini telah tiada. Walau demikian, ia tak mau berlama-lama tenggelam dalam kedukaan. Ibnu Abbas segera bangkit dari kedukaan. Maka ia pun mulai melakukan perburuan ilmu.

Didatanginya para sahabat senior. Ia bertanya pada mereka tentang apa saja yang perlu ditimbanya. Ia ketuk satu pintu dan berpindah ke pintu lain, dari rumah-rumah para sahabat Rasulullah. Tak jarang ia harus tidur di depan rumah mereka, karena para sahabat tengah istirahat. Namun betapa terkejutnya mereka begitu melihat Ibnu Abbas tidur di depan pintu rumah.

"Wahai keponakan Rasulullah, kenapa tidak kami saja yang menemuimu?" kata para sahabat yang menemukan Ibnu Abbas di depan rumah mereka.
"Tidak, akulah yang mesti mendatangi anda," jawabnya.

Demikianlah kehidupan Ibnu Abbas, hingga kelak ia benar-benar menjadi seorang pemuda dengan ilmu dan pengetahuan yang tinggi. Karena tingginya dan tak berimbang dengan usianya, ada yang bertanya tentangnya. "Bagaimana anda mendapatkan ilmu ini, wahai Ibnu Abbas?"

"Dengan lidah dan gemar bertanya, dengan akal yang suka berpikir," demikian jawabnya.
Selain teladan Ibnu Abbas, sebagai orang tua, kita bisa bercermin pada al-Ghumaisha , ibu Anas bin Malik. Usia Anas masih sangat muda, ketika ibunya al-Ghumaisha mentalqinnya dengan dua kalimat syahadat. Ibunya mengisi hatinya yang bersih dengan kecintaaan kepada Nabi Muhammad bin Abdullah. Maka di benak Anas pun mulai tumbuh rasa cinta kepada Rasul sekalipun dia belum pernah bersua dengan Nabi yang mulia tersebut.
Tidak lama setelah Rasulullah saw tinggal di Madinah setelah berhijrah dari Mekkah, al-Ghumaisha binti Milhan, datang kepada beliau dengan disertai Anak anak laki-lakinya. Ia bermaksud menitipkan Anas bin Malik kecil agar berbakti pada Rasulullah.  Anas bin Malik atau Unais (Anak kecil) hidup di samping Nabi dan berada di bawah bimbingan beliau sampai Nabi berpulang ke ar-Rafiq al-A’la yaitu selama kurang lebih 10 tahun.

Anas bin Malik hidup setelah Rasulullah saw wafat selama delapan puluh tahun lebih. Selama itu Anas mengisi dada umat dengan ilmu Rasulullah saw yang agung dan menumbuhkan akal pikiran mereka dengan fikih kenabian.

Temans, dari kisah Ibnu Abbas dan Anas bin Malik, kita bisa ngeliat bagaimana Rasulullah saw dan para Sahabat membentuk generasi qurani. Sebagai orang tua, pendidikan agama jadi prioritasnya. Bukan mengasah bakat biar bisa ikut audisi dan jadi idola baru. Ayah bunda jadi teladan bagi buah hatinya. Kesholehan mereka  akan berbuah bakti anak sepanjang masa.

Sebagai remaja, belajar ilmu agama adalah aktifitas utama kita. Tak cukup dengan pelajaran agama di sekolah, buru ilmu pada forum pengajian. Luangkan waktu untuk mendatangi guru, tilawah quran, dan baca buku bermutu. Yuk!

Jadi Bagian Generasi Qurani

Generasi Qur’ani adalah generasi yang menjiwai dan mengamalkan Al-Qur’an.  Seperti para sahabat Rasul yang kuat aqidahnya, benar ibadahnya, dan bagus akhlaknya. Apakah kita bisa seperti mereka? Bisa! Sayid Qutub dalam kitab Ma’alim fit Thariq (Petunjuk Jalan) telah memberikan jawabannya.

Pertama, mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai Rujukan utama dalam beramal. Istilah kerennya, sebagai “Way of Life” (Pedoman hidup). Para sahabat adalah “Al-Qur’an yang berjalan” karena senantiasa menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya. Jika Al-Qur’an melarang mereka, segera mereka tinggalkan sebaliknya jika Al-Qur’an memerintahkan mereka, segera mereka melaksanakan. Tanpai tapi tanpa nanti.

Kedua, mereka mempelajari Al-Qur’an untuk menerima perintah Allah. Para Sahabat tilawah Al-Qur’an bukan sekedar untuk membaca, menambah pengetahuan, atau menikmati keindahan sasteranya. Mereka membaca Al-Qur’an untuk menerima perintah dan larangan tentang semua urusan pribadi, keluarga, masyarakat dan negara.

Allah swt berfirman, “Barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thoha: 123-124)

Ketiga, mereka masuk Islam kemudian meninggalkan semua perbuatan-perbuatan jahiliyah yang bertentangan dengan Islam.

Para sahabat setelah mereka menerima Islam sebagai dien mereka, Muhammad sebagai Rasul-Nya, Allah sebagai Rabnya, mereka segera meninggalkan kebiasaan jahiliyah yang bertentangan dengan Islam tanpa ragu-ragu lagi.

Umar bin Khattab pernah tertawa kemudian menangis, kemudian ditanya apa sebabnya kemudian beliau menjelaskan aku tertawa karena teringat masa jahiliyah duhulu ketika membuat patung sebagai tuhan dari makanan, aku bawa kemana-mana namun ketika aku kelaparan di tengah hutan tuhan patung itu aku makan. Lalu aku menangis karena aku teringat aku pernah menguburkan anakku, wanita hidup-hidup ketika masa jahiliyah karena aku merasa malu memiliki anak wanita.

Nah temans,menjadi generasi qurani tak cukup dengan pakai gantungan kunci bertuliskan ‘Back to Quran’ di tas sekolah kita. Tak hanya pakai kaos dakwah bertuliskan cinta Rasulullah. Tapi tunjukkan dengan menjadikan aturan Islam sebagai standar perbuatan kita. Tunduk bin patuh dengan perintah dan larangan dalam Al-Quran dan Sunnah. Menjadikan Rasulullah saw dan para sahabatnya sebagai teladan.

Generasi qur’ani anti pacaran, jaga pergaulan dengan lawan jenis, dan nggak alergi ikut pengajian. Generasi qur’ani tak berlomba-lomba ikut audisi pencarian bakat, tapi pantang menyerah mengejar ridho Illahi sebagai tanda taat. Generasi qur’ani nggak latah ikut tahun baruan tapi aktif di majlis ta’lim dan forum pengajian. Generasi qur’ani pantang egois bin individualis, tapi peduli dengan masalah lingkungan sekitar dan urusan umat. Generasi qur’ani itu kamu. Iya kamu. Siap? Berangkaaat..!

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg

Minggu, 11 November 2018

Are You The Next Hero?



Captain America, Iron man, Spiderman, Superman, Batman dan masih banyak lagi karakter superhero yang diidolakan anak-anak. Setiap masa pasti ada sosok pahlawan yang jadi idola. Mungkin kalo jamannya orang tua atau nenek dan kakek kita Gatot Kece eh salah Gatot Kaca yang saking hebatnya sampe bergelar otot kawat tulang besi. Widdiiih,, gimana musuh ga pilih pulang kampung. Emang banyak anak-anak bahkan orang dewasa sekalipun yang mengidolakan sosok superhero karna sosok tersebut begitu baik dan punya kehebatan yang mumpuni. Sampe-sampe saking ngefansnya ada loh orang yang sampe niru gaya, dari mulai kostum yang dipakai bahkan sampai ada yang rela ngeluarin uang banyak untuk merubah wajahnya supaya mirip dengan sosok pahlawan idolanya. Don’t ever try this yes..

Di Mana ada Penjajahan Di Situ ada Pahlawan
Hero atau Pahlawan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, pejuang yang gagah berani. Secara manusiawi, kita pasti senang kepada orang yang baik, membela kebenaran, melindungi yang lemah. Jadi, ga heran kalo sosok hero di atas yang sebenarnya fiktif begitu diidolakan khususnya oleh anak-anak apalagi ditambah mereka memiliki kekuatan atau senjata yang digunakan untuk melumpuhkan atau melawan musuhnya. Makanya kata pahlawan ngga selalu dipakai untuk mereka-mereka yang berjuang di medan perang aja. Misalnya kita sering dengar istilah pahlawan tanpa tanda jasa sebagai sebutan bagi seorang guru dimana mereka juga berjuang mendidik generasi. Terusnya ada lagi istilah pahlawan devisa sebagai sebutan bagi tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri. Bahkan kita juga suka menyebut orang-orang yang berjasa di dalam kehidupan kita dengan sebutan “pahlawan” misalnya kepada Ibu yang telah begitu berjasa dari mulai mengandung, melahirkan, mengasuh bahkan mendidik kita. Kepada Ayah yang juga begitu berjasa sebagai pemimpin rumah tangga yang bertanggung jawab dan tentu ikut mendidik kita.
Teman, sedari kita Sekolah Dasar ibu dan bapak guru mengajarkan tentang bagaimana perjuangan para pahlawan dalam membela kebenaran, melawan ketidakadilan bahkan melawan penjajahan. Sebut saja Pangeran Diponegoro yang terkenal karna memimpin perang sabil, perang melawan penjajahan Belanda di tanah Jawa. Semangat Pangeran Diponegoro berkobar karna perjuangannya didukung tokoh-tokoh agama yang menginginkan tanah Jawa dipimpin oleh pemimpin yang mendasarkan hukumnya pada Syariat Islam. Ada lagi Tuanku Imam Bonjol yang punya nama asli Muhammad Shahab. Beliau adalah salah seorang ulama, pemimpin dan pejuang yang berperang melawan Belanda dalam peperangan yang dikenal dengan nama Perang Padri. Berikutnya nama yang pekikan takbirnya membakar semangat juang rakyat Surabaya untuk bertempur melawan kembalinya penjajah Belanda yang berakhir dengan pertempuran 10 November 1945. Dialah Sutomo yang lebih dikenal dengan Bung Tomo. Sebenarnya masih banyak tokoh-tokoh heroik yang berjuang melawan ketidakadilan dan penjajahan, karna pada hakikatnya di dalam Islam ngga ada dan bahkan haram hukumnya berlaku sewenang-wenang apalagi menjajah suatu wilayah setelah itu sumber daya alamnya dieksploitasi.
Secara fitrah, manusia diciptakan oleh Allah memiliki ghorizatul baqa yaitu naluri untuk mempertahankan diri, keluarga termasuk wilayah tempat kita hidup dan tinggal. Maka ngga heran, dimana ada penjajahan pasti muncul para pejuang yang melawan penjajahan tersebut, bahkan mereka berjuang sampai titik darah penghabisan. Terjadinya perang bisa jadi tidak bisa dipungkiri. Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surat Al Hajj : 39-40 “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah". Itu kenapa, para pejuang di Nusantara ini begitu bersemangat berjuang melawan penjajahan, melawan kedzaliman.

Berjuang lillaah walau lelah
Setiap manusia, pada hakikatnya memiliki dorongan atau motivasi dari apa yang diperbuatnya. Kalau remaja jaman sekarang sering banget bilang “mager” alias males gerak, itu artinya remaja tersebut ngga punya dorongan atau motivasi perbuatan. Jangankan berjuang mati-matian, sekedar bergerak melakukan aktifitas berfaedah aja males. But, kamu yang lagi baca buletin kece ini insya Allah ngga akan mengidap penyakit “mager” ini. Karna apa? Karna dia paham kalau sekecil apapun yang kita lakukan akan bernilai ibadah jika semua dilakukan karna Allah dan caranya benar. Ok deh, kita bahas emang apa aja sih yang bisa dijadiin motivasi. Pertama, motivasi materi (al quwwah al madiyyah) maksudnya seseorang berbuat sesuatu karna didorong ingin mendapatkan materi. Misalnya aja, mereka yang berperang karna ingin mendapatkan harta kekayaan. Atau kamu misalnya yang kalo belajar karna ingin dapat nilai bagus semata. Tapi yah.. yang namanya materi ngga selamanya bisa dijadikan motivasi dalam berbuat karna seandainya kita ngga mendapatkan yang kita inginkan kecewa mendalam dan ngga mau lagi untuk berbuat bisa jadi back to “mager”. Kedua, motivasi moral atau emosional (al quwwah al ma’nawiyyah) kalau yang ini ketika perbuatan yang kita lakukan didorong oleh pengaruh emosional atau psikologis. Misalnya perlawanan seseorang karena merasa ditindas, merasa didzalimi, atau wilayah tempat tinggalnya dirampas. Atau misalnya kamu nih, yang semangat belajar karna merasa dilecehkan atau dibully akhirnya kamu belajar tekun untuk membuktikan kalau kamu bisa berprestasi. Tapi, lagi-lagi motivasi emosional ini juga tidaklah kuat dijadikan sandaran motivasi, karna yang namanya emosi atau psikologis bisa berubah-ubah. Yang ketiga, motivasi spiritual (al quwwah ar ruhiyyah) motivasi ini lahir dari keyakinan dan kesadaran diri sebagai seorang hamba Allah yang menyandarkan segala perbuatannya pada perintah dan laranganNya. Motivasi ini adalah motivasi seumur hidup selama keimanan kepada Allah masih terpatri kuat di dalam diri. Inilah motivasi terkuat dan konstan yang bisa mengalahkan dua motivasi sebelumnya. Contohnya aja, para pahlawan yang berjuang di medan perang karna memang dihadapkan dengan musuh, “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” TQS. Al Baqarah 190. Mereka jihad fii sabilillaah meski harus kehilangan harta bahkan jiwa sekalipun. Karna mereka berjuang lillaah (karna Allah).
Sama seperti kamu, kalau Allah atau pahala dan surga Allah kamu jadikan motivasi maka nilai bagus dan pengakuan sebagai anak berprestasi itu hanya bonus sehingga seandainya materi berupa nilai dan pengakuan ngga kamu dapatkan, semangat belajar kamu tetap akan membara.

Pahlawan atau Bukan?
Kembali bicara soal pahlawan, kita harus cermat ya Teman dalam menentukan apakah seseorang itu layak disematkan gelar pahlawan atau tidak. Kamu pernah dengar nama Mustafa Kemal Attaturk? Ada sebagaian kalangan yang menganggapnya sebagai pahlawan, padahal Mustafa adalah seorang yahudi yang menyamar menjadi seorang muslim untuk menghancurkan Daulah Utsmani di Turki. Setelah Daulah Islam Utsmani dihancurkan, Mustafa Kemal langsung memimpin Turki dan mensekulerkan serta meliberalkan Turki seperti dihapuskannya nilai-nilai dan simbol-simbol Islam. Dilarangnya adzan, para wanitanya dilarang mengenakan hijab. Di akhir kisah hidup seorang Mustafa Kemal pun sungguh sangat mengerikan. Berkebalikan dengan Mustafa Kemal Pasha Attaturk, ada seorang tokoh yang namanya justru dibuat menjadi sosok yang menakutkan padahal Dia adalah seorang pahlawan Islam dari Brazil. Pada abad ke XVI (1550 M), Islam mulai masuk ke Brazil. Saat itu, Portugis memasukkan orang-orang Afrika ke Brazil sebagai tenaga kerja. Mayoritas orang-orang Afrika itu beragama Islam. Tahun demi tahun jumlah muslim di Brazil semakin banyak. Ketika posisi Islam di Brazil semakin menguat. Pasukan Salibis menghabisi mereka dan berusaha menghancurkan Islam hingga ke akar-akarnya. Namun, pada tahun 1643 tiba-tiba muncul seorang pahlawan Islam yang dengan gagah berani mendeklarasikan berdirinya Negara Islam di Brazil setelah sebelumnya bergerak mendakwahkan Islam ke berbagai penjuru Brazil dan mengajak para tokoh dan pimpinan di wilayah itu untuk masuk Islam. Dan nama pahlawan itu adalah Zumbi Dos Palmares. Salibis mengira Islam di Brazil telah mati. Rupanya Zumbi telah menghidupkan Islam kembali di Brazil. Seketika Zumbi pun menjadi target oleh Salibis. Dan saat ini, nama Zumbi atau Zombie dimonsterisasi menjadi sosok yang menakutkan. Hayoo.. siapa yang suka menakut-nakuti adiknya dengan Zombie?
So, clear ya.. sebagai seorang remaja Muslim kita harus melek sejarah yang benar terlebih sejarah Islam. Apa yang tertuang di sepanjang Peradabannya, Islam telah begitu banyak memberikan khasanah yang luar biasa, dimana kita jadi tahu dan paham bagaimana Islam pertama kali datang dan didakwahkan oleh Rasulullah saw, tegaknya Negara Islam yang berawal dari Madinah lalu meluas menguasai 2/3 dunia, kemudian kita pun akan mengerti apa yang menyebabkan Islam dengan institusinya melemah dan sampai akhirnya hancur menjadi kurang lebih 50 negara kecil. Berhentikah kita? TIDAK. Selanjutnya tugas dan kewajiban kitalah untuk menjemput bisyarah (kabar gembira) dari Allah dan RasulNya bahwa Islam akan kembali tegak dan Kaum Muslim akan bersatu. Dengan apa? Tentu dengan berjuang melalui ngaji dan dakwah kepada Islam sesuai tuntunan Al Qur’an dan Sunnah. Allahu Akbar!!

***
Yuk gaes... Raih kebaikan dengan kunjungi tautan berikut:

Web - https://dakwahremaja-konawe.blogspot.co.id/?m=1
FB - https://www.facebook.com/Komunitas-Remaja-Pejuang-Islam-Koreapi-865806196912761/
Twitter - https://twitter.com/RemajaKonawe?s=09
IG -  https://www.instagram.com/remajapejuangislam/
WA - https://chat.whatsapp.com/CNkQ6MsWFAZFMwHlSfYqr9
Youtube - https://www.youtube.com/channel/UCTuP7T41bCIuiIiQ_ZmWTzg